Love, That One Word (Chapter 2)


ATSIT PROUDLY PRESENT:

Title : Love, That One Word

Author : Nadia S. Pajriati

Ratting : PG-17

Genre : Romance, Family, Friendship, Marriage Life, Angst

Length : Multi-Chapter

Main Cast: Kim Taeyeon, Kang Seulgi as Park Seulgi, Byun Baekhyun

Other Cast: Find it by yourself

Disclaimer: The entire cast belong to God. And the plot is MINE. Please, DO NOT Plagiarizing OR re-publish my story WITHOUT my permission

Poster by: ArtFantasy @leesinhyo art

 Preview: Teaser & Introducing, Chapter 1

…..

Love, That One Word

“Aigoo, yakk!! Tuan apa kau tidak bisa melihat? Lihat, bunga milikku jatuh.”

Taeyeon berbicara cukup keras kepada laki-laki yang telah menabraknya itu. Laki-laki itu berjongkok, mengambil keranjang bunga lili milik Taeyeon yang jatuh. Ketika dia kembali berdiri dan menatap Taeyeon, laki-laki itu menatap Taeyeon lekat. ‘Wajahnya, sepertinya aku pernah melihatnya’

“Untung saja bunganya tidak kenapa-kenapa. Lain kali kalau tuan berjalan, tolong lihatlah ke depan.” Taeyeon mengambil keranjang bunga yang jatuh tadi dari tangan laki-laki itu. Laki-laki itu mengernyit mendengar ucapan Taeyeon.

“Memangnya kau tadi berjalan lihat ke depan? Matamu hanya terfokus pada bunga-bunga yang ada di tanganmu. Jadi ini bukan sepenuhnya salahku.” Laki-laki itu melawan. Yah, bagaimana tidak, dia tidak terima begitu saja ketika seseorang menyalahkannya padahal orang yang menyalahkannya juga dalam posisi salah.

Taeyeon yang sedang membereskan bunga yang sedikit agak berantakan itu, mendongak, menatap laki-laki di depannya kesal. “Ara ara, aku mengaku aku juga salah.”

Laki-laki itu berdecak sebal. “Tidak mau minta maaf?.”

“Ckck, di sini aku memang salah sama sepertimu. Tapi aku lebih rugi di sini, karena bungaku jatuh dan hampir saja tatanannya rusak.” Taeyeon, yang memang mempunyai sifat yang keras kepala kembali bicara dengan suara tegas yang dibuat-buat.

“Tapi bungamu tidak kenapa-kenapa, nona. Lagi pula kalau kau mau, aku bisa membelikanmu kembali bunga yang seperti itu.”

“Ah, sudah lupakan. Aku anggap ini tidak pernah terjadi dan aku memaafkanmu. Kau keras kepala sekali, tuan.”

Apa? Dia keras kepala? Kalau dia keras kepala, terus gadis yang berada di hadapannya ini dua kali lipat dari kata keras kepala, begitu?. Gadis ini, benar-benar mempunyai sifat yang begitu menyebalkan.

“Terserah kau, nona.”

“Aishh, bye.”

Laki-laki itu memandang Taeyeon aneh. Baru pertama kali dia bertemu gadis aneh seperti gadis yang dia temui barusan. Dia menggelengkan kepalanya tidak percaya.

Drttttttt

“Lay Hyung calling”

Laki-laki itu mengusap layar handphone yang tadi dia pegang ketika handphone-nya bergetar tanda ada panggilan masuk.

“Kau masih dimana? Kau jadi datang ke rumah Chanyeol, ‘kan?.”

“Aku di jalan, baru saja beres makan siang dengan Client-ku. Tunggu aku, hyung, aku akan langsung pergi ke rumah Chanyeol.”

“Araseo, hyung tunggu. Hati-hati di jalan.”

“Baik, hyung.”

Laki-laki itu memasukkan handphone-nya ke dalam saku jas, lalu berjalan cepat menuju sebuah mobil mewah berwarna putih miliknya. Setelah masuk ke dalam mobil, laki-laki itu memajukkan mobilnya dengan kecepatan sedang.

Chapter 2

@Seoul, Korea Selatan.

“Eomma, appa i miss you.”

Taeyeon berucap sedih. Tangannya memegang batu nisan makam Ibu-nya, di samping makam Ibu-nya terdapat makam Ayahnya.

“Sebentar lagi aku lulus kuliah, eomma, appa. Akhirnya, aku bisa menggapai cita-citaku. Cita-cita yang aku impikan sejak kecil. Semua ini berkat eomma dan appa. Kalian disana mendoakanku ‘kan? Bukan hanya kalian, semua yang ada di sini juga ikut mendoakanku. Eomma Park, appa Park, Seulgi eonni, Jongin oppa, Ahjumma Lee, bahkan mungkin, Luhan oppa juga mendoakanku.”

Gadis itu menghapus air mata yang turun membasahi pipi mulusnya.

“Ya, Luhan oppa. Eomma, appa, kalian tahu bagaimana kabar Luhan oppa sekarang? Apakah dia baik-baik saja? Aku juga merindukan Luhan oppa.”

Taeyeon menengadahkan kepalanya ke atas, memutar ulang masa-masa yang pernah dia lalui bersama Luhan. Dia masih ingat Luhan yang begitu jail kepadanya, Luhan yang over-protective kepadanya, Luhan yang selalu menjaganya, segala tentang Luhan, dia masih ingat, dan dia sangat merindukan Luhan.

“Aku lost contact dengan Luhan oppa. Setelah eomma dan appa pergi meninggalkanku, aku berusaha menghubunginya, tapi tidak bisa, dia sudah pergi ke China.

Eomma, appa, aku ingin minta tolong kepada kalian, tolong datanglah ke dalam mimpi Luhan oppa. Hantui dia, suruh oppa untuk menemuiku. Kalian mau ‘kan?.”

Taeyeon tertawa kecil setelah mengucapkan permintaan anehnya itu. Aneh ‘kan? Menyuruh orang tuanya yang sudah meninggal untuk mengahantui Luhan? Sungguh permintaan yang kekanak-kanakan.

“Bawa Luhan oppa untukku, ya eomma, appa? Jebal.”

Dengan sangat tiba-tiba, hujan yang tidak begitu besar turun membasahi sebagian tanah kering Kota Seoul. Taeyeon tidak menghiraukannya. Terbukti, walaupun hujan tambah lebat, dia tetap setia duduk di samping makam kedua orang tuanya.

Love, That One Word

“Seharusnya kau berteduh dulu, Taeng.”

Jongin menggelengkan kepala ketika melihat Taeyeon keluar dari kamar Ibu-nya. Dengan menggunakan handuk Ibu Jongin, Taeyeon mengeringkan rambutnya dengan bibir mengerucut.

“Kau pulang dengan baju basah kuyup, oppa bisa menjemputmu kalau kau menelpon oppa.”

“Sudahlah oppa, yang penting aku pulang selamat. Lagi pula, hanya basah kuyup.” Ujar Taeyeon santai. Gadis itu duduk di kursi panjang ruang keluarga sambil terus berusaha mengeringkan rambutnya yang basah.

 

“Tapi kau bisa sakit, Taeng. Apa kau lupa, dulu kau pernah hujan-hujanan, dan ujung-ujungnya kau malah sakit.” Ucap Jongin. Dia ingat dulu, ketika Taeyeon masih duduk di bangku SMP, kalau Taeyeon tidak pulang bersama dengan Luhan -si brengsek anak kecil yang suka melarangnya mendekati Taeyeon-, pasti dia yang akan menjemputnya.

Waktu itu, kebetulan Seoul sedang hujan, sehingga mereka mau tidak mau menerobos hujan yang tidak terlalu besar turun itu. Sebenarnya Jongin sudah menolak ajakan Taeyeon untuk menerobos hujan, namun dengan Aegyo andalannya Kim Taeyeon, siapapun pasti akan jatuh ke dalam ‘trap’ Taeyeon, begitu juga dengan Jongin yang seketika luluh akan ajakan Taeyeon.

Namun Jongin sungguh menyesal, karena keesokan harinya,ahjumma Kim (Ibu Taeyeon) memberitahu Jongin bahwa Taeyeon sedang sakit dan tidak pergi ke sekolah.

“Itu dulu oppa, waktu aku masih kecil. Daya kekebalan tubuhku sekarang lebih kuat dari pada dulu ketika aku masih kecil. Bahkan di Jepang aku terkadang pulang ke asrama hujan-hujanan bersama Sooyoung, dan aku tidak apa-apa setelahnya.”

Jongin merotasikan kedua bola matanya kesal. Baginya, Taeyeon adalah satu-satunya gadis yang sangat keras kepala yang pernah dia temui. Sekali berdebat dengan Taeyeon, belum pernah sekalipun Jongin menang, Taeyeon selalu mempunyai ‘serangan’ yang langsung membuat lawannya bungkam jika berdebat.

“Terserah kau, taeng.” Ujar Jongin dengan penuh penekanan.

“Yeah, terserah aku.” Taeyeon membalas dengan mengikuti cara bicara Jongin, penuh penekanan.

Beberapa menit kemudian, suasana di antara mereka menjadi sepi. Jongin yang tidak menghiraukan Taeyeon dengan menatap televisi yang menayangkan program musik kesayangannya, sedangkan Taeyeon tengah menunduk, merasa bersalah. Dia merasa dia tidak menghargai perhatian yang diberikan Jongin kepadanya.

“Oppa”

“Hmm?.” Jongin menatap Taeyeon ketika gadis itu memanggilnya. Mata laki-laki itu masih menyiratkan rasa kesal. Dan Taeyeon menyadari itu, sangat menyadari.

“Mianhae.” Sesal Taeyeon. “Maaf karena sudah membuat oppa khawatir. Aku janji tidak akan seperti ini lagi.”

“Kau selalu melanggar janjimu Taeng, kau dulu juga pernah berjanji tidak akan membuat oppa khawatir. Tapi buktinya, sekarang?.” Ujar Jongin. Wajahnya terlihat seperti marah, namun jika kalian ingin tahu, hatinya malah sedang tertawa melihat Taeyeon dengan muka memelas seperti itu. Jongin tidak bisa dan tidak akan pernah bisa marah kepada Taeyeon.

“Aniyo, oppa. Kali ini aku bersungguh-sungguh. Maafkan aku, ya?.”

“Oppa akan memaafkanmu, dengan satu syarat. Bagaimana?”

Taeyeon menatap Jongin yang tengah menaikkan kedua alisnya. “Syaratnya apa?.”

“Kau harus menemani oppa ke toko sepatu besok.”

Taeyeon menatap Jongin tidak percaya. Oh ayolah, apakah Jongin lupa kalau Taeyeon itu paling tidak suka pergi mengantar orang shopping? Sungguh, Taeyeon paling malas jika harus mengantar orang shopping. Berpindah-pindah dari satu toko ke toko lainnya jika di toko yang dikunjungi tidak ada barang yang diinginkan. Itu sungguh memuakkan, pikirnya.

“Are you serious, oppa? Kau tahu ‘kan kalau aku paling tidak suka pergi shopping. Lagi pula, untuk apa oppa pergi ke toko sepatu? Ingin membeli sepatu? Tadi aku lihat sepatu oppa di kamar banyak sekali, lalu untuk apa oppa membeli sepatu lagi?!”

Taeyeon merengek manja kepada Jongin, membujuknya agar mengganti syarat yang Jongin ajukan kepadanya.

“Ayolah, Sehun beberapa hari lagi ulang tahun. Oppa ingin memberikannya sepatu sebagai hadiah.”

“Tapi oppa,-”

“Yes or no?”

Taeyeon menatap Jongin dengan puppy eyesnya. Yang ditatap malah menaikkan kedua alisnya jahil. Gadis itu menyerah, dia tidak mempunyai pilihan lain selain menyetujui syarat yang diajukan Jongin. Apalagi Taeyeon lihat, Jongin memang benar-benar berniat dengan ajakannya itu..

Love, That One Word

Keesokam harinya

@Lotte Department Store, Sogong-dong, Jung-gu, Seoul, Korea Selatan.


Taeyeon dan Jongin berjalan berdampingan memasukki salah satu toko sepatu yang terletak di lantai 3 store besar. Sudah pukul 1 siang, dan Jongin belum sama sekali menemukan barang yang dicarinya. Taeyeon bahkan tidak bisa menghitung lagi sudah berapa toko yang telah mereka berdua kunjungi, saking pusingnya. Bahkan sebelum ke Lotte Department Store, sebelumnya Jongin juga mengunjungi toko-toko sepatu *yang ‘tak kalah besarnya dengan toko yang mereka kunjungi sekarang*, namun hasilnya nihil.

“Oppa, apakah masih lama?.” Taeyeon bersuara. Saat ini, gadis itu duduk di salah satu kursi yang dekat dengan rak sepatu sporty. Tangan mungil gadis itu memijat-mijat kaki jenjangnya yang terasa sangat sakit karena dari tadi tidak henti-hentinya berjalan. Beruntung, di toko ini, tersedia kursi duduk bagi para pengunjung. Memang benar, semakin tinggi kualitas toko, semakin tinggi juga pelayanan yang diberikan toko untuk pelanggan.

“Just wait, Taeng, sebentar lagi.” Entah sudah keberapa kalinya laki-laki itu berucap ‘sebentar lagi’ kepada Taeyeon, mungkin sejak mereka berdua menginjakkan kaki mereka di toko kedua yang mereka kunjungi tadi? Dan setelah itu, ketika Taeyeon bertanya ‘apakah masih lama?’, jawaban yang keluar dari mulut Jongin pasti ‘Sebentar lagi’.

“Oppa, i beg you. Aku ingin toko ini adalah toko terakhir yang kita kunjungi. Aku sudah tidak kuat oppa, capek~.”

Beberapa orang yang berada di sekitar mereka menatap Taeyeon aneh. Tentu saja, gadis itu merengek dengan suara yang cukup besar sehingga menarik perhatian orang-orang yang juga berada di toko itu. Namun Taeyeon tidak menghiraukannya, tujuannya sekarang hanya satu, pulang..

Tidak ada sahutan yang keluar dari mulut Jongin, membuat Taeyeon merungut kesal.

“Oppa pikir doamu kali ini dikabulkan, Taeng. Oppa sudah menemukan sepatu yang oppa cari. Oppa rasa Sehun akan menyukai ini.”

Terlihat, setelah Jongin berucap seperti itu, mata Taeyeon membulat senang. “Jinjja?!.”

Jongin mengangguk mantap dan memperlihatkan sepasang sepatu sporty berwarna hitam pekat dengan warna putih sebagai pelengkap. “Bagaimana, bagus ‘kan?.”

“Tentu saja, selera oppa terhadap sepatu selalu bagus. Sehun oppa juga pasti menyukainya. Kajja, kita ke kasir.”

Sebenarnya Taeyeon tidak terlalu memperhatikan bagaimana fisik dari sepatu itu. Gadis itu terlalu antusias dengan fakta bahwa sebentar lagi mereka akan meninggalkan toko-toko itu.

Mereka berdua berjalan menuju tempat kasir. Setelah sampai disana, Jongin menoleh dan bertanya kepada Taeyeon. “Kapan kau berencana pulang ke ‘rumah-mu’? Kau tahu, Seulgi akan marah jika mengetahui kalau kau pulang dari Jepang malah menemuiku terlebih dahulu.”

“Mungkin besok, oppa. Tenang saja, Seulgi eonni tidak akan marah, kecuali kalau oppa memberi tahu eonni. Yang tahu soal ini kan hanya aku, oppa, dan ahjumma kim. Bahkan Yuri ‘pun tidak tahu kalau aku sudah pulang ke Korea.” Jawab Taeyeon santai, tangannya memainkan handphone-nya, bisa dilihat dengan mata Jongin kalau gadis itu tengah bertukar pesan dengan seseorang.

“Kau sedang mengirim pesan kepada siapa, Taeng?.”

Taeyeon menatap Jongin dengan muka sedih. Yang ditatap malah balas menatap dengan raut muka penasaran. Bukannya tadi gadis itu senang karena Jongin telah menemukan barang yang dicarinya, dan sebentar lagi mereka akan pulang? Tapi kenapa dalam waktu beberapa menit setelahnya muka gadis itu kembali dengan muka masam?. “Wae?.”

“Oppa, barusan Sooyoung mengirim email kepadaku. Katanya liburan kali ini waktunya diperpendek menjadi dua minggu. Padahal ‘kan waktu awalnya satu bulan. Ahh dasar!!.”

Jongin tertawa geli melihat Taeyeon yang tengah mengerucutkan bibirnya lucu. Tangannya terangkat dan mengusap rambut hitam panjang Taeyeon lembut. “Sudahlah, lagipula itu sudah menjadi kebijakan kampus-mu. Kau sebagai mahasiswi hanya harus mengikutinya, araseo?”

Taeyeon mengangguk lemah. Setelah membayar sepatu yang Jongin beli, mereka berdua keluar dari toko itu. Jongin menghibur Taeyeon yang terlihat sedih karena diperpendeknya masa liburan dengan membawa gadis itu ke salah satu toko es krim.

Es Krim. Kata yang bisa membuat Taeyeon langsung lupa akan segala hal. Lihatlah, bahkan sekarang gadis itu tengah sibuk melahap es krim yang Jongin pesan. Tidak aneh lagi, tapi Taeyeon benar-benar sudah menghabiskan 2 gelas es krim. Dan sekarang, dia tengah melahap es krim yang ke-tiganya. Jongin menggelengkan kepalanya gemas melihat tingkah gadis itu. Lihatlah, bahkan Taeyeon tidak menghiraukan Jongin saat ini, seolah-olah Jongin tidak ada.

“Baby Tae??”

Sebuah suara wanita yang begitu Taeyeon kenali terdengar di indera pendengarannya. Suara itu dengan nada suara kaget bercampur penasaran memanggil ‘Baby Tae’, nama panggilan Taeyeon, yang hanya satu orang biasa memanggilnya dengan nama panggilan itu. Park Seulgi, kakaknya.

Taeyeon menoleh ke asal suara, melupakan es krim yang tadi dia lahap. Dan benar, di sana berdiri Seulgi yang tengah membulatkan matanya terkejut ditemani seorang laki-laki ber-jas kantoran dengan muka datarnya. “Eonni.”

“Baby Tae~”

Seulgi menghampiri Taeyeon yang sedang duduk di kursi. Tangannya memeluk erat leher jenjang gadis itu, membuat gadis itu mau tak mau juga memeluk Seulgi, kesusahan karena posisi-nya yang sedang duduk itu

Taeyeon memejamkan matanya, masih terkejut karena kehadiran Seulgi yang tiba-tiba. Gadis itu yakin, kalau Seulgi pasti akan marah kepadanya jika wanita itu tahu kalau dirinya berada di Korea sejak dua hari yang lalu. Tapi seakan lupa tentang hal itu, kini Taeyeon malah semakin menenggelamkan kepalanya ke sela-sela leher Seulgi.

“Eonni, rambutku akan rusak jika kau terus-terusan mengacaknya.”

Taeyeon menggeliat, berusaha melepaskan pelukan Seulgi ketika dia merasakan tangan Seulgi berada di puncak kepalanya, mengusapnya dengan sangat gemas sehingga membuat rambut coklat Taeyeon acak-acakkan. Seulgi tertawa kecil, wanita itu lalu melepaskan pelukannya dan memegang kedua pipi Taeyeon yang tengah cemberut menatapnya. Seulgi berdecak. “Sejak kapan pipi-mu bertambah chubby seperti ini, huh? Aigoo, eonni benar-benar merindukanmu, Baby Tae.”

“Oh, kapan kau ke Korea? Kenapa tidak memberi tahu eonni? Kau tahu, eonni bisa menjemputmu ke bandara jika kau memberitahu eonni.”

Seulgi menatap Taeyeon dengan tatapan penuh selidik. Tangannya sekarang sudah tidak menyentuh pipi Taeyeon lagi. Kali ini Seulgi duduk di kursi samping kiri Taeyeon. Tidak lupa, wanita itu juga menyuruh Baekhyun duduk di kursi kosong tepat di hadapannya. Sebenarnya tadi setelah Seulgi memanggil ‘Baby Tae’, untuk memastikan apakah itu benar Taeyeon, adiknya atau bukan, Seulgi sudah lupa tentang keberadaan Baekhyun. Seulgi terlalu fokus kepada ‘Baby Tae’-nya, bahkan kalau saja Baekhyun tadi tidak berdehem, mungkin Seulgi akan benar-benar melupakan keberadaannya.

Taeyeon terdiam. Haruskah dia berbohong kepada kakaknya? Tapi Taeyeon bukanlah tipe orang yang suka berbohong. Tapi kalau jujur, Taeyeon takut kalau nantinya Seulgi marah padanya. Taeyeon menatap Seulgi dengan mata puppy eyes andalannya. Seulgi yang sudah tahu sifat Taeyeon seperti apa, menghela nafas kecewa.

“Mianhae eonni, tadinya aku ingin memberi eonni kejutan, makanya aku pulang ke rumah Jongin oppa dan tidak memberitahumu. Tapi sepertinya kejutanku ini gagal, karena eonni sudah menemukanku. Jeongmal mianhae.”

“Aigoo, araseo, eonni tidak akan marah padamu. Tapi, tetap saja eonni marah pada Jongin oppa-mu itu.” Seulgi menatap sinis Jongin yang sedang bermain dengan es krimnya. Laki-laki itu menatap balik Seulgi dengan raut muka bingung.

“Wae? Kenapa kau marah padaku?.” Jongin bertanya sambil mengangkat dagunya meremehkan. Seulgi yang melihatnya hanya merotasikan kedua bola matanya semakin kesal.

“Karena orang pertama yang adikku temui adalah kau!.”

Jongin menaikkan alisnya semakin bingung. “So? Taeyeon sendiri yang meminta-ku, lagi pula tadi kau dengar ‘kan apa yang adikmu katakan? Dia ingin memberi-mu kejutan, bukan kejutan namanya kalau dia memintamu untuk menjemputnya saat itu.”

“Tapi kenapa harus kau? Dari sekian banyak teman yang adikku punya, kenapa selalu kau, Jongin!.”

Taeyeon memandang kakaknya dan Jongin bergantian. Astaga, kakaknya memang tidak akan pernah berubah, tidak suka kalau Jongin berada di dekat Taeyeon. Dan kalau Jongin berada di dekat Taeyeon, pasti Seulgi akan terus mengumpat kepada Jongin.

Seulgi sebenarnya bukan tidak menyukai Jongin, dia menyukainya, bahkan Jongin bisa disebut sebagai satu-satunya lelaki yang Seulgi setujui jika dia bersama Taeyeon, karena menurutnya Jongin bisa menjaga Taeyeon dengan baik. Tapi Seulgi benar-benar tidak menyukai fakta kalau kedekatan Jongin dengan adiknya melebihi kedekatan Seulgi dengan Taeyeon. Bagaimanapun, Seulgi ingin menjadi kakak yang pertama bagi adik tersayangnya itu.

“Karena selain sebagai teman dekatnya, Taeyeon juga menganggap-ku sebagai kakaknya.”

“Kakaknya hanya aku, Kim Jongin bodoh!” Seulgi menggeram kesal.

Di sampingnya, Taeyeon menghela nafas pelan. Kim Jongin, sudah tahu api sedang menyala, kau malah semakin membesarkan api yang sedang menyala itu. Mata Taeyeon teralih menatap laki-laki yang duduk di hadapan kakaknya. Laki-laki yang sejak tadi hanya diam dan memperhatikan kakaknya dan Jongin yang sedang berseteru. Tidak ada ekspresi yang tergambar dari wajahnya, datar. Dan Taeyeon bisa menebak kalau laki-laki itu adalah tipe orang yang dingin.

Sekilas Taeyeon sedikit familiar dengan wajah laki-laki itu, dan setelah ditelusui baik-baik sampai pada akhirnya dia ingat, bahwa laki-laki itu adalah laki-laki yang kemarin membuat bunga yang dibawa Taeyeon jatuh di jalan. Taeyeon menggelengkan kepalanya pelan. Benar, dunia memang sempit sampai-sampai dia kembali bertemu dengan laki-laki itu.

Tapi, siapa laki-laki itu? Dia datang bersama kakaknya dan laki-laki itu memakai jas kantoran, mungkinkah dia rekan kerja kakaknya? Setahu Taeyeon, kakaknya itu berniat untuk bekerja di kantor milik appa Park.

Seketika pipinya memerah, ketika tanpa sadar laki-laki itu menatapnya dengan iris mata yang sangat tajam, menurutnya. Entahlah, tapi saat mata itu menatapnya, bahkan hanya dengan waktu yang cukup singkat, jantungnya tiba-tiba bekerja dua kali lebih cepat. Perasaan seperti ini, sama seperti apa yang dia rasakan ketika Luhan menatapnya juga dulu. Taeyeon, jangan katakan kalau kau menyukai rekan kerja kakakmu itu.

“Eonni, oppa, sudahlah jangan seperti ini. Para pengunjung melihat kita dengan tatapan aneh.” Setelah cukup lama diam, akirnya Taeyeon bersuara, mencoba melerai adu mulut antara Seulgi dan Jongin. Matanya kembali ‘tak sengaja bertemu pandang dengan laki-laki itu, membuat Taeyeon kembali salah tingkah. Tunggu dulu, apakah Taeyeon terlalu percaya diri atau memang sejak dari tadi laki-laki itu mencuri-curi pandang ke arahnya? Astaga Taeyeon, kau benar-benar terlalu percaya diri.

“Eonni, jangan marah ya, kalau eonni marah, aku akan sangat merasa bersalah.” Taeyeon memegang tangan Seulgi dengan lembut.

Seulgi menggelengkan kepalanya. “Sudah eonni bilang, eonni tidak marah padamu. Eonni hanya marah pada Jongin.”

“Tapi eonni marah pada Jongin Oppa gara-gara aku. Jebal eonni~”

Seulgi mengangguk setelah melihat Taeyeon dengan aegyo-nya. “Baiklah eonni juga tidak akan marah pada Jongin.”

Taeyeon membalas senyum yang Seulgi berikan kepadanya. Meskipun begitu, Taeyeon masih bisa menangkap tatapan sinis yang Seulgi arahkan kepada Jongin.

“Baiklah, untuk saat ini anggap saja Jongin tidak ada di sini, baik Baby Tae? Eonni ingin mengenalkan seseorang kepadamu, kebetulan sekali kita bertemu.” Taeyeon tertawa kecil mendengar ucapan Seulgi, sedangkan Jongin tidak menghiraukan ucapan sinis Seulgi. Tangannya meraih es krim yang sudah meleleh milik Taeyeon dan melahapnya dengan santai.

“Perkenalkan, ini Byun Baekhyun, calon kakak iparmu. Panggil dia oppa ‘ya, dia tiga tahun lebih tua darimu. Dan Baekie, perkenalkan ini adalah orang yang paling aku sayang di dunia, Park Taeyeon, calon adik iparmu.”

Byun Baekhyun? Calon kakak ipar? Astaga, Taeyeon benar-benar patah hati saat ini. Laki-laki yang tadi dia anggap sebagai rekan kerja kakaknya ternyata adalah Byun Baekhyun, calon kakak iparnya. Kasihan sekali dirimu Taeyeon-ah, mungkin sampai kapanpun kau tidak akan pernah bisa move on dari Luhan. Sampai-sampai tiap laki-laki yang Taeyeon sukai pasti sudah mempunyai pasangan.

Taeyeon menunduk hormat kepada Baekhyun yang langsung dibalas dengan refleks oleh Baekhyun. “Annyeong kakak ipar, senang akhirnya bisa bertemu denganmu. Eonni sering sekali berbicara mengenai kakak ipar kepadaku. Oppa adalah orang yang baik, jaga eonni-ku yah.”

“Tentu saja.” Jawab Baekhyun singkat.

Taeyeon mendengus mendengar jawaban singkat yang Baekhyun lontarkan. Kalau-pun benar Baekhyun adalah tipe laki-laki yang dingin, tapi tidak bisakah dia sedikit ‘jaim’? Walau bagaimanapun Taeyeon itu adalah calon adik iparnya, harusnya seorang calon kakak ipar harus menunjukkan sikap ramah, sopan, santun baik, dan menyenangkan dihadapan calon keluarga, termasuk dirinya. Bukan begitu?

“Baby Tae, jangan hiraukan sifat dingin Baekie yah. Dia memang seperti itu jika bersama orang yang baru dia kenal, padahal sebenarnya dia itu orang yang hangat.”

Taeyeon tersenyum manis, sangat manis sehingga membuat Seulgi mengusap rambut Taeyeon gemas. “Araseo eonni, aku percaya kalau kakak ipar adalah orang yang baik.”

“Apa kau sudah makan siang? Eonni dan Baekhyun sengaja ingin makan siang di restoran Lay.”

“Lay? Dia siapa?” Taeyeon bertanya kepada Seulgi. Baru pertama kali dia mendengar nama Lay. Apakah dia juga teman kakaknya? Tapi kenapa Seulgi tidak bilang kalau dia mempunyai teman bernama Lay. Setahunya, Seulgi hanya mempunyai satu teman yang dekat dengannya, Irene. Ya, hanya Irene, karena Seulgi bukan tipe orang yang mudah bergaul dengan orang lain.

“Lay temannya Baekhyun. Dia pemilik restoran yang cukup terkenal di Seoul. Eonni janji, kau tidak akan menyesal kalau makan di sana. Bagaimana, kau mau ikut?”

“Jongin oppa juga eonni ajak ‘kan?” Taeyeon bertanya dengan hati-hati, berharap bahwa Seulgi bukan hanya mengajaknya, tapi juga mengajak Jongin.

“Ya, taeng, apa kau lupa kalau pukul 2 nanti oppa harus pergi ke rumah Halmoni? Bisa-bisa eomma marah kalau oppa tidak kesana.”

Taeyeon tertawa kecil. “Baiklah, tapi tidak apa-apa kalau oppa pulang sendiri?”

“Aigoo, sudahlah, lagi pula oppa membawa mobil ‘kan.”

“Ok, ayo kita pergi. Jongin, semarah-marahnya aku padamu, tapi bagaimanapun aku berterima kasih karena kau sudah mau menjaga adikku.”

Jongin mengangguk dan tersenyum kecil. Mereka sekarang berjalan keluar dari kedai es krim itu. Taeyeon yang berjalan di belakang Jongin dan Baekhyun, menatap punggung Baekhyun heran. Dia benar-benar seperti es. Dari tadi laki-laki itu hanya mengamati orang yang berbicara tanpa ekspresi, bahkan untuk sekedar mengeluarkan satu kata dari bibirnya ‘pun sepertinya sangat susah seperti bibirnya itu dikunci oleh gembok yang sangat kuat sehingga tidak bisa mengeluarkan sepatah-pun kata. Taeyeon benar-benar salut kepada kakaknya, karena hubungan mereka bisa bertahan lama sampai sekarang.

@LY’stauraant


Taeyeon, Seulgi dan Baekhyun memasuki LY’staurant bersama-sama. Seperti biasa, Taeyeon menggandeng manja lengan Seulgi. Taeyeon mengamati restoran itu dengan seksama, di lihat dari luar, gedung ini terlihat kecil. Namun setelah dilihat dari dalam, ternyata restoran ini cukup besar juga. Mungkin karena memang restoran ini bentuknya panjang ke belakang. Dari luar juga restoran ini kelihatan sepi, karena memang tempatnya yang cukup jauh dari jalan raya, tepatnya terhalang oleh dua kedai makanan ringan dan aksesoris.

Namun jangan hanya melihat cover-nya, di luar memang terlihat sepi, tapi lihatlah di dalam bahkan hampir seluruh meja terisi oleh para pengunjung yang sedang makan siang di sana, mayoritas adalah orang kantoran karena terlihat dari kemeja rapi yang mereka kenakan. Keadaan di dalam restoran, Taeyeon sangat menyukai-nya. Terlihat simpel namun elegan. Meja dan dan kursi yang terbuat dari kayu berwarna cream mendominasi ruangan itu. Ya, terbuat dari kayu, namun meja dan kursi itu dibuat se-elegan mungkin, sehingga hasilnya-pun sangat indah.


Hiasan di dinding sebelah kiri, menurut Taeyeon menambah kesan klasik modern itu semakin kental. Hiasan gambar seperti piring, entahlah tapi menurutnya yang mendesain ruangan ini orangnya tipe yang kreatif. Hanya gambar piring, namun sangat indah, menurutnya.

“Sepertinya kau sudah mulai menyukai tempat ini, baby Tae”

Taeyeon mengangguk mengiyakan. Sepertinya begitu, bahkan Taeyeon sudah berpikir kalau restoran ini akan menjadi restoran favoritnya di Korea. “Apakah teman kakak ipar juga ada di sini?.”

“Tentu saja, kau tahu dia itu pemilik sekaligus salah satu chef di sini.”

Sedikit kecewa karena Seulgi yang menjawabnya, bukan Baekhyun. Tapi Taeyeon mengangguk tidak mau kekecewaannya terlihat, baik oleh kakaknya ataupun oleh Baekhyun. “Ah, sepertinya dia benar-benar orang yang hebat. Apakah aku bisa bertemu dengannya, eonni?”

“Tentu saja. Kajja”

Lengan Taeyeon ditarik cukup cepat oleh Seulgi, mau tak mau membuat Taeyeon berjalan mengikutinya dengan tempo yang tidak kecil. Seulgi bilang kalau dia dan Baaekhyun makan siang di sini, mereka tidak suka berada di tempat yang ramai, menurut mereka itu mengganggu. Seulgi dan Baekhyun mempunyai ruangan khusus di restoran ini, dimana lagi kalau bukan di ruangan pemilik restoran ini. Taeyeon kembali berfantasi, betapa baiknya orang ini, hebat.

“Apakah kita tidak mengetuk pintu dulu?” Taeyeon bertanya setelah mereka langsung masuk ke salah satu ruangan yang diduganya adalah ruangan pemilik reastoran ini tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Seulgi menggeleng dan tersenyum.

“Tenang, kami sudah terbiasa seperti ini, masuk tanpa ketuk pintu. Hehe”

“Oh hey, Baekhyun, Seulgi, dan . . . .”

Taeyeon melihat seorang laki-laki jangkung dengan baju chef yang menempel di badannya. Laki-laki itu sungguh tinggi, Taeyeon bisa bayangkan jika dia berada di samping orang itu, bahkan mungkin untuk tingginya tidak sampai bahu laki-laki itu. Ya ampun, laki-laki ini adalah laki-laki dengan tinggi di atas rata-rata kedua yang Taeyeon temui semasa hidupnya. Yang pertama adalah Kris, si tiang listrik kekasihnya Choi Sooyoung, dan yang kedua adalah orang ini, mungkin dia itu Lay, si pemilik restoran hebat yang baik hati itu?

“Annyeonghaseyo, Park Taeyeon imnida.” Taeyeon bersuara setelah melihat raut muka kebingungan yang dipancarkan oleh Lay, mungkin dia penasaran siapa gadis yang -terlihat- diseret oleh Seulgi. “Senang bertemu dengan anda, Lay-ssi.”

Taeyeon membungkuk hormat yang dibalas dengan tatapan bingung oleh laki-laki tinggi itu. Laki-laki itu menaikkan alisnya menahan tawa. “Lay? Haha aniyo aku bukan Lay, kau lucu sekali Taeyeon-ssi.”

Suara baritone laki-laki itu terdengar jelas di telinga Taeyeon. Tunggu, apa laki-laki itu bilang? Dia bukan Lay si pemilik restoran ini? Terus dia siapa? Bukannya ini adalah ruangan Lay? Astaga, Sooyoung benar, Taeyeon memang pantas dinobatkan sebagai gadis dengan julukan ‘So’ kenal so’ dekat’. Sungguh Taeyeon benar-benar malu saat ini, sampai-sampai mukanya yang putih mulus seperti bayi itu terlihat merah. Taeyeon menatap kakaknya meminta penjelasan, dan dapat Taeyeon lihat kakaknya ternyata sedg menertawakannya, meskipun tanpa suara. Dan itu membuat Taeyeon kesal, dan mem-poutkan bibirnya lucu.

“Dia Chanyeol, Taeyeon-ah, Park Chanyeol. Dia bukan Lay hyung.”

Hebat, benar-benar hebat. Coba tebak siapa yang bersuara barusan? Bukan kakaknya, bukan juga hantu ataupun jin, melainkan Baekhyun. Byun Baekhyun bersuara, dan dapat Taeyeon lihat bahwa laki-laki itu sekarang menyunggingkan senyuman kecil ke arahnya. “Ah jinjja? Aku kira dia Lay. Annyeong Chanyeol-ssi, maaf karena tadi aku salah mengiramu.”

“Panggil dia oppa, Baby Tae. Usia Chanyeol sama dengan eonni dan Baekhyun. Dan Chanyeol-ah, perkenalkan dia adikku, Park Taeyeon.”

“Annyeong Taeyeon-ah, aku sudah mendengar banyak tentangmu. Jika Seulgi sedang membicarakan tentangmu, aku benar-benar penasaran seperti apa dirimu. Dan akhirnya aku bisa bertemu denganmu, kau memang cantik seperti apa yang sering Seulgi katakan.

Taeyeon tersenyum dengan pipi kembali merona, sepertinya Chanyeol ini adalah orang yang baik dan ramah. “Terima kasih, Chanyeol oppa.”

“Kau tidak ada niat untuk menggoda adikku ‘kan?.” Seulgi menatap Chanyeol dengan sorot mata penuh selidik.

“Kalau kau mengijinkannya, kenapa tidak.”

“Yak Park Chanyeol, kalau kau mencoba untuk menggoda adikku, aku do’akan semoga kau sakit lagi dan tidak akan pernah sembuh!.”

Chanyeol meringis mendengar kata-kata pedas yang keluar dari mulut Seulgi. “Aish, kau kejam sekali.”

“Sudahlah eonni, Chanyeol oppa hanya bercanda. Iya ‘kan?.”

Chanyeol menatap Taeyeon dengan senyum yang mengembang di bibirnya, sepertinya Taeyeon adalah tipe gadis yang suka bergaul. “Lihatlah, bahkan adikmu tahu kalau aku sedang bercanda. Mana mungkin aku menggoda adikmu, aku ‘kan sudah punya pacar.”

Seulgi mencibir kesal, sombong sekali orang ini. Baru juga mempunyai pacar 2 hari yang lalu, dia sudah seperti ini. Dia yakin, tipe Chanyeol yang playboy itu tidak akan bisa memperthankan hubungan yang lama, mungkin beberapa hari lagi mereka akan putus?.

“Sudahlah, yeol. Dimana Lay hyung?”

‘Aku di sini, kalian merindukanku?”

Tiba-tiba datang dari arah pintu memasuki ruangan seorang laki-laki yang menurut Taeyeon sangat manis dengan dimple yang muncul dikedua sisi pipinya. Dimple itu sangat terlihat jelas, dan mungkin dimple milik Taeyeon kalah manisnya dengan dimple yang dimiliki orang itu. Taeyeon bisa merasakan kalau laki-laki yang baru saja masuk itu memandangnya lekat, membuatnya sedikit salah tingkah.

“Hai oppa, ini adikku, Park Taeyeon. Hari ini aku dan Baekhyun mengajak Taeyeon untuk makan siang bersama. Tidak apa-apa ‘kan?”

Tanya Seulgi, walau bagaimanapun restoran ini milik Lay. Dan sekarang mereka sedang berada di ruangan Lay, jadi harus meminta ijin terlebih dahulu. Bukan begitu?

Lama Lay terdiam, matanya sibuk meneliti setiap inci wajah Taeyeon. Wajah gadis itu terlihat sangat familiar di matanya. Dia sendiri pun bingung kenapa dia bisa berpikiran seperti itu, dia tidak pernah bertemu dengan Taeyeon tapi dia merasa begitu familiar dengan Taeyeon. Aneh.

“Hyung?.”

Suara Baekhyun langsung membuat Lay tersadar, semua orang yang ada di ruangan itu menatap Lay aneh. Lay berdehem kecil. “Tentu saja, aku akan memanggil Jungsoo untuk menambah porsi makan siang kita untuk satu orang. Taeyeon-ah, jangan canggung ya, semoga kau betah di sini.”

Taeyeon membalas senyuman Lay, dan membungkuk kecil. “Ne, oppa.”

Makan siang hari itu berjalan dengan sangat lancar, kehadiran Taeyeon membuat suasana makan siang di ruangan Lay itu menjadi lebih rame. Tentu saja, karena Taeyeon adalah tipe gadis yang mudah bergaul, sehingga kecanggungan yang tadi sempat tercipta hilang.

Tepat pukul tiga, Baekhyun mengantar Taeyeon dan Seulgi pulang ke rumah Seulgi. Awalnya Taeyeon menolak, dia ingin diantar terlebih dahulu ke rumah Jongin. Bagaimanapun, semua barang yang Taeyeon bawa pulang dari Jepang ada di rumah Jongin. Dan dia belum mengucapkan pamit dan terima kasih kepada ahjumma Kim, dia tidak mau ahjumma Kim berpikiran negatif tentangnya, pergi tanpa memberi kabar. Tapi Seulgi melarang, dia bilang masih ada waktu besok dan Seulgi akan pergi bersamanya besok. Tanpa melawan, Taeyeon hanya menuruti permintaan kakaknya itu. Tidak lupa Taeyeon memberi tahu Jongin kalau dia pulang ke rumah aslinya, dan meminta maaf karena dia tidak berpamitan.

“Eonni?”

Saat ini mereka sedang duduk bersebelahan di ruang tengah keluarga. Mereka menonton acara televisi yang sangat Seulgi sukai. “Yes, Baby Tae?”

“Baekhyun oppa, apakah dia orang yang baik? Maksudku, lihatlah dari tadi dia tidak banyak bicara, dia hanya bicara seperlunya. Bahkan tadi aku hanya melihat eonni dan oppa mengobrol beberapa kali, dan itu-pun singkat.”

Akhirnya, pertanyaan yang sejak tadi Taeyeon pendam bisa keluar juga. Sebenarnya dia sedikit takut mengajukan pertanyaan yang menurutnya sensitif seperti itu. Tapi, dari pada dia mati penasaran, lebih baik dia tanyakan ‘kan? Seulgi tersenyum menanggapi pertanyaan Taeyeon.

“Tentu saja dia orang yang baik, Baby Tae. Tapi memang sih, Baekhyun sedikit dingin sifatnya. Tapi tadi itu aneh loh, biasanya dia tidak sedingin itu, apalagi kalau sedang bersama Chanyeol dan Lay oppa, dia akan banyak bicara. Tapi tadi tidak, hmmm mungkin dia sedang ada masalah? Entahlah.”

Taeyeon mengangguk mendengar jawaban Seulgi, kepalanya dia letakkan di pundak Seulgi manja. “Kau tahu eonni, kalau aku jadi eonni, dan bertemu dengan orang dingin sedingin Baekhyun oppa, aku tidak akan kuat. Aku lebih baik bertemu dengan ribuan manusia seperti Chanyeol oppa, yang berisik. Haha”

“Eonni kebalikanmu, dari pada bertemu dengan banyak orang yang berisik, lebih baik eonni tidak bertemu dengan satu orang-pun.”

“Berarti eonni tidak mau bertemu denganku?.” Taeyeon memandang kakaknya dengan raut muka sedih yang dibuat-buat. Dia tahu kalau kakaknya bercanda, tapi dia ingin membuat suasana diantara mereka menjadi lebih nyaman.

“Kau adalah pengecualian. Eonni hanya suka kau sebagai orang yang berisik. Kau tahu, waktu kita pertama kali bertemu?”

Taeyeon mengangguk, pertanda kalau dia masih ingat dan tidak lupa sedikitpun.

“Kau yang penakut, kau yang pendiam, kau yang tidak suka bersosialisasi. Eonni sangat sedih melihatmu seperti itu dan eonni tidak mau melihatmu seperti itu lagi. Jadi, berjanjilah kalau kau akan terus menjadi kau yang ceria, banyak bicara, mudah bersosialisi seperti saat ini, ok? Jangan suka sedih, jangan banyak memendam masalah sendiri, curahkan apa yang suka mengganggu pikiranmu.”

Taeyeon terharu mendengar tutur kata yang dilontarkan Seulgi, bahkan matanya sekarang berkaca-kaca. ‘Jangan memendam masalah sendiri? Ada satu hal yang tidak kau ketahui tentang diriku, eonni, tentang masa laluku, tentang apa yang sebenarnya terjadi dalam hidupku, tentang semua kebenaran yang dari dulu terkubur dalam kebohongan. Satu hal itu, yang jika aku mengingatnya membuat diriku sakit. Tapi jika aku memberitahu eonni, aku takut disebut sebagai pembohong, dan eonni menjauhiku. Jadi lebih baik aku menyimpan ini sebagai rahasia selamanya, yang hanya aku, Tuhan, dan ‘mereka’ yang tahu’, pikir Taeyeon.

“Nde eonni, aku berjanji. Aku sayang eonni.”

“Eonni juga sayang Baby Tae.”

@Lay’s house

“Dia bermarga Park, dan dia juga mempunyai seorang kakak perempuan. Jadi dia tidak mungkin adalah orang yang kau maksud.”

Lay berbicara dengan seseorang lewat telepon. Pulang dari restoran, Lay langsung menghubungi temannya yang berasal dari China. Entahlah, tapi pikirannya sejak tadi sangat mengganggunya. Pikirannya tentang Park Taeyeon.

“Terus maksudmu menelponku malam-malam begini untuk apa ge? Aku itu butuh kepastian, bukan kemungkinan.”

Lay tertawa masam, benar juga apa yang dikatakan temannya itu. “Tapi ini benar-benar aneh Lu, dia sangat mirip dengan orang yang ada di foto yang pernah kau kirimkan kepadaku. Meskipun foto itu diambil saat Taeyeon-mu masih kecil, tapi Taeyeon yang aku temui tadi ibaratkan Taeyeon-mu yang sekarang, yang sudah beranjak dewasa.”

“Aku tidak mengerti maksudmu, ge. Bahasamu sungguh berbelit-belit, bicaralah dengan kalimat yang efektif dan mudah dipahami.”

Lay mendecak kesal mendengar ucapan sahabatnya itu. Lay bisa menebak kalau sekarang temannya itu menganggapnya gila.

“Sudahlah ge, ini sudah terlalu malam. Aku benar-benar mengantuk, apalagi setelah mendengar dongengmu itu. Selamat malam, ge.”

Lay menyimpan handphonenya di atas meja samping tempat tidurnya. Dia menidurkan tubuhnya di kasur besar itu dengan perasaan kesal. Bagaimana tidak, temannya memutuskan sambungan telepon secara sepihak. “Xi Luhan gila!!”, gumamnya pelan.

Park Taeyeon, Kim Taeyeon. Memiliki saudara perempuan, anak tunggal. Mereka jelas-jelas dua orang yang berbeda, Lay. Sangat mustahil kalau Park Taeyeon adalah Kim Taeyeon. Tapi kenapa wajah mereka mirip? Tunggu dulu, artis Korea juga banyak yang mempunyai wajah mirip, padahal mereka tidak memiliki hubungan darah sedikitpun, bukan begitu? Kebetulan Lay, hanya kebetulan.

To Be Continued




Hai hai, ada yang nungguin ff ini ga? Maaf ya udah buat kecewa karena post chapter 2 nya lama banget -_-

Ma’lum lah, lagi sibuk UN kemarin-kemarinnya, dan berhubung UN udah beres, diusahain update chapter 3 nya cepet. Komentar, kritik, dan sarannya ditunggu ya. Kasih masukan supaya lebih semangat post chapter 3 nya ^_^

Bagi yang UN kemarin, semoga nanti hasilnya pada memuaskan ya, amin. And of course for me too 😀

Bye~

Advertisements

156 comments on “Love, That One Word (Chapter 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s