The Couple : Overdose ( chapter 1)

the couple,overdose

Author : RYN

Length : Multichapter

Rate : T

Cast :

Taeyeon SNSD

Baekhyun EXO

Genre : Fluff, Romance, Schoollife

Disclaimer : Ini adalah fanfic selingan yang kubuat karena terinspirasi dari couple favoritku BAEKYEON. Cast bukan milikku melainkan hanya bagian dari imajinasiku. Seluruh plot murni hasil pemikiranku. Jangan mencoba mencopy paste atau menshare tanpa izin!

 

Chapter 1

 

***

“noona, aku menyukaimu.”

Taeyeon menghela nafas panjang. Entah sudah berapa kali ia melakukannya pagi ini. Suara riang itu telah menghantui kepalanya sejak kemarin—ah tidak, mungkin sejak beberapa minggu belakangan terus mendengar kalimat yang sama. Awalnya Taeyeon tak begitu peduli, malah mengacuhkannya dan menganggapnya sebagai gurauan, tapi setelah kalimat itu terdengar semakin intens dan mendalam di tambah dengan wajah serius pemiliknya, mau tidak mau hal itu mengusik pikirannya. Untuk beberapa alasan, ia selalu gagal menyingkirkan bayang-bayang wajah polos yang bersemangat itu dalam kepalanya.

Taeyeon menghela nafas dalam-dalam seraya merapikan buku-bukunya. Bel pertanda istrahat telah di bunyikan beberapa menit yang lalu, tapi karena suatu alasan, hari ini ia enggan menyeret kakinya keluar dari kelas.

“lagi?!”

Suara terkejut yang terkesan terlalu antusias disampingnya hanya ditanggapi anggukan muram oleh Taeyeon yang duduk kembali ke kursinya. Mengabaikan sahabatnya yang pasti selalu ingin tahu keseluruhan ceritanya namun cenderung tidak berpihak padanya setelahnya, Taeyeon mengedarkan pandangannya keluar jendela dengan pandangan bosan. Awal musim semi bunga-bunga di halaman sekolah tampak mulai bermekaran. Langit cerah yang dihiasi kumpulan awan putih yang berarak dengan kemilau mentari menambah kesan pagi indah yang membangkitkan semangat. Namun bertolak belakang dengan suasana hatinya, untuk pertama kalinya Taeyeon tak menyetujui fakta itu.

Sahabatnya, Joyun asyik berceloteh panjang lebar sambil sesekali melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang bahkan tak satupun tertangkap oleh pendengaran Taeyeon. Ia terlalu sibuk dengan benaknya sampai akhirnya sentakan keras di ujung bajunya di iringi suara nyaring Joyun memanggil namanya berhasil membuatnya kembali ke dunia nyata.

“apa?” Taeyeon menoleh acuh tak acuh.

Joyun merotasikan bola matanya atas sikapnya. “aku bilang, ini sudah kedua kalinya sejak seminggu yang lalu anak itu menyatakan perasaannya padamu.”

Taeyeon mengerang tak setuju. “jangan mengingatkanku. Ini sudah KELIMA kalinya.” Tandasnya.

“ahh…sejak anak itu pindah ke sekolah kita.” Joyun manggut-manggut, baru sadar kekeliruannya. Mendadak raut wajahnya berubah cerah. “WOAH! Tak kusangka dia punya nyali juga.” serunya dengan sorot mata kagum tapi segera memperbaiki sikapnya ketika mendapat tatapan tajam langsung dari Taeyeon.

Wajah Taeyeon berubah cemberut. “kita bahkan belum saling kenal waktu itu tapi ia sudah berani mengatakan hal semacam itu di depan umum.” Gerutunya di bawah nafasnya seraya mengingat kembali kejadian memalukan yang untuk pertama kalinya terjadi dalam hidupnya.

“kupikir itu pengakuan cinta yang manis.”

“tsk.” Taeyeon gantian merotasikan bola matanya sebelum menolehkan kembali kepalanya, menikmati lambaian angin yang menyapu lembut wajahnya sembari memandangi hamparan langit biru diluar sana yang setidaknya lebih menarik dibandingkan menghadapi kegilaan sahabatnya, yang anehnya masih memuji-muji keberanian anak yang menyatakan perasaannya kepadanya. Taeyeon lumayan kesal pada pikiran Joyun yang menurutnya sama sekali tak membantunya. Seorang junior baru-pindahan-entah-darimana-ia-tak-peduli dari sebulan yang lalu terus membuatnya dalam masalah. Bukan secara fisik memang, tapi secara psikis. Setidaknya begitulah yang dapat ia simpulkan menurut pandangannya sendiri. Entah itu kata ‘sunbae, kau cantik sekali’ atau kata ‘sunbae, aku menyukaimu’ atau sejenisnya yang masih bisa ia ingat dengan jelas, sudah lima kali ia mendengar kalimat serupa darinya selama sebulan ini dan hal itu membuatnya jenuh dan merasa tidak nyaman. Bukan pula karena ingin mendengar kalimat yang lainnya selain dari kalimat tersebut, tapi ia hanya tak menyukainya. Terakhir kali, anak itu memanggilnya dengan sebutan noona. Astaga, sejak kapan ia mengizinkannya memanggilnya noona? Walaupun ia telah beberapa kali menegurnya, junior baru itu seakan tak peduli dan terus mengganggunya.

Jujur saja, Taeyeon bukannya tidak menyukainya seratus persen, juga tak memungkiri setiap kata-kata itu terucap darinya membuat wajahnya merona merah, tapi yang menjadi pokok pemikirannya adalah ia merasa si junior itu mempermainkannya dengan sengaja menggodanya, ia juga berpikir anak itu tidak menghormatinya sebagai senior dan ketua siswa. Dan sebagai sahabatnya, Joyun malah lebih mendukung anak itu ketimbang dirinya.

“jadi apa jawabanmu?”

Taeyeon menoleh hanya untuk memberikan tatapan tajam namun itu tak mempengaruhi Joyun yang ingin tahu.

“oh ayolah, anak itu sudah jelas menyukaimu. Menurutmu apa yang junior kita itu inginkan dengan pernyataan seperti itu jika bukan ingin memintamu jadi pacarnya?” ujar Joyun dengan wajah yang dibuat seserius mungkin.

Taeyeon menatapnya tak percaya. Dalam hati ia mulai bertanya-tanya jangan-jangan Joyun punya hutang budi di masa lalu dengan anak itu makanya sekarang ia mau membalas budi dengan menyodorkannya kepadanya.

Ugh! Khayalan yang bagus Taeyeon.

Tapi kemudian Joyun berbicara lagi yang membuatnya membungkam.

“ini sudah 3 bulan Taeyeon, seharusnya kau sudah move on.”

“aku tidak percaya kau mengatakan ini lagi padaku.” Taeyeon menggeleng pelan, sedikit merasa kecewa. Mereka memang telah berjanji untuk tidak mengungkit masa lalunya lagi, tapi sekarang, Joyun kembali mengingatkannya. Atau yang sebenarnya, ia sendiri belum bisa melupakannya.

“kenapa tidak? Apa kau tidak ingin menjalin hubungan lagi?”

Taeyeon mengepal erat kedua tangannya. “aku menginginkannya tapi tidak sekarang, tidak dengan anak itu.” desisnya.

Joyun mengerjapkan matanya, cukup kaget dengan sikapnya. “kenapa? Baekhyun adalah laki-laki yang tepat. Dia junior kita yang paling baik, perhatian, manis, cute juga tampan, dan yang terpenting SANGAT menyukaimu.”

“apa kau sedang mempromosikannya sekarang?” Taeyeon memicingkan mata ke arahnya.

“apakah berhasil?”

Taeyeon mendengus kasar. “hentikan itu. Aku tidak tertarik.”

Senyuman lebar membentuk di bibir Joyun. “apa kau sungguh tidak menyukainya?”

“tidak.” sekali lagi Taeyeon memberinya jawaban tegas. “dan jangan bertanya alasannya!” Ia menambahkan segera dengan nada peringatan.

“kau sama sekali tidak menyenangkan.” Joyun mengerutkan bibirnya sambil melipat tangannya, tapi Taeyeon sudah tidak tertarik mendengar keluhannya.

Semua kata-kata Joyun tentang Baekhyun memang benar. Byun Baekhyun, begitulah mereka mengenalnya. Junior yang begitu memasuki area sekolah, langsung populer di kalangan siswa yang sebagian besar siswa perempuan selain karena ketampanannya juga kebaikan hatinya yang selalu ramah. Tak lupa, ia juga anak yang menyenangkan. Begitulah yang didengarnya. Junior mereka yang baru saja pindah sekitar sebulan yang lalu itu ‘terpaksa’ menjadi topik pembicaraan antara dirinya dan Joyun sejak insiden itu. Dan berbicara tentangnya seringkali membuat suasana hatinya menurun.

Ingatan tentang bagaimana pertemuannya dengan Baekhyun masih jelas meskipun disetiap kesempatan ia mencoba menepisnya. Helaan nafas terdengar dari mulut Taeyeon. Ketika mengetahui ada junior baru yang pindah ke sekolah mereka dan telah menyebabkan kehebohan dikarenakan hampir setiap sudut ruangan kerumunan para gadis selalu melontarkan pujian dan membicarakan topik yang menyangkut tentang junior baru tersebut, Taeyeon tak begitu menanggapinya. Taeyeon memilih tidak peduli meskipun Joyun datang padanya dan menceritakan hal-hal baik tentang junior itu. Bila mengingat lagi, Taeyeon ingin bergidik oleh sesuatu yang menurutnya sangat membuang-buang waktu. Bahkan belum lewat dua hari sejak kedatangannya tapi Joyun bertingkah seolah sudah mengetahui semuanya tentang anak itu. Terus, dimana letak perbedaan gadis-gadis itu dengan penguntit? Taeyeon mencemoohnya. Tapi lagi-lagi gadis berambut blonde yang berstatus sahabatnya selalu bisa berkelit setiap kali ia mengeluarkan kalimat sindirannya.

Hari itu, kepala sekolah memanggilnya ke ruangan dan disitulah pertama kalinya ia bertemu langsung dengan anak yang bernama Byun Baekhyun. Entah apa hubungan Baekhyun dan kepala sekolah sehingga beliau memintanya secara khusus untuk menunjukkan beberapa ruangan serta mengantar Baekhyun melihat-lihat keadaan sekolah agar ia lebih familiar dengan sekolah barunya. Awal perkenalan mereka—berkat kepala sekolah—Taeyeon sudah menunjukkan ketidaksukaannya. Junior itu, Baekhyun, selalu memandanginya dengan cara yang membuatnya tak nyaman. Sejak ia memasuki ruangan kepala sekolah dan berkenalan dengannya, anak itu tak pernah sedikitpun mengalihkan perhatiannya sehingga membuatnya tampak canggung dihadapan kepala sekolah. Ia beberapa kali memberikan isyarat agar Baekhyun menghentikan apa yang dilakukannya tapi anak itu selalu tak peduli.

“hentikan itu.” desisnya sambil menahan geram.

“apa?”

Baekhyun yang memasang wajah polos saat itu membuatnya jengkel. Bila tidak mengingat dimana tempat mereka dan rasa hormatnya terhadap kepala sekolah yang duduk di depan mereka, ia mungkin saja langsung meneriaki anak itu. Demi mempertahankan imagenya yang selalu baik di mata kepala sekolah, ia memaksakan dirinya tersenyum meski terlihat sedikit aneh lalu berpaling ke arah Baekhyun dan memberinya tatapan tajam.

“berhentilah memandangiku.”

Ia semakin kesal karena Baekhyun malah tersenyum cerah dan ia harus menahan diri untuk menghapus paksa senyuman itu di wajahnya. Tapi komentar yang disampaikan secara terus terang oleh Baekhyun kemudian membuat matanya mengerjap saking terkejut.

“Taeyeon sunbae sungguh sangat cantik.”

Ia tak pernah menyangka Baekhyun akan seberani itu di depan kepala sekolah. Yang lebih mengejutkannya lagi, Baekhyun memanggil kepala sekolah dengan sebutan paman. Meskipun hubungan mereka sedekat itu, apa anak itu tidak punya sedikitpun rasa malu menanyakan pendapat pamannya mengenai dirinya, hah?! Melihat senyum yang tidak pernah terhapus dari wajah Baekhyun, ia menduga Baekhyun pasti sengaja ingin mempermalukannya. Tapi untuk apa?

Waktu itu, setelah apa yang dilakukan Baekhyun, satu-satunya hal yang ingin dilakukannya adalah menghilang segera ke tempat yang paling jauh. Tidak tergambarkan lagi bagaimana perasaannya saat ia mengetahui tidak ada jalan lain selain berdiri kaku di depan kepala sekolah sekaligus menerima dengan lapang dada situasi canggung yang dihadapinya. Bahkan karenanya juga, ia harus bersusah payah mengalihkan wajahnya yang terasa hangat untuk menutupi pipinya yang pastinya merona merah karena ucapannya. Ia sungguh merasa malu dan kesal. Walaupun ia sempat menangkap senyum geli dari kepala sekolah, belum tentu semuanya akan baik-baik saja. Ia terlalu khawatir dengan apa yang nanti dipikirkan kepala sekolah terhadapnya. Ia tidak ingin imagenya terkontaminasi hanya karena ulah anak itu.

Aish, apa dia tidak punya tempat lain untuk mengatakannya? Ia buru-buru menepis pikiran itu dalam kepalanya begitu sadar kalimatnya akan terdengar salah dalam pandangan negatif orang yang mungkin mendengarnya.

Sejak pertama melihat Baekhyun, Taeyeon sudah yakin bahwa anak itu memang akan menimbulkan masalah bagi dirinya. Kelakuannya yang suka seenaknya sendiri tanpa memperhatikan situasi orang lain membuat penilaiannya terhadap anak itu tidak pernah baik. Para siswi yang mengaguminya pastilah buta. Abaikan hubungan anak itu dengan kepala sekolah, ia sama sekali tak peduli. Dan kesialannya tidak sampai disitu, seperti yang telah disetujuinya dari awal, ia harus membawa Baekhyun ikut bersamanya dimana kemudian anak itu mulai mengusiknya sepanjang jalan.

Itu hanya segelintir dari gangguan-gangguan kecil yang ditimbulkan Baekhyun hari itu namun keesokan hari dan seterusnya, anak itu selalu menemukan cara untuk mengusiknya dengan pernyataan-pernyataan spontan dan segala keterusterangannya, serta sikapnya yang tidak peduli pada sekitarnya acapkali terulang, yang akhirnya selalu berakhir dengan beberapa pasang sorotan tajam dan tatapan iri dari para siswi yang menjadi pengagumnya. Ia sungguh tak mengerti, ia yang sama sekali tidak tertarik dengan hal-hal yang berhubungan dengan Baekhyun malah mendapat perlakuan kasar—entah itu kesengajaan atau tidak—di hampir setiap hari, namun Baekhyun yang menjadi otak dari penyebab seluruh kekacauan yang diterimanya malah tenang-tenang saja bahkan tampak tak peduli seolah para ‘fan’ yang berada di sekitarnya tidak kasat mata.

“untuk sementara ini, aku hanya akan fokus pada ujian akhir.” Ujar Taeyeon kemudian.

“tsk, ujian akhir masih lama.” Joyun melambaikan tangan dengan acuh tanpa melihatnya. Ia sibuk memperbaiki rambutnya dengan bantuan cermin kecil yang selalu di bawanya kemana-mana.

Taeyeon mendorong lengannya, nyaris menjatuhkan benda itu. Saat Joyun berlagak marah, Taeyeon hanya tersenyum lebar seraya meminta maaf.

“asal kau tahu saja, kita juga harus mempersiapkan diri untuk ujian masuk perguruan tinggi.”

Joyun mengangkat bahunya. “aku sudah menyiapkannya.” Ucapnya tersenyum.

“woah.” Taeyeon berseru kagum. “sejak kapan? Kau tidak pernah memberitahuku.”

“sudah kuputuskan, aku akan masuk ke sekolah desain.” Joyun menjawab dengan mantap. “aku ingin memiliki butik sendiri.”

“itu bagus. Aku terkesan dengan semangatmu.” Joyun meliriknya dengan kening berkerut, Taeyeon hanya terkekeh tapi melanjutkan. “maksudku, kau selalu mengikuti kemanapun anak-anak keren itu pergi meski ke toilet sekalipun. Aku jadi khawatir akan masa depanmu.”

Seiring dengan berakhirnya penjelasannya, sepasang mata Joyun langsung melotot tajam. Taeyeon terbahak-bahak dan berhenti sejenak saat mendapat pukulan di lengannya, tapi itu tak sepenuhnya menghentikan tawanya.

“Yah! Itu bahkan tidak lucu.”

“itu lucu.” Taeyeon berpura-pura serius dan menunjuk wajahnya sendiri. “aku tertawa.”

“kau membully-ku.” Joyun mengerutkan bibirnya. Wajahnya cemberut. “aku heran, mengapa kau gampang membully orang tapi kau sendiri tidak bisa menghentikan Baekhyun membully-mu.”

Tawa Taeyeon terhenti, raut mukanya berubah datar. Gadis itu kemudian menghela nafas dalam-dalam. “kau benar.” ucapnya lirih. Mendadak suasana hatinya berubah. Tapi tidak seperti yang dirasakannya pada awal pertemuannya dengan Baekhyun, akhir-akhir ini terasa sedikit berbeda setiap menyinggung anak itu. Mungkin terkadang ia masih merasa terganggu dan sedikit jengkel tapi kadangkala pula sebaliknya. Taeyeon merasa bingung. Ada satu sisi yang menyuruhnya untuk tetap membenci anak itu, tapi di sisi yang lain, ia tidak merasa membencinya.

“Taeyeon.”

“hm?” Taeyeon menoleh, keningnya mengernyit melihat raut cemas sahabatnya.

Joyun sedikit ragu-ragu. “kau yakin, tidak menyukai anak itu?”

Taeyeon nampak terkejut tapi tak mengatakan apa-apa.

“setelah kedekatan kalian—”

“kami tidak sedekat itu.” Taeyeon buru-buru memotongnya. “kami tidak sedekat itu.” ulangnya lagi, kali ini setengah berbisik.

Hiruk pikuk siswa mendadak menarik perhatiannya. Dari atas sini, Taeyeon bisa dengan mudah melihat apa yang telah menyebabkan kehebohan terjadi di bawah sana. Begitu penglihatannya bergeser sekilas, jantungnya hampir meloncat. Nafasnya seperti dihela paksa. Anak itu disana. Byun Baekhyun. Laki-laki yang menurut Joyun tepat untuknya. Jarak mereka yang cukup jauh tak menghalangi pandangan Taeyeon untuk mengenali siapa pemilik rambut coklat keemasan berpakaian olahraga itu.

Entah sejak kapan dan bagaimana, Taeyeon menyadari di hampir setiap kesempatan, ia selalu bisa menemukan Baekhyun meski di dalam kerumunan orang banyak sekalipun. Mungkin karena anak itu sudah terlalu familiar untuknya, atau mungkinkah matanya memang sudah secara otomatis akan menangkap sosok Baekhyun dimanapun ia berada? Dan anehnya, setiap melihat Baekhyun, degupan jantungnya selalu melebihi kapasitas normal. Meski tak ingin mengakui, Taeyeon tahu pasti kalau sedikit demi sedikit kehadiran Baekhyun disekitarnya selama ini mulai menggugah perasaannya.

Seperti yang pernah Joyun bilang, Baekhyun adalah junior yang tampan, baik, perhatian dan menyenangkan. Seiring mengenal anak itu, Taeyeon mulai sedikit merubah pandangannya, terkecuali jika Baekhyun kembali pada sikapnya yang tidak peduli dan begitu terus terang menyatakan perasaannya sehingga membuatnya kesal sampai tak bisa berkata-kata. Tapi bila suasana diantara mereka sedang baik—atau yang lebih senang ia katakan ‘Baekhyun sedang dalam keadaan normal’—kadangkala Taeyeon mendapati dirinya sendiri tersenyum atau tertawa bilamana Baekhyun mulai mengeluarkan sisi humorisnya walaupun pada umumnya itu tidak berlangsung lama.

Taeyeon mengernyitkan keningnya, mengamati keramaian di bawah sana dengan sebersit rasa ingin tahu. Sebelum ia sempat menolak, Joyun telah menariknya berdiri dan merapat ke salah satu sisi jendela. Dengan pasrah ia menurut. Mau bagaimana lagi, pergerakan Joyun memang lebih lincah darinya. Lagipula, ia bukannya tidak ingin melihat, hanya saja ia tak menginginkan Baekhyun menyadari keberadaannya. Sudah cukup anak itu menempel padanya hampir setiap hari, untuk kali ini saja, ia ingin lepas dari jangkauannya meskipun ia tahu itu tidak mungkin.

Lapangan yang terletak di samping gedung, kini tampak ramai oleh jejeran siswa siswi berseragam berdiri di pinggir lapangan. Rupanya murid tingkat 1 berseragam olahraga akan mengadakan pertandingan sepak bola. Sorak-sorai penonton yang kebanyakan berasal dari para siswi, nyaris membuat kuping pecah.

“Baekhyun lumayan populer, ya?” Joyun berkomentar.

Yah, anak itu memang terbilang populer. Taeyeon menyetujuinya dalam hati. Lihat saja bagaimana para pengagumnya mengelu-elukan namanya walaupun pertandingan belum dimulai. Para siswa dalam kelasnya pun berbondong-bondong memenuhi sisi jendela tanpa menyisakan satupun tempat. Mereka berdesakan sudah pasti hanya ingin melihat seperti apa jalannya pertandingan dimana ada Baekhyun di dalamnya. Selain siswa tingkat 1 dan tingkat 2, tidak ada yang tidak menyukai Baekhyun termasuk siswa tingkat 3, salah satunya adalah kelasnya. Taeyeon bahkan memergoki beberapa siswa yang bukan dari kelasnya ikut berdiri disampingnya dan mulai berseru lantang menyatakan dukungan mereka.

Taeyeon tidak mengatakan apa-apa, ia berdiri dan hanya memperhatikan. Ketika matanya secara tidak sengaja bertemu dengan mata Baekhyun, Taeyeon mendadak tersentak oleh perasaan aneh yang tiba-tiba menghinggapinya. Rasa hangat yang entah muncul darimana, mengalir secara perlahan, menjalar dalam tubuhnya tanpa bisa ia kendalikan. Taeyeon tak begitu jelas mengingat berapa lama mereka saling berpandangan seperti itu, bahkan saat Baekhyun tersenyum lebar dengan wajah cerah sambil melambaikan tangan ke arahnya, yang detik berikutnya disalah artikan oleh mereka yang berdiri di sekitarnya, alhasil suara riuh langsung memenuhi ruangan kelas, Taeyeon memutuskan untuk berhenti dan memalingkan mukanya.

“aku tidak ingin melihat lagi.”

Joyun menoleh dan mendapati sahabatnya melangkah pergi. “kau mau kemana?” tanyanya setengah berseru.

“perpustakaan.” Tanpa menoleh, Taeyeon meninggalkan ruang kelasnya.

Joyun menggeleng-gelengkan kepalanya, tak mengerti dengan jalan pikiran sahabatnya. Ketika Joyun berpaling kembali, ia menyadari raut wajah Baekhyun tampak murung dan matanya masih memandang ke arah tempat Taeyeon berdiri sebelumnya. Joyun memberikan senyum simpatik, Baekhyun memang tidak pernah berniat menutupi perasaannya terhadap Taeyeon. Semua tertuang jelas dalam sikap dan caranya menatap Taeyeon yang tidak pernah ia lihat pada gadis lain. Yang Joyun sesali, Taeyeon terlalu keras kepala untuk melihat dan mengakui semua itu.

 

***

“tsk.tsk.tsk. Lihat dia, hanya karena seorang gadis ia jadi mengabaikan kita disini.”

“aku tahu, dilihat dari sisi manapun, kau terlihat sangat jelas, Baekhyun. Tapi itu bukan berarti kau harus menampakkannya secara berlebihan seperti itu.”

Sebaris senyum masih tidak hilang dari wajah Baekhyun. Ia tidak menaruh perhatian pada komentar teman-temannya. Mungkin karena ia terlalu sibuk memandangi gadis pujaannya yang baru saja masuk melewati pintu hingga pikirannya mendadak menjadi kosong.

Hari ini gadis itu terlihat lebih cantik, atau haruskah ia mengatakan kalau Taeyeon terlihat semakin cantik setiap harinya? Seragam yang sama dengan anak perempuan di sekolah tapi entah bagaimana di matanya nampak berbeda. Seolah seragam itu memang di ciptakan khusus untuk pujaan hatinya. Begitu sempurna di tubuhnya. Setiap gerak gerik gadis itu tak lepas dari pandangannya. Kehadirannya seakan mengambil seluruh persediaan oksigennya dan ia tanpa sadar menahan nafas melihat rambut hitam panjangnya bergerak halus mengikuti gerak tubuhnya. Taeyeon terlalu indah untuk diabaikan. Baekhyun terlalu menyukainya sampai-sampai dunia disekitarnya seakan-akan tidak ada maknanya selain memandanginya. Ia tidak pernah letih bila menyangkut semua tentangnya.

Salah satu temannya tiba-tiba merangkul bahunya, “teman kita yang satu ini rupanya sudah tergila-gila pada Taeyeon sunbae.”

Baekhyun menundukkan pandangannya menahan senyum, namun detik berikutnya matanya kembali memandangi ‘gadisnya’

“aigo, kau lihat saja matanya. Yah! Apa Taeyeon sunbae itu magnet tersembunyi sampai-sampai kau tidak berhenti melihatnya?”

“diamlah. Aku sedang konsentrasi.” Baekhyun sekilas meliriknya. Ia terganggu dengan teman-temannya yang berusaha mengalihkan perhatiannya.

Taeyeon bersama Joyun telah mengambil nampan berisi makanan mereka. Keduanya duduk di pojok yang kebetulan tempat itu tidak begitu banyak siswa.

“jangan lupakan juga tempat ponselnya.” Temannya yang lain menanggapi.

“ah, tempat ponsel bergambar Jack skellington itu ‘kan?”

Temannya mengangguk. “ia menggantinya beberapa hari yang lalu hanya karena mengetahui Taeyeon sunbae menyukainya.”

“Baekhyun, daripada terlihat seperti pengagum, kau lebih terlihat seperti penguntit.”

Kedua temannya yang lain tergelak sementara Baekhyun mendelik tajam ke arah mereka.

“sheez…kami hanya bercanda.”

Tapi Baekhyun tahu, mereka masih belum ingin berhenti.

“apa kau juga sudah tahu kalau Taeyeon sunbae menyukai film horor?”

Baekhyun mengerjapkan mata. Mendadak gugup.

“bukankah kau tidak menyukai hal-hal berbau horor? Jadi bagaimana kau akan mendekatinya?”

“Aish diamlah!” Mendengarkan ocehan ketiga temannya yang sengaja menggodanya membuatnya frustasi. Mengapa diantara sekian banyak topik, mereka harus membahas yang satu itu.

Wajah Baekhyun seketika berubah cerah dan ia tersenyum sumringah kala Taeyeon tak sengaja melihat ke tempatnya. Teman-temannya lantas menyorakinya membuat Baekhyun tersenyum semakin lebar.

“Yah, kau yakin ingin berpacaran dengannya?” Temannya tiba-tiba bertanya. Mereka tidak berniat lagi menggoda Baekhyun setelah melihat raut wajah bahagianya.

Baekhyun, tanpa melepaskan pandangannya hanya mengangguk pelan. Taeyeon asyik berbincang dengan Joyun. Sesekali ia menangkap gadis itu melirik ke arahnya meskipun hanya sekilas sebelum kembali berbicara dengan Joyun di depannya. Ia senang gadis itu menyadari keberadaannya.

Ketiga temannya saling berpandangan.

“tapi kau tahu, kita masih tingkat 1 sementara Taeyeon sunbae hampir selesai. Sebentar lagi ia akan melanjutkan kuliahnya dan kau akan ditinggal sendirian.”

Untuk pertama kalinya setelah perbincangan mereka, Baekhyun mengalihkan perhatiannya dari Taeyeon. Raut wajah ketiga temannya berubah, nampak jelas mengkhawatirkannya. Baekhyun mendesah pelan.

“aku tahu.”

“lalu?”

“lalu apa?”

Temannya merotasikan bola matanya. “apa yang akan kau lakukan jika ia tamat nanti?”

“aku tetap menyukainya.”

“yang kami maksud bukan itu!”

Baekhyun mengacak rambutnya dengan frustasi. Tatapannya nanar ke depan dimana Taeyeon berada. “tentu saja aku akan mengikutinya. Apa lagi?”

“kami senang mendengar kau masih belum menyerah, tapi tidak semudah itu.”

Dua orang disamping kiri kanannya mengangguk setuju. “kau masih membutuhkan waktu dua tahun lagi sebelum mengejarnya ke universitas. Tapi selama dua tahun itu, Taeyeon sunbae barangkali saja sudah memiliki pacar baru yang pastinya seusia dengannya.”

Baekhyun membungkam. Benarkah akan seperti itu nantinya? Apa setelah mereka berpisah dan Taeyeon melanjutkan kuliahnya, mereka tidak mungkin bisa bersama?

“aku tidak ingin membicarakan tentang ini.” Baekhyun beranjak dari kursinya.

– – –

“ya.ya.ya, kau tidak bisa menyembunyikannya dariku.”

Taeyeon melongo. “menyembunyikan apa?” tanyanya berlagak tidak tahu.

Joyun mendecak tapi tersenyum lebar. “kau selalu melihat ke tempat Baekhyun.”

Taeyeon nyaris tercekat oleh makanannya. Ia menyambar susunya dan segera meneguknya. Setelahnya menepuk-nepuk dadanya lalu melotot pada Joyun. “aku tidak melihatnya!”

“melihat apa, noona?”

Taeyeon dan Joyun sontak menoleh. Wajah Taeyeon seketika merona. Baekhyun yang tersenyum ceria, tanpa diminta langsung duduk disampingnya.

“a-apa yang kau lakukan disini?” Taeyeon lantas merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa menutupi kegugupannya di depan Baekhyun.

“aku juga mau makan disini.” Baekhyun dengan tenang memakan makanannya.

Mulut Taeyeon menganga. “Yah! Siapa yang mengizinkanmu makan disini?”

“Joyun noona tidak keberatan.” Baekhyun acuh menjawab.

“sejak kapan?!”

Baekhyun menatap Joyun dan seolah tersihir, gadis itu langsung mengangguk. “lihat, Joyun noona setuju denganku.”

Siapa yang tidak akan setuju kalau kau memasang muka memelas seperti itu, idiot?! Taeyeon meniup poninya dengan kesal.

“aku sudah selesai.”

Baekhyun langsung menghentikan makannya. Joyun menatap Taeyeon tak percaya.

“T-Taeyeon.”

Taeyeon mengangkat nampannya. “aku sudah kenyang.”

Muka Baekhyun berubah masam. Ini sudah kesekian kalinya Taeyeon mengabaikannya.

“aku akan menunggumu di kelas.” Taeyeon memberitahu Joyun sebelum pergi.

Joyun menghela nafas panjang. Ia melirik Baekhyun yang terus menatap kepergian Taeyeon.

“jangan terlalu dipikirkan. Ia memang selalu seperti itu.” Ujarnya pada Baekhyun.

Baekhyun tersenyum kecil. Ia menggeleng pelan. “karena ia selalu seperti itu, aku jadi tidak bisa lagi menahannya.”

Joyun kadangkala tidak memahami kata-katanya, tapi yang pasti ia yakin Baekhyun tidak akan meninggalkan Taeyeon begitu saja hanya karena sahabatnya itu mengabaikannya.

 

***

Koridor sekolah hari ini tidak biasanya begitu lenggang. Mungkin sebagian tengah sibuk berlatih dalam ruangan untuk persiapan pentas seni yang akan di adakan seminggu lagi. Taeyeon berjalan dengan hati-hati, dua buah kardus yang dibawanya lumayan berat untuk ukuran gadis bertubuh kecil sepertinya. Entah apa isinya Taeyeon tak sempat menanyakannya pada guru Choi yang tadi meminta bantuannya. Guru Choi hanya berpesan agar ia berhati-hati dan tidak menjatuhkannya.

Taeyeon mendesah pelan, merasa sedikit menyesal, jika saja ia tahu beratnya akan membuat bahunya tegang selama bermenit-menit sebelum sampai tujuan, dan jika saja ia tidak merasa kasihan pada umur dan kesehatan guru itu, ia pasti tak akan mengiyakan dengan mantap saat guru Choi menyuruhnya. Ralat, meminta bantuannya. Kardus-kardus ini benar-benar tidak sepadan dengan bentuknya. Gerutunya dalam hati.

Taeyeon berhenti sejenak, kedua tangannya mulai kram. Ia baru ingin menurunkan kedua benda itu ke lantai ketika seseorang tiba-tiba mengangkatnya dari tangannya.

“biar kubantu.”

Setengah terkejut, Taeyeon sontak berpaling dan mendapati seseorang itu tersenyum padanya. Taeyeon terpaku selama beberapa detik dengan raut tak percaya. Meski sampai sekarang pun, senyuman itu masih memiliki semacam kekuatan magis terhadap tubuhnya. Tidak besar seperti dulu, tapi cukup membuatnya membungkam dan membatu.

Untuk sesaat Taeyeon berpikir ingin menolak bantuannya namun tatapan teduh yang diterimanya dan senyuman itu berhasil menghapus seluruh keraguannya. Mendadak, rasa sakit yang pernah ditorehkan oleh orang itu entah bagaimana sekarang sudah tidak begitu terasa. Mungkin memang ia telah melanjutkan hidupnya.

“benda seberat ini, kenapa kau yang membawanya?” tanya suara lembut yang meluluhkan hatinya. Orang itu masih menatapnya dengan pandangan yang sama, selalu teduh dan perhatian—yang baru tersadar olehnya—tak pernah gagal membuat pipinya merona.

Taeyeon tersipu malu. “guru Choi meminta bantuanku.”

“tetap saja, kau harusnya meminta bantuan. Mengangkat barang berat dua sekaligus akan membuatmu sakit. Kau perempuan, pekerjaan seperti ini dilakukan oleh anak laki-laki.”

“aku tahu.” Taeyeon bergumam pelan, dalam hati tersenyum mendengar omelannya. Ia sangat tahu, maksud sebenarnya dari kata-katanya ditujukan untuk tubuhnya. Orang itu tahu betul kekurangannya. Ia masih menunjukkan perhatiannya. Taeyeon membatin. Selama beberapa hari ini orang itu kembali sering menunjukkan perhatiannya padanya. Alasannya tidak begitu jelas tapi Taeyeon tak ingin mengira-ngira. Sebulan sejak mereka berpisah, ia sudah membuang harapan itu jauh-jauh dari pikirannya.

“kardus-kardus ini mau diletakkan dimana?”

“perpustakaan.” Jawab Taeyeon tanpa berani menatap.

Setelah mendapat anggukan mengerti, mereka pun mulai menuju gedung kedua yang terletak di samping taman samping sekolah. Ruangan perpustakaan berada dilantai paling atas, itu artinya mereka harus menaiki dua anak tangga agar sampai di lantai ketiga.

“kau tidak berubah, Taeyeon.” Kemudian terdengar kekehan pelan.

Taeyeon tersenyum tipis tapi tidak mengatakan apa-apa. Mereka berjalan berdampingan menyusuri koridor per koridor. Ada banyak mata yang memperhatikan namun Taeyeon mencoba tidak memikirkannya. Taeyeon tahu dengan jelas apa yang ada dalam pikiran mereka. Bisik-bisik itu sudah memperlihatkannya dengan jelas. Dari punggungnya, Taeyeon seolah bisa merasakan kilatan laser yang mengarah ke kepalanya dari mata mereka yang tidak menyukainya. Manusia seharusnya, daripada mencampuri urusan orang lain yang bukan urusannya, lebih baik mengurusi diri mereka sendiri. Meski demikian Taeyeon bisa mengerti bahwa sifat natural manusia memang sudah seperti itu. Satu waktu mereka memujimu, satu waktu mereka bisa menghujatmu. Taeyeon hanya tak mengerti, sampai kapan ia harus menerima kebencian mereka. Tidakkah mereka ingin berhenti? Menghembuskan nafasnya dalam-dalam, Taeyeon menepis perasaan yang akan berdampak buruk pada suasana hatinya.

Rasanya sudah sejak lama mereka berjalan bersama seperti ini. Taeyeon tidak menampik bahwa ia menikmati waktunya. Dulu sekali, awal dimulainya hubungan mereka, bahkan sejak sebelum mereka bersama, orang itu selalu menolongnya seperti saat ini, memberikan perhatian yang membuatnya merasa istimewa dan begitu dicintai. Bila mengingat masa itu, rasanya seperti ia baru saja terbangun dari mimpi indah. Semuanya sangat sempurna, terlalu sempurna sampai lambat laun perasaan itu mulai berubah dan berakhir menjadikan mereka layaknya orang asing.

Dan sekarang, mereka meniti jalan kembali ke awal. Perhatian yang diterimanya akhir-akhir ini dan pendekatan yang dilakukan oleh orang itu seolah menunjukkan bahwa benang yang putus sedang berusaha terjalin kembali. Taeyeon tidak bodoh untuk melihat bahwa mantannya berusaha ingin kembali padanya, hanya saja sekarang, ia tidak begitu yakin lagi apakah ia masih ingin menggenggamnya atau melepasnya karena pada dasarnya ia mengakui masih memiliki perasaan itu, tapi untuk suatu alasan yang tak ia ketahui, bayangan wajah Baekhyun menari-nari dalam kepalanya setiap kali mereka bersama tanpa bisa ia kendalikan. Seokjin yang begitu membuatnya terpesona dan tergila-gila hingga hampir membuatnya rela melakukan apapun hanya untuk membuktikan perasaannya, mengapa sekarang ia memandangnya berbeda?

Kerutan di kening Taeyeon semakin dalam, seraya kemudian ia menggeleng-gelengkan kepalanya menepis apa saja yang sempat terpikirkan olehnya. Tidak. Taeyeon meyakinkan dirinya sendiri. Ia tidak memiliki satupun ketertarikan terhadap Baekhyun. Yah, pasti ada yang salah dengannya. Ia pasti sudah salah mengartikan perasaan aneh yang selalu muncul setiap kali melihat Baekhyun adalah suatu bentuk dari ketertarikan. Semua itu tidak berdasar. Sekali lagi Taeyeon meyakinkan dirinya. Memantapkan hatinya.

Seokjin menyadari Taeyeon tidak mendengarkan panggilannya. Ia mengernyitkan keningnya, merasa heran.

“Taeyeon.” Panggilannya kali ini berhasil menyentakkan lamunan gadis itu. Tapi Seokjin merasa ekspresi bingung gadis itu sangat manis dan ia tak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum. “kau melamun.” Ujarnya.

“maaf.” pipi Taeyeon merona. Seokjin yang menatapnya dalam-dalam ditambah senyuman khasnya membuatnya sedikit tidak fokus. “a-aku hanya tiba-tiba memikirkan sesuatu.”

Jawabannya tidak sepenuhnya benar juga tidak sepenuhnya salah. Taeyeon hanya tidak bisa memikirkan kalimat yang tepat. Tapi hal itu nampaknya ditangkap oleh Seokjin. Seokjin sangat mengenal sifatnya dengan baik.

“kau menyembunyikan sesuatu atau kau berbohong padaku.” Seokjin menatapnya serius.

Taeyeon mengumpat dalam hati. Seokjin terlalu mengenalnya. Seokjin sudah tahu bila ia gugup itu menandakan ia sedang menyembunyikan sesuatu atau sedang berbohong. Kebiasaannya yang diketahui Seokjin dan Joyun. Taeyeon bingung entah mau menjawab apa. Ketika melihat sudut bibir Seokjin tertarik ke atas, ia segera tahu kalau laki-laki itu hanya sengaja menggodanya.

“kau benar-benar tidak berubah.” Seokjin terkekeh lagi.

Muka Taeyeon langsung merah padam, tapi mengangguk pelan. “aku tidak berubah.”

“kuharap hatimu juga tidak.”

Taeyeon mengerjapkan matanya terkejut dan sontak mengangkat wajahnya menatap Seokjin yang sudah memasang ekspresi serius. Dalam hatinya Taeyeon bertanya-tanya, apakah ia kemungkinan mendengar kalimat yang salah? Sesaat jantungnya di dalam sana berdebar-debar. Taeyeon kemudian tersenyum kaku, tidak tahu harus menanggapinya bagaimana. Hatinya gelisah. Walaupun telah mencoba menenangkan hatinya dari serangan mendadak, tak ada satu carapun yang berhasil.

Seokjin tidak mengatakan apa-apa lagi selain tersenyum. Itu cukup meredakan ketidaknyamanan Taeyeon terhadap topik pembicaraan mereka. Meskipun itu mungkin saja hanya kekeliruan, Taeyeon tidak bisa berhenti untuk tidak memikirkan ucapan Seokjin. Lagipula keadaan mereka telah berbeda sekarang. Seokjin yang ia tahu sudah memiliki pacar baru. Entah bagaimana hubungan mereka, Seokjin tidak pernah mengungkitnya sejak mereka memutuskan menjadi teman kembali. Dari sekian rumor yang beredar di sekolah, Taeyeon sempat menangkap salah satunya bahwa hubungan Seokjin dan pacarnya merenggang. Belakangan mereka berdua sempat dikabarkan telah putus.

Entahlah, rumor tetaplah rumor menurut Taeyeon bila tidak melihat dan mendengarnya sendiri dari nara sumbernya. Mungkin hubungan mereka masih baik-baik saja sampai saat ini.

– – –

Baekhyun hari ini nampak kurang bersemangat. Ia berjalan gontai seraya menendang-nendang kerikil kecil di depannya dengan tampang lesu. Ketiga temannya, tidak mengatakan apapun selain mengikutinya dari belakang. Mereka tahu betul mengapa kelakuan Baekhyun berubah sejak belakangan terakhir. Hal-hal menyenangkan yang sering mereka lakukan bersama di sekolah mendadak sudah tidak menarik lagi baginya.

Baekhyun menghela nafas kasar, kerikil yang tertangkap matanya ditendangnya dengan sedikit keras. Raut wajahnya cemberut seolah semuanya terasa membosankan. Alasan mengapa ia bertingkah seperti ini tidak lain karena, sudah beberapa hari ini gadis yang sangat disukainya sengaja menghindarinya tanpa alasan. Setiap kali ia mencoba mendekatinya, gadis itu selalu saja memiliki alasan agar tidak berlama-lama dengannya. Hal itu membuatnya frustasi.

Baekhyun sangat membenci apa yang dirasakannya sekarang. Perasaan diabaikan dan diacuhkan membuat suasana hatinya bertambah buruk setiap harinya dan berpengaruh pula pada emosinya. Dia lebih gampang marah dan seperti bom waktu yang kapan saja bisa meledak, teman-temannya sepakat tidak mengganggunya. Baekhyun yang marah adalah sesuatu hal yang tidak ingin mereka alami. Baekhyun menghela nafas dalam-dalam untuk yang kesekian kalinya. Ia berusaha mengendalikan dirinya agar tetap tenang. Sejujurnya, ia tak bisa fokus melakukan apapun karena pikiran dan hatinya selalu dipenuhi bayangan Taeyeon. Rasanya sulit mengabaikannya begitu saja. Perasaannya cukup terluka mengetahui Taeyeon tidak ingin berbicara maupun melihatnya walau sekilas.

Secara tiba-tiba, Baekhyun menghentikan langkahnya. Pandangannya lurus tak beralih. Tubuhnya membatu seakan-akan ada sebuah kekuatan sihir yang tengah bekerja padanya. Tiga orang yang masih bersamanya pun ikut berhenti dengan pandangan bingung. Baekhyun yang sudah pasti tak akan mengatakan apa-apa, tetap membuat mereka bertanya-tanya satu sama lain dengan bahasa isyarat. Sebelum pikiran itu terlintas dalam benak Baekhyun, salah seorang temannya tiba-tiba menyuarakannya lewat seruan yang tidak begitu keras, tapi cukup membuatnya tersadar.

“o’! Bukankah itu Taeyeon sunbae dan..Seokjin sunbae?!” terdengar suara nafas yang dihela paksa.

Alis Baekhyun terangkat ke atas sambil memperhatikan dua orang yang berjalan bersama disana dengan pandangan tak suka. Teman-temannya memandangi keduanya dengan pandangan tak percaya sebelum akhirnya serempak menolehkan kepala mereka melihat reaksi Baekhyun. Baekhyun masih dalam posisi yang sama, tak pernah sedikitpun mengalihkan perhatiannya. Mereka cukup terkejut dengan ketenangan yang ditampilkan Baekhyun, terlalu tenang hingga membuat mereka gelisah dan berjaga-jaga seumpama desakan emosi Baekhyun tidak terkendali dan bertindak nekat dengan menyerang laki-laki yang sedang bersama gadis incarannya.

Ketiganya saling berpandangan penuh arti, saling memberi isyarat melalui anggukan pelan ke arah Baekhyun lalu Taeyeon, kemudian menggeleng.

“menurutmu mereka akan kembali bersama?” bisik salah satu dari mereka.

Otak Baekhyun mendadak membeku mendengarnya. Pikirannya menjadi kosong. Walaupun temannya yang lain telah menyuruh temannya itu untuk diam, dugaan yang kemungkinan benar itu telah terpatri di dalam dan kini mengusik nalarnya. Hatinya dengan tegas tak setuju. Tanpa sadar kepalan tangannya telah menekuk kuat dan rahangnya mengeras menahan geram. Hilang sudah sikap tenang yang ia perlihatkan tadi.

“kudengar Seokjin sunbae berniat menjalin kembali hubungannya dengan Taeyeon sunbae. Lihat saja bagaimana ia menggoda Taeyeon sunbae sampai tersipu begitu.”

Baekhyun menyeringai sinis. Sejak awal ia sudah menduganya, Seokjin beberapa kali terlihat berusaha mendekati Taeyeon. Baekhyun tahu, laki-laki itu masih menyukai Taeyeon dan dilihat dari perlakuannya terhadap gadis itu—yang tidak gagal ditangkap olehnya—Seokjin berniat meraih hatinya kembali. Dan untuk menambahkan kepedihannya, Taeyeon nampaknya masih menyukai mantannya itu.

“jika mereka kembali bersama, apa yang akan terjadi pada Baekhyun?”

“Yah! Kapan kau akan diam?”

“aku hanya penasaran.”

“tsk. Kau sama sekali tak membantu.”

Baekhyun tersenyum getir. Pembicaraan ketiga temannya hanya terdengar seperti angin lalu. Ia sudah tak bisa berpikir jernih. Mantan atau bukan, ia tidak akan membiarkan siapapun merebut gadisnya. Mungkin memang belum resmi, ia pun menyadari sepenuhnya, seberapapun seringnya ia menyatakan perasaan sukanya dan kerap menunjukkan kekaguman terhadap sosok Taeyeon, juga beberapa kali memberikan tanda bahwa ia tak menginginkan gadis lain selain gadis itu, Taeyeon tak pernah menanggapinya dengan serius. Bahkan kerap mengacuhkannya dan seringkali menunjukkan reaksi tak suka setiap kali ia mendekatinya.

“Baekhyun, kita sebaiknya…” temannya, Junseo tidak jadi melanjutkan kalimatnya karena Baekhyun telah berjalan pergi meninggalkan mereka.

Baekhyun tak ingin menyerah. Tidak akan pernah. Teman-temannya boleh saja mengejeknya karena seorang junior sepertinya berani menyatakan perasaannya kepada senior. Pernah terbersit dalam pikirannya, mungkin karena perbedaan usia mereka hingga membuat Taeyeon tidak memandang ke arahnya. Tapi Baekhyun telah bertekad, akan ia pastikan pada mereka juga pada gadis itu bahwa dirinya juga mampu menjadi laki-laki seperti yang ia inginkan, tidak peduli usianya lebih muda darinya.

Jauh dalam hatinya, Baekhyun merasa yakin Taeyeon juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya. Hari-hari yang dilaluinya bersama gadis itu, senyuman yang kadangkala diperlihatkan untuknya dan pembicaraan santai mereka di setiap kesempatan, tidak ada yang lebih membahagiakan dari semua itu.

“aku mendengar rumor tentangmu.” Seokjin kembali berbicara. Nada suaranya kembali tenang seperti biasa.

“seingatku, aku tidak seterkenal itu sampai ada sebuah rumor untukku.” Gurau Taeyeon dengan mimik pura-pura serius, namun tersenyum detik berikutnya.

Seokjin terkekeh pelan. “senang melihatmu seperti ini lagi. Senyuman lepas yang selalu kau perlihatkan untukku.”

Senyum Taeyeon memudar, ia kemudian berdehem dan memperbaiki sikapnya.

“rumor apa yang kau bicarakan?” tanyanya langsung pada pokok permasalahan. “aku sama sekali tak mendengar apapun.” Mungkin itu adalah kalimat lanjutan paling bodoh yang pernah ia ucapkan. Ia lupa bahwa Seokjin mengenalnya dengan sangat baik. Suaranya yang sedikit bergetar pasti sudah terbaca jelas oleh laki-laki itu.

Seokjin mendesah pelan dan menatapnya. “anak baru yang bernama Baekhyun.”

Taeyeon hampir tak menyadari kalau ia sudah menahan nafasnya begitu nama itu terucap. Untuk alasan yang tak ia ketahui, hatinya mulai gelisah. Ia entah mengapa, tak menyukai kemana arah pembicaraan ini nanti.

“kenapa dengan anak itu?”

Pandangan Seokjin begitu teduh namun sekilas Taeyeon juga menangkap kekecewaan dalam kilauan matanya.

“jujur saja, aku tidak ingin menanyakan hal ini padamu karena itu sama saja melanggar privasimu sementara kita sudah tidak bersama lagi.” Ujar Seokjin pelan, lalu melanjutkan. “tapi aku sungguh ingin tahu, apakah mungkin kau dan anak itu—”

“kami tidak memiliki hubungan apa-apa jika itu yang ingin kau ketahui.” Taeyeon langsung memotongnya. Ia sendiri cukup kaget dengan betapa cepatnya ia menjawab pertanyaan itu. Lagipula, itu memang benar ‘kan? Ia dan Baekhyun hanya sebatas junior dan senior meskipun mungkin nanti Joyun tidak sependapat dengannya. Kening Taeyeon berkerut menjawab pertanyaannya sendiri. Anehnya, jawabannya sama sekali tak membuahkan kepuasan baginya, malah membuatnya semakin bingung.

“oh, baiklah.” Seokjin sedikit heran dengan tingkah laku Taeyeon yang seolah menyembunyikan sesuatu, tapi ia memutuskan untuk tak memikirkannya. “kupikir kau dan anak itu berpacaran.” Tambahnya dengan senyuman cerah.

Taeyeon hampir tersedak mendengar kalimatnya. Ia kemudian tersenyum kecil meski sesuatu yang tak ia ketahui kini mengganjal hatinya.

“aku dan anak itu?! Kau bercanda? Aku tidak mungkin berpacaran dengannya. Dia hanya junior.” Tapi semakin ia menjelaskan dirinya, semakin buruk kedengarannya.

“tapi junior itu sepertinya sangat menyukaimu. Aku sering melihat kalian bersama.” Seokjin nampak bersikeras. “kupikir rumor itu…”

“lagipula, mengapa kau sangat peduli?” Taeyeon kini memberinya tatapan sinis.

“Taeyeon…”

Taeyeon menghela nafas panjang. Pembicaraan ini membuatnya merasa lelah. Ia melirik jam tangannya, “mungkin sebaiknya kita bergegas sekarang.” Ujarnya.

“apa kau juga…mungkin tertarik dengan anak itu?”

Pertanyaan Seokjin membuat Taeyeon berhenti. Seokjin berjalan perlahan dan berhenti di sampingnya. Taeyeon menoleh padanya dengan tatapan tak percaya.

“kau sungguh ingin membicarakan ini, Jin?” Panggilan itu rasanya sudah lama sekali. Terasa berbeda saat ia mengucapkannya sekarang.

“kau tidak menjawabku, Taeyeon.”

Taeyeon menghindari tatapan Seokjin. Entah mengapa, ia tak bisa membalas tatapannya. Tapi pada akhirnya memberanikan diri.

“mengapa kau peduli dengan jawabanku? Mengapa jawabanku begitu penting bagimu.” Mata Taeyeon mulai menghangat. Ia sudah berjanji tidak akan meneteskan air mata lagi untuk laki-laki itu, tapi lihatlah dirinya sekarang.

“karena itu sangat penting bagiku.” Seokjin menjawab pelan. Taeyeon tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. “aku ingin memastikan hatimu masih tetap sama sebelum aku melangkah ke tahap selanjutnya, meraih hatimu kembali.”

Taeyeon membungkam, mendadak kehabisan kata-kata. Tak pernah terbayangkan sebelumnya Seokjin akan mengucapkan semua kalimat itu dengan serius. Apa yang harus ia lakukan?

“aku masih menyukaimu, Taeyeon. Aku sadar, semua yang terjadi adalah karena kesalahanku. Seharusnya aku tidak melakukannya. Aku melakukan kesalahan besar dengan memutuskan hubungan kita. Aku sangat menyesalinya.” Seokjin menatapnya sendu, nampak sangat merasa bersalah. “aku ingin menebus kesalahanku, Taeyeon. Aku ingin kau kembali padaku. Aku ingin menjalin hubungan denganmu seperti dulu. Kali ini aku berjanji tidak akan mengecewakanmu.”

Taeyeon tercengang. Bagaimana bisa? Apakah ia sedang bermimpi?

“Jin…”

Seokjin menggeleng pelan dan tersenyum kecil. Mungkin ia terlalu terburu-buru. Mungkin ini memang bukan saat yang tepat menyatakan perasaannya. Ia tahu itu.

“tidak apa-apa Taeyeon. Kau tidak perlu menjawabnya sekarang. Aku akan menunggumu.”

Tepat saat itu bel tanda pelajaran berikutnya berbunyi dengan nyaring. Gemuruh suara dari gerombolan siswa yang satu persatu mulai memasuki kelas mereka, terdengar riuh khususnya di sepanjang lorong-lorong sekolah.

Seluruh tubuh Baekhyun seolah membeku. Puluhan detik telah berlalu namun ia masih berdiri tegap di tempatnya seraya memandang kosong ke arah dimana Taeyeon dan Seokjin berada sejenak lalu. Baekhyun tak peduli dengan beberapa pasang mata yang melihatnya dengan pandangan heran. Bahkan ketiga temannya yang akhirnya menghampirinya dan menanyakan apa yang terjadi—meskipun sudah jelas mengetahuinya—ia acuhkan begitu saja. Yah, Baekhyun mendengar semuanya. Bahkan sebelum ia sempat menghampiri dan berniat menyapa Taeyeon dan laki-laki itu.

 

To be continued…

 

Note : yang ingin password Beautiful Creature atau fanfic2q yang lain harus mengirim pesan melalui email Rynfamutmainnah@yahoo.com atau lewat pesan di twitter @Haime_Fa atau kirim pesan di nomor 085825302722 (biasanya yang cepat kubalas itu di twitter ma no hp).

Yang ingin bertanya mengenai fanfic2ku atau sekedar mengobrol, silahkan masuk kesini.

Sekedar bertanya : jika aku ingin mempost ulang ffq yang lain (ff di exoshidaewp) disini, kira-kira kalian mau ff yang mana?

Happy B’day Taeyeon^^

© RYN

Advertisements

107 comments on “The Couple : Overdose ( chapter 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s