[FREELANCE] Time (Ficlet)

Title : Time

 

Author : Cherrysone39

 

Ratting : G

 

Genre : AU, Friendship, motivation, moral message, fluffy.

 

Length : Between drabble and vignette.

 

Main Cast : Kim Taeyeon (GG), Cho Kyuhyun (SJ).

 

Disclaimer : Saya hanya meminjam nama tokoh yang digunakan di sini. Cerita ini milik saya. No plagiarism please. And, leave a comment. Thank you J.

P.S.: Saya membuat FF ini sambil mendengarka lagu Yiruma: Kiss the rain dan Secret Garden: Sometimes when it rains. Lebih baik membaca ff ini sambil mendengarkan keduaa lagu ini agar lebih mengena.

 

Tik.. Tik.. Tik…

Tetes air hujan jatuh membasahi bumi. Membiaskan cahaya mentari yang berwarna jingga keperakan. Seakan sang penguasa langt ingin tetap terus di sana, mengabadikan setip detik berharga yang terlewati. Memberi sedikit waktu untuk menyimpan segala memori yang terpatri dalam pikiranku, angan-anganku.

“Kau tahu hal terbaik yang pernah aku lewati dalam hidup?” Ujarku ceria. Senyuman manis terkembang di bibirku kalau mataku beradu pandang dengannya, pemilik senyuman terindah yang pernah kujumpai dalam hidup.

“Em, tidak. Memangnya apa?” Sergahnya cepat. Suaranya terdengar begitu merdu di telingaku. Begitu halus seperti angin sejuk di musim panas. Begitu hangat sperti api unggun yang menyala di tengah badai salju berkecamuk. Begitu manis seperti tetesan madu. Lebih indah dari kicauan burung pipit di pagi hari, bagai nada-nada indah yang mengalun lembut di telingaku.

Tik.. Tik..

Jam dinding berdetik seiring waktu berjalan. Kalau saja aku bisa mengulur waktu lebih lama, ingin sekali aku memandang wajahnya di bawah cahaya matahari keperakan di senja hari. Melihat surai kecoklatannya diterpa semilir angin yang membelai kulit di udara sejuk musim semi.

“Kehidupanku. Takdir yang mempertemukanku dengan.. waktu.” Kupalingkan wajahku darinya.

“Aku tahu, dahulu aku menganggap hidup tak ubahnya seakan tak mampu aku pikul. Padahal, bebanku tak seberapa dibandngkan orang-orang diluar sana. Aku malah ingin mengehentikan waktu, sementara orang-orang di luar sana berharap waktu berjalan lebih lambat.” Sebulir kristal bening jatuh dari sudut mataku. Lagi-lagi aku menatap langit senja. Lengait berubah warna menjadi lembayung. Matahari mengintip malu-malu dari balik awan, di antara langit dan cakrawala.

“Aku tahu. Setiap orang bisa berubah. Termasuk dirimu.” Bisiknya perlahan. Suaranya nyaris ditelan angin sore yang berembus lembut membelai kulit tipisku.

“Aku, seharusnya aku menjadi orang paling bahagia di seluruh dunia. Mengapa aku menjadi orang yang begitu egois? Mengapa?” Aku menatapnya dengan pandangan sendu. Ingin rasanya aku menumpahkan segala emosi yang saling tumpang tindih dalam batinku sendiri.

“Karena kau belum bisa menerima semuanya dengan hati lapang.” Ia memejamkan matanya. Menghirup napas dalam-dalam seakan mengajakku untuk mengikutinya. Kupejamkan mataku. Kurasakan detak jantungku. Perasaan yang selalu terasa beriringan dalam hidupku. Perasaan bahagia, marah, kesal, kecewa, semuanya.

“Perasaan bahagia, adalah anugerah terbesar di dunia. Rasakan, dan perasaan sukacita akan mengalir dengan sendirinya dalam darahmu. Memberikan semangat, ketulusan, kesabaran, bahkan perasaan untuk menerima dirimu sendiri, dan.. orang lain.”

Kuhirup napasku dalam-dalam. Waktu seakan berjalan lebih lambat, ingin rasanya aku nikmati setiap detiknya dengan penuh sukacita. Perasaan yang membuncah dari dalam dadaku, mengalirkan kehidupan ke seluruh organ tubuhku. Ingin aku genggam tangannya yang hangat, membawanya pergi ke bukit tertinggi. Mengajaknya menyebrangi samudera yang luas terbentang.

Karena aku masih memiliki waktu, sedikit lebih lama.

Tes.. Tes..

Butiran bening mengalir dari pelupuk mataku. Tetesan air mata yang begitu hangat memenuhi kelopak mataku, mengalir turun hingga kehangatannya menjalar ke seluruh saraf dalam tubuhku. Perasaan yang telah lama ingin aku ungkapkan, ingin aku sampaikan hanya tertahan di ujung lidahku.

Lidahku kelu, bibirku beku. Hanya air mata yang mengalir deras dari kedua mataku. Hanya isakan lirih yang lolos dari bibirku. Segala perasaanku, air mataku yang hanya menyisakan tanda tanya besar dan prasangka. Sementara aku terlalu takut untuk mencurahkan segalanya, aku terkungkung dalam pikiranku sendiri. Sementara orang lain menganggapku gila, aku meringkuk dalam sudut gelap hatiku yang terdalam.

‘Aku, aku tidak bisa. Aku tidak ingin pergi, aku tidak ingin menjauh dari tempat ini. Tapi mengapa aku sangat egois? Kalau saja aku bisa mengatakan semuanya, ingin aku teriakkan sekeras-kerasnya, aku ingin tinggal! Aku tidak ingin pergi! Apa yang aku lakukan! Mengapa aku tidak bisa megatakannya sedikit saja? Kenapa? Aku, aku.. menyesal.’

Kalau saja tak hanya air mata ini yang dapat kucurahkan. Kalau saja aku mampu mencurahkan seluruh isi hatiku dalam kata-kata, aku tidak akan menderita seperti ini.

Drap.. drap..

Derap langkah kaki terdengar jelas di indera pendengaranku. Aku telah menikmati rintik hujan yyang turun berirama di luar jendela kamarku. Aku telah menunda waktu hingga waktu bahkan tak lagi memihakku. Aku telah mencurahkan segala perasaanku dalam butiran-butiran bening yang mengalir deras dari pelupuk mataku tanpa ada yang mengerti bahwa aku menderita di sini.

Aku telah menghabiskan setiap waktu yang berharga dalam hidupku untuk hal yang tidak perlu. Meratapi masa lalu tanpa memandang jauh ke depan. Tempat waktu yang sesungguhnya bergulir. Perasan ini, perasaan yang hanya kusimpan sendiri justru membuatku berjalan di satu titik yang sama. Terprosok ke dalam jurang yang sama.

Tapi takdir akan terus mengejarku. Mengejarku hingga aku tak lagi mampu menghindar. Mengejarku jhingga seluruh tenaga yang tersisa dari tubuhku menguap bersama udara musim dingin yang beku.

Tik.. Tik..

Selama aku memiliki waktu, aku akan tersenyum. Sekarang, semua telah berlalu. Masa-masa indah, penyesalan, kemarahan, kekecewaan, semuanya telah berlalu. Sementara aku tidak bisa mengulang waktu dan terus-menerus meratapi kebodohan yang kulakukan di masa lalu, aku hanya akan tersenyum. Menjalani hari-hari panjang yang terpeta jelas di depan mataku. Aku tidak akan terpuruk lagi. Aku tidak akan menangis lagi. Karena semua telah berlalu. Semua hal pahit yang kuciptakan sendiri telah berlalu. Aku hanya harus menjalani hidup. Membalas senyuman manis sang takdir yang mengulurkan tangannya. Memintaku ikut dengannya.

.

.

.

.

.

END

Hai! Saya kembali dengan FF Ficlet. Pasti banyak yang tidak mengerti dengan ff ini ya? Cerita ini lebih bersifat kontempelatif, artinya saya lebih banyak menyempaikan pesan moral dibandingkan konflik di sini. Saya harap ada yang mengerti. Sampai jumpa di cerita saya selanjutnya, Pierrot J

Advertisements

19 comments on “[FREELANCE] Time (Ficlet)

  1. Kata2nya ngena bgt thor. Tpi msih bingung POV nya ? Itu taeng atau kyu ? Tpi daebakk
    dtnggu fic lainnya ya!
    FIGHTAENG!!

  2. Keren tapi kok pendek bnget thorr . thor tapi kok aku bingung nya ini pov nya siapa author,taeng,apa kyu. Heheh coba aku pahami aja deh. Ditunggu ff yg lainnya thor hwaiting😘💕

  3. Pingback: [LIBRARY] DRABBLE | FICLET | ONESHOT 2013-2017 | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s