Hidden Feelings [Part. 3 ― Missing]

[poster] hidden feelings - missing copy

hidden feelings

—————————-missing

 Author : Funluobell

Main Cast : Kim Taeyeon (GG) and Byun Baekhyun (EXO)

Other Cast : Troublemaker’s member, Kim Taehyung (BTS), Kim Junmyeon (EXO), Chae Yumi (OC), Kim & Byun’s family.

Genre : Romance, School-life, Family

Rating : Teen

Length : Multichapter (maybe?)

Disclaimer : Just a fiction. Inspired by another fictions i’ve read. No need to plagiarism this fanfic because i must work hardly to finished this chapter. Tq ❤

Recommended Songs : Requiem for a Dream, Claude Debussy – Clair de Lune, La Valse d’Amélie, I’m Nearing the Goal, Scott Joplin – Maple Leaf Rag, Laszlo Gyorgy – Keresem [Searchin’] (CHECK OUT ON YOUTUBE, GUYS! SRLSY, I THOUGHT THEY WAS THE GREATEST PIANO SONGS EVER~ /my opinion, yeah/ YOU MUST HEAR THEM~ I promise, you’ll fall in love with them!)

Previous Chapter : Prolog | #1 – Comeback | #2 – Home, New School and Troublemaker | #3 – Missing

/

“I hate how much i love you boy, but i can’t just let you go. And i hate that i love you so.”

/

/

/

Elysium Boulevard, Incheon, South Korea, Korea. 19.00 KST

Taeyeon sedang membaca-baca buku di kamarnya ketika mendengar namanya disebut berkali-kali oleh Jessica. Entah untuk apa, penting atau tidak, Taeyeon tetap tidak peduli. Ia menyumbatkan kedua telinganya dengan earphone dan menyetel lagu kesukaannya dengan suara yang keras. Ia juga menyibukkan mata serta pikirannya untuk membaca sebuah buku tebal dengan judul besar di covernya.

Sebuah novel paperback berhalaman kurang lebih 300 halaman. Dengan judul Naked in Death. Kalian tahu novel itu, kan?

Entah bagaimana caranya Taeyeon bisa menemukan buku tebal itu dari rak buku di lemari kecil miliknya. Awalnya Taeyeon hanya ingin mengetahui barang-barang yang ada di dalam kamar barunya, hanya saja sepertinya Tuhan sedang sangat baik hari ini. Ketika pertama kali ditemukan, novel tersebut sudah penuh debu tetapi isi di dalamnya masih baik.

Taeyeon sesekali meringis ketika membaca bagian di mana dijelaskan tentang deskripsi para korban pembunuhan dan tentu saja ia merasa mual. Ugh, membacanya saja ia mual, apalagi membayangkannya? Tapi rasa takut dan mual itu berganti ketika romantic scene muncul. Ahh, Taeyeon suka bagian ini! Tanpa sadar ia sesekali terkikik ketika membacanya.

Entah apa yang dibayangkannya, hanya saja wajahnya terpancar jelas raut wajah bahagia.

Dok. Dok. Dok.

“Kim Taeyeon!!!”

Mati kau!

Taeyeon dengan buru-buru langsung bangkit dari posisi tidurnya dan menyembunyikan novel itu ke bawah bantalnya. Ia membenarkan penampilannya juga raut wajahnya menjadi raut wajah dingin seperti biasa. Ck, untuk apa gadis Amerika itu mengganggunya?!

“Taeyeon! Aku akan mendobrak pintumu kalau kau tidak segera membukakannya bagiku!” teriak Jessica dari luar. Sungguh, suara melengkingnya itu…..

Taeyeon dengan terpaksa menyeret kedua kakinya menuju pintu kamarnya, ia menghela napas sebentar sebelum menarik gagang pintunya, “Apa?” tanyanya datar.

“Aku sudah memanggilmu sejak tadi, tapi kau tidak menjawabku! Kau kemana saja, eo?”

“Jangan berteriak, stupid!” umpat Taeyeon. “Aku sedaritadi hanya tidur dan mendengarkan musik, jadi aku mana tahu kalau kau memanggilku.” Jawabnya berbohong.

“Kau memanggilku bodoh?!” Jessica memekik tidak terima.

Ne, wae? Kau keberatan?”

Yak, neo!

Jessica sudah siap-siap ingin memberi pelajaran kepada gadis yang tingginya masih berada di bawahnya ini ketika mendengar suara seorang wanita dari lantai bawah.

“Kim Taeyeon! Jung Sooyeon! Ini bukan saatnya untuk bertengkar, cepat turun! Suara kalian terdengar sampai di sini, tahu?” teriak Nyonya Kim. Jessica buru-buru menurunkan tangannya dan Taeyeon langsung mengerucutkan bibir bawahnya. Merasa sebal.

“Aku jadi merasa seperti bocah berumur lima tahun.” Gumam Taeyeon.

Ne, karena kau menyebalkan. Sama seperti bocah berumur lima tahun.” Balas Jessica, memancing emosi Taeyeon.

Ya!

“TAEYEON! SOOYEON!”

Dan saat itu juga, kedua gadis yang sudah bersiap untuk bertengkar itu langsung bergerak turun ke lantai bawah. Suara Nyonya Kim sudah menggelegar, sehingga menyebabkan Taeyeon yang mendengarnya pun merasa takut. Padahal sebelumnya, Taeyeon tidak pernah takut dengan ibu kandungnya tersebut.

/

/

/

“Hai, noona.” sapa Taehyung dengan nada ceria ketika melihat Taeyeon sudah turun dari lantai atas. Apalagi ketika gadis bertubuh mungil itu memilih untuk duduk di sampingnya.

Mereka sedang dinner di ruang makan.

Ya, setiap malam keluarga kecil Kim memang akan makan malam bersama. Karena saat malam sudah tiba, sang kepala keluarga serta istrinya sudah menyelesaikan pekerjaan mereka sehingga mereka bisa menikmati waktu istirahat bersama dengan anak-anak mereka di rumah bak mansion milik mereka.

“Bagaimana dengan harimu, Taeyeon-ah?” tanya Tuan Kim sambil tersenyum.

Taeyeon yang merasa terpanggil pun menoleh ke arah Tuan Kim, “Hmm,” ia berdeham, “Biasa saja.” Lanjutnya. Ia menggerakkan tangannya untuk mengambil piring, gelas dan sedok garpu.

“Benarkah? Tidak ada namja yang mendekatimu?” goda Tuan Kim.

“Apa maksud appa?” Taeyeon mendesis.

Tuan Kim hanya bisa terkekeh mendengar nada yang keluar dari bibir anak gadisnya. Ia tahu kalau Taeyeon pasti kesal. Pria dengan nama keluarga Kim itu memimpin doa makan setelahnya.

Amen.” Ucap keluarga Kim beserta Jessica serempak. Keluarga Kim itu juga menunjuk kening, dada serta bahu kiri dan kanan milik masing-masing setelahnya. Melihat majikannya yang sudah selesai berdoa, para pelayan di rumah itu segera menuangkan minum serta meletakkan nasi di setiap piring majikan mereka.

“Bagaimana dengan kelasmu?” kini Nyonya Kim yang penasaran.

“Tidak menarik.” Lagi-lagi Taeyeon hanya menjawabnya dengan nada yang datar.

“Kenapa? Bukankah haksaeng IIHS itu tampan-tampan, ya?” Jessica bertanya sambil menyendokkan nasinya ke bibir kecilnya.

Taeyeon kembali teringat akan kejadian tadi di sekolah. Ketika ia bertemu dengan tiga orang laki-laki aneh yang selalu mengusik dirinya bahkan ketika mereka baru saja bertemu. Astaga!

Mulai dari si laki-laki berwajah cantik, lalu temannya yang seperti tiang bendera IIHS dengan telinga seperti fairy, serta seorang laki-laki lain bertubuh pendek dengan suara cempreng yang memekakkan telinga. Great! Laki-laki itu dan Jessica mungkin bisa menjadi couple di masa depan. Apa ya nama couple yang pantas? The Voice Couple? The Crazy Couple? The Sucks Couple? Oh, yang benar adalah The Crazy, Sucks, and Worst Schreeching Voice Couple.

“Taeyeon!”

Uhuk!

Taeyeon segera mengambil air putihnya dan menegaknya hingga habis ketika merasakan makanan yang dikunyahnya masuk ke dalam tenggorokannya, bukan kerongkongan. Gara-gara gadis Amerika ini, buyar semua lamunannya! Ditambah lagi, ia tersedak! Benar-benar!

“Kau tidak apa?” tanya Jessica dengan raut wajah prihatin.

“Apakah di wajahku terlihat kalau aku tidak apa-apa, nona Jung?” bukannya menjawab, Taeyeon malah membalas perkataan Jessica dengan sebuah pertanyaan sarkastik.

“Hehe,” Jessica menampilkan cengir kudanya serta mengangkat kedua jarinya yang membentuk tanda peace.

“Bagaimana dengan kegiatan tambahan yang akan kau ambil di sekolah?” kini tuan Kim bertanya.

Taeyeon mengedikkan kedua bahunya, “Mungkin…basket?” jawabnya ragu.

“Hah?” sontak saja jawaban Taeyeon tersebut membuat seluruh pasang telinga yang mendengarnya terkaget dan langsung melirik yeoja itu penasaran. Taeyeon dan basket? Sejak kapan mereka berteman?

Eomma pikir dengan kemampuanmu dalam bernyanyi, kau akan masuk kedalam klub musik.”

“Hah,” Taeyeon mendesah, “Aku bosan untuk selalu berkutat kepada mic, biola, gitar, piano, flute, dan alat musik lainnya.” Lanjutnya. Hal baru itu tentu saja membuat adiknya merasa heran. Aku baru tahu kalau noona pandai dalam musik, pikirnya.

Ya, memang benar. Keluarga Taeyeon memang keluarga yang kental dengan musik. Sang kakek adalah salah satu komposer ternama di jamannya, lalu beberapa paman dan bibinya juga sempat berkeliling dunia hanya untuk tampil di beberapa orkestra. Dan jangan lupa, ibunya juga diam-diam memiliki kemampuan vokal yang baik dan hebat dalam memainkan alat musik.

Semenjak kecil, Taeyeon selalu dipaksa oleh kedua orangtuanya untuk les tambahan. Misalnya, les alat musik. Biola, piano, gitar, dan flute sudah menjadi sahabatnya sejak kecil. Ia bahkan pernah mengikuti les drum, hanya saja ia menghentikannya karena merasa bosan. Ia juga memiliki vokal yang tidak biasa, lembut namun kuat.

Karena belasan tahun bersahabat dengan musik, tentu saja permainan yang dibawakan oleh Taeyeon sudah pasti akan membuat setiap bulu kuduk akan merinding. Mungkin orang baru yang melihat sikap Taeyeon akan menganggap kalau Taeyeon itu sok tahu dan sombong. Tapi, buktinya?

“Jadi?”

Suara sang ayah langsung menyadarkan Taeyeon dari lamunannya.

“Apa?” tanyanya bingung.

“Untuk kegiatan tambahanmu,” balas tuan Kim sambil mengelap bibirnya dengan tisu yang disediakan.

Taeyeon terlihat berpikir sebentar, ia bahkan sempat melirik sang eomma, Jessica serta Taehyung. Meminta bantuan lewat tatapan matanya, “Mmm…” gumamnya.

“Aku pikir…” jawabnya sambil berpikir keras, kerutan di dahinya pun pelan-pelan mulai muncul. Basket? Mungkinkah?

/

/

/

IIHS, Incheon, South Korea. 6.30 KST.

Sesampainya di sekolah, Taeyeon segera beranjak menjauhi adik bungsunya. Malas berdekatan dengan bocah aneh seperti Taehyung. Dan untungnya lagi, Taehyung tidak mengejarnya. Ah, syukurlah.

Taeyeon melirik lengan kirinya yang terdapat jam berwarna hitam legam keluaran terbarunya. Masih terlalu pagi untuk masuk ke kelas, pikirnya. Ia juga tidak ingin cepat-cepat bertemu dengan trio idiot lagi di pagi hari ini.

“Aha!” batinnya.

Taeyeon tahu harus ke mana ia sekarang. Daripada masuk ke kelas, lebih baik ia berkeliling sekolahnya. Entah karena ini baru hari keduanya, atau memang sekolahnya yang terlalu besar dan luas, Taeyeon tidak bisa hapal di mana letak laboratorium kimia, lapangan indoor, lift, toilet, bahkan kelas-kelas.

Ia segera beranjak pergi dari tempat di mana ia berdiri dan memerhatikan setiap tempat yang ia lewati. Ruang guru SMP, kelas 7 sampai 9 yang hanya memiliki 3 kelas di masing-masing angkatan, laboratorium, perpustakaan SMP dan SMA, serta tempat-tempat lain yang terlalu banyak untuk ia sebutkan.

Memang, di setiap angkatan dari kelas X sampai XII masing-masing hanya memiliki 3 kelas. Kelas A biasanya untuk para haksaeng dengan kecerdasan otak di atas rata-rata, kelas B untuk haksaeng yang jenius dan memilih untuk melakukan percepatan kelas, dan terakhir kelas C. Bukan kelas di mana para haksaeng bodoh berkumpul. Tetapi, kelas C adalah kelas bagi para haksaeng yang tidak mengutamakan pelajaran melainkan bidang lain yaitu olahraga.

Taeyeon memajukan bibir bawahnya, merasa kecewa. Kenapa ia tidak dimasukkan ke kelas C saja ya? Bisa saja ia akan bebas dari segala pelajaran laknat beserta tugas-tugas yang menggunung dan juga ulangan. Hah, ia benar-benar harus mengatakannya kepada appa! Ia ingin pindah kelas!

BRAK!

Entah ini salah siapa, tapi Taeyeon benar-benar naik pitam sekarang. Bagaimana tidak? Ia sedang enak-enak berkutat dengan pikirannya, dengan tiba-tiba seseorang menabrak tubuhnya hingga menyebabkan dirinya sempat terhuyung. Untuk tidak terjatuh!

Ya, kau tidak punya ma―” Taeyeon baru saja mau mengeluarkan sumpah serapahnya ketika ia baru menyadari seseorang yang menabraknya adalah…

“Kim Taeyeon?”

Taeyeon memicingkan kedua matanya, menatap sosok di hadapannya dengan tatapan menyelidik. Ia menelusuri tubuh itu dari bawah sampai atas, dan akhirnya…

“Kim Junmyeon?!” pekiknya tertahan.

“Wah, aku tidak menyangka kalau kau masih mengingatku.” Sosok yang menabraknya―Junmyeon langsung menampilkan senyum menawannya kepada Taeyeon. Tapi senyuman manisnya itu malah membuat Taeyeon semakin menatapnya dengan tatapan penuh selidik.

“Bagaimana bisa kau berada di sini?” tanya Taeyeon tidak suka.

“Aku?” Junmyeon bertanya, “Tentu saja aku berada di sini! Ini kan, sekolahku. Memangnya kau kira aku siapa di sini?” cerocosnya panjang lebar.

“Habis, penampilanmu dari tahun ke tahun tidak ada yang berubah.” Balas Taeyeon, ia kembali menatap penampilan Junmyeon dari ujung sepatu sampai ujung rambut. “Tetap nerd.” Lanjutnya.

“Hei, aku sudah berubah, tahu!”

Salah satu alis Taeyeon naik, “Berubah apanya? Kau bahkan masih memakai dasi dan blazer dengan rapi. Dasar Junmyeon si bocah nerd!” kritik Taeyeon dan diakhiri dengan sebuah hinaan bagi Junmyeon.

“Dasi dan blazer adalah benda yang wajib dipakai jika sudah berada di sekolah.” Jelasnya. Kini gantian, ia melirik penampilan Taeyeon dari bawah sampai atas, “Tidak sepertimu!” lanjutnya.

“Aku?”

“Mmm…mmm…” Junmyeon mengangguk.

“Lihat penampilanmu! Buruk, tidak pernah rapi sejak sekolah dasar. Bahkan sekarang semakin buruk. Bagaimana bisa kau tidak memakai dasimu? Lalu, di mana blazermu? Dan Taeyeon, jangan menggulung kemejamu dan jangan keluarkan kemejamu dari rok!” oceh Junmyeon gemas. Astaga, yeoja satu ini memang terlalu berandal!

Baru saja Taeyeon ingin mengeluarkan pendapat, suara Junmyeon menginterupsinya, “Dan turunkan rokmu, Taeyeon-a. Setidaknya, tidak 15 sentimeter di atas lututmu.” Lanjut namja berkacamata itu.

Taeyeon berdecih, “Untuk apa aku harus melakukan semua hal yang kau sebutkan itu? Memangnya ini tahun berapa? Memakai dasi itu, menyusahkan! Dan blazer, dapat membuatku sesak juga gerah. Memakai seragam rapi seperti caramu itu adalah hal kuno, Junmyeon-ssi.” balas Taeyeon tidak peduli. Menurutnya, penampilan yang seperti dirinya tidak ada salahnya. Setidaknya, ia tetap terlihat cantik, kan?

“Hah~” hanya helaan panjang yang dapat dikeluarkan Junmyeon. Apa gunanya pula ia menceramahi Taeyeon? Toh gadis itu juga tidak akan peduli. Dasar Junmyeon bodoh! Seharusnya ia tidak perlu membuang tenaganya dengan sia-sia.

“Bagaimana kalau kita ke kafetaria? Di sana ada bibi yang bisa membuatkan kita sarapan yang enak. Kau mau?” tawar Junmyeon mencoba mengalihkan topik pembicaraan.

“Boleh.” Taeyeon mengangguk, “Tapi kau yang membayar semua pesananku.”

“Terserah apa katamu, nona Kim.” Junmyeon tersenyum sebentar kepada Taeyeon sebelum menarik lengan gadis itu pergi ke kafetaria yang letaknya tidak cukup jauh dari tempat mereka berdebat.

Lagi, lagi dan lagi. Seluruh pasang mata haksaeng yeoja menatap Taeyeon dan Junmyeon dengan tatapan penasaran. Banyak yang berbisik-bisik, mencibir dan mengumpat kesal. Mereka cemburu melihat bagaimana Taeyeon bisa semudah itu dekat dengan Junmyeon.

Apa hubungan Junmyeon sunbae dengan haksaeng baru itu?

Dia memegang tangannya!!

Jangan-jangan mereka berpacaran?

Oh, tidak. Jangan mengatakan hal yang gila!

/

/

/

Kafetaria IIHS.

“Jadi, bagaimana kehidupanmu di sana?” tanya Junmyeon sambil menatap gadis di hadapannya yang sedang menyantap sarapannya. Bluberry Croissant Puff dengan satu gelas ice coffee.

“Biasa saja.”

“Mana mungkin? Menurutku, Jerman adalah negara yang indah. Lebih baik daripada negara ini.” Junmyeon berpendapat.

“Bukankah bangun tidur, makan, belajar, sekolah, les, bermain alat musik, tidur, bangun, makan, belajar lalu tidur lagi adalah kehidupan yang membosankan? Apalagi, aku hidup sendiri di sana.”

“Kau selama 5 tahun hanya melakukan hal-hal seperti itu? Membosankan sekali!” komentar Junmyeon. Tak lama, bibi yang bekerja di kafetaria itu mengantarkan pesanannya. Avocado Bacon Eggs dan segelas es lemonade.

Taeyeon menatap Junmyeon horor, “Ya, pagi-pagi seperti ini dan kau sudah memakan bacon beserta telur?” cibirnya. Tapi tidak dibalas oleh Junmyeon. Namja itu memilih untuk menyantap sarapannya dengan lezat.

“Apakah kau tidak pernah meluangkan waktumu untuk berkencan dengan pria di sana?” tanya Junmyeon yang membuat Taeyeon tersedak ice coffeenya.

Hal itu sontak membuat Junmyeon tergelak.

“Aku tidak pernah jatuh cinta dengan pria di sana.”

Jeongmal? Kau berbohong, ya?”

“Untuk apa aku berbohong, bodoh? Aku melarikan diri ke Jerman untuk belajar, bukan mencari jodoh!” balas Taeyeon sinis. Sebenarnya ia sedang menahan dirinya yang sedang gugup.

Kerutan di dahi Junmyeon perlahan mulai muncul, “Belajar? Lalu, di mana prestasimu?”

Taeyeon menatap Junmyeon intens, ia mendekatkan bibirnya ke telinga Junmyeon dan berbisik, “Dimakan oleh anjing tetanggaku.” Jawabnya bergurau.

“Ck!” Junmyeon berdecak. “Tapi sungguh, Taeyeon-a. Sebenarnya, apa yang kau lakukan di sana? Kalau kau beralasan belajar, lalu di mana hasilnya? Aku tidak pernah mendengar prestasimu semenjak kau pindah ke sana.” Kini ucapan Junmyeon sedikit serius.

“Hmm…”

“Karena kau sudah bersamaku sejak di dalam kandungan, sudah seharusnya kau tahu jawabannya.” Jawab Taeyeon ambigu.

“Aku tidak bisa menebaknya.”

“Itu karena pemikiranmu terlalu dangkal! Untuk apa kau bersekolah di tempat seperti ini kalau untuk menjawab pertanyaanmu sendiri saja tidak bisa. Babo!” cibir Taeyeon sambil memukul dahi Junmyeon dengan garpu.

Ya, ashh!”

Taeyeon kembali berkutat kepada sarapannya dan menghiraukan laki-laki di hadapannya itu. Tapi, itu hanya semenit saja. Tak lama kemudian, kegaduhan mulai muncul di sekitarnya.

Taeyeon tersentak ketika mendengar suara-suara yang familiar di telinganya mulai muncul. Jangan lagi, jebal!

Brak!

“Selamat pagi, Princess Taeyeon!” sapa seorang pemuda dengan nada ceria. Dengan tanpa dosanya, pemuda itu langsung duduk di samping Taeyeon, mengabaikan tatapan mematikan dari gadis di sampingnya saat ini.

Tak lama, datang juga lima pemuda lainnya yang wajahnya sudah tidak asing lagi bagi Taeyeon, apalagi Junmyeon. Dahi Junmyeon berkerut, sejak kapan sepupunya itu bisa dekat dengan enam pemuda biang onar di sekolahnya seperti itu?

“Hai, Taeyeonnie~” sapa Chen, pemuda lainnya.

Taeyeon menatap Chen dengan wajah memerah, entah menahan malu atau sedang marah. “Ya, jangan memanggilku dengan panggilan seperti itu, idiot! Itu menjijikkan!” omel Taeyeon kesal.

“Halo, noona.” sapa seorang pemuda dengan tatapan mesum kepada Taeyeon. Pemuda itu, Kai.

Taeyeon menatap laki-laki berkulit gelap itu sinis, “Noona pantatmu! Memangnya kau siapa, sehingga bisa memanggilku dengan sebutan seperti itu?” hardik Taeyeon.

“Astaga, Taeyeon-ssi. Kenapa kau begitu galak kepada kami??” tanya Chanyeol dengan tatapan sedihnya.

Kali ini, Taeyeon hanya mengabaikan pertanyaan yang keluar dari bibir Chanyeol. Untuk apa ia repot-repot menjawab, bisa-bisa tensi darahnya melambung naik. Taeyeon sudah cukup kesal untuk meladeni sekumpulan laki-laki yang aneh seperti mereka.

“Untuk apa kalian ke sini?” tanya Junmyeon, yang masih tidak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi.

“Hanya ingin menengok teman baru kami, Junmyeon sunbae.” Jawab Tao, teman segrup Baekhyun dan Chanyeol. Salah satu anggota Troublemaker.

Teman pantatmu, cibir Taeyeon dalam hati.

“Sejak kapan kau dengan mereka bisa sedekat ini, Taeyeon-ah?” kini Junmyeon mengalihkan pertanyaannya untuk sepupunya.

“Dekat?!” elak Taeyeon.

“Sejak kapan aku dekat dengan sekumpulan namja homo seperti mereka ini, Junmyeon-ssi? Menatap mereka saja aku tidak sudi.” Sindir Taeyeon yang membuat member Troublemaker sedikit naik pitam.

Yaa, apa maksudmu, Taeyeon-ah? Homo? Siapa yang kau sebut homo?” Baekhyun bersuara.

“Mmm…kepada seseorang yang baru saja bertanya kepadaku.” Jawab Taeyeon sekenanya. Ia menggulung rambut kuncir kudanya dengan jari-jarinya. Seberantakannya dirinya, ia tetap menjaga penampilan. Mencuci rambutnya beberapa kali di salon setiap bulan dan melakukan perawatan, tentu saja membuat rambutnya yang berwarna hitam legam itu semakin indah dan terasa lembut.

“Aku?! Homo?!”

Taeyeon bergidik.

“Lihat saja diri kalian, selalu bersama ke mana-mana. Seperti lem yang merekat pada kayu, tidak bisa terpisahkan! Ugh, tentu saja semua orang yang melihat kalian pasti akan berpikir kalau kalian adalah sekumpulan namja homo. Apalagi kau―”

Taeyeon menunjuk ke arah namja yang duduk di sampingnya, “―sudah cantik, bertubuh pendek, berkulit putih mulus, dan memakai eyeliner pula! Kau ini mau sekolah atau melakukan photoshoot? Menggunakan make up segala.” cibir Taeyeon panjang lebar.

Baekhyun hanya bisa menatap Taeyeon dengan tatapan what-the-fuck-shes-abnormal sedangkan teman-teman segrupnya malah melemparkan kekesalan dan seruan tidak terima. Bagaimana bisa prince of IIHS seperti Baekhyun malah dihina seperti ini oleh anak baru? Seorang gadis?!

Yaa!

“Junmyeon-ssi,” panggil Taeyeon, menghiraukan tatapan serta umpatan dari enam pemuda―homo― di sekitarnya. “Sebentar lagi bel masuk akan berdering. Aku permisi.” Lanjutnya. Ia bangkit berdiri dan beranjak pergi dari kafetaria. Ogah berlama-lama dengan para laki-laki aneh itu.

Ya, Taeyeon-ssi! Mungkin saja saat ini kau bisa menjatuhkan harga diri uri Baekhyun. Tapi besok-besok, aku akan tertawa seharian kalau kau pada akhirnya akan jatuh cinta kepada Baekhyun! Ara?!” teriak Chen, berusaha membela sahabatnya.

Apa? Jatuh cinta? Gumam Taeyeon dalam hati.

“Selamat bermimpi!” balas Taeyeon dengan sedikit berteriak. Ia tidak perlu repot-repot membalikkan tubuhnya, toh untuk apa. Ia terus melanjutkan perjalannya menuju kelasnya. Lama-lama ia bisa terkena serangan jantung atau stroke hanya karena berdekatan dengan sekumpulan-pria-homo-seperti-Baekhyun-dkk.

Ugh, Tuhan… tidak bisakah Kau membebaskanku dari para pria hidung belang seperti mereka? Walaupun untuk sehari saja? Aku benci laki-laki, Tuhan. Aku benci.

/

/

/

Kelas XI IPA-1.

Ini sudah jam pelajaran kedua dan saat ini yang mengajar adalah Luhan seonsaengnim. Guru baru yang menjabat sebagai wali kelas Taeyeon ini sedang mengajarkan materi tentang sejarah mitologi Yunani.

Taeyeon memperhatikan guru muda itu dari tempat duduknya. Walaupun dengan jarak yang tidak dekat, Taeyeon tetap bisa melihat pesona yang ada pada diri Luhan. Sudah tampan, baik hati, sabar, jenius pula. Tapi…tunggu tunggu! Sejak kapan Taeyeon mengagumi sosok Luhan seonsaengnim?

Tidak. Tidak. Taeyeon sedang tidak mengagumi guru muda itu, berpikiran untuk menyukainya saja tidak pernah.

“Hoam~” Taeyeon buru-buru menutup mulutnya ketika ia menguap. Tapi sungguh, ia tidak bisa melawan rasa kantuknya. Pelajaran satu ini sungguh-sungguh membuat Taeyeon serasa mati lemas.

Jauh dari predikat guru tampan yang digelar oleh Luhan seonsaengnim, Taeyeon baru tahu cara mengajar guru baru itu. Hanya satu kata yang bisa menggambarkannya, mem-bo-san-kan! Taeyeon benar-benar habis pikir. Bagaimana bisa guru tampan itu mengajar anak muridnya dengan style seperti guru-guru lanjut usia seperti di sekolah lama Taeyeon? Ugh, untung saja Luhan seonsaengnim itu tampan. Kalau tidak―

“…jadi kapan Perang Troya terjadi, Kim Taeyeon-ssi?”

BUK!

“Ah!”

Sontak saja hal tersebut menyebabkan kegaduhan di dalam kelas. Kebanyakan dari mereka hanya bisa tertawa terpingkal-pingkal melihat Taeyeon yang menjatuhkan kepalanya di meja sehingga menimbulkan suara yang amat sangat keras.

“Kau tidak apa-apa?” tanya seseorang di samping Taeyeon.

Taeyeon mendelik, “Sshh, apa di wajahku terlihat kalau aku baik-baik saja, Byun Baekhyun?” balas Taeyeon sarkastik. Ia meringis sebal sambil mengusap-usap dahinya yang memerah. Dasar Taeyeon bodoh! Kenapa kau mempermalukan dirimu di hari kedua ini, hah?

Poor Taeyeonnie~” gurau Chen sambil tertawa lebar. Sepertinya ia harus berterima kasih kepada Taeyeon karena bisa membuatnya tertawa di situasi yang membosankan seperti ini.

Shut up, bitch.

“Sudah puas melamun, Taeyeon-ssi?” tegur Luhan seonsaengnim sambil terus menatap gadis itu dengan tatapan tajam.

“Belum, seonsaeng.” Jawab Taeyeon berani.

“Benarkah?” Luhan seonsaengnim bertanya dengan suara yang dibuat-buat. “Kalau begitu, kenapa kau tidak keluar saja dulu? Mungkin kau bisa mencuci wajahmu, makan di kantin atau melakukan hal lain yang bisa menghilangkan rasa bosanmu?” lanjutnya sarkastik.

Taeyeon buru-buru bangkit berdiri, ia rasa ia sedang beruntung saat ini. “Betul sekali, saem. Saya akan keluar sebentar, terima kasih.” Katanya sambil berjalan melewati Luhan seonsaengnim dan beranjak keluar dari kelasnya.

Tentu saja hal tersebut menyebabkan murid-murid lain menghela napas kecewa. Kenapa bukan mereka saja yang disuruh untuk keluar dari pelajaran membosankan ini? Luhan seonsaengnim pilih kasih!

Luhan seonsaengnim pun diam-diam ikut menghela napas. Melihat tingkah anak baru itu, membuatnya kadang merasa kesal setengah mati. Berbeda dengan tampilan luarnya, gadis itu malah suka sekali berbuat sesukanya dan melanggar aturan.

Tapi entah kenapa, ia suka melihat wajah gadis itu lama-lama. Manis, walaupun melihat senyumannya saja tidak pernah.

“Ehm.” Ia berdeham, “Jadi kita sudah sampai di mana tadi?” tanyanya yang dijawab dengan pekikan kecewa dari anak-anak asuhannya.

/

/

/

Setelah keluar dari kelasnya, Taeyeon langsung mengambil langkah seribu untuk beranjak pergi ke toilet. Wajahnya sudah terasa kering dan rasa kantuk pun masih enggan pergi dari dirinya.

Ia langsung membilas wajahnya dengan air keran. Ia juga mencuci tangannya serta sedikit membasahkan rambutnya.

Taeyeon melihat pantulan dirinya di kaca. Memperhatikan sosok gadis berwajah manis yang sering membuat para pria jatuh hati pada sosok itu. Taeyeon menggerakan wajahnya ke sana ke mari, menunjukkan berbagai ekspresi mulai dari sedih, marah, cuek, jengkel, lucu, datar dan yang terakhir adalah senyum lebar.

Sontak saja Taeyeon langsung mengganti ekspresi wajahnya tersebut. Kapan terakhir kali aku tersenyum?, pikirnya. Ya, menurutnya senyum adalah hal asing yang harus dijauhi. Ia memilih untuk memusuhi ‘senyum’ dan terus menampilkan wajah datarnya.

Tak. Tak. Tak.

“Halo, murid baru.”

Taeyeon langsung menatap sesosok gadis yang baru saja datang itu lewat kaca. Ia mencoba untuk menghiraukan kedatangannya, dan memilih untuk berpura-pura mencuci tangannya dengan sabun.

“Jadi kau adalah murid baru itu, ya? Kau pindahan dari Jerman itu, kan?” tanyanya sambil mendekati Taeyeon.

Merasa tidak dianggap, gadis itu kembali bertanya, “Kau yang saat itu diperebutkan Baekhyun dan kawan-kawan, bukan?” kali ini gadis itu menampilkan raut wajah tajam.

Taeyeon melirik gadis itu sebentar, tapi ia memilih untuk tetap diam. Toh, apa untungnya juga baginya jika ia menjawab. Membuang tenaga saja.

Ya, kau ini tuli atau bisu?! Kenapa kau terus diam sejak tadi?!”

“Menurutmu?” balas Taeyeon dengan suara rendah.

“Jawab pertanyaanku, anak baru!” perintah gadis itu dengan marah.

Taeyeon mengangkat sebelah alis matanya, “Apakah itu penting untuk dijawab?” tanyanya balik. Ia senang membuat orang lain naik pitam karena perkataannya atau ulahnya. Ia suka melihat wajah orang-orang jika mereka marah.

“Dasar tidak tahu diri!” umpat gadis itu yang membuat Taeyeon kini mulai emosi. Apa latar belakang gadis itu sehingga bisa mengatainya dengan sebutan tidak tahu diri?

“Apa maksudmu?”

“Kau!” tunjuk gadis itu, “Jangan mentang-mentang kau sekelas dengan Baekhyun, kau bisa mendekatinya! Dia itu kekasihku!” lanjutnya dengan berapi-api.

“Mendekati? Baekhyun?”

Ne! Memangnya kau kira aku tidak tahu peristiwa kemarin? Saat kau diperebutkan ketiga namja itu?” lanjutnya. “Apa yang telah kau lakukan sehingga mereka bisa mendekatimu, hah? Kau menggoda mereka?”

“Jaga ucapanmu!” hardik Taeyeon kesal. Menggoda? Memangnya Taeyeon adalah gadis barbar?

Gadis itu tidak mau berhenti. Ia sudah terlanjur kesal dengan perbuatan Taeyeon yang menurutnya menggoda para member Troublemaker. Apalagi Baekhyun.

“Aku juga melihat kau dengan Taehyung! Dan tadi pagi, kau juga mendekati si Ketua OSIS, Kim Junmyeon. Sebenarnya, apa maumu? Kenapa kau mendekati semua namja populer di sekolah ini?” omelnya.

Taeyeon tertawa setan dalam hati. Ia dan Taehyung? Hahaha, dasar gadis bodoh. Memangnya apa salahnya jika ia dan Taehyung dekat? Sudah jelas-jelas kalau mereka berdua adalah sepasang kakak-beradik. Lalu, Junmyeon? Di mana letak kesalahannya jika ia mendekati sepupunya sendiri? Gadis ini…

Tapi tunggu dulu, Junmyeon Ketua OSIS?

“Apa? Ketua OSIS?” gumam Taeyeon. Sejak kapan laki-laki nerd itu menyandang gelar sebagai Ketua OSIS?

“Ya.” Jawab gadis di hadapannya dengan tegas. “Kim Junmyeon dari kelas XI adalah Ketua OSIS yang baru. Dia tampan, kaya raya, baik hati dan murah senyum. Pantas saja kau mengincarnya.” Sindirnya.

“Ck!” decak Taeyeon yang mulai jengah.

Ia mendekati gadis yang sedikit lebih tinggi darinya itu dan menatapnya tajam, “Dengar ya, wahai gadis pesolek.” Ucapnya sambil memicingkan matanya, “Semua perkataanmu memang benar adanya.”

Gadis itu tertawa mengejek Taeyeon. Benar kan dugaanku?

“Aku memang mendekati Kim Taehyung dari kelas X bahkan aku tidur satu atap dengannya. Kau tahu kenapa? Karena aku, Kim Taeyeon adalah KAKAK kandung dari Taehyung. Mengerti?” jelasnya sambil menekan kata ‘kakak’.

Taeyeon tersenyum sinis ketika melihat raut wajah gadis itu berubah. Terlihat shock.

“Lalu, aku juga mendekati Kim Junmyeon dari kelas XI yang merupakan Ketua OSIS baru itu dan melakukan romantic breakfast dengannya karena aku adalah SEPUPUnya. Apa kau sudah mengerti sekarang?” lanjut Taeyeon sambil mengangkat sebelah ujung bibirnya.

“A-apa?”

“Ah, jadi kau belum tahu siapa diriku, ya?” tanya Taeyeon sambil memasang wajah sedih. “Seharusnya kau mencari tahu tentang diriku dulu sebelum KAU bisa memarahiku dengan cara seperti ini.”

Taeyeon mengambil langkah untuk menjauhi gadis itu, “Dan satu lagi yang harus kau ketahui! Aku tidak pernah mendekati Baekhyun atau teman-temannya tetapi kekasih tercintamu itulah yang mendekatiku.”

Ya!” pekiknya tidak terima.

“Bilang pada kekasihmu itu, berhenti mencari gara-gara denganku. Aku tidak sudi berada dekat-dekat dengannya, kau tahu?” Taeyeon membuka pintu toilet dan beranjak keluar.

Ya, dasar murid baru tidak tahu diri! Memangnya kau siapa hah, sehingga bisa mendekati Baekhyun?! Ish, awas kau Kim Taeyeon!” pekik gadis itu sambil menghentak-hentakkan kedua kakinya ke lantai.

Ia harus mengabari teman-temannya. Ia harus melindungi kekasihnya itu dari murid baru itu!

/

/

/

Taeyeon buru-buru pergi menjauhi toilet. Bukannya selamat dari pelajaran Luhan seonsaengnim yang membosankan itu, ia malah diomeli habis-habisan oleh…siapa nama gadis itu tadi?

Ah, entahlah! Intinya ia benci sekali! Bagaimana bisa gadis itu memarahinya karena ia mendekati Baekhyun dan teman-temannya? Sebenarnya, siapa yang harusnya marah di sini? Lagipula, siapa juga yang sudi didekati Troublemaker? Dilihat dari namanya saja Taeyeon sudah tahu kalau keenam pemuda homo itu pasti suka membuat ulah.

Tunggu…homo? Sepertinya Taeyeon harus menarik ucapannya. Kalau mereka homo, kenapa salah satu dari mereka bisa memiliki pacar yang jelas-jelas perempuan itu, ya? Ah, tidak tahu! Yang Taeyeon tahu mereka adalah sekumpulan laki-laki homo dan pembuat onar.

Noona?” panggil seseorang yang membuyarkan lamunan Taeyeon. Ia mengangkat kepalanya dan mendapati adiknya sudah berada di hadapannya.

“Apa?”

“Kenapa noona berada di sini? Bukankah sekarang masih jam pelajaran?” tanya Taehyung sambil melirik arlojinya.

Taeyeon menghela napas, berusaha kebal dengan adiknya yang cerewet ini. “Luhan seonsaengnim menyuruhku keluar karena aku tertangkap sedang melamun.” Jawabnya sedikit bangga.

Mwo? Bagaimana bisa noona melamun di pelajaran Luhan seonsaengnim? Bisa-bisa nilai rapot noona merah, tahu? Luhan seonsaengnim itu walaupun guru baru tapi ia masuk dalam jajaran guru killer, aro?.” Jelasnya.

“Memangnya aku peduli?” Taeyeon mengidikkan kedua bahunya. “Malah seharusnya aku berterima kasih padanya. Setidaknya aku bisa terbebas dari situasi bak neraka di kelas itu.” Lanjutnya.

Taehyung hanya diam. Habis pikir dengan jalan pikiran noonanya ini. Bagaimana bisa Tuhan menciptakan gadis dengan rasa peduli nol persen seperti Taeyeon?

“Lalu kau sendiri, kenapa kau bisa berada di luar?” tanya Taeyeon sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

“Ingin saja. Lagipula sedang tidak ada guru yang mengajar di kelasku.” Jawab pemuda itu santai.

Taeyeon berdecak, “Kau bahkan tidak jauh berbeda dari sifatku.” Gumamnya.

“Apa?”

“Tidak.” Taeyeon buru-buru menjawab, takut kalau Taehyung mendengar perkataannya tadi. “Bagaimana kalau makan di kafetaria? Mungkin dengan memakan sesuatu di sana bisa menghilangkan rasa kantukku. Kaja,” tawar Taeyeon yang langsung berjalan mendahului Taehyung, tanpa mau mendengar jawaban namja itu.

Sedangkan Taehyung, ia hanya bisa mengikuti keinginan noonanya. Lagipula, ia juga sedang lapar. Jadi, ditraktir sepiring Parmesan Crusted Chicken bukankah hal yang indah?

/

/

/

Elysium Boulevard, Incheon, South Korea. 16.30 KST.

Ketika mobil yang ia tumpangi sampai di rumah, Taeyeon buru-buru keluar dari mobil bercat hitam legam itu dan berlari ke dalam mansionnya. Ia sudah merasa lelah, ditambah lagi ketika tadi ia kejebak macet di persimpangan jalan. Lihat, bahkan jam pun sudah menunjukkan jam setengah lima!

“Selamat sore, Nona, Tuan Muda.” Para pelayan yang berada di depan pintu pun dengan sigap membungkuk dalam dan membukakan pintu rumah ketika melihat sang Nona dan Tuan Muda telah pulang.

Taeyeon tetap menghiraukan pelayan-pelayan itu dan memilih untuk langsung pergi ke lantai atas. Ia ingin cepat-cepat bersih-bersih dan tidur!

Tapi berbeda dengan si Tuan Muda. Ia dengan ramah melemparkan senyum kepada bawahannya itu dan masuk ke dalam rumah dengan santai. Melihat ke sekeliling rumahnya yang terasa sunyi. Appa dan Eommanya tentu saja belum pulang, karena jarang sekali sepasang suami-istri itu kembali di saat langit belum gelap.

Ah, andai saja ia memiliki hyung atau adik kecil yang bisa melepas rasa bosannya ketika sudah sampai di rumah. Bisa memiliki hyung yang mau menemaninya atau adik perempuan yang selalu bertengkar dengannya, bukankah itu adalah hal yang seru?

Taehyung hanya memiliki seorang noona yang bersifat sangat-sangat tidak peduli dengannya. Noonanya saja memilih pergi ke Jerman ketimbang bermain dengannya di rumah. Huh, noona menyebalkan!

“Taehyung-ssi, kalau kau lapar, kau bisa makan di meja makan! Tadi aku sempat memasak spageti dan masih tersisa banyak.” Tiba-tiba saja Jessica muncul dari tangga sambil membawa segelas air mineral.

“Ah, annyeong haseyo, Jessica noona.” sapa Taehyung ramah.

Jessica hanya membalasnya dengan sebuah senyuman.

“Tadi aku melihat Taeyeon berlari ke kamarnya. Dia terlihat buru-buru sekali. Apa yang telah terjadi dengannya?” tanya Jessica heran.

“Tidak ada, noona. Mungkin Taeyeon noona sedang lelah, maka dari itu ia buru-buru pergi ke kamarnya. Ia hanya ingin beristirahat, mungkin.” Jelas pemuda itu.

“Begitukah?” katanya. “Hey, kau tidak ingin mandi atau sebagainya? Lebih baik kau segera masuk ke dalam kamarmu, habis itu turun dan segera makan. Arraseo?”

Taehyung tersenyum, “Ne, noona.” balasnya sambil beranjak pergi dari hadapan Jessica.

Jessica menghela napasnya, “Taehyung, sebenarnya apa salahmu sehingga Taeyeon bisa sangat membencimu seperti itu, eo? Seharusnya kau dilahirkan sebagai adikku saja.” Guraunya sambil sedikit terkekeh.

/

/

/

20.00 KST.

Taeyeon meletakkan handphone canggihnya ke nakas. Ia melirik sebentar ke arah jam dinding dan ia baru menyadari kalau hari sudah malam. Ia bangkit berdiri dan berjalan keluar dari kamarnya. Ia ingin menemukan sesuatu yang baru.

Saat di luar kamar, Taeyeon memilih untuk berjalan-jalan di sekitar lantai dua. Sejak kemarin, ia terus mendekam dalam kamarnya dan belum sempat berkeliling rumah bak istana ini.

Ketika sampai di ujung rumah, ia mendapati sebuah pintu kayu yang menjulang tinggi. Ia baru tahu kalau ada pintu di sebelah sini. Taeyeon menggerakan jari-jari tangannya untuk memegang gagang pintu dan mendorongnya agar bisa terbuka.

“Wah.” Gumamnya ketika ia memasuki ruangan tersebut.

Ruang Musik.

modern-music-themed-for-bedroom-design (1)

Taeyeon baru tahu kalau di rumahnya ada studio musik seperti ini. Lengkap dengan seluruh peralatan alat musiknya, televisi, dan lain-lain. Memangnya, siapa yang bisa memainkan alat musik di rumah ini selain dirinya?

Gadis itu mendekati grand piano yang letaknya berada di sudut ruangan. Ia memandangi piano hitam elegan itu dan berjalan mengitarinya. Ketika ia menemukan bangku, ia segera mendudukinya dan membuka penutup piano tersebut.

Ia meletakkan jari-jari tangannya di tuts piano dan mulai menekan benda berwarna putih itu dengan pelan. Awalnya ia hanya memainkan lagu karangannya sendiri, tapi lama-lama ia malah memainkan lagu yang berjudul Requiem for a Dream.

Ia menyukai lagu itu. Nada-nada dan melodinya pun indah. Tak lama, permainannya pun berganti. Kini ia memainkan lagu milik Claude Debussy yang berjudul Clair de Lune.

Entah kenapa Taeyeon memainkannya dengan penuh emosi. Ia menekan tuts-tuts piano dengan kuat, hanya saja melodi yang ia hasilkan tetap bagus. Ia tidak sadar kalau ruangan ini sebenarnya tidak kedap suara, sehingga orang-orang rumah pasti bisa mendengar permainannya ini.

Ceklek.

Noona?”

Taeyeon buru-buru menghentikan permainannya sebentar, lalu melirik adiknya sekilas. Ia bisa melihat raut wajah Taehyung yang khawatir. Tentu saja, siapa yang tidak takut mendengar permainan piano itu? Malam-malam seperti ini dan seseorang memainkan sebuah lagu dengan penuh emosi? Aigoo, Taehyung hampir mati mendengarnya.

“Lagu apa yang noona mainkan?” tanya namja itu sambil mendekati Taeyeon. “Permainanmu sangat indah, noona.” pujinya.

Ia baru tahu kalau noonanya bisa bermain musik dengan begitu baik. Ini kali pertamanya ia mendengar permainan piano Taeyeon, dan jujur ia terpukau.

Taeyeon tak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Taehyung. Ia kini kembali menekan tuts-tuts piano dan memainkan sebuah lagu lain. Lagu yang ia mainkan tetap pada nuansa yang tidak ceria.

La Valse d’Amélie.

Permainan piano yang terkesan santai tapi tetap ia bawakan dengan penuh perasaan.

Noona…” panggil Taehyung sambil menyentuh lengan Taeyeon yang mulai menggila. Ia heran, kenapa noonanya terus memainkan lagu dengan tema sedih?

“Kau kenapa, noona? Dari awal permainanmu, kau selalu terdengar murung. Apa yang terjadi?” tanya Taehyung penasaran.

Taeyeon menatap adik bungsunya dengan tatapan yang aneh, “Tidak. Tidak ada.” Jawabnya ragu.

Terdengar helaan napas kecewa yang keluar dari bibir Taehyung. Ia beranjak duduk di samping noonanya dan mengambil alih permainan. Ia ingin menunjukkan permainannya.

“Kau bisa bermain piano?” tanya Taeyeon sambil terus menatap adiknya.

“Mm…lihat saja.” Jawab Taehyung dengan senyum kecil.

Taehyung mulai menggerakan jari-jari kekarnya dengan lihai di atas tuts. Tidak seperti noonanya, ia memilih untuk memainkan lagu-lagu ceria, bukan lagu-lagu murung seperti yang Taeyeon mainkan.

Lagu yang berjudul I’m Nearing the Goal.

“Kenapa kau memainkan lagu seperti ini?” tanya Taeyeon heran.

Wae?” tanya Taehyung balik.

Kini, ia mengganti permainan. Ia memainkan lagu dari Scott Joplin dengan judul Maple Leaf Rag. Tidak jauh dari permainannya yang sebelumnya, lagu ini juga terdengar ceria dan jauh dari kata sedih.

Diam-diam Taeyeon tersenyum mendengar permainan Taehyung. Sesuai dengan kepribadian pemuda itu, lagu yang ia mainkan pasti lagu-lagu yang semangat. Berbeda sekali dengannya.

Tak lama setelahnya, Taehyung kembali mengganti permainan. Kali ini ia memilih untuk pindah haluan. Ia memainkan lagu bertema sedih. Lagu milik Laszlo Gyorgy dengan judul Keresem atau Searchin’.

Taeyeon menatap adik bungsunya yang memasang tampang datar sambil terus menekan tuts-tuts piano. Ia juga baru tahu kalau Taehyung bisa semahir ini dalam bermain piano. Tapi…kenapa bocah ini malah memberikannya sebuah permainan seperti itu? Apa namja itu sedang sedih?

Ya.

Buru-buru Taehyung menarik jari-jarinya menjauh dari piano ketika tubuh Jessica muncul di pintu. Jessica dengan memakai piyama tidurnya itu menatap kakak-beradik yang sedang duduk bersebelahan tersebut dengan heran. Sejak kapan mereka bisa sedekat itu?

“Ada apa, noona?” tanya Taehyung.

Jessica tersadar dari lamunannya, “Oh, gosh! Kalian berdua menakutkan, tahu?” tegurnya sebal.

“Malam larut seperti ini dan kalian bermain piano? Kalian membuat kami yang di bawah ketakutan setengah mati!” omel Jessica.

“Bilang saja kau iri dengan permainanku.” Ujar Taeyeon.

“Tidak!”

“Kau iri karena belum bisa bermain sepertiku, kan? Kunci-kuncinya saja kau masih sering lupa.” Ejek Taeyeon.

Ya, neo!” pekik Jessica sambil menunjuk ke arah Taeyeon.

“Apa?” Taeyeon dan Taehyung sama-sama beranjak dari piano. Taeyeon sedikit heran kenapa ia bisa duduk bersebelahan dengan orang yang selama ini ia benci. Oh my gosh, Taeyeon! Apa kau tidak sadar kalau seharian ini kau bersikap baik kepada adikmu?

“Lebih baik kalian segera tidur daripada kalian bermain piano semalaman yang membuat telingaku pecah.”

Jessica langsung keluar dari ruangan itu disusul dengan Taeyeon dan Taehyung yang mengekor di belakang. Ketika sampai di dekat kamar mereka, bibi Ahn tiba-tiba datang dan membungkuk dalam kepada mereka bertiga.

“Permisi, Nona, Tuan.”

“Ada apa, bibi?” tanya Taehyung ramah. Ia sudah mengenal bibi Ahn sejak kecil, sehingga ia sangat menghormati wanita tua ini walaupun statusnya hanya pelayan di rumah keluarganya.

“Tadi Nyonya menelepon saya. Nyonya bilang Tuan dan Nyonya tidak akan pulang dalam waktu dekat karena harus bertemu dengan klien mereka di Inggris.” Jelas wanita paruh baya itu.

“Hmm…apa eomma mengatakan hal lain?”

“Tidak, Tuan Muda.” Jawab bibi Ahn.

Taehyung menghela napas kecewa. Sudah sering ia ditinggal oleh kedua orangtuanya dan sudah sering pula ia merasa kecewa dengan mereka.

“Baguslah.” Ucap Taeyeon tiba-tiba. Ia berjalan menuju kamarnya, meninggalkan sahabatnya dan adik satu-satunya itu yang masih menatapnya heran.

“Bibi, kalau bisa bibi menyampaikan pesanku kepada mereka. Lebih baik mereka tidak perlu pulang saja lagi, kalau mereka masih terus mementingkan klien mereka daripada anak-anaknya.” Ujar Taeyeon sambil menahan emosinya. Ia segera membanting pintu kamarnya dan langsung merebahkan diri di kasur empuk miliknya.

Taeyeon sudah terlalu bersabar sejak dulu. Bahkan sebelum Taehyung lahir, kedua orangtuanya sudah sering meninggalkan dirinya di rumah hanya untuk bertemu dengan rekan bisnis mereka. Lebih baik hanya tiga hari, kadang mereka bisa meninggalkan Taeyeon selama satu minggu bahkan berbulan-bulan. Sebenarnya, mereka itu sedang meeting atau berbulan madu? Kenapa mereka selalu meninggalkan dirinya dengan jangka waktu yang panjang?

Bahkan ketika ia pindah ke Jerman, mereka juga jarang sekali menengok, mengunjunginya ataupun yang lainnya. Mungkin dalam setahun hanya bisa dihitung dengan jari. Kedua orangtua itu memang tidak pernah memperhatikan Taeyeon, mereka terlalu sibuk dengan urusan masing-masing!!

Mereka tidak memberikan kasih sayang lebih kepada Taeyeon, padahal kan ia adalah seorang gadis yang membutuhkan banyak perhatian dari orang tuanya.

Tiba-tiba pikiran Taeyeon langsung terarah kepada sosok yang selama ini Taeyeon sayangi, bahkan melebihi rasa sayang terhadap dirinya sendiri. Laki-laki yang selama ini selalu ada untuk Taeyeon dan mau menemaninya. Selalu mengajarinya, bermain dengannya dan memarahinya kalau-kalau ia berbuat salah.

Sosok yang membuat Taeyeon tidak bisa lepas dari bayangannya bahkan sampai saat ini. Ia…ia merindukan sosok itu.

Oppa.” Panggilnya. Ia berusaha untuk memejamkan matanya dan mengenyahkan pikirannya. Ia sedang kalut.

Tanpa terduga, air mata turun dari salah satu pelupuk matanya.

Oppa, bogoshippo.” Ujarnya lirih tanpa berniat untuk menghapus air matanya.

Sosok itu adalah oppa. Oppa yang selama ini ia rindukan dan terus mengusik pikirannya. Laki-laki yang selalu mementingkan Taeyeon lebih dari apapun. Bahkan ia bersikap layaknya seorang ayah untuknya.

Oppa...”

/

/

/

/

/

………………………………………………..

……………………………………………………………..

………………………………………………………………………….

HAI SEMUANYA.

Hahahahahaha.

Hahahahahahahaha.

Apakah ada yang merindukanku? Atau merindukan ff ini?

Hahahahahahahahahaha.

Tunggu, kita cek dulu kalender.

.

.

.

APA?! 26 JANUARI?!

Hahahahahaha.

Sudah berapa lama ff ini ga apdet ya? Tau deh :v

Maaf banget yaa astagaa /.\ padahal aku udah nyicil 1000 kata serius, tapi tiba-tiba…..feel ku entah kenapa hilang. Bahkan konflik-konflik yang mau aku buat malah buyar 😥

kemaren udah mau pos tapiiiiii pas banget internet ngadat!! gila, padahal tinggal klik publish tapi internet langsung mati >.<

Abis hayati sudah gak kuat maaakk T.T seminggu masuk masa udah disuruh kerjain pr lah, ulangan lah, presentasi lah, praktek lah, poster lah, ini lah, itu lah, anu lah. Woi ini tuh MURID bukan ROBOT, saem 😥 bunuh saja hayati di rawa-rawa bang ToT hayati sudah gak kuat TAT

Setiap hari aku buka words, pengen banget ngelanjutin tapi gimana ya… otak kacau, ilang semua ide -_- makanya part ini rada gaje abis gitu deh-,- tapi plis ya, ini tuh aku buat sampe jam 3 pagi!!

Jadi gimana? Siapa yang masih bertahan menunggu ff ini? Pasti udah jenggotan ya? TAT maaf yaaa maaf~~ semoga masih pada betah deh ngebaca ff ini -.-

Tapi jujur, aku nulis “oh my gosh, Taeyeon. Apa kau tidak sadar kalau seharian ini kau bersikap baik kepada adikmu?” itu sebenernya aku yang gak sadar!! TAT aku lupa masa aku buat Taeyeon baik gitu sama Taehyung :v jauh banget kan sama sifatnya di part sebelumnya? Author ngeblaaaannkkkk TAT

Mana hati lagi gundah. Nentuin siapa pemilik hati ini……/lirik Jungkook/ /kodein Jin/ /toel bahu V/ /tendang Sehun/ ah gila banget lah.. pesona member BTS bener-bener ngelumpuhin hati ini!! Nyampe bingung kan mau milih siapa :v siapa ya siapa? Udah gitu….. EXO 2ND CONCERT COEG!!! Gila abis coeg, gimana iniii…. apa aku harus nonton lagi? Tapi gimana kalo nanti gak lama kemudian BTS konser TAT terus kan aye juga galau ga ikut nonton 1D CONCERT ToT aaaa masa harus nonton duaduanya TTwTT tapi gimana, saya kan mau jadi fans sejati. Walaupun lagi selingkuh ya tetep nomer satu harus EXO ToT tapi gimana coeg….namanya juga fans ya pasti mau liat idolanya lah….aye kan BTS fangurl nih pegimaneee…. tolonglah hayati bang..hayati sudah gak kuat TAT

Ahh stop. Mauriel ngantuk >.<  Btw aku kangen kalian semuah! Maapkan aku ya sobat atas segala kesalahanku padamu~ ailopyupuol deh! ❤ soridorimori baru bisa pos yaa….semoga bisa memuaskan kalian deh……..

Don porget tu lip e komen. Et lis, jas klik laik, okey?

😉

EH TAPI EXO 2ND CONCERT APA BTS CONCERT NIH?! #BRUH #readerspingsan

jodoh gue beb. ttd, maurieljung anak kece, cantik baik hati, murah senyum, rajin menabung dan suka membantu sesama.

jodoh gue beb.
ttd, maurieljung anak kece, cantik baik hati, murah senyum, rajin menabung dan suka membantu sesama.

Advertisements

74 comments on “Hidden Feelings [Part. 3 ― Missing]

  1. udah baca dari chap 1 sebenernya tapi baru bisa coment grgr koneksi internet yg tidak memungkinkan. hehe mian thor
    tp serius ada 1 pertanyaan yg masih belum terjawab smp chap 3 ini. kenapa taeng ga suka sama taehyung?? anak angkatkah si taehyung ini? trs jessica kenapa ga pindah aja ke korea? biar lebih seru chap selanjutnya masih ada si sica hehe.
    ditunggu kelanjutannua thor!! mangats

  2. haloo authorr..
    emhh emhh, aku tuh nunggu2 alasan knpa taeng segitu bencinya sama taehyung..dan penyebab knpa dia jd bersifat dingin..
    tapi blm ada penjelasan jugaa.. nampaknya alur cerita nya agak lambat thor, tp kerenn kok..makanya aku sampe skrg msh penasarann aja sama lanjutan ff ini..
    apa mgkn taeng jd dingin krn ditinggal oppa nya?
    please update soon thor..
    i’ll wait..hhe semangatty thornim!!
    Besokk konser exo dong!! sekaligus comeback juga!! hha *curcoldadakan
    Gomawo..

  3. Kya kya suka banget ffnya. Penasaran oppa yang dimaksud taeyeon itu siapa btw thor w greget banget masa :# pengen bikin orang yang marah”in taeyeon tadi itu beralih takut setengah mati sama taeyeon /? Greget ih cepet ya nextbya thor suka banget ni dohh

  4. Pingback: Hidden Feelings [Part 4 ― Hidden Things] | All The Stories Is Taeyeon's

  5. Kenala taeng judes sih sma taehyung. Kasian juga ya taeng ditinggal mulu. Sypa yg diblg sma taeng?

  6. Pingback: Hidden Feelings [Part. 5 – Get Closer] | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s