Bring Me to Life – 1 (5 Of 12 Season)

4Ib9UBmJUr

 

Tittle: Bring Me to Life-1 (05 of 12 season)

Author : Fany_aurel

Main Cast : Kim Taeyeon, Kim Jong Dae

Rating : PG

Genre : Romance, Hurt, sad

Leght : Two Shoot

Hello, aku balik dengan 12 season yang udah berabad-abad ngak diupdate. Ngak ada ide sih, dan finally akhirnya aku dapet juga ide dan asal tau aja bikin ff ini cuman ngebut-ngebutan, makanya aku bikin jadi 2 chapter buat season ke 5 ini. Hopely u will like it ya, dan maaf kalau jalan ceritanya agak udah umum tapi semua jalan cerita berasal dari otak kok. Dan gitu aja de, Happy reading 🙂

Preview : Season 1, Season 2, Season 3, Season 4

Disaat kau pikir perpisahan adalah akhirnya
Disaat kau berpikir ia tak akan kembali
Disaat kau bertekat untuk melupakannya, merelakannya, dan melanjutkan hidup mu
Tapi akhirnya ia kembali hadir dan mengoyak kembali sakit mu
Membuat mu kembali ragu atas perasaanmu.

Season 05

 

Seoul, 14 January 2013

 

“Kita berhenti sampai disini”

 

Mata Taeyeon membulat mendengar satu kata yang tiba-tiba terdengar dari seribu diam yang sedari tadi chen tampakkan padanya. Bibirnya kelu,tak mengerti apa arti kata lelaki ini, “Apa kau bilang?”

 

Lelaki itu tak mau menatap taeyeon, ia memalingkan wajahnya dari wanita itu, “Mianhe..”

 

“M-maaf? maksudmu berhenti? Maksud mu kita putus?” Tanya taeyeon menggebu, ia tak habis pikir.

 

Sempat membisu,lelaki itu masih saja menujukan matanya kearah lain. Ia seakan tak mampu menatap mata taeyeon yang mulai berkaca-kaca. Ia tak sanggup untuk melihat wanita itu menangis.

“Kim jong dae, tell me!” Taeyeon memukul dada chen keras, marah akan bisu lelaki itu.

 

“KITA PUTUS!” Lelaki itu berteriak dan sekarang mengalihkan mata sipitnya pada taeyeon. Wanita itu diam melihat mata chen penuh dengan kerterkejutan yang luar biasa. Otak taeyeon seakan tak bisa mencerna ucapan lelaki itu, seakan menolak teriakan chen padanya.

 

“Wae?” Tatih taeyeon pelan, mata mereka saling tak berkedip, saling adu untuk tidak menangis dan mengeluarkan airmata yang sudah berkumpul dimata mereka.

 

“Mianhe.” lelaki itu berkata kecil lalu menghapus sebulir airmata yang akhirnya tak dapat taeyeon tahan dengan ibu jari kanannya.

 

“Kau bohong kan? ya, jangan bercanda, ini sangat tidak lucu!” Ucap taeyeon menggeleng sambil tertawa bodoh.

 

Hati chen semakin teriris melihat tubuh taeyeon yang semakin gemetar, Ia sangat membenci dirinya sendiri yang telah membuat taeyeon, wanita yang sangat ia cintai terluka seperti ini

 

“A-ani, aku serius yeon” ucap chen menutup matanya, membiarkan airmatanya lolos mengalir dipipinya.

 

“Kita tak bisa melanjutkan hubungan kita, maaf” lagi-lagi hanya itu yang bisa chen katakan, maaf, maaf dan maaf.

 

Taeyeon tak habis pikir saat melihat lelaki itu memang serius dengan ucapannya. Semuanya terasa benar selama ini, tak ada yang salah dengan hubungan yang hampir satu tahun mereka bangun. Dan tiba-tiba lelaki itu meminta untuk memutuskan hubungan mereka tanpa sebab?

 

“Apa salah yang telah ku perbuat?” Tanya taeyeon dengan suara getirnya. Bila ia memiliki salah, ia tak malu untuk meminta maaf lebih dulu.

 

Chen hanya menggeleng dan menghindari mata taeyeon.

 

“Ya!lihat aku jongdae!” Lagi taeyeon berteriak kencang, tak peduli bila ada orang yang melihat, tak peduli dengan semua hal disekelilingnya. Ia hanya membutuhkan kepastian dari lelaki didepannya.

 

“Waeyo?” Tegas taeyeon saat mata chen yang memerah akhirnya kembali menatapnya.

 

“Apa yang salah dengan ku?apa aku terlalu kekanakan?egois?atau..”

 

“Kau tak sedikitpun salah taeyeon.”

 

“LALU KENAPA KAU INGIN KITA BERHENTI!” Teriak taeyeon lagi. Marahnya membesar, dan emosinya seakan menyebar keseluruh tubuh.

 

Chen tak tahan lagi, ia menarik taeyeon kedalam pelukannya. Dan taeyeon tak menolaknya, walau ia sama sekali tak mau membalas pelukan lelaki itu. Taeyeon menangis tak henti dipelukan chen. Lelaki itu melingkarkan kedua tangannya memeluk erat tubuh taeyeon, ia akan merindukan wanita ini. Sangat merindukannya.

 

“Mianhe”

 

“Kau brengsek..” Kesal taeyeon dalam tangisnya.

 

“Kau pembohong..”

 

“Bukankah dulu kau pernah berjanji tak akan meninggalkanku?”

 

Chen memejamkan matanya, ia mencium kepala taeyeon dalam. “Maaf,aku harus meingkari janjiku”

 

Taeyeon melepaskan pelukan chen dengan paksa saat mendengar jawaban lelaki itu.

 

Plak!!

 

Ia tak segan-segan menampar wajah chen kuat, membuat chen semakin merutuki dirinya sendiri.

 

“Maaf,maaf dan maaf!apa kata itu saja yang bisa kau ucapkan? aku muak dengan kata maaf mu!”

 

“Aku harus pergi dari seoul!” Sekarang chen sudah tak tahan untuk diam. Suaranya tak kalah meninggi seperti suara taeyeon. Wanita itu menghentikan umpatannya yang membabi buta. Ia sempat tertegun dengan ucapan chen.

 

“Kemana?”

 

“Aku tak bisa memberitahumu” sadar chen bahwa ia sudah berbicara terlalu balasan

 

“Ck, Alasan..” Pekik taeyeon menggeleng. Ia pun mengusap kedua matanya yang sudah terlalu lelah untuk menangis.

 

“Aku mohon kim jong dae, jangan pernah sekali-kali membohongi ku..” Taeyeon mengalun kalimatnya dan menatap chen yang mengerutkan alisnya.

 

“Sebenarnya siapa wanita yang telah berhasil menggantikan ku?”

 

Chen mengepalkan tangannya mendengar ucapan taeyeon yang tak pernah diduganya.

 

“Soojin?luna?sahabatmu chorong?atau..”

 

“BERHENTI TAEYEON!” Bentak chen keras.

 

“BERHENTI? Ah, apa diantara tiga wanita itu kah orangnya? Baiklah,coba ku tebak, apa orang itu…” Ejek taeyeon sembari berlagak sedang berpikir, menyindir lelaki itu mati-matian sebelum chen memotong ucapannya.

 

 

“SIAPAPUN WANITA ITU, SEKARANG KAU TAK MEMILIKI HAK UNTUK MENGURUSNYA”

 

Damn, Chen menghentikan pandangannya saat menyadari perkataan bodohnya. Ia menatap mata marah taeyeon, melihat wanita itu juga menjeda senyumnya. Bukan itu yang ia inginkan, bukan ucapaan itu yang ingin ia sampaikan.

 

Taeyeon membuka mulutnya tak menyangka. Kekecewaannya sudah sampai puncak sekarang. Teriakan chen berhasil menghentikan semua agrumen didalam pikiran taeyeon,Sekarang ia tau alasan lelaki ini.

 

“O-oh..” Taeyeon menggerjap matanya dan sedikit menunduk saat menghapus airmatanya. Ini bukan mimpi baginya, ini kenyataan yang harus ia hadapi. Matanya pun tak luput dari cincin yang melingkar dijari manisnya, ia pun melepas cincin perak berbatu shappire itu dengan kekesalan amat dalam dihatinya.

 

“K-kalau begitu maaf. Maaf telah mencampuri urusanmu” Ia meraih tangan chen dan meletakkan cincin itu ditelapak tangan chen.

 

Matanya kembali menatap chen dengan penuh sedih, ia mencintai chen, sangat mencintai lelaki itu. Dan untuk melepaskannya tentunya akan sulit baginya.

 

“Bahagiakan dia… Dan,” taeyeon sempat terdiam lalu tertawa kecil, sangat lucu menginggat bahwa tadi sore ia pikir malam ini adalah malam mereka berdua karena beberapa minggu ini mereka sama-sama sibuk. Tapi ternyata? Malam ini adalah akhirnya

 

“Apa kau akan memberikan cincin ini padanya?” Tanya taeyeon asal, ia seakan dibohongi selama ini oleh chen.

 

“Aku mencintaimu..” Ucap chen pelan dan menghentikan taeyeon yang menyalahkan dirinya sendiri kenapa dulu ia mau menerima tawaran kencan chen, kenapa ia bisa dengan bodoh jatuh cinta pada lelaki seperti chen?

 

“Geumanhae” balas taeyeon lirih. Ia tak tahan lagi saat hatinya seakan dipermainkan oleh chen. Diombang ambingkan kesana dan kemari.

 

“Cukup, aku tak butuh kata-katamu lagi.”

 

Taeyeon mencoba tegar. Ia mengambil nafasnya dalam, sulit rasanya bernafas saat tubuhmu seakan melarang untuk mengambil sedikitpun oksigen. Ia sempat mengedarkan matanya menatap entah kemana, mengendalikan tangisnya. Dan chen, masih saja diam dan meneliti kekecewaan dimata wanita itu.

 

“Sebaiknya aku pulang, ini sudah terlalu malam, appa pasti sudah cemas”

 

Maafkan aku

 

“Jongdae-shi” taeyeon menghentikan untaian maaf yang terus chen ucapkan dalam hatinya. Miris rasanya saat taeyeon terlihat canggung memanggilkannya dengan sebutan seformal itu.

 

“Aku pulang, kamsahamnida. Annyeonghi kyuseyo” taeyeon menundukan kepalanya dalam pada chen. Lalu berlalu pelan dari hadapan chen. Meninggalkan lelaki itu yang masih terdiam paku ditempatnya.

 

Taeyeon hampir sampai diperempatan jalan, dan sampai saat itu juga chen tak mengejarnya, tidak seperti kebiasaan lelaki itu yang selalu akan mengejarnya saat ia marah. Taeyeon tersenyum lirih, lelaki itu serius, lelaki itu tak mencintainya lagi.

 

“Kau tak mengejarku”

*****

14 januari 2013, itulah hari terakhir aku melihatnya. Melihat wajah tampannya, mendengar suara indahnya, dan merasakan sentuhannya. Setelah ia mengatakan bahwa hubungan kami harus berakhir, dengan bodoh aku seakan terus percaya ia akan kembali. Kembali mengetuk pintu rumahku, kembali menelponku, dan kembali kepadaku. Aku terus berharap sampai akhirnya aku tau, ia tak akan pernah kembali. Akhirnya aku lelah untuk menunggunya yang seakan menghilang tanpa jejak. Chen sudah pindah dari rumahnya diminggu kedua setelah kami berpisah. Nomer telponnya tak lagi aktif. Dan semakin lama aku menunggunya, tanpa aku sadari luka dihatiku semakin membesar dan akhirnya menggerogotinya habis-habisan. Aku tak mengenal apa lagi itu namanya cinta dan apa rasanya mencintai seseorang, bahkan rasanya mencintai nya..

Apa aku sudah mulai bisa melupakannya? Satu tahun tanpa nya, aku cukup berhasil bukan?

“Ya, ternyata kau disini..” Suara sunny berhasil menganggetkan ku yang sedari tadi menatap sebuah almanak yang tertempel didinding tempat ku bekerja.

“Taeng, time for money now” dengan bahasa inggris yang seadanya, sunny berhasil membuatku tertawa kecil, mengerti dengan kosakata aneh yang selalu kami gunakan.

“Sana temui bos” ia mendorong tubuhku untuk pergi keruangan bos.

“aissh..” aku hanya meringgis saat iya mendorong-dorong tubuhku. Aku menggeleng dan langsung melangkahkan kaki ku masuk kedalam dapur, dan menuju sebuah ruangan diujung dapur besar itu.

Tok-tok-tok

“Masuklah”

Aku menarik nafas dalam, lalu memasuki ruangan yang tertata sangat rapi itu. Seorang lelaki menatap ku sembari tersenyum. Senyuman yang bisa menyihir siapapun. Suho, pembisnis muda yang sangat terkenal seantero korea. Pemilik beberapa usaha yang bisa dikatakan hampir semuanya mempunyai nama besar disini. Salah satunya tempat dimana aku bekerja sekarang. Sebuah rumah makan bergaya italia penuh dengan tamu setiap hari. Sangat melelahkan. Dengan sungkan akupun mendekati meja kerjanya dan duduk disalah satu bangku berwarna hitam itu.

“Kau dari mana saja?” Tanyanya sembari menyodorkan amplok coklat yang tadi terletak diatas meja tepat disamping tangannya, kearah depanku. Akupun mengambil amplop itu dan mengangguk sedikit.

“Kamsahamnida”

“Kau yang terakhir hari ini” ucapnya dengan senyum.

Aku ikut tersenyum, entah harus berkata apa karena aku tak bisa berpikir lagi saat lelaki yang sebenarnya seumuran dengan ku ini memperlihatkan senyuman mautnya.

“Mianhe.” Bodoh taeyeon!kenapa aku harus mengatakan maaf disaat tidak ada kesalahan yang harus ku pertanggung jawabkan.

Yang benar saja,suho tertawa sekarang. Aku sangat memalukan. “Tak usah secanggung itu dengan ku, memangnya kau sudah berapa lama bekerja sama dengan ku?”

Aku menyunggingkan senyumku. “5 bulan pak”

“Dan harus berapa kali kubilang padamu tak usah memanggilku bapak, apa aku terlihat seperti lelaki tua yang penuh dengan uban eoh?”

Aku menelan ludah ku mendengar celotehan suho. “Baiklah,mianhe” tawa ku kecil. Maaf lagi?oh god.

“Kau, pulang sendiri?” Tanya suho lagi. Aku menarik alisku keatas. Apa maksud lelaki ini.

“Nde”

“Hmm Baiklah,kalau begitu tunggu lah diluar, aku akan membersihkan pekerjaanku. “

Aku lagi-lagi hanya mengangguk. Tak paham sebenarnya dengan perintah lelaki itu, tetapi tetap menuruti perintah suho. Apa yang harus ku tunggu diluar sana?Aneh memang

“Taeyeon..” Aku yang sudah setengah membuka pintu kembali terhenti dan membalikkan badanku. Menunggu kalimatnya.

“Jangan coba-coba pergi sebelum aku menemuimu”

Angguk ku pun tercipta dan segera menuruti perintah itu.

.

.

.

“Ayo pulang!”

“Apa pak?ah,maksud saya suho-shi?” Kagetku bukan main. Pulang bersama?tak mungkin,aku pasti salah dengar.

“Aku sangat gemas denganmu yang selalu berbicara seformal itu pada ku” balasnya membuatku sedikit canggung.

“Kajja, ini sudah sangat larut malam” ia seketika menarik pergelangan tangan ku yang ku taruh sangat lemas diatas pahaku dan memaksa ku untuk berdiri. Untung saja hanya aku tersisa direstoran ini, semua pegawai sudah pulang. Terkecuali pak satpam yang memang tak pernah acuh pada apapun.

“Suho-shi, tunggu” aku yang sempat terpana dengan eratan tangan suho dipergelangan tangan ku akhirnya berhasil menghentikan langkahnya.

“Wae?” Ia berbalik dan menatapku dengan alis yang mengerucut.

“Ngng, aku sebaiknya pulang dengan taksi” tolakku dengan selembut dan semanis mungkin. Sangat tidak pantas rasanya bila aku harus pulang bersamanya.

Lelaki itu melepaskan tangan ku dan terkekeh, sedikit mengerutkan alisnya “kau tak mau ku antar?”

“Bukan seperti itu” elak ku benar-bener binggung dengan kata yang harus ku ucapkan.serba salah.

“Lalu apa?”

“Bukannya kau tadi hanya ingin bicara pada ku diluar?” Tanya ku binggung. Aku pikir ia meminta ku menunggunya untuk membicarakan sesuatu hal pekerjaan. Ternyata

Lelaki itu menggeleng, aku juga bisa membaca sebuah heran dari wajahnya. “Bicara? Sekarang pun aku sedang bicara padamu. Come on, ini sudah terlalu malam untukmu pulang sendirian taeyeon-shi”

“Tapi ..”

“Tak usah tapi-tapian. Kau ini ngotot sekali. Anggap saja ini perintah dari bos, arrashi?”

Suara tegasnya tapi tetap terdengar lembut membuat ku ciut untuk mengeluarkan tolakan lagi. Baiklah untuk kali ini aku mengalah. Entah, aku yang terlalu percaya diri atau memang semua adalah kebenaran. Suho, bos ku ini terlihat sering memperhatikan ku saat bekerja. Selalu suka berbicara banyak padaku tetapi pada pekerja lain?ia bagaikan lelaki bisu. Dan dengan semua sikap khusus suho padaku,membuatku kadang menyangka bahwa lelaki itu menyukai ku.

.

“Berhenti disana” aku memintanya untuk menghentikan mobilnya disebuah halte bus yang tak jauh dari rumahku.

“Kau yakin?” Tatapnya padaku.

Aku mengagguk, “rumahku sudah tak begitu jauh dari sini.”

“Kenapa tidak sekalian kerumah mu?” Walau banyak tanya yang lelaki itu utarakan, ia tetap menghentikan mobilnya tepat ditempat yang kutujukan. Aku tersenyum mendengar itikat baiknya.

“Gomawo, tapi kau tak usah repot-repot. Dan lagian ada sesuatu yang harus kubeli” ucap ku meyakinkan suho untuk tidak bersikeras mengantarku.

“Baiklah, tapi kau harus hati-hati” katanya lagi. Aku mengangguk, sungguh bos yang luar biasa perhatian.

“Terima kasih sekali lagi suho-shi” senyum ku menundukkan kepala sedikit dihadapannya dan keluar dari mobil itu.

“Taeyeon-shi, tunggu.” Nafas lega ku kembali menyesak, sudah cukup hampir 15 menit aku terperangkap dengan suho didalam mobil dengan kegugupan yang sangat dashyat. ia mencegatku saat aku hampir sedikit lagi membuka pintu mobilnya.

“Ne?”

“Besok..”

Lelaki itu sempat diam menatapku kosong. Aku menaikan alisku binggung.

“Besok..?”

“Besok minggu bukan?” ucapnya terbata.

Aku berdesis kecil mendengar untain kata suho yang tak jelas. Ya siapa saja tau kalau besok minggu, apa lagi bagi aku yang selalu menambakan indahnya libur bekerja dihari minggu.

“Ya besok minggu, memangnya kenapa? Oh jangan bilang kau mau memintaku untuk bekerja lembur?” Ingatku dengan pekerjaan tambahan yang menjadi ketakutan utama bagi para pekerja dimuka bumi ini. Aku sedikit panik dan mengharapkan suho tidak memberikan ku kerja lembur dihari libur, tidak bisa.

Ia berseringai melihat ekspresi panikku. “Kau mau?”

“Shireo” suara ku sampai ditempat yang tertinggi,mati-matian menolak. Dan tanpa sadar secara tak langsung telah menolak pekerjaan dari bosnya sendiri. Sangat pintar.

“M-maksud ku, bila harus memilih antara iya atau tidak aku benar-benar minta maaf karena harus mengatakan tidak, ya kau tau bukan beberapa hari ini rumah makan mu sangat ramai dan rasanya huh.. aku sangat lelah. Tetapi semua terserahmu saja, kau bosku” Cepat-cepat aku mencoba memberi penjelasan pada suho, tak ingin mendapatkan masalah.

Suho kembali terkekeh mendengar kalimat ku yang selalu bersambung tak ada jeda sama sekali.

“Baiklah aku tak akan memberimu lembur” tukasnya cepat

Jawaban lelaki itu membuatku menghela nafasku lega.

“Tapi,sebagai gantinya temani aku makan malam”

“Mwo?” Mataku membulat. Alisku mengerut. Oh tidak, apa-apaan ini?

“Besok temani aku makan bersama” ucapnya mantap.

“Apakah begini cara mu memperlakukan semua pegawaimu?” Ceplosku polos. aku memejamkan mataku menyadari perkataan ku yang bodoh.

Ia tersenyum,menampilkan lesung pipinya yang sangat khas. “Bagaimana bisa kau berpikir sejauh itu?”

Aku hanya menganggkat bahu,tidak tau juga. Semua hanya terlintas diotakku dan ku ucapkan tanpa sedikitpun keraguan.

“Kau harus tau, hanya kau satu-satunya orang yang bisa membuatku banyak bicara.”

Aku berdecak mendengar penggakuan suho, ada apa dengan lelaki ini?

“Ku kira kau tak menyadari sifat anehmu itu” timpal ku sambil menggeleng aneh.

Ia tertawa dan mengangguk, aku rasa kecanggungan tak terlalu menyelubungi kami berdua sekarang. “Aku selalu menyadari itu”

Aku terkekeh  mendengar kejujuran suho yang sangat kentara ku lihat.

“Jadi, bagaimana?”

“Bagaimana apanya?”

“Ya, bos mu ini bertanya dan jangan malah kembali bertanya.” Balasnya dengan canda.

Aku tersenyum. “Baiklah pak bos, aku bersedia” mau bagaimana lagi? Rasanya tak tega untuk menolak ajakan lelaki ini. Rasanya tak sanggup untuk membayangkan bahwa besok aku dipecat gara-gara menolak tawaran atasan ku sendiri

.

.

.

“Annyeonghaseo, aku pulang!!” aku memasuki rumah mungil yang sudah kutinggali hampir 20 tahun lamanya itu. Dengan cepat aku melepaskan sepatuku dan tak sabaran menuju ruang tengah.

Senyum ku mengembang melihat appa yang sedang duduk disofa panjang tepat didepan tv sambil membaca bukunya. Ia tak pernah melepaskan kebiasaanya untuk selalu menunggu ku pulang kerja.

“Hai appa” aku memeluknya dari belakang. Membuatnya sedikit terkejut.

“Jinjja, taeyeon kau mengejutkan ku!” pekiknya, aku hanya terkikik melihat sikap lelaki ini.

“Kalau appamu ini tiba-tiba jantungan bagaimana?kau mau berbuat apa?”

Aku mengerutkan alisku, benci saat appa berbicara seperti itu. Sudah cukup eomma lebih dulu meninggalkan ku. Jangan lelaki ini lagi.

“Jangan berbicara seperti itu” Sebalku.

Appa tersenyum dan menepuk-nepuk kepala ku yang masih memeluknya diam.

“kau sudah makan?” Ia akhirnya mengalihkan topik pembicaraan, dengan masih setengah hati tak suka dengan kalimat yang appa ucapkan, aku menggeleng.

“kau selalu saja begitu”

“Aku merindukan masakan mu”

Aku melepaskan pelukan ku dan beralih duduk disampingnya.

“Buatkan makanan enak untuk anakmu malam ini” Girang ku sembari mengangkat kedua tangan ku yang telah digantungi dua plastik besar bahan makanan. Ya, setelah suho mengantarkan ku kehalte bus aku mampir sebentar ke supermarket 24 jam yang berada tak jauh dari rumahku.

Lelaki paruh baya itu menatap kedua kantong besar yang sekarang sudah turunkan dari tangan ku, “Kau seharusnya tak harus terbebani seperti ini” Helanya merasa bersalah dengan semua keadaan sekarang. Appa sudah berhenti bekerja sejak 2 tahun yang lalu. Uang cadangan keluarga habis unutk mengobati penyakit eomma yang ternyata tak mau mengalah. Aku pun akhirnya harus berhenti kuliah karena sungguh, aku tak ingin membebani appa yang sekarang juga tak berdaya. Lelaki itu sekarang sakit-sakitan, dan sungguh terlalu bila aku membiarkannya untuk kembali mencari pekerjaan.

“Sudahlah appa, nae gwenchana. aku sama sekali tak merasa dibebani denagn semua ini.” Setiap kali membicarakan masalah ini, rasanya aku selalu ingin menangis. Mata ku pun berkaca-kaca dan berusaha untuk menahan air mataku.

“Mianhe”

Aku benar-benar tak kuat dengan kata itu, aku menggeleng dan memeluknya. Tuhan, jangan ambil lelaki ini dari hidupku. Aku sama sekali belum siap.

“Aku menyayangi appa”

Appa mengelus punggungku, “Appa juga sangat menyayangimu yeon, lebih dari apa pun” Suaranya bergetar, aku bisa merasakan itu. Airmata ku semakin deras dan beberapa saat aku membiarkan tangisku habis didalam pelukan hangat appa.

“Sudah berhenti menangis gadis kecil ?” Bibir ku menggerucut mendengar nama panggilan yang appa berikan padaku saat aku kecil.

Aku melepaskan pelukan ku dan menatapnya sambil mengangguk. Tangan ku juga tak lupa untuk menghapus sisa airmataku.

“Baiklah, sekarang appa akan membuatkanmu makanan kesukaan mu”

“Sol Long Tang!!!!!” teriak ku bersemangat menginggat sup daging sapi appa lah yang terenak. Ia tersenyum lalu bersama-sama kami menuju dapur dan mulai memasak.

 

.

 

“Appa..”

“hmm..”

Aku yang duduk dibangku dapur sambil mengaduk-aduk bahan yang tadi sudah appa campurkan sambil menatapnya yang masih sibuk memasak. Aku memikirkan betapa bosannya bagi appa hanya berdiam diri dirumah akhir-akhir ini.

“apa appa merindukan rumah halmoni dan harabeoji?”

Aku mendengar bunyi pisau yang beradu dengan beberapa bahan makanan itu terhenti. Appa diam, hanya berdiri tanpa membalikkan tubuhnya menatapku.

“kenapa bertanya seperti itu?”

Aku menghela nafas ku gemas saat melihat appa suka sekali menghindari semua pertanyaan yang menyangkut tentang keadaannya. “appa, aku bertanya apa kau merindukan mereka?”

Ia berdesis kecil, “Setiap anak pasti akan merindukan orang tuanya taeyeon-na”

Balasan dari appa membuatku kembali berpikir. Sudah hampir 5 tahun appa tak bertemu dengan kakek dan nenek. Mereka pasti saling merindukan.

“Bagaimana kalau appa mengunjungi mereka?” Tanya ku.

Appa akhirnya membalikkan badannya. Menatapku heran, “di china?”

Aku mengangguk mantap. Dan ia malah menggeleng, “Biayanya terlalu mahal taeyeon” balasnya lalu kembali memotong sayuran.

Aku pun bangkit dari dudukku dan mendekatinya, “kau bisa memakai uang tabungan ku” senyumku padanya.

Lelaki itupun menggeleng lagi lebih tegas, “jangan bercanda, appa tidak suka”

“Aku tidak bercanda sekarang. Ayolah, halmoni pasti sangat merindukan anak kesayangannya.” Aku bergelayut manja dilengannya. Appa menolehkan wajahnya padaku.

“Bagaimana dengan mimpimu pergi ke paris?”

Aku sempat terdiam. Paris. Satu negara impian yang dari dulu sangat ingin ku kunjungi. Aku bahkan rela menyisihkan sedikit dari setiap uang penghasilan ku sebagai langkah agar ku bisa pergi kesana. Dulu, sebenarnya paris bukan saja impian ku. Tetapi juga impian dari lelaki yang sudah meninggalkanku. Berdua, aku dan chen mempunyai sebuah impian agar bisa mengunjungi paris bersama. Tapi kenyataannya, itu semua hanya angan belaka.

“Appa tak akan tega menghancurkan impian mu” ucap appa kembali membangunkanku dari semua mimpiku.

Tapi aku tau, kebahagian appa tak bisa dibandingkan dengan semua angan ku yang mungkin sekarang tak berasa sama lagi

“Gwenchana,lagian paris bukan lagi impian ku. Aku tak ingin kesana, sudah malas” hela ku lalu ikut mengambil pisau dan memotong wortel yang ada didepanku.

Dari ujung pandangku, aku bisa merasakan appa memandangku binggung.

“Lebih baik appa menggunakan tabunganku menemui halmoni daripada uang itu tidak digunakan sama sekali bukan?” sambungku.

“Kau yakin?”

aku menghentikan pisau ku dan menatap appa yang matanya seakan memerah. Aku terseyum dan mengangguk, “aku yakin appa” jawabku lalu dengan cepat appa memeluk ku penuh sayang.

“Terimakasih nak”

Goodbye paris

*****

Seoul, 09 March 2014

“Selamat ulang tahun my dear” Appa memeluk ku saat aku baru keluar dari kamar, bersiap-siap untuk pergi bekerja. Ia mencium keningku cepat.

“Gomawo appa” senyum ku senang sambil meresapi kasih sayangnya. Hari ini, umur ke 26 ku. Sungguh aku tak menyangka aku sudah setua ini

“Gadis kecil ku sudah menua sekarang” Candanya membuatku memutar mata ku sebal.

“Appa, sudah cukup hanya sunny yang mengatai ku tua bangka, dan jangan sekali-kali kau juga mengikutinya” elak ku sembari duduk dimeja dan mengambil roti lalu mengolesinya dengan selai.

Appa hany terkekeh dan ikut duduk didepanku, “Bagaimana dengan pacarmu?apa dia telah memberikan kado special?”

Sungguh, aku yang melahap rotiku hampir tersedak mendengar pertanyaan konyol dari appa. Sejak kapan aku kembali mempunyai seorang kekasih?

“Pacar? pacar dari antah berantah maksud appa?” tanya ku sambil memakan roti lahap.

“Siapa lagi kalau bukan suho? bagaimana hubungan kalian?”

Aku kembali tersedak untuk kedua kalinya setelah mendengar ucapan appa. Kepalaku menggeleng cepat, “Sudah berapa kali ku katakan kalau diantara aku dan suho tidak ada apa-apa?”

“Appa bisa melihat kalau dia menyukai mu”

Aku memandang appa intens dengan tatapan ‘aku ingin mendengar ucapanmu sekali lagi’

“Memangnya apa yang salah? Kau juga sepertinya senang berada didekatnya”

“Bukan seperti itu. Aku hanya menganggapnya teman, dan kau tau kan kalau suho itu bos ku? Jadi untuk menolaknya setiap kali ia menawariku makan bersama rasanya sangat susah.” Jelas ku meluruskan dugaan salah dari appa. Sungguh, walau sudah hampir 2 bulan ini kami dekat, aku sama sekali tak merasakan apa-apa saat suho bersikap sangat manis padaku. Aku terkadang ingin mencoba untuk juga menyukainya, tapi entahlah hatiku sudah beku. Aku tak bisa mencintainya.

“Kau masih tak bisa melupakan chen?” aku melepaskan rotiku dari mulutku. Mendengar nama lelaki itu membuat selera makanku seakan hilang sekejap. Dan seketika ingatan ku kembali terlempar pada waktu dulu, chen selalu tak pernah lupa menjadi orang pertama yang mengucapkan ulang tahun padaku. Tapi, semua tak akan lagi terjadi.

“Appa..sudahlah, aku tak ingin membicarakannya hal itu ” hela ku lalu meletakan sisa rotiku di piring.

“Aku sudah terlambat” Cepat ku meminum susu putih yang sedari tadi belum ku sentuh, dan sekaligus ingin menepis kegalauan ku.

Lelaki itu menatap ku mengerti kalau aku tak ingin membahas chen saat ini atau mungkin untuk seterusnya.

“Aku pergi, I love you” pamitku sembari bangkit dari kursi dan mencium pipi appa singkat.

“hati-hati dijalan, dan pulanglah lebih awal” Ujarnya, aku pun mengangguk.

“siap kapten” Jawab ku mengerti lalu menampakan jempol kanan ku.

Aku pun kembali kekamar untuk mengambil tas ku lalu dengan segera berangkat. Tetapi sampai didepan pintu, aku kembali terhenti. Setangkai bunga mawar putih dengan gantungan kartu kecil terletak didepan pintu masuk rumah ku. Aku pun mengambil bunga yang masih segar itu dan beberapa kali memutar kepala ku kesana dan kemari mencari pengirim buka itu. Dengan cepat aku membaca isi kertas kecil itu.

Happy birthday taeyeon..

Aku menaikan alis ku binggung. siapa pengirim bunga ini?Setauku aku tak mempunyai penganggum rahasia, dan juga teman-teman ku tak mungkin seromantis ini memberikan kan ku bunga bagaikan kejutan bagi seorang kekasih. Dan mereka tak mungkin melakukannya. Apa mungkin ini dari…suho?

Aku memejamkan mataku hampir saja melupakan lelaki itu. Aku mengambil nafasku dalam, lalu kembali kedalam rumah menaruh bunga itu sebentar dan bergegas pergi bekerja. Aku sudah terlalu telat.

.

.

.

“Happy birthday” aku menghela nafas setelah menutup kembali pintu ruangan suho dan saat ucapan suho sangat terdengar jelas ditelinga ku.

“Jadi ini alasan mu memanggilku disaat aku sedang sibuk setengah mati?” jengkel ku saat aku pikir ada urusan penting yang akan suho sampaikan, padahal lelaki itu tau kalau rumah makannya sedang rami-ramainya hari ini

Ia sedikit tertawa dan menggeleng. Suho pun bangkit dari kursi kerajaannya dan menghampiri ku yang masih setia berdiri didepan pintu.

“Bukannya senang saat ada orang yang mengucapkan selamat, ini malah cemberut.” Ia sampai didepan ku dan mencubit ujung hidung ku. Semakin membuat wajah ku menekuk.

“Tapi aku sedang sibuk..” gerutuku.

Ia berdesis mendengar jawabanku dan menjulurkan tangan kanannya yang sedari tadi ia sembunyikan dibelakang tubuhnya.

“Selamat ulang tahun. Mianhe, aku sengaja tidak mengucapkannya lewat pesan. Karena aku ingin mengucapkannya secara langsung”

Sebuah buklet bunga ia sodorkan padaku, sangat indah dan wangi. Aku menatapnya bergantian. Pada lelaki itu lalu pada bunga itu.

“Tak puas kah kau memberi ku kejutan?jinjja, bahkan ini bunga yang kedua? ” Perangahku lalu tersenyum sembari mengambil bunga itu. Wanita mana yang tidak senang diberi bunga oleh seorang lelaki?

“Nde?” Dia menatap ku terkejut. Matanya seakan menuntutku, alisnya berkerut.

Aku menghentikan senyumku dan merasa ada yang salah dari ucapanku, “Ya, bunga tadi pagi.. Setangkai mawar..”

Ia kembali terperangah dan sekarang semakin mengerutkan dahinya. Aku buru-buru berhenti mengucapkan kalimatku

“aku tidak mengirimkan bunga apapun kerumah mu” Ucapnya serius. Aku membuka mulut ku kaget. Jadi dugaan ku salah?jadi bunga pagi itu dari siapa?

“kau mendapatkan bunga lebih awal?” Sambungnya lagi. Otak ku yang terus berputar penasaran dengan pengirim bunga itu kembali tersadar atas wajah cemburu suho.

Aku menghembuskan nafas ku panjang. Keadaan ini membuatku sendiri pusing. “Nde, tapi mungkin itu hanya kerjaan teman-teman ku” Selesai ku tak ingin membuat suho berpikiran macam-macam dan mungkin benar, ini semua kerjaan Jessica atau sooyoung.

“Gomawo, untuk bunganya” Lanjutku kembali tersenyum tulus, berterima kasih dengan sikap yang selama ini suho tunjukan padaku. Suho membalas senyumku tentu saja, tapi aku yakin ia masih memikirkan pengirim bunga yang aku terima pagi tadi.

.

.

.

“Appa, Eodiga?” Aku melangkahkan kakiku kesetiap sudut rumah ku untuk mencari appa yang tadi pagi meminta ku untuk pulang cepat. Tapi ternyata ia tak ada dirumah. Menyebalkan, batinku saat aku akhirnya menghentikan langkahku didapur. Mataku tak sengaja tertuju kekulkas dan mendapati sebuah kertas tertempel

Taeyeon, appa harus pergi karena ada undangan makan bersama paman jung. Maaf, appa tak bisa menemanimu makan malam. Jaga rumah baik-baik arrashi?

Aku menghembuskan nafas ku lelah, yang benar saja lelaki tua ini. Kalau aku tau ia tak ada dirumah, aku kan tadi tidak perlu menolak ajakan sunny untuk berkumpul dengan teman-teman.

Dengan gusar aku pun mengusap wajahku dan mencuci tangan di westafel dapur lalu melangkah gontai kekamar.
Sebelum aku memasuki kamar ku dan bertemu dengan kasur kesayangan ku, langkah ku terhenti mengingat bunga yang tadi pagi ku letakkan dimejal luar. Dengan segera aku pergi kedepan dan mengambil bunga itu dan beberapa detik menelitinya.

“Aneh..” sungutku. Akupun kembali kekamar. Dan menaruh dua bunga yang kukira pemberian dari orang yang sama itu diatas meja rias. Lalu saat aku membalikkan badan ingin melompat kekasur aku menatap sesuatu yang aneh

“OH MY GOD!” Aku berteriak melihat sebuah kado terletak rapi diatas kasurku. Dengan cepat aku mengambil kado itu. Appa. Kado berlapis kertas warna silver itu pasti dari appa, tak salah lagi, pikir ku.

Tak sabar, aku seakan ingin merobek sekaligus bungkus kado itu. Dan setelah aku berhasil membuka kertas kado itu, aku bisa melihat lagi sebuah kotak panjang berwarna hitam. Aku pun membukanya dengan hati-hati sekarang. Apa appa akan memberiku sebuah kalung yang kami lihat ditv kemarin malam?

“APPA!!!!!!!!!” Aku memekik girang dan sungguh tak percaya melihat apa yang telah diberikan appa pada ku. Sungguh aku membenci lelaki itu.

“jinjja..” aku mengambil tiket pesawat dengan nama ku yang tertera pada kolom nama penumpang dan dengan tujuan paris itu. Aku hampir menangis, oh well aku menangis sekarang. Aku tak percaya ini!

“Appa kau luar biasa” senang ku lagi sambil cecegukan menatap tiket lengkap pulang pergi ke paris itu. Lusa aku akan berangkat keparis? apakah ini nyata? bahkan aku belum membeli baju musim dingin! Aku panik lalu segera berlari kearah lemari ku.

***

Paris, 09 March 2014

Aku memutar-mutar pulpen disela jariku sambil meneliti berkas yang berserakan tepat dimeja kerja ku. Laporan keuangan, surat penanaman saham, bahkan beberapa hasil meeting tertera apada kertas-kertas itu. Nafasku menghela panjang saat bahkan sampai dipehujung sore pun aku belum bisa berkonsentrasi penuh dengan pekerjaanku.

Aku pun bersandar lelah, mencoba merenggangkan otot-ototku yang penat. Ah, aku benar-benar membutuhkan waktu istirahat sepertinya, bukan terus bekerja tanpa henti.

Mataku pun tertuju pada handphone yang selalu siaga berada disampingku. Apa dia sudah menerimanya ya?

Tak ingin berada diketidak pastian, aku menelpon paman heechul cepat

“Annyeong, paman” sapa ku saat ia mengangkat telpon ku dan menyapa ku lebih dulu

“Kau pasti memastikan pekerjaan ku bukan?” Tanyanya langsung paham dengan maksudku. Ya, lelaki ini sudah hampir 10 tahun menjadi orang kepercayaanku, yang juga sangat baik mau membantu ku untuk mengawasi taeyeon.

Aku tersenyum, “ne, kau sudah memberikannya?”

“Tentu saja jongdae-ah, tepat didepan pintu dengan setangkai bunga mawar seperti yang telah kau pesan”

Sunggingan dibibirku semakin naik dan perlahan juga membuat mataku ikut berkaca-kaca. Hari ini adalah hari wanita itu, hari yang selalu aku janjikan akan menjadi hari paling spesial baginya. Tapi aku sungguh sangat jahat, aku mengingkari janji itu. Aku telah menyakitinya, membuatnya membenci ku mungkin dengan seluruh hatinya.

 Aku mengakui aku terlalu brengsek, aku terlalu pengecut untuk mempertahankannya, untuk melindunginya,untuk bersamanya. Semua keputusan yang ku ambil satu tahun lalu, membuat hidupku seakan tak tenang, aku selalu merasa bersalah.

Tapi semua telah terjadi, aku meninggalkannya demi ibu dan untuk menghindari ancaman ibu yang tak segan-segan akan menyakiti taeyeon bila aku masih kekeh ingin bersamanya. Ia tak pernah menyukai taeyeon dari awal, entah kenapa. dulu, mati-matian aku terus mempertahankan hubungan kami walau ibu terus saja meminta ku untuk mengakhirinya. Tetapi, disaat eomma terbaring lemah, ia kembali mengalami sakitnya, aku terpaksa untuk melepaskan taeyeon. Membuka semua ikatan kuat yang selama hampir satu tahun ku buat bersama taeyeon.

“A-apa dia menyukainya?”

Lelaki yang berada diseoul itu tertawa , “ia kebingunggan dan aku juga bisa melihat senyuman diwajahnya”

Aku bernafas lega dan melakukan hal yang sama dengan paman, tertawa kecil dengan airmata yang tak sanggup untuk ku tahan, maafkan aku taeyeon.

“Tapi jong dae..” Ia menghentikan tawa bahagia ku, suaranya terdengar serius sekarang.

“Ya paman?”

“Sepertinya taeyeon semakin dekat dengan bosnya itu. Aku melihat taeyeon pulang dengan sebuah buklet bunga ditangannya”

Aku memejamkan mata ku. Mendengar paman yang selalu melaporkan tentang taeyeon yang selalu terlihat dekat bersama bosnya, suho. Membuatku sangat cemas. Sebegitukah cepat taeyeon mencari penggantiku?apa kah ini karma untuk ku?

Aku mengulum bibirku binggung, sungguh aku tak rela bila taeyeon bersama lelaki lain, tapi aku juga tak bisa melihat wanita itu selalu sedih. Aku menginginkan tawanya.

“Apa taeyeon terlihat senang?”

Mataku seakan naik saat aku bisa mengerti jawaban paman, ia hanya menghembuskan nafasnya gusar, benar dugaan ku. Wanita itu sudah bahagia?

“Kamsahamnida paman, terima kasih sudah mau membantu ku sejauh ini” ujar ku sembari menutup percakapan ku. Apa ini waktunya untuk berhenti?membiarkan wanita itu bahagia bersama lelaki lain?

“Arghh

Aku menggerang frustasi dan menghamburkan kertas-kertas itu kesegala arah. Tidak, aku tak akan membiarkannya. Aku harus bertindak sekarang. Taeyeon hanya untukku bukan lelaki lain.

.

.

.

“Ibu, besok aku akan kembali ke seoul”

Ny. Kim yang tadi sangat terlihat fokus memotong steaknya menghentikan pergerakan pisaunya. Ia sempat diam dan menatap chen dengan sorot mata tajam.

“Tak akan pernah.” Tukasnya singkat lalu kembali memotong makanannya. Chen melepaskan sendok dan garpunya kasar, ia ikut menatap ibunya, menolak dengan perintah ny.kim

“Walau kau melarangku, aku tak akan peduli lagi, karena dengan keadaan apapun aku akan kembali. And you can’t stop me” ucap chen tenang tapi terdengar sangat tidak main-main.

Enough jong dae!” Wanita yang hampir berumur 50 tahun, tetapi masih terlihat sangat modis itu bersuara lantang.

“Sudah cukup kau terus memikirkan wanita itu!” Sambungnya tak habis pikir melihat anak satu-satunya yang terlalu mencintai taeyeon.

“Sekarang sudah hampir satu tahun lamanya, tapi kenapa kau tetap tak bisa melupakannya hah?bukankah sudah ribuan kali eomma mengatakan padamu untuk berhenti menginggatnya?untuk tidak meminta orang suruhan mengikutinya?kau harus buka matamu my dear..”

Chen mengepalkan tangannya, sesak hatinya saat setiap kata yang dikeluarkan ny.kim seakan menohoknya.

“Dan kau harus ingat, ada yoona yang akan mendampingmu sekarang. Kau tidak boleh menyakitinya.” sambung ny. kim mengakhiri perintahnya pada chen. Mimik wajahnyaa pun sekarang melunak, ia sebisa mungkin bersikap lembut pada chen. Membujuknya.

“Ibu harap kau tidak membuat kekacauan, karena malam ini kita akan melakukan makan malam bersama keluarga yoona untuk membicarakan semua tentang pernika–“

BRAK!! chen menggebrak meja itu sembari berdiri dari kursinya. Ny. Kim yang berada duduk didepan chen terkesiap melihat sikap yang tak biasa dilakukan anaknya.

” chen!”

“Aku tidak akan menikahi wanita mana pun selain taeyeon!ibu harus ingat itu!” Teriak chen geram. Masa bodoh bila para pelayan bisa mendengar gertakannya itu pada ny.kim. Sabarnya telah habis.

“Oh ya? Jadi kau akan menghentikan semua ini? Mana ucapanmu yang katanya bersedia menerima perjanjian perjodohan mu dengan yoona huh?” Ancam ny.kim dengan mata yang melotot, ia tau chen pasti akan mengalah padanya.

“Persetan dengan perjanjian itu bu. Dari dulu,aku tak pernah menyetujui apapun. Aku hanya menyetujui permintaan ibu untuk pindah kesini, menemani ibu. Bukan untuk menikahi wanita itu!” Balas chen tak mau kalah, ia benar-benar diselubungi amarah yang luar biasa sekarang.

“Ya! kau berani membentak ibumu sendiri?kau memang sudah diracuni oleh wanita sialan itu!”

“Aku memang sudah diracuni olehnya bu! Dan tolong berhenti menghina taeyeon. Memangnya apa yang telah ia perbuat hingga ibu sangat membencinya hah?apa salah taeyeon?” Gertak chen berhasil menghentikan untaian kalimat ny.kim. Wanita paruh baya itu bisa melihat mata anaknya yang memerah,tak tega rasanya.

“Sudah cukup bu, sudah cukup kau menghukum ku, it’s over now.” chen sekarang memperkecil volume suaranya, bahkan kata penyelesaian yang chen ucapkan sangat terdengar kecil, berbeda dengan luapan emosinya tadi. Lelaki itu pun dengan gerakan cepat, pergi dari ruangan makan mewah itu, membuka pintu ruangan tertutup itu kasar dan kembali menutupnya keras. Membuat ny.kim yang terdiam sedikit memekik. Ia memandang pintu yang tertutup itu. Matanya hampir menangis. Hatinya seakan saling beradu diantara sisinya. Memberikan dua pilihan yang sangat sulit baginya. Apakah ia harus menghentikannya atau tetap bersikeras dengan dendam dihatinya yang masih berbekas sampai sekarang?

.

.

.

Chen memasuki mobilnya dan terduduk didalam mobil itu penuh sesal. Ia tak seharusnya bersikap kasar dengan ibunya tadi. Kenapa ia tak membicarakannya dengan kepala dingin?tapi memang ibunya sudah keterlaluan, dan chen sudah muak dengan semua itu.

Dengan hati yang diselimuti perasaan yang berkecamuk tak tentu, ia menyalakan mobilnya dan membawanya keluar dari gerbang mewah rumahnya digelapnya malam.

*****

Paris, 10 March 2014

Oh men, you look like a shit now!” Aku tertawa mendengar kekehan kris ketika melihat kedatangan ku ke kafenya dengan tampang yang kusut tentunya. Sebelum akhirnya bisa berangkat,aku harus bertengkar hebat dengan ibu. Dan itu sangat melelahkan.

Yeah, I’m sucked” hela ku duduk disalah satu meja dikafe kopi itu. Lelaki bertubuh besar itu ikut duduk depanku.

What’s happen dude?are u want some drink?

No, fine. Aku tak akan lama disini” tolakku.

What?kau mau kemana memang?” Tanyanya meneliti diriku dengan seksama.

“Seoul”

“Really?” matanya melebar, ia memandangku heran.

Aku mengangguk, “aku ingin menemuinya. Semua harus ku selesaikan.”

“Tapi bagaimana dengan ibumu?”

Aku menghela malas, “Aku tak peduli lagi dengan apa yang ingin ia lakukan. I’m tired,really.” jujurku padanya.

Ia menatap ku sambil memikirkan ucapanku lalu akhirnya menepuk pundakku sambil tersenyum, “Ok, get her back chen, you can do that

Mendengar semangatnya saat mendukung ku, aku juga ikut tersenyum. Kris, satu-satunya sahabat ku disini yang mau mendengarkan semua kisahku. Tak tertinggal sedikit pun.

Thanks, hope me luck” jawabku pasrah. Menginggat betapa sulitnya nanti saat aku; pertama, meminta maaf pada wanita it; kedua meminta maaf pada ayah taeyeon; dan ketiga menangani bos taeyeon itu.

“So, kapan kau akan berangkat?” Tanya kris sembari menatap jam didindingnya.

Aku seketika panik saat itu memperhatikan jam itu. Sial!Sudah jam 1 siang, aku tak mau tertinggal pesawat.

Shit, i’m late. Bye kris, i’ll be back soon” pamit ku berdiri dan memeluk kris yang ikut mengantarkanku

Yeah, safe flight

***

Seoul, 10 March 2014

“Tumben kau meminta ku untuk makan siang diluar bersama?”, Aku tersenyum saat suho datang memenuhi janjinya untuk menemui ku. lelaki itu duduk didepanku.

“Seandainya hari ini aku tidak libur, aku akan menemuimu dikantor saja” jawabku seadanya. Ia mengangguk paham.

“ada apa?sepertinya ada hal yang serius?”

Aku mengambil nafas sebelum mengutarakan permintaanku, aku harap suho mau memberikan ku cuti. “apa boleh aku meminta cuti selama satu minggu?”

Alis lelaki itu menggerut, “Cuti?Kau mau kemana?”

“appa berbaik hati memberikan ku hadiah” Girang ku seraya menyunggingkan senyum.

“hadiah?hm..” Lelaki itu berdehem dan membenarkan posisi duduknya, lebih condong kearahku. penasaran pastinya.

“memangnya hadiah apa jadi mampu membuatmu kegirangan seperti ini?”

Aku mengerlingkan mata ku jahil membuat suho semakin terlihat tak sabaran. setelah beberap detik diam, aku berkata lantang, “PARIS!” sorak ku terlalu senang membayangkan besok aku akan pergi keparis. my dream is come true

Tapi tak seperti ku, suho hanya terdiam dan menatapku datar. ya walau akhirnya ia ikut sedikit tersenyum, aku tau ia tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. “Are u okay?”

lelaki itu seakan tersadar dan menggeleng, “kau bicara apa?” kilahnya dengan tawa diujung. Aku memilih tak membahasnya, dan diam saja.

“Jadi kau akan pergi keparis?”

Kepala ku mengangguk cepat, “Ne, kau tak keberatan bukan kalau aku mengambil cuti?ayolah, pak bos ku yang baik hati” Bujuk ku meminta belas kasihannya.

And thanks god, suho mengiyakan permintaan ku. “Baiklah, tapi jangan lupa untuk membelikan aku oleh-oleh” Candanya.

Aku menampakkan senyum lebar, “tak akan lupa bos!” Lantangku.

Tak lama setelah itu, akhirnya makanan pun  datang. Beberapa jenis masakan yang menggiurkan lidah ku ditaruh dengan rapi oleh pelayan itu dimeja kami. Aku memang sengaja memesannya sebelum suho datang.

“Kau sudah lebih dulu memesan makanan?” Tanyanya binggung sembari menatap ku.

Aku mengangguk santai, “Untuk kali ini, biarkan aku mentraktirmu.”

“Baiklah, selamat makan” Terima suho dengan senyuman senang dan mulai mengambil sumpitnya

Kami pun lalu larut dalam canda kami dan memakan habis makanan itu. Dengan berbagai cerita yang kami utara kan satu sama lain, Aku menceritakan apa saja yang ingin ku lakukan , kemana saja tujuan ku di paris nanti, dan suho tak luput memberikan ku tips saat melakukan perjalanan jauh seorang diri di negara asing.

“aku pasti akan merindukan mu” Ucap suho tiba-tiba disela makan kami. Aku yang mendengar kata itu hanya bisa tertegun saking kagetnya. Kata-kata suho terlihat agak lebih serius bagiku, walau lelaki itu seperti tak mempunyai beban sedikit pun saat mengatakannya . Huh, Apa yang harus kukatakan?

“Suho..”

Drrt,Drtt,Drtt

Handphone ku tiba-tiba berbunyi dari dalam tas, dan sedikit membuatku jengkel. Suara handphone yang sangat nyaring kadang membuat ku, pemiliknya sendiri sering terkejut dan hampir jantungan. Aku menghela, pasti tiffany yang menelpon ku mengingat yang sedari tadi ia lah yang sangat bawel membuat daftar list titipannya padaku. Aku pun menghentikan kalimatku dan mengambil handphone ku cepat. Tatapan ku sempat membatu pada nomor tak dikenal yang sekarang menelponku. Bukan tiffany atau appa bahkan teman-teman ku yang lain. Aku pun menatap suho dan handphoneku bergantian.

“Angkatlah” Tukasnya mengerti. aku mengangguk.

adu

“Yoboseo?”

“…………”

“Hello, ini siapa?” Aku mengerutkan dahi, tak ada suara sama sekali. Apa ini telpon hantu?apa ia tak sadar telah tertelpon?

“Hei, aku tak ingin main-main” Sambung ku tegas. Ia tetap tak bersuara, aku menghela. ini pasti kerjaan orang-orang yang tak mempunyai otak. contohnya, para remaja yang kadang iseng menelpon random nomor untuk sekedar mengerjainya.

“Ya, siapapun kau yang—-“

“Ta…ye..on ngu…a..u” omelan ku terhenti saat mendengar suara yang terputus-putus itu mengucapkan sebuah kalimat. aku memicingkan mataku dan mencoba menajamkan telinga ku. Apa yang iya katakan?

“ini siapa sebenarnya?suaramu sangat tidak–” Belum sempat aku selesai bicara, sambungan itu terputus setelah terdengar bunyi gh yang sangat nyaring secara tiba-tiba, bahkan aku harus menjauhkan handphone dari telinga ku mendengar suara bising yang sangat memekik telinga itu. Dan entah kenapa, aku merasakan hal yang aneh saat penelpon itu menutup telponnya.

“Nugu ?”

Aku menaikan pandanganku pada suho dan menggeleng “Entahlah, mungkin salah sambung” sahutku tak mau ambil pusing dan kembali menaruh handphone ku walau aku sempat meneliti nomer itu sebentar. Suara itu, tak  asing ditelingaku…

“Taeyeon, sebelum kau keparis. Bolehkah aku menanyakan sesuatu?”

“hmm?” lonjak saat suho menyadarkan ku . “Ah, ne, silahkan saja” Sambungku lagi.

Suho melepaskan sumpitnya dan menatap ku dengan serius, Membuatku agak sedikit gugup. Ia sempat memikirkan kalimat yang ingin ia ucapkan. “apa kau akan merindukan ku disana?”

Aku terkesiap mendengar pertanyaan suho. Aku menyadari pertanyaan lelaki ini sudah mulai menjurus kearah yang sama sekali tak ingin aku bahas. “aku pasti akan merindukan semua orang disini” jawabku sambil menyengir. Akhirnya kata itu yang aku pilih untuk ku katakan. Suho tampak terpaku sejenak,  ia bisa melihat kerisihan yang aku tampilkan.

“Bukan itu yang aku inginkan..” geramnya dengan nada pelan

oh tuhan jangan biarkan suho ingin menanyakan hal yang selama ini aku takutkan.

“Aku mencintaimu taeyeon, saat pertama aku melihatmu ” tiga kata awal suho suho saja sudah berhasil membuat mata ku melebar dan mata ku memerah jengah. semua peredaraan darahku juga seakan berhenti mengalir. Pengakuannya membuat ku seakan ingin menghilang dari sini, ia pasti akan menanyakan tentang perasaan..

“Apa kau mencintaiku?” that’s true, Suho akhirnya memberikan pertanyaan sulit yang aku sendiri tak tau apa jawabannya. apa aku menyukainya?ya aku tak bisa menampik kalau aku sedikit tertarik dengan lelaki ini. Dimana lagi aku dapat menemukan lelaki baik seperti suho? Aku bisa merasakan kenyamanan saat bersamanya, saat ia menenangkanku, saat ia mendengarkan ku. Tapi disatu sisi, aku…. masih mencintai chen. rasanya seperti sekuat apapun suho mencoba memasuki hatiku, rasanya ia tak akan bisa menggantikan chen diseluruh hati dan pikiranku. Huh… Apa yang harus ku perbuat? Aku tak mungkin menghancurkan hati lelaki yang sudah sangat baik padaku ini. Aku bisa gila kalau begini jadinya!

“Taeyeon, apa kau juga mencintaiku?” Aku ingin sekali berteriak dan meminta suho untuk berhenti menanyakan hal itu, tapi lelaki itu seakan tak mau berhenti. Ia ya atau tidak?”

***

Paris, 10 march 2014

Aku menyetir mobilku dengan kecepatan penuh, hanya tersisa 30 menit untuk melakukan boarding pass. Aku pun bersender resah saat lampu merah memaksa ku untuk berhenti. Aku tak boleh teringgal pesawat.  Mataku mengedar kesamping jendela mobil. semua tampak diselubungi salju. Musim dingin memilih untuk tinggal lebih lama sepertinya. Aku pun mengambil handphone di dashbor mobil. ada puluhan panggilan tak terjawab dari ibu. Aku berdecak sedikit kesal saat melihat log panggilan ku itu. Bosan, aku meng-scroll down log panggilan ku itu, paman heechul, yoona, ibu, dan beberapa orang yang akhir-akhir ini selalu menelpon ku, lalu ada…

Kim taeyeon

Nomer wanita itu aktif, tak pernah diganti.  Tanggal 20 January, sudah hampir 2 bulan lamanya. dulu, aku pernah mencoba menelponnya. Tetapi saat nada sambung itu terdengar ditelingaku, seluruh kesalahan ku kembali terulang tak henti diotak ku. semuanya, disaat aku membuat wnaita itu menangis, membuat wanita itu kecewa, dan aku merasa tidak pantas untuk menelponnya lalu menanyai kabarnya, walau saat itu aku sungguh merindukannya. aku merindukannya yang sangat cerewet bahkan sangat kekanak-kanakan. tapi itulah hal yang ingin aku dengar.

Lampu lalu lintas sudah berubah hijau, aku kembali menjalankan mobilku. Sebentar lagi, aku akan menemuinya. aku tau dia pasti tak akan memaafkan ku. Tapi aku yakin, ia masih mencintaiku. Aku tau hati wanita itu hanya untukku. aku menghela nafas ku dalam saat aku masih menatap layar handphone yang berada ditangan kiriku. Dengan sekuat tenaga, aku menekan pilihan call pada handphoneku. Takut, aku perlahan menaruhnya ditelingaku, Masih tetap fokus dengan jalan ku yang sekarang sangat begitu mulus tanpa macet.

Telpon itu tersambung, tak butuh waktu lama, ia mengangkat telpon ku.

“Yoboseo?”

Suara itu, bibirku kelu saat mendengar suara malaikat yang sangat lama tidak ku dengar itu. Tubuhku seakan membeku, jantungku seakan berdetak cepat.

“Hello, ini siapa?” Suaranya taeyeon membuat otakku mengirimkan sinyal kebibiruntuk tersenyum. Tak ada yang lebih membahagiakan dibandingkanbagiku selain bisa mendengar suara taeyeon

“Hei, aku tak ingin main-main” Aku menggeleng pelan sambil menahan tangis saat mendengar kebiasaan wanita itu. Ia suka sekali berbicara dengan nada tinggi.

“Ya, siapapun kau yang—-“

“Taeyeon, tunggu aku kembali” Aku tertegun ketika aku tak menyadari sendiri dengan apa yang telah ku katakan. Bodoh apa yang telah ku lakukan?

“ini siapa sebenar…”

Mata ku melebar seketika saat tiba-tiba ku lihat sebuah bus melaju dariarah yang berlawanan. Aku terkejut bukan main melihat bus itu datang mengarah padaku, seakan kehilangan arahnya. Handphone ditelingaku pun terjatuh, tak dapat lagi mendengar suara teyeon . Sekuat tenaga aku membanting stirku, membelokkannya kekanan. Aku harus menghindari bus itu. Tapi sayang, disaat aku bisa menghindari bus itu, sebuah mobil juga berjalan sangat laju dan menghantam mobilku keras. Aku mememejamkan mataku saat aku rasakan mobil itu membuat mobil ku terserat, membuat tubuhku tergoncang sangat keras. dan semua terasa putih sekarang

 To Be Continue…

Jadi, nanti gimana kelanjutan ceritanya ya? ada yang bisa nebak? wkwk padahal aku mau bikin satu chapter, ingat kalo season sebelumnya emang kebagian satu chapter doang, tapi menginggat nanti kalo aku terusin nulis sampe ending entar bakal ngak publish-publish lagi alias ketunda mulu, Akhirnya aku mutusin buat dibagi dua. dan untuk cast, sebenarnya ini mau aku bikin baekhyun, tapi karena ff aku satunya itu ya tau lah yang itu tuh juga main castnya baekhyun, jadi ya kenapa ngak yang lain aja duluan kan?chen ngak papa kali ya wkwk Oh iya buat on demand, sorry aku belum tau kapan bisa publish next chapnya, masih buntu mood nih, aku juga baru nyelesain setengah chapter dan tololnya aku malahan berpikir buat bikin jalur yang melenceng dari ide awal lol. tapi tenang, ngak bakal berbulan2 kok diupdatenya. Butuh saran dan kritik ya teman-teman. Kalo banyak yang suka asap kok updatenya hehe maksa amet ya. Terima kasih

Advertisements

53 comments on “Bring Me to Life – 1 (5 Of 12 Season)

  1. haloo thor..aku reader baruu..
    Wah penasaran bgt sama lanjutannya, kapan di publish thor ? hhu

    Iyaa nii nampaknya bakal sad ending..
    ky nya sii chen kecelakaan, trus koma..
    Klo liat dari judulnya, mgkn nnti taeng bakal ktemu lg sama chen di paris..
    Tp ketemunya sama ‘roh’nya chen,
    mirip2 ky di drama ’49days’ itu lho..
    hhaha maap klo ngayalnya ketinggian..

    Pokonyaa semangat terus thor!
    mau sad atau happy, yg penting ceritanya bagus..
    Maap lg klo kepanjangan commentnya.. hho
    Gomawo thor~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s