[FREELANCE] Wanna Be Yours (Chapter 2)

TwImg-20141028-130957

Tittle: Wanna Be Yours
Author: Unicorn
Length: Multichapter (2)
Genre: M content, romance, friendship
PG: 17. Little bit Mature
Author’s note: Halo this is me, unicorn. Semoga readers suka dan mohon tinggalkan comment di FF ini. Tq. #unicorn

Wanna Be Yours


5 years ago
“Aigoo krys, kau tidak boleh seperti itu pada nya” ujar anak lelaki berkulit putih dan bersurai hitam pekat kepada gadis berambut brunette di sampingnya.
Gadis itu memberengut kesal. ia mempoutkan bibirnya.
“Aku tidak salah baby. Dia yang salah. Dia duluan yang menarik rambutku,” ungkap gadis mungil dengan iris hazel itu merengek kepada anak lelaki yang dipanggilnya ‘baby’ tersebut.
“Aku tahu Baby Krystal. Tapi harusnya kau bilang saja padaku atau pada Yifan. Kau harusnya tidak memukulnya” ujar lelaki itu lagi.
Gadis mungil itu membuang nafasnya dengan kesal. “Baby jahat! Baby justru membela anak bernama Jessica itu! Aku benci baby! aku tidak mau berbicara dengan baby lagi.” Serunya sambil menangis. Ia memukul – mukul tubuh dan menjambak rambut lelaki kecil itu hingga membuatnya meringis kesakitan.
“Awww! Sakit baby! Lepaskan!” perintahnya. Gadis itu langsung menghentikkannya dan menjulurkan lidahnya sebelum ia berlari meninggalkan lelaki itu.
“Aku akan kabur! Jangan cari aku ke rumah Yifan gege! Dan jangan cari aku di Tree house!”
Ia menatap kepergian ‘Baby’ nya itu dengan tatapan terkejut dan bingung yang bercampur menjadi satu. Ia terkekeh. “Kalau kau memang tidak akan ke sana lalu kenapa kau mengatakan nya baby?” gumam anak laki – laki itu sambil tersenyum geli.
“Baby!! tunggu aku!!” pekik anak lelaki itu
“Shirreo!!” balas gadis kecil itu yang kian menjauh dari si lelaki.
. . . .. . . . . . . . .. . . . . . . . . . .. . . . . . . . . .

“Shirreo!!” pekik Taeyeon sambil berjalan mundur – berusaha menjaga jarak dengan Luhan. Gadis itu sangat ketakutan. Tangan gadis itu terangkat seolah ingin menangkap suatu di depan dadanya untuk menutupi tubuhnya.
Tapi niat gadis itu batal saat merasakan ia tidak menggunakan blazernya. Taeyeon memberengut kesal. ia teringat bagaimana Kris yang mengambil blazernya secara paksa karena kesal saat ditolak Taeyeon dulu.
Luhan tersenyum miring. “Dadamu kecil sekali. Pantatmu juga rata. Terlebih kau ini sangat pendek. Sebetulnya kau tidak memiliki daya tarik sama sekali. Tapi tidak apalah sekali – kali aku juga harus mencoba yang seperti ini” ujar Luhan dengan wajah polos. Ia tersenyum manis ke arah Taeyeon.
Taeyeon membuang nafasnya kasar, gadis itu mengepalkan tangannya kuat. Persetan dengan apa deskripsi yang diberikan Luhan tentang tubuhnya. Ia tak suka jika orang menghina nya. Terutama ‘pria’
‘Kenapa harus mengomentari bentuk tubuh wanita. Bukankah itu sangat tidak sopan? Terlebih namja ini mengatakannya tepat di depan orangnya’ batin Taeyeon geram.
Taeyeon mengambil nafas lalu membuka mulutnya.
“Dasar namja tak tahu sopan santun. Kau berbicara hal yang sangat kotor di depan seorang wanita. Dan siapa kau dengan sok hebat mengomentari tubuh ku? Kau pikir kau itu sempurna?. Kau mengejekku pendek tapi apa kau tidak sadar jika untuk ukuran pria kau itu pendek?. Tubuhmu juga tidak ada bagus – bagusnya. Aku tidak suka melihat pria dengan wajah sok polos padahal mesum seperti mu. Jadi cepat minggir, namja pendek!” seru Taeyeon panjang lebar. Gadis itu mengakhiri kalimatnya dengan menjulurkan lidahnya ke Luhan.
Luhan menatap Taeyeon dengan tatapan terkejut. Ia? Ia adalah Xi Luhan! Tidak mungkin pesonanya dapat di tolak oleh seorang wanita. Ralat, wanita ‘datar’ seperti Taeyeon. Luhan mengeram kesal sambil memberikan tatapan super dingin ke Taeyeon. Tapi rasanya percuma, karena gadis itu terlihat sama sekali tidak takut dengan tatapannya dan justru membalas memberikan death glare.
Meskipun menyebalkan. Luhan harus mengakui jika ini adalah pengalamannya dengan seorang wanita yang sangat menarik.
“Yeoja bodoh!” seru Luhan tak mau kalah
“Kau pikir siapa kau bisa berbicara seperti itu padaku?. Banyak wanita cantik yang tunduk padaku. Dan apa tadi kau bilang? ‘Tubuhmu juga tidak ada bagus – bagusnya’ ?! kau bahkan tidak pernah melihat tubuhku dan kau bisa berbicara seperti itu? Asal kau tahu saja ya, aku memiliki tubuh yang sangat indah yang mampu membuat gadis manapun lemah di pelukanku saat melihatnya” sungut Luhan kesal. sungguh, mereka terlihat sangat konyol.
Taeyeon mendengus mengejek . “Lihatlah siapa yang bodoh di sini. Dasar konyol. Aku juga tidak akan melemah di pelukanmu meskipun aku melihat mu yang sedang telanjang!!” ujar Taeyeon sarkastik dengan tangan yang melekat di sisi kiri dan kanan pinggangnya.
Luhan membulatkan matanya. Ia terkejut. Shock bukan main.
“K-kau… kau yeoja gila!” seru Luhan mundur selangkah dan menunjuk wajah Taeyeon dengan jari telunjuknya. Taeyeon dengan cepat menepis jari Luhan dari hadapannya. Kesal.
“Kau namja mesum! Mesum dan gila!!” pekik Taeyeon
“Kau yeoja maniak!”
“Kau namja….” seruan terpotong akibat pekikan sebuah suara berat yang sangat dikenalnya.
“Ya!! Apa yang kalian berdua lakukan?!!!”
. . . . . .
Sedari tadi Taeyeon dan Luhan hanya menunduk mendengarkan ceramah dari kedua orang tua mereka. tidak ada yang berani membuka mulut. Mereka memang sadar jika yang mereka lakukan di depan rumah beberapa menit yang lalu memang sangat konyol, salah, dan memalukan mengingat mereka sudah menginjak umur 16 tahun.
“Lu, kau masih tidak ingin mengatakan apa yang menyebabkan kalian bertengkar seperti anak kecil tadi?” tanya Tuan Xi.
Luhan mengangguk pelan. “Maaf dad, tapi tidak akan kuberitahu alasannya” jawab Luhan pelan dengan kepala tertunduk.
“Jika benar – benar penasaran, tanyakan saja pada Taeyeon-ssi” lanjut Luhan. Taeyeon berdesis kesal mendengar Luhan yang menyebut namanya dengan embel – embel ‘ssi’. Menjijikkan, batin Taeyeon.
“Apa yang terjadi Taeyeonnie?” tanya Nyonya Kim seolah menuruti apa yang dikatakan Luhan barusan. Taeyeon mengangat kepalanya cepat lalu menatap orang tuanya dan orang tua Luhan bergantian.
“A-ah i-itu… kami hanya bermain” jawab Taeyeon. Tidak masuk akal memang. Alasan yang simpel tapi terkesan sangat dibuat – buat. Begitu klasik, dan manusiawi.
Luhan mendengus mengejek. Membuat Taeyeon harus menatapnya dengan tatapan membunuh.
“Dasar kalian berdua ini” ujar Nyonya Xi sambil menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum.
“Walaupun tadi kalian sedang bercanda. Tapi jangan sampai berlebihan sampai teriak – teriak seperti tadi” ujar Tuan Kim memperingati.
“Yah tapi tetap saja mom sangat senang melihat kalian yang cepat akur seperti ini” ujar Nyonya Kim.
“Bagaimana kalau pacaran saja?” tawar Tuan Xi sambil terkekeh.
Taeyeon dan Luhan saling bertatapan lalu melirik 4 orang dewasa di depan mereka. Ucapan Nyonya Xi, Tuan dan Nyonya Kim masih bisa di terima tapi ucapan Tuan Xi….. Impossible!!
“Shirreo!” seru Luhan dan Taeyeon sambil menatap Tuan Xi dengan tatapan tajam.
. . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . .
Taeyeon terbangun dari tidur nya. Ia melirik jam weker di atas naas di samping ranjangnya. Ia menghela nafas.
“Mulai hari ini semuanya akan menjadi lebih berat” gumam gadis itu lalu bangkit dari posisinya dan berjalan ke kamar mandi.
***di tempat lain dan di waktu yang sama***
“Ya! Lulu!!” pekik Nyonya Xi sambil terus memukuli anak nya dengan bantal berupaya membangunkan pria yang tidur seperti kerbau itu.
Lelaki itu mengeluh lalu menggeliat merenggangkan otot – ototnya yang sempat kaku. “Aku sudah bangun mom. Jadi berhentilah memukulku” seru Luhan kesal sembari duduk dan merapikan rambutnya.
Nyonya Xi menghela nafas. Wanita itu melempar bantal untuk yang terakhir kalinya tepat di wajah Luhan.
Buk!!!
“Memang kau dan Kris sama saja. Sama – sama seperti kerbau jika tidur. Sangat susah dibangunkan” ungkapnya kesal.
Luhan tersenyum, ia bangkit lalu mencium pipi Nyonya Xi.
“Mom. Kau bahkan terlihat cantik meskipun aku melihat dengan mata mengantuk” rayu Luhan kepada ibunya yang tengah kesal.
“Jangan mencoba menggodaku. Cepat bangun dan mandi. Setelah sarapan, segera pergi ke sekolah bersama Taeyeon”
Luhan mengerutkan dahinya. “Ige mwoya? Shirreo!” jawabnya enteng.
“Jangan membantah. Eomma sudah bilang kepada Taeyeon untuk membantumu hari ini. Kau adalah murid baru di sekolah itu, tentunya kau tidak mau terlihat datang sendirian dan seperti orang bodoh di sana kan? jadi berterima kasihlah pada gadis itu karena sudah mau membantumu” ujar Nyonya Xi panjang lalu berlalu dari kamar Luhan.
Luhan mengerang kesal. “Menyebalkan”
. . . . . .. . . . . .. . . . . . .. . .
“Dad, ayolah jangan seperti ini. Aku harus menonton pertandingan Baekhyun. Aku sudah berjanji padanya” gerutu Taeyeon. Memelas kepada Dad yang tengah membaca koran harian.
Mom hanya menggelengkan kepalanya pelan mendengar perdebatan kecil suami dan anaknya itu. Taeyeon menarik – narik lengan kemeja ayahnya. Taeyeon sendiri bingung, kenapa ayahnya sangat tidak menyukai Baekhyun.
Baekhyun itu tampan, lucu, manis, imut, pandai, dan sopan. Harusnya Dad menyukai Baekhyun. Bukannya membencinya. Jika sudah menyangkut masalah ‘ke – gentle- an’, Baekhyun memang tidak se gentle Kris, Kyuhyun, atau Chanyeol. Tapi hey! Siapa yang berani mengatakan jika Baekhyun itu bukan pria straight?. Taeyeon tahu betul segala hal tentang Baekhyun. Meskipun dia selalu menggunakan eye liner di matanya, tetap saja hal itu tidak mengubah saraf jiwanya untuk menjadi seorang yang errrr… kalian pasti tahu.
“Dad! Pokoknya minggu depan aku akan menonton pertandingan Baekhyun. Dad tidak bisa menghalangiku” seru Taeyeon kesal lalu menjulurkan lidahnya dan langsung mengunyah sandwich ditangannya dengan cepat.
Dad meletakkan korannya lalu menyesap kopi buatan Mom dengan santai.
“Tapi Dad tidak menyukainya, jadi kau mau apa?” tanya Dad dengan nada ‘menantang’ pada anak semata wayangnya itu.
Taeyeon membuang nafasnya kasar lalu tersenyum seolah menganggap ucapan Dad nya itu tidak masuk akal. “Dad sangat kekanakan! Apa salahnya jika aku berteman dengannya? Apa berdosa jika aku berada di dekatnya?” tanya Taeyeon gusar.
Dad menarik nafas pelan. “Tidak salah. Tapi bagaimana jika kau jatuh cinta padanya? Kau di umur yang sangat mudah untuk jatuh cinta Taeyeon” jawab Dad menatap lurus mata Taeyeon.
“Aku tidak mungkin mencintainya, Dad. Aku sudah menganggapnya adikku sendiri. Dad dan Mom tentu tahu jika aku benar benar ingin memiliki adik, bukan?” ungkap Taeyeon. Nada suaranya merendah.
Dad menghela nafas. “Tetap saja. Bagaimana jika selama ini bocah itu mencintaimu? kau tidak pernah memikirkan hal itu, bukan? Jika benar, dia pasti sudah sangat tersakiti dengan kenyataan bahwa wanita yang dicintainya ternyata hanya menganggap dirinya sebagai ‘adik’. Peka lah terhadap orang disekitarmu Taeyeon. Karena kepolosanmu, orang orang bisa tersakiti” ujar Dad dengan tenang. Taeyeon menatap Dad dengan tatapan kosong. Gadis itu menunduk seolah sedang berpikir.
Dad dan Mom memperhatikan Taeyeon dengan seksama. Berharap gadis itu akan berubah pikiran setelah mendengar penuturan ayahnya.
“Bahkan jika suatu hari kau harus menikah, Dad hanya akan merestuinya jika pria itu adalah Kris” lanjut Dad. Sontak Taeyeon mengangkat kepalanya menatap Dad dengan tatapan tajam.
“Ige mwoya?!!” seru Taeyeon
“Dia sahabatku Dad! Aku tidak akan pernah mau menikah dengan sahabatku sendiri! Terlebih itu adalah Kris Wu!” seru Taeyeon geram. Ia benar benar tak habis pikir dengan ayahnya itu.
Gadis itu bangkit dari duduknya. Ia bergegas mencium pipi Mom dan langsung berlari keluar dari ruangan itu setelah meninggalkan kalimat yang membuat kuping Dad dan Mom berdengung.
“Aku tidak mau menikah dengan Kris!! Jika kalian memang ingin aku menjauhi Baekhyun , maka buatkan adik untuku!!”
. . . . . . . . . . . . . . . . .. .. . . . . . . . . .
Taeyeon melangkahkan kakinya dengan menghentak – hentakkannya kuat setelah membuka pintu rumah. Ia tidak begitu memperdulikan ucapan Dad yang menyuruhnya untuk menikah dengan Kris, walaupun ia tidak benar – benar menyuruhnya menikah Kris, tapi ucapan Dad yang mengatakan jika hanya akan merestui jika ia menikah dengan Kris terdengar begitu konyol dan tidak masuk akal.
Tapi ada satu hal yang membuat dirinya begitu runyam. Kalimat Dad yang sampai sekarang membuatnya ragu, bimbang, dan pening.
“Bagaimana jika selama ini bocah itu mencintaimu? kau tidak pernah memikirkan hal itu, bukan? Jika benar, dia pasti sudah sangat tersakiti dengan kenyataan bahwa wanita yang dicintainya ternyata hanya menganggap dirinya sebagai ‘adik’”
Taeyeon menggigit bibirnya. Ia dapat melihat Jung Ahjussi yang sibuk memotong kembang di taman rumahnya. Ahjussi itu menatap Taeyeon dan langsung tersenyum. Gadis itu membalas tersenyum.
Taeyeon memijit pelipisnya.
“Apa mungkin Baekhyun menyukaiku?” tanya Taeyeon pada dirinya sendiri sembari terus berjalan menuju keluar pagar. Dad memang berhasil membuatnya pusing tujuh keliling pagi ini. Bahkan secara terang – terangan pria itu mengatakan jika Baekhyun ‘mencintainya’ tapi bukan ‘menyukainya’.
Kata kata ‘mencintai’ bagaimanapun juga terlalu berat untuk diterima.
Gadis itu mendesah berat lalu mengambil nafas dalam – dalam. “Buang pikiran negatif dari kepalamu Kim Taeyeon” ujar Taeyeon lalu mengangkat tangannya dan menghempaskannya ke bawah lalu bergumam ‘fighting’
Taeyeon membuka pagar rumahnya. Baru saja ia ingin berjalan, tapi niatnya batal akibat ‘sesuatu’ yang teramat sangat ganjil mencuri pandangannya.
Gadis itu membulatkan matanya memperhatikan objek yang sedang berjongkong dan memeluk lututnya. Ia kenal objek itu. Sangat kenal meskipun bukan dalam rangka yang terlalu rumit dan jauh. ‘sangat kenal’ yang baru diketahui Taeyeon sejak kemarin sore.
“Ya!! Apa yang kau lakukan di sini?!” seru Taeyeon. Sekali lihat pun ia sudah tahu siapa pria itu. Xi Luhan. Yahh… Xi Luhan.
Namja itu mengangkat kepalanya untuk menatap Taeyeon. “Yeoja psikopat, kau ingin membuatku mati kedinginan di sini?” tanya Luhan dengan suara yang gemetar karena kedinginan.
Taeyeon mengerutkan dahinya. “Kenapa aku harus membunuhmu? Siapa suruh kau ada di depan rumahku?” tanya Taeyeon bingung.
Luhan berdiri dengan perlahan. Merasakan tubuhnya yang seolah telah mengeras seperti batu. Ia kedinginan. Sangat.
Grebb
Taeyeon membulatkan matanya saat Luhan secara sepihak dan sangat tiba – tiba memeluknya. Gadis itu menoleh memperhatikan kepala Luhan yang bergerak di leher sebelah kirinya seolah sedang mencari kehangatan. Pria itu mengeluh lega.
“Hangat” gumamnya sambil terus memeluk Taeyeon. Malah mempereratnya.
“Ibuku bilang kau akan membantuku di sekolah hari ini” lanjut Luhan.
Taeyeon mengerjapkan matanya. Untuk sesaat Taeyeon merasa sangat bersalah karena telah membiarkan Luhan kedinginan di depan rumahnya seperti ini. Bahkan Taeyeon baru teringat pagi ini juga saat kemarin sore ibu Luhan meminta dirinya untuk membantu anaknya yang merupakan murid baru.
Gadis itu berdesis kesal. “Mian, aku lupa. Jadi cepat lepaskan pelukanmu ini” ujar Taeyeon dengan nada menuntut. Pria itu tak bergeming. Ia menggesekkan sisi kiri kepalanya ke sisi kepala Taeyeon dan memeluk Taeyeon semakin erat Seolah ingin beranggapan jika ‘tubuh Taeyeon membuatnya hangat’ dan ia ‘tak akan melepaskan pelukan’ itu.
Merasa jika Luhan tidak sependepat dengannya, Taeyeon hanya menghela nafas. Ia membiarkan namja itu memeluknya. Toh kali ini memang ia yang salah.
Dalam diam, Taeyeon tersenyum. Ia dapat merasakan rambut Luhan yang menyentuh wajahnya. Taeyeon tak tahu mengapa, tapi…. untuk saat ini, pencitraan dirinya terhadap Luhan seakan hilang. Anggapan Luhan yang merupakan namja mesum tingkat senior seperti telah hilang begitu saja dari kepala Taeyeon seakan ditiup angin.
Taeyeon tak mau mengakui hal ini tapi juga tak bisa mepungkirinya. Tapi yang pasti, ia menyuakai saat saat ini. Saat dimana Luhan memeluknya dengan sangat erat. Ia menyukai.
Sekitar 5 menit berlalu. Taeyeon akhirnya melepaskan pelukan sepihak itu. Ia berdeham menutupi wajahnya yang memerah. Luhan, pria itu hanya menatap Taeyeon dengan tatapan datar.
“Aku masih kedinginan” ungkap Luhan, protes.
Taeyeon memberengut. Ia merona. “Kita bisa telat, bodoh. Pakai ini saja.” Gadis itu mengeluarkan sesuatu dari tasnya lalu langsung meletakkannya di atas genggaman Luhan dan meletakkan tangan Luhan yang satunya lagi di atasnya. Luhan tersentak kaget. Ia membuka genggaman tangannya dan melihat hot pack berwarna pink di tangannya.
Ia memindahkan bola matanya – menatap Taeyeon –
“Nah, ayo ke sekolah” ujar Taeyeon lalu berjalan meninggalkan Luhan yang masih melongo.
Luhan mengalihkan pandangannya dari hot pack itu menuju Taeyeon yang telah berjarak sekitar 10 meter darinya. namja itu tersenyum lalu berlari menyusul Taeyeon.
“Aku tidak suka warna pink” ungkap Luhan setelah berhasil menyesuaikan langkahnya dengan Taeyeon. Gadis itu hanya diam, menatap lurus, dan berjalan.
“Aku tidak suka warna pink. Harusnya kau memberikan hot pack yang berwarna hitam” ujar Luhan. Lagi, Taeyeon hanya diam.
“Ya! Aku bicara padamu” seru Luhan setelah menarik tangan Taeyeon sehingga gadis itu berhenti menggerakkan kakinya. “Iya, aku tahu” jawab Taeyeon enteng.
Luhan menghela nafas. “Aku tidak suka warna pink. Aku mau ganti dengan hot pack lain. Apa kau masih punya?” tanya Luhan. Taeyeon membuang nafas dengan kasar lalu mengangkat kedua tangannya ke depan wajah Luhan lalu menurunkannya lagi. Seolah ingin menunjukkan jika tangan nya kosong.
“Jika aku masih ada satu lagi, aku pasti memakainya. Kau pakai saja itu. Dari pada mati kedinginan tidak apa malu sedikit. Toh warna pink cocok denganmu” ujar Taeyeon dengan wajah datar. Wajahnya sedikit pucat. Luhan memperhatikan bibir Taeyeon yang bergetar. Pantas saja sedari tadi gadis itu hanya diam. Udara sedingin sekarang ini jika masuk ke dalam mulut pasti membuat orang mengigil bukan main.
Luhan diam. Ia memang kesal karena Taeyeon telah mengatakan jika warna pink cocok dengannya. Tapi melihat kondisi Taeyeon sekarang, ia merasa jika manusia semarah apapun tidak pantas meluapkan emosinya ke pada gadis itu.
Ia menarik tangan Taeyeon lalu mengenggamnya dengan erat. Taeyeon tersentak kaget. Ia ingin menarik tangannya tapi Luhan lebih dulu memasukkan tangan mereka yang tertaut ke dalam blazernya.
“Seperti ini saja”
Taeyeon mengerutkan keningnya lalu mengedikkan bahunya pelan seolah tak peduli. Keduanya pun berjalan bersama. Melewati udara dingin Seoul yang menusuk kulit. Dengan perasaan satu sama lain yang tidak dapat ditebak. Tak ada yang pernah tahu jika di bawah langit berawan yang dingin, ada dua insan yang sedang saling menghangatkan satu sama lain.
Dan tak ada yang pernah tahu juga jika dibalik kehangatan itu, seorang pria sedang memperhatikan setiap langkah mereka dan setiap apa yang mereka lakukan di tiap hembusan nafas. Pria itu menampilkan wajah sedihnya. Seolah telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Sesuatu yang berharga dan tidak pernah bisa dimiliknya.
Sebuah air bening dengan rasa asin mengalir di pipinya. Turun dengan sangat perlahan hingga menembus pelupuk mata indah dengan segaris eye liner berwarna hitam.
“Noona…” gumamnya
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Taeyeon melangkahkan kakinya perlahan memperhatikan sekeliling sekolah yang masih sangat sepi. Hanya ada beberapa siswa di sana. Satpam sekolah pun juga belum datang. Sebelum memasuki gerbang sekolah, buru – buru Taeyeon menarik tangannya secara cepat dari kantung blazer Luhan.
“Sudah sampai” ujar gadis itu. Meskipun kesal karena cuaca dingin seperti ini, Taeyeon tetap bersyukur dan sangat berterima kasih karena udara yang dingin hari ini bisa menutupi wajah meronanya.
Luhan menatap Taeyeon dengan tatapan kesal. “Jangan bertinggi hati karena aku membiarkan tanganmu berada di kantungku” sengit pria itu.
Taeyeon menatap Luhan dengan tatapan tak percaya lalu mendengus. “Wow wow wow! HELLO!! Apa aku tidak salah dengar Tuan Xi? Kurasa kau yang duluan menggenggam tanganku dan memasukkannya ke dalam kantung blazermu. Demi apapun itu, kau benar – benar menyebalkan” ungkap Taeyeon berapi – api.
Namja itu memandang Taeyeon seolah berfikir lalu menunjukkan smirk nya yang membuat Taeyeon merinding. “Lalu kenapa kau membiarkannya?” tanya Luhan sambil tersenyum miring.
Taeyeon diam. Ia membuka mulutnya lalu menutupnya dengan selang waktu 1 detik. Gadis itu tidak tahu harus mengatakan apa. Jika harus jujur, ia akan mengatakan pada Luhan jika dia membiarkannya karena ia merasa nyaman dan hangat. Tapi.. Dia harus mengatakan hal itu pada Luhan?! Seorang Xi Luhan!? HELL NO! Taeyeon tidak mau. Dan tidak akan pernah mau. Bisa bisa ia semakin berkepala besar.
“A-ahh.. i-itu…” Taeyeon benar – benar mati kutu sekarang.
“siapapun… tolong aku!” batin Taeyeon.
Seperti membalik telapak tangan, seperti manusia mudahnya bernafas, seperti mudahnya Luhan saat mendeskripsikan tubuh Kim Taeyeon. Ternyata Tuhan memihak kepada Taeyeon. Terbukti ketika sebuah suara menginterupsi keduanya. Suara yang begitu merdu, tapi merupakan suara pria. Taeyeon mengenal suara itu, dan akan sangat berterima kasih padanya karena sudah menyelamatkannya.
“Noonaa” panggil suaru itu untuk yang kedua kalinya. Sontak saja Taeyeon langsung membalik tubuhnya untuk melihat pemilik suara itu.
“Baekhyun!!!” pekik Taeyeon girang lalu tersenyum lebar. Baekhyun berjalan mendekati Luhan dan Taeyeon sambil tersenyum. Sedangkan Luhan hanya menatap mereka dengan tatapan datar.
“Kenapa kau tidak masuk? Diluar sangat dingin” ujar Baekhyun. Tersenyum dan mengusap kepala Taeyeon. Senyum gadis itu semakin merekah, bak bunga sakura yang sedang mekar di musim semi. “I-iya. Aku baru sampai. Aku akan segera ke kelas”
Luhan menautkan alisnya bingung. Ia membuka mulutnya.
“Hey, hey. Kau bilang apa? Kau ingin ke kelas? Lalu bagaimana denganku?” ujar Luhan dengan nada kesal.
Taeyeon menatap Luhan dengan tatapan tajam. “Ck, kau masuk saja. Lurus, belok kiri. Di sana ruangan kepala sekolah” Jelas Taeyeon.
Luhan mengerutkan keningnya. “Ya! Kau lupa dengan janji mu? Aku tidak mau. Kau dan ibuku sudah… mpp!!” ucapan Luhan terpotong akibat tangan mungil Taeyeon yang menempel dengan indahnya di atas bibir Luhan.
Taeyeon sama sekali tidak ingin Baekhyun tahu jika ia dan Luhan merupakan tetangga ataupun menggunakan kalimat lain dengan arti sama seperti ‘Luhan adalah tetangga barunya’. Taeyeon tidak mau. Meskipun ia sendiri tak tahu alasannya. Tapi yang terpenting sekarang ia hanya menuruti kehendak hati kecilnya.
“Baek, ayo kita masuk” seru Taeyeon lalu langsung menarik tangan Baekhyun dan berlari meninggalkan Luhan.
Luhan menatap kepergian mereka dengan terkejut. “Ya!! Kim Taeyeon!!” seru Luhan. Tapi percuma, Baekhyun dan Taeyeon sudah sangat jauh. Dan meskipun jarak mereka masih dekat, bisa dipastikan Taeyeon juga tidak akan berbalik dan mengatakan ‘kenapa?’ untuk menyanggupi seruan Luhan.
Lelaki itu mendengus lalu memasuki sekolah. Dengan gagasan yang mungkin akan menyelamatkan dirinya dari kata ‘tersesat’. Gagasan yang diberikan Taeyeon beberapa menit yang lalu padanya. Gagasan yang membawa Luhan berjalan.
“Lurus, belok kiri. Di sana ruangannya.”
. . . .. . . . . . . . .. . . . . . . . . . . .
Baekhyun tetap mengikuti langkah cepat kaki Taeyeon hingga akhirnya dia merasa bosan. Dan sedikit kesal. Ia menarik tangan Taeyeon hingga langkah gadis itu terhenti.
Taeyeon tampak terkejut, baru saja ia ingin membuka mulutnya, Baekhyun lebih dulu meletakkan jari telunjuknya tepat di depan bibir Taeyeon.
“Untuk apa kita berlari?” tanya Baekhyun. Taeyeon diam. Jika dipikir – pikir, ia sendiri juga tak tahu kenapa ia berlari. Oh iya. Kenapa ia harus berlari. Berlari menghindari Luhan?. Kenapa ia harus merasakan lelah di kedua kakinya dan keringat yang mengalir di keningnya hanya untuk menghindari Luhan?. Untuk sedetik, Taeyeon merasa dirinya sangat bodoh. Tapi mungkin sebagian kecil alasannya adalah ia tak ingin Baekhyun tahu jika Luhan adalah tetangganya. Sesederhana itu. Dan sekarang ia sangat kesal dan lelah.
“Entahlah” jawab taeyeon
Baekhyun mendengus. Seperti ada sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya. Bukan jantung yang berdegup kencang. Tapi perasaan kesal dan cemburu yang bercampur menjadi satu. Pria itu menghempaskan tangan Taeyeon.
“Bodoh. Kenapa aku harus ikut berlari denganmu seperti orang bodoh” Ujar Baekhyun sengit. Jelas itu bukanlah pertanyaan tapi merupakan pernyataan.
Taeyeon terkejut. Ini adalah pertama kalinya Baekhyun menunjukkan sisi pada dirinya yang tidak pernah Taeyeon ketahui. Ada sesuatu yang aneh pada Baekhyun. Dan Taeyeon menyadarinya.
Gadis itu mengerutkan keningnya lalu dengan perlahan mengangkat tangan Baekhyun dan menggenggamnya.
“Baekhyun. Kenapa kau marah hanya karena alasan sepele seperti itu? Apa kau lelah karena berlari? Maaf kan noona” ujar Taeyeon lembut, berusaha mencairkan hati beku Baekhyun.
Baekhyun mengambil nafas banyak – banyak. Ia kembali menghempaskan tangan Taeyeon.
“Kenapa kau tidak pernah peka dengan perasaanku? Apa kau sebodoh ini? Sadarlah Kim Taeyeon! Aku mencintaimu. Segenap hatiku” batin Baekhyun
“Tidak usah datang ke pertandingan ku minggu depan. Aku tidak membutuhkan keberadaanmu di sana” sengit Baekhyun lalu pergi meninggalkan Taeyeon yang saat itu sangat shock.
Gadis itu memutar tubuhnya untuk melihat Baekhyun yang kian menjauh darinya. Dan akhirnya benar – benar tak terlihat ketika di persimpangan koridor. Taeyeon mempoutkan bibirnya.
“Apa salahku? Dasar Baekhyun bodoh” serunya kesal karena ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang terjadi dan apa yang dirasakan hoobae nya yang satu itu.
Dengan langkah santai, Taeyeon berjalan munuju kelasnya.
. . . . . . . . . . . . . . . . .
Sedari tadi gadis hanya diam. Ia tidak memperdulikan Tiffany, Suho atau Kyungsoo yang dari tadi mengajaknya mengobrol. Tatapannya kosong dan terus melamun. Ia runyam.
“Kenapa guru tak kunjung datang?” tanya Taeyeon geram.
Kris yang duduk di belakang langsung Taeyeon meletakkan tangannya di atas kepala Taeyeon. “Kau sakit?” tanya Kris. Terbersit nada cemas di suaranya.
Taeyeon menggeleng. Tiffany dan Suho sedang sibuk memainkan rambut Taeyeon ketika Park Saem datang ke kelas dengan seorang pria. Pria yang sangat Taeyeon kenal. Pria yang membuat Taeyeon uring – uringan dari sore kemarin. Pria itu, Xi Luhan.
Sontak, seisi kelas terutama murid wanita langsung menjerit histeris ketika melihat sosok Xi Luhan secara langsung. Mungkin mereka berfikir jika untuk 1 tahun kedepan sekelas bersama dengan Xi Luhan akan sangat menjadi momen terindah di masa sekolah. Tapi kenyataan yang Taeyeon ketahui, mulai dari matahari terbit hingga terbenam dirinya akan tersiksa lahir batin mengingat seorang namja mesum dan membahanyakan hidup di samping rumahnya. Dan hal itu tidak hanya terjadi dalam kurun waktu sehari.
Taeyeon dan Kris membuang nafas berat secara bersamaan membuat Tiffany, Kyungsoo, dan Suho menatap keduanya dengan tatapan bingung.
“Ada apa dengan mu Taeyeon?” tanya Tiffany menatap bingung Taeyeon. Gadis itu menggeleng pelan. “Aku tidak apa – apa”
“Lalu kenapa denganmu Kris?” Suho ikut membuka mulutnya.
Di saat bersamaan Park Saem menyuruh Luhan untuk memperkenalkan dirinya, Itu merupakan saat yang sama di mana Kris kembali menghela nafas. Dan di saat Luhan membuka mulutnya untuk mulai memperkenalkan dirinya, itu merupakan saat yang sama ketika Kris juga membuka mulutnya untuk mengeluarkan kalimat yang bisa menjadi jawaban untuk teman – temannya. Walaupun tidak akan menjadi 100% dipercaya, tapi cukup memiliki 99.999% peluang untuk membuat siapapun yang mendengarnya terkejut.
“Xi Luhan imnida”
“Dia sepupuku”
To Be Continued…………………………..

PREVIEW OF CHAPTER 3

“Jangan Taeyeon.. Jangan jika gadis itu adalah Kim Taeyeon. Atau aku akan membunuhmu”
“Taenggg!!!!”
“Jika tidak ada harapan… maka hentikan saja. Kumohon hentikan saja”
“Aku mencintaimu Krystal. Aku berjanji akan terus melindungi. Karena aku mencintaimu.
“Tidak masuk akal! Kau pasti berbohong!!”
PREVIEW OF CHAPTER 3 END

Author’s note:
Yeayyyy akhirnya chap2 selesai ^^.
SIDERS jangan dekat – dekat!
Gini ya, kalo kalian gak mau comment ya gak usah baca  fanfiction author
Tolong dihargain dong 
Habis baca apa susahnya ninggalin jejak apa susah nya haha
Dan untuk readers setia author yang ninggalin comment, author sangat berterima kasih ^^ #pelukkecupbasah
Jangan lupa tinggalin comment untuk kalian dan juga untuk SIDERS yang udah mau tobat yaa… tq #unicorn

Advertisements

101 comments on “[FREELANCE] Wanna Be Yours (Chapter 2)

  1. KEREEEN THOR !!!
    Thor kmu updetnya lama banget -_-
    thor trnyata eomma nya baek udh meninggal 😦 kasian baek ..
    okee deh thor. Next part jgn lama y.. d tmbh yg bnyk thor moment LuTae nyaa.. Okkkeehhh
    FIGHTING :* :*

  2. Lah aku pikir di awal nya ada typo nama cast, ternyata engga ya’-‘
    Aaaaa di chapt ini mesumnya luhan ga kliatan/?
    Iya ah, bagusan taeng sm kris kan ahjussi? Wk
    Nice chapt lah thor, bikin penasaran bgt
    Next chapt ditunggu ya thor, jan kelamaan hihi

  3. Kerennn thorrrr ibu nya baek udah meninggal yaaaaa. Keren thor chap ini . udah lama juga nunggu in ni ff keluar hahah. Ditunggu next chapternya thor. Hwaitinggg💕😘

  4. rada lupa sama ff ini -_-” tapi masih inget dikit” 😀 ,, kok sebenarnya rada ngakak ya yg dialog taeng sama appanya ” Jika kalian memang ingin aku menjauhi Baekhyun , maka buatkan adik untukku!!” kkk~ kayaknya taeng kesepian banget XD sampai pgn punya adik.. Updatesoon!Hwaiting!!

  5. Aku kok malah pengen taeng nyaa sama baekhyin yaa..
    Terpengaruh dunia nyata..
    Ditunggu next chapter yaa thor..
    Clueless bgt liat preview ch.3 nya..
    Semangatt thor! Gomawo~

  6. Taeng eonni gga peka aa, kasian Baekhyun oppa kan tersakiti.. #abaikan
    LuTae moment.. daebbakk.. kok previewnya ad nama krystal? adaKrystal yah thor? next chap yahh 🙂

  7. Ehh aku salah baca, malah langsung part dua pantesan ga ngerti duhh -___-

    Tapi tapi ffnya bagus bangeeeeeeeeet, ihh itu baekhyun cemburu jadi marah2 gtu u.u
    Kris-Taeng vs Luhan-Taeng yaa ini?
    Duaduanya namja most wanted atulaaaaaaah, jadi bingung milihnyaa*plak 😀

    Ditunggu yaa next partnyaa 🙂

  8. LATE COMMENT AUTHOR^^ keke. cie baekhyun cemburu, udh sni sama aku aja wkwkwk /digampar taeng eonnie/ taeng eonnie mah kaga peka yee? tpi lbih cocokan sama lu-ge sih thor wks:v next chapter updatesoon author. FIGHTING

  9. Waa..keren ceritanya..tapi thor please jangan dibikin pw dong nanti susah mau minta please..fighting next chap ditunggu!!

  10. Duhh ff author bagus semua ya. Jdi betah bacanya. Thor chapt 3 kapan keluarnya? 😩😩 jangan lama” ya. Nice thor 👍 keep writing!

  11. Aku tepati janji aku baca chapter sebelumnya hehe Yang chapter satunya aku udah baca kok 😉

  12. Pingback: [FREELANCE] Wanna Be Yours (Chapter 4 {Part A/B}) | All The Stories Is Taeyeon's

  13. wanna be yours 🙂 🙂
    LuTae tetanggaan oh God, meleleh tiap hri klo bgitu 🙂 🙂
    yaa ampun baek jgn fallin in love dong, taeyeon eonni kan cm nganggep kamu saeng’y aja 🙂
    next chapter 🙂 🙂

  14. ah mian thor baru comment
    suka moment lutaenya entah kenpa lagi suka”nya sama lutae
    oke ditunggu next chapternya

  15. Pingback: [FREELANCE] Wanna Be Yours (Chapter 4 {Part B/B}) | All The Stories Is Taeyeon's

  16. ceritanya makin seru nih !!
    wahh wahh ada krystal???

    LuTae momentnya sweet deh . banyakin dong momentnya thorrrr~

    kris masih ada perasaan cinta kah ke Taeyeon eonni??
    pokoknya DAEBAK !!!! FF NYA BIKIN PENASARAN

  17. Pingback: [FREELANCE] Wanna Be Yours (Chapter 5) | All The Stories Is Taeyeon's

  18. Aduh… jelek juga kalo udh deket gitu, eh si gebetan gak peka2 juga. Ngmong2 siapa ya yg suka ma krystal? Krystal disini baik apa ngga?

    Huh penasaran.. bagus thor ceritanya!

  19. Pingback: [FREELANCE] Wanna Be Yours (Chapter 6) | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s