My Princess, Kim Taeyeon (Chapter 1)

my-princess-kim-taeyeon

Bina Ferina’s Present

Main Cast :

KIM TAEYEON

KIM JUNMYEON (SUHO)

XI LUHAN

PARK CHORONG

All of Artists SM. Entertainment

Genre :

ROMANCE, SCHOOL-LIFE, FRIENDSHIP

Rating :

PG 17

Artworker :

Very much thank you, dear^^ –> rosaliaaocha – ExoShidaeFFandGrapchics

A/N :

Mari dibaca^^ hope you’ll be like my new fanfic! Alurnya ceritanya SANGAT BIASA, mungkin juga udah sering baca. Tapi aku akan berusaha lebih keras agar FF ini ngga TERLALU BIASA untuk para ReaderSetiakuu #chu. Happy reading^^

~~~

“Neo eodiga?”

“Aku akan segera menghubungi kalian nanti. Selesai acara ini, aku diminta untuk melihat-lihat kantor Ketua Murid lagi. Aku tidak akan lama. Sudah dulu, ne?” tutup Taeyeon. Ia memutuskan sambungan teleponnya dan langsung menyimpan ponselnya di dalam saku seragam sekolahnya.

Setelah ia menyimpan ponselnya, Taeyeon  memasang telinga kanannya di pintu toilet untuk mendengar kalau-kalau masih ada langkah kaki dari siswa-siswi yang keluar dari aula seusai acara pemilihan Ketua Murid. Ketika acara penutupan berlangsung, Taeyeon langsung permisi ke toilet untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkannya. Setidaknya, untuk hari ini saja, ia ingin bebas dari perlakuan keji murid-murid Whimoon.

Saat ia yakin kalau tidak ada lagi suara-suara siswa-siswi di luar aula sekolah, Taeyeon keluar dari toilet dengan mengendap-endap menuju aula yang ada di depan toilet. Ia seperti seorang pencuri yang mencoba kabur dari kejaran massa. Walaupun ia tahu entah untuk apa ia melakukan hal itu.

Ketika Taeyeon ingin menggapai pintu aula itu, seseorang sudah membukanya terlebih dahulu dari dalam. Taeyeon terlonjak kaget, ia bahkan sedikit menjerit. Apalagi wajah orang yang ada di hadapannya ini sama sekali datar, tidak ada ekspresi apapun. Dia hanya melihat Taeyeon sebentar lalu melihat ke arah lain dengan wajah dinginnya.

“Luhan-ssi,” sapa Taeyeon kikuk. “Apa kita akan ke kantor sekarang? Apa sudah waktunya?”

“Menyingkirlah,” sahut Luhan dingin. Tatapannya tajam menusuk ke bola mata Taeyeon.

“Mwo?” tanya Taeyeon dengan mengernyitkan dahinya. Tapi ia tetap tidak bergeming.

Luhan menghela nafas dengan kasar. Lalu, dengan sengaja ia menubrukkan bahu kanannya ke bahu kiri Taeyeon, agar ia bisa keluar dari aula. Taeyeon sedikit terhuyung. Ia mundur beberapa langkah ke belakang.

“Aiish,” ringis Taeyeon kesal. Ia balik badan dan menatap Luhan yang sudah menghilang ke dalam toilet laki-laki. “Geu namja, dari dulu tidak pernah berubah. Arogan sekali tingkahnya. Aigoo!! Aku harus bersabar. Ya! Kalau kau bukan partner-ku aku pasti tidak akan tinggal diam!”

PUKPUKPUK

Taeyeon melonjak kaget. Ia membalikkan tubuhnya seraya memegang kepalanya yang baru saja dipukul oleh tongkat dan ia tahu siapa itu. Dan benar saja, Mrs. Oh berdiri di hadapannya sambil berkacak pinggang. Ia tampak murka. Dan walaupun begitu, kecantikan di wajahnya sama sekali tidak berkurang.

“Sajangnim…” panggil Taeyeon pelan.

“Mwo? Kau ingin membela dirimu? Tidak ingatkah kau siapa sekarang? Apakah kau pernah melihat atau mendengar BoA berteriak seperti yang kau lakukan barusan? Kau bahkan berteriak kepada pasanganmu sendiri! Kau harus bisa menjaga hubungan kalian agar tetap akur! Mulai sekarang aku adalah guru pengawasmu. Dan jika kulihat lagi tingkah konyolmu yang dapat merusak citra baik seorang Ketua Murid, aku tidak akan segan-segan memberimu hukuman. Arraseo?!” ancam Mrs. Oh tegas.

Taeyeon menganggukkan kepalanya dalam diam. Ia tidak berani mengangkat wajahnya untuk menatap sang guru killer yang ada di hadapannya ini.

“Ingatlah dengan pin ini,” lanjut Mrs. Oh lagi sambil menunjuk pin Ketua Murid yang tersemat di dada sebelah kanan Taeyeon. “Ingatlah semua sepak terjang yang dilakukan para Ketua Murid sebelum dirimu dan lakukan apa yang telah mereka lakukan. Ani, kau harus melakukan yang lebih dari mereka. Berkomunikasi yang baik dengan Xi Luhan dan selalu bekerja sama,”

“Ne, sajangnim,” jawab Taeyeon pelan.

“Baiklah, sebentar lagi aula akan rapi kembali dan Chil-Hyun juga BoA akan langsung mengantarkan kalian ke kantor Ketua Murid. Jangan pernah sungkan untuk bertanya,” ujar Mrs. Oh. Ia segera kembali ke dalam aula.

Taeyeon menghela nafas panjang dan ia berniat untuk menyusul ke dalam aula juga. Langkahnya terhenti karena ia mendengar langkah kaki di belakangnya. Taeyeon menoleh ke belakang dan Luhan dengan santainya berjalan melewati Taeyeon dan masuk ke dalam aula. Dia tidak memandang Taeyeon sedikit pun, seolah-olah Taeyeon adalah kuman kecil yang jika di sentuh sedikit saja akan berkembang biak dengan cepat.

Taeyeon membuang nafasnya dengan kesal. Lalu ia mengikuti langkah Luhan masuk ke dalam aula.

~~~

“Kenapa kau menolak tawaran dari Mr. Lee Soo Man? Kau bisa jadi Ketua Murid yang lebih hebat dari pada uri Xi Luhan,” tanya Henry santai sambil menenggak habis susu kotaknya.

“Tidak, terima kasih,” jawab Junmyeon, atau yang lebih akrab disapa Suho. Ia membalik halaman buku tebal yang tengah dibacanya. Dengan kecepatan matanya yang sudah terlatih membaca buku, Suho kembali membalikkan halaman buku itu. “Aku ingin memberikan kesempatan pada Lu,”

“Kesempatan? Mwoya?” tanya Henry penasaran. Ia membuang kotak susu kosong itu ke tempat sampah dan ikut duduk bersandar pada dinding di samping Suho.

“Kesempatan untuk menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya. Dia adalah pewaris Direktur Utama Grup Xi, yang amat sangat berpengaruh di Negeri China. Dari sekaranglah dia harus banyak belajar untuk menjadi seorang pemimpin,” jawab Suho sambil tersenyum manis pada Henry, yang notabene adalah sahabat karib Luhan maupun Suho. Tapi Henry ini lebih mengenal Luhan karena mereka berdua adalah teman sejak kecil.

“Aigoo, aigoo! My Suho, you’re the best! My bae Suho-ah~ Kau memang yang paling mengerti kami berlima. Aigoo, my sweetheart baby Suho,” puji Henry sambil mengalungkan kedua lengannya di leher Suho. Kepalanya dengan sengaja ia kulaikan di pundak Suho.

Suho memutar kedua bola matanya dan bergumam, “mulai lagi,”.

“Jadi, siapa partner Lu?” tanya Suho, setelah cukup lama melepaskan pelukan Henry.

“Kim Taeyeon,” jawab Henry santai. Ia tersenyum penuh arti. “Kau tahu dia, ‘kan? Gadis yang selalu dicibir di mana saja dan kapan saja hanya karena dia siswa dari “beasiswa”. Kurasa dia akan menjalani hari-harinya lebih berat dari sebelumnya. Aku iba padanya. Tapi mau bagaimana lagi? Dialah yang terpilih,”

“Taeyeon? Ne, aku tahu dia,” jawab Suho pelan.

“Jangan hanya duduk manis di atap sekolah sambil membaca-baca buku-bukumu itu. Hari-harinya akan dia habiskan bersama dengan Luhan. Kau tahu Luhan seperti apa, ‘kan?” tanya Henry sambil memainkan dasinya.

“Luhan tidak akan selera dengan gadis yang berasal dari keluarga tidak kaya,” jawab Suho.

“Ani, bukan itu maksudku. Dia mungkin akan menerima banyak cobaan berat dari fans Luhan dan bahkan mungkin Luhan beserta anak buahnya akan ikut menginjaknya. Kau satu-satunya orang yang didengar Luhan dan ditakuti anak buah Luhan. Kalau aku, Xiumin, Tao, dan Irene, tidak akan bisa menghentikannya dari perbuatannya yang bagaikan iblis,” jelas Henry. “Kau juga satu-satunya orang yang menentang keras adanya pengucilan terhadap rakyat jelata. Jadi, tidak ada salahnya kalau kau membela Kim Taeyeon itu dari orang-orang Luhan,”

Suho menutup bukunya dan ia menatap Henry, yang sedang tersenyum sangat manis padanya. “Kau saja yang membelanya,”

“Aigoo, my sweetheart Suho kenapa tidak mengerti?” tanya Henry dengan nada pura-pura kesalnya.

~~~

BLAK!

Tiffany menutup pintu lokernya dengan agak keras, membuat orang-orang yang ada di sekelilingnya menatap heran ke arahnya. Ia mendengus sebal seraya memeloti siapapun yang tengah menatapnya.

“Waeyo? Kau membuat orang lain takut,” tegur Sunny. Ia mengunci pintu lokernya dan beralih menatap Tiffany.

“Kenapa Mr. Lee memilih Taeyeon? Dia, ‘kan tahu apa resikonya jika Taeyeon yang menjadi Ketua Murid. Dan lagi partner-nya… Xi Luhan? Laki-laki berkepala batu dan berhidung belang yang sama sekali anti dengan orang seperti Taeyeon. Lengkap sudah vitamin buruk yang ada di hidup Taeyeon!” caci Tiffany, geram.

Sunny langsung membekap mulut Tiffany menggunakan kedua tangannya. “Sshh! Kau ingin Mrs. Oh menghukum kita?! Jangan seenaknya menyebut Mr. Lee, arra? Telinga Mrs. Oh itu lebih panjang dari pada leher jerapah,” desis Sunny.

“Dan kau akan mendapat hukuman lebih parah jika menyaci Mrs. Oh, Sunny-ah,” lanjut Jessica dengan wajah datarnya. “Kalau kita bicara tentang manusia rusa itu di depan umum apalagi mengejeknya, yang akan kena imbasnya adalah Taeyeon. Jadi, hati-hatilah kalian berdua jika bicara,”

Tiffany dan Sunny saling diam. Sunny menyikut lengan Tiffany dengan keras, membuat Tiffany mengaduh.

“Neottaemune, aku mencerca Mrs. Oh,” gumam Sunny. Ia menata rambutnya di depan cermin yang ia pasang di depan pintu lokernya.

“Naneun? Wae?! Bukankah yang kau bilang itu memang faktanya?” tanya Tiffany.

Sunny mengernyit memandang Tiffany. Keduanya saling diam dan menatap satu sama lain. Lalu, secara serempak, mereka berdua tertawa geli. Jessica hanya menghembuskan nafas pendek dan ia membuka lokernya, memilah-milih buku pelajarannya.

“Ckckck. Kenapa di sini bising sekali? Apa ada hal yang menghebohkan?” tanya seorang gadis ramping dengan suaranya yang lembut tapi menyengat.

Tiffany dan Sunny diam seketika. Mata mereka menatap tajam ke arah sang gadis, jelas sekali mereka berdua sama sekali tidak menyukai kehadiran gadis itu, bersama tiga orang temannya yang berdiri di belakangnya. Gadis itu, Irene, hanya tersenyum simpul ketika Tiffany dan Sunny memandangnya dengan pandangan tidak suka. Sedangkan Jessica masih menyibukkan dirinya dengan buku-bukunya, seakan-akan tidak memerdulikan kedatangan Irene.

“Eoh, ternyata kalian. Wae? Kalian senang teman kalian… siapa namanya? Kim Tae? Yeonnie? Atau apalah itu, menjadi Ketua Murid, bersanding dengan uri Luhan? Kalian sangat bangga, ne?” tanya Irene dengan nada mengejek.

“Mian, Irene-ssi. Kami merasa tidak mengundangmu di sini,” jawab Sunny dingin. Ia menggenggam telapak tangan kanan Tiffany dan hendak mengajaknya pergi.

“Ketua Murid yang berasal dari keluarga kecil, memang baru Kim Taeyeon. Aku sangat terkejut sekali. Dia tidak pantas mendapatkan posisi Ketua Murid, apalagi jika disandingkan dengan Luhan. Katakan pada teman kalian itu, jangan berharap statusnya akan naik hanya karena dia Ketua Murid. Dan jangan berharap program kerjanya akan berjalan lancar, karena tidak akan ada yang sepakat,” ujar Irene dengan senyuman manisnya yang menusuk. Ia benar-benar malaikat yang lahir dari neraka.

Tiffany melepas genggaman tangannya dari Sunny dan maju selangkah mendekati Irene sambil mengepalkan kedua telapak tangannya. Wajah Irene tidak berubah, tetap menampilkan senyuman menawannya dan wajah yang tenang.

“Neo,” ujar Tiffany gusar. “Selama ini aku selalu bersabar dengan ucapan konyolmu yang seperti sampah. Tapi kali ini, aku berjanji, jika sekali lagi kau menyebut nama Taeyeon di manapun kau berada, aku pastikan kau akan menyesal dengan semua ucapan sampahmu tentang Taeyeon!”

Irene mendengus tertawa. Ia menatap Tiffany tajam. “Kau mau apa denganku? Kau mau memberiku ‘pelajaran’? Baiklah, aku terima dengan lapang dada. Aku tunggu. Dan setelah itu, kau jangan menyesal karena beasiswa Kim Taeyeon aku renggut tanpa terkecuali. Kau tahu, ‘kan beasiswa itu seperti apa untuk orang seperti Kim Taeyeon?”

Begitu Tiffany maju selangkah lagi mendekati Irene dan siap menerkamnya, Jessica langsung maju menghadap Irene, menghalangi pandangan Tiffany dari Irene.

“Coba saja,” ujar Jessica dengan suaranya yang dingin bagai es. Wajahnya datar tapi matanya memancarkan kilat kemarahan. “Jika kau berani menyentuh hak Taeyeon, aku akan menyentuh semua hak perusahaanmu. Camkan itu. Jangan pernah memunculkan wajahmu di depan kami. Aku muak,”

“Kenapa tingkahmu begitu kekanak-kanakkan, Ms. Jung? Kau mengandalkan perusahaanmu?” tanya Irene tidak mau kalah.

“Justru seseorang yang mengandalkan orang tuanya sendirilah yang kekanak-kanakkan. Kurasa ayahmu lebih memilih menetap di Macau dari pada di sini karena dia takut hidupnya akan terus diusik oleh anak manja seperti dirimu,” jawab Jessica lirih.

Irene membulatkan kedua bola matanya. Ekspresi wajahnya seakan-akan ia habis ditampar di depan orang banyak. Wajahnya memerah dan matanya tampak berkaca-kaca. “Neo! Ya!”

Tepat saat itu, seorang laki-laki datang menghampiri mereka. Ia berdiri di hadapan Irene seraya memegang lengan kanannya.

“Kajja, kita masuk ke kelas. Yang lain sedang menunggumu,” ajak laki-laki itu, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Xiumin. “Kami permisi dulu,”

“Ne, kalau bisa kurung saja dia di dalam kelas sampai selamanya,” bisik Tiffany, yang langsung disikut oleh Sunny.

“Aniyo, oppa. Masih ada urusan yang belum aku selesaikan dengan mereka,” tolak Irene marah.

“Kita tidak punya urusan apa-apa. Bahkan, lebih baik aku tidak usah mengenalmu,” jawab Jessica sambil tersenyum tipis. Ia membalikkan badannya dan langsung melangkah menuju kelasnya, diikuti oleh Tiffany dan Sunny.

“Oppa, lepaskan!” seru Irene. Ia menghentakkan lengannya dari cengkeraman Xiumin. “Kenapa kau tidak membiarkan aku membalas perempuan itu?!”

“Kau akan dapat ganjarannya nanti. Luhan akan repot jika kau punya kasus di sekolah ini. Sudahlah, jangan mudah terpancing emosi. Dan jangan memancing kemarahan orang lain lagi,” tegur Xiumin. Ia menggenggam pergelangan tangan kanan Irene dan menariknya menuju kelas mereka, diikuti oleh tiga orang gadis yang sedari tadi ada di belakang Irene.

Di dalam kelas 11-2, di mana kelas Tiffany, Sunny, dan Jessica berada, begitu mereka sampai di kelas, Tiffany langsung membanting bukunya di atas meja, membuat beberapa orang di dalam kelas terkaget-kaget.

“Menyebalkan sekali! Kalau saja Jess tidak menghentikanku, mungkin aku akan langsung membunuhnya hidup-hidup!” seru Tiffany.

“Kenapa kau selalu membuat orang-orang kaget? Sudahlah, biarkan saja dia. Kau tidak perlu terpancing emosi seperti itu lain kali,” tegur Sunny. Ia duduk di samping Kim Heechul, sahabat Taeyeon yang lain, yang sedang asyik main catur dengan Park Chanyeol.

“Irene lagi?” tanya Heechul, dengan nada mengantuk.

“Ne,” jawab Sunny dan Tiffany serempak.

“Taeyeon tidak apa-apa, ‘kan? Selama dia tidak apa-apa, semua omongan Irene anggap saja sampah,” sambung Chanyeol.

“Kami belum bertemu Taeyeon sejak dia diumumkan menjadi Ketua Murid. Kurasa mulai sekarang kita harus selalu ada di sampingnya,” ujar Sunny. “Aku takut fans Luhan mulai melakukan aksi gila,”

“Bagaimana caranya? Selama dia menjadi Ketua Murid dia akan menghabiskan sebagian besar waktunya di kantornya bersama Luhan. Dan tidak ada yang boleh masuk di kantornya kecuali orang-orang yang berkepentingan,” ujar Tiffany.

“Berarti selama dia di kantor itu dia tidak akan apa-apa. Kita harus sering mengawasinya ketika dia sudah keluar dari kantornya,” usul Heechul. “Benar apa kata Yeollie, selama Taeyeon tidak terluka, kita tidak perlu terlibat emosi. Yang akan menerima resikonya adalah kita,”

“Yak! Skak-mat!” seru Chanyeol tiba-tiba, membuat semua yang ada di situ terlonjak kaget.

“Aiisshh, kau bermain curang, eoh?! Ya, aku tidak terima! Ayo ulang!” seru Heechul. Ia memukul kepala Chanyeol dengan buku tebal milik Sunny sambil mengacak-acak lagi papan catur itu.

“Mwo?!”

~~~

“Buku sampul merah ini adalah program kerja Ketua Murid yang belum terlaksana atau yang masih dalam proses. Dan yang bersampul hijau ini adalah peraturan-peraturan atau kebijakan dari Ketua Murid yang harus ditaati siswa-siswi disini. Kalian bisa share via sosial media agar yang lain juga bisa membaca peraturannya. Kalau ada yang ingin kalian tambahkan, silahkan. Dan, yang terakhir. Jika kalian butuh sesuatu untuk di pertanyakan, bisa hubungi kami,” jelas Chil-Hyun panjang lebar dengan senyuman manisnya yang masih menghiasi wajahnya.

“Dan jika ada sesuatu hal yang menyusahkan kalian, kalian bisa juga minta pendapat kami,” tambah BoA.

“Ne, sunbaenim. Arraseo. Gamsahamnida,” jawab Taeyeon sopan sambil menyunggingkan senyum manisnya.

“Luhan?” tanya Chil-Hyun.

“Arraseo, sunbae,” jawab Luhan pendek sambil membaca-baca buku tentang kebijakan-kebijakan sekolah itu.

“Baiklah, sudah waktunya kami masuk kelas. Kalau kalian ada waktu kosong, kalian bisa berdiskusi seraya menerapkan kebijakan tersebut,” ujar BoA, yang diangguki Chil-Hyun.

“Ketua Murid baru, fighting!” seru Chil-Hyun.

Fighting!” balas Taeyeon dengan semangat.

“Luhan-ssi, Taeyeon-ssi, tunjukkan keakraban kalian. Kalian harus bisa menciptakan chemistry agar kalian bisa dengan mudahnya menerapkan peraturan itu,” ujar BoA.

Taeyeon ternganga menatap BoA dan Chil-Hyun. Ia diam saja. Pasalnya, bila ingin bekerja sama, dia pasti bisa diajak bekerja sama. Namun, manusia di sampingnya sulit untuk diajak bekerja sama. Apalagi mereka cukup sering adu mulut sebelum menjadi Ketua Murid. Dan jujur saja, Taeyeon benci menghabiskan waktunya bersama Xi Luhan.

Keadaan hening beberapa saat. Chil-Hyun dan BoA saling berpandangan, menunggu reaksi dari Luhan dan Taeyeon. Dan sewaktu Taeyeon ingin mengatakan sesuatu, telapak tangannya tiba-tiba saja digenggam oleh tangan kiri Luhan. Luhan mengangkat kedua telapak tangan mereka yang saling bertautan ke atas.

Fighting!” seru Luhan. Taeyeon diam saja. Dia heran setengah mati melihat Luhan.

“Baiklah, berkomunikasilah yang baik. Sampai disini dulu perbincangan kita. Annyeong!” pamit Chil-Hyun. BoA melambaikan tangannya ke arah Taeyeon dan Luhan.

Mereka berdua langsung melangkah menuju pintu, keluar dari kantor Ketua Murid. Seketika itu juga Luhan segera melepaskan genggaman tangannya dari Taeyeon agak kasar. Taeyeon terkejut dan ia menatap Luhan tidak percaya.

“Pencitraan, huh?” tanya Taeyeon.

Luhan melangkahkan kakinya menuju wastafel dan ia mencuci tangannya menggunakan sabun. Ia menyeringai. “Lalu? Apalagi yang kulakukan selain menjaga image-ku? Meskipun aku tidak sudi menyentuh tanganmu, kau tetaplah Ketua Murid,”

Taeyeon memandang Luhan tidak percaya. “Kalau begitu jangan lakukan pencitraan itu lagi. Aku lebih baik tidak menyentuhmu sama sekali,”

Bisa dibilang kau beruntung, Kim Taeyeon,” sahut Luhan enteng, sambil mengeringkan kedua telapak tangannya menggunakan handuk. “Terpilih menjadi Ketua Murid dan bersanding denganku. Mr. Lee pasti sudah menganggapmu cerdas sekali, ya? Dan aku menyentuh tangan orang sepertimu. Baru pertama kali. Kurasa dengan menggunakan sabun pun butuh waktu lama mengilangkan bakteri-bakteri yang ada,”

“Tangan orang sepertiku? Orang sepertiku yang bagaimana maksudmu, Xi Luhan?” tanya Taeyeon tajam. Ia merasa sakit hati jika ada seseorang yang mengatainya dengan perkataan ‘orang sepertimu’. “Jika kau memang tidak suka menyentuh tanganku, kau tidak perlu melakukannya! Kau fikir aku mau memegang tanganmu?! Aku tidak seperti perempuan-perempuan bodoh yang bisa setiap hari kau sentuh seluruh tubuhnya,”

“Ckckck, jika suaramu tidak bisa kau kecilkan, reputasi Ketua Murid akan tercoreng karenamu,” sahut Luhan. Ia melemparkan handuk kecilnya di atas meja. “Norak sekali,”

Taeyeon hanya diam. Ia menghela nafasnya panjang, mencoba sabar. Bukannya setiap waktu asal bertemu dengan Luhan, ia selalu mencaci dirinya? Ia harus selalu sabar dan mengendalikan emosinya. Jika bukan karena mereka berdua adalah Ketua Murid, Taeyeon tidak akan mau berduaan dengan Luhan di dalam kantor atau di mana saja.

“Peraturan di buku ini tidak perlu di tambah. Kalau ada yang mau ditambah, biar aku saja yang melakukannya. Ketik ulang semua ini lalu cetak. Sebaiknya kita kerja sendiri-sendiri saja di dalam kantor ini. Aku tidak mau berlama-lama denganmu. Dan aku tidak bisa bekerja sama dengan orang sepertimu, Kim Taeyeon,” ujar Luhan. Ia mencampakkan buku bersampul hijau itu di meja Taeyeon seraya mengambil blazer sekolahnya dari gantungan baju.

“Aku heran kenapa kau yang terpilih, Xi Luhan. Kau sama sekali tidak pantas. Kau hanya memasang tampang sok kerenmu itu. Kurasa Mr. Lee tidak tahu seperti apa kualitasmu,” ujar Taeyeon pelan. Ia mengambil buku bersampul hijau itu dan memasukkannya ke dalam tas.

Luhan, yang saat itu tengah berada di depan pintu untuk keluar dari kantor, sedikit tersenyum sinis. Ia membalikkan tubuhnya dan memandang Taeyeon, yang juga hendak mau keluar dari kantor Ketua Murid.

“Minggir,” kata Taeyeon sinis saat ia berhenti tepat di hadapan Luhan, yang tubuhnya menutupi pintu.

“Kau tahu apa tentang kualitas? Kau ingin berdebat denganku mengenai kualitas? Jangan sampai aku membuatmu diam tak berkutik kalau membicarakan masalah kualitas, Kim Taeyeon. Kau hanya punya otak cerdas dan keberuntungan saja bisa berdiri di kantor ini. Kalau untuk masalah kualitas, apa kau juga berkualitas? Kalau bicara, kau gunakan otakmu yang cerdas itu, arraseo?” ujar Luhan sambil tersenyum kecil. “Dan jangan bicara masalah tampang. Kau tidak cukup pantas membicarakan aku,”

“Ne,” jawab Taeyeon. “Bibirku tidak sudi membicarakanmu. Aku tidak sama dengan perempuan-perempuan murahanmu itu,”

Luhan menatap Taeyeon dalam-dalam. Ia melangkah maju mendekati Taeyeon. Taeyeon tidak bergeming. Ia balas menatap Luhan dengan pandangan penuh kebencian. Luhan sedikit mencondongkan tubuhnya mendekat ke tubuh Taeyeon. Wajahnya ia sejajarkan dengan wajah Taeyeon. Hanya beberapa senti saja jarak wajah mereka. Dan Taeyeon tidak ingin mundur ke belakang.

“Jaga ucapanmu, Kim Taeyeon. Karena bisa saja kaulah yang lebih murahan,” bisik Luhan. Ia menarik wajahnya. Namun, tatapannya masih tertuju pada Taeyeon. “Jika aku sudah menentukan targetku, maka… BAM! Kena,”

Taeyeon memutar kedua bola matanya. Luhan tersenyum simpul pada Taeyeon. Lalu, ia balik badan dan keluar dari kantor. Pintu kantor itu ia tutup kuat di hadapan Taeyeon.

Taeyeon memegang dahinya dan menyibakkan poninya dengan kasar. Ia tak habis fikir selama setahun penuh ia akan menghadapi orang seperti Luhan. Ia tidak tahu apa hatinya akan sanggup menerima cercaan-cercaan dari bibirnya maupun dari teman-temannya itu.

Setelah beberapa menit berdiam diri di kantor untuk menenangkan hatinya, Taeyeon akhirnya memutuskan untuk keluar. Di luar dia di sambut oleh tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan murid Whimoon. Mereka menghalangi jalan Taeyeon.

“Woah, ada Ketua Murid baru ternyata,” ujar salah satu dari mereka.

“Bukankah kita harus memberikan rasa hormat kepada sang Ketua Murid baru?” tanya salah seorang perempuan dengan nada mengejek.

Taeyeon menghembuskan nafasnya pelan dan ia berusaha mencari jalan lain untuk keluar dari kepungan mereka. Tapi, mereka malah semakin merapat. Taeyeon mundur beberapa langkah.

“Bersikap hormat? Jinjjayo? Kepadanya?”

Tawa mereka meledak.

“Minggir, aku ingin masuk ke kelas,” sahut Taeyeon dingin. Ia menerobos jalan mereka. Tapi dengan agak kuat Taeyeon di dorong ke belakang.

“Kau tidak pantas menjadi Ketua Murid kami! Mundur saja atau kau yang akan mempermalukan Whimoon High School!”

“Aku tidak bisa mundur, begitulah ketetapan yang ada,” jawab Taeyeon gusar.

“Mwo? Kalau kau memohon pada Mr. Lee mungkin ketetapan itu akan dikesampingkan. Apalagi wajahmu cocok jika memelas,”

Mereka tertawa kembali. Taeyeon memejamkan matanya, berusaha tenang. Ia menatap mereka satu per satu. Ingin rasanya ia membalas perkataan mereka. Namun, mereka lebih banyak. Lagipula, sebelum ia menjadi Ketua Murid, ejekan mereka tidak sampai seperti ini.

“Kalian saja yang memelas seperti itu di depan Mr. Lee,” ujar Taeyeon, membuat mereka berlima diam. “Wae? Kalian tidak berani pada Mr. Lee? Lalu, apa kalian mau membawa-bawa nama orang tua kalian? Menyedihkan kalau kalian hanya bisa menggunakan nama orang tua kalian sebagai tameng,”

“Kau sudah sombong sekali ternyata!” seru kedua orang perempuan itu. Mereka mendorong Taeyeon kuat-kuat ke belakang, sehingga punggungnya terbentur pintu kantor Ketua Murid.

Taeyeon meringis kesakitan.

“Pin itu yang membuatnya sombong. Bukankah jika dia menghilangkan pin itu dia tidak akan dipercaya lagi oleh sekolah?”

“Ne, aku yang akan mengambilnya,” ujar seorang perempuan yang berambut ikal cokelat. Ia maju mendekati Taeyeon dan mencengkeram pin Ketua Murid yang tersemat di dada sebelah kanannya.

“Aniya,” sentak Taeyeon. Ia menggenggam pin itu dengan kedua tangannya. Tapi pundaknya dipegang kuat oleh teman-temannya yang lain.

“Geumanhae!” seru suara seorang laki-laki di belakang mereka.

Kelima sekawan itu langsung melepaskan cengkeraman mereka dari tubuh Taeyeon. Pin Ketua Murid itu terjatuh di dekat kaki Taeyeon. Taeyeon hanya diam menundukkan wajahnya. Ia merasa tertekan. Seragamnya sedikit berantakan.

“Su… Suho…-ssi,”

Laki-laki yang di panggil Suho itu mendekati kelima sekawan itu dan ia memukuli kepala tiga laki-laki itu dengan agak kuat.

“Kalian fikir kalian siapa?! Cepat masuk ke dalam kelas kalian masing-masing!” bentak Suho.

Mereka berlima menganggukkan kepala mereka. Dan sambil menundukkan wajah mereka, mereka langsung pergi menuju ke kelas mereka, tanpa menunjukkan sedikit perlawanan.

Setelah mereka berlima pergi, Suho menatap gadis yang ada di hadapannya, yang ia tahu saat ini menjabat sebagai Ketua Murid pertama yang bukan berasal dari keluarga konglomerat. Suho mendekati Taeyeon dan ia membungkuk untuk mengambil pin itu. Ia menelitinya sesaat dan kemudian menyerahkannya ke Taeyeon. Taeyeon mengangkat wajahnya dan menatap Suho. Laki-laki yang sangat tampan, dengan senyuman manisnya yang ia sunggingkan pada Taeyeon. Taeyeon tahu siapa laki-laki itu.

Ia menatap pin itu dan mengambilnya dari tangan Suho seraya menggumamkan terima kasih. Suho menganggukkan kepalanya. Senyuman manisnya masih menghiasi wajah tampannya.

“Neo gwaenchanna?” tanya Suho.

“Bukankah kau salah satu dari mereka?” tanya Taeyeon dengan suara tercekat.

Suho menatap Taeyeon dengan pandangan bingung.

“Bukankah kau salah satu teman Luhan?” tanya Taeyeon lagi.

Suho tampak berfikir. “Ani, aku bukan temannya. Aku sahabat dekatnya,”

“Apa kau juga akan melakukan hal yang sama seperti mereka? Memintaku untuk mengundurkan diri?”

Suho tertawa kecil. “Kau tahu aku tidak akan meminta hal itu. Mr. Lee saja tidak akan mengubah keputusannya apalagi dirimu. Aku kesini mencari Luhan,”

Taeyeon diam dan menganggukkan kepalanya. “Dia sudah pergi,”

“Kalau begitu, kau juga sebaiknya masuk ke dalam kelas sebelum kau terlambat. Kau adalah Ketua Murid, tidak bagus jika terlambat,” saran Suho. Ia membalikkan badannya dan pergi menuju kelasnya.

Taeyeon menatap kepergian Suho. Setelah ia menghilang dari pandangannya, Taeyeon langsung bergegas menuju kelasnya.

Sesampainya ia di kelas, kelas 11-2 yang awalnya tadi rebut, mendadak diam begitu mereka melihat kehadiran Taeyeon. Taeyeon tidak terlalu menanggapi bisik-bisik yang terus menghinggapi kedua telinganya. Ia hanya fokus menuju tempat duduknya, yang ada di samping Chanyeol.

“Bagus, mereka menghargaimu sebagai Ketua Murid. Mereka tidak rebut lagi,” ujar Chanyeol seraya merangkul pundak Taeyeon.

“Taenggoo-ah, neo gwaenchanna?” tanya Tiffany dan Sunny bersamaan. Heechul dan Jessica diam dan memerhatikan Taeyeon.

“Apa yang harus dikhawatirkan? Aku baik-baik saja, kok,” jawab Taeyeon. Ia menyunggingkan senyuman manisnya.

“Lalu, bagaimana dengan Luhan? Maksudku, bibirnya yang sok sexy itu tidak menyakiti perasaanmu, ‘kan?” tanya Tiffany.

“Aniyo. Aku benar-benar baik-baik saja. Mungkin kami agak sedikit berdebat, tapi dia menganggapku Ketua Murid yang harus bekerja sama dengannya. Wajar kalau kami memang sedikit berdebat, tapi dia sama sekali tidak menyakitiku,” jawab Taeyeon. Sebisa mungkin ia menyembunyikan kegetiran hatinya.

“Mwo? Sejak kapan siluman rusa itu berfikiran dewasa?” tanya Heechul.

“Kau yakin kau baik-baik saja?” tanya Sunny, yang tampaknya tidak percaya dengan ucapan Taeyeon. Ia memicingkan kedua matanya.

Taeyeon menganggukkan kepalanya, berusaha meyakinkan kelima sahabatnya.

“Baiklah kalau begitu. Kalau saja aku lihat Luhan menyakitimu, aku tidak akan segan-segan langsung menerkamnya saat itu juga,” sahut Heechul. “Dan bagaimana kalau sore ini kita karaoke di tempat yang biasa?”

“Boleh saja! Oppa yang akan membayarnya, ‘kan?” bujuk Sunny sambil mengeluarkan aegyo-nya yang ampuh.

“Ne, ne tentu saja! Lakukan apa yang mau kalian lakukan. Karena ini ucapan selamat kepada Ketua Murid baru kita!”

“Aigoo, oppa neomu daebak!” seru Tiffany girang. Taeyeon hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Jessica juga sedikit tersenyum dan ia memerhatikan Taeyeon. Taeyeon sedang memerhatikan pinnya dan kelihatan sekali ia tampak bingung bagaimana menyematkannya.

“Sini,” kata Jessica. Ia mengambil pin itu dari tangan Taeyeon dan menyematkannya di dada sebelah kanan Taeyeon. “Bagaimana bisa lepas? Bukannya BoA sunbae menyematnya dengan kuat?”

“Terjatuh ketika aku di kamar mandi,” jawab Taeyeon sembari tersenyum.

Jessica memandang bola mata Taeyeon. Taeyeon membalas tatapannya dan ia tersenyum ke arah Jessica. Ia tahu Jessica tidak percaya.

~~~

“Jadi, Chanyeol sudah menceritakan semuanya?” tanya Taeyeon pada kakak laki-laki satu-satunya, Kim Ji Woong.

“Uh-huh,” jawab Ji Woong sambil tersenyum senang. “Kau memang nae dongsaeng yang paling cerdas. Kau memang pantas dapat jabatan itu,”

“Kapan dia menelepon oppa?” tanya Taeyeon lagi.

“Ketika kalian sedang karaoke,” jawab Ji Woong.

Taeyeon hanya tersenyum kecil. Ia memerhatikan kakaknya yang sedang menyisiri rambutnya dan memakai seragam seorang bartender. Ya, Ji Woong memang bekerja di sebuah club malam yang paling tersohor di Seoul sebagai bartender. Ji Woong terpaksa mengambil pekerjaan paruh waktu tersebut untuk membiayai perkuliahannya. Dan pekerjaan itulah yang cocok dengan waktunya.

Sedangkan untuk biaya kehidupan Taeyeon dan Ji Woong berdua, orang tua mereka setiap bulannya akan memberikan kiriman dari New Zealand. Orang tua mereka bekerja di sana, sebagai seorang peternak.

Mau bagaimana lagi? Satu-satunya pekerjaan yang masih bisa menerima seorang lansia adalah peternakan di sana. Walaupun begitu, kehidupan orang tua Taeyeon dan Ji Woong sangat aman dan nyaman. Dan itu cukup membuat hati dan fikiran Ji Woong dan Taeyeon menjadi tenang. Orang tua mereka berjanji akan pulang ke Korea secepatnya bila tabungan mereka sudah mencukup untuk hidup berempat di Korea.

“Cha~ Oppa harus minum green tea buatanku dulu. Supaya pekerjaannya lancer dan oppa baik-baik saja,” tawar Taeyeon sambil memberi segelas penuh green tea buatannya sendiri.

Ji Woong tersenyum. Ia mengalihkan wajahnya dari cermin dan duduk di lantai bersama Taeyeon. Taeyeon meletakkan green tea-nya di atas meja dan menyodorkannya ke arah Ji Woong. Ji Woong menerimanya lalu menyeruputnya sedikit demi sedikit.

Kediaman yang ditempati Taeyeon dan Ji Woong adalah sebuah rumah kontrakan kecil. Hanya ada satu kamar, dapur, dan ruang tengah. Kakaknya yang mengalah untuk tidur di ruang tengah. Kecil, sempit, dan sedikit panas. Rumah itu dikontrak setelah rumah mewah mereka di sita, dan sebulan kemudian, orang tua mereka langsung pergi ke New Zealand. Jadi, sampai orang tuanya kembali ke Korea-lah mereka baru bisa membeli sebuah rumah baru, rumah yang sederhana saja. Jujur, Taeyeon agak trauma mempunyai rumah yang terlalu mewah ketika ia masih sekolah menengah pertama dulu.

“Oppa, kembalilah sebelum pukul tiga, arra?” pinta Taeyeon.

“Arra. Keundae, kalau club itu ramai malam ini, aku tidak berani jamin bisa pulang lebih awal. Kau jangan menunggu, ne?”

“Kau masih harus kuliah, oppa,” tegur Taeyeon.

“Gwaenchanna. Bukannya kau memberiku green tea agar aku tetap bugar?” tanya Ji Woong seraya tersenyum manis. “Ayolah, nae dongsaeng. Melihatmu sedih seperti itu membuatku tidak mood dalam bekerja,”

Mendengar itu hati Taeyeon luluh. Ia menganggukkan kepalanya dan memberikan senyuman manisnya. “Ne, hati-hati oppa,”

Ji Woong tersenyum lebar. Ia mengelus-elus kepala Taeyeon dengan sayang.

~~~

“Siswa maksimal telat lima menit, dan diatas jam tujuh lewat sepuluh dilarang masuk,” gumam Taeyeon pelan. Ia membaca buku kebijakan Ketua Murid sambil melangkahkan kakinya menuju kantornya. Sesuai perintah Luhan, ia telah mengetik ulang semuanya dengan rapi dan mencetaknya. Bahkan ia telah minta bantuan teman-temannya untuk membagikan kebijakan itu di media sosial.

Taeyeon mengecek arlojinya. Masih pukul setengah tujuh pagi. Ia berniat untuk meletakkan buku kebijakan ini dan kembali ke kelas.

Sesampainya di depan pintu kantor Ketua Murid, Taeyeon melihat ada dua pasang sepatu di depan pintu. Taeyeon merasa heran setengah mati. Yang lebih anehnya lagi, dua pasang sepatu itu merupakan sepatu laki-laki dan perempuan.

Merasa ada yang tidak beres, Taeyeon langsung menjeblak pintu kantornya dan betapa terkejutnya ia melihat pemandangan, yang bagi Taeyeon, sangat menjijikkan.

Seorang wanita berpakaian tank top merah dan memakai rok mini sedang duduk di pangkuan Luhan di sofa kantor, memeluk Luhan. Luhan dengan nyamannya mengelus-elus punggung wanita berambut hitam panjang itu. Tercium bau parfum menyengat yang Taeyeon rasa adalah parfum si wanita itu.

“Ige mwoya?!” seru Taeyeon.

Si wanita tersentak. Ia langsung melepas pelukan Luhan dan bangkit dari pangkuan Luhan. Melihat Taeyeon, si wanita ini salah tingkah. Ia mengambil tas dan jaketnya seraya berkata, “Oppa, sampai nanti,”. Dan ia pun melangkah melewati Taeyeon dan keluar dari kantor sambil menutup pintu kantornya.

Luhan menghela nafas panjang. Ia membuka kancing kemejanya dan melepas dasinya. Rambutnya awut-awutan. Dan Taeyeon dapat melihat bercak merah di lehernya. Sungguh menjijikkan.

“Perbuatan kotor macam apa yang kau lakukan disini?” tanya Taeyeon geram.

Luhan tersenyum kecil. “Apa urusanmu?”

“Luhan-ssi,” tegur Taeyeon. “Neo… neo. Aigoo. Kau tahu kau tidak bisa melakukannya disini! Dan siapa perempuan itu? Kau membawanya dari club, keutchi?!”

Luhan bangkit dari sofa dan memandang Taeyeon tajam. Sangat tajam. “Memangnya kenapa kalau aku melakukannya disini? Aku Ketua Murid, jadi aku bebas melakukan apa saja disini. Selagi tidak ada yang melihat, kenapa tidak?”

“Aku sama sekali tidak percaya,” gumam Taeyeon. “Aku merasa jijik jika menginjakkan kakiku di dalam kantor ini,”

“Kau sangat polos. Sekali-sekali kau harus merasakannya. Ah, ye. Kau gadis rakyat jelata, pasti masih polos dalam hal-hal seperti ini. Atau kau mau menambah uang sakumu dengan menjadi perempuan-perempuan yang kau sebut murahan itu?” tanya Luhan dengan tawa mengejek.

PLAK!

Tanpa fikir panjang Taeyeon langsung mendekati Luhan dan menamparnya dengan keras di pipi kanan Luhan.

“Tamparan tadi agar kau sadar, kau tidak bisa bicara seenaknya denganku!” seru Taeyeon. “Dasar kotor!”

Taeyeon hendak membalikkan tubuhnya, berniat keluar dari kantor hina itu. Luhan menatap Taeyeon dengan penuh kebencian. Ia menarik pergelangan tangan Taeyeon dengan kasar dan mencampakkan tubuh kecilnya di atas sofa.

“Aaa!” kaget Taeyeon. Ia terjatuh di atas sofa dengan posisi tidur.

Tahu apa yang akan Luhan lakukan, Taeyeon langsung berusaha bangkit. Namun, ia kalah cepat. Luhan langsung naik ke atas tubunya, menopang tubuhnya sendiri agar tidak menimpa tubuh Taeyeon dengan kedua lengannya.

Jantung Taeyeon jumpalitan. Ia ketakutan setengah mati. Wajah tampan Luhan yang bagaikan pangeran neraka hanya beberapa senti dari wajahnya. Aroma parfum perempuan itu menguar dari tubuh Luhan menusuk hidung Taeyeon. Taeyeon sangat ketakutan. Ia takut Luhan akan berbuat gila dan mereka tertangkap basah. Ia tidak mau mencoreng nama baiknya dan nama keluarganya.

Luhan memajukan sedikit wajahnya ke wajah Taeyeon.

“Jangan pernah menyentuh wajahku, atau aku juga akan melakukan hal yang sama sepertimu,” ancam Luhan pelan. Matanya menatap mata Taeyeon dalam-dalam, mengebornya hingga Taeyeon tidak bisa mengalihkan pandangannya. “Aku tidak sudi disentuh olehmu. Dan, pura-puralah tidak melihat kejadian hari ini. Kalau kau tidak bisa mengunci bibirmu rapat-rapat, aku bersumpah akulah yang akan menguncinya,”

Luhan tersenyum lebar. Wajah innocent­-nya yang menipu itu terpancar. Ia bangkit dari sofa dan langsung mengambil tuxedo mahalnya yang ia gantungkan di gantungan baju dan memakainya. Taeyeon mendudukkan dirinya di atas sofa sambil menenangkan dirinya yang masih ketakutan.

“Gadis kecil,” panggil Luhan. “Aku akan sedikit terlambat hari ini. Rahasiakan keterlambatanku dan katakan saja aku sedang menemui Mr. Lee. Dan aku memang berniat menemuinya sehabis mandi. Tadi malam aku keasyikan di club, jadi tanpa sadar aku membawanya ke sini. Kau tahu, kalau aku bawa kerumah ayahku akan marah besar,”

Selesai mengucapkan hal itu, Luhan langsung keluar dari kantor. Taeyeon bolak-balik menarik nafasnya, berusaha menenangkan jantungnya. Ia sangat takut. Hampir saja. Walaupun ia tahu Luhan membencinya, tapi Luhan adalah laki-laki gila. Ia sangat takut.

-To Be Continued-

 

Annyeoonggg, author ketjeehh hadir menepati janjiii #pestatujuhharitujuhmalam

Author emang ngga bisa PHP-in para readers yang telah berbaik hati udah mau nungguin FF chap 1 ini kelar kekekeke~

Dan maaf buat para readers kalau di FF ini masih banyak kesalahannya. Mohon kritik dan sarannya yang membangun yaa reader tercintaahhhh!!! untuk FF ini, maaf yaa kepanjangan dan ngebosenin 😦

Semua komenan kalian aku baca kok gomawoyo atas responnya, makanya aku semangat sekaliiiii hihihihihi

See you next time ~chu~

Advertisements

155 comments on “My Princess, Kim Taeyeon (Chapter 1)

  1. Luhan bener keterlaluan

    bikin taeyeon naik darah terus

    fighting aja buat uri taeng ngadepin hari2 berikutnya menjadi ketua murid bareng luhann

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s