Love, That One Word (Chapter 1)


ATSIT PROUDLY PRESENT:

Title : Love, That One Word

Author : Nadia S. Pajriati

Ratting : PG-17

Genre : Romance, Family, Friendship, Marriage Life, Angst

Length : Multi-Chapter

Main Cast : Kim Taeyeon, Kang Seulgi as Park Seulgi, Byun Baekhyun

Other Cast : Find it by yourself

Disclaimer : The entire cast belong to God. And the plot is MINE. Please, DO NOT Plagiarizing OR re-publish my story WITHOUT my permission

 Poster by: ArtFantasy @leesinhyo art

Preview: Teaser & Introducing

…..

Love, That One Word

Chapter 1

@Seoul, Korea Selatan.

Musim panas, sudah pasti udara panas, cuaca panas, bahkan sore hari yang biasanya sejuk menjelang malam, kini tetap terasa panas. Musim panas juga membuat beberapa orang yang tinggal di Seoul malas untuk bepergian, karena panas.

Seorang wanita berparas cantik dengan rambut panjang lurus berwarna coklat tengah meminum es jus jeruknya dengan santai. Dengan tangan kiri memegang sebuah majalah dengan cover wajah dari artis Barat.

Wanita itu sesekali menghela nafasnya pendek, maklum, wanita itu bersantai sambil menunggu panggilan dari seorang pria yang sangat dia cintai. Pria yang berjanji akan menelponnya siang hari, namun sampai pukul 4 sore pun pria itu belum menelponnya.

Drttttttt

Wanita itu langsung menegakkan tubuhnya ketika dia mendengar suara handphone-nya bergetar. Dia menyambar handphone-nya yang terletak di atas meja persis berada disamping kursi yang dia duduki. Tidak sesuai harapan, ternyata orang yang memanggilnya bukan-lah dari seseorang yang ditunggu. Meskipun begitu, wanita itu tetap tersenyum melihat ID orang yang memanggilnya.

“BabyTae calling”

“EONNI!!!”

Wanita itu menjauhkan handphone-nya ketika sebuah suara di sebrang telepon memanggilnya dengan nada suara besar, dia pun tertawa kecil mendengarnya.

“Ya! Kau mau membuat telinga eonni tuli sampai kau berteriak seperti itu? Aigoo”

Akting. Ya, wanita itu hanya pura-pura marah.

“Hehe, mianhaeyo. Aku hanya terlalu senang akhirnya aku bisa menghubungi eonni. Ahh i miss you Seulgi eonni”

“Haha dasar orang so’ sibuk. Eonni miss you too baby tae. Muahh”

Wanita itu, Seulgi berucap dengan memperagakan tangan seperti memberi fly kiss meskipun dia tahu bahwa orang di sebrang sana yang dia panggil dengan -baby tae- pasti tidak akan melihatnya.

“Eonni!! Don’t call me with that ‘childish’ nickname. You know, i’m not Baby Tae anymore, i’m big already~”

Baby Tae merengek manja kepada Seulgi. Dengan suara imut seperti itu, seulgi sudah bisa menebak kalau sekarang Baby Tae tengah cemberut kesal. Cute.

“Ya baby tae, kau memang sudah besar, bahkan bahasa inggris-mu sekarang sudah semakin membaik. Eonni bangga. Tapi dengan suara rengekan manja-mu itu, kau belum cocok disebut sudah besar. Lagi pula ‘you are always be my baby Tae'”

“Eonni kau menyebalkan!.”

“Haha maaf, maaf. Ngomong-ngomong, ‘Baby Tae’-ku ini sedang apa? Sudah makan?”

“Aku baru saja selesai makan, sekarang aku sedang menonton tv bersama Sooyoung. Eonni sudah makan?”

“Eonni berencana mau makan di luar, eonni bosan dengan makanan rumah. Hmm”

“Sendiri? Hati-hati ya eonni. Oh ya, eomma sama appa, bagaimana kabar mereka? Aku tadi ingin menelpon mereka, tapi aku takut mereka sibuk.”

“Tidak, eonni mau mengajak seseorang hehe. Mereka baik-baik saja Baby Tae, tapi ya, mereka memang jarang di rumah, kau tahu ‘lah seperti apa kesibukkan seorang pengusaha.”

“Who? Baekhyun oppa? Ya eonni, aku benar-benar penasaran seperti apa Baekhyun oppa sehingga membuat eonni benar-benar jatuh cinta kepadanya. Apakah dia baik, eonni? Tampan? Sexy?”

“Ya ya ya, tiga tahun kuliah di Jepang, kenapa kau malah jadi Byuntae begini, eoh? Huft, bahkan kau tahu seperti apa laki-laki yang sexy. Eonni janji, ketika kau berlibur ke Korea, eonni akan perkenalkan kau kepada Baekhyun. Makanya, belajarlah yang serius. Understand?”

“Aku byuntae seperti ini, salahkan orang yang satu kamar denganku selama tiga tahun ini eonni. Haha. Oh ya, aku punya kejutan buatmu eonni, kau tahu, aku . . . . .”

Seulgi menaikkan sebelah alisnya penasaran dengan apa yang ingin Taeyeon katakan. Kejutan? Kejutan apa?

“Kejutan apa Baby Tae?”

“Aku. . . .”

‘This child’, umpat seulgi dalam hati. Oh ayolah, bukannya tadi Baby Tae tidak mau disebut dengan nickname itu? Sedangkan nickname itu benar-benar cocok untuk Baby Tae yang memang tingkah lakunya masih seperti anak-anak. Huft.

“Come on Baby Tae, ada apa? Kejutan? Kejutan apa? Kau benar-benar membuat eonni penasaran!”

Seulgi mendengar Baby Tae tertawa geli, membuat Seulgi mau tau mau memutar bola matanya kesal.

“Hehe, mianhae. Kejutannya . . . AKU AKAN LIBURAN MINGGU INI KE SEOUL. YEAH!!”

“BENARKAH?”

Seulgi bertanya senang, memastikan apa yang didengarnya itu benar atau salah. Baby Tae akan liburan ke Seoul?

“Iya eonni, aku akan liburan ke Seoul. Aku belum tahu pasti kapan, tapi yang pasti minggu ini, eonni. Apakah eonni senang?”

“Tentu saja eonni senang, baby Tae. Ahhh, sudah lama eonni tidak bertemu denganmu, eonni benar-benar merindukanmu. Cepat pulang baby.”

“Araseo, aku juga sangat merindukanmu eonni. Tunggu aku ya, aku tidak sabar, hal pertama yang aku ingin lakukan setelah aku sampai di Seoul adalah pergi ke Lotte World bersama eonni, eonni mau kan?”

“Anything for you, baby Tae.”

“Yess, i love you eonni. Hmm, sepertinya aku harus memutuskan sambungan teleponnya eonni. Sooyoung memintaku untuk mengajarinya bermain ‘Get Rich’ hehe.”

“Ya ampun, anak ini. Baiklah, jaga dirimu baik-baik ya. Jangan terlalu sering bermain game, atau eonni laporkan kepada eomma.”

“Siappp eonni, bye.”

“Bye”

Seulgi kembali menyimpan handphone-nya ke atas meja. Pikirannya kembali melayang ke percakapan yang barusan dia lakukan dengan Baby Tae. Finally, she is comeback home. Begitu dia sangat merindukan Baby Tae-nya, Park Taeyeon, adik tiri yang sangat dia cintai.

Drttttt

Handphone Seulgi kembali bergetar. Kali ini, bukan ada panggilan masuk, melainkan sebuah pesan masuk. Dari orang yang dia tunggu-tunggu sejak dari tadi

From    : Byun Baekhyun

To    : Park Seulgi

Hei? Apa kau marah? Maafkan aku, tapi aku benar-benar tidak bisa lari dari meeting-ku kali ini. Ayah-ku ada di kantor, dan aku tidak bisa kemana-mana. Bagaimana sebagai gantinya, malam ini kita makan malam di luar?

Marah? Kalau kesal iya. Marah? Tidak, mana mungkin Seulgi marah kepada pria yang begitu dia cintai?

From    : Park Seulgi

To    : Byun Baekhyun

Kau pikir aku marah? Kau harus bersyukur karena mood-ku sedang bagus saat ini ^_^ Makan malam? Baiklah, kebetulan aku sedang bosan di rumah. Di Restoran Lay oppa?

From    : Byun Baekhyun

To    : Park Seulgi

Syukurlah. Iya, di Restoran Lay hyung. Aku tunggu kau disana.

…..

Love, That One Word

@Tokyo, Jepang

“Apakah dia benar-benar Kakak angkat-mu? Aku tidak yakin, kalian begitu dekat. Bahkan jika aku mendengar percakapan kalian lewat telepon, kalian bercengkrama seolah kalian adalah dua saudara kandung.”

Seorang gadis tinggi bertanya kepada temannya yang baru saja menyimpan handphone di atas lemari belajar. Gadis tinggi itu menatap temannya yang lebih pendek darinya dengan pandangan bingung.

“Ya ampun Soo, kalau kuhitung, ini mungkin sudah yang ke 50 kalinya kau bertanya seperti itu padaku. Dan semua pertanyaan itu kujawab dengan jawaban yang sama, ‘Yes, she is my step sister’.”

“Kau beruntung sekali mempunyai kakak angkat seperti dia. Tapi, kenapa kau berbohong padanya? Kau belum tahu pasti kapan kau akan ke Seoul? Terus apa juga barusan, seriously, seorang Choi Sooyoung tidak pernah bermain game ‘childish’ seperti itu Park Taeyeon. Dan tadi kau juga bilang kalau aku yang mengajarkan Byuntae kepadamu? Oh my god Park Taeyeon, kau telah merusak image-ku kepada kakakmu. Yang ada kau yang mengajarkan Byuntae kepadaku.”

Gadis yang lebih pendek dari Sooyoung, Taeyeon, tertawa geli melihat reaksi yang diperlihatkan oleh sahabatnya itu.

“Mianhae soo, aku ingin memberi eonni-ku kejutan, makanya aku merahasiakan kepulanganku. Dan soal ‘game’ dan ‘byuntae’ itu, entahlah, aku rasa bibirku tadi keceplosan dan aku tidak bisa mencegahnya. Hehe”

Sooyoung memutar bola matanya kesal terhadap sikap kekanak-kanakan sahabatnya itu. Oh ayolah, Park Taeyeon, kau sudah berusia 22 tahun, tapi sikapmu layaknya seorang anak berusia 7 tahun. Tapi memang cocok sih jika disamakan dengan fisiknya yang memang juga seperti anak kecil. Baby face, kulit putih seperti susu, dan pendek (Seperti itulah menurut Sooyoung). Namun satu yang disayangkan, suara tertawanya. Ok, badan memang kecil, tapi suara tertawanya layaknya seorang ahjumma.

Pertama kali Sooyoung bertemu dengan Taeyeon, dia kira Taeyeon adalah gadis polos dan tidak banyak tingkah. Namun dugaannya salah, Taeyeon tidak jauh beda dengan tokoh kartun Masha. Kalian tahu kan Masha? Itu loh, tokoh kartun anak kecil yang mempunyai sifat hyperactive, banyak tingkah sehingga membuat orang yang ada disekitarnya kesal.

Namun meskipun begitu Sooyoung tetap tidak bosan berada di samping Taeyeon karena menurutnya Taeyeon adalah ‘Happy Virus’ di kehidupan Sooyoung. Lebay bukan?

“Sooyoung-ah, kenapa kau juga tidak ikut liburan ke Seoul? Kau tidak merindukan keluargamu?”

Taeyeon duduk di kasur yang tidak terlalu besar namun juga tidak terlalu kecil. Taeyeon membawa kakinya ke atas dan melipatnya, bersila.

Mendengar pertanyaan Taeyeon, Sooyoung menghela nafas sejenak, sebelum akhirnya dia menidurkan diri di kasur yang berada di sebelah kasur yang Taeyeon duduki. Taeyeon dan Sooyoung adalah teman sekamar di asrama, dari awal mereka berada di Universitas, sampai sekarang. Sebenarnya, setiap tahun memang penghuni asrama seharusnya berganti pasangan kamar, namun, Taeyeon dan Sooyoung tidak mau, dengan alasan sudah nyaman satu sama lain. Dan mereka menggunakan nama orang tua mereka agar Ketua asrama mengijunkannya.

“I do miss them. Tapi, sepertinya percuma aku ke Seoul. Ayah dan Ibu-ku selama sebulan ini berada di Indonesia. Mereka sibuk mengurus Perusahaan mereka, ah entahlah.”

“Araseo, tapi kau tetap mengantarku ke bandara besok, ‘kan?.” Taeyeon menatap Sooyoung penuh harap. Bagaimanapun, Taeyeon paling tidak bisa bepergian tanpa ada teman yang menemaninya. Setidaknya, tidak ikut ke Seoul, tapi ke Bandara ikut. Iya ‘kan?

“Tentu saja, taeng. Lagi pula aku tidak berani membiarkanmu pergi ke Bandara sendirian. Nanti jika di jalan ada yang menculikmu bagaimana? Aku akan kesepian disini tanpa Trouble Maker sepertimu. Haha”

Sooyoung hampir saja terkena pukulan bantal dari Taeyeon, namun syukurlah dia lebih dulu menghindar.

“Kalau begitu, kau ikut ke Seoul saja. Bukannya kau ingin bertemu dengan eonni-ku?”

Sooyoung menggelengkan kepalanya. “Tidak sayang, sudah kubilang aku tidak mau ke Seoul. Lain kali, ok?”

Taeyeon mengendikkan bahunya merinding ketika mendengar Sooyoung memanggilnya ‘sayang’. Taeyeon tahu, kalau Sooyoung hanya menggodanya, tapi tetap saja menurut Taeyeon godaan yang dibuat Sooyoung sungguh membuatnya geli.

“Lebih baik kau tidur sekarang, Taeyeon-ah. Besok bukannya jadwal penerbanganmu pagi sekali ya? kau tidak mau telat ‘kan?”

Taeyeon memandang Sooyoung malas. Oh ayolah, sekarang baru saja pukul 7. Taeyeon tidak bisa tidur di jam yang terbilang masih tidak terlalu malam ini. Jangankan pukul 7, Taeyeon tidur pukul 10 pun, pas pukul 12 atau satu malamnya pasti dia akan terbangun. Sudah jadi kebiasaan.

“Tidak mau, lagi pula belum terlalu malam, Soo. Lebih baik aku bermain game.” Taeyeon menyambar handphone yang berada di atas meja belajarnya. Setelah itu dia langsung membuka menu game, dan bermain game favoritnya.

Melihat ini, membuat Sooyoung kembali memutar kedua bola matanya malas. Like a kid, pikirnya.

…..

Love, That One Word

@LY’staurant, Seoul, Korea Selatan.

Seorang laki-laki berkulit putih tengah duduk di salah satu meja yang ada di Restoran yang cukup tersohor di Seoul. Laki-laki itu, Byun Baekhyun terlihat sedang menunggu seseorang. Ya, tunangannya.

Mereka berdua berencana makan malam di Restoran milik sahabat Baekhyun, Lay. Restoran ini adalah tempat biasa yang selalu mereka kunjungi jika sedang ada waktu bebas.

“Dia belum datang?”

Seorang laki-laki yang menggunakan baju seperti Chef, datang menghampiri meja yang diduduki Baekhyun. Laki-laki itu dengan santainya ikut duduk di salah satu kursi tepat berhadapan dengan Baekhyun.

“Belum, hyung. Mungkin dia ingin balas dendam karena tadi siang aku tidak menelponnya.”

Orang yang dipanggil Baekhyun ‘Hyung’ memandang Baekhyun dengan alis satu dinaikkan. “Ya, Seulgi bukan orang seperti itu. Dia wanita dewasa, mana mungkin dia balas dendam hanya karena hal kecil yang kau bicarakan itu.”

“Tentu saja aku tahu Lay hyung, Seulgi wanita yang dewasa, karena itulah aku memilihnya untuk menjadi calon istriku.”

Baekhyun menjawab pernyataan Lay dengan tenang. Lay menganggukkan kepalanya mengerti dengan ucapan yang dilontarkan Baekhyun. Tiba-tiba Lay teringat sesuatu. Dia ingat kenapa dia menghampiri Baekhyun, karena ada satu hal yang ingin dia sampaikan.

“Chanyeol sakit, besok kau mau menjenguknya? Aku berencana tidak membuka restoran besok dan pergi menjenguk Chanyeol. Kalau kau ada waktu, sempatkanlah waktumu, Baekhyun.”

Baekhyun melirik Lay sekilas. Baekhyun memang tipe orang yang sangat dingin, bahkan juga kepada sahabatnya, Lay dan Chanyeol. Namun meskipun Baekhyun bersikap dingin kepada mereka, mereka tahu bahwa Baekhyun juga mempunyai sisi yang hangat.

Seperti sekarang. Baekhyun memang hanya melirik Lay sekilas, namun Lay bisa membaca bahwa pandangan yang diberikan Baekhyun juga ada kekhawatiran.

“Sejak kapan dia sakit, Hyung? Aku tidak tahu, kenapa kau tidak memberitahuku dari awal?.” Baekhyun balik bertanya kepada Lay, kali ini perhatian Baekhyun terfokus pada Lay. See, sudah kubilang, meskipun Baekhyun sangat dingin, tapi dia juga mempunyai sisi yang hangat.

“Sebenarnya sudah cukup lama, tapi dia juga berbohong padaku dengan alasan dia tidak bekerja karena ayahnya menyuruh Chanyeol untuk pergi ke Busan. Aku juga tahu dari Ibu-nya kemarin malam.”

“Aku besok sore ada jadwal kosong, Hyung. Jadi kau berangkat duluan saja, setelahnya aku menyusul.”

“Araseo, tidak apa-apa. Sepertinya aku harus pergi sekarang, orang yang kau tunggu-tunggu sudah datang.”

Ketika Lay berbicara, terlihat seorang wanita cantik dengan pakaian kasualnya. Kaos kuning dilapisi jaket tebal berwarna hitam, dan jeans warna hitam pekat yang dipakainya, dengan tas jinjing yang tidak terlalu besar dia pegang.

“Baekhyun-ah, maaf aku telat. Ah annyeong Lay oppa”

Wanita itu, Seulgi membungkuk hormat ketika dia juga melihat Lay yang terlihat sedang berdiri ketika dia datang.

“Tidak apa-apa, duduklah.” Baekhyun tersenyum melihat Seulgi, namun senyumnya seketika menghilang ketika dia memperhatikan wajah cantik Seulgi. Wajahnya terlihat pucat.

“Annyeong Seulgi-ah, duduklah, oppa masih banyak pekerjaan di belakang. Enjoy here with Baekhyun.”

Setelah mengucapkan itu, Lay berjalan ke belakang menuju dapur restoran.

Kembali ke Baekhyun yang tengah memandangi Seulgi, Seulgi menatap Baekhyun aneh, seolah bertanya ‘ada apa, kau menakutiku dengan pandangan tajammu’.

“Kau sakit? Mukamu pucat sekali, seharusnya kalau kau sakit kau bilang padaku, kita bisa makan malam lain kali.” Baekhyun menghujani Seulgi dengan berbagai pertanyaan. Ya, Baekhyun khawatir, bagaimana tidak, Seulgi yang berada di hadapannya ini terlihat pucat. Bibirnya pucat, dan pipinya juga terlihat pucat pasi.

“Aigoo, kau berlebihan sekali Baekie-ah. Di luar cuaca sangat dingin. Entahlah, padahal tadi sore cuaca terasa sangat panas bagiku, tapi dengan begitu tiba-tiba dingin langsung mendatangiku.”

“Kau tidak berbohong?”

“Tidak, Baekie-ah. Oh ya, kau tahu, adikku akan berlibur ke Seoul. Huaa, aku senang sekali akhirnya aku bisa bertemu dengan Baby Tae-ku lagi. Aku tidak sabar ingin bertemu dengannya.”

Melihat Seulgi yang antusias membicarakan soal ‘Baby Tae’, membuat Baekhyun tersenyum. Ya, inilah yang selalu terjadi. Sepertinya ‘Baby Tae’ begitu berarti bagi Seulgi. Bahkan pernah Seulgi mengaku bahwa dia lebih menyayangi ‘Baby Tae’ dari pada dirinya.

Cemburu? Tidak, bagaimana mungkin Baekhyun cemburu pada calon adik iparnya, si ‘Baby Tae’? terlalu kekanak-kanakkan bukan? Ngomong-ngomong soal ‘Baby Tae, Baekhyun tahu segalanya tentang calon adik iparnya itu.

Seulgi memang suka membicarakan soal ‘Baby Tae’ kepadanya, tentang kebiasaan dia, tentang apa yang dia suka dan tidak dia suka, pokoknya lengkap Seulgi ceritakan kepada Baekhyun. Itulah mengapa Baekhyun tahu segala hal tentang ‘Baby Tae’. Hanya satu yang dia belum tahu, seperti apa wajah ‘Baby Tae’. Karena memang Baekhyun tidak pernah bertemu sekalipun dengan ‘Baby Tae’. Dia hanya pernah melihat wajah ‘Baby Tae’ di walpaper handphone-nya Seulgi. Setahunya, ‘Baby Tae’ sibuk kuliah di Jepang. Itulah mengapa Baekhyun tidak pernah bertemu dengan ‘Baby Tae’.

Bahkan saat mereka bertunangan-pun, ‘Baby Tae’ tidak datang. Kata Seulgi, ‘Baby Tae’ sibuk dengan persiapan olimpiade Fisika di Jepang. Ya, ‘Baby Tae’ adalah orang yang pintar. Sungguh beruntung Seulgi memiliki adik seperti ‘Baby Tae’.

“Kapan dia datang?” Tanya Baekhyun lembut.

“Aku tidak tahu, tapi yang pasti dia bilang minggu ini akan ke Seoul. Dan dia bilang ingin bertemu denganmu, baekie-ah.”

Baekhyun ,mengangguk mengerti. “Araseo, nanti setelah adikmu pulang pertemukan aku dengan dia, ok? Sudah cepat makan, aku sudah pesan makanan kesukaanmu dari tadi. Syukurlah makanannya masih hangat.”

Seulgi menatap Baekhyun sambil tersenyum lebar, “Gomawo baekie-ah, you are the best”

Baekhyun tertawa kecil menanggapi pernyataan Seulgi.

Makan malam yang direncanakan Baekhyun dan Seulgi berjalan lancar. Meski pada awalnya terhambat gara-gara keterlambatan Seulgi, namun dengan mudah Baekhyun memaafkannya.

Tepat pukul 9 malam, Baekhyun mengantar Seulgi pulang ke rumah dengan mengendarai mobil hitam sport mewahnya. Baekhyun keluar dari dalam mobil, dia memutari mobil bagian depannya menuju samping mobil pengemudi. Baekhyun membuka pintu mobil itu dan membiarkan Seulgi keluar dari mobil.

“Kau benar-benar tidak apa-apa? Mukamu sedikit pucat, seulgi-ah”

Baekhyun menyentuh kedua pipi Seulgi dengan telapak tangan besarnya. Seulgi memejamkan mata sejenak, lalu membukanya lagi dan tersenyum kepada Baekhyun. “Aku benar-benar tidak apa-apa, baekhyun. Sudah kubilang cuaca malam ini terlalu dingin. Kau tidak perlu khawatir.”

Baekhyun menatap mata sipit Seulgi dengan teliti, takut-takut wanita itu berbohong padanya. Namun mengingat Seulgi yang tidak pernah berbohong padanya, Baekhyun pun menghela nafas pelan. Dia percaya padanya.

“Baiklah, kau harus langsung tidur sekarang. Pakai baju yang tebal agar kau tidak kedinginan. Dan jangan lupa, matikan semua AC yang berada di rumahmu. Araseo?”

“Araseo, Baekhyun. Sudah cepat pulang sana, aku tahu kau masih banyak pekeerjaan yang belum kau kerjakan.”

Baekhyun mengangguk, dia lalu mengecup dahi Seulgi singkat. Hal yang selalu dia lakukan jika dia akan pulang. “Tidur yang nyenyak, Byun Seulgi.”

…..

Love, That One Word

@Bandara Incheon, Korea Selatan.

Seorang gadis cantik tengah menghentak-hentakkan kakinya di salah satu kursi tunggu di Bandara Incheon. Gadis itu, Kim Taeyeon baru saja turun dari pesawat yang membawanya dari Jepang ke Korea Selatan.

Jet lag. Ya Kim Taeyeon mengalami Jet lag. Perjalanan dari Jepang ke Korea Selatan memang tidak terlalu lama, hanya 4 jam. Namun tetap saja, Taeyeon yang tidak terbiasa naik pesawat harus merasakan jet lag yang menurutnya sangat memuakkan.

Bahkan tadi sebelum dia turun dari pesawat, dia muntah. Betapa malunya dia tadi, untung hanya beberapa orang yang melihatnya. Sehingga Taeyeon masih bisa mengatasi rasa malunya itu.

Taeyeon mengecek jam tangannya. Pukul 5 sore, dan orang yang ditunggunya belum juga datang. ‘Jongin oppa, dimana kau? Lama sekali.huft’

Dia berjanji, dalam waktu 10 menit, jika Kim Jongin belum muncul juga, dia akan pergi dari bandara sendiri dan menyewa hotel untuknya menginap. Dan sudah dipastikan, Taeyeon akan pura-pura marah dan menunggu untuk Kim Jongin memohon-mohon meminta maaf padanya. haha, lucu bukan?

“Taengoo, maaf oppa telat.”

Baru juga dibicarakan dalam hati, orang yang ditunggu-tunggu Taeyeon, Kim Jongin akhirnya datang juga. Taeyeon menatap Jongin dari kepala sampai kaki, lalu kembali ke kepala. Bisa dilihatnya, keringat membasahi muka tampan Jongin.

Niat ingin marah Taeyeon diurungkan, sedikit kasihan melihat keadaan Jongin yang seperti telah dikejar-kejar anjing galak. Sudah bisa ditebak, pasti Jongin berlari-lari untuk bisa datang kesini. Ditambah, tadi setelah Taeyeon turun dari pesawat, sebuah berita muncul di televisi yang di pajang lebar-lebar di bandara bertaraf internasional itu, Seoul tengah macet padat, gara-gara tabrakan beruntun yang terjadi tadi siang.

Taeyeon maju mendekati Jongin, lalu tangannya mengusap keringat yang ada di dahi Jongin menggunakan sapu tangan soft pink-nya. “Aigoo oppa, kau berlari kesini, eoh? Gwaenchana oppa, yang penting oppa sudah datang.”

Jongin tersenyum mendengar respon yang diberikan Taeyeon, lalu tangannya terangkat menyentuh tangan Taeyeon yang ada di dahinya. “Tetap saja oppa telat datang, dan pasti kau sudah sangat lama menunggu ‘kan? Pesawatmu mendarat pukul 4 sore, dan oppa datang pukul 5 sore, kau sudah menunggu selama 1 jam Taeng.”

Melihat itu, Taeyeon tersenyum sinis, dia lalu menyilangkan kedua tangan di depan dadanya. “Araseo, oppa sudah datang telat. Aku sudah menunggu oppa 1 jam, dan kau tahu oppa, tadi aku berniat untuk pergi sendiri tanpa memberitahu oppa.”

“Iya iya, taeng, oppa tahu. Mau menghukum oppa karena sudah datang telat? Oppa terima.”

“Jinjja?!”

“Jinjja, cepat kau mau apa? Tell me your wish, baby girl.”

“Humm.” Taeyeon berfikir, tangannya dia ketuk-ketukkan di dagu. “Aku ingin selama aku liburan di Seoul, aku mendapatkan Coffee gratis dari oppa, bagaimana?”

Jongin tertawa kecil mendengar keinginan Taeyeon. Biasanya jika seorang gadis meminta sesuatu kepada seorang pria, pasti akan yang bernilai tinggi. Tapi Taeyeon, Coffee? Taeyeon benar-benar beda dari gadis yang pernah Jongin temui. Taeyeon itu, unik, menurutnya.

“Ok, anything for you baby girl. Kajja, ibuku sudah masak makanan kesukaanmu. Dia juga tidak sabar ingin segera bertemu denganmu.” Ujar Jongin kepada Taeyeon. “Biar oppa yang membawa kopermu.” Tambahnya.

“Wahhh, aku juga tidak sabar ingin bertemu bibi. Apalagi makan masakannya. Aku lapar, hehe. Ayoooo Jongin oppa.”

Taeyeon menarik tangan Jongin dan mengajaknya berlari. Orang-orang yang berada di bandara itu menatap mereka dengan tatapan aneh. Anak muda jaman sekarang, fikir mereka.

…..

Love, That One Word

@Jongin house, Seoul, Korea Selatan.

“Eomma, aku pulang.”

Jongin berteriak dengan tujuan agar ibunya bisa mendengar. Tak ada sahutan, Jongin berfikir mungkin Ibu-nya masih sibuk memasak di dapur.

Laki-laki itu menyimpan koper milik Taeyeon di dekat kursi ruang tamu. “Sepertinya Ibu masih di dapur. Kau tunggulah disini, oppa akan panggilkan ibu.”

Sebelum Jongin berbalik meninggalkan Taeyeon untuk pergi ke dapur, Taeyeon lebih dulu mengalengkan lengan kecilnya ke lengan kekar Jongin. “Aniyo oppa, aku ikut.”

Jongin mencubit ujung hidung Taeyeon pelan. “Kau tidak pernah berubah, tidak pernah mau menuruti kata-kataku.”

“Haha, mian.”

Mereka berdua berjalan ke arah dapur bersama-sama, tentu saja dengan ditemani canda tawa mereka. Sesampainya mereka di dapur, mereka bisa lihat Ibu Jongin yang sedang memasak. Aroma makanan tercium, membuat siapa saja yang menghirupnya pasti akan merasa kelaparan. Begitu juga dengan Jongin dan Taeyeon.

Ibu Jongin yang mendengar suara langkah kaki dari arah belakang, menolehkan kepala ke arah belakang dan mendapati Jongin dan Taeyeon yang tengah tersenyum kearahnya lebar. “Omo, Taeyeon-ah. Omo omo, kemarilah nak, ahjumma merindukanmu.”

Ibu Jongin memeluk Taeyeon erat. Menumpahkan segala kerinduannya. Dia membelai rambut coklat panjang Taeyeon dengan lembut dan penuh kasih sayang. “Ahjumma, aku juga merindukanmu. Terutama masakanmu. Hehe”

Ahjumma Kim tertawa kecil mendengar penuturan yang dilontarkan Taeyeon. Ahjumma Kim melepaskan pelukannya. “Kemarin Jongin memberi tahu ahjumma bahwa kau akan pulang hari ini, makanya hari ini ahjumma masak yang banyak. Dan tentu saja, ahjumma juga masak makanan kesukaanmu, Bulgogi.”

“Jinjjayo?.” Taeyeon menatap senang ahjumma Kim. Bulgogi. Yeah. Sudah lama sekali dia tidak makan Bulgogi. Mengingat di Jepang jarang sekali Restoran yang menyediakan Bulgogi. Terakhir kali dia makan Bulgogi bersama Sooyoung, sekitar 3 bulan yang lalu di asramanya.

“Jinjja, sekarang kau dan Jongin duduk saja dulu di meja makan. Makanan sebentar lagi selesai.”

“Aniyo, aku ingin membantu ahjumma masak.”

Jongin, yang sejak tadi mendengar pembicaraan mereka dari belakang membulatkan matanya panik. Taeyeon ingin membantu Ibunya memasak? Tidak, bisa-bisa bukannya membantu malah mengganggu.

“Tidak, Taeng. Terakhir kali kau memegang alat-alat dapur itu ketika hampir rumah Yuri kebakaran gara-gara kecerobohanmu dalam menghidupkan kompor gas.” Ujar Jongin sarkastik. Tangannya mendorong bahu Taeyeon agar dia berjalan menjauh dari dapur. Taeyeon mendengus kesal mendengar penuturan Jongin, pipinya dia kembungkan.

“Kita di ruang keluarga eomma, panggil kami jika makanan sudah siap.”

“Ok ok, Jongin-ah.”

…..

Love, That One Word

Selesai Taeyeon, Jongin dan ahjumma Kim makan, mereka sekarang berkumpul di ruang keluarga. Di depan mereka terdapat televisi yang menayangkan film drama korea yang sekarang tengah booming-boomingnya disana. ‘Blood’. Drama yang dibintangi oleh Ahn Jaehyun dan Go Hyesun itu adalah drama favorit bagi remaja bahkan orang tua sekalipun.

“Kau besok mau pergi ke pusat kota? Sendiri?.” Tanya ahjumma Kim kepada Taeyeon. Sebelumnya, Taeyeon memberi tahu kepada mereka bahwa besok ia akan pergi ke pusat kota untuk berjalan-jalan sebentar. Dia merindukan Seoul.

“Aku bukan anak kecil lagi ahjumma. Aku sudah berani pergi sendiri. Lagi pula mana mungkin aku pergi ditemani Jongin oppa, oppa ‘kan harus mengurus kedai kopinya.”

“Tapi eomma benar, taengoo. Kau sudah lama tidak berada di Seoul, kau tidak akan tersesat ‘kan.?”

Taeyeon memutar kedua bola matanya kesal mendengar ucapan Jongin. Tersesat? Oh ayolah, Seoul adalah tempat kelahirannya, meskipun dia sudah lama tidak berada di Seoul, mana mungkin dia tersesat di Kota kelahirannya, bukan?.

“Oppa kau terlalu berlebihan.”

Jongin mengangkat bahunya. “Kalau ada apa-apa, kau telpon oppa. Araseo?”

“Araseo oppa, araseo.”

…..

Love, That One Word

Keesokan harinya. . . .

Taeyeon keluar dari toko bunga langganannya. Tangan kirinya memegang keranjang yang penuh dengan bunga lili. Bunga kesukaan ibunya. Dan tangan kanannya memegang mawar putih. Bunga kesukaan ayahnya.

Hari ini Taeyeon akan pergi ke pemakaman orang tua-nya. Hari ini memang bukan hari perayaan kematian mereka, tapi memang Taeyeon sudah lama tidak pergi ke pemakaman mereka karena kesibukannya di Jepang.

Dia sengaja berbohong kepada Ahjumma Kim dan Jongin mengenai ini. Dia hanya ingin sendiri. Terlebih jika dia ingin ke pemakaman orang tuanya. Dia harus sendiri.

Seorang laki-laki dari arah berlawanan berjalan dengan mata fokus terhadap handphonenya. Sehingga ketika posisinya telah mendekati Taeyeon, yang memang juga tidak terlalu memperhatikan jalan karena banyaknya bunga yang dia pegang, mereka bertabrakan. Membuat bunga lili yang dipegang Taeyeon jatuh. Untung saja bunganya tidak bertebaran kemana-mana, karena bunganya terikat oleh pita berwarna putih polos.

“Aigoo, yakk!! Tuan apa kau tidak bisa melihat? Lihat, bunga milikku jatuh.”

Taeyeon berbicara cukup keras kepada laki-laki yang telah menabraknya itu. Laki-laki itu berjongkok, mengambil keranjang bunga lili milik Taeyeon yang jatuh. Ketika dia kembali berdiri dan menatap Taeyeon, laki-laki itu menatap Taeyeon lekat. ‘Wajahnya, sepertinya aku pernah melihatnya’

“Untung saja bunganya tidak kenapa-kenapa. Lain kali kalau tuan berjalan, tolong lihatlah ke depan.” Taeyeon mengambil keranjang bunga yang jatuh tadi dari tangan laki-laki itu. Laki-laki itu mengernyit mendengar ucapan Taeyeon.

“Memangnya kau tadi berjalan lihat ke depan? Matamu hanya terfokus pada bunga-bunga yang ada di tanganmu. Jadi ini bukan sepenuhnya salahku.” Laki-laki itu melawan. Yah, bagaimana tidak, dia tidak terima begitu saja ketika seseorang menyalahkannya padahal orang yang menyalahkannya juga dalam posisi salah.

Taeyeon yang sedang membereskan bunga yang sedikit agak berantakan itu, mendongak, menatap laki-laki di depannya kesal. “Ara ara, aku mengaku aku juga salah.”

Laki-laki itu berdecak sebal. “Tidak mau minta maaf?.”

“Ckck, di sini aku memang salah sama sepertimu. Tapi aku lebih rugi di sini, karena bungaku jatuh dan hampir saja tatanannya rusak.” Taeyeon, yang memang mempunyai sifat yang keras kepala kembali bicara dengan suara tegas yang dibuat-buat.

“Tapi bungamu tidak kenapa-kenapa, nona. Lagi pula kalau kau mau, aku bisa membelikanmu kembali bunga yang seperti itu.”

“Ah, sudah lupakan. Aku anggap ini tidak pernah terjadi dan aku memaafkanmu. Kau keras kepala sekali, tuan.”

Apa? Dia keras kepala? Kalau dia keras kepala, terus gadis yang berada di hadapannya ini dua kali lipat dari kata keras kepala, begitu?. Gadis ini, benar-benar mempunyai sifat yang begitu menyebalkan.

“Terserah kau, nona.”

“Aishh, bye.”

Laki-laki itu memandang Taeyeon aneh. Baru pertama kali dia bertemu gadis aneh seperti gadis yang dia temui barusan. Dia menggelengkan kepalanya tidak percaya.

Drttttttt

“Lay Hyung calling”

Laki-laki itu mengusap layar handphone yang tadi dia pegang ketika handphone-nya bergetar tanda ada panggilan masuk.

“Kau masih dimana? Kau jadi datang ke rumah Chanyeol, ‘kan?.”

“Aku di jalan, baru saja beres makan siang dengan Client-ku. Tunggu aku, hyung, aku akan langsung pergi ke rumah Chanyeol.”

“Araseo, hyung tunggu. Hati-hati di jalan.”

“Baik, hyung.”

Laki-laki itu memasukkan handphone-nya ke dalam saku jas, lalu berjalan cepat menuju sebuah mobil mewah berwarna putih miliknya. Setelah masuk ke dalam mobil, laki-laki itu memajukkan mobilnya dengan kecepatan sedang.

To Be Continued

1st chapter sudah di post. Ini masih awalan, jadi gaje gimana gitu ‘-‘

Gimana ? tertarik untuk membaca chapter 2-nya? Aku tunggu respon reader-nya dulu, kalau responnya banyak, aku post chapter 2 nya cepet ^_^ insyaallah hehe

SEE YOU ATSIT FAMILY ^_^

Advertisements

196 comments on “Love, That One Word (Chapter 1)

  1. Jujur say reader baru yang baca dari pertengahan, lupa juga dari chapter berapa, chapter ini sebenarnya belum saya baca sepenuhnya haha, nanti nunggu waktu agak senggang.

  2. Weks Tell Me Your Wish~
    Kebayangnya Kai pose nyanyi Genie wkwkwkk
    Gak nyangka Baekhyun sm Taeyeon ketemuannya gegara tabrakan. Dikirain bakal dikenalin
    Daebak thor 😊👍

  3. ini ff udh setahun lalu dan saya baru baca sekarang? oh no! T^T ini ff nya bagus banget, cara penulisannya kerenn >//< /next baca chapter 2 wkwk

  4. Kereeeen tapi genrenya sad gitu ya ? Hmmmm happy ending doong suka gak rela kalau baekyeon gak happy ending hoho *nawar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s