[FREELANCE] Dark Light To Diamond (Chapter 6)

D-L-T-Diamond

Dark Light To Diamond (Indahnya Cinta, tak Seindah Menjalaninya)

Author : deeHAYEON

Length : Multi-Chapter I Rating : PG-15 I Genre : School-life, Friendship, Romance

Main Cast : Kim TaeYeon, Cho KyuHyun, Jung YunHo

Other Cast : Seohyun, Hyukjae, Saehyun, Suzy, Luhan, find.

Desclaimer : FF ini terinspirasi dari drama Korea. All cast milik Tuhan dan keluarga mereka masing-masing. Jika ada kesamaan dalam alur maupun cerita, itu adalah unsur ketidak sengajaan. DON’T PLAGIAT!

Note’s : Sorry readers, author baru bisa next chapternya sekarang. Tapi author udah buat ff ini sedikit panjang karena ngerasa bersalah banget sama readers semua. Sekali lagi maafkan author..

Sorry for typo(s)…

Happy READING!

———-

Setelah berkata seperti itu, Kyuhyun segera pergi meninggalkan Taeyeon. Tubuhnya sudah gemetar menahan amarah, dan Kyuhyun sadar kalau dirinya tidak akan bisa menahan emosinya lagi. Ia lebih memilih pergi dari gang itu daripada harus meluapkan kemarahannya dihadapan Taeyeon.
Sedangkan Taeyeon sendiri, menatap punggung Kyuhyun yang menjauh dan menghilang di sudut jalan. Ia sama sekali menyadari ada nada sakit hati dan kecewa dalam suara namja itu. Tak dapat dipungkiri bahwa Taeyeon merasa sangat menyesal sudah berkata seburuk itu pada Kyuhyun.
‘Apa aku yang tidak berpikir jernih? Mungkinkah sebenarnya Kyuhyun memang berniat menolongku? Mianhae, sunbae’…..

———-

Chapter 6

Taeyeon duduk di rooftop sekolah sendirian dengan bekal makan siang yang ia bawa dari rumah. Di jam istirahat kali ini, Taeyeon malas ke cafétaria karena pasti semua pasang mata memandangnya benci. Lagipula tidak ada tempat yang tersisa untuk siswa netral sepertinya di cafétaria. Jadi ia pikir atap sekolah ini tempat yang sangat baik untuknya.

Pemandangan kota Seoul dapat terlihat jelas dari atas gedung ini. Angin yang menerpa wajahnya membuat Taeyeon sedikit lebih tenang dan melupakan sejenak hari-hari buruknya. Walau bagaimanapun kehidupan tetaplah berjalan.

Taeyeon kembali memusatkan perhatiannya pada makanan di pangkuannya dan mulai memakannya perlahan. Sebetulnya ia sedang tidak nafsu makan karena sedikit tak enak badan. Sejak tidur di lapangan basket dan langsung disiram air pada siang harinya, membuatnya demam dan kondisinya pun sempat drop. Nyonya Kim telah melarang putrinya itu untuk bersekolah, namun Taeyeon tetap bersikeras untuk masuk.

Semua orang disekolah akan mengklaim dirinya kalah jika ia tidak masuk sekarang. Taeyeon akan membuktikan kalau dirinya akan menang walaupun dengan segala tekanan dari dua golongan disekolahnya.

“Sendirian?” tanya sebuah suara dari belakang, mengalihkan perhatiannya seketika.

Taeyeon menoleh lalu tersenyum tipis, “Yunho sunbae?”

“Kenapa kau memanggilku sunbae? Bahkan kau tidak memanggil Kyuhyun dengan sebutan sunbae” protes Yunho bercanda, lalu duduk disebelah Taeyeon.

Yeoja itu tertawa, “Bukankah sudah seharusnya begitu? Aku merasa Kyuhyun tidak perlu terlalu di hormati”

“Tapi aku juga tidak ingin dipanggil sunbae olehmu”

“Lalu aku harus memanggilmu apa? Oppa?” tanya Taeyeon bercanda, namun sepertinya ia salah bicara. Bayangan dirinya saat memanggil Yunho dengan sebutan ‘oppa’ membuat wajahnya memerah. Pasalnya ia tidak pernah memanggil siapapun dengan sebutan ‘oppa’ kecuali pada Donghae.

“Boleh juga” jawab Yunho membuat Taeyeon salah tingkah. Seketika tawa Yunho meledak, menyadari hoobae-nya yang malu akibat perkataannya sendiri, sungguh menggelikan.

“Shireo!”

Taeyeon mengalihkan pandangannya dari Yunho dan kembali sibuk dengan bekal makan siangnya.

“Baiklah, panggil aku semaumu” kata Yunho lagi.

Taeyeon hanya mengangguk-angguk. Setelahnya ia kembali memakan bekalnya tanpa suara. Selama beberapa saat mereka berdua diam, membiarkan hanya hembusan angin yang menemani keheningan rooftop gedung sekolah itu.

“Apa aku mengganggumu?” tanya Yunho tiba-tiba. Sebenarnya bukan pertanyaan yang penting, hanya saja ia ingin mencairkan suasana yang begitu dingin antara dirinya dan Taeyeon.

“Ah, tentu saja tidak” jawab Taeyeon cepat, “Justru aku khawatir denganmu. Kau adalah leader Light dan sekarang kau duduk dengan siswa netral sepertiku”

Yunho tersenyum dengan wajah lurus kedepan, “Memangnya apa yang akan mereka lakukan terhadapku? Kau tak perlu khawatir, tak ada yang berani melawanku”

Taeyeon memandangnya sedikit kesal, “Kau terdengar seperti Kyuhyun”

Mendengar komentar tersebut membuat Yunho terkejut, namun detik berikutnya ia tertawa, “Benarkah? Sepertinya kau sudah mengenal Kyuhyun dengan sangat baik”

“Tidak” tukas Taeyeon cepat, raut mukanya berubah kesal saat mengingat wajah angkuh Kyuhyun, “Aku hanya menebak saja bahwa sifat angkuh seperti itu hanya dimiliki Kyuhyun di sekolah ini”

Yunho tersenyum simpul sambil menarik napas mencoba mengalihkan topik pembicaraan, “Lalu hari ini kau sudah menerima penindasan apa saja?”

“Umm…” Taeyeon berpikir sejenak, “Hanya sebuah kotak berisi banyak semut merah di laci mejaku”

Mata Yunho terbelalak, “Semut merah?”

“Ne, kenapa?”

“Saking santainya kau berbicara, kupikir kau hanya menerima sekotak cokelat” sahut Yunho kaget. Ia tidak habis pikir dengan Taeyeon, yeoja itu bisa begitu tenangnya menghadapi kejailan-kejailan yang dilakukan kedua golongan sekolahnya.

Sekarang Yunho menjadi sangat khawatir dengan Taeyeon. Pasalnya, semut merah itu bukan hewan sembarangan bahkan sangat berbahaya jika semut-semut itu berhasil menggigit kulit Taeyeon. Setelah semut, pasti kelompok pembully akan memberikan hewan yang lebih berbahaya lagi pada yeoja itu. Mungkin ular? Atau kalajengking? Apapun jenis hewannya, Taeyeon tetap tidak peduli. Dan tanpa ia sadari, dirinya telah membuat orang disekitarnya khawatir.

“Aku memang harus santai, sunbae” jawab Taeyeon setengah tertawa, “Kalau aku tidak santai, pasti akan menyenangkan kalian semua. Jika aku terlihat panik atau semacamnya, itu berarti sebentar lagi aku akan menyerah dan memilih”

“Sampai kapan kau akan menjadi siswa netral?” tanya Yunho antara perasaan khawatir dan penasaran.

“Tentu saja sampai aku lulus” jawab Taeyeon ringan, sambil terus melahap makan siangnya.

Dari nada bicaranya saja semua orang tau bahwa yeoja itu tidak main-main dengan perkataannya, “Aku yakin, kalian semua khususnya kelompok pembully dari masing-masing golongan tidak akan menindasku terus-menerus selama 1095 hari aku belajar disini. Semuanya bisa berubah termasuk nasibku di sekolah Kyunghwa. Aku pasti bisa bertahan”

“Tapi ku dengar, siswa netral yang kemarin bersamamu dilapangan basket, sekarang dia sudah masuk golongan Dark” ujar Yunho lagi, kali ini suaranya benar-benar cemas.

“Memang. Tapi aku memilih netral kan bukan karena dia. Tak ada alasan untukku mengikutinya masuk golongan Dark”

Taeyeon baru menyadari selama beberapa menit terakhir, Yunho terus memandanginya. Ia segera menyelasaikan makan siangnya lalu menoleh memandang sunbaenya, “Ada apa?”

Yunho menggeleng sekilas, “Aniyo. Aku hanya berpikir, dan selama itu aku baru sadar. Semua pilihanmu adalah hal terbaik untukmu sendiri, aku tidak berhak ikut campur. Tapi kau harus berjanji satu hal”

“Mwo?”

“Beritahu aku kapan saja kau membutuhkan bantuanku. Percayalah, aku akan selalu melindungimu” kata Yunho lagi. Ia menjulurkan jari kelingkingnya untuk dikaitkan dengan kelingking yeoja di sampingnya itu, “Yagsok?”

Taeyeon merasa jantungnya berdebar. Awalnya ia ragu, namun akhirnya ia mengaitkan kelingkingnya juga, “Yagsokhae”

Yunho tersenyum senang, sedangkan Taeyeon langsung melepas kembali kelingkingnya dari kelingking Yunho dan memalingkan wajahnya.

“Satu hal lagi, bolehkah aku menemanimu di tempat ini setiap jam istirahat?”

Taeyeon mengangguk sambil tersenyum, “Ne, jeoltaero”

Bel tanda masuk telah berbunyi. Taeyeon membereskan peralatan makan siangnya dengan Yunho membantu membersihkannya. Saat itulah ia teringat sesuatu.

“Sunbae” panggil Taeyeon membuat Yunho beralih kearahnya, “Waktu kau mengunjungiku di lapangan basket, apa kau datang lagi?”

“Tidak” Yunho memandangnya bingung, “Wae?”

“Apa kau kehilangan sesuatu? Semacam jaket mungkin”

“Aniyo” jawab Yunho lagi, “Memangnya ada apa?”

“Ah, gwaenchana. Lupakan” tukas Taeyeon sambil tersenyum getir dan kembali sibuk membereskan peralatan makan siangnya, walau pikirannya sudah berkecamuk dengan berbagai macam pertanyaan.

‘Jadi, jaket itu milik siapa?’

****

Jam masih menunjukkan pukul 20.05 KST. Taeyeon duduk bersandar di kepala ranjangnya sambil membaca sebuah majalah fashion. Di ranjang yang sama tak jauh dari yeoja itu, Suzy berbaring telungkup sambil browsing internet menggunakan laptop milik Taeyeon. Malam ini Suzy menginap di rumah sahabatnya itu, ia berjanji akan menginap setiap seminggu sekali di rumah Taeyeon sebagai tebusan permintaan maaf karena ia tidak berani mengajak Taeyeon bicara di sekolah.

“Taeyeon-a, kau akan selamanya netral?” tanya Suzy tiba-tiba.

“Berapa kali kau akan bertanya dan berapa kali juga aku harus menjawabmu, Suzy-ya?”

“Masuk salah satu golongan itu tidak seburuk yang kau kira. Contohnya saja Dark. Kau pasti berpikir Dark itu orangnya kasar-kasar, tapi menurutku tidak juga. Kau tau, yeoja-yeoja Dark itu sangat baik dan kompak. Bahkan aku sendiri sangat senang bisa berteman dengan mereka”

Taeyeon mengangkat alisnya, “Oh, jadi maksudmu kau tidak senang berteman denganku? Atau kau diberi tugas mempengaruhiku masuk Dark?” tanyanya dengan mata memicing.

Suzy malah tertawa, “Ahaha, kau ini. Tidak mungkin aku berpikir seperti itu. Aku hanya tidak tahan melihatmu ditindas setiap hari. Bangku patah, disiram air, kotak penuh semut merah, punggungmu ditempeli tulisan ‘Dijual 1500 won’ dan lain-lainnya. Aku tidak tahan melihatmu diperlakukan seperti itu”

“Yaa tidak usah dilihat” jawab Taeyeon acuh.

Suzy menoleh dengan kesal, raut wajahnya berubah frustasi, “Setidaknya kau mempertimbangkan usulku. Aku sudah menganggapmu seperti saudaraku sendiri, itu sebabnya aku tidak suka melihat kau selalu tertindas”

Taeyeon berpura-pura tidak melihatnya. Suzy mendengus dan kembali memandang laptop, “Lalu, kenapa kau tidak memilih Light saja, huh? Kau jelas aman disitu. Leadernya kan menyukaimu”

“Mwo???” kali ini Taeyeon tidak bisa berpura-pura mengacuhkan Suzy lagi. Ia benar-benar terkejut dengan peryataan sahabatnya itu. Tanpa sadar, majalah yang sedang ia baca sudah tidak berada di genggamannya lagi.

“Yunho sunbae menyukaimu. Banyak yang membicarakannya. Dia sering bersamamu, kan? Hajiman… Kau harus berhati-hati dengan Han Saehyun jika ingin bertahan di sekolah Kyunghwa” jelas Suzy.

“Saehyun? Nugu-ya?”

“Yeojachingu Yunho sunbae, yeoja yang sering terlihat bersamanya. Menurut informasi, Saehyun itu keturunan barat, kalau tidak salah appanya asli orang London. Orangtuanya adalah konglomerat ketiga terkaya di Asia karena perusahaan keluarganya tergabung dengan perusahaan saudara sepupunya. Dan kau tau, yayasan sekolah kita adalah yayasan milik keluarganya. Jadi kalau masih mau bersekolah di Kyunghwa kau harus baik-baik dengannya” ujar Suzy panjang lebar. Sepertinya ia sudah memiliki banyak informasi tentang semua yang ada di sekolah, sudah pasti Suzy bergaul dengan orang-orang yang suka bergosip.

“Aku tak peduli dengan Yunho ataupun Saehyun”

“Sekarang Saehyun sunbae memang belum mendengar rumor tentang dirimu dan Yunho sunbae” lanjut Suzy tanpa mendengarkan perkataan Taeyeon, “Tapi suatu saat nanti dia pasti akan tau, makanya kau harus hati-hati”

Taeyeon terdiam. Entah apa yang ada dipikirannya saat ia mendengar Yunho menyukainya. Senang atau malah sebaliknya? Yang Taeyeon tau jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya.

“Jujur saja, aku lebih berharap Kyuhyun sunbae yang menyukaimu” ujar Suzy tiba-tiba, “Jika dia menyukaimu, lalu kalian berkencan, kau bisa mengenalkanku dengan Kyuhyun sunbae dan siapa tau dia bisa mendekatkanku dengan…” tiba-tiba yeoja itu senyum-senyum sendiri.

Taeyeon langsung menimpuk kepala sahabatnya itu dengan bantal berbentuk kacang, “Hyukjae saja terus yang kau pikirkan!”

Suzy menangkap bantal dookong yang menimpuk kepalanya, “Lalu aku harus memikirkan siapa lagi? Kau kan tidak mau aku pikirkan”

Taeyeon tertawa geli. Lalu tiba-tiba notifikasi e-mail masuk di laptopnya berbunyi. Ini tidak biasa terjadi, “Ada e-mail masuk? Dari siapa?” gumam Suzy membuka inbox e-mail Taeyeon, “Donghae_Lee…”

Nyaris saja Taeyeon terlonjak dari duduknya, ia langsung mendekati laptopnya dan menarik paksa dari hadapan Suzy. Sahabatnya itu memandang Taeyeon bingung, tapi ia tak mempedulikannya.

Taeyeon tertegun melihat nama yang sudah lama tidak terlihat di inbox e-mailnya, kini terpampang jelas di layar laptopya. Lee Donghae. Dengan tak sabar ia membuka isi e-mail itu.

‘Baby Taengoo-ya, annyeong!’ Mata Taeyeon sudah berkaca-kaca melihat kalimat itu. Sudah sangat lama ia tidak mendapat sapaan itu dari Donghae.

‘Sekarang kau sudah masuk Senior High School, kan? Bagaimana dengan sekolahmu? Apa menyenangkan? Kau harus selalu senang, karena disini aku selalu cemas memikirkan dirimu. Aku sangat menyesal tidak bisa mendampingimu disana 😦
Taeng-a, aku akan pulang ke Korea akhir tahun ini. Just Wait Me, okay…
KIM TAYEON, HWAITING!!!’

Tanpa berpikir panjang, Taeyeon langsung meng-klik kolom ‘balas’ di e-mailnya.

‘Annyeong, baby Fishy!
Aku sangat merindukanmu, kukira kau benar-benar melupakanku. Sekolah baruku menyenangkan. Aku tumbuh dengan sangat baik disini. Oppa tidak perlu khawatir, walaupun aku lebih sering bermalas-malasan, tapi nilaiku tidak pernah berubah, hihi 😀 Yang jelas kau harus fokus dengan kuliahmu disana. London akan membuat dirimu lebih baik.
I’ll Be Waiting For U.
DONGHAE OPPA, HWAITING!!!’

“Kekasihmu, ne?” tanya Suzy setelah Taeyeon mengirimkan e-mail balasannya.

“Yaa! Kau mengintip?” seru Taeyeon terkejut mendapati sahabatnya yang menatap laptop.

Suzy mengernyit sebal, “Salahmu! Kau membaca dan menulis semuanya di hadapanku, bagaimana aku tidak melihatnya. Geuraesso, siapa dia?”

“Dia…” Taeyeon menghela napas sebelum melanjutkan, “Aku tidak pernah menganggapnya sebagai kekasih. Tapi jika kau bertanya orang terpenting dalam hidupku setelah keluargaku, yaa dia ini orangnya”

“Mwo? Sulit dipercaya. Sepertinya Yunho sunbae sudah tidak punya peluang”

“Yaa! Shikkeuro!” sekali lagi Taeyeon melemparkan bantal dookongnya kearah Suzy.

****

Mengingat perkataan sahabatnya semalam, entah kenapa hati Taeyeon jadi ragu untuk berdekatan dengan Yunho lagi. Ternyata perkataan tidak penting Suzy, masih berbekas di hatinya. Padahal Taeyeon sudah mencoba untuk tidak peduli, namun apa yang bisa ia perbuat jika pernyataan Suzy adalah sebuah informasi sekaligus peringatan untuknya.

“Aish… Aku bisa gila” erangnya frustasi.

Dia hanya sendirian di rooftop gedung ditemani keheningan sekolahnya. Sebenarnya saat ini bukanlah jam istirahat, kebetulan guru yang seharusnya mengajar kelas Taeyeon sedang izin, jadi ia memilih menghabiskan waktu di rooftop ditemani ponsel beserta earphone-nya.

Taeyeon menghela napas perlahan sebelum memejamkan mata, menikmati hembusan angin yang bebas menerpa kulit wajahnya. Earphone yang tersambung dengan iPod pun sudah bertengger manis di kedua telinganya. Suasana menjadi sangat hening.

“Bukumu” ucap seseorang yang entah sejak kapan berada disana.

Taeyeon yang mulai larut dengan kegiatannya sontak membuka mata dan memandang buku tulis yang berada di samping tempat duduknya. Lalu pandangannya terangkat melihat namja yang tadi menyentakkan buku tulisnya itu.

Cho Kyuhyun? Untuk apa dia berada di rooftop? Bukankah tempat ini jarang dikunjungi siswa-siswi Kyunghwa? Bahkan mungkin hanya Taeyeon dan Yunho saja yang sering mengunjungi tempat itu, tapi kali ini seorang Cho Kyuhyun. Ada apa dengan Kyuhyun hari ini?

“Kau ingin mencelakaiku lagi, eoh?” selidik Taeyeon dengan mata memicing.

“Pikiranmu benar-benar buruk. Tidak bisakah bersikap sedikit sopan pada sunbae mu?” balas Kyuhyun tak mau kalah.

Dengan acuh Taeyeon meraih bukunya seraya menjawab, “IYA, untuk sunbae-ku yang lain dan TIDAK untuk sunbae-ku yang satu ini”

“Baguslah, itu berarti aku spesial di hidupmu” ujar Kyuhyun penuh kemenangan.

“Mwo?”

“Aku berbeda dengan sunbae manismu yang lain, sehingga kau selalu mengingatku saat berpikir, bukankah begitu?” tanya Kyuhyun dengan percaya diri menggoda gadis yang sekarang membelalakan mata kearahnya.

Perlahan Kyuhyun mengambil alih tempat duduk di samping Taeyeon dan menarik satu earphone yang berada di sebelah telinga gadis itu dengan kasar.

“Yaa!” teriak Taeyeon tiba-tiba.

Kyuhyun hanya tersenyum tanpa dosa, “Tidak baik jika kau mendengarkan musik disaat orang lain sedang berbicara padamu”

Bibir yeoja itu mengerucut kesal, “Ini earphone-ku dan aku tidak berniat mendengarkan perkataan sunbae macam kau!” geram Taeyeon.

Kyuhyun menatap yeoja itu datar, entah kenapa ekspresinya berubah tiba-tiba “Terserah apa katamu. Yang jelas aku disini untuk mengembalikan buku tugasmu itu. Maaf atas semua kelakuan anggota-anggotaku padamu”

Taeyeon sempat memandangnya aneh, namun ia kembali bersikap tidak peduli, “Tak perlu, aku sudah mendapat hukuman dari seongsaenim karena ulah anggota-anggota liarmu itu. Lagipula aku sudah terbiasa dengan tindakan-tindakan yang lebih brutal dari ini”

“Baguslah, kau memang pantas mendapatkannya. Siapa suruh memilih netral?” tanggap Kyuhyun, sama sekali tak membantu.
Taeyeon melebarkan matanya saat menyadari perkataan Kyuhyun yang sangat keterlaluan. Dalam hati, ia terus menggerutu kesal. Mana mungkin seorang namja menyebalkan seperti Kyuhyun bisa lebih menyebalkan lagi. Sungguh, ia menyesal telah berbicara dengan namja itu.

“Yaa! Dasar nappeun namja!” maki Taeyeon tak terima.

Kyuhyun memandangnya santai, “Jika aku memang tidak baik di depan matamu, bagaimana dengan Yunho? Kau pikir namja itu baik-baik saja?”

Taeyeon tertegun. Tangannya melepas earphone yang masih berada disebelah telinganya. Ia berusaha mempercepat kerja otaknya untuk mencari alasan yang logis.

“Yang ku tau, Yunho sunbae tidak berpikiran buruk sepertimu. Tidak ada salahnya jika aku mempercayainya”

Sekilas wajah Kyuhyun terlihat kecewa, namun karena keangkuhannya ia dapat menyembunyikan kekecewaannya tersebut, “Kau yakin? Apa yang Yunho pikirkan sehingga kau begitu mempercayainya?”

Sekali lagi Taeyeon tertegun. Benar juga apa yang dikatakan Kyuhyun, Taeyeon sendiri tidak tau isi pikiran Yunho, namun mengapa ia begitu mudah mempercayai namja itu?

“Kau bingung menjawabnya, bukan?” selidik Kyuhyun, memeriksa setiap ekspresi wajah Taeyeon dengan sangat teliti. Kapan lagi ia bisa memandangi wajah Kim Taeyeon dengan jarak sedekat ini?
“Perlu ku beritahu, kau harus berhati-hati dengan Yunho. Suatu hari nanti, sesuatu yang buruk akan terjadi padamu dan semua itu berhubungan dengan Jung Yunho. Percaya atau tidak, terserah padamu. Yang penting kau harus berhati-hati, arra?”

Setelah berkata seperti itu, Kyuhyun beranjak dari duduknya dan berjalan menjauhi Taeyeon yang masih terlihat kebingungan di tempat duduknya.

Dengan napas berat Taeyeon kembali memanggil Kyuhyun hingga namja itu berhenti tanpa membalikan badannya, “Apa maksudmu, Cho Kyuhyun? Jangan bicara sembarangan tentang Yunho sunbae. Kau tau, Yunho itu lebih baik dari…”

“Aku tidak butuh komentarmu, gadis bodoh!” sahut Kyuhyun memotong perkataan Taeyeon hingga gadis itu terbelalak dan berdiri tegak dari duduknya.

“MWO?! Aku bukan gadis bodoh, kaulah yang babo!” Tanpa menghiraukan teriakan Taeyeon lagi, Kyuhyun melanjutkan jalannya sambil menyunggingkan sedikit senyuman.

****

Seperti biasa, Taeyeon memakan bekal makan siangnya di rooftop sekolah. Ia sempat teringat akan ucapan Kyuhyun dua hari yang lalu, di rooftop itu juga.

Ini sudah hari ke 11 setelah Hari Perkrutan. Artinya sudah 11 hari pula Taeyeon di bully di sekolah ini. Benar seperti dugaannya, para kelompok penindas lama-lama akan kehabisan akal untuk menjahilinya. Hari ini ia belum menerima penindasan apapun. Apa mungkin kedua golongan itu sudah lelah?

“Ternyata ucapan sunbae menyebalkan itu -Kyuhyun- benar-benar hanya omong kosong. Memang sudah seharusnya aku tidak mendengar perkataan tidak masuk akal Kyuhyun” ujar Taeyeon pada dirinya sendiri. Ia sudah tidak akan mempercayai omongan Kyuhyun lagi, karena percuma, namja itu hanya ingin menjelek-jelekan nama Yunho di depannya. Dan sampai sekarang perkataan itu sama sekali tak terbukti.

Taeyeon memakan bekalnya sambil tersenyum secerah bunga matahari.

“Hari ini cerah sekali” ujar seseorang yang ternyata sudah duduk di samping Taeyeon. Matanya menatap langit biru tanpa awan di depannya.

Seperti biasa dan sesuai perjanjian, akhir-akhir ini Yunho selalu duduk disamping Taeyeon untuk menemaninya makan siang dan menghabiskan waktu istirahat bersama-sama di rooftop.

Ia menoleh sambil tersenyum kearah Taeyeon. Gadis yang baru saja menyadari kehadirannya itu, balas tersenyum dan kembali memperhatikan langit biru dalam diam.

“Ne, cuacanya cerah sekali” jawab Taeyeon akhirnya.

“Secerah hatimu” tambah Yunho, “Ada apa, hm?”

Sekali lagi Taeyeon menampakkan senyum bunga mataharinya, “Hari ini aku belum mendapat penindasan apapun dari golongan Dark maupun Light. Entah kenapa aku sangat senang” ujarnya antusias.

“Ah~ Pantas saja wajahmu sangat cerah, ternyata karena itu. Jujur, kau bisa mengalahkan keindahan bunga matahari jika terus tersenyum secantik itu” komentar Yunho.

Jelas Taeyeon merasa pipinya mulai memanas, “Jeongmal? Ku pikir kau tidak ahli dalam hal merayu” balas Taeyeon sedikit menyindir.

“Haha.. Benar juga. Semua namja pasti pandai merayu, termasuk aku. Ya sudahlah, yang terpenting kau harus tetap berhati-hati”

Taeyeon mengangguk. Lalu ia menoleh dan berpura-pura berpikir, “Berarti aku perlu berhati-hati denganmu juga”

Yunho terkekeh, “Ternyata kau pintar”

Bibir Taeyeon mengerucut lucu, namun Yunho malah tertawa sambil mengacak-acak rambut depannya, “Kau memang perlu berhati-hati denganku, karena aku marah padamu” kata Yunho kemudian.

“Eoh?”

“Ingat dengan janjimu? Akan menghubungiku saat kau kesulitan. Tapi kau tidak pernah melakukannya” lanjut Yunho.

Mendengar perkataan sunbaenya, Taeyeon menghentikan kegiatan makan siangnya sejenak. Ia sedikit merasa bersalah, tapi bukankah itu masalah kecil?

“Itu… karena aku memang tidak mengalami kesulitan apapun”

Yunho mengernyit menatapnya, “Aku tau kemarin kursimu ditempeli lem dan rokmu menempel disana. Ada yang menyembunyikan buku tugasmu hingga kau dihukum Yoon seongsaenim dan tidak diizinkan mengikuti pelajaran selama dua jam penuh. Lalu kemarin juga kakimu dijegal oleh salah satu teman sekelasmu dan pergelangan kakimu terkilir. Selama itu, kau tidak pernah menghubungiku”

Taeyeon sedikit tercengang, ia kira semua kejadian yang ia alami selama penindasan itu tidak akan sampai ke telinga leader Light maupun Dark. Tapi ternyata dugaannya salah.

Dengan ragu Taeyeon menjawab, “Sunbae, semua itu hanya masalah kecil. Tak ada yang perlu di khawatirkan”

“Tapi aku khawatir!” tukas Yunho, “Dan aku ingin kau tau, janji yang kubuat itu bukan sekedar janji kosong”

“Justru itu, sunbae. Aku tidak akan menyia-nyiakan janji tulusmu ini untuk hal-hal tidak berguna. Suatu saat nanti aku akan menghadapi masalah yang lebih besar dari pada ini. Dan saat itulah aku akan menagih janjimu. Jika masalahku nanti tak dapat aku selesaikan sendiri, aku akan meminta bantuanmu. Sunbae tak usah khawatir” jawab Taeyeon meyakinkan. Matanya menatap kosong bekal yang berada dipangkuannya. Entah kenapa ia malah memikirkan ucapan Kyuhyun tempo hari, seakan dirinya percaya dan meyakinkan perkataan Kyuhyun benar-benar akan terjadi. ‘Bagaimana dengan kehidupanku nanti?’ batinnya.

Sementara Yunho, sepertinya ia mengerti dengan tatapan kosong gadis itu. Sudah pasti Taeyeon sedang memikirkan nasib dirinya nanti.

Kedua tangan Yunho terangkat memegang pundak gadis itu dan berusaha menenangkannya, “Taeyeon-a, kau…”

“YUNHO-ya??”

Taeyeon dan Yunho menoleh keasal suara dan betapa terkejutnya mereka saat mendapati Saehyun yang sudah berdiri tepat dibelakang Yunho.

“Saehyun-a…” gumam namja itu lemah. Ia melepas pegangan tangannya pada pundak Taeyeon.

“Jadi ini alasan mengapa kau selalu menolak untuk makan siang bersamaku?” tanya Saehyun tajam. Suaranya sarat akan kemarahan.

Dia benar-benar tak menyangka jika Yunho lebih memilih gadis netral, yang bahkan dibenci dan dijauhi oleh semua orang di sekolah, daripada dirinya, “Yunho-ya, apa kau sudah lupa dengan…”

“Saehyun-a, hentikan!” Yunho langsung berdiri dengan cepat ia menghampiri Saehyun dan berusaha memegang tangan gadis itu. Namun sia-sia, Saehyun sudah lebih dulu menepisnya.

“Kau tau apa akibatnya, Yunho-ya. Tapi ternyata kau tetap melakukannya” gadis bermarga Han itu tersenyum sinis dengan mata berkaca-kaca, “A-aku… Aku sangat membencimu. AKU BENAR-BENAR MEMBENCIMU!”

Setelah berkata seperti itu, Saehyun langsung berlari memasuki pintu menuju tangga dan pergi dari tempat tersebut.

Sesaat, Yunho memandang Taeyeon yang tertunduk di tempatnya dengan bingung. Ia ragu jika harus dihadapkan dengan situasi seperti ini. Setelah berpikir beberapa detik, Yunho akhirnya memilih mengejar Saehyun.

Perlahan Taeyeon mengangkat wajahnya, menatap punggung Yunho dengan kecewa. Tapi detik berikutnya ia tersadar dan menghembuskan napas dalam-dalam. Tangannya sudah mengaduk-aduk isi kotak bekal dihadapannya tanpa nafsu, pikirannya juga melayang entah kemana.

“Astaga, apa yang aku harapkan? Tentu saja Yunho akan mengejar yeojachingu-nya. Memangnya aku siapa?” lirih Taeyeon diantara kegiatannya mengaduk-aduk makanan. Sekarang dirinya kembali ditinggalkan seorang diri.

Disisi lain, Yunho tengah merutuki dirinya sendiri. Ia merasa begitu bodoh telah menyia-nyiakan dua hal yang paling berarti dalam hidupnya. Dan pada akhirnya ia pun harus memilih.

Sungguh, mengapa Saehyun harus tau? Ya, sebenarnya Yunho menyadari kalau cepat atau lambat Saehyun akan mengetahui semua ini, tapi sekarang bukan waktu yang tepat. Yunho belum siap. Dan bodohnya lagi, mengapa dirinya harus tertangkap basah seperti ini? Posisinya benar-benar terpojok dan dengan terpaksa ia harus meninggalkan Taeyeon demi mengejar Saehyun.

“Saehyun-a, dengarkan aku dulu” bujuk Yunho yang masih mengejar yeoja itu, ia terus berusaha meraih tangannya, namun Saehyun terlalu keras kepala untuk hanya mendengarkan penjelasannya.

Tak lama kemudian, Saehyun berhenti berlari, tepat di persimpangan tangga. Ia menghadap Yunho dengan wajah tertunduk, Saehyun menangis. Mereka berdiri berhadapan dalam diam.

Dengan napas berat, Yunho berusaha berbicara, “Saehyun-a, aku…”

“Kau melakukan kesalah besar, Yunho-ya” ujar Saehyun sebelum Yunho menyelesaikan kalimatnya.

Suara yeoja itu sangat pelan dan parau, namun karena suasana tangga menuju rooftop itu sepi, Yunho masih bisa mendengarnya dengan jelas dan saat itu juga ia merasa panik.

Wajah orangtuanya yang menyiratkan penuh harapan langsung memenuhi benak Yunho, “Tidak. Saehyun-a, dengarkan aku dulu…”

“Aku pikir kau masih ingin menggapai cita-citamu” Saehyun mengangkat wajahnya dan menatap Yunho dengan tajam, diantara air mata yang masih membasahi pelupuk matanya.

“Aku masih menginginkannya!” seru Yunho panik. Demi apapun, ia ingin menangis sekarang. Jika Saehyun menghentikan jalan untuk menggapai cita-citanya… Ia tidak bisa membayangkan bagaimana wajah orangtuanya, yang pasti mereka akan sangat kecewa dan Yunho menjadi anak yang tidak berguna.

“Saehyun-a, jebal…”

“Mohon apa lagi?” tanya Saehyun ketus, “Aku memintamu untuk tidak jatuh cinta pada yeoja lain selain aku, tapi apa? Kau melanggarnya. Mau memohon apalagi?”

Yunho memejamkan matanya sejenak, banyak hal yang sedang ia pikirkan, semua itu berkecamuk menjadi satu hingga membuatnya sangat bingung.

‘Haruskah aku mengorbankan perasaanku?’

Melihat kediaman Yunho, Saehyun menatap kosong wajah namja itu. Ia memikirkan segala hal yang membuatnya gelisah. Disatu sisi ia sangat membenci sikap Yunho, namun disisi lain hatinya masih menginginkan namja itu. Empat tahun bukanlah waktu yang singkat untuk kebersamaan Yunho dan Saehyun, tentu yeoja itu tak begitu mudah melupakannya.

“Baiklah, berhenti menguatkan dirimu. Sekarang katakan permohonanmu” ujar Saehyun dengan wajah yang mulai melunak. Jauh di dalam hatinya, ia masih mengharapkan Yunho.

Sekali lagi namja itu menarik napas berat mencoba memantapkan keputusannya saat ini, “Aku meminta kesempatan kedua. Kupikir aku tak pernah melakukan kesalahan apapun sebelum ini. Aku mohon, maafkan kesalahanku”

Mendengar hal itu membuat Saehyun menatap kedua manik mata Yunho sangat lekat. Berusaha mencari kebohongan di mata namja itu, namun pancaran ketulusannya mengalahkan semua pemikiran buruk Saehyun. Perlahan air matanya kembali menetes. Yeoja manapun tak akan menolak kesungguhan seorang namja yang memohon padanya dengan tatapan setulus Yunho, begitu pula dengan Saehyun. Berulang kali, perasaan itu muncul disaat dirinya tidak ingin mempercayai Yunho. Cinta memang terlalu besar untuk mengalahkan egonya. Tak lama kemudian Saehyun langsung menghambur ke pelukan Yunho. Hatinya sudah memutuskan untuk memaafkan namja itu. Yunho tak menolak, ia mengelus rambut halus Saehyun pelan-pelan, seolah yeoja itu sangat rapuh dan tersakiti.

“Jangan melakukan hal seperti ini lagi atau kau akan tau akibatnya, Yunho-ya” ujar Saehyun diantara isak tangisnya. Ancaman itu bukan sekedar omong kosong belaka, maka dari itu Yunho akan berhati-hati mulai sekarang.

Namja itu semakin mengeratkan pelukannya. Ia mengangguk lemah sambil menghembuskan napas panjang, ‘Eomma, appa, akan kulakukan semuanya untuk kalian’

—-

Dengan langkah lemah Taeyeon berjalan menuruni anak tangga dari rooftop secara perlahan. Yunho dan Saehyun sudah meninggalkan tempat tersebut beberapa waktu lalu, tapi Taeyeon sempat melihat mereka berpelukan. Dan sekarang hatinya mulai berkecamuk, perasaan tak rela masih sangat terasa membuatnya semakin sesak.
Taeyeon sadar, seharusnya ia tidak boleh seperti ini. Merasa tersakiti dan dikhianati bukanlah posisinya sekarang. Saehyun adalah korbannya, sudah seharusnya Yunho mementingkan yeojachingu-nya itu. Taeyeon rasa dirinya tak lebih dari orang ketiga yang secara tidak langsung telah merusak hubungan Yunho dan Saehyun.

Dia memang bukan siapa-siapa Yunho, tapi tetap saja seorang Kim Taeyeon mempunyai hati dan perasaan layaknya yeoja pada umumnya. Kini ketakutannya telah terbukti. Ia telah kehilangan satu-satunya orang yang mungkin dapat melindunginya saat ini.
Tangan mungil Taeyeon terangkat, memegang dadanya yang terasa perih dan panas. Hal itu sangat berpengaruh pada seluruh tubuhnya yang langsung terasa lemas. Ia terduduk di pangkal tangga lantai 3. Kepalanya menunduk dan tanpa terasa airmatanya mulai mengalir. Air mata itu semakin membuatnya lemah, ‘Apa cinta sesakit ini?’ batinnya sambil mencengkram dadanya kuat-kuat. Isakan-isakan kecil mulai terdengar.

“Tidak baik menangis di tempat seperti ini” tegur seseorang tiba-tiba.
Perlahan Taeyeon mendongak dan mendapati Lee Hyukjae sedang berdiri di hadapannya. Wajah namja itu penuh dengan senyuman menenangkan dan dia mengulurkan sebuah sapu tangan.

“Hapus air matamu. Kau bilang dirimu kuat menghadapi pembully-an ini, tapi kenapa sekarang malah menangis?” ujar Hyukjae dengan nada sedikit mengejek.
Dengan ragu, akhirnya Taeyeon menerima sapu tangan itu.

“Kalau memang tidak kuat, jangan di paksakan” ujar Hyukjae lagi, pandangannya berubah perhatian.
“Walau bagaimanapun kau tidak boleh menangis” setelah berkata seperti itu, Hyukjae menghela napas kemudian berbalik dan berjalan meninggalkan Taeyeon.

“Sunbae, ini…” panggil Taeyeon menjulurkan sapu tangan yang bahkan belum ia pakai sama sekali.

“Kau bisa mengembalikannya kapan saja” balas Hyukjae tanpa menoleh. Ia terus berjalan menjauh dari pandangan Taeyeon yang kini tengah memperhatikan benda di genggamannya. Sebuah sapu tangan berwarna biru pastel.

Tanpa Taeyeon ketahui, disudut koridor lantai 3 yang di lalui Hyukjae sudah ada Kyuhyun. Namja bermarga Cho itu langsung menarik lengan Hyukjae ketika temannya itu sudah berjalan melewatinya.

“Yaa! Kyunie” seru Hyukjae terkejut.

“Berhenti memanggilku dengan sebutan Kyunie. Itu menjijikan” protes Kyuhyun, tidak terima dengan panggilan yang menurutnya terlalu manis untuknya itu. Dan Kyuhyun tidak suka di sebut manis atau lucu, karena dia namja keren dan tampan, begitulah menurutnya.
“Jadi, beritahu aku kenapa dia bisa menangis? Apa yang membuatnya sedih seperti itu?”

Yang ditanya malah mengangkat bahunya, “Entahlah, aku tidak sempat bertanya. Tapi saat menangis, Taeyeon memegang dadanya. Sakit hati, mungkin?”

Kyuhyun mendengus, “Pasti ini ulah Yunho. Berani sekali dia memberi kan harapan pada Taeyeon-ku, sedangkan dirinya masih dikekang Han Saehyun”

“Taeyeon…mu?” ulang Hyukjae sambil mengusap-usap telinganya, “Apa aku tak salah dengar? Sejak kapan Kim Taeyeon menjadi milikmu? Jadi musuh, mungkin iya”

“Sudahlah, jangan banyak bicara” tukas Kyuhyun, sebenarnya ia sedikit salah tingkah saat menyadari ucapannya tadi adalah kesalahan, “Kau memberikan sapu tangannku, kan?”

“Ne, Kyu.Tentu saja aku memberikannya, lagipula saputanganmu itu tak enak untuk ku makan” balas Hyukjae acuh, “Keunde, mengapa kau tidak memberikannya sendiri, huh?”
Kyuhyun kembali nmendengus, “Kalau aku yang memberikannya sendiri, dia akan menganggapku sok pahlawan lagi. Terlebih beberapa hari yang lalu aku membuatnya kembali murka. Pada akhirnya aku harus emosi dan membuatnya semakin marah, jadi lebih baik kau yang memberikannya. Ah~ atau jangan-jangan kau keberatan untuk menolongku?” selidiknya sambil memandang Hyukjae curiga. Namun tak lama kemudian, ia kembali mengintip Taeyeon dari jauh.

Yeoja itu terlihat masih menunduk dan bahunya sedikit berguncang. Kesimpulannya, Taeyeon masih menangis. Tapi Kyuhyun senang karena yeoja yang sedang di pantaunya itu membenamkan wajahnya di saputangan pemberian Hyukjae , yang tak lain adalah sapu tangan miliknya.

“Bukannya aku keberatan. Tapi paling tidak dia tau bahwa kau berniat baik padanya” ujar Hyukjae sedikit malas dengan temannya yang begitu sensitif.

Kyuhyun hanya mengedikkan bahu, “Biarlah. Suatu saat nanti dia akan mengetahuinya”

To be continue……

Annyeong readers! Lama banget yaa chapter 6 nya, author sadar kok udah buat chingu semua lumutan. Hufh,, waktuki buat nulis bener-bener ga banyak. Jeongmal mianhae… Untuk chapter selanjutnya belum pasti aku kirim cepat, yang penting readers ga pada kabur apalagi bosan sama cerita ff absurd ini.
Please comment!!! Author butuh motivasi, dan sengan membaca komenan kalian itu udah lebih dari cukup…
Gomawo utuk readers setiaku, nadya eonni yang mau aku repotin terus, hehe 😀

Kamsahamnida chingudeul!!!!!

See You In Chapter Seven
Advertisements

70 comments on “[FREELANCE] Dark Light To Diamond (Chapter 6)

  1. SUKAAAA!!! Suka banget sama Fanfic ini. enak ya posisi taeyeon, dicintain tulus sama dua laki-laki sekaligus. Kasian juga si Kyu. Semoga Taeyeon cepet tahu, kalo yang paling baik buat dia itu Kyu bukan Yunho. Karna menurut aku Yunho gaakan bisa buat Taeng, dia terlalu dikekang. Udah! aku ga akan bisa ngasih kata negatif walaupun kecil buat fanfic ini. Soalnya ini keren banget, fanfic-nya pendalaman perasaannya bisa banget. next chap yang cepet sama lebih panjang lagi yaa xD FIGHTING NE?

  2. Baiknya kyuhyun, jdi pngen kya taeng #plak
    donghae ada ? Penasarann!! Nnti donghae yg ngelindungin taeng ? Atau.. Aduh nextnya dtnggu sekalee thor!
    FIGHTAENG!!

  3. DAEBAK! I LIKE IT! Yunho terlalu dikekang. Sebel bgt deh sama Saehyun. 🙂 Kyuhyun ternyata keliatanya jahat diluar, didalam hatinya baik (y) chap selanjutnya gpl ya thor-nim! ^^

  4. thor-nim..
    sukaa.. hhehe
    seruu ceritanya..
    banyakin moment kyutae dong thornim hhe
    Semangatt yaa..
    Ditunggu next chapternyaa.. gomawo

  5. Pingback: [FREELANCE] Dark Light To The Diamond (Chapter 7) | All The Stories Is Taeyeon's

  6. Pingback: [FREELANCE] Dark Light To Diamond (Chapter 8) | All The Stories Is Taeyeon's

  7. Pingback: [FREELANCE] Dark Light To Diamond (Chapter 9) | All The Stories Is Taeyeon's

  8. Pingback: [FREELANCE] Dark Light To Diamond (Chapter 10) | All The Stories Is Taeyeon's

  9. Pingback: [FREELANCE] Dark Light To Diamond (Chapter 11) | All The Stories Is Taeyeon's

  10. Pingback: [FREELANCE] Dark Light To Diamond (Chapter 12) | All The Stories Is Taeyeon's

  11. Pingback: [FREELANCE] Dark Light To Diamond (Chapter 13) | All The Stories Is Taeyeon's

  12. Pingback: [FREELANCE] Dark Light To Diamond (Chapter 14) | All The Stories Is Taeyeon's

  13. Pingback: [FREELANCE] Dark Light To Diamond (Chapter 15) | All The Stories Is Taeyeon's

  14. Pingback: [FREELANCE] Dark Light To Diamond (Chapter 16) | All The Stories Is Taeyeon's

  15. Pingback: Dark Light To Diamond (Chapter 17) | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s