Special Gift (Chapter 2)

Special Gift

Special Gift (Chapter 1) 

F I O O D Y R’s Present

Kim Taeyeon | Byun Baekhyun 

Sad | Family | Romance | m o r e~

Disclaimer : 

“Typo everywhere x_x Don’t bash don’t judge and please appreciate it. Just fiction, not fact! Gomawo readers~ Sorry for typos, imperfection is human!” 

A/N :

Aku jelasin dulu ya sekali lagi buat readers yang belum baca chapter 1. Ini ff adalah recycle dari ff “Noona, I Love You…” yang pernah author post diblog ini . Udah 3 chapter tapi author cancel karna ide cerita yang ada diotak author jadi rancu dan judul ceritanya juga menurut author pasaran/?. Makanya author buat ulang walau konsep sama. Semoga readers yang sebelumnya udah pernah baca tidak sungkan/bosan untuk membacanya kembali 🙂 Happyreading!

Chapter : 

[1]

***

Dengan sangat bersemangat Baekhyun berjalan melalui koridor sekolahnya. Senyuman malaikat miliknya terukir indah sejak tadi digerbang. Bunga-bunga dihatinya bermekaran, otaknya berangsur normal yang sebelumnya sangat semerawut karena setumpuk masalah yang dihadapinya. Dia benar-benar bahagia sekarang. Bahagia karena ibunya benar-benar membawakan ‘malaikat’ yang bisa melindunginya, yang bersedia menemaninya, yang bisa membuatnya bahagia. Saking senangnya Baekhyun tidak sadar jika sedari tadi seseorang memanggilnya dari belakang.

 

Yak! Byun Baekhyun!” Seru orang tersebut sambil menepuk bahu Baekhyun. Baekhyun menoleh kearah orang tersebut. Namun ia malah melemparkan tampang jengkel kepada orang yang barusan menepuk bahunya itu. Park Chanyeol, sahabat menyebalkannya itu. Kadang dia memang bisa diandalkan, namun jika virusnya sudah kumat dia bisa saja menjadi orang gila tiba-tiba. “Bisa tidak kau jangan mengagetkanku seperti itu ? Kau membuyarkan mimpi indahku, tau ?” Gusarnya.

 

“Sejak kapan kau bisa bermimpi ? Bukannya kau yang bilang jika didunia ini mimpi hanya khayalan semata ? Michine!”

 

“Kau yang gila! Mimpi itu memang khayalan bodoh. Kecuali kau memang berusaha untuk membuatnya menjadi kenyataan, itu bisa saja terjadi. Tidak ada yang tak mungkin didunia ini. Arra ?” Tutur Baekhyun.

 

“Wah, sejak kapan Byun Baekhyun menjadi bijak seperti ini ? Kau minum vitamin ya ? Tumben otakmu berjalan dengan baik seperti itu, biasanya kan otakmu rada.. ya gitu lah. Kenapa ? Apa ada sesuatu yang terjadi padamu ?” Tanya Chanyeol beruntun.

 

“Aku tidak minum vitamin, tapi ada seseorang yang membuatku menjadi bervitamin. Akhir-akhir ini aku merasa benar-benar ingin hidup, sungguh.” Ucapnya. Chanyeol mengangkat sebelah alisnya.

 

“Kau sedang jatuh cinta ya ?”

 

“Entahlah. Ini bisa dibilang cinta atau bukan. Tapi aku benar-benar nyaman tinggal bersamanya, dan aku sangat ingin membalas budi padanya. Tanpanya mungkin aku sudah menjadi gelandangan sekarang.” Jawab Baekhyun.

 

“Tinggal ? Kau tinggal bersama seorang wanita ? YAK! Sejak kapan otakmu menjadi udang begini?!” Tiba-tiba saja nada bicara Chanyeol naik 1 oktaf setelah mendengar perkataan Baekhyun yang ‘tinggal’ itu. Baekhyun mendengus jengkel dan menjitak kepala Chanyeol.

 

“Sampai kapan otakmu akan berjalan lurus ? Aku memang tinggal bersama wanita, tapi kau jangan salah paham dulu. Wanita itu 3 tahun lebih tua dariku, seandainya aku menyukainya aku mana mungkin memacarinya. Pabo!

 

“Kau tidak memacarinya, tapi jika kau melakukan hal yang lebih buruk dari itu bagaimana ?” Cecar Chanyeol lagi. Baekhyun kembali menjitak kepala batu Chanyeol, walaupun kepalanya sekeras baja tapi isi otaknya benar-benar lembek menurut Baekhyun.

 

Appo!!”

 

“Berhetilah berpikiran buruk seperti itu! Hishh..”  Baekhyun memilih untuk menghentikan pertengkaran—konyol—nya dengan Chanyeol, dan kembali melanjutkan jalannya menuju kekelas.  Sedangan Chanyeol kini tengah menggerutu sendiri ditempatnya. “Aku sangat benci jika dia sedang jatuh cinta. Ouhh!”

 

Yaa Byun Baekhyun! Tunggu aku!!”

 

***

 

 

Teng Teng Tengg!!

 

Akhirnya, bel yang sedari tadi ditunggu Baekhyun berdenting juga. Bel pulang sekolah. Hari ini entah kenapa Baekhyun merasa sangat ingin pulang cepat, padahal sebelumnya Baekhyun paling betah berada disekolah lama-lama karena ia bisa menghabiskan waktunya diperpustakaan daripada dirumah. Dan sejak jam pelajaran tadi pikirannya dipenuhi oleh setumpuk rencana yang ingin ia persiapkan untuk seseorang yang ia anggap seperti malaikat dihidupnya, Taeyeon-noona.

 

“Byun Baekhyun !” Suara—yang sebetulnya sedang tidak ingin Baekhyun dengar—menggema kembali. Lelaki bertubuh jangkung dengan senyuman selebar mulut Micky Mouse—Park Chanyeol—kini tengah berlari kecil mengerjarnya.

 

Wae ?” Tanya Baekhyun datar. Chanyeol kembali mendengus. “Mengapa kau sangat cepat jalannya ? Biasanya kan kau akan pergi keperpustakaan dulu sebelum pulang, tumben kau sekarang pergi mengarah ke pintu gerbang ?”

 

“Aku ingin membeli sesuatu untuk seseorang.” Jawab Baekhyun.

 

“Seseorang ? Siapa ?” Tanya Chanyeol. Namun otaknya baru berpikir jika seseorang itu pasti wanita yang tinggal bersama Baekhyun. “Ah, pasti wanita yang tinggal bersamamu itukan ?” Lanjutnya lagi.

 

Baekhyun mengangguk kecil. Chanyeol kembali bertanya. “Memang seperti apa wanita yang tinggal bersamamu itu ?”

 

Ujung bibir Baekhyun otomatis terangkat saat pertanyaan Chanyeol barusan terlontar. “Dia cantik. Sangat cantik. Saat kita pertama kali melihatnya mungkin dia memang gadis yang sangat dingin dan kurang menarik, tapi jika kau tau lebih dalam tentangnya kau akan tau seperti apa dia sebenarnya.”

 

Chanyeol menyunggingkan bibirnya. “Kau benar-benar jatuh cinta ternyata. Apa dengan wanita yang tinggal bersamamu itu ?” Tanya Chanyeol kembali. Baekhyun hampir saja ingin menjitak kepala Chanyeol, tapi Chanyeol lebih dulu menghindar.

 

“Eih, aku hanya bertanyalah!”

 

“Jangan menanyakan hal konyol seperti itu lagi! Atau kupecahkan kepalamu nanti.” Ujar Baekhyun sedikit mengancam. Chanyeol mendengus. “Galaknya kau.”

 

Keunde, Chanyeol-ah. Apa kau tau hadiah apa yang tepat untuk seorang gadis berumur 22 tahun ?” Tanya Baekhyun. Chanyeol menaikan kedua alisnya. “Wae ? Apa kau ingin memberi hadiah kepada noona-mu itu ?”

 

“Ish! Jawab saja dulu!” Cecar Baekhyun. Chanyeol berpikir sejenak. “Emm… boneka ?”

 

Aniyo, dia bukan tipikal gadis yang fenimen. Yang lain ?”

 

“Makanan ?”

 

Baekhyun berpikir sesaat. “Apa tidak ada yang bisa bertahan lama ?”

 

Chakkaman. Aku pikir dulu sebentar.” Mereka dua kembali sibuk dengan pikiran masing-masing, namun tak lama salah satu dari mereka akhirnya membuka mulut. “Ah, aku tau. Kosmetik. Benar tidak ?” Ujar Chanyeol. Baekhyun kembali berpikir. Mungkin memberi kosmetik tidak terlalu buruk, lagipula sepertinya noona itu tidak pernah berdandan. Makanya wajahnya terlihat sangat kusam.

 

“Benar juga. Apa kau bisa mengantarkan ku untuk membeli itu ? Oh ya, aku sekalian meminjam uangmu. Aku sama sekali tidak punya uang saat ini, nanti aku akan telpon Han Ajusshi—sopir pribadi Baekhyun—untuk mengantarkan uang dari rekeningku.” Namun tak ada tanggapan Chanyeol beberapa saat. “Oh ayo lah! Akanku ganti itu. Bantu aku kali ini. Aku hanya ingin membalas budi padanya, karena tadi dia telah menyelamatkanku dari bodyguard-bodyguard ayah. Dan ia besok adalah hari ulang tahunnya. Eoh ?” Rayu Baekhyun kembali.

 

Chanyeol berpikir sejenak, mungkin kali ini hati nuraninya benar-benar harus dibuka untuk sahabat satunya ini. “Baiklah. Demi balas budimu itu aku bersedia membantumu, jika niatmu hanya untuk merayunya saja jangan harap aku akan meminjamkan uang padamu.”

 

Arrayo. Kau tenang saja sudah. Sebaiknya kita cepat pergi, soalnya tadi dia sudah janji untuk menjemputku.”  Tanpa menunggu lama mereka langsung bergegas untuk kesebuah kios yang tak jauh dari sekolah mereka, dan membeli barang yang sudah direncanakan—kosmetik.

 

***

 

Taeyeon memejamkan matanya, mencoba menikmati udara pagi yang tengah menerpa wajahnya kini. Senyumnya terukir sekilas, ia merasa sangat tenang saat ini. Sangat jarang ia bisa merasakan ini setiap hari, karena biasanya jika sudah jam segini dia sudah berada ditempat kerjanya.  Dan karena hari ini ditempat kerjanya libur Taeyeon tidak ingin menyia-nyiakan hari ‘emas’nya, ia ingin menghabiskan waktu diluar rumah dan merasakan—sedikit—indahnya dunia. Tempat yang sangat ingin Taeyeon kunjungi jika sedang libur seperti ini adalah rumah sakit. Tempat dimana ia bisa bertemu dengan orang yang paling berharga dihidupnya, orang yang menjadi alasannya hidup sampai saat ini, dan orang yang masih mempunyai ikatan keluarga satu-satunya didunia kini. Adiknya, Kim Taejoon.

 

Namun sebelum pergi kerumah sakit, Taeyeon sengaja mampir ke sebuah toko kue yang tak jauh dari rumah sakit tempat adiknya dirawat dan membeli sebuah cake birthday  kecil untuk merayakan ulang tahunnya dirumah sakit bersama Taejoon. Ini memang terlihat tidak masuk akal, merayakan ulang tahun bersama orang yang terbaring diranjang rumah sakit dengan keadaan koma dan itu hanya dirayakan dengan 2 orang saja. Tapi bagi Taeyeon, bisa merayakan ulang tahun bersama salah satu anggota keluarganya itu menjadi ulang tahun paling membahagiakan untuknya. Selama Taejoon masih berada didunia dan masih menghembuskan napasnya, Taeyeon tidak ingin menyia-nyiakan hari yang hanya datang satu kali setahun—hari ulang tahunnya—tanpa adiknya.

 

“Taejoon-ah, noona datang!” Seru Taeyeon bersemangat saat pintu kamar rawat Taejoon terbuka, dan kakinya ia langkahkan menuju ranjang Taejoon.

 

“Apa mimpimu indah malam ini ? Ya, Kim Taejoon. Noona membawakan kau cake birthday untuk kita berdua, kau taukan besok ulang tahun noona ? Noona ingin merayakannya bersamamu hari ini, karena hari ini libur dan waktu luang noona sedang banyak jadi noona rayakan saja sekarang. Noona tidak tau apa besok noona punya waktu untuk mendatangimu. Jadi hari ini saja tidak masalahkan ?”

 

Berbicara dengan seorang yang arwahnya tak sadar dan matanya terpejam, ini memang terlihat gila sebetulnya.  Namun Taeyeon selalu berpikiran walau tubuh Taejoon terbaring dan matanya selalu terpejam, namun jiwanya pasti tengah memandanginya. Jadi Taeyeon tidak pernah ragu untuk mengatakan apapun pada Taejoon, walau Taejoon tidak pernah menanggapi itu sekalipun.

 

Taeyeon duduk dikursi yang berada disamping ranjang Taejoon, dan cake birthday yang tadi ia beli ia letakan diatas kasur Taejoon. Ia juga tidak lupa menyalakan lilin agar suasana ulang tahun semakin nyata, walau sebetulnya ini hanya sebatas tiup lilin biasa. Taeyeon bernyanyi lagu ulang tahun dengan senyum yang selalu berusaha ia ukir dibibirnya, walau sebetulnya hatinya benar-benar tersayat karena harus merayakan ulang tahun seperti ini kembali untuk kesekian kalinya. Saat lagunya mulai berangsur selesai Taeyeon perlahan memejamkan matanya dan mengepalkan kedua tangannya didepan dada. Dalam hatinya ia berharap.

 

“Aku ingin mengakhiri ini semua. Berilah jalan keluar untukku, eomma appa. Aku sangat lelah, sungguh. Jangan membuatku lebih menderita lagi. Aku mohon…” Air mata yang sejak tadi berusaha ia tahan untuk tidak keluar, akhirnya terurai juga. Taeyeon hanya seorang wanita yang akan menangis jika ia benar-benar ingin menangisinya, Taeyeon hanya seorang wanita yang butuh kehidupan bersama adiknya, Taeyeon ingin kebersamaan bukan kesepian. Namun inilah garis takdirnya, garis takdir yang terkadang sangat menyiksa dirinya. Ada satu hal yang membuat Taeyeon bisa melewatkan itu semua, adiknya. Karena dia bercita-cita untuk membahagiakan adiknya jika dia sudah sadar—nanti. Dan Taeyeon sangat berharap jika itu akan benar-benar terjadi padanya. Semoga.

 

***

 

For Taeyeon :

“Noona, kau jadi menjemputku kan ? Temui aku didepan gerbang tadi, aku menunggumu disana!”

    – Baekhyun

For Baekhyun :

“Arraseo.”

    -Taeyeon

 

Taeyeon sedikit mempercepat langkahnya, takut Baekhyun telah menunggunya lama. Ia lupa jika pukul 7 malam ia harus menjemputnya—sedangkan sekarang sudah pukul setengan 9, karena saat dirumah sakit ia tidak sengaja tertidur setelah seharian menangisi nasibnya. Napasnya tersengal-sengal, ia benar-benar lelah berlari. Namun sekolah Baekhyun masih cukup jauh dari tempatnya sekarang. Apa dia masih menunggunya ?

 

Sedangkan Baekhyun kini tengah meringkuk didepan gerbang sekolahnya dengan masih menggunakan seragam sekolah dengan tas sekolahnya pula. Pikirannya dibuat dilema karena hampir satu setengah jam menunggu, Taeyeon belum datang juga menjemputnya. Apa dia lupa ? Namun dirinya bersikukuh untuk tetap menunggunya walau sampai besok pagi. Karena ada sebuah hal yang sangat ingin Baekhyun berikan kepada noona tersebut. Sebuah kotak berukuran sedang warna pink yang mempunyai  corak polkadot dengan hiasan pita berwarna biru, dan didalamnya terdapat sebuah barang yang terlihat tidak berharga namun setidaknya sedikit berguna untuknya.

 

“Byun Baekhyun!” Suara yang sejak tadi Baekhyun tunggu-tunggu akhirnya terdengar juga. Baekhyun menoleh, dan ia mendapati Taeyeon yang tengah mengatur napasnya dan sedikit berjongkok karena kelelahan. “Hoh, kau masih menungguku ternyata. Kukira kau telah pergi. Maaf aku terlambat, tadi aku ketiduran. Jadi aku lupa harus menjemputmu. Mian.” Ucap Taeyeon dengan nada yang beradu dengan napasnya.

 

Namun tidak ada tanggapan dari Baekhyun. Baekhyun malah memerhatikan wajah Taeyeon yang sedikit berbeda, matanya sembab. Dia habis menangis ?

 

Noona, matamu kenapa ? Kau habis menangis ?” Tanya Baekhyun seraya memegangi pipi Taeyeon. Namun dengan sangat perlahan Taeyeon menepisnya. “Eoh aniyo, karena baru bangun tidur jadi agak bengkak seperti ini.” Elak Taeyeon. Namun tidak ada perubahan ekspresi sama sekali dari wajah Baekhyun. “Gweanchana, ini pasti akan mengempes tak lama.” Ucap Taeyeon kembali meyakinkan.

 

“Apa itu ?” Taeyeon sengaja mengalihkan pembicaraan dengan menunjuk benda yang tengah Baekhyun genggam ditangannya.

 

“Oh ini, emm… ini, ini hadiah untukmu noona. Besok hari ulang tahunmu kan ? Tadi sebetulnya aku pulang agak cepat, tapi tadi aku diajak jalan-jalan dulu bersama Chanyeol dan ini—” Baekhyun menyerahkan kotak yang sudah ia persiapkan untuk ‘malaikat’nya dengan tangan yang sedikit gemetar. “Aku membelikannya untukmu. Aku harap kau menyukainya.”

 

Taeyeon memerhatikan kotak itu sekilas. Taeyeon masih diam dan berusaha mencerna kejadian yang tengah ia alami sekarang. Puluhan pertanyaan menumpuk diotaknya. Ini nyata ? Hadiah ? Untuknya ? Apa ia masih berada didunia mimpi sekarang ? Atau ini hanya khayalannya saja ? Sudah—sangat—lama Taeyeon tidak mendapatkan sebuah kado dari seseorang, khususnya saat hari ulang tahunnya. Seingatnya ia diberi hadiah terakhir itu dari Seokjin—temannya saat masih di SMP. Dan, entahlah Taeyeon sepertinya tidak pernah menerima sebuah hadiah kembali sampai sekarang.

 

“Darimana kau tau besok ulang tahunku ?”

 

“Eh itu, saat kau tertidur diteras kemarin. Aku yang memindahkanmu kan, dan saat aku masuk kekamarmu aku tak sengaja melihat coretan-coretan dikalendermu. Dan aku melihat jika besok adalah hari ulang tahunmu, jadi aku ingin membelikan sebuah hadiah untukmu…” Jawab Baekhyun sedikit malu. “Anggap saja ini balas budi dariku.” Lanjut Baekhyun kembali. Taeyeon hanya tersenyum kecil dan terus memerhatikan hadiah yang Baekhyun berikan padanya. Kira-kira hadiah apa yang ada didalam kotak ini. Taeyeon benar-benar penasaran sekarang.

 

“Apa aku boleh buka sekarang ?”

 

Baekhyun mengangguk kecil. “Bukalah.”

 

Dengan perasaan berbinar, perlahan Taeyeon membuka isi kotak tersebut. Taeyeon malah melempar tatapan penuh tanya saat tutup kotak itu telah terbuka sepenuhnya. “Kosmetik ?”

 

“Menurutku kau harus sering-sering berdandan agar wajahmu terlihat lebih cantik. Sebetulnya kau itu cantik, hanya saja kau tidak pernah merawatnya. Makanya wajahmu terlihat sangat masam jika tidak pernah memakai kosmetik.” Ujar Baekhyun.  Taeyeon kembali memerhatikan kosmetik yang berada didalam kotak hadiahnya tersebut. Ia merasa Baekhyun benar, ia terlalu menyepelekan penampilannya hingga ia tidak menyadari jika ia mempunyai kelebihan pada fisiknya.

 

“Kau benar juga. Goma—“ Belum sempat Taeyeon menyelesaikan kalimatnya Baekhyun sudah memotongnya. “Jangan mengatakan terima kasih lagi padaku. Ini tidak ada apa-apanya dibandingkan kau mau menerimaku dirumahmu, dan saat bodyguard itu ingin membawaku namun kau menahanku. Tapi aku sama sekali belum mengucapkan terima kasih padamu. Jadi, bisakah kau jangan mengatakan ‘gomawo’ lagi padaku ? Itu membuatku menjadi sangat bersalah. Arrachi ?” Tutur Baekhyun.

 

Entah kenapa Taeyeon merasa luluh dengan perkataan Baekhyun barusan. Baru pertama kali ini Taeyeon mendapat perlakuan dari orang yang tidak punya ikatan sama sekali dengannya, teman bukan, kenal belum lama, namun hubungan diantara mereka seakan sudah berangsur lama hingga mereka terlihat sangat akrab.

 

Senyuman Taeyeon mengembang. “Arraseo. Kajja!” Taeyeon melingkarkan tangannya dileher Baekhyun dan sedikit menariknya agar posisi mereka sejajar. “Kau pasti laparkan ? Kita ke Pojangmacha—kedai makanan dipinggir jalan—bagaimana ? Ouh, aku sudah lama tidak makan ddeokboki. Kau mau tidak ?” Ucap Taeyeon sedikit bersemangat.

 

“Selama masih gratis aku mau saja.” Jawab Baekhyun dengan nada yang sedikit bercanda. Dengan bersamaan mereka melepas tawanya. Dalam hatinya, Taeyeon merasa sangat bahagia karena bisa merasakan ini kembali sekarang.  Bahagia karena tawanya yang dulu sangat mahal ia umbar bisa kembali bersuara. Bahagia karena eomma dan appa-nya benar-benar membawakan hadiah berharga untuknya, Byun Baekhyun.

 

***

 

Jalanan disekitar trotoar mulai dipenuhi oleh gudukan-gudukan salju yang menumpuk seperti gunung kecil. Jalanan yang sebelumnya berlapis aspal mulai berganti menjadi bekuan air yang berubah menjadi es karena cuaca yang mencapai 30 C. Dengan langkah yang perlahan dan hati-hati, Baekhyun dan Taeyeon berjalan menuju rumahnya. Mereka saling menundukan kepala, fokus pada langkah mereka yang tengah menapaki satu-persatu aspal yang mereka pijak. Semburat kebahagiaan terpancar dari wajah mereka berdua setelah mereka selesai makan bersama disebuah Pojangmacha yang berada tak jauh dari sekolah Baekhyun.

 

Salah satu dari mereka akhirnya membuka mulut juga. “Noona.”

 

“Ehm?” Deham Taeyeon sambil menoleh kearahnya.

 

“Aku ingin menanyakan sesuatu, apa boleh ?”

 

“Tentu saja. Apa ?” Balas Taeyeon.

 

“Sejak kapan kau menjalani hidup sendirian ?”

 

Sesaat Taeyeon hanya diam, pertanyaan yang terlontar untuknya barusan membuat otaknya kembali berputar kebelakang. Takdir yang benar-benar ingin ia lenyapkan malah muncul kembali dalam ingatannya, takdir yang membuat orang tuanya meninggal dan adiknya koma. Sedangkan Baekhyun hanya memerhatikan wajah Taeyeon yang sedikit pucat dan matanya membulat namun tatapannya kosong. Seperti ada yang tidak beres padanya.

 

Noona.” Baekhyun mencoba menyadarkan Taeyeon dari lamunannya. Sontak Taeyeon langsung membuyarkan lamunannya dan menoleh kearah Baekhyun.

“Ehm?”

Gweanchana? Seperti ada yang salah padamu? Apa kau sedang memikirkan sesuatu?”

Taeyeon berusaha bersikap biasa-biasa saja, ia tidak ingin terlalu memperlihatkan penderitaannya kepada lelaki yang baru dikenalnya tak lama. “Gweanchana.” Jawab Taeyeon dengan senyuman kecil yang terukir dibibirnya.

“Sebaiknya kita cepat sampai kerumah, aku sudah tidak tahan berada diluar. Cuaca disini dingin sekali, palli!” Lanjut Taeyeon seraya menarik lengan Baekhyun untuk mempercepat langkahnya.

 

At Taeyeon Home

 

Setelah kakinya memijak diubin rumahnya, Taeyeon memilih langsung masuk kedalam kamarnya. Entah kenapa malam ini tubuhnya benar-benar ingin berbaring dan dirinya ingin istirahat lebih awal. Dari belakang, Baekhyun hanya menatap punggung Taeyeon yang tengah menggeser pintu kamarnya. Ingin rasanya ia menahan tangan Taeyeon untuk tidak masuk dulu kekamar, dan ia ingin menanyakan sesuatu padanya. Namun melihat keadaan Taeyeon yang sedikit kacau seperti itu Baekhyun memilih mengundurkan niatnya kembali.

 

Saat pintu kamarnya telah terbuka setengah, Taeyeon menolehkan kepalanya kebelakang. Ia sedikit menarik bibirnya dan menatap mata Baekhyun berbinar. “Terima kasih untuk hadiahnya, aku akan memakainya dengan baik.” Entah kenapa jantung Baekhyun menjadi tak karuan dan tubuhnya menjadi membeku seketika. “Jangan tidur malam-malam, arraseo ? Selamat malam… Byun Baekhyun.” Lanjut Taeyeon kembali. Ia lalu masuk kekamarnya dan menutup rapat pintu kamarnya.

 

Entah bagaimana cara Baekhyun mendeskripsikan perasaannya sekarang. Dia ingin tertawa, namun ia juga ingin menangis karena saking bahagianya. Dan hal yang paling menjadi pertanyaan bagi Baekhyun sekarang, mengapa jantungnya berdebar-debar dan berdetak dengan kerasnya ?Apa ini yang dimaksud jatuh cinta ?

 

“Eomma, apa aku telah jatuh cinta ?”

 

———

 

Dibalik pintu kamarnya, Taeyeon terus memerhatikan kotak berpita yang Baekhyun berikan padanya. Ia benar-benar bahagia sekarang, hingga air matanya tak sengaja terbendung diujung matanya. Namun alasan ia bahagia bukan karna kado yang Baekhyun berikan, namun karna kedatangan Baekhyun yang membuat kata ‘kesepian’ terhapus dalam hidupnya. Ia bahagia karna kini seseorang telah menemaninya walau ia tidak punya ikatan darah dan status apa-apa dengannya, tapi Taeyeon yakin Tuhan mengirimkan Baekhyun sebagai hadiah—kecil—atas cobaan berat yang selalu ia terima selama ini.

 

“Gomawo..”

 

***

 

Perlahan kelopak mata Baekhyun terbuka, pandangannya masih samar. Ia mengucak-ucak matanya pelan. Sejenak ia merenggangkan dahulu otot-ototnya yang kaku lalu ia beranjak dari sofa kecil yang ia gunakan untuk tidur.

 

“Kau sudah bangun ?” Ucap Taeyeon sembari sibuk menaruh makanan yang telah ia masak keatas meja makan yang berada dekat dapur kecilnya. “Sana mandi, habis itu kita makan bersama.” Lanjut Taeyeon kembali. Namun Baekhyun masih diam ditempat tanpa melakukan apa-apa.

 

“Kenapa diam? Sudah sana mandi! Hari ini kau liburkan ? Aku ingin pergi kesuatu tempat. Kau ingin ikut ?” Ajak Taeyeon. Baekhyun sedikit menaikan sebelah alisnya bingung. “Kemana ?” Tanya Baekhyun.

 

“Nanti kau akan tau. Sudah sana mandi, setelah makan kita langsung pergi.” Ujar Taeyeon kembali. Namun lagi-lagi Baekhyun hanya diam ditempat. “YAKK! CEPAT MANDI SANA!!” Seru Taeyeon geram karna Baekhyun masih diam ditempatnya. Baekhyun sedikit terlonjak karna lengkingan suara Taeyeon yang menusuk gendang telinganya. “Arraseo!” Baekhyun langsung cepat-cepat masuk kekamar mandi. Ia takut Taeyeon akan mengeluarkan aumannya lagi.

 

Setelah menghabiskan makanan mereka berdua, Taeyeon langsung beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari rumahnya, begitupun Baekhyun. Namun saat berada didepannya Taeyeon sengaja menghentikan langkahnya dan memerhatikan Baekhyun.

 

Ya! Kenapa kau hanya menggunakan jaket tipis, pakai jaketmu yang tebal! Cuaca saat ini sangat dingin, hari ini salju pertama akan turun. Kau cari mati? Jika kau sakit bagaimana?!” Taeyeon langsung membungkam mulutnya, ia benar-benar tidak sengaja mengatakan itu. “Mak-maksudku, eh anu.. maksudku..” Taeyeon benar-benar kehabisan kata-kata, dan ia keliatan sangat gugup. Sedangkan Baekhyun hanya menatap Taeyeon dengan tatapan bingung. “Ah sudahlah, pakai saja jaketmu yang tebal! Aku tunggu dibawah.”

 

Taeyeon langsung pergi dari hadapan Baekhyun untuk menyembunyikan wajahnya yang kini benar-benar terlihat gugup, dan karna ia juga mulai salah tingkah karna salah bicara. Baekhyun hanya bisa mengulas senyum kecil karna Taeyeon memberi perhatian kecil padanya, ya walau dia tidak ingin menunjukannya terang-terangan. Baekhyun lalu masuk kedalam rumah untuk mengambil jaket tebalnya.

 

Dibawah, Taeyeon hanya sibuk bermain dengan kakinya yang sibuk menendang-nendang aspal jalanan tanpa tujuan. Ia juga mempoutkan pipinya dan terkesan membuat aegyo walau kini tidak ada siapa-siapa dihadapannya, entah kenapa ia merasa malu atas kejadian tadi. Walaupun hanya sekedar perhatian kecil tapi entah kenapa ia malah menjadi gugup dan salah tingkah.  Dan anehnya ia merasa jantungnya malah menjadi berdetak lebih kencang dari sebelumnya.

 

‘Ah, ayolah Kim taeyeon. Kau jangan jadi seperti ini.’ Ia terus menggerutu pada dirinya sendiri Hingga ia tidak sadar kini Baekhyun tengah memerhatikannya dari belakangnya.. Taeyeon menghentakan kakinya kesal, ia juga menutupi seluruh wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya. Saat Baekhyun ingin menghampiri Taeyeon lebih dekat, dalam waktu bersamaan Taeyeon malah mundur kebelakang dan hampir saja jatuh karna badannya yang tidak seimbang. Namun dengan sigap Baekhyun langsung menangkap tubuh Taeyeon dengan menopang pinggangnya menggunakan tangannya.

 

DAG DIG DUG!

 

Perasaan itu datang kembali pada Taeyeon. Dimana detak jantungnya menjadi tak terkendali dan rasanya tubuhnya benar-benar mati rasa hingga ia tidak bisa bergerak sama sekali. Ia membelalak matanya cukup lebar. Begitupun Baekhyun, ia juga merasakan hal yang sama dengan Taeyeon. Tubuh Taeyeon yang menurutnya berat pun kini terasa ringan ditangannya. Mungkinkah ?

 

Namun selang beberapa lama Taeyeon mulai sadar jika tubuhnya kini ditopang Baekhyun dan posisi mereka berdua adalah dijalanan, bagaimana jika ada orang melihat ? Taeyeon langsung berdiri  dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan—walau nyatanya ia tengah salah tingkah.Mereka berdua saling membuang muka, menyembunyikan semburat rasa canggungnya masing-masing.

 

Dipikir-pikir lagi, dari Taeyeon keluar pintu rumah sudah setengah jam dia tidak berangkat juga ketempat tujuannya. Dia mendengus kesal, “Ah, ini sudah jam berapa ? Kenapa kita tidak berangkat juga ?” Gerutu Taeyeon, ia lalu menarik tangan Baekhyun dan pergi kehalte bus.

 

Mereka menaiki bus tujuan Daegu. Didalam Bus Taeyeon duduk disamping kaca dan Baekhyun duduk disebelah kirinya. Taeyeon hanya memandangi keluar jendela sedangkan Baekhyun sibuk bermain dengan jari lentiknya. Suasana canggung kini menyelimuti mereka berdua, hingga tidak ada satu percakapan pun yang tercipta dari mulut mereka selama perjalanan.

 

~

 

Sampailah mereka setelah menempuh perjalanan hampir 1 jam. Taeyeon berjalan terlebih dahulu dari Baekhyun, dan Baekhyun mengikutinya dari belakang. Anehnya, Taeyeon malah masuk kesebuah rumah sakit yang cukup besar didaerah sana. Baekhyun memerhatikan sejenak gedung yang ada dihadapannya tersebut, dalam pikirannya ia bertanya ‘Untuk apa Taeyeon-noona mengajak ku kesini ?’. Namun terlintas suatu hal dalam pikiran Baekhyun, ‘Atau dia ini rumah sakit adiknya dirawat ?’  

 

“Apa yang sedang kau lakukan disitu ? Cepat ikuti aku.” Seru Taeyeon. Baekhyun langsung mengikuti Taeyeon untuk masuk kedalam gedung rumah sakit.

 

Tepat didepan kamar 309 Taeyeon menghentikan langkahnya, ia hanya berdiri dan memandangi pintu kamar tersebut dengan fake smile-nya. “Aku ingin menjawab pertanyaanmu kemarin malam. Kau mungkin bertanya-tanya kenapa aku mengajakmu kesini kan ?”

 

Namun Baekhyun langsung menyambar perkataannya. “Arrayo.”

 

“A-apa maksudmu ?” Taeyeon sedikit bingung dengan jawaban Baekhyun barusan. Dia tau apa ?

 

“Adikmu dirawat disini ‘kan?” Ujar Baekhyun.Taeyeon sedikit tersentak hingga air matanya mulai membendung dipelupuk matanya. Baekhyun langsung menahan tubuh Taeyeon saat melihat keseimbangan Taeyeon mulai hilang. “Noona, kau baik-baik saja ?” Tanya Baekhyun khawatir sambil memegangi bahu Taeyeon.

 

A-aniyo, gweanchana.” Taeyeon menurunkan tangan Baekhyun yang menempel dibahunya pelan. Ia sedikit memutar kepalanya kebelakang untuk menghapus air matanya yang hampir jatuh dari pelupuk matanya. Dan sedetik kemudian ia kembali tersenyum dan menunjukan pada Baekhyun jika ia kini baik-baik saja. “Kajja, kita masuk.” Ucap Taeyeon dengan fake smile yang selalu ia tunjukan pada Baekhyun.

 

Saat masuk kedalam kamar tersebut, Baekhyun langsung menerima pemandangan yang menurutnya cukup memiriskan untuk seorang gadis semuda Taeyeon. Adiknya yang terbaring diatas ranjang yang hampir semuanya berwarna putih, dengan selang oksigen yang menempel pada hidungnya dan alat-alat kedokteran lain yang menempel pada tubuhnya. Melihatnya saja Baekhyun sangat tidak tega, dia tidak bisa membayangkan seberapa terguncangnya Taeyeon karna harus menerima ini semua.

 

Taeyeon berdiri disamping adiknya. Beberapa saat ia hanya memerhatikan wajah adik tercintanya. Entah kenapa air mata yang sebelumnya sudah berusaha ia sembunyikan muncul lagi, ia kembali menghapus air mata itu. Taeyeon menoleh kearah Baekhyun, seperti biasa dengan fake smile yang selalu ia buat dibibirnya.

 

“Ya, inilah adikku. Kim Tae…” Namun sebelum Taeyeon menyelesaikan kata-katanya Baekhyun langsung menyambar. “Arrayo, Kim Taejoon. Benarkan ?” Taeyeon terpaku, darimana dia tau ini semua ?

 

“Semua ada dicoretan yang ada dikalendermu, aku sudah membaca itu semua.” Ujar Baekhyun menjelaskan. “Karna itu, aku selalu bertanya. Sejak kapan kau mengalami ini semua ? Bagaimana cara kau menghadapinya ? Seberapa kuat kau menjalaninya ? Aku selalu bertanya tentang hal itu. Tapi aku selalu merasa takut untuk menanyakannya padamu. Aku takut jika pertanyaan itu hanya membuatmu makin menderita saja. Maka dari itu noona, biarkan aku tetap berada disisimu. Aku ingin menanggung setengah dari beban kehidupanmu. Aku bisa membantumu menanggung biaya rumah sakit Taejoon. Aku juga ingin menemanimu, walau aku tidak punya status apa-apa denganmu. Sejak melihat coret-coretan yang ada dikalendermu, entah kenapa prinsip hidupku adalah untuk membahagiakanmu.” Lanjut Baekhyun panjang-lebar.

 

Entah darimana keberanian Baekhyun untuk mengatakan itu semua datang, namun ucapannya itu benar-benar tulus dikatakan. Namun ada satu hal yang ia sembunyikan, bahwa ia melakukan itu karna ia mencintainya juga. Ia tidak ingin melihat orang yang dicintainya terus-terusan menderita, ia ingin melihatnya bahagia.

 

Sedangkan Taeyeon kini hanya terpanah mendengarkan pengakuan Baekhyun barusan. Ia merasa seluruh tubuhnya bergetar dan matanya mulai memanas. “Baek-baekhyu-ah.”

 

Baekhyun meraih tangan Taeyeon dan menggenggamnya erat. “Jadi noona, kau harus tersenyum. Kau jangan menangis lagi. Aku tak ingin melihatmu menangis lagi mulai sekarang, kau terlihat lebih cantik jika sedang tersenyum.” Ujarnya sambil menghapus jejak air mata yang terukir dipipi Taeyeon menggunakan jari telunjuknya. Sedetik kemudian senyuman Taeyeon benar-benar terukir. Ia terkekeh.

 

Arraseo.”

 

Lega rasanya bisa melihat senyuman Taeyeon secerah ini. Dalam hati, Baekhyun berkata. “Berjanjilah padaku kau akan bahagia, noona.”

 

***

 

“Yeoboseo.”

 

“Yeoboseo sajangnim.”

“Apa kau sudah menemukannya ?”

“Ya. Dia bersama wanita yang waktu itu membela Baekhyun saad didepan sekolahnya. Dia masuk ke rumah sakit yang ada didaerah Daegu.”

“Baiklah. Biarkan anak itu bersenang-senang dengan wanitanya. Lusa kau ikuti dia lagi,lalu bawa dia. Aku akan mengirimnya ke Kanada.”

“Baik sajangnim.”

 

T O  B E  C O N T I N U E D

Ide ceritanya jadi aneh ya? ._. M I A N H E T___T Buat chap selanjutnya ga janji cepet ya, soalnya aku belum terusin lagi karna kendala waktu. Aku harus nyiapin peralatan/tugas sekolah dulu karna besok aku udah mulai masuk sekolah. Dan aku juga mulai sibuk sama eskul disekolah, jadi bagi waktu buat bikin ff lagi susah X(

Author pengen berterima kasih lagi buat readers yang masih stay nungguin “Noona, I Love You..” dan buat readers yang bersedia buat baca ff ini walau danta :3 Janjinya udah dipenuhi yaa 🙂 Semoga puas!^.^ Mohon menunggu dengan sabar chap selanjutnya, author usahain ga bakal mengecewakan buat chap selanjutnya. T H A N K S♥♥♥

 

Advertisements

55 comments on “Special Gift (Chapter 2)

  1. Taeng eon yg sabar ya…
    Cie Baek oppa udh tau klo dirinya jatuh cinta sama Taeng eon
    Taeng eon ayo peka/?
    Itu pasti appanya Baek oppa —
    Next thor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s