Skateboy [ Chapter 6 ]

skateboy

SKATEBOY [ Chapter 5 ]

Author :

Kimiceu

Genre :

Romance, schoolife

Rating :

M

Cast :

Kim Taeyeon

Xi Luhan

Other Cast :

Find

Credit Poster :

Thanks a lot to Haruru89 unnie^^

Disclaimer :

FF asli dari pemikiran saya sendiri dan terinspirasi dari beberapa korean drama, novel, film, dll. Plagiarism and bashing isn’t allowed . Don’t forget to leave your  comment. Sorry for typo  thx^^

Flashback

Luhan berjalan dengan gontai kearah dapur untuk sedikit melepas dahaganya.Sambil mengambil sebuah kaleng soda dan membukanya,  ia berpikir keras.  Jika Nyonya Kim adalah ibu Taeyeon berarti Hana dan Taeyeon adalah saudara?  Tapi nyonya Kim pernah mengatakan bahwa hana adalah anak tunggal dan suaminya sudah meninggal karena sakit.  Luhan ingat betul bahwa Nyonya Kim dan Hana juga pernah tinggal di los angeles  dan Taeyeon pun begitu.

‘hey tunggu dulu’

“sudah cukup ibu, aku lelah mengikuti semua kemauanmu, walaupun aku ini bukan anak dari appa tapi aku tetap anakmu. Bukan hanya eonni saja  yang berhak mendapatkan perhatian ibu, aku juga berhak mendapatkannya dari ibu. mengapa semuanya begitu tidak adil? Apakah aku harus cacat seperti eonni lalu ibu akan menyayangiku?”

 

“kau tidak tahu? Ibunya berselingkuh dengan pria lain dan melahirkannya. Suami ibunya mengetahuinya dan langsung bunuh diri. Kau tau? Keluarga mereka kaya karena ibunya sering bersetubuh dengan pria-pria sembarangan diluar sana.Jika kau masih ingin berteman dengan kami jauhi dia. Kau bersama dia akan mendapat masalah!”

 

Luhan kaget ketika secara tak sadar ia menyangkut pautkan masalah Taeyeon dengan kekasih masa kecilnya. Hanya saja ia berpikir dibeberapa bagian terdapat adanya kemiripan.  ‘ahh mungkin hanya kebetulan’ pikir Luhan.

tapi…

 

“Hey ada apa dengan dahimu chagi? Apakah kau terjatuh?” Tanya luhan khawatir.

“Ohh ini hanya luka gores saja, tidak apa-apa Luhan.”

Mungkin bekas luka ini tidak bisa hilang sepenuhnya. Kau terlihat seperti Harry Potter chagi!”

 

“KIM TAEYEON! K-I-M  T-A-E-Y-E-O-N !” jelas taeyeon. Luhan hanya merotasikan bola matanya malas. Matanya menangkap sesuatu didahi yeoja kecil itu, namun segera ia buang jauh-jauh. Mungkin ia salah lihat.

“Astaga!! ” pekik Luhan. Otaknya tidak mungkin salah.  Ini seperti sebuah keajaiban.  Luhan yakin betul bahwa Taeyeon adalah ‘chagi’ nya.  Luka gores, masalah orang tua mereka begitu mirip ditambah lagi kemiripan ketiganya sangatlah kentara sekali.  Luhan diambang anatara bahagia dan excited. Bahagia karena bisa menemukan chaginya setelah sekian lama dan excited karena orang yang selama ini ia cari ternyata tak jauh dari jarak pandangnya,  bersamaan dengan itu Taeyeon yang sudah keluar dari kamarnya dengan sebuah celana pendek dan kaos tanpa lengannya.  Luhan mendengar suara pintu yang tertutup dan menoleh kebelakang.  Matanya menangkap sesosok bertubuh mungil. sedang mengucek matanya dengan rambut yang sedikit acak-acakan.  Yeoja itu berjalan santai dan mengambil segelas air putih dari kulkas tepat disebelah Luhan.  Namja itu masih kaget dan tak percaya sehingga dirinya masih saja diam dan menatap yeoja itu disampingnya.  Taeyeon sadar akan tatapan Luhan hanya balas menatap Luhan tak mengerti.

“chagi? ”

“uhuuk uhuukk… ” taeyeon tersedak. Ia menepuk sendiri dadanya untuk menenangkan diri. “Kau baik baik saja? ” tanya Luhan.  Taeyeon hanya mengangguk sambil berpura-pura terbatuk dan berniat untuk meninggalkan Luhan sebelum..”Masih mau menyembunyikan siapa dirimu lagi? ” Taeyeon diam ditempatnya. ” Tidak lelah menyimpan semua sendiri? ” tanya Luhan lagi,  entahlah hari ini Luhan banyak bertanya dan membuat Taeyeon agak kesal antara ingin marah atau menangis dan pergi jauh-jauh dari Luhan. Sesungguhnya Taeyeon memang sudah lelah dengan semuanya.  Ia sadar sangat sadar sejak pertama kali bertemu disekolah siapa sebenarnya Luhan itu,  kekasih masa kecilnya. Ketika mengetahui fakta itu Taeyeon ingin sekali menghambur kepelukan Luhan dan berteriak bahwa dirinya adalah ‘chagi’ gadis kecil penghuni setia taman dibaverly hills yang sering berbicara dengannya.  Tapi niatnya terhenti mengingat Luhan yang terus menjauhinya ketika namja itu sudah tau siapa sebenarnya Taeyeon itu. Taeyeon tak ingin mengulang kesalahan yang sama.  Lebih baik ia diam dan akan terus diam supaya dirinya bisa dekat dengan Luhan,  walaupun Luhan sudah memiliki tunangan yaitu kakaknya sendiri,  tapi menjadi teman Luhan sudah membuat Taeyeon  bahagia.  Setidaknya dirinya sudah tak lagi memikirkan bagaimana keadaan Luhan sekarang.

Tapi ketika Luhan mengetahui siapa sebenarnya dia sekarang,  Taeyeon kecewa.  Itu berarti tak lama lagi dirinya tidak akan bisa bertemu lagi dengan Luhan. Luhan pasti akan menjauhinya dan meninggalkannya seperti dulu.  Memikirkan Luhan yang akan jauh dari pandangan matanya membuat Taeyeon sedih sampai sampai ia tak bisa lagi berpikir jernih. “Iya aku lelah.  ‘Dia’ yang kau maksud memang aku.” jawab Taeyeon setegar mungkin.  Ia tidak akan lagi menyembunyikannya toh sebentar lagi ia akan dideportasi dari negara ini oleh ibunya sendiri,  jadi dia tak perlu lelah bersedih melihat Luhan yang menjauhinya.  “Sudah tau kan?  Kau boleh pergi sekarang sunbae.” ucap Taeyeon lalu melangkah pergi.  Luhan tentu saja tak tinggal. diam. Mendengar pernyataan dari yeoja itu langsung dari mulutnya membuat Luhan sedikit marah.  Taeyeon seolah-olah mengusirnya dari kehidupan yeoja itu.  Luhan tidak mau. Tidak akan pernah!

Luhan menarik pergelangan tangan Taeyeon dengan kasar,  namun Taeyeon seperti tak terkalahkan oleh kekuatan Luhan.  Ia menghentakkan tangannya dari Luhan dan menatap tajam namja itu. “Sudah kubilang sunbae lebih baik kau… ” ucapan Taeyeon terhenti ketika dengan paksa Luhan menempelkan bibirnya diatas permukaan bibir Taeyeon.  Hanya menempel saja dapat membuat Taeyeon diam seketika tanpa perlawanan. Luhan menjauhkan bibirnya dari bibir Taeyeon dan menatap yeoja itu diam. “Apasih yang sunbae mau?  sudah kubilang jangan… ” ucapan Taeyeon berhenti lagi ketika lagi lagi Luhan menempelkan bibirnya pada bibir Taeyeon sebentar dan menjauhkan dirinya lagi.

“Sudah mengocehnya? ” tanya Luhan dengan suara manisnya.  Astaga hanya mendengar suara Luhan saja Taeyeon sudah terpukau dengan namja itu. “Jangan mengusirku,  aku tidak ingin kehilanganmu lagi untuk kedua kalinya” ucap Luhan terdengar seperti sebuah pernyataan. Taeyeon menaikkan alisnya tak mengerti dengan apa yang Luhan katakana.  “Aku tidak mengerti apa yang sunbae inginkan dariku.  Aku ini hanya seorang anak yang tak diterima  dan diakui oleh ibuku,  aku dibuang bahkan aku tak dianggap lagi,  jadi apa yang kau harapkan dari anak terbuang sepertiku sunbae? ”

“kau. ”  ucap Luhan dan lagi lagi mampu membuat Taeyeon membisu.  Dirinya?  yang tidak sempurna dan penuh dengan penderitaan ini diharapkan oleh seorang namja yang terlewat tampan dengan hidup normal tanpa beban dalam perjalanan hidupnya. Tidak dapat dipercaya.”Perlu kau ketahui,  tak peduli latar belakangmu dan siapa dirimu,  aku akan tetap selalu mencintaimu dan aku akan memperjuangkan semuanya untukmu. ” Taeyeon menatap Luhan meneliti apakah namja itu berbohong atau tidak,  mengatakannya dengan tulus atau tidak.  Sayangnya Taeyeon bukanlah seorang paranormal dan ahli mata jadi ia tak tahu pasti Luhan jujur atau tidak.  Tapi ucapan Luhan membuat Taeyeon sedikit terenyuh dan percaya.  Entah kenapa ia gampang sekali percaya dengan namja itu seperti otak dan hatinya sudah dikoneksi dengan Luhan untuk terus percaya.  Huh dia benci perasaan seperti ini.  Luhan menunggu reaksi Taeyeon. Yang ia dapati adalah yeoja itu hanya diam saja dengan tatapan bingung dan dahi berkerut. ‘yeoja menyebalkan’ Kalau bisa Luhan benar-benar ingin memukul wajah Taeyeon yang menyebalkan.  Padahal dia sudah merangkai kata-kata supaya yeoja itu percaya dengan semua ucapannya.  Ahh tidak bisa.  Luhan tidak bisa menahannya lagi.  Melihat wajah Taeyeon membuatnya ingin..

‘cuppp’

Luhan mencium ujung hidung Taeyeon yang membuat kesadaran yeoja itu kembali dan menatap Luhan. Luhan balas tersenyum menanggapi.  Tak hanya itu,  Luhan melanjutkan dengan mengecup bibir Taeyeon secara pelan dan halus.  Yeoja itu langsung menutup matanya tanpa disuruh seperti anak kecil yang diperintah ibunya untuk melakukan sesuatu. Taeyeon belum membalas,  ia tidak tahu harus seperti apa dirinya sekarang.  Sebagian dirinya merasa lega karena Luhan sudah mengetahuinya dan menerima dirinya apa adanya, sedangkan disisi lain ia takut menjalani kehidupan ‘baru’ nya sekarang.  Ia takut terpisah lagi dari Luhan hingga ia bisa membayangkan betapa sedihnya jika mereka berdua benar-benar harus terpisah.  Tapi Taeyeon harus berpikir positif dan tenang,  belum tentu itu terjadi kan?  Siapa yang tahu nanti.

Yeoja itu sibuk berpikir disela ciumannya hingga tak sadar jika Luhan sudah membaringkannya diatas sofa dengan posisi dirinya berada dibawah Luhan.  Taeyeon terlalu kaget dengan posisi mereka hingga tak sengaja ia mendorong dada Luhan hingga keduanya terjatuh kebawah.  Padahal mereka sedang melakukan ciuman. Sekarang berganti Taeyeon yang berada diatas Luhan.  Yeoja itu sadar dan berusaha untuk berdiri dan menjauh,  tapi takdir tak mengijinkan. Luhan menekan pinggang Taeyeon menahan yeoja itu untuk pergi,  tapi ulahnya sendiri membuat dirinya mengerang.  Tak sadar jika Taeyeon sudah duduk ditempat paling terlarang bagi seorang namja dan tadi Luhan menekannya membuat kedunya merasakan sensasi aneh dan yang paling terkena imbasnya adalah Luhan.  Sudah berdiri tak. bisa tidur lagi?

“Kau harus bertanggung jawab” ucap Luhan masih menekan pinggang Taeyeon sambil kepalanya menengadah keatas merasakan sensasi keenakan duniawinya.  “Itu kan perbuatan sunbae sendiri mana bisa begi.. ahh” sialan namja ini, dengan sengaja menggesek daerah sensitif keduanya.  Hey ini pertama kalinya bagi Taeyon dan momentnya sangat tidak tepat.

“ahh taeyonn… ” Luhan kehilangan akal sehatnya.  Ia terlalu menikmati kegiatannya saat ini tak memikirkan bahwa yeoja diatasnya juga sedang tersiksa,  dia pikir dia saja yang ingin merasakan sensasi ‘itu’. Taeyeon ingin balas dendam,  walaupun dirinya memang tidak tahu bagaimana caranya tapi naluri menuntunnya secara alami. Tangan mungilnya itu melucuti seluruh pakaian Luhan hingga hanya menyisakan celana sekolah dan yang lain yang ada didalamnya.  Taeyeon berpikir bahwa dirinya harus mencium leher Luhan,  dan itulah yang sedang terjadi saat ini,  Tanpa pengalaman apapun Taeyeon mencium leher Luhan diseluruh bagiannya tanpa melewati celah sedikitpun.  Luhan yang merasakannya pun kaget bukan main.  Dari cara Taeyeon menggoda dirinya dengan menciun lehernya sudah terlihat sekali bahwa dia amatiran.  Luhan sering melihat video dewasa seperti itu dan tentu pernah merasakannya bersama dengan wanita bayaran. Pergaulan orang barat memang sedikit membuatnya bisa disamakan dengan mereka,  badboy.

Sementara sang yeoja sibuk mencium lehernya dan mulai merambat mencium dada bidangnya,  Luhan dengan cepat membuka tanktop ketat yang dipakai taeyeon dan celana pendek yang dikenakan yeoja itu.  Taeyeon masih belum sadar bahwa nalurinya itu membuat dirinya lupa kalau semenjak tadi ia seperti membantu Luhan melucuti pakaiannya sendiri.  Dan ketika Taeyeon berhenti melakukan kegiatan cium menciumnya dan menyadari dia hampir setengah telanjang.. “KYAAAAA” teriak Taeyeon langsung menutupi kedya buah dadanya dan menunduk menempel pada Luhan. “kyaaaa apakah kau berniat bercintaa denganku sunbaee??? ” tanya Taeyeon dengan polosnya.  Ya apalagi Taeyeon jika dua orang namja yeoja melucuti pakaian, saling berciuman dan merasakan milik mereka masing-masing yang saling bergesekan apalagi kalau bukan ingin bercinta?  bodoh.

“menurutmu? ” smirk tergambar jelas dibibir Luhan.  Namja itu duduk melihat Taeyeon berada dipangkuannya sekarang sedang menutupi dadanya.  Luhan tertawa renyah dan memeluk yeoja itu sayang. “Tadinya aku ingin, tapi tidak jadi ketika melihatmu ketakutan. ” Taeyeon bernapas lega.  Ia menatap kedua bola mata Luhan sambil tetap memeluk leher namja itu “Tentu saja jangan dilakukan!  aku ini kan masih sekolah,  kalau aku hamil duluan bagaimana? ” tanya Taeyeon dan memanyunkan bibirnya. Jika saja Luhan tidak bisa mengontrol emosinya,  mungkin detik ini juga Taeyeon sudah mendesah keras dan meminta Luhan untuk memacunya lebih cepat,  tapi ia tak sebrengsek itu.  Luhan namja baik yang memikirkan juga bagaiamana masa depan yeojanya nanti. Tapi…  “Bagaimana kalau aku langsung menikahimu? ” goda Luhan sambil menaikkan dagunya menantang sang yeoja yang berada didepannya ini. “dasar gila! ” dengus Taeyeon sambil berdiri dan berlalu menuju kamarnya. Luhanpun tidak ketinggalan menatap pemandangan indah didepannya saat Taeyeon berjalan kearah kamarnya hanya dengan memakai celana dalam dan branya hati Luhan menghangat,  seperti ada sensasi aneh yang menjalari tubuhnya. Luhan segera menyusul Taeyeon yang kini sudah meringkuk didalam selimut tebalnya. Yeoja itu menghadap kearah jendela besar yang menampilkan suasana kota seoul dari atas apartementnya. Taeyeon menyadari kehadiran Luhan didalam kamarnya dan segera melotot kepada namja itu. Tapi niatnya terabaikan ketika dirinya melihat adegan erotis didepan matanya.  Bukan video porno atau seorang pornstar mengunjungi kamarnya,  lebih dari itu ini lebih erotis dan seksi lagi.  Luhan berdiri sambil menatap Taeyeon sambil membuka dimulai dari jesper hingga celana sekolahnya menyisakan boxer yang masih melekat ditubuhnya. Pemandangan luar biasa itu ditonton oleh Taeyeon dari awal hingga akhir. Segeralah Taeyeon mendapatkan ilhamnya untuk segera menutup wajahnya dengan selimut. “YAAA SUNBAE APA YANG KAU LAKUKANN!! ”

-flashback end-

“Apa yang kau lakukan disini?? ” tanya nyonya Kim dengan raut wajah marah.  Wanita tua itu memandang Taeyeon yang masih belum terbangun,  tampaknya ia sangat kelelahan. “Apa yang kalian lakukan semalam???” teriak nyonya Kim membuat Luhan memandang yeoja disebelahnya dan berlanjut menatap Nyonya Kim datar. “Bicara diluar. ” tegas Luhan

Luhan dan Nyonya Kim sudah berada diluar kamar Taeyeon dengan suasana dingin menyelimuti mereka berdua.  “Apa kau lupa sudah dijodohkan dengan wanita baik-baik yang tak lain adalah anakku?” tanya Nyonya Kim sinis.  “Bukankah Taeyeon adalah anakmu juga nyonya? ” balas Luhan lebih sinis.  Nyonya Kim terkejut bukan main,  aibnya sudah terbongkar didepan calon menantunya sendiri. “Sialan anak kurang ajar,  beraninya dia membuka aibku! ” desis Nyonya Kim yang berniat menuju kamar Taeyeon,  namun ditahan Luhan.

“aib?  maksudmu Taeyeon adalah aib bagi dirimu? ” tanya Luhan.  “Jelas-jelas kau yang melakukan kesalahan dan tindakan tak bermoral dimasa lalu kenapa kau menyalahkan hasil perbuatanmu sendiri?  bukankah itu terdengar munafik? ” Nyonya Kim menatap Luhan dengan pandangan berkaca-kaca.  Jelas sekali ia sadar itu adalah kesalahannya tapi pada kenyataannya ego lebih mengukung dirinya untuk tidak bertindak dengan benar. “Masa lalu biarkan berlalu.  Toh lihat saja kenyataannya sekarang.  Dia hanya menjadi beban dalam hidupku.  Jika ia tak hadir didunia ini,  aku pasti tak akan pernah merasa semenderita ini! ” ucap Nyonya Kim dengan setetes air mata yang sudah tak. bisa ia bendung lagi.  Melihat itu Luhan sama sekali tidak merasa iba.  Perempuan yang notabene adalah calon mertuanya itu begitu rendahan dimatanya sekarang.

“Bahkan dia yang lebih menderita dibandingkan dengan kau.  Ia menanggung semua amarahmu,  kekesalanmu,  semua perlakuan kasarmu dan sekarang kau memintanya juga untuk menebus dosamu dengan cara memintanya untuk tidak lahir didunia ini?.” Emosinya sudah sampai keubun-ubun.  Tak dapat ia kontrol lagi.  Semuanya serasa ingin keluar satu persatu,  rasa marah dan kecewa yang menjadi satu. “Aku bangga melihatnya tetap hidup hingga sekarang.  Walaupun memang dipenuhi luka tapi ia sama sekali tak berniat untuk bunuh diri akibat kekerasan batin yang ia dapatkan dari ibu kandungnya sendiri. ” ucap Luhan.  Nyonya Kim sepenuhnya sadar apa yang dikatakan Luhan memang benar.  Dalam hati ia mengaku salah dan kasihan terhadap anak hasil hubungan gelapnya itu.  Tapi mau bagaimana lagi.  Ia bagaikan seonggok batu permata yang susah dibuka inti dalamnya,  susah untuk dileburkan hatinya.  Benar memang permata tak selalu berinti permata,  kadang sebagiannya saja,  sebagian lainnya hanyalah kumpulan batu tak berharga. Saat ini batu tak berharga itu sedang menggerogoti hati Nyonya Kim sehingga tak ada sedikitpun rasa minat untuk mengakui semuanya. “Jangan harap aku masih ingin melanjutkan perjodohan konyol ini setelah mengetahui kenyataan sebenarnya Nyonya Kim.” Tegas Luhan tak menyadari jika Nyonya Kim sedang menatapnya marah dan benci. “Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, kau tidak bisa menghentikanku bocah!” Dengan cepat nyonya kim keluar dari apartement Taeyeon meninggalkan Luhan sendirian dipenuhi dengan amarah dan dendam dalam hati.  Tangannya mengepal menyadari kenyataan bahwa nyonya kim sama sekali tidak mengakui kesalahan dari mulutnya sendiri tapi malah mengancamnya dengan sejuta kata-kata pedas.  Sebegitu pengecutkah dia sampai sampai mulutnya seperti terkoyak bila mengucapkan kata maaf?

“Hallo sekertaris Song….”  Luhan berbicara dengan ponselnya. Bukan  ‘berbicara’ dalam pemikiran dia orang gila dan berbicara dengan ponselnya yang jelas-jelas adalah benda mati. Ia sedang menghubungi seseorang kepercayaannya. “Hmm berikan semuanya padaku secepatnya, kalau bisa pagi ini..” Wajah imut Luhan tampak sngat serius dalam pembicaraan tersebut layaknya seorang CEO muda tampan dan berkharisma.

ceklek

“Nanti aku hubungi lagi..” Luhan mengakhiri sambungan ponselnya. Taeyeon keluar dari kamar berbalut kemeja sekolah Luhan dengan gaya imutnya yang sedang menetralisir matanya pada biasan cahaya matahari.  “Kau sudah bangun? ” tanya Luhan yang kini sudah berhadapan langsung dengan Taeyeon. “YA!  tentu saja aku sudah bangun.  Kalau belum pasti sekarang aku masih berbaring diatas ranjangku sunbae! ” protes Taeyeon dengan suara paraunya.  “Aigoo… ” Luhan terkikik mendengar ocehan yeoja mungil itu.  Hah bagaimana bisa yeoja imut seperti Taeyeon bisa membuat suhu tubuhnya memanas dipagi hari hanya dengan mendengar suaranya dan gelagatnya yang sedikit terlihat… seksi mungkin. Luhan mendekatkan dirinya pada Taeyeon, memeluk pinggang mungil yeoja kecil itu dan menyentuhkan bibirnya diatas telinga Taeyeon. “Mandi dan bersiaplah untuk berangkat sekolah, atau kau akan habiskan waktu seharianmu itu dibawah kuasaku,arra?”  bisik Luhan sambil sesekali mengecup cuping telinga Taeyeon sedikit menggoda yeoja itu. “a…arraseo sunbae.”

*****

“Hey hey lihat itu ada Luhan sunbae KYAAA!!”

“Iya dia keren sekalii astagaaa mati aku dibawah pesonanyaaaaa”

“Yaampun siapa itu dibelakangnya? Taeyeon anak baru? Ahahahaha apa yang dia lakukan?”

“Apa dia berusaha menggoda Luhan sunbae?”

“Lihat dia terlihat seperti pembantunya Luhan sunbae!!! Aahahahaha.”

“Taeyeon pembantunya Luhan sunbae? AHAHAHHA”

“Yeoja bodoh ahahahaha.”

Ya dan sebagainya reaksi anak-anak sekolah melihat Luhan yang berjalan dengan kerennya bersamaan dengan Taeyeon dibelakangnya dengan membawa segala peralatan dari mulai skateboard, tas berisi baju olah raga, handuk dan lainnya sudah bertengger manis hingga hampir menutupi setengah wajah Taeyeon. ‘sialan laki-laki ini’ umpatnya dalam hati. Ia kira setelah Luhan mengetahui siapa ‘wujud’ aslinya di masa lalu, Luhan akan emperlakukannya dengan baik bak tuan putrid dalam negri dongeng, membawakan tasnya, mengusap wajahnya yang berkeringat, menggandengnya setiap mereka berdua. Ayolah Taeyeon membayangkan berbagai adegan tersebut benar-benar menjadi kenyataan, namun ternyata dugaannya berbeda 720 derajat. Sambil terus mengikuti Luhan dan membacakan mantra untuk namja itu, Lee Hana kakak Taeyeon yang sudah menunggu didepan kelas Luhan kini mulai risih karena sedari tadi ditatapi oleh banyak orang disana karena memang dia bukanlah murid sekolah itu.

“Ohh ayolah taeyeon kenapa jalanmu lambat sekali?”

‘Taeyeon?’ Hana menoleh kesamping dan mendapati Luhan tengah menggandeng seorang yeoja yang wajahnya tak bisa ia kenali karena tertutup oleh beberapa barang yang ia bawa. Hana berpindah tempat ke balik tembok yang ia rasa cukup bagi dirinya untuk bersembunyi sementara waktu. “AISH INI BERAT SEKALI SUNBAEE!!”

deg’ hana kenal dengan suara dan rengekan itu. Ia paham dan sangat mengenalinya, siapa lagi kalau bukan adiknya sendiri. Rengekan yang selalu ia dengar sedari kecil ketika adiknya itu meminta ampun karena selalu dipukuli oleh ibunya sendiri. Bahkan hana ingat betul dimemori otaknya saat Ibunya dengan sengaja mendorong Taeyeon hingga kepala yeoja itu terbentur pinggiran meja yang menyebabkan ibunya mendapatkan tamparan keras dari ayahnya. Hana paham betul bahwa ibunya sangat membenci Taeyeon sejak kecil. Ibunya pun selalu melarang Hana bermain dengan Taeyeon dengan alasan dia bukanlah adik kandungnya. Walalupun begitu Hana tetap saja mendekati taeyeon diam-diam untuk bermain bersama, sampai akhirnya mereka ketahuan sedang bermain boneka digudang bawah tanah. Seharusnya Hana lah yang mendapat cacian, makian dari ibunya, tapi entah kenapa Ibunya malah memarahi taeyeon hingga mencelakai taeyeon. Beruntung ayahnya dengan sigap membawa Taeyeon kerumah sakit yang saat kejadian Taeyeon langsung pingsan ditempat.

Beruntung Taeyeon baik-baik saja dan Hana pun mensyukurinya adiknya itu tidak apa-apa. Tapi semenjak itu perhatian Ayahnya teralihkan hampir 90% kepada Taeyeon. Ayah dan ibunya pun tak seakur saat pertama kali menikah. Hana cemburu melihat kedekatan Ayahnya dengan Taeyeon, tapi Hana pun tahu bagaimana posisi Taeyeon jika tidak ada ayahnya. Mungkin Taeyeon akan babak belur ditangan Ibunya. Hana yang lebih dewasa dari Taeyeon pun mengalah dan membiarkan semuanya mengalir apa adanya. Semenjak itupun kegiatan mereka yang melibatkan kebersamaan pun dibatasi, tentu saja ibunya yang membatasi. Hana tau ayahnya adalah orang yang baik sehingga tak mungkin ia rela membatasi segala kegiatan taeyeon dan hana. Mereka seperti dua orang yang tak saling kenal yang tinggal dalam satu rumah. Ketika mereka berpapasan, mereka tak menyapa, ketika mereka berdua tak sengaja ingin ke kamar mandi pasti Taeyeon duluan yang mengalah dan pergi. Hana sakit menjalaninya, apalagi dengan adiknya sendiri. Walaupun Taeyeon bukanlah adik kandungnya, tapi hana menyayangi Taeyeon.

Saat ayah mereka meninggalpun Hana tak bisa lagi melihat Taeyeon. Ia dan ibunya pindah ke Korea tanpa Taeyeon. Kata ibunya, Taeyeon dititipkan kepada pamannya di Los Angeles dan akan terus bersama pamannya. Hana pernah bertanya kepada ibunya kenapa Taeyeon tidak tinggal di Korea bersama mereka? Bukan jawaban yang ia dapatkan tapi sebuah tamparan keras dari tangan ibunya, dan setelah menamparpun ibunya hanya pergi tak berbicara satu patah katapun. Hana juga tak berniat bertanya lagi tentang Taeyeon mengingat reaksi ibunya yang menyeramkan. Hana dan Ibunya hidup susah di Korea. Hana sekalipun tak pernah keluar rumah sendirian. Ia sekolah pun dirumah atau biasa yang disebut homeschooling. Ibunya tak mengijinkan Hana bersekolah normal mengingat hana yang sejak lahir memiliki cacat tubuh pada kakinya. Ibunya pun sering marah-marah karena lelah bekerja. Hana bingung kenapa hidupnya tidak bisa setentram dulu semenjak ayahnya meninggal. Dan ketika ibunya bilang bahwa penyebab keterpurukan mereka berdua adalah orang yang saat ini berniat merebut Luhan darinya, hatinya seolah menghitam dan api kebencian telah berkobar didalamnya terhadap taeyeon adiknya. Melihat taeyeon bahagia dan sepertinya baik-baik saja membuatnya marah. Hidup Taeyeon seperti berbanding terbalik dengan hidupnya yang susah dan menderita. Memang sekarang hana tidak sesusah dulu berkat bantuan ibu Luhan yang mau bekerja sama dengan ibunya, tapi ingatan masa lalu bagaimana terpuruknya kehidupan Hana dan melihat Taeyeon sejahtera membuat hana semakin membenci adiknya itu.

Ia baru mengetahui bahwa yeoja yang berniat merebut Luhan darinya adalah taeyeon. Ibunya hanya menyuruhnya untuk datang kesekolah Luhan dengan membawa sebuah tiket pesawat menuju tempat yang sangat jauh. Ibunya bilang kalau wanita yang mau merebut Luhan itu sangat ia kenal dan Hana semakin penasaran. Rasa penasarannya pun terbayar ketika melihat Taeyeon bersama dengan Luhan, bergandeng tangan layaknya sepasang kekasih. Hana menatap moment-moment menjijikan itu dengan dingin. Ia menatap benci kearah taeyeon. Berani-beraninya dia merebut tunangan orang lain? Apakah dia tidak memiliki harga diri. Ahh iya Hana lupa jika orang tua biologis Taeyeon tidak jelas. Mungkin saja orangtuanya dulu adalah seorang pekerja seks komersial penggoda para lelaki hidung belang, rela dibayar mahal untuk menjual tubuhnya? Hana pikir Taeyeon akan sama seperti itu.

Matanya menangkap Taeyeon dan Luhan berpisah ditengah persimpangan lorong. Hana mengambil kesempatan emas itu untuk mengejar Taeyeon. Memberi yeoja itu pelajaran dan sebuah kejutan manis special untuknya. Mereka berdua sekarang berada satu lorong sepi yang sama. Hana memberhentikan laju kursi rodanya dan menatap Taeyeon dari belakang dengan pandangan benci tentunya. “Taeyeon.” Panggil Hana lembut penuh kebencian namun tetap bisa didengar oleh Taeyeon. Yeoja itu berhenti melangkah dan membalikkan tubuhnya. Matanya membulat ketika melihat sesosok yeoja cantik duduk diatas kursi rodanya. Taeyeon memperhatikan Hana dari atas sampai bawah. Taeyeon masih ingat betul bahwa gadis yang ia sebut eonni itu senang sekali dengan baju berwarna pastel dengan model yang sangat feminim. Wajahnya pun terlihat sangat segar dan cantik seperti dulu, tak pernah berubah. Hampir saja ujungnya bibirnya terangkat keatas, bukan berniat menghindar lagi dengan unnienya itu, tapi sesuatu pasti terjadi antara ibu dan kakaknya karena sangat terlihat jelas apa yang sedang dipegang oleh tangan seorang Lee Hana. Passport dan sebuah amplop.

Taeyeon tak berniat untuk mendekat, sama seperti Hana pun begitu. Mereka seperti berbicara leat tatapan mata hamper 1 menit lamanya membuat Hana jengah. “Setelah mengambil perhatian appa, kau juga ingin mengambil Luhan dariku?” ucap Hana. Taeyeon terkejut dalam hati, tak tampak dari ekspresi wajahnya. Ia harus tenang menghadapi kakak perempuan satu-satunya ini karena Taeyeon yakin diantara Hana dan dirinya memiliki sifat yang keras kepala cukup besar karena mereka berasal dari rahim yang sama, walaupun sebenarnya Hana tidak tau bahwa dirinya dn Taeyeon masih satu darah. Taeyeon juga tidak kaget lagi ketika Han marah karena dirinya dekat dengan Luhan, karena pada saat malam dimana Luhan membawa Taeyeon kerumahnya, Taeyeon sudah mengetahui semuanya siapa itu Lee Hana bagi Luhan yang tidak lain adalah calon tunangan yang juga otomatis calon istri Luhan atas perjodohan kedua orang tua mereka. Taeyeon sadar betul bahwa disisi namja itu, dirinya bukanlah siapa-siapa dan dia tidak berharap yang muluk-muluk atas hubungan mereka berdua. Jikalau memang jodoh Luhan bersama unnienya, dia akan ikut senang atas hubungan mereka walaupun jujur dalam lubuk hatinya ia merasa sakit.

Hana mendorong kursi rodanya mendekat pada Taeyeon hingga jarak 3 meter dari yeoja berseragam sekolah itu. “Jangan dekati Luhan ku.” Ucap Hana mengintimidasi. Taeyeon tersenyum meremehkan unnienya itu. “Ternyata kau tumbuh menjadi gadis baik yang licik ya unnie?” Taeyeon bukanlah seroang yeoja yang mudah dikalahkan sama halnya dengan Hana. Jika dia bisa membalas, Hana pun juga bisa. Hanya ada satu kelemahan yang mampu menjatuhkan Taeyeon sampai sejatuh-jatuhnya. “Dan kau anak haram yang tak tau asal usul orang tuanya ternyata hidup enak selama ini dengan uang warisan appa?” Taeyeon terkejut setengah mati.

‘warisan?’

Muka terkejut Taeyeon kentara sekali dan membuat Hana tersenyum kemenangan. “Kau hanya gadis haram yang hidup enak dari harta orang lain. Sedangkan aku yang jelas-jelas adalah anak appa dan eomma harus menderita karenamu. Pindah ke Korea dengan susah payah, hidup dibawah angka kemiskinan dan tinggal ditempat yang kumuh, terkurung setiap harinya dirumah yang hanya bisa ditinggali oleh 2 orang. Dan aku juga tidak bisa bersekolah normal karena semua orang mencemoohku, menghinaku karena aku cacat sehingga aku dijauhi sampai sekarang terkecuali Luhan…” Hana mulai menangis karena mengingat masa lalunya yang begitu kejam dan miris. Ia tak bohong jika sebenarnya ia tidak memiliki teman. Temannya hanyalah Luhan karena perkenalan ibu Luhan dan ibunya. Ia juga tidak punya teman.

“Dan eomma, ia bekerja dari pagi sampai malam untuk emmenuhi kebutuhan kami berdua. Ia selalu sakit tapi ia memaksakan diri bekerja keras, sampai akhirnya eomma bertemu dan menjalin kerjasama dengan ibu Luhan, semuanya berubah. Aku punya teman dan akan segera bertunangan dengan temanku itu. Tapi seseorang yang bagaikan parasit dalam keluarga bahagiaku malah berniat merebut temanku dan menghancurkan hidupku lagi setelah apa yang ia lakukan selama ini. Lebih menjijikan lagi dia tak tau apa-apa tentang darimana datangnya kemewahan dan hidup enaknya selama ini? Paman hanyalah kedok dari semuanya taeyeon. Appa terlalu mencintaimu sehingga merelakan semua hartanya untukmu. Ia tak memberikan apa-apa kepada aku dan ibuku. Sebenarnya kau ini manusia seperti apa sih?” Taeyeon menangis menatap tak percaya mendengar kisah hidup kakaknya yang begitu miris. Terkejut? Tentu saja. Banyak rahasia yang tak ia ketahui selama ini dimulai dari warisan hingga keadaan unnie dan eommanya. Pamannya pernah mengatakan bahwa unnie dan eommanya telah pindah dan hidup bahagia, namun kenyataannya malah seperti ini. Taeyeon percaya-percaya saja dengan apa yang hana katakan. Karena ia tau Hana tidak akan pernah bisa berbohong. Taeyeon tidak bisa berkata apapun, dirinya terlalu banyak tidak tau akan semua kenyataan. Melihat kediaman Taeyeon, sambil masih mengeluarkan air matanya, Hana mengambil sesuatu dibalik tangannya dan menyerahkannya kepada taeyeon. “Kembalilah ke Amerika jika kau masih menyanyangiku dan memiliki hati.” Ucap Hana pelan. Taeyeon mendengarnya tapi ia tidak merespon. Taeyeon bingung dengan semuanya. Ketika Hana memintanya untuk kembali, ia bisa saja langsung menerimanya, Taeyeon tak mau hidup dalam penderitaan orang lain dan akan membiarkan Hana bahagia jika memang itu yang bisa ia lakukan. Tapi ia teringat pada Luhan. Mereka baru saja ‘reuni’, tapi dirinya harus pergi secepat ini? Taeyeon bimbang. Dia ingin sekali membuat kakaknya bahagia tapi disisi lain ia tidak rela jika harus meninggalkan Luhan lagi. Hana yang dalam hati tak sabar mencoba berdiri dan berjalan karah Taeyeon. Walaupun jalannya sangat lambat dan agak terseok tapi dengan tekad kuat dan sebuah benda ditangannya, ia harus menyelesaikan apa yang harus diselesaikan. Baru saja ia ingin mengulurkan tangannya kepada Taeyeon, keseimbangan tubuhnya berkurang sehingga tubuhnya oleng hingga jatuh kebawah. Tidak terlalu keras jatuhnya karena bantuan Taeyeon yang dengan sigap sadar dari alam pikirannya dan segera membaa lengan Hana agar tidak jatuh terlalu keras. Hana yang sudah lelah akhirnya menyerah dan menangis lagi dihadapan taeyeon. “Tolong Taeyeon pergi dan ambilah ini. Jangan kembali lagi dan jauhi Luhan. Aku lelah dengan semua penderitaanku, tak bisakah kau mengerti sedikit saja tentang unniemu” Taeyeon menatap Hana dengan perasaan campur aduk. Ia kesal karena dengan seenaknya Hana menyuruhnya untuk pergi seperti angin lalu, tapi ia juga merasa bersalah dan khawatir akan apa yang terjadi jika Luhan dan Hana batal bertunangan dan menikah. Tak bisa dipungkiri bahwa Taeyeon sebenarnya menyukai Luhan dari awal pertemuan masa kecil mereka sampai sekarang. Tapi jika ia disuruh memilih diantara laki-laki dan keluarga, ia akan lebih memilih keluarganya, sejahat apapun mereka kepada taeyeon mereka tetaplah keluarganya.

“TOLONG TAEYEON JANGAN SAKITI AKU LAGI!” diakhir kalimatnya Hana berteriak histeris seolah sesuatu sedang terjadi kepadanya. Taeyeon semakin iba dengan kakaknya itu, tapi hatinya masih tak bisa menentukan satu jawaban pasti akan semua yang akan dilakukannya.

“TAEYEON HENTIKAN!”

*****

Luhan baru sampai dikelasnya namun ponselnya sudh bordering dengan kencng sedari tadi membuatnya kesal. Sebenarnya ponsel itu sudah berbunyi semenjak ia bersama taeyeon, tapi ia memilih untuk menghiraukannya saja. “Halo….” ucap Luhan malas. “Begitukah kau menyapa ibumu yang baru pulang dipagi hari yang secerah ini?” Tanya ibu Luhan dengan suara nyaring yang membuat Luhan lebih kesal daripada sebelumnya. “Ibu langsung saja bicaranya, akusedang malas.”

“Eomma dapat pesan dari Nyonya Kim jika Hana sekarang ada disekolahmu. Katanya ia sangat merindukanmu hingga nekat datang kesana, aduh manis sekalii anak itu.” Ucap Nyonya Xi dengan intonasi yang dibuat seimut mungkin. “Apa?” Saking terkejutnya Luhan langsung mematikan sambungan telepon dari ibunya itu dan langsung berlari keluar kelas untuk mencari Hana. Bukan apa-apa, masalahnya Hana bukanlah tipe orang yang mudah bergaul dan sangat risih bila ia menjadi pusat perhatian. Luhan takut saja dengan pandangan teman-temannya kepada Hana karena dirinya tidak sesempurna yeoja seumurannya, ditambah lagi Hana bukanlah siswa sekolah itu, bagaimana tidak menjadi pusat perhatian? Luhan mencari kedepan gedung sekolah, taman dan dan aula namun ia sama sekali tidak menemukan Hana yang membuatnya khawatir. Ia memilih untuk kembali kekelasnya karena jam hamper menunjukkan pukul 07.30, jam masuk sekolahnya. ‘apa dia sudah pulang ya?’ Baru saja ia memikirkan kemungkinan-kemungkinan, namun orang yang ia cari sedang berada dilantai seperti habis terjatuh dan lengannya dipegang oleh seorang yeoja dengan tatapan aneh, benci mungkin?

Ketika Luhan menyadari siapa yeoja yang bersama Hana dan mengingat hubungan mereka kurang baik Luhan tak tinggal diam.“TAEYEON HENTIKAN!” ia berjalan cepat kearah dua orang yeoja itu. Taeyeon yang sadar akan kehadiran Luhan langsung melepaskan lengan hana sehingga membuat yeoja itu jatuh terduduk “aww..” ringis hana ketika pantat mungilnya itu berciuman dengan ubin lantai. Dan saat itulah emosi Luhan terkumpul ketika mendengar suara ringisan teman yang sudah ia anggap sebagai nunanya yang mungkin sebentar lagi akan menjadi tunangannya. Luhan berjongkok membantu Hana berdiri dan menduduki Hana diatas kursi rodanya. Hana menggenggam erat tangan Luhan dan namja itu menyadari bahwa sesuatu terjadi pada Hana dan yang pasti taeyeon yang melakukannya.

“Aku tau hubungan kalian memng tidak baik sejak dulu, tapi Taeyeon jangan menyimpan dendammu.” Ucap Luhan sambil menatap taeyeon datar dan ini pertama kalinya Teyeon mendapatkan pandangan itu dari Luhan.”Dendam yang ada pada dirimu dan niat untuk menyakiti Hana bukanlah hal baik dan aku kecea padamu.” Taeyeon meremas kedua tangannya seperti menahan gejolak dalam dirinya. Nafasnya mulai memburu, pandangannya mulai kabur dengan airmata dan buku-buku jarinya pun sedikit demi sedikit berubah warna yang tadinya merah menjadi putih. Luhan menghela nafasnya perlahan mengalihkan pandangannya kepada Hana. Hana membalasnya dengan tatapan seperti orang minta tolong yang membuat Luhan terenyuh. Ia mengedarkan pandangannya lagi kepada Taeyeon, entah apa arti pandangan itu tapi yang jelas Luhan sadar baha Taeyeon sedang menangis. Melihatnya menangis membuatnya sedikit merasa bersalah, tapi ada sesuatu yang membuatnya tidak suka dengan cara taeyeon yang ingin menyakiti Hana.

“Jika kau hanya ingin menyakiti Hana, lebih baik kau pergi saja.”

‘dan aku sudah menemukan jawabannya’

 

 

 

 

 

TBC

N/A : Hallo kimiceu kambek lagi buat kelanjutan ff yang agak-agak dewasa ini ;p Gimana?? bosenin ya? ;( yahh sadar anget disini lebih banyak narasinya karena mungkin disini lebih mementingkan penjelasan dan imajiner bagi para pembaca wkwkk. Entah kenapa author lagi gadept ide buat romance scenenya, tapi malah dapet yadong scene/? ;p ahh itu seriusan deh author gakuat lagi kalo baca adegan itu. dan author buat adegannya yang masih dalam standart ‘baikbaik saja’ belom ada nc nya *eh Tapi yang jelas author pengen tanya gimana sama tampilan barunya? Maksudnya kemaren ada yang ngasih sarah bikin tulisannya perataan kiri aja. Jadi buat para pembaca lebih prefer ke perataan tengah atau kiri? Supaya di chap selanjutnya bisa bikin kalian nyaman membaca. “kenyamanan pembaca adalah nomer 1 adanya.” xD Oh iya dan gatau gimana jadinya, mungkin chap terakhir ada di 7 atau 8. Tapi coming soon kayaknya end deh sekalian nomer 7 itu spesial banget buat author, dan author pengen menyampaikan sesuatu/? *author alay Oke minta komen dan sarannya jangan lupa ya para readers. DON’T BE SILENT READERS gak hanya disini tapi disetiap kalian baca ff harus selalu komen untuk menghargai para authornya yang telah bekerja keras :p.So enjoy your time and happy reading guyssss. Love~ Kimiceu

Advertisements

164 comments on “Skateboy [ Chapter 6 ]

  1. tisu mana tisu??😭
    sakit banget thor posisi taeyeon…
    luhan jahat banget sih.

    tinggalin luhan aja taeyeon cari yang lain, biar luhan nyesel lagi seumur hidup #alay

    next chapter ya thor….
    semangat nulisnya….

  2. Kesel bgt sma hana, baru juga liat couple lutae mesra udah dibikin berantem aja. Lagian luhan juga ngapain sih malah ngebela hana,huuuhh

  3. Jahat banget ibunya Taeng, belum sadar sadar aja. Itu kan kesalahannya bukan salah Taeng. Hana gitu banget ke Taeng. Itu Luhan gak tau apa apa malah marahin Taeng, bagus Thor next

  4. andwaeeee taeyeon-ah :(((
    waktunya ga teoat bgt, knp luhan dateng pas taeng lagi pegang tangan hana? jd kan seolah2 taeng yg bersalah. aduh luhan kamu salah paham sama taeng. jebal jangan biarin taeng pergi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s