[Oneshoot] Mistake

[Oneshoot] Mistake

Mistake - LuTae

Title : Mistake

Author : Oh Eun Hye (sparpiglets3)

Rated : T+ (PG-15)

Genre : Romance, sad

Length : Oneshoot

Main cats : SNSD Taeyeon, Luhan EXO

Support cats : you will find other cats in the story

Disclaimer : all the main cats in this story don’t belong to the author. The author is only entitled to the story belongs to the author who in import directly from my brain.

Author note’s : typo (s) scatted. For those who don’t like the cats here in, please don’t vilify or bash the cats! Author never allow to anyone plagiarism for this Fanfiction. And remember to give a comment. Don’t be a silent readers.

Dalam keheningan ku teringat akan apapun tentang mu

 

Gelapnya malam malah menambah kerinduan ku pada mu

 

Terbayang akan senyuman mu saat aku hendak menutup mata ku

 

Angin malam yang berhembus sepoi akan mengantarkan suara ku yang selalu menyebut nama mu

 

Hanya sebuah kesalahan yang ku perbuat

 

Tapi penyesalan yang amat dalam yang ku dapat

 

Hiruk pikuk dan berbagai kegiatan membuat sebuah gereja terlihat ramai. Beberapa orang-orang dengan pakaian rapi dan juga indah berdatangan sembari bersenda gurau bersama. Gejera itu tampak begitu indah dengan berbagai perlengkapan dan hiasan yang memenuhi dinding-dindingnya. Tak ayal lagi, sepertinya ada sebuah penghelatan yang akan di selenggarakan di gereja tersebut.

Tampak sang pastur berdiri di atas altar dengan tenang. Para undangan yang datang semakin banyak dan menyesaki kursi duduk yang ada di gereja tersebut. Seorang pemuda tampan berdiri di samping pastur itu dengan gagah. Tuxedo putih yang membalut tubuhnya tampak begitu serasi dengan postur wajahnya. Segaris senyum bahagia tercetak dengan jelas di bibirnya.

Dentingan suara piano menjadi pengiring akan pengantin wanita. Berjalan dengan hati-hati di damping oleh ayahnya yang bertindak sebagai pengantar. Untaian baju pengantin putih itu menjulur panjang ke belakang. Senyuman terukir indah di wajahnya. Menambah kesan cantik dan menawan pada wajah sang wanita.

Pengantin pria itu dengan sigap menyambut uluran tangan sang wanita dan menuntunnya kembali menuju altar. Di mana kini seorang pendeta tengah menunggu mereka. Agar mereka bisa segera di resmikan di hadapan Tuhan yang Agung.

Sepasang manic laksana lelehan caramel itu menatap sendu pada dua orang sejoli yang kini sudah berdiri manis di atas altar. Tangannya mengepal dengan keras karena amarah yang memuncak. Tidak! Seharusnya bukan pria itu yang berada di sana. Tapi, dirinya lah yang seharusnya berdiri di sana. Kepalan itu semakin menguat saat kedua pengantin itu mulai mengucap janji suci.

Pria itu sebenarnya sangat ingin meninggalkan pernikahan ini. Ia muak dengan apapun yang tersaji di depan matanya. Tapi, ia bisa apa? Meninggalkan pernikahan ini tanpa alasan yang jelas tentu saja akan menimbulkan tanda tanya besar pada setiap orang. Lagipula, pria itu sudah berjanji pada wanita yang menjadi pengantin itu agar melihat prosesi pernikahan yang sungguh ia benci.

Matanya menatap nyalang pada kedua sejoli yang kini sudah bertukar cincin sebagai pengikat mereka. Dan kini mereka berciuman dengan santainya. Sedangkan dirinya di sini sebagai penonton yang tersakiti. Bagaimana mereka bisa melakukan itu?

Tepat setelah acara usai, pria itu segera pergi dari tempat yang ia benci tersebut. Cukup sudah ia menyaksikan bagaimana bahagianya kedua pasang suami istri itu dalam menyambut tamu-tamu undangan mereka. Dirinya tak dapat menyakinkan kalau hatinya akan baik-baik saja setelah melihat semua yang terpampang di depan matanya. Lebih baik ia pergi jauh-jauh dan berusaha melupakan apa yang baru saja terjadi.

Taeyeon menatap kepergian teman prianya yang terlihat tergesa itu. Taeyeon yang mengerti hanya bisa menghela nafas. Temannya itu memang mencintai wanita yang kini sudah menjadi istri orang itu. Tapi, dengan kepengecutannya, ia tak pernah memberitahu akan isi hatinya. Dan akhirnya dirinya harus mau di rundung kesialan saat wanita pujaannya di pinang orang lain.

Sebenarnya, Taeyeon sedikit khawatir dengan temannya itu. Xi Luhan adalah orang yang mudah ceroboh di saat ia kalap atau sedang menghadapi masalah. Hampir selalu menimbulkan masalah baru jika ia sedang dalam keadaan yang tidak stabil. Contohnya saja, saat ia begitu frustasi menghadapi kekangan kedua orang tuanya, Luhan nekat kabur dari rumah dan terlibat oleh balapan liar bersama dengan teman-temannya. Tak hanya itu, ia bahkan pernah terlibat perkelahian hanya karena frustasi akan perusahaan yang ia pimpin.

Meningat akan apa yang terjadi kalau ia membiarkan Luhan sendirian yang memang tak pernah membawa dampak baik, Taeyeon berpamitan pada Sooyeon sang pemiliki acara. Mengatakan kalau ia sedang tidak enak badan dan harus segera pulang. Dan beruntungnya memiliki teman seperti Sooyeon yang mudah percaya. Setelah itu, Taeyeon dengan segera berjalan keluar dan mengejar perginya Luhan dengan mobilnya.

Dengan kelihaiannya dalam berkendara, tak membuat Taeyeon kesusahan dalam mengejar mobil Luhan yang berjarak 50 meter di depannya. Taeyeon membuat laju kendarannya berkurang agar ia tetap berada di belakang Luhan. Menguntit anak pembuat masalah itu sepertinya harus ia lakukan jika tidak ingin ada kekacauan akibat perbuatan Luhan.

Taeyeon masih terus mengikuti mobil Luhan yang entah akan berjalan ke arah mana. Yang ia tahu sepertinya Luhan tak pernah mengunjungi tempat ini. Sekitarnya terasa asing dan Taeyeon cukup yakin ia belum pernah ke sini sebelumnya. Mobil Luhan terus melaju dengan mobil Taeyeon yang masih terus mengikutinya di belakang.

Mobil milik Luhan akhirnya berhenti di sebuah tempat. Taeyeon ikut memberhentikan mobil Luhan dengan jarak 20 meter dari mobil Luhan. Taeyeon mengamati bangunan yang berdiri di depannya. Begitu megah dan juga unik. Dan ini terlihat seperti sebuah club atau café? Entahlah. Taeyeon tak bisa menebak dengan tepat.

Melihat Luhan yang masuk ke dalam bagunan itu, Taeyeon dengan mengendap-endap mengikuti Luhan. Dan dugaan pertama Taeyeon benar. Ini adalah sebuah club. Apa yang akan di lakukan Luhan di dalam sana? Dari pintu masuk, Taeyeon dapat melihat Luhan duduk di depan seorang bartender yang sibuk dengan botol di tangannya. Tak perlu banyak berpikir, pasti itu adalah minuman beralkohol.

Luhan menyunggingkan senyuman tipisnya dan segera meneguk habis isi gelas miliknya. Rasa pahit menyerang tenggorokkannya. Tapi, tak begitu ia hiraukan. Lagipula, minuman seperti ini bukanlah minuman baru bagi Luhan. Tak cukup hanya segelas, Luhan lantas minta tambah dan terus-menerus. Sampai akhirnya dirinya mulai kehilangan kesadaran.

Dari sebuah sofa yang ada di club itu, Taeyeon dapat melihat kelakukan Luhan yang mulai tidak terkontrol. Taeyeon tak berniat untuk mencegah Luhan selama Luhan tidak membuat keributan. Taeyeon sedikit mendengus dalam hati. Ia terdengar seperti seorang bodyguard bagi Luhan. Padahal, demi rambut panjang bergelombang miliknya, orang tua Luhan bahkan tak membayarnya sepeser pun. Ini hanya sebagai rasa pertemanan.

Yang di lakukan Taeyeon hanya mengamati sembari menikmati secangkir coffe late kesukaannya. Ini lebih aman menurut Taeyeon. Ia bukannya tidak bisa minum. Tapi, Taeyeon masih berpikir waras kalau ia tak ingin mati karena berkendara sambil mabuk. Kecuali Luhan. Otak pemuda bersurai coklat cerah itu sepertinya sedang konslet. Tapi, siapa perduli. Yang Taeyeon pikirkan sekarang adalah bagaimana Luhan tak usah membuat masalah.

BRAK!

Suara gebrakkan meja yang keras sontak membuat isi club seperti tersedot perhatian mereka beberapa saat. Taeyeon sendiri juga ikut melihat hal tersebut. Di lihatnya Luhan yang sudah berpenampilan acak-acakkan menggeram marah pada bartender yang tadi bersamanya. Taeyeon dapat melihat iris lelehan caramel milik Luhan memerah tanda pemuda itu hilang kendali atas dirinya.

“Kau!”

Jari telunjuk Luhan menunjuk tajam tepat di depan muka bartender yang kini ketakutan. Gemeretuk bibir Luhan menandakan kalau pemuda itu memang benar-benar marah. Taeyeon dengan cepat menghampiri Luhan yang sebentar lagi akan berubah menjadi hulk yang menakutkan. Taeyeon mencengkram tangan kanan Luhan dan sukses membuat Luhan menoleh padanya. Kerutan di dahi Luhan cukup memberi tanda bahwa pemuda itu sedang bertanya pada Taeyeon.

“Pulang.”

Singkat dan padat. Taeyeon menatap Luhan dengan datar. Tangannya masih mencengkram lengan Luhan. Sedangkan pemuda itu mendengus keras. Menunjukkan kalau ia sedang tidak ingin di ganggu.

Menghela nafas akan kelakuan Luhan yang berada di bawah pengaruh alcohol, Taeyeon segera menarik lengan Luhan dengan keras. Sontak membuat pemuda itu tersentak keras dan hampir terjatuh kalau saja ia tak punya reflex yang bagus. Umpatan segera keluar dari bibir Luhan karena kelakuan Taeyeon.

Taeyeon masih menyeret pemuda Beijing itu menuju ke dalam mobil Luhan. Taeyeon sudah tak memperdulikan mobilnya sendiri. Yang harus ia lakukan saat ini adalah mengantar Luhan dengan selamat menuju apartemen pemuda itu.

Deru mobil Luhan menggaung dan dengan cepat Taeyeon melajukan mobil berwarna hitam itu menjauh dari tempat tersebut. Luhan ia dudukkan di jok belakang. Yah, Taeyeon tentu tak ingin mengambil resiko akan kelakuan tak terduga dari Luhan. Orang ketika mabuk tentu saja tidak sadar akan apa yang ia lakukan, bukan?

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, Taeyeon sudah sampai di depan apartemen Luhan. Ya, Luhan memang memutuskan untuk pindah ke apartemen sendiri karena ia muak berada di rumahnya. Seperti yang sudah di sebutkan tadi. Tingkah rusa Beijing ini memang kadang membuat orang bingung.

Taeyeon segera mengeluarkan rusa merepotkan itu dari dalam mobil. Butuh perjuangan yang tidak sedikit untuk mengeluarkannya. Karena ternyata Luhan tertidur di jok belakang. Taeyeon berdecak kesal karena tingkah Luhan yang selalu merepotkan. Dengan tertatih-tatih, Taeyeon segera menuntun Luhan menuju kamarnya. Taeyeon sengaja tak meminta bantuan dari pegawai di sana.

Dengan susah payah, Taeyeon menyeret Luhan ke dalam lift dan menekan tombol angka di dalam lift. Hampir saja Taeyeon kehilangan keseimbangan karena tubuh Luhan yang sungguh berat. Beruntung ia bisa menguasi keseimbangannya.

Karena tidak tahan menahan berat badan Luhan, Taeyeon akhirnya menyanderkan tubuh Luhan di dinding lift. Ia sendiri menaruh tangannya di dadanya yang naik turun. Rasanya begitu melelahkan ketika ia hanya menuntun Luhan dari mobil sampai masuk lift.

“Eungh…”

Erangan yang berasal dari Luhan membuat Taeyeon menatapnya. Sedikit merasa lega. Karena kalau Luhan terbangun, berarti ia tak perlu terlalu repot menyeret Luhan sampai ke kamarnya. Luhan sendiri mengerjab-erjabkan matanya yang langsung tertimpa cahaya di dalam lift. Lengan kanannya melindungi penglihatannya. Dengan perlahan tapi pasti, Luhan akhirnya bisa membuka seluruh kelopak matanya. Dan terkejut mendapati wajah datar Taeyeon yang berada di depannya.

“Sudah bangun, eoh?”

Datar khas Taeyeon. Raut wajah Taeyeon memang menyiratkan kelelahan walaupun tetap saja datar. Luhan menyeringai tidak jelas karena melihat Taeyeon. Taeyeon masih mengenakan pakaian yang ia kenakan waktu di pernikahan Sooyeon. Yaitu dress putih dan juga celana pendek berwarna senada. Rambutnya yang panjang bergelombang di biarkan tergerai dengan sebuah badana putih yang mempermanis tampilannya. (bayangin aja baju Taeyeon saat opening SMTown Seoul waktu nyanyi Dear My Family). Tak dapat di pungkiri kalau sekarang Taeyeon juga terlihat sedikit menggoda.

Taeyeon menatap Luhan yang juga menatap ke arahnya dengan sebuah seringai aneh. Taeyeon memutar bola matanya. Inilah yang ia tidak suka jika berhadapan dengan Luhan yang sedang mabuk. Luhan pasti sedang berfantasi liar akan dirinya. Tak perlu heran karena seluruh dunia tahu kalau Luhan itu sungguh pervert.

“Apa yang kau lihat, sialan!” bentak Taeyeon. Luhan memperlebar seringainya.

“Aku? Sedang menikmati pemandangan indah di depan ku.” balas Luhan dengan entengnya.

“Jangan memikirkan yang tidak-tidak, brengsek! Atau aku tidak akan segan-segan pada mu.” Ancam Taeyeon. Luhan terkekeh mendengarnya.

“Oh, aku takut…” cicit Luhan dengan senyum kemenangan. Semakin membuat Taeyeon jengkel.

“Kau―”

TING!

Bunyi dari lift yang sudah sampai tujuan membuat apapun yang ingin Taeyeon katakan tersendat. Taeyeon berdecih dan segera mengangkat tubuh lunglai Luhan dan kembali menyeretnya. Luhan hanya terkekeh pelan melihat tubuh mungil Taeyeon yang menuntunya. Sedikit berdecak kagum akan kemampuan tubuh mungil itu.

Taeyeon tak berbicara sepatah katapun pada Luhan. Sedangkan Luhan juga terdiam. Hampir tertidur lebih tepatnya. Pengaruh alcohol masih menyerang tubuhnya. Membuatnya sedikit sempoyongan ketika berjalan. Dan tentu saja itu merepotkan Taeyeon yang menuntunya.

Keduanya sampai di depan pintu kamar apartemen Luhan. Taeyeon memencet tombol password yang pernah Luhan berikan padanya. Dan beruntung Luhan belum mengganti password itu. Taeyeon membuka pintu itu dan menyeret Luhan ke kamarnya. Memberingkan tubuh Luhan yang berbau alcohol di atas ranjangnya.

Menghela nafas lelah, Taeyeon memperhatikan Luhan yang sedang tertidur kembali. Rusa merepotkan ini memang selalu berakhir mengenaskan ketika mabuk. Taeyeon menyeringai tipis kala melihat wajah damai Luhan saat tertidur. Tak ada raut wajah datar arogan pada saat pemuda itu tertidur. Taeyeon menyeka keringat yang mengalir di keningnya. Taeyeon beranjak keluar dari kamar Luhan dan menuju dapur apartemen Luhan. Setidaknya, ia bisa membuat sesuatu yang akan mengisi perutnya. Hari sudah hampir malam dan Taeyeon lupa makan siang.

Ketukan sepatu dan lantai apartemen beradu menimbulkan bunyi berisik yang memantul di ruangan. Taeyeon membuka lemari penyimpanan makan. Mendesah kecewa saat menyadari kalau itu kosong. Saat membuka kulkas, Taeyeon terbelalak karena hanya mendapati berbungkus-bungkus ramen instan di sana. Taeyeon menghela nafas. Bagaimana bisa rusa itu hidup dengan makan ramen?

Merasa tak punya pilihan, Taeyeon mengambil 3 bungkus ramen ukuran sedang. Bukan untuk dirinya saja, tapi Taeyeon berniat untuk membuatkan Luhan juga. Hitung-hitung untuk berbuat baik pada rusa menyebalkan itu.

Kepulan uap panas menabrak wajah Taeyeon. Dengan cepat Taeyeon memasukkan berbagai bahan masakkannya. Mengaduk agar semuanya tercampur dengan rapi. Taeyeon begitu focus dengan masakkannya. Tak menyadari kalau Luhan memperhatikannya dalam diam dan sebuah seringai.

Pelukkan tiba-tiba cukup membuat Taeyeon terkaget. Hampir saja menumpahkan masakannya jika ia tak segera sadar kalau pelakunya adalah Luhan. Taeyeon menghela nafas. Luhan menaruh dagunya di bahu Taeyeon dan menenggelamkan wajahnya di sana. Menghirup aroma yang menguar di sana. Cukup membuat Taeyeon bergetar karena kelakukan Luhan.

“Apa yang kau lakukan, rusa! Menjauh dari ku.” desis Taeyeon dengan tajam. Sedangkan Luhan tak menghiraukan apa yang di katakan Taeyeon. Ia tetap pada posisinya tadi.

“Menurut mu apa yang akan aku lakukan…..” Luhan menggantung ucapannya. Lantas mengeratkan pelukan itu. Sedikit meremas perut Taeyeon. “….. Sooyeon?”

Perkataan terakhir Luhan membuat Taeyeon tercekat. Sooyeon? Apa kini Luhan sedang membayangkan bahwa dirinya sedang memeluk Sooyeon? Taeyeon dapat merasakan denyutan sakit di dadanya. Nafas Luhan yang menyapa lehernya menyisakan bau alcohol yang kentara.

Taeyeon mencengkram kuat pinggiran dapur yang ada di depannya. Susah payah menahan rembesan air mata yang mendesak ingin keluar. Ia tahu, ia tak seharusnya menangis. Taeyeon tak ingin terlihat lemah di depan siapapun. Dengan ia mengeluarkan air mata, maka itu akan menunjukkan bahwa Taeyeon itu lemah. Taeyeon tak ingin itu terjadi.

Luhan yang sedari tadi memeluk Taeyeon mulai mengecup leher Taeyeon. Taeyeon merasakan desiran aneh yang menjalar di tubuhnya. Nafas hangat Luhan di lehernya membuat tubuh Taeyeon bergetar entah karena apa. Bahkan kini Taeyeon dapat merasakan pipinya memanas. Tidak! Ini tidak benar. Batin Taeyeon menolak keras apa yang tengah terjadi sekarang. Dengan sekuat tenaga ia melepas pelukkan Luhan dan mendorong pemuda itu hingga terhuyung ke belakang.

“Apa yang kau lakukan padaku, brengsek!” jerit Taeyeon tidak terima.

Luhan terkekeh mendengar jeritan Taeyeon yang terdengar seperti alunan cicit tikus kecil di telinganya. “Tebak apa yang akan ku lakukan?” seringai itu tercetak sempurna di bibir Luhan.

Taeyeon mau tak mau merasakan ketakutan di sekujur tubuhnya. Ia begitu takut saat Luhan berjalan mendekatinya. Taeyeon terus memundurkan tubuhnya ke belakang sampai akhirnya menabrak tembok di belakangnya. Luhan melebarkan seringainya saat melihat Taeyeon yang tak dapat menghindari lagi. Dengan gesit ia mengurung Taeyeon dalam kungkungan tangannya yang ia letakkan di sisi kanan-kiri Taeyeon. Menatap tajam pada Taeyeon yang ketakutan di depannya.

“Mau kemana sekarang kau, Soo?” tanya Luhan dengan seringainya.

“Luhan, sadarlah. Aku bukan Sooyeon. Aku Taeyeon. Ku mohon jangan seperti ini.” Pinta Taeyeon yang ketakutan.

Luhan terkekeh mendengar perkataan Taeyeon. “Aku tak mungkin salah melihat orang yang ku cintai.” Luhan mengelus pipi kanan Taeyeon. Tindakan Luhan membuat Taeyeon tambah bergetar di tempatnya berdiri. “Kenapa kau meninggalkan ku, Soo? Kenapa?” tanya Luhan dengan suara serak dan bergetar. Tangan yang ia gunakan mengelus pipi Taeyeon beralih tempat di belakang kepala Taeyeon. “JAWAB! KENAPA KAU MENINGGALKAN KU!” bentak Luhan dengan kasar dan menarik rambut Taeyeon. Membuat Taeyeon mendongak ke atas.

“Luhan, hentikan. Apa kau gila? aku Taeyeon!” teriak Taeyeon agar Luhan sadar.

Alih-alih Luhan sadar. Tapi, pemuda itu semakin hilang kendali. Luhan menarik dagu Taeyeon dan mencium bibir wanita itu dengan kasar dan penuh nafsu. Taeyeon membelalak akan tindakan Luhan yang kasar. Taeyeon melenguh dalam ciuman itu. Tapi, Luhan dengan segera menekan kepala Taeyeon dan memperdalam ciuman mereka.

Taeyeon mengeleng-gelengkan kepalanya. Berusaha melepas ciuman Luhan yang seakan ingin menelan bibirnya. Tapi, tangan kiri Luhan menahan dagu Taeyeon sehingga menghentikan pergerakkan Taeyeon.

Lelehan air mata segera meluncur di pipi Taeyeon. Sadar kalau ini salah, Taeyeon menggunakan tangannya mendorong kasar tubuh Luhan menjauh darinya. Luhan yang tak tahu akan adanya serangan kontan terkejut. Dan tentu saja ia terhuyung dengan keras ke belakang sampai menabrak meja makan yang ada di sana. Punggung Luhan di serang rasa sakit. Sedangkan Taeyeon masih bergetar dalam tangisnya. Menatap nanar Luhan yang kini juga menatap tajam pada Taeyeon.

“Kau! Kau menolakku?!” bentak Luhan dengan keras. Taeyeon terkejut di tempatnya. Luhan yang mabuk jauh lebih menyebalkan saat ia sedang mabuk seperti ini.

“Lu―”

“KENAPA, SOO? APA KAU LEBIH MEMILIH SI BRENGSEK ITU KETIMBANG AKU?” bentak Luhan.

Taeyeon tak dapat menjawab karena tangis sudah mengusai dirinya. Air matanya laksana air terjun yang berjatuh mengaliri pipinya yang putih. Bahunya bergetar hebat. Sedangkan Luhan menatap Taeyeon denga tajam. Masih belum sadar akan apa yang telah di perbuatnya.

Dengan langkahnya, Luhan menghampiri Taeyeon yang terisak di dinding dapur. Tangan Luhan mencengkram kuat bahu Taeyeon. Membuat Taeyeon meringis kesakitan karena cengkraman Luhan benar-benar menyakitkan.

“Lu― ummmmph!”

Tak ingin Taeyeon mengeluarkan suaranya, Luhan segera membungkam bibir Taeyeon dengan ciumannya. Membuat apapun yang ingin di katakan Taeyeon harus tertelan ke dalam mulutnya. Air mata Taeyeon semakin mengalir deras. Kedua tangan Taeyeon di pegang erat oleh Luhan. Membuat Taeyeon tak dapat kembali mendorong Luhan.

Taeyeon menggelengkan kepalanya ke segela arah agar bisa melepas ciuman tersebut. Luhan semakin gencar mempertahankan ciuman mereka. Tapi, Taeyeon juga semakin memberontak. Taeyeon berusaha melepas tangannya dari pegangan erat Luhan. Tapi, Luhan juga mempererat pegangannya. Taeyeon yakin kalau tangannya sudah memerah. Usaha Taeyeon dengan menggelengkan kepalanya membuahkan hasil. Ciuman itu terlepas.

PLAK!

Tamparan keras menyapa pipi Taeyeon. Membuat wajahnya berpaling ke arah kanan. Pipinya segera memerah karena bekas tamparan itu. Taeyeon memegang pipinya dan menatap tidak percaya pada Luhan yang terlihat marah. Nafas Luhan terlihat naik turun. Tatapan tajam dari Luhan cukup memberitahu Taeyeon kalau pemuda itu benar-benar murka.

Luhan dengan cepat menarik tangan Taeyeon dengan kasar. Taeyeon tentu saja memberontak dalam genggaman itu. Luhan hanya terdiam dan terus menyeret Taeyeon. Mata Taeyeon membelalak karena Luhan ternyata menyeretnya menuju kamar. Ini akan menjadi lebih buruk, begitu pikir Taeyeon.

Dengan gerakkan kasar, Luhan mendorong tubuh Taeyeon sampai membentur tembok kamar dengan keras. Tanpa memperdulikan Taeyeon yang sedang kesakitan, Luhan kembali mencium kasar bibir Taeyeon. Namun, ia bukan hanya menyerang bibir Taeyeon. Tapi, juga wajah, telinga, dan leher. Taeyeon sudah memohon agar Luhan berhenti. Tapi, Luhan seakan tuli dengan permohonan Taeyeon. Dan Luhan mendorong Taeyeon dan menjatuhkannya di atas ranjang.

Matahari mulai merangkak dengan pelan. Dengan malu-malu menampakkan sinarnya pada sang bumi yang sudah menunggu kehangatannya. Burung-burung berkicau dengan riang akan kehadiran sang surya yang kembali menampakkan dirinya. Suasana damai tak berlangsung lama karena dengan segera suara bising dari kendaraan bermotor menguasai jalan-jalan.

Taeyeon kini sudah terbangun. Meringkuk di sudur ranjang dengan selimut yang membungkus tubuhnya. Matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam. Memang ia hanya menatap kosong ke depan dengan wajah datarnya. Tapi, air mata yang mengalir di pipinya sudah cukup sebagai jawaban atas apa yang sedang ia rasakan.

Di sampingnya Luhan yang masih tertidur dengan lelap. Taeyeon tak bergerak sedikitpun dari tempatnya. Ia merasa kalau air matanya seperti sudah kering karena menangis sepanjang malam. Masih terekam jelas dalam ingatannya bagaimana Luhan yang menguasai tubuhnya tadi malam. Seluruh jeritan, permohonan, dan teriakan kesakitan dari Taeyeon tak di perdulikan oleh Luhan.

Dengan perlahan, Taeyeon bangkit dari posisinya dan memunguti pakaiannya yang berserakkan di mana-mana. Karena Luhan yang melemparnya dengan sembarang. Berjalan dengan hati-hati menuju kamar mandi dan segera memakai pakaiannya. Taeyeon tak ada niatan untuk membangunkan Luhan. Selesai berpakaian, Taeyeon tanpa berpamitan ia segera pergi dari apartemen Luhan. Meninggalkan Luhan yang masih terlelap.

Taeyeon berjalan dengan gontai. Ia tak memiliki semangat hidup lagi. Dirinya sudah kotor sekarang. Luhan sudah merenggut semuanya. Dan sekarang hanya tersisa kehinaan pada Taeyeon. Taeyeon sungguh tak kuat bahkan untuk menangis. Menyesalpun tak akan membuatnya mendapatkan kembali sesuatu miliknya yang berharga.

Langkah kakinya mengantarkannya menuju rumah Sooyeo. Sungguh, Taeyeon tak ada pikiran ingin ke mana. Tapi, kakinya menuntunnya hingga berada di depan rumah Sooyeon. Taeyeon tak tahu pasti apakah Sooyeon masih di rumahnya atau sudah ikut dengan suaminya. Dengan tangan bergetar, ia memencet bel rumah tersebut 3 kali. Tubuhnya yang rapauh seperti akan tumbang jika angin meniupnya sedikit saja.

5 menit Taeyeon berdiri dengan keadaan menyedihkan. Sesaat sebelum Sooyeon membukakan pintu pagar rumahnya. Sooyeon tentu saja sangat terkejut dengan penampilan Taeyeon yang acak-acakkan. Belum lagi jejak air mata yang ada di pipi Taeyeon. Taeyeon yang melihat Sooyeon yang membukan pintu untuknya segera menubruk tubuh Sooyeon dan memeluknya dengan erat. Kembali menangis di dalam pelukkan itu.

“Omona! Igo wae, Taeyeon-ah? Wae? Apa yang terjadi?” tanya Sooyeon lembut dan mengelus punggung Taeyeon.

“Hiks, Sooyeon-ah… hiks.” Hanya isakkan yang menjadi jawaban atas pertanyaan Sooyeon.

Merasa kalau tidak enak berada di luar rumah, Sooyeon menuntun Taeyeon ke dalam rumahnya. Yifan, suami Sooyeon lantas terkejut mendapati istrinya masuk ke dalam bersama dengan Taeyeon yang terlihat mengenaskan. Lantas Yifan melipat korannya dan meletakkannya di atas meja. Menghampiri istrinya yang menuntun Taeyeon.

“Igo wae? Kenapa menangis, Taeyeon-ah?”

Karena mereka adalah teman, maka bukan hal aneh jika Yifan memanggil Taeyeon dengan akrab. Taeyeon menatap Yifan dengan pandangan sayu dan berkaca-kaca. Ia tak dapat mengeluarkan suaranya sedikit pun. Ia benar-benar sedih.

“Kajja, duduk di sini saja. Tenangkan diri mu, Taeyeon-ah. Setelah itu kau bisa bercerita dengan kami, ne?” saran Sooyeon dengan lembut. Ia mendudukkan dirinya dan Taeyeon di atas sofa. Yifan juga ikut mendudukkan dirinya.

“Luhan….” Dengan bergetar Taeyeon menyebutkan nama pemuda itu. Matanya kembali berkaca-kaca. Sooyeon mengelus punggung Taeyeon untuk menenangkan wanita itu.

“Ada apa dengan Luhan? Apa dia membuat masalah lagi?” tanya Yifan. Mereka memang sudah tak aneh lagi jika Luhan membuat masalah. Tapi, yang aneh di sini adalah kenapa Taeyeon menangis.

“Lu-Luhan…. Di-dia…. Di-dia…. hiks.” Taeyeon tak dapat melanjutkan kata-katanya. Membuat sepasang suami istri itu menjadi penasaran.

“Apa yang di lakukan Luhan, Taeyeon-ah. Katakan saja. Siapa tahu kami bisa membantu.”

“Dia merebut kesucian ku.”

Bagaikan terkena sambaran petir di pagi hari, Sooyeon dan Yifan begitu terkejut dengan perkataan Taeyeon. Taeyeon kembali terisak dan memeluk Sooyeon yang ada di sampingnya. Yifan dan Sooyeon sama-sama terdiam dengan fakta yang telah mereka dengar.

BRAK!

Yifan dengan nafas yang memburu mengebrak meja dengan kasar. Membuat Sooyeon dan Taeyeon terkejut karena tindakannya. Wajah Yifan menjadi dingin dan terlihat sangat marah. Giginya bergemeretuk karena menahan amarahnya. Tangan terkepal dengan kuat. Begitu gatal ingin meninju wajah Luhan.

“Dimana si brengsek itu sekarang? Aku akan membuatnya menyesal karena sudah bernafas!” ucap Yifan dengan kasar.

Taeyeon berdiri dan menahan tangan Yifan. “Tidak! Jangan lakukan apapun. Di-dia kemarin mabuk. Ku mohon, jangan ada keributan.” Mohon Taeyeon.

Yifan menatap Taeyeon dengan pandangan tidak mengerti. “Kenapa? Kenapa kau melindungi lelaki brengsek itu, Taeyeon-ah. Biarkan aku yang akan menghabisinya!”

“Tidak! Jangan lakukan itu. Ku mohon, jangan.”

Yifan hanya menghela nafas kasar karena menurut permintaan Taeyeon. Padahal ia dengan senang hati akan mengirim Luhan ke neraka jika Taeyeon menghendaki itu. Tapi, wanita itu melarangnya. Sedangkan Taeyeon kembali terduduk dan di peluk Sooyeon.

“Uljimayo, Taeyeon-ah. Aku benar-benar tidak menyangka kalau Luhan akan melakukan hal menyakitkan itu pada mu.” Ucap Sooyeon dengan geleng-geleng kepala. Ia heran, apa sebenarnya isi otak Luhan.

“Hiks…. Di-dia mabuk kemarin. Sepulang dari pernikahan mu, ia segera pergi. A-aku mengikutinya karena takut kalau dia membuat masalah. Kau tahu kan bagaimana itu Luhan? Dia mabuk di sana dan hampir membuat keributan. Oleh karena itu, aku menyeretnya pulang ke apartemennya. Tak ku sangka aku seperti salah memasuki kandang singa.” Jelas Taeyeon sambil sesekali sesenggukan. “Saat itu aku sedang ada di dapur apartemennya. Karena ku pikir aku bisa berbaik hati memasakkan sesuatu untuknya. Dan semua itu terjadi begitu Luhan terbangun dan menemukan ku di sana. Terlebih lagi, ia tidak dalam keadaan sadar. Sa-saat melakukannya, Lu-Luhan menyebut n-n-na-nama mu, Sooyeon-ah.”

Sooyeon tercekat saat mendengar penjelasan Taeyeon. Yifan? Tak usah di gambarkan betapa murkanya di sekarang. Bagaimana bisa Luhan melakukan hal itu pada Taeyeon tapi malah menyebut nama Sooyeon. Itu bukan hanya menghina Sooyeon secara tidak langsung tapi juga menyakiti perasaan Taeyeon. Sungguh, Luhan benar-benar keterlaluan.

Yifan menggertakkan giginya akibat geram akan perbuatan Luhan. Ia benar-benar ingin menghabisi Luhan sekarang juga. Tapi, Yifan ingat akan larangan Taeyeon agar tidak berbuat apapun pada Luhan. Entah Taeyeon yang terlalu baik hati atau nasib Luhan yang terlalu beruntung. Entahlah.

Luhan mengerjab-erjabkan matanya saat bias sinar matahari menghampiri matanya yang terpejam. Luhan mengerang karena tidurnya terganggu. Ia menutupi matanya dengan menggunakan lengannya. Setengah sadar, Luhan merasakan bahwa kepalanya sangat pusing. Seperti akan pecah. Dengan perlahan ia bangun dan duduk di atas ranjangnya. Saat itulah ia menyadari bahwa dirinya dalam keadaan naked.

Kontan saja Luhan terkejut. Ia melihat kesekelilingnya. Kamarnya tampak berantakkan. Baju dan celana yang kemarin ia kenakan kini terlempar ke mana-mana. Luhan memegang kepalanya yang masih berdenyut sakit. Otaknya masih memproses apa yang sudah terjadi sebelum ia berakhir seperti ini.

Dengan langkah gontai, Luhan berjalan menuju kamar mandi seraya menarik handuk. Sepertinya ia memang harus menyegarkan dirinya dan kembali berpikir apa yang telah terjadi. Guyuran air yang keluar dari shower menimpa tubuh kurus Luhan. Lelehan airnya turun dan menetes-netes jatuh ke lantai kamar mandinya. Luhan masih terus berpikir.

Kemarin, dia sedang patah hati karena seseorang yang di cintainya menikah dengan laki-laki lain. Lalu ia pergi kesebuah club dan minum sampai kehilangan kesadaran. Luhan hanya mengingat itu saja. Oh, tunggu! Ia sempat melihat kalau Taeyeon mengantarnya pulang. Lantas, apa yang terjadi selanjutnya? Seingat Luhan ia langsung tertidur saat sampai kamarnya.

Kepala Luhan semakin berdenyut sakit saat berusaha mengingat semuanya. Semuanya terasa kosong bagaikan di hapus dari memori otaknya.

“Eungh… Lu-Luhan.. engh, hentikan, hiks. Ku mohon… eungh… hentikan, hiks.”

Sekelabat suara yang familiar menggaung di dalam otak Luhan. Luhan tersentak kaget. Kenapa? Ada apa? Suara itu sepertinya begitu sangat familiar. Luhan mendengar suara itu meminta Luhan untuk berhenti. Berhenti untuk apa? Kenapa suara itu terdengar seperti tangisan perempuan?

“Lu-Lu… AAAKHH! Hiks, he-hentikan, Lu. Hiks, ku mohon, hentikan. S-sa-saki, hiks.”

Luhan mengacak rambutnya frustasi. Siapa? Siapa itu yang menyuruhnya berhenti? Apa yang sebenarnya ia perbuat? Ini menyebalkan karena Luhan benar-benar tidak ingat. Kelabat bayangan berputar-putar di mata Luhan. Luhan menyipitkan matanya. Bayangan itu membentuk sebuah wajah. Itu wajahnya. Luhan melihat samar wajahnya dan tubuhnya yang… naked?

Bayangan itu hanya samar-samar. Begitu abstrak. Tapi, Luhan yakin itu dirinya. Lantas bayangan lain muncul dan bercampur dengan sosok perempuan yang sedang terisak. Luhan tersentak kaget karena ia begitu mengenali wajah itu. Itu Taeyeon. Ya, Luhan tak mungkin salah dengan penglihatannya.

Dan saat itulah Luhan sadar akan apa yang telah terjadi. Kenapa ia bisa berakhir dalam keadaan naked seperti ini. Luhan ingat akan apa saja yang terjadi padanya dan Taeyeon tadi malam. Tentang ia yang sudah merenggut kebanggan Taeyeon. Luhan benar-benar menyesal, karena dalam keadaan tak sadarkan diri ia malah memperkosa Taeyeon yang notebene tidak salah apa-apa.

Luhan menjatuhkan tubuhnya di atas lantai kamar mandi. Mata rusanya dengan cepat memproduksi air mata. Karena ini adalah kesalahannya yang teramat besar. Luhan tadi malam benar-benar mabuk sehingga tak dapat mengendalikan tubuhnya. Semua berlangsung begitu saja dan menyisakan sebuah penyesalan dalam.

Sesaat Luhan tersadar. Ia seharusnya bertanggung jawab dengan apa yang di perbuatnya. Tapi, saat ia tersadar tadi, ia tak menemukan Taeyeon di manapun. Apa Taeyeon sedang baik-baik saja? Atau sangat terpukul dengan kejadian ini? Apa ia berniat untuk….

Tidak! Tidak! Luhan menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak mungkin Taeyeon berniat seperti itu. Mengingat bagaimana itu Taeyeon. Maka dengan cepat Luhan keluar dari kamar mandi. Mematikan shower dan bergegas berpakaian. Berusaha mencari Taeyeon kemanapun sampai ia menemukan wanita malang itu. Luhan sungguh-sungguh ingin bertanggung jawab walaupun ia tidak mencintai Taeyeon.

“Aku ingin pulang ke Jepang.”

Perkataan Taeyeon membuat Sooyeon dan Yifan terbelalak kaget. Mereka kini sedang makan siang bersama. Walaupun yang makan hanya Yifan dan Sooyeon. Taeyeon hanya memandang makanannya tanpa menyentuhnya sedikitpun. Sooyeong mendekati Taeyeon dan mengelus punggungnya.

“Tidak bisakah kau di sini saja?” tanya Yifan. Taeyeon menangkat kepalanya dan menatap Yifan sendu.

“Luhan akan menemukan ku. Aku tidak ingin bertemu dengannya.” Sahut Taeyeon datar.

“Tidak perlu ke Jepang, Taeyeon-ah. Kau bisa tinggal bersama kami. Kami janji tidak akan pernah mempertemukan mu dengan Luhan.” Bujuk Sooyeon. Taeyeon menggeleng.

“Itu akan merepotkan kalian.”

“Tidak, Taeyeon-ah. Atau apa perlu kita semua pindah rumah agar Luhan tak pernah menjumpai kita lagi?” tawar Sooyeon. Taeyeon menatap Sooyeon tidak percaya. Ia lantas memeluk Sooyeon dengan erat.

“Sooyeon-ah, tidak usah. Tidak usah pindah rumah. Cukup sembunyikan aku saja.”

“Baiklah jika itu mau mu, Taeyeon-ah. Aku ingat pernah membeli rumah di daerah distrik Gangnam-Gu. Itu hanya berjarak 2 blok saja dari sini, kan? Kami berjanji tidak akan memberitahukan keberadaan mu pada siapapun termasuk Luhan.” Ucap Yifan.

“Benarkah?”

“Benar. Kau bisa tinggal di sana. Tenang saja, di sana ada bibi Kwon yang akan ikut tinggal bersama mu. Beliau bisa menemani mu. Urusan yang lain, biar aku yang mengaturnya.” Lanjut Yifan seraya tersenyum.

Taeyeon ikut tersenyum. Entah apa kebaikkannya di masa lalu sehingga Tuhan memberikan teman yang begitu baik padanya. Taeyeon mengusap air matanya yang mulai berjatuhan karena terharu. Sooyeon kembali memeluk Taeyeon lembut.

“Gamsahamnida. Jeongmal gamsahamnida. Aku tidak tahu akan berkata apalagi.” Isakkan kecil Taeyeon membuat Sooyeon ikut terharu. Sooyeon menanggukkan kepalanya dalam pelukkan itu.

“Cheomnayo, Taeyeon-ah. Kau adalah sahabat kami yang paling manis dan tentu saja kami akan selalu membantu mu.”

“Kajja, segera ke sana. Untuk pakaian mu, aku akan meminta pak Lee untuk mengambilnya dari apartemen mu.” Ucap Yifan. Dan mereka segera beranjak menuju tempat di mana Taeyeon akan tinggal.

Luhan hampir putus asa karena tidak menemukan Taeyeon di manapun. Saat ke apartemen Taeyeon, Luhan mendapati apartemen itu kosong seperti tidak pernah di huni sebelumnya. 1 jam berada di sana sebelum ahjumma pemilik apartemen itu mengatakan pada Luhan bahwa Taeyeon sudah meninggalkan apartemen itu 1 jam yang lalu.

Kini Luhan sedang berada di sebuah taman untuk sekedar menenangkan pikirannya yang kalut. Kemana? Kemana akan ia tuju agar bisa menemukan Taeyeon? Luhan merasa pikirannya benar-benar buntu. Luhan menumpu kepalanya dengan tangannya. Berpikir kemana kira-kira Taeyeon pergi.

Sooyeon.

Tiba-tiba otaknya terlintas nama orang yang di cintainya. Luhan menenggakan tubuhnya. Ya, kemungkinan besar Taeyeon ada di sana. Karena setahu Luhan, Taeyeon dan Sooyeon adalah sahabat sangat akrab. Mungkin Sooyeon tau kemana Taeyeon akan pergi. Walaupun ia harus menahan sakit hati karena mungkin suami Sooyeon ada di sana.

Masa bodoh dengan itu. Luhan hanya ingin segera menemukan Taeyeon dan meminta maaf padanya dan bertanggung jawab. Maka, dengan cepat Luhan pergi ke rumah Sooyeon. Sambil berharap kalau Taeyon benar-benar ada di sana.

“Maaf kalau ini terlihat tidak bagus.” Ucap Yifan saat mereka sampai di depan rumah yang menjadi tempat persembunyian Taeyeon.

“Gwenchana. Setidaknya aku memilik tempat untuk tinggal dan menghindari Luhan. Gamsahamnida Sooyeon-ah, Yifan-ah.” Taeyeon membungkuk di depan sepasang suami istri itu. Yang di balas senyuman oleh Sooyeon dan juga Yifan.

“Cheonmayo. Tidak usah di pikirkan yang tidak penting. Kalau begitu, kau bisa isttirahat sekarang. Aku dan Yifan akan kembali.” Pamit Sooyeon.

“Ne. Sampai jumpa.”

Yifan dan Sooyeon segera pergi setelah Taeyeon masuk ke rumahnya. Di karenakan jaraknya yang memang cukup dekat, membuat Yifan dan Sooyeon segera sampai di depan rumah mereka. Tapi, seketika mereka mengernyit heran karena melihat Luhan yang sedang berdiri di depan pintu rumah mereka. Yifan dan Sooyeon sudah tahu akan tujuan Luhan datang ke mari. Luhan melihat Yifan dan Sooyeon yang baru datang. Serta merta ia menghampiri keduanya.

“Apa kalian mengetahui kemana Taeyeon pergi? Apa Taeyeon ada ke rumah kalian sebelum ini?” tanya Luhan antusias.

Sebetulnya Yifan sangat ingin meninju Luhan tapi Sooyeon menahannya. “Kau tidak perlu tau ke mana Taeyeon pergi.” Sahut Yifan dingin.

“Wae? Kenapa aku tidak perlu tahu. Aku ingin berbicara sebentar saja dengannya. Aku tahu, kalian mengetahui kemana Taeyeon. Atau mungkin kalian menyembunyikannya?” tuduh Luhan.

“Ya, kami memang tahu. Tapi, Taeyeon menyuruh kami agar merahasiakan keberadaannya dari semua orang. Terutama, kau.” Ucap Sooyeon sembari menunjuk wajah Luhan.

“Wae?”

“Taeyeon mana mungkin akan menemui orang yang sudah merusak masa depannya.”

BLAM!

Bersamaan dengan Yifan yang menutup pintu dengan kencang, Luhan terkejut dengan perkataan datar Yifan. Luhan mematung di tempatnya berdiri dan berusaha mencerna kata-kata Yifan tadi. Merusak masa depannya? Luhan terkekeh miris dalam hati. Tentu saja Luhan sudah menghancurkan hidup Taeyeon. Dan Taeyeon tentu saja tak akan mudah memaafkannya.

4 years later.

“Ya, Kim Yeon Han. Apa kau tidak mendengar eomma? Eomma bilang berhenti.”

Seorang gadis cilik dengan mata bulat seperti rusa berwarna hazel tertawa khas anak-anak. Dirinya sedang berlari menghindari ibunya yang sedang menenteng sebuah mangkuk berisi bubur. Dirinya sedang tidak mau makan siang karena cukup kenyang setelah melahap 2 gelas bubble tea. Tapi, sang ibu tentu saja tak ingin nutrisi anaknya berkurang dan menjadikan buah hatinya jatuh sakit.

YeonHan berlari keluar rumah. Ia bersungguh-sungguh akan menghindari eomamnya. Sebaiknya ia pergi ke rumah paman Wu saja. Selain bisa bermain dengan Soo Yi, ia juga pasti bisa menghindari eommanya. Dengan tergelak ala anak balita, ia segera pergi.

Taeyeon menghela nafasnya lelah. Bermain  kejaran dengan anaknya yang nakal tidak ingin makan, membuat nafasnya naik turun. Anaknya itu dalam usia 3 tahun sungguh sangat lincah. Padahal seingatnya waktu ia kecil ia adalah anak yang pemalu, tidak banyak tingkah, dan lebih pendiam.

“Hannie!! Kajja, keluar. Eomma lelah bermain kejar-kejaran seperti tadi. Kau harus memakan makan siang mu. Atau eomma akan memotong jatah bubble tea mu.” Ancam Taeyeon. Biasanya YeonHan akan keluae dari persembunyianya ketika di ancam begitu. Tapi, YeonHan tak tampak akan keluar. Membuat Taeyeon heran.

“Hannie! Keluar. Eomma janji akan mentarktir mu bubble tes sepuas mu jika kau keluar dan makan. Hannie, keluarlah.”

Taeyeon menjadi panic. YeonHan tak juga menyahuti panggilannya. Taeyeon meletakkan mangkuk berisi bubur anak-anak. Berjalan menuju kamar YeonHan. Seluruhnya sudah Taeyeon periksa. Tapi, anaknya tak ia temukan juga. Taeyeon bertambah khawatir. Selama ini, YeonHan tak pernah menghilang dengn tiba-tiba seperti ini.

Seluruh rumah juga sudah di periksa Taeyeon. YeonHan masih tak ia temukan. Dengan cepat Taeyeon membuka pintu rumahnya. Terkejut karena mendapati pintu utama rumahnya ternyata tidak terkunci. Taeyeon semakin khawatir. Tak menutup kemungkinan kalau YeonHan berlari keluar. Taeyeon mengeluarkan ponselnya. Dengan gerakkan tangan tergesa, ia mendial nomor Sooyeon.

Yeoboseo.”

“Yeoboseo, Sooyeon-ah. Apa YeonHan ada di rumah mu?”

Aniya. Wae?”

“Omo! YeonHan menghilang. Dia tadi berlari karena tidak ingin makan siang. Aku benar-benar merasa khawatir.”

Jinjja?! Tenang, Taeyeon-ah. Kalau begitu, aku akan memberi tahu Yifan agar ikut mencari keberadaan YeonHan.”

“Ani! Tidak perlu. Biar aku yang mencarinya. Aku akan menghubungi lagi nanti. Sampai jumpa.”

Tae―

Tanpa memperdulikan Sooyeon yang sepertinya akan berbicara lagi, Taeyeon segera memutuskan sambungan telpon tersebut. Ia segera mengunci rumahnya dan berjalan mencari keberadaan YeonHan.

Sementara itu, YeonHan tengah bingung akan ke mana. Ia dan eommanya memang sering berkunjung ke rumah paman Wu. Tapi, untuk anak sekecil YeonHan pasti ia akan bingung jika berada di tengah keramaian. Balita itu hampir menangis karena ketakutan berada di tengah kerumunan banyak orang yang berkali-kali lipat lebih besar.

BRUK.

“Huweee! Eommaaaaa!”

YeonHan terjatuh karena tanpa sengaja tertabrak seseorang dan membuatnya menangis kencang. Ia benar-benar ketakutan seakarang. Ia merasa menyesal karena dengan sok tahu ingin pergi dari rumah. Padahal ia sekarang menangis karena merasa takut. Biasanya eommanya akan memeluknya dan menenangkannya. Tapi, sekerang, dirinya sendirian.

“Ya, uljimayo.”

Seseorang menangkat tubuhnya yang kecil dan di bawa ke sebuah bangku taman. YeonHan mengangkat kepalanya. Dengan mata berkaca-kaca, ia menatap wajah pria yang menolongnya. Sang pria menatapnya dengan tersenyum. Pria itu menghapus air mata YeonHan dan menangkunya.

“Kenapa menangis, eoh? Mana eomma mu?” tanya pria itu.

“Hiks, Jucci, Hannie kabul dali lumah.” Ucap YeonHan dengan pengucapan cadel khasnya. Pria itu tersenyum mendengarnya.

“Lu Han, imnida. Siapa namamu, anak manis?” tanya Luhan

“Kim Yeon Han, imnida. Eomma celalu memanggil ku, Hannie, jucci.” Sahut YeonHan yang mulai menghapus air matanya.

“Nama yang manis, semanis orangnya.” Puji Luhan. Membuat YeonHan menjadi tersipu. Luhan mencubit gemas pipi chubby YeonHan. “Kau telihat manis ketika tersenyum, Hannie. Ohya, kenapa kau kabur dari rumah? Nanti kalau eomma mu mencari bagaimana?”

“Hannie ingin kelumah Coo Yi. Hannie tidak ingin makan ciang. Tapi, eomma memakca. Makanya, Hannie kabul.” Jelas YeonHan.

Luhan terkekeh pelan mendengar penjelasan amburadul YeonHan. “Kalau begitu, apa Hannie menyukai bubble tea? Kajja, kita beli bubble tea setelah itu pulang, bagaimana?” tawar Luhan.

YeonHan menatapnya berbinar. “Jinjjayo? Kajja, jucci.” Ucap YeonHan ceria. Dirinya sudah tak sedih lagi sekarang. dengan segera ia menggenggam telunjuk Luhan menggunakan jemarinya yang mungil.

Selesai dengan urusan membeli bubble tea, Luhan menepati janjinya untuk mengantar YeonHan yang sudah belepotan Bubble tea ke rumahnya. Luhan tergelak betapa mengemaskannya YeonHan saat wajahnya yang cemong itu. Sekilas, Luhan merasa balita ini seperti dirinya. Tapi, segera ia menggelengkan wajahnya. Ia tak ada hubungan apapun dengan balita cantik ini.

“Hannie, di mana rumah mu?” tanya Luhan.

YeonHan menatap Luhan. Seluruh bibirnya belepotan busa bubble tea karena ia membuka penutupnya tadi. Luhan tertawa kembali. “Oh, itu! itu jucci. Itu lumah Hannie.”

Luhan menghentikan mobilnya tepat di depan rumah yang di tunjuk YeonHan. Sebuah rumah sederhana yang tidak besar tidak juga kecil. Terlihat nyaman dan menyejukkan. Beberapa tamanan yang di rawat membuat pemandangan rumah ini begitu indah dan rapi. Sepertinya pemilik rumah ini memang suka kebersihan.

YeonHan segera menghambur ke halaman rumahnya. Ia segera menuju pintu rumahnya. Ia heran kenapa rumahnya tidak bisa di buka. Dengan tangan mungilnya, YeonHan mengetuk-ngetuk pintu rumahnya.

“Eomma! Eomma, Hannie pulaaaang!” teriak YeonHan. Tapi, karena Taeyeon memang sedang tidak di rumah, ia tak dapat menyahuti panggilan anaknya.

Taeyeon mengernyit heran karena melihat sebuah mobil yang terparkir di depan rumahnya. Ini bukan mobil Yifan ataupun Sooyeon. Taeyeon tidak mengenal akan siapa pemilik mobil ini. Sebuah pikiran negative bersarang di kepalanya. Bagaimana jika mobil ini adalah milik sekawanan perampok? Taeyeon segera berlari untuk membuktikan kebenaran pemekirannya.

“Eommaaaa!”

Teriakkan cempreng khas anak-anak menyambut Taeyeon. YeonHan memeluk ibunya dengan erat seakan-akan sudah tidak bertemu dengan Taeyeon bertahun-tahun. Taeyeon juga ikut memeluk anaknya. Mengabaikan Luhan yang terkejut karena tidak menyangka siapa ibu anak yang tadi di temukannya.

“Kau kemana saja, Hannie? Eomma sangat khawatir.” Ucap Taeyeon sembari mengecup kepala anaknya.

“Mianhamnida, eomma. Hannie janji tidak akan nakal lagi.” Sahut YeonHan.

“Ne, eomma percaya.”

“Taeyeon…”

Taeyeon melepaskan pelukkan anaknya dan begitu terkejut mendapati seseorang yang sungguh sampai sekarang tak ingin ia temui. Tapi, orang itu sekarang berada di depannya. Berdiri dengan tatapan tidak percaya. Taeyeon tak mungkin salah dalam melihat. Luhan, masih menatap Taeyeon.

“Dia.. anak mu?” tanya Luhan sambil menunjuk YeonHan.

Taeyeon mengeratkan pelukkan anaknya. Seakan Luhan akan mengambil anaknya. “Ne! Dia adalah anakku. Kim Yeon Han.” Tegas Taeyeon.

“Maksud mu, anak kita? Lu Yeon Han?”

“Ani! Dia anakku. Bukan anak mu! Atau anak kita.” Jerit Taeyeon. Ia segera bangkit dan berjalan ingin masuk ke dalam rumahnya. Tapi, tangan Luhan bertindak cepat dan mencengkram kuat lengannya.

“Aku tahu, Hannie adalah anakku juga, iya kan?” tanya Luhan.

“Ani! Dia bukan anak mu!” suara Taeyeon bergetar seperti akan menangis.

Luhan merengkuh tubuh mungil itu dalam pelukkannya. Membuat YeonHan yang masih kecil tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Luhan membenamkan wajah Taeyeon pada dadanya. Membuat tangis Taeyeon pecah.

Tangan Luhan bergerak mengelus pelan rambut Taeyeon. dirinya tak berkata-kata karena bingung apa yang harus ia katakan. Semuanya terasa begit aneh. Luhan yang tanpa sengaja bertemu dengan anak balita yang menangis. Ternyata anak itu adalah anaknya.

“Kau bukan ayahnya. Ia tak punya ayah, hiks. Aku adalah orang tua satu-satunya milik Hannie.” Isak Taeyeon. Luhan memejamkan matanya. Merasakan pukulan Taeyeon di dadanya.

“Tak ada anak yang lahir tanpa ayah. Aku tahu kalau Hannie adalah anak kita, kan?” sahut Luhan.

“Lantas kalau iya, apa yang akan kau lakukan? Kau ingin mengambilnya dari ku?”

“Tentu saja tidak. Kau tahu, aku selalu mencari mu selama 4 tahun ini. Dan setelah aku menghancurkan mu, aku tentu saja tidak akan berbuat yang seperti dulu lagi.” Luhan melepaskan pelukkan mereka. “Aku akan bertanggung jawab.” Lanjutnya sambil menatap mata Taeyeon.

Taeyeon menggeleng. “Tidak. Aku sudah cukup berbahagia selama ini. Lagipula, bukan kah kau mencintai Sooyeon?”

“Ya. Aku memang mencintai Sooyeon.” Sahul Luhan. Tentunya membuat hati Taeyeon kembali sakit. “Tapi, itu dulu. Ketika mataku buta akan sebauh cinta lain yang ternyata lebih tulus dari cinta ku pada Sooyeon.” Lanjut Luhan. Luhan mengecup jidat Taeyeon yang tertutup poni. Tangan besarnya memegang wajah Taeyeon. “Dan cinta itu ada pada mu, Taeyeon-ah.”

Luhan mendekatkan bibirnya pada bibir Taeyeon dan melumatnya dengan lembut. Taeyeon yang bagai terhipnotis hanya bisa menurut dan mengikuti permainan yang di mulai oleh Luhan. Mengabaikan sepasang mata bulat menatap mereka penuh tanda tanya.

“Eomma, jucci.”

Panggilan anak-anak itu kontan membuat ciuman mereka terlepas. Menatap YeonHan yang juga melihat ke arah mereka dengan pandangan tanya dan raut polos khas anak-anak. Luhan tersenyum kikuk sembari menggaruk belakang kepalanya. Ia tak sadar sudah melakukan hal tak senonoh dengan Taeyeon bahkan di depan anak kecil. Taeyeon menjitak kepala Luhan.

“Appo!” jerit Luhan.

“Bisa-bisanya kau menciumku di depan anakku. Bagaimana kalau otaknya tercemar akan kemesuman mu.” Taeyeon mendelik sangar pada Luhan.

Luhan terkekeh. “Mian, habisnya wajah mu terlihat begitu mengoda ku. Dan, Ya! Hannie itu bukan anak mu saja. Tapi anakku juga. Hannie adalah anak kita.” Ucap Luhan. “Ohya, ngomong-ngomong kenapa kau menamainya Kim Yeon Han. Apa itu seperti gabungan nama kita berdua? Tae Yeon dan Lu Han?”

Taeyeon tersipu mendengarnya. “Ya! Tentu saja tidak. Aku memilih nama itu karena, itu nama yang indah.” Elak Taeyeon.

“Ahaha, sudah mengaku saja.”

“Tidak!

“Baiklah, baiklah. Bagaimana kalau sekarang kita pikirkan rencana pernikahan kita. Lalu membuat adik untuk Hannie, hmm?” goda Luhan dengan menaik-turunkan alisnya.

BUG!

“Yaaa! Dasar mesuum!

FIN

 

Author note : halo, ini aku bawa FF dengan pairing LuTae. Anggap aja ini FF sebagai ganti dari FF 12 PL yang ‘NGGAK BAKALAN ADA PAIRING’. Walaupun kalian pengen Taeng eonni bercouple sama ini, ini, ini, atau ini. Maaf banget karena aku nggak akan buat Couple.

Oke, see you….

Advertisements

61 comments on “[Oneshoot] Mistake

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s