My Princess, Kim Taeyeon (Chapter 3)

my-princess-kim-taeyeon

Bina Ferina’s Present

Main Cast :

KIM TAEYEON

KIM JUNMYEON (SUHO)

XI LUHAN

PARK CHORONG

All of Artists SM. Entertainment

Genre :

ROMANCE, SCHOOL-LIFE, FRIENDSHIP

Rating :

PG 17

Artworker :

Very much thank you, dear^^ –> rosaliaaocha – ExoShidaeFFandGrapchics

A/N :

Mari dibaca^^ hope you’ll be like my new fanfic! Alurnya ceritanya SANGAT BIASA, mungkin juga udah sering baca. Tapi aku akan berusaha lebih keras agar FF ini ngga TERLALU BIASA untuk para ReaderSetiakuu #chu. Happy reading^^

~~~

“Kau bilang bos kami adalah seseorang yang kotor, bukan?” tanya salah satu dari mereka, sambil menyeringai.

“Bos?” Taeyeon balik tanya. Kemudian ia ingat. Hanya satu laki-laki yang ia katai kotor. “Luhan?”

“Ne, siapa lagi?”

“Lalu apa urusan kalian?” tanya Taeyeon. Perlahan ia mundur satu langkah ke belakang.

“Kau tidak berhak mengatakan hal seperti itu padanya,”

“Memang dia laki-laki kotor yang menyebalkan,” ucap Taeyeon pelan. Langkahnya kembali mundur saat disadarinya kelima laki-laki itu maju beberapa langkah mendekatinya.

“Kau perlu tahu apa makna sebenarnya dari kata ‘kotor’ itu,”

“Mwo?” tanya Taeyeon.

Betapa terkejutnya Taeyeon saat dua orang dari mereka menggenggam kedua pergelangan tangan Taeyeon dan menyeretnya dengan kasar ke suatu tempat.

“YA! Apa yang kalian lakukan?! Lepaskan!” teriak Taeyeon. Ia meronta-ronta dan menarik pergelangan tangannya dari cengkeraman kedua laki-laki itu. “Apa kalian diperintahkan olehnya?! Lepaskan aku!”

Tidak ada yang mendengar jeritan Taeyeon tentu saja. Gedung sekolah ini harus kosong pada jam enam sore. Dan yang tinggal hanya beberapa orang guru, petugas kebersihan, dan Ketua Murid. Guru-guru biasanya ada di lantai paling dasar, tempat kantor mereka berada. Sedangkan petugas kebersihan sibuk menyapu halaman belakang dan depan sekolah. Hati dan perasaan Taeyeon amat sangat berharap ada seseorang yang mendengar jeritannya.

Taeyeon semakin terkejut ketika mereka melepas blazer sekolahnya dan membuangnya ke sembarang tempat.

“YA! Jebal, lepaskan aku, jebal! Apa yang kalian lakukan?!”

Mereka berlima hendak membawa Taeyeon ke sebuah kelas kosong yang tidak jauh dari situ. Taeyeon ketakutan sekali dan ia lebih mengeluarkan energinya agar bisa lepas dari cengkeraman mereka. Dengan tenaga terakhirnya sebelum ia masuk ke dalam kelas itu Taeyeon menarik pergelangan tangannya kuat-kuat hingga terlepas.

Ketika cengkeramannya lepas, tubuh Taeyeon langsung tidak seimbang sehingga ia terjatuh di lantai gedung sekolah. Ia ingin bangkit dan lari sebelum dirinya kembali diseret oleh mereka. Namun apa daya. Ia tidak kuat lagi. Bahkan untuk menggerakkan kakinya saja Taeyeon sudah tidak sanggup.

Tanpa sadar air mata keluar dari pelupuk matanya yang indah. Padahal Taeyeon sudah berjanji pada kakaknya tidak akan menangis.

Kelima laki-laki itu bergerak mendekati Taeyeon untuk menarik pergelangan tangannya lagi. Tapi langkah mereka terhenti saat kepala salah seorang dari mereka terkena lemparan bola baseball. Sontak kelimanya tersentak dan mereka menolehkan kepalanya ke arah bola itu tadi lempar.

Betapa terkejutnya kelima laki-laki itu saat mereka melihat siapa yang melempar bola kecil namun padat itu. Mereka mundur ketakutan.

“Jika sekali lagi kalian sentuh dia, aku benar-benar tidak akan melepaskan kalian,” ancam seorang laki-laki yang suaranya sudah dikenal Taeyeon.

“Su…Suho-ssi. Mianhae,” kata mereka berlima. Mereka membungkukkan dan hendak melarikan diri.

“YA!” panggil Suho. Ia mendekati kelima laki-laki itu. “Sebelum pergi cepat minta maaf pada Taeyeon dan berjanjilah untuk tidak sekedar mendekatinya lagi. Kalian tahu, ‘kan omonganku ini tidak pernah main-main? Aku benar-benar akan membuat kalian menyesal kalau kalian tidak segera melakukannya,”

Laki-laki berlima tersebut mendekati Taeyeon. Taeyeon tetap menundukkan wajahnya, tidak mau menatap mereka. Ia sedikit memundurkan tubuhnya ke belakang, masih ketakutan. Dan Suho dapat merasakan ketakutan Taeyeon.

“Sudahlah! Kalian cukup lakukan itu padaku besok. Aku tidak ingin melihat wajah kalian sekarang. Pergi sana!” usir Suho. Ia menendang salah satu kaki mereka.

Kelima laki-laki itu langsung lari menjauh dari Suho dan Taeyeon. Suho menghela nafas panjang dan ia menatap Taeyeon yang masih terduduk lemas di lantai sekolah. Dengan perlahan-lahan ia mendekati Taeyeon dan berjongkok di hadapannya. Suho dapat melihat pancaran ketakutan dalam wajah Taeyeon. Matanya sedikit merah. Ia menyodorkan tangan kanannya untuk membantu Taeyeon berdiri.

“Gwaenchannayo. Kau aman,” ucap Suho lembut.

Taeyeon menatap Suho dengan matanya yang berkaca-kaca. Ia menerima uluran tangan Suho dan mereka berdua sama-sama bangkit berdiri. Meskipun begitu, wajah Taeyeon tetap tertunduk. Kedua tangannya mengepal. Suho melihat itu dan ia menggenggam kedua kepalan tangan Taeyeon. Taeyeon mengangkat wajahnya dan menatap wajah Suho. Suho tersenyum. Senyum yang menenangkan hati Taeyeon.

“Aku tidak akan biarkan siapapun menyakitimu. Aku berjanji. Kau tidak akan apa-apa,” ujar Suho pelan.

Perlahan kepalan tangan Taeyeon yang berada di genggaman Suho mengendur. Ia balas menggenggam erat tangan Suho yang hangat. Air mata Taeyeon jatuh setelah dengan sekuat tenaga ia tahan.

Suho melepas genggamannya dan ia menarik tubuh mungil Taeyeon ke dalam pelukannya. Ia membenamkan kepala Taeyeon di dada sebelah kirinya, membiarkan Taeyeon menangis terisak-isak. Suho membelai kepala Taeyeon dengan lembut seraya menepuk-nepuk pelan punggung Taeyeon untuk menenangkannya.

“Menangislah,” kata Suho pelan. “Kau sudah terlalu lama memendamnya,”

“Aku sangat takut,” ujar Taeyeon di sela-sela tangisnya.

“Bukankah aku sudah berjanji padamu? Mianhae, aku sedikit terlambat. Aku benar-benar tidak akan membuatmu ketakutan seperti ini lagi,” ucap Suho sungguh-sungguh.

Taeyeon mengangguk dalam pelukan Suho. Ia melepas pelukan Suho dan menyeka air matanya. Ia menghembuskan nafasnya pelan sebanyak tiga kali untuk menghentikan tangisnya. Meskipun ia masih ingin menangis lagi, ia ingin menangis sendirian saja di rumah.

“Gomawoyo, Suho-ah,” lirih Taeyeon. Wajahnya merah habis menangis.

Suho tersenyum lembut. Ia mengeluarkan sapu tangannya dan menghapus air mata Taeyeon yang masih mengalir deras. “Sepertinya handuk dan sapu tanganku kau pakai semua dalam satu hari ini,”

Taeyeon sedikit tertawa. “Arra, lain kali aku akan membawa sapu tangan sendiri,”

“Buat apa? Kau tidak akan menangis lagi,” kata Suho. Ia kembali menyimpan sapu tangannya.

“Keundae, kenapa kau masih disini?” tanya Taeyeon dengan suara sengaunya.

“Aku agak sedikit curiga saat kelima orang tadi sedang berunding dan belum pulang saat aku dijemput. Padahal mereka semua sudah dijemput oleh supir masing-masing. Dan di tengah jalan, aku langsung minta putar balik dan dugaanku ternyata benar. Aku salah. Kenapa aku tidak langsung mengikuti mereka?”

“Gomawo,” kata Taeyeon dengan tulus. “Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau kau tidak datang. Aku sangat takut saat tidak ada yang mendengar jeritanku dari awal. Aku… tidak bisa memaafkan orang yang ada di balik ini semua,”

“Dan apakah kau tahu siapa orang itu?” tanya Suho pelan.

Taeyeon tersenyum. “Aku juga tidak tahu. Bisa saja ada orang dibaliknya dan bisa saja mereka hanya mengerjaiku,”

“Candaan mereka benar-benar sudah kelewatan. Kalau mereka tidak senang kau menjadi Ketua Murid, kenapa mereka tidak pindah sekolah saja? Aku yakin ada seseorang di balik ini,” ungkap Suho.

“Aku akan mencari tahu sendiri. Sebisa mungkin aku tidak merepotkanmu dalam hal ini,” ujar Taeyeon.

Suho diam. Ia melangkahkan kakinya menjauh dan mengambil blazer sekolah milik Taeyeon yang tadi dibuang oleh kelima orang itu. Ia melipatnya dengan rapi dan ia kembali ke hadapan Taeyeon.

“Untuk sementara ini biar aku pegang saja,” kata Suho pada Taeyeon. Taeyeon hanya mengangguk, walaupun sebenarnya ia bingung juga untuk apa Suho meminjam blazer-nya.

“Kau tidak akan berusaha mencari tahu, ‘kan siapa orang di balik ini?” tanya Taeyeon.

“Aniya. Bukankah kau yang bilang kau sendiri yang akan melakukannya? Aku tidak akan ikut campur. Hanya saja, kalau kau butuh bantuanku, kau panggil saja aku. Kalau perlu aku akan menghabisi orang itu saat itu juga,” jawab Suho dengan wajah geramnya.

Taeyeon mengangguk dan ia tersenyum. Ia terpaksa berbohong sedikit pada Suho. Taeyeon tahu siapa orang di balik ini semua. Dan dia tidak ingin membuat persahabatan Suho dan Luhan menjadi hancur karenanya. Meskipun Taeyeon membenci Luhan dan Suho benar-benar tulus membantunya, ia tidak sampai hati untuk memberitahu Suho. Biarkan ia saja yang menyelesaikannya sendiri.

Suho menggenggam pergelangan tangan kanan Taeyeon dan sedikit menariknya mendekat. “Kajja, kita pulang. Aku akan mengantarmu pulang,”

~~~

“Apa kau mau bertamu dulu, Suho-ssi?” tanya Taeyeon pada Suho saat mobil Suho sudah sampai tepat di depan gerbang rumah kontrakan Taeyeon.

“Aku tidak akan berani masuk kalau kakak laki-lakimu itu tidak ada. Para tetangga bilang apa nanti? Tunggu aku resmi menjadi kekasihmu setelah itu aku akan bebas keluar masuk rumahmu,” jawab Suho dengan sedikit bercanda.

“Ya, apa yang kau katakan?” tanya Taeyeon pura-pura kesal. Suho tertawa.

“Lain kali bagaimana? Aku juga mau ke suatu tempat,” tolak Suho.

“Arra,” kata Taeyeon. Ia membuka pintu mobil Suho. Sebelum menutup pintu itu, Taeyeon mengucapkan terima kasih dan melambaikan tangannya pada Suho.

Suho balas melambai dengan riang. Taeyeon menutup pintu mobil Suho dan langsung masuk ke dalam rumahnya. Di depan pintu rumah, Taeyeon menunggu kepergian Suho. Suho meminta supirnya untuk segera pergi.

“Kita kembali lagi ke sekolah, ya ahjussi,” pinta Suho. Ia menatap blazer milik Taeyeon yang ada di pangkuannya itu. Seketika suara tangis Taeyeon kembali terngiang di benaknya, membuatnya harus mengingat lagi kenangan pahit tiga tahun yang lalu.

Begitu mobil Suho sudah menghilang dari pandangannya, Taeyeon langsung membuka pintu rumahnya, yang sama sekali tidak terkunci. Ia agak kaget. Namun, begitu dilihatnya ada beberapa pasang sepatu di rak sepatu miliknya, perasaannya menjadi lega. Ia tahu siapa yang datang.

Dan benar saja, begitu Taeyeon masuk ke dalam rumahnya, suara nyaring Tiffany, Sunny, Chanyeol dan Heechul menyambutnya dengan riang gembira. Taeyeon hanya tersenyum lebar mendapati mereka yang selalu seenaknya masuk ke dalam rumahnya dengan kunci rumah yang asli, yang disimpan oleh Ji Woong di dalam pot bunga mawar di luar rumahnya, yang tentu saja sudah mereka ketahui.

“YA, Kim Taeyeon! Kemari!” seru Tiffany. Ia menarik pergelangan tangan Taeyeon dan memaksanya duduk di ruang keluarga, bersama dengan mereka berlima.

“Wae?” tanya Taeyeon, yang sudah tahu mereka akan bertanya apa.

“Kau pulang dengan siapa?” tanya Tiffany dan Sunny bersamaan.

“Apa kau sudah punya pacar?” tanya Chanyeol seenaknya. Tiffany dan Sunny menatapnya dengan pandangan heran.

“Suho, ‘kan?” tanya Tiffany langsung.

Taeyeon menghela nafasnya pendek. Benar dugaannya. “Kebetulan dia belum pulang saat aku mau pulang tadi,”

“Kufikir kau pulang dengan Luhan,” sahut Chanyeol, yang membuat Tiffany dan Sunny semakin memicingkan mata mereka menatap Chanyeol.

“Aigoo, Suho sudah pulang sewaktu kami pulang. aku melihat mobilnya sendiri meninggalkan gedung sekolah. Dan sekarang, kenapa tiba-tiba kalian kebetulan bertemu di sekolah?” tanya Tiffany penuh curiga.

“Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Taeyeon risih. “Dia ketinggalan sesuatu di sekolah. Seharusnya kalian jangan berfikir macam-macam dulu,”

“Bagaimana kami tidak berfikir macam-macam? Kau dan dia seperti memiliki hubungan special,” sahut Heechul.

“Kami tidak ada hubungan apa-apa, yang benar saja,” jawab Taeyeon cepat.

“Sepertinya dia tertarik padamu,” kata Tiffany asal.

“Kenapa kau menyimpulkan seperti itu? Bukannya Taeyeon tadi sudah menjelaskannya? Mereka hanya kebetulan bertemu,” sergah Sunny.

“Lalu kalau bukan tertarik apalagi namanya? Suho-lah yang menemani Taeyeon ketika dia membuang katak-katak itu, bukankah kita melihatnya? Suho tampak nyaman di dekat Taeyeon. Dia berbicara panjang lebar bersama Taeyeon. Itu hal yang tak biasa, ‘kan?” tanya Tiffany.

“Kalian membuntutiku?” tanya Taeyeon.

“Awalnya kami ingin menolongmu. Tapi kami sudah keduluan Suho. Karena penasaran kami buntuti saja dia. Tapi apa yang dibicarakannya kami tidak dengar. Sepertinya seru. Apa itu?” tanya Heechul penasaran. Jessica hanya tersenyum mendengar jawaban Heechul.

“Itu nanti,” sembur Tiffany. “Tapi itu benar, ‘kan? Suho yang jarang bicara apalagi dengan perempuan itu kenapa sekarang hobi bicara dan terus dekat-dekat dengan Taeyeon? Bukankah itu artinya dia tertarik pada uri Taeyeon?”

“Kenapa dia tiba-tiba jadi tertarik dengan Taeyeon? Apa karena Taeyeon adalah Ketua Murid?” tanya Sunny tidak terima dengan ide Tiffany.

“Kenapa jadi Ketua Murid? Tentu saja karena dia sudah menyadari kalau Taeyeon ini seseorang yang menarik,” jawab Tiffany.

“Apanya yang menarik? Dia malah semakin di bully, ‘kan oleh murid-murid di sana? Kalau Taeyeon semakin menarik di mata Suho, angel-nya sekolah kita, pasti juga menarik bagi yang lainnya. Dan otomatis ada alasan lain kenapa dia dekat dengan Taeyeon,” jelas Sunny. “Apa karena rasa kasihan?”

“Aniyo, mana mungkin seperti itu!” bantah Tiffany. “Tentu pemikiran Suho tidak kejam, ‘kan?”

“Apa yang kalian bicarakan di taman tadi? Apa dia memberi alasan kepadamu kenapa dia jadi begitu baik?” tanya Jessica.

“Karena… dia tidak ingin ada perbedaan lagi di antara anak-anak konglomerat dan yang tidak. Dia benci dengan diskriminasi karena salah satu sahabatnya pernah mengalaminya dan dia merasa bersalah. Begitu aku jadi Ketua Murid, Suho semakin khawatir dan dia berjanji untuk selalu membantuku. Saat kelas satu, dia segan untuk sekedar mendekatiku. Dia mengira kalau kalian akan berfikiran yang macam-macam padanya,” jelas Taeyeon.

“Alasannya hanya itu?” tanya Tiffany tidak sepenuhnya percaya.

“Bukankah itu bagus? Suho adalah salah satu dari sahabat Luhan yang membela Taeyeon. Lama-kelamaan dia bisa mengangkat nama Taeyeon, ‘kan? Apalagi Suho adalah orang yang sangat berpengaruh di sekolah,” sahut Chanyeol.

“Ne, memang bagus,” sambung Heechul. “Bagaimana denganmu? Kau tidak berfikir macam-macam padanya, ‘kan?”

“Dia sudah seperti seorang guardian bagiku. Dia benar-benar datang di saat aku sedang menghadapi perlakuan kurang menyenangkan dari murid-murid sekolah kita. Aku tahu dia melakukan itu karena tulus dari dalam hatinya,” jelas Taeyeon lagi.

“Apa kau mulai tertarik padanya?” goda Tiffany. “Bukankah itu seperti dalam dongeng? Kau jatuh cinta pada guardian angel-mu,”

“Dia hanya sekedar temanku,” jawab Taeyeon. “Aku benar-benar tidak menganggapnya lebih. Dia memang sudah seperti guardian angel-ku,”

“Taeyeon tidak akan mudah tertarik dengan seseorang, Fany-ah,” sahut Sunny.

“Kenapa kau selalu tidak sependapat denganku mengenai Suho?” tanya Tiffany kesal.

“Taeyeon akan semakin di bully kalau dia berhubungan dengan Suho,” jawab Sunny cemas. “Dia memang bisa jadi guardian bagi Taeyeon dan mengangkat namanya, tapi jika orang-orang mengatakan mereka punya hubungan khusus, itu akan membuat Taeyeon semakin mendapat masalah yang serius,”

“Kalau kalian yang mengatakan aku kuat, aku pasti kuat,” jawab Taeyeon lembut. “Aku tidak akan pernah mendapat masalah yang sangat serius karena kalian selalu di sampingku. Kalian itu lebih dari sekedar teman, kalian adalah keluargaku. Jadi tidak perlu khawatir. Aku tidak apa-apa,”

Kelima temannya tersenyum setuju. Tiffany menyandarkan kepalanya ke bahu Taeyeon seraya mengelus lengannya dengan sayang. Sunny menggenggam telapak tangan Taeyeon dan berkata, “Aku tidak khawatir, karena sekarang orang yang akan melindungimu bertambah. Aku hanya tidak ingin kau merasa lelah,”

“Taeyeon tidak akan lelah. Bukankah kita akan selalu di sampingnya? Kalau dia lelah, dia akan bersandar pada kita,” ucap Heechul sambil memeluk punggung Taeyeon dan Sunny dari belakang. “Ji Woong hyung kembali tengah malam, ‘kan? Ini masih pukul tujuh petang. Bagaimana kalau kita panggang daging di sini? Chanyeol yang akan membeli dagingnya,”

“Jinjjayo?! Kalau begitu, bolehlaahh!” seru Tiffany dengan riang. “Jessica akan membeli snack-nya,”

Jessica hanya menganggukkan kepalanya.

“Hyung, kenapa aku? Kau saja, ne?” bujuk Chanyeol.

“Arra, arra. Nah, sekarang Tiffany, Jessica, dan Sunny temani aku beli daging sekaligus beli makanan ringannya. Kajja,” ajak Heechul semangat.

“Kau memang hyung-ku!” seru Chanyeol sambil mengangkat kedua ibu jarinya ke arah Heechul.

“Taeyeon dan Chanyeol, kalian buat apinya, ya? Dan lauk-pauknya juga!” seru Tiffany dari luar rumah Taeyeon, saat ia sedang memakai sepatunya.

“Baiklah!” jawab Taeyeon. “Yeollie-ah, panaskan tungkunya selagi aku ganti baju, arra?”

Chanyeol berteriak setuju dan dia langsung keluar rumah. Chanyeol sering menginap dan melakukan aksi bakar daging bersama Ji Woong. Itu sebabnya Chanyeol sudah merasa terbiasa dengan peralatan panggangan milik Taeyeon. Dia juga sudah bisa memasak lauk-pauknya sendiri berkat Ji Woong. Selama ini, ‘kan hidupnya selalu serba ada di rumah. Dan untuk belajar banyak hal, ia sering menginap di rumah Taeyeon.

~~~

Suho tersenyum sopan kepada beberapa orang yang ia kenal saat ia tengah menerobos kerumunan orang-orang yang sedang minum wiski di lantai dansa. Beberapa perempuan di club itu menatapnya dengan tatapan ‘lapar’ karena penampilan Suho yang menawan dan memikat hati siapa saja. Setiap harinya laki-laki itu memang selalu berpenampilan mewah, tak jarang banyak perempuan yang mendekatinya sekedar untuk ‘bermalam’ dengannya.

Suho mengarahkan tubuhnya ke bar dan ia tersenyum kepada si bartender dengan ramah. “Ji Woong hyung, apa Luhan dan yang lainnya sudah di ruangan?”

Sosok bartender yang bernama Ji Woong itu menolehkan wajahnya kepada Suho. Ia langsung tersenyum begitu mengetahui Suho yang bertanya padanya. “Sudah dari sejam yang lalu,”

“Gomawo, hyung,” ucap Suho. Ia pamit pada Ji Woong dan segeran naik menuju ruangan yang ia sebutkan tadi.

Setiap Jum’at dan Sabtu, Suho dan kelima temannya biasa mendatangi club Ellui, club paling elit di Seoul yang terletak di Gangnam. Mereka punya ruangan tersendiri untuk berkumpul berenam di sana karena campur tangan dari ayah Luhan. Dan yang biasanya mereka lakukan adalah bermain billiard, minum-minum, atau sekedar mengobrol. Dan biasanya Luhan tidak selalu ada di ruangan itu. Ia sibuk dengan perempuan-perempuan ‘malam’-nya.

Suho membuka kenop pintu ruangan yang bernomor “8” tersebut dan masuk ke dalamnya. Benar saja, Xiumin, Irene, Henry, dan Luhan tengah asyik bermain billiard. Sedangkan Tao sibuk dengan ponselnya di atas sofa. Ia lebih memilih minum. Ruangan mereka terlihat remang-remang namun masih terkesan mewah dan elegan. Luhan memang sengaja pilihkan ruangan yang paling mahal di club itu.

“Kenapa oppa terlambat?” tanya Irene.

Suho duduk di samping Tao dan ikut minum sedikit. Ia tetap tidak suka. “Ada urusan sedikit,”

“Beli blazer baru?” tanya Luhan datar tanpa memandang wajah Suho. Ia fokus pada permainannya.

Blazer baru? Untuk apa? Bukannya kau baru beli?” tanya Irene bingung.

“Dia beli blazer perempuan,” jawab Luhan lagi sebelum Suho buka mulut.

“Wooahh, uri Jumong sudah punya pacar ternyata!” seru Henry girang sembari mengambil wiski dari meja yang ada di hadapan Tao dan mengedipkan sebelah matanya pada Suho. “Ayo perkenalkan pada kami pacar barumu,”

“Tapi,” potong Luhan sekali lagi. “Apa gadis polos yang tak tahu apa-apa itu mau menginjakkan kakinya ke club ini?”

“Gadis polos? Apa di Whimoon masih ada gadis polos?” tanya Xiumin.

“Oppa, siapa yang kalian bicarakan? Kau sudah tahu siapa gadis itu Lu ge?” tanya Irene pada Luhan dan Suho.

Luhan dan Suho saling bertatapan. Suho menatap Luhan tanpa ekspresi, sedangkan Luhan menatap Suho dengan senyuman mengejek yang terpancar dari wajahnya. Permainan billiard mereka pun terhenti karena penasaran siapa gadis yang berhasil menekuk hati dingin Suho, yang selama ini tidak pernah dimasuki oleh siapa-siapa.

“Kau tahu siapa yang kubicarakan, Suho-ah,” kata Luhan.

“Dan semua yang kalian bilang sebagian besar salah,” jawab Suho. “Aku memang membeli blazer baru untuk perempuan. Dan perempuan itu adalah Kim Taeyeon, kalian sudah pasti tahu. Dan…”

Suho menatap Irene, memintanya untuk tidak menginterupsinya terlebih dulu.

“Dan dia bukan pacarku seperti yang kalian fikir,”

“Aku tidak percaya kau membelikannya blazer untuk dia, oppa! Dia tidak akan sanggup membayarnya meskipun dengan memakai beasiswanya itu. Aigoo, oppa. Kau punya perasaan yang khusus terhadapnya? Dengan Kim Taeyeon?” tanya Irene dengan wajah shock berat. “Aku tidak sanggup membayangkan kalau… entahlah,”

“Wae? Kim Taeyeon bukanlah sesuatu hal yang menjijikkan, Irene. Kenapa nada bicaramu seperti itu? Kau dan dia sama-sama manusia, ‘kan?” bela Suho dengan nada dingin.

“Oppa, kami berada di level yang berbeda. Kenapa kau menyamakan aku dengannya?” tanya Irene kesal.

“Irene-ah,” tegur Xiumin. “Kenapa kau membelikan blazer untuknya?”

Blazer-nya sedikit robek saat dia diganggu oleh orang lain. Aku ada disitu dan menolongnya. Aku tidak suka melihat orang lain apalagi perempuan ditindas seperti itu hanya karena status sosialnya. Dan aku harap orang yang ada di baliknya bukanlah dari kalian, termasuk Luhan dan Irene,” jawab Suho tajam.

Henry tersenyum. Ia memandang Luhan dan Suho bergantian, yang kembali bertatapan penuh arti. “Kau curiga pada uri Luhannie?”

“Aniyo. Aku percaya Luhan tidak akan menyuruh orang lain untuk ‘mengotori’ gadis yang masih polos dan bersih seperti Kim Taeyeon,” sahut Suho pelan. Tatapannya masih melekat ke Luhan.

Luhan tersenyum sinis. “Ne, buat apa aku melakukan hal itu? Dia bukan sesuatu yang pantas untuk kuurusi,”

“Lu, dia bukan sesuatu. Kenapa kau tidak pernah menghargai manusia yang berada di bawahmu?” tegur Xiumin lagi. “Kenapa kau bisa dekat dengannya, Suho-ah?”

“Aku suka berada di dekatnya. Seperti yang Luhan katakan, dia masih seorang gadis yang polos, lugu, dan tidak tahu apa-apa, setidaknya dalam hal yang negative dia memang tidak tahu apa-apa. Dia sosok perempuan yang apa adanya,” jelas Suho.

“Woah, woah, woah. Jumong-ah, jaga ucapanmu. Kau bisa benar-benar jatuh cinta dengannya,” ucap Henry dengan tatapan menggoda.

“Jangan sampai, oppa. Kalau kau ingin melindungi dia, sebaiknya kau hindari berhubungan dengannya. Dia bisa saja digantung di atap,” kata Irene.

Suho bangkit dari sofa dan ia mendekati Irene. “Aku akan melindunginya. Selalu. Mian, tapi kuharap kau bukanlah orang yang akan melakukan itu. Kau tahu aku tidak bisa melakukan hal yang buruk kepadamu sebagai sahabat yang sudah kuanggap seperti adikku,”

“Kenapa aku berteman dengan orang yang peduli dengan rakyat jelata?!” seru Irene kesal. Ia melempar stik billiard-nya dan langsung keluar dari ruangan mereka.

“Kau harus bisa membujuknya dengan segala cara yang ada sekarang, hyung. Aku tidak mau dekat-dekat kalian kalau Irene sedang kesal,” ujar Tao, yang membuat Henry tertawa terbahak-bahak. Xiumin, Luhan dan Suho hanya tersenyum kecil.

“Kenapa tiba-tiba kau ingin melindunginya? Karena dia sudah menjadi Ketua Murid?” tanya Xiumin pada Suho

“Penindasan terhadap dirinya pasti akan lebih berat lagi. Dan aku tidak mau kejadian 3 tahun yang lalu terulang kembali,” jawab Suho. Matanya tidak sengaja mengerling ke arah Luhan, yang langsung berdiri membelakangi mereka berempat.

BRAK!

Pintu ruangan 8 secara tiba-tiba didobrak dengan sangat kuat oleh lima orang laki-laki berbadan tinggi dan tegap. Luhan dan yang lainnya terlonjak kaget. Tao langsung bangkit dan maju ke depan dengan wajah dinginnya.

Laki-laki paling depan, bertubuh tinggi dan yang paling tegap di antara kelima orang itu, melangkah mendekati Luhan dan menarik kerah kemeja Luhan secara mendadak. Wajahnya menyiratkan kemurkaan yang amat sangat. Luhan dengan wajah santainya hanya menatap tatapan mata laki-laki itu.

“Ya! Apa-apaan kalian?! Kalian tidak tahu disini adalah ruang pribadi?!” seru Xiumin.

Tao bergerak mendekati laki-laki itu dan dengan paksa melepaskan cengkeraman tangannya dari kerah kemeja Luhan. Cengkeramannya terlepas. Luhan dengan ekspresi marahnya mengelus-elus kerah kemejanya. Keempat laki-laki di belakangnya langsung bergerak maju hendak berkelahi dengan Tao. Tapi Suho dan Henry langsung menengahi. Dan Xiumin memegangi tubuh Tao agar dia tidak langsung mengeluarkan jurusnya.

“Wow, ada apa dengan kalian, huh? Seharusnya kalau kalian ingin bertamu, kalian ketuk dulu pintunya baik-baik,” saran Henry. “Apa kalian mabuk?”

“Mau apa kalian seenaknya ke sini? Jangan sampai kami melaporkan hal yang tidak menyenangkan ini!” seru Suho.

“Choi Minho,” ujar Luhan dengan suara lirih. Ia mendekati Minho dan berhenti tepat di hadapan wajah Minho. Mereka saling bertatapan penuh kebencian. “Wae?”

Laki-laki yang bernama Minho itu menatap Luhan dengan kebencian yang sangat mendalam. Belum sempat ia menjawab, seorang perempuan berteriak memanggil nama Minho dan masuk ke dalam ruangan mereka.

“Minho oppa!” panggil perempuan berambut ikal panjang dengan tubuh yang berbentuk ‘L’. Perempuan itu sangat cantik tentu saja.

“Keluar dari sini! Kau akan membelanya jika kau ada disini, Krystal,” bentak Minho.

“Kau tidak berhak membentaknya,” ancam Suho dingin. “Kaulah yang harus keluar dari sini karena membuat kami tidak nyaman,”

“Aku ada urusan dengan laki-laki bangsat ini!” seru Minho keras sambil menunjuk wajah Luhan yang tenang bagaikan air.

“Kau tidak akan selamat jika kau mengatakan hal seperti itu,” gertak Tao sengit.

“Aku tidak berurusan denganmu, anak kecil,” jawab Minho. “Neo…”

“Wae?” tanya Luhan tenang. “Kau ingin marah-marah padaku karena aku sudah menodai gadismu? Ah, maaf. Bukan menodai. Tapi ‘mencicipinya’,”

BUG!!

“Oppa!!” seru Krystal.

Satu tinju melayang mengenai pipi kanan Luhan dari tangan berotot milik Minho. Ia ingin memukul wajah Luhan lagi namun tingkahnya dihentikan oleh Tao, yang meninju perutnya dengan jurus Wu shu-nya. Minho tersingkir dan ia terjatuh ke lantai, memegang perutnya yang kesakitan.

“Geumanhae!” teriak Suho dan Xiumin bersamaan. Henry memegangi Tao, mencegahnya berkelahi dengan keempat anak buah Minho yang sudah bersiap-siap tapi dihadang oleh Xiumin dan Suho.

Luhan membersihkan darah yang keluar dari sudut bibir kanannya dan memerhatikan Minho, yang sedang kesakitan. Keempat anak buahnya dan Krystal berjongkok membantunya untuk berdiri.

“Tenang, jangan ada yang saling baku hantam disini. Kita sudah seri,” lerai Henry saat anak buah Minho ingin meninju Tao dan Luhan. “Jangan sampai pihak yang berwenang menangani kasus ini. Kalian akan membuat malu nama kalian sendiri!”

Minho menghentikan aksi mereka dengan menggelengkan kepalanya. Ia maju mendekati Luhan dan dengan raut kesakitan di wajahnya ia berkata, “Kau akan menyesal, boy. Aku tahu kaulah yang menggoda Krystal dan membuatnya melakukan apa yang kau inginkan. Suatu hari nanti aku akan membalas perbuatanmu. Dan aku jamin, teman-temanmu tidak akan di sana saat kau menjerit kesakitan,”

“Gadismu lah yang memancing. Ia terpesona padaku, hingga ia melupakanmu. Aku sangat-sangat minta maaf karena akulah yang pertama kali untuknya,” ujar Luhan. Ia memandang Krystal, yang sedang menangis dalam diam. “Tapi tenang saja. Dia sudah pakai pengaman, kok,”

“Luhan!” tegur Xiumin.

Minho tersenyum sinis. Matanya tak henti-hentinya mengeluarkan aura kebencian saat matanya bertatapan dengan mata rusa milik Luhan. Lalu, dengan agak sedikit tertatih-tatih, Minho balik badan dan ia menarik pergelangan tangan kanan Krystal untuk keluar dari ruangan mereka, diikuti anak buah Minho.

Begitu Minho dan teman-temannya sudah pergi, Tao melepas pegangan Henry dan ia menatap Luhan dengan pandangan sulit diartikan. Lalu ia menggelengkan kepalanya dan menjatuhkan dirinya di atas sofa. Henry juga duduk di sampingnya.

“Luhan, bukankah sudah kukatakan berhentilah melakukan hal bodoh!” tegur Xiumin marah.

Luhan hanya diam. Ia memegang gelas wiski miliknya dan memutar-mutar gelas itu.

“Kalau mereka datang lagi dan menghajarmu bagaimana? Neo michyeosseo,” sambung Suho.

“Aku tidak apa-apa jika dia ingin berkelahi. Aku akan meladeninya,” ujar Luhan pelan.

“Dan besoknya kami akan melihat mayatmu? Kita tidak bisa membiarkan bocah ini sendirian,” ucap Henry. “Kau salah langkah, Luhan-ah. Krystal itu memang sexy, tapi seharusnya kau tahu resikonya apa kalau kau bermain-main dengannya,”

Suho memegang dahinya dan memilih duduk di sofa bersama Tao dan Henry. Luhan menghela nafas panjang dan ia melempar gelas wiski-nya ke lantai hingga hancur berkeping-keping.

~~~

Taeyeon menguap panjang sekali sampai meneteskan air matanya. Ia mengantuk sekali. Bagaimana tidak, dia dan teman-temannya berpesta sampai pukul sebelas malam. Lalu mereka semua langsung pulang setelah membereskan rumah Taeyeon sampai jam satu dini hari. Dan Taeyeon baru tertidur saat pukul dua dini hari. Dan dirinya dibangunkan oleh Ji Woong pukul empat pagi. Dia menceritakan kalau hari itu beberapa pengunjung club ada yang berkelahi karena masalah perempuan. Taeyeon mendengarkan dengan mata setengah terpejam.

“Kim Taeyeon!” panggil Mrs. Oh saat Taeyeon baru saja masuk ke gedung sekolah. Mrs. Oh mendatanginya dengan wajah kesal. “Jangan sekali-kali memperlihatkan wajah mengantukmu itu! Cepat basuh wajahmu!”

“Ne, sajangnim,” jawab Taeyeon pelan. Matanya langsung terbuka lebar begitu ia mendengar omelan Mrs. Oh.

“Oh, ya. Mr. Xi memanggilmu di kantor kalian. Dia ingin membicarakan program kerja kalian. Cepat temui dia!” perintah Mrs. Oh sembari membalikkan tubuhnya dan pergi menjauh dari Taeyeon.

Mendengar nama Luhan, mata Taeyeon benar-benar sudah tidak mengantuk lagi. Jiwanya yang sebelumnya tenang menjadi sangat emosi. Ia teringat kejadian kemarin dan itu membuat ubun-ubun kepalanya mendidih. Dengan langkah berat, Taeyeon menuju kantor Ketua Murid. Sesampainya di sana ia dapat melihat sepasang sepatu yang sudah dikenalnya bertengger manis di depan pintu.

Taeyeon membuka pintu kantor itu dan memandang Luhan dengan tatapan benci. Pintunya menutup di belakang dan Luhan melihat ke arah Taeyeon sambil membaca buku program kerja mereka.

“Kemari,” perintah Luhan tanpa mengangkat wajahnya.

Taeyeon tertawa sinis dalam diam. Ia tidak mau bergerak mendekati Luhan. Ia hanya memandangnya dengan tatapan horror.

Luhan mengangkat wajahnya. Taeyeon merasa ada yang aneh dengan wajah bagian kanan Luhan, tapi dia tidak memerdulikannya. “Wae? Kau ingin cari masalah lagi? Kalau saja kemarin rencanaku mulus, mungkin wajahmu yang menyebalkan itu tidak kulihat lagi,”

“Mwo?!” seru Taeyeon emosi. Dengan cepat ia mendatangi Luhan, yang sedang berdiri membelakangi mejanya. Taeyeon berdiri berhadapan dengan Luhan dengan amarah yang sangat terpancar di wajahnya.

Luhan hanya menatap Taeyeon dengan pandangan datar.

PLAK!!

Tamparan dari tangan Taeyeon mendarat mulus di pipi kanan Luhan. Luhan meringis pelan.

“Kau benar-benar laki-laki paling brengsek yang pernah kutemui,” ungkap Taeyeon pelan. Matanya sedikit berair. “Laki-laki bangsat, tidak tahu diri, dan… Kau adalah laki-laki yang paling aku benci. Kau bukan manusia! Kau fikir aku apa dengan seenaknya kau menyuruh orang lain untuk mengotoriku?! Aku tidak akan pernah membiarkan orang-orang suruhanmu itu menyentuhku,”

Luhan tersenyum sinis. Taeyeon menatapnya tajam dan ia hendak keluar dari kantor. Namun, Luhan menarik pergelangan tangan kiri Taeyeon dan langsung mendorong tubuhnya ke dinding. Taeyeon membulatkan kedua bola matanya. Ini kedua kalinya. Dan ia begitu ketakutan. Jantungnya langsung berdebar keras. Apalagi di lihatnya mata Luhan seperti singa yang baru dibangunkan.

Luhan menahan kedua lengan Taeyeon di dinding agar Taeyeon tidak bisa lari dan terus terkunci. Taeyeon meronta-ronta kedua lengannya. Matanya menyiratkan ketakutan dan ia tidak bisa berfikir dengan baik.

“Wae? Takut?” tanya Luhan dengan berbisik tepat beberapa senti di wajah Taeyeon.

Taeyeon mengalihkan pandangannya. Ia takut hanya untuk sekedar menatap Luhan. “Kau mau apa?! Lepaskan!”

“Aniyo,” jawab Luhan dengan lembut. “Kau bilang aku adalah laki-laki brengsek, ‘kan? Kalau begitu aku bisa lebih brengsek dari pada yang kau kira,”

Belum sempat Taeyeon mencerna ucapan Luhan, Luhan langsung menyerang bibir Taeyeon dengan bibir miliknya. Tanpa aba-aba, Luhan melumat kasar dan kuat bibir soft milik Taeyeon. Ia bahkan mengigit bibir atas Taeyeon.

Taeyeon shock bukan kepalang. Ia langsung memejamkan matanya, takut melihat kenyataan yang ia hadapi sekarang. Dengan kekuatan yang ada dalam dirinya, Taeyeon berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Luhan. Ia meronta-ronta. Namun, entah kenapa kekuatannya hilang seketika saat pertama Luhan mulai menghimpit dirinya. Taeyeon tidak bisa apa-apa selain menitikkan air matanya. Bicarapun ia tidak bisa. Luhan benar-benar tidak memberikannya ruang sekedar untuk bernafas.

“Nggg… Lu… Han… Lep…,” ujar Taeyeon di sela-sela ciuman mereka.

Taeyeon mendorong kuat tangan Luhan yang menahan lengannya. Namun Luhanlah yang semakin merapatkan tubuhnya ke Taeyeon dan tangan kanan Luhan menaikkan dagu Taeyeon agar lumatan Luhan semakin liar. Luhan terus melumat dan melumat. Ia tidak peduli darah dari bibir Taeyeon sudah ia telan dan ia rasakan. Yang terpenting bagi Luhan adalah menarik-narik bibir atas dan bawah milik Taeyeon.

Dan dengan beraninya, Luhan mengigit bibir atas dan bawah milik Taeyeon agar Taeyeon membuka mulutnya. Taeyeon mengerang kesakitan dan Luhan langsung menjelajahi mulut Taeyeon dengan lidahnya.

Taeyeon terkejut bukan main. Ini adalah hal yang pertama sekali baginya. Dan ini harus ia alami dengan cara yang sama sekali tidak ia suka, dnegan orang yang ia benci.

Air mata dan saliva Taeyeon bercampur menjadi satu dalam mulut Luhan. Saat tangan kanan Luhan mulai melepas tiga kancing seragam Taeyeon, Taeyeon membuka matanya dan ia mendapatkan kekuatan besar untuk mendorong tubuh Luhan.

Ciuman mereka lepas. Baik Luhan maupun Taeyeon sama-sama terengah-engah. Luhanlah yang paling terengah. Ia mengambil nafas panjang-panjang seraya mengusap saliva yang membasahi daerah bibirnya. Ia tersenyum senang saat dilihatnya bibir atas dan bawah Taeyeon berdarah akibat perbuatannya serta membengkak.

Taeyeon menangis dalam diam. Air matanya bercucuran deras membasahi kedua pipinya. Luhan merengsek maju mendekati Taeyeon lagi. Bibirnya ia dekatkan ke telinga kiri Taeyeon.

“Aku bisa lebih brengsek dan bangsat lagi seperti yang kau mau. Tunggulah sampai aku ‘memasuki’ dirimu,”

Taeyeon tidak berkata apa-apa. Ia tetap menangis. Luhan menatap seragam Taeyeon yang tiga kancingnya terbuka dan agak berantakan. Ia lalu membalikkan tubuhnya dan mengambil blazer-nya.

“Rapikan dulu dirimu. Jangan sampai ada yang mengetahui rahasia kotor kita ini,” ujarnya. “Oh, ya. Kau sudah kotor, Kim Taeyeon,”

Setelah itu Luhan keluar dari kantor. Begitu ia keluar, Taeyeon terduduk lemas dan ia menangis sambil menangkupkan wajahnya ke lengannya. Ia menangis sekencang-kencangnya, ia menangis sesenggukan. Ia tidak dapat menghentikan ataupun mengendalikan tangisnya, seperti seorang bayi yang di tinggal pergi ibunya.

Dia berhasil menyentuh Taeyeon. Tangan kotor dan bibir kotornya berhasil menyentuh Taeyeon. Ia merasa sudah terkotori oleh Luhan. Ia merasa tidak pantas untuk menatap orang-orang yang menyayanginya. Ia melakukan ciuman pertamanya dengan orang yang paling dia benci. Dan ciuman itu adalah ciuman yang intens. Taeyeon benci itu.

Taeyeon meremas kancing seragam atasnya. Ia tidak bisa membayangkan kalau seandainya tadi Luhan melepas semua kancing seragamnya. Ia lebih memilih mati daripada harus melakukannya dengan Luhan.

“Brengsek,”

~~~

BUG!

Luhan memukulkan kepalan tangannya di dinding kamar mandi kuat-kuat. terlihat sekali ia sedang emosi. Kemudian ia membasuh wajahnya kuat-kuat di wastafel. Ia menatap wajah basahnya di cermin seraya menghembuskan nafas panjang.

Ia benci dengan perempuan itu dari dulu. Ia tidak suka. Ia benci. Benci. Ia bahkan bersumpah tidak akan menyentuh apapun yang ada dalam diri gadis itu. Ia terlalu kalap saat mendengar dirinya disebut brengsek dan di tampar oleh gadis yang tidak ada harganya di matanya itu.

Tapi kenapa ia malah mencium bibirnya? Bahkan sampai hampir lima belas menit lamanya. Kenapa? Kenapa ia melakukan kesalahan yang paling menjijikkan?

Dan yang lebih buruk lagi, bibir gadis itu terasa berbeda dari bibir gadis lain yang pernah ia cicipi. Bibir Taeyeon memberinya kehangatan dan kenyamanan. Ia ingin merasakannya lagi.

Luhan memukul dinding kamar mandi itu sekali lagi.

“Sial,”

-To Be Continued-

 

Aauuuuuu, author kembali lebih cepat kekekekeke^^

Nah di part ini…. Ya ngga tau deehh gimana tanggapan readers tercintaahhh

Readersku yang kusayang, kritik dan sarannya yang membangun bisa buat aku semangat ngelanjutin FF ini looo~

Loveya chu

*ngga bisa kasih cuap-cuap lagi disini o.O*

Seeyaaaaa!!!#huggg

Advertisements

168 comments on “My Princess, Kim Taeyeon (Chapter 3)

  1. O em ji.. Hello! O.o” luhannn! Apa yg kamu lakukan sih?? Gilaa gw nangis kebawa fell nya taeng eonni, hancur bngt pasti perasaan nya v,v lagian emang gak ada CCTV ya thor?? Biar guru” pada tauu gtu kelakuan nya luge-_- keren lahh chap ini 😉
    Ngesott lagi ke Chap4 (y)

  2. haha Luhan mulai suka kan sama Taeyeon

    eh apa teman lama Suho itu Taeyeon? tapi kenapa Tae tidak mengenalinya? atau ada satu cast lgi yg blm muncul??

  3. Untung guardian suho muncul nolongin taeng

    itu Taeng udah di”sambar” luhan,
    aigoo

    keknya luhan merasakan sesuatu,, kenapa dia mau menyentuh taeng?? Padahal kemarin lulu benci banget ama taeng

  4. Wow.wow.. Luhan berani2nya cium2 taeyeon. Omona,!!
    Mulai tertarik sm taeyeon rupanya..
    Ahh suka sama suho yg jd guardiannya taeyeon..

  5. Bener2 nguras tenaga banget baca ni ff. Pingin ngebacok luhan mulu bawaannya bener.
    Gak mengecewakan. Suka bgt ff yg beginian. Bisa mancing emosi dri readers. Keep writing thor!
    Fighting!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s