My Princess, Kim Taeyeon (Chapter 6)

my-princess-kim-taeyeon

Bina Ferina’s Present

Main Cast :

KIM TAEYEON

KIM JUNMYEON (SUHO)

XI LUHAN

PARK CHORONG

All of Artists SM. Entertainment

Genre :

ROMANCE, SCHOOL-LIFE, FRIENDSHIP

Rating :

PG 17

Artworker :

Very much thank you, dear^^ –> rosaliaaocha – ExoShidaeFFandGrapchics

A/N :

Mari dibaca^^ hope you’ll be like my new fanfic! Alurnya ceritanya SANGAT BIASA, mungkin juga udah sering baca. Tapi aku akan berusaha lebih keras agar FF ini ngga TERLALU BIASA untuk para ReaderSetiakuu #chu. Happy reading^^

~~~

“Euung,” erang Taeyeon pelan dengan masih memejamkan matanya.

Walaupun matanya terpejam rapat-rapat, tapi sekarang dirinya sudah sepenuhnya tersadar. Telinganya menangkap suara-suara beberapa orang. Satu suara laki-laki dan satunya suara seorang perempuan. Ia ingin membuka matanya lebar-lebar. Tapi rasa lelah yang menjalari tubuhnya seakan-akan menghentikan niatnya itu.

“Saya sudah menyiapkan bubur hangat untuk Nona ini, Mr. Xi. Apa mau saya ambilkan?” tanya seorang perempuan. Dahi Taeyeon mengerut. Mr. Xi? Nama yang pernah ia dengar. Tidak, nama yang sering ia dengar.

“Tunggu dia sadar saja dulu,” jawab seorang laki-laki yang suaranya lumayan jauh.

Suara laki-laki itu seperti pernah Taeyeon dengar. Tunggu. Apa jangan-jangan suara itu… Tidak mungkin. Ada di mana dia sekarang? Dengan keterpaksaan yang amat sangat, Taeyeon perlahan-lahan membuka kedua kelopak matanya dan menangkap langit-langit kamar yang putih bersih dan menjulang tinggi. Di tengah-tengahnya menempel sebuah lampu besar yang mewah. Jelas sekali ini bukan kamarnya.

Dan begitu kedua matanya sudah terbuka secara sempurna, ia dapat merasakan kesejukan sekaligus kenyamanan di dalam dirinya yang tengah terbaring di tempat tidur king size. Dengan selimut halus yang menutupi dirinya dan bantal yang empuk membuatnya sendi-sendi dalam tubuhnya malas untuk bergerak.

Tapi ini di mana? Sebuah kamar yang sangat luas, dengan segala perabotannya yang lengkap. TV, meja belajar, lantainya yang beralaskan karpet halus dan mewah, lemari pakaian yang besar, bahkan lemari buku dan sepatu juga ada. Sepertinya orang yang memiliki kamar ini begitu ingin tampil sempurna. Ia juga mendapati dua jendela besar di bagian kanan kamar ini, dengan gordennya yang terjuntai indah. Dan Taeyeon dapat melihat balkon kamar itu. Balkon yang luas, dengan sebuah kursi kayu dan beberapa tanaman pot tersusun dengan rapi. Jika dibandingkan dengan kamar hotel berbintang lima, kamar inilah yang paling unggul.

Ia juga melihat sebuah sofa besar dan dua buah sofa kecil di dekat jendela kamar. Dan salah seorang laki-laki yang ia dengar suaranya tadi sedang duduk dengan nyamannya di sofa besar sambil mengotak-atik ponselnya. Taeyeon berusaha kembali menormalkan penglihatannya agar ia bisa melihat dengan jelas siapa sosok laki-laki itu.

Tunggu, laki-laki itu…

Mendadak Taeyeon langsung bangkit dari posisi tidurnya. Ia duduk di atas tempat tidur itu sambil memegang selimut yang menutupi tubuhnya. Dilihatnya seragam sekolahnya sudah terganti dengan pajama yang kebesaran.

“Apa… apa yang kau lakukan disini?” tanya Taeyeon dengan ekspresi sangat terkejut. “Kemana seragam sekolahku?! Apa kau yang menggantinya?”

“Kau sudah bangun?” tanya Luhan dengan nada datar. Ia menyimpan ponselnya dan menatap Taeyeon dari sofa. Smirk-nya muncul, membuat Taeyeon mati kutu.

“Jawab pertanyaanku, Xi Luhan,” gertak Taeyeon marah.

“Ini rumah dan kamarku. Sudah sewajarnya aku ada disini, ‘kan? Kenapa kau bodoh sekali?” ujar Luhan sambil terus menatap Taeyeon.

“Kenapa aku…”

“Kau dikurung dalam gudang, ‘kan? Karena foto dirimu dan Suho. Sudah kuduga akan begini jadinya. Kasihan sekali dirimu. Kau sangat merana, eoh? Itu sebabnya, karena rasa kasihanku yang sangat tinggilah aku membuka pintu gudangnya. Seharusnya kau berterima kasih padaku,” ujar Luhan dengan wajah sombongnya.

Taeyeon diam. Ia menundukkan wajahnya dan kembali teringat dengan kejadian beberapa jam lalu saat di sekolah. Hanya karena ia dekat dengan Suho. Lalu, apakah karena masalah sepele ia tidak bisa berteman dengan Suho? Tapi, sepertinya ini bagi orang-orang kaya itu, ini bukanlah hal sepele.

Taeyeon melirik sekilas ke arah jam dinding kamar Luhan. Pukul sembilan malam. Dia harus pulang. Kakaknya pasti mengkhawatirkan dirinya.

“Bukan kau, ‘kan yang mengganti seragamku?” tanya Taeyeon lagi.

“Wae? Kau takut?” Luhan balik tanya.

“Xi Luhan!” seru Taeyeon marah.

Lalu ia turun dari tempat tidur yang nyaman itu dan mendekati Luhan. Ia berhenti di depan laki-laki itu seraya menatapnya tajam.

“Gomawo karena sudah membuka pintu gudangnya. Kau memang menyelamatkanku. Tapi aku sama sekali tidak butuh rasa kasihanmu. Jadi, jangan pernah mengasihaniku seperti debu di ruanganmu ini,” ujar Taeyeon sengit. “Aku harus pulang. Di mana seragamku?”

“Tenang saja, Nona. Aku sudah mengirim pesan pada kakakmu kalau kau sedang menginap di rumah temanmu. Dan kakakmu bilang itu bukan masalah besar,” kata Luhan. Ia mengeluarkan ponsel Taeyeon dari dalam saku celananya dan menunjukkannya di hadapan Taeyeon. Senyum licik Luhan terpampang dengan jelas.

“Untuk apa kau melakukannya? Aku harus pulang malam ini. Aku tidak bisa tinggal di dekat laki-laki sepertimu,” sahut Taeyeon. “Nah, sekarang kembalikan ponselku. Kau tidak berhak mengambil barang-barangku tanpa seizinku, apalagi menggunakannya dengan sesuka hatimu. Kau benar-benar tidak punya tata krama, Xi Luhan,”

Luhan menghela nafasnya pendek. Tanpa berkata apa-apa, ia menyodorkan ponsel Taeyeon. Taeyeon hendak mengambilnya. Alih-alih menyerahkannya kepada si pemilik, Luhan malah menarik tubuh Taeyeon mendekat ke tubuhnya. Alhasil, Taeyeon jatuh terduduk di hadapan Luhan, tepatnya di atas pangkuan lelaki itu.

Kedua mata Taeyeon membesar dengan sempurna. Jantungnya mencelos dan perasaannya menjadi tidak enak. Ia jatuh ke dalam perangkap iblis Luhan, lagi. Tanpa menyia-nyiakan waktu sedetik saja, Taeyeon hendak bangkit dari posisinya dan menjauh sejauh-jauhnya dari Luhan. Namun, bukan Luhan namanya kalau dia tidak punya sifat kejam sedikit pun. Sebelum Taeyeon lari, Luhan sudah mendekap erat tubuh Taeyeon. Wangi vanilla yang menguar dari tubuh Taeyeon dan wangi cologne yang ada di pajama yang sedang dipakainya bercampur menjadi satu, menciptakan sensasi aneh di dalam diri Luhan. Ia merasa wangi yang ada dalam diri Taeyeon adalah wangi yang sensual.

“Apa-apaan kau?! Lepaskan aku!” jerit Taeyeon. Susah payah ia melepaskan dirinya dari cengkeraman laki-laki itu. Terlalu erat. Taeyeon bahkan bisa mencium wangi shampoo dari rambut cokelat Luhan. “YA!”

Deru nafas Taeyeon terdengar hebat di telinga Luhan. Ia bisa memastikan gadis ini tengah ketakutan setengah mati. Nafas Taeyeon berhembus menerpa leher Luhan. Ia juga dapat merasakan detak jantung Taeyeon yang berpacu sangat cepat. Jujur saja, Luhan sangat suka kondisi seperti ini. Ia bisa merasakan deru nafas Taeyeon dan detak jantungnya. Membuatnya susah untuk mengendalikan dirinya sendiri.

“Lepas!” jerit Taeyeon lagi, lebih keras. Sekuat tenaga ia mendorong tubuh Luhan. Taeyeon tidak mau membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia terlalu takut untuk sekedar membayangkannya.

“Kenapa kau memakai parfum vanilla? Kau tahu, ini wewangian kesukaanku,” bisik Luhan tepat di telinga Taeyeon.

Selanjutnya, ia menyusuri leher putih dan mulus milik Taeyeon dengan menggunakan bibirnya yang tipis. Bagaikan disengat listrik dengan ribuan volt, Taeyeon merasa tubuhnya menegang dan darahnya langsung mengalir turun dengan derasnya. Keringat dingin mulai menjalari tubuhnya begitu bibir Luhan menciumi lehernya. Lengannya masih erat memeluk tubuh mungil Taeyeon.

“Jebal, Luhan. Lepaskan!” erang Taeyeon. Ia menahan nafasnya saat Luhan sedikit menghisap dan menggigiti leher bagian kanannya. Taeyeon merasa geli, tapi ia berusaha semaksimal mungkin untuk tidak mengeluarkan desahannya. Ia memalingkan dan menjauhkan lehernya dari Luhan. Namun Luhan selalu bisa menangkapnya. “Apa maumu?! Euunggh…”

Taeyeon meronta-ronta tubuhnya, memberontak sekeras-kerasnya. Sebelum semuanya terlambat, sebelum Luhan mendapatkan apa yang diinginkannya, Taeyeon ingin melepaskan dirinya. Tapi sepertinya usahanya ini malah menimbulkan masalah yang lebih besar.

Taeyeon tidak sengaja menyenggol ‘sesuatu’ yang menonjol di bawah perut Luhan.

Luhan menghentikan aktifitasnya, tapi ia tidak merengganggkan dekapannya. Ia menatap Taeyeon dengan pandangan terkejut. Mereka saling pandang dalam jarak beberapa senti. Luhan tersenyum kecil.

“Kau membuat kesalahan besar, Ms. Kim,” ujar Luhan dengan suaranya yang halus.

“Berhenti, Xi Luhan! Neo michyeosseo!” seru Taeyeon dengan mata berkaca-kaca. Wajahnya memerah karena menahan amarah yang sudah bergejolak dalam dadanya.

Luhan kembali memeluk tubuh kecil Taeyeon erat-erat, bahkan tangannya sudah mulai mengelus-elus punggung belakang Taeyeon. Ia kembali menghirup dalam-dalam wangi tubuh Taeyeon di lehernya. Pajama Taeyeon yang kebesaran membuat peluang tangan Luhan lebih besar untuk mengelus-elus perut Taeyeon yang datar.

“Luhan-ssi, jebal. Hen…”

Belum selesai Taeyeon bicara, matanya tiba-tiba saja terbelalak. Ia sangat terkejut. Jantungnya semakin melompat-lompat di dalam rongganya begitu Luhan dengan sengaja menaikkan pinggulnya beberapa kali, membuat pergesekan antara paha Luhan dan mengenai daerah kewanitaan Taeyeon. Taeyeon tahu itu. Ia merasakannya untuk pertama kalinya.

“Ah, eunggh…”

Taeyeon menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, agar suaranya tidak keluar. Pertahanannya mulai hancur. Ia sudah lelah untuk melepaskan diri dari dekapan Luhan. Taeyeon hanya bisa menahan nafasnya saat Luhan kembali mengangkat pinggulnya, menggesekkan ‘junior’ miliknya ke arah Miss V Taeyeon. . Dekapannya semakin erat dan Luhan tidak berhenti menciumi leher Taeyeon.

Taeyeon memukul-mukul dada bidang Luhan sekuat-kuatnya, berharap ia melepaskan Taeyeon. Luhan tidak peduli, ia bahkan tidak merasakan pukulan Taeyeon dan isakan kecil dari bibir Taeyeon. Ia terus melakukannya sampai Taeyeon merasakan sesuatu bergejolak dalam tubuhnya, seperti akan keluar dari daerah kewanitaannya. Sesuatu yang untuk pertama kalinya dirasakannya. Ia tidak tahu apa itu.

“A… Aku… Euunggh,” erang Taeyeon.

“Sebut namaku, Kim Taeyeon. Kau tidak tahu? Kau akan orgasme,” bisik Luhan sambil mengeluarkan senyum evil-nya. Ia semakin kuat menghisap leher Taeyeon.

Taeyeon diam tidak menjawab. Ia memejamkan kedua matanya rapat-rapat. Ia tidak mau menuruti perkataan Luhan. Ia ingin semuanya berakhir, ia ingin seseorang masuk ke dalam kamar ini dan menyelamatkannya. Ia sudah berada dalam posisi yang sangat terjepit.

“Ahhh…,” desah Taeyeon begitu ia merasa suatu cairan keluar dari Miss V-nya. Taeyeon merasa terengah-engah. Ia merasa lelah.

Luhan berhenti menggesekkan ‘junior’-nya ke Miss V Taeyeon setelah ia juga mengalami orgasme. Lalu ia membaringkan tubuhnya serta tubuh Taeyeon di atas sofa. Luhan dapat melihat peluh di dahi gadis yang sekarang ada di bawahnya tersebut. Dapat Luhan rasakan tubuh Taeyeon sedikit gemetar.

PLAK!

Satu tamparan keras berhasil mengenai pipi kanan Luhan.

PLAK!

Dan satu tamparan lagi di pipi kirinya. Taeyeon menarik nafas dalam-dalam seraya mengeluarkan air matanya yang bercucuran deras. Ia menutup mulutnya agar tangisannya tidak mengeluarkan isakan.

“Apakah kau sudah puas, eoh?! Kau itu manusia yang tidak punya hati nurani! Wae?! Kenapa kau melakukannya padaku?! Kau brengsek! Apa kau fikir aku ini perempuan rendahan?! Jangan memperlakukanku sama dengan para perempuanmu itu! Kau bukan seorang manusia!” maki Taeyeon. tubuhnya terguncang karena tangisannya. “Sekarang minggirlah. Aku tidak mau melihatmu lagi. Cepat menjauhlah dariku! Tolong jangan ganggu aku lagi,”

Luhan mendekatkan wajahnya ke wajah Taeyeon. walaupun ditampar dua kali, tapi smirk-nya sama sekali tidak memudar. Matanya berkilat tajam menatap Taeyeon.

“Aku sudah menolongmu. Dan tidak ada yang gratis di dunia ini, Ms. Kim. Itulah sebagai bayarannya,” bisik Luhan di telinga Taeyeon. “Lagipula, bukankah aku pernah bilang padamu kalau aku juga akan mengotori dirimu? Ini belum apa-apa, Kim Taeyeon. Akan ada yang lebih suatu hari nanti,”

Luhan menatap dan meneliti raut wajah Taeyeon yang sempurna. Matanya menangkap bibir soft pink milik Taeyeon, dan sial! Kenapa begitu menangkap bibir ini ia selalu tidak bisa menahan dirinya untuk tidak merasakannya lagi? Kenapa ia bahkan belum bisa melupakan kenyamanan bibir Taeyeon?

Taeyeon hendak memukul Luhan kembali. Tapi Luhan langsung menahan kedua lengan Taeyeon dan ia langsung menciumi bibir Taeyeon. Taeyeon tersentak kaget. Belum pulih rasa sakit di lehernya yang habis dihisap Luhan, kini bibirnya kembali merasakan sakit akibat ulah bibir Luhan yang rakus. Ia menghisap, menarik-narik, dan menggigiti bibir Taeyeon sesuka hatinya seperti memakan permen.

Taeyeon mendorong kuat-kuat tubuh Luhan hingga ciuman mereka lepas. Dengan cepat Taeyeon bangkit dari sofa dan menjauh dari Luhan. Sambil mengelap bibirnya yang basah, Taeyeon menatap nanar ke arah Luhan.

“Wae?!” jeritnya.

Luhan ikut bangkit dari sofa dan ia berdiri di hadapan Taeyeon dengan ekspresi yang sangat sulit ditebak.

“Neo… Kenapa kau melakukan ini padaku? Kenapa kau sama sekali tidak punya hati?! Wae?” isak Taeyeon. Ia menatap Luhan dalam-dalam dengan mata basahnya. “Kumohon, ini untuk yang terakhir kalinya. Kumohon jangan ganggu aku lagi. Kumohon jangan perlihatkan wajahmu di depanku lagi!”

“Kau benar-benar berisik,” ujar Luhan.

“Wae?” tanya Taeyeon lagi, kali ini suaranya melemah. “Bukannya kau membenciku? Bukankah kau pernah bilang kalau kau tidak sudi berada di dekatku apalagi menyentuhku? Tapi kenapa kau melakukan ini? Bukankah kau sangat membenciku?!”

Pertanyaan Taeyeon membuat hati Luhan tertohok. Ia seperti habis ditampar oleh Taeyeon lagi. Tapi kali ini tamparannya sangat kuat. Sampai mengenai ulu hatinya. Benar. Bukankah dulu ia mati-matian menjaga dirinya agar tidak tersentuh sedikit pun dengan seorang Kim Taeyeon? tapi kenapa sekarang ia begitu ingin menyentuh gadis itu? Saking tidak bisa menahan gejolak itu, Luhan rela melakukannya di atas sofanya walaupun dengan pakaian lengkap.

Apa dia sudah tidak waras?

“Kau tidak perlu menolongku lagi. Seharusnya kau membiarkanku terkurung di dalam gudang karena aku lebih memilih itu daripada harus…,” Taeyeon menahan nafasnya. “disini bersamamu. Kau hanya bisa menyakiti orang lain, Xi Luhan. Kau tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya berkorban untuk seseorang yang kau cintai. Kau hanya bisa menyakiti perasaan orang lain!”

Luhan mengepalkan kedua telapak tangannya. Rahangnya mengeras. “Bisakah kau berhenti bicara? Aku bisa saja melakukan lebih dari yang tadi kalau kau tidak segera mengunci bibirmu. Tidak akan ada yang mendengarnya, bahkan kalau kau menjerit sekeras-kerasnya,”

Taeyeon diam tidak menjawab. Ia menghapus air matanya yang kembali mengalir. Lalu, Luhan bergerak maju mendekati lemari pakaiannya dan membukanya. Ia mengambil sebuah seragam sekolah siswi dan melemparnya ke tempat tidur.

“Cepat pakai kembali seragammu. Aku tunggu di luar dan aku akan mengantarmu pulang,” ujar Luhan dingin. Ia membuka pintu kamarnya dan langsung keluar.

Saat Luhan sudah keluar kamar, Taeyeon terduduk lemas di atas karpet kamar Luhan dan menangis dalam diam.

Begitu ia keluar dari kamarnya, Luhan langsung masuk ke dalam kamar mandi yang berada di kamar tamu dan membuka pakaiannya lalu menghempaskannya begitu saja. Ia memutar keran shower di dalam kamar mandinya kuat-kuat. Ia menundukkan wajahnya dan membiarkan air dari shower itu membasahi dirinya.

Sambil membasuh wajahnya kuat-kuat, Luhan melayangkan fikirannya kembali ke kejadian yang baru saja dialaminya. Ia bertanya-tanya sendiri pada dirinya. Kenapa sekarang ia begitu terobsesi untuk menyentuh seorang Kim Taeyeon? Kenapa ia merasa begitu berbeda saat menyentuhnya? Merasa begitu nyaman daripada dengan perempuan-perempuan lain.

Luhan langsung berusaha melenyapkan pemikirannya dan kembali fokus pada mandinya.

~~~

“Annyeonghaseyo, Ms. Kim. Apa anda sudah tidak apa-apa?” sapa salah seorang pelayan wanita begitu Taeyeon keluar dari kamar Luhan.

Taeyeon terkejut menatap pelayan wanita yang tersenyum sangat lebar itu. Lebih terkejut lagi ketika ia mengetahui nama depan Taeyeon.

“N… ne? Annyeonghaseyo, ahjumma,” sapa Taeyeon sambil tersenyum kikuk. “Aku sudah baik-baik saja, gamsahamnida,”

“Apa kau kekasih Tuan Xi, ahgassi?” tanyanya dengan nada menggoda Taeyeon.

“A… aniyo! Aniyo, ahjumma. Kami hanya sekedar teman yang juga tidak dekat,” bantah Taeyeon cepat.

“Jinjjayo? Lalu, kenapa saat Nona belum siuman, ia tampak gelisah dan sangat cemas? Apa ahgassi tahu, begitu dia pulang, ia langsung menggendong dan membawa Nona ke dalam kamarnya dengan wajah yang menyiratkan kekhawatiran mendalam. Ia juga menyuruh kami untuk membuatkan Nona bubur dan teh hangat, mengganti seragam Nona, dan memberi Nona obat penenang. Tuan Xi begitu ingin agar Nona tidak apa-apa. Dia bilang Nona pingsan. Aku belum pernah melihat Tuan Xi begitu khawatir pada orang lain. Itu sebabnya aku sempat berfikir bahwa kau adalah kekasihnya. Dia sangat perhatian,” jelas pelayan wanita itu panjang lebar.

“Itu… tidak mungkin,” ungkap Taeyeon pelan. “Dia bukan orang yang pedulian, ahjumma,”

“Ne, benar sekali, ahgassi,” sambung pelayan itu cepat. “Jika dia tidak peduli, dia tidak akan membawa ahgassi ke rumahnya. Apalagi ke dalam kamarnya. Tuan Xi tidak pernah membawa siapapun ke dalam rumahnya. Apakah itu artinya kau mempunyai tempat di hati Tuan Xi? Aigoo, bukankah itu sangat manis untuk tipe orang seperti Tuan Xi?”

“Aniyo, ahjumma. Dia hanya sekedar membantu, tanpa ketulusan tentu saja,” sambar Taeyeon.

Ekspresi pelayan wanita itu mendadak berubah. Ia menghela nafasnya pendek. “Tuan Xi memang sudah berubah sekarang. Padahal dulunya dia adalah anak kecil yang imut, penurut, dan penuh kasih sayang. Dia penuh kelembutan dan cinta. Semenjak orang tuanya mulai mementingkan perusahaan mereka, Tuan Xi jadi… ah! Aigoo! Apa-apaan aku ini? Jeoseonghamnida, ahgassi. Anggap saja aku tidak bilang apa-apa,”

“Ahjumma,” panggil Taeyeon saat pelayan wanita itu hendak pergi. “Ada apa dengan orang tuanya?”

Pelayan wanita itu diam sejenak. Ia menundukkan wajahnya dan beberapa detik kemudian ia menatap Taeyeon. “Aku percaya padamu, ahgassi karena kau orang pertama yang menginjakkan kaki di rumah ini. Tuan dan Nyonya Xi jarang sekali berada di rumah. Mereka terlalu sibuk mengurusi perusahaan Grup Xi dan yah, segala kekayaan mereka. Mereka melupakan anak semata wayang mereka. Tuan Muda juga sering ditekan dan dibuat frustrasi oleh kedua orang tuanya untuk menjunjung tinggi martabat mereka sebagai seorang millioner. Kepolosan Tuan Muda semenjak itu berubah seperti sekarang ini,”

Taeyeon tercengang. Ia diam seribu bahasa mendengar penuturan dari pelayan wanita yang ada di hadapannya ini. Benarkah? Apakah yang dikatakannya benar?

Dan keraguan dalam hati Taeyeon mendadak hilang begitu ia melihat pelayan wanita ini menitikkan air matanya.

“W… wae, ahjumma?” tanya Taeyeon pelan.

“Tidak pernah lagi kulihat senyuman manisnya di rumah ini. Ia selalu diam dan memendam semuanya ketika orang tuanya mulai menceramahinya segala macam. Aku melihat wajah Tuan Muda saja sudah sangat iba. Kenapa orang tuanya sama sekali tidak mengerti? Apa seperti ini orang-orang yang sudah dibutakan oleh dollar?

“Dia pernah memiliki seorang teman perempuan saat masih duduk di bangku Junior High School. Gadis kecil itu berasal dari keluarga biasa saja, bahkan keluarga yang tidak mampu. Mereka berdua sangat dekat. Tuan Muda sangat menyayanginya. Tapi karena orang tuanya meminta dan memaksanya untuk bergaul dengan orang yang lebih pantas, gadis kecil yang manis itu tidak pernah terlihat lagi. Aku tahu perasaan Tuan Muda pasti sangat terluka,”

Taeyeon ingin bertanya lebih lanjut mengenai gadis kecil itu. Namun, omongannya terhenti begitu ia melihat sosok Luhan mendekati mereka berdua.

“Eoh, Tuan Xi sudah selesai mandi?” sapa pelayan wanita itu.

Luhan menganggukkan kepalanya dan ia menatap Taeyeon. “Kajja,”

“Ah, ahgassi sudah mau pulang? Kenapa tidak makan malam saja dulu?” cegah pelayan wanita itu.

“Aniya, ahjumma…”

“Dia tidak bisa makan bubur, dia hanya bisa makan beling,” potong Luhan saat ia sudah setengah jalan menuruni anak tangga.

“Babo,” gumam Taeyeon kesal. “Ahjumma, mianhae. Aku harus segera pulang. Kuharap, aku bisa mencicipi masakanmu,”

“Ne, annyeonghigaseyo, ahgassi. Hati-hati di jalan,”

Taeyeon membungkukkan badannya dan ia mengikuti Luhan keluar rumah. Sebelum ia mencapai pintu, Taeyeon mengalihkan pandangannya ke arah kirinya, yaitu pada sebuah pajangan foto keluarga yang sangat besar, yang terpahat dengan cantiknya di dinding rumah mewah mereka. Taeyeon dapat melihat kedua orang tua Luhan yang berdiri di sebelah kanan kirinya. Saat itu Luhan masih kemungkinan masih berumur enam tahun. Dan wajahnya memang sangat imut.

“Kalau kau memang tidak bisa mengalihkan pandanganmu dari fotoku, kau bisa menginap semalaman disini,” sahut Luhan di depan pintu rumahnya. Ia menunggu Taeyeon sedari tadi.

Taeyeon mengalihkan pandangannya. Ia memandang Luhan dengan tatapan kesal. Lalu, dengan perlahan ia pun mengikuti si pemilik rumah keluar menuju mobilnya.

“Masuklah,” ucap Luhan. Ia membuka pintu depan mobil sebelah kanan, mempersilakan Taeyeon untuk masuk. “Kau ingin pulang, ‘kan? Kenapa lama sekali?”

“Kenapa kau begitu menyebalkan?!” seru Taeyeon marah. Ia menghentakkan kakinya dan masuk ke dalam mobil Luhan.

Luhan menutup pintu mobilnya dan ia ikut masuk ke dalam. Tanpa memakai seatbelt-nya, Luhan langsung menghidupkan mesinnya dan melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumahnya yang luas.

Selama dalam perjalanan, tidak ada yang angkat suara. Bahkan suara dari radio mobil pun tidak ada. Keduanya sama-sama diam, saling menyelami fikiran mereka masing-masing. Sesekali Luhan mengerling menatap gadis yang ada di sampingnya, yang selalu menatap ke luar jendela mobil. Entahlah, mendengar penuturan Taeyeon tadi, Luhan merasa tidak enak hati karena seenaknya memperlakukan Taeyeon.

“Kau tidak perlu menolongku lagi. Seharusnya kau membiarkanku terkurung di dalam gudang karena aku lebih memilih itu daripada harus… disini bersamamu. Kau hanya bisa menyakiti orang lain, Xi Luhan. Kau tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya berkorban untuk seseorang yang kau cintai. Kau hanya bisa menyakiti perasaan orang lain!”

Dan tangisan Taeyeon, masih terbayang dalam ingatan Luhan bagaimana sedihnya dan sakitnya perasaan Taeyeon saat ia berbuat kejam padanya. Air mata yang ia jatuhkan karena dirinya tentu sudah sangat banyak.

Tapi kenapa ia memedulikannya? Bukannya selama ini banyak perempuan yang ia buat menangis dan sama sekali tidak ia pedulikan? Tapi kenapa justru ia merasa tidak enak hati hanya karena membuat seorang Kim Taeyeon menangis?

Oh, ayolah, Xi Luhan. Kim Taeyeon? Kenapa ia harus peduli?

Luhan hanya menghembuskan nafasnya dengan panjang dan kasar. Ia juga sesekali menggeleng-gelengkan kepalanya.

Dan Taeyeon juga sesekali menatap laki-laki yang ada di sampingnya ini. Setengah relung hatinya sama sekali tidak percaya kalau dulunya Xi Luhan tidaklah seburuk saat ini. Penuh cinta dan kasih sayang? Tapi bukan itu saja yang menghinggapi fikiran Taeyeon. Kedua orang tuanya. Ia fikir, orang-orang kaya seperti Luhan sudah cukup bahagia dikelilingi banyak harta. Dan nyatanya? Luhan bahkan lebih terpuruk dari orang-orang kelas bawah.

Apa karena pengaruh kedua orang tuanya itu sebabnya laki-laki ini sangat kasar dan membenci orang kalangan bawah?

“Bagaimana kau bisa pulang kalau jalannya saja kau tidak memberitahuku?” tanya Luhan, memecah kesunyian.

“Lurus saja. Berhenti jika ada jalan kecil di sebelah kanan,” jawab Taeyeon pelan.

Luhan segera menekan dalam-dalam gas mobilnya dan beberapa menit kemudian ia berhenti di depan jalan kecil di sebelah kanannya. Luhan melihat jalanan itu. Gelap dan sepi.

“Di mana rumahmu?” tanya Luhan. “Apa jauh ke dalam?”

Taeyeon tidak menjawab. Ia lebih sibuk membuka seatbelt-nya dan hendak turun. Tapi Luhan segera menghentikannya. Ia menahan pergelangan tangan kiri Taeyeon.

“Ya!” tepis Taeyeon. Luhan tidak peduli. Ia tetap tidak melepasnya.

Jantung Taeyeon sudah berdebar karena ketakutan. Teringat kembali saat kejadian di dalam kamar Luhan. Mati-matian ia menghilangkan ingatan itu.

“Lupakan masalah tadi. Anggap tidak ada kejadian apa-apa di rumahku,” ujar Luhan pelan dengan mimik serius.

Taeyeon langsung menghempaskan tangan Luhan dari pergelangan tangannya. “Mwo? Melupakannya? Apa aku sepertimu? Kau memang mudah sekali melupakannya, seakan-akan tidak ada kejadian apa-apa. Kau sudah berulang kali melakukannya jadi itu tidak masalah untukmu! Tapi aku? Aku akan terus mengingatnya. Mengingat betapa brengseknya dirimu!”

Setelah mengatakan itu, Taeyeon membuka pintu mobil Luhan dan bergegas menuju jalanan rumahnya. Ia terlalu marah pada Luhan. Dan ia takut menangis lagi. Ia tidak mau terlihat lemah di mata lelaki itu.

“Ya, Kim Taeyeon!” seru Luhan. Ia juga keluar dari mobilnya, tapi ia tidak mengejar Taeyeon. “YA!”

Taeyeon tidak menoleh. Ia memutuskan untuk tidak mau lagi berhadapan dengan laki-laki gila itu. Walaupun pelayannya mengatakan ia dulunya seorang anak yang baik, Taeyeon tidak percaya. Tidak mau percaya.

“Mianhae!” seru Luhan.

Seketika itu juga langkah Taeyeon terhenti. Benar-benar berhenti. Apa? Luhan minta maaf? Apa ia tidak salah dengar? Atau itu hanya hembusan angin yang menipu telinganya?

“Mian,” ujar Luhan lagi, terdengar lebih pelan. Namun, Taeyeon masih dapat mendengarnya, membuat perasaannya sedikit melunak.

Taeyeon menundukkan wajahnya. Ia bingung harus berekspresi bagaimana. Ia juga bimbang, haruskah ia berbalik dan menatap laki-laki itu? Atau…? Kenapa dia harus bingung? Acuhkan saja seperti biasanya. Kenapa dia harus berfikir dua kali? Taeyeon merasa sudah tidak waras.

Sejurus kemudian, Taeyeon melanjutkan langkahnya menuju rumahnya. Ia berusaha untuk tidak memedulikan ucapan Luhan.

Melihat kepergian Taeyeon, Luhan hanya menghela nafas panjang. Ia tersenyum kecut. Buat apa dia minta maaf? Apa dia benar-benar sudah gila? Kenapa lidahnya dengan seenaknya saja mengucapkan hal itu? Dengan seorang Kim Taeyeon? Benar-benar!

Di dalam rumahnya, Taeyeon langsung mencampakkan tubuhnya ke atas kasurnya yang nyaman dan rapi. Matanya sudah hampir terpejam dengan sempurna begitu ponselnya berdering menandakan ada telepon masuk.

Taeyeon mengambil tasnya dan menatap layar ponselnya.

“Yeoboseo, eomma?” sapa Taeyeon.

“Eoh? Apa kau terbangun karena aku?” tanya Mrs. Kim di seberang telepon.

“Aniyo, gwaenchannayo,” jawab Taeyeon. “Ada apa menelepon tengah malam begini, eomma? Ah, aku lupa. Di sana sudah pagi,”

“Mianhae, Yeonnie-ah. Aku hanya ingin tanya satu hal padamu,”

“Mwoya?”

“Kau… Ketua Murid, ‘kan? Apa tidak apa-apa kalau ayah dan ibumu ini tidak hadir? Jeongmal mianhae, kami tidak bisa meninggalkan pekerjaan ini. Kami sangat ingin melihatmu sebenarnya, jujur saja,” ujar Mrs. Kim dengan nada menyesal.

“Gwaenchannayo, eomma. Kalian juga hanya akan buang-buang waktu. Sama sekali bukan masalah,” ujar Taeyeon sambil tersenyum simpul.

“Aku akan meminta Ji Woongie untuk mewakilimu, arra?”

“Okay, nae eomma,” jawab Taeyeon.

“Geurigu,” sambung Mrs. Kim. “Apakah partner-mu itu adalah seseorang bermarga Xi?”

“Ne, waeyo eomma?”

“Aniyo, keundae… Bisakah kau tidak terlalu dekat dengan partner-mu itu? Yah, bukan apa-apa tapi…”

“Eomma… mengenalnya?” tanya Taeyeon, memotong ucapan Mrs. Kim.

Taeyeon dapat mendengar helaan suara dari ibunya sendiri. Ia diam, menanti jawaban sang ibu. Ia sangat penasaran kenapa tiba-tiba ibunya melarang dirinya dekat-dekat dengan Luhan. Dan Taeyeon dapat mencium ada sesuatu yang tidak beres begitu ibunya menyebut ‘marga Xi’.

“Aku akan menceritakannya lain kali, jika aku sudah kembali ke Korea. Nah, Taeyeonnie sudah larut malam, tidurlah. Jaljayo, chagiya~”

“Eomma? Eomm… aisshh,”

Taeyeon langsung mematikan ponselnya begitu ibunya memutuskan sambungan telepon mereka. Kemudian, Taeyeon kembali membaringkan tubuhnya dan menerka-nerka apa yang akan ibunya sampaikan mengenai keluarga Xi. Apakah keluarga mereka saling kenal? Kenapa Taeyeon punya perasaan tidak enak?

“Ahh, molla!”

~~~

“Apa kau melihatnya? Dia minta maaf, ‘kan? Seorang Xi Luhan minta maaf pada seorang gadis. Ini adalah hal yang pertama kali terjadi dalam sejarah hidup seorang Xi Luhan. Apa dia pernah minta maaf pada kekasihku mengenai perlakuannya yang bejat? Memperlihatkan penyesalan saja tidak ada,”

“Ne, sepertinya gadis itu begitu istimewa untuknya,”

“Apa dia sudah benar-benat jatuh cinta, hyung?”

“Mungkin. Kita lihat saja bagaimana ke depannya. Kita juga harus cari tahu siapa gadis ini. Jika dia benar-benar cintanya Luhan, kita bisa manfaatkan gadis ini, ‘kan? Dia bisa membuat uri Luhan jatuh ke dalam black hole,”

Mereka serempak tertawa.

“Aku pasti bisa membuat Luhan melakukan apa yang aku mau. Aku mau dia bertekuk lutut minta maaf padaku, dan disitulah aku akan menghajarnya habis-habisan, sampai wajah sok innocent-nya itu hilang. Tak berbekas,”

Laki-laki tinggi dengan postur tubuh atletis itu tersenyum lebar penuh kebencian. Matanya berkilat-kilat tajam begitu ia melihat Kim Taeyeon memasuki rumahnya dan mobil Luhan yang perlahan mulai menjauh. Lalu, ia juga menghidupkan mesin mobilnya dan mulai menjauhi tempat itu, dengan arah yang berlawan dengan Luhan.

~~~

“Luhan-ah, kami akan datang ke acara pesta dansa itu. Kami akan menyempatkan waktu kami untuk hadir ke sana. Walaupun hanya beberapa menit tidak apa-apa, ‘kan? Soalnya tepat di tanggal itu, kami ada pertemuan di Thailand. Bagaimana?”

“Terserah kalian,” jawab Luhan acuh tak acuh saat ayahnya meneleponnya.

“Apa kau sudah mengantuk?” tanya Mr. Xi.

“Ne,”

“Arrayo. Eoh, aku hampir lupa. Bagaimana dengan partner-mu? Apa dia berasal dari golongan seperti kita juga? Ayahnya bekerja di perusahaan mana? Kalau dia sesuai dengan type kami, kami tidak perlu mencari kekasih untukmu, benarkan?”

“Aboji, sepertinya sinyal di rumah ini payah sekali. Aku tutup saja, ne? Lain kali saja kita bicara,”

Setelah itu Luhan langsung memutuskan sambungan teleponnya dengan ayahnya. Lalu, ia mencampakkan ponselnya ke lantai kamarnya dengan kuat. Ia tidak peduli kalau ponsel mahalnya harus hancur berkeping-keping. Ia tidak peduli sama sekali kalau ayahnya marah. Ia sudah cukup emosi saat mendengar penuturan Mr. Xi mengenai perjodohannya.

Luhan menarik selimutnya sampai menutupi seluruh tubuhnya dan mulai memejamkan kedua matanya, dengan fikiran terakhirnya adalah wajah dan senyuman dari seorang Kim Taeyeon.

~~~

“Omo, bagaimana bisa dia keluar dari gudang kemarin? Apa dia punya kunci cadangannya?”

“Apa kau benar-benar menguncinya kemarin?”

Bisik-bisik di antara beberapa orang perempuan yang Taeyeon temui di depan loker tidak ia hiraukan. Ia mendengarnya dengan sangat jelas. Tapi, untuk kali terakhir ini, ia berusaha untuk tabah. Jika mereka melakukannya lagi, Taeyeon tidak bisa tinggal diam.

“Ya!” panggil seseorang di antara mereka pada Taeyeon yang sedang sibuk mengunci lokernya.

Taeyeon menolehkan wajahnya menatap sekumpulan para perempuan itu. Ia tidak gentar menghadapinya. “Waeyo? Cepat masuk ke dalam kelas kalian. Luhan akan segera memeriksa ID card kalian di dalam kelas,”

“Hah! Kenapa cara bicaramu sombong sekali? Apa karena ada yang menolongmu keluar dari gudang itu?! Kau berwajah sok polos dan minta dikasihani agar orang lain mau menolongmu, ‘kan? Atau… apa jangan-jangan Suho oppa yang menolongmu?!”

“Omongan kalian tidak ada yang penting untuk kudengar,” ujar Taeyeon pelan dengan ketus.

Ia hendak berbalik badan, tapi perempuan yang bernama Yi Kyung itu menarik pergelangan tangan Taeyeon, membuat buku-buku yang ia genggam terjatuh.

“Jangan berkepala besar! Neo…”

“Geumanhaera!” seru seorang laki-laki yang Taeyeon hafal sekali suaranya.

Para perempuan itu langsung menoleh dan mereka terkesiap melihat siapa yang berseru tadi. Mereka semua langsung merapat dan menundukkan wajah mereka begitu laki-laki tadi, Suho, mendekati ke arah mereka semua. Ia menatap mereka dengan pandangan tajam. Taeyeon ragu apakah Suho akan marah.

“Gomawo,” ujar Suho pelan sambil tersenyum simpul. “Gomawo karena sudah menyukai dan menjagaku sampai sejauh ini. Aku sangat menghargai perasaan kalian semua. Aku senang kalian memperhatikanmu. Tapi, perasaan kalian ini benar-benar jadi beban terberat yang ada di hidupku. Jujur saja, perasaan dan perhatian kalian menjadi sesuatu yang membuatku terus-menerus bersedih. Seperti kalian, aku punya perasaan untuk seseorang, dan berniat menjaganya untuk selamanya. Tapi kalian melangkah terlalu jauh karena aku.

“Perasaan dan perhatian kalian membuat seseorang yang aku sayang menjauh. Kalian tahu siapa itu. Cinta kalian membuatku hancur, jujur saja. Lebih baik kalian tidak usah mencintaiku daripada aku harus terus-menerus sakit. Semakin kalian mencintaiku, aku semakin merasa sakit. Jebal, kali ini tolong jangan lukai perasaanku. Aku tidak pantas untuk kalian cintai. Karena hanya satu perempuan yang akan aku jaga selamanya,”

“Suho-ssi,” isak mereka serempak. Taeyeon dapat melihat air mata mengalir deras dari Yi Kyung dan teman-temannya yang lain.

Jujur saja, ia juga merasa sangat tersentuh. Ucapan Suho memang agak sedikit menyakitkan. Tapi ia berusaha untuk jujur dan membuat mereka berhenti menjadi ‘sasaeng fans’. Dapat ia lihat kedua mata Suho juga berkaca-kaca.

“Bisakah kalian berhenti menyakiti Taeyeon karena aku? Bisakah kalian berhenti menatapnya sebagai ‘orang kecil’? Bisakah kalian menganggapnya seorang teman sekaligus Ketua Murid, demi aku?” tanya Suho.

“Wae? Kau begitu menyukainya? Apa kau sudah melupakan Chorong? Karena kami?” tanya Hyeri, gadis yang berdiri di sebelah Yi Kyung.

“Kim Taeyeon adalah teman yang special untukku. Ia perempuan yang tegar dan kuat. kalian harus mencontohnya. Dan kami sama sekali tidak ada hubungan apa-apa,” jawab Suho sambil tersenyum menatap Taeyeon.

“Kau masih mencintai Chorong?”

Suho diam. Ia tersenyum menatap mereka semua dengan pandangan nanar. “Sampai sekarang aku masih menunggunya,”

“Mianhae,” isak Yi Kyung. “Mianhae untuk apa yang kami lakukan. Kami hanya ingin kau menjadi milikmu. Kami tidak tahu kalau kau begitu terluka karena kami,”

“Gwaenchannayo. Tidak perlu minta maaf pada kami. Kalau Chorong kembali, bicaralah secara langsung padanya,” ujar Suho pelan. “Dan, kumohon minta maaflah pada Taeyeon atas apa yang selama ini kalian lakukan padanya,”

Taeyeon menatap Suho dengan pandangan kaget. Ia menatap segerombolan perempuan itu dengan keragu-raguan. Mereka semua saling pandang dan menatap Taeyeon secara bersama-samaan.

“Taeyeon-ah, mianhae. Kami… mengaku salah besar padamu. Maafkan kami atas kejadian kemarin. Mohon maafkan kami!”

“Kejadian kemarin?” tanya Suho langsung.

Gadis-gadis itu kembali saling pandang dengan takut-takut. Mereka lebih memilih menundukkan pandangan mereka.

“Tidak ada apa-apa. Kejadian beberapa hari yang lalu yang di maksudkan mereka,” jawab Taeyeon cepat dan ia tersenyum untuk meyakinkan Suho.

Suho hanya menganggukkan kepalanya.

“Aku… memaafkan kalian. Kuharap, dengan ini hubungan kita baik-baik saja,” jawab Taeyeon kepada para siswi itu. Ia tersenyum sangat manis. Setidaknya, beban hatinya sedikit berkurang. Ia percaya, mereka benar-benar tulus minta maaf. Penuturan Suho adalah penuturan yang menggugah hati siapa saja yang mendengarnya.

“Gomawoyo. Kalau begitu, kami pergi ke kelas dulu,” pamit Hyeri dan mereka bersama-sama menuju ke kelas.

“Suho-ssi,” panggil Yi Kyung pelan.

“Ne?”

“Gomawoyo. Jinjja-jinjja gomawoyo,” ujar Yi Kyung pelan. Ia ikut menyusul teman-temannya.

Taeyeon tersenyum menatap Suho yang sedang membuka lokernya.

“Wae? Kau terlihat bahagia,” ujar Suho. Ia menatap dan tersenyum pada Taeyeon.

“Aniya. Aku hanya merasa senang kau bisa mengungkapkan perasaanmu,” jawab Taeyeon. “Geu yeoja… adalah Chorong?”

Suho terdiam sejenak. “Sebelum dia memutuskan untuk pergi, aku ini sebenarnya adalah laki-laki pengecut. Aku berjanji akan menjaganya. Tapi aku terlalu takut untuk menghadapi kenyataan. Aku tidak pernah ada sewaktu dia membutuhkanku, dan aku tidak bisa menghentikan kesedihannya. Mulai sekarang, aku akan berubah. Sebelum kau juga merasakannya. Dan saat dia kembali, aku akan minta maaf dan mengakui semuanya,”

“Apa… dia juga mengalami apa yang ku alami?” tanya Taeyeon lagi.

Suho mengangguk. Lalu, ia merogoh saku celananya dan menyodorkan sebuah foto kepada Taeyeon. Taeyeon mengambilnya dan melihatnya.

“Kau pasti menagalami kesusahan begitu melihat foto ini,” ujar Suho.

“Ah, aniyo. Ini adalah pekerjaan orang iseng. Aku tidak apa-apa. Kau sudah memulihkan keadaan. Setidaknya beberapa orang sudah terbuka pintu hatinya,” jawab Taeyeon sambil tertawa.

Suho juga ikut tertawa. Ia mengacak-acak poni Taeyeon dengan lembut.

Tanpa disadari kedua insan ini, seseorang sedari tadi memerhatikan mereka berdua. Meskipun tidak mendengar pembicaraannya, tapi laki-laki ini sudah cukup merasa panas melihat Suho membelai lembut ubun-ubun Taeyeon dengan sayang. Ia menghampiri lokernya dan dengan cepat mengambil beberapa buku mata perlajaran. Dan tanpa memandang ke arah Suho maupun Taeyeon, ia langsung melangkah menuju kelasnya.

Taeyeon menatap kepergian laki-laki itu, yang tak lain dan tak bukan adalah Luhan dengan pandangan heran. Kenapa sikapnya tetap tidak berubah? Bukannya ia yang kemarin mengatakan bahwa mereka harus biasa saja? Dan bukankah kemarin juga ia sudah minta maaf? Apa semua itu hanya omong kosong belaka?

“Apa kalian bertengkar lagi setelah seharian bersama kemarin?” tanya Suho saat melihat tingkah Luhan, yang bahkan tidak menyapanya.

“Mollaseo, mungkin sedang kedatangan tamu,” jawab Taeyeon asal.

“Mwo?” tanya Suho agak kaget dan ia tertawa.

Setelah itu, mereka berdua jalan beriringan menuju kelas masing-masing. Sesampainya di kelas, Taeyeon dapat melihat kelima teman-temannya sedang berkumpul di satu meja sedang membicarakan sesuatu dengan serius.

“Annyeong!” sapa Taeyeon dengan wajah ceria.

“Omo, omo, omo,” sahut mereka serempak.

“Ya, Kim Taeyeon! Kau tidak apa-apa?! Apa kau baik-baik saja, eoh?! Tidak ada yang terjadi padamu, ‘kan?” seru Tiffany dan Sunny sambil meneliti keseluruhan tubuh Taeyeon.

“Ya! Aku sama sekali tidak apa-apa. Kenapa kalian bertingkah seolah-olah aku akan mati?” tanya Taeyeon kesal.

“Kau benar-benar tidak apa-apa, ‘kan? Apa kau sudah melihat fotomu dengan Suho?” tanya Heechul.

“Aku memang sangat baik-baik saja, oppa. Tidak lihat wajahku sangat ceria? Dan foto itu sama sekali tidak memengaruhiku apa-apa,” jawab Taeyeon. Ia meletakkan tasnya di atas mejanya dan ia duduk di bangkunya.

“Tentu saja ia tidak apa-apa. Seharian penuh ia kencan dengan Xi Luhan kemarin, ‘kan? Apa kencanmu mengasyikkan?” goda Sunny sambil mencolek bahu Taeyeon.

“Ya, kenapa kau jadi bicara ke arah sana? Aku tidak kencan dengannya? Siapa yang bisa bertahan dengan makhluk seperti dia?”

“Aigoo, kenapa reaksimu seperti itu? Kenapa terlihat semakin mencurigakan?” tanya Tiffany, sedikit menggoda Taeyeon.

“Terserah kalian! Apa-apaan kalian ini? Kenapa jadi membicarakan dia?” tanya Taeyeon kesal.

“Benar juga. Kau akan berdansa dengannya sepanjang pesta itu, ‘kan Taeyeon-ah? Jangan terlalu membencinya, kau bisa jatuh cinta padanya. Sepertinya sebentar lagi dia juga akan jatuh cinta denganmu. Berdansa dengan lagu yang romantis, ditatap ratusan pasangan, itu akan sangat-sangat romantis,” ujar Chanyeol sambil tersenyum dan memejamkan matanya.

“Aish, dia akan berbuat seenaknya lagi,” ujar Taeyeon tanpa berfikir panjang.

“Mwo? Berbuat seenaknya? Apa maksudmu?” tanya Jessica penasaran.

“Ah, aniya,” jawab Taeyeon cepat dan agak sedikit grogi. Mendadak wajahnya bersemu merah, membuat Jessica memandangnya curiga. “Bagaimana dengan kalian? Apa kalian sudah punya partner untuk pesta nanti?”

“Tentu saja Sica sudah,” jawab Chanyeol langsung. Keempat temannya langsung menatap Jessica dengan tatapan menggoda.

“Mwo? Nugu? Kenapa tidak ada yang bilang padaku?” tanya Taeyeon.

“Aku baru diajak kemarin,” jawab Jessica pelan. “Kau akan tahu siapa orangnya nanti,”

“Kalian sangat menyebalkan,” ujar Taeyeon pelan. “Dan kau Sunny-ah? Fany-ah? Yeollie-ah? Oppa?”

“Tidak terasa pesta dansanya akan diadakan seminggu lagi. Yah, kita harus bersenang-senang, bukan? Maksudku, ini acaranya Kim Taeyeon, sebagai Ketua Murid! Yeay!” seru Tiffany senang. Ia tersenyum lebar sembari melangkah menuju bangkunya.

“Dia tidak akan memberitahu siapa partner-nya sebelum kita lihat sendiri,” ujar Sunny, dan ia juga ikut melangkah menuju bangkunya.

“Mereka main rahasia-rahasiaan,” ujar Chanyeol pelan.

“Dan bagaimana denganmu? Kau juga?” tanya Taeyeon dengan wajah masam.

Chanyeol dan Heechul hanya tersenyum lebar.

~~~

“Pesta Dansa untuk Menyambut Ketua Murid Baru sebentar lagi akan di mulai. Tepatnya sekitar seminggu lagi. Dan acara besar itu akan diadakan di sini, di Aula Whimoon High School kita yang kita banggakan sebagai Aula terbesar di seluruh sekolah di Seoul. Untuk itu, selama satu minggu ini, pembelajaran akan dilakukan sampai siang hari, dan selebihnya, kita akan fokus pada acara pesta dansa ini,” ungkap Mr. Kim pada seluruh murid Whimoon Senior High School.

Sontak, mereka semua yang ada di situ bersorak gembira mendengar pengumuman itu. Mereka langsung berbisik-bisik dengan semangat mengenai pesta dansa ini. Mengenai gaun, perhiasan, dan hal-hal apa saja yang akan mereka pakai nantinya.

“Dan, yeah, para laki-laki juga harus mempersiapkan dirinya untuk mengajak siswi yang mereka sukai ke acara yang bergengsi ini,” lanjut Mr. Kim seraya mengakhiri pengumumannya.

Setelah mendengar pengumuman dari Kepala Sekolah, para siswa dan siswi langsung berhamburan keluar dengan wajah berbinar-binar. Mereka bahagia, tentu saja bisa bebas dari yang namanya ‘belajar’.

“Kim Taeyeon,” panggil Mrs. Oh.

“Ne?” jawab Taeyeon. Ia menghampiri Mrs. Oh.

“Kau bisa berdansa, ‘kan?” tanya Mrs. Oh dengan tatapan tajamnya.

“Eoh, itu… er…,” jawab Taeyeon dengan sedikit terbata-bata. Tentu saja ia tidak bisa. Tidak akan pernah bisa.

“Aku tahu apa yang akan kau jawab,” potong Mrs. Oh cepat. “Setiap pulang sekolah, mulai hari ini, kau harus ke kantorku. Aku akan mengajarimu bagaimana caranya berdansa. Tentu saja kita akan belajar dengan berbagai macam lagu. Aku tidak ingin kau mencoreng nama sekolah hanya karena kau berdansa seperti robot. Apalagi partner-mu adalah Xi Luhan. Kau akan dilihat orang tuanya. Orang tuanya adalah orang yang sangat dipandang. Jasanya sangat besar dalam pembentukan sekolah ini. Itu sebabnya, jangan melakukan kesalahan apapun, arra?”

“Arraseo,” jawab Taeyeon pelan. Rasanya telinganya mendadak panas mendengar penuturan Mrs. Oh yang panjang lebar.

Taeyeon mengerling ke arah sudut Aula sebelah kiri, di mana seorang Xi Luhan tengah berbincang dengan Mr. Kim. Mr. Kim tampaknya sedang memberikan petuah juga untuk Luhan. Kelihatan sekali dari wajah Luhan yang malas mendengarnya.

Dan begitu Mrs. Oh pergi, Suho datang menghampiri Taeyeon dengan senyuman manisnya yang merekah. Taeyeon juga membalas senyuman manis Suho. Dapat dilihatnya dari ekor matanya kalau Luhan sedang menatap mereka berdua.

“Kau akan bekerja keras untuk seminggu ini sepertinya,” ujar Suho.

“Eoh, aku akan belajar menjadi Cinderella. Jangan kaget kalau upik abu akan berubah pada malam pesta dansa nanti,” jawab Taeyeon sambil bercanda.

Suho tertawa. “Aku sangat penasaran sekali bagaimana seorang upik abu yang perkasa akan berubah wujud menjadi seorang Cinderella yang anggun dan lemah-lembut,”

“Sebaiknya kau tidak lihat,” ujar Taeyeon sembari tertawa.

Suho tersenyum dan ia merogoh saku blazer-nya. Ia mengeluarkan sebuah botol bulat yang kecil berwarna cokelat tua dan menyerahkannya pada Taeyeon. Taeyeon menerimanya dengan ragu. Ia menatap Suho dengan pandangan bertanya-tanya.

“Ige mwonde?” tanya Taeyeon sambil memerhatikan botol mungil itu.

“Kakimu akan terasa sangat sakit nantinya karena kebanyakan berlatih. Untuk itu, agar kakimu tetap baik-baik saja sampai pesta nanti, aku berikan obat itu. Obatnya pure, jadi kau tenang saja. Obat ini juga akan membantumu tidur nyenyak tiap malam. Kau tidak akan merasa kesakitan. Karena berlatih dansa untuk pertama kalinya akan sangat berat bagi otot-otot kakimu. Obat ini akan meringankannya,” jelas Suho.

“Woah, gamsahamnida, Suho-ah. Aahh, aku sangat terharu sekali kau memberikan ini. Kau benar-benar sangat pengertian,” puji Taeyeon. Ia tersenyum lembut pada Suho seraya hendak menyimpan botol kecil itu ke dalam saku blazer-nya.

“Chakkaman,” ujar Suho. Ia meraih botol itu lagi dan membukanya. “Bisa aku lepas sepatu dan kaos kakimu?”

“Kau mau memakaikannya sekarang? Tidak perlu. Nanti saja. Aku bisa memakainya sendiri,” tolak Taeyeon cepat.

“Kau tidak akan tahu di mana obat ini harus diolesi,” sahut Suho. Ia membungkuk di depan Taeyeon dan mulai membuka kedua sepatu Taeyeon.

“Ah, biar aku saja,” ujar Taeyeon. Ia cepat-cepat membuka sepatu dan kaos kakinya. “Ah, jinjja. Kenapa kau begitu pemaksa?”

Suho hanya tersenyum. Ia mulai mengolesi mata dan telapak kaki Taeyeon menggunakan obat itu secara telaten dan lembut. Dapat Taeyeon rasakan jari telunjuk Suho yang lembut menyusuri kulit kakinya, membuat kakinya terasa lebih refleks.

“Aku mendapatkan obat ini dari kakak iparku. Ia sangat suka sekali memakainya ketika kakinya terasa pegal dan nyeri. Melihatmu yang tidak pandai berdansa, aku yakin kau akan mengalami sedikit kesulitan. Jadi, aku meminjam ini dari noona,” jelas Suho. Ia sudah selesai mengolesi obat itu ke kaki Taeyeon dan menyerahkan obat itu padanya.

Taeyeon tersenyum. Ia memakai kaos kaki dan sepatunya kembali. “Jeongmal gomawoyo, Suho-ah. Sepertinya kerja obat ini terbilang sangat cepat, ya? Kurasa kakiku benar-benar tidak akan apa-apa,”

“Lihat, ‘kan? Kalau begitu, tetap semangat buat latihanm, Kim Taeyeon, Nona Upik Abu! Aja-aja Fighting!” seru Suho sambil mengacungkan kepalan tangannya ke atas.

Taeyeon tersenyum lebar. “Ne~ Aku akan latihan keras, Tuan Berkepala Besar. Aja-aja Fighting!”

“Cih, apa-apaan itu?” gumam seseorang yang berada di sudut kiri Aula, dan ia langsung melengos pergi menghampiri kedua insan yang dari tadi sedang diperhatikannya.

Begitu Luhan mendekat, Taeyeon dan Suho langsung menolehkan wajah mereka menatap Luhan, yang langsung menghujani Taeyeon dengan tatapan tajamnya.

“Apa sudah selesai? Kau dipanggil Mr. Kim untuk datang ke kantornya,” ujar Luhan dengan nada dinginnya.

Setelah mengatakan itu, ia langsung pergi keluar Aula, tanpa berkata apa-apa lagi.

“Jinjja,” gumam Taeyeon pelan sambil menatap Luhan dengan tatapan kesalnya. Sedangkan Suho hanya menatap kepergian Luhan dengan ekspresi yang sulit untuk dikatakan.

~~~

“Aahhh, Mrs. Oh jinjja-jinjja,” rutuk Taeyeon sambil meluruskan kedua kakinya ke depan. Ia duduk bersandar di dinding kantor Mrs. Oh.

Saat itu pukul sembilan malam. Ia habis latihan dansa berdua dengan Mrs. Oh. Latihan dansa yang cukup rumit ditambah lagi dengan petuah-petuah dari mulut pedas Mrs. Oh yang tidak kunjung berhenti. Yah, ia hanya akan mengalami siksaan ini selama seminggu. Ia cukup bersabar saja. Lagipula, berkat obat yang Suho berikan tadi, kakinya juga sama sekali tidak pegal dan nyeri. Ia benar-benar harus berterima kasih pada Suho.

Sembari menunggu Ji Woong yang berjanji akan menjemputnya di sekolah, Taeyeon boleh duduk dan istirahat sejenak di kantor Mrs. Oh, yang sedang berada di Aula. Karena sudah bosan hanya duduk saja, Taeyeon bangkit dan melangkah menuju rak buku milik Mrs. Oh. Ia memilah-milih buku itu dan matanya langsung menangkap sebuah buku pelajaran yang namanya bertuliskan “Xi Luhan”.

Buku itu adalah buku pelajaran saat dia masih duduk di bangku Whimoon Junior High School.

Taeyeon mengambil buku itu dan ingin tahu seperti apa dalamnya. Ia ingin tahu apa yang ditulis seorang Xi Luhan di dalam bukunya.

Begitu ia membolak-balikkan halaman bukunya, sebuah foto ukuran kecil terjatuh dari dalam buku itu ke hadapan kaki Taeyeon. Taeyeon menyadarinya dan ia membungkuk untuk mengambilnya.

Ternyata foto seorang gadis yang sedang tersenyum lebar sembari memegang tiga tangkai bunga mawar putih. Seragam yang ia kenakan adalah seragam Whimoon Junior High School. Gadis itu sangat manis dengan senyumannya yang indah.

Taeyeon meneliti foto itu dan ia membalikkannya. Terdapat tulisan “♥Park Chorong^^” dibaliknya.

“Park Cho… Rong? Chorong?” gumam Taeyeon dalam hati. Ia diam sejenak sembari memerhatikan kembali wajah gadis itu. “Apa Chorong ini yang dimaksud Suho? Tapi kenapa ada di dalam buku Luhan? Sepertinya ia adalah orang yang special untuk Luhan,”

Lalu, Taeyeon teringat dengan perkataan pelayan wanita Luhan. “Dia pernah memiliki seorang teman perempuan saat masih duduk di bangku Junior High School. Gadis kecil itu berasal dari keluarga biasa saja, bahkan keluarga yang tidak mampu. Mereka berdua sangat dekat. Tuan Muda sangat menyayanginya. Tapi karena orang tuanya meminta dan memaksanya untuk bergaul dengan orang yang lebih pantas, gadis kecil yang manis itu tidak pernah terlihat lagi. Aku tahu perasaan Tuan Muda pasti sangat terluka,”.

Taeyeon merenung sejenak. Akhirnya ia mengambil foto itu dan memasukkannya ke dalam saku blazer-nya. Ia ingin tahu apakah Chorong ini teman kecil Suho atau bukan, dan kenapa juga bisa menjadi seseorang yang Luhan sayangi? Bukankah Luhan dan Suho bersahabat?

-To Be Continued-

Finally, finallyy~ author tepati janji untuk update soon, keutchi? Hihihihihihihi*evillaugh

Mianhae untuk ma readers karena feel-nya kurang kekeke~

Chap ini sengaja dibuat agak sedikit panjang dari biasanya karena ini special(?) hahha yaudah deehh enjoy reading aja yeee^^

Gomaptaaa^^

-Preview Chap 7-

“Kenapa wajahmu kusut sekali? Tersenyumlah, tidak pantas gadis secantik dirimu murung seperti itu,”

Irene meneteskan air matanya mendengar kalimat itu. “Oppa, benarkah itu kau?”

 

“Orang yang bernama Xi Luhan itu adalah orang yang berbahaya, Taengoo-ah,”

 

“Apa kau… anaknya Kim Jae Won?”

 

Sepasang mata rusa itu menatap dalam-dalam manik mata Taeyeon. Senyumnya mereka. “Hati-hati, Ms. Kim. Berpeganglah, atau kau bisa jatuh terlalu dalam padaku,”

 

“Dari ujung kepala sampai ujung kakinya, tidak ada yang boleh menyentuhnya kecuali aku. Jangan ada yang berani macam-macam dengan Princess-ku”

-Preview Chap 7 End-

Advertisements

194 comments on “My Princess, Kim Taeyeon (Chapter 6)

  1. WAAAAA gak nyangka luhan sampai seperti itu pada taeyeonnnn. dan sptnya dia udah mulai suka nih ya sama taeyeon??? xixixi feelnya udah dapet bangetttt omaygatttt ga sabar baca chap selanjutnyaa. gimana nanti mereka berdansa yaaa huaaa pasti kaya prince dan princess di negeri dongeng.. fightaeng thorrr

  2. 오모 오모 오모
    FF nya daebak sagon dahhhh suka banget sama jalanceritanya yg makin kesini makin dikupas/? penyebab Luge berubah dan identitas chorong akan terkuak. dan wahh wahhh wahhhh siapa yg mau manfaatin Taeng eonni buat menghancurkan Luge? aisshhh…. menyebalkan. puas sama chap ini panjangggggggg bangetttttt gatau udah TBC aja: ( duhhhh chap 7 dipanjangin juga yahhh kalo bisa banyakin LuTae Moment ㅋㅋㅋㅋㅋ ….. 파이팅 !!!!!!!

  3. Ahh, ff ini benar” keren eonnie, luhannya di sini kelihatan sekali nakalnya, sepertinya luhan udah mulai jatuh cinta dengan taeyeon. Dan kenapa preview chapter 7 nya makin bikin penasaran? 😦 ahh eonnie, ini harus cepat” di post, ditunggu next chapternya ne.. Fighting!

  4. huwa,, kapan luhan jatuh cinta ama taeyeon?? bosan ngeliat luhan ngerjain taeyeon melulu,..
    ntar chorong muncul kn thor?? kasian suho keliatan bersalah banget ama chorong, yah waalaupun gak terlalu suka ama chorong sih,,,
    gomawo author dah ngijinin ngebaca nya, oh ya preview chap 7 ny bikin penasarn nih, update soon ya thor next chapter
    fighting…

  5. 4 jempol deh buat ff ini 😀
    it yg pgn balas dendam sama luhan oppa siapa yah ???
    Minho kah ???
    Aigoo taeng eonni nanti gimana tuh ???
    Preview.y bkn pnasaran thor
    cpt diupdate ne
    fighting

  6. Whoaaaaaaaaa… omgomg! Ini ff sumpahhhh kerenn abizzz😚😚😚
    Cieee luhan mulai tumbuh bibit2 cinta kpd taeyeon!! Makin asikk nih ceritanyaaa….moment lutae jga lumayan bnyakk,, bkin gregettttt💕💞💕💞💕💞
    Cpett update ya thorrr!! Love yaaaa😘😘
    KEEP WRITING!!!💕💕

  7. annyeong author eonnie^^ apakah ini late comment? yayaya aku tau hehehe. duh baris pertama udh hot bgt thor moment LuTaenya-___-kekeke lu-ge sangat pervert wks:D penasaran sama yang jadi pasangan jessica nanti, hah..pokoknya author sukses bkin penasaran!!!! untuk kelanjutannya ditunggu author!! FIGHTING!!

  8. Apakah chorong akan muncul ??? Semoga tdk mmbuat hati taeyeon terluka 🙂 dan apakah ada konflik’ juga 😀 next thooor..udh kgk sabar nunggu chap selanjut’a FIGHTING

  9. Wah wah Luhan oppa ~.~
    Keknya udh timbul rasa suka tuh/?
    Kira² siapa ya yg jadi pasangan Sunny,Jessica,Tiffany,Heechul,dan Chanyeol?
    Semoga fansnya Suho oppa bener2 tulus minta maafnya
    Ditunggu thor chap selanjutnya

  10. Aku sih sebenernya dulu gc terlalu suka sama couple lutae, ini ff yang buat aku cinta banget pakek bingo sama couple lutae#lebay
    Soalnya feelnya luhan sama taeyeon dapet banget , bener2 author yang daebak
    Wahhhh…….aku suka banget….
    KEEP WRITING THOR
    aja-aja faithing

  11. Late comment x_x Ciee luhan cemburu liat taeng dket sama suho =D Moment lutae nya bner” bkin greget. Itu yg mau balas dendam sama luhan siapa ?
    Perkataan suho bkin terharu :’)

  12. Baru baca part 6 ini lega banget rasanya..
    Sumpah jengkel abiz deh, si Luhan ini bener2 kurang ajar banget.. -_-

    Ada bagian kalimat ini yg mnrut ku lucu deh : “Dia tidak bisa makan bubur, dia hanya bisa
    makan beling,” potong Luhan saat ia sudah
    setengah jalan menuruni anak tangga.
    #hahaha..apa taeyeon dianggap orang kesurupan makan kyak gtu…ckckckc..

    Serta aku kaget banget pas Luhan bilang “Mianhae” ini bener2 kemajuan, smoga Luhan berubah dan jatuh cinta sm taeyeon duluan…. 😀

    Fighting untuk next chapter selanjutnya 🙂

    b^^d

  13. Mian unnie baru bisa comment sekarang.. Hehehe..
    Omg luhan-taeyeon momentnya keren bgt .. Suho-taeyeon nya juga keren aku suka kedua couple ini hhehe… Itu yang mau balas dendam pasti jongin kan.. Di chap yang lalu soalnya luhan udah gangguin krystal ceweknya jongin .. Tapi please jangan sakiti unnie aku ya .. Kasian taeyeon nya masa iya hidupnya menderita mulu …

  14. ommo apa yg luhan lakukan pd taeyeon??? utng mrka msh pkai pakaian yg lngkap yaaa thor. cba ndak,tmbh deg degkan saya bcaaa thor… apa lgi mmbaca pas bgian privasinyaaaaa 😀
    ndak ngbayangi wajah luhan saat melakukan itu sama taeyeon thor…
    sbnrnya saya kasihan pd taeyeon thor. knpa luhan bgtu jahat ma taeyeon? apa salah taeyeon pd luhan shngga luhan tega mmelakukan itu pd taeyeon… apa nnti luhan akan jatuh cinta pd taeyeon thor? saya harap iyaaaaa thor. krna mrka cocok bgt. apalgi sama2 babyfaces:D
    d tnggu kelanjutanya ya thor. always fighting thor.. (y)

  15. wooww. luhan kayanya udaah suka sma taeng? lutae fighting! baekyeon fighting(?) # thankyou kerana bagi pw nya ^^

  16. gomawo karna udah diijinin chapter ini thor
    hampir semua chapter udah dibaca tinggal chapter 6 aja yang belum dan akhirnya sekarang udah selesai
    apakah uri luhan mulai cemburu ? suka kalau lihat luhan cemburu entah knp ada rasa manis”nya gitu
    oke ditunggu chapter selanjutnya thor

  17. Aigoo. . Mereka melakukan ‘itu’
    meskipun nggak secara langsung

    suho baik benget
    si luhan keknya udah jatuh ke taeyeon

    ige mwoya?? Chorong nuguya??

  18. Wahhh daebak bgt lutae momentnya…
    Suka banget.
    Luhan mulai ngerasa kalo dia suka taeng ya??
    Yippi…
    Keep writing thor ^^,

  19. Astaga… sumpah ini bagus banget!
    Agak gak enak nih perasaan gara2 kedua ortu luhan taeyeon musuhan.
    Greget pingin tau gimana akhir cerita mereka..
    Fighting thor! Bagus banget!

  20. Yahh sedikit kecewa sih, karna suho disini jadi pemeran yang biasa aja menurutku, padahal diliat ini menceritakan tentang taeyeon dan suho, tapi banyaknya malah lutae

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s