Fall in Love with You (chapter 3)

fall

Author : RYN

Length : Multichapter

Rating : M

Cast :

Taeyeon SNSD

Sehun EXO

Other Cast : find it by yourself

Genre : Romance, Fluff

This my own idea

Any similarities with other stories is pure coincidence

Please do not plagiarize and claim as your own

I have enough trouble writing chapter and,

I don’t need someone stealing my hardwork.

 

Chapter 3

***

“Sehun!!!”

Taeyeon terbangun dengan bermandikan keringat. Tubuhnya menggigil oleh rasa dingin yang tiba-tiba, nafasnya terengah-engah seakan habis berlari jauh. Jam kecil di atas meja samping tempat tidurnya telah menunjukkan pukul 4 pagi. Taeyeon mengusap wajah dan mendesah pelan, ia lalu menyandarkan punggungnya ke belakang headboard. Sambil menenangkan hatinya yang kalut, ingatan akan mimpi yang baru saja dialaminya, muncul kembali. Entah mengapa akhir-akhir ini frekuensinya menjadi lebih sering. Mimpi buruk itu selalu datang padanya berapa kalipun ia mencoba tuk melupakannya.

Taeyeon tak sadar menggigit bibir bawahnya, mendadak dipenuhi perasaan gugup. Beberapa tahun telah berlalu namun rasanya seperti baru pertama kali. Ia menarik lutut sampai menyentuh dada lalu memeluknya erat. Sesaat ia menyadari tubuhnya masih bergetar padahal suhu ruangan dalam batas yang normal. Untuk alasan yang tak ia yakini, matanya berkaca-kaca. Taeyeon berpikir dengan mencoba melupakan akan sedikit mengurangi penderitaannya atas rasa bersalah, kenyataannya malah semakin memperburuk suasana hatinya. Setiap kali melihat pria itu, memori tidak mengenakkan tentangnya seakan terputar kembali seperti sebuah film, seolah ingin terus mengingatkannya pada kesalahan fatal yang pernah ia lakukan.

Dan Taeyeon tidak menyangka ternyata sulit untuk lepas darinya. Ia mempercayai takdir, sempat terlintas dalam pikirannya bahwa pertemuannya kembali dengan Sehun setelah sekian lama tak mendengar kabar darinya mungkin adalah sebuah takdir yang tak terelakkan. Siapapun tak menyangka setelah semua yang terjadi setelah hari itu, kini mereka dipertemukan lagi dalam situasi yang canggung layaknya dua orang asing yang berpapasan. Taeyeon tidak berpikir hari itu akan tiba, Sehun yang dikenalnya dahulu telah jauh berbeda. Sangat jauh berbeda. Selain penampilannya yang jauh lebih dewasa secara fisik, cara bersikapnya pun rasanya sulit membayangkan bahwa dulu pria itu adalah Sehun yang selalu bersamanya. Taeyeon sudah terbiasa dengan irit kata yang menjadi ciri khasnya, tapi mengapa ia merasa caranya menatapnya terlihat seperti sangat membencinya.

Taeyeon buru-buru menggelengkan kepala. Ia tidak boleh terus begini.

*bodoh. Bodoh. Bodoh* Rutuknya seraya mengetuk-ngetuk kepalanya sendiri berulang kali.

Jauh sebelumnya ia telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan melupakan semuanya. Namun entah bagaimana, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, tersimpan kerinduan yang tak tertahan. Lagipula, kenangan itu telah berlallu dan yang menghancurkannya tidak lain adalah dirinya sendiri.

Bunyi beep yang berulang menyentakkan kesadarannya. Taeyeon segera mengusap airmata yang tanpa sadar telah membasahi kedua pipinya, lalu meraih benda elektronik mungil yang berada di samping jam kecilnya. Matanya seketika mengerjap karena kaget, kemudian mengernyit saat membaca isinya.

Nona Kim, kau harus sudah berada di apartemenku tepat jam 6.

 

Taeyeon merasakan perutnya bergolak seiring debaran dalam dadanya oleh perasan tak menentu. Semenjak bekerja dengannya, Sehun selalu memanggilnya dengan nama belakang dan sebuah tambahan kata ‘nona’ di depan. Awalnya ia merasa risih dan sedikit tidak nyaman dengan panggilan itu karena terdengar asing, namun mengingat perlakuan acuh tak acuh Sehun padanya sejak pertemuan mereka, ia tidak punya alasan untuk tidak membiarkannya. Sehun sepertinya memang sengaja ingin membangun jarak di antara mereka dengan bersikap secara profesional dalam pekerjaan, termasuk bersikap pura-pura tidak mengenalnya bila mereka berada di depan orang banyak. Taeyeon sadar, Sehun melakukan semua itu kemungkinan adalah untuk membalasnya, belakangan diketahuinya, tindakannya bukan lagi sebagai pembalasan tapi sudah menjadi kebiasaan.

Sudah lebih dari seminggu sejak kejadian di apartemen Sehun waktu itu tapi Taeyeon masih sulit menepisnya dari ingatan. Setiap kali bayangan itu muncul menggodanya, mukanya langsung memanas dan seperti bergerak sendiri, ujung jarinya otomatis menyentuh bibirnya. Seharian itu Taeyeon memikirkannya, mengapa ia membiarkan Sehun menciumnya dan mengapa ia dengan berani membalas ciumannya? Pada akhirnya ia tak bisa menemukan jawaban hanya jantungnya saja yang berdebar-debar.

Saat itu, daripada marah kepada Sehun, Taeyeon lebih marah pada dirinya sendiri. Ia merasa tidak memiliki harga diri menyadari Sehun hanya mempermainkannya dan menggunakan kelemahannya sebagai alat balas dendam. Padahal yang sejujurnya, di dalam hati kecilnya, Taeyeon sedikit mengharapkan ciuman itu bukan sekedar bagian dari permainan. Akan tetapi, setelah memikirkannya kembali, Taeyeon tidak ingin lagi memiliki keyakinan itu.

Siapa dirinya? Bagaimana bisa ia begitu berani mengimpikan hal mustahil semacam itu?

Senyuman pahit terulas di bibir Taeyeon. Ia sama sekali tidak pantas mendapatkannya lagi. Sehun pasti akan memandangnya rendah bila mengetahui ini. Taeyeon mencemooh dirinya, begitu menyedihkan, ia hampir saja mempermalukan dirinya lagi lebih dari sebelumnya.

Berbeda dengannya hari itu, Sehun bersikap seolah tak pernah terjadi apa-apa. Bukan hanya satu hari bahkan sampai sekarang pun sikapnya tidak berubah. Selalu dingin terhadapnya. Taeyeon bisa mengerti mengapa Sehun melakukannya, ia juga tidak mengeluh. Fakta bahwa Sehun memang sungguh-sungguh membencinya diterimanya dengan lapang dada. Meski begitu, Taeyeon tidak menampik ada bagian lain dalam dirinya terluka karenanya.

Selama bekerja pada Sehun, sedikit demi sedikit Taeyeon mengetahui seberapa besar perubahan pria itu. Selain penampilannya, gaya hidupnya pun cukup mengejutkan. Taeyeon tidak begitu menyukainya. Setiap kali ke apartemen pria itu, selalu tercium bau alkohol yang menyeruak dari dalam. Tidak hanya sampai disitu, seringkali ia juga menemukan seorang gadis yang berbeda setiap harinya. Entah gadis itu masih memakai bathrobe atau berpakaian lengkap dengan dandanan yang sudah agak berantakan setebal apapun ia menyamarkannya, atau melihatnya hanya memakai baju dan celana dalam.

Taeyeon bahkan pernah memergoki mereka sedang di tengah-tengah proses hubungan intim. Itu terjadi dua kali. Sebenarnya hari itu bukan sepenuhnya kesalahannya karena Sehun sendiri sudah memberikan kode kunci apartemen padanya. Sehun hanya menyuruhnya segera datang dengan ancaman akan melaporkannya pada manager bila ia menolak. Alhasil begitu tiba ia otomatis mendengarkan semuanya. Ada perasaan tidak mengenakkan yang mendadak mengusik ketika melihat gadis itu keluar dari kamar, namun Taeyeon mencoba tidak memikirkannya. Yang kedua kalinya, itu terjadi saat ia sedang berada di kampus. Taeyeon tidak sempat memikirkannya apakah Sehun sengaja mengerjainya atau ia hanya tidak beruntung, kejadian yang pertama kembali terulang. Suara erangan dan jeritan gadis yang bersama Sehun di kamar semakin intens hingga membuatnya merasa tidak nyaman terus berada di depan TV. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar sebentar dan kembali saat mereka telah selesai, tetapi setelahnya, ia tahu dengan pasti, ia tidak akan semudah itu melupakan apa yang sudah terjadi.

Taeyeon tak habis pikir bagaimana para gadis itu bersikap biasa saja seperti tidak memiliki rasa malu sedikitpun padanya. Padahal kalau dipikirkan kembali, mereka rata-rata berprofesi sebagai model yang sepengetahuannya harus menjaga imej dan tampil berkelas, tidak murahan seperti yang terlihat. Ada juga sebagian di antaranya masih kelihatan seperti mahasiswa tapi sikap mereka tidak berbeda jauh. Walaupun Sehun seringkali bersikap dingin, mereka tidak menunjukkan protes yang berarti. Taeyeon berusaha tidak memperlihatkan ketidaksukaannya dan bersikap diam atau berbicara seperlunya bila gadis-gadis itu bertanya tentangnya. Tak sedikit dari mereka yang memberinya tatapan tajam dan bersikap kasar, mungkin saja karena mencemburui kehadirannya yang otomatis secara tidak langsung dianggap menganggu. Pertama kali memang sangat sulit beradaptasi dan ia hampir menyerah, akan tetapi seiring waktu Taeyeon mulai terbiasa. Ia tidak segan berdebat dengan para gadis itu jika mereka meremehkannya atau mengejeknya dengan kata-kata kasar serta tatapan sinis.

Dari hasil pembicaraan yang tidak sengaja terdengar olehnya, Taeyeon baru mengetahui bahwa Sehun tidak pernah memberikan bajunya kepada gadis manapun yang pernah tidur dengannya. Ia pernah melihat buktinya, salah satu gadis terlihat keluar dari kamar Sehun dengan wajah kesal. Ia tidak perlu menebak apa yang terjadi karena telinganya telah mendengar semua pembicaraan mereka. Sehun membentak gadis itu karena masuk ke kamarnya tanpa izin dan memakai bajunya.

Selain itu, Sehun juga tidak pernah membiarkan mereka berada lama-lama di apartemennya. Ia selalu mengusir mereka dengan kalimat kasar yang menusuk serta wajah dingin yang selalu berhasil membuat gadis-gadis itu ciut. Mungkin terlihat sedikit kejam tapi Sehun kelihatannya tidak begitu peduli walaupun sebagian dari mereka sempat tertangkap olehnya menitikkan air mata karena perlakuannya. Saat itu Sehun hanya tersenyum dingin sebelum kembali pada ekspresi datarnya.

Taeyeon menggeleng-gelengkan kepalanya menepis lamunannya. Ia kembali menatap layar ponsel sambil menimbang-nimbang dalam hati. Jujur saja, ia tidak ingin mendengar lagi suara-suara aneh yang datang dari kamar Sehun. Itu membuatnya sedikit trauma. Setelah memutuskan apa yang ingin dilakukannya, ia segera mengetik balasannya.

Jadwal pemotretanmu baru akan dimulai jam 8. Aku akan kesana satu jam sebelumnya.

Taeyeon menunggu. Tidak ada balasan, sebaliknya ponselnya tiba-tiba berdering. Terlonjak, matanya mengerjap karena terkejut. Sehun menelponnya! Tanpa menunggu lebih lama ibu jarinya langsung mengusap layarnya sebelum menempelkan ponselnya ke telinganya.

“h-halo.” Taeyeon menjawab dengan gugup. Pertama kalinya Sehun menelponnya setelah selama ini selalu melalui pesan, rasanya sedikit aneh.

“apa kau berniat menolakku?” Suaranya terdengar agak parau namun penuh kesan mendesak.

Alis Taeyeon bertaut. “aku tidak punya alasan untuk tinggal lebih lama. Bukankah biasa—”

“kau harus datang.”

Sekilas raut heran tergambar di wajah Taeyeon. “aku akan menjemputmu jam 7, tidak kurang dari itu. Berhentilah memerintah orang seenaknya, aku bukan pembantumu!” Serunya mulai jengkel.

Tawa pelan terdengar di seberang sana sebelum diikuti kalimat sinis. “kau bekerja padaku jadi sudah seharusnya kau mengikuti perintahku. Atau kau ingin mencari pekerjaan lain, Nona Kim? Aku bisa membantumu dengan itu.”

Taeyeon menggertakkan gigi menahan geram. *seenaknya saja menyuruh orang. Dia pikir siapa dia berani mengancamku?!*

“maaf, aku tidak bisa kali ini. Ada urusan penting yang harus kukerjakan.” Taeyeon memberi alasan, dalam hati berusaha tetap tenang meskipun kenyataannya ia ingin sekali meneriakinya.

“ah, lebih penting dari pekerjaanmu? Aku mengerti.”

Mata Taeyeon membulat, “Yah Seh—”

Klik.

Sehun tiba-tiba saja memutuskan sambungan teleponnya. Taeyeon tercengang menatap layarnya tak percaya. Wajahnya berubah kelam penuh kemarahan.

*lihat saja, aku tidak akan datang!* Dengusnya kasar. Ia menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya sambil mencoba melupakan pembicaraan mereka tadi.

– – –

“selamat pa—eh, sudah mau berangkat?” Jessica yang hendak membuka lemari es langsung mengerutkan keningnya begitu melihat Taeyeon sudah berpakaian rapi. Blus putih berpasangan dengan rok corak biru berenda yang sepadan sementara rambutnya yang tidak begitu panjang diikat rapi menyisakan poni.

Taeyeon enggan menjawabnya hanya mengangguk tanpa semangat sambil duduk di salah satu kursi. Dua potong sandwich sederhana telah siap di atas mejanya bersama segelas susu yang baru saja dituang Jessica. Taeyeon meminumnya perlahan setelah sebelumnya mengumamkan terima kasih.

“kukira kau akan berangkat jam 7.” Jessica sekilas menoleh ke belakang kemudian kembali sibuk memotong sayuran dan beberapa buah.

Helaan nafas yang terdengar membuat Jessica menghentikan kegiatannya sejenak. Keningnya berkerut mengamati gadis yang baru saja selesai menggigit sepotong sandwich sarapannya.

“tadinya begitu.” Wajah Taeyeon menunjukkan kebosanan. Jika Sehun tidak menelponnya tadi pastilah sekarang ia masih menikmati waktunya di kasur kesayangannya. Tapi kalau dipikir-pikir, sikap Sehun tadi sedikit aneh. Suaranya juga kedengaran sedang tidak sehat. Apa terjadi sesuatu padanya? Taeyeon tidak bisa tidak mengkhawatirkannya, seolah sudah menjadi kebiasaannya. Ia terlalu sibuk merenung sampai tidak sadar Jessica masih memperhatikannya.

“ah…” gadis itu akhirnya paham. Diam-diam tersenyum geli. Setelah mengamati ekspresi Taeyeon, rasanya tidak sulit menebak apa yang sedang terjadi. “kau tahu, kau bisa saja menolak.” Ujarnya acuh.

Taeyeon mendengus sebelum merotasikan bola matanya. “lihat siapa yang bicara. Bisa-bisa kau menceramahiku lagi karena tidak bertanggung jawab.”

“well, kau selalu mengalah padanya.”

“yeah dengan senang hati tentu saja.”

Jessica membawa sebelah kepalan tangannya ke depan bibirnya sambil tertawa tertahan memahami ucapan sinisnya.

“itu bahkan tidak lucu.” Gerutu Taeyeon. Ia hampir menghabiskan seperempat sarapannya ketika mendengar Jessica berbicara lagi.

“akhir-akhir ini kuperhatikan, kau tidak seperti Taeng yang biasanya.”

Taeyeon mengerutkan kening tak paham. “dan maksudmu dengan Taeng yang biasanya?”

“kelihatannya kau kewalahan menghadapi Sehun. Terbukti dengan beberapa kali ia mengancammu dan kau hanya diam saja.”

Taeyeon membeku. Kepalanya menunduk lunglai, tidak mampu membela diri.

“entahlah Taeng, dengan Woobin kau bisa bekerja sama dengan baik, tapi dengan Sehun,” Jessica menggeleng pelan, “nampaknya kalian tidak bisa akur. Seperti ada dinding pemisah yang kokoh diantara kalian berdua.”

Taeyeon tersenyum pahit. “apalagi yang bisa kulakukan.” Ucapnya setengah berbisik.

Jessica terlalu sibuk hingga tidak begitu menaruh perhatian pada apa yang baru saja ia ucapkan.

“kau bilang apa barusan?” Jessica menoleh.

Taeyeon buru-buru menggeleng dan tersenyum. “bukan apa-apa.”

Dalam hati ia menghela nafas lega karena Jessica kembali memunggunginya. Selain ancaman Sehun, ia tidak pernah menceritakan apapun yang terjadi selama berada di apartemen pria itu. Karena iapun jarang berada di rumah begitupun Jessica, mereka hanya sempat bertemu malam hari saat menjelang tidur, jadi ia tidak ingin membebani gadis itu dengan menceritakan seluruh masalahnya.

“lalu, apa yang akan kau lakukan pada Sehun?”

Taeyeon tersentak, buru-buru memperbaiki ekspresi mukanya. “apalagi? Aku tidak punya pilihan lain selain mengikuti kemauannya. Toh manager memberikan tanggung jawab ini padaku.” Jawabnya berusaha tenang.

“maksudku bukan begitu. Aish!” Raut wajah Jessica kelihatan putus asa. Tetapi kemudian, gadis itu menghela nafas panjang sebelum menatapnya. “atau kau memang yang sengaja ingin menyerah padanya. Terlihat dari wajahmu.”

Wajah Taeyeon seketika menghangat. “Yah, jangan menatapku seperti itu!” Mendadak ia tidak bisa membalas tatapan Jessica yang seolah mengetahui segalanya. Ugh, mengapa sahabatnya itu harus mencoba menebak pikirannya. “sudah kubilang, aku tidak punya pilihan lain.”

Tapi melihat reaksi Jessica yang mengangguk dengan senyuman terkulum, Taeyeon sadar jawabannya tidak mudah diterima begitu saja oleh gadis itu. Mungkin ia harus lebih berhati-hati mulai dari sekarang mengetahui Jessica pasti tidak akan membiarkannya lolos bila penyakit ingin tahunya itu berkembang.

“aku tidak akan membahasnya.” Taeyeon melotot memperingatkan.

Jessica mengangkat bahu sebelum kemudian duduk dihadapannya. Taeyeon terhenyak, mulutnya membuka memandangi mangkuk di depan gadis itu. Sudah ia duga, kesibukannya tadi pastilah untuk melakukan itu.

Hanya sayuran dan buah. Sama sekali bukan jenis sarapan yang akan disentuhnya. Taeyeon membatin. Akan tetapi, ia masih tidak mengerti, setelah tiga bulan berlalu, Jessica kini kembali menyentuhnya.

“kau…tidak akan memakan itu ‘kan?” Tanyanya seraya menaikkan sebelah alis.

“ini?” Jessica melirik mangkuknya, seketika wajahnya berubah muram. Gadis itu menghembuskan nafasnya kasar sebelum mengerucutkan bibirnya. “beratku naik 2 kg pagi ini.” Ujarnya dengan dramatis.

Taeyeon berlagak bergidik. Melihat bagaimana Jessica memakannya membuatnya ingin muntah. Oh ayolah, ini bukan berarti ia membenci sayuran ataupun buah-buahan, tapi bisakah kedua jenis itu tidak dicampur dalam keadaan mentah? Ia heran mengapa para model suka sekali menyiksa tubuh mereka hanya karena ingin menjaga bentuk tubuh.

“kau tidak akan gemuk hanya dengan 2 kg.”

“no.no.no.” Jessica menggeleng tak setuju. “jika 2 kg ditambah 2 kg lagi, aku yakin badanku pasti melar. Bikini yang kubeli bulan lalu sudah tidak muat.”

“kau yakin?” Taeyeon memicingkan mata. Terkadang teori Jessica terlalu berlebihan dan reaksinya terhadap sesuatu agak tidak masuk akal. “itu mungkin hanya baby fat.”

“baby fat atau bukan, itu membuatku tidak nyaman.”

Taeyeon menggeleng-gelengkan kepalas, akhirnya menyerah. Jessica sudah kembali asyik dengan sarapannya sembari sesekali tersenyum lebar memperlihatkan giginya bila ia melihat ke arahnya dengan pandangan ngeri.

“kukira kekasihmu tidak suka kalau kau terlalu kecil.”

Senyum Jessica seketika terhapus, tangannya terhenti membuat sendok yang tadinya hendak masuk ke dalam mulutnya, menggantung sebelum tersentuh. Pelan-pelan ia menurunkannya kembali seraya kemudian menghela nafas panjang.

“memang benar.” Ia mendorong mangkok menjauh dari hadapannya. “aku sudah tidak berselera lagi.” Gumamnya.

Taeyeon menjadi merasa bersalah.

“kau tidak kerja?”

“tidak juga. Aku ada kencan hari ini.”

Taeyeon mengerjapkan mata, sedikit merasa ganjil, senyuman Jessica mendadak melebar dengan sinar mata yang berbinar.

“aku akan menginap di tempatnya.” Bisik gadis itu menambahkan dengan senyum malu-malu.

Taeyeon nyaris tergelak bila saja tidak mendapat tatapan tajam darinya. “baguslah. Terima kasih Tuhan, kalian tidak menginap disini.”

Terakhir kali rasanya sudah lama sekali, Jessica dan kekasihnya menginap membuatnya harus mendengarkan suara-suara aneh. Yah, kau tahu apa yang terjadi bila dua orang yang sedang dimabuk asmara berduaan di dalam kamar apalagi sampai menginap. Dan setahunya, Jessica tidak sepolos itu begitupun kekasihnya. Beruntung waktu itu Woobin menelponnya, jika tidak, ia mungkin akan menghabiskan waktunya seharian mendengarkan musik lewat earphone hanya agar tidak mendengar suara Jessica yang terbilang cukup keras.

Wajah Jessica langsung merah padam. Seketika mendaratkan pukulan ringan di lengan Taeyeon yang setelahnya membuat gadis itu meringis.

“kau seharusnya segera mencari pria yang baik.”

“belum berminat.” Taeyeon mengibaskan tangannya acuh.

“atau kau ingin aku memperkenalkanmu pada beberapa kenalanku?”

“maksudmu teman yang pernah tidur denganmu?”

“yeah, sebentar lagi pasti akan menjadi teman tidurmu jika kau tidak memasang ekspresi jutek pada mereka.” Jessica menjawab sinis sebelum memutar bola matanya.

“tidak, terima kasih. Aku akan mencari yang lebih sehat.”

Taeyeon hampir tersedak oleh susu yang baru diminumnya ketika Jessica kembali menggunakan tangannya. “Yah! Berhentilah menggunakan kekerasan!”

“dan kau berhentilah bercanda.” Jessica melotot sangar.

Taeyeon memberikan cengiran lebar sambil menaikkan dua jari membentuk tanda V yang akhirnya membuat Jessica menghela nafas pelan kemudian menggeleng.

“lagipula, aku tidak percaya dengan teman-temanmu. Serius, yang mereka inginkan hanyalah seks. Itu sedikit…” Taeyeon berpikir sejenak mencari kata yang tepat.

“apa salahnya dengan itu?” Tapi Jessica memotongnya. Gadis itu mendadak serius. “pikirkan kembali, kau belum menikah, umurmu sebentar lagi 25 dan kau masih perawan. Itu sangat disayangkan.”

“Hei!” muka Taeyeon panas. “asal kau tahu saja, aku belum ingin memikirkan tentang pernikahan. Kau pikir menikah itu gampang? Lagipula aku masih jauh dari 25 tahun.”

“tidak ada bedanya. Tinggal setahun lagi ‘kan?”

Taeyeon mendecak kesal tapi melanjutkan, “dan mengenai keperawananku,” sebenarnya malu sekali rasanya membicarakan hal-hal pribadi seperti ini, tetapi ia tidak bisa menolak bila Jessica sudah menatapnya dengan pandangan menodong. Ia pun berdehem sebentar sambil menegakkan bahunya, “aku tidak ingin membahasnya.” Ujarnya tenang, sayangnya gagal menyembunyikan semburat merah di pipinya.

“omo! Jangan-jangan…” Jessica menahan nafas. Mata membelalak dramatis. “jangan katakan…apa kau sudah pernah melakukannya? Dengan Hongbin? Yah! Waktu itu kau bilang belum pern—”

“aku belum pernah melakukannya dengan Hongbin. Jeezz.” Taeyeon langsung memotongnya, dalam hati mengumpat kesal. Mengapa mereka harus membahas topik ini sekarang. “aku tidak ingin membicarakan masalah pribadiku jadi berhentilah menatapku seperti itu!”

Jessica memicingkan mata, menatap penuh curiga membuat Taeyeon menjadi terdesak.

“aku merasa seperti seseorang yang baru saja tertangkap basah.” Gumamnya, akhirnya menghela nafas menyerah. Ia berlagak cemberut meski sebenarnya dalam hati ia berharap Jessica tidak menanyainya lebih lanjut.

“jadi, siapa yang pertama bagimu?” Masih dengan tatapan yang sama, Jessica sepertinya tidak ingin membiarkannya lolos.

“Jessie~” Taeyeon memelas.

“Hei aku serius. Lagipula aku juga penasaran seperti apa hubungan pertamamu, soalnya kau selalu terlihat seperti perawan suci setiap mengomeliku.”

“mana pernah aku seperti itu!” Bantah Taeyeon cepat. Jessica hanya memberinya cengiran lebar. “kau sengaja ingin mengejekku ‘kan?” Taeyeon bertanya dengan sebelah alis terangkat, mengantisipasi jawaban yang sudah jelas sambil melipat tangan.

“dengar Taeyeon,” Jessica mencondongkan tubuhnya ke depan dan berbicara dengan suara pelan, “sebagai orang terdekatmu dan juga yang tinggal denganmu, setidaknya kau memberitahuku sedikit rahasiamu.”

“woah, tunggu sebentar.” Taeyeon menjauh seraya menatap gadis itu dengan pandangan tak percaya, “kemana arah pembicaraan kita sekarang? Kau tidak sungguh-sungguh ingin tahu bagaimana kehidupan seksku ‘kan? Yah Jessica!”

“tsk.” Jessica mencibir. “kau curang. Selama ini hanya aku saja yang selalu cerita padamu sementara kau sendiri selalu setengah-setengah.” Wajahnya cemberut.

Taeyeon memutar bola matanya, sudah tahu kalau ekspresinya sengaja dibuat-buat. Jessica memiliki kebiasaan memaksa seseorang dengan cara mengeluarkan aegyo yang menurutnya sama sekali tidak menggemaskan.

“kau sendiri ‘kan yang mau menceritakannya padaku. Aku tidak pernah memintanya. Jangan memandangku sepertinya aku yang salah.” Taeyeon menambahkan segera sebelum Jessica sempat memotongnya.

“tapi aku benar-benar ingin tahu, Taeng. Ceritakan padaku~ya~ya~ya?” Jessica mengerucutkan bibirnya sambil memasang wajah sememelas mungkin, kedua tangan saling menyatu di bawah dagu.

“kau tahu ‘kan aku tidak akan terpengaruh dengan itu.”

Bahu Jessica langsung merosot. Usaha memperoleh informasi akhirnya gagal.

“kau sungguh tidak ingin bercerita?”

“kau benar-benar tidak menyerah yah.” Taeyeon mau tidak mau tersenyum geli melihat raut depresinya.

“pelit sekali.” Jessica memberenggut kesal. “aku tidak ingin berbicara denganmu lagi. Jangan menyapaku karena aku tidak akan menjawab.”

“jadi begitu?” Taeyeon senyum-senyum. Jessica memalingkan muka. “hm, jam berapa kau akan pergi berkencan?”

“Yongguk menjemputku jam 10—” Jessica menekan bibirnya rapat-rapat, sadar yang baru saja ia katakan. “sudah kubilang jangan bicara dengaku.” Tatapannya tajam yang entah bagaimana tidak begitu menakutkan bagi Taeyeon.

Gadis itu hanya berusaha menahan tawa. Bisa gawat kalau Jessica benar-benar marah padanya karena ia menertawainya.

“kau sungguh ingin tahu?”

Mendengar suara pelan dari pertanyaan itu, Jessica seketika mengalihkan pandangan, tetapi tatapannya berubah heran kala melihat perubahan air muka Taeyeon. Gadis itu hanya menundukkan kepala menatap piringnya yang telah kosong dengan raut getir, tidak ada kilauan di matanya hanya menunjukkan kepedihan yang mendalam, seolah cerita yang sebentar lagi akan keluar dari mulutnya akan membuat dirinya sendiri tidak nyaman.

“kau tidak perlu memaksakan diri.” Jessica pun berujar.

Taeyeon mengangkat wajahnya. Tatapan Jessica padanya menyiratkan pemahaman. Namun Taeyeon menggeleng pelan sembari tersenyum tipis.

“aku jadi merasa bersalah.”

Taeyeon terkekeh mendengarnya. Walaupun Jessica sempat cemberut, setelah melihat Taeyeon kembali ceria, iapun akhirnya ikut tersenyum senang. Tetapi itu tidaklah lama, raut muka Taeyeon kembali serius.

“aku tidak pernah menceritakannya pada siapapun. Alasannya sudah jelas, aku takut pada pandangan orang-orang jika mereka sampai mengetahuinya.”

Jessica mengangguk paham.

“mungkin hari itu adalah sebuah kesalahan.” Taeyeon tersenyum pahit sambil dengan gugup meremas jari-jari tangannya di atas meja. “aku masih meyakininya hingga saat ini, seharusnya kami tidak melakukannya.”

Kening Jessica sekilas berkerut tetapi tetap diam mendengarkan.

“hubungan pertamaku…” Taeyeon memulai. Jessica memasang telinga dengan raut serius membuat Taeyeon sempat terkikik melihatnya sebelum melanjutkan, “waktu itu kami masih sangat muda. Mungkin sekitar 4 atau 5 tahun yang lalu?” Ia tidak begitu yakin tepatnya.

“what?!” Mata Jessica membulat lebar. “itu sudah sangat lama!”

“Aish, kau tidak perlu seheboh itu!”

“lalu? Apa yang terjadi? Maksudku, kalian melakukannya dimana?” Jessica bertanya antusias. Senyuman lebar yang nakal tidak pernah terhapus dari wajahnya.

Oh, Tuhan.

Inilah yang Taeyeon takutkan. Penyakit ingin tahu Jessica semakin berkembang pesat. Mungkin seharusnya ia tidak usah cerita saja.

“hubungan intim dengan pria sebelum menikah, aku tidak pernah membayangkannya sampai aku melakukannya dengan dia.” Ingatan mengenai kejadian saat itu melintas, Taeyeon kemudian menarik nafas dalam-dalam, mendadak merasa sesak. “setelah ujian penaikan kelas berakhir, aku sudah menyetujui akan pergi kencan dengannya sekaligus merayakan hari jadi hubungan kami. Dia membawaku mengunjungi ibunya dan kami menginap semalam disana. Tadinya kupikir tidak akan terjadi apapun di antara kami, tetapi waktu itu hujan sangat deras, aku juga ketakutan karena lampu tiba-tiba mati…”

“aww, cerita yang klasik.” Jessica menggodanya dengan senyuman jenaka.

“kau tahu sendiri aku paling benci dengan dua hal itu.” Taeyeon mencoba menjelaskan diri.

“tapi kau menyukai hujan. Kukira.”

“tidak di malam hari.”

“aku mengerti. Lalu apalagi yang tersisa?”

Pipi Taeyeon merona merah.

Jessica terkikik, “kau pasti membayangkannya sekarang.”

Taeyeon mendorong lengannya sambil tersipu malu. Jessica hanya mengulum senyum geli melihatnya salah tingkah, betapa ia berusaha keras bersikap wajar tapi gagal.

“jujur saja, semua karena kesalahanku. Aku terus memeluknya dan tidak berani melepaskannya, jadi terkesan aku yang merayunya.”

“itu masuk akal.” Jessica manggut-manggut setuju. Gadis itu lalu menatapnya lekat-lekat, terlalu bersemangat bagi seseorang yang sekedar ingin tahu. “jadi dia menyerangmu?” Entah bagaimana, Taeyeon merasa seringaian samar di bibirnya itu ditujukan untuk menggodanya.

“dan aku tidak bisa melawannya.” Bisik Taeyeon pelan dengan semburat merah yang kian kentara di mukanya. Mungkin ia tak bisa lagi menceritakan secara detail mengenai yang terjadi waktu itu. Ia menyadari setiap rahasia memilki ruangnya masing-masing, tidak mungkin ia membeberkan seluruhnya pada Jessica. Lagipula ada beberapa hal yang tak perlu gadis itu tahu.

“jadi seperti apa dia? Apa dia sangat hebat?”

Pertanyaan Jessica menyentakkan Taeyeon dari lamunannya. Gadis itu terkejut sambil memberikan tatapan tajam ‘apa kau harus menanyakan pertanyaan macam itu?’

Meski begitu Jessica hanya mengibaskan tangan dengan acuh seolah tidak terpengaruh.

“aku ingin tahu siapa pria beruntung yang berhasil mengambil perawanmu, dan juga, seperti apa dia di ranjang. Apa dia sangat hebat? Apa dia memuaskan? Kau tidak bisa menyerahkan keperawananmu pada pria yang tidak terlatih.”

“Yah!!!”

Jessica berlagak menutup telinga mendengar seruannya. Muka Taeyeon merah padam dan kalau saja Jessica bisa melihat, ada bayangan asap yang keluar dari telinga gadis itu.

“ok.ok.ok aku minta maaf!” seru Jessica buru-buru meminta maaf.

Taeyeon mendengus pelan, “kau membuatku terdengar seperti gadis murahan.” Gumamnya setengah kesal.

Jessica tersenyum kecut. “aku hanya penasaran. Eh tunggu, kalau sekitar itu, berarti kau di tingkat 3 ‘kan? Usiamu juga masih 19 tahun.”

Taeyeon agak kaget tapi mengiyakan dengan anggukan.

“jadi seperti apa dia? Maksudku kepribadiannya.” Jessica buru-buru melarat begitu mendapat tatapan laser.

Raut wajah Taeyeon tiba-tiba berubah. “dia pria yang pemalu dan romantis.” Ia tersenyum tipis. “yang kutahu dia sangat menyukaiku.”

Entah bagaimana Jessica menjelaskannya, meski tersenyum cerah seperti itu, Taeyeon kelihatan berbeda dari beberapa saat yang lalu ketika ia mulai menceritakan hubungannya dengan pria itu. Sepintas ia merasa Taeyeon tidak berada bersamanya. Pandangannya kosong.

“hei, ada apa? Apa pria itu menyakitimu?”

Taeyeon menggeleng pelan. “malah sebaliknya.”

“itukah mengapa sejak awal kau kelihatan gugup saat menceritakannya padaku?”

Mata Taeyeon mengerjap kaget, buru-buru menggelengkan kepalanya. “ahhaha, tidak seperti itu! Itu bukan apa-apa!” ia terus melambaikan kedua telapak tangannya dengan mimik panik.

Jessica mengernyit, sudah jelas gadis itu tidak akan menerima jawabannya dengan mudah. Tingkahnya terlalu mencurigakan. Bagaimana tidak, Taeyeon kelihatan seperti ingin menangis meski gadis itu berusaha menutupinya dengan senyuman lebar. Tidak tahukah gadis itu kalau senyumnya sangat kaku? Jessica mencemaskannya.

Taeyeon melirik jam tangannya.

Sudah terlambat 20 menit.

Seolah mengerti, Jessica ikut melirik. “Sehun pasti sudah menunggumu.”

Taeyeon mengecek ponselnya. Tidak ada satupun pesan atau panggilan. Ia lalu beranjak berdiri. “aku berangkat sekarang.”

– – –

Taeyeon menghela nafas dalam-dalam sebelum menghembuskannya pelan. Ia sudah berdiri di depan pintu sejak beberapa menit yang lalu, tetapi tidak yakin bisa mengarahkan ujung telunjuknya untuk menekan tombol kecil itu. Kaki dan tangannya seolah kaku ketika mendadak ia merasa gugup. Sepanjang perjalanan menuju kemari hatinya tidak tenang. Ia sendiri tidak tahu alasannya dan hanya berdiam diri malah membuatnya semakin risau.

Setelah sekian menit berdebat dengan pikirannya, Taeyeon mengangguk mantap pada dirinya.

Hening.

Taeyeon menunggu. Setelah beberapa saat kemudian, pintu pun terkuak lebar memperlihatkan Sehun dengan pakaian santainya. Taeyeon berdiri kikuk.

“kau akhirnya datang.” Sehun berdiri bersandar pada sisi pintu sambil melipat tangan. Pria itu hanya menatapnya. Ekspresi wajahnya sulit dibaca, namun entah bagaimana, bagi Taeyeon terasa seolah pria itu sedang menunjukkan kebanggaan karena telah berhasil membuatnya memenuhi keinginannya tanpa perlu mencoba lebih keras.

*itu karena kau yang menyuruhku!* Ia lagi-lagi tak bisa menolaknya.

Taeyeon kadang tidak menyukai keangkuhannya, apa boleh buat, Sehun memang selalu seperti ini orangnya. Ia pun berdehem, buru-buru memperbaiki sikap. Setidaknya ia harus memperlihatkan wibawanya. Tetapi sesaat, keningnya berkerut saat matanya secara sengaja mengamati ruangan di belakang pria itu.

“mau sampai kapan kau berdiri disitu?” Sehun melirik dari bahunya. Tahu-tahu pria itu sudah berada jauh dari pintu.

Taeyeon tersentak dari lamunan. “ah, maaf.” Setelah menutup pintu di belakangnya, ia mengikuti Sehun ke ruang TV.

Ada sesuatu yang berbeda dengan Sehun hari ini. Wajahnya kelihatan pucat dan terlihat lesu. Taeyeon baru menyadarinya setelah melihat pria itu duduk di sofa. Tadinya ia berpikir mungkin pria itu tidak sehat, tetapi wajah stoic yang ia perlihatkan membuat dirinya tidak yakin.

“mengapa kau menyuruhku datang secepat ini?” Taeyeon memulai pembicaraan. Dari tadi ia hanya berdiri kaku tak jauh di dekatnya. Biasanya tanpa disuruh pun ia pasti akan duduk, sekarang suasana hatinya sedang buruk dan berhadapan dengan pria itu secara langsung tidak membuatnya membaik.

Anehnya, Sehun tidak mengatakan apa-apa sejak mereka berada dalam satu ruangan selain hanya memandangi layar di depan dengan pandangan kosong. Ia tahu menanyakan alasannya hanya sia-sia saja karena sepengetahuannya, Sehun tidak pernah memberikan alasan yang sebenarnya pada setiap tindakan yang ia lakukan.

Tidak mendapat tanggapan yang pasti, Taeyeon menyerah dan memutuskan melihat sekelilingnya saja.

*mungkin gadis itu sudah pulang* Pikirnya yakin setelah tidak menemukan tanda-tanda keberadaan orang lain selain mereka berdua di ruangan itu.

“kau terlambat 40 menit.” Suara Sehun menyela pikirannya. “ini bukan jam sibuk.”

Taeyeon teringat pembicaraannya dengan Jessica sebelum kemari. “aku juga punya urusan yang mesti kulakukan.”

“kau hanya mencari alasan.”

Taeyeon mengernyitkan kening mendengarnya. “aku tidak perlu mencari alasan, lagipula ini belum jam kerjaku.”

“kau lupa apa yang tertulis di kontrak kita, Nona Kim?”

Taeyeon tersentak, raut wajahnya berubah muram. “kau tidak perlu setiap saat mengingatkanku pada isi kontrak itu.” Ujarnya menahan geram.

Sehun menyeringai sinis. Taeyeon mengalihkan pandangan, diam-diam memandangi Sehun sekali lagi. Mengapa tiba-tiba pria itu menjadi pendiam? Matanya lantas membulat lebar.

“apa kau sakit?” Tergopoh-gopoh Taeyeon mendekat. Ia hendak meletakkan tangannya di atas kening Sehun tapi pria itu menepisnya kasar.

“kau rupanya sangat suka menyentuh orang tanpa izin. Sudah berapa kali kukatakan, aku tidak suka kau menyentuhku.” Tatap Sehun dingin. Rahangnya mengencang oleh amarah yang entah muncul darimana.

“a-aku hanya ingin membantu.”

“tidak perlu. Aku baik-baik saja.” Kali ini Sehun menjawab lirih. Ia mencoba bangkit hanya untuk jatuh kembali.

“biarkan aku membantumu!” Tanpa sadar Taeyeon meninggikan suaranya saat Sehun hendak menolaknya lagi. “tubuhmu masih lemah, jika kau tidak mengizinkanku menyentuhmu, setidaknya jaga dirimu baik-baik!” Tatapnya sengit.

Sehun agak terkejut mendengar kalimat blak-blakannya.

“karena disini, hanya aku yang bisa membantumu. Atau kau ingin aku menghubungi ambulans?” Taeyeon menantangnya jika sampai Sehun tetap tidak mau dibantu.

“kau pasti sangat bangga karena sudah mengenalku dengan baik, Nona Kim.”

Taeyeon sejenak membungkam, tetapi jantungnya di dalam sana berdebar-debar. Sehun tidak menyukai ambulans termasuk pergi ke rumah sakit, ia tahu itu dengan pasti. Untungnya Sehun tidak mengatakan apa-apa lagi setelah itu. Pria itu bersandar pada sofa, sebelah lengannya berada di atas keningnya lalu ia memejamkan mata.

“astaga, badanmu panas sekali.” Taeyeon tidak perlu lagi meraba keningnya karena hawa panas dari kulitnya sudah memberitahu semuanya. “apa kau sudah minum obat?”

“sudah kubilang aku tidak membutuhkannya.” Masih dengan mata terpejam, Sehun rupanya tetap keras kepala.

Taeyeon ingin sekali menjitak kepalanya. *bahkan dalam keadaan sakitpun kau masih sangat menjengkelkan* gerutunya dalam hati.

“kau memang tidak, tapi tubuhmu yang mem—”

“aku tidak butuh perhatianmu!”

Taeyeon terlonjak dengan mata membulat lebar. Sehun tiba-tiba membentaknya. Mata pria itu memandangnya nanar, wajah dipenuhi aura kelam. Untuk alasan yang tak ia ketahui, Taeyeon tidak menyukai situasi ini. Sehun berteriak dengan suara keras padanya sama sekali bukan yang ia harapkan.

“baik.” Taeyeon bangkit dari tempatnya dan berbalik. Matanya mulai menghangat tapi ia berusaha tegar. “jika itu yang kau inginkan, aku tidak akan memaksa lagi. Tapi kau harus menjaga kesehatanmu. Banyak yang dipertaruhkan bila kau sampai jatuh sakit.”

Tidak ada tanggapan. Ruangan itu hening seperti tak ada siapapun.

Ketika Taeyeon membalikkan kembali badannya karena merasa heran, ia terkejut mendapati Sehun telah rebah tak bergerak. Tanpa pikir panjang ia buru-buru menghampirinya. Raut wajahnya berubah khawatir.

“Hei Sehun! Kau dengar aku?!” Taeyeon menggoncang-goncangkan badannya.

*Celaka, panasnya semakin bertambah. Jika terus seperti ini…*

“kita harus segera ke rumah sakit. Kau ha—”

“a..ku..tidak..mau..ke rumah…sakit…” Sehun mengigau dengan mata setengah tertutup. Kepalanya berulang kali menggeleng pelan.

Wajah Taeyeon seketika merona merah, Sehun tiba-tiba menjatuhkan kepalanya di bahunya. Nafas hangat pria itu menyapu permukaan kulitnya membuatnya diam membisu karena gugup. Taeyeon mencoba menjauhkan tubuhnya dengan mendorongnya namun efeknya semakin parah, Sehun malah memeluknya seolah dirinya adalah boneka beruang yang empuk.

“Y-Yah!” Taeyeon merasa jantungnya seperti akan meledak. Dalam gerakan cepat, tubuhnya terdorong ke belakang dan menyentuh sofa dengan Sehun berada di atasnya. Ia menahan nafas. Sehun merebahkan kepalanya di dadanya dan kedua lengannya memeluk pinggangnya. “S-Sehun…” Semburat merah di pipinya kian kentara saat memikirkan Sehun mungkin bisa mendengar suara degup jantungnya.

Sehun masih belum bergerak dari posisinya. Hawa panas tubuhnya yang tidak normal membuat Taeyeon semakin mengkhawatirkannya. Ia tidak boleh membiarkannya semakin parah. Tetapi sebelum itu, gadis itu terlebih dahulu harus berurusan dengan berat badan Sehun yang semakin lama semakin terasa sesak menghimpitnya.

“Sehun…? Sehun…” Panggil Taeyeon setengah berbisik.

“hanya sebentar.” Sehun bergumam.

“t-tapi…” Wajah Taeyeon merah padam. Sehun menggeliat dan kian menenggelamkan wajahnya di dadanya.

Apa yang harus ia lakukan jika dalam posisi seperti ini?! Ugh.

“tapi kau sangat berat.” Akhirnya ia mengatakannya.

Perlahan, Sehun akhirnya membuka mata dan mengangkat wajahnya. Taeyeon diam mematung. Matanya mengerjap gugup, di dalam sorot mata yang sayu itu terpancar sesuatu yang bergolak kuat, yang tak sanggup ia tebak maknanya. Taeyeon ingin memalingkan muka namun entah mengapa rasanya mata itu telah menguncinya. Dengan jarak seminim ini, saling menatap dalam kebisuan, Taeyeon akhirnya bisa melihat seperti apa aslinya wajah sedingin es yang biasa Sehun tunjukkan padanya tanpa pria itu harus bertingkah sebagai orang brengsek yang mengacuhkannya hampir setiap hari. Namun Taeyeon terkejut mendapati ekspresi yang ingin dilihatnya, dalam sesaat, berubah menjadi sesuatu yang berbeda dan tak terduga. Kali ini bukan hanya sekilas. Begitu teduh dan memiliki kehangatan yang menenangkan.

*Sehun..*

Pandangan Taeyeon melembut, sebaris senyum tipis singgah di bibirnya. Untuk kali ini saja, hanya sekali ini saja, ia akan merendahkan harga dirinya walau hanya sebentar.

Sehun berjengit ketika telapak tangan itu pertama kali menyentuh kulitnya. Ia bisa merasakannya bergetar oleh keraguan dan juga perasaan gugup yang tersirat di mata gadis itu, dan sebelum tangan dingin itu meninggalkan wajahnya—mungkin karena tidak cukup yakin—ia segera meletakkan tangannya di atasnya.

Taeyeon mengerjapkan mata, Sehun mengecup telapak tangannya dengan kelembutan yang tak pernah diduganya dan pria itu tersenyum dengan mata yang teduh seolah yang ia lakukan tadi adalah hal yang biasa ia lakukan. Taeyeon terenyuh, hatinya serasa bertebaran entah kemana, debaran dalam dadanya sukar berhenti malah sepertinya semakin parah. Ia sukar menjelaskannya dengan kata-kata bagaimana perasaannya menjadi tidak menentu, batinnya bertentangan, apakah ia harus merasa bahagia atau merasa was-was. Mungkin saja ini hanya sementara, saat ia mulai terlena oleh kehalusan sentuhan dan kehangatan tatapannya, detik berikutnya pria itu akan kembali menjadi pria dingin yang acuh tak acuh padanya.

Taeyeon menanti dengan gelisah apa yang akan Sehun lakukan lagi padanya, tetapi pria itu tidak melakukan apa-apa. Sebaliknya, sebelum sempat ia memikirkannya, tubuhnya telah berada di kedua lengan pria itu dan ia dibawa masuk ke kamar pribadinya, kamar yang bahkan gadis-gadis yang pernah bersamanya pun tidak pernah menginjakkan kaki disana selain kamar tamu.

Taeyeon agak terkejut dan terkesan tak percaya. Dengan kondisi tubuh yang lemah, cukup mengesankan bila Sehun berhasil membawanya tanpa menjatuhkannya. Lagipula, Sehun memang benar sudah tumbuh menjadi pria dewasa. Badannya yang tinggi dengan postur yang tegap oleh otot-otot yang dibangun sempurna, Taeyeon tak menyangka tubuh lemah yang dahulu, bisa berkembang pesat seperti sekarang. Bila mengingat masa itu seringkali ia tersenyum geli sendiri.

Masih tak mengatakan apa-apa, Sehun meletakkan Taeyeon di ranjangnya sebelum ikut merebahkan dirinya di sisinya. Sejujurnya Taeyeon tidak tahu bagaimana cara menolaknya, ini pertama kalinya ia masuk kemari karena sepertinya ruangan ini merupakan tempat sakral yang tidak sembarangan orang bisa memasukinya, tetapi Sehun malah mengajaknya kemari. Di sisi lain diam-diam ia menghela nafas lega karena pada akhirnya mereka hanya berbaring saling berhadapan.

Memangnya apa yang kuharapkan? Taeyeon menggeleng kasar. Ia memandangi Sehun dan merasa kikuk saat pria itu balik memandanginya. Taeyeon tersentak ketika jari hangat Sehun tiba-tiba menyentuh pipinya, mengelus dengan cara yang membuatnya berdebar-debar, lalu naik menyingkirkan beberapa helai rambut yang jatuh menghalangi wajahnya. Taeyeon sungguh tak mengerti.

“jangan bersikap…seolah-olah kau masih peduli padaku…” Bisik Taeyeon sambil menahan rasa haru yang mendadak muncul. Emosinya menjadi tak terkendali.

Gerakan Sehun terhenti. Taeyeon mengira pria itu akan menarik tangannya, tapi ternyata tidak. Pria itu hanya menatapnya tanpa suara. Wajah pucatnya begitu datar, emosinya tak terbaca, sama sekali tak ada tanggapan apa-apa. Sehun, dengan tangan yang hampir tak memiliki tenaga, mengusap air matanya yang tanpa sadar telah menggenang di pipinya.

Suasana hening menyelimuti keduanya. Kediaman yang berlangsung lama diam-diam terasa menyesakkan dada. Taeyeon menunggu. Lambat laun Sehun mulai memejamkan matanya dan tidak berapa lama kemudian suara dengkuran halusnya pun terdengar. Meskipun ingin, Taeyeon mungkin tak bisa pergi begitu saja. Lengan Sehun memeluk erat pinggangnya seakan menahannya. Sebelum Sehun terlelap, Taeyeon sempat mendengar gumaman pria itu yang mengatakan ‘jangan pernah meninggalkannya’

Dengan usaha yang tidak singkat, Taeyeon berhasil melepaskan diri darinya. Gadis itu menahan senyum geli. Ternyata kebiasaan Sehun masih tidak berubah. Masih saja kekanakan. Taeyeon kemudian bangkit, buru-buru mencari tasnya yang rupanya tergeletak di sofa. Ia tidak bisa membiarkan Sehun begitu saja tanpa perawatan. Panasnya belum turun saat ia menyentuh keningnya, Sehun juga pasti belum menyentuh makanan sejak tadi. Jika dibiarkan terlalu lama, Sehun bisa mengalami dehidrasi dan itu tidak baik bagi tubuhnya.

Yang pertama Taeyeon lakukan adalah menelpon manager untuk mengabarkan kondisi Sehun sekaligus membatalkan seluruh jadwalnya hari ini, lalu membeli obat di apotek.

Bagaimana mungkin seseorang tidak memiliki satupun persediaan obat di apartemennya?

Suhu badan Sehun cukup merisaukan, Taeyeon tidak yakin bisa meninggalkannya sendirian. Pertama-tama ia harus melakukan pertolongan pertama.

“aku mengerti, manager.” Taeyeon berbicara pada ponselnya sambil berjalan ke dapur. Ia membuka lemari es, mengambil beberapa es batu lalu mencari waskom kecil yang kemudian di isi air. “aku akan merawatnya sebelum pulang. Tidak manager, aku tidak akan meninggalkannya. Ini adalah tanggung jawabku. Ya, aku akan melakukannya.”

Setelah pembicaraan dengan manager selesai, Taeyeon meletakkan ponselnya begitu saja di atas meja, lalu membawa waskom kecil berisi air dingin ke kamar Sehun. Hati-hati ia duduk di sisi ranjang, sengaja agar tidak membangunkan Sehun. Waskom itu diletakkan di dekatnya. Sebelum melakukan ‘pekerjaan kecilnya’ Taeyeon terlebih dahulu mengecek suhunya lagi dengan meraba keningnya dan membandingkannya dengan miliknya, setelah itu, ia mulai memeras handuk kecil yang telah ia siapkan tadi dan meletakkannya di atas kening Sehun.

Jam dinding yang menggantung di dapur telah menunjukkan pukul setengah 10. Waktu ternyata tidak terasa, hampir 3 jam sudah ia berada di apartemen Sehun. Taeyeon kemudian meletakkan apronnya, ia baru saja selesai memasak bubur. Setelah menyiapkan semuanya di atas meja, ia kembali ke kamar Sehun. Untungnya suhu tubuh pria itu mulai menurun sedikit demi sedikit.

*aku akan keluar sebentar* Taeyeon tersenyum memandangi Sehun yang pulas. Bulu matanya sangat panjang, wajahnya begitu tenang seperti bayi yang polos. Taeyeon tertawa kecil, hatinya menjadi luluh. Saat pandangan matanya tak sengaja mengarah pada bibirnya, wajah Taeyeon seketika memanas. Ia buru-buru menepuk-nepuk pipinya untuk menepis pikiran itu dalam kepalanya. Taeyeon pun menjauh dan sebelum ia menutup pintu kamar itu, ia menoleh untuk yang terakhir kalinya.

– – –

“terima kasih.” Ucap Taeyeon sambil tersenyum pada wanita yang baru saja memberinya sebuah kantung kecil berisi obat-obatan yang dipesannya.

Wanita itu mengangguk pelan, balas tersenyum.

Setelah keluar dari apotek, Taeyeon segera mengecek jam tangannya. *masih ada waktu* Ia membatin. Mungkin tidak apa-apa kalau ia berkeliling terlebih dahulu di sekitar sini. Ada sebuah mini market tak jauh disana, sebelum pulang ia berencana akan singgah disana. Lagipula, tadi saat ia membuka lemari es Sehun, tidak ada satupun bahan makanan yang tersisa. Sehun pasti akan kerepotan kalau harus membeli lagi sementara kondisi badannya belum sehat. Akan lebih baik kalau dia membantunya.

Taeyeon mengernyitkan keningnya, sayup-sayup terdengar seseorang seperti memanggil namanya. Ia berpikir mungkin hanya salah dengar, suara itu makin lama makin mendekat dan menjadi jelas, tepat di belakangnya. Taeyeon menoleh, seketika ekpresinya berubah terkejut. Rahangnya nyaris jatuh.

“kau…Kim Taeyeon ‘kan?” Seorang pria berjas hitam telah berdiri dihadapannya. Kulitnya sangat bersih dan wajahnya sangat tampan. Taeyeon tidak mungkin melupakannya.

“J-Joonmyun?”

Pria itu tersenyum manis.

“kau masih mengenalku.” Ucapnya, pandangan mata berubah serius seraya memasukkan sebelah tangan pada saku celananya. “sudah lama sekali ya, Taeyeon. Mungkin sekitar 4 tahun yang lalu?” Ia tersenyum penuh arti.

Taeyeon menjadi panik.

 

To be continued…

© RYN

Advertisements

123 comments on “Fall in Love with You (chapter 3)

  1. Jadi yang 4 tahun lalu itu siapa?
    Sehun atau suho? Aaaaakk ><
    apa hubungan sehun taeyeon sama suho?
    plis itu sehun yaampun kalau lagi sakit cute banget ya wkwk
    kapan sehun bisa tambah cinta ke taeyeon?
    atau sehun nyembunyiin perasaannya?
    Masih kurang panjang nih/g hahahha
    bikin penasaran mulu ya betein haha

  2. Balik ke chap 2 dlu..
    Hemmm, jangan joonmyun lg yang udaah???
    bener2 penasaran banget apa yang terjadi sebenarnya dimasa lalu…

  3. Kyaaa akhirnya di post juga nih ff udah lama banget ngga di updet, qaa sehun masih ada rasa sama taeng? Thor next chapter banyakin seyeon moment yaa, heheh ditunggu next chapter thor hwaitingggg😘💕

  4. Hahaha..kemarin kometarku raib entah kemana. Ada kesalahan pas posting mungkin ya? Pokoknya semangat buat lanjutinnya RYN eonni..dan kuharap di chapter 4 nanti momen SeYeonnya lebih bejibun. Arrrgh!! Seneng banget deh sama FF eonni..ttep semangat nulisnya ya…

  5. After a long time, ff ini baru dilanjut 😦 yasudahlah, tak apa yang penting sekarang udah lanjut^^

    Joonmyun?

    Andwae! aku yakin, pacar sekaligus masa lalu taeyeon itu cuma Sehun. kalo suho.. ah, yang pasti harus Sehun:( ayo buat mereka akur dong thor

  6. kya ka ryn daebak deh buat ff-_-
    walaupun aku by ship tp tetap aja msih kerasa feel dr HunYeon(?)
    HAHAHAHA keren bnget
    msih pnsaran sma hubungan msa lalu sehun-taeyeon. apa mksd dr kata klw taeng yg sakiti sehun-_-
    iyu joonmyun mksdnya suho? hahahahaha mkin pnasaran bkal ada cinta segi3 nih. tp kyknya msih berhubungan dgn sehun.
    penasaran ka ryn, pls ya jgn lama2-_-

  7. Penasaran dan bingung deh jadinyaa
    Jadi masa lalu yg Taeyeon ceritain itu Sehun ato Joonmyun?
    Habis pas ngeliat Suho Taeyeon jadi panij gitu..
    Lanjutin yg cepat ya Thor hihi ^^

  8. Penasaran dan bingung deh jadinyaa
    Jadi masa lalu yg Taeyeon ceritain itu Sehun ato Joonmyun?
    Habis pas ngeliat Suho Taeyeon jadi panik gitu..
    Lanjutin yg cepat ya Thor hihi ^^

  9. annyeong ryn unnie .. kapankah akan dipublish lagi chapter 4 ? aku udah ngoment yang kedua kalii nii ga sabar pengen lanjutannya .. semoga unnie dapet inspirasi yaaa 🙂 gomawo
    Kim A

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s