My Princess, Kim Taeyeon (Chapter 9)

my-princess-kim-taeyeon

Bina Ferina’s Present

Main Cast :

KIM TAEYEON

KIM JUNMYEON (SUHO)

XI LUHAN

PARK CHORONG

All of Artists SM. Entertainment

Genre :

ROMANCE, SCHOOL-LIFE, FRIENDSHIP

Rating :

PG 17

Artworker :

Very much thank you, dear^^ –> rosaliaaocha – ExoShidaeFFandGrapchics

A/N :

Mari dibaca^^ hope you’ll be like my new fanfic! Alurnya ceritanya SANGAT BIASA, mungkin juga udah sering baca. Tapi aku akan berusaha lebih keras agar FF ini ngga TERLALU BIASA untuk para ReaderSetiakuu #chu. Happy reading^^

~~~

Taeyeon dan Chorong secara beriringan melangkahkan kaki mereka menuju ke taman belakang sekolah. Selama dalam perjalanan Chorong bercerita banyak hal mengenai dirinya dan Luhan yang sering kali bermain bersama di taman itu, saat mereka masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Dan bunga mawar pertama yang dimilikinya pemberian dari Luhan juga.

Chorong bercerita bahwa mereka berdua dulu sangat dekat, sehingga mulai timbul gosip-gosip yang membuatnya di bully oleh fans Luhan. Chorong terus bercerita, sampai akhirnya ia dan Taeyeon duduk di salah satu bangku taman yang panjang berwarna cokelat kayu.

“Luhan pasti sangat menyayangimu. Sampai dia rela berpisah denganmu agar dirimu tidak selalu di bully. Aku tahu bagaimana rasanya,” ujar Taeyeon setelah Chorong selesai bercerita. Dan mereka sama-sama memandang sebuah pohon yang berguguran dengan indahnya di depan mereka.

“Ne, tentu saja. Kami sudah seperti kakak-adik waktu itu. Dia sudah menganggapku adiknya begitu Suho oppa memperkenalkan kami berdua. Meskipun begitu, Suho oppa lebih sering memerhatikan aku dan menjagaku dari pada orang yang sudah kuanggap sebagai oppa sendiri,” jelas Chorong sambil tertawa kecil.

“Kau dan Luhan hanya kakak-adik?” tanya Taeyeon.

“Eung. Orang-orang menganggapnya lain, bahkan Suho oppa juga menganggap kami pacaran. Tapi semuanya sudah kujelaskan, tentu saja,” jawab Chorong. “Kami tidak ada hubungan apa-apa. Mana mungkin aku menyukai Luhan oppa sedangkan di sisi lain aku mencintai seseorang,”

“Geu sarami… Suho?” tanya Taeyeon pelan.

Chorong diam untuk beberapa saat sembari tersenyum lembut pada Taeyeon. “Suho oppa sudah menemukan kebahagiaannya. Awalnya aku kembali ke Korea untuk bertemu dengannya, mengucapkan ribuan maaf dan terima kasih untuk apa yang selama ini ia lakukan untukku. Aku juga ingin mengatakan perasaanku yang sebenarnya padanya. Bahwa aku mencintainya, bahkan sampai sekarang masih terasa hangatnya perasaan ini seperti yang pertama kali kurasakan.

“Tapi aku lihat sepertinya Suho oppa sudah bahagia ada di sampingmu. Aku mengamati Suho dan Luhan oppa lewat Henry oppa. Dia bercerita tentang dirimu juga. Henry oppa bilang hati Suho oppa masih padaku. Tapi begitu kulihat senyuman tulus dari Suho oppa untukmu, membuatku sadar. Dia berhasil menemukan yang lebih baik dari aku. Aku membatalkan rencana awalku dan aku hanya pamit untuk kembali ke Perancis,”

“Tunggu,” potong Taeyeon cepat. “Apa maksudmu ‘dia berhasil menemukan yang lebih baik’ itu aku? Park Chorong-ssi, kau salah. Suho baik padaku dan menjagaku itu karena rasa bersalahnya padamu. Dia menunggumu pulang dan ketika kau pulang, ia sudah bisa menjadi laki-laki yang bisa menjagamu sepenuhnya. Dia berfikir kau pergi dari sekolah ini karena dia tidak bisa melindungimu. Kau tahu? Dia tidak pernah lelah untuk terus berharap kau pulang,”

Chorong menatap Taeyeon dengan tatapan takjub. Ia sedikit membuka mulutnya untuk bicara tapi perkataannya seperti tertelan begitu saja. Ia menundukkan wajahnya dan Taeyeon tahu ia berusaha menyembunyikan air matanya.

“Yang selama ini dia tunggu itu dirimu. Kalian hanya salah paham. Jadi, cobalah untuk bicara dulu dengannya dari hati ke hati,” tambah Taeyeon.

Chorong sedikit menggelengkan kepalanya. “Suho oppa tidak pernah gagal dalam hal menjagaku. Dia selalu ada, Taeyeon-ssi. Apapun kondisinya dia tidak akan pernah membiarkan keadaanku memburuk. Aku tidak pernah baik padanya, aku hanya terus merusuhi kehidupannya. Aku tidak pernah memberikan sesuatu yang berarti untuknya. Tapi dia selalu bilang kalau aku tersenyum itu sudah cukup membahagiakannya.

“Aku tidak mengerti, Taeyeon-ssi. Hanya Suho oppa yang memperlakukanku begitu istimewa ketika itu. Aku seperti seorang princess ketika di dekat Suho. Tidak ada seseorang yang membuatku sebegitu nyamannya selain dia. Aku menyukainya. Ani, aku menyayanginya. Aku tahu dia juga merasakan hal yang sama. Dan bagiku semua itu seperti mimpi,”

“Itu bukan mimpi. Dia memang benar-benar menyayangimu,” sahut Taeyeon cepat. “Tapi kenapa kau pergi waktu itu?”

“Waktu itu aku di bully habis-habisan dengan fans-nya. Mereka bilang aku tidak akan pantas berdiri di samping Suho oppa. Aku bukan perempuan dewasa yang bisa mengurus Suho oppa. Aku hanya perempuan yang cengeng, yang bisanya berlindung di belakangnya, yang selalu menjadikannya tameng. Mereka bilang aku hanya akan menyusahkan Suho oppa.

“Meskipun mereka hanya mengolok-olokku, berusaha menjauhkanku dari Suho oppa, tapi perkataan mereka seratus persen benar. Aku selalu berada di belakangnya, selalu dilindunginya, selalu terlihat lemah di depannya sehingga dia selalu menjagaku. Perlakuannya itu membuatku seperti anak kecil. Aku berfikir, kapan aku bisa menjadi gadis dewasa kalau aku hanya mengandalkan Suho oppa? Dan dari situlah aku pergi,” jelas Chorong panjang-lebar.

“Kau tidak pergi karena Suho yang tidak bisa melindungimu waktu itu?” tanya Taeyeon.

“Sudah kukatakan dia tidak pernah gagal menjadi pelindungku,” jawab Chorong sembari tersenyum pada langit biru yang ada di hadapannya. “Aku pergi dari sekolah ini karena aku… memutuskan untuk berhenti mengejarnya,”

Taeyeon menatap Chorong dengan pandangan tidak mengerti. Ia menyipitkan kedua matanya, berusaha mencari arti penjelasan dari kata-kata Chorong.

“Aku selalu ada di belakangnya, ‘kan? Kalau aku terus-menerus mengejarnya, selalu di belakangnya, maka aku tidak akan menang. Aku tidak akan menjadi perempuan kuat dan dewasa seperti sekarang ini. Aku ingin berhenti mengejarnya, aku tidak ingin ada di belakangnya lagi. Aku ingin ada di sampingnya, menggenggam tangannya dan berjalan ke depan bersama dengannya. Aku ingin kami saling bahu-membahu, saling membantu. Aku ingin seperti itu dengannya, itu sebabnya aku pindah ke Perancis dan memulai hidupku dari awal, tapi tidak merubah sifatku,” terang Chorong. Ia tersenyum malu-malu pada Taeyeon.

Senyum Taeyeon merekah lebar. Ia memang melihat sosok gadis dewasa yang terpancar dari aura Chorong. Walaupun gadis ini lebih muda dari dirinya, tapi pemikirannya begitu matang hingga dia meninggalkan orang yang dicintainya cukup lama.

“Kau hebat. Walaupun kau tinggal di Perancis cukup lama, kau tetap bisa mengingat Suho,” puji Taeyeon.

“Niatku karena Suho oppa. Dan sampai akhir harus tetap karena Suho oppa,” jawab Chorong. “Waktu itu… ketika aku sudah memutuskan untuk pindah, hati ini rasanya begitu berat. Aku tidak bisa memandang wajah Suho oppa waktu itu. Dan aku memilih untuk tidak pamit,”

Taeyeon memandang gadis manis yang ada di hadapannya itu sambil tersenyum lembut. Tatapan yang penuh dengan ketakjuban. Dan mereka berdua sama-sama diam, sama-sama jatuh ke dalam fikiran mereka masing-masing.

“Suho akan menunggumu,” ujar Taeyeon, setelah mereka terdiam cukup lama. “Kau tidak bisa kehilangan orang yang kau cintai dan yang mencintaimu untuk yang kedua kalinya. Kali ini kau sudah diberi kesempatan. Gunakan kesempatan ini untuk menyatakan semua yang ada di dalam hatimu secara jujur,”

Chorong menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis. “Apa Taeyeon-ssi mau membantuku? Jujur saja, aku sangat canggung berada di dekat Suho oppa,”

“Tentu saja. Aku tidak akan biarkan penantian Suho selama ini sia-sia,” sahut Taeyeon.

“Gamsahamnida,” ucap Chorong sembari tersipu-sipu.

Taeyeon tertawa melihat tingkah lucu Chorong dan mereka berdua terdiam lagi. Sebenarnya ia ingin bertanya satu hal lagi. Satu hal yang tiba-tiba menyangkut di kepalanya. Dan ia butuh beberapa detik untuk menjedanya.

“Kalau begitu, Luhan-ssi… berubah seratus delapan puluh derajat menjadi orang yang dingin dan brengsek itu bukan karenamu?” tanya Taeyeon pelan.

“Dia dipaksa orang tuanya untuk bersikap perfectionist. Luhan oppa itu lugu dan polos. Bukan seperti sekarang ini. Dari dia lahir, dia sudah menjadi pewaris perusahaan besar milik ayahnya itu. Dan karena ayahnya juga termasuk orang yang terpandang se-Asia, tingkah laku anaknya sebagai pewaris tunggal juga ikut diliput. Dia selalu diarahkan ini-itu, membuatnya seperti merasa dikekang. Ia ingin memberontak tapi tidak bisa. Dan yah, sifatnya jadi seperti ini. Aku benar-benar prihatin,” jawab Chorong.

“Begitukah?” tanya Taeyeon pelan.

“Tapi…” lanjut Chorong. “Aku juga mengerti bagaimana perasaan ayah dan ibunya Luhan oppa,”

“Apa maksudmu?” tanya Taeyeon bingung.

Chorong diam sesaat sambil menatap kedua mata Taeyeon dalam-dalam. “Maukah kau berjanji padaku untuk menjaga rahasia ini baik-baik, Taeyeon-ssi?”

“Rahasia?” tanya Taeyeon bimbang. Beberapa detik kemudian ia mengangguk perlahan.

“Aku percaya padamu,” ujar Chorong. “Ayah Luhan oppa mengidap penyakit yang cukup serius. Aku tidak tahu sakit apa itu, tapi Luhan oppa pernah menceritakannya. Dia cerita kalau ayahnya sedang sakit dan tidak tahu kapan sembuhnya. Dia kesal pada ayahnya karena hanya memikirkan perusahaannya sedangkan kesehatannya tidak pernah. Aku tanya sakit apa, tapi Luhan oppa tidak mau menjawabnya. Dia minta padaku untuk selalu mendoakan ayahnya yang keras kepala,”

Mendengar itu Taeyeon tersentak. Kemarin malam ia juga melihat Mr. William yang langsung dibawa pulang oleh istrinya. Wajah Mrs. Pu Li dan Mr. Lee yang panik membuat Taeyeon curiga kalau ayahnya mengidap suatu penyakit.

“Tidak ada yang tahu masalah ini. Bahkan teman-teman dekatnya yang lain,” lanjut Chorong. “Aku menceritakan semua ini padamu karena aku percaya padamu, Taeyeon-ssi,”

“Euhm, aku janji tidak akan mengatakan apa-apa pada siapa-siapa,” ujar Taeyeon sambil menunjukkan jari kelingkingnya pada Chorong. “Asalkan kau juga berjanji untuk meluruskan masalahmu dengan Suho, eoh?”

Chorong menatap Taeyeon dengan pandangan berseri-seri. Ia berdiri dari bangku cokelat itu dan menghadap Taeyeon. Taeyeon menatap Chorong dengan pandangan bertanya-tanya.

“Selama sekolah di Whimoon, aku tidak pernah punya teman dekat wanita. Saat di Perancis orang-orangnya sangat ramah dan membuatku menjadi mudah beradaptasi. Awalnya, aku sangat takut ketika aku tiba di Korea, aku tidak punya teman wanita. Tapi setelah bertemu denganmu, aku merasa cocok dan ingin lebih dekat lagi denganmu,” ujar Chorong terang-terangan. “Bolehkah aku memanggilmu ‘eonni’? Bolehkah aku menjadi teman dekatmu?”

Taeyeon tersenyum manis mendengar penuturan Chorong. Baginya permintaan Chorong tersebut merupakan permintaan yang cute.

“Tentu saja boleh,” jawab Taeyeon riang. Ia juga bangkit dari bangku itu dan melebarkan lengannya, menyuruh Chorong untuk memeluknya.

Chorong memekik girang. Ia mendekati Taeyeon dan memeluknya dengan erat, seperti memeluk seorang kakak sendiri. Jauh di dalam lubuk hati Taeyeon yang paling dalam, gadis sepolos Chorong ini memang tidak pantas untuk sering di bully, dan dia mengerti kenapa Suho begitu ingin menjaganya.

~~~

“Mwo? Apa yang dia katakan di kantor itu sungguh-sungguh?” tanya Tiffany sambil berbisik di telinga kanan Taeyeon.

Taeyeon sedikit mengangguk dan matanya tetap menatap ke depan, memerhatikan guru mereka sedang menerangkan. Sejak awal Taeyeon masuk, kelima temannya sibuk menginterogasi Taeyeon mengenai mabuknya Luhan dan ia yang tak sengaja memanggil-manggil nama Taeyeon. Taeyeon berusaha berbohong bahwa tidak terjadi apa-apa, tapi seperti biasa, mereka semua bisa menebak isi fikirannya.

“Kenapa kau tidak yakin? Apa Taeyeon begitu percaya diri sekali sehingga mengarang cerita?” desis Sunny, yang duduk di depan Taeyeon dan Tiffany. Sesekali ia menghadap ke belakang ketika sang guru tidak melihat.

Taeyeon mendelik menatap Sunny, menyuruhnya untuk tetap menghadap ke depan. Sunny memutar kedua bola matanya dan berbalik.

“Ani. Maksudku dia, ‘kan sedang mabuk, jadi apa dia sadar dengan apa yang dia katakan?” lanjut Tiffany. Ia pura-pura sibuk menulis di bukunya.

“Walaupun dia mabuk, kenapa dia harus berkata seperti itu? Itu artinya dia memang menyukai uri Taeng dan sangat depresi ketika dia tidak bisa menyatakannya,” ujar Sunny.

“Entahlah, tapi aku masih kurang yakin dengan laki-laki itu,” kata Tiffany, kini ia sibuk berdebat dengan Sunny.

“Kurang yakin? Apa kau juga masih belum terima kalau Suho ternyata masih menunggu Chorong, dan bukannya malah menyukai Taeng? Lagipula, aku setuju kalau Luhan menyukai Taeyeon,” jawab Sunny.

“Mwo?” desis Tiffany sengit. Ia sedikit menghentakkan pulpennya dan menatap Sunny dengan pandangan tidak percaya. “Apa-apaan itu? Dia sering menyakiti Taeng!”

“Sshh,” lerai Taeyeon dan Chanyeol bersamaan, yang duduk tepat di sebelah Sunny. Tapi sayang, Sunny dan Tiffany tidak mengindahkan mereka.

“Taeyeon akan membuat sejarah besar di Whimoon High School, apa kau tahu? Seorang bangsawan sombong berkepala besar jatuh cinta pada gadis manis yang berasal dari rakyat jelata! Fans Luhan juga akan shock berat dan mereka tidak bisa berbuat apa-apa pada Taeyeon,” lanjut Sunny. Kini tubuhnya sudah menghadap Tiffany dengan sempurna.

“Ya!” pekik Taeyeon pelan, memperingatkan Sunny.

“Kau berimajinasi terlalu tinggi, Sun Kyu-ah. Kalaupun memang benar Luhan jatuh cinta pada Taeyeon, tapi aku tidak akan membiarkan Taeyeon jatuh ke tangan laki-laki brengsek itu sebelum dia benar-benar membuktikan cintanya begitu besar dan hanya untuk Taeyeon!” bantah Tiffany.

“Aku tidak menyuruh Taeyeon untuk menerima Luhan!” ujar Sunny.

“Perkataanmu mengarah ke sana,” sahut Tiffany.

“Babo. Apa sekarang berpacaran dengan Tao membuatmu jadi bodoh seperti ini?” tanya Sunny.

“Jangan mengatai Tao!” hardik Tiffany. “Apa kau fikir Min Seok sudah sempurna?”

“Kenapa kau bawa-bawa dia?” tanya Sunny, mulai kesal.

“Kau yang mulai duluan!” pekik Tiffany pelan. Namun, suaranya sudah mengundang perhatian sebagian orang.

“Ya, ini hanya masalah kecil. Kenapa kalian mendebatkannya sampai seperti ini?” tanya Taeyeon, berusaha menengahi keduanya. “Tidak perlu memusingkan ucapan Luhan. Dia mabuk, arra? Mabuk. Aku berada di depannya ketika dia mabuk dan mungkin itu sebabnya dia menyebut namaku. Tidak perlu diperdebatkan. Dia tidak menyukaiku. Sampai kapanpun dan aku berharap demikian,”

“Kau lebih bodoh dari pada Fany, Taeng,” sahut Sunny. “Kenapa kalian tidak pernah pintar soal percintaan?”

“Kenapa kalian bertiga tidak pernah memerhatikan setiap kali aku sedang menerangkan?”

Begitu mereka bertiga mendengar suara dingin yang bagaikan batu es tepat di samping mereka, Taeyeon, Tiffany, dan Sunny mendadak diam. Satu kelas memerhatikan mereka bertiga sambil cekikikan. Taeyeon menangkupkan wajahnya di dalam telapak tangannya. Sedangkan Jessica, Chanyeol dan Heechul hanya menggelengkan kepala mereka sambil tersenyum geli.

“Dan,” lanjut Mr. Park sambil mengangkat dagunya tinggi-tinggi menatap Taeyeon, Tiffany, dan Sunny. “Coba jelaskan aku tentang masalah percintaan seperti yang tengah kalian perdebatkan,”

Taeyeon dan Tiffany diam sambil menatap Sunny. Mereka berdua menyuruh Sunny untuk buka suara. Sunny menatap mereka dengan pandangan bingung dan berusaha mencari jawaban tepat untuk guru mereka yang terkenal killer namun tampan itu.

“Euhm… Sebenarnya aku juga bodoh kalau masalah itu, sajangnim. Kurasa yang lebih mengerti hal itu adalah sajangnim sendiri. Karena, tanpa berkata apapun masalah cinta, gaya dan tutur bahasamu sudah menjelaskan apa arti cinta itu,” jelas Sunny sambil memasang gaya aegyo-nya yang natural.

Sontak satu kelas bersiul meriah dan bertepuk tangan gembira. Mereka tertawa mendengar jawaban Sunny yang frontal. Ditambah dengan wajah canggung dan merona Mr. Park, membuat siswa-siswi di kelas itu tertawa terbahak-bahak. Bahkan Taeyeon dan Tiffany pun melupakan kesalahan mereka dan ikut tertawa.

~~~

Taeyeon, Tiffany, dan Sunny sedang melangkahkan kaki mereka menuju loker sembari bercanda tawa bersama. Begitu sampai, kedua mata Taeyeon langsung menangkap sosok laki-laki yang sudah tidak asing lagi di hidupnya. Laki-laki itu dengan santainya menyandarkan punggungnya ke loker dan memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celananya. Dari wajahnya kelihatan ia sedang menunggu seseorang.

Sunny dan Tiffany menolehkan wajah mereka secara serempak untuk menatap ekspresi Taeyeon. Taeyeon tahu dan ia berusaha untuk tidak menunjukkan ekspresi apa-apa.

“Luhan-ssi,” sapa Tiffany tiba-tiba.

Luhan menoleh menatap Tiffany. Sedangkan Taeyeon terkejut mendengarnya. Kedua bola mata rusa Luhan langsung berpindah ke Taeyeon begitu ia melihat keberadaan gadis itu.

“Kau sedang menunggu seseorang?” tanya Tiffany. Ia melangkah mendekati Luhan.

“Aku menunggunya,” jawab Luhan enteng sambil menunjuk Taeyeon dengan dagunya. Taeyeon berusaha keras tidak menunjukkan wajah gugupnya.

“Untuk apa?” tanya Tiffany lagi.

“Kami akan rapat sebentar dengan Mr. Lee. Apa ada masalah?” Luhan balik tanya.

“Rapat? Tapi Taeyeon bilang dia tidak ada kegiatan apa-apa lagi setelah ini. Yang mana yang benar, Taeyeon-ah?” tanya Tiffany, yang langsung mengalihkan tatapannya ke arah Taeyeon.

Taeyeon menghirup nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan perlahan. Dia tidak menyangka Luhan akan menunggunya di sini. Rencananya untuk kabur gagal.

“Aku lupa. Mianhae,” jawab Taeyeon pendek. Ia sedikit menundukkan wajahnya, menghindar dari tatapan tajam Luhan.

“Jinjjayo?” tanya Sunny, berusaha untuk memastikan kembali jawaban Taeyeon.

“Kalau begitu sampai besok, Taenggoo-ah,” ujar Tiffany sambil tersenyum manis. Dan begitu wajahnya menghadap Luhan, senyumnya menghilang, diganti dengan tatapan menyelidik. “Kalau kau berani menyakiti Taeyeon seujung kuku, pun aku tidak akan melepasmu,”

Setelah berkata seperti itu, Tiffany dan Sunny langsung keluar dari gedung sekolah. Sebelumnya mereka melambaikan tangan kepada Taeyeon. Taeyeon membalas lambaian mereka dengan senyum yang dipaksakan. Begitu mereka berdua pergi, Taeyeon langsung membalikkan tubuhnya, berniat untuk langsung pergi menuju ruangan Mr. Lee. Dan lagi-lagi, Luhan menghentikan langkahnya dengan cara memblokir jalan Taeyeon.

“Mwo?” tanya Taeyeon malas. Ia menatap ke arah lain, ke mana saja asal tidak menatap mata Luhan, yang saat ini mencoba untuk mengebor dalam-dalam mata Taeyeon.

Luhan diam seribu bahasa. Ia hanya memerhatikan lekuk-lekuk indah wajah Taeyeon. Awalnya ia ingin menanyakan sesuatu. Namun, tampaknya hal yang ingin ia katakan tertelan begitu saja sebelum sempat ia keluarkan saat memandang wajah indah gadis yang ada di hadapannya itu.

Matanya terus menatap wajah Taeyeon tanpa mengucapkan sepatah kata pun, membuat Taeyeon bingung dan akhirnya ia balas memandang Luhan. Tatapan mata Taeyeon seperti memberikan aliran listrik ke tubuhnya, membuat jantung serta organ-organ penting yang ada dalam dirinya mendadak membeku dan seperti mati. Memandang wajah bening gadis itu membuat Luhan sedikit kehilangan akal sehatnya, membuat hasratnya untuk menyentuh gadis ini semakin besar.

Taeyeon yang merasa risih ditatap terus oleh Luhan tanpa mengatakan apa-apa akhirnya buka suara, “Apa ada yang ingin kau sampaikan?”

Sebelum Luhan menjawab, seorang wanita yang suaranya sudah mereka hafal memecahkan keheningan yang terjadi di antara mereka berdua.

“Ketua Murid, apa kalian berencana untuk membuat Mr. Lee menunggu?” tanya Mrs. Oh dengan suara tegasnya.

Taeyeon tersentak. Ia menghadap Mrs. Oh seraya membungkukkan tubuhnya. “Jeoseonghamnida, sajangnim. Baru saja kami bertemu dan berencana pergi bersama-sama,”

“Begitukah? Jadi, apa lagi yang kalian tunggu?” tanya Mrs. Oh. Ia menatap Taeyeon dan Luhan bergantian lalu membalikkan tubuhnya dan segera pergi menuju ruang Mr. Lee.

Taeyeon menghela nafas pendek. Ia melirik ke arah Luhan dan dengan suara lirih ia berkata, “Kajja,”

~~~

“Pesta kemarin benar-benar menakjubkan. Para donatur benar-benar puas dengan hasil kerja keras kalian dan kita semua tentunya,” ujar Mr. Lee dengan senyumnya yang sumringah sambil menatap Luhan dan Taeyeon yang duduk di hadapannya. “Tapi, tentu saja. Aku masih merasa khawatir dengan kondisi ayahmu, Mr. Xi,”

“Dia baik-baik saja,” jawab Luhan pelan. “Malam ini juga mereka akan kembali ke Canada,”

Mr. Lee mengangguk, sedangkan Taeyeon menatap Luhan dengan ekspresi yang sulit ditebak. Baru saja Luhan bertemu dengan kedua orangtuanya, dan mereka sekarang kembali bekerja? Taeyeon tidak tahu siapa yang harus ia persalahkan dan siapa yang harus disimpatikan, mengingat Luhan yang juga tidak terlalu ramah begitu orangtuanya hadir.

“Baiklah, apa program kerja yang selanjutnya? Apa kalian ada membahasnya? Atau kita akan bahas sekarang juga?” tanya Mr. Lee.

Taeyeon diam. Ia menyerahkan semuanya pada Luhan. Dan Luhan tampak sibuk membolak-balik sebuah notes kecil di saku blazer sekolahnya.

“Kami berencana mengadakan festival olahraga,” jawab Luhan. Ia memberikan notes-nya pada Mr. Lee. Mr. Lee mengambil dan membacanya.

“Antarsekolah?” tanya Mr. Lee dengan senyuman yang terukir di wajahnya. Sepertinya ia senang dengan ide dari Luhan itu. “Aku suka ini. Ketua Murid tahun lalu juga mengadakan ini tapi dikhususkan hanya sepak bola saja. Dan ini ada… empat olahraga, benar? Sepak bola, badminton, basket, dan lompat tinggi. Sebelum kau menjelaskan acara ini lebih lanjut, Mr. Xi, aku ingin tanya. Apa kau baik-baik saja, Ms. Kim? Kau diam saja dari tadi. Biasanya kau selalu ribut dengan partner-mu ini kalau membicarakan masalah program kerja,”

“Ah, ye. Aku baik-baik saja. Dan aku rasa program kerja yang Luhan tawarkan sesuai dengan apa yang kupikirkan, Mr. Lee,” jawab Taeyeon singkat sambil tersenyum manis.

“Begitu. Padahal aku ingin melihat kalian berdebat,” canda Mr. Lee.

Taeyeon tertawa pelan. Ia kembali diam dan hanya mendengarkan percakapan antara Luhan dan Mr. Lee. Ia sendiri juga tahu kalau dirinya ini sedikit berbeda. Dan yang tidak Taeyeon tahu adalah kenapa dirinya merasa sedikit berbeda ketika ia melihat Luhan. Perbedaan itu dirasakannya begitu laki-laki itu mengucapkan hal aneh di malam ia mabuk.

Taeyeon tahu tidak seharusnya dia percaya dengan ucapan Luhan kemarin malam itu. Seharusnya dia tahu, Luhan sedang mabuk dan ia yakin Luhan hanya mengucapkan hal itu dalan keadaan tidak sadar. Buat apa dia terlalu memikirkan omong kosong laki-laki itu? Sial, ucapan orang yang harusnya ia benci itu terlanjur ia masukkan ke dalam hatinya.

Sekitar dua jam mereka berdua berada di kantor Mr. Lee. Dan selama dua jam itu Luhan dan Mr. Lee membicarakan mekanisme acara festival olahraga tersebut hingga mereka berdua mengakhirinya dengan kata sepakat.

“Ini sudah pukul delapan malam, dan sebelum semakin larut lagi, aku mengizinkan kalian pulang,” ujar Mr. Lee. Ia berdiri dari bangkunya, diikuti oleh Luhan dan Taeyeon.

“Gamsahamnida, sajangnim,” ujar Taeyeon sembari membungkukkan tubuhnya.

Taeyeon hendak membalikkan tubuhnya untuk pergi dari kantor, tapi namanya dipanggil oleh Mr. Lee. “Aku ingin menanyakan sesuatu, Ms. Kim. Sebentar saja,”

Taeyeon menatap Mr. Lee dengan pandangan bingung. Luhan ikut memandang Mr. Lee dan Taeyeon secara bergantian. Dan beberapa detik kemudian, ia pergi meninggalkan kantor Mr. Lee sendirian.

“Apa orang tuamu sudah sampai di Seoul?” tanya Mr. Lee.

“Eh? Aku belum dapat kabar dari mereka, sajangnim,” jawab Taeyeon. “Anda tahu mereka akan pulang?”

“Tentu saja,” jawab Mr. Lee bangga. “Mereka sendiri yang memberitahuku. Dan sebagai seorang teman lama, mereka akan datang ke sini mengunjungiku. Ahh, aku tidak sabar bertemu sapa dengan mereka berdua. Kami sangat, sangat dekat semasa sekolah,”

“Dan dekat juga dengan kedua orang tua Luhan?” tanya Taeyeon tiba-tiba.

Mr. Lee diam beberapa detik, lalu ia tersenyum hangat. “Aku, ayahmu, dan ayah Luhan sahabat karib, sahabat dekat sejak kecil,”

“Kalau begitu…”

“Kalau begitu kenapa kau tidak pulang saja dan tunggu kepulangan kedua orang tuamu? Aku hanya ingin memastikan apakah mereka sudah pulang atau belum. Soalnya aku hubungi dari tadi sama sekali tidak ada jawaban. Mungkin masih di jalan,” potong Mr. Lee cepat.

Ia tersenyum lebar pada Taeyeon. Taeyeon tahu Mr. Lee tahu apa yang akan ia tanyakan. Dan Taeyeon juga tahu saat ini Mr. Lee sedang membereskan berkas-berkas pekerjaannya untuk memberi kode kepada Taeyeon agar cepat pulang dan tidak bertanya apa-apa lagi.

“Annyeonghigaseyo, sajangnim,” pamit Taeyeon dan ia segera keluar dari kantor Mr. Lee.

Begitu keluar dari kantor Mr. Lee, Taeyeon baru menyadari kalau saat ini gedung sekolah Whimoon Senior High School sudah mulai menunjukkan sisi ‘gelap’nya. Lampu-lampu di lorong sekolah sebagian sudah di matikan oleh para cleaning service. Dan beberapa menit lagi gerbang sekolahnya juga akan ditutup. Sebelum Taeyeon terjebak di dalam sekolah ini, ia langsung mengarahkan kakinya keluar dari gedung sekolah.

Taeyeon bersenandung kecil ketika dirinya hendak menuju gerbang sekolah, yang untungnya Choi ahjussi belum mengunci rapat gerbangnya. Taeyeon tersenyum ramah kepada penjaga sekolah itu dengan senyuman lebarnya. Choi ahjussi membalas senyuman Taeyeon dengan senyuman yang tak kalah lebarnya.

Belum hilang senyuman sumringah Taeyeon, bunyi suara klakson dari mobil di belakangnya membuatnya sedikit terlonjak kaget. Pasalnya, orang yang membunyikan klakson itu tidak hanya sekali, melainkan berkali-kali, membuat Taeyeon keki. Hingga akhirnya ia balik badan dan betapa kagetnya Taeyeon, saat ia tahu siapa orang yang turun dari mobil itu.

“Ya!” panggil Luhan dengan nada suaranya yang agak sedikit keras, saat melihat Taeyeon yang malah terus melangkahkan kakinya tanpa memedulikan kehadirannya

Taeyeon memutar kedua bola matanya dan ia membalikkan tubuhnya, menatap Luhan dengan tatapan malas. “Ada perlu apa lagi?”

Luhan menutup pintu kemudi mobilnya dan mendekati Taeyeon. Taeyeon menatap laki-laki itu dengan tatapan heran.

“Kau ada perlu denganku? Lebih baik bicarakan saja besok,” ujar Taeyeon dingin. Ia kembali membalikkan tubuhnya dan hendak menjauh dari Luhan.

Luhan mendengus kesal. Ia menatap sebal ke arah Taeyeon dan akhirnya ia berjalan cepat menuju gadis keras kepala itu dan berdiri di hadapannya, menghalangi langkah Taeyeon. Kalau saja gadis itu tidak segera menghentikan langkahnya, tubuhnya yang mungil bisa saja menabrak tubuh Luhan. Namun, yang membuat Taeyeon terkejut adalah, karena ulah Luhan yang mendadak itu tubuhnya dan tubuh Luhan hanya berjarak beberapa sentimeter saja.

Taeyeon menengadahkan wajah imutnya ke wajah Luhan. Tatapan mata keduanya bertemu, membuat wajah Taeyeon terasa panas, seakan-akan darah dari tubuhnya naik ke atas dengan kecepatan maksimal. Secepat mungkin Taeyeon melangkah mundur ke belakang.

“Apa masalahmu?” tanya Taeyeon. Ia ingin memarahi laki-laki itu. Tapi kenapa suaranya tiba-tiba saja tercekat?

“Masuk ke dalam mobilku,” perintah Luhan tegas.

“Mwo? Neo micheosseo? Apa kau tidak bisa bercanda di waktu yang tepat?” tanya Taeyeon kesal. Ia merasa emosinya selalu meledak-ledak kalau berhadapan dengan laki-laki tak tahu diri yang berada di hadapannya ini.

“Apa kau ingin bertemu dengan laki-laki yang benar-benar gila? Dan, aku juga tidak punya waktu untuk bercanda denganmu, mengingat waktuku yang sangat berharga,” jawab Luhan dengan gaya angkuhnya.

“Kalau begitu kau bodoh,” balas Taeyeon cepat. “Kau sudah menghabiskan banyak waktumu yang berharga itu dengan menghalangiku,”

Taeyeon menatap tajam mata Luhan dan ia kembali menggerakkan kedua kakinya menuju halte bus yang jaraknya lumayan jauh dari sekolah. Dengan sengaja ia menabrak tubuh Luhan dengan pundak kirinya.

“Berbaliklah sebelum aku memaksamu! Kau tidak ingin menyesal, ‘kan?” ancam Luhan dengan lantangnya.

Taeyeon berhenti. Ia berbalik dan menatap Luhan dengan berbagai macam ekspresi. Kesal, marah, emosi, bingung, dan ragu semuanya bercampur menjadi satu. Dan beberapa detik kemudian, ketika laki-laki sombong itu menghampirinya, Taeyeon langsung berjalan menuju arah mobil Luhan, sebelum ia melakukan hal yang tidak-tidak.

Melihat itu, Luhan sedikit menyunggingkan smirk-nya dan ikut masuk ke dalam mobil. Taeyeon membanting pintu mobil Luhan dengan ekspresi datar, tidak peduli kalau setelah ini pintu mobilnya akan hancur. Ia hanya menatap ke depan, diam seribu bahasa sambil melipat kedua lengannya di depan tubuhnya saat Luhan sibuk memakai seatbelt-nya dan menghidupkan mesin mobilnya.

Melihat ekspresi Taeyeon, Luhan mendengus menahan tawa. Entahlah, ia merasa lucu melihat kemarahan gadis itu. Diliriknya lagi Taeyeon, dan senyumnya semakin mengembang. Kilat licik di matanya mulai berbinar.

“Kau harus memakai sabuk pengamanmu kalau tidak ingin dihentikan polisi lalu lintas,” ujar Luhan lembut seraya mencondongkan tubuhnya ke tubuh Taeyeon.

Taeyeon membulatkan matanya, terkejut setengah mati ketika Luhan menghapus jarak mereka dengan alasan mengambil seatbelt yang berada di sebelah bangkunya. Dengan sengaja Luhan menyejajarkan wajahnya dengan wajah Taeyeon dan menatap matanya dalam-dalam, mengebornya seakan-akan ingin mengungkapkan semua isi hati gadis itu melalui matanya. Menelusuri lekuk-lekuk wajahnya yang bisa dibilang hampir sempurna.

Mengaguminya, seperti seorang pelukis yang mengagumi sosok model yang akan ia tuangkan ke dalam kanvas putihnya yang bersih. Mengagumi semua yang ada pada wajah gadis itu. Kedua manik mata cokelatnya yang selalu berhasil membuat Luhan susah berpaling, hidungnya, dan bibirnya yang softpink tanpa polesan apa-apa, yang masih bisa Luhan rasakan kehangatan dan kelembutannya.

Taeyeon menahan nafasnya begitu wajah Luhan tepat berada di hadapannya. Ekspresi laki-laki itu sulit ditebak. Dari tatapannya, ia seperti meneliti setiap inci permukaan wajahnya. Yang membuat perasaan Taeyeon jumpalitan adalah wangi khas parfum yang ada di tubuh Luhan. Begitu merasuki fikirannya, membuatnya kembali mengingat saat-saat Luhan menyentuhnya. Dan Taeyeon merutuki dirinya sendiri, ia merasa otaknya sudah bergeser ke arah yang tidak benar.

“Menyingkirlah, sebelum aku keluar dari mobilmu,” bisik Taeyeon pelan sekali. Ia menundukkan wajahnya, begitu wajah Luhan perlahan-lahan menghapus jarak di antara wajah mereka.

Seakan tersadar dari lamunan panjangnya, Luhan langsung menarik dirinya menjauhi Taeyeon. Lalu, ia memasangkan seatbelt-nya sembari tersenyum manis.

“Kau sengaja, ‘kan? Agar aku yang memasangkan seatbelt-mu?” tanya Luhan, yang mulai mengemudikan mobilnya dengan santai.

“Diamlah. Aku sedang tidak ingin berdebat,” jawab Taeyeon cepat, tanpa menatap Luhan. Ia lebih memilih menatap ke luar jendela sembari menormalkan jantungnya yang tak kunjung berhenti.

Luhan menghela nafas dan ia langsung menekan tombol ‘on’ pada radio mobilnya. Sepanjang perjalanan mereka diam saja. Dan begitu mobil Luhan melewati halte bus yang awalnya ingin di datangi Taeyeon, Luhan sedikit mengurangi kecepatan mobilnya.

“Kau lihat?” tanya Luhan, seraya menunjuk beberapa laki-laki, atau bisa di bilang gangsta yang berkumpul di halte bus itu. “Sekarang kau sudah tahu, ‘kan kenapa aku melarangmu pulang naik bus? Bukankah aku sudah begitu baik padamu?”

Taeyeon menatap ke arah gerombolan laki-laki itu dengan pandangan tidak percaya. Ia memang tidak pernah pulang di malam hari sendirian. Pasti selalu ada Ji Woong yang menemani. Atau paling tidak teman-temannya yang mengantarnya pulang. Taeyeon sedikit melirik ke Luhan dan ia menggumamkan ucapan terima kasih untuknya.

“Aku tidak butuh ucapan terima kasih darimu,” ujar Luhan. “Karena bagaimanapun juga, aku tidak akan membiarkan satu orang pun, siapapun, yang menyentuhmu. Siapa saja. Tidak akan kubiarkan. Karena hanya akulah yang boleh menyentuhmu,”

Ucapan Luhan membuat Taeyeon diam membeku. Ia tidak tahu harus berekspresi apa begitu mendengar perkataan laki-laki itu. Seolah-olah ia miliknya.

“Apa kau punya hak?” tanya Taeyeon dengan nada kesal.

“Apa perlu aku mematenkannya sekarang?” Luhan balik bertanya dengan ekspresi dinginnya. Bulu kuduk Taeyeon merinding seketika.

“Jangan pernah berkata seolah-olah aku ini adalah salah satu perempuan murahanmu itu. Kau tidak punya hak apa-apa. Bahkan menyentuhkan ujung jarimu padaku saja kau tidak berhak. Bukannya kau anti padaku?”

“Diamlah. Aku sedang tidak ingin berdebat,” jawab Luhan cepat.

Taeyeon menatap Luhan dengan emosi yang menyulut. Dan akhirnya ia menolehkan wajahnya ke luar jendela mobil, sedangkan Luhan semakin memperdalam pedal gasnya.

~~~

Begitu mobil Luhan berhenti dengan mulus tepat di depan rumah Taeyeon, Taeyeon langsung melepas seatbelt-nya dan bersiap-siap hendak turun.

“Gomawo,” ujar Taeyeon pelan.

“Chakkaman,” sergah Luhan. “Kau tidak merasa kehilangan anting-antingmu di kantor Ketua Murid pada malam pesta dansa itu?”

Taeyeon terkejut mendengar penuturan Luhan barusan. Bukan masalah anting-antingnya yang hilang. Ia sudah tahu anting-antingnya itu jatuh di kantor dan malas untuk mencarinya lagi. Yang membuatnya kaget adalah, Luhan membicarakan masalah malam pesta dansa mereka di kantor Ketua Murid. Apakah itu artinya Luhan mengingat semua kejadiannya? Apakah ia mengingat semua perkataannya pada Taeyeon malam itu?

“Ne,” jawab Taeyeon pelan.

“Aku ingin mengembalikannya padamu,” ujar Luhan. Ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna putih dengan banyak hiasan kerlap-kerlip di sekeliling kotak itu. Taeyeon curiga hiasan itu adalah batu berlian. Dan kotak itu adalah sebuah kotak perhiasan dengan merk mahal.

“Tidak perlu pakai kotak,” ujar Taeyeon.

“Bawa saja,” paksa Luhan.

Dengan kesal, Taeyeon merebut kotak itu dan akhirnya ia keluar dari dalam mobil Luhan. Sebelum tangannya menyentuh pagar rumahnya, Luhan keluar dari mobilnya dan memanggil nama Taeyeon.

“Ada apa lagi?” tanya Taeyeon.

“Ada satu hal yang ingin ku tanyakan padamu, dan kalau aku menundanya lagi, aku bisa gila,” ujar Luhan.

“Mwonde?” tanya Taeyeon lagi.

“Apa kau mengetahui hubungan di antara orang tua kita? Kau tahu mereka saling mengenal, ‘kan?”

“Kenapa kau tidak tanya saja kepada orang tuamu sendiri? Aku sama sekali tidak tahu karena orang tuaku tidak ada di sini,” jawab Taeyeon ketus.

“Orang tuaku sudah pergi ke Canada,” jawab Luhan pelan, dan Taeyeon mendadak terdiam. Ia ingat perihal ayah Luhan yang waktu itu sedang sakit.

“Bagaimana kabar ayahmu?” tanya Taeyeon pelan.

“Dia baik-baik saja,” jawab Luhan asal. Dari wajahnya ia sama sekali tidak mau membicarakan hal ini.

“Walaupun baik-baik saja, tapi kau harus tetap menjenguknya! Lagipula, kau tahu darimana ayahmu baik-baik saja? Kau bahkan tidak memperlakukan dia dengan baik selama acara itu!”

“Dia baik-baik saja. Buktinya, dia langsung pergi ke Canada dan mengurusi perusahaannya yang jauh lebih berharga daripada anaknya itu, ‘kan?” tanya Luhan dengan nada dinginnya.

Taeyeon sedikit tercengang. Ia ingin mengutarakan sesuatu tapi nyatanya perkataannya itu seperti tertelan begitu saja.

“Aku akan mencari tahu hubungan keluarga kita itu seperti apa dulunya,” ujar Luhan.

“Kenapa kau begitu peduli?” tanya Taeyeon sengit.

“Karena aku yakin itu artinya kau bukan orang yang biasa. Kau dan aku tidak asing dari dulu. Kakakmu mengenalku sejak kecil, dan aku juga sangat dekat dengan kakakmu dulu. Aku akan cari tahu,” jelas Luhan.

“Lagipula itu bukan urusanmu,”

“Dan,” potong Luhan cepat. Ia diam untuk beberapa saat, sepertinya sedang memikirkan sesuatu yang untuk dibicarakan, dan tampaknya itu juga lumayan sulit untuk diutarakan. “Cerna baik-baiklah ucapanku pada malam pesta dansa di kantor Ketua Murid,”

Hati Taeyeon bagai disambar petir dengan tegangan tinggi. Ia diam seribu bahasa dan tidak dapat berkomentar apa-apa begitu kata-kata Luhan meluncur dengan indahnya dari bibirnya. Kenapa dia bicara seperti itu? Apa itu artinya dia sadar dengan semua yang diucapkannya waktu itu? Apa itu artinya dia benar-benar mengatakan apa yang ada dalam hatinya dan bukan sekedar pengaruh dari alkohol?

Setelah menatap Taeyeon yang diam tidak berkutik cukup lama, Luhan balik badan dan naik ke mobilnya. Ia menyalakan mesin mobilnya dan langsung pergi menjauhi rumah Taeyeon, setelah ia membunyikan satu klakson yang artinya ‘sampai nanti’. Taeyeon menatap kepergian Luhan dengan menghela nafas panjangnya. Tampaknya sekarang otaknya sedang berputar sangat keras.

Pintu rumah Taeyeon terbuka dari dalam, membuat gadis itu sedikit terlonjak kaget. Lamunannya segera buyar, ekspresi bingungnya segera tergantikan dengan ekspresi bahagia, terkejut, tidak menyangka, dan terpesona dengan seseorang yang baru saja keluar dari rumahnya.

“Apa kabar, my kid Taeng?”

~~~

“Jadi, banyak yang datang ke peternakan bukan hanya sekedar untuk melihat dan memerah sapi? Tapi untuk melihat appa?” tanya Taeyeon dengan wajahnya yang terkesima saat ia mendengar kisah kedua orang tuanya di New Zealand.

“Eoh,” jawab Mrs. Kim sembari menyisiri rambut anak perempuan semata wayangnya itu dengan penuh kasih sayang khas seorang ibu. Meskipun jauh dari pengawasannya, Mrs. Kim merasa anaknya bisa tumbuh dengan baik dan benar dilihat dari sisi kamarnya yang rapi, bersih, dan wangi. Tempat di mana anaknya sering menghabiskan waktu, di situ pulalah kepribadiannya tercermin. Rambutnya yang panjang kecokelatan ini, pun terawat dengan baik.

“Aku rasa wajah appa yang tampan turun kepadaku,” ujar Taeyeon dan ia terkikik geli.

“Benarkah begitu? Lalu, wajah cantik ibu? Turun ke Ji Woong?” tanya Mrs. Kim setengah bercanda.

“Lalu,” sambung Taeyeon. “Apa ibu tidak cemburu?”

“Buat apa itu cemburu? Toh, itu juga menguntungkan peternakan kita, ‘kan? Bukan hanya mendapatkan untung besar, peternakan ayahmu juga semakin sering disorot oleh media New Zealand, karena susu sapi, bulu domba, daging kambingnya dan yang lainnya yang bermutu sangat bagus, dari hewan-hewan yang bersih dan sehat juga. Itu sebabnya, selama empat tahun bekerja di sana, ayah dan ibu sudah bisa beli rumah dan kita akan tinggal satu rumah seperti dulu,” jelas Mrs. Kim dengan nada ceria.

Taeyeon diam sesaat. Ia membalikkan tubuhnya dan menatap sang ibu, yang tengah menatapnya dengan senyuman indah mengembang di wajahnya. “Aku tidak ingin punya rumah mewah seperti dulu. Sederhana saja juga tidak apa-apa, asal eomma dan appa tidak pergi lagi,”

“Tentu saja tidak. Kejadian pahit beberapa tahun lalu lupakan saja. Sekarang, kita buka lembaran baru, eoh?” hibur Mrs. Kim. Ia mengusap lembut ubun-ubun kepala Taeyeon.

“Apa ayah akan tetap bekerja di New Zealand?” tanya Taeyeon.

“Sepertinya ayahmu butuh istirahat. Akhir-akhir ini jantungnya sering mengulah. Yang akan mengurusi peternakannya adalah adik sepupunya. Jadi, mulai dari sekarang ayahmu akan lebih banyak di rumah. Menghabiskan sisa waktunya bersama dengan kalian,” jawab Mrs. Kim. Suaranya mendadak sendu.

“Eomma, apa yang eomma bicarakan? Penyakit jantung appa bisa diatasi, aku yakin. Sering-seringlah terapi. Di sini banyak dokter terapi jantung yang dikenal bagus,” sergah Taeyeon.

“Appa dan eommamu punya rencana yang jauh lebih baik, Taeng. Rencana yang jauh lebih baik untuk kalian berdua. Jadi, tetap fokuslah pada apa yang selama ini kau kejar, arra?”

Taeyeon diam tidak berkomentar. Ia hanya menganggukkan wajahnya meskipun dalam lubuk hatinya dia mencemaskan ayahnya.

“Dan bagaimana dengan keadaanmu selama di sekolah? Aku sudah menceritakan banyak hal selama di New Zealand dan sekarang giliranmu,” ujar Mrs. Kim.

“Tidak ada yang special, eomma,” jawab Taeyeon sambil tersenyum. Dan sedetik kemudian, ia teringat dengan permasalahan keluarganya dengan keluarga Luhan. Apa harus sekarang ia tanyakan? Di malam pertama ia berkumpul dengan ibunya, apakah ia harus membuat ibunya menceritakan pengalaman pahit yang pernah dialami kedua orang tuanya bersama dengan sahabat mereka dulu?

“Jinjja? Kau berbohong pada ibumu? Aigoo, kalau tidak ada yang special, lalu bagaimana dengan laki-laki yang mengantarmu pulang tadi? Apa kau fikir ibu tidak lihat?” goda Mrs. Kim sembari menggeser tubuhnya ke samping Taeyeon.

Taeyeon sedikit terkejut mendengar pernyataan ibunya. Tidak masalah ibunya tahu dia diantar oleh seorang laki-laki. Tapi, apakah ibunya tahu laki-laki itu siapa?

“Oh, itu… Dia hanya mengantarku pulang, eomma,” jawab Taeyeon singkat. Ia tidak ingin menceritakan masalah ini untuk selanjutnya.

“Nugunde? Chingu? Atau namjachingu?” goda Mrs. Kim sambil menyenggol pundak Taeyeon.

“Bukan siapa-siapa, eomma,”

“Jeongmal? Lalu, kenapa dia memberikan sebuah kotak perhiasan kepadamu? Jangan pernah berbohong, Taeng. Ibu tahu kotak yang kau bawa ke rumah itu kotak apa. Kotak perhiasan. Kenapa seorang laki-laki mau memberikanmu sebuah perhiasan jika dia tidak memendam sebuah perasaan khusus padamu? Dan kotak perhiasan itu adalah kotak perhiasan branded pula!” seru Mrs. Kim dengan tertahan. Wajahnya kelihatan penasaran sekali, sedangkan Taeyeon hanya diam mendengarkan.

“Eomma, dia hanya mengembalikan anting-antingku yang jatuh waktu pesta dansa, tidak lebih,” jawab Taeyeon.

“Kurasa kau bukan gadis yang peka,” sungut Mrs. Kim. “Jadi, kau berdansa dengannya waktu pesta dansa? Oh, ayolah Tae. Cerita padaku kisah indahmu di sekolah,”

“Aku tidak punya kisah indah, eomma. Setiap orang yang memiliki beasiswa selalu dikucilkan,” ujar Taeyeon tanpa berfikir. Sedetik kemudian, ia menggigit bibir bawahnya. Bodoh, kenapa dia bicara seperti itu? Ibunya pasti langsung khawatir, fikirnya.

Mrs. Kim mendadak diam. Ia sedikit menyunggingkan senyum kecilnya pada Taeyeon dan menghela nafas pendek. “Soo Man bilang kau akan baik-baik saja selama kau menjadi Ketua Murid. Apa dia bohong? Berarti selama ini batinmu selalu tertekan? Benarkah itu, Taeng?”

“Semuanya perlahan-lahan membaik, eomma. Seperti yang dikatakan Mr. Lee. Hanya saja, untuk masalah percintaan atau apapun yang menyangkut itu, aku belum punya seseorang yang bisa kuceritakan kepadamu kecuali kelima temanku itu, eomma,” jawab Taeyeon sembari tersenyum lebar, berusaha membuat Mrs. Kim kembali ceria seperti semula.

“Ah, ada yang ingin aku tanyakan,” sela Mrs. Kim. “Siapa partner Ketua Muridmu?”

Taeyeon diam untuk yang kesekian kalinya. Jantungnya berdebar cukup kencang dan dirinya mendadak panik. Akhirnya pembicaraan inti ibunya sampai juga. Taeyeon ingat ibunya berjanji akan menceritakan semua hal mengenai Luhan, apa alasannya kenapa Taeyeon tidak boleh terlalu dekat dengannya, dan cerita masa lalu kedua orang tua mereka yang sama sekali tidak Taeyeon ketahui.

Di satu sisi, ia ingin mendengar seluruh cerita yang menyangkut masalah keluarga Luhan. Ia ingin tahu, kedua orang tua mereka punya hubungan yang bagaimana? Kenapa yang dulunya begitu dekat, sekarang malah kebalikannya? Bahkan, orang tua Taeyeon kesannya benar-benar membenci mereka. Ia ingin tahu semuanya. Tapi di sisi lain, Taeyeon merasa takut. Dan rasa takut inilah yang paling tidak mendasar. Kenapa dirinya takut Taeyeon bahkan tidak tahu.

“Ibu tahu siapa orangnya,” jawab Taeyeon pelan. “Aku pernah menceritakannya, bu,”

“Sooman-ah, kenapa kau begitu terobsesi untuk menyatukan kami lagi lewat anak-anak kami?” gumam Mrs. Kim, yang tentu saja dapat didengar Taeyeon.

“Wae? Bukankah ibu janji akan menceritakan semuanya padaku?” tanya Taeyeon.

“Kau sudah bertemu dengan orang tuanya, ‘kan? William dan Pu Li. Apa mereka ada bicara suatu hal mengenai ayah dan ibu?”

“Mereka bicara layaknya kalian masih bersahabat,” jawab Taeyeon.

“Jinjja, mereka berdua,” dengus Mrs. Kim. “Sama sekali tidak tahu diri. Mereka tidak punya perasaan bersalah. Aku rasa, mereka juga tidak punya urat malu lagi. Jadi, sebenarnya Kim Taeyeon…”

Tok Tok Tok

“Eomma, kau masih lama di dalam?” tanya Ji Woong dari luar kamar Taeyeon, memotong percakapan mereka berdua.

“Waeyo, Woongie?” Mrs. Kim balik bertanya.

“Tidak apa-apa. Tapi, kalau sudah selesai mengobrolnya, ayah ingin ibu langsung ke kamar. Katanya dia sudah mengantuk sekali,” jawab Ji Woong.

“Eoh, katakan pada ayahmu aku akan segera keluar,” ujar Mrs. Kim. Wajahnya kembali ia tolehkan menghadap Taeyeon. “Mungkin besok aku akan cerita,”

Taeyeon mengangguk perlahan dan ia membiarkan ibunya pergi ke luar kamarnya. Begitu ibunya keluar, posisi Taeyeon belum berubah. Fikirannya masih dipenuhi dengan kejadian hari ini dan semua pembicaraan ibunya.

“Cerna baik-baiklah ucapanku pada malam pesta dansa di kantor Ketua Murid”, ucapan Luhan itu membuat perasaan Taeyeon campur aduk. Kenapa laki-laki itu bicara hal yang tidak masuk akal begitu? Kenapa ia terlalu memikirkannya?

Taeyeon bangkit dari tempat tidurnya dan ia mengambil kotak perhiasan yang ia letakkan di atas meja belajarnya. Kotak perhiasan dengan branded terkenal yang takkan bisa Taeyeon beli. Kotak perhiasan yang Luhan berikan untuknya. Isinya adalah anting-anting miliknya, dan tidak ada yang lain, ibunya hanya berlebihan. Meskipun begitu, perasaan Taeyeon sedikit mengatakan, isinya tidak sekadar anting-anting miliknya.

Taeyeon membawa kotak itu bersama dengan dirinya dan ia duduk kembali di atas tempat tidur. Secara perlahan ia membukanya dan benar saja. Bukan hanya anting-anting yang ada di dalamnya. Melainkan sebuah kalung berlian berbentuk ‘Heart’. Jantungnya serasa lepas melayang entah ke mana saat ia melihat kalung itu.

“Apa yang dia fikirkan? Kenapa sikapnya semakin lama semakin aneh? Dia itu orang yang sangat bodoh, jinjja,” gumam Taeyeon saat matanya membaca merk berlian yang tertulis kecil di kotak itu. ‘De Beers Centenary Diamond’. “Babo namja,”

Taeyeon merapatkan kedua kakinya ke tubuhnya seraya meletakkan dahinya di atas kedua lutut. Tangan mungilnya masih menggenggam perhiasan yang nilainya kurang lebih $100 juta. Otaknya tampak sedang berfikir keras. Dia tidak memiliki hubungan apa-apa dengan laki-laki itu, yang dengan seenaknya memberikan kalung mahal ini. Apa alasannya? Siapa Taeyeon untuknya sehingga dia mau menggali dalam-dalam isi dompetnya? Atau dia ingin mengolok-olok Taeyeon? Taeyeon menduga, dan ia harap begitu, bahwasannya Luhan hanya ingin menghina dirinya yang tidak pernah memegang barang mahal seperti ini.

Yah, mungkin begitu. Tidak ada alasan yang lebih masuk akal lagi. Tidak ada.

Atau… Menyukainya? Namja gila, idiot, dan tak tahu diri itu menyukainya? Taeyeon hanya tersenyum kecut. Mustahil. Itu tidak akan pernah terjadi. Sampai kapanpun. Yang ia lakukan selama ini hanyalah berusaha untuk menjatuhkan harga dirinya. Hanya itu.

Taeyeon menitikkan air matanya tanpa sadar dan tanpa sebab. Ia menatap lama kalung berlian yang berbentuk ‘Heart’ itu. Tidak bisa, ia harus mengembalikannya. Besok dan harus dikembalikannya.

~~~

“Minggirlah,” ujar Taeyeon pelan dengan nada geram kepada empat orang siswi yang menghalangi langkahnya untuk masuk ke dalam kantor Ketua Murid. “Apa yang sedang kalian lakukan di depan pintu kantor ini? Sudah pukul 07.30 dan kalian belum masuk kelas? Apa kalian ingin kubawa ke kantor Mrs. Oh?”

“Aigoo, jaga bicaramu Ms. Kim. Kenapa semakin lama kau semakin menyebalkan? Kau sendiri juga belum masuk ke dalam kelas,” jawab Hae Mi dengan nada bicaranya yang lambat, yang membuat orang lain kesal mendengarnya.

“Aku ingin masuk ke dalam kantorku, Hae Mi-ssi,” jawab Taeyeon penuh dengan kesabaran.

“Ha Ni sedang ada perlu berdua dengan Luhan gege, Taeyeon-ssi. Tolong jangan ganggu mereka dulu,” jawab Hyo Ra, gadis yang lain lagi. Mereka berempat tersenyum kecut memandang Taeyeon.

“Tidak biasanya kau ingin bertemu dengan Lu ge pagi-pagi begini. Kau dan Lu ge, ‘kan beda tugas kalau pagi-pagi. Atau… Kau ingin menggoda uri Lu ge? Kalian sudah pasti tahu, ‘kan Suho oppa sudah kembali mengejar cintanya untuk Chorong? Kami semua tahu kau putus cinta dan putus asa. Itu sebabnya sekarang kau ingin mengambil Lu ge dari kami?” tanya Hae Mi. kedua matanya menyipit jahat.

“Aku tidak serendah kalian,” ujar Taeyeon pelan.

“Mwo?!”

“Minggir,” gertak Taeyeon pelan. Ia menyeruak dan menubruk tubuh keempat gadis itu seraya mendekati pintu kantor Ketua Murid. Dilihatnya sepatu Luhan dan Ha Ni di depan pintu kantor.

“Kau akan menyesal jika masuk ke dalamnya, Taeyeon-ssi,” desis gadis yang lain, Joo Kyung, ketika Taeyeon membuka pintu kantor Ketua Murid dan menutupnya kembali.

“Gege,” panggil seorang perempuan dengan suara lembutnya.

Taeyeon membulatkan kedua matanya menatap dua pasangan itu. Mulutnya sedikit terbuka dan ekspresinya sangat terkejut.

Luhan sedang terduduk di atas sofa dan gadis itu, Ha Ni, sedang duduk di atas pangkuan Luhan. Kedua tangannya hendak melepas blazer milik Luhan dan Luhan menggenggam kedua tangan gadis itu. Begitu Taeyeon masuk ke ruangan, wajah Luhan maupun Ha Ni mengarah ke Taeyeon.

Luhan terlihat begitu terkejut dengan kedatangan Taeyeon yang tiba-tiba. Sedangkan Ha Ni, wajahnya terlihat bahagia. Ekspresinya penuh dengan kemenangan.

“Aku tidak tahu kalau urusan kalian adalah ini,” ujar Taeyeon dengan suaranya yang tercekat. Matanya berkaca-kaca. Kenapa? Kenapa ia ingin menangis? Dia tidak berhak dan tidak seharusnya menitikkan air matanya yang berharga.

“Taeyeon-ssi, chakkaman,” cegah Luhan begitu Taeyeon ingin keluar dari kantor itu.

Luhan bangkit dari sofa dan ia menyingkirkan tubuh Ha Ni dari atas pangkuannya. Sorot matanya menyiratkan emosi yang meledak-ledak kepada gadis itu. “Pergilah. Aku akan mengurusmu nanti,”

“Kenapa nanti? Sekarang saja,” potong Taeyeon cepat. “Aku bisa bertemu denganmu nanti,”

“Taeyeon-ssi, tunggu!” seru Luhan marah, membuat Taeyeon batal melangkahkan kakinya keluar kantor. Kenapa dia yang marah?

“Keluarlah,” ujar Luhan cepat pada Ha Ni.

“Aissh, neotthaemune,” gumam Ha Ni sengit pada Taeyeon begitu ia keluar dari kantor. “Ge, aku tidak sabar untuk bertemu lagi denganmu!”

BLAM!

Luhan menutup pintu kantor dan segera menguncinya. Taeyeon melihat itu dan ia menatap Luhan dengan tatapan benci.

“Buka. Kenapa kau menguncinya?” tanya Taeyeon pelan. Wajahnya mulai memerah menahan tangis. “Seharusnya kau menguncinya ketika kau sedang melancarkan aksi bejatmu itu,”

“Yang kau lihat bukanlah seperti yang kau bayangkan,” potong Luhan cepat. “Aku bisa menjelaskannya,”

“Menjelaskan? Kau fikir aku peduli? Kau tidak perlu menjelaskan apa-apa karena itu semua tidak ada hubungannya denganku,” jawab Taeyeon pedas. “Yang perlu aku tekankan adalah, jangan membuat nama sekolah kita jadi buruk karena tingkah biadabmu!”

Rahang Luhan mengeras. Ia menatap tajam kedua mata Taeyeon tanpa berkedip barang sedetik saja. Taeyeon mengalihkan pandangannya dan ia hendak membuka kunci pintu kantor. Sayang, tindakan Luhan yang selalu tiba-tiba tidak ia prediksi sebelumnya. Laki-laki itu menarik kedua pundak Taeyeon dan membenturkannya ke pintu.

Taeyeon tersentak kaget. Tubuhnya tidak bisa bergerak karena ditahan oleh kedua lengan Luhan yang kuat.

“Ada apa lagi denganmu?” tanya Taeyeon. Kedengarannya ia biasa saja. Namun, jauh di lubuk hatinya, fikirannya kacau balau.

“Aku tidak pernah menerima penolakan, apa kau tahu? Dan aku benci ketika di tolak. Apalagi kalau orang sepertimu yang menolakku,” ujar Luhan gusar. “Bukankah sudah kukatakan aku akan membuatmu berpaling kepadaku?!”

“Apa kau sadar sudah bicara kepada siapa, Tuan Luhan yang Terhormat?” tanya Taeyeon pelan. “Seorang rakyat kecil, tidak punya apa-apa, dan hanya memiliki kehidupan standard tidak akan pernah berpaling kepada seorang pangeran, Tuan. Kurasa kau juga tahu itu. Bukankah kau selama ini yang berspekulasi kalau orang rendah tidak akan bisa selevel dengan orang-orang sepertimu?”

Luhan diam. Ia merasa tertohok mendengar ucapan Taeyeon. Ia hanya bisa memandang wajah gadis itu tanpa sanggup berkata apa-apa lagi. Taeyeon mengambil kesempatan diamnya Luhan untuk menjauhkan tubuh laki-laki itu darinya. Didorongnya tubuh Luhan kuat-kuat.

“Kau hanya dikuasai oleh nafsu. Jangan pernah berfikiran kalau aku akan jatuh kembali ke dalam perangkapmu!” seru Taeyeon tertahan sembari mengeluarkan sebuah kotak perhiasan yang diberikan Luhan padanya kemarin malam. Taeyeon meletakkan kotak itu di meja dan ia kembali memandang Luhan.

Luhan, yang melihat itu rasanya seperti di tampar dan dicaci maki oleh semua orang. Sakitnya luar biasa. Penolakan yang kedua kali dari seorang Kim Taeyeon.

“Aku hanya butuh anting-antingku. Kenapa kau memberiku kalung itu? Aku tahu kalung itu harganya selangit, dan aku tahu kalau kau tahu aku takkan sanggup membelinya. Kau ingin membuatku seolah-olah aku akan terpesona pada barang mewah itu. Agar apa? Agar kau bisa kembali menjebakku seperti yang pernah kau lakukan dulu. Tapi, maaf. Aku tidak bodoh,”

Taeyeon diam untuk mengambil nafas dalam-dalam. Ia menatap Luhan, yang masih menatap kotak perhiasan itu. Setelah Taeyeon menatapnya, Luhan mengalihkan pandangannya ke arah Taeyeon dengan pandangan yang sulit untuk diartikan.

“Berikan saja pada para pelacurmu itu. Mereka tidak akan menolakmu, bahkan seandainya kau tidak memberikan mereka itu,” lanjut Taeyeon. “Kalau begitu, sampai nanti. Aku hanya ingin mengembalikan ini. Maaf mengganggu bisnismu tadi,”

Taeyeon membalikkan tubuhnya dan ia membuka pintu kantor Ketua Murid dengan cepat. Pintu kantor itu terbanting di belakang Luhan. Di luar kantor, Taeyeon kembali menghela nafas panjang-panjang dan menghembuskannya perlahan. Setidaknya kalung itu sudah ia kembalikan dan ia tidak perlu merasa berutang apa-apa pada laki-laki itu. Setidaknya ia sudah meyakinkan dirinya bahwa ucapan laki-laki itu hanyalah bualan saja. Namanya juga hidung belang.

“Taeyeon sunbae!” panggil seorang laki-laki, saat Taeyeon tengah melangkahkan kakinya menuju kelasnya.

“Ne?” sahut Taeyeon pada siswi kelas X itu.

“Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu di taman belakang sekolah setelah pulang sekolah nanti,” jawab laki-laki itu.

“Jeongmalyo? Nugu?”

“Molla. Sepertinya dari sekolah lain. Aku bertemu dengannya saat aku baru saja turun dari mobilku. Mungkin dia sedang mengantar seseorang ke sekolah ini. Adik atau kekasihnya mungkin, karena yang sempat kulihat seorang perempuan turun dari mobilnya lalu dia memanggilku. Dan dia bilang dia ingin bertemu dengan Ketua Murid Kim Taeyeon,” jelasnya.

“Seorang laki-laki dari sekolah lain?” tanya Taeyeon bingung. “Aku tidak pernah berhubungan dekat dengan anak sekolah lain. Kau tidak tanya dia tahu aku dari mana?”

“Tidak, sunbae. Karena kufikir kau mengenalnya. Kenapa kau tidak cek sendiri saja nanti?”

“Ah, kau benar. Kalau begitu, gomapta,” ujar Taeyeon.

Laki-laki itu tersenyum kecil. Ia sedikit membungkukkan tubuhnya dan pergi entah ke mana, mungkin kembali ke kelasnya. Sedangkan Taeyeon, ia sibuk memikirkan orang yang ingin bertemu dengannya nanti sembari menuju ke kelasnya.

~~~

Luhan mengangkat wajahnya dari buku pelajarannya ketika ponselnya bergetar di dalam saku celananya. Ia merogoh sakunya dan memeriksa ponselnya.

Ada sebuah e-mail masuk. Dari Choi Minho.

To : Lu Han

Subj : –

“Bisakah kau pergi ke taman belakang sekolah nanti? Ada sesuatu yang harus kau lihat”

 

Luhan menyipitkan matanya membaca e-mail dari orang yang tidak disukainya itu. Apa? Apa ada sesuatu yang penting? Lalu, ia teringat dengan kejadian beberapa waktu lalu. Tentang dirinya yang merebut Krystal, kekasihnya.

Luhan tersenyum kecut. Apa Minho brengsek itu ingin menghabisinya? Silahkan saja. Dan Luhan akan menerimanya dengan tangan yang terbuka lebar. Sekarang ini mood-nya memang sedang bagus untuk menghajar dan menghabisi wajah seseorang.

To : Choi Min Ho

Subj : –

“Arraseo”

-To Be Continued-

 

 

Preview chap 10

“Apa kau tahu, keluarga itulah yang membuat hidup ayahmu menjadi begitu berantakan. Keluarga itulah yang merebut semuanya”. Mendengar itu, Taeyeon menitikkan air matanya. Ungkapan dari ibunya benar-benar menampar jiwa dan batinnya.

 

“Tidak kuduga kau lebih ‘gampang’ dari yang sebenarnya,”

“Kau tidak tahu apa-apa, tidak akan pernah tahu apa-apa! Kumohon, untuk yang terakhir kalinya, kumohon. Pergilah sejauh-jauhnya dari hadapanku,” isak Taeyeon.

Luhan merasa sangat bersalah sekarang. Sangat bersalah. Setelah melukai batinnya, ia juga telah melukai harga diri gadis itu, gadis yang dicintainya.

“Kau mengambil semuanya dariku,”

 

Taeyeon begitu terkejut dengan tindakan tiba-tiba dari laki-laki itu. Laki-laki itu tersenyum dan ia mengelus puncak kepala Taeyeon dengan lembut.

 

“Luhan sedang dalam emosi yang tidak stabil, Tae. Kurasa ini ada hubungannya denganmu. Bisakah kau kesini sekarang, jebal?”

 

Dan kini, gadis yang bernama Kim Taeyeon itu tahu bagaimana marahnya seorang serigala lapar yang sedang diganggu.

Preview end

Okeee, mohon maaf semaaf-maafnya karena terlambat nge-post ya readers T,T banyak tugas menanti dan banyak juga panggilan-panggilan alam yang tidak dapat ditolak *?* semoga di chap ini kalian sedikit merasa terhibur, yaa hehehe. Aku juga lagi blank bangeett ngga tau deh ini alur cerita atau apaan-_- semoga dengan sering menghilangnya author ngga membuat kalian kapok baca FF ini hiks~

Seeya^^

-LoXOXOve-

#HappyLuhanDay^^

Advertisements

155 comments on “My Princess, Kim Taeyeon (Chapter 9)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s