My Princess, Kim Taeyeon (Chapter 4)

my-princess-kim-taeyeon

Bina Ferina’s Present

Main Cast :

KIM TAEYEON

KIM JUNMYEON (SUHO)

XI LUHAN

PARK CHORONG

All of Artists SM. Entertainment

Genre :

ROMANCE, SCHOOL-LIFE, FRIENDSHIP

Rating :

PG 17

Artworker :

Very much thank you, dear^^ –> rosaliaaocha – ExoShidaeFFandGrapchics

A/N :

Mari dibaca^^ hope you’ll be like my new fanfic! Alurnya ceritanya SANGAT BIASA, mungkin juga udah sering baca. Tapi aku akan berusaha lebih keras agar FF ini ngga TERLALU BIASA untuk para ReaderSetiakuu #chu. Happy reading^^

~~~

Jessica menatap arloji di pergelangan tangan kanannya begitu bel sekolah berbunyi menandakan jam pelajaran pertama akan berlangsung. Mata tajam Jessica mengitari seluruh permukaan kelas dan dia tidak menemukan sosok orang yang dicarinya.

“Taeyeon belum juga kelihatan. Di mana dia?” tanya Sunny. “Kenapa pagi ini Luhan kerja sendiri?”

“Kau sudah menghubunginya?” tanya Heechul pada Tiffany, yang sedang mencoba menelepon Taeyeon, tapi tak kunjung di angkat.

“Tidak bisa. Ada apa dengannya?” tanya Tiffany sedikit cemas. Dia mengotak-atik ponselnya, mengirim pesan singkat ke Taeyeon.

“Tadi pagi aku seperti melihat sepatunya di kantor. Apa aku coba kesana saja?” tawar Chanyeol.

“Bagaimana bisa kau pergi? Ms. Seo sebentar lagi menuju kelas,” tolak Sunny.

“Kau mau bolos, ya?” tanya Heechul sambil memicingkan kedua matanya.

“Aku akan segera menemukan Taeyeon!” seru Chanyeol sambil berlari keluar kelas.

“YA!”

Chanyeol sedikit terkikik geli saat Heechul meneriaki namanya. Ia terus melangkah menuju kantor Ketua Murid dan tidak berapa lama, langkahnya terhenti begitu ia berpapasan dengan Luhan.

“Apa yang sedang kau lakukan di luar kelas? Kau tidak dengar bel sudah berbunyi lima menit yang lalu?” tanya Luhan dingin.

Chanyeol diam sesaat. Ia ingin membalas pertanyaan Luhan dengan sengit juga. Tapi ia mengurungkan niatnya begitu ia teringat Taeyeon. “Ani. Aku mencari Taeyeon. Dia tidak muncul di kelas dan tidak ada saat memeriksa ID card bersamamu. Kurasa aku melihatnya di kantor tadi pagi. Apa kau melihatnya?”

Luhan tersenyum sinis. “Dia memang ada di dalam kantor dari tadi pagi. Tapi aku tidak tahu kenapa dia tidak keluar untuk menjalankan tugasnya. Kenapa kau mengurusi dia dan bukannya memikirkan dirimu? Kau bisa kena sanksi kalau tetap berkeliaran disini pada saat jam pelajaran berlangsung,”

Chanyeol mendengus dan menatap Luhan dengan tatapan murka. “Aku dan kau itu berbeda. Jangan sama-samakan aku denganmu yang sama sekali tidak pernah memikirkan perasaan orang lain. Aku bukanlah manusia yang tidak punya hati sepertimu,”

Selesai bicara seperti itu, Chanyeol melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Luhan.

“Kalau sekali lagi kau tertangkap tidak ada di kelas, aku akan benar-benar menjadi seperti yang kau katakan,” ujar Luhan di belakang Chanyeol.

Chanyeol pura-pura tidak mendengar. Dia tahu Luhan bukan orang yang suka main-main. Dia pasti akan memegang omongannya. Tapi dia sama sekali tidak peduli. Dia lebih mencemaskan keadaan sahabatnya yang tidak diketahui keberadaannya.

Sesampainya di depan kantor, Chanyeol melihat sepasang sepatu yang dikenalnya bertengger manis di depan pintu. Dengan perlahan Chanyeol mengetuk pintu kantor itu tiga kali. Tidak ada jawaban. Sekali lagi Chanyeol mengetuknya sebanyak tiga kali. Kali ini agak lebih keras.

“Taeyeonnie? Aku tahu kau di dalam. Ada apa denganmu? Kenapa kau tidak ke kelas?” tanya Chanyeol. Suaranya agak keras.

Beberapa detik kemudian, pintu kantor terbuka. Chanyeol dapat melihat Taeyeon di balik pintu kantor. Wajahnya merah dan matanya sembab. Chanyeol dapat melihat ada sesuatu yang tidak beres yang terjadi pada sahabatnya itu.

“Ada apa denganmu?” tanya Chanyeol.

“Tidak ada apa-apa,” jawab Taeyeon pelan. Suaranya serak. Ia bahkan tidak berani menatap mata Chanyeol.

Chanyeol diam sesaat. Ia tampak sedang berfikir. “Kita sudah bolos dari mata pelajaran pertama. Bagaimana kalau kita bersembunyi di atap?”

~~~

“Mr. Lee, anda tahu, ‘kan sejak awal bersekolah disini mereka sama sekali tidak akur? Kenapa anda bisa tiba-tiba memasangkan mereka menjadi Ketua Murid? Anda tahu mereka tidak akan pernah bisa bekerja sama dengan baik dan tidak akan bisa menjadi pasangan ideal seperti Chil-Hyun dan BoA. Sampai saat ini hubungan mereka tidak memiliki kemajuan. Apa ada sesuatu yang kau rencanakan di balik semua ini?” tanya Mr. Kim.

Mr. Lee Soo Man menutup buku program kerja yang sedang dibacanya dan meletakkannya secara perlahan di atas meja kerjanya. Dia menatap Mr. Kim dengan ekspresi yang sulit ditebak.

“Aku harus membangun hubungan mereka berdua menjadi hubungan yang harmonis seperti pertama kali aku mengenal mereka. Selama empat tahun lamanya aku menanti momen-momen seperti ini dan sekaranglah waktu yang tepat untuk mengulang semuanya kembali,” jawab Mr. Lee sembari membuka proposal acara pesta dansa yang diserahkan oleh Luhan.

“Maksud anda… Anda ingin membuat dua keluarga itu bersatu kembali? Anda tahu itu seperti menyatukan anjing dan kucing?” tanya Mr. Kim dengan raut wajah kaget.

“Bagaimanapun juga harus kulakukan, Young Min-ah. Apapun itu caranya akan kulakukan. Karena mereka adalah sahabat-sahabatku. Dan kedua anak ini satu-satunya cara yang bisa kufikirkan,”

“Tapi, sekarang ini hubungan mereka semakin tidak akur. Mr. Xi bekerja sendiri hari ini. Aku tidak tahu di mana Ms. Kim berada,” jawab Mr. Kim. “Lagipula, mereka sama sekali tidak tahu apa-apa, ‘kan?”

“Mereka belum mengetahuinya,” jawab Mr. Lee sambil menghela nafas panjang. “Cepat atau lambat keduanya akan tahu, dan aku yakin, keduanya akan semakin membenci satu sama lainnya. Sebelum itu terjadi, aku harus membuat tembok di hati mereka runtuh. Aku harus mencairkan api membara di hati mereka masing-masing. Aku akan membuat perasaan mereka berbanding terbalik,”

“Jangan-jangan…”

“Terlalu membenci itu tidak baik, bukan? Perasaan benci suatu saat akan berubah. Dan akan kupastikan mereka berdua mengalaminya. Kulihat, program acara dari Luhan ini sangat bagus. Kesempatan dan peluangku semakin lama semakin terbuka lebar,”

Mr. Kim mengangguk. “Yaahh, aku tidak tahu apa resikonya jika rencanamu ini berjalan dengan baik. Aku sarankan kau fikirkan ujung dari rencanamu ini sebelum semuanya semakin memburuk. Aku hanya bisa menerima perintahmu saja,”

“Ne, serahkan semuanya padaku. Aku akan memberikanmu perintah sebentar lagi,” jawab Mr. Lee dengan senyuman misteriusnya.

~~~

Chanyeol menyerahkan sekotak susu rasa strawberry dan sebungkus roti cokelat pada Taeyeon yang sedang duduk di lantai atap sekolah sambil memandang jauh-jauh ke langit. Ia menengadahkan wajahnya menatap Chanyeol dan menerimanya sambil tersenyum kecil. Chanyeol duduk di samping Taeyeon dengan senyuman lebar di wajahnya. Ia menyeruput susu cokelatnya sampai habis dan membuang kotaknya ke tempat sampah.

“Kenapa kau membelikanku susu strawberry?” tanya Taeyeon pelan.

Chanyeol menatap Taeyeon dan ia kembali memandang langit yang terhampar luas di hadapannya. “Karena aku tahu bagaimana dirimu, Kim Taeyeon. Aku tidak peka seperti Sunkyu, tidak pengertian seperti Heechul hyung dan Tiffany. Aku tidak bisa membaca fikiranmu seperti yang dilakukan oleh Sica. Tapi aku tahu dirimu seperti apa, aku tahu semua tentangmu. Aku sangat hafal dirimu, Taenggo-ah. Berkali-kali aku menginap di rumahmu dan aku tidak hanya mempelajari ilmu yang diberikan oleh Ji Woong hyung. Aku juga mempelajarimu,”

Taeyeon diam menunggu kelanjutan perkataan Chanyeol. Dia merasa tersentuh mendengar itu. Chanyeol yang selalu bercanda dan menghibur siapapun, memberikan kata-kata yang bagi Taeyeon sangat puitis.

“Kau adalah seseorang yang sangat baik, Taeyeon-ah. Sangat baik dan lembut. Kau tidak hanya memikirkan perasaanmu semata. Tapi kau juga memikirkan perasaan kami dan bagaimana reaksi kami. Kau terlalu memikirkannya sehingga setiap masalah yang menyangkut di hatimu selalu kau pendam. Kau menuangkan masalahmu di malam hari dengan menangis sepuasnya. Tapi kalau masalah itu terlalu berat di hatimu, kau akan minum susu strawberry ini dan semuanya akan normal kembali.

“Ketika aku memperhatikan itu semua, aku kagum padamu. Bagaimana bisa kau menangis tanpa ada pundak yang menampung air matamu? Aku ingin sekali memberikan kedua pundakku ini untuk kau basahi, Taeyeon-ah. Aku tidak ingin kau menangis sendirian lagi. Kau itu sudah kuanggap kakak. Kau bisa memberikanku nasehat-nasehat, tapi apa aku kurang pantas melihatmu menangis? Kau itu bukan malaikat yang bisa menahan semuanya sendirian. Kau butuh pundak untuk menuangkan apa yang tidak bisa kau tuangkan lewat kata-kata. Aku berjanji, aku tidak akan memberitahu siapa-siapa kecuali itu sudah melewati batas kewajaran,”

Chanyeol menyodorkan jari kelingking kanannya di hadapan wajah Taeyeon. Taeyeon menatap wajah Chanyeol dan jarinya secara bergantian dengan mata yang berkaca-kaca. Sebelum ia mengucapkan satu patah kata, air matanya sudah mengalir pelan membasahi kedua pipinya. Alhasil, Taeyeon menyandarkan kepalanya di pundak Chanyeol dan menangis tanpa suara.

“Mianhae, mianhaeyo,” ungkap Taeyeon di sela isaknya. “Aku kurang kuat menghadapi semuanya. Aku masih lemah, dan itu terkadang membuatku ingin menyerah. Aku lupa kalau kalian selalu ada mendukungku. Dan kali ini aku berjanji untuk lebih tabah lagi. Aku tidak akan menangis lagi,”

Chanyeol membelai rambut Taeyeon dengan sayang. “Ya, kau sudah terlalu kuat selama ini. Kau menangis hanya karena kau sudah terlalu lama memendamnya. Kau sudah sangat kuat,”

Selama hampir satu jam lebih Taeyeon menenangkan dirinya di pundak Chanyeol. Chanyeol hanya diam menunggu Taeyeon lebih tenang dan lega. Sesekali ia mengeluarkan lelucon yang membuat Taeyeon sedikit tersenyum.

Begitu bel sekolah berbunyi, yang menandakan istirahat, Taeyeon langsung mengangkat wajahnya dan menoleh menatap jam tangannya.

“Sepertinya kita sudah bisa keluar dari sini,” ajak Taeyeon dengan suara paraunya.

“Sepertinya mereka akan bertanya-tanya kenapa wajahmu membengkak seperti itu,” canda Chanyeol.

Taeyeon tertawa. Keduanya bangkit berdiri dan hendak keluar. Namun, sebelum mereka sempat melangkah keluar, tiga orang laki-laki yang dikenal Taeyeon muncul dan mereka menghadang langkah Taeyeon dan Chanyeol. Laki-laki yang berdiri di tengah adalah laki-laki yang amat sangat dibenci Taeyeon. Semakin lama, Taeyeon semakin membencinya. Apalagi perbuatannya yang baru saja dilakukannya.

Laki-laki itu tersenyum sinis menatap Taeyeon dan Chanyeol. “Wah, wah. Berduaan di atap sekolah dan tidak berada di kelas. Sepertinya kalian berdua menjadi kerjaan Ketua Murid kali ini,”

“Tapi, Lu. Taeyeon juga Ketua Murid, ‘kan?” tanya laki-laki yang berdiri di samping kanan Luhan, yang Taeyeon kenal adalah Henry.

“Ne, dan aku mau tahu apa hukumannya,” jawab Luhan. Tatapannya menatap tajam ke Taeyeon.

“Yeollie-ah, kajja. Aku akan mengakuinya dengan Mrs. Oh saja,” ujar Taeyeon. Ia menarik pergelangan tangan Chanyeol.

Luhan langsung menghalangi langkah Taeyeon. Ia berdiri berhadapan dengan Taeyeon dan menatapnya dalam-dalam. Taeyeon juga membalas tatapan Luhan dengan tidak kalah sengitnya. Luhan memandang ke arah bibir Taeyeon, yang masih terlihat jelas bekas berdarahnya. Senyuman khasnya keluar. Taeyeon, yang tahu ke mana arah mata Luhan, langsung mengalihkan tatapannya.

“Xiumin-ah, antarkan Chanyeol menghadap Mrs. Oh,” perintah Luhan tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah Taeyeon.

“Aku saja yang mengantarnya,” tegas Taeyeon. Ia kembali menatap Luhan dengan tatapan kebencian yang mendalam.

“Aniyo,” jawab Luhan pendek. Ia melepas pegangan Taeyeon dari tangan Chanyeol dan gantian Luhanlah yang menggenggam kuat pergelangan tangan Taeyeon.

Taeyeon sedikit terkejut dan ia menghentakkan tangan Luhan. Tapi genggaman tangan Luhan begitu kuat.

“Ya! Jangan sakiti Taeyeon!” seru Chanyeol. Ia maju dan menarik kerah baju Luhan. Luhan menatap Chanyeol dengan tatapan merendahkan.

“Xiumin-ah,” panggil Luhan lagi.

Xiumin mendekati Chanyeol dan melepaskan tangan Chanyeol dari kerah baju Luhan. Chanyeol menatap Luhan dengan tatapan mengancam.

“Gadismu ini memang harus diserahkan padaku. Kau bagian Mrs. Oh,” ujar Luhan.

“Luhan-ah, bukan begitu cara menjelaskannya,” tegur Xiumin. “Kau jelaskan kepada Mrs. Oh kenapa berada di sini dan bukannya berada di kelas. Kalau masalah Taeyeon, Taeyeon harus memberi penjelasan pada Luhan dan setelah itu kalian bisa bebas dari hukuman atau tidak,”

“Chanyeol tidak bersalah apa-apa. Dia hanya mencariku saja,” ujar Taeyeon cepat kepada Xiumin.

“Jelaskan itu pada Mrs. Oh,” potong Luhan dingin pada Chanyeol.

“Kalau kau menyakiti Taeyeon, aku tidak akan segan-segan memukul wajahmu di depan umum sekalipun,” ujar Chanyeol.

Xiumin menganggukkan kepalanya kepada Chanyeol dan mereka berdua langsung bergegas keluar atap sekolah. Luhan menatap kepergian Xiumin dan Chanyeol sampai langkah mereka tidak terdengar lagi. Setelah itu, Taeyeon melepas genggaman Luhan dengan hentakan keras.

“Kau menggenggamnya terlalu kuat, Lu,” kata Henry. Ia tersenyum manis dan penuh arti.

“Kenapa kau ada di sini? Kau ingin memberi contoh yang tidak baik sebagai Ketua Murid? Bukannya belajar dengan tekun, kau malah mengajak kencan orang lain untuk bolos dari kelas,” ejek Luhan. Ia melipat kedua tangannya di dada.

“Berkencan? Jangan asal bicara, Luhan-ssi. Aku tidak seperti dirimu,” sanggah Taeyeon ketus.

“Dari pada membantuku memeriksa ID card, kau lebih memilih bersembunyi di kantor. Wae? Kau lelah dengan semua kebijakan Ketua Murid? Ingin berhenti? Atau…”

Luhan maju beberapa langkah mendekati Taeyeon. Otomatis Taeyeon langsung mundur beberapa langkah ke belakang, menatap Luhan dengan pandangan tajam. Sedangkan Henry hanya memerhatikan pertengkaran mereka sambil senyam-senyum sendiri. Ia tidak berniat untuk menghentikannya.

“Atau kau masih merasa kesakitan?” tanya Luhan pelan. Tangannya hendak menyentuh bibir Taeyeon yang sedikit membengkak dan merah. Sebelum tangan Luhan berhasil menyentuhnya, Taeyeon langsung menampar tangan itu kuat-kuat. Henry menutup mulutnya, berusaha menyembunyikan tawanya.

“Aku tidak sudi kau sentuh,” ujar Taeyeon pelan. Ia langsung berlari keluar dari atap, menyusul Chanyeol.

“Apa itu? Sepertinya aku ketinggalan sesuatu,” ucap Henry. Ia mendekati Luhan dan menatapnya dengan tatapan penasaran super tinggi.

“Bukan apa-apa,” jawab Luhan pendek.

“Kau menyentuhnya?” bisik Henry. Wajahnya menyeringai. “Kurasa bibirnya yang berdarah dan membengkak itu adalah ulahmu, keutchi? Kulihat lukanya masih segar dan sepertinya baru terjadi,”

“Kau memerhatikan bibirnya?” tanya Luhan tidak percaya.

Henry tertawa pelan. Ia merangkul pundak Luhan. “Walaupun banyak yang bilang dia itu rakyat jelata yang tidak akan mampu mengurusi masalah kecantikan tubuh maupun wajah, tapi tetap saja wajahnya sangat cantik, mulus, dan putih bersih. Bibirnya yang tipis dan semerah buah cherry itu menggoda bagi laki-laki berotak mesum sepertimu. Dan tubuhnya, tubuhnya yang kecil mungil itu bisa membuat siapa saja ingin memeluknya erat. Aku yakin dia memakai obat-obat herbal yang baik dari pada obat-obatan kimia seperti yang di pakai oleh perempuan lain. Ayolah, Luhan-ah. Aku tahu kau tahu. Kau pasti merasa nyaman begitu memeluk tubuhnya. Merasakan bibirnya yang masih polos saja kau sudah nyaman, ‘kan? Saking nyamannya, kau bahkan tidak sadar sudah menyakitinya,”

“Ya, apa-apaan, hyung?!” seru Luhan. Ia melepas rangkulan Henry dan menatap Henry dengan pandangan kesal. “Aku tidak pernah menyentuhnya dan itu semua tidak akan pernah terjadi!”

“Lulu, bibirmu mengatakan kebenaran,” goda Henry sambil tertawa. “Hanya karena status sosialnya berbeda denganmu jangan sampai kau mengelak kebenaran yang ada. Dan kalau saja rencanamu yang ingin ‘mengotori’ Taeyeon lewat orang-orang suruhanmu itu berhasil, aku yakin seratus persen orang-orang itu tidak akan menyesal,”

Henry menepuk-nepuk pundak kiri Luhan dan ia melangkah keluar dari atap sekolah. Sebelum ia benar-benar keluar, Henry mengerlingkan sebelah matanya pada Luhan sambil berkata, “Aku tidak akan bilang siapa-siapa,”

“Yang benar saja,” gumam Luhan sambil mengacak-acak rambutnya. Ia buru-buru mengejar langkah Henry.

~~~

“Kau membuat masalah saja,” kata Heechul kesal sambil menepuk keras kepala Chanyeol.

“Auw, hyung. Aku hanya mengajaknya kabur saja. Aku fikir tidak akan ketahuan, tapi ternyata si laku-laki bangsat itu memergoki kami. Dia benar-benar sebegitunya pada Taeyeon,” jawab Chanyeol geram.

Mereka berlima sedang berdiri di koridor kelas sambil memerhatikan Taeyeon yang sedang menyapu halaman sekolah. Halaman belakang sekolah sangatlah luas, dan jam-jam istirahat seperti ini halaman belakang sekolah belum disapu. Pekerjaan yang cukup membuat keringat Taeyeon terkuras hebat. Apalagi banyak siswa-siswi yang dengan jahilnya membuang sampah sembarangan dan dengan seenaknya kembali menaburi sampah-sampah yang sudah dikumpulkan Taeyeon.

“Kenapa dia bisa tidak masuk ke dalam kelas?” tanya Tiffany heran.

“Dia kelelahan. Dia tidak sengaja tidur di sofa kantor,” jawab Chanyeol asal. “Dia membelaku di depan Mrs. Oh. Seharusnya dia tidak perlu melakukan itu. Jadi kami bisa membersihkannya bersama-sama,”

“Mungkin karena pesta mendadak kita,” sahut Sunny pelan. Mereka berlima kembali memerhatikan Taeyeon.

“Aigoo, anak-anak itu! Aku ingin sekali menjitaknya kuat-kuat!” seru Tiffany kesal.

“Ketua Murid yang malang,” kata seorang perempuan yang suaranya sangat lembut dan sudah tidak asing lagi di dengar oleh Tiffany dan yang lainnya.

Irene melenggang pelan mendekati kelima teman Taeyeon dengan senyuman manisnya yang terpampang di wajahnya. Ia berdiri di samping Chanyeol dan ikut memerhatikan Taeyeon dari jauh.

“Sama sekali tidak memberi contoh yang baik. Aku prihatin sekali kenapa kita bisa memiliki Ketua Murid seperti dia. Dia layak diberi hukuman, keutchi? Kuharap akan ada re-shuffle, dan aku harap yang terpilih bukanlah rakyat jelata lagi,” sambung Irene. “Oh, ya. Aku lupa kalau di sekolah ini hanya dialah yang berbeda dengan kita. Sebagai temannya, cobalah untuk sedikit mengajari dia bagaimana berperilaku layaknya manusia yang sederajat dengan kita,”

“Manusia yang sederajat dengan kita? Aku tidak akan pernah mau disama-samakan dengan perempuan aneh sepertimu. Dan dia bukanlah sosok yang berbeda dengan kami. Jangan bawa-bawa nama kita, maaf saja, karena kita itu tidak ada,” jawab Tiffany berapi-api.

“Mau apa kesini, Irene-ssi? Apa ada yang bisa dibantu?” tanya Heechul dengan senyuman manis yang menakutkan.

“Tidak apa-apa, hanya sedikit memastikan kalau kalian tidak tertular sikap buruknya. Kalian orang-orang yang dipandang di Seoul ini, seharusnya kalian tidak berteman dengan orang yang ada di bawah kalian,” jawab Irene.

“Tidak ada orang yang ada di atas maupun di bawah kami, Irene-ssi. Kalau tidak ada yang perlu untuk diperbincangkan dengan kami, tangga menuju lantai bawah ada disana,” tunjuk Heechul.

“Gomapta, Heechul-ssi,” ujar Irene dengan senyuman sinisnya. Ia melangkahkan kakinya menjauh dari mereka berlima dengan rambut panjangnya yang indah berkibar di belakang.

“Jika saja aku boleh menikamnya dari belakang, aku akan melakukannya sekarang juga,” ujar Tiffany. Jessica dan Sunny memberinya tatapan memperingatkan.

Dan di bawah sana, Taeyeon menghela nafas panjang sembari merenggangkan otot-otot pinggangnya yang sudah hampir mau patah. Keringatnya sudah membasahi dahinya dan baju seragam sekolahnya. Ia melepas blazer-nya dan menggantungnya di sebuah kursi cokelat panjang kemudian kembali menyapu. Ia melihat ada beberapa siswa yang dengan sengaja menaburkan kembali dedaunan yang sudah ia kumpulkan.

“Ya!” seru Taeyeon galak.

Sekumpulan siswa itu tergelak tertawa. Namun, tawa mereka segera terhenti saat mereka melihat Suho memegang dua sapu lidi dan menyerahkannya kepada mereka. Wajahnya dipenuhi senyuman manisnya. Taeyeon menatap heran keberadaan Suho yang tiba-tiba.

“S… sunbae, wae?” tanya salah satu dari mereka.

“Kumpulkan lagi dedaunannya,” suruh Suho. “Ppalli,”

Suho menepuk pundak mereka agak keras dan melempar kedua sapu itu ke arah mereka. Mereka menangkapnya dan dengan takut-takut mereka mulai menyapu dedaunan yang mereka taburi menjadi satu lagi.

“Sekalian buang, ya,” perintah Suho lagi sambil menunjuk keranjang sampah yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.

“Sunbae…”

“Ppali, sebelum jam istirahat berakhir,” potong Suho dengan masih tersenyum, senyum yang penuh ancaman.

Siswa-siswa itu menganggukkan kepala mereka dengan takut. Tentu saja mereka takut. Suho dikenal sebagai senior yang ‘galak’ kepada siswa-siswa yang jahat. Walaupun dia bukan Ketua Murid, dia bisa memengaruhi Kepala Sekolah untuk menghukum mereka. Asset kekayaan Suho di sekolah ini bisa dibilang sangat besar.

“Suho-ah, kau tidak perlu melakukannya,” cegah Taeyeon.

“Seharusnya lapangan ini sudah selesai kau bersihkan. Orang-orang seperti ini haruslah diberi pelajaran agar tidak mengganggu lagi, Taeyeon-ah,” jawab Suho. Ia tersenyum dan mendekati Taeyeon. “Istirahatlah,”

“Mwo?”

Sebelum Taeyeon sempat berkata apa-apa lagi, Suho langsung merampas sapu dari tangan Taeyeon dan mulai menyapu.

“Suho-ah. Andwae! Ini adalah hukumanku,” ujar Taeyeon. Ia hendak merebut sapunya tapi Suho bergerak cepat. Taeyeon dan Suho saling berkejaran, berusaha merebut sapu itu.

“Minggirlah,” sahut Suho.

“Ya!” seru Taeyeon.

Suho berhenti menghindar. Ia meletakkan sapu itu di samping pohon rindang dan ia menyentuh kedua pundak Taeyeon. Wajah keduanya saling berhadapan satu sama lain. Taeyeon menatap Suho dengan tatapan heran, sedangkan Suho menatap Taeyeon dengan tatapan lembut. Para siswi yang sedari tadi mengejek Taeyeon sangat shock melihat itu. Mereka langsung berteriak histeris dan memaki-maki Taeyeon. Tentu saja Suho dan Taeyeon tidak mendengarnya. Para perempuan itu berteriak di dalam gedung sekolah. Tiffany dan Sunny memekik kegirangan melihat itu. Heechul dan Chanyeol tertawa melihat kemurkaan yang ada di wajah para siswi itu. Koridor tiap lantai menjadi penuh. Tentu saja mereka penasaran dengan apa yang terjadi di bawah sana.

“Mwoya?” tanya Taeyeon penasaran.

Suho merangkul pundak Taeyeon dan ia membawanya ke kursi cokelat panjang itu. Tubuh Taeyeon didudukkannya dengan perlahan di atas kursi itu. Lalu, blazer Taeyeon ia ambil dan ia menyampirkan blazer itu di punggung Taeyeon.

“Tunggu saja disini, arraseo? Aku akan membantumu membersihkannya. Kau tidak bisa seharian terus menyapu seperti ini,” ujar Suho.

“Keundae…”

Suho mengacak-acak ubun-ubun kepala Taeyeon dengan lembut. Ia tersenyum dan mulai melanjutkan kegiatan menyapunya. Beberapa siswa yang tadi menjahili Taeyeon pun ikut menyapu. Mereka juga membuang sampah-sampah itu di keranjang sampah seperti yang Suho perintahkan.

“Waah, lihat uri Suho. Apa dia sudah bisa membuka pintu hatinya untuk perempuan? Bukankah ini pertama kalinya dia bersikap selembut itu? Kurasa… Suho mulai jatuh hati lagi,” ujar Henry sambil tersenyum senang.

“Yang disukai Suho adalah perempuan dengan sikap dan sifat yang sama, ya? Persis seperti Chorong,” tambah Xiumin.

“Kenapa seleranya tidak pernah berubah?! Kenapa harus… ani. Suho oppa tidak suka dengan gadis itu! Dia, ‘kan hanya menaruh simpati padanya,” sanggah Irene kesal.

“Bisa saja perasaan itu berkembang, Irene-ah,” jawab Xiumin. Ia tersenyum seraya merangkul Irene. “Dengan begini kau akan akrab dengan Taeyeon. Aku akan meminta Suho untuk sering-sering mengajak Taeyeon bergabung dengan kita kalau mereka benar-benar pacaran. Kurasa sebentar lagi Suho berhasil menghapus dikriminasi terhadap rakyat jelata,”

“Dia akan semakin di-bully. Kalian tahu, ‘kan fans Suho oppa itu banyak? Dan mereka pasti tidak senang. Aku ingin lihat, sejauh mana Suho oppa akan melindungi Taeyeon. Dan sejauh mana gadis itu akan bertingkah sok princess. Apa dia fikir dunia ini seperti cerita dongeng?” gerutu Irene.

“Suho akan melindungi Taeyeon, Irene-ah. Kau jangan melakukan hal-hal yang dibenci Suho, arra? Dia akan sangat membencimu nantinya,” tegur Xiumin.

“Bagaimana, Luhan-ah? Suho sangat manis kepada Taeyeon. Sikapnya persis sama seperti yang pernah dia lakukan kepada Chorong. Apa dia memang sudah mendapatkan pengganti Chorong? Kau setuju, ‘kan jika mereka pacaran suatu saat nanti?” tanya Henry sambil tersenyum manis pada Luhan.

Luhan hanya mengeluarkan smirk-nya dan menatap Henry. “Aku tidak peduli kalau mereka berhubungan suatu saat nanti, hyung. Kalau memang mereka berpacaran kedepannya, aku hanya bisa bilang sabar saja kepada gadis itu,”

“Jinjjayo?” tanya Henry langsung. “Mollaseo, tapi aku sarankan kau jangan sampai termakan sendiri omonganmu, Lu. Manusia cepat berubah. Manusia juga cepat dapat karma. Kau ingat kejadian tiga tahun lalu? Kejadian antara kau, Chorong, dan Suho? Aku hanya takut, kalau kejadian itu terulang lagi,”

“Apa maksudmu, hyung? Kau ingin bilang suatu saat nanti aku akan jatuh cinta padanya?” tanya Luhan. Ia mengernyitkan dahinya. “Tidak akan,”

Henry mengedikkan kedua bahunya. Ia tersenyum penuh arti pada Luhan. Luhan hanya diam tidak berkomentar apa-apa. Seperti ada yang memaksa rongga matanya untuk memerhatikan halaman belakang sekolah, mata rusa Luhan yang tajam teralih ke arah Suho dan Taeyeon. Suho sedang memberikan Taeyeon setangkai bunga mawar putih yang ia petik dari pekarangannya. Taeyeon tersenyum lebar dan ia memukul pelan lengan Suho menggunakan sapu.

Tidak sadarkah, bahwa saat ini kita sedang bercermin dengan saat itu?

­-Flashback-

“Oppa, ige mwoya?” tanya gadis kecil yang manis berusia sebelas tahun itu dengan mimik wajahnya yang penasaran.

Luhan mengulurkan setangkai bunga mawar putih yang ia petik dari pekarangannya ke hadapan gadis kecil itu. “Ambillah,”

“Kau mencabutnya. Bukankah itu tidak boleh?” tanyanya.

“Khusus untuk Rongie apapun boleh,” jawab Luhan dengan nada setengah bercanda setengah serius. “Suatu hari nanti aku akan memberikan sebuket penuh bunga mawar putih. Jadi, untuk kali ini aku hanya memberimu setangkai saja. Bersabarlah,”

“Gomawo,” sahut gadis kecil itu. Senyuman manis langsung menghiasi wajahnya yang imut. Luhan mengelus sayang puncak kepalanya.

Begitu ia mengelusnya, Luhan menengadahkan wajahnya ke atas, menatap kaca jendela sebuah kelas lantai tiga. Ia dapat melihat sosok wajah yang tengah menatapnya dari kelas itu. Wajah dan tatapan yang mengisyaratkan kesedihan yang mendalam. Wajah seorang Suho yang terlihat cemburu.

-Flashback end-

“Seleraku bukan selera yang rendahan seperti itu, hyung,” ujar Luhan dingin. Ia membalikkan tubuhnya dan langsung duduk di bangkunya sambil membaca-baca buku pelajarannya.

~~~

Fans-mu pasti murka sekali, Suho-ah. Mereka menyaksikannya,” ujar Taeyeon pelan sambil memutar-mutar setangkai bunga mawar putih yang ia terima dari Suho tadi.

“Mereka bukan pacarku,” jawab Suho. “Aku bukan milik siapa-siapa dan kenapa mereka harus marah? Lagipula akulah yang memberikanmu bunga ini. Kau tidak bersalah apa-apa. Jangan merasa bersalah,”

Taeyeon diam tidak menjawab. Mereka tengan jalan beriringan menuju ke lantai tiga, kelas Taeyeon berada. Jujur saja, ia merasa agak cemas. Banyak yang melihat gerak-gerik Suho yang terbilang romantis pada Taeyeon. Dan yang melihat itu semua adalah fans Suho sendiri. Dia memang tidak menganggap perlakuan Suho adalah perlakuan khusus. Tapi bagaimana dengan tanggapan orang lain? Dia pasti di judge sebagai gadis penggoda. Ujian kesabaran Taeyeon akan bertambah levelnya.

Mungkin inilah alasan kenapa Sunny tidak begitu suka kalau Taeyeon dan Suho terlalu dekat. Orang akan mengira yang berlebihan.

Dan sepertinya Suho menyadari hal itu. Ia tersenyum lembut dan menggenggam telapak tangan kanan Taeyeon. Taeyeon menatap Suho dengan pandangan bertanya-tanya.

“Tidak usah panik begitu. Aku benar-benar tidak akan membiarkan siapapun melukaimu. Apa salahnya kalau seorang teman memberikan bunga mawar? Ini juga tidak arti khusus,” ujar Suho. “Kecuali kau yang telah salah paham,”

Taeyeon membulatkan kedua bola matanya. Wajahnya bersemu merah. “Aku salah paham? Sama sekali tidak. Yang salah paham adalah fans-mu,”

Suho tertawa melihat kekesalan di wajah Taeyeon. “Arraseo, arraseo. Salah paham pun juga tidak apa-apa,”

Taeyeon hanya memutar kedua bola matanya dan kembali melanjutkan langkahnya. Suho tertawa kecil dan ia mengikuti Taeyeon di belakangnya.

“Ms. Kim,” panggil seorang wanita yang suaranya sudah dikenal Taeyeon.

Suho dan Taeyeon menolehkan kepala mereka ke asal suara. Mrs. Oh baru saja keluar dari ruangan guru dan ia melangkah mendekati Taeyeon.

“Sudah selesai dengan hukumanmu?” tanya Mrs. Oh.

Taeyeon menganggukkan kepalanya pelan.

“Baiklah, Mr. Kim memanggilmu. Sebenarnya ia memanggil kau dan Luhan. Luhan sudah ada di dalam kantornya dan aku datang untuk menjemputmu,” ujar Mrs. Oh. Matanya menatap Suho. “Terima kasih sudah membantu Ms. Kim. Tapi kurasa karena tingkahmu itu ada beberapa siswi yang mogok belajar. Kuharap kau bisa mengaturnya,”

“Ah, ye seonsaengnim,” jawab Suho. Ia sedikit membungkukkan tubuhnya.

“Kajja,” ajak Mrs. Oh pada Taeyeon. Taeyeon mengangguk permisi pada Suho dan mengucapkan terima kasih tanpa suara. Suho membalas anggukan Taeyeon dan ia melambaikan tangannya sembari tersenyum manis.

Sesampainya mereka di depan ruangan Mr. Kim, Mrs. Oh mengetuk pintu kantornya sebanyak tiga kali dan ia langsung membuka pintunya. Taeyeon dapat melihat punggung belakang tubuh Luhan yang tengah duduk di depan Mr. Kim. Mr. Kim tersenyum ramah dan Taeyeon duduk di samping Luhan. Luhan sama sekali tidak memperlihatkan ekspresi apapun begitu Taeyeon masuk. Ia bahkan terkesan tidak peduli.

“Aku memanggil kalian hanya untuk memberitahukan sesuatu mengenai program kerja kalian untuk dua minggu kedepan,” ucap Mr. Kim. Ia menatap Taeyeon dan Luhan yang sama-sama diam tidak bersuara. “Mengadakan pesta dansa untuk menyambut Ketua Murid baru, eoh? Usul kalian diterima oleh Mr. Lee. Kalian boleh melaksanakan pesta dansa itu dua minggu kedepan dan Mr. Lee sudah menerima proposalnya. Ia akan menangani bagian seksi acaranya dan aku mengurusi segala perlengkapan yang diperlukan untuk acara tersebut.

“Masalah penyanyi dan orkestranya tidak perlu khawatir. Kalian, ‘kan tahu kita punya semuanya dan pesta ini hanya butuh beberapa dekorasi saja sudah sangat mewah. Dan Mrs. Oh, akan menjadi partner kalian dalam memilih gaun serta tuxedo kalian berdua. Karena kalian yang nantinya akan menjadi pemeran utama dalam pesta dansa ini, maka diwajibkan bagi kalian untuk tampil sempurna, layaknya prince dan princess di negeri dongeng,”

“Aku mengerti,” jawab Luhan cepat.

“Eung, aku tidak ingin tampil terlalu mencolok, seonsaengnim,” kata Taeyeon pelan.

“Kau tidak akan pernah bisa mencolok sama sekali, Ms. Kim,” jawab Luhan sambil tersenyum manis. Taeyeon hanya melemparkan tatapan tajam pada Luhan.

“No no no. Kau harus tampil sempurna, Ms. Kim. Sempurna. Kalian berdua,” tolak Mr. Kim. “Sudahlah, ikuti saja apa yang nantinya akan di perintahkan Mrs. Oh,”

“Besok lusa mulai mencari gaunnya, Ms. Kim. Dan Mr. Xi, kau ikut juga. Aku juga akan sekaligus mencari tuxedo-mu,” ujar Mrs. Oh.

“Tidak bisakah aku mencari sendiri?” tanya Luhan cepat.

“Ani, gaun dan setelan tuxedo-mu akan di rancang khusus oleh designer terkenal di Seoul. Jadi, kau tidak bisa pergi sendiri-sendiri, Mr. Xi. Lagipula, ini adalah acara kalian, Ketua Murid. Bukankah Ketua Murid itu harus menjaga kekompakan? Apa kalian sudah melupakan itu?” ujar Mrs. Oh dengan wajah ketusnya.

“Baiklah, baiklah. Dan untuk masalah lain, Mrs. Oh akan segera memberitahu kalian. Oh, ya. Pengumuman untuk acara pesta dansa ini mulai disebar. Agar setiap siswanya bisa punya cukup waktu untuk mengajak para siswi ke pesta dansa. Partner dance,” sahut Mr. Kim sambil tersenyum senang. “Terkecuali kalian berdua. Kalian sudah menjadi pasangan,”

“Mwo?” tanya Taeyeon cepat. Ia ingin membantah. Namun, Mrs. Oh cepat-cepat menatap Taeyeon dengan tatapan elangnya.

“Ada yang ingin kau sanggah, Ms. Kim?”

“Ani,” jawab Taeyeon pelan.

“Kalau begitu, kalian boleh kembali ke kelas masing-masing, ne? Untuk kabar selanjutnya Mrs. Oh akan segera mengabari kalian. Annyeong,”

Mrs. Oh memberi tatapan mengusir kepada Luhan dan Taeyeon setelah Mr. Kim mengatakan itu. Tanpa basa-basi, Luhan langsung bangkit dan membalikkan tubuhnya dan jalan dengan gagahnya menuju pintu keluar kantor Kepala Sekolah. Taeyeon mengikuti di belakang Luhan.

Di luar kantor, Taeyeon sengaja berlama-lama dalam melangkahkan kakinya. Ia tidak mau jalan beriringan dengan manusi bejat yang ada di hadapannya. Luhan yang menyadari itu, langsung menolehkan kepalanya ke belakang untuk menatap Taeyeon. Taeyeon tersentak dan hanya memandang Luhan tanpa ekspresi apa-apa. Padahal batinnya mengutuk laki-laki itu dengan perkataan yang susah untuk dimaafkan.

“Wae? Kau tidak ingin menjadi partner ku dalam pesta dansa nanti? Merasa akan ada yang mengajakmu?” tanya Luhan dengan nada mencemooh.

“Kalau kau tidak ada waktu selain mengejekku, lebih baik kau mengurusi hal yang bermanfaat. Kulihat tidak ada sesuatu yang bisa kau kerjakan, yang menghasilkan manfaat selain membuat masalah di hidupku,” balas Taeyeon ketus.

Luhan tersenyum kecil. “Aku bisa menjadi lebih awet muda dengan mengganggu hidupmu,”

“Pabo,” gumam Taeyeon. Ia hendak melanjutkan kembali langkahnya menuju kelasnya.

“Chakkaman,” sergah Luhan. “Jangan bersikap sombong, Kim Taeyeon. Mwo? Apa karena sekarang kau sudah punya dua lelaki? Apa sekarang kau merasa sangat cantik? Tadi pagi kau di temani oleh Park Channie, dan sekarang kau ditemani oleh sahabatku. Kau merasa sekarang bisa memesonakan setiap lelaki yang melihatmu?”

Luhan melangkah maju mendekati Taeyeon. Walaupun masih sangat trauma dan takut dengan kejadian tadi pagi, tapi Taeyeon tidak bergeming dari tempatnya. Sebisa mungkin ia tidak menunjukkan rasa takutnya. Ia balas menatap mata rusa Luhan lekat-lekat.

“Mianhae, tapi aku bukan perempuan estafet seperti dirimu. Dasar banci,” balas Taeyeon dengan api kebencian yang memercik dari kedua matanya.

“Mwo?!” seru Luhan. Ia menarik lengan kanan Taeyeon untuk lebih mendekat ke arah Luhan. Taeyeon kaget dan ia berusaha melepaskan genggaman Luhan.

“Lepas,” gertak Taeyeon ketakutan.

“Jangan pernah mengira kau bisa menginjak-injak harga diriku, Kim Taeyeon. Karena harga dirimu jauh dibawah aku. Hanya karena aku menciummu, bukan berarti itu artinya kau dan aku sudah setara. Aku melakukan itu untuk membuat dirimu tidak lagi berlagak sok suci di hadapan orang banyak. Laki-laki estafet? Apa kau sesuci itu sehingga kau bisa mengataiku murahan, dan lain sebagainya? Apa kau tidak tahu betapa bahayanya bermain-main denganku? Jika kau memang sesuci itu, aku akan buktikan kau bisa ‘kumasuki’ dalam waktu sebulan. Dan aku yakin, wajah polosmu itu hanyalah topeng. Yang ada hanyalah wajahmu yang merintih kesakitan, meminta lebih, dan mendesah namaku berulang kali,” bisik Luhan dengan nada seduktif tepat di telinga Taeyeon. “Dan itu semua adalah dosa terindah yang pernah kau rasakan, Kim Taeyeon,”

Taeyeon membulatkan kedua bola matanya, sangat terkejut mendengar penuturan Luhan yang baginya sangatlah menyeramkan. Ia memberontak kuat ingin melepaskan cengkeraman Luhan. Luhan melepasnya, membuat Taeyeon jatuh terduduk di lantai di hadapan Luhan.

“Aww,” rintih Taeyeon kesakitan.

Luhan sedikit terkejut melihat Taeyeon terjatuh. Bukan apa-apa. Begitu Taeyeon terjatuh, rok bagian depan Taeyeon sedikit tersingkap, membuat paha Taeyeon yang putih mulus terpampang jelas di depan mata Luhan.

“YA!” seru seorang laki-laki.

Baik Taeyeon maupun Luhan menolehkan kepala mereka dan BAM!

“Oppa!” seru Taeyeon kaget. Ia langsung bangkit berdiri dan menghentikan Heechul melanjutkan kembali aksinya, yaitu memukul wajah Luhan.

Luhan tersungkur ke belakang menabrak dinding. Bibirnya sedikit mengeluarkan darah dan ia buru-buru menghapusnya. Chanyeol dan Sunny, yang muncul di belakang Heechul juga ikut menghalangi tubuh Heechul.

“Kalau kau menyakiti Taeyeon lagi, aku akan merobek-robek wajahmu itu, arra?!” seru Heechul berapi-api.

Luhan hanya tersenyum mengejek. Ia merapikan blazer sekolahnya dengan gagah dan menatap Heechul dengan tatapan mengancam.

“Tingkahmu yang sembrono seperti orang yang tak bermoral,” ujar Luhan. Lalu, ia membalikkan tubuhnya, menjauh dari Heechul dan teman-temannya.

“Oppa, apa yang kau lakukan? Bukankah kau sudah berjanji untuk menahan emosimu?” tanya Sunny kesal.

“Kau tidak lihat dia membuat Taeyeon terjatuh?!” seru Heechul.

“Neo gwaenchanna?” tanya Sunny dan Chanyeol bersamaan.

“Gwaenchannayo. Oppa, kau tidak perlu semarah itu. Aku hanya tidak sengaja terjatuh tadi. Kalau kau bertindak terlalu jauh, kau bisa dapat masalah,” tegur Taeyeon.

“Biarkan saja,” jawab Heechul langsung.

Taeyeon hanya menghela nafasnya pelan. Lalu, ia mengajak teman-temannya untuk kembali ke kelas sembari berusaha menghilangkan penuturan Luhan yang menyeramkan itu dari benaknya.

~~~

“Aiish, yang benar saja,” gerutu Taeyeon. Ia bangkit dan menendang ban sepedanya dengan kesal. “Lagi-lagi,”

Ya, ban sepedanya, baik yang depan maupun yang belakang bocor. Dan Taeyeon yakin seratus persen yang melakukan itu adalah fans Suho yang terbakar api cemburu karena ulah Suho tadi siang.

Taeyeon duduk di trotoar dan sibuk berfikir. Ia bingung bagaimana caranya pulang. Masalahnya, ia harus menyerahkan sepedanya ini untuk dibawa Ji Woong ke club. Ji Woong memang biasanya selalu naik sepeda saat ia pergi bekerja. Dan hari ini, Taeyeon sangat menyesal membawa sepedanya. Ia tidak berfikiran sepedanya akan menjadi korban hari ini.

Beep Beep Beep Beep

Bunyi ponsel Taeyeon yang menandakan ada panggilan masuk. Ia mengecek ponselnya dan nama yang tertera di ponselnya adalah ‘Ji Woong oppa’.

“Yeoboseo, oppa,” rengek Taeyeon langsung.

“Kenapa belum pulang? Ini sudah hampir pukul tujuh petang,” tanya Ji Woong dengan nada cemas.

“Ban sepedaku bocor. Sekolah sudah sepi,” jawab Taeyeon.

“Apakah Ketua Murid harus pulang belakangan?”

“Eoh. Otteohke? Kau tidak akan bisa datang ke club tepat waktu, oppa. Bengkel sepeda terdekat berjarak sepuluh kilometer dari sini,”

“Kalau begitu, aku akan menjemputmu. Tunggulah disana, arraseo? Kebetulan, sekarang club sudah menyediakan mobil untuk menjemput karyawannya. Aku akan menjemputmu di sekolah. Tunggu, ya?”

TUT TUT TUT

“Oppa! Apa maksudmu aku juga akan ikut ke club?! A… Aigoo,”

~~~

“Bagaimana kalau banyak orang yang mengenal seragam Whimoon Senior High School, oppa? Dan pasti banyak yang mengenalnya. Ini akan menjadi pemberitaan heboh. Kalau aku bukan Ketua Murid, aku tidak masalah ikut ke club setiap malam,” bisik Taeyeon pelan di telinga Ji Woong saat mereka turun dari mobil.

“Masalah itu sudah kufikirkan, Yeonnie-ah. Pakai saja jaketku. Disini suasananya remang-remang, tidak akan banyak yang mengenal wajahmu,” jawab Ji Woong sembari menyampirkan jaketnya yang besar ke tubuh mungil Taeyeon.

Taeyeon merapatkan jaketnya ke tubuhnya. Cuacanya memang sangat dingin.

Ji Woong menarik pergelangan tangan Taeyeon secara lembut untuk masuk ke dalam club terkenal itu. Begitu ia masuk, jujur saja, club  itu memang berbeda dari club lainnya. Club itu punya kesan tersendiri. Lebih elegan. Orang-orangnya juga dari kalangan atas semua. Dan dari bau parfume-nya, Taeyeon yakin parfume itu bukanlah dibeli dari Korea.

“Kau mau menungguku di ruang ganti?” tanya Ji Woong. “Tapi kalau kau lelah, kau bisa sesekali keluar atau ke meja bartender,”

“Aku menunggu di ruang ganti saja, oppa. Kalau aku mengantuk, aku boleh pulang, ‘kan?” tanya Taeyeon.

“Kau bisa tidur di ruang ganti, Yeonnie. Aku tidak bisa membiarkan kau pulang sendirian malam-malam begini,” tolak Ji Woong halus.

Taeyeon hanya menganggukkan kepalanya, mengerti. “Baiklah, aku akan ke ruang gantinya, oppa,”

Sebelum menjadi Ketua Murid, Taeyeon pernah sesekali mengunjungi club ini, sekedar untuk menemani sang kakak. Jadi dia tahu di mana letak ruang ganti, toilet, dan kamar-kamar ‘khusus pelayanan dewasa’.

Di lain ruangan tapi di tempat yang sama, Luhan sedang menghabiskan malamnya bersama keempat temannya di ruangan mereka yang biasa. Irene tidak bisa bergabung karena ada urusan mendadak di rumahnya. Mereka berempat bermain kartu sedangkan Suho memilih membaca sebuah buku.

“Sebaiknya aku bermain taruhan di lantai dasar saja. Taruhannya lumayan,” ujar Henry. Ia melempar kartunya di atas meja dan, sembari menepuk pundak Luhan dan Tao, ia pergi keluar ruangan.

“Kalau begitu aku ke bawah juga,” sambar Xiumin. Ia mengikuti Henry.

“Kau mau kemana?” tanya Tao pada Luhan.

“Sepertinya bersenang-senang saja malam ini. Aku ingin mengecek apakah Madam punya perempuan baru atau tidak,” jawab Luhan dengan nada malas.

“Apa kau tidak bisa berhenti, Lu?” tanya Suho, ia menghentikan kegiatannya sesaat.

“Aku sudah lama tidak melakukannya,” kata Luhan. Ia bangkit dari kursi dan langsung keluar dari ruangan pribadi mereka.

Suho hanya menghela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya.

Setibanya ia di dalam ruang ganti para ‘perempuan khusus’, yang waktu itu sedang kosong, Luhan langsung menghampiri Madam strawberry, wanita yang berumur 30-an yang bertugas mengirim para perempuan itu ke dalam kamar kliennya. Madam itu sedang berhias diri di depan cerminnya sebelum ia memunculkan dirinya di khalayak umum.

“Apa perempuanmu sekarang kosong, Ma’am?” tanya Luhan dengan senyuman manisnya.

“Eoh, aigoo Luhan-ah, uri Luhan,” ujar Madam sembari tertawa kecil. “Tunggu sebentar, aku lihat ke luar dulu. Aku akan menarik beberapa orang perempuan yang sedang kosong untuk kau pilih,”

Luhan mengangguk dan begitu Madam keluar dari ruang ganti, Luhan duduk menunggunya di sebuah sofa empuk di sudut ruangan itu. Sedang asyik-asyiknya menunggu, ia melihat seorang perempuan bertubuh kecil mungil dengan tinggi yang sedang-sedang saja masuk ke dalam ruang ganti.

Betapa terkejutnya Luhan begitu ia tahu siapa perempuan itu. Meskipun tubuhnya di tutupi oleh jaket besar dan wajahnya ia tutupi sebagian dengan rambutnya yang ia gerai, tapi Luhan hafal sekali wajah itu. Setiap hari ia selalu melihat wajah serta tubuh itu di sekolah. Dan hanya satu oranglah yang bertubuh pendek, kecil, mungil seperti itu di sekolahnya.

Kim Taeyeon.

Luhan langsung memakai kacamatanya cepat-cepat dan merapatkan tubuhnya dengan jas mewahnya. Tak lupa ia memakai topi kupluknya agar wajahnya tidak ditandai oleh gadis itu. Untung saja ruangannya remang-remang, jadi Taeyeon pasti tidak akan begitu memerhatikan. Ia penasaran sekali kenapa gadis itu bisa ada disini. Sangat penasaran. Apa dia termasuk perempuannya Madam? Tidak mungkin. Luhan mengenal mereka semua dan tidak ada Kim Taeyeon di antara mereka.

Apa mungkin Kim Taeyeon adalah perempuan baru? Tidak mungkin juga. Madam akan memberitahunya. Dan lagipula, tubuh seperti Kim Taeyeon itu tidak masuk kriterianya Madam.

Jadi buat apa dia datang ke sini?

Ia kembali teringat dengan kejadian yang tidak sengaja ia lihat saat Taeyeon jatuh terduduk. Pahanya yang mulus dan putih itu sudah cukup membuatnya penasaran dengan keseluruhannya. Ada yang berbeda dari tubuh Taeyeon. Tubuhnya seakan-akan menggoda Luhan untuk dia lihat dan dia sentuh lebih dalam. Dari luar tubuh Taeyeon sama sekali tidak memberikan daya tarik apa-apa. Tapi kenapa saat melihat pahanya yang hanya beberapa detik saja sudah mengubah pemikirannya? Apa dia terlalu memikirkan perkataan Henry? Atau karena dia sudah menyentuh bibir hangat gadis itu, dia menjadi penasaran dengan dalamnya? Apakah sehangat dan senyaman bibirnya?

Luhan menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia langsung bangkit berdiri begitu Taeyeon juga ikut duduk di sofa itu sambil membaca sebuah majalah. Kakinya ia silangkan. Mau tak mau Luhan sedikit melirik ke arah kaki gadis itu.

Luhan menelan ludahnya.

Bodoh. Ada apa dengannya? Kenapa rasa penasaran itu begitu menghantuinya? Bahkan kaki Taeyeon yang ditutupi oleh stocking-nya yang panjang saja Luhan sampai menelan ludahnya. Ini tidak bisa dia biarkan.

Luhan hendak keluar dari ruang ganti itu sebelum fikirannya melayang kemana-mana. Andai saja dia tidak berfikir macam-macam, pasti dia sudah membuat gadis itu ketakutan karena ketahuan berada di sebuah club. Namun, langkahnya terhenti. Mendadak dia mendapatkan sebuah ide cemerlang. Luhan tersenyum keji dan ia keluar dari ruang ganti.

“Lu, tidak ada yang kosong. Maukah kau menunggu sebentar?” tanya Madam, tepat saat Luhan sudah keluar.

“Di dalam ada seorang gadis, Ma’am. Kenapa kau tidak menawarkan dia saja?” Luhan balik tanya. Ia melepas topi dan kacamatanya lalu menyimpannya.

“Dia bukan tipemu, Lu. Lagipula, dia bukan pekerja disini. Dia hanya menunggu kakaknya,”

“Kalau begitu minta tolong saja padanya antarkan wine di kamar 105. Kalau hanya mengantarkan, ‘kan tidak apa-apa. Katakan padanya, aku tidak akan selera dengan tubuhnya,” hasut Luhan.

“Arraseo, Tuan Xi, arraseo. Dan bagaimana dengan gadisnya?”

“Itu tidak perlu,”

~~~

“Aku bukan pelayan, Madam,” tolak Taeyeon lembut saat Madam strawberry menyodorkan nampan berisi sebotol wine beserta gelasnya.

“Kau itu, ‘kan adiknya Ji Woong, yang sudah kuanggap seperti anakku sendiri. Jadi, bantu-bantu sedikit tidak apa-apa, ‘kan? Klienku ini tidak akan selera dengan tubuhmu yang mungil. Kau hanya perlu mengantarnya saja, arra?” bujuk Madam dengan wajah memelasnya.

Taeyeon diam sejenak. Yah, membantu sekedarnya juga bukan masalah besar. Taeyeon akhirnya menganggukkan kepalanya dan ia menerima nampan itu dan membawanya ke kamar nomor 105, di lantai dua.

Taeyeon membawa nampan itu dengan kepala tertunduk. Ia berusaha menghindari tubuh-tubuh besar yang sedang sibuk mengobrol di dalam club itu. Hingga akhirnya, ia sampai di depan kamar 105.

“Annyeonghaseyo, ahjussi,” sapa Taeyeon dengan suara keras. Ia memencet bel kamar itu tiga kali.

Tidak berapa lama, pintu kamar terbuka. Taeyeon dapat melihat kamar itu gelap, hanya berpenerangan sebuah lampu kecil yang berdiri di atas meja rias. Taeyeon tidak melihat laki-laki itu. Dan ia juga tidak berani masuk.

“Masuklah, letakkan saja minumannya di atas meja rias,” sahut suara seorang laki-laki yang mengejutkan Taeyeon.

Taeyeon mengangguk. Dengan perlahan, ia masuk ke dalam kamar itu dan meletakkan nampannya di atas meja rias.

BLAM!

Pintu kamar tertutup di belakang Taeyeon dan ia dapat mendengar suara pintu terkunci. Taeyeon tersentak kaget. Lampu kamar menyala terang benderang, membuat mata Taeyeon silau. Ia membalikkan tubuhnya dan berusaha melihat dengan jelas sosok laki-laki berjas abu-abu tengah menyandarkan punggungnya di dinding, menatap Taeyeon dengan senyuman ‘evil’-nya.

Taeyeon mengerjap-ngerjapkan kedua matanya dan betapa terkejutnya dia, sosok laki-laki itu adalah orang yang paling dia kenal, orang yang paling dia benci. Tubuh Taeyeon mendadak membeku. Ia ketakutan. Apalagi dilihatnya laki-laki itu tengah menatapnya dengan tatapan ‘lapar’.

“Annyeong, my partner,”

-To Be Continued-

 

Hiaahhh akhirnya bisa updateeeee, mian my readersssss kalau aku update-nya agak lama. Soalnya lagi banyak kerjaan siihh #plakk

Nah gimana? Makin aneh? Kekekeek aku juga ngga tau, deh. Tapi aku harap ma readerssku bisa bantu aku dengan kasih sarannya^^

Di next chap-nya bakalan ada pass ngga yaa? Hem #mikirkeras kurang tau juga, tapi kalau nantinya ada, dengan senang hati aku bagi kookk^^ kalau adaaa~

Hehehe segitu aje yeee BYE muah

Advertisements

184 comments on “My Princess, Kim Taeyeon (Chapter 4)

  1. Aigoo bagaimana bisa tbc nya ada disitu -,-
    Ohmagaaaah Chanyeollieeediam diam kau terlalu menghanyutkaan .
    Aigoo Henry yaaa kau begitu nakal mengangu Luhan hahaha
    Aigoooo last scene nyaaaaa
    Next ditunggu^^
    Fighting !

  2. kasian taeyeon harus menjalani hidup yg berat di sekolah nya hanya karna status sosial ny. tpi taeyeon masih punya sahabat2 yg menghibyr dia di saat susah,walaupun taeyeon sedikit tertutup ama sahabat nya/ nggak mw nyusahin sahabatnya,.
    suka ama keseluruhan cast nya but untuk chorong? aq kurang suka ama ni orang, nggak tau kenapa, moga aja peran nya nggak terlalu banyak di f ni.
    ojh ya thor, next chapter mw protect ya, jangan lah yaaaa, soal nya nnti susah thor, untuk dapetin pw ny gimana thor? susah ntar thor klu di protect, nggak usah aja lah yaaaa, jeballl
    next chap update yg cepet lagi ya thor,,, hehehehe. gomawo…

  3. ceritanya makin bagus aja thor.. next nya aku minta PW nya ya thor?? gak sabar pengen tau apa yang akan terjadi dengan lutae nanti.. kkekeke, suho nolongin nggak ya nanti?? next thor, buruan!! 🙂

  4. OMO OMO OMO
    LUGE !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    APA YG KAU LAKUKAN ???????
    /teriak/

    nakal banget sama Taeng eonni
    hikseuu
    aduin nih ke SOOMA OBBA/?
    kkkkkkkkkkkkkkkkkk

    terakhirnya bikin tanda tanya bgt
    Luge gabakal ngapa ngapain Taeng eonni kan ?????

    SUHO OBBA !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!11
    BANTULAH TAENG EONNI

    ditunggu yah kelanjutannya
    ceritanya makin seru bgt
    SUMPAHHHHHH !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    DAEBAK DAH !!!!!!!!!!!!!!!!!!!1

    JJANG ~

  5. TBC ini memang ganggu T_T
    Aku makin penasaran dan suka sama cerita ini Thor.. ya ampunn.

    Please cepet lanjutin ya Author, aku uda ga sabar ngeliat kelanjutannya.
    Dan banyakin LuTae momentnya ya 😄
    Fighting..^^

  6. Huwaaa seru bgt,luhan pervert abis jan nodai taeng han ntar gak seru dong/? Authot lanjut ne udah gak sabar wkwk

  7. Ahhhh . . . 😱
    Langsung komen di chapter ini aja ya author~ssi #bilang aja males 😑
    Sumpah ini ff kerweennn 👍
    Apa lagi kalo updatenya makin cepet nambah keren deh ffnya 😀 #maunya
    Ditunggu deh next chapternya . . .
    FIGHTING !!! o(^^o) (o^^)o

  8. Thor aku baca ff ini samapi berulang kali..jebal chpter limanya dong..aku udah nunggu lama banget hehehe(ish maksa banget sih gw kekekeke)….tolong dipost yg cepet ya thor

  9. Awalnya gak mengikuti ff ini tp setelah diikuti lgsg sukaaa sama ceritanya..
    taeng cewek yg tegar dan kuat yah :’)
    dan knp luhan selalu berotak mesum aigooo -.- semoga dia cpt sadar haha
    dan maaf thor baru bisa ngomen di chapter ini *bow*
    keep writing authornim ^^

  10. aku melting sendiri waktu baca part suh-taeyeon sama chanyeol-taeyeon.
    so sweeeet banget kak.
    ahh trus itu yang bagian keluarga, emang ada apa sih anatara 2 keluarga itu?
    kluarganya taeyeon sama luhan maksudya?
    ah.. kak bina.. gimana nih?
    komenku kok masih nggak bisa dibaca? TT

  11. Si author hebat(?) Amat ya.. bikin readers nya penasaran wkwk.. gilaa luhan disitu tengil amat deh ya ampun.. ..-. Jadi sekarang dia lagi dapat karma gtu thor(?) Hmm udh lahh baca aja chap selanjut nya 😉 btw. Chap ini keren thor wkwkw .-.

  12. Astagaaaa bagus banget thor!!
    Gak sabar ngelanjutin baca! Sama sekali gak ada yg mengecewakan.
    Cuma pas luhan bilang kalo tae itu menarik, aku agak sangsi gimana gitu. Secara tae kan sma sekali gak ada sexy2nya 😂
    Oke, keep writing thor!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s