[FREELANCE] Fly Over 40.000ft (Chapter 2/Ending)

032715_0943_FREELANCEFl1.png

Title: Fly Over 40.000ft. (Part 2/2)

Author: Arisa Karamorita

Rating: PG-15

Length: Two Shoot

Genre: Romance, Life.

Main Cast: Kim Taeyeon

    Byun Baekhyun

Support Cast: Park Chanyeol

Author Note: this fanfiction is original story of mine. The cast belongs to themselves. Cerita ini terinspirasi dari salah seorang pramugari Air Asia yang baru-baru ini tertimpa musibah. Jika menemui cerita ini dalam cast yang berbeda, selama authornya masih Arisa Karamorita (@IM_Soshitaengs) maka bukan termasuk plagiat. Please enjoy and leave your comment^^.

Credit poster by arin yessy @poster Channel. Big Thanks for Awesome poster ^^

Preview: Chapter 1

– Fly Over 40.000ft –

Part sebelumnya…

“Aku percaya takdir cerita mahacinta tak akan salah. Lihatlah betapa indahnya cahaya langit 40.000 kaki yang mengalir di setiap kilau cincin kecil ini. It feels like a morning that we share together. Although as time passes, let’s not let go of our hands cause I want to be by your side forever. Always my B, my best friend, my enemy, and my patner in crime? No no no, my patner in life =) Let’s let this be our last love. I wish for that, who always made my life complete, my Byun♥.”


Pikiran Baekhyun tak fokus selama meeting berlangsung. Entah perasaan apa yang membuatnya susah untuk berkonsentrasi penuh. Dari tadi ia hanya memainkan ballpoint yang ia pegang. Materi presentasi dari perwakilan perusahaan tak sedikitpun dapat Baekhyun terima dengan baik. Ini sungguh bukan seperti dirinya.

Langkah Baekhyun melambat ketika melihat sosok yang sudah tidak asing lagi baginya. “Park Chanyeol?”

Tepat didepan pintu ruangan, sahabatnya berdiri dengan raut wajah pucat pasi, keringat membasahi setiap sudut pelipis wajahnya. Nafasnya memburu. Tangannya sedikit bergetar. Kedua bibirnya seakan membeku untuk mengucapkan sepatah dua patah kata.

– Fly Over 40.000ft –

“Astaga Park Chanyeol, apa kabar? Lama tidak—”

“Baekhyun-a…”

“ya?” Baekhyun menatap Chanyeol penuh tanda tanya.

“kau sudah lihat ponselmu?”

“ponsel? Aku baru selesai meeting…”

“pesawat apa yang dinaiki Kim Taeyeon hari ini?” potong Chanyeol tiba-tiba disaat Baekhyun belum mengakhiri jawabannya.

“kenapa tiba-tiba? Aku tak yakin pesawat mana, yang jelas pesawat itu berangkat sekitar satu jam yang lalu.”

“Taeyeon… Kim Taeyeon…” Chanyeol ingin menyerah, namun kenyataan kembali mendesak.

– Fly Over 40.000ft –

Baekhyun berlari layaknya orang kesetanan. Napasnya memburu mengiringi setiap langkah yang ia ambil. Tubuhnya seakan melayang tanpa jiwa.

“aku tak tau harus memulainya dari mana. Ini akan terasa berat untukmu…”

Sampai di area parkir, Ia langsung memasuki mobilnya. Kakinya menginjak pedal gas begitu dalam hingga hanya dalam hitungan detik hanya kibaran debu yang tertinggal disana.

“Pesawat yang di naiki Kim Taeyeon… tigapuluh menit yang lalu dinyatakan hilang kontak. Tak ada yang dapat memastikan bagaimana keadaan semua penumpang yang ada didalamnya. Kau harus kuat, Baekhyun-a.”

Suasana bandara begitu ramai. Beberapa mobil ambulans disiagakan. Tak sedikit polisi, tentara, bahkan wartawan yang berlalu lalang sibuk dengan urusan mereka masing-masing.

Baekhyun keluar dari mobil dan segera berlari menerobos keramaian yang ada disana. Pakaian yang semula masih melekat rapi kini menjadi tak beraturan.

Kaki Baekhyun berhasil menerobos kerumunan manusia-manusia yang berebut mengambil posisi untuk melihat daftar penumpang pesawat itu. Mata tajamnya mencoba berkonsentrasi mencari satu nama, berharap jika nama yang dicarinya tak ada dalam deretan nama yang terpampang.

‘Pramugari Kim Tae Yeon’

Tubuh Baekhyun kaku tersengat syarafnya yang menegang. Kakinya terasa lemas. Kerasnya dorongan dari orang-orang yang juga ingin melihat daftar nama itu memaksanya untuk keluar dari kerumunan.

Otaknya masih belum bisa sepenuhnya menerima apa yang sebenarnya terjadi. Air mata yang semula tak menampakkan diri kini mulai mengaliri pipi Baekhyun yang penuh akan peluh keringat. Tangisan histeris orang-orang disekitarnya seolah menampar dan menyadarkan Baekhyun akan kenyataan.

Ia mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya, menekan tombol panggilan nomor 1. Suara yang beberapa waktu lalu mengeluarkan kalimat sayang kini berganti menjadi suara operator yang menyatakan jika nomor tersebut berada di luar jangkauan. Hati Baekhyun perih. Ia berharap untuk segera bangun dari mimpi buruk ini.

– Fly Over 40.000ft –

‘sayang apa kau ingat tempat ini? ukiran manis yang kau buat masih tergambar jelas disana. Pohon yang menjadi saksi bisu awal cerita kita. Apa kau tak merindukannya? Kau terbang terlalu jauh membuat tangan ini tak lagi sanggup menggapaimu. Sayang kapan pulang? Aku ingin melihat senyuman yang terlukis dari bibirmu.’

Baekhyun mengamati gambar ukiran pohon pada layar ponselnya. Satu tetesan dari sudut matanya ditangkap layar ponsel itu tepat pada tulisan nama ‘KTY’, inisial nama Taeyeon.

Pohon itu memang menjadi sejarah dalam perjalanan cinta mereka. Tepat dibawah pohon tersebut beberapa tahun silam, Baekhyun memberanikan diri berdiri dihadapan seorang gadis dengan kegugupan yang lebih besar daripada berhadapan dengan clien pada saat presentasi.

‘Terbang, bintang, awan dan apapun yang berhubungan dengan langit adalah hidupmu. Setidaknya sisakan sedikit tempat untukku agar aku bisa menjadi bagian dari hidupmu. Aku memang bukan lelaki yang penuh akan harta ataupun kekuasaan yang mampu memberimu segalanya. Aku juga bukan Kim Soo Hyun, aktor tampan dan terkenal yang selama ini mampu mendapatkan hatimu. Tapi aku Byun Baekhyun, lelaki biasa yang menginginkan satu tempat dalam hidupmu. Apakah tersedia sedikit tempat itu untukku?’

‘bukan lelaki sempurna yang penuh akan harta dan kekuasaan yang kuinginkan dalam hidupku, tetapi lelaki jujur yang mau bekerja keras dan berusaha. Hmm… terbang, bintang, langit dan awan memang hidupku. Namun jika boleh aku bercerita, akhir-akhir ini aku telah menemukan sesuatu yang baru dan ingin kumasukkan dalam bagian hidupku. Sesuatu itu adalah cahaya yang selama ini menuntunku menjadi orang yang lebih baik. Kau tau? Cahaya itu kini tengah berdiri dihadapanku dan meminta sedikit tempat dalam hidupku. Dia begitu bodoh, kenapa harus meminta sedikit tempat ketika aku sanggup memberikan tempat yang seluas-luasnya. Semoga ia tak besar kepala sekarang.’

“Baekhyun… Byun Baekhyun…”

Suara serak yang memanggil namanya memudarkan bayangan akan masa lalu yang terlintas. Baekhyun mengangkat kepalanya yang terasa berat, matanya mencoba fokus menatap sosok yang baru saja keluar dari mobil, mereka adalah orang tua Taeyeon. Ia segera berlari dan menghampiri mereka.

Tangan dingin nyonya Kim meraih tubuh Baekhyun dan memeluknya erat. Baekhyun bisa merasakan jika tubuh wanita itu bergetar hebat.

“Uri Taeyeon eodiga…? uri Taeyeon eodiga –Taeyeon dimana-?” suara Nyonya Kim begitu menusuk bagi Baekhyun. Keduanya matanya terpejam, bibirnya terasa beku untuk menjawab.

“Uri Taeyeon… Kim Taeyeon… anakku yang malang…”

Nyonya Kim semakin histeris dalam pelukan Baekhyun. Ia begitu terpukul begitu mendengar kabar tentang kecelakaan pesawat yang melibatkan putrinya. Air mata tak henti-hentinya membanjiri setiap sudut wajah yang mulai menua itu. Dinginnya air mata calon ibu mertuanya menembus pakaian yang Baekhyun kenakan.

Ayah Taeyeon yang sedari tadi terdiam di samping Baekhyun juga tak dapat menyembunyikan kesedihannya, hanya saja ia tak ingin menunjukannya. Sebagai kepala keluarga sudah semestinya memang ia menjadi tiang dalam bersandar.

Jerit tangis Nyonya Kim semakin melemah seiring dengan pelukannya yang tiba-tiba merenggang. Ia pingsan. Baekhyun dibantu Ayah Taeyeon langsung membawa nyonya Kim untuk mendapatkan penanganan.

Setelah menyerahkan Nyonya Kim kepada perawat yang ada, Baekhyun segera keluar dari aula ini. suara tangisan, histeris, kesedihan begitu mendominasi aula yang untuk sementara ini digunakan sebagai posko dan pusat informasi korban kecelakaan pesawat yang terjadi beberapa jam lalu.

Setelah pesawat dinyatakan hilang kontak, perwakilan tim pencarian menyatakan jika pesawat tersebut jatuh di perairan perbatasan antara Jepang-Korea. Hingga saat ini tim angkatan laut Korea dibantu tim dari berbagai negara asing masih melakukan pencarian.

Para keluarga korban diminta untuk tetap tenang menunggu infomasi lebih lanjut. Namun himbauan itu seolah menjadi angin lalu. Yang mereka inginkan hanya keluarga mereka kembali.

Tak ada satu katapun yang mampu meluapkan segala protes demo sedih dalam diri Baekhyun. Air mata seakan lebih banyak mewakilkan segala emosi jika dibandingkan dengan keluhan dalam bibir.

‘kau lihat sayang? Ibumu pingsan. Ayahmu sekuat tenaga menahan air matanya, tapi tetap saja kesedihan terlihat jelas dari wajahnya. Mereka sangat terpukul. Apa kau tak kasihan? Cepat pulang sayang, aku ingin memelukmu walau untuk yang terakhir kali.”

– Fly Over 40.000ft –

Baekhyun memandang lemah sebuah peti putih dihadapannya. Mata tajam yang dulunya begitu menarik perhatian kini berubah menjadi mata sayu tanpa energi, kantung matanya menggantung penuh kesedihan. Tangannya tak lepas dari peti tersebut. Ia bisa merasakan tubuh dingin Taeyeon didalamnya.

Tiga hari setelah kecelakaan itu, tubuh Taeyeon baru ditemukan dan teridentifikasi. Tubuhnya dikenali karena masih menggunakan seragam lengkap pramugari serta petunjuk dari cincin yang masih melekat di jari manisnya. Menurut tim identifikasi, cincin yang dipakai mirip dengan cincin yang diunggahnya dimedia sosial beberapa jam sebelum kecelakaan terjadi. Cincin pemberian Baekhyun.

Disisi peti yang lain nyonya Kim yang didampingi tuan Kim juga duduk tak sedikitpun melepaskan pelukannya dari peti putih itu. Energinya sudah terkuras habis selama tiga hari ini. Tuan Kim yang dari kemarin masih mencoba tegar, kini sudah tak kuasa menahan air matanya.

“Tuan, mobil ambulan sudah siap untuk mengantarkan proses pemakaman nona.”

Tuan Kim mengangguk lemah. Sementara nyonya Kim semakin mempererat pelukannya, para pelayat yang hadir turut bersedih melihat keadaan nyonya Kim.

‘kau tau sayang? Inilah hal yang paling kutakuti selama ini. Aku takut kau terbang terlalu jauh. Aku takut tangan ini tak mampu menggapaimu lagi. Pada akhirnya cahaya ini meredup bersama takdir cerita mahacinta.”

– Fly Over 40.000ft –

Sedikit demi sedikit peti putih bersih itu tertutupi oleh tanah. Baekhyun mencoba untuk tegar dengan sisa-sisa energi dalam dirinya, layaknya sebuah karang yang dihempas sang ombak. Tubuhnya terasa berat untuk menyaksikan detik-detik alam yang akan memisahkan mereka berdua. Air mata yang dirasa sudah terkuras habis masih saja mengalir dari balik kaca mata hitam miliknya.

Tepat disampingnya, Chanyeol menepuk-nepuk bahu Baekhyun untuk memberikan sedikit kekuatan. Jika saja tak ada Chanyeol disana, mungkin ia akan lompat kedalam liang dihadapannya dan membiarkan tubuhnya terkubur oleh tanah. Meski terasa mengerikan, setidaknya jika bersama Taeyeon semuanya akan berubah menjadi lebih baik.

‘apa kau takut sendirian sayang? Jika kau meminta, aku akan menemani. Memberikan cahaya dan mengusir kegelapan yang menyelimutimu’

– Fly Over 40.000ft –

Wangi tubuh Taeyeon masih melekat didalam kamar yang dimasuki Baekhyun. Kamar ini tidak terlalu besar namun memberikan rasa nyaman bagi siapapun yang memasukinya. Jika saja peristiwa tragis itu tidak terjadi mungkin ini akan menjadi kamar miliknya juga kelak.

“Byun, setelah kita menikah nanti, apa kau akan membawaku kerumah yang lebih besar dan mewah?”

“kenapa tidak? aku bekerja dan berusaha hingga sampai posisi ini hanya untuk pernikahan kita, hanya untukmu.”

“bukan rumah mewah yang kuinginkan. Aku mencintai rumahku, rumah sederhana namun menyimpan sejuta kenangan. Dari sana aku membangun mimpiku untuk terbang. Apa boleh aku meminta sesuatu?”

“tentu saja…”

“setelah kita menikah nanti, sebelum menempati rumah yang kau janjikan, bisakah kita tinggal dirumahku? Aku ingin bernostalgia sejenak, mengingat kenangan sebelum aku mengikat diri sepenuhnya denganmu. Aku tau seorang wanita yang sudah menikah haruslah menuruti dan mengikuti kemanapun suami pergi tapi untuk kali ini saja—”

“ide bagus. Lagipula aku mulai bosan tinggal dalam appartemen. Aku juga penasaran kenyamanan rumah yang kau ceritakan itu. Dari dulu aku ingin menginap tapi kau selalu melarangku, sungguh menyebalkan.”

“kau ingin tetanggaku menyebarkan gossip yang tidak-tidak huh? ‘seorang lelaki menginap dirumah gadis yang belum menikah’, arghh aku bisa gila.”

Tangannya menyentuh satu persatu bingkai-bingkai kecil yang terpajang di dinding, melukiskan potret masa lalu yang begitu indah.

“Baekhyun-a…”

pandangan Baekhyun beralih pada ayah Taeyeon yang baru saja memasuki kamar.

“ada yang ingin kubicarakan. Aku tunggu di halaman belakang.”

“ye, Abeonim…”

– Fly Over 40.000ft –

“argh!!”

Baekhyun mendesah kesal lantaran deretan mobil-mobil didepannya tak kunjung bergerak. Tidak biasanya jalanan macet seperti ini. Suasana benar-benar tidak mendukung disaat ia sedang terburu-buru.

“kemarin perngacara Taeyeon menemuiku. Aku ragu untuk mengatakan semuanya padamu. Sebelumnya, Taeyeon memintaku untuk merahasiakan hal ini, mungkin ia akan memberitahumu secara langsung sebagai kejutan. Sayangnya waktu tak berpihak. Aku mencoba bertahan untuk menghormati keinginannya namun sekian lama aku menahannya membuatku semakin sakit.”

“katakan saja, abeonim. Nan gwenchanseumnida –aku baik-baik saja—…”

“pengacara itu membawa surat permohonan yang Taeyeon ajukan sebelum kecelakaan itu terjadi.”

“surat permohonan?”

“surat permohonan pengunduran diri dari maskpai penerbangan. Beberapa waktu lalu Taeyeon sempat meminta solusiku untuk keluar dari pekerjaannya. Kau tau apa alasannya? Ia ingin fokus mengurusi pernikahan kalian nanti. Ia ingin menjadi wanita sempurna yang hanya mengurus uruan rumah tangga. Awalnya aku hanya tertawa, terbang adalah mimpinya jadi tak mungkin ia melepaskan mimpi itu begitu saja. Tapi ternyata ini bukan hanya gurauan semata, ia benar-benar ingin mengundurkan diri. Dan jika permohonan itu berlanjut, hari itu seharusnya menjadi hari terakhir ia melakukan penerbangan sebagai seorang pramugari. Nyantanya hari itu justru menjadi hari terakhir ia terbang dalam hidupnya.”

Baekhyun sudah tidak tahan menunggu, ia segera keluar dari mobilnya dan berlari dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Mobilnya ia tinggalkan begitu saja.

Langkah kakinya berhenti pada hamparan hijau tanah yang bergelombang. Kehadiran Baekhyun disambut senyuman hangat dari sebuah potret yang memakai seragam pramugari, begitu cantik. Gundukan tanah dibawahnya masih belum mengering.

“kenapa… kenapa kau merahasiakannya dariku?” lirihan Baekhyun begitu lemah sampai nyaris tak terdengar.

“apa kau bahagia sekarang? Pergi bersama mimpimu, terbang jauh meninggalkan aku sendiri. apa kau bahagia, sayang? Seharusnya kau tau, tanpamu aku seperti sebuah pulau tak berpenghuni.”

‘jika aku kehilangan salah satunya, maka aku akan mati.’

Kalimat yang sempat diucapkan Taeyeon saat mereka bersama kini kembali terngiang.

“jika saja aku tau kalau ucapanmu waktu itu bukan hanya barisan kata tanpa arti, maka aku tidak akan pernah menyuruhmu untuk berhenti terbang. Aku akan membiarkanmu mengabdi sebagai seorang pramugari seumur hidupmu jika kau mau.”

“tunggu aku… tunggu aku, sayang. Jika di kehidupan ini aku tak mampu memilikimu, maka dikehidupan berikutnya aku akan memilikimu seutuhnya. Kita akan bersama selamanya. Tak sedikitpun kubiarkan tanganmu lepas dari genggamanku. Seperti kalimat yang kau tulis sebelum kau terbang jauh, Although as time passes, let’s not let go of our hands cause I want to be by your side forever

– Fly Over 40.000ft –

-tiga tahun kemudian-

“apa kabar, sayang…”

Baekhyun meletakkan rangkaian bunga lily putih diatas gundukan hijau dihadapannya. Setelah kejadian tiga tahun silam, Baekhyun masih sering pergi ke makam Taeyeon dengan membawa bunga lily dan menggantinya ketika bunga itu layu. Penyesalan dalam hidupnya adalah ia tak pernah melakukan hal demikian sewaktu Taeyeon masih hidup.

“kenapa hanya dipandangi? Kau tak suka mawar itu?”

“bukan begitu. Aku hanya lebih menyukai lily putih.”

“kalau begitu buang saja. Aku akan membelikan lily putih nanti.”

“tidak! Sayang jika harus dibuang mengingat sangat susahnya menerima bunga dari orang yang tingkat kepekaannya jauh dibawah batas normal. Kau ingin membelikanku lily putih? Hmm… aku rasa baru akan menerimanya tahun depan.”

Sekilas tersungging senyuman dari bibir Baekhyun jika harus mengingat masa lalunya yang masih begitu jelas. Bahkan waktu tak mampu menghapuskan memori itu dari otaknya.

“kau tau, hari-hariku selama tiga tahun ini sangat sepi. Dunia begitu penuh warna tapi dimataku hanya sebuah dunia kelabu yang sunyi. Aku merindukanmu. Aku rindu wangi green tea dari tubuhmu. Aku rindu lengkung manis bibirmu. Aku rindu kemarahanmu. Lelaki tidak peka ini rindu semua yang ada pada dirimu.”

Mata Baekhyun sedikit berkaca-kaca, air yang sudah menumpuk dipelupuk mata bersiap untuk menghujani wajah Baekhyun. Namun tangannya segera menghapus setiap tetesan kecil di sudut matanya.

“lihat betapa bodohnya diriku yang berusaha keras untuk tidak terlihat cengeng didepan rumahmu, sayang.”

“sebentar lagi aku akan membuka perusahaan sendiri. Berikan aku semangat, setidaknya datanglah ke mimpiku. Kau tau betapa sepinya tidurku karena akhir-akhir ini kau menghilang dari mimpiku? apa jangan-jangan kau nakal disana? Jangan pernah bermain dengan pilot itu lagi meskipun aku tak sedang disana. Sudah kukatakan berkali-kali jika hati ini akan mengontrolmu. Tunggu aku, sampai aku memilikimu kembali. Aku disini juga tak akan mengingkari janji kita, karena kau… kau adalah cinta pertama dan terakhir untukku.”

Baekhyun melangkah meninggalkan makam Taeyeon diiringi daun-daun musim gugur yang berterbangan. Setiap jejak yang ia ciptakan begitu berat, ia ingin berada disana selamanya jika ia bisa.

Langkahnya terhenti saat melihat seorang anak kecil yang melompat-lompat berusaha untuk mengambil layang-layang yang tersangkut pada salah satu ranting pohon. Baekhyun mendekati anak kecil itu dan mengambil layang-layang yang tersangkut lalu memberikannya.

“terimakasih, ahjussi.”

Baekhyun tersenyum sambil mengacak pelan rambut anak kecil itu. Ia berjongkok untuk menyejajarkan tubuhnya dengan tubuh mungil dihadapannya.

“siapa namamu jagoan kecil?”

“Tae Hyun… Nam Tae Hyun imnida.”

Baekhyun membeku.

“Tae Hyun… Jika nanti aku melahirkan anak laki-laki, aku akan memberikan nama Tae Hyun.”

“Tae Hyun? Gabungan dari Taeyeon dan Baekhyun? Hmm… aku rasa itu nama yang bagus.”

“Anio! Taehyun itu gabungan dari Taeyeon dan Kim Soo Hyun.”

“ya! Suamimu nanti adalah aku, maka Hyun haruslah namaku. Kalau kau tidak setuju, menikah saja dengannya!”

“Ide bagus Byun! Aku akan menikah dengan Kim Soo Hyun. Dan akan kubuat dirimu menjadi lelaki yang paling susah move on didunia ini.”

Baekhyun menunduk mengingat secarik kenangan yang melintas. Ia kembali tersenyum menatap anak laki-laki dihadapannya.

“Tae Hyun… Namamu begitu indah. Kenapa kau main sendiri? Mana teman-temanmu?”

Anak laki-laki itu menunduk, ekspresinya berubah menjadi sedih. Satu tetesan mengalir dari sudut matanya.

“aku tak punya teman. Semua teman-temanku menjauhiku karena aku tidak sekolah.”

Baekhyun dapat merasakan kesedihan yang dirasakan anak kecil itu. Ia membelai rambut anak itu, mengalirkan kehangatan yang begitu dalam.

“sst… berhentilah menangis. kau pasti bisa melanjutkan sekolahmu nanti.”

“aku tidak bisa. Ayahku hanya seorang pengantar koran, ibuku seorang pembantu rumah tangga. Aku tidak ingin membebani mereka.” Air mata kembali mengaliri wajah polos anak itu. Baekhyun sama sekali tidak menyangka jika dibalik tubuh mungil anak itu tersimpan sikap kedewasaan yang begitu mengagumkan.

“dunia ini penuh dengan sebuah kejutan. Kau hanya perlu menatap langit dan berdoa. Jika keinginanmu benar-benar tulus, maka kejutan yang indah akan menghampirimu.”

Tangan Baekhyun mengusap air mata dari pipi anak itu. Ia mengeluarkan sebuah permen dari saku jasnya dan memberikannya. Setelah itu ia pergi menuju mobil hitam yang terparkir di pinggir jalan. Sekretaris pribadinya yang sedari tadi menunggu menyambut kehadirannya sambil membukakan pintu mobil untuknya.

“sekretaris Jung…”

“ne, sajjangnim.”

“kau lihat anak yang disana? Namanya Nam Tae Hyun. Cari tau tentang anak itu dan berikan asuransi pendidikan untuknya sampai ia mendapatkan perkerjaan yang layak.”

“sajjangnim…?”

“aku tidak ingin menerima pertanyaan. Cukup lakukan apa yang kuperintahkan.”

“saya mengerti, sajjangnim.”

Senyuman terlukis dari bibir Baekhyun. Tidak biasanya ia sebahagia ini, seolah baru saja menemui seseorang yang salama ini ia rindukan.

Kau lihat sayang? Aku baru saja bertemu dengan anak yang bernama Tae Hyun, sebuah nama yang kau bangga-banggakan akan menjadi nama anak kita nanti. Bolehkah aku menyebutnya reinkarnasi dari anak kita? Melihatnya begitu tampan membuatku semakin tak sabar untuk bertemu denganmu dikehidupan selanjutnya. Aku bosan hidup dalam jebakan ilusimu. Seolah-olah tangan ini sanggup meraihmu, nyatanya tak lebih dari sebuah fatamorgana. Itu sungguh penyiksaan yang begitu kejam, aku akan menghukumu nanti, diperabadian kita.

– End –

Gimana readers endingnya? Setelah baca cerita ini pasti udah tau dong ya cerita ini terinspirasi dari siapa. Jujur saja jiwa terasa digetarkan /yaelahh bahasanya/ setelah baca artikel kisah romantis pramugari Air Asia dengan kekasihnya, semoga beliau diberikan tempat yang terbaik ya, Amiin. Semoga keluarganya juga diberikan ketabahan dan kekuatan.

Jangan lupa tulis komentarnya ya readers. Komentar kalian sangat membantu untuk perkembangan author di karya berikutnya. Terimakasih^^

    

Advertisements

79 comments on “[FREELANCE] Fly Over 40.000ft (Chapter 2/Ending)

  1. Sumpah demi apapun min gw baper samper sekarang :(, daebak banget.. Feelnya dapat banget, sedih bacanya, seharusnya memang itu jadi penerbangan terakhirnya karna mw jadi ibu rumah tangga yang sempurna, tapi ternyata itu penerbangan yang terakhir dalam hidupnya. Ahk sumpah demi apapun gw nangis baca ini :(. Sakit banget pastinya, masih gak bisa bayangin kalo suatu saat gw jadi pramugari itu terjadi sama gw.. Gw bner” baper 😦

  2. Tukan sad ending 😞
    Kenapa ga dibuat aprilmop aja misalnya taeyeon nya dikira meninggal tapi ternyata masih hidup
    Aku ngarepnya gitu loh thor 😭😭😭
    Ditunggu karya yg lainnya FIGHTING

  3. ah sumpaah.. daebaaaakkk…
    aku nangis baca ff ini. sedih banget 😀 dapet banget feel nya. untung udah malem jadi gak ada yang tau kalo aku nangis 😀 ditunggu karya karya selanjut nya yaa 😉

  4. kereeeen… Aq sampe merinding bacanya..
    ini feel nya dapet banget.. kayaknya tuh bisa ngerasain apa yang Baekhyun rasain disini.. 😦
    nyesek bacanya.. 😥

  5. hallo author-nim, ff ini feelnya dapet bgt bikin saya nggak kuat nangis dan maaf ga sempet komen sblmnya, ini bikin saya takut baca soalnya sedih bgt, dan dikeduakalinya ini sy baru smpt comment, miann habis sedih bgt😂😢😭

  6. Daebakk ..
    Ceritanya keren bgt thor .
    Feel ny dpt banget ..
    Sad ending ..😢
    Tp ttp kerenn … 👍👏.

  7. Author tanggung jawab niihh aku nangiss T.T huwaaa sesih bangett bacanya..kenapa Taeng harus mati??? kenapa coba?? huaaaaaa…Baekhyunnya kasian bangett…ahh authorrr keren banget lah FFnya,skses bingo!

    minta sequelnya dong author :3 aku suja bangeeeeettt 😀 keep writing

  8. Sumpah demi apapun, dari awal part 2 sampai end aku nangis u,u . Feelnya dapet bgt.. Tisu mana? Tisu mana?.
    Satu kata utk ff ini KEREN

  9. sumpah min ini keren banget. yang versi SiFany jg ada ya ?. aku nangis baca nih ff, alurnya anti mainstream, fell nya dpt bgt. aku blm sempet comment di chap 1, sekalian aja ya di sini. keep writting and hwaiting min !!

  10. sumpah min ini keren banget. yang versi SiFany jg ada ya ?. aku nangis baca nih ff, alurnya anti mainstream, fell nya dpt bgt. aku blm sempet comment di chap 1, sekalian aja ya di sini. hwaitting min 🙂

  11. authornimmmm.. aku sering bgt ngulang2 baca ff ini. suka banget, kata2 nya nyentuh, kalimat2 nya bikin serr sampe ke hati. enak juga di bacanya. kapan comeback lg bawa ff baekyeon? aku rindu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s