[FREELANCE] Wanna Be Yours (Chapter 1)

TwImg-20141028-130957

Title: Wanna be Yours

Author: Unicorn

Length: Multi Chapter

Genre: Romance, Mature content

PG: 16+

Maincast: -Kim Taeyeon (GG)

-Xi Luhan

-Byun Baekhyun (EXO-K)

-Other cast you’ll find them later

Author’s note: Halo J kali ini author bawa ff pairing LuTae. Semoga readers suka dan jangan lupa tinggalkan comment J. Poster: Taeyeon’s fansite. thank you #unicorn

. . . . . . . .

Taeyeon membuka tutup selai kacang kesukaannya, mengambil selai kacang itu menggunakan sendok lalu mengoleskannya pada roti tawar. Ia tersenyum lebar memperhatikan roti yang telah penuh bermandikan selai kacang itu.

“Apa telah terjadi sesuatu antara kau dan roti itu?” gumam seseorang di samping Taeyeon. Taeyeon langsung menoleh dan tersenyum ke arah sumber suara itu. “Tidak” jawabnya. Ayah Taeyeon menyesap kopi nya lalu membuka lembaran koran. “Lalu?” tanya Tuan Kim lagi.

“Ini tentang Baekhyun,” jawab Taeyeon sambil tersenyum bahagia. Tuan Kim mengerang, “Tentu saja.” Ujar Tuan Kim acuh . Taeyeon mempoutkan bibirnya mendengar nada suara ayahnya yang terkesan dingin.

“Yeobo.. kenapa kau tidak menyukai Baekhyun? Menurutku dia sangat manis” sahut seorang wanita cantik bertubuh ramping yang duduk di depan Taeyeon dan ayahnya. Taeyeon menganggukkan kepalanya setuju. “Apa namja manis yang suka menggunakan eye liner itu pantas untuk uri Taeyeon? Tidak! Tentu tidak! Uri Taeyeon harusnya mendapatkan lelaki yang mature dan tidak kekanakan seperti bocah ingusan itu”

Taeyeon menautkan alisnya. “Dad! Baekhyun tidak ingusan”

Tuan Kim hanya diam lalu kembali membaca korannya, sama sekali tidak mengubris seruan anak semata wayangnya itu.

Taeyeon menatap eomma nya dengan maksud meminta pertolongan tapi Nyonya Kim hanya tersenyum tipis dengan kepala yang sedikit miring ke kiri. Gadis itu mengerang tertahan. Ia memakan roti nya dengan cepat dan begitu pula saat meminum susunya.

“Dad, ayo kita berangkat”

………………………………………..

 

Taeyeon membuka set belt yang selama perjalan tadi mengurungnya. Haruskah dikatakan? Tapi Taeyeon sama sekali tidak menyukai saat dirinya harus menggunakan set belt bahkan untuk keselamatannya sekalipun.

Tapi mengingat betapa menyeramkannya dad mengenai hal – hal yang mengancam keselamatannya, Taeyeon harus terjepit sabuk pengaman itu untuk 20 menit lamanya.

“Turunlah” ucap Tn.Kim. Taeyeon mengangguk baru saja Taeyeon ingin membuka pintu mobil, dad lebih dulu membatalkan niatnya. “I love you little Kim” .Taeyeon tersenyum lalu mencium pipi ayahnya “I love you more dad”. Tn.Kim terkekeh “I love you most” ucapnya lalu mencium pucak kepala Taeyeon.

Taeyeon segera turun dari mobil mengingat 1 menit lagi bel berbunyi setidaknya yang ia tahu saat melihat jam tangannya. Ia melambaikan tangannya pada Tn.Kim lalu langsung berlari memasuki wilayah sekolahnya.

. . . . . . . .

“Mwoya? Murid baru? Aisshh, menyebalkan” seru Kyungsoo membuyarkan lamunan Taeyeon.

Tiffany yang duduk di samping Taeyeon langsung menoleh ke belakang. “Jinjja?!!”

Kyungsoo mengangguk lalu memperlihatkan Tiffany dan beberapa murid lain di sampingnya website SM High School yang sedang dibukanya di handphone.

“Wahh daebak!!” seru Tiffany sambil mengguncang lengan Taeyeon. Taeyeon mendengus pelan. “Tidak ada yang daebak. Apa bagusnya jika ada murid baru?” tanya Taeyeon. Tiffany memutar bola matanya. “Tentu saja daebak, Taeyeon. Bagaimana tidak? Yang pindah ke sekolah kita adalah anak dari Designer terkenal Xi Yura. Dan lebihnya, dia akan sekelas dengan kita” jelas gadis bermata eye smile itu.

Taeyeon mengerutkan keningnya bingung. “Oh ya? Kau tahu dari mana jika dia akan sekelas dengan kita?”

Tiffany memberengut kesal. “Makanya sesekali buka website sekolah kita. Website SM High School selalu update tiap hari,jam,menit, dan detik. Di sana tertulis jelas setiap berita baru di SM High School”

Taeyeon tampak berfikir lalu mengangguk. “Oh” jawabnya membuat Tiffany yang mulutnya hampir berbusa kesal. “Aiss, kau menyebalkan Kim Taeyeon” sungut Tiffany. Taeyeon menatap sahabatnya itu singkat lalu kembali memainkan tangan ahlinya bersama pensil di atas kertas. “Kalau begitu maaf Stephanie Hwang”

Tiffany berdecak lalu baru saja gadis itu ingin memutar tubuh menghadap kebelakang untuk mengobrol bersama Kyungsoo, niatnya terlanjur batal akibat satu tangan halus Taeyeon yang menahan lengannya.

“Wae?” tanya Tiffany dengan sebersit nada kesal di suaranya.

“Siapa namanya? Nama murid baru itu” tanya Taeyeon. Senyum Tiffany pun langsung terkembang dengan indahnya. “Ternyata kau tertarik juga ya dengan murid baru itu?” goda Tiffany.

“Tidak setertarik dengan anjingmu” jawab Taeyeon sukses membuat Tiffany tertawa. “Lalu?” tanya Taeyeon lagi. “Apanya?” tanya Tiffany menjawab pertanyaan Taeyeon. Gadis itu menghela nafas. “Nama murid itu Tiffany” ucap Taeyeon geram.

“Oh. Mian. Namanya Luhan. Xi Luhan”

. . .. . . .. . . . . . . . . . . .

 

Bel tanda sekolah berakhir berbunyi, para murid bersorak gembira. Guru pun sudah keluar dari kelas, sementara murid – murid masih banyak yang memilih untuk tetap berada di kelas. Taeyeon tersenyum senang sesaat membaca pesan di handphone nya lalu langsung merapikan buku bukunya di atas meja dan memasukkan nya ke dalam tas.

Tiffany dan Kyungsoo hanya memberikan tatapan bingung satu sama lain.

“Mau pulang Taeyeon?” celetuk Kyungsoo. Taeyeon melirik Kyungsoo, Tiffany, Suho dan Kris bergantian. Taeyeon menggeleng. “Sehabis menonton pertandingan Baekhyun… Iya” jawab Taeyeon mantap.

Tiffany mengangguk, Kyungsoo dan Suho hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sedangkan Kris masih dengan ekspresi biasanya, datar. Bisa dibilang setelah dad, teman temannya tidak begitu menyuaki Taeyeon terlalu dekat dengan Baekhyun. Lelaki yang merupakan murid kelas 1 SM High School yang biasa – biasa saja itu bisa dibilang seperti melewati batas ‘pertemanan’ dengan Taeyeon yang sudah berada di kelas 3 bagi siapapun yang melihat kedekatan mereka.

Banyak yang menyangka mereka adalah sepsang kekasih, tapi kenyataan nya tidak. Tidak sama sekali. Taeyeon hanya menganggap Baekhyun sebagai adiknya sendiri, sementara Baekhyun… Baekhyun? Entahlah. Tidak pernah ada yang tahu dan peduli akan perasaan Baekhyun kepada Taeyeon terkecuali Fangirls Baekhyun.

Yah. Walaupun tidak sepopuler Taeyeon, Baekhyun juga termasuk murid yang menonjol di sekolah. Otaknya yang encer dan kemampuan bermain bolanya sudah tidak diragukan lagi. Tapi meskipun begitu, tentu saja ia kalah telak dibandingkan murid seperti Kyuhyun, Suho ataupun Kris.

“Kau menyukainya?” tanya Kris. Taeyeon melirik sahabat nya yang paling pendiam iu dengan bingung. “Menyukainya? Dalam rangka apa? Teman? Adik?… err namja?”. Suho berdecak, “Tentu saja namja Kim Taeyeon” sahut lelaki berwajah malaikat itu.

“Entahlah” jawab Taeyeon sambil memiringkan kepalanya.
“Dasar gadis jahat. Menurut penglihatanku, Baekhyun itu sudah pasti menyukaimu. Cara nya menatap dan berbicara padamu berbeda saat dengan orang lain. Dia itu sama persis seperti saat Kris jatuh cinta padamu” ujar Tiffany lancar.

Kris tersentak kaget lalu menatap Tiffany dengan tatapan tajam sementara gadis itu hanya tersenyum dongkol dengan tangan membentuk peace sign. “Jangan bahas lagi. Itu masa lalu” kata Kris dengan wajah dinginnya.

Suho dan Kyungsoo langsung ber high five sedangakn Tiffany terkekeh geli .mereka mengingat bagaimana dulu Kris begitu mencintai Taeyeon. Mengejar gadis itu kemanapun hingga akhirnya harapannya pupus ketika mendengar tolakan ‘halus’ dari bibir Taeyeon sendiri.

Dan sekarang Kris sepertinya tidak begitu memperdulikannya lagi, ia hanya ingin kembali seperti dulu lagi, saat ia dan Taeyeon adalah sahabat. Hanya sahabat, tidak lebih.

“Kalian mau ikut?” tanya Taeyeon memecahkan keributan Tiffany, Suho, dan Kyungsoo yang sibuk menggoda Kris.. “Tidak terima kasih” jawab Tiffany cepat. “Aku bukan fangirl nya” jawab Kyungsoo acuh tak acuh. “Aku ada kelas di Kyung In” Suho menambahkan. Melihat Kris yang hanya diam,Taeyeon langsung tahu jika namja itu tidak tertarik karena seperti yang terlihat…. Kris = Basket – Baekhyun = Sepak bola. Dan untuk selanjutnya kalian pasti tahu apa artinya.

“Baiklah, kalau begitu aku pergi” pamit Taeyeon lalu langsung berlari keluar kelas.

“Hey, kau cemburu? Kau sudah tidak memiliki perasaan lagi dengan Taeyeon, bukan?” tanya Kyungsoo. Suho dan Tiffany langsung tersenyum senyum menatap sahabatnya itu.

“Siapa peduli” jawab Kris santai yang dibalas erangan dengan tatapan menyakitkan dari ketiga sahabatnya itu lalu mereka bertiga tertawa lepas.. Kris hanya menghela nafas pelan.

“Harusnya tadi aku ikut Taeyeon” gumamnya

. . . . . . . . . .

“Baekhyun” panggil Taeyeon sesaat melihat sosok lelaki berambut hitam pekat yang berdiri tidak jauh darinya. lelaki itu menoleh lalu tersenyum begitupun Taeyeon.

“Maaf membuatmu menunggu lama. Yah kau tentu tahu bagaimana teman temanku” ungkap Taeyeon.

“Tidak menunggu lama, aku hanya khawatir kau tidak bisa menemaniku”

Taeyeon menggeleng dengan mata tertutup dan satu jarinya terangkat keatas lalu digerakannya ke kanan dan ke kiri. Baekhyun tersenyum, ia mengamati jari mungil Taeyeon.

“Aku sudah berjanji padamu jika aku akan terus menonton pertandingan bolamu Tuan Byun” sergah Taeyeon lalu kembali tersenyum kepada namja yang lebih muda 2 tahun darinya itu.

“Terima kasih noona, tapi sebetulnya aku tidak memiliki pertandingan minggu ini” ucap Baekhyun. Taeyeon mengerutkan keningnya lalu mempoutkan bibirnya. “Tapi aku yakin tadi kau mengrimku pesan untuk ikut denganmu dan menonton pertandinganmu” sungut Taeyeon kesal saat menyadari dirinya sudah dbohongi.

Baekhyun menggaruk lehernya. “Mian, harusnya aku meberitahu noona yang sebenarnya dari awal. Sebetulnya aku akan menjenguk eomma ku hari ini”

Seketika ekspresi wajah Taeyeon berubah menjadi lebih serius. “Jinjja? Bukankah biasanya di hari minggu?” tanya Taeyeon dengan suara yang pelan.

“Noona tidak bisa hari ini?” tanya Baekhyun dengan wajah sedih. Iris hitam pekat namja itu semakin gelap menandakan rasa sedih dan kecewa. Taeyon tahu itu dan ia merasa sedikit bersalah.

“Tidak. Tentu saja tidak Baekhyun. Noona akan menemanimu” gumam Taeyeon menepuk bahu Baekhyun. Lelaki itu tersenyum lebar melihatkan eye smile nya yang sangat manis bagi Taeyeon dan tentunya bagi fangirl Baekhyun juga.

“Terima kasih noona. Kalau begitu ayo kita beli bunga dulu” ajak Baekhyun mengulurkan tangannya yang langsung disambut Taeyeon. Seakan disetrum listrik bertekanan rendah, Baekhyun merasa dirinya bergetar dan gugup saat bersentuhan dengan tangan Taeyeon. Padahal ia hanya menggenggamnya. Tapi itu sudah lebih dari cukup untuknya mengingat Taeyeon adalah gadis yang selalu menunjukkan ‘ketidaktarikkannya’ pada namja manapun. Dan sekarang sepertinya Baekhyun tidak masuk ke dalam daftar namja itu lagi.

Mereka berdua berjalan menuju tempat parkiran motor dan berhenti tepat di depan sebuah motor besar berwarna hitam milik Baekhyun.

“Ini Masalah Baekhyun” Taeyeon memperhatikan motor Baekhyun yang menurutnya tinggi itu. “Kau lihat? Aku menggunakan rok? Dan kau tahu artinya?” tanya Taeyeon lalu menatap Baekhyun.

Lelaki itu dengan sigap membuka blazer nya dan langsung mengikatkannya ke pinggang Taeyeon. Dan setelah itu, secara perlahan Baekhyun mengangkat pinggang Taeyeon hingga gadis itu terangkat lalu mendudukkannya di motor.

“Selesai, tidak ada masalah lagi”

Taeyeon tertegun. Perlakuan Baekhyun sungguh mebuatnya berfikir untuk beberapa detik jika ia adalah seorang putri raja.

“Hm. Kajja”

. . . . . . . . . .

Dua orang lelaki tampak sedang berbica di salah satu meja di dalam sebuah restoran bergaya eropa. lelaki satunya itu tampak sibuk berbicara sedangkan lelaki yang lebih tinggi dari lelaki itu sibuk memakan pancake – nya dengan sesekali menjawab ucapan temannya itu. Lelaki berambut cokelat tua itu terlihat sedang tidak dalam mood yang baik. Ia tampak sangat marah. Terlihat dari beberapa kali lelaki berambut cokelat itu meletakkan cangkir kopinya dengan sedikit keras ke meja.

“Ya! Aku sudah tidak tahan lagi! Aku ingin kabur! Aku ingin kembali ke Canada” sungut lelaki berambut cokelat kepada lelaki berambut blonde.

“Canada? Apa kau gila?” sahut lelaki blonde itu. “Kau harus membantuku Kris” gerutu lelaki itu kepada lelaki blonde yang tak lain tak bukan adalah Kris.

“Tidak mau. Kenapa aku harus membantumu? Hal seperti ini sudah amat sering terjadi dan berakhir dengan aku yang menjadi korban. Jadi jangan libatkan aku lagi” gumam Kris sambil mengelap mulutnya menggunakan tisu.

Lelaki berambut cokelat itu mendesah lalu menjatuhkan kepalanya ke meja. “Kenapa nasibku harus seperti ini? Apa bagusnya Korea? Aku lebih suka tinggal di Eropa. Di sana aku bisa lebih bebas, dan bagaimanapun juga aku bisa puas ‘bermain’ wanita di sana” ujar lelaki itu dengan posisi yang sama.

Kris menghela nafas. “Luhan, Tentu saja Eropa lebih tepat untuk pria brengsek seperti mu yang sangat suka bermain dengan wanita” Kris mengatakannya dengan cukup sengit tetapi tetap dengan wajah cool nya.

“Jaga mulutmu sepupuku tersayang” ujar lelaki itu dengan nada pelan tapi tersirat amarahnya yang telah memuncak di suaranya. Lelaki berambut colelat itu adalah Luhan. Ralat, Xi Luhan. Anak dari Pengusaha sukses China dan ibunya adalah Designer terkenal di Inggris. Luhan merupakan sepupu Kris, mereka hidup bersama sejak kecil di Canada dan akhirnya mereka harus berpisah lantaran Kris pindah ke Korea karena alasan pekerjaan ayahnya. Tentu Kris dan Luhan sangat tahu tentang kepribadian, cerita dan masa lalu satu sama lain.

“Kenapa? Kau marah? Bukankah itu kenyataan?” Kris meminum expresso nya dengan santai. Luhan mengeram kesal. “Ucapanmu lebih dari cukup Kris, itu memang kenyataan”

Kris tersenyum mengejek. “Ck, tapi apa salahnya jika aku sering tidur dengan wanita – wanita murahan itu? Toh mereka juga mau, kecuali jika aku melakukannya tanpa persetujuan mereka baru aku bersalah. Kris, kau tidak pernah meniduri siapapun? Apa di Korea tidak ada yang membuatmu tertarik? Apa di sini gadis – gadis nya polos?. Hahh ayolah, mana ada lagi gadis yang masih begitu polos dan tidak tahu apa – apa”

Kris hanya diam. Ia menatap wajah baby face Luhan dengan tatapan takjub. Bagaimana bisa lelaki dengan wajah seperti ini memiliki kepribadian yang sangat buruk? Batin Kris. Tapi memang semuanya tidak boleh jika hanya dilihat dari luar.

“Aku hanya akan melakukannya dengan istriku” jawab Kris. Luhan membentuk mulutnya berbentuk ‘O’ lalu tersenyum miring. “Bagaimana kalau kau ikut aku malam ini? Aku sudah menemukan club yang bagus di Korea. Kau juga pasti tahu namanya. Bagaimana? Kau mau? Ayolah sesekali kau harus mencoba yang seperti ini. Kau tidak mau? Kenapa? Kau tidak bisa melakuakannya? Mau kuajari?” mulut Luhan terus mengoceh membuat Kris yang merupakan tipe pria yang tidak suka banyak bicara sangat kesal.

Kris mengeram kesal

“Kau tadi bilang jika wanita – wanita itu murahan, bukan? Kau sangat tahu banyak hal Xi Luhan. Tapi sepertinya kau tidak tahu hal yang satu ini. Kau mengeluarkan uang dari dompetmu dengan sangat boros hanya untuk membayar wanita wanita itu atau bisa dibilang hanya untuk memuaskan nafsumu.

“Menggunakan mereka secara bergantian, tanpa peduli resiko apa yang suatu hari akan kau tanggung. Kau, Xi Luhan, Kau tidak lebih dari wanita – wanita yang kau sebut murahan itu. Mengatakan mereka murahan padahal jelas mereka seperti itu karena pria, pria seperti dirimu ini. Kau memang tidak pernah dewasa Xi Luhan. Kau sama saja dengan mereka, karena kau lah yang murahan. Kau sangat murah Xi Luhan.” Jelas Kris dengan mimik wajah yang serius.

Luhan mendengarkannya dengan wajah yang sangat shock. Ia tidak menarik kerah baju Kris dan memukulnya, ia justru menunduk seakan meratapi hidupnya.

“Kau benar, aku akan memikirkannya Kris.” Ujar Luhan dengan suara kecil

Kris hanya diam, ia tidak menatap Luhan. Ia hanya bisa berdoa di dalam hati jika ucapannya tadi memang sudah menyentuh hati Luhan. Kris mengehela nafasnya pelan. Ini bukan yang pertama kalinya ia menasehati Luhan. Lelaki itu bahkan hanya bisa bertobat selama 1 minggu dan kemudian kembali lagi seperti awal. Kris benar – benar memohon kepada Tuhan agar kali ini ia berhasil menjinakkan hati dan juga otak mesum Xi Luhan.

. . . . . . . . . . . . .

Di sinilah Baekhyun dan Taeyeon berada sekarang. Di tempat di mana manusia menangis, tempat di mana manusia mengobrol kepada yang sudah tiada, tempat dimana kesedihan dan rasa kehilangan berada. Pemakaman. Di sinilah Taeyeon dan Baekhyun sedang menginjakkan kakinya. Dengan Baekhyun yang menggenggam tangan Taeyeon dan Taeyeon yang membawa sebuket bunga lili putih di tangan kirinya.

Baekhyun berjalan menuntun Taeyeon. Sudah tidak terhitung lagi berapa kali Taeyeon menemani Baekhyun berziarah ke makam ibunya. Dan Taeyeon juag tidak pernah mengeluh jika Baekhyun minta di temani, karena ia bisa merasakan sakitnya Baekhyun saat ditinggal oleh ibunya. Bahkan sebelum menyukai Baekhyun, Taeyeon lebih dulu menyukai ibunya yang telah dianggapnya ibunya sendiri.

Jika ingin diceritakan mungkin akan sangat panjang. Kematian ibu Baekhyun yang membuatnya sangat dekat dengan Baekhyun seperti sekarang ini bagaikan seperti sebuah takdir yang tidak bisa ditolak lagi. Seperti ikatan yang menyatukan keduanya untuk bersama. Dan menurut Taeyeon, ikatan itu adalah ikatan kekeluargaan. Hanya itu. Hanya sebatas itu. Tidak lebih. Dan tidak akan pernah lebih.

“Eomma, kami datang” sapa Baekhyun setelah kedua nya berjongkok di samping makam ibu Baekhyun. “Ne, annyeonghaseyo ahjumma” sapa Taeyeon sambil tersenyum.

“Kami membelikan ini untukmu eomma, lili putih. Kesukaanmu” ujar Baekhyun sambil tersenyum lalu mengambil sebuket bunga itu dan meletakkannya di samping batu nisan. Taeyeon tersenyum, tapi ada sesuatu yang menurutnya sangat ganjal. Dari tadi Baekhyun sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya. Hanya saat berada di motor, Baekhyun tidak melakukannya dan bahkan selama perjalan sesekali tangan kiri Baekhyun mempererat pelukan tangan Taeyeon di pinggangnya.

Taeyeon hanya menggeleng pelan tidak mau memikirkannya lalu kembali menatap makam eomma Baekhyun. “Noona, ada yang ingin kau katakan pada eomma?” tanya Baekhyun.

Taeyeon langsung mengangguk. “Ahjumma, Baekhyun sangat menyebalkan akhir – akhir ini. Dia sedikit berubah, ia sangat jarang membelikanku ice cream seperti dulu. Dan dia juga sangat sibuk dengan pertandingan bolanya membuatku cemas dengan pelajarannya. Walaupun aku sangat suka ia memilih bermain bola seperti yang diinginkannnya, tapi tetap saja itu tidak baik untuk pelajaran dan untukku. Ahjumma, ini rahasia ok? Kumohon jangan beritahu Baekhyun” ujar Taeyeon panjang lebar.

Baekhyun yang mendengarkannya dengan seksama terus tersenyum dan sesekali terkekeh geli. Taeyeon menatap Baekhyun lalu memberikannya peace sign. “Eomma sudah memberitahuku barusan. Kau bilang aku berubah? Aku sama sekali tidak berubah noona” sungut Baekhyun lalu mencubit pelan hidung Taeyeon.

“Awww” Taeyeon mengusap hidungnya sambil mempoutkan bibirnya. Baekhyun terkekeh melihat tingkah Taeyeon.

“Noona, bisakah kau tinggalkan kami sebentar? Ada sesuatu yang ingin kukatakan pada eomma. Kau tunggu di dekat motorku saja, aku akan menyusulmu” tanya Baekhyun dan dibalas anggukan dari Taeyeon.

“Annyeong ahjumma. Aku pamit, sepertinya Baekhyun ingin mengatakan suatu hal padamu. Jika Baekhyun mengatakan yang tidak – tidak tentangku, ahjumma beritahu aku ya”

“Katakan pada eomma mu jika aku bertambah cantik” suruh Taeyeon lalu tertawa jenaka. Baekhyun hanya tersenyum memperhatikan Taeyeon yang berjalan semakin jauh dan akhirnya ia melihat Taeyeon yang sudah berdiri di samping motornya sambil melambaikan tangan ke arahnya.

“Eomma, seperti yang dikatakan Taeyeon noona barusan, ia bertambah cantik” ujar Baekhyun sambil tersenyum.

“Eomma tahu jika kau mencintainya bukan?”

“Aku sangat mencintainya eomma. Bagiku, dengan adanya dia di sampingku aku akan selalu merasa tenang. Bagiku, keberadaannya di sisiku adalah suatu yang benar. Dan bagiku, kepergiannya dari sisiku adalah suatu yang salah. Aku bingung eomma, karena sejujurnya noona bukan tipe ku sama sekali. Aku tidak menyukai gadis manja, gadis yang terlalu polos, dan juga tidak peka. Tapi kenapa aku justru jatuh cinta pada Taeyeon noona yang memiliki 3 sifat itu?

“Saat dia bermanjaan denganku aku tidak merasa kesal berbeda saat gadis lain melakukannya. Karena menurutku, aku akan lakukan apa saja asalkan dia hanya melakukan itu padaku. Aku tidak ingin ia bermanjaan dengan pria lain selain diriku. Meskipun aku tidak menyukai gadis manja, aku merasa sangat bahagia dan menjadi namja yang spesial baginya saat ia melakukannya padaku

“Ini terdengar membingungkan bukan, eomma? Taeyeon noona adalah cinta pertamaku. Jatuh bangun aku mencintainya tapi terkadang aku juga akan sangat membencinya. Membenci dirinya yang tidak pernah peka padaku ani maksudku pada perasaanku. Menurut eomma, apakah mungkin jika suatu hari aku akan berhasil mengambil hatinya?” Baekhyun terus berbicara, menumpahkan seluruh keluh kesahnya. Dengan harapan mendiang ibunya akan menjawab dan memberikannya jalan keluar.

Tapi itu terdengar kekanakan, karena bagaimana pun juga Baekhyun tidak akan mendapatkan jawabannya.

. . . . . . . . . . .

“Terima kasih banyak untuk hari ini noona. Ini sebagai balasannya” ujar Baekhyun sembari memberikan seplastik kresek ice cream kepada Taeyeon. Dengan senang hati Taeyeon langsung mengambilnya.

Taeyeon mengangguk lalu tersenyum. “Kalau aku bisa, apa yang tidak untuk adik kecilku ini” ujar Taeyeon. Baekhyun tersenyum masam mendengar Taeyeon mengatakan ‘adik kecil’ karena jujur itu membuat hatinya perih.

Taeyeon yang bodoh dan tidak peka akan perasaan Baekhyun. Baekhyun yang malang.

“Hmm. Masuklah, sudah hampir gelap” suruh Baekhyun. Lalu lelaki itu berlalu meninggalkan Taeyeon.

Taeyeon pun langsung masuk ke rumahnya tapi batal sesaat sesuatu telah mencuri penglihatannya. Sebuah mobil terparkir di samping rumahnya tepatnya di depan rumah kosong yang berada tepat di samping rumah taeyeon.

“Apa rumah ini tidak kosong lagi? Ada yang menghuni? Yeay! Semoga saja ada anak kecil yang tinggal di sini” sungut Taeyeon senang.

Taeyeon memasuki pagar rumahnya dan langsung menyipitkan matanya saat melihat ada 3 pasang sepatu yang ia tidak tahu siapa pemiliknya berbaris rapi di teras rumahnya.

“Siapa yang bertamu di jam seperti ini?” tanya Taeyeon pada dirinya sendiri lalu memilih untuk segera masuk untuk melihat ‘siapa’ tamu itu.

. . . . .

“Aku tidak menyangka rumah itu akan diisi lagi” ucap Tn.Kim kepada tetangga baru mereka itu. ‘mereka’ itu adalah keluarga Xi yang baru pindah dari Canada beberapa hari yang lalu.

“Yah begitulah, Seoul sepertinya sudah sangat padat. Sangat sulit mencari rumah” ujar Ny. Xi

“Kami sangat senang karena rumah itu kembali dihuni” ujar Ny. Kim

“Rumah ini dekat dengan tempat kerjaku. Kami beruntung bisa mendapatkan rumah ini” Tn. Xi menambahkan.

Di saat para prang tua itu sibuk menikmati makan malam dengan sesekali bercanda dan mengobrol layaknya sahabat lama. Lelaki yang paling muda di antara mereka justru terus menghela nafas, pria itu bosan. Mendengar percakapan kedua orang tuanya dan tetangganya yang baginya kuno sama sekali bukan tipenya.

Dari pada makan malam di sini lebih baik aku ke club malam, batin Luhan. Yup benar. Pria itu adalah Luhan, Xi Luhan. Dan sepertinya ia benar – benar lupa dengan nasihat Kris tadi sore.

“Lulu, apa kau tidak sehat? Kau sakit?” tanya Ny. Xi dengan waut wajah cemas. Luhan langsung menggeleng. “Tidak mom, tidak sama sekali” jawabnya meyakinkan ibunya.

“Anakmu sangat tampan. Di mana dia bersekolah?” tanya Ny. Kim

Tn. Xi menjawab “Di SM High School. Kami baru mendaftarkannya lusa kemarin, besok ia akan mulai sekolah di sana”

“Wahh benarkah? Anak kami juga bersekolah di sana” gumam Tuan Kim. “Oh ya? Anakmu juga laki – laki?” tanya Tn. Xi

“Tidak, dia perempuan” jawab Tuan Kim. Luhan yang tadinya sangat bosan langsung tertarik saat mendengar kata ‘perempuan’ dari mulut Tuan Kim.

“Siapa namanya?” tanya Nyonya Xi

“Namanya Taeyeon. Kim Taeyeon” jawab Nyonya Kim. Luhan yang mendengarnya langsung tersenyum miring. Seperti yang ia lihat menggunakan matanya, Nyonya Kim wanita yang sangat cantik dan Tuan Kim pria gagah dan tampan untuk seumurannya. Ia fikir, Taeyeon juga pasti tak jauh seperti itu. Mengingat adanya gagasan “Like Mother Like Daughter”. Yang dipikirkannya adalah gadis bertubuh ramping dengan dada besar, pantat sexy, berambut panjang, dan kulit mulus. Memikirkan itu saja cukup membuat Luhan kenyang seketika.

BEPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPP BEPP BEEP

“Ah. Itu pasti Taeyeon” ujar Nyonya Kim setelah mendengar suara bel berbunyi.

“Aku tidak sabar melihatnya” gumam Nyonya Xi sementara Tuan Xi dan Kim hanya tersenyum. “Biar aku yang bukakan pintunya eommonim” ujar Luhan sambil tersenyum menunjukkan wajah malaikatnya.

“silahkan Luhan” ucap Tuan Kim. Luhan langsung berjalan meninggalkan meja makan.

“Anakmu sangat sopan dan perhatian” ujar Nyonya Kim kepada Nyonya Xi. “Tentu saja, Uri Lulu memang seperti itu”

Luhan melangkahkan kakinya tidak sabar ke dekat pintu dan setelah sampai, ia bahkan sempat memikirkan kembali bagaimana ‘mungkin’ –nya rupa gadis itu. Luhan tersenyum mesum. Dengan cepat, Luhan akhirnya membuka pintu.

Dan untuk sedetik setelah membuka pintu, Xi Luhan menyesal telah berharap yang terlalu tinggi. Melihat gadis itu berdiri di depannya sungguh tidak membuatnya bernafsu. Luhan memperhatikan gadis itu dari atas sampai bawah. Ia tidak menemukan titik manapun yang bisa membuatnya bernafsu. Dada yang datar dan tubuh yang mungil. Hell no! Itu bukan tipe Luhan sama sekali.

Luhan menatap wajah mulus gadis itu, lalu tersenyum miring. Satu point Kim Taeyeon. Bibirmu, batin Luhan. Lelaki manapun juga pasti merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan Luhan. Bagaimana tidak? Bibir Taeyeon yang berwarna softpink dan terlihat lembab dan basah, siapa lelaki normal yang tidak tergoda untuk ‘mencicipinya’ ?

Luhan tersadar jika ia membuat gadis itu risih akibat tatapannya, tapi ia memilih untuk tidak peduli. Luhan berjalan mendekati Taeyeon dengan perlahan membuat gadis itu harus mundur menghindarinya. Setidaknya setelah membuat harapannya pupus Kim Taeyeon harus diberikan hukuman, seperti itulah kira kira yang dipikirkan Luhan.

“S-siapa kau?” tanya Taeyeon. Ia sangat takut jika telah terjadi sesuatu yang buruk.

“Kim Taeyeon, ayo tidur denganku”

To Be Continued….

NOTE: Hallo #unicorn kembali J jangan lupa tinggalkan COMMENT ya para pembaca ff ini J. Author sebetulnya sedih karena ff pertama author kayaknya dikit banget yang suka L (Galaxy Ocean) comment nya dikit :”(. Author penasaran mungkin alasannya karena reader gak suka pairing KrisTae, nah karena itu deh author coba buat ff yang pairing nya LuTae :”). Semoga kalian suka ya :* Nah bagi kalian yang TAEGANGER, let’s follow this acc twitter : @taeyeonunion_ itu fanbase Taeyeon dan tentunya milik author hehehe. Dan jika mau berteman follow acc ini ya, pasti author follback kok tapi kalian mention dulu kalau kalian pembaca ff author (@kimtaeyeoreo). Maaf ya panjang hehehehe. Pls comment tq ^^ #unicorn

 

 

Advertisements

124 comments on “[FREELANCE] Wanna Be Yours (Chapter 1)

  1. what’s wrong with baekyun ?ampun luge pervert banget
    berharap lutae aja deh
    oke ditunggu next chapternya thor

  2. Pingback: [FREELANCE] Wanna Be Yours (Chapter 4 {Part B/B}) | All The Stories Is Taeyeon's

  3. Pingback: [FREELANCE] Wanna Be Yours (Chapter 5) | All The Stories Is Taeyeon's

  4. wahh aku baru baca ff ini!
    semangat author, semoga ff nya ga nyedat di tengah jalan:(
    jujur itu mengecewakan/?
    figthing!

  5. Aku suka bgt pairing lutae. Ada baekhyunnya lagi. Suka banget! Izin baca ya thor. Awal2nya udh bikin penasaran 😃

  6. ya ampun, ni luhan baru ktemu udah ngajak tidur aja….ajak makan dulu kek, taeyeon kn bru pulang, pasti laper..he..he…

  7. Pingback: [FREELANCE] Wanna Be Yours (Chapter 6) | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s