I Need Your Love ( Chapter 6 )

325

Author : Oh Kyuri_76

Title : I Need Your Love

Genre : Romance, Funny, Friendship, Hurts, School of Life, Family

Length : Multichapter

Rating : PG 13 + ( Bisa berubah sewaktu-waktu )

Main Cast : Kim Taeyeon (SNSD), Xi Luhan (EXO), Seo Ji Hyun (SNSD), Oh Sehun (EXO)

Other Cast : Silahkan temukan sendiri

Disclaimer :

          Attention ! This is just a fanfic, don’t think to much ! All of the cast it’s belong to God, their parents, them selves, and fans too ! Remember ! Please, don’t be a plagiator ! No bashing ! And then, give me your comment after read this fanfiction ! Thank you ^^

Author Note’s :

Hehehe ^^ Author sudah membaca semua comment dari readers di chapter sebelumnya, dan sungguh tanggapan yang sangat memuaskan ! Gumawo untuk semangatnya, dan pengertian readers sekalian ! Chu ~

Summary :

‘ Maafkan aku, mungkin sudah saatnya aku merelakan semuanya … Merelakanmu, Xi Luhan … ’

WARNING !!! TYPO !!!

^ Happy Reading ^

– Author POV –

Luhan mengacak rambutnya frustasi, “ Taeyeon, tolong mengertilah. ”

“ Aku selalu mengerti keadaanmu, Luhan. ” suara Taeyeon menurun, berintonasi berbeda.

“ Arrasseo. ”

Senyuman gadis itu mengembang, “ Jadi, apa yang ingin kau ceritakan kepadaku ? ”

“ Taeyeon, aku akan mengakhiri semuanya. ”

Si lawan mengernyitkan keningnya, tak mengerti makna dibalik kalimat Luhan, ‘ Apa maksudnya ? Mengakhiri ? Mengakhiri apa ? ’ batinnya tak tenang.

“ Aku akan menyatakan perasaanku padanya, pasti. ”

Dan tepat saat jarum jam menjatuhkan titik temponya, air mata gadis itu tak bisa terbendung lagi. Air bening yang selalu ia tahan dihadapan Luhan, kini tidak akan mampu bersembunyi. Waktu dimana Taeyeon tak sanggup melaluinya, akhirnya datang. Sekarang, saat inilah waktu itu menjemput kenangannya bersama Luhan.

~ Chapter 6 ~

Taeyeon turut bahagia mendengar curahan hati Seohyun. Latar mereka adalah kelas gadis bersurai blonde yang menyandang status sebagai sahabat Luhan. Jika ingin mempertanyakan kenapa Seohyun bisa berada dikelas Taeyeon, maka biarkan kekasihnya yang menjawab.

“ … aku juga belum yakin, apa semua itu hanya mimpi belaka, Taeyeon ? ”

“ Tentu tidak Seohyun-ah, buktinya saja, sekarang kau sedang menjabat sebagai kekasih seorang lelaki yang memiliki wajah dan sikap langka itu. ”

Seohyun terkekeh, “ Bagaimana pun juga, Luhan adalah sahabatmu, Taeyeon. ”

Tersenyum Taeyeon membalasnya, “ Mu-mungkin saja. ”

“ Eh ? Kenapa kau- ” omongan Seohyun menggantung ketika tatapannya bertemu dengan mata Luhan. Sepasang kekasih itu bertukar senyuman, tak lupa dengan wajah berseri mereka.

“ Taeyeon, kenapa kau berangkat ke sekolah tanpa menungguku, hm ? ” tanya Luhan yang langsung menempati bangku disamping Taeyeon.

“ Kalian adalah sepasang kekasih, bukan ? Jika aku membiarkanmu menjemputku setiap hari, lalu bagaimana dengan Seohyun ? ”

“ Ah, kau terlalu berlebihan, Taeyeon-ah. ” sambung kekasih baru Luhan dengan wajah tersipu.

Kali ini tatapan evil dari Luhan mendominasi kegugupan Taeyeon, “ Jangan pernah berpikiran sedangkal itu mengenai hubunganku dengan Seohyun, mengerti ? ”

“ Lu-luhan, a-aku hanya be-berusaha menjadi sa-sahabat yang ba-baik. ”

“ Jeongmal ? Kalau begitu, lebih baik kau jalani saja aktivitas keseharian kita bersama. ”

Seohyun mengangguk, “ Benar, kau tidak perlu sungkan, Taeyeon-ah. ”

“ Bu-bukan begitu … ” tampak ekspresi Taeyeon yang terlihat kewalahan menanggapi cecaran Luhan dan Seohyun secara bersamaan.

“ Seohyun memiliki sopir pribadi, dia bisa berangkat tanpa perlu menunggu jemputanku. ”

Taeyeon menarik nafasnya, “ … dia kekasihmu, Luhan-ah. ”

“ Gwaenchana, aku rasa Luhan benar, Taeyeon-ah. ”

Luhan menarik sudut bibirnya, “ Lihat ? Bahkan kekasihku sendiri sudah menyetujuinya, Taeyeon. ”

“ Fine. ” pasrah terhadap sikap Luhan sudah Taeyeon lakukan. Sekarang, hanya tersisa bagaimana cara ia menjauh dari kedua insan itu, tak sanggup Taeyeon menahan kecemburuannya terlalu lama.

“ Lima menit lagi bel sekolah akan berbunyi, sebaiknya aku kembali ke kelasku. ”

Luhan mengangguk, “ Hn. ”

“ Sampai bertemu saat istirahat nanti, Seohyun-ah. ”

“ Ok, sampai bertemu nanti, Taeyeon-ah, Luhan-ah. ” ucapnya seraya melangkah menuju pintu kelas, Seohyun pun tak lagi terlihat setelah pintu itu tertutup.

“ Sepulang sekolah nanti, kau harus menungguku seperti biasa. ” sambutan suara dingin Luhan berhasil mendapatkan anggukkan dari Taeyeon. Pemuda itu tak seperti beberapa detik yang lalu, Luhan yang berada disamping Taeyeon itu terlihat berbeda, ia jauh lebih dingin dari sebelumnya.

“ A-akan aku u-usahakan. ”

“ Hn. ”

***

Peluh membasahi kening Taeyeon. Ia menatap jam tangannya berulang kali. Bibirnya bergetar tanpa sepengetahuan si empunya. Mengingat janjinya pada Luhan saat jam pulang sekolah, Taeyeon semakin gusar tak terkendali. Bukan karena piket kelas yang biasa ia lakukan sekarang, namun karena permintaan Sehun yang menginginkannya untuk pulang bersama.

‘ Sehun … Luhan … Sehun ? Luhan ? Sehun ? Luhan ? ’ batinnya dengan mata terpejam. Kini ia tengah menyaring manakah pilihan yang tepat untuknya. Sayang, sebelum gadis itu mendapatkan jawaban, ponselnya sudah bergetar tanda panggilan dari seseorang.

Matanya membulat, “ Luhan ? ” responnya ketika melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Taeyeon menghembuskan nafasnya perlahan, selanjutnya ditekanlah sebuah symbol untuk mengangkat panggilan tersebut. Jangankan mengucapkan ‘Annyeong’, mendekatkan ponselnya pada telinga saja enggan Taeyeon lakukan.

“ Taeyeon ? Taeyeon ? Kau disana ? Jawab aku. ”

“ A-ada apa, Luhan ? ”

“ Katakan, dimana kau menungguku, Taeyeon ? ”

“ Luhan … A-aku … ”

“ Keluarlah, jangan membuatku menunggumu lebih lama, arra ? ”

“ … tapi- ”

Tut … Tut … Tut …

Lengkap sudah penderitaan Taeyeon. Seharusnya ia tidak perlu menanggapi tawaran Sehun tadi pagi. Jika gadis itu tahu akan terjadi hal seperti ini, pastilah Taeyeon tidak akan memberikan harapan palsu kepada Sehun dengan mengucapkan, “ Aku akan memikirkannya. ” sewaktu pemuda itu memintanya untuk pulang bersama.

“ Taeyeon, kau benar-benar bodoh ! ” makinya pada diri sendiri. Lantas ia melesat meninggalkan kelasnya yang sedari tadi memang tak berisikan siapa pun kecuali dirinya. Ya, seluruh pelajar harus pulang empat jam lebih awal karena keputusan sang kepala sekolah.

Entah apa yang tengah pihak sekolah rencanakan, yang pasti, Taeyeon harus segera bertemu dengan Luhan dan menjelaskan penyebab keterlambatannya untuk pulang bersama sahabatnya itu. Baru setengah perjalanan, sosok Sehun melintas dihadapannya.

“ Taeyeon ? Kau akan menerima tawaranku, ‘kan ? Oh, aku mohon, ada banyak hal yang ingin aku ceritakan kepadamu, nona Kim. ”

Taeyeon menganga, “ Se-sehun … Aku … ”

“ Wae ? Apa kau tidak bisa pulang bersamaku ? ” kedua bola mata Sehun terlihat kecewa, tak menutup kemungkinan jika sewaktu-waktu pemuda itu akan menangis didepan Taeyeon. Huh, bayangkan saja.

“ … Ba-baiklah. ”

“ Eh ? Kau menerima tawaranku ? ”

Sejujurnya Taeyeon ragu untuk mengangguk, hanya saja, tatapan Sehun yang selalu terkesan menyedihkan itu sukses menggerakkan kepalanya, “ Nde, ma-mari kita pulang be-bersama. ”

“ Ahaaa, gumawo, Taeyeon ! ” serunya seraya mengerling manis sebagai tanda terima kasih. Taeyeon tersenyum, ia tidak bisa menahan bibirnya saat ekspresi bahagia milik lawannya terlihat.

***

Pandangannya terus menelusuri kawasan disekitar lingkungan sekolah. Kekesalannya tersulut ketika sosok gadis yang sedang ia tunggu sedari tadi, tak kunjung datang juga. Luhan mengeluarkan ponselnya dengan kasar, saat ia hendak menghubungi Taeyeon, tiba-tiba saja sebuah pesan singkat menghentikan aktivitasnya.

Keningnya mengernyit heran, “ Sebenarnya, apa yang dia rencanakan ? ” gumam Luhan seusai membaca pesan dari Taeyeon. Jika dilihat dari raut wajahnya, kekesalan Luhan meningkat menjadi tiga kali lipat dari sebelumnya, bagaimana tidak ? Ia sudah menunggu lama dihalaman sekolah, dan tanpa memberitahukan secara langsung kepadanya, mendadak Taeyeon memutuskan untuk pulang bersama orang lain.

“ Ck ! Sialan. ” ia hanya bisa mengacak rambutnya frustasi, “ Tidak biasanya Taeyeon menerima tawaran dari orang lain untuk pulang bersama, apa mungkin terjadi sesuatu yang buruk ? ” namun, belum tuntas ia memikirkan jawaban mengenai pertanyaan pribadinya, sebuah mobil melintas cepat dari arah tempat parkir menuju gerbang sekolah.

Kedua mata Luhan menatap sadis mobil tersebut, sebab ia mengenali siapakah gerangan yang sedang menempati bangku disamping pengemudi. Setelah berdecih, pemuda itu pun lantas mengumpat, “ Jadi, dia lebih memilih orang itu, hm ? Michyeo. ”

***

Seoul, 09.58 p.m ~

Taeyeon membungkukkan badannya, “ Gumawo untuk hari ini, Sehun-ah ! ” ujarnya senang.

Sehun mengangguk dari dalam mobil, ia mengangkat tangan kanannya, “ Ok ! Lain kali aku akan mengajakmu berkeliling lebih lama, nde ? ”

“ Hn, jeongmal gumawoyeo ! ”

“ Cheonma, bye bye ~ ” ia mengerling manis, mobil pun pergi meninggalkan Taeyeon didepan gerbang rumahnya. Ia menghela nafas kasar, lalu mengadahkan kepalanya memandang balkon kamar Luhan diseberang.

“ Maafkan aku, kau pasti sangat kecewa padaku, ‘kan ? ”

“ Hn. ”

“ Eh ?! ” mata Taeyeon membelalak lebar. Perlahan ia putar badannya hingga bertemu dengan sosok Luhan. Taeyeon mengernyit, “ Kau … Sedang apa ? ”

“ Menunggumu. ”

“ Mw-mwo ? ”

Luhan menoyor kening Taeyeon, “ Berapa banyak kesalahan yang sudah kau buat hari ini ? ”

“ Lu-luhan … ”

“ Kau tidak menerima tawaranku untuk pulang bersama, aku rasa tidak masalah. Keundae … ” Luhan menatap dalam manik mata sahabatnya, “ … kau pulang hingga malam begini, bersama orang lain, itulah masalahnya. Kau tidak tahu berapa lama aku menunggumu disini ? Kau tidak tahu bagaimana aku selalu mencemaskanmu, Taeyeon ? ”

Wajah Taeyeon memerah, selain karena udara dingin yang menyerang tubuhnya, ia juga berusaha sekuat mungkin untuk menahan air matanya yang mulai menetes. Bibirnya bergetar, “ Luhan … Mianhae … ”

“ Kau selalu saja seperti itu. ”

“ Mianhae … ”

Tatapan Luhan meneduh, “ Berapa lama lagi aku harus selesai dengan semua ini, Taeyeon ? Saat kau tidak pulang tepat waktu, aku selalu menunggumu, bahkan sering kali memperhatikanmu dari balkon kamarku. Saat kau membaca buku seorang diri, apa yang bisa aku lakukan selain menemanimu, huh ? Apa kau tidak melihatku ? Jangan bercanda, aku benar-benar mengkhawatirkanmu, bahkan … ” Luhan membawa Taeyeon ke dalam pelukannya, “ … saat kau tidak berangkat ke sekolah bersamaku, itu sudah mampu membuatku cemas. ”

Deg !

Taeyeon terpaku dalam keheningan malam. Ia terdiam disertai deruan suara angin. Bersamaan dengan jantungnya yang masih berdetak, air mata gadis itu pun semakin deras mengalir. Taeyeon membalas pelukan Luhan, sangat erat, lebih erat, seakan hanya dialah yang berhak memeluk Luhan saat itu.

“ Hiks … Luhan … Hiks … Hiks … Aku … ”

Luhan reflek mengusap punggung Taeyeon, “ Diamlah, kau pasti kedinginan, ‘kan ? Kim ahjusshi dan Kim ahjumma belum pulang sampai sekarang, aku akan menemanimu malam ini. ”

“ Lu- ”

“ Jangan membantah. ” tandas Luhan tegas. Ia menggiring Taeyeon memasuki rumahnya, setelah itu memerintahkan Chan ahjumma untuk menyiapkan air panas agar Taeyeon tidak kedinginan.

Kreek !

“ Aku akan menjagamu. ”

Taeyeon menggeleng pelan, “ Pulanglah. ”

“ Tidak. ”

“ Luhan, kau juga harus beristirahat. ”

Lelaki itu menyunggingkan senyuman tipis, “ Aku akan pulang, setelah kau tertidur nanti. ”

Taeyeon menyerah membalasnya. Ia mengangguk paham, membiarkan Luhan menjelajahi seisi kamarnya sesudah itu. Luhan terlihat sangat nyaman berada didalam sana, penataan kamar Taeyeon sangat rapi dan tentunya bersih. Lantas Luhan membaringkan dirinya diatas ranjang Taeyeon, “ Ah … Nyamannya. ”

“ Ck, aku tahu kau pasti lelah. ” cibir Taeyeon dengan tangan terlipat.

Luhan memasang wajah datar, “ Aku menunggumu sejak siang tadi, nona Kim. ” ia menjawab dengan sangat pelan, matanya tertutup diwaktu yang sama.

Taeyeon kembali terkejut, “ Ke-kenapa … ? ” bisiknya tak percaya. Ia menatap Luhan dalam diam, kemudian melanjutkan kalimatnya kembali, “ … kalau terus seperti ini … Perasaanku padamu … Tidak akan pernah bisa hilang, Luhan-ah … Tidak akan. ” beruntung Luhan tak mendengar pernyataan itu, sebab ia sudah mengunjungi alam mimpinya. Untuk ke sekian kalinya, Taeyeon lagi-lagi menangis karena Luhan.

***

Sinar mentari memasuki celah jendela kamar Taeyeon. Gadis bersurai blonde itu mengerjapkan matanya perlahan-lahan. Ia menguap dan merenggangkan sendi-sendi tangannya, “ Huh, aku benar-benar tersiksa. ” ia menggumam sambil memperbaiki sofa yang ditempatinya untuk tidur semalam.

“ Kau sudah bangun ? ”

Taeyeon memalingkan wajahnya, “ Cih, bagaimana mungkin aku bertahan lebih lama lagi, huh ? ”

Luhan tersenyum tipis, “ Mianhae, karena aku, kau jadi tertidur di sofa. ”

“ Ck, sudah pagi, ‘kan ? Aku harus bersiap-siap, pulanglah, kau juga harus bersiap-siap, Luhan. ”

“ Tidak perlu, Eomma baru saja mengantarkan seragam sekolahku. ”

Wajah Taeyeon spontan memerah, “ MWO ?????????!!!!!!!!!!!!! A-ah-ahjumma … ”

Luhan menyeringai lebar, “ Jangan berpikir yang aneh-aneh, dia tidak memasuki kamar ini, Taeyeon. Tenang saja, tidak akan ada yang salah paham jika kita tidur didalam kamar yang sama. ” ujarnya santai.

Taeyeon tertawa hampa, “ Benar juga. ”

“ Jadi, tunggu apa lagi ? ”

“ Maksudmu ? ”

“ Kau ingin aku menemanimu ke dalam kamar mandi, huh ? ”

Setelah mengerti arah kalimat Luhan, Taeyeon langsung melesat pergi, sementara Luhan hanya terkekeh pelan melihat reaksi sahabatnya itu, “ Dasar, dia tidak pernah berubah. ” Luhan menggelengkan kepalanya. Tapi entah dari mana, ia merasa sangat bahagia semenjak kejadian tadi malam, Luhan mengulas senyuman tipis.

‘ Aku harap, kau tidak akan pernah tumbuh menjadi dewasa, Taeyeon … Agar aku … Dapat selalu berada disampingmu dan menjagamu. ’

***

Seohyun memainkan jarinya, ia sedang menunggu kedatangan Luhan dan Taeyeon. Hembusan angin menyapu halaman sekolah, hari masih sangat pagi dan bahkan hanya ada Seohyun seorang diri disana. Gadis itu sedikit ragu untuk tetap berdiri di gerbang sekolah, alhasil, dia memutuskan pergi memasuki kelasnya.

“ Annyeong ! ”

Baru berjalan lima langkah, seseorang menyapanya dengan wajah berseri, Seohyun sontak melangkah mundur, “ A-ah, annyeong … ”

“ Kenapa terkejut seperti itu, Seohyun-ah ? Ini aku. ” Sehun tersenyum.

“ Bu-bukan begitu … ”

Sehun mengangguk, “ Yah, arrasseoyeo ! Kau melangkah mundur karena ingin menjauhiku, ‘kan ? Gwaenchana, aku juga tak yakin Luhan akan memaafkanku bila terlalu dekat denganmu. ” canda si lelaki.

Seohyun menarik nafas dalam-dalam, “ Sejak kapan kau berada di sekolah, Sehun-ah ? ”

“ Hm, tidak lama. ”

“ Ah … Kalau begitu, kita sama. ”

Sehun menaikkan alis kanannya, “ Maksudmu ? ”

“ Kau pasti sedang menunggu Taeyeon, bukan ? Aku juga … Sedang menunggu Luhan. ”

“ Sebenarnya tidak, aku memang selalu datang lebih awal dari yang lain, Seohyun. ”

“ Hm, jeongmal ? ”

Sambil terus menelusuri koridor sekolah, mereka mulai bercerita mengenai Luhan dan Taeyeon. Sehun menghela nafasnya, “ Kau tahu ? Jujur saja, aku ini mempunyai sebuah misi yang amat penting. ”

Seohyun berhenti melangkah. Ditatapnya wajah Sehun dengan pandangan horror, “ Mi-misi ? Ka-kau … Apa kau seorang … ”

“ Ck, aku belum selesai berbicara, Seohyun. ” Sehun berkacak pinggang. Ia merotasikan bola matanya.

“ Mi-mianhae. ”

Sehun menatap keluar jendela yang berdiri kokoh menghiasi dinding di sepanjang koridor, “ Satu hal, ada satu hal yang harus aku selesaikan … ” kemudian beralih menatap wajah Seohyun, “ … sayangnya, aku meragukan kemampuanku untuk menyelesaikan misi itu. ”

“ Misi … Maksudmu, mi-misi apa ? ”

“ Bila sudah waktunya, aku akan memberitahumu, Seohyun-ah. ” lelaki tersebut pergi begitu saja, hanya menyisakan sebuah kalimat yang masih ambigu. Mendadak gadis itu merasakan kekhawatiran, Seohyun tak dapat mencerna dengan baik perkataan Sehun yang barusan.

“ Sehun, apa maksudnya semua ini ? Apa yang dia maksud dengan misi ? A-aku … Tidak mengerti. ”

***

“ Ahjumma, kami berangkat dulu, nde ? ”

“ Baik, nona Kim, berhati-hatilah dijalan … ” balas Chan ahjumma disertai lambaian tangannya.

Luhan tersenyum ramah, “ Tenang saja, aku akan menjaga Taeyeon, Chan ahjumma. ”

“ Nde, terima kasih, tuan muda Xi. ”

Taeyeon dan Luhan pun memasuki mobil bersama-sama. Hening. Tidak Luhan, tidak Taeyeon, rasa-rasanya mereka mengalami kegundaan masing-masing. Pihak gadis berdehem pelan, “ Luhan-ah, ada yang ingin aku tanyakan kepadamu. ”

“ Mwoyeo ? ”

“ Begini … Se-sekarang … Ka-kau sudah memiliki Seohyun, ‘kan ? ”

Luhan melirik, bosan menanggapi pertanyaan Taeyeon, “ Cukup, aku tidak menyukai pembicaraan kita mengenai Seohyun. ”

“ Maka dari itu … Aku ingin kau berhenti menjagaku … ” Taeyeon tetap melanjutkan, “ … Seohyun membutuhkan perhatian yang lebih besar darimu, Luhan-ah. Dia membutuhkanmu. ”

Luhan mencengkeram kemudinya kuat-kuat, “ Jangan membuatku mengingkari janji yang aku buat semalam, Taeyeon. ” ia bersuara dengan tenang.

“ Luhan, kita tetap bersahabat seperti dulu, ‘kan ? Apa salahnya, kau dan aku tak bisa terus bersama seperti ini, kita pasti menemukan kehidupan masing-masing. ”

“ Cih, omong kosong. ”

Taeyeon tersenyum masam, “ Mengertilah keadaannya, kau harus selalu berada disamping Seohyun, ok ? Berjanjilah kepadaku, Luhan-ah. ” Taeyeon mengacungkan jari kelingking, ia menatap dalam wajah Luhan.

Lelaki itu tak bergeming, Luhan bahkan tak berani membalas tatapan Taeyeon. Hening menyelimuti keduanya. Perlahan gadis itu menurunkan jarinya, Taeyeon tak bisa memaksakan keputusan Luhan, hanya dirinya sendiri yang berhak memilih.

“ Padahal … Aku sudah berusaha … ”

Taeyeon tersentak, “ Lu-luhan … ”

“ … aku bahkan rela mengorbankan semuanya, Taeyeon. ”

“ … ”

Luhan tetap fokus menelusuri jalanan pagi itu, “ Apa kehadiran Seohyun mengganggu hubungan kita ? Apa menurutmu, dengan adanya dia, perhatianku akan terbagi menjadi dua ? ” tanyanya menghujam hati Taeyeon.

“ A-aku … ”

“ Apa boleh buat ? Kau memang tidak lagi pantas menerima perhatian dariku. ”

Taeyeon menjadi tersiksa dengan omongannya sendiri. Mendengar Luhan yang sudah memutuskan semuanya, semakin membuat Taeyeon tak bisa berkutik. Ia menggigit bibirnya, “ Hn, arrasseo. ”

Tepat, mobil berhenti didepan gerbang sekolah. Taeyeon turun dan mengucapkan terima kasih, namun tak ada jawaban. Luhan menginjak gas seolah tak ada siapa pun disana. Tangan Taeyeon meremas seragam sekolahnya guna untuk menghilangkan beban yang ia pilih, terlambat sudah untuk mengembalikan waktu.

‘ Maafkan aku, mungkin sudah saatnya aku merelakan semuanya … Merelakanmu, Xi Luhan … ’

***

Seoul Senior High School,-

01.47 p.m ~

Para pelajar sudah selesai dengan tuntutan ilmu mereka. Sekolah tampak sangat sepi. Hanya tersisa Taeyeon didalam kelasnya, usai membereskan beberapa buku pelajaran, Taeyeon pun melangkah meninggalkan ruangan itu. Namun langkahnya terhenti ketika menginjak lantai pertama.

Plak !

Taeyeon membelalak lebar, ia membekap bibirnya. Dapat terlihat bagaimana saat-saat Seohyun mengayunkan tangannya untuk menampar kekasihnya, Luhan. Gadis itu menatap nanar kedua sosok tersebut, tanpa berpikir panjang, Taeyeon segera mencari tempat bersembunyi.

“ A-apa ? A-apa … yang kau lakukan, Luhan ? ”

Taeyeon memajukan wajahnya, ia melihat ekspresi Seohyun yang tengah menangis, “ Apa yang terjadi ? Kenapa … mereka bertengkar … ? ” ia bergumam pelan.

“ Jangan memikirkannya. ”

“ Tapi dia … Dia … Dia sahabatmu ! ”

Deg !

Kedua bola mata Taeyeon sontak melebar. Tubuhnya terjatuh tanpa kontrol, walau Taeyeon masih belum mengetahui apa yang sebenarnya Seohyun dan Luhan perbincangkan. Tapi perasaannya menunjukkan bahwa yang dimaksud Seohyun adalah dirinya.

“ Dia memintaku untuk menjauh darinya, apa yang bisa aku lakukan ? ”

“ Dan kau menyetujuinya, Luhan-ah ? ”

“ Hn. ”

Suara isakan Seohyun semakin menggetarkan tubuh Taeyeon. Sedangkan Luhan bertahan dengan posisi menunduknya, ia tak menunjukkan mimik apapun. Datar, tak dapat terbaca. Seiring dengan tangisan Seohyun, Luhan berjalan menjauh.

Aku harus pergi, batin Taeyeon lalu merapatkan diri ke dinding. Selanjutnya ia tak lagi melihat keberadaan Luhan maupun Seohyun. Gadis itu menghela nafasnya, “ Aku memang bodoh. ”

“ Tidak terlalu. ”

Taeyeon mengadah, “ Se-sehun ? ”

“ Ikutlah denganku, ada yang ingin aku bicarakan. ”

Taeyeon mengangguk canggung. Dibuntutilah si Sehun hingga menuju halaman sekolah, mereka mengambil bangku terdekat sebagai tempat duduk. Sehun memulai percakapan, “ Kau mendengar semuanya, ‘kan ? ”

“ A-aku rasa begitu. ”

“ Kau jelas tahu apa yang sedang mereka bicarakan. ”

Taeyeon menggeleng ragu, “ Belum sepenuhnya, a-aku hanya merasa … sedikit bersalah. ”

“ Sedikit ? ” ulang Sehun dengan tawa sinisnya.

“ Se-sehun … ”

“ Aku juga mendengar semuanya. Mereka bertengkar karena kesalahanmu, kau ingin Luhan menjauhimu ? Cih, untuk ukuran seorang gadis, kau terlalu munafik, Taeyeon. ”

Pikiran Taeyeon bahwa Sehun adalah orang yang patut dibanggakan, kini menjadi hilang. Ia mengerjapkan matanya bingung sekaligus kesal, “ Ka-kau menghinaku ? ”

“ Jika aku tidak sekeras ini padamu, kau tidak akan pernah mengerti. ” intonasi berbeda dari Sehun seakan menyeret Taeyeon keluar dari kedamaian.

“ Maksudmu … ? ”

Sehun membuang nafasnya, “ Mencintai seseorang itu mudah, arrasseo ? Keundae, menjauhi seseorang yang dicintai, tidak akan semudah membalikkan telapak tangan. ” Sehun beranjak pergi. Meninggalkan Taeyeon yang sedang berusaha keras untuk mengartikan ucapannya.

“ Se-sehun ! Tunggu ! ”

Lelaki itu berbalik, menatap intens wajah Taeyeon, “ Ingat perkataanku baik-baik. ”

“ Ta-tapi … ”

“ Bye bye, Taeyeon-ah ! ” sekejap kemudian, Sehun sudah kembali dengan kepribadiannya yang konyol. Taeyeon tak mengerti, jelas ia tak mengerti dengan apa yang Sehun maksud.

– To Be Continued –

Author Note’s :

Holllllaaaaaaaa !!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Author benar-benar lega, akhirnya sudah sampai di chapter ke-6 ini. Terima kasih bagi readers yang sudah berkomentar di chapter sebelumnya, nde ? Harap menunggu, annyeong ~

Advertisements

103 comments on “I Need Your Love ( Chapter 6 )

  1. Apasih misi sehun sebenarnya. Kenapa cobak taeyeon pingin menjauh dari luhan. Critanya makin greget. Next

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s