My Princess, Kim Taeyeon (Chapter 10)

my-princess-kim-taeyeon

Bina Ferina’s Present

Main Cast :

KIM TAEYEON

KIM JUNMYEON (SUHO)

XI LUHAN

PARK CHORONG

All of Artists SM. Entertainment

Genre :

ROMANCE, SCHOOL-LIFE, FRIENDSHIP

Rating :

PG 17

Artworker :

Very much thank you, dear^^ –> rosaliaaocha – ExoShidaeFFandGrapchics

A/N :

Mari dibaca^^ hope you’ll be like my new fanfic! Alurnya ceritanya SANGAT BIASA, mungkin juga udah sering baca. Tapi aku akan berusaha lebih keras agar FF ini ngga TERLALU BIASA untuk para ReaderSetiakuu #chu. Happy reading^^

~~~

“Apa ada sesuatu yang mengganggumu, Lu?” tanya Suho yang berada tepat di hadapannya. Ia menghadapkan tubuhnya ke arah Luhan saat guru mereka sedang sibuk menerima panggilan dari ponselnya.

“Eobseo,” jawab Luhan singkat.

“Jeongmalyo?” tanya Suho lagi, tidak yakin. Ia meneliti raut wajah Luhan dengan seksama. “Malhaebwa. Ada apa denganmu? Kau diam saja dari tadi,”

“Apa Chorong suka kalung?” Luhan balik bertanya. “Kebetulan aku punya kalung cantik dan kurasa sesuai untuk Chorong. Sebelum dia kembali ke Perancis, kuharap kau bisa memberikannya kepadanya,”

Luhan mengeluarkan sebuah kotak putih yang diatasnya terdapat pernak-pernik berhiaskan berlian. Ia menyerahkannya ke hadapan Suho.

“Kalau untuk Chorong, aku akan membelikannya,” tolak Suho halus. Ia mengambil kotak itu dan membuka isinya. Terlihat dari wajah Suho kalau ia terkejut melihatnya. “Dari mana kau dapat?”

“Tentu saja aku membelinya, babo,” jawab Luhan ketus dan tanpa berfikiran panjang. Ia tidak menduga sebelumnya kalau jawabannya ini akan membuat Suho kembali penasaran.

“Untuk apa kau beli kalung ini? Kau punya yeojachingu sekarang?” tanya Suho penasaran.

“Itu untuk Kim Taeyeon, ‘kan my deer?” tanya Henry tiba-tiba, memotong percakapan Luhan dan Suho. Ia meletakkan dagunya di atas pundak kiri Luhan dan mengedipkan kedua matanya genit ke arah Luhan, jelas sekali ia sedang menggoda laki-laki itu. Luhan mendecak sebal pada Henry.

“Benarkah itu, Lu?” tanya Suho tak percaya sekaligus takjub. Ia menutup kotak itu dan menyerahkannya kembali kepada Luhan. “Lalu, kenapa kau berikan pada Chorong?”

“Kau takut untuk memberikannya kepada orangnya langsung, ya? Takut dibilang ‘munafik’? Atau takut dibilang penjilat ludah sendiri? Hey, tidak apa-apa, tenang saja. Setiap orang pasti pernah mengalami ‘menjilati ludah sendiri’, ‘kan? Tidak perlu takut dicap begitu pada orang lain. Kau itu pangeran, mana mungkin ada yang berani menghinamu. Kecuali gadis itu, mungkin,” hibur Henry sembari tersenyum lebar.

“Kau terlalu membencinya dari awal,” jawab Suho dan ia tersenyum penuh makna pada Luhan.

“Ya, apa-apaan kalian ini?!” seru Luhan dengan nada tertahan. “Aku sedang tidak ingin dengar ocehan kalian,”

“Kami tahu kalau ujung-ujungnya akan seperti ini. Mungkin kau jarang menonton telenovela atau drama, tapi rata-rata orang sepertimu ini akan berakhir dengan jatuh ke pelukan orang yang ia benci. Seharusnya kau punya fikiran jangka panjang sebelum menentukan untuk membenci Kim Taeyeon terlalu dalam,” lanjut Henry dan disambut dengan jitakan kuat dari Luhan.

Suho dan Xiumin hanya tertawa melihat itu. Dan keadaan kelas semakin ribut ketika guru mereka minta izin untuk pergi sebentar.

“Satu sekolah akan heboh ketika mereka tahu sang pangeran jatuh hati pada ‘si itik yang buruk rupa’,” tambah Xiumin.

“Dia tidak buruk rupa,” kilah Luhan dengan wajahnya yang keheranan. Tidak bisakah mereka melihat betapa cantiknya gadis itu? Betapa banyaknya pesona yang gadis itu miliki sehingga seorang Luhan, pun tidak dapat memungkirinya.

“Woah, babo namja! Itu hanya sebuah kiasan. Taeyeon itu diibaratkan dengan ‘itik yang buruk rupa’ dan ‘upik abu’ karena banyak yang tidak menyukainya. Tapi sebenarnya dia sangat cantik seperti Cinderella, kurasa jauh lebih cantik, sehingga membuat salah satu teman kita tergila-gila,” ledek Henry. “Berlian ini bukanlah berlian yang murah. Apa kau sudah kebingungan bagaimana cara menghabiskan hartamu itu, Lu?”

“Aish, jinjja. Kau ingin mati?” tanya Luhan kesal.

Mereka bertiga tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Luhan. Baru kali ini, ya, ini baru pertama kalinya mereka melihat Luhan salah tingkah hanya karena seorang perempuan. Baru kali ini mereka melihat Luhan tidak bisa berkutik apa-apa, tidak bisa berkomentar apa-apa seperti biasanya ketika dia diusili teman-temannya dengan seorang perempuan. Taeyeon adalah satu-satunya perempuan yang dapat membuat Luhan mati kutu.

“Kehidupan Taeyeon akan berubah sebentar lagi. Dia tidak akan mendapat siksaan batin lagi dari siswa-siswi di sekolah ini. Dan kau juga bisa membantuku untuk memberantas masalah diskriminasi ini,” ujar Suho dan ia tersenyum tulus.

“Wah, wah, wah. Tunggu dulu. Aku ingin tanya, Lu. Kenapa kau memberikannya kepada Chorong? Kau sudah berikan kepada Taeyeon sebelumnya dan ia menolak kalung itu? Perkiraanku benar atau tepat sekali?” tanya Henry.

Luhan memandang Henry dengan malas sambil mencoret-coret buku catatannya menggunakan bolpoin. Ia tidak suka menceritakan hal ini, karena kejadian penolakan ini baru pertama kali baginya. Sebagai seorang Luhan, ia tidak pernah ditolak oleh seorang perempuan, perempuan manapun itu. Bahkan, bukan dia yang pertama kali menawari. Ia pasti akan selalu ditawari. Dalam kamus kehidupannya, tidak pernah ada kata ditolak dan memberi. Dan kasus dengan perempuan yang bernama Kim Taeyeon ini adalah kasus yang pertama untuknya.

“Kau benar dan tepat sekali, chingu,” jawab Luhan pelan, membuat ketiga temannya kembali terkikik geli. Ini sungguh-sungguh peristiwa yang langka. Mungkin kejadian yang hanya ada satu kali seumur hidup.

“Aku sudah menduganya dari awal,” ujar Henry, sikapnya seolah seperti seorang cenayang.

“Yah, tertawalah sepuas kalian. Kalian senang, ‘kan?” tanya Luhan keki.

“Kau tahu? Mungkin ini seperti karma,” ujar Suho dengan wajah serius. “Kau yang selalu mengolok-olok Taeyeon dan membuatnya semakin dibenci oleh banyak orang, tentu saja akan dibenci dengan sepenuh hati oleh Taeyeon sendiri. Meskipun kau sudah menunjukkan cintamu padanya, dia tetap tidak akan percaya dan tidak akan berpaling. Karena kata-kata serta perilakumu yang buruk masih terngiang dalam benaknya. Kurasa untuk membuatnya menyadari perasaanmu itu sungguh sulit,”

“Kalau kau ingin menunjukkan cintamu, jangan berikan barang seperti ini, babo!” seru Henry sambil melempar kotak perhiasan itu ke hadapan Luhan. “Dia akan berfikiran kau ingin menyombongkan kekayaanmu dan membuatnya seperti menjadi perempuan yang akan luluh bila diberikan barang mewah. Kim Taeyeon tentu bukan gadis yang seperti itu. Kau selalu berada di pelukan perempuan setiap malam tapi kenapa tidak pernah bisa membaca fikiran mereka? Kau itu, kalau untuk masalah bercinta kau tahu segalanya. Tapi masalah cinta? Nol besar,”

“Kenapa hyung yang selalu bisa menaklukkan hati para perempuan jadi terlihat bodoh begini?” tanya Tao, yang entah sejak kapan ikut dalam percakapan mereka. Wajahnya yang polos menatap kebingungan ke arah Luhan, membuat Luhan salah tingkah.

Kenapa dia mendadak jadi laki-laki yang tak tahu apa-apa?

Henry tertawa melihat gesture dari sahabatnya itu. Ia tak menyangka Luhan bisa jadi orang yang bodoh seperti ini. Dan kata-kata favoritnya hari ini untuk Luhan adalah ‘babo’.

“Dengar, Tuan Muda Luhan,” ujar Henry sambil berdeham. “Karena kau begitu bodoh, bagaimana kalau kau belajar dariku, eoh? Kau tahu, ‘kan bagaimana aku bisa membekuk hati dingin si Ice Princess Jessica? Hati mereka berbeda, tapi sikap mereka hampir sama. Dan kurasa kau butuh pembelajaran dariku,”

“Aish, kenapa kalian jadi begini?!” seru Luhan kesal, dan lagi-lagi membuat teman-temannya itu tertawa terbahak-bahak, membuat Luhan semakin merasa bodoh.

~~~

Luhan melirik sekilas ke arah Taeyeon, yang sedang sibuk mengetik surat permohonan proposal untuk Yayasan Sekolah yang akan mereka gunakan untuk program kerja mereka. Fikiran dan mata Taeyeon sedang sepenuhnya fokus pada laptop yang ada di hadapannya. Sesekali terlihat kerutan di dahinya, tampak ia sedang berfikir keras. Sedangkan Luhan, laki-laki itu asyik menandatangani surat undangan yang akan disebar ke sekolah-sekolah lain.

Seharusnya sekarang Taeyeon sedang menikmati makan siangnya di kantin. Tapi, karena permintaan dari Mr. Kim, ia terpaksa membuang waktu makan siangnya untuk ini. Terpaksa juga ia harus berada satu ruangan dengan Luhan, untuk waktu yang cukup lama pula. Ada sedikit rasa enggan dan malas. Dan semuanya itu harus ia tahan-tahan dulu. Meskipun kejadian tadi pagi masih membuat Taeyeon kesal. Dan selama mereka bekerja, mereka berdua sama sekali tidak ada saling bertegur sapa.

Keseriusan Taeyeon membuat Luhan punya kesempatan untuk memandangi wajah cantiknya. Ia berharap gadis itu tidak sadar, setidaknya sampai dia selesai mengetik. Memandang wajah bening gadis itu membuat Luhan merasa nyaman dan teduh.

“Aigoo,” keluh Taeyeon pelan. Ia meregangkan otot-otot kedua tangannya dan menguap lebar. Ada sedikit air mata yang keluar dari pelupuk mata gadis itu. Kelemahan Taeyeon memang ini. Ia tidak bisa terlalu lama berhadapan dengan computer atau apapun itu yang berhubungan dengan teknologi. Matanya bisa cepat lelah, dan lagi, kemarin malam ia hanya tidur beberapa jam.

Melihat keluhan Taeyeon, Luhan mendongakkan wajahnya. “Kau kenapa?”

“Tidak apa-apa,” jawab Taeyeon singkat. Ia kembali melanjutkan kegiatannya sambil mengerucutkan bibirnya, membuat Luhan tambah gemas.

“Aku pergi sebentar,” ujar Luhan setelah ia selesai berfikir.

Luhan bangkit dari kursinya dan keluar dari kantor. Taeyeon tidak terlalu memedulikan laki-laki itu. Setidaknya ia berusaha untuk tidak peduli. Tapi jujur saja, selama hampir 30 menit ia mengerjakan proposal ini, Taeyeon tidak bisa benar-benar berkonsentrasi penuh. Fikirannya melayang ke mana-mana dan jantungnya terus berdesir halus. Itu semua karena Luhan.

Laki-laki it uterus menatapnya, terus memerhatikan gerak-geriknya, terus mengawasinya. Meskipun Taeyeon terkesan tidak tahu, tapi sebenarnya dia tahu. Dia bisa merasakan tatapan laki-laki itu menusuk jantungnya, membuat bulu kuduknya meremang, dan membuat suasana kantor menjadi lebih panas dari biasanya. Tatapannya seakan-akan memberikan banyak pengaruh di dirinya. Yang lebih melegakan lagi adalah ketika dirinya tidak balik menatap Luhan. Jika sampai ia melakukan itu, ia yakin rahangnya akan jatuh dan berserakan kemana-mana.

Taeyeon menghela nafas panjang. Ia sedikit menjauhkan laptop itu dari hadapannya dan sebagai gantinya ia melipat kedua lengannya di atas meja dan menumpukan kepalanya ke atas lengannya. Fikirannya kembali melayang pada kejadian-kejadian di mana Luhan masih bersikap ketus dan dingin padanya, seakan-akan dia ini adalah sampah, kotoran, dan sejenisnya. Saat-saat di mana Luhan masih sering menginjak-injakkan dirinya di hadapan orang lain. Saat-saat di mana ia di pandang sebelah mata oleh laki-laki itu.

Dan sekarang? Kenapa semuanya berubah 180 derajat? Kenapa laki-laki itu perlahan-lahan mulai merasuki kehidupannya? Apa semua ini sudah direncanakan? Tapi, kenapa harus laki-laki itu? Dari awal mereka bertemu Taeyeon sama sekali tidak memiliki perasaan kalau laki-laki ini akan membuat hidupnya lebih rumit.

Kenapa harus dia? Taeyeon membencinya. Dan rasa benci itu juga masih dipertanyakan. Benci kepada orangnya atau kepada perasaannya sendiri yang perlahan mulai merasa ada desiran aneh ketika laki-laki itu di dekatnya.

Perasaan itu menyakitkannya. Mungkin karena tidak bisa menahan sakitnya, setetes air mata bening jatuh membasahi pipi Taeyeon dan jatuh ke lengannya. Perlahan-lahan, kedua pelupuk mata Taeyeon tertutup sempurna. Ia terlelap begitu saja, dengan fikirannya yang masih melayang-layang mengingat Luhan.

Dan sekitar lima belas menit kemudian, pintu kantor terbuka. Luhan muncul dan ia masuk ke dalam sambil membawa sebotol air mineral, sebotol jus jeruk segar, dan satu bungkus plastik besar yang isinya kue. Luhan melangkahkan kakinya ke arah meja Taeyeon dan memandang wajah damai gadis itu yang sedang tertidur lelap.

Luhan tersenyum kecil menatap wajah malaikat Taeyeon. Ia meletakkan semua bawaannya ke atas meja Taeyeon. Dengan segera ia mengangkat tubuh mungil Taeyeon dan membawanya ke atas sofa kantor. Tubuhnya yang mungil itu terasa ringan dan Luhan merasa nyaman ketika ia mendekapnya. Setelah itu, ia mengambil selimut yang lumayan besar dan tebal, yang berada di dalam lemari kantor. Selimut itu masih berada dalam plastik, biasa digunakan oleh Ketua Murid yang lalu bila mereka lembur mengerjakan program kerja mereka.

Luhan dengan telaten dan layaknya seorang kekasih yang baik hati menyelimuti tubuh Taeyeon dengan selimut itu. Ia berjongkok di depan wajah Taeyeon. Lagi-lagi ia tersenyum kecil. Dan lagi-lagi tak bosan-bosannya ia untuk memandangi setiap inci lekuk wajah Taeyeon. Wajah Taeyeon seperti candu bagi penglihatannya.

Tanpa aba-aba dan tanpa ada kesadaran dari diri Luhan, ia mencondongkan sedikit tubuhnya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Taeyeon. Di kecupnya bibir softpink itu dan ia salurkan segala kehangatan yang ada dalam dirinya ke dalam diri Taeyeon. Selang beberapa detik, Luhan melepas kecupannya dan ia bangkit menuju meja kerja Taeyeon.

~~~

Taeyeon membuka kedua matanya dan mengerjap-ngerjapkannya untuk beberapa saat. Ia mengerutkan dahinya, tampak sedang berfikir. Beberapa detik kemudian, Taeyeon langsung mendongakkan kepalanya, terkejut akan suatu hal yang baru saja diingatnya. Bodoh, bagaimana bisa ia tertidur di kantor Ketua Murid begini, sedangkan permohonan proposalnya belum kelar.

“Aigoo, babo,” rutuk Taeyeon sembari memukul kepalanya.

Ketika dirinya hendak bangkit dari sofa itu, Taeyeon baru sadar bahwa tubuhnya di tutupi oleh selimut. Ia sedikit terkejut. Ia juga baru sadar kenapa tubuhnya bisa ada di atas sofa ini. Seolah-olah dirinya memang sudah merencanakan untuk tidur. Dan seingat Taeyeon, dia tidak sengaja tertidur di atas meja kantornya.

Merasa ada yang tidak beres, Taeyeon akhirnya bangkit dari sofa seraya melipat selimut itu dengan rapi dan menyimpannya kembali di dalam lemari kantor. Dan dengan langkah cepat, ia menuju meja kantornya dan berniat kembali mengerjakan permohonan proposal itu.

Dan hatinya mencelos begitu ia melihat sebuah map yang bertuliskan ‘permohonan proposal’ dengan menggunakan bolpoin biru tua. Dibukanya map itu dan ia melihat sepuluh jilid proposal yang sudah tersusun dengan sangat rapi. Bahkan sudah di tanda tangani oleh Mr. Lee.

Taeyeon kembali menyusun proposal itu ke dalam map dan meletakkannya seperti semula. Ia terduduk di kursinya dengan lemas.

“Kenapa kau bisa bodoh begini, Kim Taeyeon?” rutuk Taeyeon kepada dirinya sendiri. Ia menatap jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul empat sore. Jam pelajaran terakhir sedang berlangsung dan mana mungkin dia bisa masuk lagi ke dalam kelasnya dengan mengatakan ia ketiduran di kantor Ketua Murid.

Sambil menghela nafas dengan kasar, Taeyeon kembali duduk di atas sofa kantor dan fikirannya langsung melayang pada saat dirinya terakhir kali melihat Luhan di kantor. Saat itu Luhan bilang ingin keluar sebentar dan setelah itu ia langsung tertidur. Hati nurani Taeyeon mengatakan kalau Luhan-lah yang melakukan ini semuanya. Mengangkat dan menyelimuti tubuhnya di atas sofa dan mengerjakan surat-surat permohonan itu sampai rapi.

Kenapa laki-laki itu bisa melakukan hal sampai sejauh itu? Dia yang biasanya malas melakukan sesuatu dan hanya bisa menyuruh Taeyeon, kenapa sekarang membiarkan Taeyeon tidur dengan nyenyak, bahkan sampai membuatnya merasa nyaman? Kenapa laki-laki brengsek itu bisa berubah begitu? Kenapa orang itu bisa membuat ribuan pertanyaan yang tak bisa Taeyeon jawab?

“Kemungkinan besar roh iblisnya sedang melayang entah ke mana,” gumam Taeyeon pelan. Ia memijat pelan dahinya dan menutup kedua matanya.

“Cinta bisa membuat semuanya berubah, Tae. Dengan kekuatan cinta, orang yang memiliki hati sekeras batu, pun akan meleleh begitu ia melihat seseorang yang dicintainya,”

Taeyeon terngiang-ngiang dengan ucapan Heechul saat mereka berlima mengomentari hubungan special-nya Jessica dengan Henry. Taeyeon awalnya tak menyangka Jessica bisa luluh begitu saja dengan orang yang bertolak belakang dengan sikap dingin Jessica. Sikap hangat Henry tentu saja menjadi sumber luluhnya watak Jessica.

Apa Luhan juga begitu? Apa karena cinta, pun dia mendadak berubah menjadi sosok yang penuh perhatian?

Taeyeon tersenyum kecut. Luhan jatuh cinta padanya? Laki-laki yang berotak mesum itu tidak akan pernah merasakan yang namanya cinta. Kecuali saat dirinya sudah merasa cukup berumur untuk berumah tangga.

Lagi-lagi, Kim Taeyeon menepis semua kemungkinan-kemungkinan Luhan yang jatuh hati padanya. Karena baginya, itu tidak mungkin.

Beberapa detik kemudian, seseorang mengetuk pintu kantor Ketua Murid sampai tiga kali dari luar. Taeyeon mempersilakan orang yang ada di luar itu untuk masuk dan ia cukup kaget melihat kedatangan Suho.

Suho tersenyum ceria menatap Taeyeon. Ia masuk dan menutup pintu kantor seraya melangkah mendekati Taeyeon. Tubuhnya ia daratkan dengan nyaman di atas sofa kantor di samping Taeyeon. Taeyeon hanya menatap orang yang sudah di anggapnya sebagai guardian itu dengan tatapan bertanya.

“Kau ingin bertemu dengan temanmu itu, ‘kan? Bukannya kalian satu kelas? Atau dia melakukan hal yang tidak-tidak lagi?” tanya Taeyeon bertubi-tubi dengan wajah dipenuhi rasa curiga dan kesal yang bercampur jadi satu.

“Woah, Kim Taeyeon tenanglah,” ujar Suho sambil tersenyum manis. “Aku kesini hanya untuk melihatmu. Aku senang sejauh ini kau baik-baik saja,”

“Aku tidak apa-apa. Kenapa kau harus melihatku? Kau harus melindungi dan menjaga satu orang saja, ingat?” ujar Taeyeon sambil tersenyum lebar.

“Aku akan melindungi orang-orang yang aku sayangi, Taeyeon-ah. Siapapun itu. Jadi, aku tetap akan melindungimu. Tidak perlu sungkan untuk minta tolong padaku. Bukankah aku ini guardian angel-mu?” tanya Suho.

“Apa predikat itu masih berlaku?” tanya Taeyeon penasaran.

“Tentu saja. Aku mencintai Park Chorong sepenuh hati. Tapi aku akan tetap menjadi guardian angel-mu. Panggil aku sesukamu, kapan saja kau mau. Aku akan muncul tepat di hadapanmu,” ujar Suho seraya membuka kedua lengannya lebar-lebar, membuat Taeyeon tertawa.

“Arraseo. Aku akan tetap memberikan predikat itu padamu. Tapi, aku juga akan berusaha untuk mencari guardian seumur hidupku. Jadi, aku tidak akan merepotkanmu lagi. Untuk sementara ini mungkin aku akan sedikit merepotkanmu,” canda Taeyeon

“Sepertinya kau akan segera menemukannya,” jawab Suho dengan suaranya yang lirih.

“Apa?” tanya Taeyeon, yang kurang mendengar gumaman Suho. “Oh, ya. Ke mana Luhan? Aku ingin tanya mengenai proposal ini. Aku juga ingin tahu apa ada lagi yang bisa kukerjakan? Karena setahuku Mr. Kim tidak hanya memberikan tugas ini padaku,”

“Luhan sedang menyebar undangan festival olahraganya bersama dengan Henry dan yang lainnya. Begitu keluar, dia langsung pergi dan berkata “sebelum kau pulang, kau harus mengecek dulu keadaan Taeyeon. Kalau dia belum bangun, antarkan dia pulang. Dan jika sudah bangun, dia pasti masih berada di kantor. Kunjungi saja dulu dia” begitu. Hari ini fikirannya sedang bercabang-cabang, apa kau tahu? Semua tugasmu diselesaikannya sendiri karena dia tidak tega membangunkanmu,”

Taeyeon diam sesaat, sedikit tertegun mendengar pernyataan Suho. Ingin rasanya dia bertanya dan mengorek semua informasi mengenai keberadaan Luhan dan apa yang sedang di lakukannya. Tapi semua itu di tahannya.

“Ada apa dengannya? Biasanya dia selalu malas,” ujar Taeyeon.

“Yah, begitulah. Kami harus berterima kasih sekali padamu. Dia sedikit berubah. Aku tidak tahu alasannya apa tapi yang menjadi faktor di balik itu semua adalah dirimu,” jawab Suho pelan. Kali ini wajahnya berubah serius. “Dia bukan tipe orang yang mudah kasihan pada orang lain. Tapi melihatmu kelelahan mengerjakan itu ditambah belum makan siang, membuatnya pergi membeli kue, sebotol air mineral, dan satu botol jus untuk makan siangmu dan mengerjakan semua tugasmu. Wajahnya memang kusut sekali, tapi dia berusaha keras menyelesaikannya. Dia bahkan sempat memikirkan keadaanmu. Tapi kau tidur nyenyak, kurasa,”

Mendengar itu, Taeyeon terhenyak. Ia memalingkan wajahnya dan menatap bungkusan plastik yang isinya kue dan air serta jus. Awalnya ia tidak terlalu peduli dengan isi plastik itu, dan ia mengira itu milik Luhan. Nyatanya?

“Ini pertama kalinya bagi kami melihatnya seperti ini, membuatku merasa bahagia, Taeyeon-ah. Mulai sekarang, biasakanlah dirimu akan sikap dan sifat barunya itu,” ujar Suho seraya tertawa. “Cinta itu memang aneh, membuat orang lain berubah. Siapapun itu, tidak memandang orang dan waktu. Cinta memang membawa dampak yang positif dan negatif, ya? Dan aku sangat bersyukur Luhan bisa kena dampak positifnya,”

Taeyeon masih setia dengan diamnya. Ia hanya mendengarkan perkataan Suho tanpa mau berkomentar apa-apa.

“Apa kau menyadarinya, Taeng?” tanya Suho, membuyarkan lamunan Taeyeon.

“Apa?” Taeyeon balik bertanya, bingung sendiri. “Aku tidak pernah mengerti tentang dirinya. Kenapa kau tanya aku?”

Suho tertawa kecil. “Mungkin kau tahu, kalau kau tidak berusaha untuk menampiknya. Dia memang orang yang sangat brengsek. Tapi setidaknya manusia itu punya kesempatan yang kedua, ‘kan?”

Suho menatap Taeyeon lekat-lekat dengan penuh makna. Sedangkan Taeyeon hanya menatap Suho dengan pandangan yang seakan-akan mengatakan ‘aku-memang-tidak-tahu-apa-apa’ sambil mengedikkan kedua bahunya, tanda tak peduli.

“Jadi, kau sudah mau pulang atau bagaimana?” tanya Suho. Ia bangkit dari sofa dan mengambil plastik yang ada di atas meja Taeyeon.

“Aku akan membenahi ruangan ini sebentar, dan…” Taeyeon kembali mengingat-ingat agenda selanjutnya yang hendak dia kerjakan. Ia ingat betul sore ini ada sesuatu yang harus ia kerjakan. “Oh, aku ingin menemui seseorang. Kau bisa pulang lebih dulu, Suho-ah. Aku baru ingat aku ada janji,”

“Janji? Tapi Tiffany dan yang lainnya sudah pulang. Mereka tahu kau sedang sibuk,”

“Bukan janji dengan mereka,” ujar Taeyeon cepat.

“Lalu dengan siapa?” tanya Suho dengan rasa penasarannya yang tinggi.

“Bukan murid Whimoon High School,” jawab Taeyeon sekenanya. “Pulanglah,”

“Okay, okay. Aku pulang. Kalau kau tidak ingin pulang sendiri, kau bisa hubungi aku, arra?”

“Arraseo,” jawab Taeyeon. Ia tersenyum dan melambaikan tangannya dengan ceria ke arah Suho, yang hendak melangkahkan kakinya menuju pintu kantor. “Hati-hati!”

“Oh, ya!” seru Suho. Ia memberikan plastik yang isinya kue dan dua botol minuman itu pada Taeyeon. “Makanlah. Jangan fikirkan siapa yang memberikan ini. Tapi fikirkanlah alasan dia memberimu ini,”

Suho melambaikan tangannya pada Taeyeon dengan riang dan ia keluar dari kantor Ketua Murid. Taeyeon hanya memandang plastik itu dengan ekspresi yang sulit di tebak. Alasan Luhan memberikannya ini? Apa dia tahu Taeyeon kelaparan saat mengerjakan permohonan proposal itu? Ia menghela nafas pendek dan membuka kotak kuenya kemudian memakannya sambil membereskan berkas-berkas dokumen Ketua Murid yang berserakan di atas mejanya.

Sedangkan Suho, sesampainya ia di parkiran mobil, ia langsung mengambil ponselnya di saku celana dan menghubungi seseorang.

“Yeoboseo?” sapa orang yang ada di seberang telepon.

“Dia sudah bangun dan sedang membereskan kantor,” ujar Suho. Ia masuk ke dalam mobilnya dan mulai menghidupkan mesin. “Dia bilang ingin menemui seseorang itu sebabnya aku tidak mengantarnya pulang,”

Dia ingin menemui siapa?” tanya orang yang di balik telepon itu, yang tak lain dan tak bukan adalah Luhan

“Aku juga tidak tahu. Dia bilang bukan murid Whimoon,”

Namja?

“Aku tidak tahu, Luhan. Dia menyuruhku pulang lebih dulu dan tidak perlu menunggunya. Kenapa kau tidak lihat sendiri? Kalau laki-laki kau mungkin bisa langsung menariknya pulang,” ujar Suho sambil tertawa.

Aku juga ada janji dengan seseorang,” sahut Luhan. “Si Minho brengsek itu mungkin ingin menghabisiku,”

“Mwo? Kenapa kau tidak bilang? Jangan katakan kalau kau berlagak sok jago ingin menghadapinya sendiri. Kau tahu, ‘kan bisa saja dia bawa banyak orang. Kalau kau mati, siapa yang bisa minta di pertanggungjawabkan? Bagaimana kalau mereka membuangmu ke sungai Han?” seru Suho kesal. “Cepat kalian kembali. Kita berlima akan menemuinya,”

~~~

“Kau ada perlu denganku?” tanya Taeyeon pada seorang laki-laki tinggi dan berbadan atletis yang sedang bersandar di dinding pembatas antara gedung Whimoon Senior High School dengan taman belakangnya sambil memainkan ponselnya.

Begitu mendengar sapaan dari seorang gadis, laki-laki itu tersenyum dan menyimpan ponselnya di saku celana. Senyumnya yang manis menghiasi wajahnya yang tampan dan Taeyeon yakin banyak perempuan yang jatuh hati pada pesona yang dimilikinya. Ia melangkah mendekati Taeyeon dan berhenti tepat di hadapan gadis itu. Sembari tersenyum penuh makna, laki-laki itu meneliti setiap inci lekuk di wajah Taeyeon, membuat Taeyeon sendiri merasa risih.

“Apa kau yang memanggilku ke sini?” tanya Taeyeon dengan penuh penekanan.

“Ne. Kau Kim Taeyeon, ‘kan? Perkenalkan, aku Choi Minho. Panggil saja Minho,” jawab Minho sambil mengulurkan tangannya.

“Kim Taeyeon imnida,” balas Taeyeon. Ia menerima uluran tangan Minho yang lebih besar dari tangan mungilnya. “Dari mana kau kenal aku?”

“Kau gadis yang cantik dan menawan,” ucap Minho, membuat Taeyeon mengerutkan dahinya.

“Mian?” tanya Taeyeon tidak mengerti.

“Aku mengenalmu dari Luhan, partner-mu di sekolah sebagai Ketua Murid,” jawab Minho, masih dengan senyuman manisnya yang mengembang.

“Lalu?” tanya Taeyeon.

“Apa kau ingin aku bicara terus terang, Ms. Kim?” Minho balik tanya.

“Bicaralah terus terang,” paksa Taeyeon. “Kenapa temannya Luhan ada perlu denganku? Dan demi menemuiku kau datang ke Whimoon. Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?”

“Mianhae, tapi aku bukan temannya Luhan, Ms. Kim. Sepanjang aku hidup, aku tidak akan pernah mau menjadi teman orang hina itu. Aku membencinya dan sampai kapanpun akan terus begitu. Aku sering datang ke Whimoon High School karena adikku sekolah di sini. Mungkin kau mengenal adikku, dan mungkin juga tidak,” jelas Minho. “Dan menurut adikku, kau itu adalah satu-satunya perempuan yang tidak mau Luhan sentuh, yang tidak mau Luhan pandang. Menurut adikku juga, kalian saling membenci satu sama lain dan tidak pernah akur. Apa adikku salah bicara?”

“Siapa adikmu?” tanya Taeyeon penasaran. Ia sedikit terkejut ketika mendengar penjelasan dari Minho. Dia membenci Luhan sampai seperti itu dan apa hubungannya dengan dirinya? Masalah mereka berdua Taeyeon juga sama sekali tak tahu-menahu.

“Tapi sepertinya adikku salah besar, ya? Tidak mungkin seorang Luhan, laki-laki arogan yang keras kepala dan tidak tahu diri itu, tidak terpesona akan dirimu. Mungkin dia memandangmu sebagai rakyat jelata, setelah kalian sering bersama, dia menyadari kecantikan yang ada dalam dirimu, Kim Taeyeon. Bahkan aku yang sekali lihat saja, tak dapat memungkiri keindahan wajahmu,”

“Aku tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan, Mr. Choi,” sela Taeyeon dingin.

“Baiklah, baiklah. Aku akan bicara terus terang padamu,” kata Minho cepat. “Kau harus berhati-hati pada serigala itu,”

“Apa maksudmu?”

“Jaga jarak dengan dia. Kau tidak tahu, ‘kan seberapa berbahayanya dia? Apa kau tahu dia itu raja di sebuah club terkenal? Rajanya ‘malam’ bersama para perempuan. Pastinya kau tahu, karena dia sendiri juga sering melakukannya di kantor, benar? Jangan anggap dia orang yang paling baik ketika dia mengatakan hal yang manis padamu. Dan jangan pernah terjerumus oleh tingkah lakunya yang sok gentle. Karena hanya akulah yang tahu sifat buasnya,” jelas Minho dengan sedikit berbisik. Tanpa Taeyeon sadari, laki-laki itu maju selangkah mendekati Taeyeon.

Taeyeon terhenyak mendengar ungkapan laki-laki yang ada di hadapannya ini. Ia tahu kalau Luhan rajanya ‘malam’. Tapi “jangan pernah terjerumus oleh tingkah lakunya yang sok gentle” membuat Taeyeon merasa bimbang. Luhan menunjukkan perubahan sikapnya hari ini padanya, dengan perubahan sikap yang luar bisa berbanding terbalik dari biasanya. Kalau memang Luhan berubah karena ada maunya, Suho pasti akan memberitahunya, ‘kan? Walaupun dia sahabatnya, Suho pasti punya hati nurani untuk memperingatkan Taeyeon agar dia lebih hati-hati pada Luhan.

Tapi kenapa orang lain yang justru memperingatkannya?

“Apa kau berbohong padaku? Kau bilang benci pada Luhan, apa karena itu kau berusaha untuk menjatuhkannya?” tanya Taeyeon. suaranya agak bergetar.

“Kau bilang aku berbohong? Apa kau tahu seperti apa dia di club?”

“Teman-temannya tidak memperingatkanku, kenapa kau yang malah melakukannya? Kau siapa? Bukan temannya, ‘kan? Jadi kenapa kau bilang kau yang lebih tahu? Meskipun kau membencinya, tapi sikapmu ini sungguh buruk,” ujar Taeyeon kesal.

“Jangan hanya mendengarkan teman-temannya. Sudah kukatakan kau memang tidak tahu apa-apa tentang laki-laki itu,” sela Minho sembari mengeluarkan smirk-nya. “Asal kau tahu Kim Taeyeon, aku membencinya bukan karena tanpa alasan. Tapi karena dia sudah merebut pacarku,”

“Merebut… pacarmu?”

“Ne, dan bukan merebut dalam arti kata dia berpacaran dengan pacarku. Tapi dia sudah menidurinya,” jawab Minho dengan penuh penekanan. Rahang laki-laki itu mengeras, seperti sedang menahan amarah. “Bahkan teman-temannya tidak tahu sampai aku memukul wajahnya,”

Tubuh Taeyeon membeku begitu saja. Bukan hal baru memang Luhan tidur dengan para perempuan sesuka hatinya. Yang membuat Taeyeon terkejut dan tidak bisa berkutik apa-apa adalah Luhan dengan teganya dan tanpa perasaan melakukan itu dengan orang yang sudah memiliki kekasih.

“Apa pacarmu yang menggodanya?” tanya Taeyeon, yang kedengarannya mustahil mengingat Minho juga memiliki wajah yang sangat tampan.

“Menggoda laki-laki itu? Apa kau tahu pacarku ini masih polos sebelum dia bertemu dengan orang brengsek itu? Kalau saja Luhan bukan orang yang pertama baginya, aku tidak semarah ini. Tapi kau tahu? Dia orang yang pertama dan dengan seenaknya mengatakan kalau pacarkulah yang terpesona akan dirinya sehingga dia berani…” Minho menghentikan perkataannya sejenak. “Mianhae, aku masih sangat marah pada laki-laki itu,”

Minho menghela nafas panjang, berusaha mengontrol emosinya. Wajahnya memerah dan Taeyeon berfikir Minho pasti merasa begitu sakit. Taeyeon adalah sosok yang peka. Entah kenapa ia juga bisa merasakan pedihnya menerima kenyataan seperti itu. Tangan mungilnya secara otomatis menepuk-nepuk lembut pundak kiri Minho.

“Suho dan yang lainnya juga tidak tahukah?” tanya Taeyeon pelan.

“Aku memukul wajah Luhan di club waktu itu. Mereka bertanya ada apa dan aku menceritakan semuanya. Apa kau tahu, bahkan teman-temannya sangat terkejut mendengarnya. Semula aku tidak ada masalah apa-apa dengan Luhan. Tapi… Entahlah, Taeyeon-ssi. Kau tidak akan tahu bagaimana rasanya,” keluh Minho. “Teman-temannya tidak tahu tingkahnya yang kelewatan dan kalau kau terjebak oleh dirinya, kau akan menyesal, Taeyeon-ssi,”

Taeyeon menurunkan tangannya dan menundukkan wajahnya. “Kenapa kau harus memperingatkan aku? Aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa. Kami bahkan tidak pernah berhubungan baik,”

“Sadar atau tidak, dia mengincarmu, Kim Taeyeon,” bisik Minho dengan mimik serius, membuat Taeyeon sedikit takut. “Sekali dia berhasil menyentuhmu, kau tidak akan bisa lepas dari dirinya sampai dia benar-benar berhasil menjatuhkanmu ke pelukannya,”

Minho menggantungkan kalimatnya dan secara tiba-tiba, tanpa di duga-duga Taeyeon sebelumnya, Minho menarik pergelangan tangan kanan Taeyeon sehingga tubuh mungilnya berada di dekapan Minho yang hangat. Taeyeon kaget bukan kepalang dengan tindakannya yang tiba-tiba. Tubuhnya mematung begitu saja tanpa bisa digerakkan. Bulu kuduk Taeyeon meremang saat Minho mendekatkan wajahnya ke wajah Taeyeon.

“A… Apa yang…?”

Minho sedikit menyunggingkan senyumannya dan bibirnya mengarah ke telinga kiri Taeyeon seraya berbisik, “Kau tahu kenapa aku memperingatkanmu? Luhan mengincarmu. Dia menganggap kau akan jatuh ke pelukannya sebentar lagi dan mendapatkan apa yang dia inginkan. Hati-hati. Kau adalah perempuan yang berharga, jangan sampai jadi salah satu korbannya,”

Minho melepas pelukannya dari Taeyeon, yang masih terdiam. Kaget, bingung, bimbang semuanya bercampur menjadi satu di dalam fikirannya. Ia menatap Minho dengan pandangan yang sulit di tebak. Sedangkan Minho tersenyum kecil pada Taeyeon.

“Kau tadi membela Luhan. Kau bilang kau membencinya. Kurasa kau sudah hampir jatuh ke dalam perangkatnya,” ujar Minho.

“Aniya,” sanggah Taeyeon cepat. “Aku hanya…”

“Segala cara dia lakukan untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Bahkan dia rela menjadi orang lain agar rencananya itu berhasil. Dia benar-benar haus perempuan, jinjja,” potong Minho sambil menarik nafas panjang.

“Bagaimana kau bisa tahu itu aku?” tanya Taeyeon pelan. Ia memandang ke bawah, takut air matanya jatuh dan Minho melihatnya. Buat apa dia harus menangis? Ya, dia tidak menyangka Luhan ternyata lebih jahat dari yang selama ini terlihat. Dan dengan polosnya ia, ia hampir tenggelam dengan perkataan Suho yang mengatakan laki-laki itu berubah karena cinta.

Cinta? Perkataan Luhan saat malam pesta dansa itu masih terngiang di dalam benaknya. Luhan bilang dia sadar betul dengan apa yang dia katakan. Apakah perkataannya itu termasuk salah satu akal bulusnya? Sudah dua kali dia tertipu.

“Aku tahu karena aku sering mendapat kabar dari adikku kalau Luhan mulai ‘berbeda’ dari biasanya, apalagi denganmu. Tidak banyak yang lagi yang mengolok-olokmu, bahkan Luhan juga sudah tidak pernah. Kabarnya, dia yang meminta siswa-siswi itu untuk berhenti menghinamu. Dia benar-benar hebat. Mungkin seperti inilah caranya menggoda kekasihku,” jelas Minho. “Dan satu lagi, kau adalah satu-satunya perempuan yang menolaknya, Taeyeon-ssi,”

Hati Taeyeon mencelos. Luhan juga pernah mengatakan kalau hanya dialah yang menolaknya, dan betapa marahnya dia setelah Taeyeon menolak pemberiannya. Karena dia belum pernah di tolak.

Minho tersenyum dan ia mengelus puncak kepala Taeyeon dengan lembut. Taeyeon menatap Minho dengan pandangan sendu. “Aku hanya tidak ingin kau menjadi korban seperti pacarku. Pertahankan apa yang selama ini telah kau jaga,”

Setelah berkata begitu, Minho pamit pulang pada Taeyeon dan pergi menjauhi gadis itu, yang masih terhenyak dengan semua penjelasannya. Taeyeon tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak tahu harus marah pada siapa. Rasanya dia ingin Luhan ada di hadapannya sekarang dan dengan bebas dia bisa meminta laki-laki itu untuk menjauhinya, bahkan pura-pura tidak usah mengenalnya lagi.

Dibohongi adalah suatu hal yang paling Taeyeon benci. Dan Taeyeon benar-benar menanamkan dalam hatinya untuk tidak lagi terbawa perasaan dengan apa yang laki-laki itu lakukan. Dia akan terus membencinya.

~~~

Luhan memukul-mukul kemudi mobilnya dengan emosi yang meledak-ledak, sampai membuat kepalan tangannya berubah menjadi merah sekali. Ia menghentakkan kepalan tangan kanannya sekali lagi dan kali ini Suho menghentikannya, yang duduk tepat di samping Luhan. Henry dan Xiumin, yang duduk di belakang bangku Luhan dan Suho, sedang memandang Taeyeon yang melangkahkan kakinya keluar dari gerbang sekolah.

“Hentikan, Luhan-ah. Kau bisa menyakiti dirimu sendiri, kau tahu? Bukankah lebih baik kita tanya pada Taeyeon langsung apakah dia punya hubungan dengan Minho atau tidak? Kita tidak bisa menerkanya langsung,” usul Suho. Dia memegangi kedua tangan Luhan, yang rahangnya masih mengeras menahan emosi.

Luhan tertawa sinis. Ia melepas genggaman Suho dan menatap Suho seakan-akan Suho-lah yang sudah melakukan semua ini. “Menanyakan langsung padanya?! Kau tidak lihat mereka tadi melakukan apa saja?! Bermesraan di taman belakang. Cerdas sekali. Ternyata ini sifat aslinya. Di depanku berlagak sok suci. Perbuatan rendah,”

“Lu, jangan langsung berfikiran tidak-tidak!” tegur Xiumin. “Hyung, bagaimana menurutmu?”

Henry menatap Xiumin dan Suho bergantian, yang tengah memandang Henry dengan pandangan memohon bantuan. Di saat-saat seperti ini Henry-lah yang paling bisa menenangkan Luhan.

“Apa lagi yang harus aku lakukan kalau memang begitu kenyatannya?” tanya Henry.

“Hyung, bukan waktunya bercanda,” tegur Xiumin lagi, lebih tegas. “Gadis itu tidak akan melakukan hal itu pada Minho, ‘kan?”

“Otak kalian sudah tercuci karena gadis itu. Mungkin tujuannya bermuka untuk membuat semua orang bersimpati kepadanya,” sela Luhan. Matanya masih menunjukkan kilatan kemarahan. Luhan tidak pernah semarah ini, itu sebabnya Suho dan Xiumin bingung bagaimana mengatasinya.

“Jangan langsung mengatakan hal yang tidak-tidak, babo!” ujar Henry sambil menjitak kepala Luhan. “Kau memang boleh cemburu, tapi setidaknya pakai akal sehatmu. Dari mana Minho bisa mengenal Taeyeon itu adalah hal yang pertama harus kau cari tahu, ‘kan? Hati-hati, my bro. Kau bisa saja di jebak oleh Minho. Kenapa? Karena kau merebut pacarnya, ingat? Walaupun hanya semalam. Dan, yang lebih anehnya lagi, buat apa dia memintamu untuk menemuinya di taman belakang sekolah sedangkan dia ada janji dengan Taeyeon? ini seratus persen jebakannya,”

“Kau cerdas, hyung! Dan bagaimana kalau Suho yang mencari tahunya lewat Taeyeon?” saran Xiumin. “Karena jujur saja, hal yang sama sekali mustahil kalau Taeyeon dan Minho punya hubungan yang khusus. Bagaimana dengan Krystal?”

“Arraseo, aku akan mencari tahu lewat Minho kalau begitu,” ujar Luhan cepat dan pasti. “Aku juga akan beri dia pelajaran untuk tidak menyentuh Taeyeon seujung jari, pun,”

“Wow, wow, wow, bro. Keep calm, deer!” seru Henry. “Kau tidak akan menyelesaikan masalah nantinya. Kau hanya akan baku hantam dan alangkah lebih baiknya jika Xiumin atau aku yang menanyakannya,”

Luhan diam tidak menjawab. Ia menghidupkan mesinnya dan dengan kekuatan penuh lelaki itu menginjakkan pedal gasnya dalam-dalam dan memutar kemudinya seperti pembalap yang sudah ketinggalan di belakang banyak saingannya. Luhan membawa mobil itu ke luar sekolah, ke tempat di mana mobil Xiumin, Henry, dan Suho parkir.

Suho menatap sahabatnya itu lekat-lekat. Ia tidak heran Luhan semarah ini. Ini pertama kalinya ia merasakan ‘cinta’. Hatinya yang kesepian pasti butuh itu. Dan ia tidak bisa menyalahkan kecemburuan Luhan yang menguasai dirinya sepenuhnya. Laki-laki itu baru merasakan kehangatan perasaan cinta, yang kemudian langsung diremukredamkan oleh musuhnya sendiri. Suho juga tidak yakin apakah Luhan mendengarkan Henry untuk tidak menanyakan langsung pada Minho.

Yang Suho tahu, seorang Luhan akan bertindak apa yang dia mau jika ia sudah marah besar. Seperti sekarang ini.

Tanpa diketahui oleh mereka berempat, seorang pengemudi mobil Audi R8 GT Spyder warna silver tengah memerhatikan mereka dari tadi. Sambil tersenyum penuh kemenangan, pengemudi itu menghidupkan mesin mobilnya dan pergi dari parkiran, menuju arah yang berbeda dari Luhan.

Gotcha, Luhan!” seru Minho sambil tertawa puas.

~~~

Taeyeon sampai di rumahnya sekitar pukul enam sore. Ia tidak mendapati sepatu yang biasa dipakai ayah dan kakak semata wayangnya di rak sepatu. Kemungkinan mereka sedang jalan-jalan keluar, melampiaskan seluruh kerinduan di antara ayah dan anak itu. Taeyeon membuka pintu rumahnya dan ia memanggil ibunya.

“Eomma, aku pulang,” sapa Taeyeon lesu. Ya, ia masih memikirkan deretan kejadian yang tak mengenakkan di sekolah. Ucapan Minho masih menghantui alam bawah sadarnya.

Mrs. Kim tidak menjawab. Taeyeon mengerutkan dahinya. Harum masakan khas ibunya tercium dari dapur. Ia langkahkan kakinya menuju dapur dan tidak ada siapa-siapa di sana.

“Eomma?” panggil Taeyeon lagi.

Taeyeon menghela nafasnya dan ia segera menuju kamarnya. Mungkin Mrs. Kim ada di sana. Dan begitu Taeyeon masuk ke dalam kamarnya, benar saja, Mrs. Kim sedang terduduk lemas di atas tempat tidur dengan tatapan kosong.

“Eomma,” panggil Taeyeon lembut. “Ada apa denganmu?”

Taeyeon menghampiri Mrs. Kim dan duduk di sampingnya. Wajah Taeyeon kaget bukan main dan jiwanya seraya diambil dengan kasar begitu ia melihat Mrs. Kim sedang memegang sesuatu. Kalung berlian milik Mrs. Pu Li, ibu Luhan.

“Eomma, dari mana…”

“Milik siapa kalung ini?” potong Mrs. Kim tanpa memandang wajah Taeyeon. Ia menunjukkan kalung berlian itu dengan wajah datar dan suaranya yang dingin. Mrs. Kim sedang marah besar.

Taeyeon tidak menjawab. Ia menggigit bibir bawahnya, ketakutan. Ia bodoh, ia lupa mengembalikannya kepada Luhan. Seharusnya ia mengembalikannya tadi. Taeyeon asyik merutuki dirinya sendiri dan bingung mau menjelaskan apa kepada ibunya. Jantungnya sudah berdebar tidak karuan.

“Jawab dengan jujur, Kim Taeyeon, apa kau bertemu dengannya?! Kau sudah tahu siapa dia? Tolong jangan bohongi aku lagi. Aku tahu persis kalung ini milik siapa, apalagi ada inisial namanya. Apa kalian sudah sedekat ini sampai-sampai dia memberikan kalung berharganya untukmu? Apa selama aku berada New Zealand kalian sering bertemu?” cecar Mrs. Kim. Ia menghadapkan tubuhnya ke arah Taeyeon, yang menundukkan wajahnya.

“Eomma, tenanglah. Aku akan menjelaskannya,” ujar Taeyeon pelan. Matanya menyiratkan penyesalan amat dalam, sehingga ibunya juga perlahan-lahan menjadi tenang. “Hanya sekali aku bertemu dengan mereka, di pesta dansa Ketua Murid kemarin. Hanya sekali dan Ji Woong oppa tahu akan hal itu. Aku berkenalan dengannya, karena Mrs. Lee yang pertama kali mengenalkan kami. Aku sama sekali tidak tahu apa-apa, eomma. Ada apa di antara kalian, aku sama sekali tidak tahu apa-apa. Aku tahu Ji Woong oppa tahu, itu sebabnya ia bertingkah aneh. Sedangkan aku? Aku tidak tahu, aku bingung harus bersikap bagaimana. Karena mereka juga bersikap sangat ramah padaku,”

“Ne, tentu saja. Ji Woong sudah menceritakan hal itu pada kami. Dan kuanggap semuanya akan selesai dan kembali seperti semula, tapi kau justru membawa barangnya ke rumah ini,” kata Mrs. Kim pelan sambil meneliti kalung berlian itu. “Aku tidak akan menyalahkanmu kalau begitu, Taeng. Kau memang tidak tahu apa-apa,”

Taeyeon diam dan ia memerhatikan wajah Mrs. Kim yang berubah sendu. Oh, ini karena dia. Kalau saja kalung itu tidak ada di kamar ini, ibunya tidak akan menunjukkan raut wajah seperti itu. Ia benci kalau ibunya sedih atau menangis.

“Kalung ini adalah kalung pemberian ayah dan ibu ketika mereka melahirkan anak semata wayang mereka, Luhan,” ujar Mrs. Kim, masih tetap setia memandang kalung itu. Taeyeon memandang ibunya, mendengarkan dengan seksama. “Kau mengenalnya, ‘kan? Kau melihatnya setiap hari, ‘kan? Ne, ini adalah kalung yang kubeli, kuukir namanya, khusus untuknya, berharap dia menjaganya selamanya, karena dulu kami teman, bahkan aku sudah menganggapnya sebagai saudara sendiri,”

“Kalung itu adalah kalung berharga milik Mrs. Pu Li, eomma,” sela Taeyeon. Ia setengah mati mencarinya kemarin,”

Tanpa diduga Taeyeon, air mata Mrs. Kim jatuh begitu saja. “Itu sebabnya aku masih merasa tidak percaya kalau aku akan melihat kalung ini lagi. Selama 18 tahun lamanya ia menyimpan ini, dan memakainya terus. Aku masih tidak percaya dia adalah sahabatku, yang juga menusuk ayahmu dari belakang. Aku tidak ingin percaya, Taeyeon-ah. Sewaktu aku mendengar kabar itu, aku tidak ingin percaya. Yang ingin terus kupercayai adalah kalau dia sahabatku,”

Taeyeon mendekati Mrs. Kim dan memeluknya seraya mengelus punggung belakang ibunya, “Eomma,”

“Apa kau tahu, keluarga itulah yang membuat hidup ayahmu menjadi begitu berantakan. Keluarga itulah yang merebut semuanya. Kata-kata itu tidak pernah ingin kupercayai. Tapi mau bagaimana lagi, itulah kenyataannya,” isak Mrs. Kim. “Kenyataan bahwa aku merindukan mereka juga tidak dapat kupungkiri,”

Taeyeon menitikkan air matanya. Sebenci-bencinya ibunya kepada sahabat sendiri, tapi Taeyeon tahu, Mrs. Kim tetap tidak bisa melupakan titel ‘sahabat’ itu. Ungkapan tersebut benar-benar menampar jiwa dan batin Taeyeon.

“Bisakah ibu menceritakannya padaku?” lirih Taeyeon.

-Flashback on-

10 tahun yang lalu…

Kim Jae Won melipat korannya dan meneguk sedikit kopi hangat yang dibuatkan oleh istri tercintanya itu. Dahinya mengerut, tampak sedang memikirkan sesuatu yang rumit.

“Ada masalah di koran itu, yeobo?” tanya Hwa Young, yang menangkap keresahan di wajah suaminya. “Atau kau sedang sakit? Aku akan minta Han ahjussi untuk mengantar TaeTae ke sekolah kalau kau tidak enak badan,”

“Gwaenchannayo,” jawab Jae Won sambil tersenyum lemah. “Hanya saja… Perusahaan William sedang dalam tidak keadaan baik. Dan aku sangat khawatir sekali,”

“Mwo? Apa masuk ke dalam berita? Bisakah kau membacakannya?” pinta Hwa Young.

“Judul besarnya adalah ‘Han Corporation Sedang dalam Masa Kritis di Beijing, China. Apakah Akan Bangkrut?’. Begitu. Pantas saja selama aku bertemu dengannya di China, dia tampak kusut. Aku sangat khawatir, yeobo. Selama 2 tahun dia menyembunyikan masalah ini. Kenapa dia tidak cerita?”

“Omo, Pu Li juga tidak menceritakan apa-apa. Otteokhaeyo, yeobo?” tanya Hwa Young sambil meremas kedua tangannya, khawatir sekali.

“Aku akan terbang ke China sekarang. Hanya beberapa hari. Tolong jaga Woongie dan Taengoo, yeobo. Saranghae.

~~~

William duduk bersimpuh di lantai menghadap Baozhai, pemilik perusahaan terkaya di China, yang sedang berdiri memunggungi William. William menundukkan kepalanya dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya. Ya, ia sedang memohon sesuatu.

“Tolong, Mr., tolong bantu aku sekali lagi. Sekali ini saja tolong bantu aku, kumohon,” pinta William dengan memelas.

Baozhai tertawa kecil. “Seorang William memohon? Wah, ini akan menjadi berita hebat sepanjang masa, benarkan?”

Rahang William mengeras. Ia berusaha untuk tidak peduli dengan semua perkataan menyakitkan dari saingannya itu. Yang ia fikirkan adalah bagaimana caranya menyelamatkan perusahaannya, menyelamatkan keluarganya.

Baozhai berbalik memandang William dengan tatapan rendah. “Aku akan membantumu, Will. Tapi dengan sebuah syarat. Dan itu harus kau penuhi dengan sunggh-sungguh,”

“Katakan padaku, Mr.,” mohon William, masih menundukkan wajahnya.

“Tentu kau kenal baik dengan Mr. Kim Jae Won, ‘kan? Kalau tidak salah dia adalah sahabat karibmu sejak masa sekolah. Nah, kau pasti juga tahu laki-laki sok jago itu menolak kerja sama denganku beberapa hari yang lalu. Sekarang, aku ingin kau mencuri semua data-data perusahaannya. Apa saja. Dan dengan itu, Han Corporation akan menjadi perusahaan paling bersinar se-Asia,” jelas Baozhai dengan pelan tapi menusuk.

“Kau ingin aku menghancurkan Kim Corporation?! Kumohon, Mr.! Apakah tidak ada cara lain? Kumohon jangan itu!” mohon William dengan suara yang merintih. Bagaimana bisa ia menyakiti sahabat, tidak, orang yang sudah dianggapnya sebagai saudara sendiri?

“Kalau begitu, ucapkan selamat datang kepada dunia kemelaratan, Will. Aku hanya memberikan satu opsi itu. Kau mau atau tidak, semuanya tergantung padamu. Coba ingat keluargamu baik-baik, bodoh,” ujar Baozhai sambil mengeluarkan smirk-nya.

William tidak menggerakkan satu ototpun. Ia bimbang, sangat bimbang. Ia tidak tahu harus berbuat apa-apa lagi. Rasanya ia ingin menjatuhkan dirinya dari lantai 10 ini. Sungguh kejam. Air mata William menetes begitu saja, mengalir seperti air sungai.

‘Maafkan aku, saudaraku Jae Won,’

~~~

“Kenapa kau tidak pernah bilang apa-apa padaku, eoh?! Kau ingin sok jago mau menyelesaikannya sendirian? Bukankah sudah kukatakan padamu untuk menceritakan semuanya padaku kalau kau ada masalah?” seru Jae Won pada William beberapa hari kemudian di sebuah café yang berada tidak jauh di rumah William.

William tersenyum kecil. “Aku hanya tidak ingin mengganggu kesibukanmu, Pak Presdir,”

“Simpan omongan busukmu itu, arra?!” seru Jae Won kesal. “Lalu, apa yang bisa kulakukan untukmu sekarang? Aku ingin membantumu, membantu keluargamu, membantu Luhan yang sudah kuanggap sebagai anak sendiri,”

William terdiam untuk beberapa saat. Tatapan matanya terlihat sedih sekali. Penuh dengan kebimbangan dan ketakutan. Jae Won danpat melihat mata William yang tengah berkaca-kaca.

“Bolehkah aku mampir ke Kim Corporation, Jae?”

“Tentu saja. Kita berangkat besok pagi, okay? Jangan pernah patah semangat, my bro! Aku akan selalu ada untuk membantumu,” jawab Jae Won sambil terseyum hangat.

Air mata William jatuh tanpa bisa ditahan olehnya. Hatinya sakit. Ia seperti merasakan api di dalam hatinya. Ia merasa membenci dirinya sendiri.

‘Kau jahat, Will,’

~~~

Setahun kemudian…

“Perusahaanmu sudah tidak bisa bertahan lama lagi, Kim Jae Won. Semau asetmu sudah di jual dengan murah ke Bao Corporation. Jeoseonghamnida,” ujar Mr. Park. Ia melepas kacamatanya dan menatap sendu ke arah Jae Won, yang sedang menangis terisak-isak di lantai. “Temanmu sendiri yang menjual perusahaanmu ini, yang sudah membuat sahammu hancur. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, Jae Won-ssi. Tapi hanya inilah yang dapat kubantu,”

Mr. Park berdiri dari sofa kantor Jae Won dan pergi keluar. Mr. Lee langsung membantu Jae Won berdiri.

“Jae Won-ah, aku tahu aku tidak bisa bilang apa-apa. Aku tahu aku juga tidak dapat melakukan apa-apa kecuali mengatakan ‘sabar’. Mianhae, mianhae. Ini semua salahku. Aku bersalah. Aku tidak bisa menghentikan William yang berada di bawah tekanan Baozhai. Mianhae, hyung,” isak Mr. Lee. Ia berusaha membawa tubuh lemah Jae Won ke atas sofa.

Air mata Jae Won tidak kunjung berhenti. Wajahnya memerah dan ia langsung menekan dada sebelah kirinya. “Appayo,”

“Jantungmu kambuh lagi, Jae Won-ah. Rilekslah. Aku akan memanggil sekretarismu. Jebal, kuatkan hatimu Jae Won-ah!”

-Flashback off-

“Bahkan ketika ayahmu masuk ke rumah sakit karena penyakit jantungnya, mereka berdua tidak datang. Kalaupun datang, mungkin mereka berdua akan langsung kubunuh,” jelas Mrs. Kim panjang lebar sambil menyeka air matanya.

Taeyeon sudah melepaskan pelukannya ke Mrs. Kim. Ia sangat terkejut. Wajahnya sudah basah oleh air mata. Ia tidak bisa membayangkan kerapuhan ayahnya waktu itu. Entah sudah berapa kali hati dan jiwanya tersayat untuk hari ini. Kenyataan yang ia hadapi tidak bisa dibawanya ke dalam akal sehatnya. Bukan hanya tubuhnya, hatinya ikut remuk mendengar kisah itu. Karena ayahnyalah, karena ayah Luhan, penyakit jantung ayahnya semakin parah dari hari ke hari. Dia benar-benar telah membuat kehidupan Taeyeon tidak tenang. Dia benar-benar menghancurkan semuanya.

“Sedangkan Bao Corporation sudah bangkrut beberapa tahun sejak kejadian itu, membuat Han Corporation menjadi perusahaan terkenal se-Asia,” lanjut Mrs. Kim. “Hebat, ya mereka,”

“Sangat hebat. Anaknya juga sangat hebat,” sindir Taeyeon pelan.

“Apa kau dekat dengan Luhan, Taeyeon-ah?” tanya Mrs. Kim pelan.

“Ani, aku sangat membencinya, bahkan sebelum ibu menceritakan semuanya,” jawab Taeyeon langsung dengan tatapan menusuk. “Mianhae, eomma. Aku akan mengembalikan kalung ini dan tidak berhubungan lagi dengan mereka. Lupakanlah kisah itu, eomma. Jalanilah kehidupan ini dengan tersenyum. Ini semua salahku, mianhae,”

“Gwaenchanna,” ucap Mrs. Kim sambil mengelus puncak kepala Taeyeon dengan sayang. “Kau juga tidak perlu mengingatnya, dear. Berpura-pura saja tidak tahu apa-apa dan tidak mengenal mereka, eoh,”

“Ne, eomma,” jawab Taeyeon lirih. Ia menutup matanya rapat-rapat di dalam dekapan Mrs. Kim.

~~~

Taeyeon berdiri di depan pintu gedung sekolah, memeriksa ID Card dari masing-masing murid Whimoon Senior High School. Wajahnya sangat kusut. Walaupun ia memampangkan senyuman indah dan manisnya, tetap saja dapat menyiratkan kelelahan yang amat sangat di wajah cantiknya. Bagaimana tidak, ia tidak bisa tidur karena terus mengingat kisah yang diceritakan Mrs. Kim. Ia terlalu sakit memikirkan perasaan ayahnya.

Kenapa ia tidak menyadari luka batin dari ayahnya sendiri selama ini? Yeoja pabo.

“Omo! Ada apa dengan wajahmu? Kau kelihatan murung, my Tae!” seru Heechul sambil menangkupkan wajah Taeyeon dengan kedua telapak tangannya.

“Aigoo, oppa. Apa kau tidak tahu itu sakit?” tanya Taeyeon kesal. Ia mengerucutkan bibirnya.

Heechul tertawa. Jessica dan Sunny menatapnya lekat-lekat. Sedangkan Taeyeon pura-pura tidak tahu dengan sibuk memeriksa ID Card milik Suho, Xiumin, Henry, dan Tao.

“Kau menangis dan tidak tidur semalaman, ya?” tanya Jessica pelan.

“Ne?! Ah, aniyo. Aku hanya tidak bisa tidur karena memikirkan program kerja Ketua Murid,” jawab Taeyeon asal.

Tiffany maju dan menatap Taeyeon dalam-dalam sembari memegang kedua bahunya. “Apa Luhan membuatmu sedih lagi? Apa dia menyakitimu?”

“Orang seperti dia tidak akan pernah membuatku terpuruk seperti ini, Fany-ah. Buat apa aku memikirkannya?” sanggah Taeyeon dingin. Beberapa detik kemudian, ia melayangkan senyuman manisnya.

“Ehem,” potong Suho. Semuanya menatap Suho, yang tersenyum manis pada Taeyeon. “Taeng-ah, aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu, dan ini berkenaan dengan Luhan. Dia tidak masuk sekolah hari ini. Dan karena semua tugas Ketua Murid sudah ia siapkan, kau tidak perlu pusing memikirkannya. Hanya saja… Tugas rutinnya kau yang menggantikan,”

“Mwo?” potong Tiffany. Ia menatap Suho. “Ada apa dengannya? Kenapa dia tidak datang? Apa dia bermalam di club lagi? Geu namja… Aigoo,”

“Ssshhtt,” lerai Tao, menyuruh Tiffany untuk diam.

“Dia jatuh sakit, Fany-ah. Awalnya dia tetap ingin datang. Tapi kami memaksanya untuk tetap di rumah. Lebih baik dia tidur seharian dan tenangkan dirinya. Kami takut dia akan jauh lebih ‘parah’ kalau dibiarkan datang ke sekolah,” terang Suho.

“Bukannya laki-laki sok keren itu selalu berlagak kuat? Kenapa jadi lemah begini? Apa sekarang dia kena kutukan karena terus menghina Taeyeon?”

“Chagiya,” sela Tao. Ia mendekati Tiffany dan menarik lengannya menjauh. “Ayo ke kelas bersama,”

“Kami akan menunggumu di kelas, Taeng,” ujar Sunny. Mereka semua pergi ke kelas bersama-sama, meninggalkan Suho dan Taeyeon berdua.

“Arraseo,” jawab Taeyeon pelan, tanpa memandang Suho. “Aku bisa menanganinya,”

“Aku ingin menjelaskan padamu apa ‘sakit’-nya Luhan. Tapi mungkin nanti,” ujar Suho dengan mimik serius. “Mungkin kau tidak peduli, Taeng. tapi cobalah tanya pada hati kecilmu. Karena hati kecilmu tahu kalau kau sebenarnya peduli,”

Suho tersenyum lembut. Ia pamit ke kelas duluan pada Taeyeon, meninggalkan Taeyeon yang masih bingung akan dirinya sendiri.

Hey, Taeyeon-ah. Apakah masih kurang penjelasan dari Minho kemarin? Apakah kesalahan Luhan masih belum sempurna setelah apa yang selama ini dilakukannya, bahkan kepada keluargamu? Apakah kau belum puas dengan kelakuan kurang ajar Luhan?

Taeyeon merasakan perang terjadi dalam dirinya, antara logika dan perasaannya. Logikanya berkata untuk tidak mempedulikan apapun tentang Luhan. Sekalipun dia mati, logikanya tetap membunyikan tanda peringatan untuk tidak peduli.

Tapi kenapa perasaannya, yang selama ini selalu dianggapnya benar, malah mengatakan sebaliknya? Dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia khawatir dengan keadaan Luhan. Ia ingin tahu apa ada sesuatu yang terjadi dengannya? Benar apa yang dikatakan Tiffany. Dia laki-laki sok keren yang berlagak sok kuat. Tapi kenapa sekarang… Bahkan di mata Taeyeon dia tampak rapuh setelah Taeyeon mengembalikan kalung itu padanya.

Dan Taeyeon ingat. Siapa yang menjaga dan merawat dirinya. Sedangkan orang tuanya tidak ada di rumah. Dan para pelayannya juga tidak akan datang jika ia tidak memanggilnya. Apa dia bisa memanggil pelayannya?

Kenapa? Dia harus percaya pada siapa? Dia harus ikuti siapa? Logikanya atau perasaannya?

Taeyeon benci dengan perasaannya sendiri. Terlambat. Semuanya sudah terlambat. Ketika perasaan hangatnya ini sudah tumbuh indah di hatinya, bahkan setiap perlakuan busuk Luhan pun tidak ada artinya di mata Taeyeon.

-To Be Continued-

Advertisements

157 comments on “My Princess, Kim Taeyeon (Chapter 10)

  1. Begitu rumit masalah orang tua mereka

    suka banget pas moment sweet lutae di kantor ketua murid

    itu minho malah nambah masalah

    fighting aja buat lutae

  2. Keluarganya luhan kok tega bgt sih sma kluarga taeyeon, ga bisa bayangin klo terjadi dengan saya sendiri, hiks

    Luhaaan, itu cuma jebakan jangan kepancing emosi plisss….
    Minho cuma menjebak km tau. Dengerin teman2nya napa.

  3. Gimana tuh? Di satu sisi aku pingin lutae pacaran. Tp di satu sisi lain aku agak kesel ma keluarga luhan. Bazeng terlalu menguras tenaga baca ni cerita 😂
    Lanjut ya thor, fighting!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s