I Need Your Love ( Chapter 7 )

173

Author : Oh Kyuri_76

Title : I Need Your Love

Genre : Romance, Funny, Friendship, Hurts, School of Life, Family

Length : Multichapter

Rating : PG 13 + ( Bisa berubah sewaktu-waktu )

Main Cast : Kim Taeyeon (SNSD), Xi Luhan (EXO), Seo Ji Hyun (SNSD), Oh Sehun (EXO)

Other Cast : Silahkan temukan sendiri

Disclaimer :

          Attention ! This is just a fanfic, don’t think to much ! All of the cast it’s belong to God, their parents, them selves, and fans too ! Remember ! Please, don’t be a plagiator ! No bashing ! And then, give me your comment after read this fanfiction ! Thank you ^^

Author Note’s :

Gumawo untuk komentar di chapter sebelumnya, sungguh sangat memuaskan ! Author juga minta maaf untuk keterlambatannya mem-posting chapter ini ^^

Summary :

“ Masih, kau masih membutuhkanku. ”

WARNING !!! TYPO !!!

^ Happy Reading ^

– Author POV –

“ Jika aku tidak sekeras ini padamu, kau tidak akan pernah mengerti. ” intonasi berbeda dari Sehun seakan menyeret Taeyeon keluar dari kedamaian.

“ Maksudmu … ? ”

Sehun membuang nafasnya, “ Mencintai seseorang itu mudah, arrasseo ? Keundae, menjauhi seseorang yang dicintai, tidak akan semudah membalikkan telapak tangan. ” Sehun beranjak pergi. Meninggalkan Taeyeon yang sedang berusaha keras untuk mengartikan ucapannya.

“ Se-sehun ! Tunggu ! ”

Lelaki itu berbalik, menatap intens wajah Taeyeon, “ Ingat perkataanku baik-baik. ”

“ Ta-tapi … ”

“ Bye bye, Taeyeon-ah ! ” sekejap kemudian, Sehun sudah kembali dengan kepribadiannya yang konyol. Taeyeon tak mengerti, jelas ia tak mengerti dengan apa yang Sehun maksud.

~ Chapter 7 ~

Lima hari terakhir Taeyeon dan Luhan tak pernah terlihat jalan bersama. Sekedar menyapa pun tak mereka lakukan. Di sekolah, disekitar perumahan, bahkan bila keduanya mengalami masalah, kini tak lagi saling menukarkan kegundaan masing-masing.

Inilah yang mendorong Taeyeon untuk memendam perasaannya lebih dalam. Hari demi hari ia habiskan untuk meladeni Sehun, entah itu mengobrol dengannya, atau mengelilingi Seoul hingga larut malam. Tak jarang pula Luhan memergoki sikap Sehun yang sudah melewati batas, seperti mencium pipi Taeyeon hari ini.

Luhan ingin menghajar lelaki itu dengan tangannya sendiri, namun mengingat ia dan sahabatnya sedang tidak berhubungan baik, Luhan pun mencoba menahan, “ Sialan. ” geramnya seraya menjauh dari taman.

Taeyeon menatap Sehun tanpa berkedip, “ Se-sehun … ”

“ Mianhae, anggap saja itu hadiah kenangan dariku, ok ? Karena setelah ini … Mungkin aku tidak akan pernah berada disampingmu lagi, Taeyeon. ”

“ Waeyeo ? ”

Sehun memasang raut wajah tak terbaca, “ Nanti, tunggulah sebentar lagi. ” ia tersenyum ramah. Bunga sakura yang berada di taman itu berjatuhan, beriringan seolah menandakan bahwa ‘sesuatu’ akan segera terjadi.

“ Kau membuat perasaanku tidak nyaman, Sehun-ah. ”

“ Hm, kalau begitu, mungkin kau bisa ikut denganku ke café D’ Cona, eottae ? ” tawar Sehun.

Taeyeon mengernyit sesaat. Ia menghela nafas pelan, “ Yeah, boleh saja. ”

“ Yappp !!! Aku akan menjemputmu pukul lima sore, arra ? ”

“ Hn, arrasseo. ”

***

Luhan memijat keningnya, tiba-tiba rasa sakit menyerang saat ia berada didalam kelas. Wajahnya pucat, kedua kantung matanya juga terlihat tidak baik. Lantas Kai menepuk pelan pundaknya, “ Gwaenchana ? ”

“ Hn. ”

Kai memperhatikan sekeliling. Tak ada Taeyeon disana, ia menoleh lagi, “ Dimana sahabatmu ? ”

“ Molla. ”

“ Luhan, kau harus beristirahat. ”

“ Tidak, tidak perlu. ” Luhan mencoba beranjak keluar kelas, belum sampai ke tujuannya, ia sudah terjatuh tak sadarkan diri. Teriakan gusar otomatis memenuhi ruangan tersebut.

“ Luhan !!! Irreona ! Luhannn !!! ”

***

Seoul, 05.03 p.m ~

Sehun menopang dagunya, “ Hm, benarkah ? ”

“ Mianhae, kau sudah datang ke rumahku, tapi aku tidak bisa ikut bersamamu hari ini, Sehun-ah. ”

“ Gwaenchana, mungkin Luhan lebih membutuhkanmu. Jadi, tidak perlu dipikirkan ! ”

Taeyeon tersenyum lirih, “ Gumawo, kau sudah mengerti keadaanku. ”

“ Hn, aku pergi, eoh ? Annyeong ! ” Sehun melambaikan tangannya sembari masuk ke dalam mobil. Taeyeon membalas ragu, ia sedikit tidak enak hati telah menolak tawaran Sehun untuk pergi ke cafe sore ini. Jika saja Luhan tidak sakit, mungkin gadis itu sudah berada didalam mobil si Sehun.

Drrt … Drrt … Drrt …

Ponsel Taeyeon bergetar, “ Yeobseyo ? ”

“ Annyeong, Taeyeon-ah … ”

Mendengar suara Seohyun diseberang, sontak memberikan respon terkejut bagi Taeyeon, “ E-eh ? I-ini Seohyun, ‘kan ? ”

“ Hm, nde. ”

“ A-ada apa, Seohyun-ah ? ”

“ I-ini … Soal Luhan … ”

Taeyeon memejamkan matanya, ia sudah mengira hal itu, “ Waeyeo, Seohyun-ah ? ”

“ Kau sudah menjenguknya ? Maksudku … Apa kau berniat untuk menemuinya, Taeyeon ? ”

“ Hm, mu-mungkin. ”

“ Eummm … Sebenarnya … Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan kepadamu … ” suara Seohyun terdengar gelisah.

“ Seohyun-ah, ada apa ? Jika kau memang ingin mengatakan sesuatu, katakan saja. ”

“ Karena Luhan sedang sakit, mungkin dia tidak akan masuk selama beberapa hari … Jadi, maukah kau pergi denganku ke taman kota, Taeyeon ? ”

“ Taman kota ? Ka-kapan ? ”

“ Bagaimana kalau … besok ? ”

Taeyeon mengulas senyuman tipis, “ Ok, aku tunggu, Seohyun-ah. ”

“ Hhhh, gumawoyeo, Taeyeon. ”

“ Hn, cheonmaneyeo. ”

“ Sampai jumpa besok, annyeong ~ ”

Taeyeon mengangguk walau Seohyun tak dapat melihatnya, “ Annyeong. ”

Tut … Tut … Tut …

Usai menjauhkan ponselnya dari telinga, Taeyeon meremas rambutnya frustasi. Semoga pertemuannya dengan Seohyun bukan akhir dari kebersamaan mereka. Taeyeon tidak ingin Seohyun dan Luhan menderita karena perasaannya, sebisa mungkin ia harus terlihat baik-baik saja. Ya, harus begitu.

“ Luhan-ah, apapun akan aku lakukan untukmu … Apapun … Akan aku lakukan, Luhan … ” bisikan lirihnya membawa angin berderu kencang. Rerintikan air pun turun menerpa tanah, “ Hiks … Hiks … A-aku … ” tangan gadis itu memeluk dirinya sendiri, “ … saranghaeyeo … Xi Luhan … Hiks … ”

***

Sesuai rencana, hari ini Taeyeon menunggu Seohyun di taman kota. Gadis bersurai blonde tersebut memasang headset demi mengusir kebosanannya. Tak lama setelah itu, tampak sosok yang ditunggu-tunggu dari arah berlawanan, Seohyun tersenyum, “ Annyeong. ”

“ Ah, annyeong … ” balas Taeyeon dengan senyuman pula.

Hening. Mereka menikmati segelas minuman hangat yang dibelinya beberapa waktu lalu. Seohyun merupakan gadis yang begitu baik, Taeyeon sendiri dapat merasakannya. Tapi, mengenai pertemuannya hari ini, ada sedikit rasa kecurigaan dibenak Taeyeon.

“ Apa hubungan kalian baik-baik saja ? ”

Perkiraanku tepat ! Seohyun pasti mengkhawatirkan hubunganku dengan Luhan, pikir Taeyeon sebelum menjawab pertanyaan Seohyun, “ O-oh, tentu. ”

“ Kau berbohong. ” dari ekspresi serta nada bicaranya, Seohyun terlihat rapuh.

Taeyeon tertawa hampa, “ A-apa maksudmu ? Ka-kami baik-baik sa- ”

“ Luhan menceritakan semuanya, Taeyeon. Wae ? Apa penyebabnya adalah kehadiranku ? Kau meminta Luhan menjauhimu, bukan ? ” Seohyun meneteskan air matanya, ia menangis.

Taeyeon menunduk sedih, “ Ini demi kebaikan kalian. ”

“ Kalian ?! Apa maksudmu ?! Bukan … bukan ini yang aku inginkan, Taeyeon-ah. ” Seohyun menggenggam tangan Taeyeon. Ia memaksa gadis itu untuk melihat ke arahnya, “ Kau mungkin sudah tahu, tapi aku harus menceritakan semuanya. Semenjak aku dan Luhan bertengkar karena masalah ini, dia berubah menjadi lebih pendiam, dia bahkan tidak menghubungiku sama sekali. ”

Terkejut, Taeyeon membekap bibirnya, “ Luhan … Berubah ? ”

“ Sekarang kau mengerti, ‘kan ? Jangan memaksanya untuk menjauhimu, Taeyeon-ah … Jebal, dia sangat tersiksa dengan keputusan itu. ”

Nafasnya tercekat, “ Seohyun- ”

“ Aku mencintainya, aku tak bisa melihatnya seperti itu terus-menerus, Taeyeon-ah … Hanya kau yang bisa mengubahnya menjadi Luhan yang dulu, berjanjilah padaku, Taeyeon. Berjanjilah. ”

Taeyeon mengangguk diselingi senyuman lirih, “ Yah, aku berjanji. ”

Spontan Seohyun mendekap Taeyeon dengan erat. Ia menangis puas dipundaknya, “ Gumawo … Jeongmal gumawoyeo … Taeyeon. ”

“ Hn, berhentilah menangis, Seohyun-ah. ”

Seohyun tak menjawab, Taeyeon bisa merasakan air mata Seohyun yang semakin deras mengalir. Alhasil, Taeyeon mengusap punggung Seohyun dengan penuh kehangatan, “ Sudahlah, semua akan baik-baik saja. ”

***

Tiga hari kemudian …

Taeyeon masih belum menemui Luhan. Sudah tiga hari berlalu semenjak ia melontarkan sebuah janji dihadapan Seohyun. Hatinya tak siap, ekspresinya tak siap, bahkan sampai sekarang pun ia tak tahu bagaimana kondisi Luhan. Khawatir, jelas ia rasakan, tapi ketakutannya mendorong Taeyeon melangkah mundur.

“ Apa aku harus menjenguknya sekarang ? ” ia memandangi balkon kamar Luhan dari dalam kamarnya. Tatapan Taeyeon meneduh, “ Sahabat macam apa aku ini ?! Karena masalah yang aku buat, bukan berarti aku tidak memperhatikan Luhan, ‘kan ?! ” dengus Taeyeon lalu mengambil sweater merahnya.

“ Chan ahjumma, aku pergi dulu, nde ?! ” teriak Taeyeon ketika tiba dilantai bawah.

“ No-nona Kim … ”

Kreek !

Taeyeon membuka pintu rumahnya, gadis itu berlari menyeberangi jalan hingga tiba didepan gerbang mewah rumah Luhan. Lihat, bahkan Taeyeon melupakan alas kakinya. Ia menekan bel, dan terlihatlah sang pemilik rumah, “ Xi ahjusshi ! ”

“ Eoh ? Taeyeon ? ” tuan Xi membuka gerbangnya dan mempersilahkan Taeyeon untuk masuk. Ia terkekeh pelan melihat Taeyeon tanpa alas kaki.

“ Eummm, apa aku boleh menemui Luhan, ahjusshi ? ”

“ Tentu saja, tapi sebelum itu … ” Xi ahjusshi mengedikkan dagunya ke kedua kaki Taeyeon. Karena kemampuan berpikirnya cepat, Taeyeon pun tersenyum manis.

“ Arrasseo. ” ia pergi ke garasi, disana ada kamar mandi kecil sebagai tempat darurat. Taeyeon lantas mencuci kakinya, barulah setelah itu ia masuk menelusuri seisi rumah si sahabat.

Nyonya Xi yang kebetulan sedang menuruni anak tangga, tak sengaja berpapasan dengan Taeyeon. Wanita itu langsung menyapa, “ Taeyeon, lama tidak bertemu. ”

“ Xi ahjumma, apa kabar ? ”

“ Baik, apa kau ingin menemui Luhan ? ”

Taeyeon mengangguk pelan, “ Bagaimana keadaannya, ahjumma ? ”

“ Dia sudah mulai membaik, hanya saja, Luhan terus menolak untuk memakan makanannya. ”

“ Berarti, dia masih belum menyentuh jatah makan malamnya, ahjumma ?

Xi ahjumma menggeleng, “ Dia anak yang keras kepala, Taeyeon. ”

“ Aku akan membujuknya. ”    ujarnya mantap. Taeyeon mengerling, “ Serahkan semuanya kepadaku, Luhan pasti tidak akan bisa menolak, ahjumma. ” dengan penuh keyakinan Taeyeon mengambil nampan yang Xi ahjumma bawa, ia pun berlanjut menuju kamar Luhan.

‘ Ahjumma percaya kepadamu, Taeyeon. ’

Tok ! Tok ! Tok !

“ Masuk. ”

Taeyeon mengulas senyumannya, ia membuka gagang pintu dan mendorongnya perlahan. Tatapan Taeyeon langsung jatuh pada sosok Luhan yang tengah bersandar ditumpukkan bantalnya. Lelaki itu menoleh, mendapati Taeyeon disana, Luhan terkejut setengah mati.

“ Lama tidak bertemu, Luhan. ” Taeyeon memasang senyuman palsu. Diletakkannya nampan makanan itu diatas meja terdekat.

“ … ”

“ Bagaimana keadaanmu ? ” tanyanya basa-basi. Luhan tetap tak menjawab, ia bungkam seribu bahasa. Taeyeon jengah, “ Aku bertanya padamu, Luhan-ah. ”

“ Pergilah. ”

Taeyeon menggeleng, “ Tidak. ”

“ Aku bilang- ”

“ Tidak ! ” seru Taeyeon menatap tajam mata Luhan, “ Aku ingin menemanimu, Luhan-ah. ”

“ Cih, untuk apa ? Kau ingin aku menjauhimu, bukan ? Sekarang pergilah. ” Luhan berusaha turun dari ranjangnya. Tapi ia masih belum mampu menopang tubuhnya, Taeyeon sontak membantu Luhan yang nyaris terjatuh karena pilihannya sendiri.

“ Jangan bodoh, kau masih sakit. ”

Luhan mendesis, “ Apa pedulimu ? ”

“ Jelas aku peduli, aku ini sahabatmu. ” jawab Taeyeon sambil mendudukkan Luhan ditepi ranjang.

“ Huh, kau pikir begitu, ya ? ”

Taeyeon berdiri dihadapan Luhan, “ Nde. ”

“ Sahabat ? Tidak lagi. ”

Plak !

Sorot mata Taeyeon memancarkan kemarahan yang amat jelas. Sementara Luhan masih terkejut karena Taeyeon yang tiba-tiba menamparnya. Baru saja Luhan ingin memprotes tindakannya, Taeyeon terlebih dahulu bersuara, “ Salahkan aku yang memang memintamu untuk menjauhiku, salahkan aku yang sudah membuatmu terluka karena semua itu, salahkan aku, Luhan ! Salahkan aku ! ”

Luhan terdiam, ia mengalihkan pandangannya, “ Hentikan. ”

“ Kau menyuruhku bersikap lebih dewasa lagi, tapi apa ? Kau sendiri tidak bisa melakukannya ! ”

“ Taeyeon. ” panggil Luhan, suaranya tercekat.

“ Xi Luhan … Seharusnya, kau langsung menamparku saat itu ! Seharusnya, kau langsung menghentikan ucapanku saat itu ! Tapi ? Kau sendiri yang menyetujuinya, ‘kan ? Kita tidak saling menyapa, bahkan saling menjauh selama beberapa hari … Kau pikir aku senang dengan semua itu ?! ”

Luhan membalas tatapan Taeyeon, “ Apa yang sebenarnya terjadi, Taeyeon ? Aku tahu, kau pasti sedang kelelahan karena- ”

“ Jangan mengalihkan pembicaraan ! Seohyun menceritakan semuanya kepadaku, dan aku berjanji akan membuatmu menjadi seorang Xi Luhan seperti dulu. ”

“ Great, bahkan kekasihku sendiri tak bisa menjaga rahasia. ”

Plak !

Lagi, Taeyeon menampar Luhan sekali lagi. Tetesan air mata sukses membuat Luhan terbelalak. Ia tak peduli dengan rasa sakit yang menyambangi pipinya, Luhan hanya berpikir satu hal. Kenapa reaksi Taeyeon sampai semarah itu ?

“ Dia benar, kau sudah berubah. ”

“ … ”

Taeyeon menekuk lututnya, ia seperti sedang bersimpuh dihadapan Luhan, “ Tidak hanya didepan semua orang, ternyata … Kau juga berubah didepanku, Luhan. ”

“ Kau yang menginginkannya, bukan ? ” balas Luhan tetap tenang.

“ Tidak ! Tidak seperti ini ! Kau … Kau … Kau membuatku menyesali semuanya ! Kau membuatku menyesali ucapanku waktu itu, Luhan ! ” Taeyeon melepaskan seluruh amarah beserta tangisannya. Bola matanya memang menggambarkan banyak kesedihan, Luhan tahu itu.

“ Jangan seperti ini, Taeyeon. ”

“ Hiks … Hiks … Aku ingin kau kembali menjadi Luhan yang dulu … Hiks … Jebal, Luhan-ah … ” Taeyeon menggenggam tangan dingin milik sahabatnya. Kemudian Taeyeon berdiri, ia mengecup kening Luhan selama beberapa detik, Luhan jelas tersentak atas perlakuan Taeyeon.

“ Aku menarik kembali permintaan itu … Sekarang, tolong kembalilah menjadi sahabatku yang dulu, kembalilah menjadi Luhan yang selalu membuatku merasakan kenyamanan. ” pintanya setulus yang ia bisa.

Luhan menunduk, “ Bodoh. ”

“ … ”

Walau masih belum cukup kuat, lelaki itu tetap memaksakan dirinya untuk berdiri. Ia memeluk tubuh Taeyeon dan memanjakan dagunya dipundak gadis bermarga ‘Kim’ tersebut, “ Inilah yang ingin aku dengar darimu, Taeyeon-ah … ” Luhan mengeratkan pelukannya, “ … bukan hanya kau saja yang tersiksa dengan semua itu, aku dan Seohyun juga turut ambil bagian, bodoh ! ”

Taeyeon tertawa pelan, “ Hhhh, mianhae. ”

“ Dasar, kau tidak akan pernah bisa tumbuh dewasa, Taeyeon. ”

“ Mwo ? ”

Luhan memejamkan matanya, menikmati kehangatan dalam dekapan Taeyeon, “ Kau masih memerlukanku untuk menjagamu, Taeyeon. ”

“ Eh- ”

“ Masih, kau masih membutuhkanku. ” Luhan menghirup aroma lavender yang menyengat ditubuh sahabatnya. Aneh sekali, kehadiran Taeyeon lantas membuatnya tenang dan bersemangat seketika.

Gadis didalam pelukannya tersenyum menyedihkan. Ia seperti manusia tidak berperasaan, menyakiti hati Luhan dan Seohyun yang jelas-jelas mengkhawatirkannya. Taeyeon menghela nafas pelan, diusapnya punggung Luhan yang menimbulkan keharuman bak pohon pinus.

“ Aku merindukanmu, Luhan-ah. ” Taeyeon menyandarkan kepalanya didada Luhan, tatapan lirihnya berubah menjadi lebih sendu.

“ Hn, aku juga. ”

***

Sehun mengacak rambutnya. Ditengah keheningan malam yang mencekam, pemuda itu tampak gelisah memandangi sebuah photo berisikan gambar seorang gadis. Gadis yang akhir-akhir ini selalu berada didekatnya, gadis yang akhir-akhir ini selalu terlihat bersamanya.

“ Aku tahu ini menyakitkan … ” Sehun membuang photo tersebut ke sembarang arah, ia melihat seksama langit-langit kamarnya. Garis melengkung muncul dibibir tipisnya, senyuman sarkastik, “ … mau bagaimana lagi ? Hanya inilah cara terbaik yang harus aku lakukan. ”

Bulan yang menerima pantulan cahaya matahari diluar sana, adalah saksi bisu tentang rencana Oh Sehun. Deru suara angin tak mengerti kemana pemuda itu mengambil langkah. Sehun hanya menyimpannya seorang diri, tentu dengan tujuan yang terasa ambigu.

Sehun dan rencananya telah siap beraksi. Sementara di sebuah kediaman yang lain, tepatnya ruangan yang berisikan deretan buku-buku, terdapat sosok si gadis, Seohyun. Ia menguap sejenak, namun tak berniat mengistirahatkan tubuhnya yang mulai kelelahan.

Dia terdiam setelahnya, memperhatikan sebuah nama yang terukir diatas lembaran kertas. Hanya ada dua kata, yaitu ‘Xi’ dan ‘Luhan’. Nama itu ditulis dengan tinta berbeda-beda, dalam setiap lembar kertas ada nama lengkap kekasihnya. Seohyun tak mengerti, coretan itu terlihat asing.

Ada yang kurang, tapi apa ?, tanyanya untuk kesekian kalinya, diperhatikanlah lagi lembaran kertas yang memenuhi ruangan dengan penerangan redup itu. Kedua bola mata Seohyun membelalak, “ Mungkinkah … ” kalimat yang ia biarkan menggantung menghasilkan rasa sesak didada, gadis itu tertawa hambar. Tangannya pun bergerak menuliskan sebuah nama disamping nama kekasihnya.

Kim Taeyeon.

Ia lega, tidak ada yang mengganjal pikirannya lagi. Tapi kenapa ? Beriringan dengan nama itu, sedikit demi sedikit cairan terjatuh dari kedua matanya. Menangiskah ? Seohyun mencengkeram kuat-kuat kertas hasil karyanya, ia menelungkupkan kepalanya ke atas meja, terisak dalam diam.

“ Kenapa … ? ”

Tok ! Tok ! Tok !

“ Seohyun ? ”

Tersentak, gadis itu cepat menghapus air matanya. Dia menjawab pelan, “ Nde, Eomma ? ”

“ Sibuk ? ”

Seohyun melangkahkan kakinya menuju pintu, ia menarik gagang pintu didepannya, “ Tidak, tidak sama sekali, memangnya ada apa, Eomma ? ”

“ Bisa bicara sebentar ? Setidaknya, dengarkan permintaan, Eomma. ”

Sambil mengangguk ragu, Seohyun mengikuti langkah wanita paruh baya tersebut. Ruang keluarga ? Seohyun mengernyit, “ Eomma- ”

“ Ini, bacalah. ” potong sang Eomma.

Dibacanya selembar kertas dengan ticket penerbangan untuk satu minggu ke depan. Seohyun mengerjapkan matanya, ia menganga tak percaya. Ekspresinya menjadi tak terbaca, “ I-ini … ”

“ Kau setuju, ‘kan ? ”

Seohyun menelan salivanya, “ Aku … tidak tahu. ”

“ Pikirkanlah, waktumu tidak kurang dari seminggu, Seohyun-ah. ”

Ditinggalkanlah Seohyun seorang diri. Ditangannya terdapat kesempatan emas bagi kemampuannya yang cukup berpotensi, menjadi seorang penulis adalah harapan kedua orang tuanya. Dan sekarang, kedua orang tuanya telah membuka lebar-lebar potensi itu, keputusan pun berada ditangan Seohyun. Tinggalkah dia, atau pergi ke jenjang yang lebih tinggi diluar sana.

***

“ Kalian tidak bertengkar lagi, eh ? ” tanya Kai lengkap dengan mimik mengejek.

Taeyeon flat, Luhan poker-face, “ Tidak. ”

Kai terkejut membalas, “ Aishhh, orang-orang menyebalkan. ” pemuda itu mendengus sebelum akhirnya pergi keluar kelas, ditemani oleh Suho tentunya.

Taeyeon menggeleng pelan, “ Memangnya, sudah berapa lama kita tidak bersama ? ”

“ Seminggu ? Sebulan ? Aku tidak ingat. ”

“ Reaksi mereka terlalu berlebihan. ” Taeyeon mencibir malas.

Luhan terkekeh pelan, “ Yah, aku rasa begitu. ” keduanya kembali mengerjakan tugas-tugas yang belum sempat tersentuh itu. Apa lagi karena Luhan yang sudah beberapa hari tidak masuk sekolah, pemuda itu menjadikan keluhan sakitnya sebagai alasan, agar Taeyeon meluangkan waktu untuk mengajarinya beberapa materi yang tertinggal.

Tiba-tiba, ponsel Taeyeon bergetar. Dia menerima panggilan masuk dari Sehun, “ Nde, yeobseyeo ? ”

“ … ”

“ Ah, jinjjayeo ? ”

“ … ”

Taeyeon tertawa pelan, “ Baiklah, tunggu aku sekitar sepuluh menit lagi, nde ? ”

“ … ”

“ Hn, annyeong ~ ” saat sambungan terputus, sinar laser dari tatapan Luhan langsung menembus perhatian Taeyeon. Gadis itu menatap Luhan sambil tersenyum tipis, “ Chaaa, sa-sampai dimana kita tadi ? ” Luhan mendecak kesal, lagi-lagi Taeyeon mengalihkan topik.

“ Sejauh mana hubungan kalian ? ”

Taeyeon tertegun sesaat, “ Teman, hanya teman. ”

“ Cih, pembohong. ”

“ Luhan-ah, bisakah kita fokus dengan materi ini dulu ? ” Taeyeon mengetukkan ujung penanya diatas sampul buku ‘Science’ tersebut. Jika sudah begini, ia sangat malas meladeni Luhan.

“ Aku sudah fokus sedari tadi, dan kau, karena panggilan dari si Sehun itu, aku tidak bisa lagi memfokuskan pikiranku ke materi yang kau jelaskan barusan, Taeyeon. ”

Jenius, pandai sekali dia merangkai alasan berlogika itu., batin Taeyeon memutar bola matanya. Usai membereskan buku-buku yang berserakan, Taeyeon pun beranjak, “ Aku akan segera kembali. ”

“ Dan meninggalkanku ? ”

“ Oh ayolah, kau ini bukan seorang bocah berusia lima tahun lagi, Luhan-ah. ”

Wajah innocent muncul, “ Kau tega membiarkan sahabatmu menunggumu disini, Taeyeon ? ”

“ Kenapa tidak ? ”

Luhan speechless seketika, “ Yeah, kau menang. ”

Taeyeon mengukirkan senyuman manisnya, “ Selamat mengerjakan, Luhan-ah ~ ” seraya melambaikan tangan, sosok Taeyeon perlahan menghilang dibalik pintu. Terbersit rasa enggan dihati Luhan, ia enggan membiarkan Taeyeon dan Sehun berdekatan, bahkan bertukar tatapan saja tak sudi baginya.

***

“ Mohon bantuannya, Sehun-ah. ”

“ Apa kau benar-benar serius dengan keputusan itu ? ”

Gadis berwajah lembut dihadapannya tersenyum, “ Aku ingin melihat Luhan bahagia. ”

Sehun menunduk, “ Jika memang itulah yang kau inginkan, bukankah kau telah mengambil jalan yang salah dengan pindah ke luar negeri ? ”

“ Tidak. ” Seohyun memalingkan wajahnya, “ Jalan yang aku ambil adalah pilihan terbaik. ” lanjutnya sembari tersenyum lirih.

Sehun membuang muka, “ Jadi begitu. ”

“ Dan pada akhirnya, aku tahu misi rahasiamu. ”

“ Hah ?! ”

Seohyun mengeluarkan kertas kecil berwarna merah dari dalam saku kemejanya, “ Dengan kata lain, kita memiliki misi yang sama. ”

“ Dari mana … ”

“ Aku mendapatkan kertas ini ? ” mata Seohyun menatap lurus ke depan, ia menerawang ke beberapa menit yang lalu, “ Kau tidak berpikir aku memintamu ke sini hanya untuk mendengarkan ceritaku, ‘kan ? ” dia memberikan jeda sejenak, “ Kau menjatuhkannya saat menutup pintu kelas tadi pagi. ”

“ Eh, jinjjayeo ? ” Sehun meraih kertas miliknya.

“ Aku tidak sengaja membacanya. ” tukas Seohyun dengan suara pelan, sangat pelan.

Sehun tersenyum, “ Gwaenchana. ”

“ Jadi, misi yang kau ceritakan kepadaku waktu itu … ”

“ Hn, aku harus melakukannya. ”

Seohyun menggigit bibir bawahnya, “ Apa kau serius ? ”

“ Tentu saja, aku muak dengan sikap mereka selama ini. Aku muak dengan kekasihmu yang tidak pernah peka terhadap perasaan sahabatnya sendiri. Aku muak dengan Taeyeon yang selalu menahan kesedihannya demi orang seperti Luhan. ” jelas Sehun tak berekspresi. Flat.

Seohyun menghembuskan nafasnya, “ Kau tahu perasaan mereka sejak awal, bukan ? ”

“ Huh. ”

“ Dan kau tidak memberitahuku, Oh Sehun. ”

Sehun menaikkan alisnya, “ Kau yakin tidak akan menangis jika aku memberitahumu dari awal ? ”

“ Aku-! ” Seohyun langsung menghentikan ucapannya. Ia ingin membantah, tapi tidak bisa. Ia ingin mengelak, tapi sia-sia.

“ Ck, lebih baik kau kembali ke kelas sekarang juga. ”

“ Apa Taeyeon sudah datang ? ”

Sehun melihat jam tangannya, “ Aku rasa, dia akan datang sebentar lagi. ”

“ Hm, kalau begitu, aku pergi dulu, Sehun. ” beranjak, Seohyun pun meninggalkan Sehun. Dan dari arah berlawanan, terlihat sosok Taeyeon yang tengah melambaikan tangan ke arah Sehun.

“ Annyeong. ”

Sehun tersenyum, “ Annyeong. ”

“ Jadi ? ” tanya gadis yang baru tiba itu, langsung to the point.

“ Aku mencintaimu. ”

Taeyeon tersedak entah karena apa. Ia terbatuk-batuk, “ Se-sehun, aku tidak mengerti. ”

“ Kau memang tidak akan pernah bisa mengerti. ” Sehun mengambil nafas, “ Karena kau tidak pernah melihatku sebagai seorang lelaki. ” tambahnya dengan suara dingin.

“ Tunggu, bukankah kau memintaku kemari untuk memamerkan barang yang diberikan oleh orang tuamu ? Kau sendiri yang mengatakan, kalau kau ingin berbicara banyak hal denganku, Sehun-ah. ”

“ Aku berbohong. ” balasnya santai.

Taeyeon menggeleng pelan, “ Ada yang aneh dengan sikapmu, Sehun. ”

“ Tidak. Tidak ada. Kaulah yang aneh. ”

“ Sehun ? ”

Pemuda itu menanggalkan posisi duduknya, “ Lima hari. Lima hari lagi, temui aku di Namsan Tower. Karena aku akan menerima apapun jawabanmu mengenai pernyataan cintaku barusan, tepat di tempat itu. Dan jika kau tidak datang, aku pastikan kau dan Luhan tidak dapat bertemu kembali. ”

“ I-itu … sebuah ancaman ? ”

Sehun memberikan senyuman sinis, “ Dengan begitu, kau pasti datang menemuiku. ” lalu berlalu meninggalkan Taeyeon seorang diri. Gadis tersebut kebingungan, ia merasa bersalah sekaligus kesal.

‘ Sebenarnya, ada apa ? ’

– To Be Continued –

Author Note’s :

Tinggalkan jejak, please ? Maaf atas keterlambatannya, readers ! Annyeong ~

Advertisements

90 comments on “I Need Your Love ( Chapter 7 )

  1. Terlambat post gx p2 kok thor…asalkan ff ini harus happy ending…he…he
    fighting next chap a ea ..

  2. Sehun oh sehun kenapa buat aku penasaran eoh? Kepengen banget next chapternya dilanjut nihh, ditunggu ne. Fighting ‘-‘)9

  3. Sehunnn baik atauuu jahaattt!?
    baperrrkaann akuu jadinyaaa
    aaaaaa.. sebenernya tujuan mereka sama2 ingin membahagiakan tapi dengan cara menyakiti diri sendiri
    ㅠ.ㅠ cepet lanjuut

  4. Kyaaaaaa
    akhirnya update juga ni ff…
    Alhamdulillah di chap ini adegan yang bikin nyesek udah mulai berkurang, nggak kaya chapter yang sebelum2nya, kekeke
    oh,, jadi rencana sehun itu pengin nyatuin lutae? Aku kira malah dia pengin nyatuin seohan. Dannnn aku ngak nyangka kalo sh suka ty loh, justru aku kira sh suka seohyun, eh, malah sebaliknya,,

  5. hahaha…. luhan need taeyeon’s love 🙂
    sehun seohyun yg sbr yaah dan teruskan misimu 🙂
    luhan emang g’ pke bgt org’y, klo gini mah taeyeon hrus drebut dlu bru dy sadar hahahah…
    Author hwaiting for next chapter 🙂

  6. asik banget deh jadi taeng..
    Dateng2 langsung denger kata “aku mencintaimu” dari sehun…
    kkkkk~ *envy… 😀
    penasarann bgt sama misinya sehun n seohyun, apa mrk ingin mempersatukan taeng-luhan?
    Ditunggu updatenya thor, semangatttt!!

  7. Darak thor !! ^^

    Tbc bya ganggu aja !? :g
    Sehun bkal ngelakuin apa sih ?? misinya ap ?? penasaran thor !!

    Next chap nya jngn lma2 ne !!? dtnggu… fighting!! ^^

  8. lulu OON bner huhhh, masih kgak peka jga sm perasaannya sendiri ke taetae…
    Sehunna sebenarnya apa yg sedang kau rencanakan??????

  9. Itu Luhan gga peka ya sama perasaanny.. uda jelas-jelas suka sama Taeng eonni tp merasa suka ke Seohyun.. kan kasian Taeng eonni.. ciee Sehun juga suka sama Taeyeon? Seohyun mau pergi? Waw, next chap ditunggu 🙂

  10. gilirian taeng ama sehun aja si lulu kebakaran. emg dasar luhan nya aja yg g peka” sm perasaan nya sendiri ke taeng. mesti di pancing dulu baru ngerti. semangat ya bang sehun nyatuin couple baby face yg satu ini haha. next chap di tunggu. tmbah seru binggooooooooooo 😀

  11. setelah sekian lama nunggu kelanjutannya ini ff akhirnya muncul juga hehe. sehun susah ditebak ihh makin gemes, makin cinta sama itu anak XD. jadi aslinya dia tau kan kalo 2 sejoli itu saling suka tpi gak pada peka. haha ditunggu next chapternya. fighting!

  12. Itu kenapa thorrr? Bikinn prnasaraaannnn. Sehun satuin lutae yaaaa😊 hehehe ditunggu next chapternya thor hwaiting 😘💕

  13. Aku suka banget sama ff ini. Maaf baru bisa comment di chapter ini. Ceritanya bagus tapi lebih bagus lagi kalo dipanjangin dikit ceritanya :D. Update soon thor !! Faithing !!

  14. ahh author padahal aku suka klo mereka jauhan aja 😀 kasian sehun pengenny Luhan emg cinta ama Taeng .Author chap ini pendek amat sih okee pokokny keep writing and Fighting!!!

  15. seruuu thorr, terhura bacanya…
    selanjutnya susah di tebak thorr..
    ganggu sumpah tuh tbc…
    thorr jan lama2 lanjutinnya……..

  16. wah apa maksud dari sehun ? apakah sehun akan melepaskan taeng eonni
    suka moment lutae.nya thor suka kalau luge cemburu
    di tunggu next chapternya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s