My Princess, Kim Taeyeon (Chapter 5)

my-princess-kim-taeyeon

Bina Ferina’s Present

Main Cast :

KIM TAEYEON

KIM JUNMYEON (SUHO)

XI LUHAN

PARK CHORONG

All of Artists SM. Entertainment

Genre :

ROMANCE, SCHOOL-LIFE, FRIENDSHIP

Rating :

PG 17

Artworker :

Very much thank you, dear^^ –> rosaliaaocha – ExoShidaeFFandGrapchics

A/N :

Mari dibaca^^ hope you’ll be like my new fanfic! Alurnya ceritanya SANGAT BIASA, mungkin juga udah sering baca. Tapi aku akan berusaha lebih keras agar FF ini ngga TERLALU BIASA untuk para ReaderSetiakuu #chu. Happy reading^^

~~~

“Apa kabarmu saat ini, Jae Won-ah?”

“Yah, aku baik hingga saat ini. Setidaknya kehidupanku mulai stabil. Perlahan-lahan aku bisa bangkit dari keterpurukanku,”

“Tentu saja. Bagaimana bisa setiap hari kau terus meratapi kesedihan? Kau itu sosok yang pantang menyerah. Itu yang membuatku kagum. Kau mirip anak-anakmu,”

“Gomawoyo. Ini juga karena semua nasihat-nasihatmu yang membangun. Dan bagaimana dengan keadaan anak-anakku? Terutama Taeyeon. Apa dia baik-baik saja di Whimoon?”

“Keadaan Taeyeon kupastikan baik-baik saja,”

“Kau berbohong lagi, Sooman-ah. Di Whimoon High School tidak ada anak miskin yang tidak apa-apa. Fisik anakku memang tidak apa-apa. Tapi bagaimana dengan batinnya?”

“Aku tahu kau tahu kalau aku bohong. Tapi seharusnya kau juga tahu, kalau anak gadismu itu sangat mengagumkan. Walaupun ia menerima banyak sekali olok-olokkan dari beberapa siswa, tapi dia tetap kuat dan tersenyum dengan ceria seperti biasanya. Aku tahu Taeyeon pasti merasa sedih. Terkadang mungkin juga ia jenuh dan ingin berhenti sekolah di sana. Tapi tekadnya yang kuat untuk membahagiakan keluarganya mengalahkan semua kesedihan di hatinya. Selama ini aku memerhatikannya, Jae Won-ah. Dan, mirip denganmu, dia kuat menahan cobaan selama sekolah di sini, di tambah lagi dengan menjadi Ketua Murid,”

“Ketua Murid? Kau pasti ingin membunuh anakku perlahan-lahan. Sooman-ah, beban yang kau berikan pada Taeyeon terlalu berat. Dia itu seorang perempuan. Dan aku jauh darinya. Aku tidak bisa ada di sana saat Taeyeon membutuhkanku. Kau membuatku tidak tenang, kau tahu?”

“Kau harus percaya pada Taeyeon, Jae Won-ah. Ingat, dia bukan putrimu yang cengeng. Aku yakin dia bisa. Bisa menghapus diskriminasi di sekolah ini dan menunjukkan prestasi cemerlangnya walaupun dia bukan berasal dari keluarga konglomerat. Percayalah padaku, dan pada anakmu,”

Seseorang yang bernama Jae Won, yang berada di seberang telepon Lee Sooman, hanya menghela nafas panjang. Ayah dari Kim Taeyeon itu diam untuk beberapa saat.

“Apa kau tidak ingin melihat anakmu? Berapa lama kau tidak bertemu dengannya? Kurasa inilah saat yang tepat. Whimoon Senior High School akan mengadakan pesta dansa untuk menyambut Ketua Murid baru. Otomatis anakmulah yang menjadi sorotannya. Dia akan berdansa selama beberapa jam dengan partner-nya. Apa kau tidak ingin datang dan melihat putrimu yang cantik sudah tumbuh dewasa dan lebih anggun?”

“Dengan siapa dia berpasangan?”

“Kau bisa melihatnya sendiri di pesta itu. Itu sebabnya, segeralah pulang ke Korea dan lihat anakmu,”

“Sooman-ah. Apa dugaanku benar? Kau memasangkan anakku dengan anaknya?”

Mr. Lee terdiam. Dengan diamnya Mr. Lee, ayah Taeyeon sudah tahu jawabannya apa.

“Wae? Kau berniat mau menyatukan kami lagi? Kau ingin aku dan dia seperti dulu lagi? Dan kau tahu jawabannya apa, ‘kan? Sebelum dia datang padaku dan memohon maaf di bawah kakiku, aku tidak akan pernah memaafkannya. Aku tidak akan pernah mau mengenalnya,”

“Dan suatu saat itu akan berdampak buruk untuk anakmu,” ujar Mr. Lee pelan. “Apakah itu artinya kau tidak mau datang? Kau lebih mementingkan egomu daripada anakmu?”

“Aku akan minta izin pada Taeyeon. Taeyeon pasti paham. Aku khawatir pestanya akan hancur kalau aku dan dia bertemu,”

Mr. Lee menghela nafas lelah. “Baiklah, terus saja seperti itu. Kalian berdua memang kekanak-kanakkan,”

~~~

“Annyeong my partner,” sapa Luhan dengan senyumannya manis. Tapi bagi Taeyeon, senyuman itu adalah senyuman yang menikam jantung dan seluruh sel-sel yang ada di tubuhnya.

Luhan melangkahkan kakinya perlahan-lahan mendekati Taeyeon. Taeyeon tidak bisa berkata apa-apa saking terkejut dan takutnya. Ingatannya melayang ke kejadian di kantor Ketua Murid itu. Ia tidak ingin itu terulang kembali. Waktu itu mereka masih di dalam gedung sekolah. Tapi sekarang? Hanya mereka berdua di dalam kamar yang dilengkapi dengan peredam suara. Siapa yang akan menolong dirinya?

“Ma… mau apa kau?” tanya Taeyeon gelagapan. Ia mundur ke belakang saat tubuh Luhan semakin lama semakin mendekat. Hingga akhirnya mereka berdiri berhadapan.

Mata Luhan berkilat seakan-akan ia menemukan mangsa baru yang siap ia lahap detik itu juga. Taeyeon berusaha bersikap tenang dengan menatap mata Luhan. Ia ingin menunjukkan padanya kalau dirinya tidak takut. Luhan pasti merasa menang kalau ia ketahuan sedang merasa takut.

“Kenapa kau mengunci pintunya? Aku bukanlah perempuan-perempuan Madam. Aku hanya membantu mengantar minumannya saja. Sekarang cepat berikan kuncinya padaku,” pinta Taeyeon. Suaranya agak gemetar.

“Ternyata kau bekerja di sini selama ini, Kim Taeyeon? Kim Taeyeon yang dijuluki gadis yang tidak tahu apa-apa, gadis yang masih bersih. Apa semua julukan itu hanya kebohongan belaka? Apa wajahmu yang sok polos itu hanya topeng agar semuanya tertarik padamu? Dan, ya. Suho memang sekarang mendekatimu, ‘kan? Apa ya kira-kira opini orang-orang di sekolah kita mengenai dirimu yang bekerja di club?” tanya Luhan dengan memasang senyum evil-nya.

“Aku tidak bekerja di sini. Aku di sini hanya menunggu kakakku. Kau ingin menyebarluaskan masalah ini? Silakan, karena aku tidak peduli. Kenapa? Karena itu sama sekali tidak benar. Aku hanya membantu Madam. Dan betapa bodohnya aku ternyata di balik semua ini adalah dirimu,” jawab Taeyeon marah. “Sekarang, kembalikan kuncinya dan bersenang-senanglah dengan para perempuanmu!”

Taeyeon mengulurkan tangan kanannya, meminta kunci kamar itu dari genggaman Luhan. Luhan tidak berkata apa-apa. Dia hanya tersenyum memandang Taeyeon, yang semakin lama semakin was-was. Karena Luhan terus mendekatkan dirinya kepada Taeyeon, yang notabene langsung melangkah mundur ke belakang.

“Kau sudah ada disini, jadi buat apa lagi aku membutuhkan perempuan-perempuan itu? Setelah malam ini, kau bisa bekerja di sini  dan menghasilkan banyak won perharinya. Kau suka, ‘kan? Tidak akan ada menyadari keberadaanmu, karena ini rahasia kita berdua. Aku akan jaga mulutku baik-baik agar tidak ada yang tahu. Aku adalah penjaga rahasia terhebat,” ujar Luhan panjang-lebar dengan smirk-nya yang semakin kelihatan.

Jantung Taeyeon mencelos begitu telapak tangan kiri Luhan menyentuh pipi kanan Taeyeon. Dengan perlahan jari-jemari Luhan menyingkirkan anak rambut Taeyeon yang menempel di dahinya. Taeyeon menatap mata Luhan tanpa ekspresi. Ia menahan nafasnya ketika jarak di antara wajah mereka semakin terhapus. Manik mata Luhan yang indah fokus menatap manik mata Taeyeon yang tak kalah mempesonanya. Mereka saling bertatapan dengan intensnya. Mata Taeyeon yang kecokelatan membuat Luhan tidak bisa mengalihkan pandangannya satu detik saja. Ia merasa tersihir dengan mata itu.

Bayang-bayang dirinya yang tengah memeluk Taeyeon di atas tempat tidur king size-nya itu mendadak terbang entah kemana saat tangan kecil Taeyeon melepas telapak tangan Luhan dengan kasar dari wajahnya. Luhan sedikit terkejut. Dilihatnya tatapan Taeyeon berubah menjadi tatapan yang sangat dingin. Terlihat aura kebencian dan kemarahan yang amat sangat dalam di dalam mata itu. Meskipun begitu, kedua mata Taeyeon berkaca-kaca.

“Apa seburuk itu rakyat miskin di matamu? Apa serendah itu orang-orang yang ekonominya berada di bawah rata-rata di fikiranmu? Meskipun aku tidak berlimpangan harta kekayaan seperti dirimu, aku tidak memiliki ratusan ribu won di dompetku ataupun beberapa card, setidaknya aku masih punya harga diri yang sangat kujunjung tinggi, dan aku punya hak untuk melindunginya. Kenapa kau begitu kelewatan sampai-sampai menginjak-injak harga diriku ini? Apa orang yang tidak punya apa-apa sepertiku ini bahkan juga dianggap rendah harga dirinya?

“Kenapa kau membenci rakyat jelata?! Kau boleh membenciku dengan sepenuh hatimu, aku tidak peduli! Tapi aku tidak bisa terima kalau kau sampai memandang rendah harga diriku. Wae? Kau punya dendam kepada orang-orang sepertiku? Kenapa kau… menganggapku sama dengan para perempuanmu itu? Apa maksud omonganmu tadi?! Apa kau seorang manusia?! Kau seorang manusia tapi sama sekali tidak punya hati dan otak,”

Luhan hanya diam. Terlihat dari tatapannya, ia shock dengan penuturan Taeyeon. Emosi dan kesabaran Taeyeon yang selama ini ia pendam terus akhirnya meledak. Taeyeon tidak bisa menahannya terlalu lama. Terlalu pedih.

Air mata Taeyeon mengalir membasahi kedua pipinya. “Lebih baik kau menatapku seperti sampah daripada kau memintaku untuk menjadi salah satu budak nafsumu! Aku tidak apa-apa, sangat tidak apa-apa kalau kau membenciku atau punya perasaan ingin melenyapkanku. Tapi aku tidak terima dengan pandanganmu yang seakan-akan merendahkanku. Pandanganmu seakan-akan menjatuhkan harga diriku! Kau tidak akan pernah tahu Xi Luhan, untuk apa aku selama ini bertahan di dekatmu, di dekat orang-orang sepertimu!

“Kau tidak akan pernah tahu seperti apa perasaanku saat aku mengingat kedua orangtuaku yang sedang berjuang untuk anak-anaknya. Kau tidak akan pernah tahu. Itu sebabnya, jika kau terlalu membenciku, anggap saja aku tembok! Jangan pernah mengajakku bicara kecuali hal-hal yang penting. Bagiku juga, kau tidak lebih dari seseorang yang kesepian dan jauh dari kasih sayang orangtuamu,”

Luhan merasa jantungnya langsung tertohok dan kunci pintu ruangan itu terjatuh dari genggamannya. Ia menatap Taeyeon tanpa berkata apa-apa. Kedua tangannya mengepal erat dan wajahnya mengeras. Ia bahkan tidak bisa tersenyum mengejek seperti biasanya. Taeyeon tidak peduli. Ia segera merebut kunci pintu ruangan yang terjatuh itu dan langsung membuka pintunya. Terdengar bunyi pintu tertutup di belakang tubuh Luhan dan Luhan tahu, Taeyeon sudah pergi.

“Kau tidak lebih dari seseorang yang kesepian dan jauh dari kasih sayang orangtuamu,”

Luhan tersenyum kecil saat kata-kata Taeyeon terngiang kembali dalam benaknya. Kata-kata itu lebih sakit dari apapun di dunia ini.

~~~

“Babo!” rutuk Taeyeon pelan sembari mengusap air matanya yang membasahi kedua pipinya dengan cepat. “Kenapa aku harus menangis di depan laki-laki bodoh itu? Seharusnya aku tidak perlu membawa nama ayah dan ibu,”

Taeyeon terus mengutuki dirinya sendiri sambil terus melangkah menuju bartender. Ia melihat kakaknya tengah asyik mengobrol dengan seorang laki-laki di hadapannya sambil sesekali tertawa. Taeyeon mendekati kakaknya itu dan menarik lengan kemejanya, membuat Ji Woong mengalihkan wajahnya menatap Taeyeon.

“Ne?” tanya Ji Woong bingung.

“Oppa, aku ingin pulang,” jawab Taeyeon dengan suara seraknya.

“Taeyeon-ah?”

Sebelum Ji Woong sempat berkata apa-apa pada Taeyeon, laki-laki di hadapannya memanggil nama Taeyeon. Taeyeon menatap si laki-laki dan memicingkan sedikit kedua matanya. Cahaya di dalam club terlalu redup dan cenderung gelap, membuat Taeyeon tidak begitu jelas menatap orang-orang yang ada di sana. Namun, beberapa detik kemudian, ia dapat melihat dengan jelas wajah seseorang yang memanggilnya tadi. Senyumannya yang manis dan wajahnya yang tenang bak angel sangat tidak asing di mata Taeyeon.

“Suho-ah,” sapa Taeyeon dengan senyuman sumringahnya.

“Jadi ini yeodongsaeng yang kau ceritakan tadi, hyung? Orang yang sangat kukenal,” ujar Suho pada Ji Woong sembari menatap Taeyeon.

“Oppa menceritakan apa?” tanya Taeyeon penasaran.

“Aku hanya bilang kalau kau ada di sini. Baru saja aku mau menyebut namamu. Aku sudah menduga kalau kalian saling kenal,” jawab Ji Woong.

“Ji Woong hyung sempat bingung kau mendadak hilang entah kemana, Taeyeon-ah,” kata Suho.

“Dari mana saja kau?” tanya Ji Woong.

“Aku ada di ruang ganti,” jawab Taeyeon cepat.

“Aku baru dari sana,” sambung Suho. “Tapi aku tidak melihatmu,”

“Ne? Buat apa kau kesana?” Taeyeon balik tanya.

“Mencari Luhan,” jawab Suho.

Taeyeon terdiam. Entah seperti apa sekarang ekspresi yang sedang di tunjukkannya begitu ia mendengar nama Luhan. Untunglah club ini gelap, sehingga baik Suho maupun Ji Woong tidak curiga dengan perubahan air muka Taeyeon.

“Kau melihatnya?” tanya Suho lagi.

“Aku bahkan tidak tahu kalau dia ada disini,” jawab Taeyeon pelan.

Suho menganggukkan kepalanya sembari tersenyum kecil. Ia menatap Taeyeon dan memberikan pandangan yang seakan-akan memberitahu bahwa ia tahu Taeyeon sedang berbohong.

“Ah, apa kau melihat Luhan, Marie?” tanya Suho begitu seorang perempuan bertubuh sexy dan layaknya seorang model lewat di depan mereka bertiga.

“Dia pergi ke toilet. Mollaseo, tapi apakah ada hal yang membuat Lu ge marah? Dia bahkan tidak memberiku senyuman manisnya saat aku menyapanya. Tidak pernah dia mengacuhkanku. Ada apa dengannya?” sungut Marie.

Suho mengangkat kedua pundaknya, tanda ia tidak tahu apa-apa. Lalu, Marie pamit dan ia pergi ke meja nomor 12, yang isinya dipenuhi oleh laki-laki yang baru saja pulang kantoran. Setelah menatap kepergian Marie, Ji Woong kembali menatap Taeyeon.

“Kau mau pulang sekarang? Apa tidak apa-apa kalau kau sendirian? Bagaimana kalau sebentar lagi?” tanya Ji Woong.

“Oppa~,” rayu Taeyeon dengan memanyunkan bibirnya.

Suho tertawa kecil. “Bagaimana kalau aku saja yang mengantar adik kecilmu, hyung?”

“Eh?” tanya Taeyeon sedikit terkejut.

“Aku akan mengantarnya naik bus, otte? Jadi, kau tidak perlu khawatir karena aku yang bertanggung jawab sampai dia masuk ke dalam rumahnya. Lagipula, sudah lama tidak mengantar seseorang naik bus,” ujar Suho.

Taeyeon diam tidak menjawab. Ia menatap Suho dan menatap Ji Woong bergantian. Ji Woong tampak berfikir dan tidak lama ia pun mengangguk setuju.

“Besok kau juga harus sekolah. Aku tidak mungkin menahanmu lama-lama disini. Dan kalau dengan Suho, aku sangat percaya,” jawab Ji Woong dengan wajah sumringah. “Baiklah, hati-hati di jalan kalian berdua. Kalau kau sudah mengantuk, kau tidak perlu menungguku pulang, Taeyeon-ah,”

Taeyeon mengangguk. Ia dan Suho segera jalan beriringan keluar dari club. Begitu mereka keluar, Suho langsung menghirup dalam-dalam angin malam yang sepoi-sepoi. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.

Jogging di malam hari mungkin tidak buruk,” sahut Suho sambil menatap langit malam.

“Kau bilang, sudah lama tidak mengantar seseorang naik bus? Apa seseorang itu adalah… teman dekatmu dulu?” tanya Taeyeon penasaran.

Suho tidak menjawab. Ia hanya tersenyum menatap Taeyeon. “Kajja, kita harus cepat. Kau tidak ingin orang yang mengenalmu melihatmu disini, ‘kan? Apalagi kau ini Ketua Murid,”

Suho langsung menggenggam telapak tangan Taeyeon dan menariknya dengan lembut menuju halte bus yang jaraknya tidak begitu jauh. Taeyeon sedikit terkejut dan ia membiarkan tindakan Suho itu. Ia sudah menganggap Suho adalah guardian-nya.

“Apa itu? Apa dia memang benar-benar sudah melupakan Chorong?” tanya Xiumin pada Henry dan Luhan, yang tengah berdiri menghadap jendela di dalam ruang pribadi mereka. Mereka bertiga menatap Suho dan Taeyeon yang sedang jalan beriringan sambil berpegangan tangan.

“Ani,” jawab Henry pelan. Ia tersenyum penuh arti menatap mereka berdua. Raut wajahnya menunjukkan kalau ia tertarik sekali melihat pemandangan di bawah itu. “Suho belum benar-benar bisa melupakan Rongie. Ia masih berharap Rongie kembali,”

“Lalu itu?” tanya Xiumin sambil menunjuk ke arah Suho dan Taeyeon.

“Suho memang orang yang berhati lembut, Xiuxiu. Dia pasti ingin menebus kesalahannya yang dulu, saat ia tidak bisa melindungi orang yang dicintainya dari serangan para fans-nya. Dia tidak ingin melihat sesuatu yang tidak ingin dilihatnya seperti dulu,” jelas Henry.

“Suho harus benar-benar menjaganya kalau begitu. Terkadang seorang fans itu bisa melakukan apa saja untuk menyingkirkan perempuan yang sedang dekat dengan idolanya,” ujar Xiumin. Ia balik badan dan bergabung dengan Tao yang sedang bermain games di Ipad-nya.

Henry menatap kepergian Xiumin dan matanya kini teralih ke Luhan, yang sama sekali tidak berkedip memandang Suho dan Taeyeon yang sedang menunggu di halte bus. Bahkan saat mereka berdua sudah menghilang di dalam bus, Luhan masih menatap halte itu.

“Sepertinya sebentar lagi kalian akan bercermin,” ujar Henry dengan mimik serius. “Inilah yang namanya hidup, Luhan-ah. Karma itu ada. Kau akan merasakan apa yang pernah dirasakan Suho padamu,”

Luhan menatap Henry dengan tatapan tanpa ekspresi. Henry mengalihkan tatapannya ke Luhan. Ia tersenyum lebar sambil menepuk pundak kanan Luhan. Setelah itu, ia pun ikut menyusul Xiumin.

~~~

“Tidak ada yang berubah, ya? Tetap menyenangkan,” ujar Suho begitu bus perlahan-lahan mulai bergerak begitu mereka naik.

Taeyeon menatap Suho dengan rasa penasaran yang tinggi. “Sepertinya kenangan dengan temanmu itu begitu istimewa. Aku yakin dia pasti bukan teman kecil biasa,”

Suho diam sejenak. Ia memandang jauh ke depan, seperti menerawang. “Ya, dia sangat special untukku. Sejak kecil kami berteman akrab dan aku sangat mengagumi sifatnya yang sederhana. Sejak pertama kali bertemu dengannya aku sudah mengantarnya pulang naik bus, agar aku bisa menjaganya dari teman-teman sekelasnya yang sering mengolok-oloknya. Sudah pernah kuceritakan padamu kalau dia pergi dari Whimoon High School karena aku dan sekarang entah sekolah di mana. Aku hanya berharap dia mau memberi kabar. Sampai saat ini aku masih mencemaskan dia. Setidaknya, aku tahu kalau dia baik-baik saja,”

“Dia pasti kembali,” ujar Taeyeon pelan. Suho memandang Taeyeon dengan pandangan bingung.

“Wae?” lirih Suho.

“Karena kau adalah orang pertama yang selalu ada di sampingnya. Kau orang pertama yang membelanya mati-matian di hadapan teman-temannya. Bagi seorang perempuan, dibela dan dilindungi seperti itu adalah perlakuan yang sangat istimewa. Biarpun kau bilang kau adalah orang yang menyebabkannya menderita, tapi aku yakin dia tidak berfikir seperti itu. Dia pasti tahu perjuanganmu untuk melindunginya. Dan dia akan kembali karena dia merindukan perasaan hangat itu,” jelas Taeyeon. Ia tersenyum meyakinkan Suho.

“Ne, aku sangat berharap apa yang kau perkirakan itu akan menjadi kenyataan. Dan aku berjanji dalam hati, kalau dia kembali, aku akan mengutarakan perasaanku selama ini. Walaupun nantinya dia akan punya seseorang yang dicintainya, tapi aku akan tetap bilang. Aku tidak ingin perasaan ini terus membekas hingga aku sulit melupakannya,” tutur Suho.

“Kenapa kau jadi pesimis begitu?” tanya Taeyeon sedikit kesal.

Suho sedikit tertawa. Lalu ia menatap Taeyeon dalam-dalam. “Kau bilang dibela dan dilindungi adalah perlakuan yang istimewa, keutchi? Apa kau juga merasakan seperti itu padaku?”

“Ya, ya, ya. Meskipun begitu, yang membela dan melindungiku ada banyak. Heenim oppa, Yeollie, Fany, Sica, Sun-Sun, dan setelah itu dirimu. Apa kau fikir perlakuan istimewa itu kudapat darimu saja? Kau hanya besar kepala,” rutuk Taeyeon.

Suho kembali tertawa. “Aku berharap sekali padahal,”

Dan setelah itu, keduanya terdiam. Taeyeon fokus memandang jalanan di luar jendela bus sambil sesekali memerhatikan orang-orang yang lalu-lalang. Sedangkan Suho kembali mengingat perkataan Taeyeon yang tadi. Ia memang sangat berharap kalau gadis kecilnya itu kembali. Saking larutnya memikirkan cinta pertamanya itu, Suho tidak sadar telah memejamkan matanya dan tidur pulas di bangkunya. Ia menyandarkan kepalanya di bangku dan bermimpi indah. Ia bahkan tidak merasa terganggu ketika bus sedikit terguncang.

Bus berhenti tidak berapa lama. Taeyeon hendak bersiap untuk turun dengan kembali mengenakan jaket Ji Woong dan tasnya.

“Suho-ah, aku… Aigoo, kenapa dia bisa tertidur? Dasar babo,” ujar Taeyeon pelan.

Ia bingung mau membangunkan Suho atau tidak. Tapi melihat pulasnya tidur Suho, Taeyeon tidak berani membangunkannya. Ia pun memutuskan untuk membiarkannya saja.

“Pemberhentian bus ini akan berakhir di sekolah. Jadi, kau akan dibangunkan ahjussi di depan sekolah. Tidak apa-apa, ‘kan?” bisik Taeyeon sambil tertawa pelan pada Suho yang masih tertidur.

Sebelum dirinya benar-benar turun, Taeyeon melepas jaket kakaknya dan menyampirkannya ke tubuh Suho. Ia tersenyum kecil.

“Annyeonghigaseyo, Tuan Berkepala Besar. Terima kasih atas apa yang sudah kau lakukan padaku, dan tetap pertahankan cintamu, arra? Dia pasti kembali,”

Setelah mengucapkan hal itu pada Suho yang tertidur, Taeyeon langsung turun dari bus dan melangkah menuju jalanan ke rumahnya dengan santai. Saat Taeyeon turun, kedua kelopak mata Suho terbuka dan ia langsung menolehkan kepalanya menatap Taeyeon. Ia tersenyum lembut ke arah gadis itu dan tangannya memegang jaket Ji Woong.

“Gomawoyo,”

~~~

“Yeoboseo, eomma,” sapa Taeyeon dengan ceria saat ponselnya berdering di saku seragam sekolahnya, menandakan ada telepon masuk. Taeyeon sedang melangkahkan kakinya menuju gedung Whimoon Senior High School saat ia mengangkat telepon ibunya.

“Kau sudah berada di sekolah?” tanya Mrs. Kim di seberang telepon.

“Ne, wae eomma?” Taeyeon balik tanya.

“Aniyo, eomma hanya ingin memberitahu sesuatu padamu. Bukan hal yang begitu penting, jadi eomma akan memberitahumu setelah kau pulang sekolah saja,” jawab Mrs. Kim.

“Eoh, arraseo. Kalau begitu, aku tutup dulu, eomma. Annyeong,” pamit Taeyeon dan setelah ia mendengar balasan dari sang ibu, Taeyeon langsung memutuskan sambungan teleponnya dan kembali menyimpan ponselnya di dalam tas.

Ia menerka-nerka apa yang akan di sampaikan ibunya. Kenapa pagi-pagi begini ibunya menelepon demi memberitahu suatu hal? Kemungkinan itu adalah hal yang penting. Taeyeon terus melangkahkan kakinya sambil terus berfikir. Hingga seseorang menepuk belakang punggungnya dan fikiran itupun langsung buyar. Taeyeon terlonjak kaget dan ia menatap orang itu.

“Annyeong,” sapa Suho dengan wajah berbinar-binar. Senyumnya begitu lebar. Sepertinya ia senang karena habis membuat Taeyeon terlonjak kaget.

“Ya! Tidak bisakah kau menyapa dengan wajar? Kemana sifatmu yang lemah-lembut itu? Apa ini Kim Joonmyun yang ku kenal?” tanya Taeyeon pura-pura marah.

“Aku sudah berulang kali memanggilmu tapi kau tidak mendengarku. Salah siapa sekarang? Kenapa kau menyalahkanku?” Suho balik bertanya dengan mimik merana.

“Aiissh,” gerutu Taeyeon pelan.

Suho tersenyum, lalu ia ingat suatu hal. “Seharusnya aku yang kesal padamu. Kenapa kau kemarin malam meninggalkan aku sendirian di dalam bus? Apa kau tidak berfikir kalau bisa saja ahjussi itu membawaku kabur dan menculikku? Kalau itu terjadi padaku, kau mau bilang apa pada kedua orangtuaku?”

Taeyeon terdiam dan ia menatap Suho dengan pandangan menyesal. “Mianhae, aku tidak berani membangunkanmu. Kau sangat lelap dan mimpi indah. Jadi, aku biarkan saja. Lagipula ahjussi itu juga tidak akan membawamu pergi. Buat apa dia melakukan hal yang tidak berguna itu? Dan pemberhentian terakhir adalah sekolah. Kau bisa menelepon siapapun untuk menjemputmu, ‘kan? Khayalanmu saja yang terlalu berlebihan,”

Suho hanya menghela nafasnya dan ia kembali menatap ke depan, membuka pintu utama gedung Whimoon Senior High School dan masuk ke dalamnya. Taeyeon ikut di belakang dan buru-buru menyusul Suho.

“Keundae,” ucap Taeyeon saat ia sudah di samping Suho dan mereka kembali jalan beriringan. “Gomawo karena sudah mengantar dan menemaniku pulang,”

Suho menolehkan wajahnya dan menatap Taeyeon sembari ters; Venyum manis. Ia berhenti mendadak dan langsung membuka tasnya. Taeyeon terus saja melangkah tanpa menyadari Suho yang berhenti di tengah jalan. Dan lagi-lagi Taeyeon dibuat terkejut oleh Suho begitu lelaki itu menyampirkan sebuah jaket di belakang tubuh Taeyeon.

“Gomawo buat jaketnya. Setidaknya, aku merasa semakin nyaman saat tidur di bus,” ujar Suho. Ia tersenyum sangat manis pada Taeyeon.

Taeyeon melepas jaket Ji Woong dan ia menganggukkan kepalanya. Mereka kembali jalan beriringan menuju loker mereka sambil berbincang-bincang. Suho berhenti mengobrol ketika dilihatnya seseorang yang dikenalnya tengah bersandar di depan loker sambil melipat kedua lengannya di depan tubuhnya.

Taeyeon juga ikut diam begitu pandangannya menangkap sosok itu dan ia langsung menuju lokernya tanpa menunjukkan tanda-tanda bahwa ia melihatnya.

Suho mendekati sosok itu dengan wajah riang. “Luhan-ah, siapa yang kau tunggu di sini?”

“Oi,” panggil Luhan ke arah Taeyeon tanpa menjawab pertanyaan Suho. Suho ikut menoleh menatap Taeyeon, yang tidak menjawab saat di panggil Luhan.’

“Panggillah dengan menyebut namanya,” tegur Suho dan ia membuka pintu lokernya.

Luhan menatap Suho dan ia menghela nafas panjang, merasa malas melakukan apa yang disuruh oleh Suho. Sedangkan Taeyeon seperti pura-pura tidak mendengar mereka bicara. Ia sibuk mengambil buku-bukunya dan mengunci kembali lokernya.

“Suho-ah, aku…”

“Ya!” panggil Luhan, yang sudah berdiri di hadapan Taeyeon dan memotong omongannya.

Taeyeon membelalakkan kedua bola matanya dan ia menghembuskan nafas pendek. Matanya menatap Luhan dengan tatapan malas.

“Kalau kau kesini hanya untuk mengatakan hal yang tidak penting, lebih baik menjauh dari hadapanku. Masih banyak urusanku yang lain dan aku tidak mau membuang waktuku hanya untuk mendengar ocehanmu. Kalau kau ingin mengadukanku yang berada di club kemarin silakan, aku tidak peduli. Dan jika kau ingin menyudutkanku dengan perkataanmu, kau bisa melakukan itu nanti,” ujar Taeyeon dengan cepat. Ia menatap mata Luhan seolah-olah menantangnya.

“Apa kau fikir hanya dirimu yang punya urusan banyak? Kenapa kau begitu besar kepala? Aku kesini memang menunggumu, tapi bukan berarti untuk hal yang tidak penting. Jangan bicara seolah-olah aku ingin bertemu denganmu setiap hari,” jawab Luhan ketus.

“Sebaiknya kalian bicara baik-baik. Sesama Ketua Murid harus akur, ‘kan?” lerai Suho.

“Lalu, apa yang kau inginkan?” tanya Taeyeon cepat.

“Tidak perlu letak tas, langsung temui Mrs. Oh di kantornya,” jawab Luhan tak kalah cepat. Dan ia langsung membalikkan tubuhnya menuju kantor Mrs. Oh.

“Ck, geu namja,” gerutu Taeyeon pelan.

“Taeyeon-ah, kau harus cepat menyusul Luhan. Kalian harus pergi bersama. Mrs. Oh bisa mengamuk kalau kalian pisah-pisah. Jujur saja, sudah berminggu-minggu kalian menjadi Ketua Murid, tapi di antara kalian berdua tidak tercipta hubungan yang akur dan solid,” tegur Suho.

“Hubungan yang akur dan solid? Tidak akan mungkin,” jawab Taeyeon pelan. “Kalau begitu, aku susul temanmu itu dulu. Sampai nanti,”

Taeyeon melambaikan tangannya pada Suho dan ia buru-buru menyusul Luhan, yang kelihatannya sudah sangat jauh. Langkah laki-laki itu memang cepat dan panjang.

Suho hanya menghembuskan nafas dalam-dalam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya saat ia menatap kepergian Taeyeon.

~~~

“Kalian sudah diizinkan untuk tidak masuk kelas selama satu harian ini. Aku sudah memberikan surat keterangan izin kalian kepada guru masing-masing dan aku juga sudah membuatnya untuk Mr. Lee dan Mr. Kim. Surat izin ini special karena ini menyangkut acara besar kalian. Jadi, mari kita bersiap-siap ke bawah. Mobil kita sudah menunggu, kajja,”

Mrs. Oh membereskan tumpukan dokumen-dokumen penting yang beserakan di atas meja kerjanya dan menyimpannya di rak buku. Ia langsung mengambil tasnya dan memberi anggukan singkat kepada Luhan dan Taeyeon agar mereka mengikutinya keluar kantor.

Luhan menatap Taeyeon singkat dan mereka berdua menyusul di belakang Mrs. Oh. Di luar gedung Whimoon Senior High School, sudah terparkir rapi dua mobil mewah dan elegan Audi R8 yang berwarna putih.

“Kalian berdua, naik ke dalam mobil. Kita tidak punya banyak waktu, ppali,” ujar Mrs. Oh dan ia langsung naik ke dalam salah satu mobil itu.

Sambil menghela nafas dengan malas, Luhan juga ikut naik ke dalam mobil Audi R8 yang satunya lagi.

“Taeyeon-ah neo eodiga?” tanya seorang perempuan yang suaranya sangat dikenal Taeyeon.

Taeyeon menolehkan wajahnya menatap Sunny dan tersenyum ceria. “Aku tidak masuk hari ini. Sampaikan kepada yang lain, ne? Sampai jumpa besok,”

“Ya, kau mau kabur dari pelajaran Jung seonsaengnim, ‘kan? Neo eodiga?” tanya Sunny.

Taeyeon tersenyum lebar. “Aku akan memberitahu kalian nanti malam. Annyeong,”

“Ya, Kim Taeyeon! Sampai kapan kami harus menunggu?” tanya Luhan dengan wajah kesal di balik jendela mobil yang ia buka setengah. Setelah mendecak sebal pada Taeyeon, Luhan menutup kembali jendela mobilnya.

“Masuklah,” ujar Sunny pada Taeyeon.

Taeyeon mengangguk dan ia membuka pintu depan mobil Audi R8 yang dinaiki Luhan. Saat ia hendak duduk, sang sopir mencegahnya.

“Jeoseonghamnida, ahgassi. Tapi sebaiknya kau duduk di belakang saja. Bukan hal yang biasa kalau siswa Whimoon duduk di depan bersama seorang supir,”

“Keundae…,”

“Kau mau Mrs. Oh kembali keluar dan menegurmu? Jangan sampai perbuatanmu itu masuk ke dalam rapat sekolah,” ujar Luhan memotong perkataan Taeyeon.

Taeyeon menatap Luhan dan dengan terpaksa ia menutup kembali pintu mobilnya. Ia lalu membuka pintu mobil bagian belakang di sebelah kanan dan duduk sedikit jauh di sebelah Luhan. Dan beberapa detik kemudian, mobil Audi R8 itu, pun melaju dengan kecepatan sedang.

~~~

“Mwo?! Pergi bersama? Apa kau serius? Kau berbohong, ‘kan?”

“Apa kau tidak lihat foto ini? Ini adalah foto yang asli! Aku berani bertaruh perempuan itu pasti menggoda uri Suho dengan menampangkan wajah memelasnya. Kau tahu, ‘kan sejak dulu uri Suho tidak akan tega melihat seseorang terdiskriminasi? Aku sangat yakin! Dia memanfaatkan kondisinya untuk menarik perhatian Suho!”

“Mwo?! Ya! Berani sekali perempuan itu! Apa tidak cukup dia membuat kita panas dengan bermesraan bersama Suho saat menyapu halaman kemarin?!”

“Mungkin dia ingin balas dendam dengan mengambil uri Suho,”

“Aniya, aku tidak bisa membiarkan tangan busuk Kim Taeyeon mendapatkan cinta kasih Suho yang suci!”

Jessica mendadak menghentikan langkahnya. Begitu mendengar nama sahabatnya disebut dan dijelek-jelekkan, Jessica langsung membalikkan tubuhnya dan masuk kembali ke dalam kamar mandi perempuan. Dilihatnya sekitar empat orang perempuan sedang berkumpul asyik membicarakan sesuatu. Salah seorang di antara mereka memgang sebuah foto. Lantas Jessica langsung merebut foto itu dari tangannya dan menatap mereka dengan tatapannya yang dingin bagai elang yang melihat mangsa.

“Mwoya? Jessica-ssi, ada apa?” tanya mereka dengan wajah mengkerut. Mereka otomatis segan dengan Jessica, ice princess yang jarang bicara dan selalu terlihat ketus.

“Apa yang kalian bicarakan tadi? Coba aku dengar sekali lagi,” jawab Jessica dengan suaranya yang pelan.

“Apa hubungannya denganmu?” tanya salah satu di antara mereka dengan berani.

“Ada hubungannya denganku. Ada sekali. Kalian menyebut ‘tangan Kim Taeyeon’ apa? Tangan busuk Kim Taeyeon? Apa kalian tidak sadar dengan ucapan kalian? Kalian tidak bercermin? Kalian tidak tahu kalau sebenarnya kalian yang busuk?” tanya Jessica tajam.

Keempat perempuan itu terdiam, tidak berani mengeluarkan sepatah katapun.

“Bagaimana kau bisa berkata seperti itu, Jessica-ssi?!” sahut seorang di antara mereka yang, dengan mengeluarkan semua keberaniannya, ia merengsek maju menghadap Jessica.

“Mwo?” tanya Jessica tajam.

Gadis itu menciut. Namun, ia tetap bersikeras bertahan. “Kau tidak melihat foto itu, ‘kan? Kami semua merasa cemburu, Jessica-ssi! Kenapa dia dengan seolah-olah sedang berkencan dengan uri Suho?”

Jessica menatap gadis itu sejenak dan ia memerhatikan foto yang sekarang sedang berada di genggamannya. Matanya sedikit melebar saat sosok sahabatnya dan seorang laki-laki yang ia kenal, dan itu adalah Suho ada di dalam foto tersebut. Keduanya tampak sangat dekat, bahkan di luar perkiraan Jessica selama ini. Di foto itu Suho tampak sedang memakaikan sebuah jaket ke tubuh belakang Taeyeon.

“Dari mana kalian dapat foto ini?” tanya Jessica pelan tanpa mengangkat wajahnya dari foto itu.

“Foto itu sudah tertempel di depan loker kami, yang artinya foto itu sudah tersebar luas. Tapi kami tidak tahu siapa yang melakukannya. Peduli apa? Kami semua merasa terpukul, Jessica-ssi. Kau tidak tahu, ‘kan betapa sakitnya begitu kau tahu seseorang yang kau suka jalan dengan perempuan lain?”

“Kalian ini siapanya Suho, eoh? Kalau kalian ini pacarnya, kalian berhak marah. Kalian bukan siapa-siapanya, bahkan dia tidak melihat kalian, ‘kan? Berhenti mengkhayal dan hiduplah dengan benar. Buang foto ini dan jangan sampai ku dengar lagi ada fitnah seperti ini. Mereka tidak berkencan,” ujar Jessica pelan dan tajam.

“Bagaimana kami bisa melupakannya?!” seru salah seorang dari mereka. “Dia adalah Ketua Murid. Kenapa seorang Ketua Murid tidak bisa menjaga sikapnya dan perasaan orang lain?! BoA sunbae tidak pernah melukai perasaan kami!” serunya. Gadis itu pun langsung melengos pergi dengan wajah menahan tangis.

“Ka… kami permisi, Jessica-ssi,” ujar ketiga gadis lainnya sambil buru-buru keluar dari kamar mandi.

Jessica menghela nafas panjang dan ia berfikir sesaat. Beberapa detik kemudian ia ikut membalikkan tubuhnya dan keluar dari kamar mandi. Sepanjang jalan ia melangkah, ia pasti menemukan segerombolan kecil perempuan yang mengorol sambil memegang foto Taeyeon dan Suho. Tak jarang juga Jessica mendengar makian dari mulut mereka.

“Benar, ‘kan?! Sudah kuduga kasusnya pasti sama dengan Chorong!”

“Apa kita juga lakukan hal yang dulu kita perbuat ke Chorong pada Taeyeon?”

Jessica berhenti. Ia menatap sekumpulan perempuan itu dan menatap mereka sengit. Secepat kilat mereka langsung masuk kelas begitu Jessica menatap mereka.

“Hhh, bagaimana ini, Taeyeon-ah,” gumam Jessica. Ia kembali melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam kelas.

Di kelas, ia langsung di serbu oleh Tiffany, Sunny, Heechul, dan Chanyeol.

“Sudah kuduga, ‘kan begini jadinya kalau Taeyeon terlalu dekat dengan Suho,” ujar Sunny sedikit kesal. Ia menatap tajam foto Taeyeon dan Suho yang juga ada di genggaman Tiffany.

“Kita tidak bisa menyalahkan Suho, Lee Sun Kyu. Suho hanya ingin menjaga Taeyeon,” kilah Tiffany.

“Tapi perbuatannya justru menyerang Taeyeon, ‘kan?” tanya Sunny tidak mau kalah. “Aku memang tidak menyalahkan Suho, aku senang ada yang menjaga Taeyeon selain kita. Tapi lihat ini! Ini sudah parah,”

“Kita bisa memberitahu Suho dan menyuruhnya untuk lebih memerhatikan Taeyeon,” ujar Tiffany cepat.

“Dan apakah kau ingin membuat Taeyeon semakin terpuruk? Kenapa kau tidak berkaca pada kejadian Chorong tiga tahun lalu?” tanya Sunny.

“Gadis yang bernama Chorong…” potong Jessica. “Apakah juga sering di-bully? Dia juga dekat dengan Suho,’ kan?”

“Sering,” jawab Heechul. “Dia dan Suho sangat dekat, lebih daripada Suho-Taeyeon. Suho bahkan sangat menyayangi Chorong. Itu sudah menjadi rahasia umum saat di Whimoon Junior High School. Tapi rasa sayangnya malah membahayakan Chorong, membuat Chorong pindah sekolah,”

“Niat Suho selalu baik, tapi selalu saja ada kejadian pahit,” sambung Chanyeol murung.

Fans Suho terlalu fanatik. Menyeramkan,” ujar Heechul.

“Aku tidak membenci Suho dari awal, aku hanya ingin melindungi Taeyeon,” lirih Sunny. “Aku yang lihat bagaimana menderitanya Chorong waktu itu,”

Mereka berlima diam sambil memandang satu sama lainnya. Kemudian, Jessica duduk di atas meja sambil menghembuskan nafas panjang, berusaha menenangkan dirinya sendiri.

“Tidak perlu cemas,” ujar Jessica pelan. “Kita akan selalu melindunginya, ‘kan? Walaupun Taeyeon sering berkeliaran, tapi kita akan usahakan untuk selalu jaga-jaga. Tetap perhatikan Taeyeon dan jangan sampai terjadi apa-apa padanya. Aku akan pastikan Suho juga tahu mengenai masalah ini. Setidaknya dia juga harus bersikap tegas pada perempuan-perempuan itu,”

“Taeyeon tidak akan apa-apa hari ini, ‘kan? Dia tidak masuk sekolah,” kata Chanyeol.

Jessica menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kecil.

~~~

“Kau membuat perang lama kembali berkobar, Suho-ah,” ujar Xiumin sambil memperlihatkan sebuah foto ke hadapan wajah Suho. “Jika sudah seperti ini, apa kau sanggup melindunginya?”

Suho diam sambil memperhatikan foto yang menampilkan dirinya dan Taeyeon itu. Ia meremas foto itu dan membuangnya ke dalam keranjang sampah di sudut kelas. Irene memutar bola matanya sedangkan Tao dan Henry hanya diam.

“Ini akan menjadi menarik,” sahut Irene. Tao memberinya tatapan memperingati.

“Kalau begini jadinya, lebih baik aku tidak usah dilahirkan sebagai anak orang kaya. Kenapa diskriminasi di sekolah ini tidak pernah berhenti? Taeyeon tidak salah sama sekali,”

“Jangan katakan itu di hadapan kami. Seharusnya kau bisa meredam amarah fans-mu. Jangan membuat kesalahan untuk yang kedua kalinya, Suho-ah,” ujar Henry sambil menyisir rambutnya dengan menggunakan jari-jari tangannya yang indah.

“Aku tidak akan tinggal diam. Aku tidak akan lari seperti tiga tahun lalu,” ujar Suho sambil tersenyum tipis.

“Kau tetap tidak kapok, oppa,” ujar Irene sedikit kesal. Ia pun duduk di bangkunya sambil memainkan ponselnya.

~~~

“Bagaimana Ms. Kim? Apa gaun tadi cocok untukmu?” tanya Mrs. Oh begitu dia, Luhan dan Taeyeon selesai makan di sebuah restaurant.

“N…ne. Aku sangat suka. Keundae…” jawab Taeyeon sedikit terbata-bata.

“Hm?”

“Ani, gwaenchannayo,” jawab Taeyeon lagi. Ia segan mengutarakan pendapatnya.

Sekitar empat jam mereka berdua mencari-cari gaun yang cocok untuk Taeyeon. Dan puluhan gaun sudah ia tolak karena tidak sesuai dengan seleranya. Hingga akhirnya, Mrs. Oh menemukan gaun berwarna ungu yang menurutnya sangat cantik. Taeyeon suka, tapi gaun itu terlalu terbuka. Ia tidak biasa mengenakan pakaian seperti itu. Namun, Mrs. Oh tetap bersikeras agar dia mau memakainya. Sedangkan untuk tuxedo Luhan, ia mencarinya dibantu dengan salah satu pelayan di mall itu.

Ditambah beberapa jam lagi untuk mencari penata rias yang professional menurut Mrs. Oh, membuat sendi-sendi kaki Taeyeon hampir patah.

“Dan aku juga suka tuxedo yang kau pilih itu, Mr. Xi. Kau memang orang yang high class. Semua perlengkapan yang dibutuhkan untuk pesta dansa ini akan dikirimkan ke sekolah. Semua penata rias dan lain-lainnya juga akan datang ke sekolah. Kalian sebagai Ketua Murid harus saling bekerja sama, arra?” jelas Mrs. Oh dengan tatapan tajamnya.

Taeyeon hanya mengangguk, sedangkan Luhan diam saja.

“Mr. Xi, bagaimana dengan kedua orangtuamu? Mereka bisa datang, ‘kan?” tanya Mrs. Oh.

“Molla. Mereka berdua orang yang sama-sama sibuk, ‘kan?” jawab Luhan acuh tak acuh. Taeyeon menatap Luhan dengan tatapan penasaran. Ekspresi Luhan sama sekali tidak senang begitu mendengar kedua orangtuanya disebut.

“Apa kau tidak menghubungi mereka?”

“Sirheo. Aku bahkan tidak tahu mereka di mana sekarang. Belum tentu juga mereka bisa pulang ke Korea sebulan sekali. Tapi aku berharap mereka tidak usah pulang saja sekalian,” jawab Luhan dengan nada ketus, membuat Taeyeon terkejut mendengarnya.

Baru kali ini Taeyeon melihat ekspresi Luhan yang marah. Marah atau kecewa?

“Mr. Lee akan bisa mengundang mereka. Mr. Lee merupakan teman dekat ayahmu, ‘kan? Mr. Lee akan mengusahakannya,” ujar Mrs. Oh.

Luhan hanya menyeruput minumannya tanpa berkomentar apa-apa.

“Dan… Mr. Lee akan mewakilimu, Ms. Kim. Orangtuamu minta izin untuk tidak datang,” kata Mrs. Oh lagi.

“Aku sudah tahu, Mrs. Oh. Tapi aku tidak akan merasa menyesal. Aku tahu mereka tidak bisa datang karena sedang berjuang demi aku,” jawab Taeyeon sambil tersenyum manis.

Mrs. Oh juga ikut tersenyum. “Nah, karena semuanya sudah selesai dan sekarang sudah pukul enam sore, kalian bisa pulang. Kalian bisa minta di antar pulang oleh supir mobil tadi,”

“Aku kembali ke sekolah,” ujar Luhan cepat.

“Naneun…”

Belum selesai Taeyeon bicara, ponselnya berdering menandakan ada satu pesan masuk. Ia membukanya dan membaca isinya.

 

From : Unknown

Taeyeon-ah, apa kau bisa ke sekolah sebentar?Aku ingin minta tolong sebentar saja.

“Ah, sepertinya aku ingin ke kembali ke sekolah sebentar,” ujar Taeyeon cepat.

“Wae? Apa ada yang ketinggalan?” tanya Mrs. Oh.

“Ah, ye,” jawab Taeyeon sambil tersenyum manis.

Taeyeon kembali menyimpan ponselnya dan ia sibuk berfikir siapa yang membutuhkan pertolongannya. Ia tidak bisa membiarkan orang lain kesusahan.

Tanpa disadari Taeyeon, Luhan memerhatikan air muka Taeyeon yang terlihat gelisah.

~~~

“Gamsahamnida, ahjussi!” seru Taeyeon begitu ia menutup pintu mobil dan dengan segera ia masuk ke dalam gedung Whimoon High School.

Luhan menggelengkan kepalanya dan ia juga ikut keluar. Begitu mobil Audi R8 itu pergi menjauh, Luhan segera melangkahkan kakinya menuju parkiran mobil. Namun, beberapa detik kemudia ia membatalkan niatnya. Entah kenapa, naluri hatinya menyuruhnya untuk masuk dulu ke dalam gedung. Dan ia memilih untuk mengikuti kata hatinya.

Di lain sisi, setelah Taeyeon memberi kabar pada teman-temannya kalau dia sudah pulang, Taeyeon langsung menghubungi nomor yang tadi mengiriminya pesan. Ia sengaja berbohong pada teman-temannya kalau dia sudah pulang agar mereka tidak perlu cemas.

“Yeoboseo. Neo eodiga?” tanya Taeyeon begitu orang itu mengangkat sambungan teleponnya.

“Bisakah kau pergi ke depan gudang buku-buku bekas? Aku ada disini,”

“Arraseo, aku akan langsung ke sana,” jawab Taeyeon.

Ia segera memutuskan sambungan teleponnya dan pergi ke lantai empat, ke gudang yang isinya buku-buku bekas, peralatan olahraga yang sudah tidak tepakai lagi, dan bangku-bangku serta meja-meja yang sudah rusak.

Sesampainya di sana, betapa terkejutnya Taeyeon saat ia melihat beberapa orang perempuan sedang berdiri di depan gudang. Dan ketika mereka melihat Taeyeon, para siswi ini langsung mendekati dan mengerumuninya.

“Si… siapa yang menghubungiku tadi?” tanya Taeyeon dengan suara tercekat. Jantungnya berdegup kencang.

“Kau polos atau bodoh, Kim Taeyeon?” tanya salah satu dari mereka. “Kau mudah sekali untuk ditipu. Wae? Karena aku minta tolong padamu? Apa kau ingin menampilkan sisi angel-mu agar Suho oppa terpesona padamu? Kau ingin memikatnya, ‘kan dengan berpura-pura tampak lemah di depannya?”

“Apa yang kalian bicarakan?! Apa maksud kalian menipuku?!” tanya Taeyeon marah.

“Apa maksud dari foto ini? Sepertinya kalian sudah sangat dekat ya sehingga kalian datang bersama ke sekolah. Kau bilang kau ini Ketua Murid, eoh?! Tapi kau sama sekali tidak memberikan satu keuntungan untuk kami. Kau malah membuat kami murka,” jelas siswi yang lain sambil memperlihatkan foto dirinya dan Suho.

“Aku dan Suho hanya berteman. Itu saja. Apa salah kalau aku berteman dengannya?” tanya Taeyeon dingin.

“Teman? Tapi kenapa bisa sedekat ini? Kau ini sebenarnya ingin lebih dari teman, ‘kan? Kau memanfaatkan sifat kasih sayang Suho agar dia jadi milikmu! Kau tidak pantas sekedar berteman dengannya. Karena apa? Kau beda kelas dengan kami semua,”

Taeyeon diam tidak menjawab. Lagi-lagi, alasannya adalah itu. Walaupun sering kali disbanding-bandingkan, tapi Taeyeon tetap merasa sakit hati. Tanpa sadar, matanya sudah berkaca-kaca.

“Gadis terhormat seperti Jessica, Tiffany dan Sunny juga tidak pantas berteman denganmu. Kau hanya memasang topeng agar dikasihani, ‘kan?”

“Jangan bicara hal yang kalian tidak tahu. Jangan pernah bicara apa-apa tentangku yang tidak kalian ketahui,” ujar Taeyeon pelan. Air mata sudah membasahi pipinya. Bukan karena takut, tapi karena nama teman-temannya disebut dan perkataan mereka membuatnya sakit hati.

“Ne, kami memang tidak tahu apa-apa tentangmu. Buat apa? Itu bukan urusan penting buat kami ketahui,”

“Nah, lebih baik jangan berlama-lama lagi. Kami tidak ingin pulang telat karena dirimu, Kim Taeyeon. Kalau kau masih ingin dekat-dekat dengan uri Suho lagi, kami akan pastikan kau tidak akan menikmati hidupmu lagi,”

“Untuk itu, kami akan membuatmu berfikir keras untuk jauh dari uri Suho,”

Sebelum Taeyeon bicara apa-apa lagi, kedua pergelangan tangannya ditarik paksa dan mereka langsung memasukkan Taeyeon ke dalam gudang itu. Taeyeon memberontak tapi tenaganya tidak cukup menandingi mereka yang lumayan banyak dan bertubuh lebih besar darinya.

“YA! Apa yang kalian lakukan?! Keluarkan aku!” seru Taeyeon sambil menggedor-gedor pintu gudang yang langsung dikunci dari luar.

“Kim Taeyeon, selamat malam. Jaljayo, Ketua Murid. Hati-hati di dalam sana, eoh?”

“Ne~ Apa kau tahu kisah gudang ini? Jangan sampai kau dibawa lari oleh ‘makhluk gaib’, ne? Kalau mereka berniat menangkapmu, pukul saja mereka, kalau kau bisa,”

Terdengar tawa mengejek dari mulut para perempuan itu dan Taeyeon dapat mendengar mereka pergi meninggalkan gudang, meninggalkan dirinya sendirian di dalam gudang yang gelap, berdebu, dan memang sedikit menyeramkan. Ia tidak bisa melihat apa-apa di dalam gudang itu. Hanya sedikit cahaya yang masuk menyinari gudang ini.

“YA! Buka pintunya!” seru Taeyeon lagi.

Ia menjerit sampai suaranya tercekat dan berkali-kali menggedor pintu gudang itu sampai kehabisan tenaga. Percuma saja. Tidak akan ada yang datang. Sekolah ini begitu luas dan sepi. Tidak akan ada yang mendengar jeritannya. Tidak ada.

Taeyeon bersandar di dinding gudang sambil terisak. Ia tidak tahu harus bagaimana. Suasana gudang membuatnya merinding setengah mati. Di luar semakin gelap, dan otomatis di dalam gudang ini pun tidak akan ada cahaya lagi. Ia harus bagaimana?

Di dalam fikirannya muncul wajah-wajah Ji Woong, Jessica, Tiffany, Sunny, Heechul, Chanyeol, dan Suho.

Suho.

Entah kenapa ia berharap laki-laki itu muncul untuk melindunginya, walaupun kemungkinannya hanya 0,001 persen.

Tubuh Taeyeon merosot ke bawah. Ia berjongkok dan menenggelamkan wajahnya di atas pergelangan tangannya yang bertumpu pada kedua lututnya. Ia menangis, sekaligus takut untuk melihat seisi gudang, yang sudah mulai mengeluarkan bunyi-bunyi aneh, yang membuatnya merinding dan ketakutan setengah mati.

~~~

Kaki Luhan melangkah dengan sangat cepat begitu ia melihat sekumpulan siswi yang masih belum pulang turun dari lantai empat menuju parkiran mobil. Luhan dapat mendengar mereka bicara tentang ‘gudang’ dan ‘Kim Taeyeon’. Ada yang aneh. Ya, ada yang aneh. Itu sebabnya Luhan langsung pergi menuju lantai empat dan menghampiri gudang itu.

Ia menatap pintu gudang yang ada di hadapannya. Pintu itu terkunci. Sebagai Ketua Murid, ia punya kunci cadangannya. Ia berniat membuka pintu gudang itu.

“Apa mungkin gadis itu ada di dalam gudang ini? Tapi kenapa?” gumam Luhan. Ia masih bimbang.

Kenapa Kim Taeyeon harus ada di dalam gudang ini? Lalu kenapa para siswi itu menceritakan dirinya? Bertubi-tubi pertanyaan memenuhi fikirannya. Dan untuk apa dia mencemaskan gadis itu?

Luhan menghembuskan nafasnya kesal dan berniat untuk pulang. Namun, niatnya itu langsung hangus begitu ia mendengar seseorang menggedor-gedor pintu gudang dari dalam gudang. Terdengar rintihan minta tolong dan Luhan sepertinya tahu suara siapa itu.

Dengan cepat, ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan kunci duplikat gudang tersebut. Ia memasukkan kunci itu dan memutarnya. Dengan perlahan, ia membuka pintu gudang dan ia dapat melihat wajah Taeyeon berada di hadapannya.

Wajahnya memerah habis menangis dan tubuhnya tampak lelah. Taeyeon menatap Luhan dengan mata sembabnya. Sebelum mereka sempat berkata apa-apa, tubuh mungil Taeyeon langsung terkulai lemas dan jika Luhan tidak menangkapnya, Taeyeon akan terjatuh dan terkapar di lantai gudang yang dingin itu.

“Ya, Kim Taeyeon!” panggil Luhan sambil mengguncang-guncang tubuh Taeyeon, yang sekarang sudah berada dalam dekapannya.

Taeyeon tidak mendengar panggilan Luhan. Ya, ia jatuh pingsan. Dalam dekapan hangat tubuh Luhan.

-To Be Continued-

 

Annyeeoongggg^^ hehehehee mian, neeeeee author lama update soalnya kemaren itu lagi sibuk-sibuknya UAS uuuuuu

Nah, karena author lagi libur, diusahakan deehh cepet update untuk chap 6 iniii xixixixiixii

Harap maklum, yaa kalo chap ini kurang gimanaaaa gitu, masih dalam bayang-bayang UAS soalnya #curhatmendadak

Seeya in the next chap, wahai ma readersssss ~chu~

Yang SIDERS minggir dikit dong^^ hehe

mian, kalau ada TYPO^^

-Preview Chap 6-

“Sebut namaku, Kim Taeyeon,”

“Kau brengsek,” maki Taeyeon sambil menahan nafasnya.

“Tidak ada yang gratis di dunia ini,”

“Wae? Bukannya kau membenciku?”

Luhan tertawa melihat ekspresi Taeyeon. “Kau harus berpegangan. Jangan sampai kau jatuh terlalu dalam padaku,”

“Tidak ada yang boleh macam-macam dengan Princess-ku,”

“Berhati-hatilah pada orang yang bernama Xi Luhan, Taenggoo-ah,”

-Preview Chap 6 End-

 

Nah, di chap 6 ini akan ada PASS, kalau mau minta, bisa lewat twitter (@annisafeb28), email (hannisafebrina23@yahoo.com), atau nomor HP (083197822313) oh ya beritahu nama kalian, yang kalian pakai untuk komen di FF ini beserta umur ya^^ (min. 17) hehehee

Bye -chu-

Advertisements

297 comments on “My Princess, Kim Taeyeon (Chapter 5)

  1. Next thor >< author aku minta pw nya 😥 /?
    Kasihan banget uri taeyeon digituin sama fans nya suha kejam. Cepet next ya thor hwaiting!!!

  2. Thorrrrrr, mita pass nya donggg~~~ Sorry selama ini aku jadi silence reader. Kalo ada tombol subscribe kaya di AFF, aku pencet dehhh, sama vote juga deh!
    Untuk FF versi bahasa indonesia, aku paling suka FF iniiiiii, setiap chapter aku tungguinnn!! Ga boong dehh..
    Tapi aku ga ngeexpect kalo chap 6 bakal di lock 😥
    Btw thanks minn

  3. aku udah nggak sabar banget pengin baca part selanjutnya. terutama wakktu pesta dansanya.
    au penasaran nanti taeyeon bakal tampil scantik apa ya?
    trus aku juga penasaran nanati apa yang bakal luhan lakuin ke taeyeon.
    wkwkwk
    oh ya, apakah luhan udah ada perasaan ke taeyeon???

  4. sumpahh ini ff makin ke sini makin keren thorrr… 😀 luhan pasti jlebbb dehh…
    thor aku mau minta pw lewat sms ya…

  5. Baru sempet baca nih thor
    Ffnya keren thor, jadi makin penasaran sama kelanjutannya, minta passnya dong thor :3

  6. semoga taeng eonni gpp
    sebenarnya apa yang terjadi sama chorong dulunya
    semoga suho selalu melindungi taeng eonni
    next chapternya thor

  7. aduu Taeng kasihan banget ya, kalau biasanya ketua murid itu dihormati, disegani, dan disanjung, na ini malah kebalikan nya… T_T

    sepertinya hubungan keluarga Luhan dan Taeyeon di masa lalu kurang baik yaa, semoga itu tidak membawa dampak yg buruk untuk LuTae ^-^

  8. Thor aku minta pw nya dong lewat sms,,,maaf thor aku baru comment sekarang,,soalnya aku baru nemu ini ff barusan,,dan pertama kali baca lngsung suka,,,aku penasaran bgt sama chapter 7 thor!!^^

  9. Yaampun jahat bgt sih fansnya suho. Tabok juga nih..
    Untung ada luhan ya..
    Tapitapi suho kemana??hee
    ngarep ada suho disana

  10. Greget banget pas taeyeon diapa2in ma cewe2 sinting itu.
    Entah knp suka banget sama perannya jessica disini 😀
    Ini beneran chap 6 di protect? 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s