On Demand (Chapter 3 : Gone)

PicsArt_1417939817820

Title : On Demand (Chapter 3 : Gone)

Author : Fany_aurel

Cast : Kim Taeyeon, Byun baekhyun, Oh sehun, Yoon Bomi, jessica jung, Kris Wu

Rating : PG-15

Leght  : Chapter

Genre : Romance, Friendship

Happy reading

*

*

*

“Kau tak usah takut, karena aku akan selalu bersama mu”

“Ya, jangan seperti itu. Apa kau tidak tau kalau didunia ini karma masih berlaku ? Jangan harap aku akan membantumu kalau saja nanti kau benar-benar jatuh cinta padanya!”

“Terima kasih untuk kado besarnya aunty”

“Hai kiddo, sekarang aku akan naik pesawat menuju korea. Tidak usah dijemput, jaga butik ku baik-baik arraseo?dan oh ya, tolong lihat keadaan haru ketika kau pulang. Aku membawakan mu banyak oleh-oleh! I love you sist” 

-jessica jung-

 *

Part 3

“Taeyeon, ada apa?” Sehun menautkan alisnya saat ia melihat taeyeon terpaku mendengar penelpon itu. Mata wanita itu kosong, tubuhnya seakan membatu.

“Yeon-” saat untuk kedua kalinya sehun mencoba untuk menyadarkannya, mata taeyeon bergerak ikut menatap wajah lelaki itu.

“Nde, aku akan segara kesana.” ucap taeyeon pelan lalu melepaskan handphone yang tertempel di telinganya. Ia pun bergegas memakai coat yang tadi ia taruh disandaran kursi  kembali menyelimuti tubuhnya. Sehun yang melihat wanita yang seakan diburu waktu itu semakin penasaran.

“Kau mau kemana?” Kejar sehun pada taeyeon yang ingin bergegas keluar dari cafe itu. Lelaki itu menarik tangan wanita itu, Membuat taeyeon yang sedari tadi seakan tidak menghiraukannya terhenti dari langkahnya. Dengan sekali gerak, sehun membalikan wanita itu.

“Kau kenapa?!” Tegas sehun pada taeyeon. Sekali lagi, sehun merasakan pikiran taeyeon sudah tak berada disini sekarang. Wanita itu menggeleng, “aku harus menemui mereka!” Ucap taeyeon tak kalah lantang, bibir wanita itu bergetar.

Sehun menghembus gusar, melihat taeyeon yang terus meronta untuk dilepaskan ia tau ada hal yang tak beres. “Biar aku antar kau, arrashi? kau tak mungkin pergi sendirian semalam ini” Pinta lelaki itu membuat taeyeon terdiam menatapnya. Sehun berusaha untuk membuat wanita itu lebih tenang.

.

.

.

Taeyeon melangkahkan kakinya 2 kali lebih cepat ketika sehun sudah dengan tepat memarkir kan mobilnya dengan sempurna.

Kesal.

Beberapa kali ia harus memundurkan tubuhnya serta mengurungkan niatnya untuk menyebrangi jalan itu karena banyaknya mobil yang tak mau mengalah padanya. Ia sempat tertegun ketika tiba-tiba sehun menggenggam tangan kirinya dan menuntun wanita itu untuk menyebrangi jalan.

Sesudah sampai di depan bangunan bernuansa putih itu, Langkah taeyeon pun membesar meninggalkan sehun yang berada dibelakangnya. Taeyeon melangkahkan kakinya yang terasa sangat berat itu semakin cepat. Melawan hatinya yang seakan meminta untuk berhenti, untuk tidak mengetahui semua yang terjadi. Karena ia takut, terlalu takut untuk hal yang tidak ia inginkan terjadi.

Mata taeyeon seakan tak bisa bekedip saat ia bisa melihat jelas beberapa orang yang sangat dikenali itu berada diujung lorong tepat didepan ruang operasi.

Langkah taeyeon terhenti, pencariannya sekarang berakhir. Dan begitu juga sehun yang berada dibelakangnya.

Dada taeyeon seakan sesak saat melihat bibi jung tak henti-hentinya menangis. Paman jung yang akhirnya melihat kearah taeyeon dan sehun tersenyum dengan senyum yang mereka tau itu hanya sebuah tipuan semata. Lelaki paruh baya itu meminta taeyeon dan sehun untuk mendekat, untuk menemui mereka yang sekarang duduk didepan ruang gawat darurat dirumah sakit itu.

“Taeyeon?” Mata taeyeon teralih pada bibi jung yang melepas pelukannya dari paman. Ia menghampiri taeyeon,memeluknya sangat erat. Seakan mengadu pada taeyeon tentang semua isakannya. Taeyeon menaruh dagunya dipunggung bibi jung, matanya dapat melihat beberapa orang yang juga menatapnya dengan tatapan nanar.

“Taeyeon-ah” bibi jung lagi-lagi memanggil nama taeyeon. Menyadarkannya kembali.

“Nde?” Hanya itu yang bisa ia jawab. Otaknya tak mampu lagi berpikir dengan normal. Pikirannya terlalu buruk karena terus saja berprasangka penuh dengan hal yang tak ia inginkan sama sekali.

“Ibu, sudahlah..” Paman jung menarik istrinya yang berada dipelukan taeyeon, menghentikan tangisan wanita paruh baya itu dari telinganya.

Lagi-lagi taeyeon hanya menatap pamannya tanpa sedikit pun mencoba mengeluarkan lisannya, lelaki itu menghela nafas gusar, mengerti akan semua tatapan binggung taeyeon dan sehun.

“Taeyeon, sehun..” Lelaki itu sempat menjeda kalimatnya, Sulit baginya untuk menyampaikan berita itu pada kedua orang didepannya sekarang. Taeyeon dan sehun semakin menjadi tak sabaran dengan lanjutan paman jung

“Mian, Jessica dan kris mengalami kecelakaan.” Ucap paman jung sembari menatap sehun dan taeyeon bergantian.

Kata-kata itu cukup membuat waktu taeyeon seakan berhenti. Ia tak sanggup lagi untuk bergerak. Ia hanya menatap paman meminta sebuah ucapan penyangkalan darinya.

Tapi sepertinya harapannya itu sia-sia. Lelaki itu menghentikan pandangannya dari taeyeon dan kembali menenangkan bibi jung.

Taeyeon mengigit bibirnya yang bergetar. Semua perasaan ini, semua kejanggalan yang ia alami, semua kegelisahannya,ini kah semua jawabannya?

“Sebaiknya kau duduk, Taeyeon-shi.” suara khas baekhyun meleburkan semua pikiran kacau taeyeon. Bahkan ia tak menyadari ada lelaki itu  disini sedari tadi. Baekhyun berdiri dari kursi disamping ibu kris dan memberikan kursi itu untuk taeyeon.

“Duduklah nak, sini” ibu kris menepuk kursi itu untuk mengajak wanita yang belum sepenuhnya sadar dengan kenyataan yang ia hadapi sekarang itu untuk duduk bersamanya.

Taeyeon melayangkan tatapannya sekilas pada baekhyun yang sekarang memilih bersandar di dinding putih rumah sakit itu, ia juga menatap sehun yang sekarang ikut melayangkan tatapan nanar padanya.  Ia pun mengikuti perintah ibu kris dan duduk disampingnya .

“Mereka akan baik-baik saja kan bi?” Harap taeyeon saat ibu kris memeluknya. Menyandarkan kepalanya kekepala taeyeon, dan memejamkan matanya,menahan tangisnya. Ia tak menjawab pertanyaan taeyeon ,dan itu semakin membuat hati taeyeon seakan prak poranda. Ia hanya sanggup menatap lantai keramik yang diinjaknya sekarang. Aku tak boleh lemah. Aku harus kuat.aku tak boleh menangis sekarang, toh mereka tak akan pergi,mereka akan baik-baik saja, karena mereka telah berjanji tidak akan pernah meninggalkan ku, batin taeyeon.

“Kita hanya bisa berusaha taeyeon, semoga doa kita dapat membantu mereka” kecil taeyeon dengar bisikan ibu kris ditelinganya. Mata taeyeon pun terpejam, benar-benar mengharapkan sebuah belas kasihan dari tuhan, berharap tuhan tak akan mengambil mereka darinya.

“Dokter” suara berat paman jung memecahkan semua kekosongan dipikiran mereka semua. Meleburkan segala doa dikeheningan malam hari itu. Ibu jessica, kedua orang tua kris bangkit dari duduknya ketika dokter utama yang menanggani kedua anak mereka keluar dari ruangan itu. Baekhyun dan sehun yang sedari tadi diam dalam lamunannya ikut menghampiri lelaki berkacamata tersebut.

“Tuan jung dan tuan wu, kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan kedua anak anda, dan-”

“Dan apa dok?” Tanya ibu kris tak sabaran dengan ucapan gantung dokter itu.

“Kami benar-benar minta maaf, kami tak bisa menyelamatkan keduanya. Mereka berdua benar-benar banyak kehabisan darah dan operasi sama sekali tak membantu.” ucap dokter itu menyesalkan keadaan itu.

Seketika tangis mereka pecah saat mendengar kata maaf dari dokter tersebut. Ibu kris langsung memeluk suaminya, tak percaya dengan kenyataannya.

Sedangkan bibi jung berteriak histeris tak kuasa kehilangan anak semata wayangnya. paman jung, walau terlihat sangat terpukul ia tetap mencoba untuk menenangkan istrinya itu.

“Ibu, tolong jangan seperti ini” mohonnya seraya memeluk wanita itu saat bibi jung terus meneriaki nama jessica.

Sehun memejamkan matanya saat mendengar ucapan dokter tersebut. Dan baekhyun, lelaki itu memegang kepalanya dengan kedua telapak tangannya frustasi dan beberapa kali ia memukulkan tangannya kedinding. Ia sungguh tak terima dengan keadaan itu.

Satu hal yang mereka lupakan saat itu, satu orang yang hatinya seakan hancur, taeyeon. Wanita yang tadi ikut bangkit dari bangkunya itu masih membeku ditempatnya. Mata baekhyun, yang entah kenapa teralih pada taeyeon, melihat wanita itu menutup mulutnya dan menggeleng tak percaya.

Wanita itu memundurkan langkahnya dengan mata yang berkaca-kaca. Taeyeon pun tak ragu-ragu untuk berlari dari tempat itu.

“Taeyeon-ah..” Baekhyun kembali mengalihkan matanya pada sehun, lelaki yang tak ia kenal itu memanggil wanita itu sembari ikut berlari mengejar taeyeon.

Ia tetap diam menatap keduanya hingga mereka hilang dari ujung lorong.  Ruangan yang berada dibelakangnya tak lama kembali terbuka membuat matanya kembali mengalihkan pandang, dan dari dalam, beberapa suster dan dokter membawa jessica dan kris yang sudah tak bernyawa keluar dari ruang operasi tersebut.

.

.

.

Taeyeon berlari kencang, tak peduli dengan tatapan aneh orang, ia tetap berlari hingga akhirnya kakinya terasa lelah. Ia menghentikan langkahnya tepat diujung sebuah lorong tanpa penghubung. Ia menangis kuat dan menatap kosong dinding didepannya.

Wanita itu pun menutup matanya dalam-dalam. Mengharapkan semua ini hanya mimpi buruknya.  Bukankah mereka berjanji tak pernah meninggalkan nya? beberapa kali taeyeon mencoba untuk meyakinkan dirinya bahwa ini semua bukan kenyataan, ini tidak nyata. Tapi tetap saja, semakin ia meyakinkan dirinya, semakin ia menyadari bahwa semua ini nyata, mereka meninggalkannya untuk selama-lamanya.

Sepasang tangan tiba-tiba menggagetkannya dan membuat mata wanita itu sontak terbuka. Sehun memang pandai untuk membuat wanita itu terkejut. Dari belakang, lelaki itu memeluknya erat. “Mianhe..” Ucapan sehun membuat taeyeon semakin menangis kencang.

“Ini tidak nyata bukan?sehun-ah, kau seorang dokter bukan?kau bisa menyelamatkan mereka kan? ya-jawab aku!!” Wanita itu menggerak-gerakkan lengan sehun yang mendekapnya. Lelaki itu menggeleng, ia semakin menggeratkan tangannya pada tubuh taeyeon, memperangkap lengan taeyeon. Sehun benar-benar ikut terpukul melihat wanita itu. Ia menitikan airmatanya dan mencium puncak kepala taeyeon.

“Maafkan aku yeon” lagi-lagi hanya itu yang mampu lelaki itu ucapkan sekarang.

*****

Hari cerah yang sedang menyelubungi seoul tak berhasil membuat perasaan orang-orang yang sekarang serempak memakai baju berwarna hitam itu membaik. Mereka, dengan bekas isak tangis menatap dua buah nisan yang penuh dengan bunga yang tersebar diatas puncak pusaranya. Taeyeon menggeratkan tangannya dengan kuat kelengan paman jung ketika lagi-lagi bibi jung menangis histeris sembari duduk disamping makam anaknya.

“Hyo-na, jangan seperti ini. Kau tidak kasihan pada mereka? Ayolah, kita pulang sekarang nde?”, kakak tertua bibi jung mencoba membujuk wanita paruh baya itu.

“A-apa mereka akan ikut kita pulang?”

Taeyeon memejamkan matanya saat mendengar pertanyaan bibi jung. Lagi-lagi hatinya teriris melihat tingkah bibi jung yang terlihat masih tidak terima dengan kepergiaan anak dan menantunya. Sedangkan ibu kris, wanita  itu memilih untuk diam dan bersandar dipelukan suaminya, Mencoba untuk tegar dan mengikhlaskan semuanya.

“Iya hyo,iya. Mereka tidak akan meninggalkan kita. Mereka akan tetap ada diantara kita, selamanya. Sebaiknya sekarang kita pulang ya, langit semakin mendung” Bujukan kerabat lainnya akhirnya berhasil membuat bibi jung yang sedari tadi bersikeras untuk tidak  beranjak dari tempatnya bangkit dan dituntun kakaknya untuk kembali kemobil. Begitupula dengan kerabat yang lain, keluarga kris, merekapun satu persatu meninggalkan pemakaman itu.

Paman jung menatap taeyeon yang masih diam disampingnya. Lelaki tua itu memegang tangan kanan taeyeon dan menyadarkan wanita yang menatap kosong kearah dua nisan didepannya.

Taeyeon ikut menujukan kedua iris matanya kelelaki paruh baya itu. Mengerti akan sikap paman jung, taeyeon menganggukan kepalanya lalu melepaskan tangannya dari lengan paman jung. Lagi-lagi paman jung menepuk pundak wanita itu sebelum ia beranjak pergi, mencoba memberi kekuatan padanya. Walau taeyeon tau, lelaki itu bahkan mungkin lebih rapuh dibandingkan dirinya.

Wanita itu sekarang sendiri. Ia menatap dua nisan baru yang ada dihadapannya. Ia membuka kacamata hitam yang sedari tadi menutupi mata sembabnya. Menyangkutkannya dipuncak kepalanya, diatas rambut hitam yang ia urai lepas.

“Hai-” Taeyeon kembali tak tahan ketika ia baru saja ingin menyapa kedua orang yang sekarang sudah pergi meninggalkannya itu. Mulutnya kembali bergetar. Matanya kembali berair.

Ia pun kembali menunduk, ia benar-benar tak kuat untuk menatap kedua nisan itu. “lihatlah apa yang telah kalian lakukan padaku. Benar, kalian berhasil membuatku hancur untuk kedua kalinya. Apa kalian puas?”

“Bukan kah kalian sudah berjanji padaku?” Suara taeyeon terdengar garau ketika berbicara pada dua orang didepannya. Wajahnya semakin menunduk dalam, matanya seakan tak sanggup untuk sekedar membuka.

“Apa kalian tak kasihan padaku?” Sambung taeyeon dan masih tak dijawab oleh kedua orang itu. Mereka masih bungkam, seakan tak ingin mengeluarkan sedikit suarapun.

“Walau sedikit saja?”

“Ya! Bisa kah kalian menjawab ku? Sungguh, aku tak suka bila kalian acuhkan!” Pikiran taeyeon kacau, ia begitu frustasi, takut, marah pada semuanya.

“Jebal…” Lagi wanita itu ingin berteriak, tapi suaranya hanya bisa mengeluarkan suara kecil yang lemah. Ia pun kembali terduduk direrumputan hijau itu. Dan entah pertanda apa yang sedang terjadi, setelah lelah yang wanita itu perlihatkan, bulir hujan tiba-tiba turun. Mulai membasahi tubuh taeyeon. Sekarang hujan ikut menangis bersama wanita itu.

.

.

. 

Baekhyun sedari tadi diam didalam mobilnya. Beberapa kali ia menatap jam ditangan kirinya,  Hampir setengah jam ia telah menunggu taeyeon yang tak kunjung datang. Paman jung memang telah memberi pesan padanya agar menunggu taeyeon dan mengantarkan wanita itu kerumah beliau. Dan baekhyun memang tak memiliki alasan untuk menolaknya. Ia tak mungkin membiarkan taeyeon pulang sendiri dengan kondisi seperti itu.

Pikiran baekhyun kembali melayang memikirkan semua yang telah terjadi. Semua bagaikan mimpi. Bahkan kadang ia tak percaya bahwa ini adalah sebuah kenyataan. Ia tak percaya bahwa tawa dan senyum ramah kedua saudaranya 5 hari yang lalu adalah kebahagian terakhir yang mereka tampakkan dihadapannya.

Pikiran baekhyun seakan terbangun saat kaca depan mobil lelaki itu dibasahi oleh beberapa tetes hujan yang mulai turun. “Sial!” Umpat lelaki itu bergegas turun dari mobil dan mengambil payung dibagasi mobilnya.

Dengan langkah cepat, baekhyun membiarkan sepatu mahalnya terkena genangan air yang sangat cepat terbentuk karena hujan yang semakin lebat itu untuk menemui taeyeon. Lelaki itu sempat tertegun melihat taeyeon, masih duduk didepan makam jessica dan kris. Wanita itu basah kuyup dan baekhyun hanya bisa menghela nafas pilu melihat kesedihannya.

Baekhyun pun kembali melangkah dan sekarang ia pun berdiri dibelakang taeyeon dengan ikut memayungi tubuh wanita itu.

Taeyeon yang merasakan bahwa ada sesuatu yang melindunginya dari sentuhan air hujan mendongakkan kepalanya. Mempertemukan kedua iris hazelnya dengan kedua mata baekhyun.

Baekhyun tersenyum ketika mendapati  taeyeon menatapnya, dan wanita itu ternyata hanya membalasnya dengan datar, taeyeon pun kembali menatap kedua makam itu, tak mengatakan apa-apa dan seakan mengacuhkan baekhyun yang bermaksud untuk menjemputnya. Baekhyun sekarang benar-benar dibuat binggung oleh taeyeon, apa yang harus ia katakan agar wanita ini mau pulang. Ia benar-benar tak bisa membiarkan taeyeon dan dirinya berada diantara hujan yang semakin lebat ini. Bahkan bunyi guntur pun sudah mulai terdengar.

“Taeyeon-shi-” ucap baekhyun canggung. Jujur saja, ini adalah kali pertama ia mencoba bicara pada taeyeon setelah celotehan tak jelas mereka saat di acara jessica dan tentu saja saat ia mempersilahkan taeyeon untuk duduk ketika di rumah sakit.

“Hujan semakin lebat, kau tak mau pulang?” Coba baekhyun dengan penuh hati-hati.

Tak ada jawaban. Wanita itu masih diam.

“Apa kau-”

“Kalau kau mau pulang, pulang saja. Aku bisa pulang sendiri” balas taeyeon singkat dan terdengar dingin.

Baekhyun mengusap wajahnya mencoba untuk sabar, dasar wanita keras kepala, batinnya. “Tapi paman telah menitipkan kau dengan ku, aku akan dibunuh hidup-hidup olehnya bila aku meninggalkan mu, apalagi di keadaan seperti ini” bujuk baekhyun panjang lebar. Mencoba untuk melunakkan wanita itu.

“…” Kembali tak ada balasan dari taeyeon, wanita itu tetap bersikeras untuk diam. Ah bahkan kenyataannya taeyeon tidak terlalu mendengarkan perkataan baekhyun sedari tadi.

“Ayolah demi paman” lagi, baekhyun mengeluarkan kalimat dengan kata pengorbanan yang menurutnya selalu berhasil untuk membujuk seseorang.

Dan sepertinya ia benar. Taeyeon bangkit sembari memasang kacamatanya dan membuat baekhyun memundurkan kakinya dua langkah kebelakang, wanita itu berbalik menatapnya.

“Demi paman” ucap taeyeon kecil tapi terdengar tajam ditelinga baekhyun. Lelaki itu mengangguk, dan wanita itu malah mendahului baekhyun, tak peduli hujan kembali menyerbunya.

Baekhyun berdecak melihat taeyeon yang kembali nekat untuk menerobos derai hujan. “sabar-sabar” helanya sambil mengusap dadanya lalu kembali menyusul wanita itu.

.

.

.

Taeyeon yang sedari tadi merasa bahwa baekhyun beberapa kali mencuri pandang padanya mulai sedikit risih. Wanita yang masih memakai kacamatanya itu pun memutuskan untuk mengalihkan pandangannya dari luar jendela mobil itu kepada baekhyun.

“Apa ada masalah?” Tanya taeyeon penuh penekanan. Ah, taeyeon sekarang baru menyadari bahwa ia telah membasahi mobil mewah lelaki ini. Apa ini alasan baekhyun selalu memandanginya?

“Ah ya aku mengerti, kalau masalahnya tentang aku yang telah membasahi mobilmu, kau tenang saja. Aku akan membayar biaya pembersihan mobilmu ini, jadi kau tak usah takut.” Sambung taeyeon mantap mengatakan bahwa ia akan mengganti rugi basahnya kulit mahl yang membungkus kursi mobil baekhyun.

Baekhyun yang ikut menatap taeyeon walau sesekali juga harus fokus dengan jalan berdesis lucu, “Ya, bahkan aku masih mampu membeli mobil baru taeyeon-shi” ucapnya sombong sambil menggeleng, membalas sikap wanita itu.

“Lalu kenapa terus memandangiku?” Tanya taeyeon semaking mengerutkan alis

Baekhyun hanya diam dan semakin membuat taeyeon habis pikir oleh lelaki itu. Ia pun kembali menatap jalanan saat ia rasa baekhyun mengacuhkannya. Tak penting untuk bicara padanya, batin taeyeon.

Taeyeon kembali dibuat tak mengeri saat baekhyun menghentikan mobilnya dipinggir jalan. Apa lelaki ini ingin menurunkannya disini?gila saja pikirnya.

“Kau tunggu disini, jangan keluar, mengerti bukan?” Tukas baekhyun terdengar seperti sebuah perintah, dan entah kenapa taeyeon seakan tunduk langsung menganggukan kepalanya. Wanita itu bisa melihat lelaki itu keluar mobil dan memasuki sebuah minimarket. Aneh, apa yang ingin ia beli? batin taeyeon. Tapi wanita itu kembali mencoba masa bodoh, ia kembali menatap lurus kedepan dengan kosong. Dan entah kenapa dikeheningan seperti ini ia sekarang benar-benar merasakan dingin yang luar biasa. Walau sedari tadi baekhyun mengatur ac mobilnya menjadi heat, tetap saja tubuhnya yang masih basah membuat tubuhnya tetap kedinginan.

Setelah beberapa menit baekhyun meninggalkannya, akhirnya lelaki itu datang.

“Ini minum lah” tanpa taeyeon sangka baekhyun datang dengan dua gelas kopi hangat ditangannya. Taeyeon masih terdiam.

“Hei, ambilah, setidaknya ini bisa mengurangi dingin” saran lelaki itu mengangkat sedikit dagunya. Tangan taeyeon pun mengambil gelas plastik yang berisi kopi itu, Moccachino, kesukaannya. Kenapa lelaki ini bisa mengetahuinya ?

“Gomawo”

“Aku tak tau kau menyukai kopi apa, jadi aku hanya membelikan mu kopi yang sama dengan kesukaanku.” Sela baekhyun ketika taeyeon mengesap sedikit demi sedikit kopi panas itu. Wanita itu bahkan sedikit terperangah pada baekhyun saat lelaki itu mengatakan bahwa moccachino juga kesukaannya.

“Oh ya, aku lupa.” baekhyun kembali membuat taeyeon mengerucutkan alisnya. Dengan  gelas plastik yang ada ditangannya ia melihat baekhyun yang meninggal minumannya pergi keluar dan berlari kecil kearah bagasi, lalu kembali lagi.

“Aku tak akan membiarkan mu mati kedinginan dimobilku” ucap baekhyun sembari menjulurkan sebuah sweater wanita berwarna putih. Taeyeon lagi-lagi menautkan alisnya, apa yang telah lelaki ini lakukan padanya? tumben sekali menjadi baik seperti ini.

Taeyeon mengambil sweater baru yang masih memiliki label itu ragu. Dan apa ini milik lelaki ini atau ini milik.. Ah taeyeon kau akan dicap menjadi wanita yang suka mencampuri urusan orang bila menanyakan kepemilikan swater itu, pikirnya.

Ia pun membuka lipatan sweater itu, “Ini masih baru, apa kau tidak apa-apa bila aku memakainya?” Tanya taeyeon ragu.

Baekhyun menggeleng, “pakailah, jangan banyak tanya.” Sahut baekhyun kembali dingin, cih lelaki aneh! Batin taeyeon.

Wanita bersungut, “aishh, pemarah sekali” ujarnya refleks dan hanya diam yang baekhyun balas sembari kembali melajukan mobilnya.

.

.

.

Diperjalanan mereka yang panjang (pemakaman terletah diwilayah luar kota) membuat mereka berdua, baekhyun dan taeyeon menghabiskan waktu yang banyak didalam mobil bersama. Mereka tak begitu banyak bicara, masih saling diam dalam hening, mungkin binggung harus berbicara apa lagi.

Baekhyun yang sedari tadi menggunakan tangan kirinya untuk menyetir dan tangan kanan bersangkut di kaca serta memegang kepala mencoba menatap jam tangannya, sudah hampir satu jam mereka berada dimobil. Dan satu jam pula baekhyun menyadari bahwa taeyeon masih saja memakai kacamatanya.

“Apa harinya terlalu terang sehingga kau tak kuat untuk melepas kacamata mu?”

Taeyeon yang kembali terlupa tentang kesedihannya gara-gara gangguan baekhyun, kembali menatap lelaki itu, “nde?”

“Apa kau tak lelah terus memakai kacamata bagaikan orang buta eoh?” ulang baekhyun gemas karena taeyeon seakan tak mendengarkannya.

Taeyeon menghela gusar, lalu kembali menolehkan wajahnya keluar jendela, “aku pikir ada apa.” balas taeyeon membuat baekhyun hampir mencibir, bagaimana bisa ia bertemu dengan perempuan sangar dengan kata-kata menyakitkan dan acuh tak acuh seperti ini, batinnya.

“Sekarang, Mataku dalam keadaan yang terlalu buruk  untuk dilihatkan ke banyak orang” sambung taeyeon akhirnya menjawab pertanyaan yang dikira baekhyun tak akan dijawab wanita itu.

“Dari dulu matamu juga sudah buruk” ucap baekhyun secara tidak langsung telah mengejek wanita itu.

Taeyeon yang masih menatap jalanan disampingnya mengerutkan alisnya mendengar pernyataan hinaan yang dikeluarkan oleh baekhyun. Wanita itu menggeleng, sungguh lelah untuk berargumen sekarang batinnya.

“Terserahlah” balasnya lalu menyandarkan tubuhnya sambil menatap keluar jendela, entahlah kenapa sekarang ia seakan tak mampu untuk sekedar membalas hinaan lelaki itu, ia seperti kehilangan semua tenaganya

.

.

.

Setelah 20 menit kembali saling diam, mobil baekhyun pun memasuk kawasan kota, dan diujung persimpangan, baekhyun membelokkan mobilnya kekiri, menuju rumah paman jung. Taeyeon yang tadi sempat terlelap sebentar tiba-tiba bangun dan menyadari bahwa baekhyun telah membawanya memasuki daerah perumahan mewah itu.

“Jangan kerumah paman!” Pekik taeyeon tiba-tiba mengejutkan baekhyun.

“Waeyo?”

“Antarkan aku keapartment ku saja, putar balik kedaerah gangnam” sahut taeyeon sepihak dan tak menjawab alasannya untuk menolak pulang kerumah paman jung.

Baekhyun menatap taeyeon sambil menaikkan alisnya kaget, “Daerah gangnam? Ya, taeyeon-shi kita sudah mau sampai dan kau meminta ku untuk putar balik?”

Taeyeon mengangguk, “sudah jelas kata-kata ku tadi kan, aku ingin pulang keapartment ku”

Baekhyun menggeram kesal, tubuhnya benar-benar lelah sekarang dan ketika ia sudah hampir bernafas lega karena sebentar lagi ia mengira akan sampai kerumah tiba-tiba wanita yang tadi hanya diam memintanya untuk memutar balikkan mobilnya kedaerah yang lumayan jauh dari rumah tuan jung. Dan tanpa mereka sadari, mereka kembali bertingkah bagaikan kedua musuh yang saling membenci, bagai kucing dan tikus.

“Kenapa baru bilang sekarang hah? Ani, aku tak mau. Pokoknya kau harus ku antar kerumah paman” ucap baekhyun seakan menghardik taeyeon.

Taeyeon bersungut “mwo?ya!putar balik atau aku akan loncat dari mobil ini sekarang!” ancam taeyeon asal ketika baekhyun masih saja melajukan mobilnya dan berlagak seperi boss. kenapa ia tiba-tiba mengancam dengan ancaman konyol? umpat taeyeon pada dirinya sendiri

“Kau mengancamku?” Baekhyun sempat menahan kalimatnya lalu memandang taeyeon sekilas “lakukan saja kalau berani..” sambungnya sambil berseringai.

Taeyeon membuang nafasnya kesal, mencibir saat melihat wajah menyebalkan baekhyun yang ia lihat 5 hari yang lalu kembali terukir. Benar kan, lelaki ini tak pernah berubah. Ia masih saja menyebalkan,gumam  taeyeon sembari menatap wajah baekhyun yang ia kira telah berubah menjadi lelaki baik. Tapi ternyata ia salah, monster tetaplah monster.

Tapi wanita itu tak hilang akal, ia tiba-tiba menaruh kedua tangannya dipundak kiri baekhyun dan mengguncang-guncangnya dengan kuat. “Ya!!!!baekhyun-shi!!jangan antar aku kerumah paman!!!!jeball…. kau harus mengantarkanku pulang!!ayolahhh!!Aantarkan aku!!putar balik!!” Ia berteriak sembari mendorong-dorong tubuh baekhyun yang hampir kehilangan keseimbangan stirnya, lelaki itu pun membanting stir kekiri samping jalan ketika ia hampir menabrak mobil yang melaju dari jalan yang berlawanan arah  dengan mendadak membuat taeyeon sedikit terjengkal kedepan.

“Kau ini sinting ya? mau membuat kita ditabrak mobil lain apa?kau mau mati ya?” deret pertanyaan lelaki itu kesal pada taeyeon setelah melihat mobil lain yang tadi hampir bertabrakan dengan mobilnya dari kaca spion.

Taeyeon sempat ikut terkejut dengan hal bodoh yang ia lakukan dengan mengusap dadanya, ia pun hampir merasa bersalah tapi tidak jadi ketika mendengar ejekan baekhyun “itu akibat kau tidak mau mengantarkan ku pulang!” Jawabnya tak mau disalahkan. Enak saja pikir taeyeon.

Baekhyun kembali menghela lelah, wanita ini memang sangat sulit untuk dibawa berkrompomi. “Aku bukannya tidak mau,tapi kau tau bukan betapa jauhnya alamat apartment mu dengan rumah paman jung yang hanya berjarak 3 blok didepan kita sekarang? kau ini menyusahkan ku saja!” Jelas baekhyun panjang lebar.

Taeyeon memicingkan matanya pada baekhyun. “kau ini pelit sekali sih, mobil saja mewah tapi masalah bahan bakar pelitnya minta ampun!” gerutu taeyeon sembari menggeleng, salah menangkap arti kata lelaki itu.

Baekhyun melonggo mendengar ejekan taeyeon, wanita ini berani mengatai seorang pemimpin perusahaan terkemuka yang terkenal dengan ketampanan dan kedermawanannya dengan sebutan pelit? benar-benar.

“Hei,jaga ucapan tak jelas mu itu. Ini bukan masalah aku pelit bensin atau apa pun, aku jelas bisa membeli beribu-ribu liter bahan bakar sekali pun!”

“Ya sudah kalau begitu antarkan aku!” Simpul taeyeon cepat dengan nada tak kalah tinggi.

Baekhyun menggeleng, “Maaf taeyeon shi, Aku lelah dan nanti sore aku sudah mempunyai janji lain, jadi no way… salahkan dirimu sendiri saja yang tidak memberitahu ku dari awal” tukasnya tetap bersikeras.

“Bukankah kau melihat sendiri aku tadi tertidur?” Sahut taeyeon masih tak mau kalah.

“Bagaimana aku bisa tau  kau tidur apa tidak kalau kau masih memakai benda itu dimata mu!” Baekhyun menunjukan telunjuk tangan kanannya sangat dekat pada wajah taeyeon.

Wanita itu mengerucutkan bibirnya sebal, ia memegang kacamata yang masih bertengger dihidungnya. Apa ia harus mengalah? Jujur,ia benar-benar tak sanggup untuk kembali kerumah paman jung sekarang. Wanita itu menggeleng, lalu menyadarkan tubuhnya dipunggung bangku itu seraya melipat kedua tangannya “Kau harus mengantarkan ku karena tadi kau sudah berjanji akan mengantarkan ku pulang. Dan sekarang aku menagih janjimu untuk mengantarkan ku pulang, ketempat aku tinggal.” cerocosnya sambil menekankan kata-kata terakhir yang ia ucapkan. Ia pun memasang wajah merajuk, mengerucutkan bibirnya.

Lelaki itu berdesis kesal sambil membantingkan tangannya ke stir mobil, ia pun juga menyandarkan tubuhnya. Lelah, sangat lelah dibuat wanita ini. Otaknya pun seketika teringat sesuatu. Kenapa wanita ini mati-matian minta diantar pulang sekarang?bukan kah tadi terang-terangan menolak?

Gerlingan nakal pun ia tampilkan, dan tawa gelinya hampir lepas ketika akhirnya ia bisa mendiskripsikan wanita disampingnya. Pemarah, keras kepala, dan plin plan. Menyedihkan sekali.

“Apa? ayo antarkan aku pulang sekarang!” Galak taeyeon melihat baekhyun sedang mesam mesem padanya.

“Hmm, tadi saja katanya ada yang ingin pulang sendiri, kenapa sekarang tiba-tiba ingin sekali diantar ya?” sindir baekhyun dengan sejuta ejekan.

Taeyeon membuka mulutnya serta kacamatanya tak percaya dengan ucapan pedas lelaki itu, benar juga katanya, batin taeyeon. Wanita itu meneguk liurnya benar-benar tak tau harus membalas apa. Tangannya pun akhirnya memilih untuk membuka pengait pengaman, ya, ia tak mau malu dihadapan lelaki tengil ini.

“Gurrae, aku bisa pulang sendiri. Tak ada untungnya juga bagiku untuk ikut bersama mu, yang ada aku malahan ikut gila karena  bicara dengan dengan orang gila seperti mu. Gomawo!” Ucap taeyeon dengan keterpaksaan saat mengatakan terima kasih. Wanita itu bersiap-siap membuka knop pintu mobil. Lalu kembali terhenti,

Ia menatap baekhyun lagi  “Untuk semua biaya, akan ku kirimkan ketika ku sampai kerumah. Tenang saja,aku akan mengganti bensinmu yang terpakai. Bye! ” Tukasnya lalu keluar mobil itu.

“Ya!jinjja!” Lelaki itu melototkan matanya sambil berteriak terkejut saat taeyeon menutup pintu mobilnya dengan keras. Wanita itu tak mempedulikannya, taeyeon malah berjalan menjauhi mobil mewah lelaki itu dengan hentakan kesal.

“Dasar sombong dan tak mempunyai perasaan! Kalau dari awal tak berniat mengantarkan ku lebih baik tak usah berlagak membujuk!” umpat taeyeon sebal sembari melangkahkan kakinya menyebrangi jalan cepat ketika melihat mobil baekhyun dengan plat nomer unik itu melaju kencang meninggalkannya.

Sial, taeyeon menghela nafas gusar saat ia baru menyadari bahwa dari tadi tak ada taksi berlalu dihadapannya. Kalau dihitung-hitung ia sudah berjalan lumayan jauh dan bahkan jika ia berjalan kearah rumah paman, ia pasti sudah sampai sekarang. Ia pun sempat menyayangkan kenapa ia tak ikut lelaki itu saja tadi. Tapi sudahlah tak usah mengharapkan lelaki sialan itu, gerutunya.

TIT-TIT-TIT!

Taeyeon sempat menghentikan langkahnya sebentar ketika mendengar bunyi klakson terdengar dari belakangnya. Dari dulu ia sangat membenci para pemakai kendaraan yang suka sekali bermain dengan bunyi itu. Sangat menganggu dan menggagetkan, pikrinya.

Ia pun kembali meneruskan jalannya tanpa melihat kebelakang, ia berada di zebra cross sekarang. Ia berada dijalan yang benar. Ia tak menghalangi mobil apapun.

TIT-TIT-TIT!

Taeyeon kembali berhenti lalu menghela lelah dan benar saja, ia lah sasaran kendaraan yang ia rasakan sedari tadi menguntitnya itu. Ia pun membalikkan badannya dan betapa terkejutnya ia ketika melihat mobil yang sedari tadi membunyikan klason adalah mobil baekhyun.

Mau apa lagi, gumam taeyeon sambil memutar bola matanya ketika mobil itu mendekatinya dan kaca jendela mobil itu terbuka. “Masuk!” Satu kata yang diucapkan baekhyun saat mereka sama-sama saling menatap. Taeyeon buru-buru membuang muka. Ragu apa ia harus masuk atau tidak, ia benar-benar gengsi.

“Aku akan mengantarkan mu pulang keapartment mu” lagi baekhyun berucap tetapi tak dibalas oleh taeyeon. Wanita itu masih melipat kedua tangannya angkuh dan membuang muka.

“Taeyeon-shi, kau harus tau kalau aku tipikal orang yang tak suka bertele-tele. Kalau kau mau, aku akan mengantarkanmu. Tapi kalau kau tidak mau, juga tak apa bahkan tak ada ruginya untuk ku, tapi kau?apa kau yakin mau mencari taksi dihari seburuk ini?” Kalimat baekhyun membuat taeyeon mendongakkan wajahnya menatap betapa ngerinya cuaca saat itu, ah kenapa ia baru menyadarinya. “Ingat, ini penawaran terakhir dari ku taeyeon-shi..” Ucap baekhyun lagi sekarang sedikit memperbesar volume suaranya agar wanita itu mendengar.

Dan pada akhirnya, baekhyun sepertinya tau jawabannya. “Baiklah, kalau maumu pulang sendiri, dan…selamat berjuang mencari taksi nyonya” ucapnya sembari menekan tombol otomatis kaca jendela mobilnya.

“Uljjimma!” Lelaki itu berhenti menekan tombol yang berada disampingnya. Dengan gerakan cepat, wanita yang berada diluar sedari tadi kembali masuk lalu menutup pintu mobilnya dengan keras. Iya kan,plin plan, batin baekhyun mantap.

Taeyeon menaikan kaca mobil lelaki itu, lalu memasang sabuk pengamannya dan kembali memandang lurus kedepan. Seakan tak peduli dengan tatapan aneh baekhyun yang menautkan alisnya.

“JANGAN LIAT-LIAT AYO JALAN!” Teriak taeyeon tiba-tiba berhasil membuat baekhyun refleks menginjak gas mobilnya, lelaki itu mengelus dalam hati. Apakah aku benar-benar terlihat seperti supir yang dibentak oleh majikannya sekarang? Baekhyun menggeleng lalu memutuskan untuk tak bersuara lagi.

.

.

.

“Ini?” Baekhyun memajukan kepalanya melihat apartment megah disamping kirinya. Wanita itu mengangguk tanpa melihat baekhyun, ia terlalu sibuk mencek barang ditas kecilnya.

“Bye.” Ucap taeyeon lalu membuka pintu mobil, seperti tak mempunyai niatan penuh untuk berterima kasih.

“Hei,tunggu” sangah baekhyun menahan lengan kiri wanita itu membuat taeyeon kembali menatapnya.

“Waeyo?” Tanya wanita itu sambil mengerutkan dahinya polos.

“Apa yang harus ku katakan pada paman?” Ucap baekhyun sesudah lelaki itu melepas tangannya dari taeyeon. Ia kembali merasa canggung saat sadar taeyeon terkejut dengan tindakannya.

Mendengar pertanyaan itu taeyeon malah tersenyum, senyum yang membuat baekhyun menyadari bahwa wanita ini secara keseluruhan tidak terlalu buruk, taeyeon adalah wanita yang cantik. Masih sama saat tahun lalu bertemu, bahkan lebih cantik.

“Aku akan menelponnya, tenang saja” sahut taeyeon dibalas anggukan kecil baekhyun.

“Terima kasih, aku tak akan lupa untuk mengirimkan-”

“Kau apa-apaan? Tak perlu! Kau kira aku tak mempunyai uang apa?kau harus ingat ya siapa aku ini, byun baekhyun pewaris tunggal perusahaan besar dijepang dan korea” Potong baekhyun bangga dengan dirinya sendiri.

Wanita itu mencibir ucapan lelaki itu, “ck, sombong sekali”

Baekhyun ikut tertawa sinis mendengar celotehan wanita itu, “sudahlah jangan mengataiku, sana keluar” usir baekhyun

Taeyeon berdesis, “ya.ya baiklah..” Ucapnya memutar mata sambil kembali membuka pintu mobil.

“Taeyeon-shi”

Taeyeon kembali mengerutkan alisnya saat lagi-lagi lelaki itu memanggilnya, “nde…?” Tanya nya membalikkan badan dan memegang ujung pintu mobil yang masih terbuka itu.

Baekhyun sempat membisu beberapa detik saat wanita itu menatapnya. “K-kau..gwenchana?” Tanyanya pada akhirnya. Satu hal yang sedari tadi ia cemaskan tentang wanita itu. Taeyeon bisa saja mengomel atau mengumpat seakan tak terjadi apa-apa, tetapi baekhyun tau ada kesedihan amat dalam terukir di mata wanita itu,

Taeyeon mengambil nafasnya dalam lalu kembali mencoba tersenyum. Sial, senyumannya! Batin baekhyun.

“Gwenchana. Kamshamnida, sampai bertemu lagi.. hmm, entahlah apa kita harus bertemu lagi” ucapnya sembari menundukkan kepalanya kecil. Lelaki itu pun membalas anggukan taeyeon sambil tertawa kecil.

“Nde. Senang bisa bertemu denganmu”

****

Sehun menarik koper hitamnya keluar dari pintu kedatangan dengan pesona yang membuat para wanita kadang menujukan pandang padanya, lelaki itu mengamati beberapa orang yang berada disitu dan akhirnya mendapati seorang lelaki yang juga sebaya dengannya bahkan tak kalah tampan darinya melambaikan tangan sambil ikut melangkah mendekat.

“Thank you yeol” ucap sehun sambil menjabat tangan sahabatnya itu.

“Yoi, aku tak akan membiarkan sahabatku datang kembali ke rumahnya  tanpa penyambutan” balas lelaki bertubuh tinggi itu.

Sehun tertawa, “Ya, ada apa dengan perkataanmu yeol? aneh sekali” gelengnya.

Chanyeol hanya membalas kekehan sehun dengan mengangkat bahu, “ayo, kau harus memberi ku makan” ucapnya lalu ia bersama sehun bersama-sama menuju tempat parkir.

.

.

.

“Kau bertemu dengan taeyeon dikampus?” Tanya sehun pada chanyeol yang sekarang sedang mengemudikan mobilnya. Chanyeol merupakan sahabat sehun dan juga teman satu kelas taeyeon di kampus.

“Ani. Aku bahkan tak melihat batang hidung wanita itu dikampus akhir-akhir ini. Memangnya kenapa?” balas chanyeol seadanya.

Sehun menghela gusar mendengar jawaban chanyeol. “Entahlah, sejak kepergian ku ke amerika dia tak pernah membalas pesan ku lagi atau pun mengangkat telpon ku. Apa dia marah ya?” Lirih sehun meminta pendapat dari chanyeol.

Chanyeol hanya mengangkat kedua bahunya, “Siapa suruh meninggalkan wanita itu disaat ia sangat membutuhkanmu hun.” Ucap chanyeol berhasil membuat sehun diam seribu bahasa. Chanyeol benar, ia tak seharusnya meninggalkan taeyeon bahkan tak menemani wanita itu saat pemakaman jessica dan kris satu minggu lalu. Tapi disatu sisi, ia juga tak bisa meninggalkan pekerjaannya. Dan pekerjaannya ini adalah sebuah pekerjaan besar yang sudah dijadwalkan jauh-jauh hari  , jadi ia tak bisa untuk membatalkan atau pun sekedar menundanya.

Tangannya pun mengambil handphone putih dari kantong jeansnya, mengutak-atiknya dan menemukan satu nama kontak. Ia pun tak segan-segan untuk menelponnya

“Hallo”, chanyeol sempat menoleh beberapa kali pada sehun, penasaran siapa yang akan ditelpon lelaki itu.

“Tiffany?” Ucap chanyeol menebak saat mendengar suara khas seorang wanita terdengar samar-samar dari handphone sehun. Sehun mengangguk cepat.

“Kau dimana?” Ucap sehun pada tiffany ditelpon. “Aku baru saja sampai di seoul-”

“Dan sekarang sedang bersama chanyeol si lelaki tampan” ikut chanyeol membuat sehun melirikan mata sipitnya pada chanyeol yang sekarang menatapnya penuh dengan binar kebahagian.

“Katakan pada tiffany, chanyeol merindukannya” tambah chanyeol penuh harap. Sehun menggeleng, dasar lelaki playboy, batin sehun.

“Bagaimana keadaannya?” Tanya sehun kembali teringat alasan ia menelpon tiffany, ya apa lagi selain mengetahui keadaan taeyeon tentu saja.

“Nde?benarkah?dasar keras kepala.” Ucap sehun lagi tak habis pikir

“Baiklah,aku akan kesana sekarang” lagi sehun berucap dan chanyeol menatapnya dengan bingung.

“Ok,tenang saja aku akan membelikan makanan. Bye tif” Ucap sehun sebelum memutuskan hubungan telponnya.

“Ada apa hun?” Tanya chanyeol

“Kita keapartment taeyeon sekarang” ucapnya pada chanyeol.

“Yeayy, kita akan bertemu dengan baby tiffany” sorak chanyeol kegirangan. Sehun yang melihat sahabatnya itu hanya bisa terkekeh penuh jijik melihat chanyeol yang seakan sangat menggilai tiffany

.

.

.

Taeyeon memandang wajahnya dicermin kamar mandi besarnya. Ia bisa melihat sosoknya sekarang tak jauh berbeda dari zombie. Bibirnya pucat pasi, kantong matanya semakin buruk, pipinya semakin tirus. Beberapa hari ini, ia benar-benar tak bisa melakukan apapun bahkan untuk mengurusnya sendirinya ia tak mempunyai semangat. Tubuhnya sangat lemas. Sakit? Entahlah, ia sudah tak peduli dengan kesehatannya. Sakit atau tidak pun ia memang sudah sakit dari awal. Sakit itu masih membekas, kesendirian itu masih terasa, dan kesedihan itu masih teringat.

Ia kembali menitikkan air mata yang entah sudah berapa puluh bahkan ratusan kali mengalir dipipinya saat menginggat kedua orang yang sekarang sangat ia rindukan. Ia ingin memeluk jessica sekarang, ia ingin menceritakan semua sakit hatinya ketika ditinggalkan untuk kedua kalinya. Ia juga ingin mengadu pada kris, betapa susahnya untuk sedikit saja mencoba melupakan dan merelakan orang yang sangat ia sayangi untuk pergi.

“Yeon, kau kenapa lama sekali?”

Taeyeon kembali tersadar dari lamunannya lagi saat tiffany berteriak dari luar kamar mandinya. “Nde, tunggu sebentar” ia menghapus airmatanya dan berjalan menuju pintu.

“Kau itu buang air kecil atau tidur didalam kamar mandi?” Tanya tiffany saat taeyeon membuka pintu itu.

Taeyeon tersenyum lalu melalui tiffany, “sedang konser” jawabnya penuh canda lalu duduk diranjangnya yang berlapisan selimut putih. Wanita itu pun mengambil hanpdhonenya yang tergeletak asal di tempat tidur, alisnya terangkat saat melihat pesan dari sehun.

From : Sehun

Yeon, aku sudah berada diseoul sekarang. Bisa kah kau tak mendiam kan ku? Aku bagaikan mengirim pesan pada alien sekarang. Aku merindukanmu

Taeyeon menghela nafasnya pelan saat membaca habis pesan sehun. Ia pun kembali melempar handphonenya asal, tak ingin membalas pesan lelaki itu lagi. Wanita itu marah pada sehun, marah saat sehun seakan lebih memilih pekerjaannya ketimbang menemaninya. Ya, taeyeon mengakui bahwa dirinya egois. Tapi entahlah sekarang hatinya lagi benar-benar kesal pada sehun. Apalagi saat menginggat kata-kata lelaki itu, kata-kata yang menjatuhkannya sangat dalam.

“Kau masih mengacuhkan sehun?” Tanya tiffany ikut duduk disamping taeyeon.

Taeyeon menggeleng, “tak tau” balasnya malas.

Tiffany menghela nafasnya kecil, binggung atas sikap taeyeon. “Aku tau kau marah padanya, tapi kau tak bisa terus-terusan mendiamkannya” wanita itu mengalihkan tatapan pada taeyeon yang sekarang memilih untuk diam.

“Dia sangat khawatir padamu yeon, bahkan ia sangat panik saat aku katakan kalau kau sakit”

Seketika ada binar keterkejutan yang taeyeon tampilkan mendengar celotehan tiffany. Sedangkan tiffany berdecak kecil saat ia tak bisa menjaga mulutnya sendiri.

“Apa yang kau lakukan?!” Ucap taeyeon dengan mata melotot.

Tiffany menyengir, tersenyum sambil menampilkan deretan giginya, “mianhe..” Balasnya.

Taeyeon terkekeh, mengerti dengan tatapan penuh belas kasihan yang ditampilkan tiffany. “Kau bukan teman ku!” Rajuk taeyeon sebal.

Mendengar rajuk taeyeon membuat tiffany langsung memeluk taeyeon yang ada disampingnya dengan menaruh dagunya dipundak wanita itu. mencoba merayu wanit “Ya,mianhe.. Aku terpaksa melakukannya yeon, sehun memaksaku untuk memberitahunya dan kalau tidak ia akan memberikan nomor ku pada chanyeol, aku kan tak mau nomer ponselku jatuh pada lelaki cengengesan sok tampan itu” maaf tiffany memberi penjelasan.

Taeyeon diam sambil melirikan matanya pada tiffany, “aku masih tak ingin bertemu dengan banyak orang” simpulnya pendek. Ia pun berdiri dan melepaskan pelukan tiffany, berjalan keluar dari kamar lalu menuju teras apartmentnya yang dibentuk seperti taman kecil, sangat cantik dan berkelas. Ia pun duduk di ayunan panjang kayu yang berada disitu. Menatap deretan gedung yang menjulang tinggi dihadapannya, merasakan angin sore menerpanya. Ya, ia masih tak sanggup untuk bertemu orang lain, belum sanggup untuk tersenyum saat ditanya apa kau baik-baik saja?

.

.

.

“Jaga sikap mu yeol! Ingat tiffany sudah mempunyai pacar, mengerti?” Tegas sehun mewanti-wanti chanyeol disampingnya.

Chanyeol berdecak, “selama belum ada ikatan yang lebih dari pacar, aku akan terus berusaha sehun” semangat chanyeol membuat sehun melototkan matanya pada chanyeol dan hanya dibalas chanyeol dengan sebuah tanda perdamaian yang dibuat lelaki itu dari tangannya.

“By the way, taeyeon memangnya kenapa?” Tanya chanyeol ketika mereka memasuki lift apartment taeyeon.

“Dia sakit” ucap sehun seadanya. Chanyeol pun ber-oh panjang.

“Kau sangat panik kelihatannya” tukas chanyeol kembali membuat sehun menatapnya tajam.

“Nde?”

“Ya aneh saja melihat kau yang sekarang terlihat sangat panik tak seperti biasanya, seperti seorang namja yang mencemaskan kekasihnya saja. Ah.. Apa kau memang menyukai taeyeon ya?”

Sehun sontak tertawa mendengar tuduhan chanyeol. “Kau ini bicara apa? Kau sudah tau kan taeyeon itu sahabat ku sejak smp, ia bagaikan seorang adik bagiku sekarang. Jadi, ketika kau mengkhawatirkan adik mu yang sedang sakit apa merupakan hal yang tidak wajar?” Ucap sehun menjawab pertanyaan chanyeol. Lelaki bertubuh jangkung itu memilih untuk diam, tak mengerti dengan pola pikir sehun.

.

.

.

“Hei!” Tiffany menyapa kedua orang yang sekarang berada didepan pintu, ah ralat! tidak keduanya, hanya menyapa sehun saja.

“Hai, tiff” sapa chanyeol sekarang dengan tatapan kagum. Tiffany menghela gusar melihat chanyeol, lelaki yang masih saja mencoba mendekatinya padahal tiffany sudah berapa kali menegaskan bahwa ia sudah mempunyai nickhun.

“Kau kenapa ikut?” Galaknya bukan malah membuat chanyeol takut tapi semakin membuat chanyeol menggembangkan senyum.

“Ingin bertemu dengan nona tiffany yang cantik rupanya ” gombalnya membuat kedua orang disekelilingnya bergidik ngeri.

Sehun menggeleng, “Dimana dia tif?” Tanyanya pada tiffany tak mempedulikan sikap menjijkan chanyeol,wanita itu pun seketika mengangguk, sadar sedari tadi ia tak mempersilahkan kedua orang itu masuk.

“Masuk lah, dia ada diteras dan dia belum makan sejak tadi pagi.” ucapnya sambil mendahului keduanya masuk.

Chanyeol dan tiffany sempat terdiam melihat gerakan cepat sehun yang melangkah melalui mereka menuju teras. Bahkan tiffany belum sempat menyelesaikan ucapannya.

“Apa itu namanya kalau bukan cinta?” Gumam tiffany melihat sikap khawatir sehun yang sangat kentara. Chanyeol menolehkan wajahnya pada tiffany.

“Aku juga mencintaimu” godanya pada tiffany yang sekarang ikut menatapnya penuh kerutan.

“Jangan harap!” Balasnya tegas lalu mengambil beberapa bungkusan ditangan chanyeol dan langsung meninggalkan chanyeol ke dapur.

“Ya jangan tinggalkan aku!!” pekik chanyeol ikut menyusul tiffany

.

.

.

Sehun mendapati punggung wanita yang hampir satu minggu ia tinggalkan itu sedang bersandar pada ayunan yang bergerak pelan. Wanita itu sedang diam menatap langit yang terpampang luas didepannya.

“Yeon” sapanya kecil membuat pemilik punggung itu menolehkan kepalanya.

“Sehun” ucapnya juga terkejut akan kedatangan lelaki itu.

Sehun tersenyum lalu mendekatinya, taeyeon membuang muka dari lelaki itu.

“Maaf” ujar sehun penuh dengan kelembutan membuat mata wanita itu memanas. Sehun duduk disamping wanita itu. “Maaf aku meninggalkanmu sendiri” sambungnya.

Taeyeon semakin membuang pandang, air mata sudah penuh menumpuk dimatanya.

“Gwenchana..” balasnya sekuat mungkin, ia sadar sehun sudah terlalu banyak mengucapkan maaf padanya. Dan jelas seluruh kesalahan itu bukan sepenuhnya salah lelaki itu. “Untuk semua pesan dan telpon yang tak ku balas, aku minta maaf. Aku hanya tak ingin diganggu saja” sambungnya. Ya, mungkin ia memang tak marah pada sehun, ia hanya merasakan kecewa, marah, dan entahlah semua bercampur aduk.

“Kau yakin?” Ujar sehun meyakinkan. Taeyeon mengangguk tanpa ikut menatap sehun yang sekarang malah menatapnya dengan tajam.

“Hey..” Sehun memalingkan wajah taeyeon untuk menatapnya dengan menarik dagu wanita itu. Ia bisa melihat mata indah taeyeon penuh dengan air mata yang bersikeras ditahannya.

Dengan satu gerakan lelaki itu memeluk taeyeon, meruntuhkan airmata wanita itu. “Jangan menangis lagi yeon. Mereka pasti sangat sedih melihat kau seperti ini” ucap sehun. Taeyeon semakin terisak, pilu dengan kata-kata sehun.

“Tapi aku juga tak sanggup untuk menerima kenyataan bahwa mereka tak akan ada lagi dalam hidupku” lirih taeyeon frustasi.

Sehun menggeleng, ia melepaskan taeyeon dari dekapannya. Bangkit dari ayunan itu lalu menatap taeyeon yang hanya memakai kaos polos putih dan celana kain rumahan dari bawah sampai atas.

“Ini kah taeyeon yang kukenal?” Tanya sehun dalam sambil berkacak pinggang. Ia mencoba menghentikan isakan wanita itu.

“Ini kah taeyeon yang selalu mempunyai senyum ditiap harinya?ini kah taeyeon yang selalu memperhatikan rambutnya setiap hari?ini bukan taeyeon” mantapnya sambil menggeleng.

Taeyeon terdiam sambil cecegukan menatap mata lelaki itu. Apa ia sudah terlalu jauh menyelami kesedihannya sendiri?

Lelaki itu pun kembali mendekati taeyeon, sekarang menarik sebuah bangku dan menaruhnya didepan wanita itu, lelaki itu duduk disitu.

“Aku tau kau sedih, aku tau bagaimana perasaanmu. Tapi tidak seperti ini caranya kau bersikap taeyeon. Hidupmu masih panjang, banyak orang-orang disekelilingmu yang membutuhkanmu. Membutuhkan kerianganmu, membutuhkan seorang kim taeyeon. Jessica dan kris pasti tak suka melihat kau seperti ini” bujuk sehun agar taeyeon berhenti menyesali semua, berhenti larut dalam kesedihannya.

“Tapi aku hanya memiliki jessica dan kris sekarang! Dan jessica adalah satu-satunya alasan ku kuat untuk menjalani hidup ini, tapi sekarang ia pergi dan aku tak punya siapa-siapa lagi.”, geram taeyeon yang merasakan hidupnya benar-benar tak berarti sekarang. Ia kembali ditinggal. Lalu untuk apa lagi ia hidup?

Sehun menggambil nafasnya lalu menghela kecil, “kau melupakan ku ya?aku berjanji taeyeon. Aku akan terus bersam-”

“Jangan!” Cegah taeyeon tegas membuat sehun sedikit terkesiap.

“Jangan pernah berjanji seperti itu padaku” gelengnya menginggat jessica dulu juga pernah berjanji tidak akan meninggalkannya. Dan taeyeon tak ingin, ia kembali menggantungkan harapannya pada ucapan tak pasti itu.

Taeyeon merasakan sebuah kebingungan terukir dari wajah sehun, “mian. Aku hanya- entahlah aku tak tau caranya agar aku berhenti untuk bersedih” hela taeyeon  sambil menunduk memainkan jarinya asal.

Sehun menatap nanar wanita itu. Sedih ketika melihat taeyeon yang selalu menampilkan senyumnya sekarang terlihat sangat muram dan tak mempunyai semangat. “Kau harus mengusirnya kalau begitu” Ucap sehun membuat wanita itu mendongak menatapnya tak mengerti, meminta kalimat lanjutan lelaki itu.

“Buat kesedihan membencimu. Kau memang harus berjuang, tapi aku yakin kau adalah wanita hebat yang pasti akan bisa!” senyum lelaki itu kembali membuat taeyeon mengerutkan alis.

“Bagaimana?”

“Tersenyum!cobalah” Ucap sehun dengan menuntut.

Mendengar suruhan lelaki itu, taeyeon mencoba untuk tersenyum. Senyum seadanya yang membuat sehun gemas, “apa kah kau lupa bagaimana caranya tersenyum hah?” Sindir lelaki itu tak sadar ia telah menangkup kedua pipi wanita itu dan menggunakan kedua ibu jarinya, sehun menarik bibir berwarna soft pink wanita itu keatas.

“Ah, taeyeon badanmu panas sekali, kau benar-benar sakit?aku kira hanya pura-pura” Ucap sehun sontak ketika merasakan panasnya pipi taeyeon, ia bahkan baru sadar tiffany tadi telah memberitahunya kalau wanita dihadapannya ini sedang sakit.

Taeyeon menampik tangan sehun yang berada dipipinya, sambil mengerucutkan bibirnya kecil “kau sudah makan?lebih baik kita kekamar, aku akan memeriksa mu.” sambung sehun cemas.

“Aniyo, aku baik-baik saja.”

“Baik dari mananya taeyeon?pokoknya aku tak mau tau, kau harus kuperiksa dan sebelumnya kau harus makan, aku telah membelikan mu beberapa makanan sebelum kesini tadi” tegas sehun mengeluarkan sisi kedokternya. Taeyeon sempat tertegun mendengar perubahan drastis sikap lelaki itu. Di rumah sakit, sehun pasti masuk menjadi salah satu dokter terfavorit para wanita. Siapa sih yang tak suka diperhatikan seperti ini?

“Tumben sekali kau perhatian padaku” balas taeyeon akhirnya.

Sehun berdecak, “Apa tak boleh aku perhatian pada sahabat ku sendiri?”

Taeyeon kembali diam menatap sehun, ya, sahabat, terus saja panggil aku dengan sebutan itu. Batinnya lalu meninggalkan sehun, cukup lah lelaki ini kadang membuatnya melayang lalu tiba-tiba menghempasnya kembali

“Kemana?”

“Bukankah kau menyuruhku untuk segera makan pak dokter?” Balas taeyeon lalu kembali memasuki ruang dalam, tak menghiraukan sehun sama sekali.

****

“Hai taeyeon”

“Bibi sangat merindukanmu”

“Masuklah kajja, bibi telah memasakkan makanan favoritmu”

Taeyeon hanya bisa tersenyum saat bibi jung membukakannya pintu lalu memeluknya. Ia pun memasuki rumah besar itu dengan bibi jung yang berada disampingnya dan menuntunnya keruang makan besar berhiasan ornamen kayu klasik. Wanita itu sempat kaget ketika dimeja besar itu terdapat sulli, kedua orang tua kris dan juga baekhyun,  ia pun mengembangkan senyum ketika  menatap seseorang yang duduk diujung meja itu.

“Paman-” panggil taeyeon sambil berjalan cepat kelelaki itu dan memeluk paman jung yang masih duduk dibangkunya.

“Bogoshipoyo” seru taeyeon saat memeluk seseorang yang telah ia anggap ayah itu. paman jung tersenyum dan meresapi pelukan satu-satunya gadis berharga sekarang.

“Apa kau sangat membenci paman sampai-samapi terus menolak telpon dariku?” nanar paman jung dengan maksud bercanda membuat taeyeon melepaskan pelukan rindu padanya dan menatap lelaki itu sambil menggeleng.

“Aniyo, aku hanya-mianhe” sanggahnya tak sanggup memberikan alasan menginggat ia telah mereject puluhan telpon dari paman jung selama satu minggu lebih ini. Ia hanya mengirimkan pesan maaf setelah ia menolak telpon itu. Sampai akhirnya, ia merasa sudah berlebihan untuk terus menyendiri dan mendiamkan paman. Ia menerima ajakan paman untuk makan malam bersama malam ini. Tapi tak menyangka acara makan malam itu juga melibatkan keluarga kris

Paman jung tersenyum, “jangan cemberut seperti itu. Duduklah,  paman mengerti” ujarnya membuat taeyeon kembali tersenyum.

“Yeon,duduklah disini” sambung ibu kris pada taeyeon. Wanita itu mengangguk lalu duduk disamping wanita itu. Ia sempat menatap baekhyun yang sedang bergulat dengan handphonenya. Lelaki itu duduk didepannya

“Bagaimana keadaanmu yeon?” Tanya ibu kris.

Taeyeon kembali menoleh pada ibu kris dan tersenyum, “baik” ucapnya tersenyum. Ya, setelah penyemangat yang diberikan beberapa orang terdekatnya, tiffany, sehun, paman jung, bahkan nickhun, taeyeon menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Perlahan, luka dihatinya membaik,  walau ia tau sampai kapan pun luka itu akan tetap membekas.

“Kajja, makanannya sudah mulai dingin.Selamat makan” seru sulli memberikan sedikit keceriaan disuasana malam itu. Entahlah, mereka semua seakan mencoba tersenyum, tapi memang tak bisa dibohongi, kesedihan masih terselip diantara tawa itu.

“Oppa!kau itu mau makan atau main handphone sih? cobalah sekali-kali lepaskan handphonemu” tegur sulli pada baekhyun yang sedari tadi tak fokus dengan makannya. Disela makannya, taeyeon menyempatkan melihat percakapan keduanya.

“Kau itu bilang saja ingin makanan ku bukan?” Delik baekhyun. Sulli  hanya menyengirkan wajahnya. Baekhyun memang sangat pintar pikirnya.

“Ini, makanlah” baekhyun memindahkan sepotong daging besar dipiringnya kepiring sulli. Gadis remaja itu tersenyum girang, “gomawo oppa. Kau benar-benar sangat pengertian”

“Hmm..” Balas baekhyun kembali asik dengan handphonenya. Aneh, dari tadi lelaki itu seakan mengindahkan semua yang ada disekelilingnya. Apalagi aku yang duduk diseberangnya, batin taeyeon.

“Taeyeon..” Taeyeon mengalihkan sorot matanya pada paman jung yang telah menyelesaikan makannya.

“Temui paman diruang tengah setelah ini” seru lelaki paruh baya itu lalu bangkit dari bangkunya. Begitu juga dengan tuan wu. Taeyeon hanya mengangguk cepat lalu memperhatikan kedua lelaki itu pergi menuju ruang tengah. Ada apa?tanya nya dalam hati.

.

.

.

“Ada apa paman?” Tanya taeyeon pada keduanya. Mereka sekarang duduk saling bersebrangan satu sama lain.

“Baekhyun, masuklah” taeyeon menolehkan wajahnya kebelakang menatap baekhyun yang ikut datang bahkan menutup pintu ruang tengah itu.

Dahi wanita itu berkerut. “Apa yang kalian ingin bicarakan?” Ucapnya lagi sembari melihat baekhyun duduk disampingnya sebelum kembali menatap dua orang didepannya.

Tuan jung menghela nafasnya berat melihat kebinggungan taeyeon. Ia pun mengambil sebuah map berwarna biru disampingnya lalu meletakkannya dimeja.

Taeyeon menaikan alisnya, lalu tangannya teralih untuk mengambil map itu. “Apa in–” taeyeon membulatkan matanya dan ternganga melihat isi surat itu.

“Surat hak asuh haru?” Ucapnya tak percaya melihat namanya tercantum sebagai pemilik hak asuh haru bahkan hal yang paling membuatnya tak percaya ketika ia dengan jelas juga melihat nama baekhyun tercetak dikertas itu.

Paman jung mengangguk, “ya, mereka telah memilih kalian”

Taeyeon terkejut bukan main, “bagaimana bisa?” Tanyanya lagi. Sebenarnya ia tak keberataan, ia bahkan sangat senang bila diminta untuk mengasuh haru. Tapi tidak bersama lelaki itu.

Tuan wu mengeluarkan sebuah surat, “ini surat yang ditulis kris dan jessica” taeyeon menyambut surat kecil itu. Lalu membacanya dengan penuh ketelitian, mengharapkan sebuah kesalahan dalam makna surat itu.

“Mereka ingin kau dan baekhyun menikah”

Taeyeon melototkan kedua matanya penuh dengan umpatan didalam hatinya, bagaimana bisa kedua orang itu memintanya untuk menikahi seorang monster? hal yang tak ingin ia lakukan walau dengan imbalan apapun. Mata taeyeon sempat sekilas teralih pada baekhyun yang terlihat tenang saja disampingnya.

“Mereka percaya bahwa hanya kalian berdua yang bisa membesarkan haru dengan baik. Mereka tau kami sudah terlalu lemah untuk menjaga haru” tambah paman jung pada taeyeon yang masih bergulat dengan pemikirannya.

“Kau tau keadaan bibimu kan yeon?”

Taeyeon mengalihkan matanya yang sedari tadi menatap surat yang tak henti dibacanya ulang itu pada paman jung. Ia memandang tuan jung nanar dan mengangguk. Sejak satu tahun lalu, ibu jessica positif divonis menderita penyakit jantung kronis.

Ia pun yang mulai panik teringat pada lelaki yang juga disebutkan dalam surat itu, ia melirikan matanya pada  baekhyun yang sedari tadi diam dan tak mengeluarkan keterkejutan sama sekali.

“Kau tidak terkejut?” Heran taeyeon pada baekhyun.

“Aku sudah tau” ucapnya datar tak menatap wanita itu.

“Dan kau setuju?” Ceplos taeyeon sedikit kesal karena baekhyun terlihat santai-santai saja.

Lelaki itu menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Taeyeon pikir lelaki itu akan berteriak atau berbicara macam-macam tetapi ternyata ia tak melakukannya. Baekhyun kembali menatap kedua lelaki dihadapannya, “Paman aku harus bicara empat mata dengan taeyeon” tukasnya membuat taeyeon kembali menatapnya dengan menyatukan alisnya binggung. Lelaki itu pun berdiri dari bangkunya dan menarik lengan taeyeon untuk ikut berdiri dari kursi besar itu.

“Permisi”

“Ikut aku..” Tuntunnya menarik taeyeon.

.

.

.

Baekhyun melepaskan tangan taeyeon saat mereka sampai dihalaman belakang, disaat ia bisa meyakinkan tidak ada seorang pun diluar dan mendengarkan mereka bicara satu sama lain, ia rasa inilah waktunya untuk berbicara dengan taeyeon.

Mereka sempat diam diluar situ. Baekhyun mengusap pelipisnya binggung harus dari mana ia memulai, dan taeyeon juga masih terlalu terkejut dengan keputusan kedua orang yang telah berani-berani lempar batu sembunyi tangan padanya.

“Semua kerjaan kedua orang kesayanganmu” gerutu baekhyun sebal pada jessica dan kris akhirnya menyadarkan taeyeon.

“Aku tak bisa melakukannya” ucap taeyeon mengakuinya cepat dan langsung keinti pembicaraan. Lelaki itu membalikan tubuhnya pada taeyeon.

“kau pikir aku bisa?” Taeyeon sempat menatap baekhyun dengan alis yang mengerucut.

“baiklah, kalau begitu biarkan dia bersama ku” sambung taeyeon penuh ketegasan. Ya, semua masalah akan selesai dengan cepat, baekhyun pasti akan mau menyerahkan haru padanya.

Baekhyun menggeleng, “tidak bisa.”

Taeyeon kembali menajamkan matanya tak mengerti dengan penolakan lelaki itu, “wae? tolong baekhyun-shi jangan mempersulit ini semua. Aku bisa menjaga haru dengan baik” tanya taeyeon sembari mencoba meyakinkan baekhyun.

“Kalau kau bisa menjaganya dengan baik kenapa jessica harus meminta ku untuk menjaga haru juga?” Tanya baekhyun balik. Taeyeon sempat binggung harus membalas apa, benar, ia tak mungkin bisa menjaga haru sendirian, ia harus melakukan banyak hal setiap hari, jadi tak mungkin untuk mengawasi bayi itu seharian penuh. Ottohke.. Apa ia harus menuruti permintaan jessica?

“Tapi aku tak ingin menikah dengan mu..” panik taeyeon mengingat betapa ngerinya lelaki yang berkepribadian ganda didepannya. Tak pernah terpikir di otaknya akan mempunyai seorang suami yang cerewet dan tiba-tiab bisa menjadi dingin seperti baekhyun.

“Aku juga tak ingin menikah dengan mu!enak saja..” Balas baekhyun mentah-mentah menolak membuat taeyeon sedikit kesal mendengar ejekan lelaki itu, sehina itukah dirinya sehingga kata-kataa itu keluar dari mulut lelaki itu?batinnya.

“Aku sudah mempunyai kekasih, dan aku tak mungkin meninggalkannya hanya demi permintaan konyol jessica.” sambungnya membuat taeyeon yang sedari tadi menatap kearah lain sambil melipatkan kedua tangan didadanya sedikit terkejut mendengar penyataan lelaki itu. Apa? ia tak salah dengar bukan?

“D-dan aku pikir kau juga berpikiran sama dengan ku bukan?” Tanya baekhyun agak ragu membuat taeyeon melirikkan matanya pelan kearahnya.

“Lelaki di rumah sakit waktu itu. Siapa namanya?se..” Ucap baekhyun mencoba menginggat lelaki yang ia temui dirumah sakit bersama taeyeon, lelaki itu menatap taeyeon meminta sebuah bantuan.

“Sehun..” Sambung taeyeon menatap nanar lelaki itu. Hebat sekali, sekarang baekhyun malah menganggap sehun adalah kekasihnya. Yang benar saja, ini sangat menyedihkan!! Batin taeyeon meratapi nasibnya sendiri.

Baekhyun mengangguk mengiyakan nama yang taeyeon sebutkan, “kita tak mungkin bukan menikah disaat kita sudah memiliki kekasih masing-masing?”

Taeyeon hanya menaikan kedua alisnya keatas sembari menghela nafasnya, entah tak tau harus berkata apa. Apa ia harus berkata jujur kalau sehun bukanlah kekasihnya? Tapi, ah ia pasti di ejek habis-habisan oleh lelaki didepannya ini. Apalagi baekhyun sekarang sudah mempunyai kekasih. Dimana ia akan menaruh mukanya nanti? Dan menginggat bahwa dulu ia pernah mengolok-ngolok lelaki itu serta mengatainya sebagai lelaki kesepian yang tak memiliki kekasih membuatnya mengecilkan niatnya bahkan menghilangkan niatnya untuk berkata jujur.

“Jadi, bagaimana?” Tanya taeyeon pelan. Ia benar-benar tak mempunyai jalan keluar diotaknya.

“Aku sudah memikirkannya dari beberapa hari yang lalu”

“Jadi kau sudah tau dari beberapa hari yang lalu?” Sadar taeyeon kembali mengingat bahwa lelaki ini tadi sudah mengatakan bahwa ia sudah lebih tau tentang permintaan itu. “Kenapa bisa?” Sambungnya dengan mata melotot, memprotes karena sangat tidak adil baginya kalau baekhyun lebih dahulu diberitahu dibandingkan dirinya.

“Ditelpon saja tak mau mengangkat, bagaimana mau memberitahu?” Cibir baekhyun menghentikan amarah taeyeon. Wanita itu menghela nafasnya, merasa bodoh.

“Seharusnya aku mengangkat telpon paman” sesalnya mengumpati dirinya sendiri.

“Tak usah terlalu dramatis. Pada akhirnya kau juga pasti tau bukan? Tak ada juga untungnya bila kau tau duluan, yang ada kau terus-terusan panik dan malah membuat keadaan memburuk lalu menganggu ku dalam memikirkan jalan keluarnya” sahut baekhyun dengan wajah dinginnya membuat taeyeon ingin sekali menyumpalkan batu besar kemulut lelaki itu.

“Oh ya?kalau begitu katakan apa ide terbaikmu?” Tantang taeyeon sembari melipat kedua tangannya kedada. Ia menaikan dagunya sedikit. Oh, mau menyombongkan diri sekarang?batin taeyeon.

“Kita akan berbohong pada mereka.” Ucap baekhyun yang memulai menerangkan rencananya tetapi taeyeon kembali menginterupsi kalimat lelaki itu.

“Berbohong?jangan katakan kita akan menerima perjodohan itu dan melakukan pernikahan kontrak?” Panik taeyeon membayangkan dirinya dan baekhyun akan melakukan pernikahan kontrak seperti difilm-film.

“Ya, memangnya umurmu berapa sekarang?17?atau 10? Kita sudah terlalu tua untuk memikirkan rencana murahan seperti itu. Aishh, bukankah kau tau kalau pernikahan bukanlah hal yang bisa dimain-mainkan eoh?”  geleng baekhyun mendengar kalimat-kalimat taeyeon yang tak berarah. Kawin kontrak? Hal yang konyol pikirnya.

Ucapan baekhyun seperti menohok taeyeon, secara tak langsung lelaki itu kembali mempermalukan wanita itu didepan dirinya sendiri. “L-lalu?” Ucap wanita itu kecil sembari meneguk ludahnya

“Kita akan mengatakan pada paman dan bibi kalau kita akan memenuhi permintaan mereka terkecuali satu hal, yaitu menikah. Tetapi karena melihat keadaan bibi dan paman sekarang, aku tau kita tak mungkin mengatakan terang-terangan kalau kita tak ingin dijodohkan.”

Baekhyun sempat menjeda kalimatnya sembari melirikan matanya pada taeyeon yang sekarang memilih diam mendengarkan lelaki itu sambil menatap taman didepannya. Wanita itu takut kembali mengatakan hal yang salah.

“Kita akan mengatakan pada mereka bahwa kita akan mencoba menjalin hubungan. Berpura-pura seakan kita mau untuk saling mengenal satu sama lain selama beberapa bulan dengan catatan keputusan akhir merupakan pilihan kita sendiri, bukan mereka. Bagaimana?”

Taeyeon menatap baekhyun sambil mencerna ucapan lelaki itu. “Lalu haru?” Tanyanya mengerutkan alis memikirkan prioritas utamanya, haru.

“Aku telah menghubungi teman ku yang bekerja dipengadilan dan memintanya untuk memindahkan hak asuh sepenuhnya padamu-”

“Tunggu, bukankah tadi kau mengatakan kalau kau tidak mau memberikan hak asuh padaku?” taeyeon yang kembali terkejut dengan ucapan baekhyun yang menurutnya tak menentu itu kembali memotong perkataan lelaki itu.

Baekhyun menggeleng, “kau ini kenapa suka sekali memotong pembicaraan orang secara tiba-tiba sih?” Sengit lelaki itu sambil menghembuskan nafas panjang melihat kelakuan wanita disampingnya itu.

“maaf” takut taeyeon, yakan dua kepribadian ganda, gerutu taeyeon dalam hati.

Saat wanita itu kembali mecoba bungkam, baekhyun menyambung kalimatnya lagi. “Aku akan memberikan hak asuh haru padamu karena aku tau kau lebih bisa menjaga haru dibandingkan diri ku. Aku sudah mengurus semuanya, dan kita hanya menunggu sidang pengadilan saja”

“Kapan?” Tanya taeyeon lagi.

“Sekitar 4 bulan lagi” jawab baekhyun.

“Lama sekali!” ucap taeyeon memprotes.

“4 bulan adalah yang tercepat. Semua butuh proses taeyeon-shi, tak semudah yang kau pikirkan. Dan aku sudah berusaha semaksimal ku” Jelas lelaki itu.

Wanita itu mengangguk kecil dan hanya bisa pasrah, “Lalu selama 4 bulan itu apa yang akan kita lakukan?” Tanya taeyeon.

Baekhyun kembali terdiam, memikirkan apa keputusannya tepat atau tidak. Tapi menurutnya itu lah hal yang terbaik.

“kita akan tinggal dirumah Jessica” Ucap baekhyun.

“kita?” lonjak taeyeon lagi-lagi kaget.

“biasa saja reaksinya.” Cibir lelaki itu dingin sambil membuang muka melihat reaksi taeyeon yang menurutnya berlebihan.

Taeyeon memajukan bibirnya mendengar ucapan dingin lelaki itu, “tidak bisakah kita tinggal dirumah masing-masing?”

Baekhyun menggeleng, “Jessica dan kris telah meminta ku untuk mengasuh haru. Dan sebenarnya secara tidak langsung aku telah mengingkari kewajibanku dengan memberikan hak asuh haru pada mu, oleh karena itu selama 4 bulan ini aku juga memiliki kewajiban untuk memastikan apa kau layak untuk menjadi pemilik hak asuh haru. Dan kalau kau gagal, haru akan kembali padaku” ucap baekhyun bagai sebuah ancaman sekaligus perjanjian terkandung dalam kalimat itu.

Taeyeon meneguk liurnya mendengar kata-kata tegas lelaki itu, baekhyun sepertinya tidak main-main, batinnya.

To be continue…

Haiiiii  firstly, akhirnya aku jadi author disini yepii makasih admin hehe terus masalah cerita, kalian pasti udah bisa nebak alur cerita ini kaya gimana kan hehe ngak tau dari dulu emang berimajinisi membuat cerita ini tapi baru terealisasikan sekarang, bahkan dulu sempet mau bikin dengan cast cowok lain. Tapi aku ngak akan buat alur cerita ini dengan flat kok, i try to make a drama dan konflik, butuh komentar dan saran ya guys thank you!!!!!

Advertisements

71 comments on “On Demand (Chapter 3 : Gone)

  1. What? KrisSicakecelakaan? Uljima Taeng eonni.. Baekhyun menemani, #apasih.. next chap kutunggu thorr.. kutunggu apa yang terjadi dengan Tom & Jerry ituu..haha

  2. aaaaa senangnya membaca ff setelah ulangan..
    mianhae baru baca,,,
    qqeerreeeennn ceritanyaaa…
    next chap d tnggu..
    fighting

  3. Anyeong .. maaf aku baru coment di part ini.. aku gabuka ini blog. Selama uts + try out 😭
    konflik di ff ini bagus bgt
    Taeng terlalu sensitif kalo sama baek ya.. hahaha
    dan aku bingung sama sehun.. dia ada rasa sama taeng atau enggak.. kasian taeng bebannya brt bgt.. semoga happy end dah buat taeng

  4. Thorrr ini kapan diterusin??. Aku nunggu ini udah dari kapan tau/? Lanjut dong thor jangan berenti ditengah jalan. Masih penasaran sama ceritanya

  5. thoorrrrrr…… lanjut plisss…. suka banget critanya…..
    suka sama sifat baekhyun nya….
    bikin sedih bacanya pas tahu baekhyun udah jadian…….. sama bomi ya? kalo kataku sama bomi…!!!!!!
    banyakin bikin si taeyeon cemburu ya thorrr…. biar aku nangis bacanya…… ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s