My Princess, Kim Taeyeon (Chapter 7)

my-princess-kim-taeyeon

Bina Ferina’s Present

Main Cast :

KIM TAEYEON

KIM JUNMYEON (SUHO)

XI LUHAN

PARK CHORONG

All of Artists SM. Entertainment

Genre :

ROMANCE, SCHOOL-LIFE, FRIENDSHIP

Rating :

PG 17

Artworker :

Very much thank you, dear^^ –> rosaliaaocha – ExoShidaeFFandGrapchics

A/N :

Mari dibaca^^ hope you’ll be like my new fanfic! Alurnya ceritanya SANGAT BIASA, mungkin juga udah sering baca. Tapi aku akan berusaha lebih keras agar FF ini ngga TERLALU BIASA untuk para ReaderSetiakuu #chu. Happy reading^^

~~~

One Week Later

“Eoh, acaranya akan dimulai pukul delapan malam nanti dan Mrs. Oh akan datang ke rumah pukul enam sore ini, eomma. Ne, aku akan pergi bersama Ji Woong oppa. Oppa akan mendampingiku. Walaupun Mr. Lee bilang dia bersedia menjadi wakilku, tapi aku merasa tidak enak. Aku, ‘kan punya oppa. Kenapa tidak mengajak oppa saja? Benar, ‘kan eomma?” jelas Taeyeon pada ibunya lewat telepon.

“Ne, walaupun Mr. Lee teman dekat ayahmu, tapi dia juga Kepala Yayasan sekolah kalian. Bersikaplah lebih segan padanya,” ujar Mrs. Kim. “Oh, ya. Jangan lupa untuk mencari calonmu di sana, arra? Berpenampilanlah semenarik mungkin,”

“Aigoo, eomma. Berhentilah bicara hal-hal seperti itu,” ujar Taeyeon jengkel.

Mrs. Kim tertawa. “Cobalah untuk berdansa dengan salah satu dari mereka yang cocok dengan tipe idealmu,”

“Aku hanya akan berdansa dengan satu orang saja,” jawab Taeyeon. “Dengan Xi Luhan,”

Mrs. Kim terdiam sesaat. Taeyeon memang sengaja menyebut nama Luhan di telinga ibunya. Ia ingin mendengar alasan mengapa ibunya bisa mengenal keluarga Luhan dan melarangnya untuk dekat-dekat dengannya.

“Apa orang tuanya akan datang juga? Kalau mereka datang dan mereka tanya sesuatu padamu, jawab saja seperlunya. Kau tidak perlu terlalu ramah pada mereka. Dan jika mereka tanya mengenai kami, kau tinggal jawab saja tidak tahu,” sahut Mrs. Kim. “Orang yang bernama Xi Luhan itu adalah orang yang berbahaya, Taengoo-ah,”

“Eomma, wae? Aku tidak akan tenang kalau kau menyembunyikan sesuatu dariku,” paksa.

Sebelum ibunya menjawab, terdengar bunyi ketukan di pintu rumah mereka. Ji Woong keluar dari kamarnya dan membuka pintu. Dapat Taeyeon dengar suara Mrs. Oh dan Mr. Lee dari luar. Dan ia segera mengatakan kepada ibunya untuk menghubunginya nanti saja.

“Taeyeon-ah, ayo kita harus bersiap-siap sekarang. Waktumu hanya dua jam,” sahut Mrs. Oh langsung, setelah ia mendapat izin dari Ji Woong untuk masuk.

“Eh? Ah, n… ne,” jawab Taeyeon langsung.

Seketika itu, sebanyak empat orang wanita muncul di belakang Mrs. Oh sambil membawa sebuah gaun berwarna ungu, yang Taeyeon ingat adalah gaun yang dipilihkan Mrs. Oh untuk dipakainya di acara ini, dan beberapa kotak yang Taeyeon pastikan adalah alat make-up, perhiasan, dan sepatunya.

“Annyeonghaseyo,” sapa keempat wanita itu dengan ramah.

“Annyeong,” balas Taeyeon pelan.

“Cepat tunjukkan di mana kamarmu, Ms. Kim. Aku akan berbicara sebentar dengan Ji Woong,” ujar Mrs. Oh dan ia langsung balik badan dan menghampiri Ji Woong.

“Mari,” ajak Taeyeon.

Maka ia dan keempat wanita itu langsung menuju dan masuk ke dalam kamar Taeyeon. berhubung Taeyeon sudah mandi, maka ia langsung diminta untuk langsung mengganti pakaian rumahnya dengan gaun ungu yang elegant itu.

Awalnya Taeyeon menggantinya di dalam kamar mandi, tapi karena gaun itu sulit dipakai tanpa bantuan orang lain, ia keluar dan minta bantuan. Selebih dan seterusnya, Taeyeon pasrah dengan keadaannya yang ‘diacak-acak’ oleh keempat wanita ini.

Sedangkan Ji Woong, Mrs. Oh, dan Mr. Lee sedang duduk di luar rumah sederhana itu setelah Ji Woong selesai mengganti pakaiannya. Ketiganya tampak sedang mengobrol akrab.

“Bagaimana dengan kedua orang tuamu di New Zealand? Baik-baik saja, ‘kan?” tanya Mr. Lee pada Ji Woong.

“Aku sangat berharap mereka baik-baik saja, ahjussi. Kalaupun mereka tidak baik-baik saja, mereka tetap akan menyembunyikannya dari kami, sehingga kami tidak akan pernah tahu. Mereka adalah orang tua yang sok tegar,” jawab Ji Woong sambil tersenyum kecil.

“Mereka benar-benar orang yang sangat tegar. Aku adalah sahabatnya, bahkan melihat kalian berdua saja aku sudah tahu kalian mewarisi sifat dan sikap orang tua kalian. Dari dulu aku sangat bangga dengan mereka,” tambah Mr. Lee dengan senyuman di wajahnya yang merekah.

“Tapi… Setegar apapun mereka, kalau disakiti oleh sahabat sendiri, bahkan dijatuhkan, perasaan tersakiti, terluka, itu akan tetap dan akan selalu ada sampai kapanpun. Mereka memang tegar, tapi begitu mengingat kenangan itu, mereka toh, tetap akan menangis,” sahut Ji Woong. Ia tersenyum. Namun, senyumannya mengandung banyak arti.

Mrs. Oh dan Mr. Lee langsung menatap Ji Woong. “Tentu, Jae Won tidak akan melupakan kenangan itu,”

“Appa, dia memaafkan mereka sejak awal. Tapi dia memutuskan untuk tidak lagi berhubungan ataupun mengenal mereka. Dia mungkin bisa memaafkan, tapi perasaan ditikam itu tidak akan pernah ia lupakan. Itu sebabnya, percuma ahjussi berusaha untuk menyatukan mereka lagi dengan cara memberi jabatan Ketua Murid untuk Taeyeon dan Luhan. Bahkan repot-repot mengadakan acara pesta dansa ini,”

Mr. Kim tertawa. “Ayahmu memang cerdas seperti biasa. Yah, mungkin dia benar, dia tidak akan bersatu dengan sahabatnya itu lagi. Tapi dia melupakan satu hal, dia tidak tahu seperti apa sifatku yang pantang menyerah,”

“Kenapa ahjussi begitu ingin menyatukan mereka lagi? Sangat menyakitkan jika kita ditikam sendiri oleh sahabat kita. Sangat sulit untuk dimaafkan, apalagi disatukan kembali,”

“Sudah empat tahun lamanya, ya mereka berseteru. Apakah dalam waktu selama itu ayahmu belum bisa melenyapkan amarahnya?” tanya Mr. Lee.

“Menurut ahjussi? Bagaimana kalau ahjussi berada di posisi ayah? Dia melukai seluruh keluarga kami. Bahkan membuat jantung ayahku melemah. Terkadang, aku ingin menangis, ahjussi. Tapi mana mungkin? Karena akulah satu-satunya orang yang menguatkan Taeyeon di sini. Dan terkadang aku ingin datang kepada mereka, bertanya kenapa mereka sampai hati melakukan itu,” jelas Ji Woong dengan suara getir. Matanya mendadak merah menahan air mata.

Mr. Lee menunduk sambil menghela nafas panjang. “Ne, memang sulit dimaafkan. Mianhae, Ji Woong-ah,”

“Aku… aku akan mengecek keadaan Taeyeon sebentar,” ujar Mrs. Oh cepat dengan suara parau. Ia bangkit dan masuk ke dalam rumah Ji Woong.

“Kalau bukan karena Luhan, aku mungkin akan mendatangi orang tuanya dari dulu,” lanjut Ji Woong.

“Mereka akan datang malam ini, ada yang ingin kau sampaikan? Aku akan membantumu,”

“Aniya. Itu tidak perlu, ahjussi. Aku hanya akan memperkeruh suasana. Lagipula, Taeyeon dan Luhan tidak tahu masalah ini. Walaupun aku tahu, cepat atau lambat mereka akan tahu dengan sendirinya,” tolak Ji Woong.

“Mereka akan tahu,” sahut Mr. Lee. “Kau sering bertemu Luhan? Kenapa kau memikirkan dia untuk menghalangi emosimu?”

“Aku bekerja di club di mana Luhan dan teman-temannya sering kumpul. Aku juga sering mengobrol dengannya. Dia tentu saja lupa padaku. Waktu itu dia masih terlalu kecil untuk mengingatku. Aku tidak ingin memberitahunya siapa aku sebenarnya. Biar saja dia tahu dan ingat sendiri, kalau aku adalah orang yang selalu dia panggil dengan sebutan ‘hyung-ku’, dan orang yang selalu mengikuti dan selalu kugendong di belakang punggungku,” jelas Ji Woong sambil tertawa.

“Kau masih sangat menyayanginya,” ungkap Mr. Lee lembut.

“Masih, ahjussi. Aku masih menganggapnya sebagai adikku sendiri. Betapa aku sayang padanya, membuatku tidak sampai hati untuk mendatangi kedua orang tuanya. Jujur saja, aku ingin memeluknya dan mencubiti pipinya seperti dulu. Kau tahu ahjussi? Kadang, aku menyesali semua yang telah terjadi,”

“Salahku, lah. Semua salahku. Kedua orang tua Luhan jatuh ke lubang yang salah dan aku tidak bisa membantu mereka terlalu banyak. Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk orang tuamu. Mianhae,” kata Mr. Lee dengan pandangan menyesal.

“Aniya, gwenchannayo, ahjussi. Kau juga sudah berkorban banyak,” jawab Ji Woong pelan. “Mungkin ini jalan takdir di antara keluarga kami. Tidak ada yang bisa disalahkan. Haus akan materi adalah sifat alamiah manusia,”

“Kalau mereka membayar apa yang telah mereka lakukan dulu, ayahmu akan memaafkannya, ‘kan?” tanya Mr. Lee dengan wajah menyelidiki.

“Wae? Mereka ingin membayar luka ayah? Apa bisa?” tanya Ji Woong. Ia menatap langit yang dipenuhi banyak bintang malam ini.

“Kalau aku jadi Paman Xi, aku akan melakukan apapun agar dapat tiket maaf dari keluargamu,” jawab Mr. Lee, yang ikut memandang langit di atasnya.

Ji Woong menatap Mr. Lee dengan pandangan bertanya-tanya.

~~~

“Berhenti di sini saja,” ucap Luhan pelan kepada Goo ahjussi, supir pribadinya.

Goo ahjussi menganggukkan kepalanya dan ia langsung menghentikan mobilnya tepat di depan pintu gedung Whimoon Senior High School. Setelah berhentu, Goo ahjussi langsung keluar dan membukakan pintu mobil untuk Luhan. Luhan keluar sambil membenarkan tuxedo hitamnya yang ‘wah’. Beberapa orang siswi yang tengah mengobrol di depan pintu terperangah menatap wajah Luhan yang malam ini ketampanannya bertambah berkali-kali lipat.

Luhan masuk ke dalam gedung dengan santainya. Ia sedikit tersenyum dan menganggukkan wajahnya saat beberapa siswi menegurnya di tengah perjalanannya menuju aula dengan centil dan malu-malu. Pesona Luhan mampu membuat siapapun berpaling. Bahkan laki-laki yang menjadi pasangan mereka sedikit cemburu.

Begitu memasuki aula, Luhan langsung disapa dengan alunan musik yang smooth, romantic, dan terdengar indah dan nyaman di telinga. Sudah banyak siswa dan siswi berkumpul di dalamnya. Ia juga agak kaget begitu melihat aula sekolahnya yang biasa disihir menjadi sebuah ballroom bergaya ala Eropa dan Timur Tengah. Ruangan itu memang agak sedikit redup, dan memang sengaja dibuat sedemikian rupa agar suasanya serasa menghadiri pesta dansa seorang Ratu. Kerja keras sekolah untuk membuat aula ini seperti ballroom sungguhan selama seminggu penuh memang patut diacungi jempol.

Piano dan alat-alat musik lainnya yang akan dipakai selama acara berlangsung sudah duduk manis di tempatnya masing-masing. Para pekerjanya juga sudah stand by. Ada juga yang memainkan biolanya untuk menghangatkan suasana dengan alunan suaranya yang merdu.

Meja-meja untuk kudapannya pun sudah disiapkan dengan sempurna. Semuanya harus benar-benar di prepared. Bukan hanya para siswa dan guru saja, tapi donatur dari segala penjuru dunia yang membantu membangun sekolah ini, pun juga ikut hadir. Acara penyambutan Ketua Murid tahun ini memang agak sedikit mewah, mengingat salah satu Ketua Muridnya adalah anak dari donatur terbesar dari China.

Penampilan siswa dan siswi Whimoon Senior High School yang memukau dan tampak memesona pun membuat pesta dansa ini seperti pesta dansa di Eropa pada umumnya.

Beberapa siswi yang menyadari kehadiran Luhan langsung menatap dan memerhatikan Luhan dengan tatapan liar. Mereka berusaha tampil semenarik mungkin agar Luhan mau menoleh menatap mereka. Sayangnya, Luhan lebih tertarik untuk mencari teman-temannya di antara kerumunan murid-murid itu. Dan ia baru menemukan Henry.

“Yo,” sapa Luhan. Ia menepuk pundak kiri Henry, yang malma ini juga tampil perfect, seperti biasanya.

“Ya! Kau sudah disini ternyata. Aku belum melihat yang lain. Mungkin sedang menuju kemari,” sahut Henry, suaranya agak keras, karena musiknya perlahan berubah menjadi sedikit rock.

Luhan mengangguk dan ia menatap seorang perempuan yang berdiri tepat di samping Henry. Luhan kenal perempuan itu. Ia terkenal di sekolah dan sangat dekat dengan Kim Taeyeon.

“Ms. Jung, kau juga kelihatan sangat cantik malam ini,” puji Luhan pada Jessica, yang memakai gaun selutut warna merah tua, yang sangat cocok di tubuhnya yang ramping.

Jessica tersenyum tipis. “Apa kau berencana memuji seluruh perempuan di sini?”

Henry tertawa. Ia merangkul Jessica dan menatap Luhan. “Puji saja pasanganmu. Don’t disturb my Barbie,”

Wajah Jessica merona merah. Ia melepaskan rangkulan Henry dan sedikit menjaga jarak dengan Henry. Entahlah, tapi yang Luhan lihat ia sedang salah tingkah. Dan ini untuk pertama kalinya seorang Ice Princess bertingkah seperti ini.

“Apa kalian berdua sedang kencan?” tanya Luhan langsung.

“Ani,”

“Tentu saja,” jawab Henry cepat dan santai. “Sica terlalu malu untuk mengakuinya,”

Jessica hanya memutar kedua bola matanya, malas. “Taeyeon belum datang? Seharusnya mereka sudah datang, ‘kan?”

“Dan sepertinya pasangan baru juga akan ke sini,” ujar Henry saat dirinya melihat sahabatnya yang lain, Tao sedang menghampiri mereka sambil menggenggam tangan seorang gadis berambut panjang dan hitam.

“Annyeong!” sapa Tiffany ramah. Wajahnya memerah karena terlalu bersemangat. Senyumnya merekah lebar begitu ia dan Tao sampai.

Jessica sedikit terkejut dan ia langsung membungkan mulutnya. Ia ingin menahan tawanya yang mau meledak. “Bukannya kau tidak suka dengan tipe seperti Tao?”

“Woah, aku tidak menyangka kau bisa juga menggaet seorang perempuan. Ternyata duniamu bukan dunia Wu Shu saja, ya?” ujar Henry sambil bercanda.

“Aissh, jinjja,” gerutu Tao. Ia sedikit kesal. Namun, dapat dilihat dari raut wajahnya kalau dia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.

Tiffany dengan riang merangkul lengan kiri Tao. “Pertama kali lihat memang Tao sangat garang. Tapi dia bisa melindungiku dengan jurusnya. Aku merasa aman dan nyaman jika di dekatnya. Dan ternyata dia cute juga, seperti Panda,”

“Hubungan kalian berjalan cepat juga,” sahut Henry, kagum.

“Dan uri Tao juga bisa menghajar laki-laki yang berani menyakiti uri Taenggoo,” ujar Tiffany ketus sambil mengerling ke arah Luhan.

Luhan sadar dirinya sedang disindir, dan ia hanya bersender pada meja makan sambil meneguk segelas air putih.

“Ah! Chanyeol dan Heechul…? Sunny?” tanya Jessica.

“Sunny baru saja sampai. Ia pergi bersama Xiumin. Dan kurasa Chanyeol juga sudah hadir. Kajja, aku ingin tanya Yoo Jung kenapa dia mau menerima Yeollie,” ajak Tiffany semangat. “Tao-ah, aku pergi sebentar, eoh?”

“Nado,” tambah Jessica pada Henry. Mereka langsung melesat pergi, meliuk-liuk di antara kerumunan orang, yang semakin lama semakin ramai.

Luhan menatap arlojinya. Pukul 07.35. Kenapa dia belum juga datang?

“Menunggu Taeyeonnie?” tanya Henry dengan nada menggoda Luhan.

“Kau bahkan sudah memanggilnya seperti itu. Kurasa kalian juga akan lebih dekat dengannya,” ujar Luhan sambil tersenyum kecut.

“Tentu saja. Tao juga pasti memikirkan perasaan kekasihnya. Bagaimana mungkin dia bisa ada disisimu saat kau menghina Taeyeon? Kecuali kalau kau juga sudah benar-benar mencintainya,” jawab Henry sambil tersenyum lebar, yang isinya berjuta makna. Tao membalas senyuman Henry tak kalah lebarnya sambil mengerling ke Luhan.

“Sepertinya kau bahagia sekali, Tao,” ejek Luhan.

“Aku juga, sebentar lagi. Xiumin juga tampaknya akan berbahagia,” sambung Henry saat dia merangkul Xiumin yang sudah bergabung bersama mereka.

“Di mana Suho?” tanya Xiumin langsung, dengan wajah yang berubah menjadi serius.

“Wae?” tanya Luhan dan Henry bersamaan.

“Kalian tidak tahu?” tanya Xiumin sambil menatap heran sahabat-sahabatnya.

“Molla, wae geurae?” tanya Henry yang semakin dilanda rasa penasaran.

Sebelum Xiumin menjelaskan kepada ketiga temannya, pintu aula dibuka lebar-lebar oleh para pelayan untuk mempersilakan orang yang penting masuk. Dan benar saja, Mr. Lee, Mr. Kim, dan beberapa orang di belakangnya masuk. Dapat dipastikan itu adalah para donaturnya. Luhan dapat melihat kedua orang tuanya dan orang tua Suho di antara mereka. Dan Suho mengikuti di belakang, dengan Irene bersamanya.

Mr. Lee dan Mr. Kim mengajak para donatur untuk duduk di tiga buah sofa panjang dan empuk yang terletak di sudut kiri aula. Para siswa bertepuk tangan riuh begitu mereka masuk.

“Di mana orang tuamu?” tanya Luhan pada Irene, yang langsung menghampiri mereka bersama Suho.

Irene diam. Ia lebih memilih mengambil air mineral dan meminumnya sampai habis. Suho menatap Irene sambil menghela nafas panjang.

“Tidak bisa hadir. Mereka sedang sibuk,” jawab Suho pelan.

Luhan, Henry, Xiumin, dan Tao terdiam dan saling menatap satu sama lain. Luhan tahu persis bagaimana perasaan Irene saat ini. Ia sering merasakannya. Saking seringnya, ia sudah merasa bosan untuk meratapi kesendiriannya. Tapi berbeda dengan para perempuan. Apalagi Irene, yang hanya anak semata wayang. Perasaannya pasti jauh lebih sensitive.

“Baiklah, sebelum pesta dansa dimulai, tidak ada salahnya kalau kita meminta kepada para pelayan itu untuk mengeluarkan makanan sebanyak-banyaknya sekarang. Otte?” tawar Henry sambil merangkul pundak Irene. Ia hanya ingin menghibur Irene sebenarnya. Henry adalah laki-laki yang tidak bisa melihat perempuan menangis, apalagi jika itu Irene.

“Aniyo, gwaenchanna,” tolak Irene. “Aku hanya butuh udara malam,”

Ia melepaskan diri dari rangkulan Henry dan langsung melesat pergi keluar aula. Kelima temannya hanya menatap kepergiannya tanpa bisa melakukan apapun.

“Aku akan menyusulnya,” ujar Suho cepat.

“Ani,” cegah Luhan. “Dia butuh sendiri. Aku tahu perasaan itu,”

“Tapi…”

“Annyeonghaseyo,” sapa Mr. Lee girang dengan suaranya yang menggelegar, yang langsung mendapat perhatian dari para siswa dan siswi Whimoon High School. “Aigoo, senang sekali rasanya melihat murid-muridku berubah menjadi raja dan ratu untuk semalam suntuk ini. Terima kasih karena kalian telah menyempatkan waktu untuk hadir dalam acara besar kita ini, Penyambutan Ketua Murid baru!”

Terdengar tepuk tangan yang meriah di dalam aula ini. Suaranya menggema, dan sedikit ada siulan dari beberapa orang siswa. Luhan menepuk tangannya dengan ogah-ogahan. Ia lebih memerhatikan arlojinya, menunggu seseorang datang.

“Nah, sebelum kita memulai pesta dansa ini, karena sepertinya kaki-kaki kalian sudah tidak sabar untuk menari mengikuti irama musik, tidak ada salahnya kita persilakan kedua Ketua Murid kita yang kita banggakan! Xi Luhan dan Kim Taeyeon!”

Luhan terhenyak. Mana mungkin dia bisa ke depan seorang diri? Di mana keberadaan gadis itu? Kenapa sampai sekarang wujudnya belum kelihatan?

Semua murid menatap ke arah Luhan dengan berbagai pandangan. Ada yang memandangnya dengan tatapan kagum, terpesona, dan terheran-heran kenapa dia tidak langsung bergerak. Para siswa itu juga mencari-cari keberadaan Taeyeon yang belum menampilkan batang hidungnya sejak awal.

“Jeoseonghamnida, tapi…”

Ucapan Luhan terpotong saat seseorang menyahut, “Annyeonghaseyo,” dari pintu masuk aula.

Itu adalah suara Kim Taeyeon. Luhan dan siswa yang lain menolehkan kepalanya dan menatap Taeyeon dengan pandangan shock. Bagaimana tidak? Yang bicara barusan apa benar seorang Kim Taeyeon? Ia terlihat sangat berbeda. Sangat cantik, anggun, mempesona dalam balutan gaun mewah panjang berwarna ungu yang menampilkan lehernya yang putih mulus.

Rambut kecokelatannya yang biasa ia gerai sekarang di sanggul dengan sedemikian rupa memakai pita hitam yang manis, yang cocok sekali di rambutnya.

Ia memang cantik dan imut. Tapi karena Taeyeon adalah ‘orang kecil’, wajahnya jadi tidak di pandang. Dan sekarang, semua orang yang ada di dalam aula ini tahu akan kecantikan seorang Kim Taeyeon. Make up yang ia gunakan juga tidak tebal dan menor. Tipis, bahkan lebih terlihat natural.

Tiba-tiba saja, tanpa sepengetahuan siapapun, bahkan Luhan sendiri, hatinya berdesir dan dadanya berdebar lembut melihat sosok gadis di depannya itu. Kedua bola matanya membulat sempurna. Ia seperti melihat sosok malaikat paling bersinar dalam hidupnya.

Di samping Taeyeon ada Mrs. Oh. Dan ia menyuruh Taeyeon untuk maju ke depan. Luhan tetap dengan posisinya, tercengang dan belum kembali ke dunia, fikirannya masih melayang-layang melihat keanggunan seorang gadis yang selama ini ia injak-injak. Jantungnya juga tidak fokus lagi. Entah apa yang sekarang terjadi pada Luhan.

“Dia benar-benar berubah menjadi Cinderella, ya,” gumam Suho sambil tersenyum kecil.

Henry menyenggol lengan Luhan kuat-kuat hingga Luhan tersadar. “Cepat sana genggam tangannya. Sepertinya dia kesusahan jalan karena tidak terbiasa dengan high heels,”

“Ppali, semua orang sudah menunggumu,” sambung Tiffany dan Sunny, yang mendadak kembali bergabung dengan Henry dan Tao. Ia berdiri di samping Tao dan Tao menggenggam tangannya.

“Sepertinya kau terlalu terpesona,” ejek Jessica.

Luhan mendengus sebal menatap ketiga teman perempuan Taeyeon itu. Namun, dengan secepat kilat, ia menghampiri Taeyeon dan langsung mengapit lengan kirinya begitu Taeyeon hampir terjatuh akibat gaun panjangnya yang tidak sengaja ia injak.

Begitu Luhan merangkul lengannya, Taeyeon tersentak kaget. Ia menatap Luhan seperti melihat hantu. Dan Luhan hanya tersenyum manis pada Taeyeon. Para siswa bersiul-siul melihat mereka berdua. Memang tampak sangat serasi. Jalan di tenga-tengah orang, mereka seperti sedang melangsungkan pernikahan. Dan beberapa siswi berbisik-bisik iri melihat Taeyeon. Melihat kecantikannya dan kecocokannya dengan Luhan.

“Woah, kenapa rasanya aku seperti melihat putri dalam dongeng?” pekik pelan Sunny, yang langsung diangguki oleh Tiffany.

Mereka berdua berdiri di depan, menghadap para siswa dan siswi. Taeyeon berusaha tersenyum lebar. Tapi ia terlalu gugup, sehingga ia hanya bisa tersenyum kecil.

“Wah, wah, wah. Kenapa kalian tampak serasi sekali, eoh? Kalian seperti pasangan yang ada dalam negeri dongeng. Kau tampan sekali, Mr. Xi. Dan Ms. Kim, kau lah gadis yang paling cantik yang kulihat malam ini,” ujar Mr. Lee sambil tersenyum lebar.

“Gamsahamnida, sajangnim,” ucap Taeyeon gugup.

“Berkat kerjasama yang terjalin antara kalian berdua, pesta dansa ini begitu mewah dan meriah. Aku sangat bangga. Terima kasih untuk program kerja kalian yang pertama. Aku dan semua yang ada disini berharap program kerja kalian yang selanjutnya akan sebagus dan sehebat ini!” seru Mr. Lee.

Terdengar tepuk tangan yang meriah lagi dari para siswa-siswi itu. Taeyeon membungkukkan sedikit badannya kepada Mr. Lee untuk mengucapkan terima kasih. Tubuhnya tidak bisa leluasa karena lengannya yang dirangkul oleh Luhan dan high heels yang ia pakai.

“Baiklah, bisakah kalian ke lantai dansa dan mulai berdansa? Kita semua sudah tidak sabar lagi. Dan untuk pembukaannya selama kira-kira satu menit, kalian terlebih dulu berdansa. Ayo, silakan,”

Luhan mulai melepaskan rangkulannya dan sebagai gantinya ia menggenggam telapak tangan Taeyeon. Mereka berdua beriringan jalan ke lantai dansa. Taeyeon tidak bisa menyamai langkah Luhan yang panjang karena gaunnya. Ia mengangkat gaunnya tinggi-tinggi dan Luhan menghela nafas melihatnya. Ia melepas genggamannya dan, dengan gentle ia mengangkat gaun Taeyeon bagian belakang agar ia tidak kesusahan untuk melangkah.

Mereka kembali jalan beriringan ke tengah-tengah lantai dansa.

“Kyaaa! Uri Luhannie! Dia sangat gentle, manly. Dia benar-benar tipeku!” Begitulah bisik-bisik para siswi yang terpesona akan perlakuan Luhan.

Begitu berada di tengah-tengah aula, Luhan dan Taeyeon saling menatap satu sama lain. Taeyeon merasa risih, lalu sedikit menundukkan wajahnya.

“Kuharap kau bisa berdansa dengan benar, Ms. Kim,” gumam Luhan sambil tersenyum mengejek.

Begitu Luhan selesai bicara, musik dari para pemain biola dan piano itu pun serempak terdengar. Dengan gesit Luhan meletakkan telapak tangannya di pinggang Taeyeon dan satunya lagi menggenggam tangan Taeyeon erat. Setelah itu tubuhnya menari lembut mengikuti alunan musik sambil mengarahkan tubuh Taeyeon yang kaku. Taeyeon terlalu canggung. Ia hanya meletakkan tangannya di bahu Luhan dan mengikuti irama tubuh Luhan.

Tepuk tangan para siswa dan siswi kembali terdengar. Kali ini dicampur dengan pekikan-pekikan kecil dari para siswi yang begitu gemas melihat Luhan.

Luhan yang sedari tadi hanya memerhatikan wajah Taeyeon tersenyum lebar. Kesempatan besar ini tidak akan ia sia-siakan untuk memandang wajah cantik Taeyeon. Ia juga sedikit geli melihat ketidaknyaman Taeyeon berhadapan dengan wajah Luhan dalam jarak sedekat itu. Taeyeon hanya sedikit menundukkan wajahnya.

Benar-benat gadis yang cute.

Perlahan-lahan, banyak para pasangan yang ikut bergabung ke lantai dansa. Bahkan para donatur itu juga tidak ingin ketinggalan. Taeyeon dapat melihat Heechul dan Puff Guo, seorang siswi asal Taiwan sedang berdansa bersama dengan wajah bahagianya. Begitu pula Chanyeol-Yoo Jung, Tao-Tiffany, dan Xiumin-Sunny. Taeyeon masih tidak percaya kalau Tiffany sudah berkencan dengan Tao. Ia tidak menyangka laki-laki yang jarang berekspresi itu bisa jatuh cinta pada Tiffany yang suka bicara.

“Sepertinya luka di lehermu belum benar-benar sembuh,” ucap Luhan saat ia menyadari bekas merah di sekeliling leher Taeyeon masih terlihat. Luhan mengeluarkan smirk­-nya. Tanda itu seakan-akan menandakan Taeyeon adalah miliknya.

“Jangan bicarakan masalah ini. Atau aku akan kehilangan mood-ku sekarang dan pergi dari lantai dansa ini,” ancam Taeyeon.

Luhan mengangkat tubuh Taeyeon pelan dan memutarnya sekali kemudian menurunkannya lagi. Taeyeon sedikit terkejut sedangkan Luhan hanya tersenyum kecil. Sepertinya Luhan tampak senang sekali membuat Taeyeon kesal.

~~~

Irene menghela nafas panjang lalu menghembuskannya dengan kasar. Ia duduk di salah satu anak tangga yang tidak jauh dari aula. Sambil memandangi kedua telapak tangannya, fikiran Irene melayang ke kejadian saat orang tuanya memberitahu bahwa mereka masih akan lama lagi pulang ke Korea, yang artinya mereka tidak akan pulang lagi ke rumah. Dan sudah enam bulan lamanya ia ditinggal sendiri, bersama para pelayannya.

“Menyebalkan. Sepertinya sebentar lagi pelayanku yang lebih tahu aku dari pada mereka,” gumam Irene. Ia menyelundupkan wajahnya di antara kedua lengannya yang bertumpu di atas lututnya.

Beberapa detik kemudian, telinga Irene mendengar ada suara tapak sepatu seseorang yang hendak menaiki tangga. Irene yakin itu adalah orang yang hendak ke acara pesta dansa. Dan ia tidak peduli. Ia tetap tidak mengangkat wajahnya. Masa bodo.

“Nuguseyo?” tanya orang itu.

Mendengar suara orang itu yang terdengar dekat di telinga Irene, Irene mengangkat wajahnya dan ia dapat melihat seorang laki-laki tinggi, putih, dan berwajah manis sedang tersenyum ramah padanya.

Irene menyipitkan matanya melihat laki-laki itu. Dia tidak pernah melihatnya di sekolah. Apa dia salah satu donatur? Tapi wajahnya sama sekali tidak asing di benak Irene. Di mana ia pernah bertemu laki-laki ini?

“Kenapa wajahmu kusut sekali?” tanyanya lagi. Kali ini senyumannya semakin lebar. Lalu, ia merogoh saku tuxedo-nya dan mengeluarkan sebuah botol bening ukuran kecil dan menyerahkannya ke hadapan Irene.

Irene menatap laki-laki itu dengan tatapan heran dan bingung dengan sikap manisnya. Belum pernah ada laki-laki yang bersikap manis seperti itu padanya lantaran sifatnya yang ketus dan jarang mau bergaul dengan laki-laki lain kecuali dengan Luhan dan yang lainnya.

“Ini Aromatherapy. Sepertinya kau sedang dalam masalah yang pelik sekali. Aromatherapy ini bisa membantu menenangkanmu. Wangi Lavender. Cobalah, pakai saja. Aku yakin kau akan kembali mendapatkan mood-mu dan kembali tersenyum. Tidak pantas gadis secantik dirimu murung seperti ini,” ucapnya lagi, berusaha meyakinkan Irene.

Irene mengambil botol itu dan ia menatap laki-laki yang ada di hadapannya ini dengan tatapan terima kasih.

“Setelah itu, kau harus ikut pesta dansanya lagi,” ujarnya lembut. Ia bersiap menuju aula, dan sebelum ia benar-benar meninggalkan Irene sendirian lagi, laki-laki itu mengatakan, “Sampai nanti, Hyunnie,”

Mendengar nama kecilnya disebut, jantung Irene serasa ditekan kuat dari dalam rongganya. Ia sangat terkejut, sampai-sampai tubuhnya mendadak membeku. Kata-kata terakhir laki-laki tadi, kata-kata yang laki-laki itu ucapkan, membuatnya meneteskan air matanya seketika itu juga. Hanya satu orang dalam hidupnya selama ini, yang tahu nama kecilnya selain kedua orang tuanya.

Woongie oppa.

Irene bangkit dan ia membalikkan tubuhnya. Tentu saja laki-laki itu tidak ada lagi. Ia sudah menuju aula.

“Oppa, apa itu kau? Benarkah? Benarkah itu kau? Kau kembali? Wae?” isak Irene pelan.

-Flashback-

Di sebuah taman di Sekolah Dasar~

“Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau menangis? Apa ada seseorang yang menyakitimu?”

Irene menggeleng pelan. Tapi isakannya tetap terdengar. Ia semakin menundukkan wajahnya begitu sosok laki-laki itu duduk di sampingnya.

“Kalau begitu, ada apa? Katakan saja padaku. Aku, ‘kan sunbae-mu. Aku harus peduli pada para hoobae-ku. Apalagi sepertinya kau punya masalah besar. Kau lari dari sekolah sampai ke taman ini dan lihatlah, wajahmu sangat merah. Kenapa kau sedih sekali?”

Irene tidak menjawab kembali. Karena tidak mendapat jawaban dari Irene, laki-laki itu menepuk-nepuk lembut pundak kiri Irene, berusaha untuk menenangkannya. Bukannya tenang, Irene malah semakin terisak-isak, membuat laki-laki itu semakin kaget.

“Appa… Eomma, mereka tidak akan bisa datang untuk menghadiri pengumuman kenaikan kelasku. Mereka orang yang sangat sibuk, pulang juga hanya sebulan sekali. Aku tidak pernah marah ataupun memaksa mereka untuk tetap di rumah karena aku tahu mereka bekerja untukku. Meskipun aku sangat kecewa. Tapi, apakah tidak bisa mereka meluangkan waktu satu hari saja untuk datang? Siapa lagi yang bisa datang melihatku selain mereka berdua? Kalau mereka hadir, aku pasti sangat bahagia. Ini adalah permintaanku untuk yang pertama kalinya sejak aku di tinggal pergi. Tapi kenapa mereka tidak sanggup memenuhinya? Mereka banyak berjanji akan segera pulang dan tinggal lebih lama di rumah tapi tidak pernah ditepati dan aku tidak pernah marah! Kenapa sekarang…”

Laki-laki itu menatap Irene dengan pandangan iba. Hatinya terasa teriris begitu ia mendengar cerita Irene. Ia seperti melihat adik perempuannya menangis, dan ia tidak pernah bisa melihat adik perempuannya menangis.

Laki-laki itu dengan perlahan membawa Irene ke dalam pelukannya. Irene semakin terisak dan laki-laki itu membelai rambutnya.

“Aku akan datang sebagai oppa-mu,” ujarnya, membuat Irene berhenti menangis. Ia melepaskan pelukan laki-laki itu dan menatapnya heran.

“Mwo? Oppa?”

“Melihatmu menangis seperti melihat adikku menangis dan aku tidak suka. Mulai sekarang aku akan menjadi oppa-mu dan aku akan datang menghadiri acara kenaikan kelasmu. Kalau gurumu menanyakan aku siapa, katakan saja kalau aku adalah oppa-mu, Ji Woong oppa. Arraseo?”

“Ji Woong oppa?” tanya Irene lagi, dengan suaranya yang parau.

“Eung. Aku tahu siapa dirimu karena aku selalu memerhatikanmu. Dan aku sangat suka sekali bila aku menjadi oppa-mu. Otte, nae yeodongsaeng?”

Irene menatap laki-laki yang bernama Ji Woong itu dengan tatapan bahagia. Ia tersenyum kecil dan hanya mengangguk pelan. Ji Woong tersenyum lebar dan ia membelai lembut rambut Irene.

“Dan aku akan memanggilmu dengan panggilan ‘Hyunnie’,” tambahnya.

Mulai saat itu, hidup Irene terasa lebih berwarna dari sebelumnya. Ia bahkan lebih bahagia walaupun kedua orang tuanya tidak pernah ada di rumah. Ia menjadi sosok perempuan yang penuh senyum karena Ji Woong yang selalu ada setiap ia membutuhkannya.

Tapi semua itu berubah saat dirinya masuk ke sekolah menengah pertama. Ji Woong awalnya berjanji akan datang saat upacara penerimaan siswa baru sambil membawa sebuket bunga besar. Tapi, setelah ditunggu-tunggu selama apapun, Ji Woong tidak pernah datang.

Ji Woong tidak lagi mengabarinya. Ia menghilang begitu saja dari kehidupan Irene. Tapi tidak di hati dan kehidupan Irene. Irene masih menunggu kehadiran oppa-nya itu. Ia masih berharap cinta pertamanya itu akan muncul di hari yang tepat. Ia akan tetap menunggu.

-Flashback End-

Mendadak wajah Ji Woong oppa kembali terngiang di benaknya. Ia terkejut. Karena wajah laki-laki yang ia temui tadi mirip sekali dengan Ji Woong oppa-nya. Senyumnya dan cara pandangnya juga. Semuanya mirip.

“Kau datang?” gumam Irene. Ia kembali menangis.

~~~

“Kau benar-benar membuat orang-orang di sini terpana, Taeyeon-ah. Kau memang sangat cantik sekali, jeongmal,” ujar Suho sambil tersenyum manis pada Taeyeon.

“Jinjjayo? Aigoo, kau terlalu berlebihan,” jawab Taeyeon. Ia tertawa dengan wajahnya yang bersemu merah. “Itu artinya, aku berhasil menjadi seperti Cinderella,”

“Ani,” jawab Suho. “Kau lebih cantik dari pada Cinderella,”

“Jeongmalyo?” tanya Taeyeon lagi sambil tertawa. “Ah, benar! Ada yang ingin kutanyakan padamu, Suho-ah,”

“Mworagu?”

“Park Chorong… Apakah itu Chorong yang selama ini kau tunggu? Teman masa kecilmu?” tanya Taeyeon hati-hati.

Suho terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia tersenyum dan menjawab, “Ne, Chorong yang kusebut itu adalah Park Chorong. Wae?”

“Ani. Hanya saja…”

“Ya,” panggil seorang laki-laki sambil menepuk pundak Taeyeon.

Taeyeon memutar kedua bola matanya dengan malas dan ia menolehkan wajahnya melihat orang yang memanggilnya itu. “Mwo? Kau tidak lihat aku sedang bicara?”

“Bicaranya nanti saja,” jawab Luhan pendek. Ia sedikit menganggukkan kepalanya pada Suho dan langsung menarik pergelangan tangan Taeyeon menuju ke arah Mr. Lee, yang sedang mengobrol akrab dengan sepasang donatur sekolah.

“Mwohae?! Ada yang harus aku sampaikan pada Suho!” pekik Taeyeon pelan sambil menghempaskan pergelangan tangannya dari cengkeraman Luhan.

“Sstt,” desis Luhan.

“Ah, Ms. Kim. Kau disini. Kemarilah sebentar saja,” tegur Mr. Lee dengan nada ceria.

Taeyeon menatap Mr. Lee dengan sedikit terkejut. Ia menatap Luhan, yang memberinya kode untuk segera mendatangi Mr. Lee.

“William, Pu Li, perkenalkan Kim Taeyeon, salah satu Ketua Murid yang bekerja sama dengan Luhan. Anaknya cerdas, kreatif, dan periang. Sifat-sifatnya sangat menakjubkan, seperti kedua orang tuanya,” ujar Mr. Lee sambil tersenyum bangga pada Taeyeon.

“Annyeonghaseyo, Kim Taeyeon imnida,” sapa Taeyeon ramah. Ia membungkukkan tubuhnya 90 derajat.

“Anak yang sopan dan cantik,” puji wanita yang bernama Pu Li itu.

“Taeyeon-ssi, mereka adalah kedua orang tua Luhan. Mr. William dan Mrs. Pu Li. Salah satu donatur hebat di sekolah,”

“Tunggu,” potong ayah Luhan cepat. Matanya menatap lekat-lekat wajah Taeyeon dan tampaknya ia agak sedikit terkejut. “Kau… Apa kau anaknya Kim Jae Won?”

Taeyeon terdiam. Ternyata benar. Orang tua Luhan mengenal orang tuanya. Begitupun sebaliknya. Dan sudah pasti, ada cerita masa lalu yang kelam, yang membuat ibunya tidak ingin ia dekat-dekat dengan Luhan ataupun mengobrol banyak dengan orang tuanya.

“Ne,” jawab Taeyeon pelan. “Kalian mengenal mereka?”

Mr. Lee diam. Ia memandang wajah William dan Pu Li, yang tampak sangat shock. Bahkan wajah Mrs. Pu Li berubah drastis. Senyuman manisnya hilang begitu saja. Luhan yang sedari tadi diam dan malas mendengarkan, kini menatap Taeyeon dan kedua orang tuanya secara bergantian.

“N… Ne. Kami sangat mengenal orang tuamu. Sangat. Err… euungg… bagaimana, ya?” ujar Mr. William sambil tertawa gugup. Ia tampak salah tingkah. “Bagaimana… kabar mereka? Mereka di mana sekarang?”

Taeyeon diam. Ia hanya menampilkan senyuman manisnya sebelum berfikir untuk menjawab apa. Ibunya melarangnya untuk bicara apa-apa mengenai mereka di hadapan orang tua Luhan. Sepertinya ibunya sudah memperkirakan hal ini terjadi.

“Mereka sangat baik. Mereka…”

“Mereka sedang bekerja,” jawab Mr. Lee cepat. “Seperti yang pernah kuceritakan. Mereka tidak bisa hadir karena sibuk bekerja. Bekerja sangat keras. Dari nol,”

Perkataan Mr. Lee membuat kedua orang tua Luhan terdiam. Mr. William memandangi Mr. Lee dengan tatapan bersalah yang sulit untuk Taeyeon pahami. Sedangkan Mrs. Pu Li menatap Taeyeon dalam-dalam, seakan-akan memberinya tatapan penuh penyesalan. Dan ia bingung untuk bersikap bagaimana. Jelas ada sesuatu yang terjadi dan ia sebagai anaknya, tidak tahu apa-apa.

“Tapi Taeyeon membawa kakak laki-lakinya. Masih ingat? Tunggu, aku akan memanggilnya,” ujar Mr. Lee. Ia langsung pergi meninggalkan Taeyeon, Luhan beserta kedua orang tuanya.

“Ibu mengenal Kim Taeyeon?” tanya Luhan penasaran.

“Aku… Waktu itu kau masih kecil. Aku hanya mengingat wajah Ji Woong. Kau tumbuh menjadi perempuan sangat cantik,” jawab Mrs. Pu Li sambil tersenyum manis. Bukan senyuman bahagia, tapi lebih kepada senyuman sedih dan permintaan maaf.

“Jinjjayo? Anda pasti teman dekat ibu saya,” ujar Taeyeon pelan. “Tapi kenapa Anda tidak tahu di mana ibu dan ayah saya? Apa kalian lost contact?”

“Begini…”

“Will, Pu, ini adalah Ji Woong. Kalian tentu masih ingat rupanya yang tampan, ‘kan? Bagaimana? Dia semakin tampan, ‘kan?” tanya Mr. Lee, memotong perkataan ayah Luhan.

Taeyeon menatap kakaknya, yang sama sekali tidak berekspresi apa-apa begitu ia menghadap orang tua Luhan. Malah ekspresinya terkesan dingin dan kakunya. Setahu Taeyeon, kakaknya tidak pernah seperti itu kepada teman dekat orang tuanya. Dan Taeyeon dapat menyimpulkan, kakaknya juga tahu suatu hal yang tidak ia ketahui.

“Annyeonghaseyo,” sapa Ji Woong pendek.

“Kau… tumbuh dengan baik, Ji Woongie,” ujar Mr. William. Ia menepuk pundak kiri Ji Woong dengan canggung.

“Gamsahamnida,” jawab Ji Woong. Ia sedikit menghindar saat Mr. William menepuk-nepuk pundaknya.

“Luhan-ah, kau masih mengingat Ji Woong hyung-mu?” tanya Mrs. Pu Li, berusaha mencairkan suasana canggung yang terasa sangat nyata di antara mereka walaupun Luhan dan Taeyeon sama sekali tidak tahu-menahu ada kisah apa dulunya.

“Kami sering bertemu di bar,” jawab Ji Woong cepat. Ia menatap Luhan dan tersenyum lembut, senyum yang selama ini Ji Woong berikan untuk Taeyeon. “Luhan masih kecil sebelum kami memutuskan untuk pindah rumah. Jadi wajar saja kalau dia lupa padaku,”

Taeyeon menatap kakak laki-lakinya itu dengan tajam. Dan Ji Woong juga memandang Taeyeon. Ji Woong tahu sesuatu, tahu akan banyak hal tapi kenapa malah menutupinya dari Taeyeon? Selama ini ia selalu bercerita padanya tentang kekejaman Luhan dan Ji Woong tidak bilang apa-apa mengenai hubungan kedua orang tua mereka yang dulunya sangat dekat. Dan lebih parahnya, Ji Woong sangat mengenal Luhan. Kenapa ia tidak pernah bilang?

“Apa… dulu kita saling mengenal?” tanya Luhan pada Ji Woong. Kelihatan sekali dari raut wajahnya kalau dia sangat terkejut.

Ji Woong menoleh menatap Luhan. “Dulu kau sering minta ditemani kemanapun kau pergi,”

“Kau sering memanggilnya ‘hyung-ku’, Luhan-ah,” sambung Mr. William semangat.

“Tapi itu dulu. Sekarang kita tidak punya hubunga apa-apa,” sahut Ji Woong cepat dan terkesan dingin, membuat suasana di antara mereka hening.

“Kalau begitu!” seru Mr. Lee, membuat Taeyeon dan Luhan terkejut. Tapi Ji Woong tetap menatap Mr. William dengan tatapan tajamnya. “Bagaimana kalau kita mulai makan malam sambil mengobrol? Makan malam sudah dipersiapkan dan setelah itu kita akan kembali berdansa. Bagaimana?”

“Kalungku hilang, mungkin jatuh dan aku ingin mencarinya. Kalian ambil tempat saja dulu. Aku menyusul,” jawab Mrs. Pu Li.

“Tidak perlu, sayang. Lebih baik kita makan malam saja. Aku akan menggantinya nanti,” tolak Mr. William.

“Baiklah, kajja,” ajak Mr. Lee.

“Aku permisi sebentar. Aku ingin ke kamar mandi,” ucap Taeyeon. Setelah itu ia buru-buru menghilang dari kerumunan orang-orang yang sedang asyik mengobrol sambil bercanda tawa.

Sebenarnya Taeyeon tidak ingin pergi ke kamar mandi. Ia hanya ingin sendiri untuk sementara, memikirkan kejadian barusan. Bagaimana mungkin ia bisa tidak tahu permasalahn keluarganya? Ia tampak bodoh sekali tadi. Dan Ji Woong sama sekali tidak memberikan penjelasan apa-apa selama ini.

Dan dulu Ji Woong dekat dengan Luhan? Dekat dengan laki-laki yang sama sekali tidak tahu diri dan tidak tahu adab sopan santun itu? Kenapa dia tidak ingat apa-apa? Kenapa seperti ada yang disembunyikan dari dia?

Saat kakinya hendak keluar dari aula, Taeyeon melihat suatu benda yang berkilau tergeletak begitu saja di lantai aula. Taeyeon mendekati benda itu dan mengambilnya. Sebuah kalung berlian yang sangat cantik. Ia meneliti kalung itu dan menemukan inisial nama ‘PL’.

“Ah, apa ini milik ibu Luhan?” gumam Taeyeon dalam hati.

“Ya!” seru seseorang di belakang Taeyeon, membuat Taeyeon tersentak kaget.

Taeyeon menoleh ke belakang dan ia melihat tiga orang perempuan, dan Taeyeon hanya mengenal satu orang saja, yang berada di tengah. Namanya adalah Hyosung, salah satu fans berat Luhan, yang jika Luhan sedang patrol, gadis itu pasti selalu ada.

“Mwo?” tanya Taeyeon malas. Haruskah ia meladeni para perempuan ini lagi?

“Apa kau tidak cukup membuat hati orang lain sakit? Kau tidak puas sudah mengambil Suho oppa? Apa kali ini kau akan mengambil uri Luhan dari kami? Ya, neo! Hanya karena kau adalah Ketua Murid, jangan seenaknya menyentuh Luhan oppa, arraseo?! Apa kau tidak berkaca? Kau hanyalah orang kecil yang tidak akan pantas bersanding dengan siapapun dalam sekolah ini, termasuk Luhan oppa!” ujar Hyosung sengit.

Taeyeon menghela nafas panjang. “Sudah? Kalau kalian sudah selesai mengatakan apa yang ingin kalian katakan, silahkan pergi. Aku sedang tidak ingin melihat kalian,”

“Mwo? Aish, jinjja. Kau sombong sekali!” seru gadis yang ada di samping kiri Hyosung.

“Apa itu yang kau pegang?” tanya Hyosung tiba-tiba. Matanya membulat begitu ia melihat dengan jelas kalung berlian yang ada dalam genggaman Taeyeon. “Itu berlian! Kau mencuri?”

“Aniya!” sanggah Taeyeon cepat. “Aku menemukannya dan aku tahu siapa pemiliknya. Aku akan mengembalikannya,”

“Geotjimal. Kau mencurinya, ‘kan? Katakan saja! Kau sudah merasa cantik dengan berdansa bersama Luhan oppa dan kau mencurinya agar semakin kelihatan berkilau? Cih, neo jinjja. Kembalikan!” seru Hyosung.

Ia maju mendekati Taeyeon dan hendak mengambil kalung itu. Namun, lengannya langsung terhenti saat sebuah tangan memegang pergelangan tangannya. Taeyeon dan ketiga gadis itu kaget melihat Luhan yang sudah ada di hadapan mereka. Ia menghempaskan tangan Hyosung dan berdiri di samping Taeyeon.

Kedua bola mata ketiga gadis itu membulat dengan sempurna saat Luhan merangkul tubuh mungil Taeyeon dan membawanya ke dalam dekapannya. Taeyeon lebih terkejut lagi. Apalagi saat ia menghirup aroma tubuh Luhan, aroma yang pernah diciumnya saat laki-laki ini memeluknya di sofa. Tubuh Taeyeon langsung membeku. Ia tidak bisa melakukan apa-apa. Tubuhnya mendadak tidak mau di ajak bekerja sama.

“Apa yang mau kalian lakukan padanya, eoh? Tidak tahukah kalian ini acara Ketua Murid, yang artinya adalah acara ini juga acara Kim Taeyeon? Kenapa kalian bersikap tidak sopan padanya? Kalian mau kuberi sanksi?” tanya Luhan dingin.

“Oppa, wae…? Kenapa kau tiba-tiba seperti ini, oppa?” tanya mereka bertiga dengan nada protes.

“Jangan pernah menyentuhnya lagi. Dari ujung kepala sampai ujung kakinya, tidak ada yang boleh menyentuhya kecuali aku. Dan jangan ada yang berani macam-macam dengannya, atau kalian akan tahu akibatnya. Bersikap sopan dan seganlah padanya, karena dia adalah Princess-ku,” lanjut Luhan.

Hyosung membekap mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Ia langsung balik badan, diikuti oleh kedua temannya.

Setelah mereka pergi, Luhan tetap tidak melepaskan tubuh Taeyeon dalam dekapannya. Ia terus mempertahankan posisi ini sampai ia dapat merasakan detak jantung Taeyeon yang berdebar kencang dan darahnya yang mengalir deras. Entah mengapa Luhan tersenyum kecil pada Taeyeon.

“Lepas,” ujar Taeyeon pelan.

Luhan diam tidak berkutik. Sampai akhirnya Taeyeon melepas paksa tubuhnya. Ia menatap Luhan dengan pandangan yang sulit untuk diartikan.

“M… mwo? Kenapa kau bisa ada di sini?” tanya Taeyeon, berusaha menyembunyikan rasa gugupnya. Bodoh, kenapa ia harus merasa gugup?

Sepasang mata rusa itu menatap dalam-dalam manik mata Taeyeon. Senyumnya merekah. “Wae? Kenapa kau tidak mengamuk seperti biasanya saat aku peluk? Kenapa kau tidak langsung melepas pelukanku?”

“Hhh, jangan mengatakan hal yang tidak-tidak, Luhan-ssi,” jawab Taeyeon. Ia hendak melangkahkan kakinya menuju meja tempat Mr. Lee dan kedua orang tua Luhan makan. Namun, Luhan menghalangi langkahnya.

“Ya, Ms. Kim. Perlu kukatakan padamu, berhati-hati dan berpeganganlah. Kau bisa saja jatuh terlalu dalam padaku. Sepertinya kau sudah terpesona sekali padaku, keutchi?” ucap Luhan.

“Dalam mimpimu, Luhan-ssi. Sekarang minggirlah. Mr. Lee dan kedua orang tuamu pasti mencari kita,” sahut Taeyeon cepat. Mendadak saja wajahnya menjadi memanas. Taeyeon dapat merasakannya dan dia bingung kenapa itu terjadi.

“Aku ingin tanya dulu satu hal padamu,” kata Luhan. “Apa kau tahu orang tua kita saling mengenal dan dekat satu sama lainnya? Dan kenapa kakakmu tidak pernah cerita apa-apa? Kami bertemu dan mengobrol setiap aku pergi ke club. Apa aku sangat dekat dengan kakakmu? Tapi kenapa sekarang tampaknya keluarga kita sudah tidak akur? Kau tahu penyebabnya?”

“Aku juga tidak tahu apa-apa, Luhan-ssi. Aku sama sekali tidak tahu apa-apa,” jawab Taeyeon kesal. “Kenapa kau tidak pernah tanya pada orang tuamu?”

“Bertanya pada mereka? Bicara satu huruf saja tidak bisa. Jangan pernah bicara seakan-akan mereka adalah orang tua yang perhatian,” jawab Luhan dingin.

Taeyeon tersentak. Ia kaget menatap Luhan. Ia menjadi merasa sangat bersalah pada Luhan.

“Aku… tidak tahu,” ucap Taeyeon pelan. Sebenarnya dia ingin minta maaf, tapi entah kenapa yang keluar adalah kata-kata itu.

“Baiklah, murid-muridku yang kubanggakan!” seru Mr. Kim di hadapan semua siswa-siswi Whimoon Senior High School. “Setelah puas berdansa, mari kita lahap makan malam istimewa ini ditemani alunan musik piano yang indah, yang akan di mainkan oleh seorang murid yang besekolah di sekolah musik terkenal di Perancis! Dan dulunya, dia adalah murid dari Whimoon Junior High School, Park Chorong!”

Bukan hanya Taeyeon dan Luhan saja yang amat sangat terkejut mendengar nama itu. Seluruh siswi menahan nafas mereka dan mulai berbisik-bisik. Tapi tepuk tangan tetap terdengar meriah.

“Chorong?” gumam Luhan.

Taeyeon dapat mendengarnya dan ia langsung menolehkan wajahnya ke arah Suho, yang berdiri tidak jauh dari mereka. Wajah Suho kelihatan kaget, bahagia, sedih, dan terdapat rindu yang mendalam saat tatapannya tidak lepas dari sosok perempuan yang membungkukkan badannya, mengucapkan salam, dan langsung memainkan pianonya dengan lembut.

Luhan menatap Taeyeon, yang tatapannya masih melekat menatap Suho. Entah apa yang difikirkan Taeyeon sampai-sampai ia tidak melepaskan tatapannya. Dan Luhan hanya bisa memandang Suho dan Taeyeon secara bergantian dengan tatapan cemburu.

-To Be Continued-

Annyeong^^ hihi kembali lagi niii bawa FF ini as soon as possible sesuai request-nya readersdeul kekekeke~

Yaahh, ngga tau lagi dehh mau bilang apaa happy reading aja dehh yaa kalo ada yang kurang mohon di maafkan hahahaha^^

Enjoy, dan dan dan daaann yaaahh seperti biasaa don’t be silent readers, okaayyy xixi.

Seeyousoon~

Advertisements

202 comments on “My Princess, Kim Taeyeon (Chapter 7)

  1. TBC nya sangat amat mengganggu aishhh
    penasaran binggoooooo chapter 8 nya cepetan authorrrr dan di panjangin lagi eaaaaaaa wkwkXD
    LUTAE MOMENT DIBANYAKIN DAN DI PER-SOSWIT-IN(?)

  2. Bener2 kejam ortu-nya Luhan menghianati sahabatnya sendiri yaitu keluarganya taeyeon tp Luhan dan Taeyeon tidak tau apa2 ttg prmasalahn itu.. #tambah seru nih 😀

    Taeyeon dtang ke prom, wah dia bener2 cantik smpai2 Luhan natapi taeyeon terus :D’ hahahaha..

    Yg bikin bener2 terkejut disini adalah kedatangan Chorong yg dtang ke prom..
    Kemunculan Chorong disini akan jd sprtti apa nih, hehehehehe :D’

    …Pokoknya cerita ini bener keren, oke klo gtu ditunggu next chapterny ya . . 🙂

    b^^d

  3. Waaaaa chorong balik lagiiiii >< daebak thorrr!! Nanti luhan sama taeyeon ajaa biar suhonya sama chorong. Ne ne ne? Haha, Next chapt gapake lama ya 😋😋 keep writing!

  4. Yeaaa chorong kembali (y) daebak thorrr
    Aku mau ntar chorong sama suho aja jangan deket2 luhan /? biar luhan leluasa sama taeyeon eonni wkwk.
    terus, kayanya keluarga luhan ingin minta maaf sama keluarga taeyeon :/
    semoga keluarga mereka cepet akur

    keep writing thor ^^

  5. Hihihi.. aku ketinggalan 3 hari dari waktu post. Lutaenya banyak moment,makasih. Aku penasaran banget sama apa yang terjadi dengan ortu mereka. Ortunya Luhan mengkhianati ortunya tae gitu. Yak ampun,jgn salahkan luhan dong eomanya Taeyeon. Luhan tak tau apa apa?! 🙂
    next chap…..

  6. Wahhh.. Luhan udh mulai cemburu tuh…
    Udh netapin taeyeon princessnya segala lgi..
    Ditunggu chap slnjtnya, thor..
    Keep writting..

  7. Waa..emangnya luhan udah jatuh cinta ya sama taeyeon..waa so sweet..waa daebak nanti jangan di buat pw susah mau minta btw..ceritanya bagus..good luck..next chap ditunggu ya!!fighting thor!!

  8. Aaaa sukaaaak banget chapter inii>< akhirnya pada ngeliat kalau taeyeon itu cantik banget kkk. Dan aku sukaa banget karna di part ini ada foto fotonyaa jadi bisa kebayang huehe. Top lah eonnn! SUKAAK POKOKNYA:D apalagi di part ini luhan udah mulai suka kayaknya sama Taeyeon hihi. samai dia bilang princess{} omaygod.. Thanks eon udah update cepet banget. Semngat buat chapter 8 !! 😀

  9. Kenapa ya kalau ak malah mau tae sma suho aj, jgan sma luhan. Hehe #maunya

    Ow iy thor, kok saya nggak d kasi pw yg chap.6 sih 😭 saya udh kirim lewat email. Belum d balas 😱

  10. OMG hellooo #gayaalay
    kekeke.. Lucu liat luhan yg cemburu sma suho 😀
    tepuk tngan bwt henry yg bsa meluluhkan hati ice princes #prokprok
    irene dan jiwoong ? Ga kepikiran sma sekali.
    Chorong kembali ? Omo omo >.<
    dtnggu next chap ya thor! Jgn lma ya
    FIGHTAENG!!

  11. Hah chorong muncul 😮 apakah taeyeon akan sakit hati ??? Buat ff ini no comment daaah..selalu bagus trs thooor.. 🙂

  12. Yuhuuu luhan mulai cemburu brarti kan udah mulai suka sama taeyeon 😄 yeyeyey XD jangan bikin chorong deketin luhan dong authornimm >< jebal jangan bikin taeyeon suka sama Suho, lebih baik taeyeon langsung sama luhan aja 😝
    Orangtua nya luhan saat taeyeon dulu sahabatan? Buruan di reveal dong authornimm kenapa kok skarang udah break 😄 Hehe
    Update soon authornimm, fighting!!
    💪😄

  13. Waahhh. daebak thor. saya suka bgt thor dgn alur crtanyaaa… (y)
    dan dsni taeyeon cantik bgt thor. dan luhan ganteng bgt….. 😀
    tpi thor,apa luhan tdk mnggingat tntng kknya taeyeon sdkit pun?? pdhl mrka kn dlu saling kenal bhkn slng mnyayangi thor…
    saya penasaran dgn chapter selanjutnyaaa thor. apa yg akn terjdi dgn taeyeon dan luhan yaa thor…??? apalgi semenjak munculnya kmbli chorong thor. apa nnti akn trjadi cinta segi 4 thor?? apa nnti luhan akn memilih chorong d bndngkn dgn taeyeon thor?? saya harap tdk thor. saya harap chorong dgn suho ja thor. biar luhan dan taeyeon ttp bersama yaaaa thor.
    d tnggu kelnjutannya thor.
    always fighting thor…..(y)

  14. Wahhh daebakkk seru thor Luhan terpesona oleh kecantikan Taeyeon. Seneng bgt kalo Luhan udh cemburu eomo ada Chorong nih ntar brrti bkal ada konflik dong, tapi moment LUTAE harus ada yayaya^^ di next chap Keep Writing and FIGHTING!!!

  15. Semoga keluarga LuYeon cepat akur
    Gk nyangka Ji Wong oppa punya hubungan masa lalu dengan Irene
    Keknya konfliknya tambah menegangkan soalnya Chorong udh kembali
    Ditunggu kelanjutannya thor

  16. orangtua mereka kenapa sihhh ah penasaran T_T wow chorong is back huhu. seneng deh moment lutae makin banyak wkwk~ next chapter ditunggu ya thor~

  17. Aaahh penasarann..
    aduhh semoga chorong nya baik yaa,,
    luhan ky nya bakal jatuhcinta bgt sama taeng, tp suho.. ky nya msh suka bgt sama chorong.. hhehe

  18. Uwaaahaaayyy daebak next chap yeth thor love your ff. Oiya mau minta password yg chap 6 dong. Ne ?? Ditunggu pasawordnya
    Gomawo ^^

  19. Owahh author.., keren lah.. daebak. (Y) wkwkwk ngaka masa pas tau tiffany sama tao wkwk =D, aduh aku gak nyangka juga semua cast disini pnya hubungan di masa lalu dan saling berkaitan :v hmm bingung deh sama msalah keluarga nya taeyeon sama luhan sebener nya kenapa sih?? .. oke lngsung ke chap8
    Faiting ya thor!! ^^

  20. Akhirnya Chorong muncul juga. Jadi Suho nanti bakal jadi dengan Chorong ya Thor? Hehe..

    Di chapter ini LuTae moment nya romantis bangeeett…. 😉😍
    👍👍👍

  21. kyaaaaa, taeng eonni cantik banget
    apa yang dilakukan luhan
    deabak thor
    ditunggu next chapternya

  22. Udah mulai nebak2 nih akunya. Kirain ortu luhan bakal gak suka sama taeyeon. Tpi malah jdi ngerasa bersalah ya. Suka deh. Gak trllu menusuk hati
    Sulit ditebak, bikin penasaran mulu.. 😀
    Fighting thor! Karyamu sangat indah 😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s