[FREELANCE] God Plan (Chapter 5)

god-plan-for-ann-nacha-by-springsabila

Title : God Plan

Author : Ann Nacha (annyoungz75)

Main cast : Kim Taeyeon [GG]

Xi Luhan [EXO]

Xiao ZiYu [OC]

Xiao Ji Kyo [OC]

Support cast : find it by yourself

Genre : family, angst, romance

Length : multi chapter

Rating : 17+

Disclaimer : cast milik tuhan dan orang tua mereka. Author hanya minjam untuk kepentingan cerita. Author minta maaf bila ada kesamaan cerita, judul maupun yang lainnya. But, This story 100% mine.

Note’s : saya ucakan terima kasih untuk admin yang sudah mau post FF saya. Juga ucapan terima kasih untuk readers yang sudah mau baca FF absurd saya.

 

Credit poster : Springsabila.cafeposter.wordpress.com

 

 

WARNING TYPO!

 

SILENT READER GO AWAY!

 

HAPPY READING ^^

 

 

-Chapter 5-

 

 

“eomma kenapa cudah halus belangkat? Paman Luhan kan belum membellikan Jjajangmyeonnya?!” protes JiKyo saat mereka tengah diperjalanan pulang.

“tidak baik menerima sesuatu dari orang yang tidak dikenal JiKyo sayang..” ucap Taeyeon lembut.

“paman Luhan bukan orang asing?!” tutur sang kakak, ZiYu. Taeyeon menghela nafas. Mungkin inilah yang dinamakan ikatan ayah dan anak.

“eomma kan baik-baik saja… jadi biarkan saja paman Luhan memakan Jjajangmyeonnya” bujuk Taeyeon. kedua anaknya malah mengembungkan pipi mereka kesal.

“yacudah.. JiKyo kan mau main dengan paman Luhan…” ucap JiKyo bersikeras. “jika kalian bertemu lagi, kalian kan bisa bermain bersama” ucap Taeyeon berusaha menghibur.

“mau main dengan paman Luhan…” rengek JiKyo. Taeyeon tak habis pikir. Mereka padahal baru bertemu beberapa menit yang lalu?! Mengapa rasanya sudah akrab sekali?! Mungkin ZiYu dan JiKyo memang membutuhkan figur seorang ayah.

.

.

.

Luhan memasuki mobilnya sambil terus memandangi sebungkus Jjajangmyeon yang belum sempat diberikan pada anaknya.

Seulas senyuman merekah diwajah tampannya. “mereka anak-anakku ya?” gumamnya.

“mereka manis…” Luhan tersenyum lebar. “juga tampan dan cantik” kekehnya.

“taeng apa aku boleh menyanyangi mereka? hhh… Maaf tapi aku terlanjur menyayangi mereka”

Ia menaruh Jjajangmyeon itu dan menancap kembali mobilnya menuju kantor barunya itu.

.

.

.

“hyung dicini!” seru JiKyo saat mereka tengah bermain bersama dikamar mereka tanpa sadar sang eomma memasuki kamar mereka.

“ZiYu..JiKyo…” panggil Taeyeon. kedua bocah yang tengah asyik bermain itu menoleh pada sang eomma yang tengah berdiri disamping tempat tidur mereka. “eomma?” tanya mereka. Taeyeon hanya tersenyum.

“ayo kita makan siang dulu” ajak Taeyeon sambil megulurkan tangannya. Kedua bocah itu dengan semangat berlari menghampiri sang eomma lalu berjalan bersama menuju ruang makan.

 

Mulanya, ZiYu dan JiKyo merebutkan sebuah kursi dan terjadilah sebuah pertengkaran kecil. Mereka berdua sama-sama keras kepala, jadi tidak ada yang mau mengalah. Sama seperti orang tuanya—Luhan dan Taeyeon. tapi pada akhirnya, sang kakak, ZiYu mau mengalah untuk adiknya walaupun kini masih sedikit menggerutu. “eomma! JiKyo mau ayamnya!” ucap sibungsu sambil mengarahkan sendok ke arah sepiring ayam. “ZiYu juga!” tutur sang kakak.

Dengan senyum lebar Taeyeon mengambilkan ayam kepiring anak-anaknya. “eomma mau kalian makan yang banyak, agar cepat tumbuh dewasa dan menjadi tampan” ucap Taeyeon.

“memang kami tidak tampan,eomma?” tanya ZiYu mengerucutkan bibirnya. “tidak.” Jawab Taeyeon membuat kedua bocah itu menatap eomma nya sebal.

“tapi kalian sangat manis” kekeh Taeyeon sambil mencubit pipi-pipi gembil anak-anaknya. Wajahnya memang menunjukkan seakan tak terjadi apa-apa, tapi hatinya berkata lain. Keduanya tersenyum lebar merasa puas dengan jawaban sang eomma tercinta, ah mereka lebih suka dibilang manis daripada tampan. Berbeda dengan Luhan.

“ayo kita berdoa dulu” ajak Taeyeon sambil menangkupkan kedua tangannya diikuti kedua bocah kembar itu.

“siapa yang mau memimpin?” tanya Taeyeon semangat. “JiKyo eomma! JiKyo!” seru si bungsu. “baiklah..” cicit Taeyeon.

JiKyo menutup matanya erat-erat. “tuhan… telimakacih untuk makanan enaknya. Cemoga…makanan yang eomma macak membuat eomma, JiKyo dan hyung celalu cehat. Dan.. JiKyo mau beltemu paman Luhan lagi” ucapnya lalu membuka kedua mata rusanya.

Taeyeon yang mendengar kata ‘Luhan’ di doa anaknya malah terbelalak kaget. “eomma selamat makan!” seru sisulung.

Mereka berdua memakan makanan mereka dengan lahap sementara Taeyeon masih diam menatap anak-anaknya.

“eomma? kenapa makanannya tidak dimakan?” tanya ZiYu. Taeyeon menoleh. “ah iya! Eomma makan!” seru Taeyeon sambil memakan makanannya.

Ia hanya bisa memasang senyum palsu pada anak-anaknya kali ini. Ia tidak bisa jika harus berhenti memikirkan namja yang baru saja kembali kehidupnya itu.

Bagaimana bisa ia kembali saat tuhan sudah memberikan kehidupan yang baik baginya?

.

.

.

“ayo kemari!” ucap Taeyeon yang sudah duduk di tempat tidur anak-anaknya. Ia menyuruh anak-anaknya untuk tidur siang setelah makan tadi.

Mereka berdua dengan kompak melepas sepatu dan kaus kaki mereka lalu berlari menghampiri Taeyeon.

Mereka tersenyum lebar saat sudah duduk didepan Taeyeon. Taeyeon tersenyum lebar sambil mengelus rambut anak-anaknya.

“bisakah kalian memeluk eomma?” tanya Taeyeon dengan wajah sendu. ZiYu dan JiKyo saling menoleh dengan tatapan bingung yang membuat Taeyeon ingin tertawa tapi ia tak bisa.

“tentu eomma” ucap ZiYu lalu memeluk sang eomma dengan erat diikuti oleh JiKyo hingga membuat Taeyeon memejamkan matanya erat. Merasakan hangatnya pelukan dari anak-anak yang sangat dicintainya. Jika sudah seperti ini, mau tak mau Taeyeon harus kembali mengingat hangatnya pelukan namja yang dicintainya selama ini.

Dan tentu saja itu menyesakkan.

Sementara ZiYu dan JiKyo hanya diam sambil mempertahankan pelukan erat mereka.

“eomma…” panggil ZiYu. “ne” tanya Taeyeon tanpa membuka matanya yang sedari terpejam.

“ZiYu mau seperti ini terus” ucapnya membuat Taeyeon tersenyum semakin lebar. “eomma juga” ucap Taeyeon. didalam hati ia tertawa, ZiYu dan JiKyo senang sekali berbicara seperti itu jika sedang berpelukkan dengannya.

“eomma, jika ZiYu sudah besar, ZiYu mau menikah dengan eomma” ucap sang kakak membuat sang adik menatap kakaknya dengan sebal.

“hyung! Eomma kan akan menikah nya dengan JiKyo! Bukan dengan hyung!” kesal JiKyo membuat Taeyeon terkekeh.

“sudah… jangan bertengkar. Jika ZiYu dan JiKyo bertengkar eomma akan menangis” ucap Taeyeon sambil mengeratkan pelukannya pada kedua anaknya.

“jangan menangis lagi eomma!” panik JiKyo sambil mengeratkan pelukannya. Sementara ZiYu hanya menenggelamkan kepalanya di tubuh sang eomma.

Taeyeon tersenyum. “baiklah, kalian harus tidur siang” perintah Taeyeon lembut sambil melepaskan pelukan kedua anak-anaknya. Membuat dua bibir mungil itu mengerucut.

Tapi tanpa kata-kata mereka menaiki tempat tidur lalu memejamkan kedua mata mereka.

“selamat tidur rusa-rusa eomma” ucap Taeyeon sambil mengecup dahi-dahi putranya.

“eomma mencintai kalian” ucap Taeyeon pelan saat anak-anaknya sudah tidur dengan nyenyak.

Tiba-tiba handphone Taeyeon yang terletak diatas nakas berdering pertanda telepon masuk. Ia meraih ponselnya lalu berjalan keluar dari kamar sikembar.

 

“yaboseyo?”

“kemana kau? Kau pulang?!” sembur Tiffany yang ternyata sipenelpon.

“ya, aku pulang. aku sudah meminta izin pada CEO baru itu. Ada apa?” tanyanya Taeyeon datar.

“haish… kalau saja yang menjadi CEO masih Shin sajangnim kau sudah tidak dapat bekerja disini!”

“maaf, tadi aku sedang tidak enak badan” bohong Taeyeon.

“yayaya! Kuharap kau cepat sembuh dan besok kau bisa masuk”

“ya, aku akan masuk besok”

“baiklah”

“aku harus menutup sambungannya. Annyeong!”

Taeyeon menutup sambungannya lalu memasuki smartphone nya kedalam saku blazzer nya lalu berjalan menuju taman belakang.

Ia duduk dikursi panjang berwarna putih sambil menatap kosong kedepan. Ia kembali memikirkan Luhan yang sudah mengetahui keberadaan anak-anaknya.

Apa yang akan dilakukan Luhan jika sudah mengetahui ZiYu dan JiKyo? Taeyeon sangat takut jika Luhan akan menyuruhnya untuk pindah dari Jeonju. Kemana lagi ia akan tinggal jika Luhan melakukan itu?

Tanpa sadar air matanya sudah mengalir saat ia mengingat masa 4 tahun yang lalu. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya lalu menangis sesenggukan.

Ia tak bisa menutupi kesedihannya sekarang. Ini lebih menyakitkan dibanding saat Luhan membentak-bentaknya dulu.

Kenapa Luhan harus menemukannya?! Ini sungguh gila. Padahal ia sudah menutupi semuanya dengan rapi.

Apalagi ZiYu dan JiKyo sudah menyukai sosok Luhan. apa yang akan mereka lakukan jika mengetahui bahwa Luhan adalah ayahnya. Apa yang akan dikatakan orang lain nanti?

Sebenarnya Taeyeon tidak malu mempunyai anak diluar nikah. Hanya saja ia tak sanggup melihat anak-anaknya akan semakin sering dicemooh orang lain nanti.

Ia semakin menangis sesenggukan dibuatnya. Apa yang harus dilakukan saja ia tak tahu? Apa ia harus berhenti bekerja dan menghindar lagi? itu tidak mungkin. Luhan pasti akan mengetahuinya lagi.

Lalu apa yang harus dilakukannya sekarang? Yang Taeyeon tahu ia hanya bisa menjalani hidup dengan lapang dada.

.

.

.

“hey!” ucap Tiffany mengagetkan Taeyeon yang tengah bekerja dengan laptopnya itu. “haish.. kau mengagetkanku!” gerutuh Taeyeon.

“aku baru menyadari sesuatu” ucap Tiffany sambil duduk disamping Taeyeon dengan wajah serius. “mwo?” tanya Taeyeon sambil kembali fokus pada laptopnya.

“ada sesuatu yang aneh dengan wajah Xi sajangnim, dan aku baru menyadarinya” ucap Tiffany. Taeyeon menghentikan aktifitasnya dan terdiam. “a..apa itu?” tanyanya tanpa menatap Tiffany.

“aku merasa wajah Xi sajangnim sangat mirip dengan ZiYu dan JiKyo” ucap Tiffany. Taeyeon menoleh. “m..maksudmu?” tanya Taeyeon pura-pura tak mengerti.

“iya… apa kau tak menyadarinya?! Xi sajangnim sangat mirip dengan ZiYu dan JiKyo!” seru Tiffany.

“mungkin hanya kebetulan” ucap Taeyeon pura-pura tenang. “kau tak menyadarinya, eoh?!” tanya Tiffany.

“haishh… apakah itu sesuatu yang penting?” tanya Taeyeon melirik Tiffany sekilas. Tiffany menghela nafas. “kau ini… oh iya! Kau dipanggil Xi sajangnim tadi” ucap Tiffany sambil meminum teh yang tadi dibawanya.

“baiklah” ucap Taeyeon datar dan berjalan keluar menuju ruangan kerja Luhan. haish.. kenapa Luhan senang sekali memanggilnya sih?! Pikir Taeyeon sambil berjalan kesal menuju ruangan Luhan.

Tok tok tok

“masuk!” sahut Luhan dari dalam. Taeyeon membuka pintu dan memasuki ruangan Luhan. “kau memanggilku sajangnim?” tanya Taeyeon. Luhan tersenyum dan mengangguk.

“kemarilah Taeng, aku ingin membicarakan sesuatu” ucap Luhan. Taeyeon menjadi tegang tentu saja. Ia berjalan lambat kearah Luhan.

“aku ingin kita membicarakan ini dengan kepala dingin. Bisa?” tanya Luhan. Taeyeon mengangguk sekilas.

Luhan menghela nafas panjang. “aku ingin membicarakan tentang kejadian 4 tahun yang lalu”

DEG!

Seperti dugaan Taeyeon. Luhan pasti akan membicarakan anak-anaknya. Taeyeon mengangguk dan berusaha tenang.

“silahkan duduk” ucap Luhan. Taeyeon pun menurutinya, ia duduk didepan Luhan. “jadi mereka putra-putra ku?” tanya Luhan memulai.

Taeyeon memberanikan diri menatap Luhan. “kau tak mempunyai anak Xi sajangnim” desis Taeyeon dengan nada penuh penekanan membuat Luhan sedikit meringis.

“kau menamai mereka dengan marga Xiao, Taeng?” tanya Luhan. Taeyeon membelalakan matanya namun matanya kembali menatap datar pada Luhan. menutupi ketegangannya.

“itu karena aku menghargai ayah mereka, sajangnim” jawab Taeyeon. Luhan tersenyum. “terimakasih” ucapnya. Taeyeon memutarkan bola matanya.

“ZiYu dan JiKyo lahir dihari ulang tahunku ‘kan?” tanya Luhan. Taeyeon menatap Luhan dalam. “darimana kau tahu?” tanya Taeyeon sarkatis.

Luhan tertawa kecil. “Hwang Tiffany” jawabnya. Taeyeon mendengus. ‘yeoja itu..’ batin Taeyeon kesal. “jadi begini…” ucap Luhan dengan nada serius.

“mengenai kejadian 4 tahun yang lalu aku benar-benar minta maaf padamu, Taeng” ucap Luhan serius sambil menatap mata Taeyeon dalam.

Taeyeon tak menyahut, berusaha untuk tidak menjawab tatapan indah itu. “saat itu kau tahu aku sedang kacau ‘kan? Aku baru saja diberitahu akan memimpin perusahaan mendiang ayah diusia muda. Aku juga baru mendapat kenyataan bahwa kekasihku berselingkuh dihadapanku” ucap Luhan. “jadi aku…”

Taeyeon merasa seperti sesak nafas mendengar ucapan Luhan jadi ia memutuskan untuk memotongnya. “itu hanya masa lalu, Xi sajangnim. Mengingatnya hanya akan membuka luka lama” ucap Taeyeon.

Luhan memandang Taeyeon tak percaya. “kau memaafkanku?” tanya Luhan tak percaya. Taeyeon berusaha tersenyum walau sangat sulit.

“aku sudah memulai kehidupan baruku bersama kedua anakku. Dan selama ini aku rasa tak ada masalah” ucap Taeyeon.

“syukurlah” ucap Luhan lega. “maka dari itu, anda tak perlu khawatir, Xi sajangnim. Anda tak perlu takut jika nanti orang mengetahui anda mempunyai anak yang tidak diinginkan. Aku bisa menutupinya.” Ucap Taeyeon.

“eh?!” kaget Luhan. bukan ini yang diinginkan. Taeyeon salah paham. Luhan berniat mempertanggung jawabkan perbuatannya pada Taeyeon dengan mengakui ZiYu dan JiKyo sebagai anaknya. Kini Taeyeon malah berbicara seakan Luhan memohon agar tak memberi tahu siapa ayah ZiYu dan JiKyo sebenarnya.

“tentu saja kami tidak akan mengganggu kehidupan anda yang sempurna ini. Kami sudah mempunyai kehidupan sendiri. Kami tak akan menganggu anda” ucap Taeyeon.

“taeng..” ucap Luhan. “mungkin akan sedikit sulit menutupinya mengingat wajah kalian bertiga sangat identik. Tapi aku akan mengatasinya. Karena aku pernah berjanji padamu dulu.. ‘apapun yang terjadi kita tetap teman’ dan aku harus menepatinya” potong Taeyeon sambil berusaha tersenyum.

Luhan terdiam untuk beberapa saat. “tapi… bisakah aku bertemu dengan anak-anakku?” tanya Luhan pelan. mungkin lebih baik ia diam daripada Taeyeon menganggapnya sebagai orang yang tidak tahu diri jika ia meminta dipanggil ‘appa’ oleh kedua anaknya sementara dulu ia tak mau mengakui mereka. Luhan memang baru bertemu sekali dengan anak-anaknya. Tapi bukan berarti ia tak perduli ‘kan? Dan entah mengapa walaupun hanya satu kali Luhan merasa sangat menyayangi kedua anaknya itu.

Taeyeon memandang Luhan lama membuat Luhan gugup. “baikah. Mereka juga anak anda, Xi sajangnim” ucap Taeyeon sambil memaksakan tersenyum.

Luhan merasa senang. “terimakasih” ucapnya sambil menggenggam tangan mungil Taeyeon yang berada diatas meja yang sama dengannya reflek membuat Taeyeon kaget dan tegang.

“aku tak menyangka kau sedewasa ini, Taeng. Kau memang sahabatku yang terbaik” ucap Luhan membuat Taeyeon sedih. Ini membuat rasa cintanya kepada pria yang tengah menggenggamnya ini semakin besar dan itu menyesakkan saat menyadari semua kenyataan yang ada.

“y..ya” kilah Taeyeon sambil melepaskan genggaman tangan Luhan. tidak, ini terlalu cepat. Seharusnya tidak seperti ini.

.

.

.

SKIP

 

Taeyeon melihat jam tangan yang melingkar di tangannya. Ini sudah lewat dari jam menjemput ZiYu dan JiKyo. Sekarang Taeyeon merasa khawatir.

“Taeyeon!” panggil Luhan saat Taeyeon berjalan melewati ruangan kerja Luhan. “maaf Xi sajangnim. Aku harus menjemput anak-anakku” ucap Taeyeon lalu membungkuk pada Luhan dan pamit.

“Taeng!” panggil Luhan lagi dan kini ia menggenggam tangan kanan Taeyeon. “waeyo?” tanya Taeyeon. kini nada bicara Taeyeon tak lagi mengeluarkan aura(?) permusuhan seperti yang lalu. Kini lebih ramah walau sedikit sarkatis. Itu wajar mengingat apa yang sudah Luhan lakukan padanya dan Luhan memaklumi itu.

“bolehkah aku ikut?” tanya Luhan gugup. Taeyeon terdiam sesaat. “tentu saja” ucapnya sambil tersenyum tipis.

Luhan menunjukkan senyum sumringahnya dan melepaskan genggaman tangannya dan mengikuti langkah Taeyeon menuju parkiran.

“silahkan masuk, sajangnim” ucap Taeyeon dari dalam mobil saat melihat Luhan terdiam. “eoh?! Baiklah!” ucap Luhan sambil memasuki mobil Taeyeon dan duduk disamping Taeyeon.

Taeyeon melajukan mobilnya dan mulai berjalan menuju sekolah anak-anaknya. “Taeyeon” panggil Luhan.

“ne?” tanya Taeyeon tetap fokus pada kemudi. “kau tak perlu memanggilku dengan sebutan sajangnim seperti itu. Cukup Luhan saja. Aku merasa seperti sudah tua. Hehe… lagipula kita ‘kan berteman” ucap Luhan memecahkan keheningan.

Taeyeon memandang Luhan sekilas. “kau boss ku. Mana mungkin aku memanggil boss ku dengan namanya” ucap Taeyeon.

“tapi aku lebih menyukai panggilan lulu mu” ucap Luhan. Taeyeon terdiam. “itu… panggilan masa lalu. Sekarang kita sudah dewasa. Tidak mungkin jika aku masih hidup dimasa lalu’kan?” ucap Taeyeon.

Luhan menghela nafas. “aku lebih suka hidup dimasa lalu” ucap Luhan sambil mengerucutkan bibirnya. Taeyeon tersenyum simpul. “aku juga” gumamnya sangat pelan bahkan Luhan tak bisa mendengarnya.

.

.

.

Taeyeon memberhentikan mobilnya didepan sebuah gedung sekolahan yang tentu saja sekolah anak-anaknya itu.

“mereka bersekolah disini?” tanya Luhan sambil memandang sekitar dari balik kaca. “ne” jawab Taeyeon.

“kembali ke masa kecil…sepertinya menyenangkan” ucap Luhan sambil terus menatap penuh arti pada gedung bertingkat itu. Taeyeon menundukkan kepalanya, meresapi setiap kata menyesakkan yang keluar dari mulut Luhan itu.

“apa kau mau turun, sajangnim?” tanya Taeyeon sambil membuka pintu mobilnya. Luhan tersenyum dan mengikuti Taeyeon keluar dari mobil milik Taeyeon ini.

“mana mereka?” tanya Luhan antusias. Ia sudah tak sabar untuk bertemu kembali dengan putra-putra nya.

“itu dia!” ucap Taeyeon. Luhan melihat kearah yang Taeyeon tunjuk. Ia bisa melihat dua bocah kembar yang sedang terdiam. Luhan tersenyum melihat Taeyeon berlari kearah anak-anaknya.

“ZiYu! JiKyo!” seru Taeyeon membuat bocah kembar yang sedang terdiam itu menoleh. “eomma!!!” seru mereka sambil berlari dan memeluk Taeyeon dengan erat.

“bogoshipppeo…” ucap Taeyeon. Luhan berjalan lambat kearah mereka sambil terus memasang senyum cerahnya.

Taeyeon terus memeluk mereka sampai ia tersadar salah satu dari mereka mengeluarkan sebuah isakan, tentu saja Taeyeon langsung melepaskan pelukannya.

Dan Taeyeon bisa melihat mata sembab JiKyo. “waeyo?..” tanya Taeyeon lembut. Bukannya menjawab putra bungsunya itu malah kembali memeluk Taeyeon.

“JiKyo… ada apa sayang?” tanya Taeyeon lembut sambil mengelus punggung mungil putra bungsunya.

“eomma…” panggilnya. ZiYu yang melihat kejadian itu hanya terdiam. “kalian bertengkar?” tanya Taeyeon pada ZiYu. ZiYu menggeleng dan ikut memeluk Taeyeon. Taeyeon yakin ZiYu tak akan berbohong.

“hey… jangan bersedih… ada paman Luhan disini” ucap Taeyeon yang membuat kedua putranya itu melepaskan pelukannya. “mana eomma?! Mana?!” tanya mereka antusias sambil melompat-lompat.

Luhan yang berada dibelakang ZiYu dan JiKyo hanya terkekeh geli. Taeyeon menunjuk Luhan membuat anak kembar itu berbalik kehadapan Luhan.

“paman!!!” seru mereka sambil memeluk Luhan. Luhan tersenyum senang. “annyeong..” sapanya sambil membalas pelukan kedua anaknya itu.

“paman datang belcama eomma?” tanya JiKyo melepaskan pelukannya. Luhan mengangguk. “paman, ZiYu merindukan paman..” rengek ZiYu. Luhan tertawa. “paman ‘kan sudah ada disini… paman mau bermain dengan ZiYu dan JiKyo..” ucap Luhan.

“acikkk!!!” seru JiKyo dan diikuti ZiYu. “kenapa tadi kalian sedih?” tanya Luhan. mereka yang tadinya melompat-lompat kini terdiam sambil melirik satu sama lain. Mereka menggeleng kompak.

“hayoo… ada apa?” tanya Luhan lembut. Ia merasa senang saat kedua anaknya memeluknya dengan erat. Apa jika dulu ia mau mengakui ZiYu dan JiKyo ia bisa lebih bahagia daripada ini? Sekarang ia benar-benar menyesali perbuatannya.

“baiklah! Ada yang lapar?” tanya Luhan saat merasakan aura kesedihan kembali memasuki kedua anaknya. “mau! Mau!” seru mereka dengan mata berbinar. Taeyeon yang melihat tingkah kedua anaknya malah terkekeh geli.

Mereka berempat berjalan menuju mobil Taeyeon. “apa aku boleh mengendarai mobilmu, Taeng?” tanya Luhan sedikit gugup.

“tentu” jawab Taeyeon ramah sambil memberi Luhan kunci mobilnya. Luhan tersenyum lalu memasuki mobil putih itu diikuti Taeyeon. ZiYu dan JiKyo dengan sumringah berlomba memasuki mobil mereka.

 

“apa kau lapar Taeng?” tanya Luhan sambil memandang Taeyeon yang duduk disampingnya saat mereka diperjalanan menuju restoran. Taeyeon menoleh. “eee…”

“ya! Kau lapar! Baiklah ayo kita makan! Aku sedikit hafal jalan didaerah sini!” potong Luhan karena ia tak mau mendengar sebuah penolakan dari Taeyeon.

Taeyeon menghela nafas. Luhan tidak berubah, ia masih suka memotong ucapan orang dan itu menyebalkan.

Mobil putih itu kini sudah berhenti disebuah restoran. “ayo!” ajak Luhan sambil keluar dari mobil Taeyeon dan berjalan membuka pintu dibelakangnya. Membantu ZiYu dan JiKyo.

ZiYu turun duluan diikuti oleh sang adik yang turun digendongan Luhan karena kesal tidak turun duluan.

Sambil menggendong JiKyo dan menggandeng ZiYu (ZiYu dan JiKyo mau selalu didekat Luhan) ia memanggil Taeyeon yang masih dibelakangnya sebelum memasuki restoran itu.

Mereka duduk disebuah meja yang khusus 4 orang. “ZiYu dan JiKyo mau makan apa?” tanya Luhan sambil menumpukkan kedua tangannya dimeja.

“udang goleng, paman! Udang goleng!” jawab si bungsu. “kalau ZiYu?” tanya Luhan. “bibimbap paman!” jawab si sulung sambil menyengir. Luhan tersenyum lalu beralih kepada Taeyeon.

“kalau kau, Taeng? Kau mau makan apa?” tanya Luhan dengan senyum manisnya. Taeyeon menjadi gugup. “umm… samakan saja dengan ZiYu, sajangnim” imbuh Taeyeon sambil memalingkan wajahnya kearah lain.

Luhan sedikit melunturkan senyumannya melihat reaksi Taeyeon sebelum memanggil pelayan restoran itu. Ternyata Taeyeon belum benar-benar memaafkannya.

Selama menunggu makanan datang Luhan menyempatkan untuk mengobrol dan mengajak bercanda anak-anaknya, ia ingin mengenal lebih dekat kedua rusa kecilnya. sementara Taeyeon? ia hanya diam dan sesekali menjawab dengan seadanya pertanyaan yang dilontarkan Luhan.

Makanan pun datang. Mereka juga mulai memakan makanan yang sudah tersaji didepan meja. Luhan, ZiYu dan JiKyo memakan makanannya dengan lahap berbeda dengan Taeyeon. Luhan lihat ia hanya mengaduk dan sesekali menyuapkan makanannya.

“apa kau sedang tidak enak badan?” tanya Luhan berbasa-basi. “t..tidak. aku baik-baik saja” jawab Taeyeon. “apa mau kupesankan sup?” tanya Luhan lagi. “tidak usah, terima kasih” lagi, Taeyeon kembali menolak Luhan. Luhan yang merasa pasrah hanya mengangguk dan kembali melahap makanannya.

.

.

.

“ayo pulang!” seru Luhan setelah keluar dari restoran sambil menggandeng lengan mungil anak-anaknya. Sepertinya Luhan mempunyai trik sendiri untuk membuat kedua bocah kembar itu selalu ingin menempel padanya.

“sajangnim” ucap Taeyeon saat Luhan sudah memasukkan(?) ZiYu dan JiKyo ke mobil. Luhan menoleh tentu saja. “nde?” tanyanya lembut sambil tersenyum ramah.

“memangnya kau tahu rumahku?” tanya Taeyeon. seketika Luhan seperti dilempar dari lantai 7 gedung kantornya. “eee… t..tidak” jawabnya kikuk sambil mengusap tengkuknya dan tersenyum bodoh.

Taeyeon menghembuskan nafasnya. “baiklah aku yang akan mengemudi” ucap Taeyeon lalu berjalan menghampiri Luhan.

Luhan memberikan kunci mobil milik Taeyeon lalu berjalan menuju kursi penumpang disamping kursi kemudi yang tadi Taeyeon tempati.

‘babo!’ rutuknya pada diri sendiri.

.

.

.

Luhan menatap rumah minimalis itu, sederhana namun terlihat hangat dan nyaman. “jadi ini rumahmu?” tanya Luhan saat mereka sudah turun dari mobil.

“ya” jawab Taeyeon singkat sambil menggandeng tangan anak-anaknya yang sudah terlihat mengantuk itu.

“syukurlah” ucapnya tanpa sadar. “jadi kau berfikir aku tinggal disebuah rumah kumuh dipinggir jalan?” tanya Taeyeon sarkatis. Luhan menjadi kikuk. Ya, ia awalnya berfikir Taeyeon tinggal ditempat seperti itu. Bodoh memang mengingat Taeyeon dari keluarga mana berasal.

“jadi bagaimana kau akan pulang sementara mobilmu ada dikantor, sajangnim?” tanya Taeyeon. Luhan terkesiap.

“astaga!” rutuknya. Taeyeon menghembuskan nafasnya kasar. “kau boleh membawa mobilku” ucap Taeyeon tanpa senyuman.

“eh?”

“aku bisa menggunakan taksi besok” imbuhnya. “tapi…”

“ini sudah malam, sajangnim. ZiYu dan JiKyo juga sudah mengantuk. Kau boleh pulang keapartmenmu” ucap Taeyeon.

“paman Luhan mau pulang?” tanya ZiYu sedih. JiKyo yang tadi sudah menutup mata dengan posisi berdiri sontak terbangun tatkala mendengar suara hyung nya.

“ne. Paman harus pulang” jawab Luhan lembut. Kedua anak itu merubah wajah imut mereka menjadi cemberut.

“kita kan belum belmain. Paman cudah mau pulang…” ucap rusa bungsu itu sambil mengerucutkan bibirnya kesal.

“ini sudah malam ZiYu, biarkan paman Luhan pulang. kalian juga sudah mengantuk” peringat Taeyeon. membuat kedua wajah imut itu terlihat masam.

“maafkan paman… ah! Besok paman akan bermain kesini!” ucap Luhan dengan senyum lebarnya. ia merasa bangga pada diri sendiri saat sudah menemukan ide yang tepat agar bisa mengunjungi anak-anaknya kembali.

“eh?!” kaget Taeyeon. “besok pagi aku akan menjemput kalian” ucapnya dengan senyum khas Xi Luhan.

“benal, paman?!” tanya JiKyo dengan mata berbinar. Luhan mengangguk, sebenarnya ia sangat ingin memeluk dan mengelus kepala anaknya itu tapi pasti Taeyeon tak akan mengijinkannya.

“paman janji?” tanya ZiYu sambil mengacungkan kelingking mungilnya. Luhan melebarkan senyumnya dan mengait kelingking ZiYu dengan kelingking besarnya. “janji” ucapnya.

“dengan JiKyo?” tanya JiKyo sambil mengangkat tinggi-tinggi jari kelingkingnya. Luhan terkekeh lalu mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking anak bungsunya itu.

“baiklah paman harus pulang. annyeong…!” ucap Luhan sambil memasuki mobil Taeyeon. “dah.. paman Luhan!” seru kedua anaknya. Taeyeon yang sedari tadi hanya terdiam perlahan memunculkan senyumannya.

“annyeong, Taeng!” seru Luhan dari dalam mobil yang mesinnya sudah menyala itu. “ne” balas Taeyeon sambil menundukkan kepalanya sekilas.

Mobil putih milik Taeyeon itu pun sudah melaju. Kini hanya tinggal ia dan kedua anaknya. “ayo” ajak Taeyeon pada kedua anaknya yang sudah mengantuk itu untuk memasuki rumah mereka.

.

.

.

“eomma…” panggil kedua anak kembar itu. “ne?” tanya Taeyeon. “malam ini…. tidul belcama hyung dan JiKyo lagi, ne?!” ucap JiKyo sambil mengucek matanya yang sudah sangat mengantuk itu dengan gerakan imut.

“ne” Taeyeon tersenyum. Bocah kembar itu menaiki kasur king size dengan seprai berwarna biru itu dan menidurkan tubuh mereka di kasur itu.

Taeyeon tersenyum lalu mengikuti kedua anaknya membaringkan tubuhnya. “eomma… celamat tidul..” ucap JiKyo sambil memperpendek jarak tubuh mungilnya ketubuh Taeyeon.

Sementara sang kakak sudah terlelap walau sebenarnya Taeyeon menginginkan ucapan selamat tidur dari sisulung itu. ZiYu dan JiKyo pasti sangat lelah.

Taeyeon mengelus rambut kedua anaknya yang sudah terlelap itu namun berhenti saat melihat sebuah luka yang berada didahi putih JiKyo yang sedari tadi tertutup oleh poni ratanya.

Sontak saja Taeyeon menjadi khawatir dan merubah posisinya menjadi duduk. Dengan perlahan karena tak ingin membangunkan keduanya ia turun dari ranjang dan mengambil kotak P3K yang berada di nakas dekat lemari anaknya.

Ia berjalan mendekati JiKyo sambil meneteskan obat merah kekapas dan membalurinya ke area luka didahi putih itu.

Sebuah erangan entah tidak suka atau kesakitan keluar dari mulut si bungsu membuat Taeyeon menghentikan sejenak aktifitasnya.

Ia meniup-niupkan luka itu perlahan. Sebenarnya Taeyeon bingung. JiKyo sering sekali mendapati luka kecil jika sudah pulang dari taman kanak-kanak. Walaupun ZiYu juga tak jarang.

Taeyeon bahkan sempat berfikir jika teman-teman disekolah mereka Yang melakukannya karena tidak suka dengan keberadaan ZiYu dan JiKyo yang notabene adalah anak kembar yang tak memiliki seorang ayah. Atau mungkin, para guru disana juga memperlakukan ZiYu dan JiKyo berbeda dari anak lain dan menganggap mereka aib bagi sekolah bertaraf internasional itu.

Tapi Taeyeon selalu menepisnya. Mana mungkin anak TK berani melakukan hal kejam seperti itu pada anak-anaknya.

Huffttt…. memikirkan hal seperti itu hanya akan membuat otaknya semakin pusing. Lebih baik ia memikirkan kesehatan kedua anaknya ketimbang hal-hal yang tak berguna macam itu.

Terlebih sekarang Luhan kembali datang kedalam hidupnya dan berusaha menunjukkan bahwa ia adalah sosok ayah yang pantas bagi ZiYu dan JiKyo.

Hidup memang rumit

Sebenarnya apa yang tuhan rencanakan?

 

 

 

 

 

 

TBC

 

A/N : haihai! Akhirnya bisa lanjutin God Plan chap 5 juga. Hehe… apa readers udah pada kangen sama ZiYu dan JiKyo? Maaf kan author yang udah kirim ff nya ini lama banget T^T ada beberapa kendala… mianhae… readers suka chapter ini?apa udah sedikit panjang? Atau pendek seperti biasa? Kalau masih pendek maafkan author ya…mungkin hanya segitu aja kemampuan author. Author belum se-profesional author yang lain. Disini author buat Luhan kaya berusaha meyakinkan Taeyeon bahwa ia adalah ayah yang baik untuk sikembar.

Sikap Taeyeon juga agak mendingan daripada yang pertama kali bertemu. Haha… aku janji bakal sisipin LuTae moment kok 😉 rasanya gak afdol kalau ngga ada momment mereka. Lanjut? Comment juseyooo… 😀

Advertisements

122 comments on “[FREELANCE] God Plan (Chapter 5)

  1. sukaa sukaa sukaa chapter ini..
    Gasabar ii next chapternyaa..
    Mungkin lama2 luhan bakal jatuh cinta jg yaa sama taeng..
    Kai ga muncul lg thor? ky nya seru klo kai ternyata suka gtu k taeng, dan akhirnya bikin cemburu luhan.. hha
    Maaf ngayall..
    Oke deh.. ditunggu selalu yaa thor..
    Semangatt 🙂

  2. thorr kependekan panjangin lg boleh?
    tapi seru, gak bisa ngebayangin Taeyeon manggil Luhan sajangnim padahal Luhan ayah dari ziyu sama jikyo. -_- dan si ziyu ama jikyonya manggil luhan paman kan lucu -_-
    seru thorrr 🙂 ditunggu kelanjutannya ^u^

  3. thor kapan ff nya mahu diupdate ? penasaran TT TT
    Luhan ama Taeyeon yah pantas aja punya bocah kembar itu xD siapa aja yang berani pukulin anak LuTae -_- mahu dibunuh ? hahaha -,- emosi banget xD Btw ff nya asiikkkk bangetttttt ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    FIGHTING!!!!!!!!!

  4. kekeke~~~
    ini chap bgus thor
    next chap klu bs banyakin moment lutae nya
    klu bs ada kai yang jd pihak ketiga
    brharap luhan suka sm taeng trus cemburu lihat kedekatan taeng ma kai
    hehe psti seru
    aigoo gk sbr
    next chap thor, jangan lama2 keburu lumutan ni ff #brcanda 😀
    hwaiting

  5. Thor, aku liat commentnya gak dikit, malah banyak banget! Tpi kok gak dilanjutin sih? lanuytin juseyo… oingin tau kelanjutannya… jangan ngilang dong…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s