[Oneshoot] Love Business

[Oneshoot] Love Business

 

love business

Title : Love Business

Author : Oh Eun Hye (sparkpiglets3)

Rated : T (PG-15)

Genre : romance, comedy

Length : Oneshoot

Main cats : SNSD Taeyeon, EXO Minseok

Support cats : you will find other cats in the story

Disclaimer : all the main cats in this story don’t belong to the author. The author is only entitled to the story belongs to the author who in import directly from my brain.

Author note’s : typo (s) scatted. For those who don’t like the cats here in, please don’t vilify or bash the cats! Author never allow to anyone plagiarism for this Fanfiction. And remember to give a comment. Don’t be a silent readers.

 

 

Kediaman Jung menjadi lebih ramai sekarang. Karena para maid begitu sibuk mendekor sebuah ruangan khusus di rumah bak istana itu. Sepertinya akan ada sebuah acara di kediaman Jung tersebut.

Kericuhan itu tetap terdengar dan menggema. Taeyeon yang duduk di atas sofa memandang malas pada setiap maid yang berlalu lalang di depannya. Apa harus seheboh ini, batinnya. Padahal dirinya baru pulang dari Italy untuk menemui relasi bisnisnya. Pulang-pulang sudah di suguhi permintaan amazing dari appa-eommanya.

 

Kau akan di jodohkan dengan putra sulung keluarga Kim. Dan tidak ada penolakkan.”

 

Kata-kata itu seperti sebuah kaset rusak yang terus mengulang kalimat-kalimat sama di otak Taeyeon. Hah, padahal Taeyeon baru berusia 23 tahun. Dan tak lama lagi ia akan memiliki suami. Akankah itu terlalu cepat? Taeyeon bahkan belum sepenuhnya menikmati masa lajangnya.

Lagipula, ia belum pernah melihat atau bertemu dengan putra keluarga Kim itu. Apakah ia tampan? Apakah ia tinggi? Apakah ia pintar? Satu yang paling penting, apakah ia sesuai dengan tipe Taeyeon?

Bukan tidak mungkin kalau ternyata putra sulung keluarga Kim ternyata buruk rupa, pendek, hitam, dekil, dan bodoh. Mengingat Taeyeon tidak pernah melihatnya. Appanya bilang, kalau keluarga Kim adalah salah satu patner bisnis perusahan Jung sejak lama. Dia akan memilih kabur dari rumahnya jika ternyata putra Kim memiliki rupa jelek!

Sooyeon menatap jengah adiknya yang tengah bermalas-malas ria di atas sofa. Padahal malam ini akan bertunangan. Oh, Sooyeon mengerti. Ini persis dengan drama yang baru saja ia tonton. 2 orang yang di jodohkan di mana yang perempuan ataupun yang laki-laki menolak mentah-mentah akan hal itu. Itu hampir sama persis dengan kasus adik. Ah, bedanya hanya saat mendengar perjodohan itu, muka Taeyeon tetap begitu-begitu saja.

 

PUK!

 

Taeyeon menoleh saat merasakan sebuah tepukkan ringan menyapa bahunya. Taeyeon tetap pada raut mukanya yang malas dan seperti tidak semangat hidup saat melihat Sooyeon. Pikiran su’uzon Taeyeon berjalan. Ia berpikir kemungkinan kakaknya yang bodoh dan menyebalkan ini akan menertawakan dirinya sampai rahangnya sakit. Persis dengan Luhan, sepupunya.

 

“Aku tahu kau sedang memikirkan perjodohan itu, kan?” tebak Sooyeon. Taeyeon menghela nafas dengan pelan. Seakan membenarkan dengan apa yang di ucapkan kakaknya.

“Kau sendiri tau, Soo.” Sahut Taeyeon dengan tidak menyertakan embel-embel ‘eonni’. Oh, itu tidak penting saat ini.

Kedutan tidak terima muncul di kening Sooyeon saat Taeyeon tak memanggil namanya dengan kata ‘eonni’. “Ku kira kau cukup sopan untuk sekedar menyebut nama ku, adik kurang ajar.” kalimat sarkatis yang keluar dari mulut Sooyeon tak berpengaruh apapun pada Taeyeon.

“Aku. Tidak. Peduli.” Ucap Taeyeon dengan penekanan.

Sooyeon hanya memutar bola matanya. “Bagaimana kalau berjalan-jalan sebentar? Ku dengar ada cafe baru yang menyediakan kopi terenak.” Ajak Sooyeon. Dengan harapan sedikit berjalan-jalan Taeyeon akan melupakan masalah perjodohan ini.

“Baiklah. Tapi, kau yang traktir, bagaimana?”

“Terserah.” Sooyeon memutar bola matanya saat melihat seringai Taeyeon. Ini bukan pertanda baik, pikirnya.

 

 

Cafe tersebut tidak berada terlalu jauh dari rumah mereka. Ini cukup menguntungkan karena dua kakak beradik Jung ini merupakan penyuka kopi. Setidaknya, jika mereka ingin menikmati kopi, tak perlu mengeluarkan uang bensin yang banyak karena jarak tempuh yang jauh. Oh, tentu saja dengan pertimbangan. Apakah kopi di sini enak dan menarik. Sooyeon dengan keluar dari mobilnya di ikuti Taeyeon yang sibuk dengan i-phone miliknya. Sesaat kemudian, Taeyeon mengalihkan pandangannya dari i-phone pada gedung cafe di depannya.

 

“Ini Café yang kau maksud?” tanya Taeyeon sembari memandang café di depannya. Seakan-akan menilai interior pada café tersebut.

“Yeah. Kau suka interiornya?” Sooyeon balik bertanya. Taeyeon mengalihkan pandangan dari café pada wajah kakaknya.

“Ini berlebihan, menurut ku”

“Ck! Berlebihan? Ini unik dan temanya juga sangat fantasic. Jika kau mau membuka mata sedikit saja pada dunia mode, kau juga akan sependapat dengan ku.” ucap Sooyeon sembari menyeringai tipis.

“Tidak, terima kasih. Maksud mu aku harus berjalan dan berlenggak-lenggok tidak jelas di atas karpet merah dan melambai tangan genit pada kamera?”

“Tajam seperti biasa, Jung Taeyeon.”

“You know, Jung Sooyeon.”

 

Kedua saudari Jung itu segera masuk ke dalam café dengan interior mengambil latar kerajaan. Sepertinya mengambil latar di kerajaan Inggris. Beberapa pelayan bahkan begitu professional dengan gaun-gaun bak penghuni kerajaan. Tak sedikitpun kerepotan dengan pakaian-pakaian panjang itu.

Music klasik mengalun lembut saat kaki-kaki mereka baru memasuki pintu café. Aroma kayu manis menguar dan menyambut penciuman. Membuat tenang dan serasa benar-benar terlempar jauh ke masa lalu. Pemilik café ini cukup untuk di beri 2 jempol akan kecedarsaanya mengatur apapun yang ada dalam cafenya.

Seorang pelayan wanita berjalan dengan anggun menuju dimana Taeyeon dan Sooyeon berada. Wajahnya lumayan cantik. Taeyeon jadi curiga kalau café ini hanya akan mempekerjakan orang-orang dengan wajah yang menarik. Pasalnya, Taeyeon tak merasa melihat pekerja dengan wajah di bawah standard.

 

“Selamat datang di café kami. Apa ada yang ingin anda pesan, nona-nona?” ucapan ramah di sertai senyuman manis itu membuat Sooyeon dan Taeyeon mengangkat kepala mereka.

“Aku ingin Ristretto Espresso. Ah, apa di sini menyediakan waffle juga atau pancake? Aku agak sedikit lapar.” Taeyeon bertanya sambil mengerling pada Sooyeon. Tidak lupa menyertakan smirk-nya. Sooyeon yang menyadari itu hanya memutar bola matanya.

“Sudah ku duga.” Gumam Sooyeon.

“Tentu saja, nona. Jadi, apa yang ingin anda pesan?”

“Ristretto Espresso, tentu saja. Bawakan saja pancake terbaik di café ini.”

“Baiklah, nona. Lalu untuk nona yang satu ini, apa yang anda inginkan?” Tanya pelayan itu pada Sooyeon.

“Coffee Corretto. Itu saja. Aku sedang kenyang sekarang.” sahut Sooyeon sambil mengelurkan i-phone miliknya.

“Pesanan nona-nona akan segera datang.”

 

Taeyeon dan Sooyeon sama-sama terdiam akan pikiran masing-masing. Sooyeon dengan i-pod-nya dan Taeyeon dengan kekagumannya akan dekorasi café ini. Bahkan pelayan yang membawakan pesanan mereka juga tak mereka hiraukan.

Kepulan asap kopi menguar dari dalam cangkir mereka masing-masing. Menyebarkan aroma kafein yang menusuk penciuman. Bercampur dengan aroma pancake milik Taeyeon. Juga dengan aroma kayu manis yang tentu saja lebih mendominasi atmosfer di café tersebut. Menenangkan sekaligus membuat mual karena bercampur baur.

Taeyeon mengangkat cangkir kopi miliknya. Menyesapnya dengan pelan. Seakan menikmati tetes demi tetes kopi yang menyapa lidahnya. Dengan sebuah garpu, ia mencomot pancake yang terasa masih hangat di depannya. Mengunyah pelan. Dan itu membuat Sooyeon mengernyit akan kelakukan sok anggun dari adiknya.

 

“Berhenti bersikap seolah kau adalah putri kerajaan, Tae. Kau bahkan lebih kasar dari seorang penjagal.” Jengah Sooyeon.

“Apa salahnya? Toh, sebentar lagi aku akan menikah. Dan aku tentu harus bersikap anggun di depan suami ku.” Sahut Taeyeon dengan acuh.

“Kau yakin dengan perjodohan ini? Ku pikir kau akan segera kabur jika calon suami mu nanti akan lebih jelek dari Luhan.” Ucap Sooyeon. Sedikit menahan tawanya.

“Dengan Luhan saja aku sudah muak. Apalagi kalau lebih jelek dari Luhan. Ku pikir, bukan hanya kabur. Tapi aku akan langsung bunuh diri.” Sahut Taeyeon sarkatis.

“Pemikiran yang bagus, adik ku. Dengan begini, harta keluarga Jung akan ku miliki sepenuhnya.” Sooyeon menyeringai pada Taeyeon.

“Bermimpilah akan terjadi hal itu sampai kau gila, kakak ku.” Taeyeon balas menyeringai pada Sooyeon.

 

TING!

 

Dentingan lonceng terdengar. Membuat Jung sister itu menoleh ke arah pintu masuk. Terlihat seseorang dengan pakaian casual miliknya. Berjalan dengan tenang memasuki café tersebut. Beberapa pelayan yang melihatnya membungkukkan badan. Senyum tipis terkembang di bibir mungil orang itu. Pipinya yang chubby membuat wajahnya tampak bulat dan menggemaskan.

Angin seperti menambah efek dramatis akan kehadiran sosok itu. Entah bagaimana ceritanya angin menerbangkan poni yang menjulur di jidatnya. Membuat beberapa pengunjung yang melihatnya seperti jatuh akan pesona mengagumkan sosok itu. Dan itu juga berlaku pada Taeyeon dan Sooyeon. Kedua Jung bersaudara itu mau tak mau sedikit terpana akan sosok yang tidak di kenal itu.

 

“Kau tau, aku seperti menyaksikan penampakkan malaikat secara live di depan mata ku.” Ucap Sooyeon dan di angguki oleh Taeyeon.

“Sayangnya malaikat itu berwujud wanita. Seandainya dia pria, mungkin aku akan jatuh hati padanya.” Sahut Taeyeon. Sooyeon memandang aneh pada adiknya.

“Bagaimana kau bisa tau dia berwujud wanita? Bahkan kita baru melihatnya 5 menit yang lalu.”

“Lihat saja wajahnya yang putih dan mulus. Dia benar-benar wanita yang cantik.” Puji Taeyeon.

“Jangan sok tau. Kau lupa kalau Luhan juga berwajah seperti wanita?” Sooyeon mengingatkan lagi. Taeyeon menggeleng.

“Aku yakin, dia wanita.”

 

 

Hari berlalu dengan cepat. Matahari merambat dengan pelan menuju peradauannya. Sekarang saatnya bagi bulan dan bintang-bintang yang mengambil peran menyinari bumi. Gelapnya malam kini di temani oleh cahaya keperakkan yang di pancarkan sang dewi malam. Tapi, tak membuat keadaan menjadi sunyi. Tapi, bertambah indah dengan di nyalakannya lampu-lampu jalan yang berwarna-warni.

Mungkin sang bintang di atas sana iri akan banyaknya lampu yang di hidupkan. Merasa kalau cahayanya tak begitu di perlukan. Tapi, sang dewi malam cukup bisa berbangga karena setiap orang masih memandang ke arahnya. Sang bintang yang merajuk memilih menyembunyikan dirinya di balik awan. Hanya sesekali memunculkan diri sekedar mengintip.

Kediaman keluarga Jung sudah mulai ramai. Karena acara perjodohan antara putri bungsu keluarga Jung dan putra sulung keluarga Kim akan segera di laksanakan. Para tamu undangan berdatangan dengan pasangan atau teman masing-masing. Berbincang riang dengan rekan mereka ketika bertemu. Dan seperti yang di lakukan oleh kolega-kolega bisnis lainnya, yang mereka bicarakan tak akan jauh-jauh dari bisnis.

 

TING!

 

Tn. Jung mengetuk cangkir minumannya dengan jemarinya. Membuat para undangan yang tadi ribut kemudian menjadi terdiam. Membuat undangan itu menatap Tn. Jung. Tn. Jung tersenyum karena berhasil membuat perhatian terpusat padanya. Di sampingnya ada putri bungsunya yang sedang berdiri dengan tampang datar.

 

“Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya. Selamat datang dan terima kasih karena meluangkan waktunya untuk menghadiri pertunangan anak saya.” Tn. Jung lantas tersenyum pada para undangan. “Malam ini, saya akan melaksanan pertunangan antara anak saya Jung Taeyeon dengan anak Tn. Kim yaitu Kim Minseok.”

 

Riuh tepuk tangan dari para hadirin yang menyambut perkataan Tn. Jung. Sedangkan Taeyeon merasa gerah akan situasi ini. Mana calon tunangannya belum datang. Karena ia sedang meeting rekan dengan bisnisnya. Membuat Taeyeon merasa marah. Apa sebegitu pentingnya meeting itu hingga pria itu terlambat seperti ini.

 

“Mianhamnida. Tadi masih ada meeting dan terjebak macet.”

 

Seorang pemuda tanggung membungkukkan tubuhnya pada siapapun yang ada di ruangan itu. Sepertinya pemuda itu adalah calon tunangan Taeyeon. Tubuhnya masih terbalut pakaian kerjanya. Jas berwarna hitam itu sedikit terlipat di ujungnya.

Taeyeon merasa familiar dengan wajah pemuda itu. Bagaimana senyumnya dan bagaimana pipi chubby itu terpampang di depan matanya. Taeyeon membelalakkan matanya karena pemuda itu adalah orang yang tadi sore di temuainya bersama Sooyeon di café. Tapi, bukankah orang itu seorang yeoja?

Yeoja yang berbalut baju kerja pria itu ―Taeyeon bersikeras menanggap dia adalah yeoja manis― berjalan dengan pasti menuju ke tempat Tn. Kim. Berdiri dengan pasti di samping rekan bisnis ayahnya itu. Taeyeon masih menatap lekat pada yeoja itu. Senyuman terkesan imut itu membuat Taeyeon berdecak kagum.

 

“Appa, siapa yeoja manis itu?” Tanya Taeyeon sembari menujuk orang yang berdiri di samping Tn. Kim. Tn. Jung memandang Taeyeon tidak mengerti.

“Apa yang kau katakan, Taeyeon.? Dia pria. Dia adalah calon tunangan mu.” Perkataan itu membuat Taeyeon terlonjak kaget. Bagaimana bisa namja yang berwajah seperti yeoja itu adalah calon tunangannya.

“Appa, bagaimana bisa calon tunangan ku memiliki wajah seperti yeoja? Kau ingin aku merasa gagal menjadi yeoja, eoh?” protes Taeyeon. Ayahnya memutar bola mata.

“Tentu saja tidak. Secantik-cantiknya dia, Minseok tetaplah seorang namja sejati.” Sahut Tn. Jung.

“Siapa namanya tadi? Minseob?”

“Minseok, Kim Minseok. Sudahlah, kajja selesaikan ini. Aku harus terbang ke Jepang besok.”

 

Taeyeon menatap tidak suka pada ayahnya yang semena-mena. Bagaimana bisa calon tunangannya bahkan memiliki wajah seperti wanita. Taeyeon bersungut tidak setuju karena ia tak ingin kecantikkannya di kalahkan tunangannya. Tapi, ia juga tak bisa menepis kenyataannya kalau Minseok benar-benar seperti putri.

Acara itu berlangsung dengan lancar tanpa ada gangguan apapun. Taeyeon mengutuk bagaimana jemari tunangannya itu begitu lentik dan kurus. Dan sedikit menyesali jemarinya tidak selentik tunangannya. Memang jemarinya bagus. Tapi, tidak secantik Minseok. Taeyeon benar-benar merasa gagal menjadi yeoja.

Sedangkan Sooyeon benar-benar merasakan kram perut karena harus menahan tawanya. Bagaimana ia begitu bahagia melihat penderitaan adiknya. Sooyeon tentu saja sangat ingat dengan wajah Minseok yang ia dan Taeyeon lihat di café. Wajah yang sempat menipu Taeyeon karena kecantikkanya. Sedangkan Taeyeon memandang keji Sooyeon yang menepuk-nepuk keras punggung Luhan untuk melampiaskan tawanya yang tertahan.

Acara itu selesai dengan di tentukannya jadwal pernikahan Taeyeon dan Minseok. Yaitu seminggu setelah acara ini. Taeyeon terkejut. Itu jadwal di mana dia harus bertemu dengan relasi bisnisnya di pulau Jeju. Mereka harus membahas proyek yang akan di kembangkan. Begitu juga dengan Minseok yang harus terbang ke Australia untuk bertemu dengan rekan bisnisnya. Tapi, dengan entengnya ayah Taeyeon mengatakan itu akan di batalkan demi pernikahan ini.

 

 

Waktu berlalu dengan cepat. Begitu banyak kejadian yang di lewati oleh Taeyeon. Termasuk untuk membeli pakaian pengantin yang akan ia kenakan. Dan tentu saja di temani oleh Minseok juga yang akan membeli jas untuk resepsi pernikahan. Membuat Taeyeon dongkol karena pemilik butik yang menanyakan di mana calon suaminya dan mengira ia datang dengan teman wanitanya. Padahal yang mereka kira teman wanitanya adalah calon suaminya.

Gereja tua itu terlihat indah dengan pernak-pernik yang mendukung upacara sacral itu. Taeyeon memandangi dirinya yang sudah di permak dengan berbagai alat make up. Menampilkan wajahnya yang cantik dan manis. Sayangnya, wajah itu datar dan tak menampakkan senyum segaris pun. Menampilkan wajah menakutkan. Di tangannya sebuket bunga mawar putih asli yang senada dengan baju pengantinnya. Ini Taeyeon yang meminta dengan alasan tak ingin tak ada yang palsu di pernikahannya. Sedikit melupakan bahwa Minseok memiliki wajah yang ‘palsu’.

 

CLEK!

 

Pintu yang terbuka menampakkan wajah Sooyeon. Taeyeon berbalik dan menatap Sooyeon yang mengisyaratkan dengan dagunya agar keluar. Taeyeon berbalik dan hampir tersandung dengan gaunya yang panjang dan merepotkan. Mulutnya mengeluarkan umpatan-umpatan kecil tapi mampu di dengar telinga Sooyeon. Sooyeon memutar bola matanya dengan tingkah adiknya ini. Bahkan di hari istimewanya ini, Taeyeon masih bisa mengumpat ria.

Detingan piano mengiringi kedatangan Taeyeon yang di gandeng oleh Sooyeon. Di sana Minseok menunggu dirinya dengan seorang pendeta yang akan meresmikan mereka berdua. Taeyeon menunduk karena kegugupan yang melanda dirinya. Berbagai kekhawatiran menyerang kepalanya. Bagaimana kalau ia gagap saat mengucapkan kata-kata? Bagaimana kalau ia bergetar dan kehilangan kata-kata? Apa yang akan terjadi jika ia ternyata kehilangan konstrasi saat ini?

Sooyeon yang sepertinya mengerti akan kondisi adiknya mengusap lengan Taeyeon lembut. Berusaha menenangkan adiknya yang sepertinya sudah seperti ingin kabur karena kegugupannya. Taeyeon memandang kakaknya sebentar dan Sooyeon memberikan pandangan semangat. Taeyeon menghela nafas sebentar dan berusaha menyakinkan hatinya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dengan mantap ia berdiri di samping Minseok dengan menggenggam erat buket bunga mawar putih itu.

Minseok menatap Taeyeon yang ada di sampingnya. Bagaimana Taeyeon yang terlihat datar itu dan juga cantik secara bersamaan. Minseok tidak mengerti bagaimana iris hazel itu seperti berkilau karena terpaan sinar. Padahal Minseok berpikir iris almond-nya jauh lebih indah dari hazel itu. Tapi, kilau yang di hasilkan oleh sang Hazel itu begitu cantik.

Merasa di perhatikan, Taeyeon mendongak dan mendapati wajah imut dan cantik milik Minseok yang menatapnya dalam diam. Taeyeon bersungut-sungut karena ia merasa bahwa Minseok sangat cantik karena pakaian yang membalutnya. Taeyeon jadi berpikiran buruk karena Minseok terus menatapnya lekat tanpa berkedip. ‘Jangan-jangan ia berpikir bagaimana wajahnya terlihat lebih cantik dari wajah ku! Tuhan, apa salahku sehingga memiliki suami cantik seperti ini?’ tangis batin Taeyeon.

 

“Apa kita bisa memulainya sekarang?” Tanya pendeta itu pada Minseok dan Taeyeon. Membuat dia sejoli yang tadi saling menatap mengalihkan pandangan mereka dan menatap sang pendeta. Lantas keduanya mengangguk.

“Palliwa.” Gumam Taeyeon tanpa sadar. Tapi, cukup di dengar Minseok.

“Baiklah, kalau ada yang merasa keberatan dengan di adakannya penyatuan dua insan manusia ini, silahkan angkat tangan dan bantahlah. Atau diam untuk selamanya.”

 

Hening. Tak ada satupun yang bereaksi dengan perkataan sang pendeta. Itu berarti mereka semua menyetujui akan terjadinya upacara sacral itu. Pendeta itu merasa puas karena itu artinya, ia akan segera meresmikan dua orang ini. Di hadapan Tuhan yang agung. Saling mengucap janji suci. Dan dalam beberapa saat setelahnya, mereka semua di pandang sah dalam ikatan suci bernama pernikahan.

Acara itu tak serta merta selesai. Taeyeon dan Minseok harus tetap berada di sana. Sembari menyambut tamu-tamu yang sudah datang. Tapi, kedua suami-istri itu lebih memilih untuk berpisah menuju rekan mereka masing-maisng. Taeyeon sedikit mengutuk akan pakaiannya yang merepotkannya dalam bergerak. Dengan susah payah ia menghampiri teman-temannya.

 

“Oh lihat siapa yang datang. Nyonya Kim yang baru saja menjadi istri orang.” Sorak Sooyoung dengan energy berlebihan. Dirinya segera melompat memeluk Taeyeon bagai orang kesurupan. Mengabaikan Taeyeon yang sesak nafas dan minta di lepaskan.

“Soo… kau ingin membunuh ku?” dengan susah payah Taeyeon berucap di dalam dekapan maut seorang Choi Sooyoung. Sedangkan sang pelaku segera melepas pelukkannya dan tertawa canggung.

“A-ah, mian, Taeyeon-ah. Kau tau, kan? Aku terlalu bahagia untuk ini.” Ucap Sooyoung sambil tertawa ringan.

“Yang menikah aku, dan yang bahagia diri mu. Ini tidak masuk akal, sungguh.” Sahut Taeyeon sambil memutar bola matanya.

“Selamat, Taeyeon-ah.” Tiffany menjabat tangan Taeyeon dan memeluknya sebentar.

Taeyeon tersenyum. Setidaknya, masih ada temannya yang agak ‘normal’. “Gomawo, Tiffany-ah.”

“Ya, cepat-cepatlah berikan aku keponakan.” Sooyeon yang tiba-tiba datang menyenggol bahu Taeyeon untuk menggoda adiknya.

Taeyeon dengan cepat menjitak kepala kakaknya. “Kau pikir itu tidak butuh proses, hah?”sewot Taeyeon. Sooyeon tertawa.

“Ya, Taeyeon-ah. Kenapa tadi kau tidak melempar bunganya?” tanya Hyoyeon.

“Ah, aku menyukai bunganya. Sepertinya sayang sekali kalau Cuma untuk di lempar-lempar, kan?” sahut Taeyeon sambil menatap bunga di tangannya.

“Kau bisa meminta suami mu nanti menanamkan bunga itu untuk mu.” Saran Tiffany.

“Benar juga. Ku pikir pria cantik itu tidak akan keberatan dengan permintaan ku.” Ucap Taeyeon dan segera tergelak.

 

 

Suasana kamar itu begitu hening. Baik Taeyeon maupun Minseok begitu sibuk dengan kegiatan masing-masing. Di depan mereka kini ada laptop milik mereka. Mata mereka seperti terkunci pada layar laptop masing-masing. Suara ‘tak-tik-tuk’ yang berasal dari ketukkan jemari pada tombol laptop menjadi backsound tersendiri bagi kamar itu. Menambah kesan suramnya.

Taeyeon melirik pada Minseok yang masih terus terpokus pada laptopnya. Sebenarnya, pekerjaan Taeyeon sudah rampung dari tadi. Tapi, karena ia tak tahu akan melakukan apa setelahnya, membuat Taeyeon membuka-buka website miliknya. Tapi, ternyata ia berakhir bosan. Taeyeon menghela nafas sebentar.

Ngomong-ngomong, ini malam pertama mereka, kan? Taeyeon seketika memerah saat otaknya mengukir kata itu. Malam pertama, ya? Yang kata orang adalah malam di mana semua orang mengharapkan kedatangannya. Berbagi kenikmatan dengan sang suami. Dan, astaga! Sejak kapan otaknya menjadi mesum begini. Taeyeon menggelengkan kepalanya. Berusaha menghilangkan pikiran buruk di otak sucinya.

Sekali lagi Taeyeon melirik pada Minseok yang sepertinya hampir selesai dengan perkerjaannya. Terlihat Minseok sudah meng-save file di laptopnya dan mengklik tanda ‘x’ dan me-refresh laptopnya. Setelah itu men-shut down laptopnya. Taeyeon masih menatap Minseok yang kini melakukan perenggangan dengan tubuhnya. Taeyeon sedikit terpesona akan tubuh kekar Minseok. Sepertinya menyenangkan berada di pelukkan lengan kekar itu.

 

PLAK!

 

Dengan spontan Taeyeon menampar kepalanya sendiri. Bagaimana bisa ia membayangkan hal yang tidak-tidak. Ini benar-benar seperti bukan dirinya. Minseok yang mendengar suara ‘plak’ aneh yang berasal dari belakangnya pun menoleh. Mendapati Taeyeon yang memegang kepalanya sambil menatapnya. Membuat Minseok menjadi heran.

 

“Waeyo?”

“Aniya. Tadi ada nyamuk di kepala ku.” Sahut Taeyeon asal.

“Aku cukup yakin kalau tak ada nyamuk yang mendengung di telinga ku selama aku berada di sini.”

“Itu kau. Bukan aku.”

 

Minseok menangkat bahunya tidak perduli. Lantas ia menutup laptopnya dan berjalan menuju lemari. Dan meletakkan di dalam lemari itu. Sedangkan Taeyeon sendiri begitu malas untuk meletakkan laptop yang ada di pangkuannya itu. Yah, Taeyeon memang duduk di atas ranjang dengan memangku laptop putihnya. Berbeda dengan Minseok yang berada di meja kerjanya. Karena malas itulah, Taeyeon meletakkan laptopnya di atas nakas samping ranjang.

Taeyeon hampir saja menarik selimut dan akan memejamkan matanya saat ia merasakan pergerakkan di sampingnya. Minseok yang kini mencoba untuk berbaring. Taeyeon sontak terkejut dan bangkit berduduk. Menggenggam erat selimutnya. Reaksinya kini persis seperti seorang wanita yang hendak di cabuli. Minseok menatapnya heran lagi.

 

“Waeyo?”

“Ke-kenapa kau ti-tidur di sini?”

“Tentu saja. Karena ini juga kamar ku, kan?”

“Ta-tapi―”

“Sudahlah. Aku tau apa yang sedang kau pikirkan. Dan aku tidak akan melakukannya. Hari ini melelahkan dan aku harus bangun pagi besok. Selamat malam.”

 

Suasan kembali hening sesaat setelah Minseok berbaring dengan membelakangi Taeyeon. Bahunya naik turun dengan teratur menandakan kalau Minseok sudah terlelap. Meninggalkan Taeyeon yang masih terjaga dan menatap punggung tegap Minseok. Walaupun wajah Minseok seperti wanita, ternyata tubuhnya tetap seperti pria sejati. Apa mungkin Minseok rajin berolahraga sehingga memiliki tubuh atletis seperti itu? Berbeda dengan Luhan, sepupunya yang memiliki tubuh kurus menjurus ke kerempeng.

Dengan gerakkan pelan seakan takut membangunkan Minseok, Taeyeon mencoba untuk berbaring kembali. Entah kenapa perasaannya sedikit membuncah dan gugup. Hey, ini pertama kalinya dia tidur bersama laki-laki, ingat? Dan sungguh, Taeyeon merasakan keringat sebesar biji jagung mengalir di keningnya.

 

SRET!

 

GREB!

 

Hampir. Taeyeon hampir berteriak nyaring kalau saja tangan Minseok tak membekap mulutnya. Bagaimana Taeyeon tidak terkejut, karena Minseok membalik tubuhnya dan mendekap tubuh mungilnya. Membuat wajah Taeyeon bertabrakkan dengan dada Minseok yang bidang. Wajah Taeyeon segera memanas. Dapat ia cium parfume beraroma vanilla yang menguar di tubuh Minseok.

 

“Jangan berteriak dan segeralah tidur. Aku memang suka memeluk sesuatu sebelum tidur. Karena tidak ada guling di sini, maka kau harus menjadi penggantinya. Selamat tidur.” Gumam Minseok dengan pelan. Tapi, mampu di tangkap telinga Taeyeon.

Taeyeon mengangguk dalam pelukkan Minseok. “Selamat tidur.” Entah karena apa, Taeyeon menyukai mendengar detak jantung Minseok yang teratur. Menyukai ketika Minseok melingkarkan tangannya di pinggang ramping Taeyeon. Taeyeon sudah pernah memikirkan ini, kan? Di peluk lengan kekar Minseok itu menyenangkan. “Selamat malam, Kim Minseok.” Ucap Taeyeon lagi sambil memejamkan matanya.

“Hm…. Selamat malam, Kim Taeyeon.”

 

 

Pagi dengan cepat menampakkan dirinya. Matahari berambat malas untuk segera menunaikan pekerjaannya dalam menyinari dunia. Cahayanya yang hangat menyapa wajah bumi yang segera menyambut kedatangan sang surya. Beberapa penduduk bumi gembira karena melihat kehadiran matahari di pagi ini. Terutama burung-burung yang berkicau dengan riang dan bersahut-sahutan.

Jalan masih lenggang. Karena ini masih pagi. Udara sekitar juga belum di cemari oleh polusi udara. Tapi, dengan cepat semua itu berubah. Perlahan namun pasti, deru mesin mulai meraung dan menguasai jalan-jalan. Membuat kepadatan yang tak dapat di hindari. Dan mengotori udara dan mencampurnya gas-gas buangan yang beracun. Merusak pernapasan dan menipiskan lapisan ozon di langit.

Taeyeon mengerjab-erjabkan matanya dengan perlahan saat di rasakannya cahaya matahari menerpa wajahnya. Sampai akhirnya Taeyeon berhasil membuka seluruh kelopak matanya. Mendapati dirinya masih berada di pelukkan Minseok yang hangat. Wajah Taeyeon kembali memanas. Bagaimana ia kemudian membayangkan kalau sepanjang malam ia berada di pelukkan Minseok.

Dengan perlahan, Taeyeon menjauhkan tangan Minseok di pinggangnya. Mencoba sepelan mungkin agar pemilik tangan tak perlu terbangun akan tindakkannya. Taeyeon mengerti. Ini hari pertamanya menjadi seorang istri. Dan sudah seharusnya ia menjalankan kewajibannya sebagai istri yang baik. Taeyeon yang berhasil keluar dari kungkungan lengan Minseok segera meleset ke kamar mandi. Ia hanya mencuci muka dan gosok gigi.

Taeyeon membuka lemarinya. Melihat dengan seksama. Ternyata pakaian dirinya dan Minseok sudah di siapkan. Taeyeon mengambil sebuah jas, kemeja, dan celana yang berwarna hitam. Hanya kemejanya saja yang berwarna putih. Sebuah dasi berwarna hitam dengan aksen garis-garis putih ia ambil juga. Karena sebagai istri yang baik, Taeyeon juga harus menyiapkan pakaian suaminya.

Dalam hatinya, Taeyeon sudah berniat membangunkan Minseok. Tapi, wajah Minseok terlihat sangat lelah. Apa yang di lakukan pria ini? Wajahnya tampak begitu lelah dan Taeyeon jadi tidak tega membangunkannya. Taeyeon tersenyum melihat wajah damai Minseok yang seperti kucing. Karena gemas, Taeyeon mencubit pelan pipi chubby Minseok. Dan segera berlari keluar karena merasakan wajahnya memanas akibat perbuatannya itu.

Taeyeon akhirnya sampai di dapur rumahnya. Ah, ini memang rumahnya bersama Minseok. Hadiah pernikahan dari eommanya dan eomma Minseok. Sebuah rumah di distrik Gangnam. Sebuah distrik yang merupakan tempat kalangan elit bermukim. Dan tentu saja keluarga Jung dan keluarga Kim adalah orang terpandang. Sehingga bukan hal aneh kalau mereka dapat membeli salah satu rumah di sana.

Dengan mengikat rambut panjangnya dengan ikatkan kuda, Taeyeon mengambil apron dan mengenakannya. Taeyeon melihat-lihat ke dalam kulkasnya. Begitu bersyukur karena eommanya dan eomma mertuanya sudah menyiapkan bahan-bahan makanan di kulkas. Sehingga Taeyeon tak perlu repot berpikir akan membeli bahan makanan lagi. Setelah melihat-lihat, Taeyeon berpikir akan membuat roti panggang saja dengan segelas susu hangat. Itu cukup untuk sarapannya bersama Minseok.

Minseok keluar dari kamar dengan pakaian yang tadi di siapkan oleh Taeyeon. Berjalan pelan menuju ruang makan. Melihat Taeyeon yang sedang sibuk mengatur makanan. Minseok tersenyum tipis melihatnya. Segera ia menarik sebuah kursi dan duduk di sana. Taeyeon menatap Minseok dan segera mendorong sebuah piring yang sudah berisi dua lembar roti panggang dengan selai coklat dan juga mendorong segelas susu hangat.

 

“Aku tidak tahu apa yang biasanya kau makan setiap pagi. Maaf, kalau hanya ini yang bisa ku siapkan.” Ucap Taeyeon sembari menatap Minseok.

Minseok hanya tersenyum tipis mendengarnya. “Ku dengar naluri wanita itu sangat peka dan selalu benar. Dan kau berhasil menebak apa yang ku makan tiap pagi. Terima kasih.” Sahut Minseok.

Taeyeon terkejut. “Jadi, aku benar?”

“Tentu saja, istri ku. Kau benar.”

 

Godaan Minseok dan sukses membuat Taeyeon bersemu merah. Dengan segera Taeyeon mendudukkan dirinya dan memakan sarapan bagiannya. Sarapan itu berlangsung tenang dan berakhir dengan Minseok yang akan segera berangkat bekerja.

 

“Ku pikir, sebaiknya aku berangkat sekarang. Jam 10 aku akan meeting.” Ucap Minseok. Dan segera berdiri. Taeyeon ikut mengantarkan Minseok ke depan pintu rumahnya. “Aku pergi sekarang. Sampai jumpa di waktu makan malam.” pamit Minseok. Taeyeon hanya menangguk dengan canggung.

 

CUP!

 

Taeyeon membelakkan matanya karena tidak percaya. Minseok mencium keningnya. Hey, tapi apa salahnya? Toh Minseok adalah suaminya sekarang. Tapi, sumpah demi rambutnya yang selalu ia rawat, Taeyeon bahkan baru sekarang memiliki pengalaman di cium pria. Sedangkan Minseok tersenyum melihat ekspresi Taeyeon. Dengan tangannya Minseok menepuk-nepuk pipi Taeyeon.

 

“Aku pergi dulu, oke?”

 

Bahkan setelah Minseok berlalu dengan mobilnya, Taeyeon masih mematung di tempatnya. Sampai akhirnya tersadar sendiri dan baru ingat kalau ia akan mengadakan rapat dengan dewan redaksi. Astaga, Taeyeon segera melihat jam dinding. Dan itu sudah pukul 8 lewat. Dengan segera Taeyeon meleset pergi ke kamar mandi.

 

 

Kebosanan melanda Taeyeon. Matanya menatap mengantuk pada Park Sajangnim yang masih sibuk mengoceh tentang apapun itu. Bahkan Taeyeon tak yakin mendengarkan apa yang sedang di ceramahkan oleh Park tua itu. Semuanya terdengar seperti dengungan lebah menurut Taeyeon. Dan kepala Taeyeon juga terantuk-antuk menahan kantuk yang seperti ingin mengusainya.

 

“Mm.. nona Jung, ah, maksud ku, Nona Kim. Apa kau mendengarkan ku?”

 

Si tua Park itu sepertinya sadar kalau ada orang yang tidak sedang benar-benar memperhatikannya. Dan orang itu berada di arah jam 9. Taeyeon sendiri sepertinya tidak mendengar apa yang di bicarakan oleh Park sajangnim. Yang di pikirkannya adalah kapan ia bisa keluar dari ruangan pengap ini. Rasanya cacing di perutnya sudah meronta ingin di beri makanan. Sepertinya, Taeyeon harus segera mengunjungi kantin kantor setelah rapat menyebalkan ini. Mungkin, ia bisa mengajak Minseok untuk bertemu dan makan siang bersama.

 

“Nona Kim… apa yang kau pikirkan?”

 

Tanpa sadar, Taeyeon malah tersenyum sendiri. Membayangkan bagaimana ia akan bertemu Minseok. Ah, apa mungkin seluruh rekan kerjanya akan mengira ia sedang bersama dengan teman wanitanya. Persis seperti pemilik butik tempat ia membeli gaun pengantin untuk pernikahannya kemarin. Dan setelah itu, Taeyeon akan bahagia mengejek Minseok dengan sebutan ‘cantik’.

 

BRAK!

 

Taeyeon tergagap karena suara gebrakkan keras yang berasal dari meja di depannya. Sesaat Taeyeon hendak mengutuk orang yang sudah menghancurkan imajinasinya. Tapi, Taeyeon terdiam di tempatnya saat melihat wajah Park Sajangnim yang seperti marah. Oh, jangan lupa untuk menambahkan efek menyeramkan dan petir yang menyambar sebagai background. Taeyeon menelan ludahnya diam-diam.

 

“Nona Kim, ku lihat, kau tidak focus sama sekali.” Suara Park sajangnim yang berat seperti mengintimidasi Taeyeon.

Taeyeon tertawa canggung. “Ehehe, mianhamnida Park sajangnim. Aku hanya sedikit kurang enak badan dan tenggorokkan ku terasa sakit.” Dan Taeyeon memulai aksi batuk palsunya sebagai efek dramatis.

Park sajangnim menghela nafas. “Baiklah. Rapat ini kita sudahi dulu. Besok siang akan di lanjutkan kembali. Jangan ada yang terlambat. Sampai jumpa besok semuanya. Semoga hari kalian menyenangkan.” Dan setelah Park sajangnim itu berbicara, seluruh orang yang berada di dalam ruangan itu ―tentu saja Taeyeon yang paling antusias― segera keluar dari ruangan itu menuju tempat yang ingin mereka datangi selanjutnya. Dan untuk Taeyeon kantin adalah tujuan utama saat ini.

 

 

Penikahan yang di jalani oleh Taeyeon dan Minseok sudah memasuki usia 10 bulan. Semuanya di lalui dengan tenang dan damai. Yah, karena mereka sama-sama seorang business, maka mereka jarang berada di rumah. Dan suasana keduanya memang tak secanggung dulu. Tapi, mereka tidak pernah melakukan apapun. Minseok sendiri juga hanya suka mencium kening Taeyeon ketika akan berangkan kerja. Atau kalau Minseok terlalu tergesa, ia akan pergi tanpa membangunkan Taeyeon. Taeyeon sendiri tidak pernah keberatan.

Makan malam kali ini terasa tenang seperti biasa. Dan ini merupakan keberuntungan karena masing-masing dari mereka tak terjebak dengan padatnya jadwal sebagai pembisnis. Karena malam ini mereka bisa menghabiskan makan malam bersama. Dentingan sendok lah yang meramaikan suasana makan malam mereka. Selain ‘tik-tok-tik-tok’ dari jam yang ikut campur. Karena baik Minseok maupun Taeyeon seperti tenggelam dalam kegiatan makan mereka.

 

“Taeyeon-ah, eomma tadi datang ke kantor ku. Dan beliau berkata kapan kita akan memberikan beliau cucu.”

“Ap― uhuk! Uhuk!”

 

Taeyeon yang terkejut tidak ingat kalau sedang minum. Alhasil ia tersedak air yang ia minum. Minseok menghampiri Taeyeon yang sepertinya akan mati tersedak. Menepuk-nepuk pelan punggung Taeyeon untuk meredakan batuk yang menyerang Taeyeon. Minseok jadi sedikit merasa bersalah karena sudah berkata seperti itu. Tapi, lagipula Taeyeon kenapa harus selebay itu. Apa itu benar-benar mengejutkan? Tapi, Minseok ingat ia juga sudah menyemburkan kopinya di berkas-berkas di atas meja kantornya saat mendengar perkataan eommanya.

 

“Gwenchana?” tanya Minseok saat batuk Taeyeon mereda. Taeyeon hanya mengaggukkan kepalanya.

“Astaga. Aku hampir merasa kalau aku ingin mati.” Gumam Taeyeon pelan. Tapi, masih mampu di dengar Minseok.

“Maafkan aku. Seharusnya aku tak berkata seperti tadi ketika kau minum. Untuk saja saat itu kau sedang tidak makan. Mungkin akan lebih berbahaya kalau akhirnya kau menelan sendok.” Ucap Minseok. Taeyeon mendelik padanya. Dan Minseok melemparkan pandangan bersalah.

“Sebenarnya eomma juga sudah membicarakan ini 1 minggu yang lalu. Ku pikir ini menyebalkan. Apa mereka tidak tahu kalau membuat anak itu tak semudah membalikkan telapak tangan? Apalagi sekarang Sooyeon eonni bahkan sudah hamil.” Sungut Taeyeon mengingat perkataan eommanya 1 minggu yang lalu. Yah, Sooyeon melangsungkan pernikahan 1 bulan setelah Taeyeon. Bedanya Sooyeon menikah dengan orang di cintainya. Bukan seperti Taeyeon yang berakhir dengan perjodohan. Dan Taeyeon sedikit kesal karena kakaknya itu sudah hamil. Dan eommanya sering complain tentang ini.

“Ku pikir, memang sudah waktunya memberi mereka keturunan.”

“Mwo?! Hey, Minseok-ah, kau sedang tidak memikirkan apa yang sedang ku pikirkan, bukan?” Taeyeon panic sendiri saat menyadari senyuman misterius Minseok.

“Hey, kita bahkan melewati malam pertama kita, kan?”

Taeyeon merona saat Minseok mengatakan malam pertama. Sumpah demi apapun, ia belum siaaaap! “Minseok-ah, sebaiknya kita pikirkan lagi, oke?”

“Apa yang mesti kita pikirkan, Taeyeon-ah. Dengan kita segera memberi mereka keturunan, maka mereka akan berhenti berkicau.”

“A-apa?! Hey, ini butuh kesiapan, tahu! Kau pikir ini sembarangan, yah?!”

“Ck!”

“Kyaaaaa! Apa yang kau lakukan, Minseok-ah?!!!”

 

 

Hari ini hari minggu. Hari yang tepat untuk bermalas-malasan setelah 6 hari penuh mengerjakan segala aktivitas. Taeyeon menggeliat tidak nyaman dalam selimutnya. Ini masih pagi dan Taeyeon ingin bermalas-malasan seharian. Maka dengan segera ia menarik dan merapatkan selimutnya. Sebelum sebuah tepukkan membuatnya mengerang tidak senang.

 

“Hey, putri tidur, ini sudah pagi. Kau mau tidur sampai kapan?”

 

Taeyeon menenggelamkan kepalanya karena terusik tepukkan Minseok. Memejamkan matanya rapat-rapat. Oh ayolah, hanya hari ini saja ia bisa bermalas-malasan. Bisakah ia mendapatkan kesenangannya hari ini. Taeyeon sungguh tak ingin bangun. Dunia, tolong mengerti keadaan Taeyeon!

Tapi, Minseok sepertinya sendiri bukanlah orang yang mudah menyerah. Ia mengguncang-guncang bahu Taeyeon agar wanita ini terbangun. Tapi, Taeyeon juga lebih gigih lagi dan tak bangun. Minseok sedikit frustasi karena wanita ini jauh lebih malas sekarang. Entah malas bangun pagi, malas memasak, malas melakukan apapun. Bahkan malas mandi. Beruntung Taeyeon tidak pernah malas bernafas.

 

“Taeyeon-ah, ini sudah jam 9 pagi, demi Tuhan. Kau ingin tidur sampai siang? Dan tidak mandi?”

“Astaga, kenapa kau cerewet sekali. Ini hari libur! Bisakah aku mendapatkan kesenangan ku sekaraaaaang?!”

 

Dan ini salah satu sifat baru Taeyeon yang di benci Minseok. Bagaimana sekarang Taeyeon yang suka marah-marah ataupun bersikap menyebalkan. Minseok benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dengan istrinya ini. Minseok ingin kembali membangukan Taeyeon saat ia merasakan mual di perutnya. Minseok membelalakkan mata dan menutup mulutnya. Dengan cepat dirinya berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.

Taeyeon yang sadar Minseok yang tidak lagi menggerecokinya membuka selimut yang menutupi kepalanya. Di lihatnya Minseok sedang sibuk di kamar mandi. Karena penasaran, Taeyeon memilih untuk bangkit dan menghampiri Minseok. Padahal ia masih ingin bermesraan dengan guling. Tapi, sepertinya keadaan suaminya lebih penting.

 

“Minseok-ah, apa yang terjadi?” tanya Taeyeon sambil menyembulkan kepalanya.

“Entahlah, aku merasa sangat mual.” Jawab Minseok.

“Lebih baik kau ke dokter saja. Apa jangan-jangan ada yang salah dengan makanan mu? Padahal aku memasakkan yang baik-baik saja untuk mu.”

Minseok memutar bola matanya. “Memasakkan? Bukannya sekarang aku yang lebih sering memasak? Karena kau itu pemalas sekarang.” ucap Minseok sarkatis.

Taeyeon tertawa. “Ah, benar juga. Ahaha, ya sudah, kajja kita ke dokter.” Taeyeon menarik tangan Minseok. Tapi Minseok lebih dahulu menahannya.

“Tunggu sebentar, kau yakin akan ke dokter dengan baju tidur?”

“Yakin, kajja!”

 

Minseok harus menahan malunya sepanjang koridor karena semua orang menatap aneh pada Taeyeon yang memakai pakaian tidur. Lengkap dengan sandal tidur miliknya. Untungnya Taeyeon tadi sempat di suruh Minseok cuci muka dan gosok gigi terlebih dahulu. Tapi, tetap saja dengan penampilan seperti ini, membuat Taeyeon menjadi pusat perhatian.

Sedangkan Taeyeon sendiri tak sedikitpun merasa malu atas apa yang terjadi. Dengan santai ia menarik tangan Minseok menuju ruang rawat. Menerobos orang-orang yang antri. Dan kelakukannya itu sukses menuai decak kesal orang-orang. Minseok sudah ingin mengubur dirinya dalam-dalam akibat kelakuan istirnya ini. Sungguh beruntung saat itu ada sebuah rumah sakit yang sedang buka.

 

“Dokter!”

 

Teriakkan Taeyeon ini membuat dokter yang sedang meneliti sesuatu di depannya terlonjak kaget. Terlebih lagi penampilan Taeyeon sekarang yang lumayan menggelikan. Bagaimana ia yang sedang memakai pakaian tidur berdiri di depan pintu masuk sembari menggandeng Minseok. Menatap dokter tersebut dengan tatapan lurus seakan mengintimidasi. Sang dokter cepat-cepat bangkit dan menyambut mereka.

 

“Ada yang bisa saya bantu, nyonya?” tanya dokter itu dengan ragu.

“Ini, suami ku mengalami mual-mual. Apa ia salah makan?” Taeyeon mendorong tubuh Minseok ke depan.

“Silahkan berbaring sebentar, tuan. Kita akan memulai pemeriksaannya.” Suruh dokter itu sembari menunjuk sebuah ranjang yang akan di gunakan Minseok untuk berbaring.

“Hey, dokter. Setelahnya kau bisa memeriksa ku, kan?”

“Apa anda juga sakit, nyonya?”

“Ku pikir aku sering lelah akhir-akhir ini. Suami ku bilang aku pemalas dan juga lebih sering cerewet.”

“Baiklah. Setelah suami anda, maka aku akan memeriksa anda juga.”

 

Sepasang suami-istri itu duduk dengan tenang di kursi setelah di periksa. Mereka sedang menunggu hasil diagnose dokter. Minseok mungkin terlihat tenang-tenang saja. Sedangkan Taeyeon terlihat gelisah di tempatnya. Taeyeon meremas-remas tangannya dan mengigiti bibirnya karena kegelisahan. Minseok mengelus punggung Taeyeon berusaha menenangkannya.

Dokter itu kembali dengan sebuah kertas di tangannya. Kertas diagnose yang menyatakan apa yang terjadi dengan mereka. Dokter itu datang dengan senyumannya. Membuat Minseok dan Taeyeon heran. Memangnya ada yang lucu? Oh, mungkin karena penampilan Taeyeon sekarang. Minseok jadi malu kembali.

 

“Tuan Kim, anda baik-baik saja. Mungkin hanya masuk angin atau sejenis dengan morning sick. Lalu―”

“Apa? Morning sick? Apa kau ingin mengatakan suami ku mengalami gejala hamil?” belum sempat dokter itu menyelesaikan perkataannya, Taeyeon sudah memotongnya. Minseok mendelik karena mendengar perkataan Taeyeon. Hey, walaupun ia berwajah seperti wanita, Minseok menjamin ia 100% pria! Minseok nemjitak kepala Taeyeon. “Aw!” ringis Taeyeon.

“Diamlah dan dengarkan dokternya berbicara.”

“Baiklah, lalu ada kabar gembira untuk kalian. Selamat, karena kalian sukses menjadi orang tua. Nyonya Kim positif hamil 1 bulan.”

 

Perkataan selanjutnya yang keluar dari mulut dokter itu membuat Taeyeon dan Minseok terbelalak kaget. Hamil? Taeyeon hamil? Minseok dan Taeyeon saling menatap satu sama lain. Bagaimana bisa? Padahal Taeyeon tak mengalami gejala hamil seperti perempuan seperti biasanya.

 

“Bagaimana bisa? Istri ku bahkan tidak mengalami gejala orang hamil seperti biasanya.” Tanya Minseok. Dokter itu tersenyum.

“Itulah uniknya keluarga kalian, tuan Kim. Nyonya Taeyeon tidak akan mengalami morning sick karena sepertinya gejala itu pindah ke anda. Tapi, sepertinya perubahan sifat dan lain-lain tetap di alami oleh nyonya Kim.” Jelas dokter itu.

“Ahaha! Rasakan itu, tuan Kim! Kau yang akan mengalami morning sick!” entah kenapa Taeyeon malah bahagia sendiri saat mendengar dokter mengatakan kalau Minseok yang akan mengalami morning sick.

“Kalau begitu kami pemisi, dokter. Gamsahamnida.”

 

Minseok dengan segera menyeret Taeyeon untuk segera pulang. Lebih baik mereka membicarakan hal ini di rumah saja. Daripada membuat keributan dengan kelakuan Taeyeon berbalik menjadi lebih cerewet, menyebalkan, dan juga seenaknya ini. Sudah cukup dengan Minseok malu karena Taeyeon mengenakan pakaian tidur lengkap ke rumah sakit. Minseok cukup sadar diri untuk tidak mempermalukan dirinya kembali.

Ternyata, perjalanan menuju rumah tak semulus yang di kira. Karena sebagaimana orang hamil biasanya, maka akan melewati tahap mengidam, kan? Tahap di mana menurut orang-orang ―yang Minseok yakin, sebagian besar wanita mengatakan― adalah saat yang tepat untuk menyiksa suami. Dengan berbagai macam keinginan aneh yang selalu terlontar keluar. Para wanita akan menggunakan ‘bayi’ mereka sebagai senjata, dan BOM! Maka para suami akan bersedia menjadi budak mereka.

Maka begitu juga yang terjadi pada Taeyeon. Minseok cukup yakin kalau istrinya dari parkiran rumah sakit masih terdiam. Tapi saat mobilnya memasuki jalan raya, istrinya merengek untuk di belikan sebuah mainan. Bukan mainan biasa, karena Taeyeon ingin sebuah mainan di toko dan itu bukan untuk di beli. Minseok memijit keningnya dengan keras mendengar permohonan Taeyeon yang di masuk akal.

 

“Ayolah, Minseok-ah. Aku ingin mainan itu Please, ku mohon. Jebal, belikan, ne? Ne? Ne?” Taeyeon memohon-mohon dengan tampang melas dan penuh aegyo untuk merayu suaminya ini agar bersedia memberikan apa yang ia pinta.

Minseok menatap aneh pada Taeyeon. “Tapi, Taeyeon-ah. Itu bukan untuk di beli. Melainkan untuk bermain di sini. Apa tak ada yang kau inginkan selain bom-bom car itu? Lagipula, di mana kau bisa memainkannya?” Ucap Minseok memberi pengertian Taeyeon. Tapi, Taeyeon lebih keras kepala.

“Tidak mau. Pokoknya aku mau bom-bom car itu. Kau tega dengan ku?” Taeyeon sampai mengeluarkan raut wajah ingin menangis agar bisa di kabulkan permintaanya.

“Tidak bisa, Taeyeon-ah. Ku mohon mengertilah.” Desah Minseok frustasi.

 

Taeyeon yang tahu kalau permintaannya tak akan di kabulkan pun merajuk. Ia menekuk wajahnya dan berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya ada lantai toko itu. Minseok menghela nafas lelah karena kelakukan Taeyeon tersebut. Tapi, mau bagaimana lagi. Bom-bom car keinginan Taeyeon memang tak dapat di beli. Dan mereka akan memakainnya di mana?

Dengan memijit keningnya yang berdenyut sakit, Minseok bejalan menuju mobilnya yang ia parkir di depan. Terlihat di dalam mobil itu, Taeyeon yang masih merajuk karena keinginannya tidak terpenuhi. Minseok sendiri bingung harus bagaimana. Maka ia hanya bisa melangkah menghampiri mobilnya. Tapi, mobilnya terasa aneh. Pintunya tidak dapat di buka. Minseok mencoba mengetuk pintu kacanya dan Taeyeon menatapnya sengit. Taeyeon menurunkan sedikit kaca mobil.

 

“Kau naik taxi! Aku tidak mau satu mobil dengan mu!” habis berkata seperti itu, Taeyeon dengan cepat menutup kaca itu dan segera melajukan mobil milik Minseok. Ya, itu mobil milik Minseok. Bagimana bisa Taeyeon mengatakan tidak ingin 1 mobil dengan Minseok sedangkan mobil itu punya Minseok. Akhirnya dengan terpaksa, Minseok menyetop sebuah taxi jurusan ke rumahnya. Beruntung Minseok membawa dompetnya. Kalau tidak, mungkin Minseok akan berakhir dengan jalan kaki.

 

 

Sebagai seorang suami, Minseok mestinya pantas mendapat sebuah penghargaan tinggi atas kesabarannya menghadapi Taeyeon yang sedang hamil. Karena wanita itu menjadi 100 kali lipat lebih menyeramkan dan ganas dari biasanya. Bukan hanya karena mood swing-nya yang selalu berubah-rubah di setiap detik, bukan pula hanya karena Taeyeon mengidam yang aneh, tapi juga kelakuannya. Taeyeon sungguh pemalas dan lebih sering berada di atas tempat tidur. Dan Minseok terpaksa mengerjakan pekerjaan rumah. Di bantu dengan maid, tentu saja.

Belum lagi kalau Taeyeon berada dalam moodnya yang sangat-sangat tidak stabil. Ia akan memarahi apapaun yang lewat di depannya. Bahkan Minseok yakin kepalanya pernah terkena lemparan remot oleh Taeyeon karena tidak sengaja lewat di depan Taeyeon saat istrinya itu marah-marah sendiri. Dan Taeyeon juga melihat semuanya menjadi salah. Apa-apa salah. Tak ada yang benar. Bahkan hanya karena letak jus yang bersebelahan dengan selai saja membuat Taeyeon marah karena itu tidak benar menurutnya.

Tapi, kesabaran Minseok itu berbuah manis dengan kini ia akan segera menjadi ayah. Minseok sungguh tidak sabar menantikan kedatangan anaknya itu untuk meramaikan keluarga mereka. Walaupun Taeyeon masih bersikap menyebalkan dengan ngidam aneh miliknya. Tapi, setidaknya, sekarang hal itu sudah berkurang.

Minseok masih ingat bagaimana Taeyeon yang membangunkannya tengah malam. Padahal Minseok baru pulang kerja karena lembur. Taeyeon merengek untuk di belikan semangka hijau. Yang demi Tuhan, Minseok bahkan baru mendengar ada semangka hijau. Taeyeon dengan segala rengekkannya berhasil memaksa Minseok berjalan keluar rumah tengah malam seperti orang tidak waras hanya karena semangka hijau. Tapi, di tengah jalan Taeyeon menelponnya dan meminta maaf. Karena ia sadar kalau semangka hijau itu memang tidak ada. Minseok hampir membanting ponselnya kala itu.

Itu belum seberapa. Minseok juga selalu harus menyanyikan sebuah lullaby sebelum Taeyeon tidur. Taeyeon yang bermulut pedas selalu berkomentar tentang buruknya suara Minseok ketika bernyanyi. Tapi, saat Minseok berhenti, Taeyeon akan menangis dan mengatakan Minseok tidak pernah menyayanginya. Membuat helaan nafas kasar selalu terlontar di bibir Minseok.

Taeyeon juga setiap pagi selalu meminta di temani menonton bola di Televisi. Jika tidak, ia akan menangis seharian. Bahkan Taeyeon pernah nekat ke kantor Minseok hanya untuk di temani nonton bola. Oh, Taeyeon berhenti bekerja saat tau dirinya hamil. Dan alasannya adalah, malas.

 

“Minseok-ah…”

 

Hari itu. Tengah malam buta. Taeyeon mengguncang tubuh Minseok yang bahkan baru bersentuhan dengan kasur selama 30 menit yang lalu. Minseok mencoba untuk tidak peduli karena tubuhnya benar-benar lelah. Karena seharian ini Minseok berkutat dengan berbagai dokumen yang membuat otkanya terasa pecah. Tapi, Taeyeon tidak peduli. Ia terus mengguncang bahu Minseok dan memanggil namanya. Lama-kelamaan, Minseok terganggu dan membuka matanya.

 

“Apalagi kali ini, Taeyeon-ah? Apa kau ingin aku membawakan mangga dengan bentuk seperti bola milik MU? Atau mungkin kau ingin aku membawakan paus emas di hadapan mu sekarang?” Minseok merem-melek karena rasa kantuk yang menyerangnya secara brutal.

“Tidak. Bukan itu! Ini lebih darurat dari apa yang selalu aku inginkan.” Ucap Taeyeon seraya memegang perutnya. Bahkan seperti mencengkram.

“Apa? Apa ini akan terdengar sepeperti kau ingin menikah lagi dengan pangeran William karena ia mencintai mu dan datang berlutut di depan mu seraya menyodorkan cincin.” Oh, maafkan Minseok, saudara-suadara. Saat ini Minseok sedang berada di ambang kesadaran. Tidak heran kalau perkataannya sedikit melenceng.

 

BUK!

 

“Bukan itu, bodoh! Ini tentang anak mu. Ku rasa sebentar lagi akan keluar. Ini sangat menyakitkan, kau tahu.” Keluh Taeyeon sambil memukul wajah Minseok dengan bantal.

Minseok merasa ada yang salah dengan pendengarannya. Maka dari itu ia bertanya ulang. “Apa?”

“Ya Tuhan, aku akan membunuh mu sekarang, Kim Minseok. ANAK MU AKAN SEGERA LAHIR! CEPAT KE RUMAH SAKIT ATAU ANAK MU AKAN LAHIR DENGAN TIDAK ELIT KARENA KELAKUKAN MU!”

“Apa?! Astaga, bicara dari awal, Taeyeon!”

 

Karena terkejut, Minseok sampai terjungkal dari duduknya dan segera setelah ia connect dengan maksud Taeyeon, Minseok segera mengangkat tubuh Taeyeon dan membawanya menuju mobilnya. Minseok berusaha untuk tetap terjaga karena akan berbahaya mengendarai mobil kalau ia mengantuk. Sedangkan Taeyeon di sampingnya menjerit-jerit karena kesakitan. Minseok semakin khawatir karena air ketuban Taeyeon yang mengalir semakin deras. Hampir membuat Minseok gila karena jeritan Taeyeon juga kepanikkannya sendiri.

Tengah malam bukanlah hal yang bagus untuk bertandang ke rumah sakit. Beberapa rumah sakit mungkin tidak membuka shift malam dan Minseok terpaksa harus berkeliling mencari rumah sakit yang masih buka. Taeyeon juga tak banyak membantu karena hanya menjerit kesakitan dari tadi. Minseok rasa kepalanya akan pecah beberapa menit ke depan.

Sampai akhirnya Minseok menemukan sebuah rumah sakit yang masih buka. Minseok mengucapkan banyak-banyak pujian pada Tuhan yang ternyata masih sayang padanya. Minseok menghentikan laju mobilnya dan memasuki halaman. Dan segera ia menggendong Taeyeon dan berlari-lari juga berteriak seperti orang gila.

 

“Dokter! Suster! Atau siapapun! Tolonglah, wanita ini ingin melahirkan anak ku!”

 

Memang apa yang di teriakkan Minseok sedikit aneh. Tapi, sekali lagi harap maklum. Minseok begitu panic dan akhirnya mengeluarkan teriakkan seperti itu. Beberapa suster dan dokter menghampirinya. Mendorong sebuah ranjang rumah sakit dan Minseok meletakkan tubuh Taeyeon di sana. Taeyeon menggenggam erat tangan Minseok. Berusaha menyalurkan kesakitan yang ia rasakan. Membuat Minseok mau tak mau harus ikut dengan Taeyeon ke dalam ruang persalinan.

Taeyeon menggeleng-gelengkan kepalanya. Genggamannya pada Minseok makin di pererat. Sebelah tangannya lagi di gunakan untuk mencengkram selimut rumah sakit. Minseok merasakan genggaman tangan Taeyeon begitu kuat. Sampai-sampai Minseok berpikir, mungkin saja tangannya akan patah segera mungkin.

 

“Ya Tuhan! Ini menyakitkan, Minseok-ah. Aku rasa aku tidak kuat!” jerit Taeyeon.

“Kuatkan diri mu. Ini anak kita yang pertama. Kau harus memperjuangkan kehidupan mu dan juga anak itu.” sahut Minseok mencoba membuat Taeyeon tegar.

“Baiklah, nyonya Kim. Ketika kau merasakan kontraksi pada bayi mu, maka doronglah dengan kuat. Ketika kau merasa seperti tidak ada harapan, maka ingatlah bagaimana perjuangan ibumu ketika melahirkan diri mu. Kita akan memulainya sekarang. Kau harus berjuang, nyonya Kim. Kau pasti bisa.” Ucap dokter itu memberi saran. Taeyeon sendiri hampir tidak mendengar apapaun perkataan dokter itu. karena rasa sakit menyerangnya.

“Ya Tuhan, ku pikir aku akan mati!” Taeyeon terus berteriak-teriak kesakitan. Minseok di sampingnya berusaha menenangkan dan juga menyemangati Taeyeon. Padahal ia juga sama gugupnya sekarang. Berbagai kekhawatiran muncul di kepalanya dan itu membuatnya tambah panic.

“Ayo, berjuanglah terus. Kau pasti bisa, Taeyeon-ah. Ingat, ini anak pertama kita.”

“Minseok-ah, ku pikir ini akan menjadi terakhir kalinya aku hamil. Aku tak mau hamil lagi!”

 

Menit-menit terus berlalu dengan suasana tegang. Taeyeon terus berjuang untuk mengeluarkan anaknya. Sang dokter yang terus-terusan memberikan intruksi pada Taeyeon. Dan Minseok yang menderita karena tulang tangannya terasa bergeser dari tempatnya. Sampai akhirnya, suara tangisan bayi pecah di seluruh ruangan itu. akhirnya bayi yang selama ini berdiam di perut Taeyeon selama 9 bulan keluar menuju dunia. Tangisannya begitu merdu di telinga Minseok dan Taeyeon. Bagaimana bayi itu seperti bahagia keluar dari perut ibunya dan melihat dunia.

Taeyeon masih terengah-engah di atas pembaringannya. Minseok sendiri tak beranjak sesenti pun dari samping Taeyeon. Taeyeon hampir pingsan karena kelelahan. Sebelum seorang perawat membawa seorang bayi mungil dan meletakkannya di sebelah Taeyeon. Saat mata Taeyeon menatap anaknya, rasa kelelahannya menguap di tiup udara. Minseok juga ikut tersenyum melihat anaknya tersebut.

 

“Lihat, putra kalian sangat tampan, bukan?” puji suster itu.

“Putra, ya? Berarti dia laki-laki, kan? Bukankah ini seperti sesuai harapan.” Ucap Taeyeon sambil menatap Minseok.

Minseok mengecup kening istrinya. “Tentu saja. Apalagi dengan sikap mu yang seperti kemarin-kemarin, kan? Aku jadi ingat saat kau ingi bertemu dengan Messi.” Canda Minseok. Taeyeon ikut terkekeh karenanya.

“Dan, apa kau memiliki nama untuknya?”

“Bagaimana dengan Min Yeon. Kim Min Yeon. Apa itu terdengar jelek?”

“Tidak. Ku rasa itu bagus dan cocok. Baiklah, Minnie-ya. Kau harus menjadi anak baik, ne. Paling tidak kau harus tampan. Bukan seperti daddy mu yang malah cantik.”

“Yaa!”

 

 

 

 

 

FIN

 

Author note : halohaaaa, readers tercintaaaaah! Apa kabar? Baik selalu, kan? Oke, oke, anggap saja FF ini sebagai imbalan karena aku nggak lanjutin FF 12PL dan juga FF Mystery. Aku terjebak UAS T_T. ohya, aku juga mau kasih tau kalian. Kalo mau mint pass 12 PL, kalian contact aku di FB atau di nomor aku aja, yah. Kalo di e-mail, nggak bisa. Aku nggak buka e-mail.

Advertisements

113 comments on “[Oneshoot] Love Business

  1. Gokil bgt thor. Wkwkwk
    Ngakak bca ff nya. Next terus nya karyanya. Ow, iy thor. Fb n nomor author kasi tau donk.
    Kamsahamnida

  2. Lol lucu bgt dah, geblek ang wakakaaka ga kebayang kl ada yg beneran kek gitu haduh ngakak
    Suka suka, ngakak banget dah, trus xiutaeng pairing juga, jarang nemu nih
    Nice thooor, good job la!
    Oiya Mystery nya ttp ditunggu ya, ga rela kalo bener2 ga dilanjut. Mangat thor!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s