[FREELANCE] Untold (Oneshot)

1421507553303

Title       : Untold
Author  : Song Eunsuk a.k.a Fahira Salsabila
Cast       : Kim Taeyeon, Byun Baekhyun
Genre   : Angst
Length  : Oneshot
Rate       : T

A/N        : I’m back with another BaekYeon story! Maaf kalau angstnya kurang kuat :/ angst memang sulit! However, enjoy the story!

_­­_________________________________________________________________________________

Tidak ada yang spesial memang dari tempat ini. Sebuah cafe sederhana yang letaknya tepat di tengah taman besar, di sebelah sebuah danau. Tapi terasa sangat sejuk dan damai. Tidak heran cafe ini cukup ramai oleh pengunjung. Orang-orang memang sangat menikmati suasanacafe ini. Begitupula dengan laki-laki itu, Baekhyun dan seorang temannya.

“Bagaimana kabarmu?”

Kalimat pengawalan yang umum, tapi Baekhyun senang sekali mendengarnya. Baekhyun sekarang sudah berumur 20 tahun, dan temannya itu mungkin sekitar 22? Entahlah. Walau begitu, Baekhyun benar-benar gembira saat mendengar teman lamanya ini ingin bertemu setelah tiga tahun berpisah.

Tapi dia bukan sekedar ‘teman’ untuk Baekhyun. Tepat di hadapan Baekhyun, duduk seorang perempuan dengan pakaian sederhana dan dengan postur yang sederhana pula. Perempuan dengan segala kecantikan, keindahan—kesempurnaan. Perempuan pemilik setengah memori hidup Baekhyun. Perempuan yang juga pemegang setengah hati Baekhyun selama enam tahun penuh. Perempuan yang selalu hadir dalam mimpinya; baik nyata atau dalam ketidaksadaran. Perempuan yang baginya bagai gaib, tak ada, namun terindukan.

Dan nyatanya perempuan itu ada kini di hadapannya, secara nyata.

Baekhyun sangat ingin menyentuhnya, membelai pemilik kulit mulus itu. Ia merindukan sentuhan lama mereka—walau dalam batas tak sengaja atau wajar, sebagai teman. Ia sangat ingin memeluk perempuan itu, membenamkan wajahnya di balik pundak yang didambakannya itu dan berbisik: “Aku merindukanmu.”

Tapi dengan segala mental dan pesimistik ini Baekhyun selalu kalah. Seakan tak punya tenaga untuk melawan semua omong kosong yang seharusnya memang tak boleh ada di diri tiap laki-laki. Selalu terinjak, selalu tertindih.

Maka hanya kalimat ini yang keluar: “Aku…” merindukanmu. “baik. Bagaimana denganmu?”

Ini pertemuan pertama sehabis kehilangan dan ketidakpastian. Siapa yang tidak canggung dalam situasi seperti ini? Tak akan ada orang yang tidak canggung untuk situasi seperti ini. Begitupula dengan perempuan itu.

Tapi tidak untuk Baekhyun. Bukan kecanggungan yang menjadi pembatas tak terlihat itu. Sekali lagi, mental dan pesimistik.

“Aku juga baik-baik saja…” perempuan itu tersenyum.

Perempuan itu—Kim Taeyeon, masih menunduk dengan tubuh tegaknya. Melalui gesturnya, Baekhyun bisa melihat bahwa perempuan ini memang gugup—atau mungkin canggung. Entahlah. Yang jelas bukan bentuk ekspresi kegembiraan. Padahal Baekhyun tidak suka ini.

Yang ia ingat dari sosok Kim Taeyeon adalah tawa dan senyum. Candaan dan gurauan. Ide dan ide, musik dan seni. Bukan seperti ini.

Tapi Baekhyun tidak menyesal. Menjadi apapun perempuan ini setelah tiga tahun lamanya, perasaannya tak akan berubah. Buktinya barusan telinganya terasa bergetar saat perempuan itu bicara walau hanyabeberapa kata.

 

“Aku baik-baik saja, Baekhyun-ah.”

Baekhyun menggeleng pelan. “Jelas-jelas wajahmu pucat. Kau tidak sadar ya?”

Tapi Taeyeon hanya terdiam menatap mata Baekhyun.

Baekhyun mendesah, lalu menempelkan punggung tangannya di kening Taeyeon. “Sudah kuduga. Kau sakit, noona.”

Taeyeon hanya balas mendesah. Ia tahu sejak pagi tadi badannya memang terasa aneh. Tapi ia menyangkalnya. Ia paling tidak suka mencemaskan orang lain, terutama orangtuanya. Maka ia bersekolah seperti biasa, belajar, dan pulang bersama Baekhyun untuk mengerjakan tugas klubseni mereka. Tadinya ia pikir Baekhyun tidak akan menyadarinya. Tapi rasanya lelah juga berpura-pura terus. Lalu tanpa sadar topeng Taeyeon menghilang.

Baekhyun kini bisa melihat jelas raut wajah Taeyeon yang muram, seakan baru saja ia melepas topengnya. Baekhyun tidak suka ini. Ia tidak suka melihat seorang Kim Taeyeon yang baginya adalah perempuan tercerah di seluruh dunia berubah menjadi seperti ini.

“Hhh.. apa yang harus kulakukan?”

Mendengar pertanyaan itu, alis Taeyeon mengerut. “Biarkan aku istirahat, besok juga sembuh.”

Kemudian Baekhyun menggeleng lagi, “bukan sakitmu. Tapi senyummu. Lihat, kau lemas sekali. Aku tidak suka itu.”

Dan keheningan tercipta—pikiran masing-masing mereka melayang entah kemana.

Dalam kepala Baekhyun, dia sedang menyumpah apapun yang akan membuat Taeyeon seperti ini lagi. Dia berpikir keras bagaimana caranya agar Taeyeon bisa kembali lagi seperti Taeyeon yang dulu. Karena ini pertama kalinya ia melihat seorang Kim Taeyeon menjadi begini lemasnya.

Sementara Taeyeon dengan perasaan tertahannya bertanya-tanya apa maksud perkataan Baekhyun barusan. Apakah lelaki itu mengucapkan kalimat itu dengan sungguh-sungguh, atau hanya untuk membuat dia kembali, setidaknya, tersenyum lagi?

“Cepat, katakanlah, apa yang bisa kulakukan untuk membuatmu tertawa lagi?”

Taeyeon awalnya bimbang; Baekhyun bukanlah siapa-siapa untuknya. Mereka hanya sebatas rekan kerja tim di klub seni sekolah mereka yang bahkan terbentuknya tim ini pun karena ketidak-sengajaan. Dan Baekhyun yang kini berada di rumah Taeyeon sekarang bukan untuk apa-apa selain mendiskusikan tugas tim mereka.

Setidaknya itu yang ada dalam pikiran Taeyeon.

“Bisakah… kau bernyanyi untukku?”

 

“Apa aku harus bernyanyi lagi untukmu?” Baekhyun menopang kepalanya yang dihiasi senyum hangat.

Taeyeon berkedip-kedip—mencerna maksud perkataan Baekhyun. “N..ne?”

“Dulu kau akan menyuruhku bernyanyi kalau kau sedang tidak ingin tersenyum.”

Taeyeon entah kenapa merasa heran dengan Baekhyun. Bagaimana lelaki itu masih bisa bersikap begitu ramah padanya setelah tiga tahun mereka kehilangan komunikasi? Kenapa lelaki itu masih bersikap seakan-akan mereka memang masih sepasang sahabat?

 

Noona!”Taeyeon menoleh, melihat dengan jelas adik kelas sekaligus teman sesama klubnya sedang berlari menuju tempat ia duduk.

Wae?”

Baekhyun dengan segenap napasnya duduk di sebelah Taeyeon.

Wae, Baekhyun-ah? Apa yang membuatmu berlari-lari seperti ini?”

Aniyo…hah… hah… aku hanya… ingin menghampirimu.”

Alis Taeyeon mengerut. “Mwo?Kukira ada hal yang penting!

Baekhyun memang sengaja melakukannya—pura-pura terdengar gawat agar Taeyeon menumpahkan seluruh perhatian padanya. Ia berhasil, tapi Taeyeon tidak bisa mengerti kelakuan Baekhyun. Dan Baekhyun hanya bisa tersenyum.

Lagipula Baekhyun tak bisa menahan itu semua—mengerjai Taeyeon. Sepertinya itu sudah menjadi kebiasaannya sehari-hari di sekolah.

Merasa kesal, Taeyeon mencoba kembali pada buku di pangkuannya. “Aish, molla.”

Baekhyun awalnya ingin langsung memprotes karena diabaikan. Tapi ia kemudian tersihir. Ini pemandangan langka yang tak boleh disia-siakan, pikir Baekhyun dalam hati.

Baekhyun selalu menganggumi semua hal yang dimiliki Taeyeon. Suaranya, wajahnya, bahkan kulitnya. Oh, sekarang Baekhyun jelas-jelas menganggumi mata Taeyeon juga. Lihat, mata Taeyeon saat serius membaca begitu indah.

Yak, kenapa kau tega sekali mengabaikan pengorbananku?”

“Pengorbanan apanya.” Balas Taeyeon sarkastik.

Tapi tetap saja Taeyeon menutup bukunya. “Baiklah, ada apa?”

Baekhyun mengangkat bahu. “Sudah kubilang, aku hanya ingin menghampirimu.”

Dan pandangan jengkel Taeyeon kembali lagi. Tapi kali ini Taeyeon tidak tahan. “Kau benar-benar aneh, Baekhyun-ah.” Lalu bangkit, hendak meninggalkan Baekhyun.

Y-yak! Noona!”

Taeyeon terdiam tanpa melakukan apa-apa.

Arra, arra. Mianhae. Jangan pergi… kumohon?”

Dengan berat hati Taeyeon kembali menghampiri tempat duduknya semula, tapi masih berdiri. “Kalau kau melakukan hal-hal tidak jelas lagi dan menggangguku, aku tidak akan memaafkanmu!”

Baekhyun tersenyum, setidaknya Taeyeon masih mau mendengarkan permohonannya. “Geurae, arasseo.”

Taeyeon kembali duduk, namun masih kesal. Ia hanya menatap lurus, enggan melihat Baekhyun—menunggu Baekhyun bicara.

Tapi tak ada kata-kata dari Baekhyun. Ia hanya mengeluarkan sesuatu dari sakunya, lalu memperlihatkan benda itu tepat di depan Taeyeon. “Kupon diskon untuk Dalkomm Ice Cream.”

Mulut Taeyeon perlahan terbuka. Matanya melebar dan berkilau—tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya. “Kau… benar…”

Kini Baekhyun bukan menyengir lagi, senyumnya bahkan melebihi batas sewajarnya. “Tentu saja! Kalau kubilang aku memang punya kupon diskon Dalkomm Ice Cream, aku tidak bohong.”

Sudah lama Baekhyun menyimpan kupon itu, bahkan sebelum ia resmi berkenalan dengan seorang Kim Taeyeon yang sangat mencintai es krim. Dia tak pernah berniat menggunakan itu, tapi saat kemarin mendengar Taeyeon sangat menyukai es krim…

“Ini tandanya, pulang sekolah nanti kau harus kencanbersamaku.”

Kalimat itu tidak berarti apa-apa di telinga Taeyeon, tentu saja. Ia tahu kata kencan itu bukan dalam arti sebenarnya. Lagipula anak yang menawarinya pergi ini bukan tipe serius seperti itu. “Ck, kau menyogokku?”

“Bukan! Aku memberimu ini benar-benar tulus….”

Taeyeon mengalihkan wajahnya, hendak melihat lelaki di sampingnya itu—juga ingin mencari tahu apa Baekhyun benar-benar tulus. Tapi Taeyeon tidak bisa mengerti. Terlalu banyak kebahagiaan di mata Baekhyun. Sepasang mata lelaki itu benar-benar bersinar.

Memang, saat ini Baekhyun sedang merasa bahagia, walau Taeyeon belum mengatakan apapun.

“Baiklah…”

Baekhyun tersenyum semakin lebar.

Gomawo, Baekhyun-ah.”

‘Yes!’ Baekhyun mengepalkan tanganya semangat. “Tidak! Aku yang berterimakasih, noona.”

Taeyeon kini tertawa kecil sambil menggeleng-geleng melihat tingkah adik kelasnya itu.

Jinjja. Jongmal gomawo, Taeyeon noona!”

Baekhyun dengan perasaan meluap-luapnya menyimpan kembali kupon itu di sakunya. Kemudian dia merasa Taeyeon menyenggolnya.

“Kenapa?”

“Kalau sikapmu seperti ini, aku tidak bisa untuk tidak menyuruhmu berbicara informal padaku. Lagipula kau juga seringkali secara tidak sengaja berbicara banmal padaku, kan?”

Baekhyun tertawa. Hari ini kebahagiaan memang seratus persen berpihak padanya. “Itu kan karena noona yang membuatku seperti itu.”

“Hah, memangnya aku melakukan apa.”

“Kau…” Baekhyun terdiam sejenak. “kau membuatku merasa ingin menjadi lebih dari sekedar adik kelasmu.”

 

Taeyeon masih ingat itu. Hari resmi mereka menjadi teman. Dan hari yang mengawali persahabatan mereka.

“Apa yang kau lakukan sekarang? Masih pada musik?” Taeyeon membuka percakapan.

Sementara itu pesanan mereka datang. Tepat saat pelayan pergi, Baekhyun menjawab dengan semangat. Dengan nada yang selalu menjadi ciri khas milik Byun Baekhyun.

“Tentu saja! Kau sendiri tahu mimpiku apa sejak dulu. Yah, sekarang aku memang masih dalam proses belajar.” Baekhyun mengangkat bahu. “Belum ada kemajuan yang berarti. Bagaimana denganmu, noona?”

“Aku… sebenarnya aku datang untuk mengundangmu.”

“Mengundang? Aku?”

Taeyeon meminum minumannya, berharap keraguan di tenggorokannya tersapu oleh itu. Taeyeon sendiri tidak mengerti kenapa ia bisa segugup ini.

“Sebenarnya nanti malam aku akan menghadiri resital seorang pianis. Aku diundang sebagai bintang tamu untuk menyanyikan satu lagu.” Taeyeon diam sejenak, tidak tahu harus melanjutkan dengan apa. “Aku….”

“Kau ingin aku datang?”

Terimakasih pada kepekaan Baekhyun yang tak pernah hilang dari dulu. Itu juga mungkin salah satu poin bagus yang membuat Taeyeon senang berteman dengan Baekhyun.

Taeyeon mengangguk sebagai jawaban.

“Oh, tentu saja! Aku pasti datang, demi melihatmu menyanyi lagi. Bahkan tanpa kau minta pun.”

 

Hari itu adalah hari kelulusan untuk kelas tiga. Dan itu artinya adalah hari itu adalah hari kelulusan Taeyeon.

Baekhyun tentu saja merasa sedih. Noona-nya sebentar lagi akan pergi meninggalkannya. Ia membayangkan hari tanpa Taeyeon, tanpa tawanya, tanpa marahnya. Hidup pasti akan sangat membosankan. Dan yang pasti, Baekhyun akan sangat merindukan Taeyeon.

Baekhyun ragu apakah ia harus datang ke acara perpisahan kakak kelasnya atau tidak. Ia tidak ingin Taeyeon mengucapkan selamat tinggal. Tapi ia juga tahu hari ini mungkin hari terakhir mereka bertemu. Jadi Baekhyun memutuskan untuk datang, demi Taeyeon.

Acara sudah separuh berjalan, Baekhyun masih tetap menatap panggung. Ia tahu kapan Taeyeon akan muncul membawakan lagu; penghujung acara. Ia sangat semangat untuk melihat Taeyeon bernyanyi, tapi ia tidak bisa menyingkirkan kenyataan bahwa dia akan berpisah dengan Taeyeon malam ini juga.

“Hhh….” desahan berat tak ada hentinya keluar dari mulut Baekhyun. Ia tidak bisa duduk, jelas. Ia memutuskan untuk menyerahkan kursinya pada orang lain dan berdiri di belakang kursi penonton.

“Kenapa aku harus lahir dua tahun lebih muda darinya?” kenapa? Kalau saja Baekhyun dua tahun lebih tua dari umurnya sekarang, dia bisa benar-benar menjadi teman Taeyeon. Mereka juga bisa merencanakan untuk sama-sama pergi ke universitas yang sama, karena impian merekapun sama. Tapi sebuah ide melintas di kepalanya. Ia harus tahu kemana Taeyeon akan melanjutkan pendidikannya. Dengan begitu tahun depan dia bisa menyusul Taeyeon.

Dengan semangat baru oleh idenya, lampu ruangan tiba-tiba padam. Ini saatnya untuk penghujung acara. Baekhyun kembali memfokuskan pandangannya ke panggung.

Taeyeon muncul. Berjalan dengan anggunnya ke tengah panggung. Perempuan itu memakai gaun sederhana berwarna putih, dan Baekhyun jelas-jelas tidak bisa mengalihkan pandangannya dari perempuan itu.

Ajikdo neon honjageoni (Am I still alone)
Mul-eobneyo nan geujeo useojyeo (You ask, and I just laugh)
Saranghago itjyeo (I am in love)
Saranghaneun saram isseoyeo (I have someone to love)

Geudaen moleujyeo, naegedo meotjin aein-itdaneungeol (Do you know, I already have a great lover)
Neomu sojunghae kkog sumgyeodueotjyeo (Someone too precious I had to hide it)
Geu saram namanbol su isseoyeo (That man, only I can see him)
Naenun-eman boyeoyo (He is visible only to my eyes)
Nae ipsule yeongwonhi damadeulkeoya (His name will forever be sealed in my lips)
Gakkeumsik chaoreuneun nunmulman algoitjyeo (Only the tears that sometimes fill my eyes know)
Geusaram geudaeraneungeol (That… that man is you)

Baekhyun secara harfiah terpaku pada tempatnya. Sementara telinganya terus tertuju pada penyanyi di depan matanya itu, pikirannya yang tadinya hendak mati kini kembali berputar.

Baekhyun ingat Taeyeon pernah bilang padanya, semua lagu yang sudah dan akan dinyanyikan olehnya adalah kisah hidupnya. Ia suka lagu yang menggambarkan kehidupannya, dengan begitu ia bisa mengekspresikannya dengan baik.

Baekhyun tentu saja mendukung itu, tapi setelah mendengar dua bait pertama yang Taeyeon nyanyikan sekarang… hatinya seperti mencelos. Apa ini?

Taeyeon benar-benar punya seseorang yang dicintainya? Siapa itu? Kenapa Baekhyun tak pernah menyadarinya?

Dan perlahan langkahnya membawanya keluar dari penjara itu. Ia harus pergi sekarang juga, atau ia akan terjebak selamanya. Ia yakin sekarang bahwa dia benar-benar memiliki perasaan terhadap Taeyeon. Itu tidak bisa dipungkiri lagi. Dan kenyataan bahwa Taeyeon sudah mencintai orang lain membuatnya merasa tidak diadili.

Itulah terakhir kalinya Baekhyun melihat Taeyeon. Untuk tiga tahun ke depan, Baekhyun memutuskan untuk menghilang dari kehidupan Taeyeon.

 

“Ah, iya, noona… boleh aku bertanya sesuatu?”

“Eum?”

“Apakah… pria itu akan datang?”

Taeyeon mengerutkan alisnya. “Pria itu, siapa?”

“Kau tahu, orang yang kau persembahkan padanya lagu yang kau nyanyikan saat kelulusan waktu itu.I have a lover.

Taeyeon terdiam, merasa mulutnya terkunci. Raut wajahnya kaku, seluruh uratnya menegang mendengar pertanyaan Baekhyun.

Tapi ia tetap berbicara. “Kau… bagaimana kau tahu aku menyanyikan lagu itu?”

“Aku menyaksikanmu, tentu saja.” Tiba-tiba kegembiraan lenyap dari wajah Baekhyun.

“T-tapi kenapa…”

“Aku pergi di tengah penampilanmu.” Baekhyun memberi jeda. “Ada keperluan mendadak.” Baekhyun tersenyum pahit.

“Oh…” hanya itu yang bisa keluar sebagai respon. “Dia datang, kupikir.”

Dan Baekhyun kini bisa merasakan dengan jelas rasa sakit yang ia derita saat itu. Bahkan sekarang lebih sakit.

***

Baekhyun sudah pada tempatnya, duduk dengan tenang menyaksikan penampilan oleh pianis hebat di atas panggung. Ia menikmatinya, kendati alasan ia datang hanyalah untuk satu orang.

Malam ini Baekhyun sudah memutuskan. Dengan siapapun Taeyeon sekarang, Baekhyun harus mengutarakan perasaan terpendamnya. Meskipun ia tahu bahwa akhirnya nanti Taeyeon akan memilih laki-laki itu. Tapi ia lebih baik menjalani hidup sendirian namun dengan perasaan lega daripada harus hidup sendiri dengan terus memendam perasaan ini.

Ia tersenyum pada akhirnya, dan memutuskan bahwa sudah saatnya ia harus segera mencari orang lain. Ia harus bisa melangkah dari Taeyeon.

Dan perempuan yang ia tunggu dari tadi pun melangkah memasuki panggung. Sama dengan tiga tahun yang lalu, Taeyeon menggunakan gaun berwarna putih. Baekhyun masih ingat dengan jelas bentuk gaun itu.

Sementara itu Taeyeon masih berjalan mendekati sang pianis. Mereka berdua saling menyapa, dan kemudian sang pianis memberi kode untuk memulai intronya. Taeyeon kembali menatap penonton. Ia mencari seseorang yang ia tunggu malam ini.

Baekhyun bisa melihat jelas kalau Taeyeon sedang mencari orang itu. Taeyeon pasti bernyanyi untuk dipersembahkan kepada orang itu lagi. Tapi alih-alih menatap orang lain, Baekhyun menemukan pandangan Taeyeon tertuju padanya.

Ajikdo neon honjageoni (Am I still alone)
Mul-eobneyo nan geujeo useojyeo (You ask, and I just laugh)
Saranghago itjyeo (I am in love)
Saranghaneun saram isseoyeo (I have someone to love)

Geudaen moleujyeo, naegedo meotjin aein-itdaneungeol (Do you know, I already have a great lover)
Neomu sojunghae kkog sumgyeodueotjyeo (Someone too precious I had to hide it)
Geu saram namanbol su isseoyeo (That man, only I can see him)
Naenun-eman boyeoyo (He is visible only to my eyes)
Nae ipsule yeongwonhi damadeulkeoya (His name will forever be sealed in my lips)
Gakkeumsik chaoreuneun nunmulman algoitjyeo (Only the tears that sometimes fill my eyes know)
Geusaram geudaeraneungeol (That… that man is you)

Baekhyun tidak mengerti. Ia melihat dengan jelas mata Taeyeon yang tertuju padanya, bahkan mata Taeyeon terlihat sangat… dalam. Ia tidak tahu apakah ini semua ilusi atau kenyataan. Setengah hatinya berharap, tentu saja, dan bahagia karenanya. Tapi ia juga tidak mengerti. Ia berada dalam kenyataan atau mimpi?

Algetjyeo, na honja aningeolyo (You see, I’m not alone)
Anseuleowo malayp (Don’t worry)
Eonjenganeun geusaram sogaehalgeyo (Someday I’ll introduce him to you)
Ireohge chaoreuneun nunmuli malhanayo (Can you hear what the tears filling my eyes say?)
Geusaram geudaeraneungeol (That… that person is you)

Masih dengan keterkejutannya, Baekhyun menatap panggung. Taeyeon sudah menghilang, dan yang Baekhyun tatap adalah kekosongan. Ia sedang bermain dengan pikirannya sendiri, masih belum yakin di dunia manakah ia berada sekarang.

Dengan frustasi, ia mengacak rambutnya sendiri. Ia bisa merasakan rambutnya, itu artinya ia berada dalam kenyataan.

Apa maksud lagu Taeyeon barusan? Mungkinkah Taeyeon hanya menatap secara acak untuk melancarkan nyanyiannya, atau tatapan tadi memang berarti untuk Baekhyun? Kalau begitu apakah lagu tadi dipersembahkan untuknya?

Baekhyun masih tidak mengerti. Tapi ia juga tidak bisa berdiam diri.

Resital sang pianis dengan lagu tadi berakhir. Dan Baekhyun memutuskan untuk pergi ke belakang panggung. Sang pianis baru saja turun saat Baekhyun sampai di sana.

“Maaf, apa aku bisa bertemu dengan penyanyi tadi, Kim Taeyeon?”

Si pianis merasa bingung awalnya, ini adalah resitalnya, bukan? “Oh, entahlah. Sepertinya ia sudah pergi. Kau bisa bertanya pada staf lain.”

Baekhyun melakukannya, ia bertanya-tanya pada para staf di mana Kim Taeyeon berada. Mereka menjawab bahwa Taeyeon langsung pergi dari sini karena urusan mendadak. Lalu Baekhyun bertanya apakah ia bisa mendapatkan alamat rumah Taeyeon.

“Aku teman lamanya.”

Staf itu awalnya ragu sejenak. Privasi orang harus dijaga, bukan? Tapi sepertinya staf itu tidak terlalu peduli. Toh ia juga tidak begitu kenal dengan Taeyeon. “Ia tinggal tidak jauh dari sini.”

Setelah diberikan alamat lengkapnya, Baekhyun melesat ke luar dengan segera. Awalnya ia berencana menghampiri rumah Taeyeon sekarang juga, tapi mengingat alasan Taeyeon pergi karena urusan mendadak, Baekhyun mengurungkan niatnya. Lagipula hari sudah larut.

***

Pagi tiba, walaupun tidak secerah biasanya. Baekhyun awalnya bingung. Ini musim semi, harusnya langit cerah. Lagipula hari ini Baekhyun akan bertemu dengan pujaan hatinya. Tapi kenapa suasana pagi ini tidak mendukung hatinya?

Ia tetap bersemangat, tentu saja. Walaupun alasannya menemui Taeyeon adalah ‘melepaskannya’. Tapi memikirkan ia akan bertemu dengan Taeyeon lagi sudah cukup untuk membuatnya tersenyum sepanjang perjalanan. Ia mencari-cari rumah dengan alamat yang diberikan oleh salah satu staf kemarin. Tapi begitu menemukannya, ia tiba-tiba merasa ragu. Rumah itu terasa kelam sekali. Bukan bentuknya, tapi suasananya. Ramai juga oleh orang-orang dengan baju gelap.

Apakah ini rumah yang benar? Ia memutuskan untuk bertanya.

“Maaf, apakah ini rumah Kim Taeyeon?” tanyanya pada salah seorang pria di halaman rumah.

Pria itu mendongkak dengan alis yang berkerut. “Iya, kau siapa?”

“Saya Baekhyun, Byun Baekhyun. Saya teman lama Kim Taeyeon.” Baekhyun tersenyum ramah, berusaha meyakinkan pria di depannya.

Pria itu awalnya terdiam sebentar, kemudian berdiri dari duduknya. “Tunggu di sini.” Dan melangkah masuk ke dalam rumah.

Baekhyun merasa tidak nyaman. Ada perasaan aneh yang menyelimutinya sejak tadi ia melangkah ke pekarangan rumah ini. Ia rasanya ingin pergi saja, tapi ia tidak boleh pergi lagi. Cukup sudah tiga tahun ia lari dari hidupnya.

Kemudian seorang wanita separuh baya keluar dari pintu. Wajahnya cantik dan putih, seperti layaknya Taeyeon.

Baekhyun membungkuk hormat sebelum menyapa. Ia masih mengingat jelas ibu Taeyeon.

Annyeonghaseyo, eommeoni.”

Ibu Taeyeon mengangguk, lalu tersenyum lemah. Wajahnya terlihat sedih sekali. Dan kulit putihnya terlihat lebih pucat.

“Sudah lama tidak bertemu, Baekhyun-ah.”

Baekhyun terkejut. Suara Ibu Taeyeon terdengar sangat menyakitkan, rasanya seperti baru saja sembuh dari penyakit yang sangat menyakitkan. Ia ragu awalnya, mungkin aku datang pada saat yang tidak tepat. Mungkin keluarga Taeyeon sedang mengalami masalah yang berat. Mungkin dia harus datang lain kali.

Tapi hatinya tetap berkata tidak bisa—tidak boleh pergi lagi.

Baekhyun tersenyum. “Apakah Taeyeon noona ada? Ada yang perlu kubicarakan dengannya.” Ia bahkan tidak repot-repot menanyakan kabar.

Ibu Taeyeon beralih keterdiaman lagi. Wajahnya kini benar-benar pucat dan padam. “Maafkan aku, Baekhyun, tapi…”

Perasaan aneh tadi kembali menyelimuti Baekhyun. Kali ini membawa jantungnya berdegup lebih kencang. Ia tidak tahu apa yang akan menimpanya, ia tidak punya ide sama sekali.

“Taeyeoni… dia sudah pergi.”

***

Sekarang Baekhyun tahu kenapa hatinya bersikeras menyuruhnya untuk tidak pergi. Karena kalau ia melakukannya, maka seumur hidup ia akan menyesalinya. Bahkan lebih dari penyesalannya tiga tahun lalu.

Kini ia berada di tepi sungai Han dan suasana sepi sekali. Memang, hari ini adalah hari kerja. Ia pun harusnya ada di kampusnya sekarang. Tapi seluruh tubuhnya tidak mendukung untuk melakukan apapun, apalagi sekolah.

Di tangannya terdapat lembaran kertas. Mungkin wasiat, mungkin hanya sekedar surat, entahlah. Hatinya terasa sedih dan lelah, tapi ia tidak mengerti. Kenapa ini harus terjadi padanya?

“Pergi… kemana?”

Ibu Taeyeon mulai menangis. Baekhyun tambah merasa bersalah dan takut. Mungkinkah ada hal lain?

Kemudian Ibu Taeyeon menggeleng. “Ia pergi meninggalkan kita, Baekhyun. Untuk selamanya.” Ujarnya pelan. Kemudian menggenggam tangan Baekhyun dan membimbingnya ke dalam rumah.

Baekhyun mengerti sekarang. Ia mengerti kemana noona-nya itu pergi.

Perempuan yang memiliki setengah memori hidup Baekhyun,perempuan yang juga pemegang setengah hati Baekhyun selama enam tahun penuh, perempuan yang selalu hadir dalam mimpinya; baik nyata atau dalam ketidaksadaran. Perempuan yang baginya bagai gaib, tak ada, namun terindukan. Perempuan yang ia kagumi sejak enam tahun lalu, perempuan yang ia lepaskan tiga tahun lalu, perempuan yang sampai sekarang masih menjadi pemilik setengah hatinya ada di sana.

Berbaring lemas dengan wajah pucat, di hadapannya.

Baekhyun tidak tahu harus berkata apa. Seluruh sarafnya menegang, tapi lututnya terasa lemas sekali. Ia tidak menangis, ia hanya terkejut. Lagipula saraf tegangnya tadi sedang fokus mengatasi jantungnya yang berdegup sangat kencang.

Ia menyentuh dadanya. Rasanya sakit sekali. Rasanya seperti habis tenggelam dan kehabisan nafas. Oh, bahkan sekarang nafasnya tercekat.

“Ke-kenapa….” ia menunduk. Tidak kuat memandang sosok itu lagi. Dan begitu melihat lututnya yang tertekuk begitu menyedihkannya, genangan air itu muncul. Ia tidak bisa berpikir. Seakan seluruh pikirannya mati. Ia bahkan tidak bia merasakan air matanya di tangannya.

“Maafkan aku, Baekhyun.” Suara Ibu Taeyeon terdengar sama sedihnya.

Baekhyun menyesal. Ia sangat menyesal. Kalau saja ia tahu ini akan terjadi. Kalau saja ia cukup berani tiga tahun yang lalu untuk berada di sisi perempuan itu. Kalau saja, kalau saja, kalau saja. Kalau saja ia tidak tidak memiliki perasaan ini… rasanya pasti tidak akan sakit seperti ini, kan?

Kemudian ia mendongkak perlahan, merasa bahunya disentuh. Tangisnya masih dalam sunyi, tapi ia berusaha memenuhi panggilan Ibu Taeyeon. Ia tidak bisa untuk menatapnya.

“Ini,” Ibu Taeyeon memberikan sesuatu padanya. “Taeyeon menitipkan ini untukmu.”

 

Baekhyun kembali memperhatikan surat itu. Sebenarnya terlihat biasa saja, tapi ia sangat takut untuk membukanya.

Tapi ia harus membukanya.

Annyeong, Baekhyun-ah.

Dalam hidupku aku tidak pernah berniat untuk memiliki perasaan lagi pada seseorang. Lagipula aku tidak tahu apa keuntungan dari itu. Yang aku tahu setiap pertemuan pasti punya perpisahan. Dan aku paling benci dengan yang namanya perpisahan.

Jangan salah paham, dulu aku pernah ditinggalkan. Aku pernah tahu apa itu cinta. Dan sekarang pun aku masih tahu apa itu cinta. Tapi aku berjanji pada hidupku bahwa aku tidak akan memiliki perasaan seperti itu lagi pada orang lain. Tidak dalam waktu yang dekat.

Tapi baru saja dua bulan janjiku itu resmi tertulis, kau datang. Kau dengan indera kelucuanmu, ketulusanmu, dan kemampuanmu beradaptasi pada segala hal. Aku sangat menyukai orang yang tidak merasa canggung di situasi apapun—bisa mengatasi situasi yang ada. Dan kau secara tidak sengaja hadir di hidupku. Awalnya aku yakin aku tidak akan tertarik dengan karismamu. Aku sudah menetapkan diri. Tapi yang terjadi nyatanya berbeda.

Siapa yang harus kusalahkan? Apakah seharusnya aku menjauhimu di hari pertama kita bertemu? Mana yang akan paling kusesali: meninggalkanmu atau malah membiarkanmu ada di hidupku? Aku benar-benar tidak tahu.

Tapi aku takut kau memiliki pandangan yang berbeda padaku. Aku takut perasaanmu padaku berbeda. Karena tiap kata yang harusnya memiliki arti yang dalam, diucapkan olehmu dengan cara yang ringan sekali—bercanda. Kukira semua kata-kata manismu hanya candaan.

Tapi aku lalu mencoba mengalah, Baekhyun. Menghancurkan janji itu mudah sekali. Aku berniat membuka hatiku untukmu. Aku bahkan menyanyikan lagu itu, untukmu, Byun Baekhyun. Tapi sepertinya kau salah paham dan malah pergi meninggalkanku.

Kaulah pria itu. Kaulah orang yang padanya aku memiliki perasaan. Aku tidak tahu sejak kapan perasaan ini ada. Tapi yang jelas aku tidak pernah melupakanmu bahkan setelah kau benar-benar menghilang dari hidupku.

Aku menjalani hidupku dengan baik pada awalnya. Belajar di kuliah yang aku inginkan tanpa ada gangguan apapun—walau sekali-kali aku tidak bisa menghilangkan wajahmu dari benakku. Tapi kemudian hidupku memburuk, Baekhyun.

Ini benar-benar di luar dugaanku. Waktu itu aku sedang bermain dengan adikku dan kemudian pingsan. Setelah diperiksa, ternyata aku mengidap penyakit serius yang akan bertambah parah setiap harinya. Aku merasa putus asa, awalnya. Penyakit ini belum bisa disembuhkan. Lalu apa poinnya? Bahwa cintaku menghilang dan semua yang kupelajari untuk meraih mimpi ternyata sia-sia. Karena pada akhirnya cinta dan mimpiku tidak berhasil kuraih.

Tapi aku berusaha menjalani hidupku seperti biasa, seakan tidak ada yang terjadi padaku. Aku enggan sekali terlihat menyedihkan.Aku berpura-pura menjadi orang yang sehat. Tapi penyakit itu tidak pergi, Baekhyun. Setiap hari kepalaku bertambah sakit, bahkan untuk membuka matakupun rasanya berat.

Maka aku memutuskan untuk mencarimu—aku harus bertemu denganmu. Setidaknya sebelum aku pergi, aku bisa menatapmu untuk yang terakhir kali, walau perasaan kita tidak akan pernah tersampaikan.

Maafkan aku, Baekhyun. Aku menyesal perasaan kita tidak pernah bersatu. Aku menyesal tidak berusaha menghabiskan sisa umurku denganmu. Aku menyesal karena membiarkan tiga tahun itu tanpa ada arti. Maafkan aku…

Hiduplah dengan bahagia, Baekhyun-ah. Kejar terus impianmu. Karena impian kita sama, aku titipkan impianku padamu, ya? Kau harus berjanji akan menjadi musisi yang sukses, seperti yang kita berdua inginkan.

Jalhae, saranghae.

 

 

Advertisements

37 comments on “[FREELANCE] Untold (Oneshot)

  1. sedih bacanya,sampai menitikan air mata..
    qqeerreenn ceritanya thorr,nanti kalau mau buat ff lg happy ending yaa..

    Fighting

  2. kyaaaa….. sedih banget thor *ambil tisu hiks. yaampun gk nyangka bakal jadi sad ending begini jadi sedih…

    good job thor d tunggu karya selanjutnya.. hiks hiks..

  3. Taeyeonnniiiiiiiieee…….. Hiks hiks hiks hiks hiks

    knpa begini, knpa cinta mereka tdak bersatu. Jdi ingat someone yg pernah ad dihati ku #lebayyyy. Ceritanya itu bikin sakit aja.

  4. Nyesek.
    Nyesel bgt klo jdi baek, yg sbar baek cup cup..
    Suka thor sma penulisannya, keren
    dtnggu fic lainnya!
    FIGHTAENG!!

  5. duh gini deh kalo genre angst, endingnya pasti nangis 😥
    seriusan deh sampe kebawa perasaan. daebak pokonya
    bahasanya jg bagus, jd mudah nempel. kereeen

  6. huaaa sedih bgt mreka tanpa sadr saling menyakiti… daebakk ff nya q ampe naangiss … berarti taeng menunggal stelah nyanyi bwat baekh…
    dtunggu karya lainnya…

  7. Idih baekhyun ga peka ya tuhan merinding2 galau bacanya hiks;;
    Aaaa suka bgt thor;; boleh repost ya buat arsip ff fav hehe
    Suka bgt;;
    Great story thorr❤❤

  8. kenapa…? kenapa? kenapa sad ending sih…../? tisu mana tisu?
    harapan bkal happy ending….malah jdi nyesek bgt….
    author daebak,…..bagus thor….

  9. ohhhh my sedih bgt sih bacanya.. ya ampunnnnn feelnya kerasa bgt huuaaa jadi mewek nihhh..
    ditunggu ff keren laennya

  10. ohhhh my sedih bgt sih bacanya.. ya ampunnnnn feelnya kerasa bgt huuaaa jadi sedih nihhh..
    ditunggu ff keren laennya

  11. Nyesek bacanya thor… bagus thor, ff nya!!! Ditunggu ff yg selaniutnya ya…. kirain aku taeyeon gak bakalan meninggal.

  12. knapa setiap aku baca ff baekyeon kbanyaan sad ending ??? pasti ad aja yg meninggal… huaaaa feelnya dapet bgt ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s