My Princess, Kim Taeyeon (Chapter 8)

my-princess-kim-taeyeon

Bina Ferina’s Present

Main Cast :

KIM TAEYEON

KIM JUNMYEON (SUHO)

XI LUHAN

PARK CHORONG

All of Artists SM. Entertainment

Genre :

ROMANCE, SCHOOL-LIFE, FRIENDSHIP

Rating :

PG 17

Artworker :

Very much thank you, dear^^ –> rosaliaaocha – ExoShidaeFFandGrapchics

A/N :

Mari dibaca^^ hope you’ll be like my new fanfic! Alurnya ceritanya SANGAT BIASA, mungkin juga udah sering baca. Tapi aku akan berusaha lebih keras agar FF ini ngga TERLALU BIASA untuk para ReaderSetiakuu #chu. Happy reading^^

~~~.

“Chorong?” gumam Luhan.

Taeyeon dapat mendengarnya dan ia langsung menolehkan wajahnya ke arah Suho, yang berdiri tidak jauh dari mereka. Wajah Suho kelihatan kaget, bahagia, sedih, dan terdapat rindu yang mendalam saat tatapannya tidak lepas dari sosok perempuan yang membungkukkan badannya, mengucapkan salam, dan langsung memainkan pianonya dengan lembut.

Luhan menatap Taeyeon, yang tatapannya masih melekat menatap Suho. Entah apa yang difikirkan Taeyeon sampai-sampai ia tidak melepaskan tatapannya. Dan Luhan hanya bisa memandang Suho dan Taeyeon secara bergantian dengan tatapan cemburu.

Sampai akhirnya, ia menarik pergelangan Taeyeon dengan paksa menuju ke meja makan di mana orang tuanya dan Ji Woong sedang makan bersama. Karena terkejut dengan tingkah dadakan Luhan, Taeyeon langsung menepis tangan Luhan.

“Ya, apa yang kau lakukan?” tanya Taeyeon kesal.

“Bukankah kita diajak bergabung? Mereka sudah menunggu terlalu lama,” jawab Luhan tak kalah kesal.

“Kalau kau ingin makan malam di sana silahkan, tidak perlu mengajakku. Aku bisa menyusul sendirian. Kalau perlu, aku tidak usah ikut makan,” ujar Taeyeon. Matanya kembali melayang ke arah Suho, yang tiba-tiba membalikkan tubuhnya dan dengan santainya melangkah keluar dari aula. “Aku masih punya urusan yang lebih penting dari pada harus bertengkar denganmu di sini. Annyeong,”

“Kau mau mengejar Suho? Wae?” cegah Luhan. Ia mengepalkan kedua tangannya dan wajahnya tampak murka. “Mau menghiburnya karena kedatangan Chorong?”

“Sudahlah,” jawab Taeyeon cepat. Ia membalikkan tubuhnya dan langsung mengikuti Suho keluar dari aula.

Shit!” gumam Luhan. Lalu, ia dengan cepat menghampiri meja Henry, yang berisi Jessica, Tao-Tiffany, Xiumin-Sunny, Heechul-Puff Guo, dan Chanyeol-Yoo Jung.

Luhan menarik kursi di Tao dan dia langsung mengambil air mineral yang tidak jauh darinya. Dengan sekali teguk, Luhan langsung meletakkan gelas kosong itu di depannya. Raut wajahnya sama sekali tidak mengenakkan.

“Wae? Kau kelihatan punya masalah berat,” tanya Henry, yang menawarkan Luhan sepiring pasta, tapi Luhan hanya menggeleng.

“Kau cemburu karena Taeyeon lebih memilih mengejar Suho dari pada makan malam bersamamu?” tanya Tiffany langsung dengan wajah geli.

“Aku sudah tahu itu akan terjadi padamu cepat atau lambat, Mr. Xi. Kau terlalu membenci uri Taeng, hingga kau tidak sadar telah jatuh hati padanya. Seharusnya kau bisa berfikir lebih panjang. Lucu rasanya. Seorang pangeran dari Whimoon High School bisa jatuh cinta pada gadis yang tidak punya apa-apa, yang berasal dari keluarga kecil. Yang dulunya sering kau injak-injak, sekarang mulai kau kejar-kejar,” tambah Jessica dengan wajah dinginnya.

“Sica-ah, kau mau cola?” tanya Henry, berusaha menghentikan perang di antara Luhan dan Jessica sebelum memanas.

“Sebaiknya kau urus saja masalahmu, Ms. Jung,” ucap Luhan tak kalah ketus.

“Kau tampak berapi-api, Mr. Xi. Cobalah pesan alcohol untuk meredakannya. Rasa cemburumu pasti begitu besar, ya?” ledek Chanyeol. “Tapi uri Taeng lebih cocok jika dipasangkan dengan Suho. Dia begitu dewasa dan bisa melindungi Taeyeon dengan sepenuh hatinya. Bagaimana denganmu? Apa kau bisa melindungi seseorang?”

“Ssshh,” bisik Yoo Jung di telinga Chanyeol.

“Jangan terlalu dibawa perasaan, Luhan-ah. Kau tahu mereka hanya berusaha balas dendam atas apa yang selama ini kau lakukan pada teman mereka. Jangan di anggap serius,” bujuk Tao, yang tahu bagaimana besarnya amarah Luhan kalau sudah bergejolak seperti sekarang ini.

“Lebih baik kau makan,” usul Xiumin.

“Sudahlah, aku semakin tidak selera makan,” tolak Luhan dengan nada sangat ketus. Ia menghela nafasnya dengan kasar.

Tidak berapa lama kemudian, suara musik piano telah terhenti, diganti dengan alunan lembut suara dari biola yang digesek dengan lihai oleh para ahlinya. Semuanya bertepuk tangan dengan riuh begitu Chorong membungkuk pamit dan turun dari panggung. Luhan dapat melihat gadis manis itu dengan ramahnya menyapa orang-orang yang ada di sekitarnya.

Chorong merasakan tatapan Luhan dan ia balik menatapnya. Ia tersenyum manis ke arah Luhan dan mau tak mau Luhan juga ikut tersenyum. Terbersit dalam ingatannya bagaimana dekatnya ia dan Chorong dulu, bagaimana ia menyayangi Chorong seperti adiknya sendiri, dan perpisahan mereka yang menyakitkan.

Perlahan Chorong menghampiri meja mereka. Semuanya terlihat terkejut kecuali Luhan dan Henry. Bahkan, begitu Chorong tiba, Henry langsung memeluk Chorong dan menepuk-nepuk punggung gadis itu.

“Lama tidak bertemu, Rongie,” sapa Henry, saat ia melepaskan pelukannya.

“Annyeonghaseyo,” sapa Chorong ramah sambil membungkukkan badannya.

“Annyeonghaseyo,” sapa yang lain. Sebagian dari mereka hendak berdiri untuk menyuruh Chorong duduk, tapi Chorong menolaknya dengan lembut.

“Kau semakin cantik, Rongie-ah,” puji Xiumin.

“Jinjjayo? Gamsahamnida, tapi sepertinya oppa sudah punya pacar, yang jauh lebih cantik dari pada aku,” jawab Chorong dengan bercanda. Xiumin dan Sunny hanya tertawa kecil.

“Kau tidak makan? Ayo gabung,” ajak Henry.

“Aniya, oppa. Masih ada yang harus aku kerjakan, dan harus selesai malam ini juga. Aku tidak akan bisa tidur dengan nyaman kalau belum menyelesaikannya,” tolak Chorong.

“Masalah Suho?” tanya Luhan langsung.

Chorong terdiam dan ia menatap Luhan dengan tersenyum lebar. “Oppa, kau banyak berubah, ya,”

“Yah, dia berubah sekali semenjak ia dipaksa untuk jauh darimu,” ujar Henry. Luhan menatap Henry dengan death glare-nya yang mematikan.

“Kau mau menemui Suho? Baiklah, aku akan menemanimu mencarinya,” ucap Luhan. Ia bangkit dari kursinya.

“Kau berniat mau membawa Taeyeon kembali, ‘kan?” tanya Tiffany dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Kenapa tidak duduk dan makan dulu bersama kami? Kau harus cerita tentang hidupmu yang berubah drastis, Chorong-ah,” usul Sunny.

“Aku tidak akan lama. Kalian bisa mendengar sebagiannya dari Henry oppa,” jawab Chorong sedikit menyesal.

“Masalah Suho sudah tidak bisa diundur lagi, kajja,” sambung Luhan. Ia segera menarik pergelangan tangan kanan Chorong dan membawanya keluar dari aula, mencari Suho.

“Sepertinya selama ini kau yang paling sering contact­-an dengan Chorong, hyung. Alasan dia pergi dan kembali lagi untuk menemui Suho dan bukannya Luhan. Kau tahu semuanya, hyung,” kata Xiumin penasaran. “Apakah dia sudah bukan orang kecil lagi?”

“Apa hubungannya dengan Luhan?” tanya Tiffany langsung, wajahnya penuh tanda tanya.

Henry menghela nafas pelan. Ia meletakkan sendok dan garpunya seraya meneguk pelan air mineralnya sebelum ia menatap mereka satu per satu dan menceritakan semuanya, dari awal.

~~~

“Kenapa kau menyusulku?” tanya Suho pada Taeyeon tanpa menatap gadis yang ada di sampingnya itu. Tatapannya justru terfokus pada langit malam penuh bintang yang bertebar di hadapannya.

Mereka kini berada di koridor sekolah, koridor dekat kelas Suho. Taeyeon memandang Suho sekilas dengan tatapan aneh dan ia ikut memandang langit malam. Angin malam yang menerpa wajahnya begitu segar. Sampai-sampai ia memejamkan kedua matanya begitu wajahnya diterpa angin kembali.

“Udara kota Seoul di malam hari memang sangat berbeda di siang hari, ya,” ujar Taeyeon pelan.

Suho tertawa pelan. “Kau suka juga?”

“Kenapa kau keluar dari aula?” tanya Taeyeon langsung. Ia membuka kedua matanya dan menatap Suho sungguh-sungguh. “Kenapa kau tidak ingin melihatnya tampil? Kau tidak percaya itu dia? Apa kau berfikir kau sedang berhalusinasi?”

Suho menundukkan wajahnya dan ia balik badan. Punggungnya menyandar di dinding sekolah yang dingin. “Seperti katamu, aku harus percaya suatu hari dia akan datang, ‘kan? Dan aku percaya itu dia. Aku sangat percaya, sampai membuat hatiku sakit. Aku menunggu kabarnya, menunggu semua tentang dirinya, dan sekarang ia sudah ada di hadapanku. Kau tahu bagaimana perasaan itu? Senang dan sakit menjadi satu. Dan perasaan itulah yang menyadarkanku kalau aku masih sangat menyayanginya,”

“Tatapanmu memang menunjukkan hal itu,” ujar Taeyeon. Ia menatap Suho dengan tatapan merana. “Lalu, kenapa kau harus meninggalkan aula? Kau takut menghadapinya? Kau takut ia masih menjauhimu? Bukankah kau bilang kau tidak akan lari lagi?”

“Aku tidak takut, Taeyeon-ah. Aku ingin segera menemuinya dan memeluknya serta bertanya bagaimana kabarnya, ke mana ia selama ini, apa yang selama ini ia lakukan. Aku ingin tahu semuanya. Tapi aku sadar, dia kembali bukan karena aku. Dia kembali hanya karena ingin menemui seseorang,” jelas Suho.

“Nugu?” tanya Taeyeon cepat.

“Dia datang untuk Luhan,” jawab Suho sambil tersenyum kecil. “Sejak Chorong bertemu Luhan di Whimoon Junior High School, mereka saling menyukai dan dekat satu sama lain. Luhan selalu baik dan selalu di samping Chorong waktu itu. Tentu saja, sebelum ada masalah keluarga, Luhan adalah sosok laki-laki yang lugu dan polos. Ia menyukai dan menyayangi Chorong dengan setulus hatinya, sampai aku merasa iri pada Luhan. Terkadang aku ingin pergi dari sisi Chorong dan membiarkan Luhan menjaganya. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa membiarkan Chorong terluka sedikit saja.

“Dan aku berfikir, sebelum aku benar-benar melepaskan dia untuk Luhan, aku ingin mengerahkan seluruh perasaanku untuk menjaga dan melindungi dirinya. Aku sudah terbiasa di sampingnya sejak Sekolah Dasar. Aku… seakan-akan sudah terbiasa menjadi pelindungnya. Dan karena orang tua Luhan yang tidak setuju dengan kedekatan mereka akibat status sosial, Luhan dengan berat hati menjauhi Chorong dan berubah 180 derajat. Dari awal, satu sekolah tidak menyukai Chorong karena statusnya ditambah lagi kedekatannya dengan aku dan Luhan.

“Dia semakin di bully, dipojokkan, dan merasa terasing dengan sekitarnya. Aku gagal melindunginya waktu itu. Aku tidak pernah ada waktu dia membutuhkanku. Dan sekarang, aku yakin dia ingin menemui Luhan untuk menunjukkan padanya bahwa dia cocok mendampingi Luhan. Aku juga yakin Luhan masih menyayangi Chorong. Selama ini ia mempermainkan perasaan wanita untuk melampiaskan kesedihannya atas kepergian Chorong,” jelas Suho panjang lebar.

Taeyeon terdiam. Entah kenapa ia merasa tidak bisa berkata-kata. Perkataan Suho yang terakhir membuat hatinya tertohok. Selama ini Luhan berusaha menodai dirinya hanya karena perasaannya yang terluka? Hanya karena Chorong? Taeyeon benci hal itu. Hanya karena alasan yang tidak masuk akal bagi Taeyeon, laki-laki itu…

“Luhan yang dulu berbeda dengan Luhan yang sekarang,” lanjut Suho. Ia menatap Taeyeon yang ekspresinya mendadak berubah dan hanya bisa diam seribu bahasa.

“Tapi,” potong Taeyeon. “Itu tidak menjadi alasan yang penting untuk menghindarinya, ‘kan?”

“Aku hanya tidak ingin melihatnya tersenyum bahagia dengan orang lain. Aku merasa hanya akulah yang pantas melihat senyumnya itu. Aku merasa hanya aku yang bisa membuatnya bahagia,”

“Itu bukan cinta namanya. Kalau kau benar-benar mencintainya, apa yang membuatnya bahagia seharusnya kau juga bahagia. Walaupun sakit, tapi kalau kau benar-benar cinta, perasaan bahagia pasti ada dalam relung hatinya begitu ia tersenyum bahagia, meskipun itu dengan orang lain,” ujar Taeyeon.

Suho tertawa kecil. “Jadi, kau tidak mau berusaha keras? Sampai akhirnya hatinya berpaling padamu. Cinta ada karena terbiasa. Seharusnya kau membiasakan diri dengannya. Ia pasti bisa mencintaimu,”

“Ah, mollaseo. Aku juga tidak terlalu mengerti hal seperti ini,” ujar Taeyeon pura-pura kesal.

“Kenapa omonganmu tadi sok bijak begitu? Apa kau pernah mengalaminya?” tanya Suho sambil tertawa.

“Belum, tapi aku akan mencarinya. Seseorang yang bisa melindungiku dengan sepenuh hatinya, seseorang yang bisa menjagaku kapanpun dan di manapun. Seseorang, yang apabila aku memanggilnya dari dalam relung hatiku, dia akan hadir dalam mimpiku,” jawab Taeyeon mantap.

“Woah, kau punya kriteria yang bagus,” puji Suho. “Tapi, kau tidak perlu mencari seseorang yang bisa menjaga dan melindungimu. Bagaimana denganku? Bukankah aku guardian angel-mu?”

“Aigo,” keluh Taeyeon. “Kita hanya bisa menjaga satu orang selamanya, Suho-ah. Ini adalah kali terakhir kau memanggil dirimu seperti itu. Karena kau sudah menemukan seseorang yang harus kau jaga,”

Taeyeon tersenyum lembut kepada Suho. Suho menatap Taeyeon dengan tatapan terenyuh dan ia ikut tersenyum. Senyuman yang menyiratkan kesedihan. Taeyeon menyadari itu. Ia menyuruh Suho untuk tetap tersenyum lebar. Suho tertawa lagi dan ia hanya mengelus-elus puncak kepala Taeyeon dengan sayang.

Tepat saat itu, Luhan dan Chorong yang tengah melewati koridor itu melihatnya. Chorong membelalakkan kedua matanya dan ia berhenti melangkah. Luhan yang tengah bicara dengannya bingung melihat Chorong berhenti. Ia melihat arah tatapan Chorong dan ekspresinya lebih terkejut dari Chorong. Jantung Luhan serasa dikuras hingga darahnya mendadak naik ke atas. Rasanya kakinya tidak lagi menginjakkan lantai sekolah itu. Belum reda kemarahannya tadi dan sekarang kembali memuncak.

“Kajja,” ajak Chorong dengan lirih. Ia menarik lengan Luhan untuk menjauh dari tempat mereka berdiri.

“Ya, kau ingin bertemu Suho, ‘kan?” tanya Luhan marah. Ia hendak melangkah menghampiri Suho dan Taeyeon tapi Chorong menahan tubuhnya.

“Luhan-ah, sudahlah. Lebih baik kita kembali saja. Tidak baik mengganggu mereka. Aku bisa bicara dengan Suho oppa kapan saja,” cegah Chorong. Ia menarik lengan Luhan lebih kuat.

Luhan menatap Chorong dengan pandangan heran. Dan akhirnya ia menuruti Chorong untuk kembali ke aula.

Dalam perjalanan menuju aula, keduanya sama-sama diam. Keduanya sama-sama sibuk dengan fikiran mereka masing-masing. Fikiran Luhan masih melayang ke kejadian beberapa menit yang lalu, yang ia saksikan sendiri. Tawa renyah dari Taeyeon dan Suho yang membelai puncak kepala Taeyeon dengan lembut.

“Aku tahu siapa gadis itu,” ucap Chorong tiba-tiba. Ia mendadak berhenti ketika mereka hampir sampai di aula. “Henry oppa bercerita banyak tentangnya. Dan tentangmu yang sering bertengkar dengannya. Sampai Suho oppa menjaga dan melindunginya. Hampir persis dengan apa yang kualami. Bedanya, Kim Taeyeon adalah gadis yang kuat melawan mereka semua,”

“Apa kau cemburu pada gadis itu? Dengar, mereka tidak punya hubungan apa-apa. Suho hanya bersimpati padanya,” ujar Luhan cepat.

Chorong tersenyum geli. “Aku tahu. Aku juga tahu Suho oppa selalu menunggu kabar dariku. Tapi, setiap orang pasti mudah berubah, begitu juga dengan perasaannya. Suho oppa… sepertinya menyukai Taeyeon. Taeyeon pasti bisa membahagiakan Suho oppa, melebihi aku. Lagipula, aku sudah berulang kali menyakiti perasaan Suho oppa. Aku tidak ingin merebut kebahagiaan yang sudah didapatnya,”

“Bagaimana kau tahu Suho menyukai Taeyeon?” tanya Luhan marah. “Bukankah sudah kubilang, dia hanya bersimpati padanya. Dan dia melakukan itu karena dia ingin menebus kesalahannya yang membiarkanmu terluka. Dia tidak ingin ada korban lagi itu sebabnya dia menjaga Taeyeon. Kenapa kau tidak mengerti? Yang dia tunggu dan dia sayang hanya dirimu. Kau kembali menorehkan luka padanya lagi kalau kau seperti ini,”

Chorong terdiam. Ia menundukkan wajahnya dan Luhan tahu ia menangis.

“Kau tidak tahu oppa, berat rasanya harus pergi dari sisinya waktu itu. Tapi sekarang, setelah aku yakin dia akan baik-baik saja, aku bisa pulang ke Perancis dengan tenang,”

“Kau tidak akan tinggal di Seoul lagi?” tanya Luhan.

“Aku belum menyelesaikan sekolahku. Aku ke sini hanya untuk beberapa hari saja. Hanya ingin melihat kondisi Suho oppa sekaligus minta maaf. Setelah itu semua beban di hatiku akan berkurang. Aku bisa belajar di Perancis dengan tenang,” jelas Chorong dengan suara paraunya. Ia menyeka air matanya dan tersenyum pada Luhan. “Tapi, entah kenapa hatiku masih sangat berharap kalau dia akan menungguku. Aku ingin ia mengelus puncak kepalaku juga, seperti yang selama ini sering ia lakukan,”

Chorong terisak dalam diam. Luhan menghela nafas pelan. Chorong sudah seperti adiknya sendiri sejak mereka pertama kali bertemu. Otomatis ia merasa iba melihat Chorong menangis pilu seperti itu.

Luhan mendekati Chorong dan ia menarik tubuhnya ke dalam dekapan Luhan. Chorong semakin terisak ketika Luhan memeluknya dan menenangkan dirinya dengan menepuk-nepuk pelan punggung Chorong.

“Sepertinya malam ini aku akan banyak makan,” ujar Taeyeon sambil tertawa. Suho dan Taeyeon jalan beriringan hendak menaiki tangga menuju aula. Namun, langkah mereka berdua terhenti saat keduanya terperangah menatap dua orang yang mereka kenal sedang berpelukan. Luhan dan Chorong.

Taeyeon langsung membuang mukanya sedetik setelah ia melihat kejadian itu. Suho hanya diam dan tatapannya tidak lepas dari Luhan dan Chorong. Tatapan yang sama sekali tidak bisa diartikan.

Suho menolehkan wajahnya melihat Taeyeon, yang sibuk melihat dua ekor kucing sedang tidur bersama di sudut dinding sekolah. Dari tatapan serta ekspresi yang ditampilkan gadis itu, Suho tahu fikiran Taeyeon tidak berada di tempat kucing itu.

“Kajja,” ajak Suho lembut, membuat Taeyeon tersentak.

“Ah, ye,” jawab Taeyeon pelan.

Mereka berdua masuk ke dalam aula, yang kembali bingar ketika pesta dansa dimulai kembali. Kali ini lagunya sedikit rock dan hampir semuanya ikut berdansa serta tertawa lepas. Taeyeon mencari-cari kakaknya, yang masih duduk di meja makan bersama orang tua Luhan dan Mr. Lee.

Suho menarik lengan Taeyeon lembut ke arah teman-temannya. Di sana tentu saja sudah ada Luhan dan Chorong, serta Henry dan Jessica. Begitu Suho dan Taeyeon mendekat, raut wajah Luhan langsung berubah. Ia tadi sempat tertawa ketika berbicara dengan Henry. Namun, begitu Suho dan Taeyeon bergabung, ia membuang muka dan sibuk memerhatikan para siswa yang berdansa. Sedangkan Chorong, ia menyambut Suho dan Taeyeon dengan senyuman sumringahnya. Walaupun Taeyeon dapat melihat wajah dan mata Chorong sedikit memerah.

“Annyeonghaseyo, Chorong imnida,” sapa Chorong pada Taeyeon.

“Annyeonghaseyo, Taeyeon imnida,” balas Taeyeon dengan senyuman manisnya.

“Aku sudah mengenalmu. Soalnya Henry oppa sudah banyak bercerita tentangmu,” ujar Chorong. Suara gadis ini lembut dan tutur katanya ramah serta sopan. Taeyeon suka jika ada seseorang yang tipenya seperti Chorong ini.

“Wae?” tanya Taeyeon dengan tatapan bingung. Matanya menatap Henry, dan tatapannya tidak sengaja jatuh ke Luhan, yang sambil melipat kedua lengannya, memerhatikan para siswa itu di lantai dansa. Seolah-olah tidak peduli dengan pembicaraan mereka.

“Kau dekat dengan Suho oppa. Tapi bukan karena itu aku tertarik padamu. Karena kegigihanmu melawan orang-orang konglomerat itu. Sedangkan aku, aku lemah dan akhirnya memutuskan pindah. Suho oppa… berhasil menjagamu. Kau juga pasti tahu tentangku, benar?” tanya Chorong ceria.

“Aku bisa bertahan karena aku punya prinsip dan aku punya banyak teman-teman yang mau melindungiku,” jelas Taeyeon sambil menatap Jessica, yang balas menatapnya kemudian tersenyum kecil. “Suho oppa hanya melengkapi,” canda Taeyeon.

“Ya,” tegur Suho sembari menyenggol lengan Taeyeon pelan.

Melihat itu, Chorong tertawa kecil dan akhirnya ia menatap Suho. Suho juga menatap Chorong. Keduanya saling bertatapan. Tawa Chorong berubah menjadi senyuman kecil. Ia kembali menatap Taeyeon.

“Setelah ini, Suho oppa akan terus menjagamu…”

“Bukankah ada yang ingin kau bicarakan dengan Suho, Rongie-ah?” tanya Luhan cepat. Ia memotong perkataan Chorong.

Chorong menatap Luhan dan ia terdiam. Taeyeon dapat melihat Chorong menelan ludahnya, berusaha keras agar air matanya tidak keluar, karena matanya mulai berkaca-kaca.

“Suho… dia hanya akan melindungi satu orang saja. Dan itu bukan aku,” ujar Taeyeon pelan, dengan sangat sungguh-sungguh. Matanya menatap dalam-dalam mata Chorong.

“Mwoya?” tanya Chorong dengan kikuk. Ia kembali tersenyum lebar. “Memang ada yang ingin kubicarakan pada Suho oppa,”

“Kalau begitu bicaranya diluar saja,” ujar Suho pelan.

Chorong mengangguk. “Taeyeon-ssi, aku ingin mengobrol banyak hal padamu. I’ll be back,”

Begitu Suho dan Chorong keluar aula, Taeyeon menatap Henry, yang masih menatap kepergian Suho dan Chorong.

“Aneh, ya? Kenapa mereka jadi canggung begitu?” tanya Henry. “Sepertinya banyak kesalahpahaman,”

“Apa selama ini hanya kau yang berkomunikasi dengan Chorong?” tanya Taeyeon pada Henry.

“Eung. Dia banyak bercerita. Tentang alasannya, semuanya. Kurasa itu juga yang akan dia sampaikan pada Suho,” jawab Henry.

“Tentu saja tidak. Dia hanya akan bilang selamat tinggal,” ujar Luhan ketus.

Taeyeon, Henry, dan Jessica menatap Luhan dengan tatapan bingung, penasaran, dan heran. Sebelum dari mereka bertanya apa maksud dari ucapan Luhan, Luhan langsung melangkahkan kakinya menuju meja makan tempat orang tuanya, Mr. Lee, dan kakak Taeyeon berkumpul.

“Kau tidak ke sana? Mereka mencarimu,” ujar Luhan singkat pada Taeyeon.

“Kau belum makan, ‘kan? Sana pergi,” bisik Jessica. Taeyeon hanya mengangguk dan ia mengikuti Luhan dari belakang.

“Kau tahu apa yang terjadi, Jessie?” tanya Henry, saat Jessica masih memerhatikan Taeyeon yang sudah jauh. “Mereka saling salah paham. Tidak ada satupun dari mereka yang tahu kebenarannya,”

“Apa kau yakin Luhan sudah jatuh cinta? Benar-benar jatuh cinta? Bukan sekedar perasaan sesaat?” tanya Jessica.

“Aku mengenal Luhan dengan sangat baik. Bocah itu tidak akan mau cemburu buta pada gadis yang tidak dicintainya. Dan Taeyeon juga bukan tipenya. Ia mencintai Taeyeon dari dalam hatinya,” jawab Henry yakin.

Begitu Luhan dan Taeyeon sampai di meja makan kedua orang tua Luhan, Ji Woong langsung menarik kursi untuk Taeyeon. tapi Taeyeon menolak dan ia lebih memilih duduk di samping Mr. Lee. Ji Woong hanya menarik nafas pelan dan membuangnya sedikit kasar. Ia sudah tahu dari awal kalau adiknya akan marah.

“Kenapa lama sekali mencari Taeyeon, Luhan-ah?” tanya Mr. William, membuat Taeyeon tersentak kaget.

“Mencarinya butuh waktu lama. Apalagi dia sedang asyik pacaran,” jawab Luhan dingin.

Ji Woong menatap Taeyeon dan Luhan secara bergantian, dengan tatapan penasaran. Pacar? Ia tidak pernah mendengar ada nama laki-laki lain yang keluar dari bibir Taeyeon selain Heechul dan Chanyeol.

Taeyeon semakin terkejut lagi. Ia batal menyuapkan makanan ke dalam mulutnya dan menatap Luhan dengan ekspresi terkejut. Apa maksudnya ia sibuk pacaran? Ia dari tadi bersama Suho di koridor. Tunggu, apakah yang Luhan maksud itu dia dan Suho?

“Pacar? Taeyeon-ah punya pacar?” tanya Mrs. Pu Li pada Taeyeon.

Taeyeon hanya diam sambil menggelengkan kepalanya pelan.

“Kalau begitu, duduklah. Kita mengobrol sambil makan saja. Kau belum makan, ‘kan, Luhan-ssi? Cepatlah makan,” ajak Mr. Lee dengan wajahnya yang riang.

“Aku tidak bernafsu makan, sajangnim. Nikmati saja makan malam ini tanpa aku,” tolak Luhan. Ia balik badan dan pergi entah ke mana.

“Ya, ya Luhan-ah!” panggil Mr. William dengan suaranya yang agak keras, berusaha mengalahkan suara musik di aula itu.

Namun Luhan terus melangkah pergi keluar aula, tanpa menolehkan kepalanya ke belakang sedikit pun ke belakang.

“Aigo, anak itu benar-benar,” gumam Mr. William sambil mengelap keringatnya yang mengalir dari dahinya. “Istriku, apa aku minum obatnya sekarang saja?”

“Apa? Kenapa? Apa mulai kambuh lagi?” tanya Mrs. Pu Li dengan ekspresi panik dan khawatir.

“Tidak, tidak. Aku hanya ingin mengantisipasi saja. Kau tidak perlu terlalu khawatir,” jawab Mr. William dengan senyumannya yang lembut.

“Apa yang terjadi?” tanya Taeyeon dengan rasa penasaran yang tinggi. Ia juga sedikit cemas karena melihat wajah ibu Luhan yang panik setengah mati.

“Gwaenchannayo, Taeyeon-ah,” jawab Mr. William tenang.

“Pu Li, lebih baik kalian pulang sekarang saja. Tidak baik kalau William berlama-lama di sini. Pulang dan istirahatlah, Will. Aku akan mengantar kalian ke depan gerbang sekolah. Cepat hubungi supir kalian, Pu Li,” ujar Mr. Lee cepat. Ia bangkit dan membantu Mr. William berdiri dari tempat duduknya. Sedangkan Mrs. Pu Li sedang menelepon supirnya.

“Padahal ada banyak hal yang ingin kuceritakan padamu, Taeyeon-ah. Banyak sekali. Tapi sepertinya tidak bisa sekarang. Mereka berdua benar-benar berlebihan sekali jika aku sudah seperti ini. Kita akan bertemu lagi, Taeyeon-ah. Sampai jumpa,” pamit Mr. William dengan senyuman lebarnya.

Taeyeon diam dan hanya mengangguk. Setelah ketiganya pergi dari aula, Taeyeon baru teringat dengan kalung Mrs. Pu Li yang terjatuh di dekat pintu masuk.

“Taenggoo-ah,” panggil Ji Woong.

Taeyeon menolehkan wajahnya ke arah Ji Woong tanpa menunjukkan ekspresi apa-apa. Ji Woong menghela nafas pendek dan mendekati Taeyeon dengan senyuman manisnya.

“Aku tahu kau kesal dan aku tidak akan menyalahkanmu. Tapi aku bisa menjelaskannya semua padamu, Tae. Aku  tidak akan terus-menerus menyembunyikannya,” ujar Ji Woong lembut.

Taeyeon diam sesaat sebelum ia tersenyum kecil pada kakak semata wayangnya itu. “Gwaenchannayo. Aku juga tidak terlalu memikirkannya karena kufikir masalah itu tidak ada hubungannya denganku. Aku sama sekali tidak kesal,” jawab Taeyeon dengan nada datar.

Ji Woong ingin menanggapi pernyataan Taeyeon, tapi Taeyeon buru-buru memotongnya. “Oppa, aku pergi keluar sebentar, ya?”

Ji Woong menganggukkan kepalanya dan ia membiarkan Taeyeon pergi menghilang di antara kerumunan siswa-siswi itu.

Setelah pergi dari hadapan Ji Woong dan memasuki kerumunan orang-orang yang sibuk mengobrol dan bercanda tawa, Taeyeon langsung mengarahkan kakinya menuju seorang pelayan laki-laki yang sedang membawa nampan kecil berisikan sebotol besar wine. Ia heran kenapa pelayan itu membawa wine, yang jelas-jelas dilarang keras di sekolah ini kecuali untuk para petinggi sekolah.

“Ahjussi, kenapa kau membawa wine? Untuk siapa itu?” tanya Taeyeon dengan mimik curiga.

“Ah, ini…. Ehm. Sebenarnya… Aigoo. Ahgassi, jeoseonghamnida. Tapi Tuan Xi Luhan meminta saya untuk membawakan ini ke kantor Ketua Murid. Saya tidak ingin memberikannya, tapi dia memaksa, ahgassi,” jelas pelayan laki-laki itu dengan wajah memelas.

“Luhan?” tanya Taeyeon dengan sedikit mengernyit. “Anak itu, benar-benar. Sudah berapa botol yang dia habiskan?”

“Eung… Yang saya bawa ini adalah botol kedua,” jawab pelayan laki-laki itu dengan suara pelan.

“Mwo?! Dia berencana minum berapa banyak?!” tanya Taeyeon dengan ekspresi amat terkejut.

“Saya juga tidak tahu, ahgassi,” jawab pelayan itu sopan.

“Tidak usah di antar. Biarkan saja. Bawa kembali wine itu ke dalam. Kalau dia marah padamu aku yang akan bertanggung jawab,” ujar Taeyeon cepat. “Aku akan membunuhnya malam ini juga. Dasar iblis,”

Pelayan laki-laki itu menganggukkan kepalanya. Ia sedikit membungkuk dan kembali ke dapur. Saat si pelayan sudah menghilang, Taeyeon langsung balik badan dan keluar dari aula, menuju kantor Ketua Murid.

~~~

“Apa sekarang kau bahagia?” tanya Suho pada Chorong saat keduanya tengah duduk di bangku taman sekolah, bermandikan sinar rembulan dan taburan bintang di langit malam yang cerah.

Wajah Chorong yang bening terlihat semakin bersinar kala itu. Wajah yang dirindukan Suho, yang selalu ia mimpikan tiap malam, yang selalu ia ingat kalau ia tengah berdoa. Wajah dan senyuman manisnya yang tak akan pernah dia lupakan. Masih segar dalam ingatan Suho wajah polos gadis itu sebelum dia pergi. Dan sekarang, Chorong yang ada di depannya ini sudah dewasa dan semakin cantik.

“Apa terlihat jelas sekali?” Chorong balik bertanya dengan tersenyum lebar.

“Kenapa kau hanya cerita pada Henry saja kalau selama ini orang tuamu punya usaha di Perancis? Apa aku tidak boleh mendengar ceritamu lagi?” tanya Suho dengan sedikit bercanda.

“Ani, kalau aku cerita padamu, aku akan merasa bersalah jika bercerita lewat media. Aku ingin bicara dan cerita langsung,” jawab Chorong.

Suho mengangguk sambil tersenyum tipis. Pandangannya menerawang jauh ke langit. “Jadi, apa kau kembali karena ingin bertemu dengan Luhan? Apa hubungan kalian akan berlanjut?”

Chorong menatap Suho dengan tatapan terkejut. “Mwo? Kenapa harus Lu oppa? Aku kesini untuk bertemu dengan kalian semua. Dan hubunganku dengan Lu oppa juga hanya sebatas teman dekat. Kenapa kau berfikiran kami punya hubungan special? Kau terlalu berlebihan, oppa,”

“Jinjja? Bukankah selama ini Luhan selalu ada di sampingmu? Dia sangat menyayangimu,” ucap Suho.

“Arrayo. Kami sudah seperti saudara waktu itu. Bahkan sekarang juga. Dari dulu sampai kapanpun itu, aku hanya akan menganggap Luhan oppa sebagai kakakku sendiri. Dan dia pun juga begitu. Sepertinya kau juga selama ini salah paham, oppa,” jelas Chorong sambil tertawa.

“Benarkah?” tanya Suho dengan lirih.

“Ah, benar!” seru Chorong. Ia menolehkan wajahnya ke arah Suho. “Aku tidak ingin membuang waktumu cukup lama, oppa. Aku… selain ingin bertemu kembali dengan kalian, aku ingin minta maaf kalau selama ini aku selalu membuatmu khawatir, aku juga tidak memberi kabar, langsung menghilang seenaknya. Aku begitu karena berat rasanya jika harus beranjak dari sisi oppa, karena di sisi oppa-lah aku merasa nyaman.

“Aku juga ingin bilang terima kasih untuk semuanya. Dari aku kecil sampai aku tumbuh dewasa, hanya kau yang tulus melindungiku dan menjagaku lebih dari Lu oppa. Aku tidak akan punya semangat hidup lagi kalau kau tidak ada, oppa. Kau yang selama ini membentukku hingga aku menjadi seperti sekarang, dan meskipun kita tidak akan bertemu lagi, kau akan tetap dan terus kuingat,”

Chorong tersenyum tulus dan lembut saat ia mengatakan hampir seluruh isi hatinya untuk Suho. Tatapannya yang indah jatuh ke manik mata Suho. Tapi dia tidak ingin pertahannya hancur. Dan Chorong hanya mampu sedikit menundukkan wajahnya.

“Bicara apa kau? Kenapa omonganmu seakan-akan kau tidak akan pernah kembali lagi?” tanya Suho dengan suara bergetar.

“Aku sengaja datang ke sini untuk pamit pada Luhan oppa dan yang lainnya, termasuk dirimu. Henry oppa membujukku untuk datang ke Korea sebentar, sekedar mengucapkan salam perpisahan dan menunjukkan padamu bahwa aku selama ini baik-baik saja. Aku butuh waktu yang cukup lama untuk memikirkan perkataan Henry oppa. Karena aku tahu, aku tidak akan sanggup mengatakannya secara langsung.

“Tapi,” sambung Chorong, kini suaranya terdengar lirih dan kelihatan jelas ia ingin menangis. “Kalian dan aku sudah menemukan kebahagiaan kita masing-masing. Tidak ada alasan untuk merasa sedih. Aku yakin, walaupun kita jauh, tapi kita semua bisa bertemu, tentu saja dengan kehidupan kita masing-masing,”

Hati Suho mencelos. Dia bukan orang yang mudah menangis, tapi perkataan Chorong seperti sebuah tamparan menyakitkan yang mengena tepat di hatinya. Bagaimana pun juga, sekuat apapun ia sebagai seorang lelaki, akan ada sesuatu yang bisa membuatnya lemah. Dan itu adalah Chorong.

Keduanya diam, saling menyelami fikiran mereka masing-masing. Sedangkan Suho perlahan-lahan menyusun kembali kekuatan dirinya yang sempat melebur akibat perkataan Chorong. Lagipula, ini adalah keputusan bulat dari Chorong. Jika ia memaksa Chorong untuk tetap di sisinya dan mengutarakan perasaannya, maka beban Chorong akan semakin banyak.

Suho sadar, perasaannya ini hanya akan jadi beban untuk orang yang dicintainya.

“Berjanjilah,” ucap Suho pelan. “Berjanjilah satu hal padaku kalau kau akan terus bahagia di sana. Berjanjilah untuk tidak pernah terluka lagi,”

Chorong diam. Ia tidak berani menatap mata Suho, yang tengah menatapnya dalam-dalam. Hatinya sudah cukup hancur malam ini. Pertahanannya sudah mulai goyah. Jika ia terus duduk bersama Suho di sini, di taman ini, ia takut air matanya akan mengalir dan tidak kunjung berhenti.

“Tentu saja,” jawab Chorong pelan. “Aku akan bahagia. Kau juga harus seperti itu, ya oppa? Mulai sekarang, hanya satu orang saja yang bisa kau lindungi dan kau jaga seumur hidupmu,”

Suho tersenyum. Entah apa maksud dari senyumannya itu.

“Oppa,” panggil Chorong, nyaris berbisik. “Aku ingin kembali ke aula. Kau ikut?”

“Tinggalkan saja aku disini. Aku masih nyaman di taman ini,” tolak Suho dengan nada ceria.

“Arraseo. Aku ke dalam oppa,” pamit Chorong.

Ia bangkit secara perlahan dari kursi taman dan mulai melangkah menjauhi Suho.

Selama dalam perjalanannya menuju aula, Suho tidak tahu kalau sepanjang jalan itu Chorong menangis terisak-isak dalam diam. Ia sesenggukan dan tidak berhenti. Suho tidak tahu, kalau Chorong melanggar janjinya yang baru saja mereka buat. Hatinya terluka, dan bekasnya tidak akan hilang.

“Berjanjilah kau akan melupakanku, oppa,”

~~~

Taeyeon melangkah dengan cepat menyusuri koridor sekolah menuju kantor Ketua Murid. Ia terus menggerutu dalam hati melihat tingkah partner-nya itu. Kalau sampai Mr. Lee dan Mr. Kim tahu, habislah mereka berdua.

Begitu sampai di depan pintu kantor, Taeyeon tidak melihat sepatu Luhan di luar. Tapi ia bisa mencium aroma parfume Luhan di dalam ruangan. Dan dengan sigap, Taeyeon langsung membuka pintu kantor itu, yang sama sekali tidak terkunci.

Itu dia. Sedang duduk di atas sofa dengan kepalanya yang mendongak ke atas. Taeyeon mendekati laki-laki itu, yang tampaknya sedang tertidur. Dapat Taeyeon dengar suara nafas Luhan yang naik turun secara beraturan. Dasinya yang semula rapi kini berantakan. Kancing atas kemejanya terbuka, memperlihatkan sebagian dada atasnya yang bidang. Sedangkan tuxedo yang ia pakai ia lempar sembarangan di atas meja kantornya.

Dapat Taeyeon lihat di meja depan Luhan sudah ada sebotol besar wine yang kosong dan sebuah gelas kaca yang masih ada sedikit sisa wine-nya. Taeyeon mendudukkan tubuhnya di samping tubuh Luhan.

“Ya, Xi Luhan! Ppali ireona! Kenapa kau begitu gegabah, eoh?! Kau sadar, ‘kan kau ini Ketua Murid? Kenapa tingkahmu begitu tidak hati-hati?! Babo!” seru Taeyeon sambil mengguncang-guncangkan bahu Luhan. “Kau juga harus segera pulang. Ayahmu jatuh sakit, Luhan-ssi,”

Luhan mengerang. Ia sedikit menegakkan kepalanya ke arah Taeyeon dan menatap gadis itu dengan menyipitkan matanya. Ia tersenyum sinis dan ia menghempaskan tangan Taeyeon dari bahunya.

“Pergilah,” ujar Luhan pelan. Ia kembali memejamkan kedua matanya. “Pergi dan jangan ganggu aku,”

“Ya!” seru Taeyeon. “Kau hanya ingin membuatku dalam masalah, ‘kan? Kau boleh saja melakukan hal yang kau suka, tapi jangan di sekolah. Kau bisa menghancurkan reputasiku juga! Kau benar-benar selalu membuatku kesal!”

Taeyeon bangkit dan menghentakkan kakinya dengan kesal. Ia mendengus sebal ke arah Luhan dan hendak keluar dari ruangan itu. Namun, langkahnya langsung terhenti saat dua pasang lengan Luhan melingkar sempurna di tubuh mungil Taeyeon.

Taeyeon terkesiap. Darahnya mendadak berhenti mengalir dan jantungnya berdebar kencang. Pupil matanya membesar dan tubuhnya sulit digerakkan, membeku begitu saja.

Nafas Luhan yang hangat dan mengeluarkan bau alkohol itu menerpa leher Taeyeon begitu ia menggerakkan bibirnya untuk bicara. “Kau yang menyebalkan,”

“M… Mwo?” tanya Taeyeon gugup. Ia menggigiti bibirnya, panik sekaligus takut.

“Kau menyebalkan. Kenapa harus dirimu, eoh?! Kenapa harus kau yang menolakku? Aku membencimu dari awal. Tapi yang paling kubenci adalah saat kau tersenyum tulus untuk laki-laki lain, saat kau menunjukkan senyumanmu untuk orang lain dan itu bukan aku! Kau tidak pernah tersenyum padaku. Dan itu membuatku hampir gila. Kenapa? Kenapa itu harus dirimu? Aku benar-benar seorang penjilat ludah sendiri,” ujar Luhan pelan di telinga kiri Taeyeon.

Jantung Taeyeon tertohok. Apa yang dikatakan laki-laki ini benar? Apa dia memang mengeluarkan perkataannya ini dengan setulus hati? Dan kenapa Taeyeon merasa semakin tidak sanggup untuk bergerak? Kenapa kakinya seolah-olah enggan untuk melepaskan dirinya dari dekapan Luhan?

Laki-laki itu semakin mempererat pelukannya, dan Taeyeon yakin Luhan pasti bisa mendengar debaran jantungnya yang menggila.

“Tapi aku sama sekali tidak menyesal. Aku tidak menyesal dengan apa yang sekarang kurasakan. Yang ingin kulakukan sekarang ini adalah membuatmu menoleh kepadaku. Aku ingin kau hanya melihatku. Aku ingin senyumanmu itu hanya kau perlihatkan padaku. Jangan pernah tunjukkan ke orang lain. Aku tidak suka,”

“Apa yang kau bicarakan?” tanya Taeyeon. Ia ingin membentak dan memberontak pada Luhan. Tapi kenapa tenaganya sama sekali tidak ada? Bahkan ia seperti merasa suaranya hilang entah kemana. “Kau mabuk. Cepat sadarkan dirimu dan jangan bertingkah konyol,”

Luhan diam tidak bersuara. Ia sedikit melonggarkan dekapannya tapi kedua lengannya tidak lepas dari tubuhnya. Seharusnya Taeyeon bisa melarikan diri. Tapi kenapa tubuhnya serasa disihir untuk tidak bergerak sesentipun? Kakinya seperti meleleh di ruangan itu saat Luhan membalikkan tubuh Taeyeon menghadapnya dengan perlahan.

Dan sekarang ia dapat menatap wajah laki-laki itu. Sepasang mata hazel yang lembut menyapa kedua mata Taeyeon dan mengebornya dalam-dalam. Wajah mereka tidak lebih dari lima sentimeter dan itu membuat Taeyeon semakin tidak bisa bernafas. Ia merasa sulit untuk menelan ludahnya sendiri. Dan akhirnya, ia menundukkan wajahnya, tidak sanggup untuk berlama-lama menatap sepasang mata rusa itu.

Kenapa si brengsek ini jadi begitu tampan? Pakaiannya tidak serapi dari awal acara, rambutnya yang hitam kecokelatan awut-awutan dan itu tidak mengurangi ketampanannya. Malah semakin memesona. Tapi tetap saja, Taeyeon tidak berani mengangkat wajahnya. Malam itu dia jadi perempuan bodoh yang tidak segera lari dari jeratan iblis kejam.

“Hei, tatap aku,” lirih Luhan. Kedua tangannya menyentuh kedua pipi Taeyeon. Dengan perlahan Luhan mencoba mengangkat wajah Taeyeon.

“Ani. Lepaskan,” tolak Taeyeon pelan, tanpa menatap laki-laki yang ada di depannya itu, yang hanya berjarak lima sentimeter. Sedikit lagi, hidung mereka pun akan bersentuhan.

“Tubuhmu tidak mau lepas dariku, Ms. Kim. Aku harus bagaimana?” tanya Luhan.

Dan Luhan mengangkat wajah Taeyeon dengan paksa. Taeyeon membulatkan kedua bola matanya, terkejut. Bola matanya tidak fokus pada wajah Luhan, yang sedikit demi sedikit mendekatkan wajahnya pada Taeyeon. Tanpa aba-aba, Taeyeon langsung menutup kedua matanya rapat-rapat dan ya, sedetik kemudian bibirnya dapat merasakan permukaan halus bibir Luhan.

Taeyeon sendiri pun tidak tahu sama sekali kenapa dia menutup kedua matanya. Apa dia mengharapkannya? Menunggunya? Tidak, itu tidak mungkin. Tapi kenapa dia tidak langsung melepaskan diri dari Luhan? Seakan-akan Luhan sudah menghipnotisnya untuk tidak bergerak sejengkal pun.

Ini ciuman ketiga mereka. Ciuman ini berbeda dari sebelumnya. Luhan hanya menempelkan bibirnya di bibir Taeyeon tanpa melakukan apapun. Ciuman lembut yang manis dan berbau alkohol. Taeyeon benci alkohol. Tapi ia tidak merasa mual ketika mencium baunya di bibir Luhan. Dan yang lebih berbeda lagi, Taeyeon tidak berusaha melarikan diri.

Luhan menarik pelan leher Taeyeon dengan kedua tangannya, membuat bibir mereka semakin menempel. Taeyeon menahan nafasnya yang menggebu dalam dirinya. Jantungnya berdebar tak karuan dan tidak kunjung berhenti. Tubuhnya merasa panas padahal AC dalam ruangan itu dinginnya sudah maksimal.

Luhan melepaskan ciuman mereka lima menit kemudian tanpa menjauhkan wajahnya. Hidung mereka masih bersentuhan dan mata rusa milik Luhan menatap dalam-dalam wajah bening Taeyeon. Taeyeon membuka kedua matanya dan balas menatap Luhan dengan pandangan takut yang sulit diartikan. Takut kenapa dirinya sama sekali tidak merasa takut seperti sebelumnya. Takut kenapa dia malah membiarkan dirinya disentuh Luhan lagi.

Luhan kembali memajukan wajahnya pada Taeyeon dan mencium bibirnya lagi. Sebanyak lima kali ia mengecupi bibir Taeyeon dan setelah itu ia tersenyum menatap Taeyeon sembari mengelus pipi kiri Taeyeon yang mulus.

“Kau tahu? Ciuman itu memabukkan. Apalagi kalau itu denganmu,” ujar Luhan pelan. Dengan perlahan, Luhan menyapu bibir bawah Taeyeon dengan ibu jarinya sambil menatapnya dengan intense.

Taeyeon tersentak sadar dan ia mendorong dada Luhan untuk menjauh darinya. “Kau benar-benar mabuk. Aku akan memanggil yang lain untuk memberitahu keadaanmu,”

Luhan mengeluarkan smirk-nya dan menenggak habis sisa wine yang ada di gelasnya. Sebelum Taeyeon membalikkan tubuhnya untuk pergi dari kantor, Luhan menarik pergelangan tangan Taeyeon dan langsung mencium bibir gadis itu lagi. Taeyeon yang tidak siap dengan perlakuan Luhan hanya bisa menutup matanya rapat-rapat. Ciuman itu berubah menjadi ciuman kasar seperti yang dulu.

Belum hilang kekagetannya, Taeyeon kembali mendapat kejutan dari Luhan. Ia mengangkat dagu Taeyeon dan memaksanya untuk membuka mulutnya. Begitu Taeyeon membuka mulutnya, Luhan langsung menyalurkan wine yang tadi dia minum ke dalam mulut Taeyeon. Taeyeon langsung membuka kedua matanya ketika dirasakannya tenggorokannya menelan sesuatu yang menyengat dan panas. Dan dari baunya itu adalah alkohol.

Alkohol pertama yang ia rasakan.

Taeyeon langsung mendorong kuat tubuh Luhan. Ciuman mereka terlepas begitu saja dan tubuh Luhan jatuh tepat di atas sofa. Setetes alkohol turun dari sudut bibir Taeyeon dan ia buru-buru menghapusnya. Luhan menegakkan tubuhnya dan menatap Taeyeon sembari tersenyum.

“Wae? Baru pertama merasakan alkohol? Bagaimana? Enak, ‘kan?” tanya Luhan dengan smirk khas-nya.

“Neo jeongmal…,”

Sejurus kemudian Taeyeon langsung membalikkan tubuhnya dan mengambil langkah seribu untuk keluar dari kantor itu, meninggalkan Luhan yang sedang menatap kepergiannya. Setelah gadis itu pergi, Luhan menghela nafas panjang dan membuangnya dengan kasar. Namun, sedetik kemudian matanya menangkap sebuah benda kecil yang berkilau di dekat kaki sofa sebelah kiri.

Ia membungkuk untuk mengambil benda itu. Ternyata anting-anting. Dan ia yakin anting-anting itu adalah anting-anting milik Taeyeon.

~~~

Taeyeon berjalan gontai menuju aula. Ia menundukkan wajahnya yang lesu sembari mengangkat sedikit gaunnya yang menyeret lantai. Acara sudah hampir selesai dan ia ingin cepat-cepat pulang saja. Beberapa menit yang lalu, ia sudah menghubungi Jessica untuk memberitahu Henry kalau Luhan sedang dalam keadaan mabuk di kantor Ketua Murid. Dan ia juga sudah dikabari kakaknya kalau ia mengajak Taeyeon pulang sekarang.

Ketika dirinya hendak berbelok menuju koridor yang membawanya ke aula sekolah, tidak sengaja Taeyeon menangkap sosok kakaknya dengan seorang perempuan yang sangat dia kenal. Betapa terkejutnya Taeyeon ketika ia melihat gadis itu adalah Irene. Mereka tampak sedang bicara serius dan mau tak mau Taeyeon mendengarkan pembicaraan mereka.

“Oppa,” terdengar suara rintihan Irene. Belum pernah Taeyeon melihat ataupun mendengar Irene sesedih seperti saat ini. “Kita bertemu lagi. Apa yang ingin aku katakan padamu, ya? Kata-kataku menghilang begitu saja begitu melihatmu. Padahal ada begitu banyak hal yang ingin kusampaikan untukmu, oppa,”

“Joo Hyun-ssi,” sahut Ji Woong. Ia menatap Irene dengan pandangan dan senyuman yang sulit diartikan. “Apa yang terjadi di masa lalu itu kumohon lupakanlah. Lagipula aku hanya menjadi ‘oppa’-mu hanya sampai sekolah dasar. Setelah itu, kita kembali seperti semula. Sunbae dan hoobae. Oke? Sampai bertemu lagi. Selamat malam,”

Ji Woong membungkukkan tubuhnya sedikit dan ia melengos pergi masuk ke dalam aula. Sebelum ia benar-benar masuk, Taeyeon memanggilnya. Ji Woong maupun Irene menoleh menatap Taeyeon. Taeyeon sedikit tersentak begitu ia menatap kedua mata Irene yang memerah dan berkaca-kaca.

“Ayo pulang,” ajak Taeyeon pelan pada Ji Woong. Tapi tatapannya masih melekat pada Irene.

Irene mengalihkan pandangannya dari Taeyeon dan ia pergi entah kemana. Taeyeon mengamatinya sampai wujudnya tidak kelihatan lagi. Dan ia kembali menatap Ji Woong dengan tatapan bertanya-tanya.

“Hyunnie? Jadi Hyunnie itu adalah Irene? Orang yang selama ini kau bicarakan adalah gadis itu?” tanya Taeyeon tidak percaya.

Ji Woong diam. Ia lebih memilih menatap Taeyeon sambil tersenyum kecil.

“Aku tidak percaya,” gumam Taeyeon. Irene? Gadis yang selama ini selalu ribut dengannya dan teman-temannya adalah sosok yang dicintai kakaknya? “Lalu, kenapa oppa bicara begitu padanya? Bukankah kau yang bilang kau merindukannya? Tapi kenapa omongan oppa begitu kasar? Kau tahu kalau kau melukai perasaannya?”

“Aku sudah melukai perasaannya sejak lima tahun yang lalu, Taeyeon-ah. Perasaan kami masih sama ternyata. Tapi perasaan kami hanya akan membuatnya semakin terluka. Itu sebabnya aku menghentikannya sebelum terlambat. Aku tidak akan pantas berada di sisinya,” jelas Ji Woong sambil mengedikkan kedua bahunya.

“Kau seperti anak-anak, oppa. Jinjja,” ujar Taeyeon. “Kenapa kau tidak pantas di sisinya? Apa kau menyangka dia memandangmu dari sisi materi? Dia masih mengingatmu dan bahkan begitu sedih saat kau bilang begitu. Setidaknya jika kau benar-benar mencintainya, kau akan berusaha untuk pantas berada di sampingnya,”

Ji Woong melangkah mendekati Taeyeon dan ia menggenggam telapak tangannya. “Kajja, kita pulang,”

~~~

“Kau menyebalkan. Kenapa harus dirimu, eoh?! Kenapa harus kau yang menolakku? Aku membencimu dari awal. Tapi yang paling kubenci adalah saat kau tersenyum tulus untuk laki-laki lain, saat kau menunjukkan senyumanmu untuk orang lain dan itu bukan aku! Kau tidak pernah tersenyum padaku. Dan itu membuatku hampir gila. Kenapa? Kenapa itu harus dirimu? Aku benar-benar seorang penjilat ludah sendiri,”

Taeyeon bangkit dari tidurnya dan ia menyandarkan punggungnya di dinding kamarnya sambil memangku kepalanya di atas kedua lututnya.

Ini sudah pukul tiga dini hari dan ia belum bisa memejamkan matanya semenit pun. Matanya juga tidak bisa diajak kompromi. Padahal besok ia harus mulai kembali beraktifitas seperti biasa.

Ini semua karena ucapan gila laki-laki itu. Kenapa? Bisa saja laki-laki itu hanya mempermainkan perasaannya seperti kebiasaannya selama ini. Yang ia cintai sesungguhnya adalah Park Chorong. Jadi dia tidak perlu begitu mempercayai ucapannya.

“Tapi aku sama sekali tidak menyesal. Aku tidak menyesal dengan apa yang sekarang kurasakan. Yang ingin kulakukan sekarang ini adalah membuatmu menoleh kepadaku. Aku ingin kau hanya melihatku. Aku ingin senyumanmu itu hanya kau perlihatkan padaku. Jangan pernah tunjukkan ke orang lain. Aku tidak suka,”

Taeyeon menenggelamkan kepalanya di atas lututnya. Ia merutuki dirinya sendiri.

“Kau bodoh, Kim Taeyeon. Bodoh,”

Kenapa semua ucapan Luhan, tingkahnya, dan sentuhannya harus dibawa perasaan oleh Taeyeon? Ia tahu Luhan bukanlah orang yang cukup baik, yang tidak punya otak dan tidak berperasaan. Tapi kenapa kenyataan itu seolah-olah hanya angin lalu untuknya?

~~~

Taeyeon membuka lokernya dan segera mengambil beberapa buku pelajarannya. Ia sedang menutup lokernya ketika ponselnya berdering menandakan ada pesan masuk.

From : Eomma^^

Taeyeon-ah~, ibu akan pulang ke Korea sore ini. Sekarang sedang take off. Tunggu kehadiran kami, honey.  We miss you so much. Love you.

 

Taeyeon tersenyum lebar begitu membaca isi pesan ibunya. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu. Dia rindu berada di pelukan ibunya dan bercerita banyak hal. Akhirnya.

Begitu Taeyeon menyimpan kembali ponselnya, ia balik badan dan hendak melangkah menuju kelasnya. Tapi mendadak jantung dan seluruh tubuhnya berhenti berfungsi saat ia melihat seseorang yang tidak jauh dari hadapannya sedang berjalan ke arahnya.

Laki-laki itu berhenti tepat di depan Taeyeon. Taeyeon berusaha menatapnya dengan pandangan biasa saja. Ia berharap kalau laki-laki itu tidak tahu perang batin yang terjadi di dalam dirinya.

“Lakukan pemeriksaan ID card hari ini aku yang lakukan, ‘kan?” tanya Taeyeon sembari note kecil miliknya. Ia membacanya cepat dan menutupnya lagi. “Kalau begitu kau akan berkeliling sekolah, memeriksa siapa saja yang tidak ada di kelasnya saat pelajaran berlangsung,”

Selesai berkata seperti itu, sedetik kemudia Taeyeon langsung melangkah meninggalkan Luhan. Tapi Luhan menahan pergelangan tangannya dan menariknya agak kasar ke hadapannya.

“Mwoya?” tanya Taeyeon sambil menunjukkan wajah kesakitan.

“Hari ini evaluasi jam empat sore di kantor Mr. Lee,” ujar Luhan pelan dan dingin tanpa melepaskan genggamannya di telapak tangan Taeyeon. Ia mentap wajah Taeyeon dalam-dalam, sedangkan Taeyeon menatap ke arah lain.

“Arraseo. Nah, sekarang lepaskan aku,” ujar Taeyeon.

“Taeyeon-ah,” panggil seorang gadis yang sangat Taeyeon kenal suaranya.

Taeyeon menolehkan wajahnya menatap Jessica dan ia langsung menghempaskan tangan Luhan. Jessica yang melihat itu hanya memandang Taeyeon dengan tatapan penasaran.

“Kita ke kelas bersama,” ajak Taeyeon. Ia menyembunyikan rasa gugupnya.

“Tunggu,” ujar Jessica. Ia melangkah menuju lokernya sambil menatap Luhan. “Apa keadaanmu sudah membaik?”

“Lebih baik,” jawab Luhan. “Kau pergi bersama Henry?”

“Ani,” jawab Jessica pelan. “Tapi aku bertemu dengannya di depan gedung tadi,”

Luhan hanya mengangguk dan ia pergi keluar gedung sekolah. Jessica menutup pintu lokernya dan menatap Taeyeon.

“Kau tidak memeriksa ID, Taeng?” tanya Jessica.

“Ah, ye. Aku baru saja ingin melakukannya,” jawab Taeyeon kikuk.

“Apa ada sesuatu yang terjadi kemarin malam antara dirimu dan Luhan?” tanya Jessica langsung, yang mengikuti Taeyeon berdiri di samping pintu masuk gedung sekolah.

“Ne? Tidak ada apa-apa. Tidak ada sesuatu yang terjadi,” jawab Taeyeon cepat.

“Luhan sampai mabuk begitu sambil menyebut namamu,” ujar Jessica pelan.

“Aku tadi sempat memarahinya karena dia bertingkah sembarangan, wajar kalau dia menyebut namaku. Mungkin dia kesal juga,” jawab Taeyeon asal sembari memeriksa ID card dua orang siswi yang baru masuk.

Jessica hanya mengangguk. Beberapa menit kemudian, ketika Tiffany dan Heechul datang, Jessica pamit untuk pergi ke kelas bersama mereka, dan Taeyeon akan menyusul secepatnya.

Tepat ketika mereka bertiga pergi, seorang perempuan cantik yang baru Taeyeon lihat sekali muncul di hadapannya dengan senyuman manisnya. Ia mengenakan sweater pink pucat dan rok selutut warna putih. Rambutnya yang cokelat tua di gerainya sehingga ia semakin terlihat cantik.

“Chorong-ssi?” sapa Taeyeon sedikit terkejut.

“Annyeonghaseyo, Taeyeon-ssi,” balas Chorong ramah. Ia sedikit membungkukkan badannya.

“Ingin bertemu Luhan? Tapi dia ada di luar,” ujar Taeyeon pelan dengan wajah ceria.

“Aku sudah bertemu dengannya baru saja,” jawab Chorong. “Aku ingin bertemu denganmu,”

“Aku?” tanya Taeyeon, semakin terkejut.

“Ne,” jawab Chorong tak kalah ceria. “Aku ingin mengobrol sebentar denganmu. bolehkah?”

“Tapi aku… sedang…”

“Luhan oppa bersedia untuk menggantikanmu sebentar,” potong Chorong cepat.

“Tapi…”

Dengan cepat Chorong menggenggam kedua telapak tangan Taeyeon dengan erat dan menatapnya dengan tatapan memelas. “Kumohon,”

Mau tak mau hati Taeyeon luluh. Akhirnya ia mengangguk dan mengikuti Chorong ke taman belakang sekolah.

 

-To Be Continued-

 

Mianhaeeeeeee T,T aku lama bingiiitt nge-post FF ini huhuhuhuhu sebenernya udah lama pengen nge-post, cuma karena lagi sibuk banget jadi FF-nya sedikit ‘dikesampingkan’. Hehehehehehe.

Trus, karena juga lagi banyak-banyaknya tugas *lirikdosenkece* konsentrasiku ke FF juga rada berkurang >,< huueee jadi maafkan author kalian ini kalau misalnya FF chap 8-nya rada-rada yaa begitulaaaahh hahahah

Mohon maaf banget, happy/enjoy reading, and don’t be siders muahhh~

Soon~

Preview chap 9

Taeyeon menatap kalung berlian yang berbentuk ‘Love’ itu. Tidak bisa, ia harus mengembalikannya.

 

“Milik siapa kalung ini?”

Taeyeon diam seribu bahasa. Ia tidak berani menjawabnya.

“Kau bertemu dengannya? Apa kalian sudah sedekat ini sampai-sampai dia memberikan kalungnya untukmu?!”

 

“Yang selama ini dia tunggu itu dirimu. Kalian hanya salah paham. Jadi, cobalah untuk bicara dulu dengannya dari hati ke hati,”

 

“Aku… memutuskan untuk berhenti mengejarnya,”

 

~Preview end~

Advertisements

184 comments on “My Princess, Kim Taeyeon (Chapter 8)

  1. eh?? Luge berani bgt dah nyium Taeng eonni. itu pengaruh grgr dia mabok atau gmn??? suka banget sama FF nya makin cinta dah sama FF Authorrrrrr ~ luv luv dahh ♥♥♥♥♥ oiya itu chorong mau ngomong apa yah?? kasian suho oppa /poor/ ditunggu kelanjutannya!!!!! jangan lama-lama yah thorrrrr~

  2. Authorim aku malah baru tahu ada chap 8.
    Luhan bakalan nyerah?yakin?!.
    Trus ayah Luhan sakit apa?
    Maaf cuman bisa comments segin,next chap…

  3. A.. aa`~.. kenapa dikit bngt kayak nya thor, chap ini.. v.v huh.. gpp next chap ya author.. faiting!!^^

  4. thorr lanjut …… keren banget…kaya nya author bina ini ahli dalam membuat ff romance,sad atau yang lainnya lahh …. jadi semua ff author bina itu bagus semua kata kata nya juga enak di baca …. dan yang sangat aku tunggu tunggu itu ff buatan author bina yang berjudul “My Flower Boss” dan “My Princess,Kim Taeyeon”.. tapi semua nya jg kok cepat lanjut yah…”Ma boy” itu udh ending 😥

  5. kyaaaaaaa deabak thor
    suka kalau luhan cemburu
    sebenarnya ada masalah apa antara keluarga luhan sama taeng eonni di tunggu next chapternya

  6. Chinguu kapan post chap 9 nya?? Udah nunggu 36 hari nihh *nyampe diitungin* saking gregetnyaa😥cepetan update dong chingu udh dinanti bgt kelanjutannya’-‘)9

  7. Unnieee pantes emailku gadibales ternyata udh disini toh wkwk. Chapter 9 ditunggu!!!!!!!>< makin daebbak

  8. aku berharap semua kesalapahaman ini segera berakhir…
    aku rada kesal sendiri, knp mereka tidak jujur satu sama lain, dengan begitu kan semua akan selesai….

  9. Kyaaa*-* keren! Feel nya dapet banget^^
    Btw min ga lengkap tanpa chap.6 nih–‘ aku dah sms, sama kirim email kok ga dibalas?;-; Sibuk ya? Tunggu aja deh, asal jangan php :v
    Next chap!^^

  10. Mwoya..?
    Ternyata luhan cuma nganggep chorong sbg adik..

    Omegatt,, itu lutae kisseu lagi..

    Luhan bener2 udah jatuh cinta ama taengu

  11. Ada sedihnya… ada romantisnya… ada yg bikin nyesek hati… lengkap banget emosinya.
    Gak mengecewakan, lebih dari ekspektasi 😀
    Good job thor!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s