[FREELANCE] Find Of Happiness (Chapter 2)

find-of-happiness
Find Of Happiness

Author : MelanKyutae

Length : Multi-chapter

Rating : T

Genre : Romance, Friendship, Family.

Main Cast : Kim TaeYeon, Cho KyuHyun, Park Jiyeon, Kim Myungsoo

Other Cast : Ok Taecyeon, Krystal Jung, Jung Yonghwa, Lee Chaerin

Desclaimer : Cerita full milik aku, walaupun ada beberapa scene yang terinspirasi dari drama korea. Untuk semua cast tetap milik Tuhan dan orangtua mereka masing-masing. Jika ada kesamaan dalam alur cerita maupun tempat, itu adalah unsur ketidak sengajaan. DON’T PLAGIAT!!
Sorry for typo(s)…

Preview: Chapter 1

~oOo~

Apa yang bisa Taeyeon lakukan? Tentu saja  ia hanya bisa terpaku menatap punggung kedua orang itu hingga mereka menghilang dalam kegelapan. Taeyeon masih tak bergeming, terus terdiam dengan pandangan kosong kearah depan.
Akhirnya Yonghwa datang menghentikan mobilnya tepat di depan Taeyeon, namun tetap saja yeoja itu tak mnghiraukannya.
“Taeyeon-ssi” panggil Yonghwa dari kursi kemudi.
Taeyeon tak merespon, matanya masih tertuju kearah kepergian pria tadi.
“Itu.. kekasihnya?” lirih Taeyeon. Saat itu pula ia merasa, mungkin bisa dibilang.. Ia merasa kecewa.

~oOo~

 

 

Chapter 2

 

~oOo~

 

 

 

“Wah!!” Jiyeon berdecak kagum. Sesekali pandangannya mengedar dan kadang mengguncang pelan lengan Taeyeon yang masih berada di pelukannya. Taeyeon hanya tersenyum seraya menggeleng maklum.
“Silahkan..” ujar Yonghwa sedikit menyentakkan Taeyeon dan Jiyeon dari kesibukannya masing-masing.
Namja tampan itu berjalan di depan mereka dan tersenyum kala melihat dua yeoja dibelakangnya masih terkagum-kagum.
“Selamat datang” kelima pegawai disana membungkuk hormat saat mereka sudah sampai disalah satu pintu ruangan yang cukup besar.
“Berikan pelayanan yang terbaik untuk dua nona ini” titah Yonghwa.
“Baik, tuan” jawab mereka kompak. Salah satu pegawai itu membukakan pintu, “Silahkan, nona” ujarnya ramah.
“Wahh…” untuk kesekian kalinya Jiyeon berdecak kagum, melepaskan pelukannya di lengan Taeyeon dan masuk lebih dulu.
Taeyeon hanya bisa menggelengkan kepala melihat ulah sahabatnya itu.
“Bersantailah. Jika ada apa-apa, Taeyeon-ssi bisa menghubungi saya” kata Yonhwa, menepuk pelan pundak Taeyeon.
Dan yeoja itu balas mengangguk seraya menjawab, “Geuraeyo”

***

Setelah dimanjakan dengan semua perawatan kecantikan yang hampir menghabiskan waktu dua jam, kedua gadis itu tampak belum ingin mengakhiri semuanya. Buktinya mereka membiarkan karyawan disana memijat tubuh mereka, memberikan relaksasi tersendiri untuk Taeyeon dan juga Jiyeon.
“Spa ini benar milik calon suamimu?” tanya Jiyeon diantara mata terpejamnya.
“Hm” jawab Taeyeon dengan sebuah dengungan.
“Tuhan. Kapan aku bisa mendapatkan suami berkelas sepertimu. Bahkan dia tak keberatan saat kau membawaku kesini. Apa dia nanti tak akan bangkrut?” lagi-lagi Jiyeon bertanya.
Taeyeon tersenyum mendengar ucapan polos sahabatnya itu, “Tentu saja tidak. Lagipula saat semua ini sudah selesai, dia akan memberikan tagihan kita berdua ke rekeningmu” ujar Taeyeon sambil terkekeh.
“YA!” Jiyeon membuka matanya dan menatap Taeyeon tajam, “Kau yang mengajakku kemari, nona”
“Tenanglah, Jiyeon-ah. Nikmati saja pijatanmu, setelah ini kita akan menata rambut” balas Taeyeon membuat Jiyeon mengalah.
“Baiklah” dia kembali memposisikan tubuhnya senyaman mungkin dan mulai menutup mata.

***

Taeyeon membaca majalah fashion yang berada di pangkuannya dengan tenang sambil menunggu rambut panjangnya selesai ditangani sang penata rambut.
“Apa nona tak ingin memakai poni?” tanya yeoja yang sejak tadi bergulat dengan rambutnya.
Taeyeon menghentikan kegiatannya dan menatap yeoja itu dari cermin, “Haruskah?” responnya.
Penata rambut tersebut tampak memainkan helaian rambut halus Taeyeon seraya terus menatap pantulan wajah Taeyeon di dalam cermin, “Wajah nona yang berkarakter akan semakin terlihat muda jika berponi. Ingin mencoba?” tanya penata rambut itu lagi.
Taeyeon tersenyum tipis, “Tapi aku ingin terlihat dewasa” jawabnya.
“Ahh…” penata rambut itu menganggukkan kepala tanpa bisa membantah lagi, sedangkan Taeyeon kembali membaca majalahnya.
“Hajiman…” tiba-tiba Taeyeon kembali menatap yeoja itu dari cermin, “… poni, sepertinya tidak buruk”
Penata rambut itu tersenyum puas, “Anda tidak akan kecewa dengan hasilnya, nona”

***

“Omo! Apa yang mereka perbuat dengan wajahmu?” Jiyeon yang baru bergabung dengan Taeyeon tampak terkejut kala melihat perubahan sahabatnya itu.
“Jangan berlebihan” balas Taeyeon tanpa mau mengalihkan pandangannya dari layar ponsel barunya.
“Tapi sungguh, kau manis sekali. Apa yang penata rambut itu perbuat, huh?” tanya Jiyeon seraya duduk disamping Taeyeon.
“Hanya memberikanku poni. Ya aku pikir tak ada salahnya mencoba” jawab Taeyeon seraya memasukkan ponsel kedalam tas dan mulai menatap sahabatnya.
“Aish! Mengapa mereka tidak memberikanku poni? Benar-benar pilih kasih” sungut Jiyeon.
Taeyeon hanya mengangkat bahunya seraya tersenyum, “Sudahlah, yang penting hari ini kau merasa bagai disurga, bukan?”
“Benar juga” kata Jiyeon akhirnya, “Dan calon suamimu itu kapan menjemput? Hari sudah semakin sore”
Taeyeon melirik jam tangannya, “Sebentar lagi. Dia bilang dalam waktu lima belas menit akan tiba disini. Kau pesan makanan atau minuman saja dulu. Hitung-hitung untuk menghilangkan rasa bosan” ujarnya seraya menyandarkan punggung di kepala sofa.
Jiyeon membenarkan posisi duduknya dan menatap Taeyeon lekat, “Ngomong-ngomong, kenapa kau mau saja diajak ke spa yang penuh pengunjung seperti ini? Bahkan jika aku mengajakmu berbelanja di mall, kau selalu menolak dan lebih memilih belanja online”
Helaan napas Taeyeon terdengar sangat jelas, yeoja itu kembali menoleh pada sahabatnya, “Karena apa lagi kalau bukan paksaan dari appa. Sebenarnya aku anti dengan keramaian dan kau tau sendiri kalau aku tak pernah mengunjugi tempat umum kecuali kampus. Itu sebabnya aku juga mengajakmu untuk ikut bersamaku” jelasnya.
Jiyeon mengangguk-angguk mengerti, “Sepertinya kau harus banyak belajar untuk beradaptasi dengan keramaian. Manusia tidak bisa hidup sendiri. Lambat laun kau juga akan membutuhkan orang lain”
“Kau benar” Taeyeon mengalihkan pandangannya kearah lain dan menyilangkan kaki kanannya bertumpu pada kaki kiri.
“Sudahlah, sekarang kau pesankan minuman untuk kita berdua”
Jiyeon mendengus mendengar perintah itu, namun ia sama sekali tak melayangkan protesan. Memanggil pelayan dan memesan dua gelas cokelat panas.
Sementara Taeyeon, gadis itu tampak sedang menatap malas orang-orang yang berada di sekitarnya. Pengunjung salon dan spa itu sepertinya tak jauh-jauh dari sosok putri konglomerat. Taeyeon bisa melihatnya dari dandanan para pengunjung tersebut.
“Usaha miliknya tak sia-sia. Pantas saja appa nekad menjodohkanku dengannya” lirih Taeyeon terdengar putus asa.
Mata bulatnya terus mengedar keseluruh penjuru ruangan sampai tak sengaja berhenti tepat pada satu sosok yang tengah duduk agak jauh dari sofanya.
Pria itu… Seketika itu pula Taeyeon menegakkan punggung dan menatap tak percaya akan sosok didepannya. Hampir seminggu kejadian di bus dan didepan restoran, Taeyeon tak pernah lagi bertemu dengan pria penolongnya itu. Dan entah apa rencana Tuhan, hingga ia dipertemukan kembali secara tak sengaja di tempat ini dengan namja yang sama.
Taeyeon menyunggingkan senyumnya. Walau tak terlalu kuat, tapi ia bisa merasakan dirinya yang begitu merindukan namja penolongnya. Diam diam, Taeyeon terus memperhatikan namja itu. Bahkan ia tak menyadari minuman yang tadi Jiyeon pesankan sudah berada dihadapannya. Jiyeon sendiri tak terlalu memperhatikan Taeyeon karena ia sudah sibuk dengan ponsel.
Taeyeon melihat namja itu sudah berkutat pada buku yang sengaja ia pangku dan terkadang pula pandangannya mengedar kesekeliling ruangan. Tampak seperti orang yang sedang menunggu… Dan benar saja. Satu orang yeoja dengan perawakan tinggi anggun, datang mendekat kearahnya. Mengecup pipi kiri dan kanan pria itu sebelum memamerkan senyum manisnya.
Dahi Taeyeon mengerut. Yeoja itu… mungkinkah dia yeoja yang bersama namja penolongnya saat di restoran seminggu yang lalu? Taeyeon tak tau pasti dan ia tak begitu ingin mengetahui tentang si yeoja.
“Taeng-ah… Hei, kau dengar tidak?” Jiyeon melambaikan tangannya di depan wajah Taeyeon.
“M-mwo?” Taeyeon segera tersadar dan balas menatap Jiyeon walau pandangannya tak fokus.
“Sejak tadi aku mengajakmu bicara. Aish, kau ini” Jiyeon menggelengkan kepalanya, “Kau melihat apa, eoh?” yeoja itu mengedarkan pandangannya dan tak lama kemudian, ia menemukan objek yang sedari tadi dipandang Taeyeon.
“Oh~ Krystal Jung ternyata. Aku tak menyangka jika gadis itu menghabisan waktunya disini juga” ujar Jiyeon mengomentari yeoja yang bernama Krystal itu.
“Nugu-ya?” tanya Taeyeon sekenanya, dia ikut menatap objek yang dimaksud Jiyeon.
“Tadi kau memperhatikan Krystal, kan? Gadis cantik itu tak kusangka pelanggan spa milik suamimu.. oh, maksudku calon suamimu” jawab Jiyeon memperjelas perkataannya.
“Kau kenal dengan gadis itu?” tanya Taeyeon. Terus menatap dua orang yang tampaknya tengah berbincang akrab. Sebenarnya Taeyeon tak peduli dengan gadis bernama Krystal itu, perhatiannya terpusat sepenuhnya pada sang namja.
“Tentu saja aku kenal. Krystal dari program studi management, dia cukup pandai. Tak seperti dirimu yang hanya menang kaya dan berwajah manis, namun tak berotak” jawab Jiyeon sekenanya.
“Sialan kau!” Taeyeon memukul lengan sahabatnya, membuat gadis itu terkekeh geli.
“Tapi walaupun tak berotak dan sedikit arogan, kau sangat baik padaku Taeng-ah” lanjut Jiyeon mengerling kearahnya.
Taeyeon berdecak, “Aku memang baik. Kau saja yang selalu memojokanku”
Kembali Jiyeon tersenyum membenarkan perkataan Taeyeon, namun saat teringat sesuatu ia kembali menatap kearah Krystal Jung, “Bukankah itu dia? Ternyata mereka benar-benar dekat. Aku pikir hanya rumor yang beredar di kampus saja”
“Maksudmu?” tanya Taeyeon tak mengerti sama sekali.
Jiyeon memutar bola matanya malas, “Sepertinya kau memang tak tertarik dengan kabar yang beredar di kampus. Kau hanya peduli dengan dirimu sendiri sampai tak tau perkembangan sekitar” cibirnya.
“Aish! Kau cukup menjelaskan dan jangan memakiku lagi” sergah Taeyeon mulai bosan dengan makian sahabatnya itu tentang dirinya.
“Dia itu. Namja yang berada di dekat Krystal adalah….”

“Apa saya terlambat?” suara berat Yonghwa menyentakkan mereka, dia berdiri didepan Taeyeon dan Jiyeon yang otomatis membuat mereka tak bisa lagi memandang objek didepannya.
“Maaf atas keterlambatan saya” kali ini namja itu membungkuk meminta maaf.
Taeyeon dan Jiyeon tersenyum kaku, “Tak masalah” jawab Taeyeon.
“Mari kita pulang” ajaknya. Mengulurkan tangan pada Taeyeon dan mau tidak mau gadis itu menerima uluran tangannya.
Taeyeon bangkit dari duduknya dan ketika melihat arah sofa dimana namja penolongnya tadi duduk, sudah tak ada siapapun lagi disana. Ia menghela napas sebelum mengikuti langkah Yonghwa lalu diikuti Jiyeon.
“Tampaknya namja itu sudah pergi lebih dulu” batin Taeyeon sedih. Kembali hatinya merasa kecewa. Untuk kedua kalinya ia merasakan hal seperti ini. ‘Apa yang sebenarnya terjadi dengan perasaanku?’

~oOo~

Ketukan kecil di pintu kamarnya membuat Taeyeon kembali kealam sadar dan menatap pintu kamarnya malas.
“Nona” suara pelayan Im terdengar saat pintu kamar sudah terbuka.
Belajar dari kejadian lalu, pelayan itu tak ingin langsung masuk, mengintip dari balik celah pintu terlebih dahulu guna memeriksa keadaan kamar.
“Hm?” tanya Taeyeon, masih menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.
“Ayah anda tidak akan pulang dalam seminggu ini. Tadi beliau memberitahu saya lewat telefon. Ada proyek yang harus ditanganinya di Itali” jawab pelayan Im.
Taeyeon menggenggam sprei di bawahnya kuat-kuat. Tak terasa air matanya sudah mengalir.
“Dan makan malam kali ini harus tanpa tuan lagi. Mari kebawah, nona”
Taeyeon tak menghiraukan perkataan pelayan itu. Ia terus terdiam dengan tangan yang masih menggenggam kuat sprei ranjangnya.
“Agassi…”
“KAU MAKAN SAJA SENDIRI!!” bentak Taeyeon seraya menatap tajam pelayan di hadapannya.
Pelayan Im langsung melangkah mundur, tak sengaja menutup pintu kamar Taeyeon dan kemudian hening. Jeda beberapa saat.
“Agassi…” pangilnya hati-hati.
“MENJAUH DARI KAMARKU!!” teriak Taeyeon lagi.
Seketika itu pula, terdengar derap langkah yang semakin menjauh dari pintu kamar. Sudah tentu pelayan Im tak ingin berlama-lama berdiri disana. Membujuk Taeyeon lebih lanjut sama saja dengan memperpendek usianya.
Sementara didalam kamar, Taeyeon tengah berusaha meredam isak tangisnya yang sebentar lagi akan pecah. Mati-matian ia menahannya hingga rahang bawahnya bergetar hebat.
“Tak masalah, Taeng. Gwaenchana…” hiburnya pada diri sendiri, “Aish!”
Taeyeon menatap langit-langit kamar dan menerawang disana. Matanya masih berkaca-kaca, tampak sedang memikirkan sesuatu sampai suara dering ponsel mengganggu ketenangannya. Taeyeon menatap tajam ponsel barunya yang berada diatas nakas dan mulai menggapainya.
“Yeoboseyo?” jawab Taeyeon ketus.
“Kim Taeyeon-ssi, ini aku, Yonghwa. Apa anda memiliki acara malam ini? Aku ingin mengajakmu….”
“Kau sangat mengganggu. Berhenti menghubungiku!!” teriak Taeyeon dan segera memutuskan panggilan.
“Aish! Semuanya membuatku muak” gerutunya pada keheningan.
Tak berapa lama, ponsel yang masih berada dalam genggaman gadis itu berdering lagi. Tanpa menunggu lama, Taeyeon segera menerima panggilan itu.
“Apa lagi?!” tanya Taeyeon sedikit geram.
“Hei. Sabar, nona, sabar. Ini aku, Park Jiyeon” jawab suara diseberang sana.
Taeyeon menghela napas untuk kemudian menetralkan emosinya yang hampir meluap, “Cepat katakan ada apa? Aku dalam kondisi yang kurang baik. Jadi tak ingin mendengar makianmu” ujarnya mencoba melembutkan suara.
“Salah-salah bicara, aku bisa kena sembur nona Kim. Mengerikan sekali” goda Jiyeon bermaksud memperbaiki mood sahabatnya.
“Ji-ya, seriuslah. Ada apa?” tanya Taeyeon lagi.
“Baiklah, karena kau sedang dalam kondisi kurang baik, melampiaskan kemarahanmu pada orang lain. Bagaimana kalau sebaiknya kita pergi ke pesta ulang tahun Choi Sooyoung?” saran Jiyeon dengan semangat.
Sementara Taeyeon mengerutkan dahi, “Sooyoung? Nugu-ya?” tanyanya, seperti orang yang memang tidak tau apa-apa.
“Aish! Ternyata kau memang hanya mempedulikan dirimu sendiri” cibir Jiyeon, “Sudah, ikut saja. Jemput aku jam delapan, eotte?”
Sejenak Taeyeon berpikir, “Baiklah” jawabnya.

 

~oOo~

 

Taeyeon meneguk kembali minuman pekat dalam gelasnya sampai habis dan segera memanggil pelayan guna menuangkan wine ke dalam gelasnya yang sudah kosong. Jiyeon yang melihat aksi gila sahabatnya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.
“Hentikan, Taeyeon-ah. Kau bisa mabuk parah nanti. Ingat, kau bawa mobil” tegur Jiyeon mengingatkan.
Taeyeon mengedikkan kedua bahu, “Siapa peduli, lagipula ada kau. Sopir pribadiku” racaunya dengan aksen khas orang mabuk.
“Sial kau!” Jiyeon yang juga sedikit mabuk, sempat tersenyum kearah Taeyeon.
Dua gadis itu saling melempar senyuman untuk kemudian sibuk dengan pikiran masing-masing. Taeyeon menumpu kepalanya dengan tangan kiri, sesekali gadis itu cegukkan karena wine yang diminumnya terlalu berlebihan. Taeyeon memang kuat meminum alkohol sebanyak apapun, namun jika ia sedang benar-benar stress memungkinkan dirinya hilang kendali.
“Choi Sooyoung itu beruntung sekali” Jiyeon membuka suara, pandangannya menatap lurus pada sepasang kekasih yang tengah berdansa dilantai dansa.
“Beruntung karena apa?” tanya Taeyeon masih dengan aksen yang sama. Matanya yang sayu mencoba memperjelas pandangannya kearah dua objek yang dimaksud Jiyeon.
“Sooyoung, sudah cantik, kaya, ramah dan sekarang mendapatkan kekasih yang sepadan. Apa kau tidak cemburu? Oke, kau juga tak kalah kaya dari Sooyoung, tapi kau harus terlibat dalam perjodohan, bahkan kencan buta. Sementara Sooyoung, dia bebas memilih pasangan hidupnya sendiri tanpa ada paksaan dari orangtuanya” ujar Jiyeon panjang lebar, membuat Taeyeon sedikit tersinggung. Namun hanya beberapa saat sebelum ia mendengus.
“Apa bagusnya memilih pasangan sendiri? Lebih baik di jodohkan, terjamin tak kan mengecewakan” balas Taeyeon tak mau kalah.
Jiyeon mengerucutkan bibirnya, “Dasar bodoh! Aku tau, kau menjawab seperti itu hanya untuk menyenangkan dirimu sendiri”
Taeyeon tak menjawab, malah tersenyum miris seraya meminum lagi wine yang masih setia berada dalam genggamannya. Kembali tak ada perbincangan. Mereka yang sudah sedikit-banyak terpengaruh alkohol, lebih memilih diam tak bersuara. Hingga seorang namja mendekati Taeyeon dan duduk disampingnya.
“Annyeong” sapa namja itu. Taeyeon mengernyit tak karuan menatap sumber suara dan sedikit menggeram kala namja tak dikenal itu sudah duduk sangat dekat dengannya.
“Aku lihat sejak tadi, sepertinya kau sedang frustasi. Ingin mencoba sesuatu yang dapat meringankan bebanmu?” namja itu mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya, memperlihatkan bungkusan kecil berisi bubuk putih.
Taeyeon tau benar benda apa itu. Walau sudah terpengaruh banyak alkohol, ia tak bisa dibodohi.
“Untukmu kuberikan secara cuma-cuma. Eotte?” tawarnya.
“Jangan gila!” pekik Jiyeon saat menyadari apa yang namja itu tawarkan untuk sahabatnya. Ia memukul kepala namja itu kemudian berseru, “Pergi kau!”
Pria tak dikenal tadi langsung berdiri kikuk sebelum pergi meninggalkan meja Taeyeon dan Jiyeon. Sepeninggal pria itu, Jiyeon menatap Taeyeon yang sedang memandang kosong pada lantai.
“Tergoda dengan benda haram itu, eoh?” selidik Jiyeon.
Taeyeon sedikit terperanjat dan segera menatap yeoja disampingnya itu, “Aniyo”
“Jangan berbohong. Aku tau apa yang gadis kaya sepertimu pikirkan. Mudah terlena” ujar Jiyeon dengan tegas, “Kurang di perhatikan orangtua, jarang menemukan kebersamaan. Ada yang menawarkan benda seperti tadi dan kau tergoda. Untuk selanjutnya kau akan diperbudak oleh namja tadi. Sudah menjadi rahasia umum, itu permainan lama”
“Dan jika kau tergoda apalagi sampai memakai barang haram itu, sama saja kau yeoja bodoh yang tak lebih dari binatang” sambung Jiyeon penuh penekanan.
Taeyeon menatapnya lekat. Inilah yang ia sukai dari Jiyeon. Sahabatnya itu tak pernah takut maupun ragu untuk selalu menasehatinya bahkan berperan lebih dari sekedar orangtua untuk Taeyeon. Walau Jiyeon selalu berkata seenaknya dan cenderung memakinya, Taeyeon tak pernah benar-benar tersinggung. Ia menjadikan perkataan Jiyeon sebagai pelajaran untuknya. Sungguh, Taeyeon sangat beruntung memiliki teman seperti Park Jiyeon.
“Tidak akan. Aku bukan yeoja bodoh yang bisa dijerat begitu saja” jawab Taeyeon santai, seraya kembali meminum cairan pekat dalam gelasnya.
“Yaa! Jangan minum lagi. Aish! Yeoja babo” umpat Jiyeon saat melihat sahabatnya itu mendadak terbatuk.

***

Taeyeon terduduk di lantai toilet dengan tangan memegangi sisi kloset, ia memuntahkan semua isi perutnya disana. Tak tau berapa banyak yang sudah Taeyeon keluarkan hingga ia merasa sangat lemas. Belum lagi, dirinya yang tak sempat makan malam. Hanya meminum wine dan hanya cairan pekat itu yang memenuhi lambungnya.
“Sshh…” ringis Taeyeon seraya memegangi kedua sisi kepalanya dan memejamkan mata, belum berniat bangkit.
Tenaganya benar-benar habis untuk mengeluarkan isi perutnya. Ditambah lagi kepalanya yang terasa sangat pusing dan berat bagai mau pecah.
“Masih ada orang?” suara itu terdengar bersamaan dengan pintu yang terbuka.
“Eoh! Anda baik-baik saja?”
Taeyeon hanya bisa mendengar suara berat itu tanpa mau melihat siapa pemiliknya. Demi apapun ia tidak dapat melakukan apa-apa selain memejamkan mata dengan badan yang terkulai lemas disisi kloset.
“Mari saya bantu” sosok itu membantu Taeyeon berdiri dan mendudukannya diatas kloset yang sebelumnya telah ditutup.
“Anda baik-baik saja?” tanya sosok itu lagi sambil mengusap lembut kepala Taeyeon, dari nada suaranya terdengar begitu cemas.
“Kepalaku… pusing sekali” ujar Taeyeon lemah.
“Beruntung Sooyoung menyelenggarakan pestanya di hotel berbintang” lirih orang itu dan kembali memandang yeoja dihadapannya, “Mari, saya antarkan anda ke salah satu kamar”
Taeyeon tak menjawab. Ia begitu lelah hingga tak mampu untuk sekedar membuka suara. Seketika, ia merasakan tubuhnya terangkat, dibawa oleh sosok itu dan ia hanya bisa pasrah.

Taeyeon terbatuk beberapa kali, ia makin menenggelamkan dirinya dalam selimut tebal yang sejak tadi membelenggu. Tubuhnya terasa panas dan dingin secara bersamaan, terlebih dress yang ia kenakan memang sedikit terbuka hingga memudahkan angin masuk kedalam tubuhnya. Tak lama kemudian, sebuah tangan mengusap rambut serta mengukur panas di dahinya.
“Anda terlalu banyak minum” masih dapat Taeyeon dengar suara itu walau tak terlalu jelas.
“Kepalaku sakit sekali, Jiyeon-ah. Berikan obatnya. Aku sudah tak sanggup” ringis Taeyeon diantara kesadarannya.
“Tunggulah disini. Saya akan membawakan obatnya”

Sosok itu membantu Taeyeon duduk, memposisikannya agar bersandar di kepala ranjang.
“Minumlah ini. Sangat ampuh untuk mengobati pusing karena alkohol” ujarnya lembut.
Taeyeon membuka mata, walau masih kabur namun ia membiarkan orang tersebut membimbing bibir gelas tepat dibibirnya. Dan mau tak mau Taeyeon pun meminum isi gelas itu.
“Aish! Minuman apa yang kau berikan, Jiyeon-ah? Kenapa rasanya aneh sekali” Taeyeon kembali ingin muntah, lidahnya terjulur saat rasa aneh terus mendera indera pengecapnya.
“Habiskan nona” kata sosok itu lagi, “Habiskan jika anda ingin pusingnya cepat hilang”
Taeyeon menghela napas pasrah, “Baiklah” ia pun kembali meminum cairan aneh itu.
Setelah meneguknya hampir tak bersisa, Taeyeon langsung terbatuk dan memilih tidur dengan dibantu sosok itu.
“Istirahatlah” ujar orang itu sambil membenarkan letak selimut Taeyeon.
Dan saat itu pula, dahi Taeyeon mengernyit. Ia baru menyadari jika suara orang yang sejak tadi bersamanya bukanlah suara Park Jiyeon. Perlahan Taeyeon membuka matanya, menatap langsung iris cokelat sosok itu dengan mata setengah terbuka. Ia nyaris terjatuh kala melihat siapa sosok yang sedari tadi bersamanya.
Namja ini, namja yang menolongnya di bus. Taeyeon yakin sekali kalau itu dia.
“Untuk malam ini, sebaiknya anda tak usah pulang dulu” usul namja itu.
Sementara Taeyeon masih terus terdiam. Matanya seolah enggan untuk berkedip demi menatap lekat manik mata indah di hadapannya.
“Dan saya permisi dulu” namja itu bangkit dan berniat pergi, namun urung saat tangannya di cekal kuat oleh Taeyeon.
“Ada apa nona?” tanyanya saat berbalik, “Kepala anda masih pusing?”
Taeyeon segera mengangguk, “Jebal, kajima. Aku… kepalaku kembali sakit” jawabnya lirih.
Namja itu mengerutkan dahi seraya duduk di tepi ranjang, membuat tangan Taeyeon terlepas dari pergelangan tangannya, “Isanghae. Biasanya setelah meneguk minuman tadi, orang yang parah sekalipun akan berangsur membaik” ujarnya aneh.
Taeyeon tersenyum tipis, terus menatap namja itu sampai teringat akan satu hal, “Siapa namamu?” tanyanya.
“Cho Kyuhyun imnida” jawab namja itu, “Saya bertugas membawakan minuman di pesta Sooyoung-ssi. Saya bukan orang jahat, anda tenang saja” tambahnya.
Taeyeon mengangguk kemudian menyipitkan matanya, “Kita pernah bertemu. Kau tak ingat?”
Kyuhyun yang awalnya enggan menatap Taeyeon, kini mulai mengalihkan tatapannya kearah gadis itu, “Pernahkah?” tanya Kyuhyun ragu.
Taeyeon mengangguk polos, “Di bus kala itu, kau menolongku. Jika tidak ada kau, mungkin hidungku sudah patah” ujarnya mengingatkan.
Kyuhyun terdiam, seolah tengah berpikir. Sesaat kemudian, matanya membulat dan tanpa sadar tubuhnya telah berdiri.
Taeyeon heran dengan pergerakan mendadak dari Kyuhyun. Memangnya perkataannya barusan sangat menakutkan? Padahal ia hanya berniat mengingatkan, hanya itu. Namun responnya terlalu berlebihan. Aneh sekali.
“Waeyo? Apa aku salah bicara?” tanya Taeyeon.
Kyuhyun tak menjawab, ia lebih memilih menatap yeoja itu dengan teliti. Pandangannya tak teralihkan sampai pintu kamar yangng mereka tempati terbuka.
“Oh. Disini rupanya kau, Kyu” satu namja berperawakan jangkung muncul dan tersenyum lega pada Kyuhyun. Sontak Kyuhyun dan Taeyeon memandang kearah pintu.
“Apa nona sudah baikan? Diluar sana sangat kacau, jadi saya pinjam teman saya dulu” ujar namja itu ramah pada Taeyeon.
Yeoja yang diajak bicara malah mengerutkan dahinya, seolah tak suka dengan ucapan namja tersebut.
“Kajja Kyu. Bantu aku. Pestanya semakin ramai” ujar teman Kyuhyun lagi.
Namja yang dimaksudpun mengangguk. Tanpa kata, Kyuhyun segera berbalik dan melangkah menuju pintu. Taeyeon hanya bisa menatap punggung namja itu dengan sedih. Jujur, ia belum ingin berpisah dengan Kyuhyun. Sudah lama Taeyeon merindukan sosok penolongnya, tapi kenapa pertemuan ketiga mereka harus sesingkat ini.
Taeyeon menghela napas, sosok Kyuhyun sudah menghilang di balik pintu. Ia terus memandangi pintu itu sampai dirinya tersadar dengan kemungkinan Kyuhyun akan meninggalkannya. Matanya mengerjap penuh keresahan sebelum bangkit dengan susah payah dari ranjang, ia langsung melangkah kearah pintu dan membukanya dengan cepat.
“Kyu” sahut Taeyeon saat masih melihat punggung namja itu ditengah koridor hotel.
Kyuhyun berbalik dan memandang Taeyeon bingung, “Ada apa? Anda masih sakit? Istirahatlah dulu. Nanti saya akan…” ucapannya terhenti ketika yeoja yang diajaknya bicara malah memaksakan diri untuk berjalan mendekatinya. Langkah gadis itu terhuyung-huyung.
Tubuh Taeyeon masih belum pulih sepenuhnya dan itu membuat Kyuhyun khawatir. Tanpa aba-aba, Kyuhyun berlari kearah Taeyeon dan merangkul tubuh gadis itu agar tak terjatuh.
“Jangan memaksakan diri, nona” ujar Kyuhyun lembut.
Taeyeon memejamkan matanya sekilas. Namja yang tadi mengajak Kyuhyun pergi mulai membalikkan badan kearah mereka. Ketika menyadari hal itu, Taeyeon menggenggam tangan Kyuhyun dan segera menariknya untuk berlari. Walau rasa pening dikepalanya masih terasa, namun Taeyeon terus berlari dengan Kyuhyun yang mengekorinya.
“Nona, anda mau kemana?” tanya Kyuhyun saat Taeyeon terus saja menariknya.
“Sstt…” Taeyeon memandang namja itu dan mengisyarakannya untuk diam.

“K-kyu…” sahut teman Kyuhyun sambil menjulurkan tangannya, berniat menghentikan pergerakan dua orang itu, namun gagal ketika mereka sudah berbelok disudut koridor.
“Aish, selalu saja seperti ini” gerutunya. Ia menghela napas berat.

Taeyeon menetralkan deru napasnya saat ia dan Kyuhyun sudah bersembunyi dibalik tangga. Kyuhyun berdiri disamping yeoja itu dengan napas terengah-engah. Pandangannya sejak tadi tak terlepas dari wajah manis Taeyeon.
“Kenapa nona membawa saya kesini?” tanya Kyuhyun membuka percakapan.
Taeyeon tersenyum dan menatapnya. Walau pencahayaan di balik tangga sangatlah minim, tapi pancaran aura gadis itu tak bisa dibutakan.
“Tak ada. Aku suka memberontak. Kau tak suka?” Taeyeon menyandarkan tubuhnya pada tembok. Sekarang kepalanya kembali sedikit pusing, namun ia tak mempedulikannya.
“Suka. Tapi sekarang saya sedang bekerja. Berontak sama saja tak mendapatkan gaji” jawabnya jujur.
“Tenang saja. Gajimu akan kuganti” ucap Taeyeon tanpa basa-basi.
“Tapi…” Kyuhyun menggantungkan ucapannya, ‘Changmin akan marah besar. Aish!’ batinnya. ‘Tapi, siapa peduli? Dia tidak akan bisa memarahiku karena dia takut padaku’ sambungnya dalam hati.
Lama mereka terdiam sampai Taeyeon mengulurkan tangan, “Aku Kim Taeyeon” ujarnya memperkenalkan diri.
Kyuhyun menatap uluran tangan itu dan menyambutnya, “Cho Kyuhyun”
Mereka melepaskan tautan tangan masing-masing dan mengalihkan pandangannya sejenak.
“Bagaimana keadaan anda, Taeyeon-ssi?” tanya Kyuhyun.
“Aku masih merasa lemas. Kepalaku sedikit berat dan pusing walau tak separah tadi” ungkap Taeyeon diselingi senyuman kecilnya.
“Lebih baik kita kembali ke kamar. Atau anda ingin pulang? Saya akan menghubungi taxi untuk mengantar anda” tawar Kyuhyun.
“Eoh, tak perlu. Lagipula aku membawa mobil sendiri” tolak Taeyeon sambil memandang namja didepannya lekat-lekat.
Kyuhyun mengerjapkan matanya di balik lensa yang sejak tadi ia kenakan. Taeyeon menatap manik itu tanpa berkedip, sepertinya pancaran mata Kyuhyun sudah membuatnya terpesona. Seakan tersihir, tangan mungil yeoja itu sudah terulur untuk melepaskan kacamata Kyuhyun. Sontak saja membuat namja sipemilik kacamata mengerutkan dahi. Cukup bingung dengan tindakan berani Taeyeon. Apa maksud gadis itu melepaskan kacamatanya tanpa izin?
Taeyeon masih menatap mata Kyuhyun yang sekarang tak terhalang apapun. Bibirnya mengukir sebuah senyuman lembut.
“Matamu indah” lirihnya pelan.
Kyuhyun makin tak mengerti, “Maaf. Apa yang anda katakan?” tanyanya.
Taeyeon tak menjawab, ia lebih memilih menundukkan kepala saat sudah tersadar dari kekagumannya. Sungguh ia malu dengan kelancangannya sendiri.
Lama tak ada yang membuka suara. Tiba-tiba ponsel dalam saku celana Kyuhyun berdering, mengalihkan perhatian namja itu dari yeoja disampingnya.
Taeyeon memperhatikan gerak-gerik Kyuhyun dalam diam. Mulai dari merogoh saku celana sampai menjawab panggilan.
“Yeoboseyo.. Ada apa Krys?” sapa Kyuhyun.
Sementara Taeyeon berusaha berpikir. Siapa tadi yang Kyuhyun panggil? Krys…? Apa Krystal? Seketika itu pula senyuman lembut Taeyeon memudar.
Jadi benar apa yang dikatakan Jiyeon kala itu. Kyuhyun tengah menjalin hubungan dengan Krystal Jung. Sungguh kenyataan ini membuat hati Taeyeon sakit. Dia sendiri tak tau apa penyebabnya.
“Aku masih berada di pesta Sooyoung” ujar Kyuhyun sambil membalikkan tubuh, seolah tak ingin diganggu.
Merasa terabaikan, Taeyeon menatap punggung namja itu dengan kecewa. Tanpa berkata, ia langsung melangkah perlahan menjauhi Kyuhyun. Langkahnya sangat perlahan karena Taeyeon merasa tak bertenaga lagi.
“Ne, kau tunggu saja dirumah. Tak perlu kesini” ucap Kyuhyun lagi, kali ini sambil membalikan tubuh. Dahinya mengernyit saat tak menemukan Taeyeon disampingnya.
Pandangan namja itu mengedar kesekeliling koridor hotel, dan disanalah ia mendapati sosok Taeyeon. Punggung gadis itu masih terlihat jelas di tengah lorong. Bagaimanapun Taeyeon masih terpengaruh alkohol, patut jika Kyuhyun mengkhawatirkannya.
“Baiklah, aku akan segera pulang” ujar Kyuhyun cepat. Segera ia memutuskan sambungan telepon dan langsung melangkah meninggalkan tempat tersebut.

Sementara itu, Taeyeon masih berjalan gontai disepanjang koridor, sampai tiba-tiba pusing kembali mendera kepalanya, kali ini terasa lebih sakit. Tak lama kemudian, setetes cairan merah keluar dari hidungnya. Mau tak mau Taeyeon harus menghentikan langkahnya sejenak untuk memeriksa keadaan. Ia mengusap hidungnya sekilas dan benar saja jika darah itu berasal dari sana.
Taeyeon tersenyum miris, “Mulai lagi” gumamnya lemah.
Penglihatannya semakin mengabur, rasa pusingnya pun sudah tak tertahankan lagi. Kesadaran Taeyeon semakin menipis, saat itu pula tubuhnya ambruk dengan kesadaran yang hilang sepenuhnya.
“Nona!”

To be continue   :*

Advertisements

53 comments on “[FREELANCE] Find Of Happiness (Chapter 2)

  1. Pingback: [FREELANCE] Find Of Happiness (Chapter 5) | All The Stories Is Taeyeon's

  2. Pingback: [FREELANCE] Find Of Happiness (Chapter 6) | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s