[FREELANCE] Even When It’s Hurt (Oneshot)


Even When it’s Hurt || EShyun Storyline || Romance, Angst, Friendship, Sad || PG – 15 || Cast : Do Kyungsoo, Kim Taeyeon || Other Cast : Zhang Yixing (Lay), Kim Joonmyun (Suho) || Poster by Lee Yong Mi https://allthingsiwannapost.wordpress.com/ ^^

Hi Readers, ini FanFic pertama yang saya kirim kesini. Semoga kalian suka ya^^

Sebelumnya FanFic ini pernah saya post di blog pribadi saya.

Happy reading ^^

+++++

Even When It’s Hurt

-Kyungsoo POV-

“Kyungsoo-ah… Kau tahu, barusan Suho oppa melamarku. Dan bulan depan kami akan segera menikah. Hei, betapa bahagianya aku…”

Kata-kata itu masih terngiang jelas di telingaku, kata-kata yang ia sampaikan beberapa hari yang lalu, kata-kata yang berhasil membuatku terbelalak kaget, walau sesungguhnya aku tahu kata-kata itu pasti akan keluar dari bibirnya. Aku juga masih mengingat bagaimana raut wajah bahagianya saat itu, senyum yang tak lepas dari wajah malaikat dan tawa yang tak henti keluar dari bibir manisnya itu.

Yeoja itu, Kim Taeyeon. Yeoja yang telah bersamaku sejak aku kecil. Yeoja yang selalu bisa membuatku tersenyum sepanjang waktu, yeoja yang aku sayangi, bahkan aku… cintai.

Ya, karena kebersamaan itu membuatku telah jatuh cinta padanya. Aku menyukai segala yang ada di dirinya, apapun itu. Tapi tidak dengannya. Ia hanya menganggapku namdongsaeng-nya, dan tak pernah lebih. Aku tahu dia juga menyanyangiku, tapi itu hanya sekedar rasa sayang seorang noona ke dongsaeng-nya, bukan rasa sayang seorang yeoja ke namja-nya.

Selama ini aku juga tak pernah menunjukkan perasaanku yang sebenarnya, aku selalu menyembunyikannya. Wae? Karena aku tak mau dia menjauh dariku setelah ia mengetahui kebenarannya. Aku rasa hanya dengan melihat dia tersenyum bahagia itu sudah lebih dari cukup untukku, walau kebahagiaannya itu bukan bersamaku melainkan bersama seorang namja bernama, Kim Suho.

Ya Kyungsoo-ah, kau melamun eoh?”sebuah suara membuatku tersentak kaget dan kembali ke alam nyataku.

“Ah, noona. Kau mengagetkanku saja. Sejak kapan kau disini?”tanyaku, berusaha bersikap sebiasa mungkin.

“Aku tahu kau melamun,”ia tampak mengerucutkan bibirnya kesal, membuatku gemas melihat kelakuannya itu, “Bahkan kau tak tahu aku sudah disini sedari tadi.”

Kyungsoo tertawa kecil, “Mianhae noona. Ah iya, dimana Suho hyung? Dia tak bersamamu?”tanyaku mencoba mengalihkan topik pembicaraan kami.

Ani, dia tak bersamaku. Hari ini dia sangat sibuk dengan pekerjaannya, padahal seharusnya dia menemaniku fitting gaun untuk pernikahan kami.”

Deg. Mendengar kata “pernikahan” entah kenapa hati ini menjadi semakin sakit, bagai tertusuk beribu duri. Aku terdiam, berusaha menyembunyikan rasa sakit ini.

“Kyungsoo-ah, gwaenchana?”terdengar nada khawatir dari pertanyaannya.

“Ah ne, gwaenchanayo.”jawabku cepat. Aku tak mau melihatnya khawatir seperti itu.

“Tapi, kenapa kau tiba-tiba diam? Kau sakit?”kali ini aku merasakan tangan lembutnya meraba keningku.

Aniyo. Mungkin hanya sedikit kelelahan.”bohongku. Aku meraih tangannya yang berada di keningku, lalu menurunkannya perlahan.

Jeongmal?”tanyanya lagi. Sepertinya dia masih tak mempercayaiku.

Ne noona.”aku tersenyum ke arahnya, mencoba lebih meyakinkannya.

“Baiklah kalau begitu.”ujarnya masih dengan ragu, “Ah iya, kau sedang tak sibuk kan?”

“Aku? Ani, kenapa?”

Kajja, kau harus ikut denganku.”ia menarik tanganku cepat.

“Kemana?”

“Menemaniku fitting gaun. Apa kau tega membiarkanku pergi sendirian eoh? Tidakkan? Jebal, ikutlah bersamaku. Setidaknya aku mempunyai teman berbicara kalau-kalau itu membuatku jenuh.”

Ne?”aku sedikit terperangah mendengar perkataannya.

Aish, kau ini. Palli!”ia menarik tanganku dan akhirnya mau tak mau aku mengikutinya.

+++++

Kyungsoo tersenyum senang saat melihat Taeyeon keluar dari ruang ganti. Yeoja itu kini berdiri di hadapannya dengan balutan gaun putih yang sangat indah. Tak banyak hiasan di gaun itu, hanya dihiasi beberapa manik-manik berkilauan yang membuatnya terkesan sederhana.

Kyungsoo bisa melihat seperti apa kebahagian yeoja itu. Ya, semua terpancar nyata di wajah cantiknya itu.

“Kyungsoo-ah, yeppeo?”tanyanya sambil memainkan gaun itu.

Neomu yeppeo. Apapun yang kau kenakan, akan selalu terlihat cantik noona.”pujinya.

Jeongmal?”mata yeoja itu tampak berbinar-binar bahagia.

Kyungsoo tersenyum lalu mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaannya tadi.

Mereka tengah berbincang-bincang ketika seorang pelayan mendatangi mereka.

“Permisi, anda sudah mencoba gaunmu tapi bagaimana dengan jasnya?”tanyanya.

Omo. Aku hampir saja lupa. Aish, eottae?”ia terlihat sedang berfikir, lalu sesaat kemudian matanya menatap Kyungsoo penuh arti.

Wae? Kenapa kau menatapku seperti itu noona?”tanya Kyungsoo bingung.

Hmm, jas itu akan dicoba juga. Ini, bawa dia.”ujar Taeyeon pada pelayan itu sambil mendorong Kyungsoo ke arahnya.

Mwo?”Kyungsoo membulatkan matanya tak percaya.

Ssttt… sudahlah kau saja yang mencobanya. Toh postur tubuhmu dan Suho oppa kan tak berbeda jauh. Jadi jika pas di tubuhmu, maka begitu pula pada Suho oppa. Kajja.”

Kyungsoo menghela napas, “Baiklah noona.”ujarnya, mengalah lagi.

“Lewat sini, tuan.”ujar pelayan itu.

Kyungsoo melangkah mengikutinya ke sebuah ruangan. Tak berapa lama ia keluar dengan mengenakan jas yang berwarna senada dengan gaun Taeyeon. Namja itu terlihat melangkah ragu ke arah Taeyeon.

“Kyungsoo-ah. Kau sangat… tampan.”pujinya, “Sini,”yeoja itu menarik Kyungsoo membawanya ke depan cermin besar lalu berdiri berdampingan disana, “Lihatlah… yang aku katakan benar bukan? Kau sangat tampan. Betapa beruntungnya yeoja yang akan menjadi istrimu kelak.”

Noona, kau tahu aku ingin kau yang menjadi istriku, bukan yeoja lain.”batinnya. Seandainya dia memiliki keberanian untuk mengatakan hal itu padanya.

“Kau saja tampan, apalagi jika Suho oppa yang mengenakannya. Pasti dia tak kalah tampan darimu. Beruntung aku memiliki dongsaeng yang pengertian sepertimu. Gomawo Kyungsoo-ah.”ujar Taeyeon senang. Ia terlihat menjinjitkan kakinya lalu mengecup pipi kanan Kyungsoo. Membuat namja itu terdiam kaget.

Noonoona.. Ka-kau…”ia tergagap, tangannya memegangi pipinya.

Taeyeon tertawa pelan, “Kau kenapa eoh? Bukannya aku sering melakukan itu padamu? Kau sangat lucu Kyungsoo-ah.”

Kyungsoo terdiam, hingga akhirnya bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman. Baginya, melihat yeoja itu tertawa sudah bisa membuatnya merasakan kebahagiaan yeoja itu.

Tawa Taeyeon terhenti saat mendengar handphone-nya berbunyi. Ia segera mencari benda itu di dalam tasnya, setelah melihat nama yang tertera disana ia langsung menerima panggilan tersebut.

Yoboseyo. Oppa, akhirnya kau menghubungiku juga. Bagaimana dengan pekerjaanmu itu eoh? Apa sudah selesai? Aku sedang bersama Kyungsoo, kau mau kesini? Aku akan-“ucapannya terhenti saat mendengar suara di seberang sana.

Mianhae. Apa kau mengenal pemilik handphone ini?’tanya suara itu, suara yang sama sekali tak ia kenali.

Ne, aku mengenalnya. Dia Kim Suho, calon suamiku.”jawab Taeyeon pelan. Sebuah perasaan aneh tiba-tiba menghinggapinya. “Anda siapa? Mengapa handphone-nya bisa ada pada anda?”tanyanya lagi.

“Saya tak tahu harus menghubungi siapa lagi dan ketika saya membuka daftar panggilan saya melihat nomor anda yang terkahir kali di hubunginya, jadi saya memutuskan untukk menghubungi anda. Nona, saya hanya ingin memberi kabar, bahwa pemilik handphone ini, mengalami kecelakaan.”

Ne? Ke-kecelakaan? Anda bercanda? Tidak. Tak mungkin. Beberapa jam yang lalu aku masih mendengar suaranya. Ani. aku tak percaya.”tangan Taeyeon bergetar hebat, mengakibatkan handphone-nya terlepas dari genggamannya. Tubuh yeoja itu melemas, jika saja Kyungsoo tak cepat menahannya mungkin saat ini ia telah jatuh.

Kyungsoo melihat perubahan air muka yeoja itu, dia tahu sesuatu yang tak beres telah terjadi.

Noona, apa yang terjadi eoh? Kenapa kau tiba-tiba seperti ini?”tanyanya.

“Kyungsoo-ah. Su-Suho oppa, kecelakaan.”ujarnya dengan terisak.

Ne? Hyung kecelakaan?”Kyungsoo mendudukkan Taeyeon lalu dengan cepat ia mengambil handphone
yeoja itu yang terjatuh.

Yoboseyo, yoboseyo,”beruntung panggilan itu belum terputus, “Ya! katakan padaku, dimana hyung sekarang.”bentaknya. “Palli!”

“…”

Ne, gomawo. Kami akan segera kesana.”ia dengan cepat memutuskan sambungan telepon, “Noona, kajja. Kita harus kesana sekarang.”ia menarik tangannya, membawa ke dalam mobil. Dan tanpa mengucapkan sepatah katapun, ia segera menjalankan mobil menuju ke suatu tempat.

+++++

“Dimana Kim Suho? Dia baru saja mengalami kecelakaan dan di bawa ke rumah sakit ini.”tanya Kyungsoo panik pada seorang perawat..

“Sebentar.”ujar perawat itu lalu memcaba sebuah daftar. “Kim Suho?”

Ne. Katakan, dimana dia sekarang.”

“Dia berada di ruang ICU.”

Kamsahamnida.”Kyungsoo segera melesat pergi dari tempat itu, dengan Taeyeon yang sedari tadi mencengkeran tangannya kuat.

Sedikit berlari, mereka menuju ke ruang ICU. Ketika mereka tiba di depan ruangan, seorang dokter keluar dari ruangan itu.

“Kalian keluarga pasien?”tanya sang dokter pada mereka.

Ne, kami keluarganya. Bagaimana keadaannya dok? Dia tak kenapa-kenapa bukan?”tanya Kyungsoo cepat. Sedangkan Taeyeon hanya terdiam dengan airmata yang tak henti-hentinya mengalir.

“Keadaannya sangat buruk. Pasien telah kehilangan banyak darah, beberapa tulangnya patah dan saat ini dia kritis. Kami telah mencoba melakukan yang terbaik untuk menyelamatkannya, tapi melihat dari kondisinya sangat kecil kemungkinan untuknya bertahan hidup.”ujar sang dokter.

A-ani. Aku tak percaya. Oppa harus sembuh, bulan depan kami akan menikah. Lihatlah, bahkan sekarang aku masih mengenakan gaun untuk pernikahan kami nantinya.”Taeyeon yang sedari tadi diam akhirnya mulai membuka suara. “Dok, jebal. Selamatkan dia. Aku, aku tak tahu apa yang terjadi padaku jika dia harus pergi.”pintanya.

Mianhae agasshi, kami sudah mencoba melakukan yang terbaik. Kami juga tak ingin pasien kehilangan nyawanya, tapi, melihat kondisinya yang….”

ANDWAE! Kau tak boleh membiarkannya mati dok, tidak! Aku tak ingin dia pergi secepat ini. Jebal, selamatkan dia.”pintanya lagi, “Kyungsoo-ah, kenapa kau diam saja? Bantu aku berbicara padanya, katakan bahwa dia harus menyelamatkan oppa, katakan Kyungsoo-ah!”bentaknya kuat masih dengan isak tangis tak tak kunjung berhenti.

Kyungsoo terdiam, kemudian dengan sekali gerakan ia memeluk yeoja itu.

Uljimayo, kau tak boleh menangis seperti ini noona. Gaunmu akan rusak jika kau terus-terusan menangis. Tenanglah, kita tahu hyung orang yang kuat. Dia pasti bisa melewati ini semua, pasti….”Kyungsoo memeluknya erat, mencoba memberi kekuatan agar yeoja itu tak terlihat menyedihkan.

“Ta-tapi, dia bilang oppa….”

Dengan cepat Kyungsoo memotong ucapannya. “Sssttt… jangan dengarkan apa yang ia katakan. Hidup dan mati itu di tangan Tuhan, bukan di tangan seorang dokter. Sekarang tenanglah.”

Taeyeon menganggukkan kepala. Perlahan isakan tangisnya mulai mereda, ia telah bisa mengendalikan emosinya. Kyungsoo melepas pelukannya, ditatapnya yeoja itu dengan penuh kasih sayang. Tangannya terangkat, menyeka cairan bening yang membasahi pipinya.

“Dok, apa kami boleh melihatnya?”tanya Kyungsoo pelan.

“Silahkan. Saya permisi dulu.”ia lalu melangkah pergi.

+++++

Saat ini kedua orang itu tengah duduk di samping Suho. Tubuh namja itu dipenuhi dengan alat-alat medis yang entah apa fungsinya. Taeyeon menggenggam erat tangan Suho, berharap namja itu membuka matanya. Airmata yang sedari tadi tak henti-hentinya mengalir tak ia hiraukan, bahkan tubuhnya yang masih berbalut gaun untuk pernikahan pun tak ia hiraukan. Yang terpenting baginya saat ini adalah, namja di sampingnya itu kembali membuka mata.

Kyungsoo tak berada disana, ia memutuskan untuk pulang sebentar mengganti pakaiannya dan membawakan baju ganti untuk Taeyeon.

Tak berapa lama ia kembali lagi ke rumah sakit. Perlahan ia berjalan mendekat ke arah Taeyeon yang kini terlihat tengah tertidur di samping Suho.

Kyungsoo mengamati wajah Taeyeon dengan seksama. Tangannya mulai terangkat kemudian mengelus pelan rambutnya yang sedikit berantakan itu. Setetes airmata mengalir dari sudut mata Taeyeon, membuatnya dengan cepat menyekanya.

Noona, bahkan di saat tertidur pun kau masih menangis.”gumannya pelan.

Tiba-tiba mata Kyungsoo melihat gerakan kecil dari tangan Suho. Kemudian secara perlahan mata namja itu mulai terbuka. Kyungsoo menguncang-guncang tubuh Taeyeon perlahan guna membangunkannya.

Noona!
Hyung sudah membuka matanya.”serunya,

Taeyeon langsung terbangun dan melihat ke arah Suho. Airmata kembali menghiasi wajah malaikatnya itu.

Oppa, oppa, ini aku Taeyeon. Kau bisa mengenaliku?

Suho mengangguk lemah.

“Apa yang terjadi hingga kau menjadi seperti ini?”tanya Taeyeon panik.

“Taeyeon-ah, Aku..,”Suho menggapai tangan Taeyeon dan dengan cepat yeoja itu meraih tangannya lalu mengenggamnya dengan sangat erat, “Mi-mianhae.. aku, aku tak tahu kenapa ini… bisa terjadi padaku..,”perkataannya terhenti, ia berusaha mencari oksigen untuk memenuhi rongga dadanya, “Aku….”Suho kesulitan bernapas.

Ani hyung, kau jangan banyak bicara dulu. Kau hanya perlu istirahat, kau harus sembuh. Kau harus segera sembuh hyung dan melaksanakan pernikahanmu dengan Taeyeon noona. Aku tahu kau kuat. Kau.. harus kuat hyung….”tangis Kyungsoo pecah. Hatinya sungguh sakit melihat keadaan Suho yang menyedihkan.

“Aku, aku tak yakin bisa.. aku hanya…. hhhh… aku….”

Hyung, berhenti berbicara. Itu hanya menyakitimu saja.”ujar Kyungsoo di sela-sela tangisannya.

Oppa, kumohon bertahanlah. Kau lihatkan, aku bahkan masih mengenakan gaun untuk pernikahan kita. Lihatlah, aku sangat cantik bukan? Kau harus bertahan oppa, kau harus memenuhi janjimu untuk segera menikahiku, kau….”Taeyeon terdiam, tak tahu harus berkata apa lagi.

Taeyeon-ah… aku, harus mengatakan sesuatu padamu.. sebelum aku… pergi….”ia berusaha berbicara walau dengan susah payah. “Chagi… kau tahu bukan seberapa aku… mencintai… dan menyayangimu? Aku… hanya ingin kau tahu… sampai kapanpun, rasa itu… tak akan pudar, walau aku sudah tak… bersamamu lagi.”

Taeyeon terdiam, ia sudah larut dalam tangisannya.

“Dan kau, Kyungsoo-ah. Gomawo karena telah banyak membantu agar aku bisa dekat dengan Taeyeon, bahkan kau pula yang mengenalkanku pada yeoja cantik ini. Aku… sungguh merasa beruntung bisa… menjadi bagian dari hidupnya walau tak selama yang aku inginkan.”

Kyungsoo terdiam mendengar perkataan itu.

Oppa, kumohon jangan tinggalkan aku. Aku tak tahu apa yang akan terjadi padaku jika kau pergi seperti ini, bahkan kau belum menepati janjimu untuk menikahiku… Tidak oppa… kau tak boleh pergi!”Taeyeon sedikit membentak, yeoja itu benar-benar tak ingin namja yang sangat dicintainya itu pergi secepat ini, “Kau harus tetap tinggal disini bersamaku… harus….”

“Aku ingin chagiya, tapi… tetap tak bisa. Ini sudah menjadi jalan hidupku… harus pergi meninggalkan kalian secepat ini. Tapi ingatlah, walau jasadku tak tampak lagi tapi aku… akan tetap bersama kalian, disini… dihati.”

Oppa…..”

Suho mengangkat tangannya perlahan, tangan lembutnya itu menyeka airmata di pipi Taeyeon.

Uljimayo… kau tak boleh menangisi kepergianku, jika kau ingin melihatku pergi…. dengan bahagia. Jangan tangisi aku, jebal….”

“Tapi oppa, aku-”

Ssttt…. kau senang melihatku menderita? Tidak bukan? Jadi… biarkan aku pergi, aku rasa… ini yang terbaik. Jika aku meninggakan dunia ini maka… aku tak akan menderita seperti ini.. Biarkan aku…pergi…”

Hyung.”Kyungsoo yang sedari tadi diam dan hanya menangis akhirnya membuka suara, “Aku, aku merelakan kau pergi, asal kau benar-benar bisa bahagia disana. Aku tak mau melihatmu menderita lagi…”

Ne, aku pasti akan bahagia disana.,”Suho berusaha tetap tersenyum walau setitik airmata telah jatuh, “Kau… jagalah Taeyeon selalu, jangan biarkan dia bersedih apalagi sampai menangis. Aku tak ingin melihatnya bersedih lagi… seperti ini.”

Tit…tit…tit…tit…

Alat pengukur detak jantung tiba-tiba berbunyi kuat, membuat kedua orang itu panik.

OPPA!
Wae? Kau mau pergi sekarang eoh? ANDWAE!”pekik Taeyeon tak percaya.

Suho mengangguk lemah. “Ne, aku sudah tak kuat lagi… mataku sudah sangat berat… aku rasa waktuku sudah habis….hhhh….”kembali ia bersusah payah mencari oksigen, “Mi-mianhae Tae-Taeyeon-ah… Kyungsoo-ah… aku harus… pergi sekarang….”

Mata Suho tertutup perlahan-lahan hingga akhirnya tertutup dengan sempurna bersamaan dengan bunyi panjang dan nyaring yang berasal dari alat pengukur detak jantung yang kini telah memperlihatkan garis lurus.

Tiiiiiiiiiiit……

OPPA! OPPA!
ANDWAE!!“jerit Taeyeon sembari menguncang-guncang tubuh Suho yang telah tak bernyawa, “Oppa…
andwae, kau tak boleh pergi oppa…. oppa apa kau lupa dengan pernikahan kita? TIDAK! Kau tak boleh pergi sebelum kau menikah denganku!”Taeyeon menjatuhkan kepalanya di atas tubuh Suho, ia menumpahkan segalanya disana, “Oppa… kumohon, jangan pergi….”

Kyungsoo terkejut mendengar suara panjang nan nyaring itu, dengan cepat ia berlari keluar memanggil dokter. Tak berapa lama ia telah kembali dengan seorang doker dan beberapa perawat yang segera mengambil alih Suho.

“Tolong tunggu diluar.”pinta seorang perawat.

Kyungsoo menarik Taeyeon pelan dan membawanya kedalam pelukannya. Namja itu membiarkan Taeyeon menangis di pelukannya, dan ia sendiripun ikut menangis dalam diam. Perlahan ia membawa Taeyeon berjalan keluar.

“Kyungsoo-ah… Oppa tak boleh pergi, pernikahan kami hanya tinggal beberapa minggu saja, aku, aku tak rela jika ia pergi secepat ini.”ujar Taeyeon sambil terisak.

Uljimayo noona, ia tidak akan pergi. Aku tahu hyung orang yang kuat, dia tak akan pergi sebelum ia membahagiakanmu.”ujar Kyungsoo pahit, sebenarnya hatinya sakit bukan hanya karena Suho yang terbaring tak berdaya, tapi juga sakit karena melihat yeoja yang ia cintai seakan terpuruk dengan kejadian ini.

Mereka menunggu di depan pintu ruangan dengan jantung yang berdetak kencang. Bunyi pintu yang terbuka langsung mengalihkan perhatian mereka, seorang dokter keluar dari sana dengan wajah murung.

“Kalian keluarga pasien?”tanyanya.

“Ne, kami keluarganya. Bagaimana keadaannya dok? Dia baik-baik saja bukan?”tanya Taeyeon cepat.

“Kami sudah berusaha, tapi takdir berkata lain. Nyawa pasien sudah tak tertolong lagi. Jeongmal mianhae.”ujar sang dokter lalu melangkah pergi.

M-mwo? Kyungsoo-ah, apa aku tak salah dengar? Yang dikatakannya barusan… dia bilang oppa… ANDWAE! Dia bohong, oppa tak mungkin mati, tidak! Dia tak akan pergi secepat ini. ANDWAE!!!

Noona, tenanglah.. kau jangan seperti ini. Uljimayo. Jangan menangis lagi. Aku… aku tahu bagaimana perasaanmu, tapi… kumohon berhentilah menangis.”Kyungsoo mendekap tubuh Taeyeon kuat, mencoba lebih menenangkannya.

“Tapi oppa…
oppa pergi Kyungsoo-ah, dia pergi. Dia bahkan meninggalkan aku dengan cara seperti ini. Aku, aku belum siap Kyungsoo-ah, aku masih sangat membutuhkannya, aku sudah terlalu bergantung padanya, aku….”

“Aku tahu ini memang sulit bagimu. Bersabarlah noona, dibalik kejadian ini pasti ada hikmah yang berarti bagimu. Tuhan tak akan memberikan cobaan yang tak mungkin bisa dilalui oleh ciptaan-NYA.”

Ne? Tuhan telah tak adil padaku! Kenapa di saat seperti ini dia mengambilnya dariku? Kenapa harus aku Kyungsoo-ah?”Taeyeon mendorong kuat tubuh Kyungsoo hingga pelukannya terlepas.

Noona, kau tak boleh berkata seperti itu. Ini memang jalan takdirnya, kita tak bisa berbuat apa-apa selain menerima semuanya dengan ikhlas.”

“Ikhlas? YAA! Bagaimana bisa aku mengikhlaskan kepergiannya yang mendadak seperti ini? DO KYUNGSOO! Seandainya kau yang berada di posisiku saat ini, apa kau bisa ikhlas menerima ini semua? Apa kau tak kecewa mendapat kenyataan pahit seperti ini? Dan bagaimana perasaanmu di tinggal orang yang paling kau sayang tepat beberapa minggu sebelum pernikahan, bagaimana Kyungsoo! Apa kau bisa menerima semua ini begitu saja!”bentak Taeyeon kesal. Yeoja itu benar-benar telah larut dalam emosinya.

Kyungsoo terdiam. Ditatapnya wajah Taeyeon dengan seksama, wajah yeoja yang amat dicintainya itu.

Noona…”panggilnya lirih.

“Kau juga tak pernah berada di posisiku bukan? Kau juga tak pernah merasakan menjadi sepertiku yang harus memendam perasaan selama bertahun-tahun? Kau… bahkan tak pernah tahu seperti apa perasaanku ini. Aku, aku lebih menderita daripada kau, bahkan setelah kejadian ini… penderitaanku semakin bertambah. Aku mencintaimu noona, sangat mencintaimu….”batinnya.

Mianhae, aku tak bermaksud membuatmu semakin marah. Aku hanya… ah lupakan. Mianhae noona, kumohon berhentilah menangis.”Kyungsoo kembali mendekap Taeyeon, mencoba menenangkan yeoja itu.

Taeyeon diam dalam pelukannya, ia tetap menangis seperti enggan untuk menyudahinya. Sesaat keadaan menjadi hening, hanya desakan tangis Taeyeon yang terdengar memenuhi koridor. Desakan tangis yang memancarkan kesedihan yang amat mendalam, kesedihan yang entah kapan akan menghilang dan membuat pemiliknya kembali mengulas senyuman.

+++++

Dua bulan kemudian…

-Kyungsoo POV-

Aku membuka kedua mataku, mencoba duduk dan merenggangkan otot-ototku. Masih antara sadar dan tidak, aku berjalan menuju dapur mencari segelas air dan langsung menegaknya hingga tak bersisa. Setelah itu aku terduduk disebuah kursi yang berada disana.

Dua bulan sudah sejak kematian Suho hyung dan selama itu pula aku tinggal disini, di apartemen milik Taeyeon noona. Aku tinggal disini karena permintaan dari kedua orang tuanya. Karena setelah kematian hyung, ia selalu berbuat nekat dan mencari jalan agar bisa menyusulnya, ya yeoja itu sering menyakiti dirinya sendiri. Dan sejak itu pula yeoja riang itu berubah menjadi pribadi yang pendiam, tertutup dan penyendiri. Bahkan senyuman yang selalu menghiasi wajah cantiknya itu hilang seakan dibawa bersama kepergian hyung.

Beberapa kali ia berusaha untuk menyudahi nyawanya dengan berbagai cara. Seperti beberapa minggu yang lalu, yeoja cantik itu sengaja menenggak obat di luar dosis yang pantas. Beruntung aku datang di saat yang tepat, jika saja aku terlambat beberapa menit maka sudah pasti aku akan kehilangannya. Sungguh hati ini amat sakit melihatnya yang seperti ini.

Kim Taeyeon. Yeoja itu telah banyak berubah. Bahkan aku seperti tak mengenal sosoknya yang sekarang. Tidak. Taeyeon yang sekarang bukanlah Taeyeon yang aku kenal. Yeoja itu telah banyak berubah dan perubahan itu membuatku semakin merasakan sakit yang entah kapan akan hilang.

Setelah merasa kesadaranku telah kembali, aku beranjak dari dudukku dan melangkah menuju kamar Taeyeon, bermaksud untuk membangunkannya.

Dengan pelan aku membuka pintu kamarnya. “Noona.“panggilku lalu melangkah masuk. Tapi aku tak menemukannya di dalam.

Noona… kau dimana?”panggilku setengah berteriak. Tapi, aku tak mendengar sahutan darinya.

Mataku melihat kesegala arah, hingga tak lama aku mendengar suara air yang berasal dari kamar mandi. Kembali kulangkahkan kakiku mendekati kamar mandi.

Noona, kau didalam?”

Hening, tak ada jawaban darinya. Aku tahu yeoja itu pasti sedang di dalam sekarang, tapi entah kenapa hati ini berkata bahwa ada suatu yang tak beres akan terjadi. Perlahan tapi pasti aku membuka pelan pintu itu, dan…

NOONA! Apa yang kau lakukan eoh?”mataku terbelalak kaget saat melihatnya tengah menggenggam sebuah pisau yang ia arahkan tepat diatas urat nadi tangannya, “Cepat singkirkan benda itu noona!”perintahku setengah membentak.

“Tinggalkan aku Kyungsoo-ah, tinggalkan aku.”ujarnya getir.

“Tidak noona, aku tak akan meninggalkanmu. Sekarang kuminta kau singkirkan benda itu, kau tak boleh berbuat seperti ini terus.”aku perlahan mendekat, sambil berusaha menenangkannya.

“Jangan mendekat! Jika kau berani melangkah lagi maka aku akan memotong urat nadiku dengan pisau ini!”ancamnya.

ANDWAE! Berhentilah berbuat seperti ini, hentikan noona.”aku masih mendekat perlahan, mencoba mencari celah untuk merebut pisau itu.

“KAU YANG BERHENTI DO KYUNSOO! Dengar, selangkah lagi kau maju, akan kupotong urat nadiku.”ancamnya lagi, tapi aku tetap tak menggubrisnya, “DO KYUNGSOO!”bentaknya kuat.

Aku menghentikan langkahku, kini jarak kami hanya beberapa meter saja. Mataku menatap fokus ke arah pisau yang kini berada didekat pergelangan tangannya.

Noona, tenanglah. Jatuhkan pisau itu sekarang.”

Aniyo, aku harus melakukan ini. Aku ingin kembali bersamanya, aku harus menyusulnya Kyungsoo-ah. Mianhae.“ujarnya pelan lalu bersiap untuk mengiris pergelangannya itu.

ANDWAE!“pekikku sembari berusaha merebut pisau itu.

SRET. Pisau itu melukai pergelangan tangannya, tapi tak mengenai urat nadinya karena tanganku berhasi menahan tangannya. Yeoja itu meringis kecil, sedangkan matanya menatap lekat kearahku.

YA! Kenapa kau menahanku eoh? Lepaskan!”ujarnya sembari berusaha melepaskan cengkraman tanganku.

“Tidak, aku tak akan melepaskannya. Noona, sadarlah! Semua ini tak ada untungnya bagimu. Apa jika kau mati, kau akan bertemu lagi dengan hyung? TIDAK NOONA!.

“Apa yang kau tahu eoh? Lepaskan aku!”bentaknya lagi.

Kali ini ia memberontak sehingga membuatku sedikit kewalahan.

“LEPASKAN AKU DO KYUNGSOO!!”bentaknya sembari menghempas kuat tangannya, membuat genggamanku terlepas dan…

SRET… Pisau itu kembali memakan korban, kali ini mengenai bahu kananku, dan meninggalkan goresan yang cukup besar disana.

“Aku meringis, tangan kananku memegangi bahuku.

“Kyu-Kyungsoo. Ka-kau… Mianhae… Aku tak bermaksud menyakitimu, aku….”yeoja itu terlihat panik. Pisau digenggamannya terjatuh begitu saja.

“Aku baik-baik saja noona… hanya tergores sedikit.”ujarku berusaha menenangkannya.

“Kau bilang kau baik-baik saja? Lihatlah, bahkan darahnya keluar sangat banyak. Kita harus ke rumah sakit.”ia menarik tanganku yang satunya lagi lalu membawaku menuju mobil.

“Sudah kubilang, ini hanya goresan biasa noona. Kita tak perlu ke rumah sakit.”tolakku saat kami telah berada di dalam mobil.

“Tidak. Kita harus kerumah sakit sekarang.”ujarnya tegas lalu mulai menjalankan mobil.

Aku mendesah pelan, sakit memang tapi aku tak mau membuatnya panik seperti ini.

“Baiklah noona.”ujarku akhirnya, mengalah.

+++++

Mianhae Kyungsoo-ah, aku benar-benar tak bermaksud untuk melukaimu. Itu semua terjadi begitu saja. Mianhae.“ujar Taeyeon. Kali ini kedua orang itu telah kembali ke apartemen, setelah Kyungsoo mendapatkan beberapa jahitan di bahunya.

Gwaenchana~ ini bukan salahmu. Sudahlah, kau tak perlu meminta maaf terus menerus.”

“Tapi tetap saja itu kesalahanku dan….”

“Sudahlah noona. Jika kau merasa bersalah, maka berjanjilah satu hal padaku.”

“Janji?”

“Ne, berjanjilah kau tak akan mengulangi hal bodoh seperti tadi. Berhenti membuat hidupmu sia-sia noona…”

Taeyeon terdiam sejenak, yeoja itu seperti tengah memikirkan sesuatu.

“Kumohon noona, berhentilah mencari cara untuk mengakhiri hidupmu dan kembalilah menjadi Taeyeon yang dulu. Taeyeon yang selalu tersenyum, dan tak pernah melakukan hal-hal bodoh.”pintanya lagi.

Taeyeon menghela nafas berat. “Mianhae, aku tak bisa berjanji seperti itu.”ujarnya pelan lalu beranjak dari tempat itu. “Mianhae Kyungsoo-ah.”ujarnya lagi sebelum ia menghilang di balik pintu.

Kyungsoo terdiam, hatinya semakin sakit terlebih setelah mendengar jawaban dari yeoja itu. Perlahan bulir-bulir kristal berjatuhan membasahi pipinya. Namja yang terlihat tegar itu menangis, entah untuk yang keberapa kalinya.

“Kenapa kau menjadi seperti ini noona? Tak tahukah kau seperti apa perasaanku padamu? Tak tahukah seperti apa hatiku ini tersiksa melihatmu yang seperti ini? Tak tahukah kau… aku sangat mencintaimu, bahkan melebihi rasa cintaku pada diriku sendiri. Kumohon, kembalilah menjadi Taeyeon yang dulu, sehingga aku bisa mencintaimu dalam diam bukan dalam penderitaan seperti ini….”batinnya.

+++++

Sejak kejadian itu Taeyeon menjadi jarang berada di rumah. Mungkin untuk menghindari bertemu dengan Kyungsoo. Sebenarnya Kyungsoo sedikit khawatir, namun ia sudah meminta bantuan pada temannya untuk mengawasi Taeyeon selagi ia beristirahat pasca kecelakaan kecil itu.

Kyungsoo baru membuka matanya tepat pukul sepuluh pagi, entahlah sepertinya namja itu sedikit kelelahan sehingga ia bangun telat. Setelah merasakan semua nyawanya telah terkumpul, namja itu beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi guna membersihkan badan. Beberapa menit kemudian, ia keluar lengkap dengan pakaian santainya.

Kyungsoo duduk di dekat jendela sambil membawa segelas kopi. Matanya menatap kosong ke luar jendela. Ia sesekali menyeruput kopinya sembari perlahan-lahan membuat gerakan-gerakan kecil pada bahu kanannya, agar tak terlalu kaku akibat luka itu.

Sesekali ia meringis pelan saat merasakan ngilu menjalar di tangan kanannya, bertepatan dengan suara bel yang membuat namja itu dengan enggan beranjak menuju pintu.

“Lay? Kenapa kau disini?”tanyanya setelah melihat siapa yang datang, “Dan kenapa kau terlihat sangat terburu-buru?”

“Kyungsoo-ah, Taeyeon ada disini?”tanyanya yang dijawab dengan gelengan oleh Kyungsoo. “Benarkah? Aish, aku kehilangannya Kyungsoo-ah. Beberapa jam yang lalu aku masih melihatnya disekitar kampus. Tadi aku ada sedikit urusan dengan Kim songsaenim, dan ketika aku kembali aku tak bisa menemukannya. Aku meneleponmu dari tadi tapi kau tak mengangkatnya, makanya aku segera kesini.”jelasnya panjang lebar.

“Ah, aku meninggalkan handphone-ku di kamar. Mianhae karena telah membuatmu datang terburu-buru kesini. Masuklah.”ujarnya.

Mereka melangkah masuk lalu duduk diatas sofa yang tersedia disana.

“Lay-ah, kau tak usah khawatir, noona pasti masih berada disana. “Kyungsoo mulai membuka suara.

“Dari mana kau tahu?”

“Hatiku yang berkata.”

Namja yang dipanggil Lay itu mendesah kuat. Ia tahu seperti apa perasaan Kyungsoo pada Taeyeon dan telah beberapa kali pula ia menyuruh Kyungsoo untuk segera mengatakan kebenarannya, namun selalu di tolak oleh namja itu. Alasannya, ia tak ingin menyakiti hati Taeyeon, padahal saat ini namja itu tengah menyakiti hatinya sendiri.

“Do Kyungsoo,”panggilnya pelan, “Lagi-lagi kau berbicara tentang hati, lihatlah betapa menyedihkannya kau!”ujarnya sedikit membentak.

Kyungsoo hanya bisa tersenyum miris mendengar perkataan sahabatnya itu.

Ya, dengarkan aku baik-baik, aku sudah lama mengenalmu dan aku juga sudah tahu seperti apa perasaanmu pada Taeyeon. Berkali-kali pula aku menyuruhmu untuk menyatakannya, tapi kau selalu menolak. Dan sekarang aku akan meminta padamu untuk terakhir kalinya, nyatakanlah Kyungsoo. Katakan padanya seperti apa perasaanmu yang sebenarnya, biarkan dia memandangamu sebagai seorang namja bukan seorang dongsaeng.”ujar Lay lagi.

“Menyatakannya? Sudah ku bilang, aku tak mau…”

“Menyakitinya eoh? Kau tak mau dia membencimu ketika tahu yang sebenarnya? Kau salah Do Kyungsoo! Yeoja itu akan lebih sakit dan lebih membencimu ketika ia tahu kebenaran itu bukan darimu, melainkan dari orang lain.”

Kyungsoo menunduk, ia memikirkan kata-kata Lay barusan.

Wae? Kau baru sadar sekarang eoh? Ini memang sulit Kyungsoo-ah, tapi aku tahu kau bisa melewatinya. Katakan padanya perasaanmu yang sebenarnya, dan aku rasa itu akan membuatnya sedikit melupakan kesedihannya karena kepergian Suho. Sudah saatnya kau mengambil alih tempat Suho dari hati yeoja itu.”

Lay menepuk pundak Kyungsoo bermaksud memberinya sedikit kekuatan.

“Aku pamit dulu ne? Aku tahu kau butuh waktu untuk berpikir.”pamit Lay lalu melangkah pergi.

Kyungsoo menatap kosong kepergian Lay. Sebenarnya hati namja itu mengiyakan semua yang dikatakan Lay, hanya saja otaknya menolak semua itu. Ia masih belum berani mengambil resiko, rasa takut itu masih ada dan semakin bertambah setiap waktunya.

+++++

Sore harinya ketika Kyungsoo baru selesai mandi, ia dikejutkan dengan bunyi handphone-nya yang menandakan sebuah panggilan masuk. Setelah melihat siapa yang meneleponnya, ia segera menjawabnya.

Yoboseyo. Lay? Ada apa kau meneleponku? Apa suatu hal terjadi?”tanyanya dengan nada panik.

“…”

Ne? Baiklah, ikuti dia terus dan aku akan segera menyusul. Segera kirim alamatnya padaku.”

“…”

Ne.”

Kyungsoo lalu mematikan sambungan telepon. Dengan terburu-buru namja itu meraih kunci mobil lalu berlari keluar. Ia baru saja mendapat telepon dari Lay, tentu saja itu mengenai Taeyeon. Setelah mendapatkan alamatnya dari Lay, namja itu segera menancapkan gas menuju tempat itu.

Kyungsoo menyetir dengan sedikit panik, ia takut hal buruk kembali terjadi pada Taeyeon. Beberapa puluh menit kemudian saat ia hampir sampai, handphone-nya kembali berbunyi.

Yoboseyo.”

“…”

Ne, aku sudah hampir dekat, sebentar lagi aku akan sampai. Tapi, tempat apa ini?”

“…”

Ne? Kau bilang apa? Noona mendekati tebing? Ya! apapun caranya cegah dia, jangan sampai dia berbuat macam-macam lagi.”

“…”

MWO? Aish! Kubilang tahan dia. Tunggulah, sebentar lagi aku akan sampai.”ujarnya cepat lalu memutuskan sambungan telepon.

Kyungsoo menekan kuat pedal mobilnya. Beberapa menit kemudian ia telah sampai di dekat tebing yang dimaksud Lay. Ia keluar dari mobil, berlari menuju tempat kedua orang itu.

NOONA!”jerit Kyungsoo ketika telah sampai disana.

Namja itu terlihat shock, Taeyeon sudah berada beberapa meter dari tepian tebing. Dilihatnya Lay yang berusaha untuk mencegah gerakan yeoja itu untuk semakin mendekat, tapi yeoja keras kepala itu sama sekali tak menggubris perkataan Lay.

Tanpa berfikir panjang, Kyungsoo berlari ke arah Taeyeon. Beruntung ia berhasil menarik tangan Taeyeon, tepat sebelum ia jatuh bebas ke dalan jurang. Kyungsoo memutar badan, mengubah posisi mereka menjadi ia yang berada dekat dengan tepian tebing. Ia lalu memeluk Taeyeon erat, seakan enggan untuk melepaskannya.

Noona… kenapa kau melakukan hal ini lagi eoh? Bukankah aku sudah memintamu unutk berjanji padaku agar tak mengulangi perbuatan bodohmu lagi?”ujar Kyungsoo dengan suara bergetar.

YA! Kenapa kau selalu datang disaat seperti ini eoh? Kenapa kau selalu menggagalkan semua rencanaku? Kenapa Do Kyungsoo!”bentak Taeyeon sembari berusaha memberontak. “Lepaskan aku Kyungsoo, lepaskan! Biarkan aku mati, biarkan aku menyusul oppa, lepaskan Kyungsoo!”

“Tidak noona, aku tak akan melepaskanmu, hingga kau sadar semua yang hendak kau lakukan ini hanyalah sia-sia, ini tak ada artinya noona. Bahkan kau tak akan bertemu dengan hyung walaupun kau sudah mati!”

“Kau salah! Setelah mati aku pasti akan bertemu dengan oppa dan berbahagia dengannya disana. Kau tak tahu apa-apa Do Kyungsoo!”

“Tidak noona, inilah kenyataannya! Sadarlah, selama ini kau hanya menyia-nyiakan hidupmu dan aku yakin hyung sangat sedih melihatmu yang seperti ini terus. Jebal, berhenti menyakiti dirimu sendiri.”bujuk Kyungsoo, perlahan airmata namja itu mulai berjatuhan membasahi kedua pipinya.

“Kenapa? Kenapa kau ingin aku berhenti melakukan ini eoh? Bukannya jika aku mati kau malah akan bisa hidup bebas tanpa terbebani olehku?”

“Kau salah noona, kau salah.”ujar Kyungsoo lemah, “Jika kau mati, aku tak seperti yang kau katakan, aku bahkan tak tahu apa yang akan terjadi jika aku kehilanganmu.”ujarnya sangat pelan, namun terdengar jelas oleh Taeyeon.

“Maksudmu?”Taeyeon mulai tenang, Kyungsoo perlahan melepas pelukannya.

Noona, mungkin ini adalah keputusan paling bodoh yang pernah kubuat, tapi… apapun itu mau tak mau aku harus mengatakan hal ini padamu.”ia berhenti sejenak, menghela nafas pelan, “Kau tahu, seperti apa tersiksanya hatiku saat melihat kau yang seperti ini? Taeyeon yang aku kenal telah berubah menjadi Taeyeon yang sama sekali tak kuketahui. Kau yang selalu tersenyum, kini menjadi pemurung. Kau yang selalu tertawa lepas kini menjadi pendiam, bahkan kau yang selalu membawaku kemana-mana kini berubah menjadi sosok yang penyendiri.”

Kyungsoo sengaja berhenti sejenak, ia ingin melihat seperti apa respon yeoja itu.

“Sejak saat itu, saat Suho hyung pergi untuk selamanya. Kau mulai menjalani hidup sebagai penyendiri, kau selalu menangis, kau memilih untuk menempuh segala cara agar bisa mengakhiri hidupmu. Dan itu semua membuatku merasa sakit noona, disini… dihatiku.”

Kyungsoo kembali menghentikan ucapannya, airmatanya semakin deras mengalir.

“Kau tahu kenapa aku merasa sakit? Tujuh belas tahun kita saling mengenal, dan selama itu pula aku memendam perasaanku padamu. Aku… menyukaimu, ani lebih tepatnya aku mencintaimu. Bukan rasa cinta kepada seorang noona, tapi rasa cinta kepada seorang yeoja.”ujarnya lalu tertunduk.

Taeyeon menutup mulutnya tak percaya. Ia sedikit shock mendengar pengakuan dari Kyungsoo, namja yang telah ia anggap sebagai namdongsaeng-nya sendiri.

“Ma-maksudmu? Kau… mencintaiku? Aniyo, kau jangan bercanda Kyungsoo-ah!”ujarnya tak percaya.

“Aku tidak bercanda noona!”tegasnya, “Ini memang kesalahanku yang tak bisa mengontrol hatiku, tapi ini semua terjadi diluar kehendakku. Rasa ini datang begitu saja tanpa bisa kucegah, bahkan semakin aku berusaha menepisnya, semakin kuat pula perasaan itu.”

ANIYO! Kau tak boleh memiliki perasaan itu padaku, aku hanya menganggapmu sebagai seorang dongsaeng!”ujarnya setengah membentak.

“Aku tahu. Kau hanya akan memandangku sebagai seorang dongsaeng sampai kapanpun, itulah kenapa aku tak menyatakan perasaanku ini. Aku lebih memilih untuk menyimpannya sendiri karena aku tak mau kau malah membenciku ketika mengetahui hal ini.”

“Dan sekarang aku benar-benar membencimu Do Kyungsoo!”bentak Taeyeon. “Sampai kapanpun, kau hanya akan ku anggap sebagai dongsaeng-ku dan yang ada dihatiku hanyalah Suho oppa!”tegasnya.

Noona….“panggilnya lirih, “Tak bisakah kau memberiku kesempatan untuk membuktikan perasaanku ini? Setidaknya berikan aku beberapa hari untuk membuatmu yakin dengan perasaanku ini. Sudah saatnya kau melupakan hyung, dan mulailah dengan membuka lembaran baru bersamaku. Kumohon, biarkan aku menggantikan posisi hyung dihatimu.”ujarnya lagi, terkesan memaksa memang tapi baginya itu hal terbaik yang bisa ia lakukan saat ini.

“Kau bilang apa? Menggantikan posisi oppa? Jangan bermimpi Do Kyungsoo! Sekuat apapun kau mencoba, sosok itu tak akan tergantikan oleh siapapun, termasuk kau! Sekarang, lebih baik kau pergi daripada harus berbicara omong kosong seperti ini. Biarkan aku memutuskan seperti apa jalan hidupku, kau tak punya hak untuk mencampurinya. PERGI!”perintahnya.

Kyungsoo tak bergeming, ia masih berdiri dihadapan yeoja itu dan membelakangi tepian tebing. Pandangannya yang mulai mengabur akibat derasnya airmata tak ia hiraukan. Ia menundukkan wajahnya sejenak, mencari kekuatan untuk menatap manik indah yeoja dihadapannya itu.

Kepalanya perlahan terangkat, menatap lekat kedua bola mata Taeyeon dengan tatapan sendu.

Noona…“panggilnya lirih, namun tak dihiraukan oleh yeoja itu.

Taeyeon memalingkan wajahnya menghindari matanya bertemu dengan mata namja dihadapannya itu.

“Pergilah. Tak ada gunanya kau memohon kepadaku.”ucapnya pelan.

Aniyo, aku tak akan pergi jika kau tak ikut bersamaku.”

“KUBILANG PERGI DO KYUNGSOO!”bentaknya kuat, sedangkan kedua tangannya memukul-mukul tubuh Kyungsoo. “Pergilah, menghilanglah dari pandanganku!”

Aniyo aku tidak….”

“KUBILANG PERGI!!!”teriaknya kuat. “Lay, cepat bawa namja bodoh ini pergi dari hadapanku!”kali ini ia mengalihkan pandangannya pada Lat.

Lay yang sedari tadi diam dan hanya melihat pertengkaran itu hanya bisa menatap mereka kasihan. Terlebih ketika matanya melihat sinar kesedihan yang terpancar dari mata Kyungsoo. Namja itu memilih untuk diam di tempat, tak bergerak sedikitpun.

“Lay! Kau dengar aku? Bawa dia pergi, aku sudah muak melihatnya. Dia bukanlah dongsaeng-ku lagi! Dongsaeng seperti apa yang menyatakan perasaannya pada noona-nya? Bahkan disaat noona-nya sedang bersedih seperti ini. Bawa dia pergi Lay!”teriaknya lagi.

Aniyo, aku tak bisa membawanya pergi. Aku tak memiliki hak untuk mencampuri urusan kalian. Noona, apa yang dikatakan Kyungsoo itu benar, sebaiknya kau berhenti melakukan semua hal ini, kau tak tahu bukan seperti apa penderitaan Kyungsoo selama ini?”Lay yang sedari tadi diam akhirnya membuka suaranya.

Tsk. Seperti apapun itu aku tak peduli! Ah, percuma aku memintamu untuk membawanya pergi toh tujuan kalian sama, untuk mencegahku bukan?”ujarnya sinis.

“Terserah kau mau peduli atau tidak, yang jelas hargailah sedikit perasaannya itu. Kau sudah terlalu banyak menyakitinya noona, sadarlah… Do Kyungsoo, namja itu yang selalu ada disaat kau terpuruk bukan? Dia selalu berada di sampingmu, menenangkanmu, menghiburmu, melakukan berbagai cara untuk menghilangkan kesedihanmu pasca kepergian hyung. Tapi lihatlah, apa yang kau perbuat padanya selama ini? Inikah balasan darimu atas semua kebaikannya itu?”ujar Lay sedikit emosi.

“Lay, tenanglah, aku tak kenapa-kenapa.”ujar Kyungsoo berusaha menenagkan sahabatnya itu.

“Kau bilang kau tak kenapa-kenapa? Apa kau pikir aku ini bodoh eoh? Aku tahu semuanya Kyungsoo-ah, kau mungkin bisa berpura-pura terlihat baik dihapadan semua orang tapi kau tak bisa bersandiwara dihadapanku, aku tahu bagaimana perasaanmu itu.”

“Kau memang benar. Tapi-”

“Cukup!”Taeyeon tiba-tiba memotong permbicaraan kedua orang itu. “DIAM! Aku, aku muak mendengar semua perkataan kalian. Lay, kau pikir kau siapa? Menurutmu aku akan mengikuti perkataanmu itu eoh? Cih, jangan bermimpi! Dan kau Kyungsoo, aku memang mencintaimu tapi… rasa itu hanya sebatas cinta pada seorang dongsaeng. Jadi… kau juga jangan bermimpi untuk bisa bersamaku melebihi statusmu saat ini.”

Lay dan Kyungsoo terdiam.

“Kalian berdua… pergilah!”suruhnya lagi.

Noona.“panggil Kyungsoo lirih.

“JANGAN PANGGIL AKU LAGI! PERGI!”betaknya kuat.

Kyungsoo tersentak kaget mendengar teriakan Taeyeon, tapi namja itu tak peduli. Dengan sekali gerakan ia memeluk Taeyeon dengan sangat erat.

Saranghae. Jeongmal saranghae.“ucapnya lirih.

Taeyeon terkejut dengan tindakan tiba-tiba yang dilakukan Kyungsoo. Ia marah dan berusaha melepaskan pelukan itu dengan berbagai cara. Taeyeon mendorong tubuh Kyungsoo kuat hingga pelukan terlepas. Tetapi entah bagaimana, tubuh Kyungsoo yang terdorong itu malah terperosok jatuh kedalam jurang.

“KYUNGSOO!”teriak Taeyeon dan Lay bersamaan.

Dalam keadaan panik, Taeyeon berusaha meraih tangan Kyungsoo, dan beruntung ia masih bisa mendapatkannya.

Lay yang berdiri agak jauh dari mereka segera berlari mendekat ketika melihat kejadian itu. Ia mengambil alih tangan Kyungsoo dan berusaha menariknya.

“Kyungsoo-ah, bertahanlah… Aku akan membantumu untuk naik ke atas.”ujar Lay.

“Lay-ah, aku…”ia mengerang kesakitan. Darah segar mengalir dari pangkal bahu Kyungsoo, darah yang berasal dari bekas luka yang ia dapatkan beberapa hari yang lalu.

“Lenganmu… berdarah lagi.”ujar Lay panik, “Bertahanlah, aku tahu itu sakit tapi aku tak akan melepaskan peganganku ini. YAA! Kau jangan menangis terus, cepat cari bantuan!”perintah Lay pada Taeyeon.

“Aku… sakit.”desahnya lagi.

“Aku tahu… tapi kau harus bertahan Kyungsoo-ah…”

Ani, aku tak bisa bertahan lebih lama lagi. Ini… terlalu sakit Lay.”ucapnya terbata-bata sembari menahan rasa sakitnya itu, “Lepaskan aku Lay….”ucapnya tiba-tiba yang berhasil membuat Lay tersentak kaget.

Ne? Melepaskanmu? ANIYO! Aku tak akan melepaskanmu.”tegasnya.

“Tapi aku…”

“Tidak Kyungsoo-ah. Aku akan menyelamatkanmu, a-aku…”Lay terdiam, tak tahu harus berkata apa lagi. Namja itu kini menangis.

“Lepaskan aku. Aku tahu kau juga sudah tak kuat menahan tubuhku ini. Daripada kau harus ikut jatuh bersamaku, lebih baik kau melepaskanku dan membiarkan aku jatuh sendiri.”

ANDWAE!“jerit Taeyeon tiba-tiba, “Lay, jangan pernah berpikir untuk melepaskannya, jangan.”cegahnya. “Kyungsoo-ah, mianhae, mianhae… Aku tak tahu jika akhirnya akan seperti ini. Jeongmal mianhae… Sekarang aku sadar, aku yang salah. Aku terlalu egois dan hanya memikirkan perasaanku saja. Kumohon, Jangan lepaskan dia Lay, selamatkan dia.”

Noona, kau tak bersalah. Itu semua kesalahanku, kenapa aku tak memiliki keberanian untuk… mengungkapnya dari awal. Dan sekarang… aku malah membuatmu sakit untuk kesekian kalinya, aku…”

“DIAM!”bentak Lay. “Kau jangan banyak bicara, aku sudah tak terlalu kuat untuk menahan bebanmu. Aku akan mencoba menarikmu… sekarang”ujarnya lalu berusaha sekuat tenaga untuk menarik Kyungsoo.

Lay hampir berhasil membawa Kyungsoo naik, tapi entah kenapa tiba-tiba tubuhnya kehilangan keseimbangan dan menyebabkan Kyungsoo kembali terperosok.

AAAHH.”pekik mereka bersamaan.

“Lay… sudahlah, lebih baik kau melepaskanku daripada kau… ikut terjatuh.”

Ani, aku tak akan melepaskannya. Lebih baik aku ikut terjatuh denganmu, daripada aku kehilanganmu Kyungsoo-ah.”

Andwae! Jika kau jatuh bersamaku maka tak akan ada yang menjaga noona. Kau harus tetap hidup dan menjaganya untukku Lay.”

“Tidak Kyungsoo! Taeyeon bukanlah kewajibanku, dia itu kewajibanmu. Kau yang harus menjaganya, bukan aku. Kau harus bertahan dan selamat Kyungsoo-ah.”

“Aku tahu… tapi aku tak yakin aku masih bisa bertahan… Ini sudah terlalu sakit Lay, aku tak kuat lagi…”

“Do Kyungsoo… aku, aku tak ingin kehilangan sahabat sepertimu. Jebal, bertahanlah.”ujar Lay yang kini kembali menitikkan airmata, “Noona… bicaralah padanya, katakan bahwa kau mencintainya dan kau ingin dia selamat. Katakan noona…“pinta Lay.

Taeyeon diam sejenak.

“Aku, aku mencintaimu Kyungsoo-ah. Kau tak boleh mati, kau harus hidup. Kau yang harusnya menjagaku, kau yang harusnya melindungiku, kau….”Taeyeon terdiam, “Saranghae Do Kyungsoo, saranghae….“ujarnya kemudian sambil terisak.

Nado saranghae noona.“balas Kyungsoo, “Tapi aku… sudah tak kuat lagi, aku… harus pergi.”

ANDWAE! Kau tak boleh pergi, kau… jangan tinggalkan aku Kyungsoo-ah. Cukup Suho oppa yang meninggalkanku, kau harus tetap berada di dekatku.”

Noona, dengarkan aku. Aku memang pergi, tapi aku akan selalu berada didekatmu. Aku akan selalu menjaga dan melindungimu tapi… dengan cara yang berbeda. Aku… akan selalu berada dihatimu noona…

“Kata-kata itu… sama seperti yang dikatakan oppa.”ujar Taeyeon lirih, “Andwae…. kumohon jangan pergi Kyungsoo-ah, jangan pergi….”ujarnya dengan nada penuh penyesalan. Ia yang tadi meminta agar namja itu pergi, tapi sekarang ia malah mencegahnya untuk pergi. Karena ia baru sadar, bahwa ia tak akan bisa menjalani hidup tanpa namja bernama Do Kyungsoo itu.

Kyungsoo menggeleng cepat. Genggamannya pada tangan Lay perlahan-lahan mulai ia buka.

“Kyungsoo! Apa yang kau lakukan eoh? Kenapa kau melepas genggamanku, ani, jangan lakukan itu… Aku masih bisa menahanmu, aku-”

“Kau berbohong Lay.”potong Kyungsoo cepat. “Aku tahu kau sudah tak kuat lagi. Jika kau enggan untuk melepaskannya, maka aku yang akan melepasnya. Maafkan aku Lay, dan terima kasih karena selama ini kau telah menjadi sahabat terbaikku. Aku menitipkan noona padamu, jaga dia… Dan jangan biarkan ia menangis sedikitpun. Jika hal itu terjadi… maka aku tak akan memaafkanmu, ingat itu.”ujarnya pelan.

Andwae Kyungsoo!“ujar Lay panik.

“Ini… ini terlalu sakit Lay. Aku benar-benar tak kuat lagi….”ujarnya sangat pelan, “Mianhae… jeongmal mianhae.“sambungnya.

Jemari Kyungsoo mulai terbuka satu persatu. Namja itu tak menggenggam tangan Lay lagi, kini hanya Lay yang menggenggam erat tangannya.

A-ani, pegang tanganku Kyungsoo!”bentaknya.

“Selamat tinggal Lay, selamat tinggal noona.”ucapnya lagi sambil tersenyum sangat manis. Perlahan tubuh Kyungsoo mulai merosot kebawah.

“DO KYUNGSOO!”teriak Lay kuat bertepatan dengan jatuhnya tubuh Kyungsoo. Ya, genggaman Lay terlepas menyebabkan namja itu jatuh bebas ke dalam jurang.

ANDWAE!“jerit Taeyeon tertahan. “PABO! Kenapa kau membiarkannya jatuh? Kenapa kau melepaskannya? Kenapa….”ia terdiam, sekarang hanya isakan tangis yang terdengar dari bibirnya.

Lay berlutut, kepalanya tertunduk lesu. Ia menyesal, sangat menyesal. Airmatanya semakin deras mengalir, dalam hati ia mengutuk kebodohannya itu.

“Kau membunuhnya.”ucap Lay datar. “Kau pembunuh noona! Kau…”Lay mengangkat kepalanya, mengarahkan tatapan dingin pada yeoja disampingnya itu. “KAU PEMBUNUH!”teriaknya.

Ne, aku pembunuh Lay, aku pembunuh!”ujarnya di sela-sela isak tangisnya, “Aku yang telah membunuh Kyungsoo, aku Lay, aku… Jadi sekarang, biarkan aku mati.”ia berdiri, menghapus airmatanya lalu mulai melangkah ragu bermaksud menjatuhkan diri ke dalam jurang itu.

Lay diam, ia hanya melihat apa yang dilakukan yeoja itu tanpa berniat untuk mencegahnya. Ia masih mengarahkan tatapan sinis pada yeoja itu, tatapan yang penuh dengan kemarahan dan kebencian.

“Kau harus mencegahnya Lay, ingat… aku sudah memintamu untuk menjaganya. Lay, aku percaya padamu…”

Sebuah bisikan lembut yang tiba-tiba terdengar oleh Lay membuat namja itu tersadar. Entah dari mana arah bisikan itu, tapi yang pasti Lay sangat mengenal suara itu. Lay tersadar, lalu dengan cepat ia menarik Taeyeon yang hanya berjarak beberapa centi darinya.

Hajima,“ujar Lay pelan, lalu dengan sekali gerakan namja itu memeluk Taeyeon, “Mianhae noona, aku terlalu emosi, aku terlalu marah karenamu. Tapi aku sadar itu bukan sepenuhnya kesalahanmu. Mianhae. Jangan lakukan itu noona, jangan….”pintanya.

Taeyeon kembali menangis kali ini dalam pelukan Lay, ia mengeluarkan semua emosinya.

“Menangislah noona, menangislah sesukamu saat ini. Tapi nanti ketika aku telah melepas pelukan ini, aku tak mau melihatmu bersedih, apalagi sampai menangis. Kembalilah menjadi Taeyeon yang dulu, lakukanlah demi Kyungsoo…. “ujar Lay pelan.

Taeyeon hanya bisa menganguk lemah. Untuk sesaat keadaan kembali hening.

Noona, mianhae…“ujar Lay tiba-tiba, memecah keheningan itu.

Aniyo. Seharusnya aku yang meminta maaf, bukan kau. Aku yang menyebabkan semua ini terjadi, aku yang bersalah Lay. Mianhae, jeongmal mianhae…“ujarnya di sela-sela tangisan.

“Ini bukan sepenuhnya kesalahanmu noona…”

“Tidak Lay, ini memang salahku. Aku yang mendorong Kyungsoo hingga ia terjatuh… aku membunuhnya.”ucapnya datar.

Lay diam, ia tak tahu harus berkata apa untuk menghibur yeoja itu. Jujur saat ini bukan hanya Taeyeon yang bersedih, ia juga bersedih.

“Dengarkan aku noona… ini bukan kesalahanmu tapi inilah yang disebut takdir. Takdir yang amat menyakitkan. Tapi yakinlah, dibalik ini semua ada sebuah rahasia besar yang sudah di rencanakan oleh-NYA. Tentu saja itu sebuah rahasia yang sangat indah, bahkan kau atau aku tak akan bisa membayangkannya. Yang bisa kita lakukan saat ini hanyalah bersabar dan mencoba untuk ikhlas menerima cobaan ini, kita… harus tetap berpikir positif dan berusaha menjalani hidup sebaik mungkin. Ingatlah, Tuhan menyayangi semua ciptaan-NYA.”jelas Lay panjang lebar.

Tangis Taeyeon kembali pecah, mendengar perkataan Lay membuatnya tersadar kalau yang ia lakukan selama ini tak ada artinya. Ia hanya menyia-nyiakan hidupnya dan mengakibatkan ia kehilangan orang-orang yang di sayanginya. Yeoja itu kini benar-benar menyesal.

Tapi apa daya, semuanya sudah terlambat. Pepatah yang mengatakan bahwa penyesalan selalu datang di akhir kini tengah di rasakan olehnya. Yang bisa ia lakukan hanyalah menyesal dan menyesal.

“Aku, benar-benar menyesal Lay… Mianhae~“ucapnya getir.

“Do Kyungsoo. Mianhae… kini aku sadar, semua yang aku lakukan selama ini sia-sia. Bukan kebahagiaan yang aku dapatkan, tapi kesedihan. Bahkan sekarang aku bukan hanya kehilangan oppa, tapi aku kehilangan dongsaeng-ku juga. Mianhae Kyungsoo-ah, mianhae. Mulai sekarang aku akan berusaha untuk kembali menjadi Taeyeon yang dulu, dan aku berjanji padamu aku tak akan melakukan hal-hal bodoh lagi, aku berjanji Do Kyungsoo~”batin Taeyeon.

Lihat? Cinta itu begitu simple, hanya saja kita yang selalu membuatnya lebih-lebih sulit untuk dimengerti. Terkadang karena hanya ingin menjaga perasaan seseorang, kita tak memikirkan perasaan kita sendiri. Dan yang paling penting semua yang kita lakukan dalam hidup ini sudah diatur oleh-NYA. Apapun itu. Jadi percayakan saja semuanya pada Tuhan, because He know how we’re.

-END-

Finally~ Yey! Akhirnya selesai juga. Gimana chingudeul? Saya berharap kalian semua suka walaupun ceritanya gaje >.< Mianhae kalau kebanyakan typo, alur kecepatan, bahasanya berbelit-belit, ceritanya juga bikin bingung atau apapun itu yang membuat kalian semua nggak nyaman bacanya *bow*

Terakhir, setelah baca jangan lupa like atau comment ya chingu~ kritik dan saran akan saya terima dengan senang hati

Oh iya sekalian promosi, hehe jika berminat silahkan berkunjung ke blog pribadi saya di https://eshyunya.wordpress.com/

Kamsahamnida^^

Advertisements

31 comments on “[FREELANCE] Even When It’s Hurt (Oneshot)

  1. good job thor.. feelnya dapet pas di scene tepi jurang.. yaampun kenapa cast yang couplenya KyungTae bakal berakhir sad yaa -,- Updatesoon! Hwaiting

  2. UWAAAAAAAAAAAAAAA………. Kangen sma ff ini,pdahal aku udh prnah bca…
    tpi kngen lgi….
    Ksihan Suho kok mninggal HWAAAA… 😥
    kshan Tae eonn smpai nkat bnuh dri,untungnya ada Kyungsoo…..
    KYAAAAAA…. Sad END 😥 😥
    Thor ffnya sdih skali Aigoo….
    Dtnggu ff lainnya Thor 😀
    FIGHTAENG!! ❤

  3. Entah kenapa aku benci karakter taeyeon disini dia lebih terlihat psikopat
    jujur aku kasihan banget sma kyungsu thor d sni aku gk merasa sedih tp aku merasa marah sma taeyeon,,,
    aduuh aku gk ska klaw tae karakternya nista ke gtu thor,,,
    dan cerita nya gantung yah,,,
    yaudh semangat deh buat author yng nulis hehehe

  4. Ya thor kok sad ending……
    Next thor ditunggu ff yg lainnya, oh thor yg who’s my real princes ya ditunggu juga ya…..

    Fighting

  5. Pernah di post dimana aja thor? Esff? Pernah baca soalnya wakakakkakak
    Tp ttp dpt feelnya walaupun dibaca ulang.
    Nice story! Ff lain ditunggu yaaa

  6. huhu~ sad ending. tae bodoh banget sih, kalo dia ga kaya gitu kan dia gak akan kehilangan kyungsoo juga. tapi nih ff keren banget thor. good job

  7. daebak daebak feel nya dapet banget lah. sad ending tapinya — keren lah suka ff nya. di tunggu ff berikutnya 🙂

  8. Sad Ending !! Bneran nangis bcanya thor !! TT.TT
    Daebak thor !! feelnya udh dpet bnget wlau ngegantung,, tpi aku suka bnget thor !! ^^

    Rada ksel sma taeyeon gitu tpi kan dia jga skit karna khilangan suho… dia jga egois bnget sma orng wlau akhirnya nyesal juga sih… Kyungsoo baik amat, dia kyak mlaikat !! :”

    Dtnggu aj deh ff lainnya ne ?!
    Fighting!!

  9. 😭😭😭😭😭
    dsini Tae eonni jahat, ngapa harus sad ending sih thor. Kasian do oppa 😭😭😭😭

  10. Kayaknya aku pernah baca ini ff .Ini ff tragis bgt… knp dimana mana perannya kyungsoo sering tragis bgt endingnya
    . Pliss buat ff lainnha yg KyungTae d.o taeyeon pliiss

  11. daeebakk.. suka fanficnya..tapi kenapa musti sad ending 😦
    Padahal harapin happy ending, yauda gapapa de.. next project ditunggu 🙂

  12. thorrr kenapa sad endiñggg…
    qqeerreeennn,sampai berlinang air mata..

    d tnggu ff yg lainnya…
    fighting

  13. Fellnya dapeett banget thorr huee😪 sad ending😢 kasian do nyaaa taeng kok gituu.. Ditunggu ff yg lainnya thot hwaiting😘💕

  14. Daebak!! Feelnya dapet banget thor, tapi aku rasa masih agak ngeganting yaah? Kalau bisa buat sequel nya dong thor jadi lay-tae gitu… Ayolah thor jebal…
    Hehe ditunggu yah ff yang lainnya dan kalau bisa sequel dari ff ini 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s