The Couple : Overdose ( Chapter 2)

the couple,overdose

Author : RYN

Length : Multichapter

Rate : T

Cast :

Taeyeon SNSD

Baekhyun EXO

Genre : Fluff, Romance, Schoollife

Disclaimer : Ini adalah fanfic selingan yang kubuat karena terinspirasi dari couple favoritku BAEKYEON. Cast bukan milikku melainkan hanya bagian dari imajinasiku. Seluruh plot murni hasil pemikiranku. Jangan mencoba mencopy paste atau menshare tanpa seizinku.

 

Chapter 2

***

“sejarah kerajaan dinasti Joseon didirikan…”

Taeyeon menghela nafas panjang. Ia kemudian menoleh ke belakang dengan lagak malas, hanya untuk melihat si pemilik suara familiar yang tengah membaca dengan tampang pura-pura serius pada salah satu meja panjang pinggir jendela. Muka Taeyeon lantas cemberut saat mata mereka bertemu, namun senyuman menawan yang diberikan kepadanya—sepersekian detik setelahnya—secepat kilat membuat pipinya bersemu merah dan ia buru-buru memalingkan mukanya, kembali mencari buku yang entah bagaimana hari itu terlalu susah untuk ditemukan.

“apa yang dilakukannya disini?” gerutu Taeyeon. *apa dia pikir aku tidak tahu kalau dia hanya berpura-pura membaca buku sejarah itu?* Taeyeon mencemooh. “Tsk, sepertinya memang tidak ada lagi tempatku menikmati ketenangan selama ada an—”

“buku apa yang kau cari, noona?”

“Hwaaa!” Taeyeon sontak kaget dengan mata membulat lebar mendapati wajah Baekhyun hanya beberapa inci di sebelahnya. Jika sedikit saja ia menolehkan wajahnya ke samping, Taeyeon yakin bibirnya pasti akan menyentuh—uh-oh—Taeyeon langsung menjauhkan tubuhnya dan berbalik menatap tajam Baekhyun yang sudah menarik tubuhnya kembali berdiri tegak.

Bukannya menanggapinya, Baekhyun malah memandang sekelilingnya dimana seluruh penghuni ruangan tengah melihat ke arah mereka berdua dengan pandangan mencela. Khususnya penjaga perpustakaan yang melayangkan kilatan laser—bila memungkinkan—lewat tatapannya. Taeyeon sama sekali belum sadar. Ia terlalu sibuk mengirimkan sinyal amarah kepada Baekhyun yang menurutnya sengaja mengacuhkannya.

“noona, turunkan sedikit suaramu.” Bisik Baekhyun tersenyum, akhirnya melihatnya. “kau pasti tidak ingin ibu penjaga perpustakaan itu mengusir kita dari sini.”

Taeyeon melongo tak percaya. Sungguh? Selama ini anak itu selalu terkesan tak peduli dengan pandangan orang dan sekarang? Taeyeon mendengus sinis. Tampang tak berdosa Baekhyun dan lagaknya yang seolah-olah menganggap posisi mereka sesaat lalu tidak memberikan efek yang berarti baginya membuatnya merasa malu. Mungkin memang tadi ia yang terlalu bereaksi berlebihan. Miris sekali. Mengapa jadi ia yang mengharapkan sesuatu terjadi di antara mereka? Taeyeon menggeleng tak percaya akan tingkah memalukannya.

“wajahmu merah sekali noona. Kau kelihatan baik-baik saja tadi.”

Ails Taeyeon menaut. Kalimat yang seharusnya terdengar baik-baik saja, menjadi terdengar sedikit berbeda. Ketika Taeyeon mengangkat wajahnya dengan segala keheranan yang tergambar jelas, rona merah di wajahnya mendadak kian kentara. Baekhyun menyeringai halus sebelum berganti dengan senyuman penuh arti.

Taeyeon mengumpat dalam hati. Seharusnya ia tahu sejak awal! Seraya menahan malu, Taeyeon mengambil buku secara acak dan bergegas menuju meja. Sedikit tersandung namun berhasil tidak mempermalukan dirinya untuk yang kedua kalinya. Ia berusaha konsentrasi membaca bukunya dan mengabaikan Baekhyun yang kemudian duduk disampingnya, tapi rasanya sulit bila anak itu terus memandanginya.

“kepalaku bisa berlobang kalau kau tidak menghentikannya.” Ujar Taeyeon mengerutkan bibirnya. Ia merasa risih.

Baekhyun hanya terkekeh pelan membuat Taeyeon semakin jengkel.

“Yah!” Taeyeon sontak menutup mulutnya sambil menoleh ke samping kiri dan kanannya. Ia menghela nafas lega ketika tidak ada yang menaruh perhatian pada seruannya. Ia beralih menatap Baekhyun dengan tatapan kesal. Sejenak buku yang dibacanya tadi sudah terabaikan.

“apa kau tidak punya kegiatan lain? Masuk ke kelasmu mungkin?” sindirnya.

“noona, kau tahu ini masih jam istrahat.” Baekhyun menjawab santai. Ia melipat tangannya di atas meja dan menyandarkan kepalanya. “aku lebih suka disini bersamamu.”

Taeyeon berdecak kesal. Meskipun pipinya sempat bersemu karena perkataannya, ia berusaha tidak memperlihatkannya.

“kalau begitu, baca kembali bukumu.”

Baekhyun menyingkirkan buku yang tadi dibacanya jauh-jauh. “aku sudah tidak berminat.”

Taeyeon tersenyum sinis. Ia mengalihkan perhatiannya kembali pada bukunya. “sudah kuduga. Kau memang berniat mengangguku.”

“itu tidak benar!” Baekhyun langsung duduk dengan tegap. “tadinya memang aku ingin membaca, tapi sekarang suasana hatiku sepertinya tidak menginginkannya.”

“alasan.”

“itu benar noona.” Baekhyun merengek. “kau harus percaya padaku.”

Taeyeon berjuang untuk tidak melihat ke arahnya. Di kepalanya sudah terbayang bagaimana tampang puppy eyes Baekhyun dengan nada suara seperti itu. Sekali melihatnya, ia yakin akan luluh kembali.

“aku sedang belajar disini, Baekhyun. Jangan mengganguku.”

Baekhyun mengerucutkan bibirnya. “aku tidak mengganggumu. Sebaliknya, aku menemanimu.”

“tidak perlu. Aku bisa sendirian.” Taeyeon sibuk melihat dari satu buku ke buku yang lain. Mendadak keningnya mengernyit dan ia berhenti kemudian menatap Baekhyun yang masih dengan tampang sok polosnya. “bukankah kau ikut dalam pentas seni?” Baekhyun mengangguk penuh semangat. “lalu, kenapa kau malah ada disini dan bukannya berlatih?”

Senyum Baekhyun memudar. “noona, kau sungguh tidak senang aku berada disini?”

Bukannya tidak senang, tapi keberadaanmu membuatku tidak bisa berkonsentrasi! Taeyeon menggerutu.

“noona, mau pulang bersamaku?”

“huh?” Taeyeon melongo. Setitik merah muda nampak tersamar di kedua pipinya. “t-tidak.” Jawabnya terbata seraya memalingkan mukanya.

Tenanglah, Taeyeon.

“baiklah.” Baekhyun tiba-tiba berdiri. Sesaat Taeyeon mengira anak itu marah padanya. Tapi Baekhyun tersenyum lebar memperlihatkan eye smilenya. “aku akan menemuimu lagi nanti, noona. Bye.”

Apa-apaan itu? Taeyeon terhenyak, namun kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya menatap kepergian Baekhyun hingga sosoknya benar-benar menghilang. Ia mendesah lega sebelum melanjutkan bacaannya.

– – –

Seharusnya ia sudah menduganya, makna kata-kata Baekhyun tadi di perpustakaan dan bagaimana perangainya menjadi sedikit aneh dengan menerima jawaban ‘tidak’ begitu saja sewaktu ia mengajaknya pulang bersama. Biasanya, kalau bukan merengek dengan ekspresi yang mampu membuat gadis manapun luluh, Baekhyun pasti tetap mengikutinya berapa kalipun ia mengusirnya. Namun sesaat setelah menginjakkan kaki di pintu cafe, Baekhyun yang tersenyum sumringah sambil melambaikan tangannya ke arahnya membuat Taeyeon sadar ia tak bisa berbalik lagi.

“kau tidak pernah bilang padaku kalau anak itu ikut juga.” Taeyeon mendelik tajam ke sampingnya. Joyun memberinya cengiran lebar yang kaku.

“aku juga tidak tahu kalau ia akan ikut.” Sahutnya membela diri. Tapi Taeyeon tahu, senyuman lebar sahabatnya itu dan raut wajahnya yang terkesan terlalu senang membuatnya berpikir dua kali untuk mempercayainya.

“kalian sudah merencanakan ini!” geram Taeyeon yang dibalas gelengan cepat dari Joyun.

“tidak!” bantahnya. “aku benar-benar tidak tahu.” Taeyeon memicingkan matanya. Joyun mengangguk mantap, meyakinkan. “Baekhyun hanya bertanya padaku apa yang akan kita lakukan setelah pulang sekolah. Ia mendengar pembicaraan kita tadi. Aku tidak menyangka ia akan mengikutimu sampai di tempat ini.” gumamnya di kalimat terakhir.

Taeyeon mendengarnya. Ia melirik sinis Baekhyun yang masih tersenyum padanya seolah tak berdosa. *aku heran, apa ia tidak bosan tersenyum terus seperti itu? Menyebalkan.*

“Taeyeon.”

Taeyeon menoleh hanya untuk berhadapan dengan tatapan memohon dari sahabatnya.

“aku mau pulang saja.”

“andwae!” Joyun langsung menahan lengannya. Taeyeon melotot tapi gadis di depannya itu menggeleng tegas. “tidak bisa. Kau sudah janji akan menemaniku hari ini. Kau tidak bisa pergi begitu saja, Taeyeon.” sekali lagi mata yang memelas itu bekerja.

“yah!” Taeyeon setengah berseru. Ia tidak ingin ketiga anak laki-laki yang duduk di salah satu sudut ruangan disana mendengar pembicaraan mereka. Untungnya suasana cafe tidak begitu ramai jadi ia tidak perlu khawatir dengan pelanggan lainnya. “aku tidak berencana pergi kencan buta bersama Baekhyun.” Tolaknya.

Joyun cemberut. “tetap saja. Kau sudah berjanji padaku. Ada ataupun tidak adanya Baekhyun.” Tegasnya dengan bibir mengerut. Bahu Taeyeon seketika menurun bersamaan dengan desahan nafasnya. Merasa menang, Joyun pun melanjutkan dengan semangat. “lagipula, kau ‘kan tidak perlu pergi bersama Baekhyun kalau memang tidak ingin. Disana masih ada dua anak laki-laki lain…” matanya sontak melirik dua obyek yang menjadi pembicaraan mereka. “kau bisa pilih salah satu dari mereka. Bagaimana?”

Terdengar bagus baginya. Taeyeon mau tidak mau akhirnya mengangguk kecil.

“bagus!” Joyun bersorak girang. “kajja. Mereka sudah menunggu kita dari tadi.” Tanpa aba-aba, ia lalu menyeret lengan Taeyeon menuju meja ketiga anak laki-laki itu.

Tiba di depan mereka Joyun tanpa ragu langsung menyapa, tak lupa memberi isyarat pada Taeyeon yang masih terlalu kaku untuk melakukan hal yang sama sepertinya. Tidak seperti Joyun yang telah terbiasa, Taeyeon baru pertama kalinya ikut kencan buta. Jika bukan Joyun yang terus merengek padanya di sekolah, mengomelinya kembali di ponsel dan menasehatinya tiap berkunjung, ia bersumpah tidak akan pernah mau.

“apa yang kau lakukan disini?” begitu duduk, Taeyeon langsung bertanya pada Baekhyun. Ia tak peduli jika seluruh perhatian di meja kini mengarah padanya dan anak itu. Khususnya dua anak laki-laki yang memandangnya penuh tanya.

“Taeyeon.” Joyun meliriknya. Dari sirat pandangannya, Taeyeon tahu kalau gadis itu sedang mengingatkannya agar menjaga sikap. Tapi untuk saat ini, ia tak berniat peduli.

Baekhyun dengan senyuman khasnya, mengerjapkan matanya sedikit terkejut dengan tatapan tajam yang diterimanya, tapi kemudian terkekeh sambil memperlihatkan eye smilenya.

“aku juga sama sepertimu, noona.”

“aku tid—”

“ah, senang melihatmu disini, Baekhyun. Hahaha.”

Taeyeon mendengus kesal sembari melipat tangan. Ia sangat tidak senang dengan cara Joyun yang sengaja ingin mengalihkan pembicaraan. Tadinya ia ingin mengatakan pada anak itu bahwa ia kemari karena terpaksa tapi Joyun dengan puppy eyesnya membuatnya mengalah.

Kemudian, Joyun menghadap ketiga anak laki-laki itu dan mulai memperkenalkan diri.

“perkenalkan, namaku Han Joyun.”

“Kim Taeyeon.” Taeyeon menanggapinya dengan acuh, itupun jika bukan Joyun yang mengirimkan sinyal ancaman lewat tatapannya.

“namaku Jo Shiwan. Usiaku 18 tahun. Aku bersekolah di Haksang. Tingkat 2.”

Disaat Joyun manggut-manggut antusias dengan jawabannya, Taeyeon sibuk memperhatikan dan menilai. Anak laki-laki yang baru saja memperkenalkan dirinya mengecat rambutnya dengan warna merah. Ia lumayan tampan, gayanya juga keren. Tipe-tipe ‘bad boy’ kesukaan Joyun. Tidak heran sahabatnya itu terus memandanginya. Dilihat dari posturnya saat ia berdiri menyambut mereka tadi, tingginya kira-kira 180 cm.

“aku Yoon Hose.” Anak laki-laki di samping Shiwan, memperkenalkan dirinya. Ia tampak malu-malu seraya menggusap punggungnya tengkuknya. “18 tahun. Aku tingkat 2 di sekolah Art Seoul.”

Taeyeon menepis pandangannya. Hose memiliki rambut blonde. Tingginya hampir sama seperti Shiwan, mungkin sedikit lebih tinggi. Ia memakai kacamata, tapi kalau diperhatikan, ia sepertinya bukan tipe kutu buku karena beberapa tindikan di telinganya. Taeyeon bukannya menilai sembarangan, hanya saja, Hose tidak memiliki aura kutu buku. Sama seperti Shiwan yang memiliki beberapa anting kecil perak di telinganya, Hose pun memilikinya. Hanya tidak banyak, sekitar satu atau dua. Di antara penilaiannya terhadap anak itu, yang membuat Taeyeon tertarik adalah sekolahnya. Art, kesukaannya. Anak bernama Hose itu kelihatannya anak yang baik.

Dan perkenalan terakhir…

“annyeong, Byun Baekhyun imnida. Aku 17 tahun tingkat 1 di sekolah yang sama dengan Joyun noona dan Taeyeon noona.” Baekhyun memperkenalkan dirinya dengan riang sambil melambaikan tangannya.

Taeyeon merotasikan bola matanya.

“kalian sudah saling kenal?” Shiwan melongo tak percaya. Baekhyun bersemangat mengangguk. “woah daebak!” serunya. “yah Baekhyun, kau beruntung sekali bisa satu sekolah dengan noona-noona cantik ini.”

Taeyeon diam-diam tersenyum, Shiwan ini kelihatannya memang selalu bisa menyenangkan hati para gadis. Entah itu dengan senyumannya atau dengan kalimat-kalimat gombalannya. Lihat saja Joyun sampai terpesona begitu, memandangnya dengan mata berbinar-binar seperti ingin memakannya saja.

Baekhyun tertawa kecil tapi mengangguk atas komentar Shiwan.

“kami beruntung bisa mengenal kalian, noona.” Ujar Hose pada Taeyeon. Saat gadis itu tersenyum padanya, ia langsung memalingkan mukanya menutupi pipinya yang bersemu merah. Mendadak gugup.

“ah, kalian terlalu memuji.” Joyun menangkup pipinya sambil tersenyum malu. “tapi terima kasih atas pujiannya.” Untuk suatu alasan yang tak ia ketahui, ia tidak bisa menatap mata Shiwan.

Taeyeon hampir saja tertawa. Sahabatnya menjadi begitu berbeda saat berhadapan dengan anak-anak ini. *yah Han Joyun. Kau sedang tidak mencoba menggoda mereka dengan keahlianmu ‘kan?*

Namun ketika Taeyeon memandang ke depannya, entah kenapa, atau mungkin ia saja yang salah lihat, senyum Baekhyun terkesan dipaksakan. Anak itu tidak lagi seceria tadi.

*tunggu dulu. Apa ia baru saja melihat Baekhyun cemberut?* Sebelum ia memperhatikannya lebih jauh dan mengira-ngira apa yang mungkin terjadi padanya, Hose memanggil namanya dan ia menoleh.

“kudengar noona mahir melukis. Apa itu benar?”

“darimana kau mendengarnya?” Taeyeon lalu menoleh ke sampingnya, langsung saja ia tahu jawaban dari pertanyaannya. Mungkin karena tadi ia terlalu sibuk memikirkan Baekhyun yang tiba-tiba jadi pendiam sehingga tidak mendengar pembicaraan Joyun dan kedua anak laki-laki di depan mereka. “aku tidak mahir, hanya sangat suka.” Jawabnya lalu tersenyum.

“ah.” Hose akhirnya mengerti.

“tapi noona pernah memenangkan perlombaan di ajang Nasional. Menurutku itu sangat hebat.” Shiwan menimpali.

“kalian tidak tahu saja, Taeyeon ini sudah sering memenangkan perlombaan.”

Taeyeon mengerjap kaget, sontak melirik Joyun yang sudah nyengir. “jangan berlebihan memberitahu mereka. Kau tahu aku tidak sehebat itu.”

“noona, jangan merendah begitu. Kami tahu noona sangat hebat.” Hose tersenyum. “gadis di kelas kami juga ikut perlombaan itu tapi sayangnya ia tidak memenangkan hadiahnya.”

Shiwan mengangguk setuju. “temanku juga ikut tapi hanya mendapat tempat ketiga.”

“pujian kalian membuatku tertekan.” Taeyeon cemberut. Kedua anak laki-laki itu hanya tertawa.

Joyun melirik Baekhyun. Terkadang, ia menyayangkan Taeyeon yang tidak peduli pada perasaan anak itu. Baekhyun tak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari Taeyeon. Joyun bisa melihat luka yang terpancar dari matanya kala Taeyeon mengabaikannya. Tadinya Joyun mengira membantu Taeyeon agar bisa lebih menikmati hidupnya dengan memperkenalkannya pada seseorang karena sepertinya hubungannya dengan Baekhyun jauh dari kata mungkin. Tapi setelah melihatnya sendiri sekarang, ia entah mengapa menjadi menyesal telah membawa Taeyeon.

“apa noona sudah punya pacar?” wajah Hose tampak memerah membuatnya kelihatan lebih manis. Pertanyaannya langsung mendapat tanggapan ‘aww’ dari Joyun dan Shiwan.

Taeyeon tidak segera menjawab. Ia terlalu terkejut karena tak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu. Pipinya bersemu merah. Baekhyun yang duduk di pinggir dan berhadapan dengannya pun juga kelihatan ikut terkejut.

“kenapa? Apa Hose mulai menyukai Taeyeon noona?”

Wajah Hose pun semakin memerah.

“Joyun!” Taeyeon mencubit perut Joyun dan gadis itu meringis.

“manis sekali.” Joyun tersenyum lebar tapi tatapannya dingin. “Taeyeon-ah, kau seharusnya menjawab pertanyaannya.”

Namun sebelum Taeyeon membalasnya, Baekhyun tiba-tiba berdiri dari kursinya membuat semuanya heran. Caranya menatap sangat dingin. Taeyeon dengan gugup menundukkan wajahnya, untuk alasan yang tak ia ketahui, ia tak sanggup membalas tatapannya.

“cukup sudah basa basinya.” Rahang Baekhyun mengeras. Kemungkinan menahan amarahnya yang sebentar lagi akan meluap jika ia tidak segera pergi dari tempat itu. “berdiri.” Ujarnya berusaha tetap pelan. Tapi semua disitu tahu kalau nada suaranya terdengar menahan geram.

Taeyeon sontak mengangkat kepalanya. “B-Baekhyun…” ia tak mengerti apa yang sedang dipikirkan anak itu sekarang.

“aku bilang berdiri.”

Joyun menggigit bibirnya melihat Taeyeon dan Baekhyun bergantian. Baekhyun yang sangat marah terlihat jelas dari caranya menatap dan tangannya yang mengepal erat. Ia jujur mengkhawatirkan mereka. Mungkin memang benar, kencan buta dengan membawa Taeyeon turut bersama adalah ide yang buruk. Khususnya bila Baekhyun juga berada di tempat yang sama. Sebelum semua bereaksi terhadap tindakannya, Baekhyun menarik paksa tangan Taeyeon agar ikut bersamanya meninggalkan proses kencan buta itu.

Hose dan Shiwan tampak kebingungan. Mereka belum mengerti sepenuhnya mengenai apa yang baru saja terjadi di depan mata mereka. Apa yang sebenarnya terjadi di antara Baekhyun dan Taeyeon. Saat mereka serentak menoleh ke arah Joyun berharap mendapatkan jawaban, gadis itu hanya mengangkat bahunya dan menghela nafas. Hose memandangi pintu dengan perasaan kecewa. Ia dalam hati mengakui telah menyukai Taeyeon sejak pertama melihatnya masuk dari pintu, tapi cara Baekhyun memperlakukan Taeyeon beberapa detik lalu mengindikasikan bahwa mereka memang memiliki hubungan khusus. Memikirkan itu saja membuatnya terluka. Dan semakin ia memikirkannya, ia semakin tidak puas. Ia ingin mengetahui sendiri jawabannya dari gadis itu.

“jangan dikejar.”

Hose berhenti sebelum melangkah. Ia berbalik, Joyun memberinya senyum simpatik.

“itu tidak ada gunanya.”

– – –

“yah Baekhyun!” Baekhyun tidak bergeming. Dalam pikirannya saat ini adalah membawa gadis itu pergi jauh. “lepaskan tanganku bodoh! Yah!”

Baekhyun berhenti tiba-tiba, genggaman pun terlepas. Ia berbalik dan menatap tajam Taeyeon.

Sungguh? Apa mereka harus bertengkar di tengah jalan begini? Mereka bahkan bukan sepasang kekasih! Taeyeon balas menatap dengan sengit.

Tidak masalah! Taeyeon memberenggut kesal. Baekhyun yang memulai lebih dulu!

“apa kau tidak melihatnya? Aku sedang cemburu!”

Taeyeon terlonjak kaget. Ini pertama kalinya Baekhyun berteriak padanya. Wajah dan telinganya memerah, kelihatannya memang sangat marah. Walaupun saat ini kedua pipinya merona merah tanpa bisa dikendalikan karena pengakuan itu, Taeyeon berusaha tak merubah ekspresinya. Kebiasaan Baekhyun yang sering mengatakan apa yang dirasakannya secara terus terang masih mampu menggoyahkan debaran di dalam dadanya.

“bukan berarti kau harus menyeretku seperti barang! Kau sudah mempermalukanku dihadapan mereka!”

“itu karena kau sudah keterlaluan!”

*M-Mwo?! Aku keterlaluan?*

Taeyeon memalingkan muka, kepalan tangannya mengerat. Pergelangan tangannya memang masih terasa perih tapi tidak sebanding dengan perasaannya yang terluka karena perlakuan Baekhyun.

Melihat kediaman Taeyeon, pandangan Baekhyun berubah teduh. Ia lalu mendekat, hati-hati meraih tangan Taeyeon. Walaupun gadis itu sukses menepisnya, ia pada akhirnya mengalah setelah mencoba kedua kalinya. Mungkin ia sadar Baekhyun yang keras kepala sulit untuk ditantang.

“maafkan aku, noona.” Ucap Baekhyun halus. “aku tidak bermaksud menyakitimu.” Ia mengulas senyum maaf.

Jujur saja, Taeyeon tidak bisa lama-lama marah padanya. Ia sendiripun tak tahu alasannya. Cara Baekhyun menatapnya selalu berhasil membuatnya luluh saat itu juga. Belum lagi perhatiannya yang begitu berlebihan untuk seorang junior. Dan Taeyeon tidak sadar air mata mulai membasahi pipinya. Taeyeon tak bisa menjelaskan, mengapa ia kemudian menangis. Mengapa hatinya begitu rapuh dan ia menjadi begitu lemah. Apakah semua itu karena Baekhyun? Ia bingung. Dan dilihat dari reaksi Baekhyun yang panik serta ekspresi wajahnya yang seketika berubah muram, Taeyeon meyakini bahwa anak itu merasa sangat bersalah karena telah membuatnya menangis.

“kumohon, jangan menangis.” Baekhyun menghapus air matanya, “aku sungguh minta maaf atas sikapku, noona. Aku tidak akan mengulanginya lagi.” Dan ia terus meminta maaf seolah-olah seluruh yang terjadi adalah kesalahannya.

Baekhyun sungguh tidak tahan melihat gadis yang disukainya menangis. Rasanya seperti tercabik-cabik dari dalam. Ia ingin memeluknya dan menenangkannya dengan kata-kata yang lembut, tapi ia takut hal itu nanti akan menambah kebencian dan amarah gadisnya apalagi setelah yang ia lakukan tadi. Ia menyesal dan berjanji dalam hati tidak akan menyakitinya lagi seperti tadi.

“belum pacaran saja sikapmu sudah seperti ini.” gumam Taeyeon dengan suara pelan. Kalimat itu spontan keluar begitu saja. Sadar apa yang dikatakannya, ia menggigit bibir bawahnya dan berpaling karena malu, pura-pura menghapus sisa-sisa air matanya.

Baekhyun masih bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Laki-laki itu menyeringai dan menatapnya dengan cara yang membuatnya berdebar-debar.

“percayalah, gadis yang menjadi pacarku nanti tidak akan kuizinkan laki-laki manapun meliriknya.”

“cih,” Taeyeon mencemoohnya sambil menatapnya tajam, “aku tidak yakin ada gadis yang mau bersama laki-laki posesif.”

“mau bertaruh?” Baekhyun menantang. Alisnya digerakkan naik turun seakan menggodanya.

Taeyeon mengerutkan mukanya. “aku membencimu.”

Baekhyun hanya tertawa. Setelah dirasanya Taeyeon mulai sedikit tenang, ia kemudian menuntunnya agar mengikutinya.

“kita mau kemana?”

Baekhyun tersenyum. “melanjutkan kencan buta kita.”

Taeyeon tersipu tapi mencoba menutupinya. “jangan kira aku sudah memaafkanmu.”

Dengan kalimat itu, wajah muram Baekhyun kembali. Taeyeon jadi tidak tega.

“kau sungguh tidak ingin memaafkanku, noona?”

Aish! Mengapa ia harus begitu cute saat menanyakannya?! Taeyeon frustasi. Tampang polos plus puppy eyes, bagaimana bisa ia tidak memaafkannya?!

“baik! Aku memaafkanmu!” Taeyeon mengerucutkan bibirnya. Saat melihat wajah Baekhyun kembali cerah setelah mendengarnya, ia mau tidak mau akhirnya tersenyum juga.

Namun beberapa detik setelahnya, senyuman Taeyeon terhapus. Dalam hati memberenggut.

“kau..” Ia menoleh dengan ragu-ragu, “..yakin bisa mengendarai benda ini?”

Baekhyun terkekeh pelan. “noona, benda ini namanya sepeda motor.”

“aku tahu itu!” tukasnya. Baekhyun lalu memberikan sebuah helm padanya.

“kau harus memakainya, noona. Untuk keselamatan.” Kata Baekhyun menjelaskan begitu melihat raut bingung Taeyeon. “kita harus mematuhi peraturan lalu lintas.”

“tunggu sebentar.” Taeyeon teringat sesuatu. “kau memiliki SIM ‘kan?” wajahnya penuh harap. Detik berikutnya, ia berubah panik. “maksudku, kau bisa mengendarai sepeda motor ini ‘kan? Kau mahir melakukannya ‘kan? Yah siapa tahu saja kita nanti…aku bukannya…” Ia tak jadi melanjutkan kalimatnya karena dilihatnya Baekhyun tersenyum lebar padanya. Tapi kali ini seperti sedang menggodanya.

“apa kau takut noona?” Taeyeon membungkam dengan pipi bersemu. “jangan khawatir noona, aku tidak akan menjatuhkanmu. Itupun kecuali kau berpegang erat-erat.”

Taeyeon tidak gagal menangkap seringaian Baekhyun sebelum laki-laki itu memakai helmnya.

“yah.yah.yah. Apa maksudnya itu?”

Baekhyun tak menjawab dan hanya menyuruhnya bergegas. Taeyeon menyerah dan mengikuti intruksinya. Tapi setelah semua beres, menurutnya, Baekhyun tidak juga menginjak gasnya. Mereka masih tidak bergerak di tempat.

“bukankah kita akan pergi?” tanya Taeyeon heran.

Baekhyun melirik dari bahunya, “kau belum berpegang, noona.”

“huh?”

“mana kedua tanganmu?” Taeyeon dengan polos mengangkatnya. “taruh tanganmu di pinggangku.”

“kau suka sekali menggunakan banmal padaku.” Taeyeon menggerutu. Tapi akhirnya mengikuti petunjuknya. “seperti ini?” Ia menyandarkan telapak tangannya di pinggang Baekhyun seakan memegang tubuh laki-laki itu.

Helaan nafas yang terdengar setelahnya membuatnya sadar kalau ia sudah salah melakukannya.

“kau harus memelukku, noona.”

“mwo?!”

Baekhyun tiba-tiba menarik kedua tangannya dan membawanya melingkar di pinggangnya. Sebelum ia sempat mengomelinya, Baekhyun sudah menginjak gas dan motornya pun melaju dengan kecepatan tinggi.

“Hyaaaa…!!” Taeyeon menjerit, sontak memeluk Baekhyun erat seolah hidupnya ikut berpegang padanya. Ia bersumpah dalam hati akan mengomeli Baekhyun setelah mereka sampai nanti.

Baekhyun tidak bisa menyembunyikan senyum lebarnya. Ia merasa sangat senang. Berulang kali ia melirik ke bawah dimana tangan Taeyeon masih melingkar kuat. Sebenarnya, jauh dalam hatinya merasa kasihan karena telah membuat gadis itu ketakutan setengah mati, tapi di sisi lain ia merasa perlu egois. Bisa berdekatan seperti ini bahkan sampai Taeyeon menyentuhnya—tidak ingin berbohong—ia sangat menikmatinya. Lebih dari apapun, saat ini adalah saat terindah dalam hidupnya. Itu pula sebabnya mengapa ia sengaja mengambil rute yang berliku tanpa diketahui Taeyeon yang memang masih kurang paham jalan-jalan besar di kota. Sederhana saja, ia ingin lebih lama bersamanya.

– – –

“Yah! Apa kau sudah gila?!”

Begitu Baekhyun menghentikan motornya, Taeyeon segera turun dan langsung mengomelinya.

Tapi karena orang yang berhadapan dengannya adalah Baekhyun, tanggapan yang diterimanya malah membuatnya semakin emosi.

“noona, kalau kau tidak memelukku, kau bisa jatuh.” Baekhyun memberitahunya dengan tenang seolah yang ia lakukan bukanlah masalah yang besar.

“tetap saja! Kau harusnya memberiku aba-aba!” *jantungku hampir copot!* Taeyeon menghindari tatapannya. Untuk suatu alasan yang tak ia ketahui, adegan di atas motor tadi sulit untuk ditepis dari kepalanya. Tangannya secara tak sadar, perlahan menyentuh dada dan samar-samar titik merah muda menyebar di kedua pipinya.

Baekhyun tentu menyadarinya. Bibir laki-laki itu tertarik ke atas, menyeringai penuh kemenangan. Tak ingin kian memerah, Taeyeon berdehem seraya buru-buru memperbaiki sikapnya dengan mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Keningnya mendadak mengerut tanpa ia sadari. Dilihat dari sudut manapun, semuanya tampak berbeda. Tempat mereka berpijak dan suasana sekitarnya terasa asing. Sepertinya mereka telah berada jauh dari tempat tinggal mereka.

“kita ada dimana?” Taeyeon beralih pada Baekhyun yang kini mengusap punggung lehernya dengan senyuman malu. Kadangkala, Taeyeon menilai gerakannya itu sangat cute. Berbeda dengan Baekhyun yang biasanya suka seenaknya dan sangat menyebalkan. “kau tidak merencanakan sesuatu yang aneh-aneh ‘kan?” ia menatap laki-laki itu curiga.

Baekhyun yang tadinya tersenyum dalam sekejab berubah masam. “noona, kau sama sekali tidak mempercayaiku.”

Taeyeon merotasikan bola mata. “setelah apa yang kau lakukan tadi, tentu saja tidak.” Namun begitu melihat ekspresi Baekhyun yang cemberut, ia akhirnya tertawa.

Baekhyun ikut tertawa, akhirnya paham bahwa Taeyeon hanya bercanda.

“lagipula, kita mau kemana? Untuk apa kau membawaku ke—”

“kajja.”

Taeyeon sedikit tersentak saat Baekhyun tiba-tiba menarik tangannya. Mereka memasuki salah satu toko pakaian yang cukup besar.

10 menit setelahnya…

“Yah kenapa aku harus memakai baju ini?!” Taeyeon dengan emosi mengangkat baju yang dipilih Baekhyun.

“kita tidak mungkin jalan-jalan memakai seragam sekolah.”

“aku tahu tapi kenapa harus baju pasangan?!” baju kaos ditangannya berwarna putih dengan gambar Micky Mouse yang tercetak pada bagian belakang. Sementara yang dipegang Baekhyun berwarna hitam dengan gambar yang sama. Ini memang baju pasangan.

Baekhyun memperlihatkan eyesmilenya. “karena aku yang memilihnya.” Nada suaranya berubah serius.

Lagi-lagi dengan nada yang tidak bisa dibantah. Dalam hati Taeyeon menggerutu dan menatap Baekhyun seolah tak percaya. Ia heran mengapa anak itu selalu mengetes kesabarannya. Atau mungkinkah ia sendiri yang tidak baik-baik saja? Mengapa akhir-akhir ini ia sulit mengendalikan emosinya? Perasaan itu datang lagi. Perasaan tidak nyaman yang sulit ia jelaskan. Kalau dipikir-pikir bulan ini—

“aigoo, pasangan yang cute.”

Baekhyun dan Taeyeon serentak menoleh. Seorang wanita memakai seragam pegawai toko, berdiri di hadapan mereka sambil tersenyum manis. Wanita itu kemudian melirik baju di tangan mereka. Senyumnya melebar.

“pilihan yang bagus. Baju itu sangat cocok untuk kalian. Kalau kalian mau, kami masih punya banyak desain lainnya.”

Taeyeon melongo. Oh tidak. Tanda peringatan berbunyi dalam kepalanya. Wanita itu pasti mengira mereka benar-benar pasangan.

“maaf, kami bu—” Taeyeon tidak sempat melanjutkan kalimatnya karena Baekhyun sudah mendorongnya ke kamar ganti.

“cepatlah noona. Nanti kita terlambat.”

“tapi…”

“atau kau ingin aku ikut masuk ke dalam?” Baekhyun memandangnya sambil tersenyum. Senyuman yang penuh kesan mengancam.

Taeyeon terkesiap. Wajahnya menghangat. Seringaian Baekhyun membuatnya tidak berpikir dua kali dan buru-buru masuk ke dalam.

Dasar byuntae!!!

Setelah berganti pakaian, Taeyeon memasukkan seragamnya ke dalam ransel. Ia menggelung rambutnya ke atas sekenanya sebelum merapikan poninya. Beberapa helai rambutnya yang tak terikat dibiarkan begitu saja. Ketika ia keluar, Baekhyun telah berganti pakaian dan sedang menunggunya di samping kamar gantinya.

Taeyeon memicingkan mata begitu sampai di hadapannya. “kau…tidak mengintip ‘kan?”

Diluar dugaannya, Baekhyun hanya diam menatapnya. Taeyeon mengernyit. Ia lalu melambaikan tangannya di depan wajah Baekhyun membuat laki-laki itu tersentak. Baekhyun mengulas senyum tipis tanpa mengalihkan pandangannya. Taeyeon menjadi salah tingkah. Mata Baekhyun yang tak berkedip membuatnya salah paham. Mendadak ia menjadi tidak percaya diri dengan penampilannya. Sebelum ia memeriksa dirinya sendiri, ucapan Baekhyun sontak menghentikannya.

“kau sangat cantik, noona.”

Kedua pipi Taeyeon seketika merona merah. Kali ini ia tidak mampu menutupi dirinya kalau ia tersipu malu atas pujiannya. Dan saat itu, ia juga menyadari kalau Baekhyun dengan baju itu terlihat sangat tampan.

“kau juga.”

Baekhyun mengerjapkan mata sebelum terkekeh. “aku tidak cantik, noona.”

“kau benar-benar suka menghancurkan suasana.” Taeyeon mendelik kesal.

Baekhyun hanya tertawa. Taeyeon cemberut sambil melipat tangannya.

Usai membayar di kasir, dimana sebelumnya mereka sempat berdebat tentang siapa yang akan membayar baju itu dan berakhir dengan kemenangan Baekhyun, mereka berdua pun keluar dari toko. Kekesalan Taeyeon masih belum berkurang. Ia beberapa kali mengirimkan kilatan laser lewat tatapan matanya tapi Baekhyun sama sekali tak bergeming, malah tersenyum dengan lagak biasa. Alhasil Taeyeon hanya bisa memberenggut dalam diam.

“sebenarnya kita mau kemana?” Taeyeon mulai bosan. Dari tadi Baekhyun hanya mengajaknya naik motor tanpa menjelaskan kemana sebenarnya mereka akan pergi.

“kita akan ke festival musim semi.”

“benarkah?!” Taeyeon seketika berbinar-binar, tampak antusias. “apa sudah dimulai?” Baekhyun mengangguk dengan senyuman. “berarti akan ada kembang api?!”

Baekhyun lagi-lagi mengangguk. Tidak pernah terbayangkan ia akan sesenang ini melihat tingkah Taeyeon yang kekanak-kanakan. Ia menilainya sangat manis dan salah satu alasan mengapa ia semakin menyukainya. Baekhyun lalu melirik jam tangannya dan mengira-ngira.

“kita masih punya banyak waktu sebelum kembang apinya dimulai.”

Taeyeon yang sudah terlanjur senang, hanya mengangguk patuh. Ia sangat menyukai kembang api. “apa yang akan kita lakukan sekarang?” Kali ini bersemangat.

“kita berkencan.” Baekhyun mengedipkan sebelah matanya dan sukses membuat Taeyeon tersipu.

– – –

Hari ini langit biru musim semi nampak lebih indah dari biasanya. Ribuan bunga Sakura mulai bermekaran menampakkan keindahannya. Kelopak bunga yang ringan berjatuhan mengikuti kemana arah hembusan angin segar membawanya, kemudian jatuh berserakan di tanah dengan cara yang menarik dipandang. Ketika Baekhyun memasuki gerbang tempat perayaan, pengunjung mulai berjubel. Mendadak jalanan besar tidak lagi tampak seperti ukurannya. Stand-stand telah tersebar di beberapa sudut. Aroma aneka makanan tercium bahkan pada jarak yang cukup mengesankan. Beberapa pengunjung terdiri dari keluarga kecil, sebagiannya lagi hanya sekumpulan orang yang meluangkan waktu bersama teman-teman mereka. Tapi pengunjung terbanyak—tidak lagi mengejutkan—di isi oleh pasangan kekasih yang hampir mendominasi seluruh stand. Setiap wajah mereka menunjukkan kebahagiaan menyambut festival musim semi.

Baekhyun tak sengaja memperhatikan salah satu pasangan yang sedang berjalan bersama. Mungkin memperhatikan orang akan di anggap tidak sopan, tapi ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak melihat. Si pria menggenggam tangan si wanita dengan pandangan lembut yang membuat si wanita tersipu malu. Baekhyun tak ingin berbohong kalau ia merasa iri terhadap mereka. Ia, bila di beri kesempatan, meski hanya sebentar, ingin melakukan seperti yang mereka lakukan.

Maka ia melakukannya.

Taeyeon terkejut, sontak menoleh dengan ekspresi penuh tanda tanya yang tidak berhasil menutupi rona merah di wajahnya. Baekhyun tersenyum dengan tatapan menenangkan sebelum berbicara dengan suara yang rendah.

“hanya hari ini saja, noona.” Baekhyun menggenggam tangannya erat tanpa menyakitinya, “sudah seharusnya pasangan yang berkencan melakukan hal-hal kecil seperti ini.” Ia bisa merasakan bagaimana gadis itu berjuang untuk lepas darinya. Memang tidak ada gerakan berlebihan tapi Baekhyun menyadari ketidaknyamanannya.

“tapi kita ‘kan bukan pasangan. Lepaskan Baekhyun, nanti ada yang melihat kita.”

Meski terluka dengan ucapannya, senyum Baekhyun tetap secerah biasanya.

“siapa?” laki-laki itu menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu melanjutkan, “tidak ada siapa-siapa. Jangan khawatir noona, tidak akan ada yang mengenali kita jika itu yang kau takutkan.”

Entah bagaimana, usai mendengar kalimat itu Taeyeon merasa tidak enak apalagi setelah menangkap ekspresi Baekhyun yang berubah walaupun secepat kilat laki-laki itu berhasil menyamarkannya. Taeyeon berpikir, apakah ia terlalu keras pada anak itu?

“baiklah. Hanya kali ini saja.” Akhirnya Taeyeon mengalah. Jauh di dalam hatinya, Taeyeon mengakui ia mulai merasa sedikit nyaman. Ia hanya belum ingin mengakuinya secara terang-terangan di depan Baekhyun. Tangan yang tidak begitu besar, tidak pula begitu kecil, terasa sangat pas dengan tangannya. Kehangatan tangan Baekhyun secara perlahan dan tak terkendali mengalir ke dalam tubuhnya. Jantung yang tadinya berdebar-debar kini makin menggila di dalam sana. Taeyeon merasa khawatir. Ia takut tak bisa mengendalikan dirinya sendiri untuk tidak semakin jauh mengalami perasaan aneh terhadap keberadaan Baekhyun di sisinya.

Ponselnya tiba-tiba berbunyi. Sebuah panggilan dari Joyun. Taeyeon hampir melupakannya. Sahabatnya itu sekarang pasti mencemaskannya. Tapi setelah mengangkat telponnya, ternyata ia salah besar.

Taeyeon menarik tangannya dari Baekhyun untuk mengambil ponsel dari tas belakangnya. Baekhyun sedikit kecewa tapi tak bisa melakukan apapun dengan itu.

“kau sulit sekali di hubungi.” suara Joyun yang mengomel langsung terdengar begitu ia menggeser layar hijau pada panggilannya.

“maaf. Aku tidak mendengarnya.”

Joyun mendengus pelan. “kau dimana sekarang? Apa kau bersama Baekhyun?”

Taeyeon melirik sekilas ke arah Baekhyun. Laki-laki itu tidak mengatakan apa-apa selain memperhatikannya. “mm…ya…?”

“jinjja?! Daebak!!” Taeyeon melongo, tak percaya dengan pendengarannya. Joyun terus bersorak, kedengaran senang sekali. “Woah, tadinya aku sempat khawatir setelah melihat reaksi Baekhyun tadi. Tapi ternyata kekhawatiranku tidak terjadi. Tentu saja, Baekhyun pasti tidak mungkin berbuat sesuatu yang tidak-tidak terhadapmu. Hehehe. Aku senang mendengarmu bersamanya sekarang. Apa kalian bersenang-senang?”

“Yah!”

Baekhyun tersentak. Merasa malu, Taeyeon segera menjauh sambil menahan geram. Ia sungguh tak percaya, sahabatnya masih memihak Baekhyun bahkan setelah melihatnya di seret anak itu dan juga setuju bila ia bersamanya.

“bagaimana kau bisa mengatakan hal seperti itu?” Taeyeon mendesis. “apa aku terdengar baik-baik saja bagimu? Anak itu memaksaku berkencan dengannya.”

“ah, jadi kalian sekarang pasangan?”

“Joyun.” Taeyeon menekan bibirnya rapat-rapat. “aku tidak sedang ingin bercanda.”

“Taeyeon-ah, bagiku kau tidak terdengar seperti orang yang dipaksa kencan. Tidak mendengar panggilan telponku selama beberapa kali menandakan kau sungguh menikmati waktumu bersamanya. Sekarang katakan dengan jujur padaku, apa kau bersenang-senang? Apa Baekhyun memperlakukanmu dengan baik disitu?”

Taeyeon terhenyak. Mulutnya masih membungkam bahkan setelah puluhan detik Joyun mengajukan pertanyaan padanya.

“kau tidak bisa menjawabnya ‘kan? Itu berarti semua yang kukatakan mungkin benar.” Joyun tersenyum di seberang telpon. “jangan membohongi perasaanmu, Taeyeon. Aku bisa merasakan bahwa kau nyaman bersama anak itu.”

Taeyeon pura-pura mencelanya. “tahu darimana? Seingatku kau sama sekali bukan cenayang.”

“tsk. Terhitung sampai jam begini kau masih bersamanya, penilaianku tentu tidak salah.” Joyun dengan bangga memberitahunya.

Taeyeon menggigit bibir bawahnya menahan malu. Rona merah terpancar dari wajahnya. Ia tidak bisa berkutik lagi.

“a-aku harus pergi sekarang.” Klik! Tanpa mendengar jawaban Joyun, Taeyeon segera mematikan ponselnya.

Taeyeon masih berdiam di tempatnya. Suara Joyun terngiang-ngiang di telinganya. Sahabatnya sudah tahu terlalu banyak tentang perasaannya bahkan sebelum ia mengakuinya dan untuk suatu alasan yang ia sendiripun tak tahu, ia merasakan kekhawatiran. Bukan pada siapa-siapa tapi dirinya sendiri. Ia tak ingin terjebak di antara sebatas rasa nyaman karena sering bersama dan perasaan cinta yang sesungguhnya. Ia ingin memastikan perasaannya sendiri.

“sudah selesai?”

Taeyeon terlonjak dari lamunan. Ia menoleh dan mendapati Baekhyun tengah berdiri di sampingnya, menatapnya dengan senyuman khasnya yang menawan. Taeyeon mengangguk sambil tersenyum kecil. Namun ia kembali terkejut ketika Baekhyun meraih kembali tangannya.

“tadi noona melepasnya karena ingin menjawab telpon. Sekarang, tidak apa-apa ‘kan kalau aku memegangnya lagi?”

Taeyeon kehilangan kata-kata. Entah karena kepolosan atau memang sifatnya yang sudah seperti itu, Baekhyun selalu mengejutkannya setiap kali ia mengeluarkan kata. Meski demikian ia mengangguk pelan setelah sebelumnya menghela nafas panjang.

“yang tadi itu siapa? Joyun noona?”

“kurasa ia mencemaskanku karena pergi tiba-tiba seperti itu.” Bila mengingat pembicaraan mereka di telpon tadi, kekesalan Taeyeon kembali tersulut. Ugh, andai saja ia bisa mengatakan sebenarnya pada Baekhyun apa yang mereka perbincangkan.

“sayang sekali, aku tidak ingin meminta maaf karena telah melakukannya. Aku merasa senang membawamu kabur. Setidaknya kau tidak perlu berlama-lama dengan kedua anak ingusan tadi.”

Taeyeon mendelik sinis. “sudah kuduga kau akan mengatakannya. Dan, anak ingusan? Woah, siapa yang kau panggil anak ingusan, huh?”

Baekhyun memberinya cengiran lebar. “aku berbeda dengan mereka, noona.”

“tentu saja berbeda. Mereka lebih sopan. Tidak seperti seseorang yang tiba-tiba menarik orang pergi tanpa pamit.” Taeyeon melihatnya dengan pandangan mencela.

Senyum Baekhyun seketika terhapus. Ekspresinya berubah datar.

“kenapa? Kau ingin marah padaku?”

“tidak.” Bahkan suaranya pun sangat datar. Taeyeon menjadi gugup. Dalam hati cemas, mungkin ia telah membuat kesalahan. Tapi…Baekhyun melirik ponselnya dan cemberut.

Oh tuhan, harus berapa kali ia katakan, Baekhyun yang cemberut selalu terlihat sangat manis! Taeyeon melonjak girang bak pengagum dalam hati. Tapi tidak, Taeyeon tidak akan mengatakan itu padanya. Itu akan tampak seperti mempermalukan dirinya sendiri.

“noona, bagaimana bisa kau menjawab telpon dari Joyun noona sementara aku yang selalu menelponmu saja, kau tidak pernah mau mengangkatnya.”

Taeyeon tidak sadar telah mengerjapkan mata berulang kali. Baekhyun sudah kembali dengan gaya bicaranya yang santai seolah-olah pembicaraan mereka tadi tidak pernah terjadi.

Aku cemas tanpa alasan! Taeyeon merutuk dalam hati. Padahal tadi ia berpikir sudah melukai perasaan Baekhyun tapi lihatlah anak itu sekarang, cemberut hanya karena ia tidak pernah menjawab telponnya. Bila di pikir-pikir lagi, ia memang tidak pernah menjawab telpon darinya. Bahkan pesan yang di terimanya dari anak itu hanya sekali dua kali ia membalasnya dari puluhan pesan yang dikirim kepadanya. Taeyeon mengakui diri, ia memang sudah sangat keterlaluan.

“itu berbeda. Joyun sahabatku dan kau…kau siapa?” Taeyeon menjulurkan lidah, mengejeknya.

“aku?” Ekspresi Baekhyun berubah lain. Seringaian halus di wajahnya kian kentara. Sebelum Taeyeon sempat menduganya, matanya membulat sempurna. Tubuh rampingnya dalam sekelebat tertarik ke depan, merapat dengan sentakan halus. Dadanya bergemuruh dan ia menahan nafas tanpa sadar ketika Baekhyun menundukkan wajah. Sebelah tangannya yang bebas melingkar erat di pinggangnya membuat seluruh syarafnya kaku.

Oh tuhan.

Taeyeon bisa merasakan nafas hangat Baekhyun menyapu wajahnya. Seluruh tubuhnya bergetar dengan kegugupan mendadak melanda. Tak sanggup menahannya lagi, Taeyeon memejamkan matanya rapat-rapat. Ia takut apa yang akan terjadi nanti.

“aku?” ulang Baekhyun di telinganya. Suaranya begitu halus seakan menggodanya. “kandidat terbaik untuk menjadi pacarmu, noona.”

Taeyeon tercengang dengan wajah merah padam. Baekhyun sudah melepaskannya beberapa detik yang lalu tapi ia masih sulit menggerakkan tubuhnya.

Apa yang Baekhyun telah lakukan padanya? Mengapa ia menjadi seperti ini? Kendalikan dirimu, Taeyeon!

Kelopak mata Taeyeon mengerjap berulang-ulang sebelum akhirnya kedua tangannya terangkat menangkup wajahnya.

Oh..My..Goshhhh.

Baekhyun terkekeh. “kau semakin lama semakin manis, noona. Aku jadi ingin memakanmu.” Ia berpura-pura membuat ekspresi mengigit.

“Yah Byuntae!!”

Tawa Baekhyun akhirnya pecah. Meskipun Taeyeon melotot tajam padanya, ia masih tertawa. Menyenangkan rasanya menggoda gadis itu.

Taeyeon menggerutu. Mengapa, setiap ia berusaha mempertahankan wibawanya, di hadapan Baekhyun selalu luntur begitu saja.

“dan kau semakin hari semakin menyebalkan.” Gumam Taeyeon.

Baekhyun mendengarnya. “kau tidak akan bisa menemukan laki-laki sepertiku dimanapun, noona. Akulah kandidat terbaik yang pernah ada.”

Taeyeon mendengus kasar. “teruslah bermimpi.” Ia berbalik dan melangkah pergi. Namun sepandai-pandainya ia menutupi, pasti akan ketahuan juga. Baekhyun sekilas melihat rona merah itu dan ia tak bisa menahan senyum bahagianya.

“noona, tunggu aku!”

To be continued…

 Yang ingin bertanya mengenai fanfic2ku atau sekedar mengobrol, silahkan masuk kesini.

© RYN

Advertisements

86 comments on “The Couple : Overdose ( Chapter 2)

  1. Daebak thor…
    Mreka sweet bnget thor !!! ^^
    Tae udh mulai suka jga kan sam Baek ?! 😀
    Next chapnya dtnggu thor ! 😉

  2. wah.. makin lama makin manis><

    di tunggu next nya~ sama semua ff eonnie di esff. ditunggu nde?
    Fighting!!!

  3. akhirnya tae eonnie mulai ada rsa sma baek oppa
    next chap jngan lma” thor
    sma yg beautiful creature cpt d lnjut y

  4. Ciyeee taeng, udah tanda tanda suka sama bang baek nih. Iihh sweet banget sih thor sampe ngiri, kekeke~. Ditunggu kelanjutanya thor. Update soon ^^

  5. so sweet pake BANGEEETTTT.. td cowok yg diliat baekhyu siapa? seokjin?? biarin taeng liat juga biar taeyeon sadar..siapa yg harus dipilih…

  6. so sweet pake BANGEEETTTT.. td cowok yg diliat baekhyu siapa? seokjin?? biarin taeng liat juga biar taeyeon sadar..siapa yg harus dipilih…

  7. kak ryn pertama aku mau frotes!! kenapa yang ff beautiful creature chap 5 nya gaada haah?!!!!! tell me tell meee-!!!! btw ni ff keyeeennzz kalii oya eon aku kirim email minta pw jangan lupa dibales !! #kaburbarengsehun

  8. Author ryn , ini chap selanjutnya mana yaa? Ditunggu sangatt. Fighting! Tolong dibls yaa author 🙂 😉

  9. Manisnyaa baekyeonn >.<
    hehe seok jin (klo ga slah) ga mncul yo ? Hehe.. Baek klo marah seremm. Aciecie taeng udh ada perasaan nih cikiciw(?)
    dtnggu nextnya ya eon!
    FIGHTAENG!!

  10. silahkan disini dmana thor? ditulisan ryn? knp g bisa diklik? hehe. semakin lama cwerita cinta ttg mereka semakin sweet, dan cuet mskipun taeyeon eonnie belum sadar sama perasaannya sendiri. next chapter ditunggu author. fighting

  11. Yeye taeng udah mulai klepek klepek eaak benih padii yeaay semangat baek jangan sampai putus asa hihihi penasaran egen sma kelanjutannya fighting eonni

  12. Hahaha
    aku ketawa ketiwi sendiri unn waktu baca ff ini.
    Baekhyun yang pantang menyerah dan taeyeon yang polos.
    Ya ampuuunnnn bener2 cocok buat rate T.
    Tapi kok tumben unnie bikin ff rate T? Biasnaya ratenya M atau pg 17 terus..

  13. Uwaaaa di part ini, gabisa berhenti senyum2 sendiri…. Duhhhhh bang baekki gentle gileee :v kapan pula nemu cowok macem begituan :v ? #eh
    SEMOGA DI CHAPTER SELANJUTNYA BANYAK ADEGAN ROMANTISNYA~ DITUNGGU CHAPTER SELANJUTNYA EONNI~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s