Hidden Feelings [Part 1. ― Comeback]

hidden-feelings copy

hidden feelings

——————–comeback

 Author : Funluobell

Main Cast : Kim Taeyeon (GG) and Byun Baekhyun (EXO)

Other Cast : Troublemaker’s member, Jessica Jung, Kim Taehyung (BTS), Kim Junmyeon (EXO), Chae Yumi (OC), Kim & Byun’s family.

Genre : Romance, School-life, Family

Rating : Teen

Length : Multichapter (maybe?)

Disclaimer : Just a fiction. Inspired by another fictions i’ve read. No need to plagiarism this fanfic because i must work hardly to finished this chapter. Tq ❤

/

“I hate how much i love you boy, but i can’t just let you go. And i hate that i love you so.”

/

/

/

Ingolstadt Luxury Apartment, Ingolstadt, Germany. 01.00 CET.

Ruangan luas dan berkelas itu terasa sangat sepi. Cahaya yang kurang, suhu yang tinggi, koper dan tas yang tidak tersusun rapi serta suasana sebuah ranjang yang…..sangat berantakan.

Selimut yang sudah terjatuh, bantal yang tak beraturan dan bed cover yang terangkat. Dan jangan lupakan siapa penyebab dari semua hal ini.

Pintu ruangan itu terbuka, sehingga menimbulkan suara yang cukup keras. Seorang gadis yang membuka pintu ruangan mewah itu berhenti sejenak sambil menahan napas. Takut-takut jika si pemilik ruangan akan terbangun.

“Fiuh~” gumam gadis itu ketika ia merasa aman. Kakinya bergerak masuk dan tangannya bergerak untuk menutup pintu. Ia berjalan pelan ke arah ranjang yang berantakan itu.

Kedua bola matanya terbuka lebar beserta juga dengan bibir manisnya, “Astaga, Kim Erika… kenapa kau tidak berubah? Bagaimana bisa ada laki-laki yang menyukai gadis serampangan seperti dirimu, eo?” gumamnya sambil menatap keadaan gadis bernama Erika itu dengan gerah.

“Apakah aku harus menggunakan caraku?” tanya gadis itu pada dirinya sendiri. Baiklah, batinnya.

YA! KIM TAEYEON IREONAAAA~!!” ia berteriak. Sungguh, demi semua dewa yang ada di planet bumi, suara gadis Amerika itu sangat memekakan telinga.

Taeyeon―atau Erika― tak pelak langsung tersentak dan terbangun dari tidur indahnya.

MWOYA?!” bentaknya. Ketika ia melihat siapa pelaku yang mengganggunya dari tidur cantiknya, ia kembali berseru,

YA! Why you gotta be like that?! Aish, jinjja Sooyeon! Kau merusak mimpiku!” kesal Taeyeon sambil membaringkan tubuhnya kembali.

“Jangan tidur lagi, Taeyeon! Ish, sudah baik aku membangunkanmu. Jangan bilang kalau kau lupa jika hari ini kau harus pergi ke Korea?”

“Hmm…”

YA! Taeyeon-ah, jangan tidur lagi!” gadis itu kembali berteriak.

“Ini masih terlalu pagi, Jess. Jangan gila.” Gumam Taeyeon.

“Gila kepalamu! Ini sudah jam 1 pagi dan jarak antara Ingolstadt menuju Berlin adalah empat setengah jam! Lebih baik jika tidak terjebak macet. Seharusnya kau tahu kondisi kota sibuk itu seperti apa, Taeyeon. Aku saja muak jika harus pergi ke Berlin.” Jelas Jessica.

“APA?! 1 PAGI?!”

Dengan tiba-tiba, Taeyeon kembali terbangun dari tidurnya dengan kedua bola mata yang mencuat keluar.

“Benar, dan kau belum bersiap-siap? Hah, seharusnya kau berterima kasih padaku, Taeng…” gumam Jessica sambil pergi dari hadapan Taeyeon. Ia beranjak menuju lemari pendingin dan mengambil minuman bersoda yang tersedia.

Taeyeon menatap Jessica yang berjalan ke arah sofa empuknya dengan tatapan kosong, “Berterima kasih katamu?! Ini adalah rekor terbaru bagiku, kau tahu? Astaga, bagaimana bisa aku terbangun di suasana langit yang masih gelap seperti ini?” ujarnya sambil melirik ke arah jendela besar di dekat dapurnya.

“Aku bahkan sudah meneleponmu berkali-kali, tapi kau sama sekali tidak mengangkatnya. Teman macam apa kau ini?”

Handphoneku mati.” Jawab Taeyeon sekenanya.

“Mati? Ini yang kau sebut mati?” Jessica mengangkat tangan kanannya yang terdapat sebuah handphone persegi panjang di genggamannya. Dan dengan jelas terlihat kalau handphone tersebut masih menyala dengan baterai yang penuh.

“Ah terserah.” Taeyeon yang merasa ketahuan berbohong, memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi yang terdapat di kamar apartmentnya.

Tak lama, terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.

“Taeyeon-ah, kau itu gila ya?” Jessica bertanya. Jari-jari manisnya bergerak membuka handphone Taeyeon, siapa tahu ada rahasia yang bisa ia bongkar.

“Gila apa?” teriak Taeyeon dari dalam kamar mandi.

“Kau sama sekali tidak membuka handphonemu? Banyak sekali panggilan tak terjawab di sini!”

Yak! Apa yang kau lakukan dengan handphoneku? Jangan membuka media sosialku!”

“Siapa juga yang mau membukanya,” gumam Jessica. Ia kembali memeriksa panggilan-panggilan tak terjawab serta pesan yang sama sekali belum dibuka oleh Taeyeon, “Taeyeon-ah, ada 35 panggilan dan 50 pesan masuk. Dan semua itu belum kau lihat sama sekali, eo?” tanyanya.

“Tentu saja belum karena aku langsung tertidur semalam. Memangnya dari siapa saja?” Taeyeon muncul dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk.

“Kyaaaaaa~! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidak memakai baju?!” pekik Jessica histeris.

“Apa? Apa? Memangnya kenapa? Toh kita sama-sama seorang gadis.” Balas Taeyeon enteng. Ia berjalan menuju lemarinya dan mengambil pakaian dalam, dan satu setel pakaian.

Jessica hanya memajukan bibirnya ketika Taeyeon kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk berpakaian.

Tak lama berselang, gadis mungil itu keluar dari dalam kamar mandi dengan penampilan yang…aneh?

 large (17)

Jessica menyipitkan kedua matanya, merasa aneh dengan penampilan Taeyeon. “Memangnya kau mau ke mana? Kau kira kau ingin tampil di depan umum?” komentarnya.

“Tampil dari mana?” balas Taeyeon.

“Lihat! Memangnya pantas memakai pakaian berwarna mencolok di musim salju seperti ini dan apakah kau tidak akan kedinginan, eo? Kau bahkan memamerkan pusarmu.”

Taeyeon cemberut, lalu ia mencari pakaian lain yang lebih baik. Ia kembali berjalan masuk ke dalam kamar mandi dan berganti pakaian.

“Bagaimana dengan yang ini?”

large (16)

“Taeyeon, aku sudah mengatakan hal ini kepadamu tadi. Sekarang suhu sedang di bawah nol derajat dan kau ingin memakai pakaian seperti itu? Kau tidak ingin mati kedinginan, kan?”

“Ish!” Taeyeon kembali mencari pakaian lain dan masuk ke dalam kamar mandi. Ketika ia keluar dari kamar mandi, ia kembali bertanya.

“Yang ini?” ia berharap. Sedikit jengah karena sedaritadi tak ada pakaian yang layak dipakai untuknya.

large (18)

“Kau terlihat sangat cantik! Cepat ganti!” sindir Jessica.

“Ya Tuhan, Jessica… aku harus memakai apalagi? Semua pakaianku kau tolak. Dasar merepotkan!” cibir Taeyeon.

Stylemu sangat norak, Taeyeon. Cepat cari pakaian lain sebelum kita terlambat!”

Taeyeon memberenggut kesal. Ia mencari setelan lain untuk yang kesekian kalinya dan ia bersumpah ini yang terakhir.

“Ini yang terakhir, Jess. Aku tidak mau mencari pakaian lain selain ini!”

u0azrZW

Jessica tersenyum sumringah, “Akhirnya, Taeyeon! Yang ini cukup layak, setidaknya tidak berwarna mencolok dan memperlihatkan pusarmu. Ugh, ini sudah hampir jam 2, lebih baik kau segera berdandan dan bersiap-siap.” Katanya.

“Kau ingin menelepon siapa?”

“Tentu saja pelayan di sini. Siapa tahu mereka bisa membuatkanku Fettuccine Alfredo dengan ayam sekarang. Aku sangat lapar, kau tahu?” jawabnya.

“Untuk apa kau memesannya di sini? Asal kau tahu, tidak ada chef yang masih terjaga sampai jam 2 dini hari di apartment mewah ini. Lebih baik kita makan ketika sudah sampai di bandara. Eottae?” tawar Taeyeon sambil memoleskan sedikit bedak di wajahnya. Tak lupa ia juga menggunakan lipgloss berwarna merah merona yang membuatnya semakin cantik.

“Benarkah? Ah menyebalkan!”

“Kau sudah menelepon tuan Jo untuk menjemput kita?”

“Bahkan ia sudah berada di depan gedung mewah ini, Taeng.” Balas Jessica.

“Baiklah, tunggu. Aku hampir selesai.” Taeyeon mengambil handphone, powerbank, headset, iPad, serta kebutuhan-kebutuhan lainnya dengan gesit. Ia segera memasukkan semuanya ke dalam sebuah tas samping.

“Perlu kubantu, nona?” tawar Jessica ketika melihat Taeyeon kesulitan membawa kopernya.

“Tentu, Jess. Kenapa tidak kau lakukan sejak tadi?”

Dengan cepat, Taeyeon segera memberikan kopernya dari genggamannya ke genggaman Jessica.

“Sudah baik aku mau membantu. Ah! Demi Tuhan, Kim Taeyeon! Kau memasukkan apa saja di dalam kopermu?” pekik Jessica

“Tak banyak.”

“Kenapa. Ini. Sangat. Berat. Ugh.”

“Jangan banyak bicara, nanti kita terlambat.” Tutur Taeyeon sambil mengunci apartmentnya. Sedangkan Jessica, dirinya hanya bisa mencibir sahabatnya itu dari belakang.

/

/

/

Elysium Boulevard, Incheon, South Korea. 18.00 KST.

“Jadi, bagaimana?” tanya seorang wanita kepada sosok pria berumur di hadapannya.

“Apanya yang bagaimana?”

“Tentang anak gadis kita,” jawab wanita itu sambil meminum segelas kecil wine berkelas yang bernama Silver Oak Napa Valley Cabernet Sauvignon 2010 yang dihargai 110.513 Won. (Note: in Indonesian IDR 1.241.876,-)

“Ah, dia akan kembali hari ini.” Kim Jihoon ―pria itu― tersenyum kepada istrinya, Min Jinhee yang terlihat awet muda walaupun usianya hampir berkepala lima.

“Aku tahu… tapi menurutmu, apakah dia akan senang?”

Tuan Kim bersandar kepada sofanya, “Mungkin saja tidak, Jinhee-ya. Tapi dia tidak bisa menghindar begitu saja. Setidaknya lima tahun sudah cukup dan ia masih mempunyai keluarga lengkap di sini―”

“Tidak, Jihoon-ah. Ia pergi karena ia merasa sedih, dan aku tahu sekali perasaannya. Terlebih dengan adanya Taehyung…” gumam Nyonya Kim murung.

“Taehyung tidak bersalah, Min Jinhee! Jangan selalu menyalahkan Taehyung, dia sudah cukup bersedih karena Taeyeon tidak pernah mau menerimanya. Jangan sampai ia semakin bersedih karena…karena…” ujar Tuan Kim. Pria tua itu tidak sanggup melanjutkan perkataannya.

Annyeong, appa! Eomma!” di tengah-tengah suasana buruk itu, datang laki-laki muda yang sedang mereka bicarakan dari luar ruangan kerja Tuan Kim.

Tuan Kim buru-buru memperbaiki kondisinya, “Ada apa, Taehyung-ah? Kau habis dari mana saja?” tanyanya.

“Tidak ada apa-apa, appa.” Jawabnya sambil menutup pintu, ia bergerak menghampiri kedua orang tuanya. “Aku habis dari café langgananku, tapi aku pergi bersama teman-temanku.” Lanjutnya.

“Mengapa kau masih memakai seragammu, Taehyung-ah? Kau belum mandi?” sang eomma bersuara.

“Aku masih berkeringat, eomma. Nanti saja, ya?”

“Kau sudah makan?” tanya Nyonya Kim lagi.

Dan Taehyung harus terus menjawab berbagai pertanyaan dari kedua orang tuanya mulai dari sekolah, teman, dan hal-hal yang sudah ia lakukan hari ini. Kadang ia merasa senang karena merasa diperhatikan, tapi tak jarang juga ia merasa jengah.

“Hari ini noonaku akan datang, ya?” tanya Taehyung sambil tersenyum lebar.

Ne, tapi mungkin akan lama.” Jawab Tuan Kim.

Terdengar desahan kecewa dari bibir Taehyung, “Waeyo?” tanyanya lagi.

Noonamu akan berangkat jam tujuh pagi waktu setempat. Dan perbedaan waktu antara negara kita dan Jerman adalah delapan jam.”

“Ah, lalu bagaimana dengan penerbangannya? Akan menempuh berapa lama perjalanan?” Taehyung terus bertanya.

“Tiga belas jam adalah waktu yang normal, jika saja ada kendala saat di bandara ataupun hal lain, mungkin bisa lebih dari waktu normal. Mengapa kau terlihat sangat antusias, Taehyung-ah?”

Senyum dari bibir Taehyung kembali terlihat, “Karena Taeyeon noona akan kembali, appa. Aku sangat senang! Appa tahu kan terakhir kali aku melihat noona itu kapan? Kalau tidak salah, dua tahun yang lalu? Ketika noona lulus dari junior high school. Saat itu kita menghadiri acara kelulusannya.” Ujarnya.

“Kau sangat menyayangi Taeyeon, eo?” sang eomma tersenyum haru.

“Tentu saja, eomma. Bagaimana mungkin seorang adik tidak menyayangi kakak satu-satunya? Walaupun noona pergi meninggalkanku, tapi itu tidak masalah. Noona kan sedang belajar, jadi aku tidak keberatan.”

Kedua orang tuanya merasa tersentuh mendengarnya. Ya Tuhan, laki-laki muda ini sangat polos dan tulus.

“Lalu, mengapa kau tidak segera membersihkan diri sekarang?” tanya Tuan Kim.

“Tidak mau. Aku ingin video call bersama noona.” Tubuh tinggi itu bangkit dari sofa dan berniat untuk pergi dari ruangan tersebut, “Aku pergi ke kamar ya, appa, eomma.

“Kalau kau lapar, segera datang ke dapur atau telepon tuan Hong untuk memasakan makanan untukmu.” Pesan Nyonya Kim.

Arraseo.” Jawab Taehyung.

Setelah keluar dari ruang kerja appanya, Taehyung segera berlari menuju kamarnya yang berada di lantai dua.

Ia mengambil handphone ber-casing hitamnya yang terletak di meja belajarnya dan segera membuka aplikasi Skype. Ia mencari kontak noonanya dan segera menekan tombol call.

Tak berapa lama, muncul wajah noonanya di layar handphonenya.

Noona!” pekiknya girang.

“Apa?”

Noona sudah berangkat? Noona pergi bersama siapa? Dan noona! Lima tahun berada di Jerman, membuatmu semakin cantik!” pujinya.

“Pertama, aku sedang berada di jalan dari Ingolstadt menuju Berlin. Kedua, aku bersama sopir dan sahabatku. Ketiga, terima kasih atas pujianmu.”

“Siapa sahabat noona itu?”

“Kau bicara saja dengannya.” Setelah itu, terlihat wajah asing di samping Taeyeon.

Annyeong haseyo, Taehyung-ssi! Jeonun Jessica imnida, cheoeum boepgesseumnida~” Jessica dengan ramah memperkenalkan diri.

Annyeong haseyo, Jessica noona. Whoaa, noona bisa berbahasa Korea dengan lancar! Daebak~ Eotteokhae halsu?” pujinya.

Joneun hankuk-eo imnida.” Jawab Jessica sambil tersenyum.

“Ish, cukup perkenalannya!” potong Taeyeon yang langsung mengarahkan layar handphonenya ke arah dirinya sendiri.

Noona, apakah kau akan sampai dengan waktu yang lama?”

“Tentu saja. Memangnya kau tidak lihat kalau langit di luar masih gelap?”

“Di sini juga sudah malam, noona. Sekarang jam setengah tujuh, bagaimana dengan Jerman?”

“Jam setengah tiga pagi, kau tahu?”

“Whoaa, daebak! Kau pasti sangat mengantuk saat ini.”

“Tentu saja, aku bahkan tidak bisa tertidur karena kau terus berbicara sejak tadi.”

“Aku merindukan noona! Jangan pulang lama-lama, noona. Aku akan menunggumu~”

“Bersiap-siaplah menunggu, Taehyung-ssi. Karena aku akan take-off jam tujuh nanti dan perjalanan dari Berlin menuju Incheon menempuh tiga belas jam.”

Mwoo?? Mengapa lama sekali? Tapi tak apa, yang penting noona akan segera pulang.”

“Sudah ya, Taehyung-ssi. Kau benar-benar mengganggu waktu istirahatku. Lebih baik tutup panggilan ini atau aku akan memukulmu nanti.”

Noona selalu berkata akan memukulku. Dan jawabanku akan sama, pukul saja aku noona. Aku tidak akan marah.”

“Berisik kau! Sudah ya, selamat pagi. Oh, selamat malam.”

PIP

Taehyung mengerucutkan bibirnya kecewa, “Ish, noona. Padahal aku masih ingin berbicara banyak, tapi ia sudah lebih dulu memutuskan sambungannya. Memangnya noona tidak merindukanku, ya?” tanya Taehyung kepada dirinya sendiri.

Ia beranjak menuju ranjang ukuran kingnya yang didominasi berwarna putih itu dan segera berbaring. Ia mengarahkan pandangannya ke langit-langit kamarnya yang bercat hitam. Ia hanya sedang memikirkan Taeyeon noonanya.

taehyung's room

“Sudah lima tahun sejak noona pergi dari rumah ini, apakah noona merasa senang karena akan pulang? Aku begitu merindukan noona. Sejak sekolah dasar noona sudah meninggalkanku. Ahh, aku bahkan harus iri kepada teman-temanku yang bisa mengajak hyung mereka yang tampan atau noona mereka yang cantik ke sekolah. Sedangkan aku? Aku seperti anak satu-satunya, padahal aku juga punya noona yang sangat cantik.” Gumamnya.

“Tapi aku punya hak apa, eo? Noona kan, ingin belajar. Mana mungkin aku melarang noona yang ingin belajar di sekolah yang lebih baik dari sekolah di sini.” Lanjutnya.

“Aku tidak sabar. Kalau noona sudah pulang, aku akan menariknya ke kamarku dan menunjukkan seluruh sertifikat, piala, piagam serta medali yang kumiliki. Noona pasti akan bangga memiliki adik tampan serta jenius sepertiku.” Ujarnya bangga. Ia melirik ke arah lemari kaca yang menyimpan seluruh bentuk-bentuk prestasinya dan hasil belajarnya selama ini.

Terlalu banyak penghargaan yang ia terima, sehingga lemari besar miliknya pun tidak dapat menampung semuanya. Setidaknya ia merasa cukup puas. Seluruh waktunya yang ia buang untuk belajar, les, belajar, dan les, seluruh keringatnya dan usaha-usaha lainnya sudah terbayar dengan penghargaan-penghargaan yang ada di dalam lemari tersebut.

Aku memang keren, batinnya.

“Tidak, Taehyung-ssi. Kau tidak boleh sombong! Ah, yang terpenting adalah Taeyeon noona akan segera pulang.” Ia memejamkan matanya sejenak, berdoa kepada Tuhan agar melancarkan perjalanan noonanya agar bisa selamat sampai di rumahnya.

Tak lama, dirinya terlelap dalam mimpi indahnya.

/

/

/

Incheon International High School, Incheon, South Korea. 13.00 KST.

Keesokan harinya, seperti biasa Taehyung baru saja keluar dari sekolahnya. Karena ini hari Jumat, sekolahnya keluar lebih dulu dari biasanya. Hari biasa di mana haksaeng Incheon International High School keluar di jam 3 sore, sekarang bisa keluar jam 12 siang.

Ya, Taehyung-ah. Kenapa kau sedaritadi terus tersenyum, eo? Kau sedang senang?” tanya Jimin, teman sekelas Taehyung.

“Tentu saja karena dia sedang senang, Jimin-ah. Tidak mungkin ia tersenyum ketika ia sedang sedih!” Jungkook, teman Taehyung yang lain mengomel.

Jimin hanya memberenggut.

“Kalian tahu, hari ini noonaku kembali dari Jerman.” Ucap Taehyung tanpa menghilangkan senyum lebarnya.

Noona?”

“Sejak kapan kau memiliki noona, Taehyung-ah?” tanya Jimin heran.

“Aku memang memiliki seorang noona! Hanya saja, noonaku sedang belajar di Jerman.” Jawabnya.

Noonamu sudah masuk universitas?” tanya Jungkook.

Ani~ noonaku masih berada di kelas akhir high school. Setelah ia datang nanti, ia akan masuk IIHS.”

“Kalau noonamu masih di kelas 12, mengapa dia harus pergi ke Jerman? Bukankah kalian tidak punya keluarga di Jerman?” Jimin semakin penasaran.

“Tentu saja karena dia ingin belajar di sekolah yang lebih bagus.” Balas Taehyung.

“Kapan dia akan datang?” Jungkook angkat suara.

“Sepertinya…” ucapan Taehyung terhenti ketika ia mendengar suara dari handphone yang ia bawa. Ia segera memeriksa siapa gerangan yang meneleponnya.

Incoming Call,

Appa.

“Sekarang!”

Mwo?” Jimin dan Jungkook tak mengerti.

Noonaku pulang sekarang, Jimin-ah, Jungkook-ah! Aku pulang, ya! Bye~” dengan langkah panjang, Taehyung segera berlari meninggalkan kedua sahabatnya itu menuju lapangan parkir IIHS. Di mana sopir pribadinya telah menunggunya.

Ahjussi, cepat! Aku ingin segera pulang, ahjussi. Taeyeon noona sudah pulang! Ahh, aku jadi tidak sabar.” Pekik Taehyung ketika ia telah duduk manis di dalam mobil mewahnya.

Ne, Tuan Muda.” Balas sopir pribadi Taehyung sambil tersenyum, ahjussi itu ikut merasakan kegembiraan Taehyung.

Noona, tunggu aku!

/

/

/

/

/

To Be Continue

Haaaalloooo~~

Pertama-tama, aku mau ngucapin makasih buat readersdeul yang udah mau baca dan ninggalin jejak di prolog kemarin. Aku ga nyangka apresiasinya cukup banyak! Makasih ya ❤

Dan well, bagaimana dengan chapter 1nya? Membosankan? Tidak memuaskan? Jelek? Ya udahlah Mauriel emang ngerasa gitu sih :3 gini ya, jadi sejak aku ngepost prolog, habis itu aku sama sekali belum buka word lagi apalagi nulis kelanjutannya. Gara-gara aku jalan-jalan ke sbux mulu ehh/? Jadinya mood turun drastis boo~~ ini aja aku ngebut buatnya, ga juga sih—“

Yeaaayy, aku mewujudkan permintaan beberapa readers yang menginginkan eonni saya sebagai sahabatnya Taeng, Jessica Jung!! (sama-sama Jung, ahahaha) dan aku memperbanyak di bagian Taeyeon juga Taehyung kan? Ehehehehe biarkan Kim Siblings bersatu/?

Masih kependekan ya? ±2000 words nihh, cukup lah buat chapter satunya~~ setidaknya lebih panjang daripada prolognya kan? Wkwk :3 mungkin kalo aku dapet mood dan feel yang bagus buat chapter 2, aku bisa bikin lebih panjang. Untuk chapter ini, aku Cuma mau sampe situ aja. Belum sampe Taeyeon nyampe di Incheonnya :3

Jadi, gimana? Masih ingin dilanjut sampai ke chapter dua? Semuanya tergantung kalian lhoo~ author tidak memaksa jika kalian tidak ingin kelanjutannya /nangis dipelukan hangat Sehun/

Ah, yaudah lah ya. Mauriel bawel banget nih -.- dan anyway selamat Natal ya~ telat banget guehh hahaha biarlah >< abis ini aku mau pergi ke Jogja sampe tahun baru! Siapa yang ada di Jogja? Siapa tahu kita ketemu :3

Err, sungguh teman-teman. Ini sudah jam 1:15 di tempatku. Dan aku belum tertidur. Demi ff ini tak apalah ❤ Aku menunggu apresiasi kalian! Bikin notifku jebol ya~~

Salam cinta,
Mauriel Jung jodohnya Oh Sehun.

Advertisements

69 comments on “Hidden Feelings [Part 1. ― Comeback]

  1. Sumpah taengsic tadi waktu milihin baju buat makain lucu sekali,wkkwkwkwkw,taehiung kelihatanya protectif sejali ma taeyeon ya!lanjut thor

  2. Waah waaah daebak thor!!# *standingapplause* Suka banget part taengsic milih baju huahaha. Soalnya ada foto fotonya, jadi reader bisa ngebayangin. Taehyung sayang banget sama taeyeon yaa:33 tapi kenapa sih thor kok taeyeon benci banget sama taehyung? padahal kan taehyung baik penyayang. Ga mungkin kan taeyeon benci taehyung tanpa suatu alasan yang logis? Next to chapter 2~ 😀

  3. Waaa taengsic><
    Kurang panjang thor:( perasaan aku aja apa taengnya emang dibikin agak jutek?gitu?
    V kok lucu bgt sii:3

  4. Pingback: Hidden Feelings [Part. 3 ― Missing] | All The Stories Is Taeyeon's

  5. Pingback: Hidden Feelings [Part 4 ― Hidden Things] | All The Stories Is Taeyeon's

  6. Pingback: Hidden Feelings [Part. 5 – Get Closer] | All The Stories Is Taeyeon's

  7. Aduh, Taehyung baik banget sih sama Taeng. Mereka berdua juga jauh beda. Di fic ini aku paling suka momennya Kim Siblings yang… Menggemaskan?

    Ditunggu BaekYeon momennya, thor!♡

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s