The day I meet Him (Part 1)

the day

Author : RYN

Length : Threeshot

Rate : PG 17

Cast :

@ Taeyeon

@ Luhan

Other cast :

@ Jessica

@ Yoona

Genre : Fantasy, Romance, Fluff

Disclaimer : seluruh plot murni hasil pemikiranku. Insprisi datang dari berbagai hal namun semuanya tetap dengan imajinasiku sendiri. Of course, seluruh cast milik tuhan dan orang tua mereka.

Don’t plagiat, don’t copy paste without my permission!!

Aku tidak pernah memberikan izin pada siapapun untuk membuat cerita berdasarkan fanfic ini!!!

pernah dipost di exoshidae wp

 

***

Mentari pagi perlahan mulai menampakkan sinarnya. Kicauan burung yang bertengger di pucuk-pucuk pohon terdengar bersahut-sahutan seolah sedang merangkai sebuah melodi yang indah. Hari minggu yang cerah, seorang gadis berusia sekitar 18 tahun melangkah dengan gontai menyusuri jalan-jalan kecil di depannya. Gadis itu memakai hoddie putih yang agak kebesaran di padu dengan celana mini yang melekat sempurna di tubuhnya. Di punggungnya, sebuah ransel berukuran besar tersandang disana. Rambut coklatnya di kuncir ke atas dengan aksesoris ikat rambut yang senada dengan warna pakaiannya. Sebuah senyuman terukir di wajahnya segera setelah ia mencapai gerbang sekolah.

Hari ini sekolah Nation Academy menyelenggarakan perjalanan wisata dalam rangka perpisahan akhir siswa tingkat 3 yang telah lulus. Gadis bertubuh mungil itu—Taeyeon segera menghampiri kedua sahabatnya yang tengah melambaikan tangan ke arahnya dengan tidak sabar, tidak jauh dari tempatnya.

“kenapa kau lama sekali? Kami sudah menunggumu dari tadi.” Salah satu sahabatnya yang bernama Jessica membuat wajah secemberut mungkin. Taeyeon hanya menanggapi dengan senyum meminta maaf.

“kau terlambat seperti biasa, Taeyeon-sshi.” Sindir Yoona sambil melipat tangannya.

Taeyeon memutar bola matanya, “kalian tahu sendiri ayahku bagaimana. Aku harus berurusan dulu dengannya sebelum kemari. Asal kalian tahu saja, itu tidak mudah.” Ia menanggapi omelan tak langsung dari mereka dengan ekspresi pasrah.

Kejadian seperti ini sudah biasa terjadi, Yoona dan Jessica pun tahu bagaimana tabiat ayah Taeyeon yang terlalu over protektif terhadap putrinya. Menjadi anak satu-satunya, Taeyeon bisa mengerti mengapa ayahnya bersikap sedemikian paranoid bila ia jauh darinya. Ayahnya hanya terlalu menyayanginya. Meski begitu bila sudah tidak tahan, Taeyeon biasanya mengeluh. Kadangkala berhasil saat itu, tapi setelahnya, sikap ayahnya kembali seperti biasa.

Saat pertama kali ayahnya tahu mengenai perjalanan wisata sekolah akan diadakan di luar kota, tidak terbayangkan betapa paniknya orang tua itu. Sudah tidak terhitung berapa kali Taeyeon memberikan penjelasan agar ayahnya mengerti, ia bahkan memohon dan merengek agar diizinkan ikut. Beruntung kedua sahabatnya memiliki kemampuan membujuk dan akhirnya berhasil membuat ayahnya merubah keputusannya. Tapi tentunya konsekuensi setelahnya membuat kepalanya pusing.

Tadi pagi ayahnya bersikeras ingin mengantarnya ke sekolah dengan alasan ingin melihat putrinya sebelum naik bis, tapi Taeyeon tahu itu hanya alasan semata. Ia masih ingat wajah ayahnya yang begitu tidak rela berpisah dengannya dan menggerutu bahwa dua minggu itu terasa setahun baginya. Taeyeon tidak mengatakan apapun selain menghela nafas dalam-dalam. Saat-saat seperti ini sifat kekanakan ayahnya menjadi sangat berlebihan.

Dulu saja waktu ia masih di middle school untuk perjalanan wisata, ketika ia hendak naik kendaraan yang akan mengantar mereka, ayahnya tiba-tiba saja memasang tampang semenyedihkan mungkin membuatnya tidak tega dan akhirnya tidak jadi ikut bersama teman-temannya. Entah itu sudah ke berapa kalinya dan sekarang ia tidak ingin kejadian itu terulang. Oleh sebab itu, ia sedikit berlaku keras pada ayahnya dan menolak dengan tegas tawarannya untuk mengantarnya. Ia lebih memilih berangkat sendiri. Selain itu, ia juga tidak ingin merepotkan ayahnya. Pekerjaannya yang sekarang lebih penting daripada membiarkannya tidak masuk kerja hanya karena dirinya.

“ya~ya~ya~ tipe anak ayah yang patuh.”

Taeyeon mendelik mendengar senandung ejekan Yoona. Tidak merasa cukup dengan itu, ia mendaratkan pukulan ringan di lengan gadis itu.

“Yah!” Yoona meringis seraya mengusap lengannya. “kau jahat sekali padaku.” Gadis itu menggerutu dengan wajah cemberut.

Taeyeon hanya merotasikan bola matanya sementara Jessica di sebelahnya terkekeh geli melihat Yoona yang berlagak ingin menangis.

“itu cocok untukmu.” Ia berhigh5 bersama Taeyeon.

Yoona mengerucutkan bibirnya dan melipat kedua tangannya dengan kesal. “aku merasa terkhianati.”

“stop mendramatisir Yoong~” Taeyeon menggodanya.

Dari arah gerbang sekolah beberapa siswa yang lain mulai berdatangan. Taeyeon dan kedua sahabatnya tidak begitu menaruh perhatian pada mereka karena sibuk berbincang seputar perjalanan wisata mereka dan banyak hal lainnya. Tidak berapa lama setelah itu, suara yang berasal dari pengeras suara memanggil mereka untuk berkumpul. Mereka kemudian mengikuti teman-teman yang lain yang lebih dulu berkumpul di lapangan.

– – –

“menurutmu dimana kali ini?” Taeyeon bertanya saat mereka sudah berada dalam bus. Dari yang didengarnya tadi, perjalanan mereka sepertinya akan sangat lama dan ia tidak tahu harus melakukan apa sementara teman-temannya yang lain asyik berbincang-bincang dengan teman sebangku mereka untuk melepaskan kejenuhan.

Jessica melepas earphone dari telinganya saat merasakan ujung bajunya tertarik. Dengan malas ia menoleh dan keningnya berkerut. “apa?”

Taeyeon menekan bibirnya rapat-rapat, baru sadar orang yang ditanya tidak mendengarnya. Yoona di sampingnya sudah tertidur pulas sejak tadi. Taeyeon menggerutu dalam hati, bisa-bisanya gadis itu tertidur begitu mereka menempati kursi. Sungguh, apa ia sadar kalau kita berada dalam bis bukan kamarnya? Sudah tak terhitung berapa kali Taeyeon mengomeli sahabatnya itu dalam kepalanya karena mendiamkannya sementara sahabatnya yang lain asyik dengan dunianya sendiri.

“letak penginapan kita nanti. Apa kau tahu dimana tepatnya?”

Jessica mengangkat bahu dengan malas. Taeyeon bisa membaca apa yang dipikirkan sahabatnya itu. Mengapa ia mesti repot-repot menanyakan tepatnya dimana letak penginapan mereka nanti? Apa itu penting sekarang? Taeyeon memberenggut kesal karena merasa kecewa. Perjalanan ini jelas membosankan.

“guru-guru tidak memberitahukannya secara mendetail.” Jessica akhirnya mengalah. Melihat raut heran Taeyeon, ia hanya melanjutkan. “aku mendengar rumor dari beberapa siswa yang pernah mendengar pembicaraan guru di sekolah kalau tempat itu baru diresmikan bulan lalu.”

Taeyeon akhirnya mengangguk mengerti. “kedengarannya menarik.” Ia tersenyum.

“semoga saja begitu. Apa lagi?” Jessica bertanya setengah kesal. Ia ingin memasang earphonenya kembali tapi Taeyeon lagi-lagi mengusiknya. Ia sungguh ingin menikmati waktunya tapi gadis itu seakan tidak membiarkan hal itu terjadi.

“kau ingin membiarkanku sendirian? Yoona sudah tidur, setidaknya kau menemaniku mengobrol.” Taeyeon mengerucutkan bibirnya, berharap triknya berhasil.

Jessica mendesah pelan. “aku sedang tidak mood berbincang-bincang sekarang. Kau lihat sekelilingmu, semuanya sudah tidur. Sebaiknya kau juga ikut tidur.”

Taeyeon menggeleng. “aku tidak mungkin memaksa mataku, Jessie~”

“tidak.” Jessica menolaknya tegas. “aku ingin mendengarkan musik yang baru saja kudownload tadi jadi berhentilah merengek padaku.” Gadis itu segera mengabaikan Taeyeon dan tampang cemberutnya.

Taeyeon bersandar di kursinya dan mendengus kesal. Ia melipat tangannya sambil mengerutkan bibirnya. *menyebalkan!* matanya beralih pada Yoona yang tertidur tenang dan memberenggut. *bagaimana bisa ia tidur setenang itu. Tsk!*

Tidak butuh waktu yang lama, Taeyeon akhirnya tertidur menyusul kedua sahabatnya.

Setelah perjalanan panjang yang memakan waktu sekitar 3 jam, bus mereka pun akhirnya tiba di tempat tujuan. Guru mulai membangunkan mereka satu persatu dan mengatakan bahwa mereka telah sampai.

“ini lebih jauh dari yang kubayangkan.” Jessica mengusap matanya sebelum menguap.

Yoona mengangguk setuju. Ia merentangkan tangannya lebar-lebar. “well, setidaknya kita bisa bersenang-senang nantinya.”

Pandangan mereka beralih pada Taeyeon yang masih tertidur pulas di kursinya. Keduanya terkekeh pelan.

“aigo, aku rasa ia juga sangat menikmati perjalanannya.” Yoona menahan senyum.

“kau tidak pernah tahu bagaimana tadi ia merengek padaku karena tidak bisa tidur.” Jessica menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia kemudian membangunkan Taeyeon.

“kita sudah sampai?” Taeyeon melihat sekelilingnya. Sebagian siswa mulai turun dari bis.

Yoona terkikik. “finally sleeping beauty bangun juga. Kau membuat kami cemas.”

Taeyeon mengerutkan kening tak mengerti.

“jika kau tidak bangun, kami cemas tidak bisa menemukan pangeran yang bisa membangunkanmu.” Yoona menjawab santai.

Taeyeon mencibir mendengar kedua sahabatnya tertawa atas gurauan yang mereka buat untuknya. *kekanak-kanakan* sungutnya.

Ketiganya pun turun dari bis dan segera bergabung bersama teman-teman mereka yang lain. Saat pertama kali menapakkan kaki, mereka tak henti-hentinya berdecak kagum. Tempat itu sungguh luar biasa indah. Beberapa petak rumah berdinding kayu berjejer rapi saling berhadap-hadapan. Guru-guru telah memberitahu mereka bahwa rumah-rumah mungil itu adalah kamar mereka nantinya. Dan untuk menambahkan keindahannya, di belakang penginapan terhampar pantai berpasir putih yang luas. Taeyeon memandang sekelilingnya dan menyadari bahwa letak penginapan dikelilingi pegunungan dan tebing. Sama sekali tidak ada jaringan saat ia memeriksa ponselnya.

Pembagian kamar dimulai. Taeyeon sekamar dengan Jessica dan Yoona. Mereka setidaknya beruntung karena di antara kamar lainnya, kamar merekalah yang paling besar. Tidak seperti kelihatannya dari luar, di dalamnya cukup mengejutkan memiliki dua tempat tidur yang besar, sebuah lemari yang cukup besar untuk mereka bertiga dan sebuah kamar mandi. Ada juga perapian yang berhadapan dengan tempat tidur. Tapi di antara yang lain, mereka bertiga paling suka jendela besar berbingkai kayu coklat dengan sepasang tirai putih yang membuat mereka leluasa melihat pemandangan pantai yang indah. Sebagian siswa terlihat tengah menikmati pantainya sekarang.

Jessica dan Yoona terlihat paling antusias dengan kamar mereka. Mereka membiarkan Taeyeon menempati satu ranjang untuk dirinya sendiri sementara keduanya berbagi.

“aku tidak pernah tahu kalau ada tempat seperti ini.” Jessica mulai mengeluarkan isi tasnya. “dua minggu di tempat ini, Waw, aku pasti betah disini.” Ia bersenandung riang. Sejak memasuki kamar, senyumannya tidak pernah hilang dari wajahnya.

“kau memang selalu seperti ini ‘kan. Semua tempat yang menurutmu indah pasti membuatmu berkata seperti itu.” Yoona setengah mengejek.

Jessica hanya mengacuhkannya kemudian melirik Taeyeon yang juga sibuk mengatur pakaiannya.

“hei, bagaimana kalau habis ini kita ke pantai?” tanyanya pada mereka berdua.

“ide yang bagus.” Yoona setuju.

“bagaimana denganmu?”

Taeyeon menoleh, menggeleng pelan, masih tak menghentikan kegiatannya. “aku ingin melihat-lihat sebentar di sekitar sini.”

“kau akan menyesal jika tidak melihatnya sekarang. Sunsetnya terlihat lebih indah jika kita melihatnya dari pantai.” Yoona menambahkan diiringi anggukan cepat dari Jessica yang berharap Taeyeon mengubah keputusannya. Tapi gadis di depan mereka kembali menggeleng.

“aku akan melihatnya,” Jessica dan Yoona seketika memasang raut penuh harap. “tapi nanti. Kurasa aku akan melewatkannya saja kali ini. Ada yang lebih membuatku tertarik dari sekedar melihat sunset.” Taeyeon menyelesaikan kalimatnya seraya mengedipkan matanya dan tersenyum. Ia sudah selesai.

“kau menyebalkan. Kau tahu itu.” Jessica bergumam.

“aku tahu.” Taeyeon memperlihatkan eyesmile-nya, Jessica dan Yoona serentak merotasikan bola mata mereka. “aku pergi.” Sosoknya segera menghilang di balik pintu.

Kedua sahabatnya menghela nafas sebelum kembali melanjutkan kegiatan mereka.

– – –

Taeyeon berhenti di salah satu tempat dimana ia bisa melihat hampir seluruh penginapan dan pantai di depannya. Ia mengangkat kamera yang tergantung di lehernya dan langsung saja mengambil beberapa gambar dari segala sisi.

Sempurna.

Ia tersenyum menatap keseluruhan hasil gambar yang dipotretnya sepanjang jalan menuju kemari dan beberapa gambar terakhir yang baru di ambilnya. Ia memang sengaja membawa kamera kesayangannya setiap hendak pergi berlibur. Rupanya tidak sia-sia, ia mendapat gambar yang bagus.

Tampak dari kejauhan, Taeyeon melihat Jessica dan Yoona sedang asyik bermain pasir, berkejar-kejaran dan mengambil beberapa foto di pantai.

Klik.

Taeyeon berhasil mengabadikan momen keduanya yang bertingkah konyol. Ia puas setelah melihat hasilnya. Sebelum kembali, Taeyeon masih ingin menikmati sedikit lebih lama. Ia lalu memutar tubuhnya—dari posisinya, ia bisa melihat keseluruhan penginapan di bawah sana dengan lebih baik. Sejauh matanya memandang, ia tak sekalipun berhenti mengaguminya. Rumah penginapan itu sangat bersih dan rapi, belum pernah terjamah sama sekali. Untuk penginapan yang baru diresmikan bulan lalu, tempatnya lumayan bagus. Mungkin sedikit terpencil tapi secara keseluruhan nilainya 100 kalau boleh ia menilai. Penjaga penginapan pastilah orang yang sangat rajin dan teliti dalam merawat semuanya. Terbukti, dengan pepohonan hijau dan beberapa jenis bunga yang tumbuh subur di sekitarnya.

Taeyeon menoleh sekilas dan ia kembali berhadapan dengan pantai lepas. Ini rasanya sangat menyenangkan, jika ia memutar tubuhnya ke kanan, ia bisa dengan leluasa menikmati pemandangan penginapan dan teman-temannya yang tengah bersantai di depan kamar mereka, guru-guru yang sibuk membuat api unggun dengan bantuan siswa, dan jika menoleh ke sebelah kiri, ia berhadapan dengan pantai pasir putih dengan beberapa siswa yang asyik bermain di pantai termasuk kedua sahabatnya. Mereka semua terlihat lebih kecil dari aslinya. Mungkin karena jarak antara dirinya dan mereka yang terlampau jauh. Yoona benar, sinar matahari yang terbenam memang terlihat indah bila dilihat dari pantai. Ia sedikit menyesal tidak bergabung bersama mereka tadi.

Taeyeon mengangkat kedua tangannya, meregangkan ke samping seraya mulai memejamkan mata. Udara disini sangat sejuk dan menenangkan. Angin berhembus pelan memainkan setiap helai rambutnya. Debur ombak yang membelah pantai terdengar timbul tenggelam dan menggema di hampir setiap sudut. Rasanya sedikit aneh, suasana tenang yang dirasakannya mampu membuat tubuh dan pikirannya merasa nyaman. Menghirup udara segar seperti ini membuat seluruh rasa penat karena perjalanan tadi berangsur-angsur menghilang.

Taeyeon tiba-tiba tersentak dan membuka mata. Kicauan burung yang bersahutan seolah bersenandung mendadak mengalihkan perhatiannya. Ia menoleh ke arah dimana kira-kira asal suaranya. Ketika menemukannya, rahangnya nyaris jatuh dan matanya mengerjap tak percaya. Tidak jauh disana, berdiri gagah sebuah hutan lebat dengan penuh kesan menyeramkan. Bulu kuduk Taeyeon sampai meremang hanya dengan melihatnya. Keningnya mengernyit sesaat seraya mengingat-ingat, mengapa sejak tadi ia tak menyadari kalau ada hutan disana?

Hutan gelap yang penuh dengan pepohonan besar yang tinggi menjulang, kelihatan memang sangat menakutkan dengan banyaknya ranting-ranting yang menjuntai ke bawah. Sosok pohon-pohon besar itu terlihat seperti raksasa hitam yang bersiap menerkam bila hanya dilihat sepintas. Jaraknya dari penginapan cukup jauh tapi agak dekat dengan tempatnya berdiri. Taeyeon merasa terintimidasi. Seingatnya, ia tak melihat rimbunan pohon besar disana saat menuju ke tempat ini tapi mengapa hutan itu kelihatan sangat jelas seperti sudah ada disana sejak awal? Aura yang tidak menyenangkan berasal dari hutan itu membuatnya takut, tetapi didorong rasa ingin tahunya, kakinya tanpa sadar melangkah hendak mendekatinya.

“jangan kesana.”

Suara di belakangnya mendadak membuatnya berhenti. Taeyeon berbalik dan mendapati pria setengah baya yang tidak lain adalah gurunya, berdiri disana dengan tatapan tajam.

“Park songsaengnim…”

“apa yang kau lakukan, nona Kim? Bukankah kau seharusnya tidak berada disini?”

Taeyeon tersenyum kaku. Guru di depannya ini terkenal killer diantara guru-guru lain di sekolahnya. Selain tidak pernah tersenyum, caranya menatap juga selalu tajam.

“maafkan aku Ssaem. Aku hanya ingin melihat-lihat sekitar penginapan ini.” Taeyeon berusaha keras tidak gugup.

Entah mengapa, raut wajah guru itu mendadak berubah tegang. Pandangan matanya beralih lurus ke depan seakan menatap tajam hutan di belakangnya.

“anda juga…melihat hutan itu sebelum kemari?” Taeyeon menatap gurunya ragu-ragu. Tapi gurunya hanya memberinya ekspresi datar.

“jangan pernah ke hutan itu atau kau tidak akan pernah kembali.” Ia memperingatkan. Nada bicaranya yang serius entah mengapa membuat Taeyeon merinding.

Gadis itu tak habis pikir mengapa gurunya tiba-tiba berkata dengan nada seperti itu padanya.

“memangnya ada apa dengan hutan itu, Ssaem?” Taeyeon sungguh ingin tahu. Rasa penasarannya lebih besar dari kalimat peringatan gurunya.

Oleh karena itu Taeyeon belum ingin bergerak dari tempatnya sebelum mengetahui apa yang ingin diketahuinya. Yang tidak ia sadari, sedikit demi sedikit pikirannya mulai terpengaruh dan timbul keinginan untuk mencari tahu hubungan keberadaan hutan itu dengan kalimat gurunya. Semuanya itu konyol jika ia memikirkannya lagi. Tidak mungkin gurunya mengatakan hal aneh semacam itu kecuali ia memang mengetahui sesuatu.

Puluhan detik berlalu tapi gurunya masih tidak mengatakan apa-apa lagi. Raut wajah Taeyeon berubah kecewa saat gurunya berbalik tanpa menghiraukannya. Sebelum pergi ia menyuruhnya segera kembali karena hari hampir malam. Taeyeon tidak punya pilihan lain, ia hanya menjawabnya dengan anggukan pelan meski terganjal dengan rasa ingin tahu. Taeyeon menolehkan kepalanya ke belakang dan akhirnya memutar tubuhnya sepenuhnya, sebelum meninggalkan tempat itu ia ingin melihat hutan itu untuk terakhir kalinya. Bukan apa-apa, ia hanya mengikuti kata hatinya.

Kala memandangi hutan itu, tiba-tiba Taeyeon merasakan seperti ada perasaan aneh yang entah datang darimana. Hutan itu seakan-akan…memanggilnya. Taeyeon terkejut, wajah putihnya memucat. Sesuatu sedang mengawasinya disana dan entah bagaimana pikirannya seolah tertarik ke dalamnya. Tetapi sebelum Taeyeon sempat berpikir untuk mengikuti panggilan hatinya, bunyi ponsel membuatnya terlonjak, dan seperti kembali pada realita, ia sesaat melupakan semua yang ada dalam pikirannya tadi.

Taeyeon mengambil nafas dalam-dalam sebelum menggeser icon hijau di layar ponselnya. Seperti dugaannya, ayahnya sangat panik karena mencemaskannya.

“aku baik-baik saja ayah, tidak perlu khawatir.” Taeyeon menjawab dengan tenang semua pertanyaan ayahnya. Dalam hati ia merasa bersalah karena tidak menepati janji untuk menelpon setelah tiba dan sekarang ayahnya pasti sangat khawatir.

Taeyeon melirik hutan itu sekali lagi sebelum bergerak meninggalkan tempat itu. Ia berjalan sambil masih berbicara dengan ayahnya.

“aku akan menelpon ayah setelah makan malam…aku janji…aku harus pergi sekarang…sampai nanti ayah.”

Hutan itu, tanpa sepengetahuannya, perlahan-lahan menghilang seolah tak pernah ada.

– – –

“kau seharusnya ikut kami, tadi itu sangaaaat menyenangkan.” Jessica nampak bersemangat menceritakan apa yang ia dan Yoona lakukan di pantai tadi. Sesekali ia menyayangkan Taeyeon yang tidak bisa ikut bersenang-senang bersama mereka.

Taeyeon hanya tersenyum kecil. Kedua sahabatnya itu tak tahu kalau sebenarnya ia sudah melihatnya, bahkan mengambil foto mereka berdua. Ia juga hanya tertawa sambil menyisir rambutnya yang setengah basah bila Jessica atau Yoona menceritakan kejadian-kejadian lucu saat mereka di pantai. Taeyeon merasa senang karena mereka bertiga akhirnya bisa menikmati masa liburan setelah ujian sekolah yang berat dan melelahkan.

Sementara kedua sahabatnya sibuk berbagi pengalaman mereka, mendadak Taeyeon teringat akan ucapan gurunya tadi tentang hutan di sisi kanan penginapan. Ia hampir saja melupakannya.

“eh, kalian tahu tentang hutan yang berada di sisi kanan penginapan?”

Jessica dan Yoona menghentikan pembicaraan mereka dan beralih menatap Taeyeon.

“hutan di sisi penginapan?” ulang Yoona sedikit bingung.

Taeyeon mengangguk dengan senyum penuh harap, namun sedetik kemudian senyumannya memudar melihat kedua sahabatnya itu saling pandang dengan raut bingung. “kalian tidak melihatnya?”

Kening mereka berkerut. Taeyeon menjadi heran. Keduanya menatapnya seolah ia baru saja mengatakan sesuatu yang aneh.

“ada apa? Apa ada sesuatu yang aneh di wajahku?” Taeyeon segera mencari cermin kecil dalam tas kecilnya. “tidak ada yang aneh.” Gumamnya setelah melihat pantulan wajahnya.

“bukan di wajahmu tapi di kepalamu.”

“mwo?!” Taeyeon menatap Jessica tak percaya.

Yoona tertawa geli. “tidak ada hutan di sekitar sini, Taeyeon. Tentu kami melihat pepohonan tapi itu bukan hutan yang kau maksud.” Tegasnya. Yoona lalu memicingkan mata menatapnya, “apa pengertian hutan sekarang telah berubah?”

Taeyeon merotasikan bola matanya sebelum akhirnya melempar bantal ke arahnya. Yoona masih tertawa meski bantal itu mendarat tepat di wajahnya.

“itu sama sekali tidak lucu, Yoong!”

“hei aku juga serius. Sejak awal kami tidak pernah melihat ada hutan di sekitar sini. Kau melihatnya, Jessie?”

“nope!”

Mulut Taeyeon membuka.

*t-tidak ada hutan? Bagaimana mungkin? Apa mereka tidak melihatnya? Jelas-jelas hutan itu berada tepat di samping penginapan tapi kenapa mereka tidak menyadarinya?*

“ck, kau melamun lagi.” Suara Jessica menyentakkan lamunan Taeyeon. Ia menatap sahabatnya yang kini menggeleng-gelengkan kepala. “sejak kita berada disini, kau menjadi sedikit aneh, Taeyeon. Apa kau sakit?” tanyanya sungguh-sungguh khawatir.

“tapi serius, kalian benar-benar tidak melihatnya?” Taeyeon mengabaikan pertanyaannya. Ia merasa heran dan tak mengerti mengapa Jessica dan Yoona tidak melihat hutan itu padahal jelas-jelas ia dan guru Park melihatnya disana.

*atau aku hanya berhalusinasi?* Taeyeon menggigit bibir bawahnya sementara ia berpikir keras. Tidak masuk akal tidak ada yang melihatnya. Hutan itu sangat besar, memang agak jauh tapi bukankah letaknya dekat dengan pemberhentian bis mereka? Mustahil mereka tidak menyadarinya. *ah tidak, mereka pasti bercanda. Biasanya ‘kan mereka selalu seperti itu*

“lama-lama kau menjadi sangat aneh, Taeyeon. Kami jadi takut.” Yoona berlagak merinding.

Taeyeon memaksakan diri tersenyum. Reaksinya membuat keduanya makin mengkhawatirkannya. Tadinya mereka berpikir Taeyeon mungkin hanya bercanda atau sekedar ingin bertanya, tapi melihatnya pucat, sepertinya memang ada yang salah.

*hutan?* keduanya membatin dan saling berpandangan sebelum mengangkat bahu. Memang benar tidak ada tanda-tanda hutan sejak mereka tiba di penginapan ini.

“jangan-jangan ini efek dari jalan-jalanmu tadi. Seharusnya kau ikut kami saja tadi jadi kau tidak perlu memikirkan yang aneh-aneh seperti ini.” Tambah Yoona serius.

“kau benar. Aku mungkin berhalusinasi.” Taeyeon lalu terkekeh. Ia tidak ingin membuat kedua sahabatnya tambah khawatir. Meski begitu, ia tidak bisa tenang karena memikirkannya.

*jangan pernah ke hutan itu atau kau tidak akan pernah kembali*

Ucapan gurunya terngiang di telinganya. Kalimat itu justru membuatnya semakin penasaran.

Jessica dan Yoona sejak tadi hanya diam memperhatikan. Meskipun Taeyeon bilang begitu, mereka tidak bisa tidak cemas. Mereka heran mengapa hutan yang sama sekali tidak ada membuat sahabat mereka begitu serius menanyakannya. Mereka sudah mengenal Taeyeon sejak lama jadi mereka tahu kalau gadis itu tengah berpikir begitu keras. Saat melihatnya berubah pucat begitu mendengar jawaban mereka berdua tentang keberadaan hutan yang ia tanyakan, mereka langsung menduga kalau ini bukanlah sekedar halusinasi seperti yang ia katakan. Dan melihatnya sekarang, Taeyeon kelihatan tegang, keningnya berkerut seperti sedang memikirkan sesuatu. Mereka tahu betapa keras kepalanya Taeyeon terhadap sesuatu yang ia anggap benar. Jadi mereka memutuskan untuk tidak mengganggunya lagi.

– – –

Taeyeon mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Semuanya gelap, ia tak bisa melihat apapun.

*dimana aku?*

Kakinya melangkah pelan-pelan ke depan dengan mengandalkan instingnya. Kedua tangannya terangkat meraba-raba dengan perasaan cemas. Tak ada satupun titik cahaya yang bisa menuntunnya. Satu hal yang pasti diketahuinya dan membuatnya waspada ialah ia berada di dalam hutan. Bunyi gemerisik dari dedaunan kering yang dipijakinya serta beberapa kali tangan kecilnya menggesek batang pohon, nyaris menabraknya sepanjang jalan membuatnya yakin kalau saat ini ia memang berada di hutan. Pertanyaannya sekarang, bagaimana itu bisa terjadi?

Secara tiba-tiba, dari jauh nampak sebuah cahaya perlahan bergerak ke arahnya. Silaunya membuat tangannya refleks terangkat menghalangi matanya, seraya mengerjap berulang-ulang memastikan apa yang dilihatnya bukanlah ilusi. Taeyeon membulatkan mata tak percaya. Di depannya berdiri seekor binatang dengan bulu berwarna putih keemasan. Rupanya sesuatu yang bersinar tadi berasal dari tubuh makhluk itu.

Taeyeon tak bisa memalingkan pandangannya. Makhluk dengan bulu yang indah itu seolah menghipnotisnya. Mereka hanya diam saling menatap. Entah mengapa, Taeyeon tidak takut padanya walau mengetahui mungkin saja makhluk itu adalah binatang yang jahat. Meski tampak menakutkan dengan matanya yang berwarna merah, Taeyeon tak memungkiri kalau ia terpesona dengan sosoknya. Entah bagaimana itu terjadi, pandangan Taeyeon perlahan-lahan mengabur sebelum akhirnya kegelapan mengambil alih. Terakhir yang ia ingat sebelum menutup mata, makhluk itu berbalik meninggalkannya.

Taeyeon sontak membuka mata dan terbangun duduk. Nafasnya tersengal-sengal sementara peluh membasahi sekujur tubuhnya. Ia memandang sekelilingnya dan sadar kalau ia masih berada di penginapan. Terlihat Jessica dan Yoona yang masih tertidur pulas di ranjang mereka. Taeyeon menyentuh dadanya, di dalam sana jantungnya berdebar dengan sangat keras.

*mimpi ini lagi…*

Taeyeon menarik nafas dalam-dalam. Pikirannya diliputi perasaan heran sekaligus rasa ingin tahu yang kuat. Ini kesekian kalinya ia memimpikan hal yang sama. Sejak usianya 17 tahun, mimpi aneh itu selalu datang dalam tidurnya. Hutan dan makhluk berwarna putih keemasan itu selalu berada disana. Tidak mendekat, tidak pula menjauh. Terus berulang-ulang hingga kini usianya menginjak 19 tahun.

Taeyeon mencoba membaringkan tubuhnya kembali. Matanya tak segera terpejam karena mimpi tadi masih menyita pikirannya. *apa hubungan hutan dan makhluk itu dengan dirinya?* Segumpal pertanyaan besar dalam kepalanya.

*hutan!* Hati kecilnya tiba-tiba saja memekik. Taeyeon mengerjapkan mata karena terkejut. Ia tak mengira akan memikirkan hutan itu lagi setelah beberapa kali mencoba melupakannya. *mungkinkah ini ada hubungannya?* tanyanya dalam hati.

Taeyeon menggelengkan kepalanya dengan kuat. Tidak mungkin semuanya bisa serba kebetulan. *mungkin aku terlalu lelah* Yah, Taeyeon mengangguk mantap. Tapi detik berikutnya ia tak bisa mengabaikan pikiran aneh yang terlintas mengenai hutan itu hingga akhirnya ia memutuskan.

*sepertinya aku harus mengunjungi hutan itu lagi. Harus!* Tekadnya sudah bulat. Apapun yang terjadi ia harus ke tempat itu lagi. Selain itu, ia juga ingin memastikan sendiri apakah hutan itu hanya halusinasinya saja ataukah memang kenyataan yang sengaja dibuat gurauan oleh kedua sahabatnya.

 

***

*hutan ini benar-benar ada*

Taeyeon tersenyum senang. Ia berdiri memandang hutan di depannya dengan mata berbinar. Ini bukan halusinasi tapi kenyataan.

Setelah sarapan pagi, ketika semua tengah sibuk dengan kegiatan mereka, Taeyeon diam-diam menyelinap menuju hutan. Ia tidak bisa mengabaikan perasaannya untuk tidak mencari tahu. Beruntung tidak ada satupun yang menyadari kepergiannya termasuk kedua sahabatnya.

Taeyeon menghela nafas dalam-dalam mencoba mengatur debaran di dadanya. Ia sudah memantapkan hati akan masuk ke dalam hutan itu dan menyelidiki mengapa dirinya begitu tertarik pada hutan itu, juga mengapa ia sendiri tak berhenti memikirkannya. Berbekal sebuah kamera yang digantung di lehernya, dengan langkah kecil ia berjalan memasuki hutan. Sosoknya yang mungil semakin jauh ke dalam dan lambat laun menghilang tanpa siapapun mengetahuinya. Taeyeon berjuang melawan rasa takutnya. Ia telah mengambil pilihan, sebuah pilihan yang tanpa disadarinya akan merubah kehidupannya. Pilihan yang mungkin akan membuatnya menyesalinya. Dan hutan itupun akhirnya ikut menghilang bersamanya.

– – –

Taeyeon memandang takjub sekelilingnya seraya bibirnya tak henti membisikkan kekaguman. Hutan lebat yang seharusnya menyeramkan ternyata hanya tampak dari luarnya saja. Diluar dugaan, di dalam tempat yang sangat luas itu pemandangannya jauh lebih indah. Kakinya terus melangkah, pohon-pohon dengan batang yang besar serta beberapa tanaman rimbun, tumbuh dengan subur memenuhi hampir seluruh tempat.

Taeyeon dibuat terkesima, dari balik celah daun-daun di atas pohon yang menjulang ke atas terkena sinar matahari, biasnya seolah membentuk benang-benang halus yang terjalin indah satu sama lain menembus ranting-ranting pohon yang menjuntai ke bawah. Taeyeon perlahan mengangkat tangannya ingin menyentuh kilaunya dan tersenyum ketika hangat terasa di jari-jarinya. Ia merasa seperti berada dalam mimpi. Hutan ini tidak memberikan kesan menakutkan seperti yang biasa dilihatnya di film-film horor, mungkin awalnya iya tapi setelah menyaksikannya sendiri pandangannya pun berubah. Sepanjang jalan banyak ia temukan berbagai jenis bunga langka dan beberapa tanaman dengan bentuk yang unik, tertata dengan indah dan rapi seolah seseorang telah merawatnya dengan baik.

Sebersit rasa heran timbul dalam hati Taeyeon, di tempat yang begitu jauh dari kota, agak aneh kalau ia tak pernah tahu kalau tempat seperti ini ada. Atau mungkin ia hanya tidak tahu saja? Sebagai gadis yang cukup mahir melihat peta, aneh saja tempat ini tak terlihat di peta bahkan tak terdeteksi oleh GPS ponselnya. Bila memikirkan itu…sejak tadi ia telah mengangkat ponselnya tinggi-tinggi tapi tidak menemukan satupun jaringan di layarnya. Mungkin karena dihalangi oleh pepohonan tinggi.

*aish!* Dengan hati kesal Taeyeon akhirnya memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku.

Taeyeon semakin jauh ke dalam hutan. Ia terlalu terpesona dengan keindahan seisi hutan sehingga tak menyadari kalau ia telah kehilangan arah dan melewati sebuah gerbang dimensi yang menghubungkan dunia nyata dengan dunia lain yang tidak pernah diketahuinya. Taeyeon terus melangkah ke depan.

5 menit.

10 menit.

25 menit.

30 menit.

Taeyeon membiarkan tubuhnya mengikuti kemana kedua anggota tubuhnya itu memijak. Ia sungguh menikmati waktunya hingga tak sadar waktu yang bergulir semakin cepat.

Klik.

Klik.

Klik.

Sepanjang perjalanan ia menyempatkan waktu untuk mengabadikan setiap pemandangan yang bagus. Ia berniat memperlihatkannya kepada Yoona dan Jessica sebagai bukti kalau ia tidak berhalusinasi mengenai hutan ini. Tanpa terasa, hari telah menjelang sore. Sore menjelang malam.

*kurasa ini sudah cukup* Taeyeon mengangkat kepalanya ke atas, guratan jingga di langit lambat laun mulai menghilang. Taeyeon memutar tubuhnya, berbalik hendak pulang namun tiba-tiba suara tangisan terdengar. Suaranya samar-samar sehingga ia mengira apa yang didengarnya hanyalah angin lalu. Ketika ia bermaksud mengabaikannya, suara itu kembali terdengar.

Taeyeon terlonjak kaget seraya kemudian mencoba menajamkan pendengarannya. Jantungnya mulai berdebar-debar dihinggapi perasaan tidak menentu. Tubuhnya mendadak kaku. Ia hanya berdiri selama beberapa detik tanpa bersuara. Suara tangisan yang berasal entah darimana, terdengar semakin jelas.

Selama puluhan detik tak bergerak, bulu kuduk Taeyeon bergidik. Berbagai pikiran negatif melintas di dalam kepalanya. Siapa yang tidak akan berpikiran negatif jika di hutan yang sepi tiba-tiba terdengar suara tangisan yang disertai dengan suara memelas minta tolong? Taeyeon ketakutan. Keringat dingin mengucur membasahi tengkuknya.

Lama kelamaan, hatinya tergerak juga. Tadinya ia mencoba sekali lagi mengabaikannya tapi suara itu makin memelas. Mungkin tidak ada salahnya bila ia mengintip. Taeyeon mengangguk mantap. Ia lalu menarik nafas dalam-dalam berusaha menenangkan diri dari rasa takut. Setelah sedikit tenang, ia lalu mengikuti suara meminta tolong itu.

“tolong.”

Suaranya semakin dekat, Taeyeon mempercepat langkahnya. Akhirnya ia menemukannya. Di balik rimbunan hijau itu nampak seorang gadis kecil tengah duduk di atas rumput sambil kedua tangannya memegangi kakinya. Entah sejak kapan Taeyeon menahan nafas ketika gadis kecil itu menoleh karena merasakan kehadirannya. Rahang Taeyeon nyaris jatuh, gadis kecil itu seperti boneka. Mata yang besar berwarna biru langit, kulit yang putih seperti susu dan kelihatan halus, rambut pirang yang ikal terurai hingga batas pinggang.

*imut sekali!* Baru kali ini Taeyeon melihat manusia sesempurna itu.

Wajah gadis kecil itu dipenuhi air mata membuat Taeyeon merasa iba. Gadis kecil yang tidak diketahui asal usulnya hanya memandangnya. Dengan ragu, Taeyeon berjalan mendekat. Gadis kecil itu masih tak bergeming, sama sekali tak menunjukkan ketakutan pada orang asing. Baru saja Taeyeon ingin menanyakan mengapa ia menangis ketika mendadak gadis kecil itu buru-buru menghapus air matanya dan tersenyum cerah.

*eh?* Taeyeon mengerjapkan mata karena kaget. Ia tidak menduga perubahannya akan sedrastis itu.

“eonni.”

Taeyeon lagi-lagi dibuat terkejut. *b-barusan ia memanggilku dengan eonni ‘kan?* Ia hampir tak percaya dengan pendengarannya. Ia masih terpaku di tempat sampai ketika gadis kecil itu memanggilnya kembali dengan panggilan yang sama. Namun bedanya, kali ini nadanya terkesan merengek dan ia terlihat ingin menangis lagi.

“eonni, kakiku sakit.”

Taeyeon menjadi tidak tega. Tanpa ragu ia segera menghampiri gadis kecil itu. Ada sedikit kejanggalan yang dirasakannya tentang mengapa tiba-tiba seorang gadis kecil ada di tempat seperti ini, tapi ia mencoba untuk sementara menepisnya. Ia bahkan lupa bahwa tujuannya sebenarnya adalah pulang ke penginapan. Taeyeon hanya tidak bisa meninggalkan gadis kecil itu sendirian apalagi ia terluka. Salah satu kelemahannya, mungkin juga kelebihannya, Taeyeon terlalu polos untuk hal-hal seperti ini. Jiwa keibuan dan jiwa sosialnya terlalu tinggi. Ia tak akan tega melihat seseorang kesakitan lebih lama.

“coba kulihat.” Taeyeon berjongkok di depannya dan mulai memeriksa kondisi kaki gadis kecil itu. Ia terlalu fokus pada bagian yang sakit hingga tak sadar gadis kecil itu memperhatikannya. “kakimu sepertinya terkilir.” Ia tersenyum.

Kaki anak itu terkilir dan ada sedikit luka disana. Lukanya tidak besar juga tidak parah, hanya mungkin bila dibiarkan terus akan terjadi infeksi. Pantas saja anak itu menangis. Untuk ukuran anak seusianya, luka seperti itu pasti sangat sakit. Gadis kecil itu lagi-lagi tersenyum ceria dan Taeyeon hampir tak bisa menahan diri untuk tidak mencubit pipinya karena gemas. Ia lalu mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya dan mengikatnya pada kaki gadis kecil itu agar menahan darahnya tidak banyak keluar.

“nah, sekarang sudah tidak apa-apa.”

Gadis kecil itu mengerjapkan matanya sambil memandangi kakinya dengan kagum lalu berseru senang. “waaah, eonni terima kasih!”

Taeyeon hanya tertawa kecil seraya mengacak-acak rambutnya. *wah, rambutnya halus sekali*

“nama eonni siapa?”

Taeyeon agak tersentak, tidak biasa ditodong pertanyaan langsung seperti itu. “Kim Taeyeon.” Jawabnya tersenyum. Mungkin ia mulai menyukai anak itu.

“waaah nama yang sangat pas untuk eonni yang cantik dan baik hati.”

Pipi Taeyeon bersemu merah mendengar pujiannya.

“namaku Sunny, eonni.” Gadis kecil itu memperkenalkan dirinya sendiri tanpa dipinta.

Taeyeon tersenyum geli. Gadis kecil di depannya ini terlalu menggemaskan.

“baiklah Sunny, apa yang kau la—”

Woof! Woof!

Kalimat Taeyeon terpotong oleh suara aneh yang berasal dari kejauhan. Ia refleks berdiri diikuti Sunny yang bertumpu padanya. Untuk berjaga-jaga, Taeyeon menggiring Sunny ke belakangnya. Setelah memastikan gadis kecil itu aman, iapun memutar tubuhnya ke depan sambil menanti dengan cemas makhluk apa yang akan menghampiri mereka.

“eonni.”

Panggilan gadis kecil itu membuat Taeyeon menoleh. Hatinya luluh melihat Sunny menyentuh ujung bajunya. *dia pasti sangat ketakutan* Diluar dugaannya, Sunny sama sekali tidak menunjukkan raut takut. Hal itu membuatnya sedikit heran sekaligus terkesan.

“diam disini. Jangan khawatir, eonni akan menjagamu.” Taeyeon menenangkan. Ia kembali mendorong pelan Sunny agar tetap bersembunyi sementara ia berhadapan dengan makhluk yang semakin dekat dengan tempat mereka. Yang Taeyeon tidak ketahui, Sunny diam-diam tersenyum. Gadis kecil itu merasa senang karena Taeyeon berusaha melindunginya.

Woof! Woof! Woof!

Suara gemerisik dedaunan kering yang terinjak membuat nyali Taeyeon perlahan menciut. Ia cemas membayangkan jika nanti makhluk itu menampakkan wujudnya. Makhluk seperti apa yang akan ia hadapi nanti? Apakah ganas? Memikirkannya saja membuatnya pucat. Kedua tangannya tanpa sadar mengepal kuat sementara keringat terus membasahi pakaiannya.

Dalam kecepatan kilat, sebuah bayangan hitam melompat dan mendarat di depan mereka. Taeyeon terkesiap, jantungnya berhenti berdetak. Seekor makhluk berbulu putih keemasan berdiri tidak jauh disana. Makhluk yang menyerupai anjing tapi jika diperhatikan baik-baik, bukanlah anjing. Taeyeon nyaris menjerit karena terkejut namun beberapa detik kemudian alisnya menaut seakan baru menyadari sesuatu.

*tidak mungkin…* Taeyeon melongo, nyaris tak percaya. Makhluk di depannya itu mirip atau bahkan sama dengan makhluk yang dijumpainya dalam setiap mimpinya. Tidak mungkin ini suatu kebetulan, bukan? Tapi kenapa? Taeyeon tampak berpikir keras. Sementara ia larut dalam pikirannya, makhluk di depannya terus menatapnya. Ketika sadar, Taeyeon berjengit. Tubuhnya bergetar oleh rasa takut dan was-was. Untuk sesaat ia lupa kalau Sunny telah berdiri di sampingnya.

Woof!

Makhluk itu bersuara. Suaranya serasa mengirimkan getaran-getaran aneh di sekujur tubuh Taeyeon.

“Luhan!”

Taeyeon dikejutkan oleh suara Sunny yang memanggil nama seseorang. Ia memutar kepalanya dan gadis kecil itu hanya tersenyum polos.

*L-Luhan?* Tatap Taeyeon heran. Belum sempat ia menanyakannya pada Sunny, makhluk itu berlari dan menerjangnya sehingga keduanya terjatuh di atas rumput. Taeyeon samar-samar mendengar suara Sunny berseru memanggilnya dan sekali lagi mendengar gadis kecil itu menyebutkan sebuah nama yang sebelumnya telah didengarnya.

“Luhan!”

Kedua mata Taeyeon terpejam rapat. *apa aku sudah mati? Apa makhluk itu telah memakanku?*

Woof! Woof!

*suara itu!*

Kening Taeyeon berkerut bersamaan dengan ia merasakan sesuatu yang berat di atasnya. Ragu-ragu ia membuka mata hanya untuk membulat sempurna. Makhluk itu telah berada di atas tubuhnya, menatapnya dengan mata yang tajam. Taeyeon mengerjap gugup, namun untuk alasan yang tak ia ketahui matanya tak bisa lepas darinya. Sesaat Taeyeon hanya diam dan tenggelam dalam tatapannya ketika tiba-tiba makhluk itu menjilati pipinya sehingga membuatnya terkejut. Tubuhnya seketika kaku di atas hamparan rumput kering tanpa tahu apa yang harus dilakukan sementara makhluk itu masih tak meninggalkan tempatnya.

“Luhan!”

Kesadaran Taeyeon kembali setelah mendengar suara keras Sunny.

“h-hentikan.” Taeyeon menghalau moncong binatang itu untuk tidak menyentuhnya, tapi sepertinya usahanya sia-sia. Binatang itu tidak ingin melepaskannya. “aku bilang hentikan!” serunya, kali ini dengan suara keras.

Binatang itu akhirnya berhenti. Yang membuat Taeyeon jengkel, binatang itu masih berada di atasnya. Taeyeon membungkam, binatang itu menatap lurus padanya. Detik selanjutnya yang membuat Taeyeon tertegun, binatang itu mendadak memiringkan kepalanya seraya mengerjapkan mata dengan polos. Meski sempat kesal, Taeyeon mengakui bahwa binatang itu sangat manis dan lucu saat melakukan gerakan tersebut.

Puluhan detik berlalu, Taeyeon dan binatang itu hanya saling menatap satu sama lain. Rasa takut Taeyeon terhadapnya kini berangsur-angsur lenyap. Ia seolah telah terhipnotis oleh tatapannya dan untuk kesekian kalinya membuatnya tak bisa berpaling.

“yah Luhan! Apa yang kau lakukan pada Taeyeon eonni?!” Sunny langsung menarik paksa binatang yang dipanggilnya Luhan dari atas tubuh Taeyeon dan menempatkannya sejauh mungkin.

Taeyeon tersenyum canggung lalu berdiri sambil merapikan pakaiannya. Ia agak kaget saat Sunny tiba-tiba saja membungkukkan badan.

“maaf Taeyeon eonni, Luhan sudah menyakitimu.”

Perasaan Taeyeon luluh mendengar permintaan maafnya. Ia tersenyum, sekilas melirik binatang yang entah sejak kapan sudah berdiri disamping Sunny. Taeyeon tidak tahu mengapa mendadak ia menjadi salah tingkah.

*apa yang kupikirkan?! Gosh, Taeyeon…kau tidak mungkin terpengaruh hanya karena ditatap makhluk itu! kendalikan dirimu!* Taeyeon ingin sekali memukul kepalanya sendiri karena telah berani berpikir macam-macam mengenai makhluk itu.

“tidak apa-apa Sunny, binatang peliharaanmu tidak menyakitiku.”

Sunny menggeleng tak setuju sementara binatang itu telah sibuk menjilati bulu-bulunya, kelihatan tidak menaruh perhatian pada pembicaraan mereka.

“tidak eonni, biasanya Luhan tidak seperti ini. Ia bahkan membenci orang asing yang masuk ke daerah kami tapi aku ti—”

“tunggu!” Taeyeon memotong kalimatnya. Wajahnya dipenuhi ekspresi bingung. “kau bilang daerah kami? A-apa maksudmu?” perasaannya mulai tidak enak. Binatang bernama Luhan itu mendadak menghentikan kegiatannya dan memandanginya lagi.

Kini giliran Sunny yang kelihatan bingung. “eonni tidak tahu?”

Taeyeon dengan polos menggeleng.

Gadis kecil itu terlihat berpikir sejenak, tangannya mengetuk-ngetuk dagunya seakan berpikir keras dan raut wajahnya yang tiba-tiba berubah sedih membuat Taeyeon menjadi cemas.

“maaf eonni.”

Muka Taeyeon perlahan-lahan memucat, pikirannya berkecamuk. Ia sama sekali tidak menyukai jawabannya. “k-kenapa kau berkata seperti itu, Sunny?” meski demikian sulit, ia mencoba tetap bersikap tenang.

“eonni telah masuk ke dalam hutan larangan dan jika sudah melewati gerbang dimensi, tidak ada jalan untuk keluar dari sini.” Sunny akhirnya menjelaskan. Raut serius yang ditunjukkannya membuat Taeyeon diam seribu bahasa.

Taeyeon mencerna apa yang dikatakan Sunny. *t-tidak mungkin* bibirnya membuka ingin mengatakan sesuatu tapi kembali menutup. *ini tidak mungkin* berapa kalipun ia menggelengkan kepalanya, kata-kata Sunny perlahan tapi pasti menjadi semakin nyata. Berulang kali ia meyakinkan dirinya kalau Sunny mungkin hanya bercanda tapi rupanya pikiran itu muncul sekedar menghibur dirinya sendiri.

“eonni, kau baik-baik saja?” Sunny mencemaskannya. Melihat wajah pucat itu ia tahu kalau gadis di depannya tidak baik-baik saja.

Taeyeon tiba-tiba tertawa kecil yang langsung mendapat tatapan heran dari Sunny.

“gerbang dimensi? Kau pikir aku percaya? Kau pasti bercanda ‘kan, Sunny?” pertanyaan-pertanyaan itu terlontar begitu saja. Tanpa menunggu tanggapan Sunny, Taeyeon memalingkan pandangannya ke seluruh tempat itu. Ia menggeleng tak ingin percaya. Mengapa semuanya terlihat berbeda? Atau mungkinkah ia yang kurang memperhatikan?

Taeyeon belum ingin menyerah. Ia berjalan mondar mandir dari satu sisi ke sisi yang lain tapi tak juga menemukan sesuatu yang membuatnya teringat arah saat pertama kali ia datang kemari. Tubuhnya berbalik memandang Luhan dan Sunny bergantian.

“k-kau pasti bercanda ‘kan?” Taeyeon putus asa. Hati kecilnya masih berharap semua itu tidak benar. “mana mungkin aku tidak bisa keluar dari hutan ini. Aku tahu jalan keluar dari sini. Disa…na…” kalimatnya menggantung begitu saja saat sadar arah yang ditunjuknya tadi sudah berbeda. Seluruh pohon yang menjulang tinggi terlihat sama, semuanya seakan membentuk sebuah dinding pohon dengan batang yang besar.

Taeyeon merasakan tubuhnya lunglai tak bertenaga dan merosot ke bawah, terduduk di atas rerumputan.

“kenapa bisa begini? A-aku jelas-jelas melihat jalanan disana tapi kenapa sekarang tidak ada?” Taeyeon mulai terisak. Ia merasa tak berdaya.

Sunny melihatnya dengan iba. Ia mendekat dan berjongkok di hadapannya. “saat memasuki hutan ini, eonni pasti tidak sadar kalau eonni sudah melewati gerbang dimensi. Itulah sebabnya sekarang eonni melihat semuanya menjadi berbeda. Dunia disini dan dunia diluar yang eonni ketahui merupakan dua dunia yang berbeda. Ini adalah tempat terlarang dan tidak semua orang bisa masuk kemari.”

“tidak ada gerbang dimensi di hutan ini!” suara Taeyeon meninggi. Ia tak ingin percaya. Takut, kesal, cemas, marah dan kecewa bercampur menjadi satu.

Sunny berjengit tapi ia tak bisa menyalahkan Taeyeon. Ia justru kasihan padanya.

“kumohon…bawa aku pulang…aku tidak bisa berada di tempat ini…aku ingin pulang…” Taeyeon memelas. Air mata mengalir di kedua pipinya. Dalam keadaan seperti ini ia jadi merindukan ayahnya. Ia ingin segera pulang dan bertemu ayahnya.

*seharusnya aku tidak kemari* Taeyeon menangis dalam diam. Diantara beberapa penyesalannya, hal yang paling ia sesali yaitu mengikuti perjalanan wisata sekolah.

“eonni…” Sunny ingin menenangkannya tapi pada akhirnya ia tak bisa berbuat apa-apa.

Luhan beranjak berdiri dengan keempat kakinya, kemudian berjalan perlahan menghampiri Taeyeon. Ia berhenti tepat dihadapannya. Taeyeon hanya melihatnya dengan air mata berlinang. Tak disangka-sangka, Luhan lalu menjilati airmata di pipinya. Sunny yang ikut melihat, tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

Tindakan Luhan menghentikan airmata Taeyeon. Luhan diam menatapnya dan Taeyeon pun membalas dengan tatapan yang sama. Entah bagaimana, Taeyeon seperti bisa memahami apa arti tatapan Luhan padanya. Binatang itu seakan memberitahunya bahwa semua akan baik-baik saja. Hanya perlakuan kecil seperti itu membuat Taeyeon menjadi sedikit lebih tenang. Luhan lalu merebahkan kepalanya di atas pangkuannya, meringkuk manja seolah telah terbiasa melakukannya. Taeyeon cukup terkejut, tetapi tidak menolak. Senyuman kecil perlahan membentuk di bibirnya. Luhan memang binatang yang menggemaskan dan lucu. Secara otomatis tangannya mulai membelai kepala Luhan dan kelihatannya binatang itu pun sangat menyukainya. Rasanya bila tidak ada binatang itu yang menghiburnya, mungkin ia masih terus larut dalam kesedihannya.

Sunny masih berdiri disana, melihat pemandangan di depannya dengan sebuah senyuman. Ia baru kali ini melihat Luhan bersikap bersahabat dengan orang yang baru ditemuinya.

“eonni, kau baik-baik saja?”

Taeyeon beralih padanya dan mengangguk lemah. Apa boleh buat, ia tetap harus tegar.

Sunny tersenyum lega. Meskipun sulit bagi Taeyeon untuk menerima kenyataan, setidaknya gadis itu tak lagi menangis.

“eonni tidak perlu khawatir. Selama disini, eonni bisa tinggal di rumahku.”

“kau punya rumah? Di dalam hutan ini?” Taeyeon mengernyit heran. Luhan sudah berdiri disampingnya.

Sunny mengangguk bersemangat. “ayo.”

Gadis kecil itu langsung menarik tangan Taeyeon agar mengikutinya. Tidak punya pilihan lain, Taeyeon hanya membiarkannya. Mereka bertiga pun menyusuri hutan itu, jauh semakin dalam. Taeyeon agak heran melihat Sunny sama sekali tak menemukan kesulitan menemukan jalan pulang, gadis kecil itu seolah telah menghafal setiap jalan yang mereka lalui sekaligus menandakan bahwa gadis kecil itu benar-benar tinggal di dalam hutan. Taeyeon melirik Luhan yang berjalan disampingnya, cukup mengherankan, sejak awal perjalanan mereka binatang itu tidak pernah sekalipun terlihat berdiri disamping Sunny. Taeyeon sebenarnya tidak merasa keberatan karena iapun menyukai binatang itu, hanya saja ia merasa kurang nyaman. Apa yang nanti dipikirkan Sunny jika melihat binatang peliharaannya selalu mengikutinya.

– – –

Puluhan menit berdiri di tempatnya tanpa bergerak, Taeyeon masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Setelah bermenit-menit lamanya berjalan, mereka bertiga akhirnya tiba di depan sebuah puri yang sangat besar. Taeyeon tercengang, rumah yang dibilang Sunny ternyata adalah sebuah puri. Bagaimana bisa ia tidak terkejut? Ini seperti mimpi bisa melihat puri asli yang terlihat seperti kerajaan-kerajaan di dalam buku dongeng.

*d-dia tinggal disini? Kau pasti bercanda!* Taeyeon melirik Sunny dengan iri. Gadis kecil itu hanya menyunggingkan senyum. Pasti karena melihat reaksinya yang konyol.

“ini rumahmu?” setelah memperbaiki sikapnya, Taeyeon bertanya lagi. Ia masih sedikit tidak percaya, bagaimana mungkin di hutan ini ada puri sebesar ini? Kenyataannya, puri ini benar-benar nyata.

Sunny mengangguk cepat. “selain Luhan, aku tinggal bersama ibu—”

“Luhan!”

Taeyeon nyaris terlonjak karena terkejut mendengar suara teriakan itu. Ia menoleh dan mengernyit, Sunny masih tersenyum lebar seakan sudah biasa mendengarnya, tetapi saat ia melihat ke arah Luhan, ia menyadari perubahan binatang itu bersamaan dengan suara teriakan yang semakin besar dan berulang. Luhan nampak ketakutan dan segera bersembunyi di belakangnya.

“uh-oh.” Sunny bergumam.

Taeyeon kian penasaran tapi khawatir dengan apa yang akan terjadi nanti. Sepanjang pengamatannya, ini bukanlah sesuatu yang baik.

Di depan sebuah pintu besar berwarna coklat tua—sepertinya pintu utama—berdiri seorang wanita paruh baya. Taeyeon mendadak gugup dengan cara wanita itu menatapnya. Mungkin kalau dilihat baik-baik bukan kepadanya tapi lebih kepada binatang di belakangnya, tapi tetap saja membuat bulu kuduknya merinding. Suara geraman Luhan membuatnya menoleh ke belakang. Ini pertama kali baginya melihat seekor binatang begitu ketakutan.

“kemari.” Wanita itu memanggil dengan suara rendah dan serak. Ekspresi wajahnya tidak tampak. Luhan masih tak bergeming, hanya memperlihatkan gigi-giginya yang tajam yang mana membuat wanita itu semakin marah. “aku bilang kemari.” Kali ini terdengar seperti peringatan.

Luhan akhirnya menundukkan kepala dan mulai berjalan ke arahnya. Situasi ini membuat Taeyeon bertanya-tanya dalam hati, apa yang kemungkinan akan dilakukan wanita itu hingga Luhan tampak sangat ketakutan? Matanya seketika membulat lebar mengetahui jawabannya. Wanita itu mengeluarkan sebuah cambuk panjang dari balik punggungnya. Kapan cambuk itu ada disana, Taeyeon tidak sempat memperhatikannya. Rupanya inilah yang ditakuti Luhan.

Taeyeon menutup mata rapat-rapat, tak sanggup melihat adegan di depannya. Suara cambukan yang bercampur dengan dengkingan lemah dari Luhan membuatnya ingin menutup telinga tapi akhirnya tak ia lakukan. Anehnya, Sunny hanya diam menyaksikan kejadian itu.

“sudah berapa kali kukatakan padamu, kau harus selalu menjaga Sunny baik-baik tapi lihat apa yang terjadi padanya!”

Lagi. Suara cambukan menggema. Taeyeon mengepal tangannya, rahangnya mengeras. Ini keterlaluan.

“kau membuat putriku terluka! Dasar binatang tak tahu terima kasih!”

Cambukannya semakin sering. Wanita itu benar-benar sangat marah dan tidak ada jaminan bahwa ia akan berhenti.

“aku memeliharamu dan memberimu makan tapi kau tidak becus melakukan tugasmu!”

Taeyeon tidak tahan lagi. Ia sungguh tidak tega mendengar suara Luhan yang seperti memelas dan kesakitan. “sudah cukup…” Suaranya pelan tidak terdengar.

Taeyeon menggeleng, Luhan telah roboh di tanah, meringkuk pasrah mengharap belas kasihan. “aku bilang cukup!” teriaknya sekuat tenaga.

Wanita itu berhenti dengan tangan menggantung di udara. Terlambat sedikit saja, satu cambukan akan kembali menghantam tubuh lemah Luhan.

“eonni.” Sunny disampingnya terkejut.

Taeyeon mengacuhkannya. “aku mohon jangan menyiksanya, Nyonya. Dia sudah tidak berdaya.” Ia memelas. Melihat kondisi Luhan yang menyedihkan membuatnya iba dan menitikkan air mata.

Wanita menatapnya dengan sebelah alis terangkat. “siapa kau?” tanyanya penuh selidik.

Saat itulah Sunny menghampiri wanita itu. Walau jalan masih tertatih-tatih, senyumannya tidak pernah hilang dari wajahnya.

“ini eonni yang menolongku, ibu.”

Raut wajah wanita itu seketika berubah. Ia tersenyum ramah. Taeyeon bingung tapi ikut tersenyum meskipun terpaksa. Ia masih belum menerima cara wanita itu menghukum Luhan.

“benarkah? Wah, terima kasih nona…” ucapannya menggantung, keningnya berkerut. Ia belum tahu nama gadis asing di depannya.

“Taeyeon. Namaku Kim Taeyeon, Nyonya.” Taeyeon memperkenalkan dirinya.

“ah, nona Taeyeon. Aku sangat berterima kasih padamu karena telah menolong putriku. Aku Hwang Nari, ibu Sunny.”

Taeyeon agak terkejut dengan cara bicara wanita itu padanya. Nyonya Hwang tak disangkanya menjadi berbeda. Wanita itu sama sekali tak meninggalkan kesan wanita jahat yang sanggup membuat binatang tak berdaya dengan cambuknya. Taeyeon sampai tak percaya kalau Nyonya Hwang dan wanita yang beberapa menit lalu menghukum Luhan adalah orang yang sama.

“ibu, Taeyeon eonni tidak bisa keluar dari hutan ini. Bolehkah ia tinggal bersama kita?”

Nyonya Hwang nampak terkejut mendengarnya. “kau masuk ke hutan larangan?” tanyanya pada Taeyeon yang hanya mengangguk. Ia kembali sedih mengingat tidak akan pulang ke rumah dalam waktu dekat.

Sejujurnya, Taeyeon kurang nyaman dengan sikap manis nyonya itu yang tiba-tiba. Ia merasa canggung apalagi Luhan masih tergeletak disana, sama sekali tak dipedulikan. Taeyeon tidak bisa menganggap semuanya baik-baik saja setelah Nyonya Hwang berhenti, ia memikirkan kondisi Luhan dan ingin menolongnya tapi mengingat dirinya hanyalah tamu disini, mungkin untuk sementara ia lebih baik diam. Lagipula berteriak seperti tadi adalah sikap yang tidak sopan.

“maafkan aku Nyonya, aku sama sekali tidak tahu kalau hutan ini adalah hutan larangan.” Taeyeon berucap pelan. Ia tersenyum pahit memikirkan nasibnya.

Nyonya Hwang terkekeh. “kau tidak perlu meminta maaf Taeyeon. Sebenarnya ini bukanlah benar-benar hutan larangan seperti yang dikatakan Sunny padamu.” Jelasnya sambil tersenyum.

Jika ini bukan hutan larangan, lalu kenapa ia tak bisa kembali? Apa Sunny mengatakan kebohongan padanya? Taeyeon merasa bingung.

Melihat reaksi Taeyeon, Nyonya Hwang kembali terkekeh. “masuklah, kau pasti sangat kelelahan.”

Taeyeon ragu-ragu tapi mengangguk. Di satu sisi, ia masih ingin mendengarkan penjelasan wanita itu tentang hutan larangan dan di sisi lain ia ingin memastikan keadaan Luhan.

“b-bagaimana dengan Luhan, Nyonya?” tanyanya hati-hati. Ia bisa melihat bagaimana wanita itu menahan amarah dan Sunny yang menyentuh tangannya lalu menggeleng seakan memintanya untuk tidak berkata lagi.

Taeyeon sungguh tak mengerti mengapa gadis kecil itu sama sekali tidak memperdulikan binatang peliharaannya sendiri? Tidakkah ia menyayanginya? Tapi mengapa ia membiarkan ibunya melakukan hal itu pada Luhan? Aneh. Yah, sejak masuk ke dalam hutan ini, ia tidak menyangka semuanya akan terlihat aneh baginya. Ada ketakutan kecil dalam diri Taeyeon bahwa terlalu lama bersama mereka, ia akan bersikap aneh seperti mereka.

“binatang itu akan baik-baik saja.” Nyonya Hwang menjawab dengan tenang.

Luhan berusaha berdiri dengan ke empat kakinya. Sedikit sempoyongan tapi ia tampaknya akan baik-baik saja seperti ucapan wanita itu. Taeyeon masih mengkhawatirkannya. Luhan tak sedikitpun mengalihkan pandangan ke arahnya meskipun Nyonya Hwang melihatnya.

“jangan berharap ada makan malam untukmu.” Ia menatap dingin Luhan tapi binatang itu tak peduli.

Luhan kelihatannya lebih tertarik menatap Taeyeon ketimbang memikirkan rasa sakit di sekujur tubuhnya juga ucapan wanita itu padanya. Erangan kecil sesekali terdengar keluar dari mulutnya tapi itu tidak berarti banyak. Ia masih bisa menahannya. Lagipula ini bukanlah yang terparah.

Nyonya Hwang mengalihkan perhatiannya dan tersenyum pada Taeyeon. “ayo masuk. Hari sudah mulai malam.”

Wanita itu kemudian memapah putrinya masuk ke dalam puri dan Taeyeon menyusul di belakangnya. Taeyeon sesekali menoleh ke belakang dan mendapati Luhan masih memandanginya. Buru-buru ia memalingkan wajahnya kembali menatap ke depan, entah mengapa ia menjadi salah tingkah lagi bila binatang itu menatapnya. Tidak peduli seberapapun usaha menepisnya, Taeyeon selalu merasa Luhan sedang mengawasinya. Ia mempercepat langkah saat tahu Luhan mengikutinya.

– – –

Taeyeon merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil memejamkan mata. Kamar yang ditempatinya sangat luas untuk dirinya sendiri. Ia masih tak percaya kalau kini ia telah berada di dalam puri. Jika ia menceritakan tentang puri ini pada Yoona dan Jessica, akankah keduanya mempercayainya? Taeyeon menggeleng keras, kemungkinan jawaban kedua sahabatnya ialah tidak. Mengingat kedua sahabatnya, kelopak matanya langsung terbuka. Taeyeon perlahan bangkit dari ranjang dan berjalan menuju letak tas kecilnya dimana ia menyimpan kameranya, kemudian kembali duduk di sisi ranjang. Satu persatu Taeyeon memandangi gambar-gambar yang berhasil ia abadikan dalam kameranya. Ia tersenyum tanpa henti, sesekali tertawa kecil. Lambat laun senyumnya memudar dan menghilang, ia mulai merindukan kedua sahabatnya dan ayahnya.

Bunyi ketukan pelan bersamaan dengan suara wanita dari luar kamarnya membuat Taeyeon tersentak. Ia buru-buru menghapus air matanya yang tanpa sadar membasahi pipinya. Ia menyimpan kembali kamera ke dalam tasnya lalu berjalan menuju pintu kamar. Seorang wanita yang berumur kira-kira 30an tersenyum padanya begitu ia membuka pintu. Ia hanya tersenyum kaku membalasnya.

“selamat malam, Nona Kim.” Wanita itu dengan sopan membungkuk hormat padanya, “makan malam telah siap. Nyonya menyuruhku untuk memanggil anda.”

Taeyeon mengangguk pelan tanda mengerti. Ia mengucapkan terima kasih sebelum mengikuti wanita itu menuju ruang makan. Seperti dalam bayangannya, ruang makan itu pun sangat luas. Ruangan bernuansa klasik yang kelihatan elegan dengan lampu-lampu hias di setiap sudut. Di tengah ruangan terdapat sebuah meja panjang dengan ukiran kuno dan beberapa lilin yang telah ditata rapi di tengah-tengah meja.

“eonni!” Sunny bersorak girang saat melihatnya. Nyonya Hwang pun telah duduk bersamanya. Wanita itu tampak tenang dan anggun, sungguh berbeda dengan saat pertama kali melihatnya.

“silahkan duduk, nona Kim.” Nyonya Hwang dengan ramah mempersilahkannya.

Taeyeon mengangguk kecil. Ia mengambil tempat di depan Sunny. Makanan yang terhidang di depannya membuatnya tak bisa menahan rasa lapar lebih lama. Petualangan di hutan, menangis karena cerita hutan larangan sampai kemudian harus melihat penyiksaan di depan matanya, wajar kalau ia sangat kelaparan. Ditambah lagi semua hidangan lezat bergaya ala restoran mahal yang berjejer di atas meja membuat perutnya sudah tak sabar, meski demikian ia tak bisa langsung mengambilnya begitu saja. Biar bagaimanapun kesopanan sangat penting.

“makanlah Taeyeon, jangan malu-malu.” Nyonya Hwang seakan bisa membaca pikirannya yang ragu-ragu menyentuh makanan.

“eonni, makanlah yang banyak. Bibi sengaja memasak makanan ini untuk kita.”

Taeyeon tersipu malu. Ia mulai menyendok makanan yang ada di depannya. Saat ia hendak memasukkan makanan ke mulutnya, matanya tak sengaja melihat ke belakang Sunny.

*sejak kapan ia berada disana? Kenapa aku tidak menyadarinya?*

Ia meletakkan kembali sendoknya, belum berniat menyentuhnya lagi. Mendadak rasa laparnya hilang. Luhan berdiri tak jauh di belakang Sunny. Seperti sudah menjadi kebiasaannya, binatang itu terus menatapnya. Bila mengingat ucapan Nyonya Hwang pada binatang itu, Taeyeon merasa kasihan. Luhan pastilah sangat kelaparan sekarang karena tidak mendapat jatah makan malam.

“jangan pikirkan dia.”

Taeyeon tersentak tetapi tak mengatakan apa-apa. Nyonya Hwang menikmati makanannya seolah tidak terjadi apa-apa. Taeyeon melirik Sunny tapi gadis kecil itu kelihatannya juga tidak peduli. Apakah Luhan memang selalu diperlakukan seperti ini? Taeyeon jadi bertanya-tanya. Dengan berat hati, ia akhirnya menyentuh kembali makanannya.

Taeyeon tidak berani lagi melihat ke tempat Luhan berada. Ia sungguh tidak tega, rasa kasihan tapi tak bisa melakukan apa-apa, lama-kelamaan menyiksa hati kecilnya. Rasa makanan yang seharusnya enak menjadi hambar. Sebuah ide tiba-tiba saja muncul dalam kepalanya. Ia melirik Sunny lalu Nyonya Hwang untuk memastikan mereka berdua tidak melihatnya. Setelah dirasa aman, secepat kilat ia menyambar roti dan segera menyembunyikannya ke dalam saku mantelnya. Beruntung Nyonya Hwang dan Sunny sibuk menyantap makanan mereka hingga tak menyadari apa yang telah ia lakukan. Taeyeon tersenyum puas.

– – –

Usai makan malam, Taeyeon segera mencari Luhan. Ia baru menyadari kalau binatang itu sudah tidak berada di tempatnya lagi. Puri ini terlalu luas jadi akan sulit menemukannya dengan cepat. Taeyeon sibuk melihat kesana kemari kalau seumpama binatang itu tak sengaja terlihat akan tetapi hasilnya nihil.

“dia juga tidak ada disini.” Gumamnya sambil menutup kembali salah satu pintu ruangan. Ia kecewa, Luhan tidak ada dimana-mana.

“eonni.”

Suara di belakangnya membuatnya terlonjak kaget, ia buru-buru menyembunyikan roti yang dipegangnya kembali ke dalam sakunya lalu berbalik dan mendapati Sunny berjalan tertatih menghampirinya.

“apa yang kau lakukan disini, eonni?” Sunny bertanya padanya. Gadis kecil itu sempat melirik ruangan yang baru saja ditutupnya. “bukankah kamar eonni ada di atas?”

“a-aku..itu…em…” Taeyeon gugup, jujur saja ia tidak tahu harus menjawab apa.

“eonni mencari Luhan?”

Taeyeon terdiam. Bila ia menjawabnya, apakah gadis kecil itu akan marah karena terlalu ikut campur? Sebaliknya, Sunny malah tertawa kecil.

“kenapa eonni mencarinya?”

“kau tahu dimana Luhan?”

Sunny mengangkat bahunya dengan acuh. “Luhan memang selalu begitu.”

“apa maksudmu?” Taeyeon mengernyit tak mengerti.

“kadang-kadang dia menghilang tiba-tiba, kadang-kadang dia muncul tiba-tiba.” Sunny menjelaskan. Gadis kecil itu memberi isyarat agar ia menunduk ke arahnya kemudian berbisik, “dia binatang yang misterius, eonni.”

Taeyeon mengerjapkan matanya. Sunny lagi-lagi tertawa. “aku mau tidur eonni. Semoga kau menemukan Luhan.” Ujarnya riang lalu berbalik meninggalkannya.

Taeyeon tercengang. *apa-apaan ini? Jadi anak itu tidak ingin mencari Luhan?* Ia tersenyum kecut mengetahui ternyata hanya dirinya saja yang begitu memperhatikan binatang itu dibandingkan majikannya sendiri. Dengan perasaan kesal, ia pun meninggalkan tempat menuju kamarnya. Kalau majikannya sendiri tidak peduli, kenapa ia mesti repot-repot peduli?

*aish!*

– – –

Taeyeon tiba-tiba terbangun di tengah malam. Nafasnya tersengal-sengal seperti habis berlari maraton, jantungnya berdebar keras melebihi kapasitas normal. Semua ini terjadi karena mimpi yang baru saja di alaminya. Mimpi yang sama yang selalu mengganggu tidurnya. Berbeda dengan mimpi sebelumnya, kali ini makhluk dalam mimpinya itu berbicara padanya. Bukan berbicara secara fisik melainkan berbicara lewat pikirannya.

*akhirnya…aku menemukanmu…calon istriku* kalimat yang terakhir hanya tertangkap samar-samar tapi ia mendengarnya sebelum penglihatannya mengabur dan keadaan sekitarnya berubah gelap.

Taeyeon mencoba memproses maksud ucapan makhluk itu tapi semakin ia mencoba, otaknya malah semakin buntu.

*istri?* alisnya saling menaut, kata-kata yang tak ia pahami justru membuatnya semakin ingin mengetahuinya. Ia menggeleng keras menepis pikiran itu. Ia tidak akan membiarkan hal yang tidak masuk akal mengganggu pikirannya. *mimpi itu tak berarti apa-apa. Yah, aku tidak boleh memikirkannya* batinnya bertekad.

Taeyeon hendak berbaring lagi untuk melanjutkan tidurnya ketika mendadak ia dikagetkan oleh suara gaduh yang berasal dari depan pintunya. Matanya sontak mengerjap karena kaget, tubuhnya menegang dan secepat kilat ia menarik selimut hingga menutupi batas dadanya. Taeyeon meringkuk ketakutan. Suara itu terdengar seperti sesuatu sedang menggaruk-garuk pintu kamarnya, anehnya suaranya berasal dari bawah pintu. Wajah Taeyeon berubah pucat, keringat dingin membanjiri tengkuknya.

“a-apa ada orang disana?” tanyanya setengah berteriak. Suaranya ingin dibuat setenang mungkin tapi nada gugupnya sangat kentara.

Hening.

Setelah memantapkan hati, Taeyeon perlahan turun dari ranjang. Menunggu akan membuatnya semakin ketakutan, jadi ia putuskan untuk melawan rasa takutnya. Tiba di depan pintu, ia menarik nafas dalam-dalam sambil berusaha menenangkan diri karena gemetar. Semua pikiran negatif yang terlintas segera di buangnya jauh-jauh. Taeyeon tidak ingin imajinasi yang dibuatnya sendiri membuatnya tambah takut. Hati-hati ia memutar knob pintu dan menariknya ke dalam. Sepasang matanya langsung membulat lebar, senyum menghiasi wajahnya dan mendadak ketakutan tadi sirna begitu saja.

“Luhan!” Taeyeon setengah memekik. Binatang yang dicari-carinya dengan susah payah tadi kini berada di depan pintunya sambil menatapnya dengan tatapan polos. Tanpa aba-aba darinya, Luhan berjalan masuk ke dalam kamarnya dan duduk di ranjangnya. Meskipun Luhan adalah binatang yang lucu dan menggemaskan, Taeyeon terkejut dengan tindakannya.

“Luhan jangan disitu. Kemari.” Panggilnya. Langsung saja Luhan menurutinya.

Binatang itu menghampiri Taeyeon dan gadis itu lantas berjongkok di hadapannya. Secara otomatis, Luhan menjulurkan kepalanya seolah meminta Taeyeon untuk membelainya. Taeyeon tidak bisa menolak, gadis itu tersenyum sebelum mengangkat tangannya dan melakukan apa yang di inginkannya. Tetapi tak lama kemudian ia tiba-tiba berhenti membelainya karena ia teringat roti yang tadi diambilnya untuk Luhan.

“kau pasti lapar.” Taeyeon berdiri meninggalkan binatang itu.

Luhan mendengking, tak ingin Taeyeon meninggalkannya. Dia berdiri dan mengikuti kemana Taeyeon pergi. Tentu saja Taeyeon tidak mengerti maksudnya karena ia sibuk mencari roti yang tadi disimpan di dalam mantelnya. Setelah menemukannya, ia langsung memberikan roti itu pada Luhan yang dengan senang hati segera memakannya.

Perasaan Taeyeon luluh, pandangan matanya berubah teduh. Seperti dugaannya, binatang itu benar-benar sangat lapar.

“aku senang kau menyukainya, Luhan.” Ia membelainya penuh kasih.

Taeyeon merasa senang karena setidaknya ia bisa membantu binatang itu disaat majikannya sendiri tidak mempedulikannya.

 

***

Ciiip. Ciiip. Ciiip.

Suara burung-burung kecil yang bertengger ramai di dekat jendela membangunkan Taeyeon. Gadis itu menggeliat, sedikit terganggu dengan suara gaduh yang berasal dari burung-burung kecil itu. Ia hendak menarik selimutnya untuk melanjutkan tidurnya ketika ia merasakan sesuatu yang berat dan hangat di pinggangnya. Taeyeon mengerjapkan mata, rasa kantuknya mendadak hilang. Tanda peringatan berbunyi dalam kepalanya ketika pandangan matanya menelusur ke bawah. Apa yang dilihatnya sontak membuat tubuhnya membatu dalam hitungan detik. Matanya yang kecil perlahan-lahan membesar diiringi debaran jantungnya yang serasa dipompa dengan sangat kencang. Sesuatu di pinggangnya itu kini bergerak, bukan meninggalkan tubuhnya melainkan semakin mengerat.

*tenang Taeyeon…tenang…ini pasti hanya mimpi*

Taeyeon mengumandangkan kalimat itu berulang-ulang untuk menenangkan diri. Setelah merasa cukup tenang, pelan-pelan ia membalikkan tubuhnya. Bola matanya hampir meloncat keluar, nafasnya tertahan, rahangnya nyaris jatuh. Tepat di sampingnya, seorang pria tampan berambut blonde, nampak tertidur dengan tenang sementara lengannya yang kokoh masih membalut di sekeliling pinggangnya. Taeyeon menggeleng keras dan mengerjapkan matanya berulang-ulang, ia ingin memastikan bahwa yang dilihatnya hanyalah ilusi tapi kenyataannya, pria itu masih ada disana. Bukan hanya karena terbangun dengan seorang pria di ranjangnya yang membuat Taeyeon terkejut, namun juga fakta bahwa pria tampan itu yang sama sekali TIDAK mengenakan pakaian!

Taeyeon mulai panik, wajahnya yang merah padam kembali pucat. Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum mengintip ke dalam selimut.

*thanks god* Ia menghela nafas lega karena masih memakai pakaian lengkap.

Kembali pada pria tampan itu, Taeyeon masih mengira dirinya bermimpi dan untuk memastikan hal itu, ia mengangkat jari telunjuknya. Konsentrasi penuh, ia membawa telunjuknya mendekati pipi pria itu, namun sebelum menyentuh daerah itu, kelopak mata pria itu tiba-tiba terbuka. Taeyeon terlonjak kaget, tubuhnya terpaku seakan seluruh syaraf-syarafnya menjadi kaku dalam sekejap. Matanya yang bulat bertemu dengan mata coklat pria itu. Detik berikutnya sungguh diluar dugaan. Pria itu tersenyum lembut kepadanya.

“pagi calon istriku.” Suara lembutnya menyapa sambil melambaikan tangan dengan cute.

Rahang Taeyeon nyaris jatuh. *m-mwo?!*

Tidak cukup sedetik, suara pekikan yang amat keras kemudian terdengar menggema dalam ruangan itu. Taeyeon berlari keluar kamar meninggalkan pria itu yang kini mengerucutkan bibirnya karena kecewa.

*padahal aku berharap ia akan memelukku* Pria asing itu memandang ke arah pintu dan cemberut.

 

To be continued…

© RYN

Advertisements

95 comments on “The day I meet Him (Part 1)

  1. ksian bgt si lulu. parah bgt majikannya. ganteng” tp disiksa mulu. untung ada taenggo. jd se’enggak nya ngringani penderitaan lulu. sneng bgt bc ff ini. Feel nya dpt binggo. next chap di tunggu loh ya hehe. fighting !!! 😀

  2. Aaaa…
    Bener2 kangen sm ini ff..
    Ni ff slh 1 dr beberapa ff author ryn yg paling aku suka..
    Next next thor..
    Udh gk sbar nungguin chap slnjutnya..

  3. Deg degan waktu aku baca ff ini khususnya saat taeng pergi ke hutan sampai bertemu luhan, dan pastinya cowok yg tidur disamping taeng itu luhan kan? 😉
    Penasaran ma next chapnya, apakah taeng bisa kembali lagi ke dunia yg dulu? Kasian kan ayahnya, gak mau kehilangan taeyeon, eh taeyeonnya menghilang, pasti panik dan sedih 😰
    Next chapnya aku tunggu author ryn, see you soon 😘

  4. >\\<
    srigala ud brbah jd luhan….
    jahat bgd sih ibunya sunny…
    gemes…
    apa tae bisa kembali…
    next dttgu bgd thor..
    fightaeng!!!

  5. waw baru baca ,keren fantasinya beneran bagus
    pria itu luhan kah ?
    kenapa taeyeon lari ?
    gak sabar nih, next chap q tunggu ~

  6. Luhan kasian yahhh wkwwwkw…tengan luhan ada taeyeon kok yg psti jagain kamu hehehe…bagus thor…next jangan lama yahhh

  7. saya saya udh baca ff keren 1 ini juga,suka bgt sama moment lutae yg disini sempet sampe di baca berkali” ff ini so sweettt bgt..

  8. Aaahhhh seneng baca ff iniiii, yakk kasian luhannya untung aja ada taengg haha, suka banget dulu baca ini sampe sekarang juga masih seneng banggeeetttt , waa ditunggu next chapter hwaitinggg😘💕

  9. Cowo ganteng tak sepatutnta disiska. Majikan macam apa itu -3- seru eon!! Suka sama ffnya. Unik bgt. TOP BGT dh. Next chapt jgn lama” yaaa hehe :3

  10. jadi Luhan itu anjing atau serigala?
    cowo yang di ranjang itu pasti Luhan..wkaka, moga aja..
    next chap ditunggu 🙂 kkeep writing

  11. Wah seneng bgt TDIMH di repost jg ^^…
    Udh sedikit lupa sm alurnya, chp. berikutnya sangaaat ditungggu kak 😀

  12. salah satu karya terbaik eonni walau udah pernah baca tapi tetap aja suka sama ff ini
    next chapter ditunggu eon

  13. Aehh aku pernah baca nihh;;) tp gapapaa deh unn baca lagii ketagihann wkwk. Dari awal juga udh mulai curiga pas liat tittle(?) Ternyata benar ini ff ryn unnie yg waktu itu aku baca wkwk

  14. Keren bngett !!!! Sumpahh !!! Ceritanya menarikkkk !!!!!! Kyaa itu luhan udh brubah jd manusia kahh ??? Next ditunggu !!

  15. Ini aku pernah baca tpi aku baca lagi… aku nggak bosen bacanya wkwkkwkwk.. bagusssss hmmmmm lanjutkan wkwkwkwk

  16. OMOOO FF INIIII AAA BAIK BANGET AUTHOR HUAAAAH KANGEN BANGET SAMA FF INI. aku masih rada inget sama jalan ceritanya tapi aku sama sekali ga bosen dan faktanya emang aku dulu baca ff ini berulang2 mungkin ada 4 kali ya trus aku sampe cerita ketemen2 aku kalo ff ini bagus banget kek promosi gitu kesannya padahal temen2 aku ga suka exoshidae /gedubrak/ aaaaahh rasa kangen aku akhirnya terbayar….. ohiya all my love is for you itu belom kelar kan yaampun udah ada juga di wp ini huaah belom sempet baca mamenh T.T AAAAA JINJJA SANAI BANGTAN SONYEONDAN/????? /APASI /GAJELASABAIKAN #virusjimin. AAAA JINJJA NEOMU NEOMU SARANGHAE AUTHORNIM😭

  17. Apa taeng gx bisa lg ke dunia nyata, pasti panik tuh yoonsic klo taeng hilang apalagi appanya taeng
    apa luhan menjadi manusia ?

  18. Uwaaa ini ff lutae yang paling ‘wow’ 😍😍 pengen baca lagi di wp satunya, tapi di privat, gomawo authornimm udah di kirim ke sini 😍😍 Hehe
    Update soon yaaa😄😄😄😁

  19. aku pernah baca tapi aku lupa gimana lanjutannya 😦 bagus thoorrr ditungguin yaa tapi tetep harus smpe end jangan nanggung kkk

  20. sumpahh daebak amat nih cerita……
    itu laki2 yang disamping Taeyeon pasti luhan…
    Lanjutt thorrrrrrr ditunggu loh thorrr

  21. Nasib Taeyeon gimana tuh??
    Wkwkwk kasian Luhan. Dia nggak dapet apa yang dipikirinnya. . .
    Next chapter, ditunggu

  22. kyaaa TBC ganggu melulu^^
    ceritanya daebak
    feelnya dapet bgt 😀
    itu knp luhan jd jelmaan binatang??!!
    tp lucu 😉
    keren next eonni
    hwaiting 🙂

  23. aku baru baca ff ini, keren”(y). Suka banget sama ceritany, bikin penasaran.. chap 3 ny sudah keluar tapi chap 2 ny mna yah? Dihapuskah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s