[FREELANCE] Here (Oneshot)

[Freelance] HERE – ‘Surprise Birthday, Special Taeyeon Day’ (Oneshoot)


|| Tittle : HERE || Author : nurmasari_soshiexo a.ka Nurma Kierra S.L || Main Cast : Girls’ Generation
Kim Taeyeon & EXO- K Byun Baekhyun, another || Genre : Romance, Story Life || Lenght : Oneshoot
|| Rating : PG17 || Pairing : BaekYeon/BaekTae || Disclaimer : The story is mine. Inspired from korean drama and another. The entire cast belong to God and they parents. Please, don’t be a plagiarism or publish this fanfic without my permission. || Summary : ‘Aku akan selalu berada disini, disampingmu di setiap ulang tahunmu. ||
Poster by (ig) @baexotae ^^ thank you so much, eonnie ♥

***

SM Building, 2015-03-01

Musik yang menggema di ruangan itu terdengar terhenti menandakan jika sebuah lagu yang tengah diputarnya telah berakhir. Mereka tetap tersenyum bangga dengan hasil yang diciptakan untuk hari ini. Sebuah lagu baru dengan gerakan enerjik tersebut telah berhasil membuat peluh disekujur tubuh mereka.

“Cukup latihan untuk hari ini, girls.” ucap sebuah suara seorang wanita dengan senyuman penuh semangatnya.

Pelatih dance wanita asal jepang itu tersenyum bangga melihat delapan anak didiknya terlihat bersemangat dengan lagu baru mereka. “Sampai bertemu di jepang nanti.” Ia berlalu bersama kedua pelatih lainnya setelah berujar dan dibalas anggukan kepala gadis-gadis cantik itu.

“Yoong, tepati janjimu.” Sunny berteriak pada Yoona saat kedelapan gadis cantik tersebut tengah berbenah untuk meninggalkan ruangan yang mereka pakai seharian ini.

“Janji apa?” Yuri menimpali mewakili ke lima gadis lainnya.

Gadis paling pendek diantara mereka itu menyahuti setelah memakai jaket dan sudah menjinjing tasnya. “Aktris Im akan mentraktir kita makan malam.”

Oho jinjjayo?”seru Soyoung dengan suara nyaring. Terlihat sekali dia yang paling bersemangat diantara yang lainnya.

Yoona yang berada disamping Taeyeon mengangguk mengiyakan. Ia menoleh pada gadis yang kini tengah memainkan ponselnya. “Taeng eonnie, apa menu yang menjadi tema kita makan malam ini?”

Taeyeon membatalkan niatnya saat ia akan mengenakan coat berwarna hitam dan ia menyimpan ponselnya di saku celana. “Mengapa bertanya padaku?”

Gadis tinggi dengan poni depan itu menjawab. “Pany eonnie, Sunkyu eonnie, Sooyoung eonnie dan juga Yul eonnie pasti akan membawa kita ke tempat makan yang paling mahal di Seoul.”

Yak, Yoong– ah.” Gadis-gadis yang disebutkan namanya satu persatu oleh Yoona berteriak keras bersamaan.

“Itu memang kenyataan. Aku benar ‘kan, Taeng eonnie, Hyoyeonie, Joohyunie?” Yoona menatap ketiga gadis lainnya seolah meminta bantuan.

Seohyun dan Taeyeon hanya menggelengkan kepala seraya tersenyum tanpa menjawab.

“Makan di restoran biasa saja, eotte? Sudah lama sekali kita tak makan daging panggang restoran Park ahjumma.” usul Hyoyeon.

“Aku setuju.” Seohyun menyetujui dan iikuti anggukan kepala tujuh gadis cantik lainnya.

Tiffany yang sudah bersiap pergi berujar. “Baiklah, kalau begitu ayo.” Seraya melangkah menuju keluar ruangan itu dan satu per satu mulai mengikuti langkah Tiffany di depannya.

Langkah kedelapannya tak luput dari suara lengkingan gadis-gadis itu hanya untuk sekedar bergosip ria. Rasanya sudah lama sekali mereka tidak melakukan kegiatan ini.

Sunkyu menoleh kebelakang. “Taengoo-ah, palliwa.” teriaknya pada gadis bermarga Kim tersebut karena ia berjalan paling terakhir.

Eoh.” Taeyeon menganggukkan kepalanya seraya melangkah cepat, bermaksud untuk menyusul mereka agar berjalan bersamaan.

Tapi percuma saja, langkahnya tak bisa menyesuaikan langkah ketujuh temannya yang sudah berada didepan. Ia tetap melangkah seraya memperhatikan langkah mereka. Kemudian matanya beralih menatap layar ponsel yang sedari tadi ia pegangi.

Kosong. Tak ada pesan, chatt masuk, bahkan tak ada panggilan.

Taeyeon menghela nafas gusar seraya menyeruput minuman yang dipegang dan ia bawa saat keluar dari ruangan. Baru saja ia melangkah meninggalkan koridor dan hendak menuruni tangga, tiba-tiba sebuah tangan menarik lengannya.

Taeyeon menoleh dan mendapati kepala belakang seorang pria dengan warna rambut yang sudah ia ketahui siapa orang itu. Ia tersenyum dan tetap mengikuti langkahnya tanpa menolak.

Langkah pria itu terhenti saat keduanya memasuki ruangan kosong. Sebuah ruangan yang biasa digunakan untuk trainee berlatih bernyanyi di gedung agensi itu.

Suara pintu tertutup dan ruangan gelap sudah menyambut mereka. Tak perlu berteriak, meminta bantuan atau kembali keluar dari ruangan tersebut. Toh, hanya tempat ini yang bisa mereka pergunakan untuk saling berbagi dan berbicara.

“Bolehkah aku menyalakan lampunya?”

Taeyeon tersenyum dalam diam saat mendengar pertanyaan pria itu. Mendengar suara lembutnya secara langsung lagi. Ia menarik tangannya hingga tangan pria itu terpaksa melepas genggamannya. “Apa kau berencana tak ingin melihat wajahku?” ia bertanya.

Gadis itu kembali tersenyum saat mendengar suara tawa renyah dari kekasihnya. “Tentu saja tidak.” jawab Baekhyun setelah ia menghentikan tawa sekilasnya.

Setelah Baekhyun menjawab, lampu di ruangan itu menyala tanpa lebih lama lagi.

Hai.” suara Baekhyun kembali menyapa pendengaran Taeyeon saat mata mereka bertemu.

Hai.” balas Taeyeon menyahut.

Baekhyun tersenyum senang saat melihat wajah cantik gadisnya. “Apa kau punya waktu sebentar?”

“Tiga menit.” jawab Taeyeon cepat tanpa dipikirkan.

Pria itu mengerucutkan bibirnya lucu. “Mengapa singkat sekali?”

“Mereka pasti tak tahu aku menghilang entah kemana. Kau bisa terbunuh oleh temanku jika mereka tahu bahwa seseorang yang telah menculikku adalah dirimu.” canda Taeyeon dengan nada serius.

Noona, tak tahukah bahwa priamu ini sangat merindukanmu?” tanya Baekhyun dengan bujukkannya. Ia menyentuh lengan atas Taeyeon dengan sorot mata yang lekat.

Taeyeon memutar bola matanya. “Baiklah, lima menit.”

Noona..”

Gadis itu menghela nafas. “Tujuh menit, Byun Baekhyun.”

Pria itu tersenyum senang. Matanya beralih menatap sesuatu yang dipegang oleh Taeyeon. “Ini malam yang sangat dingin. Mengapa noona meminum ini?”

Ah, Minjin eonnie membelikan ini untuk kami.” jawab Taeyeon saat Baekhyun meraih minuman yang dipegangnya sedari tadi kemudian menyimpannya di meja. Beserta coat, ponsel dan tas milik Taeyeon.

Kemudian pria itu meraih tangan gadisnya. “Lihatlah, tanganmu sampai memerah. Membeku seperti ini.”

Taeyeon tak menjawab hingga selanjutnya Baekhyun meniup-niup tangan gadis itu dengan mulutnya. Mengeluarkan rasa hangat dari mulut pria itu yang menerpa permukaan telapak tangan Taeyeon.

Taeyeon tersanjung saat melihat bagaimana bentuk perhatian yang selalu diberikan oleh Baekhyun. “Satu setengah menit.” ujarnya membuat mata Baekhyun beralih menatap lekat mata kekasihnya.

“Bagaimana dengan latihanmu hari ini?” tanpa melepaskan tangan Taeyeon dan sesekali masih meniupnya, Baekhyun bertanya.

“Cukup menyenangkan. Bagaimana dengan persiapan konser grupmu?” jawab Taeyeon dan memberikan pertanyaan balik.

“Datang di pagi hari dan kembali pulang di malam hari. Hingga aku tak sempat untuk menemui kekasihku yang cantik ini.” selalu jujur Baekhyun mengatakannya.

Tangan kiri Taeyeon yang bebas mencubit pipi Baekhyun dengan gemas. “Jangan lupa untuk selalu menghabiskan makananmu, minum air putih sebanyak mungkin, vitamin untuk menjaga tubuhmu dan tidur dengan cukup.”

Pria itu mengangguk patuh. Baekhyun baru mengingat sebuah pesan yang dititipkan oleh wanita yang melahirkannya ke dunia ini saat ia pulang ke rumah orang tuanya beberapa hari yang lalu. “Ada salam dari ibuku. Nenek bahkan selalu menunggu kehadiranmu lagi di rumah.”

“Bagaimana kabar mereka? Sudah lama sekali aku tak mengunjungi rumah nenekmu lagi.”

“Mereka baik dan mereka merindukan calon menantu keluarga Byun yang cantik didepanku ini.”

Taeyeon memanggilnya pelan. “Baekhyun-a.”

“Aku mengerti. Tunggu setelah bulan ini berakhir, kita akan mengunjungi rumah nenek, dan mengunjungi rumah orang tuamu.” jawab Baekhyun kemudian mencium kening Taeyeon membuat gadis itu merona seketika.

Permukaan lembut milik pria tampan itu terasa hangat di kening Taeyeon. “Empat menit.” seru Taeyeon terdengar membuat Baekhyun menjauhkan bibirnya dari kening gadis itu.

Baekhyun berujar setelah pandangan mereka kembali bertemu. “Aku masih punya waktu sekitar sepuluh menit lagi.”

“Jaewoon oppa mengizinkanmu keluar latihan?” tanya Taeyeon dengan kening mengerut.

Baekhyun mengangguk cepat. “Aku meminta izin pada hyung hanya untuk melihatmu dan ia mengizinkan.”

“Sampaikan terima kasihku padanya.” sela Taeyeon setelahnya.

“Untuk apa?”

Taeyeon menggeleng. Ia tahu, pelatih dance di agensi besar itu selalu memberinya peluang waktu hanya sekedar untuk bertemu dengan seseorang. Yah, seperti Baekhyun sekarang ini.

Pria itu menggenggam tangan Taeyeon dengan pandangan mata yang lekat. “Hubungi aku setelah kau tiba di drom.”

Taeyeon menganggukkan kepalanya. “Kau bahkan masih berlatih.”

Baekhyun menatap jam dinding yang tergantung di ruangan. Pukul 20.30. “Waktu latihan kami hanya sampai pukul sembilan untuk hari ini. Jika waktuku yang sepuluh menit habis dan masih tersisa dua puluh menit lagi, bisa dipastikan bertepatan dengan noona sampai di drom.”

“Tapi aku akan pergi makan malam bersama teman-temanku dulu.” sela Taeyeon mengingat ajakan Sunny tadi.

“Baiklah.” Baekhyun mengangguk menyetujui. “Bolehkah aku memelukmu?”

Tanpa menunggu jawaban Taeyeon, Baekhyun menarik bahu Taeyeon kemudian memeluknya erat. Melingkarkan kedua lengan kekarnya ditubuh mungil Taeyeon. Gadis itu membalasnya, memeluk erat leher kekasihnya.

“Setelah makan malammu selesai, bisakah kita bertemu?” Baekhyun bertanya disela pelukan mereka yang masih berlangsung.

Baekhyun bisa merasakan gadisnya menggelengkan kepala. “Tidak. Jadwal latihanmu besok sangatlah padat.” ucap Taeyeon.

Noona..”

“Lima setengah menit.” Taeyeon tersenyum sambil mengeratkan pelukannya. “Aku tak akan bertanggung jawab jika Jaewon oppa memarahimu. Tapi..”

Baekhyun dengan was-was menunggu kelanjutan ujaran kekasihnya.

“Baiklah. Hanya untuk malam ini saja.” lanjutnya membuat Baekhyun mengangguk semangat.

“Aku akan menjemputmu.”

Taeyeon mengangguk menyetujui apa yang dikatakan Baekhyun.

“Dan aku akan menunggumu di depan drom.”

Taeyeon mengangguk lagi tanpa berujar. Hingga pelukan mereka perlahan terlepas dengan sendirinya.

“Terima kasih.” ujar Baekhyun.

Untuk sekian kalinya Taeyeon mengangguk. Ia tersenyum. Taeyeon paling tidak bisa jika ia tak tersenyum didepan Baekhyun.

Baekhyun menghirup nafas kuat. “Aku akan menciummu.” Pernyataan itu meluncur dengan lancar keluar dari mulut Baekhyun.

Sebelum Taeyeon menjawab, Baekhyun telah memiringkan kepala mendekati wajahnya. Tanpa menunggu lagi, mata gadis itu terpejam saat permukaan bibir mereka bertemu.

Dengan perlahan, Baekhyun menekan bibirnya selama beberapa detik. Perlahan menariknya menjauh kemudian menyatukan bibir mereka kembali karena gadis itu belum meresponnya.

Hingga akhirnya, Taeyeon membalas ciuman Baekhyun dengan mencoba membuka sedikit celah di mulutnya. Cukup lama ciuman itu berlangsung, Baekhyun bahkan kini tengah memasukkan lidah pada mulut ringan kekasihnya, membiarkan menari dan saling beradu.

Sadar atau tidak, tangan Taeyeon sudah menyampir di kepala belakang Baekhyun seolah menginginkan ciuman yang lebih dalam lagi. Pria itu membalasnya dengan merangkul erat bahu gadisnya. Membiarkan jarak mereka terhapus.

Setelah beberapa menit kemudian, Taeyeon mulai menjauhkan tangannya dari kepala Baekhyun dan mendorong dada pria itu dengan pelan. “Waktumu habis.” Taeyeon melepas rangkulan tangan Baekhyun di bahunya. Ia kemudian meraih minuman, coat, tas dan ponselnya yang berada di meja.

Keduanya saling menghirup oksigen dengan rakus akibat ciuman panjang yang menguras habis nafas mereka.

“Rapikan rambutmu, Byun.”

“Salahkan tangan noona yang mengacaknya.” canda Baekhyun membuat pipi Taeyeon memerah. “Berterima kasihlah pada sweatermu, noona. Jika kau mengenakan kemeja, mungkin aku akan membukanya lagi seperti kejadian di sungai Han beberapa waktu lalu.” tambahnya.

“Byun Baekhyun-ah.” Ia memukul pelan lengan Baekhyun. Mungkin Taeyeon tengah malu.

Baekhyun menangkap tangan gadis itu kemudian menggenggamnya erat. “Aku hanya bercanda, chagiya.”

Taeyeon mendengus. “Kurasa aku harus mencari alasan yang masuk akal untuk menjelaskan hal ini pada teman-temanku.” ujarnya saat melihat ponselnya berbunyi dan yang menghubunginya adalah Tiffany.

“Katakan saja jika aku menculikmu selama lebih dari tujuh menit ini.” ucap Baekhyun kemudian memeluk gadisnya.

“Baiklah, dear. Ini memang salahmu.” balas Taeyeon setelah pelukan singkat mereka terlepas.

“Hubungi aku.” Baekhyun mengingatkannya lagi.

Taeyeon mengangguk dan mulai berjalan mendekati pintu.

“Tunggu aku di drom mu.” teriak Baekhyun saat Taeyeon keluar dan melambaikan tangan tanpa berbalik menghadapnya.

Itu kalimat terakhir Baekhyun saat Taeyeon mengambil langkah menuju lobby gedung itu untuk menemui teman-temannya.

***

Taeyeon’s Room, 2015-03-03

Malam itu, Taeyeon baru saja menyibakkan selimut untuk membukus tubuhnya dari suhu dingin. Besok ia harus pergi. Penerbangan pertama dan membuat ia harus mau tidak mau tidur lebih awal.

Satu jam yang lalu manager wanita mereka, sebut saja Minjin datang dan memberitahukan jadwal keberangkatan mereka, girl grup
Girls’ Generation besok menuju Jepang. Untuk mempersiapkan single terbaru yang akan di rilis pada bulan April mendatang.

Matanya hendak terpejam, namun kembali terbangun saat mendengar deru getar suara ponselnya. Seseorang tengah menghubunginya. Ia meraih ponsel dan mendapati sebuah nama yang tak asing.

‘My Baekoong Calling….’

Yeobseo?” seru Taeyeon setelah ia menggeserkan layar ponsel ke arah kanan kemudian mendekatkannya ke telinga.

Chagia..” suara seorang pria diseberang sana menyambutnya dengan semangat.

Nde? Ada apa Baekhyun-a?”

Baekhyun menjeda selama beberapa detik sebelum menjawab. “Aku berada didepan drommu.”

Mwo?” teriak Taeyeon seraya bangkit dari posisi berbaringnya.

Baekhyun kembali bersuara. “Keluarlah chagiya. Kau tak tahu, tubuhku membeku kedinginan berdiam disini melihat kamarmu yang telah gelap gulita.”

Taeyeon beranjak dari ranjang. Memakai sendal rumahan dan jaket tebal untuk menghindarinya dari angin malam yang akan menusuk kulit. “Tunggu sebentar, aku akan menemuimu.”

Palli.” ujar Baekhyun sebelum Taeyeon memutuskan panggilannya secara sepihak.

Gadis itu keluar dari kamarnya dengan langkah cepat. Baekhyun memang selalu penuh kejutan. Tanpa memberitahu dan akan datang dengan sendirinya.

Saat sudah membuka pintu utama, ia bisa melihat seorang pria tengah melambaikan tangan ke arahnya. Taeyeon tersenyum sekilas sebelum menghampiri lelaki bermarga Byun itu.

“Apa aku mengganggu tidurmu?” tanya Baekhyun setelah mereka berhadapan.

Taeyeon mengangguk memberikan jawaban. Baekhyun tak berbohong, buktinya saja saat pria itu bersuara ia bisa melihat kepulan asap yang keluar dari mulutnya. “Sudah berapa lama kau berdiri disini?”

Baekhyun berpikir sebelum menjawab. “Dua jam yang lalu.”

Taeyeon berdecak sebal meskipun dalam hatinya merasa khawatir. Jadi, selama dua jam ini Baekhyun tengah menunggu di depan dromnya. Astaga, anak itu benar-benar membuatnya menjadi resah. “Kau terlihat tengah berbohong.”

“Aku bahkan tadi melihat Minjin noona bersama Sookyung noona keluar dari drom ini.” ujar Baekhyun dengan raut wajah cukup serius.

Hampir saja Taeyeon tak mempercayai pria itu. Tapi, bukankah Baekhyun tak pernah berbohong. Dan itu merupakan satu point plus yang diberikan Taeyeon padanya. “Baiklah. Aku mempercayaimu, Baekhyun- a.”

“Tentu kau harus mempercayaiku, chagi.”

Taeyeon memperhatikan wajah Baekhyun secara seksama. Ia tahu pria itu tak menghubunginya selama seharian ini karena sibuk dengan persiapan konser kedua bersama grupnya. “Kau tampak kelelahan, dear.” ujarnya seraya mengusap pipi Baekhyun yang terasa dingin.

Baekhyun menahan tangan Taeyeon yang berada dipipinya. Pipi dinginnya mulai terasa hangat karena telapak tangan Taeyeon. “Tidak setelah bertemu denganmu.”

Hey.” Ia berteriak merona kemudian memeluk tubuh Baekhyun dengan sebelah tangannya. Menyembunyikan rona merah yang melanda dipipinya. Menarik tangan yang berada di pipi pria itu untuk ia gunakan memeluk seluruh tubuh Baekhyun.

“Aku benar ‘kan, moodku semakin membaik setelah bertemu denganmu.” Baekhyun membalas pelukan Taeyeon lebih erat.

Baik untuk Taeyeon maupun Baekhyun, keduanya saling berbagi kehangatan di malam dingin itu. Tak peduli mereka tengah berada dimana dan melakukan apa, yang jelas hal ini adalah yang mereka inginkan.

“Serarusnya kau beristirahat saja.” ujar Taeyeon pelan.

Baekhyun menggeleng. “Tidak. Kekasihku besok akan pergi ke Jepang, tentu aku harus bertemu dengannya dulu.”

“Dua hari lalu bahkan kita sudah bertemu.” jelas Taeyeon memberi pengertian.

Pria itu merenggangkan pelukannya hanya untuk menatap wajah cantik gadisnya. “Sebelum pergi, kau tak ingin bertemu denganku terlebih dulu?”

Taeyeon kembali memeluk Baekhyun. “Bukan begitu Byun. Kau harus menjaga kesehatanmu. Jadwalmu sekarang bahkan lebih padat dibandingkan denganku. Jangan terlalu memaksakan egomu hanya untuk bertemu denganku. Bukankah malam itu aku juga telah memberitahumu, kesehatanmu lebih penting dari apapun itu.”

“Baiklah, aku kalah olehmu noona.” ujar Baekhyun terdengar mengalah dan memberi kecupan singkat di lehernya.

Taeyeon melepas pelukannya. “Pulang dan beristirahatlah.”

“Lima menit lagi.”

“Byun Baekhyun.” panggil Taeyeon untuk menolak keinginan Baekhyun. Kemudian pria itu mengangguk patuh yang dihadiahi sebuah kecupan lembut di pipi kirinya.

“Setelah tiba di drom, hubungi aku.” pinta Taeyeon setelah ia menjauh dari pipi Baekhyun.

Pria itu tersenyum. “Aku akan sangat merindukanmu.”

“Aku juga Byun.” Taeyeon menganggukkan kepala. “Semangat untuk konsermu. Fighting.” Gadis itu menyemangati dan mengepalkan tangannya di udara.

Baekhyun mengangguk. “Semangat untuk persiapan lagu jepang grupmu dan juga part– ” tiba-tiba saja Baekhyun menghentikan ucapannya. Hampir saja ia menyebutkan sebuah acara khusus yang memang sengaja dipersiapkan oleh agensi mereka untuk ulang tahun kekasihnya.

Nde?”

Suara tawa Baekhyun mengalihkan perhatian Taeyeon. Baekhyun harus berpura-pura jika ia sama sekali tak mengetahui acara itu. Apalagi, dengan jadwal dihari yang sama dimana ia juga tengah melakukan konser untuk hari kedua. “Tidak, noona. Aku akan pergi sekarang.”

Taeyeon mengangguk. “Hati-hati dan selamat malam.”

Sekali lagi Baekhyun tersenyum. Ia melangkah meninggalkan gadis itu. Dan Taeyeon memperhatikan langkah prianya. Baru beberapa detik pria itu melangkah, ia kembali berbalik menghadap gadisnya membuat Taeyeon mengerutkan kening.

“Aku melupakan sesuatu.”

Kening Taeyeon semakin mengerut tak mengerti. Sebuah kecupan di bibirnya membuat ia terkejut dan ia baru menyadarinya.

“Aku melupakan ini.” ujar Baekhyun kemudian mengecup beberapa kali bibir gadisnya. Menyatukan bibir mereka selama beberapa detik. Melepas kemudian mengecupnya.

“Tidurlah. Jangan menunggu panggilan dariku. Tentu aku akan menghubungimu, tapi lebih baik kau tidur saja.”

Taeyeon mengangguk. “Aku mengerti. Aku mencintaimu, Byun Baekhyun.”

“Aku juga sangat mencintaimu, Kim Taeyeon. Aku pergi.” sahut Baekhyun lalu meninggalkan gadisnya. Ia berbalik kemudian melambaikan tangannya.

Hingga malam ini berakhir dengan senyuman yang mengembang di raut wajah kedua manusia yang saling mencintai itu.

***

EXO’s Drom, 2015-03-05

Ruangan minimalis itu terlihat sangat gelap gulita seperti tak berpenghuni saja. Padahal diluar sana matahari telah menunjukkan sinarnya di awan biru. Suara burung bahkan sudah terdengar saling menyahut.

Pintu terbuka kasar seolah orang yang membuka pintu itu tengah dilanda kepanikan, kemarahan atau apapun itu. Terlihat seorang pria tinggi beranjak mendekati salah satu ranjang dimana ada seseorang lagi yang tengah menikmati tidur nyenyaknya.

Yak hyung..” suara Jongin, nama pria tadi yang membuka pintu terdengar menggema di ruang gelap itu. Berteriak dengan sebelah tangan membuka helaian gorden lembut agar matahari masuk dan menyalurkan sinar terangnya melalui celah jendela.

Hyung..” teriak Jongin pada pria yang masih tertidur pulas untuk yang kedua kali.

Baekhyun, pria itu mengerang pelan. “Mwoya, Jongin-ah? Tak usah menganggu tidurku. Jika manager datang untuk membangunkanku, aku tak peduli. Salahkan siapa yang membuatku baru tertidur jam tiga pagi.”

“Astaga hyung, ini lebih darurat dibanding kedatangan manager hyung.” Jongin merotasikan bola mata saat Baekhyun lebih memilih menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. “Kau tak akan percaya ini, hyung. Ku mohon bangunlah.”

“Aku malas.” jawab Baekhyun dengan suara pelan antara sadar ataupun tidak sadar.

“Kau serius hyung?”

Baekhyun mengangguk tanpa Jongin bisa melihatnya. “Tolong tutupi gordennya, Kim Jongin. Aku masih ingin menikmati tidur nyenyakku.”

Jongin memberenggut kesal. Ia menutup gorden yang tadi dibukanya membuat ruangan itu gelap kembali. “Demi apapun hyung, kau serius tak ingin melihat Taeyeon noona?”

Baekhyun menegakkan tubuh saat mendengar nama kekasihnya disebut oleh Jongin. Kim Jongin berdecak sebal. Jika sudah mengenai Taeyeon, hyung-nya yang satu ini pasti akan begitu cepat memberikan tanggapan. Seharusnya ia tak perlu berteriak dari awal. Menyia-nyiakan suara sexynya untuk membangunkan manusia malas bernama lengkap Byun Baekhyun itu. Mengapa tidak dari tadi saja, dasar Kim Jongin bodoh.

Baekhyun menatap Jongin dengan pandangan penasaran. Antara percaya dan tidak. “Nae Taengoo ada di tempat ini?” Ia memutuskan untuk bertanya.

Jongin mengangguk. Ia memang sengaja mengerjai pria itu. Lihatlah bahkan senyuman liciknya sudah menghiasi bibir Jongin. Menyebalkan.

“Mengapa kau tak bilang dari tadi, Jongin.” teriak Baekhyun dengan suara lantang. Ia segera beranjak berdiri, melangkah menuju kaca besar yang memantulkan dirinya. Sungguh, penampilan bangun tidurnya, sangat berantakan sekali. “Tidak. Dia tidak boleh melihatku dengan keadaan seperti ini.” ujarnya panik kemudian hendak melangkah menuju kamar mandi.

Jongin hampir saja meledak menahan tawanya. Ia paling suka mengerjai Baekhyun. Melihat wajah panik dan gugup pria itu adalah salah satu favorit Jongin. Bukan berarti Jongin tak menyukai Baekhyun, hanya saja ia mendapatkan kesenangan sendiri melihat raut Baekhyun yang seperti itu.

“Tidak hyung.” sergah Jongin saat Baekhyun melewatinya.

Kening Baekhyun mengerut, membuat Jongin melanjutkan kalimatnya. “Kau harus lihat ini.” ujarnya seraya menyodorkan ponsel miliknya.

“Apa yang harus ku lihat sementara kekasihku ada disini.” Baekhyun meraih ponsel itu masih dengan pandangan tak mengerti. Keningnya semakin mengerut.

“Tidak hyung, maaf sudah berbohong padamu mengenai Taeyeon noona. Tapi aku bersungguh, ini masih ada kaitannya dengan Taeyeon noona.” jelas Jongin seraya merebut benda ditangan Baekhyun lalu mulai membuka sesuatu yang berada di ponselnya.

Ah, Baekhyun baru mengingat sesuatu. Gadisnya itu kini masih berada di jepang, sedang mempersiapkan single terbaru bersama grupnya sendiri. Sangat mustahil sekali jika Taeyeon sekarang tengah berada di dromnya di pagi ini.

“Apa Taeyeon noona pernah memberitahumu mengenai photoshoot dirinya untuk salah satu majalah?”

Baekhyun mengangguk lalu beralih menatap Jongin bingung. “Satu minggu yang lalu, ia memberitahukannya. Memangnya ada apa, Jongin? Apa majalah itu sudah di rilis? Cepat katakan, aku harus melihat wajah cantiknya.”

Jongin masih sibuk dengan ponselnya tanpa menjawab pertanyaan Baekhyun dan ia malah memberikan pertanyaan lagi. “Apa ia mengatakan tema yang digunakan untuk photoshoot majalahnya?”

Kepala Baekhyun menggeleng. “Yak, Kim Jongin. Katakan, apa majalahnya sudah rilis?”

“Iya, baru beberapa gambar yang dirilis hari ini di internet. Kau harus melihat ini, hyung.” Jawab Jongin setelah ia menemukan tiga gambar yang sedari ia cari.

“Apa temanya kembali cute seperti yang biasa ia lakukan? Oh ayolah, aku sungguh tak sabar melihat wajah manisnya.” Suara Baekhyun terdengar nyaring dengan raut wajah yang ia tunjukkan sangat antusias.

Jongin menyeringai. Lalu memperlihatkan tiga buah gambar yang membuat Baekhyun menyipitkan matanya. Pria itu merebut ponsel Jongin cepat. Membuka salah satu gambar dan disana muncul wajah kekasihnya yang cantik dengan pose


Mata Baekhyun berkedip selama beberapa kali. Memastikan jika gadis yang berada dalam gambar itu benar-benar kekasihnya. Ini terlalu sexy dan sangat jauh sekali dengan image polos Taeyeon. ‘Byun Baekhyun kau harus mengontrol dirimu.’ pekik Baekhyun tertahan didalam hati.

Pria disampingnya menyeringai melihat raut shock yang ditunjukkan Baekhyun. “Masih ada dua gambar lagi, hyung.” Jongin berucap seraya menggeserkan layar tipis itu untuk melihat gambar yang lainnya.


Kepala Jongin menggeleng melihat bagaimana Baekhyun sekarang. ‘Apa hyung-nya yang aneh ini baru pertama kali melihat pose gadis dengan kesan sexy? Dasar Byun Baekhyun.’ “Ada satu lagi yang pasti akan membuatmu kehilangan kontrol, hyung.” Jongin bersuara.


Setelah Jongin menggeser untuk memperlihatkan gambar yang terakhir, senyuman menyeringainya semakin mengembang. Oh ayolah, siapa yang tidak tergoda pada gadis itu? Image polos berubah menjadi sexy yang terlihat natural? Jongin pun pasti tergoda.

Mulut Baekhyun menganga. Matanya tak berkedip selama beberapa detik melihat bagaimana kemolekan tubuh gadisnya. Sementara Baekhyun terfokus melihatnya, otak Jongin malah sudah membayangkan sesuatu yang ia tengah lakukan dengan gadis di gambar itu.

Astaga, Kim Jongin. Apa gadis di gambar ini benar-benar kekasihku? Kim Taeyeon noona gadisku. Jongin, katakan.. Kim Jongin katakan.” Baekhyun berujar berturut-turut meminta jawaban.

Jongin hampir saja melupakan satu fakta ini. Ia memukul kepalanya sendiri, bagaimana pikiran bodoh itu sempat terlintas dalam otaknya. Jika ia tak sadar mengucapkan sesuatu yang aneh dengan apa yang ia pikirkan, orang yang mendengarkannya pasti akan sangat membenci dirinya.

Jongin menatap Baekhyun dengan pandangan meminta maaf. Sungguh, ia benar-benar tak bermaksud untuk membayangkan sesuatu yang aneh tadi bersama Kim Taeyeon dalam imajinasi negatifnya. “Itu benar-benar Taeyeon noona, hyung. Kekasihmu, gadismu, milikmu atau apapun itu. Bukankah sangat mengejutkan dengan image barunya?”

Baekhyun mengangguk tanpa beralih pada gambar terakhir yang ia lihat. “Bagaimana ini, Jongin? Fanboy nya akan semakin menggila jika sudah seperti ini.” suara Baekhyun terdengar gusar.

“Kau harus memberinya hukuman, hyung.” ujar Jongin dengan tampang menyeringai. Terlihat sekali, jika ia sudah merasa sedikit tenang. Untung saja, Baekhyun tak terlalu memperhatikan bagaimana raut wajahnya tadi.

Baekhyun beralih menatap Jongin heran. “Hukuman?”

“Iya. Hukuman.” tambah Jongin dengan alis yang sengaja ia naik turunkan.

Selanjutnya, Baekhyun meraih ponsel untuk menghubungi kekasihnya. Tapi sebelum itu terjadi, Jongin terlebih dahulu mencegah dengan bersuara. “Jangan sekarang, hyung. Tunggu setelah Taengoo noona kembali ke korea. Jika bisa saat dimana hari ulang tahunnya.”

Baekhyun mengangguk, sedetik kemudian ia baru mencerna apa yang diucapkan Jongin tadi dan ia memutuskan untuk bertanya. “Aku sama sekali tak mengerti dengan hukuman yang kau maksud, Jongin-ah.”

Jongin kembali memperlihatkan seringaian anehnya sebelum mulutnya berbisik di telinga Baekhyun.

 

 

‘Tidurlah dengannya.’

***

Girls’ Generation Drom, 2015-03-08

Taeyeon baru saja datang bersama dua orang lainnya memasuki rumah itu. Ia menyampirkan jaket hangat berwarna biru di kursi samping yang didudukinya. Menyisakan rok pendek berwarna pink pastel dengan atasan sebuah tshirt putih.

Entah sudah berapa puluh kali ia menatap layar ponsel dengan pandangan sendu. Berkali-kali menghela nafas dengan kasar, seperti tengah menunggu kehadiran seseorang yang sangat penting dalam hidupnya.

Selain keluarga dan teman dekat tentu saja. Siapa lagi jika bukan yang ia tunggui adalah kekasihnya.

Taeyeon masih setia menunggu kabar dari pria itu yang seharian ini tak terlihat batang hidung maupun terdengar suara lembutnya. Sudah terhitung dua hari ini dan ia merasa cemas.

‘Pria itu pasti tengah beristirahat.

Hampir saja Taeyeon melupakan sesuatu. Byun Baekhyun, kekasihnya itu juga mempunyai acara yang sangat penting bersama grupnya. Jangan bersikap egois seperti ini, Kim Taeyeon. Ia memejamkan mata sesaat kemudian beralih pada tumpukan hadiah-hadiah yang kini menjadi pusat perhatiannya. Kotak-kotak berjumlah lebih dari ratusan yang ia peroleh dari pemberian penggemar.

Hari ini, ia baru saja menyelesaikan ‘Birthday Party’ yang sengaja diadakan oleh agensi yang menaunginya selama ini. Meskipun tak bertepatan dengan tanggal dimana ia dilahirkan, tapi ia tetap menikmatinya. Taeyeon merasa bersyukur bagaimana bentuk perhatian yang selalu ia dapatkan dari orang-orang yang masih mempercayai dirinya selama ini.

Ia bahagia, sangat bahagia bisa berbagi kebahagiaan bersama penggemar setianya tadi. Cukup berdoa agar selalu menjadi yang lebih baik. Itu sudah cukup untuknya.

“Taengoo-ah, eonnie akan meletakkan semua hadiah ini di kamarmu.” suara Minjin mengintrupsi pikiran kosong Taeyeon.

Gadis itu menoleh dan menganggukkan kepala pada manager eonnie yang selalu berpenampilan tomboy dengan kaca matanya itu.

Matanya berulang kali menatap wanita itu dengan tumpukan kado yang ia bawa berbolak-balik menuju kamarnya. Hingga tumpukan kado itu tersisa hanya beberapa disamping kursi ruang yang masih diduduki Taeyeon.

“Kurasa kau harus tidur di kamar lain saja. Kamar tidurmu bahkan tak muat untuk menampung semua kado pemberian penggemarmu.” Minjin memberikan saran pada Taeyeon saat melihat bagaimana penuh sesaknya kamar Taeyeon dengan hadiah.

Gadis itu tersenyum singkat. “Tidak apa-apa eonnie. Aku akan tidur di kamarku saja.”

“Baiklah, jika begitu aku akan pamit pulang. Kau tak apa, tidur sendirian malam ini?” tanya Minjin, merasa khawatir.

Taeyeon mengangguk. “Tak apa. Tiffany lebih memilih tidur di rumah Seohyun setelah acara tadi berakhir. Bukankah itu menyebalkan sekali?” gerutu Taeyeon dengan bibir yang mengerucut lucu.

Minjin hanya tertawa melihat artisnya. Selalu saja Taeyeon tidak akan mengeluh dan terlebih menyembunyikan perasaannya. Sedetik kemudian, wanita berkaca mata itu menyadari jika Taeyeon hanya berpura-pura saja.

“Baekhyun belum menghubungimu?” Minjin bertanya dengan hati-hati.

Ingin rasanya Taeyeon menangis saat wanita itu menyebutkan sebuah nama yang ia tunggui kehadirannya seharian ini. Pria yang sangat ia rindukan. Byun Baekhyun.

Tanpa menyahut, Taeyeon menggeleng lemah.

“Mungkin ia sudah beristirahat.” ujar wanita itu lalu kembali bersuara. “Baekhyun pasti akan menghubungimu.” tambahnya.

Taeyeon kembali tak bersuara dan ia lebih memilih tersenyum pada managernya itu. “Jangan lupa untuk acara besok bersama teman-temanmu. Aku pergi.” Kim Minjin berujar seraya melambaikan tangannya.

“Terima kasih dan hati-hati, eonnie.” Hanya itu kalimat yang keluar dari mulut Taeyeon saat Minjin menghilang dibalik pintu bersama salah satu manager lain.

Kembali Taeyeon menghela nafas panjang. Ia mengingatkan pada dirinya sendiri, jika ia besok mempunyai acara yang khusus juga. Setelah tadi bersama penggermarnya, mungkin besok adalah waktu bersama teman-temannya. Merayakan hari dimana ia terlahir ke dunia.

Taeyeon beranjak hendak menuju kamarnya. Tapi baru satu langkah, tiba-tiba saja lampu di ruangan itu padam. Pandangan Taeyeon menjadi gelap dan ia tak bisa melihat apa-apa.

Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Taeyeon. Bel pasti tak akan berbunyi akibat listrik yang mati. Kening Taeyeon mengerut, tak biasanya terjadi pemadaman mendadak. Selalu ada pemberitahuan di awal jika akan terjadi pemadaman.

“Minjin eonnie, itukah kau?” tanya Taeyeon dengan suara tinggi.

Tak ada sahutan di luar sana. Taeyeon mencoba berfikir positif. Tak mungkin ada orang yang akan menjahilinya. Tempat ini terletak disalah satu distrik yang selalu menjaga keamanan dan kenyamanannya.

Tak ada waktu untuk mencari pengcahayaan. Suara ketukan pintu kembali terdengar membuat ia memberanikan diri untuk membukanya. Cukup menggunakan cahaya ponsel yang menuntun jalannya hingga sampai ia membuka pintu.

Nuguya?” ia bertanya dengan suara was-was.

Gelap. Tak ada seorangpun disana.

Jika itu Minjin, mungkin wanita itu akan membalas pertanyaannya. Bahkan cahaya ponsel tak membuat ia melihat lebih jelas depan pintu rumah itu.

Cukup beberapa detik Taeyeon menunggu disana. Seharusnya ia tadi lebih mengabaikannya saja. Ia memutuskan berbalik dan masuk ke dromnya lagi. Saat ia akan menarik untuk menutup pintu, tiba-tiba saja…

‘Saengil chuka hamnida’

Terdengar suara seseorang yang bernyanyi dibelakangnya.

‘Saengil chuka hamnida’

Suara itu membuat Taeyeon berbalik. Cahaya dari ponselnya bahkan sudah tak menyala.

‘Saranghaneun uri Taeyeonie’

Taeyeon tahu betul suara siapa yang bernyanyi lagu ulang tahun tersebut.

‘Saengil chuka hamnida’

Tepat saat lagu itu berakhir, lampu disetiap ruangan menyala dan memperlihatkan wajah tampan Byun Baekhyun saat ini. Sangat tampan. Bahkan Taeyeon masih belum mempercayai jika pria didepannya itu benar-benar orang yang ia tunggui sedari tadi.

Hai.” ujarnya dengan tersenyum sangat manis.

Taeyeon terdiam membisu tanpa menyahut sapaan pria yang ia rindukan. Ia masih memperhatikan raut wajah bahagia Baekhyun dengan seksama. Lalu beberapa detik kemudian, gadis itu mulai menghambur dalam pelukan hangat Baekhyun

Pria itu menyambut pelukannya dengan sebelah tangan meraih pinggang gadisnya. “Selamat ulang tahun nona Kim, kekasihku.”

Taeyeon tersenyum bahagia dengan pelukan Baekhyun yang semakin erat. “Aku merindukanmu.” adu Taeyeon dengan suara pelan.

Hey, aku lebih merindukanmu. Dua hari tak melihat wajahmu dan mendengar suaramu benar-benar membuatku seperti mati rasa.” balas Baekhyun dengan ucapannya.

Taeyeon melepaskan dekapannya kemudian menatap mata Baekhyun dalam. “Terima kasih telah merindukanku.”

Pria itu meraih tangan Taeyeon kemudian menggenggamnya dengan erat. “Kau tak mempersilakan aku untuk masuk?”

Gadis disampingnya tersenyum sekilas. “Masuklah.” jawab Taeyeon seraya menarik tangan Baekhyun untuk mengikutinya.

“Untukmu.” ujar Baekhyun dengan mengulurkan sebuklet bunga mawar putih saat mereka sudah duduk di kursi yang Taeyeon duduki tadi.

“Terima kasih.” ucap Taeyeon lalu menghirup bunga itu sekilas. Ia menyimpan di meja samping dekat ponselnya. “Tunggu sebentar, aku akan menyiapkan minum untukmu dulu.” Taeyeon beranjak namun Baekhyun menahan lengan kekasihnya.

“Aku sama sekali tak kehausan. Tapi aku hanya haus akan dirimu.” ujar Baekhyun seraya menarik tubuh Taeyeon hingga terduduk dipangkuannya.

Taeyeon terperanjat kaget lalu mencubit lengan Baekhyun. “Kita baru bertemu dan kau sudah seperti ini.”

“Berikan aku sesuatu untuk membalas dengan apa yang aku lakukan untukmu.” pinta Baekhyun membuat kening Taeyeon mengerut. Selang beberapa detik kemudian, ia menyahuti. “Kau bahkan tak membawakan kue tart.” Membuat Baekhyun memukul keningnya sendiri. Ia benar-benar lupa akan itu. Taeyeon yang melihatnya hanya tersenyum geli. “Terima kasih atas nyanyian merdu dan kedatanganmu yang selalu mendadak.”

Baekhyun mengangguk kemudian bersuara. “Biarkan aku menciummu, baby.”

“Tidak biasanya kau meminta izin padaku dulu.” ujar Taeyeon dan ia bisa melihat raut perubahan wajah Baekhyun akan jawaban yang ia ucapkan.

Tanpa mempermasalahkan itu, Baekhyun mendekatkan wajahnya ke arah Taeyeon. Merangkul tubuh Taeyeon dan gadis itu bisa merasakan hangat bibir Baekhyun diatas bibirnya.

Cukup ciuman singkat untuk awal pertemuan mereka malam ini. Saling memberi kecupan satu sama lain tanpa sebuah pemaksaan. Ciuman lembut yang terlihat saling membalas untuk menyalurkan rasa cinta keduanya.

Taeyeon melepaskan bibirnya karena ia merasa membutuhkan oksigen untuk bernafas. Ia menjauh dan beralih duduk disamping Baekhyun. Tangan pria itu dengan lembut menarik kepala Taeyeon, hingga gadis itu menyandarkan kepala di bahu prianya, sementara Baekhyun merangkul pundak gadisnya.

“Taeyeon noona?” Baekhyun memanggilnya.

Gadis itu menyahut dengan sebuah dehaman singkat. “Hmm.” Taeyeon bisa merasakan Baekhyun mencium puncak kepalanya sekarang.

Pria itu kembali memanggil nama gadis itu dengan panggilannya. “Taeng noona..”

Nde..” jawab Taeyeon pelan.

“Kim Taeyeon.”

Taeyeon memutar bola matanya. Tak mengerti maksud panggilan terus menerus yang diucapkan Baekhyun. “Wae?”

“Byun Taeyeon..” goda Baekhyun dengan panggilan yang kali ini lumayan cukup cepat.

Pada akhirnya Taeyeon bersuara cukup lantang. “Ada apa Byun Baekhyun?” teriaknya yang membuat Baekhyun tertawa. Kepala Taeyeon menjauh dan ia menatap Baekhyun, bingung. “Hey, ada apa denganmu?” tanya Taeyeon heran.

Baekhyun menggeleng. “Tidak. Kurasa panggilan marga barumu sangat berpengaruh.”

“Marga baru? Tunggu.” Gadis itu terlihat tengah berpikir. Lalu mengingat panggilan terakhir yang membuat Baekhyun tertawa karenanya. “Yak, Byun Baekhyun.” gerutu Taeyeon kesal.

Kesenangan bagi pria itu adalah selalu menggoda kekasihnya. Entah itu memberi candaan atau sekedar menggoda dengan kata-kata yang membuat Taeyeon marah atau kesal. Tapi ia akan berhasil membuat Taeyeon memaafkannya. Entah ia yang sudah terbiasa atau memang Taeyeon yang terlalu mudah memaafkannya.

Kini bergilir Baekhyun menatap heran Taeyeon yang sudah berdiri. Kemudian menahan lengan gadis itu, menyuruhnya untuk duduk kembali disisinya. Taeyeon hanya pasrah namun masih menunjukkan wajah kesal tanpa mau bersuara. Baekhyun menggelengkan kepala seraya tersenyum. Matanya kemudian beralih pada jam yang tergantung di ruangan itu.

‘Sudah memasuki tanggal sembilan.’ Pria itu membatin dengan senyumannya.

Baekhyun kembali beralih menatap sendu gadis yang sangat ia cintai. Ia menatap gadis itu seraya menyatukan jemari lentik dengan tangan mungil gadisnya. Taeyeon tak menolak, justru ia membalas menggenggam jemari indah itu.

“Aku tidak akan melupakan tentang malam ini.” ujar Baekhyun lembut. Tanpa memisahkan genggaman tangan mereka yang menyatu, ia menggeser posisi tubuhnya hingga berjongkok dihadapan Taeyeon.

“Selamat ulang tahun.” ucap Baekhyun kemudian mengecup kening gadisnya. Setelah itu ia menjauh dari wajah Taeyeon dan hanya menyisakan jarak beberapa senti meter. “Apa aku menjadi orang pertama lagi untuk tahun ini?”

Taeyeon mengerjapkan mata seraya menggelengkan kepalanya, menandakan bahwa bukan pria yang berada didepannya ini orang pertama yang mengucapkan kalimat penuh makna itu. Tak seperti tahun kemarin.

Mian, aku terlambat.” sesal Baekhyun kemudian menundukkan kepala.

Taeyeon tersenyum memahami. “Gwaenchana.” hanya itu yang keluar dari mulutnya.

Kepala Baekhyun terangkat dan mempertemukan mata mereka kembali. “Aku akan selalu berada disampingmu. Sama sepertimu jika aku ulang tahun. Aku tidak pandai merangkai kata romatis atau memberikan hadiah-hadiah mahal seperti yang diberikan oleh penggemar mu. Tapi satu hal yang harus kau ingat, noona. Janjiku kepadamu. Untuk menjagamu, melindungimu dan selalu mencintaimu. Membuatmu tersenyum disetiap waktu adalah keinginanku. Kepercayaan yang telah kau berikan, dan aku sungguh berterima kasih. Noona telah mengizinkanku menjadi pria ke tiga yang sudah kau percaya setelah ayah dan kakak laki-lakimu. Satu lagi, aku hanya ingin kau tahu, hati ini selalu untukmu.” Baekhyun melepaskan genggaman tangan mereka kemudian meraih telapak tangan gadisnya dan menyentuhkannya di dada.

“Kau bisa merasakannya, noona? Ini hatiku, bagaimana perasaanku jika bersamamu.”

Ingin rasanya Taeyeon berteriak dan menangis. Telapak tangannya merasakan debaran kuat dalam tubuh prianya. Baekhyun tidak tahu saja, jika ia juga merasakan hal sama yang melanda jantungnya. Gadis itu merasa bahagia dan begitu beruntung. Ia benar-benar tak menyangka dengan ketulusan ujaran panjang kekasihnya itu. “Baekhyun-a.”

“Pegang janjiku yang ini. Aku akan selalu berada disini, disampingmu di setiap ulang tahunmu. Selamanya.” lanjut Baekhyun. Kemudian tangannya merogoh sesuatu yang berada di dalam saku jaketnya.

Kening gadis itu mengerut saat melihat Baekhyun mengeluarkan sebuah kotak berwarna hitam didalam jaketnya. “Maaf tak bisa memberimu sesuatu yang spesial, sesuatu yang berkesan untukmu malam ini.” suara Baekhyun terdengar penuh penyesalan.

Taeyeon menyentuh pipi pria itu seraya tersenyum. “Aku mengerti. Jangan membuatku menjadi gadis jahat yang tak mengerti dengan kesibukan padat kekasihnya.”

Sudut bibir Baekhyun tertarik keatas, ia tersenyum bangga. Kemudian mulai membuka kotak ukuran kecil tersebut. Lalu, meraih sebuah benda berkilat didalamnya. “Akan ku pakaikan ini untukmu.”

Baekhyun meraih tangan kanan Taeyeon setelah gadis itu mengangguk menyetujui. Memakaikan sebuah gelang berwarna silver yang terlihat sangat sederhana namun berkesan mewah jika dilihat secara bersamaan.

“Indah sekali.” sahut Taeyeon berbinar saat gelang itu sudah terpakai dipergelangan tangannya. Ia menarik leher Baekhyun lalu memeluknya. “Terima kasih.”

“Selamat ulang tahun. Ulang tahun kedua yang kita rayakan bersama setelah tahun lalu. Semoga tahun-tahun selanjutnya sampai selamanya ulang tahun mu dan ulang tahun ku akan kita rayakan bersama.” ucap Baekhyun dan membalas pelukannya.

Pelukan mereka masih berlangsung selama beberapa menit. Keduanya perlahan melepas pelukan hangat itu dan tersenyum bersamaan. Baekhyun kembali duduk disampingnya sementara Taeyeon beralih menatap jam yang menggantung tidak jauh di ruangan itu.

Pukul 01.30 pagi.

Mata Taeyeon membulat. “Sudah tengah malam. Pergi pulang dan beristirahatlah.”

Sorot pria itu membalas dengan tatapan heran. “Kau tega mengusirku, noona?” tanya Baekhyun dengan nada sedih.

“Kau baru menyelesaikan konser hari keduamu. Apa kau tak lelah? Masih ada tiga hari lagi di minggu ini konser grupmu yang akan berlangsung. Dan juga, tak ada siapapun disini. Hanya aku seorang.” jawab Taeyeon dan malah membuat raut wajah Baekhyun berubah drastis.

Baekhyun mengerling sejenak pada kekasihnya. Entah mengapa, bisikan Jongin tempo hari lalu malah terlintas dalam benaknya. Ia menghela nafas panjang. Menyiapkan beberapa hal yang harus Taeyeon setujui apapun alasannya. Alasan pertama Baekhyun. “Ini sudah tengah malam noona. Mana ada taksi di jam seperti ini.”

“Aku akan mengantarmu pulang ke drom mu.” Taeyeon masih bisa menimpalinya.

Baekhyun memikirkan alasan yang kedua. “Noona juga terlihat lelah. Tidak, aku tidak akan membiarkanmu mengantarku pulang.”

Taeyeon berpikir. “Kalau begitu, hubungi Tao ataupun Sehun untuk menjemputmu. Bukankah mereka di jam tengah malam seperti ini masih terjaga mata binarnya. Malah sibuk dengan mobil mewah mereka.”

“Mobil milik Tao tengah di service, dan mobil Sehun pun ada di rumah orang tuanya.” Bagus Byun Baekhyun. Itu jawaban yang sesuai dengan kenyataan.

Ah, kalau begitu kau bisa pulang pakai mobilku saja.” Taeyeon memberikan usul yang mana dibalas dengan kepala Baekhyun menggeleng tegas. “Nilai mengemudiku sangatlah buruk, noona. Jadi, biarkan aku menginap disini aja.”

“Apa? Tidak Byun. Tidak boleh.” teriak Taeyeon tak menyetujui.

“Mengapa? Bukankah noona mengatakan tak ada siapapun disini? Itu bagus. Tak akan ada yang mengganggu kita.”

Yak, Byun Baekhyun.” Taeyeon beranjak saat mendengar ucapan Baekhyun sebelumnya. Ini sungguh gila. Ia tak mau berakhir dengan permintaan aneh Baekhyun beberapa minggu yang lalu. Pipinya sontak memerah saat mengingat bagaimana keinginan pria itu untuk menyentuhnya. Taeyeon belum siap. Ia belum siap menyerahkan semuanya pada pria itu. Sekalipun jika yang memintanya adalah pria yang ia cintai.

Tubuh Taeyeon sontak menegang kala Baekhyun meraih tubuhnya untuk dipeluknya. Gadis itu memejamkan mata dengan debaran jantung yang sudah pasti akan terasa oleh Baekhyun.

“Jadi, bagaimana?” tanya Baekhyun saat merenggangkan pelukan mereka. Ia tersenyum manis dengan maksud tertentu. Sebut saja jika Baekhyun saat ini tengah berubah menjadi serigala yang siap menerkam mangsanya.

Taeyeon mendorong bahu Baekhyun hingga pelukan mereka terlepas. “Terserahmu saja.” Gadis itu beranjak berdiri.

Pria itu tersenyum penuh kemenangan. Bersabarlah. Tinggal satu langkah lagi, Byun Baekhyun. “Kemana perginya teman-temanmu, noona?” tanya Baekhyun seraya memperhatikan Taeyeon yang kini tengah mengambil dua botol cola di lemari pendingin. Kembali menghampiri Baekhyun dan menyimpan satu botol minuman soda itu di meja untuk Baekhyun.

“Hyoyeonie pergi ke apartementnya. Miyoung menginap di rumah Joohyun dan Sunkyu pulang ke rumahnya.” jawab Taeyeon sebelum meneguk minuman yang ia bawa tadi.

“Tumben sekali.” timpal Baekhyun dan ia ikut meminum miliknya sendiri.

Taeyeon kembali beranjak. Ia menghampiri nakas didekat televisi untuk mengambil sesuatu lagi. “Kau sudah melihat hasil photoshoot majalahku?”

Baekhyun memperhatikan gadis dengan balutan rok pendek berwarna pink pastel dan atasan tshirt putih itu. Hatinya menggebu saat Taeyeon bertanya mengenai sesuatu yang membuat ia beberapa hari ini ingin menyentuh gadisnya. Baekhyun berpura-pura mengangguk tak bersemangat. Membuat Taeyeon mengerutkan keningnya

“Kau tak suka?” tanya Taeyeon setelah ia duduk disamping Baekhyun dan mulai membuka halaman majalah dimana terdapat gamabarnya disana.

Baekhyun menggeleng tanpa Taeyeon melihatnya. “Wae?” tanya Taeyeon lagi dan malah sibuk memperhatikan pose berbaringnya. Taeyeon saja yang melakukan dan melihatnya sampai geli seperti itu. Bagaimana dengan keluarga, teman dekatnya, penggemar bahkan Baekhyun? Ia sama sekali tak ingin memikirkannya.

“Aku menyukainya. Sangat menyukainya. Hanya saja..” henti Baekhyun.

Taeyeon melirik sekilas Baekhyun dan kembali menatap gambar yang lainnya. “Lanjutkan Byun.” suara Taeyeon terdengar mendesak.

“Penggemar lelakimu akan semakin menggila.”

“Itu bagus.” timpal Taeyeon dan tersenyum jahil.

“Aku cemburu. Noona, kau jahat sekali.” Baekhyun mengurucutkan bibirnya lucu lalu duduk dengan membelakangi Taeyeon. Aish, pria itu memberenggut kesal dalam hatinya. Oh ayolah, demi mendapatkan perhatian lebih dari kekasihnya itu, membuat Baekhyun melakukan hal ini.

Gadis itu menutup majalahnya dan mendapati punggung Baekhyun disampingnya. “Hey, ayolah Byun Baekhyun. Jangan seperti ini.” bujuk Taeyeon seraya memeluk Baekhyun dari belakang. Taeyeon tak tahu saja jika saat ini Baekhyun tengah menyeringai. “Maafkan aku. Sungguh, aku benar-benar tidak tahu jika tema photosoot majalahnya akan seperti itu.”

Tubuh Baekhyun ingin segera berbalik. Tapi ia harus menahannya sejenak. Lalu ia menyentuh tangan Taeyeon yang melingkar di perutnya. “Aku tak apa noona. Hanya saja, lakukan hal itu di depanku saja.”

Taeyeon terdiam selama beberapa detik hingga akhirnya terdengar pekikan kesakitan Baekhyun. Gadis itu mencubit gemas perut Baekhyun dengan tangannya. “Kurasa perut buncitmu sudah mulai menghilang dengan abs mu.” Tanpa memperdulikan suara rintihan Baekhyun, Taeyeon malah berujar yang membuat Baekhyun menghentikan kesakitannya.

Ia menatap Taeyeon dengan menyeringai. “Noona ingin melihatnya?” tanya Baekhyun mengerling dengan pandangan menggoda.

Taeyeon menggeleng. “Otot perutmu? Tidak, terima kasih. Aku lebih tertarik melihatnya jika pria itu adalah Rain Bi oppa atau Kang Dongwoon oppa.” Ia menolak dengan cara halus.

“Kau harus tahu, noona. Bahkan saat konser tadi dan kemarin berlangsung, kami mengganti outfit di stage utama.” Goda Baekhyun. “Suara teriakan penggemar bahkan bisa mengalahkan lagu yang kami nyanyikan saat kami mulai membuka baju.”

“Astaga, benarkah itu?” tanya Taeyeon dengan raut penasaran.

Baekhyun mengangguk dan entah mengapa malah membuat Taeyeon yang mendengarnya cemburu. Demi apapun, gadis itu tak tahu apa-apa mengenai konser yang berlangsung yang dilakukan oleh grup kekasihnya itu. Baekhyun tersenyum geli melihat bagaimana raut gadisnya sekarang. “Hanya sekedar membuka pakaian lalu mengganti dengan outfit yang lainnya. Tentu masih terhalang dengan pembatas agar penggemar tak langsung melihat tubuh topless kami.” tambah Baekhyun.

“Untung saja.” suara Taeyeon terdengar lega dan pelan seperti berbisik. Astaga, gadis itu tadi sudah berpikiran bagaimana jika prianya itu benar-benar membuka pakaian dihadapan penggemarnya. Memperlihatkan otot-otot perut yang memang sengaja tengah dibentuk oleh Baekhyun. Sangat disayangkan sekali jika penggemar-penggemarnya itu yang menjadi pertama. Ia saja belum melihatnya.

“Kau mau melihatnya untuk yang pertama, noona?” tawar Baekhyun lagi membuat pikiran Taeyeon kembali ke alam nyata. “Abs-ku?”

Taeyeon sontak menggeleng seraya beranjak. “Kau mulai aneh, Byun. Kau tidur di kursi saja. Aku akan pergi ke kamar.”

Belum sempat gadis itu melangkah, Baekhyun sudah menahan lengannya. Ia merotasikan bola matanya yang dibalas dengan senyuman miring yang terhias dalam wajah tampannya. “Kau tak ingin mengajakku?”

Pervert.” ujar Taeyeon.

Baekhyun menggeleng dan ia ikut berdiri menghadap gadisnya. “Jongin mengatakan, jika aku harus menghukummu.”

“Menghukumku?” tanya Taeyeon dengan kening mengerut. “Tentang apa?” tambahnya lagi.

Pria itu meraih bahu gadisnya kemudian mendudukkan tubuh Taeyeon di kursi sementara ia berjongkok didepannya seperti tadi. “Tentang pose photoshoot yang dilakukan olehmu, noona.”

Belum sempat Taeyeon menjawab, Baekhyun sudah mengunci bibir gadisnya dengan bibir miliknya. Kembali dengan ciuman singkat sebelum keduanya saling melepaskan. Perlahan tangan Baekhyun membelai lembut rambut Taeyeon. Jemarinya yang lentik kemudian menyentuh belakang telinga Taeyeon membuat gadis itu sedikit geli karena disentuh titik sensitifnya.

Nafas Baekhyun berhembus dan menerpa kulit wajah Taeyeon. Hingga pria itu memajukan wajahnya, dan dengan segera Taeyeon memejamkan matanya. Setelah menyatu, bibir keduanya saling memberi kehangatan satu sama lain.

Tanpa melepaskan kecupan dibibirnya, Baekhyun beralih duduk disamping gadisnya. Sementara Taeyeon mulai melingkarkan kedua tangannya dileher pria itu. Setiap senti bibir milik Taeyeon tak terlewat sedikitpun oleh sapuan lembut bibir Baekhyun.

Kepala Baekhyun sesekali merubah posisi ke kanan dan kiri secara bergantian. Ia sudah menemukan celah bibir gadisnya. Langsung saja tanpa ia tunggui lagi, Baekhyun segera melesatkan lidahnya pada mulut gadisnya.

Baekhyun lebih mendominasi ciuman mereka. Taeyeon bahkan tak sadar jika ia mendorong kepala Baekhyun agar lebih mendekat dengannya. Saling menyatu memberikan kecupan dan sesekali gulatan indah di lidah mereka. Suara decakan lidah bahkan sudah memenuhi ruangan itu.

Tubuh Baekhyun semakin mendekat ke arah gadisnya. Membawa Taeyeon hingga berbaring dan tubuh Baekhyun berada diatasnya. Nafas Taeyeon memburu saat mereka masih berciuman dalam posisi itu. Ia benar-benar ingin bernafas panjang dan membutuhkan oksigen. Mengerti akan keinginan gadisnya, Baekhyun melepaskan perpagutan bibir mereka.

Tarikan nafas panjang keduanya terlihat saat bibir mereka menjauh. Baekhyun tersenyum menatap gadis yang berada dibawahnya. Ia menggunakan tempurung lututnya untuk menahan beban tubuhnya agar tak menimpa langsung tubuh kecil gadisnya.

“Untuk malam ini saja, noona. Ku mohon, percaya padaku.”

Taeyeon tak menjawab dan lebih mendalami sorot lekat kekasihnya. Ia sangat mencintai pria itu, sangat-sangat mencintainya.

“Aku tak akan memaksa jika noona akan menolaknya.” Kepala Taeyeon menggeleng dan meraih telapak tangan Baekhyun. Menuntunnya untuk menyentuh dadanya. “Lakukan sesuai keinginanmu, Byun. Aku mempercayaimu.”

Pendengaran Baekhyun yang bermasalah atau ia benar-benar mendengar ujaran Taeyeon yang membuatnya tak percaya. Pria itu merasakan belaian lembut tangan Taeyeon di pipinya. “Terima kasih, telah mencintaiku dengan tulus selama ini.”

Senyuman Baekhyun mengembang. “Tidak. Seharusnya aku yang berterima kasih padamu, noona. Terima kasih, telah menjadikanku pria beruntung yang telah kau pilih dan kau cintai.” ujarnya lalu mencium kening Taeyeon cukup lama.

Pria itu beralih mencium hidung, pipi dan seluruh permukaan wajah bening Taeyeon. Ia memutuskan untuk mencium leher gadisnya. Membuat Taeyeon mengerang pelan karena pria itu tengah membuat sebuah tanda disana.

Masih merasa nyaman di leher Taeyeon, tangan Baekhyun tak tinggal diam. Ia menelusup pakaian atas Taeyeon hingga menyentuh permukaan perut datar gadisnya. Masuk lebih dalam lagi hingga ia bisa merasakan sebuah gundukan di dada milik Taeyeon.

Baekhyun mendiamkannya. Ia hanya menyentuh dan belum berniat untuk mempermainkan gundukan kenyal itu. Bibirnya masih terfokus menyesap rasa vanila yang menguar di leher Taeyeon.

Entah sudah keberapa kali gadis itu mendesah nikmat. Merasakan dua sensasi aneh secara bersamaan di leher dan dadanya. Bahkan suara pintu yang terbuka yang tak jauh disana, berhasil dikalahkan oleh suara decakan dan erangan seseorang.

Yak, jangan lakukan sesuatu di kursi itu.” suara melengking milik Tiffany berhasil membuat keduanya terkejut dan menghentikan ciuman Baekhyun dileher gadisnya.

Taeyeon menoleh begitupun Baekhyun ke arah asal suara. “Miyoung-ah.”. “Miyoung noona..” Keduanya menyebutkan sebuah nama korea gadis yang datang tak diundang. Tangan Baekhyun dengan sigap menjauhi payudara Taeyeon yang baru akan diremasnya.

Gadis amerika itu memutar bola matanya. “Hey. Just call me Tiffany, right.”

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Taeyeon heran dengan pipi memerah.

Aigoo Taengoo-ya, jangan bertanya mengapa aku berada disini.” Ia beralih menatap Baekhyun dengan pandangan heran. “Yak, Byun Baekhyun menjauh dari tubuh temanku. Dia akan semakin mengecil jika kau terus berada di atasnya.”

Baekhyun segera merubah posisinya dan Taeyeon ikut duduk disampingnya. Keduanya terdiam malu dengan kepala menunduk. Sungguh, ini benar-benar hal yang tak akan pernah dilupakan oleh Taeyeon. Ia merasa malu pada dirinya sendiri, terutama pada Tiffany. Begitupun dengan Baekhyun, sama sepertinya.

Tiffany terkikik geli dalam hatinya, ia masuk ke dalam kamarnya kemudian kembali keluar dengan sebuah benda yang ia bawa tak terlalu lama.

Taeyeon bersuara saat melihat Tiffany keluar dari kamarnya. “Yak, kau tak berencana untuk tidur di kursi ini kan?” ia bertanya dan menghampiri gadis itu.

“Astaga Kim Taeyeon, tentu saja tidak. Aku tak akan mengganggu kalian.” jawabnya lalu mendekati pintu. “Kau tahu bukan, aku tak bisa tidur tanpa selimut ini.” tambahnya seraya mengerling jahil pada gadis disampingnya.

“Kau akan pergi lagi?”

“Bukankah kau tak ingin diganggu?” goda Tiffany bertanya.

Yak.” teriak Taeyeon. Ia malu.

Tiffany tertawa menyeringai. “Baiklah-baiklah. Aku tetap akan menginap di rumah Seohyun. Dari pada nanti mendengar suara aneh yang akan menganggu tidur nyenyakku, bukankah aku lebih baik pergi saja. Tentu aku juga tak akan membuat kalian canggung jika melakukannya.”

Taeyeon menatap tajam gadis itu, dan dibalas Tiffany dengan mengedikkan bahunya. “Untung saja aku menyuruh Joohyun menunggu di mobil. Jika tidak, dia pasti akan melihat adegan dewasa yang tak pantas untuk dilihat gadis sepolos uri
maknae.”

Hampir saja Taeyeon ingin menyumpal mulut Tiffany dengan selimut berwarna merah muda yang dipenganginya. Mulut Tiffany mengeluarkan kata-kata yang membuatnya semakin malu.

“Baekhyun, aku pergi. Hey, jangan lupa untuk menggunakan pengamanmu.” ujar Tiffany pada Baekhyun dengan kedipan sebelah matanya. Sementara pria itu hanya menegukkan ludahnya kuat. Tiffany kemudian beralih pada temannya yang kini pipinya bagaikan tomat cherry. “Dan Taeyeon aku akan merahasiakan ini.”

Taeyeon berdecak sebal saat Tiffany membuka pintu. “Yak, kita impas.”

“Apa?” Gadis itu kembali berbalik menghadap Taeyeon.

“Nichkhun oppa.” Cukup menyebut nama saja, Tiffany sudah mengerti dengan ucapan teman dekatnya itu.

Great Kim Taeyeon. Kita impas.” Tiffany menyimpan telunjuknya di atas bibirnya sebelum berlalu pergi.

Taeyeon menghela nafas panjang, kemudian menghempaskan tubuhnya disamping Baekhyun yang masih terfokus pada pintu yang tertutup dimana Tiffany menghilang disana.

Baekhyun mengatakan sebuah nama yang tadi diucapkan juga oleh kekasihnya. “Nichkhun hyung?” suara Baekhyun terdengar bertanya dan Taeyeon menganggukkan kepala. “Bahkan lebih parah dari apa yang kita lakukan tadi.”

“Apa?” sontak Baekhyun terkejut mendengar ujaran Taeyeon.

Gadis itu yang baru menyadari akan ucapannya, langsung bergeming menatap Baekhyun dengan pandangan menyesal. “Ah tidak.” Taeyeon menyangkal seraya menggeleng malu dan ia terlihat salah tingkah.

Entah mengapa, bulu kuduk Taeyeon tiba-tiba meremang saat Baekhyun meraih tangannya. Ia bisa merasakan aura berbeda yang diperlihatkan pria dengan rambut pirang kecoklatan itu.

Noona..”

Taeyeon diam tak menjawab. Lebih baik menormalkan debaran jantungnya saja. Menanti ujaran Baekhyun selanjutnya, sungguh membuat ia benar-benar ketakutan.

“Ayo lanjutkan yang tadi.”

Kerlingan nakal Baekhyun terlihat saat menatap gadisnya. Pria itu sengaja menggigit bibir bawahnya dan dibalas Taeyeon dengan mata tak berkedip serta keringat dingin yang sudah menghiasi wajah cantiknya.

“Lakukan di kamarmu, saja.”

Seolah tersihir, Taeyeon menganggukkan kepalanya. Hingga ia tak sadar jika Baekhyun sudah meraih tubuhnya, memangku dengan kedua lengan kekarnya dan berjalan menuju kamar miliknya.

Sorot mata Baekhyun tak pernah beralih kemanapun, ia selalu terfokus pada wajah cantik Kim Taeyeon. Setelah pintu kamar Taeyeon terbuka, baru mata Baekhyun beralih pada hal yang membuat Baekhyun hanya menganga tak percaya dengan apa yang dipandanginya saat ini. Taeyeon ikut menatap pandangan Baekhyun.

Ia malah tersenyum geli melihat raut ekspresi yang ditunjukkan oleh kekasihnya itu. “Kurasa ini bukan malam untukmu, Byun.” ujar Taeyeon setelah melihat bagaimana penuh sesak kamarnya dengan tumpukan kado.

Mata Baekhyun menyipit setelah ia mendapati tempat yang ia cari tak terisi oleh tumpukan hadiah-hadiah milik Taeyeon. Ia mulai tersenyum menyeringai. “Tidak, noona. Ini tetap malamku. Berterima kasihlah pada Minjin noona karena ia menyisakan ranjang milikmu yang masih kosong tak terisi.”

Taeyeon terperanjat kaget. Ia hampir saja jatuh jika Baekhyun tak menahan tubuhnya dalam pangkuannya.

“Kau tak bisa melarikan diri lagi, Kim Taeyeon.” Setelah berujar seperti itu, Baekhyun segera menuju ranjang dan membaringkan tubuh Taeyeon disana.

Gadis itu tak punya kesempatan untuk menghindari Baekhyun ketika pria itu sudah berada diatas tubuhnya.

Hingga malam itu berakhir dengan………

 

 

 

‘SILAKAN BAYANGKAN SENDIRI DENGAN IMAJINASI KALIAN.’

 

FIN

Author note : Yeay FIN nya benar-benar sangat mengganggu ^^
silakan baca lalu beri komentar.
mau komentar panjang atau pendek, yah terserah.
asal tinggalin jejak kalo udah baca yah guys.
sorry deh mulai lagi dengan fanfic aneh absurd bin typonya, udah mentok disana ceritanya. Hampir 8000word juga dalam waktu tiga hari. Maaf kalo feelnya engga dapet sama sekali. Engga diposting sayang, ya udah kirim ajaa.

Terakhir

HAPPY BIRTHDAY, MY LOVELY SISTER KIM TAEYEON ^^
Ini anak makin tua malah makin kayak anak kecil. Duh, mas BYUN BAEKHYUN memang kamu jadi cowo yg paling beruntung bisa dapetin cewe dorky gila plus cantiknya tiada tara, mamihnya GINGER yang satu ini.
longlast yah buat datingnya, kalo bisa sampe nikah punya anak, hidup bahagia sampe kakek nenek. Demi apapun gua bakal setuju kalo kalian sampe married ^^

Done~~

Kasih komentarnya yah readers. Bye bye

Sampai bertemu di fanfict gaje selanjutnya.

Advertisements

58 comments on “[FREELANCE] Here (Oneshot)

  1. Gara2 Jongin oppa keknya Baek oppa terhasut :v
    Duh Tiffany eon datang pada waktu yg tak tepat/?
    So sweet banget deh BaekYeon
    Ditunggu thor ff yg lainnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s