Officially Missing You (Sequel of Ma Boy~)

officiallymissingyou1

Bina Ferina ( Kookie28)

 

Main Cast : Kim Taeyeon GG, Xi Luhan

Genre : Romance

Rating : PG 17

 

Thanks To :

BaeLyrii @Cafeposterart.wp.com for making this amazing poster, chu~

Okelaah, happy reading ajadeh, yaaaa^^

~~~

Seoul, South Korea, 2018, December 29th.

“Taeyeon-ah!” panggil Tiffany keras.

Kim Taeyeon, seorang gadis muda yang cantik, menawan, dan cekatan itu tidak menolehkan wajahnya dari buku yang ada di hadapannya. Ia tengah konsentrasi dan sulit diganggu. Bahkan oleh sahabatnya sendiri. Ia bagaikan singa betina yang galak bila dirinya diganggu jika sedang belajar.

“Ya, Kim Taeyeon,” panggil Tiffany lagi. Kali ini dia sudah berada di depan Taeyeon sambil menyodorkan sebuah surat kecil berwarna merah muda dan putih di depan wajah Taeyeon. Surat yang imut, dan Taeyeon langsung tahu siapa pengirimnya.

Bola matanya membulat sempurna dan senyuman manisnya mengembang. Ia langsung mengalihkan pandangannya dari bukunya dan merebut surat kecil itu dari tangan Tiffany.

“Aigoo, ckckck. Bagaimana bisa kau bertingkah tidak adil seperti itu? Kalau aku dan yang lainnya memanggil kau takkan bergeming. Tapi bila sepucuk surat itu datang, kau langsung bertingkah seakan-akan tidak punya pekerjaan,” ejek Tiffany sambil menyesap minumannya.

“Kau harus mengerti keadaanku, Tiff. Pacarku jauh di negeri seberang. Sedangkan kekasihmu ada di depan mata,” ujar Taeyeon sambil mengedikkan kepalanya ke arah seorang laki-laki berambut blonde yang tengah berbincang dengan temannya di meja belajarnya. “Otomatis aku merindukannya tiap hari dan selalu menunggu kabarnya. Dia selalu sibuk di perusahaan. Hanya bisa sekali seminggu mengirimiku kabar dan hadiah-hadiah kecil,”

“Arraseo, arraseo. Aku tahu kau pacaran selama empat tahun dengan jarak jauh. Aku tahu. Yasudah, bacalah surat kecilmu itu sampai dosen kita hadir. Hubungi aku jika ia sudah masuk ke dalam kelas,” ujar Tiffany dan ia langsung melangkah menuju kekasihnya yang tadi ditunjuk oleh Taeyeon.

Taeyeon menatap kepergian Tiffany sambil tersenyum. Ia lalu duduk dan cepat-cepat membuka surat kecil itu dengan jantung yang berdebar-debar.

 

From : Your ‘Deer’ Han

Aku mengirimimu voice note. Check it out^^

Wo ai ni♥

 

Taeyeon langsung membuka ponselnya dan benar saja, ia mendapat satu pesan suara dari kekasihnya, Xi Luhan, seorang direktur muda sebuah perusahaan terkenal, dan dibawah naungan Group Xi. Seorang direktur muda yang seperti anak-anak dan bad boy.

“Annyeong, Taeyeon-ah!! Bagaimana keadaanmu di sana? Masih baik-baik sajakah? Aku baru pulang dari Thailand kemarin malam dan langsung merekam suaraku untukmu. Aku belum bisa menghubungimu karena setelah ini ada trip ke Australia. Mianhae, aku tidak pernah bisa menyempatkan waktuku untuk sekedar berbincang denganmu di telpon. Begitu aku istirahat, aku yakin kau juga pasti sedang sibuk di Korea. Aku tidak berani mengganggumu. Kalau aku meneleponmu, mungkin kau tidak akan bisa konsentrasi belajar lagi. Kekeke~”

Taeyeon tersenyum malu mendengar candaan Luhan. Namun, hatinya merasa lega luar biasa akhirnya ia bisa mendengar suara kekasihnya itu. Rindu yang selama ini ia pendam akhirnya bisa membuncah keluar.

“Malam ini ada pesta bir. Tapi aku tidak hadir karena kau selalu memperingatkan aku untuk tidak terlalu banyak minum. Alasanmu adalah kau takut aku jatuh sakit. Tapi aku tahu sebenarnya alasanmu apa. Kau takut aku mabuk berat dan menempel di pundak wanita lain, ‘kan? Kau ini perempuan pencemburu yang imut, yang paling aku sayang. Aku mengerti perasaanmu, asal di sana tidak ada laki-laki yang berani menyentuhmu. Aku akan langsung ke Korea tanpa berpikir panjang dan membunuh laki-laki itu.

“Bagaimana keadaan bibi juga? Kau menjaganya, ‘kan? Dan soal Jaejoong hyung dan YoonA, aku dapat kabar bahwa YoonA sudah mengandung tiga bulan, ya? Wah, mereka akan menjadi keluarga kecil yang bahagia. Aku benar-benar iri pada mereka. Kau pasti semakin merasa kesepian, ‘kan? Tenang saja, sebentar lagi bulan Desember berganti menjadi Januari. Dan tahun 2018 akan datang. Tunggu saja, aku akan pulang, my Taenggoo. Tunggulah, ne? Bersabarlah beberapa bulan lagi. Aku sangat merindukanmu. Sangat. Dan kuharap, setelah kau mendengar suaraku ini, aku harap kau bisa mimpi indah dan bertemu denganku.

“Kalau begitu, aku sudahi dulu, ne? Aku takut semakin merindukanmu. Annyeong, Taengoo,”

PIP~

Taeyeon meletakkan ponselnya di atas meja belajarnya. Ia tersenyum lembut sambil menatap layar ponselnya sendiri.

Ya, ia sangat merindukan laki-laki itu. Mereka memang saling mengabari satu sama lain selama empat tahun ini. Tapi tetap saja, berhubungan tanpa bertatap muka tetap membuat Taeyeon merindukannya. Ia ingin sekali, walaupun itu sekali saja dan hanya sesaat, bisa bertemu dan berpandangan dengan matanya yang indah. Masih segar dalam ingatannya, wajah dan tatapan hangat Luhan yang selalu menyapanya setiap hari ketika ia masih bersekolah dulu. Rasanya ingin kembali ke masa itu.

Taeyeon membuka ponselnya kembali. Ia hendak menelepon Luhan, tapi takut mengganggunya. Apalagi dia baru selesai bepergian dan akan pergi lagi. Tapi sudah hampir dua minggu lebih mereka tidak saling memberi kabar karena kesibukan Luhan.

Hampir sepuluh menit lamanya Taeyeon bertarung dengan batinnya sendiri dan akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Luhan.

Trrt Trrt Trrt…

“Yeoboseyo?” sapa Luhan dengan suara lirih.

“Kau sedang tidur, ya? Apa aku mengganggumu?” tanya Taeyeon cemas.

Terdengar suara tawa Luhan dari seberang telepon. “Bagaimana bisa aku tidur di saat aku sedang menanti telepon darimu?”

“Ne? kau menunggu teleponku?” tanya Taeyeon tidak percaya.

“Aku tahu kau akan mendengarkan voice note-ku, jadi aku menunggu teleponmu, berharap kau merindukanku. Ternyata harapanku terkabul. Kau meneleponku,” jawab Luhan.

Taeyeon tersenyum kecil. “Kenapa kau yang tidak meneleponku saja?”

“Selama empat tahun ini aku yang selalu meneleponmu duluan, bukan? Aku ingin kau yang menghubungiku duluan,” jawab Luhan santai.

Taeyeon tersenyum lagi. Kali ini lebih lebar. Wajahnya juga sedikit memerah. Ya, memang selama ini Luhan-lah yang selalu menghubunginya terlebih dulu. Bahkan saat rindu Taeyeon sudah memuncak sampai ke ubun-ubun, Taeyeon tetap menunggu Luhan untuk telepon  duluan. Bukan masalah gengsi atau apa, ia tidak tahu harus mau bicara apa saat di telepon. Ya, jujur saja, Taeyeon memang masih malu-malu, karena ini pertama kali baginya.

“Kau tidak ingin tanya kabarku?” tanya Luhan.

“Kau bisa bercerita seperti dulu,” jawab Taeyeon. “Bukannya tanpa aku tanya kau selalu cerita bagaimana keadaanmu? Sekarang, ceritalah,”

“Aiishh, kapan kau akan rajin bertanya tentangku sebelum aku yang bercerita? Dan kapan kau akan mulai bercerita sebelum aku yang bertanya? Ini sudah empat tahun dan apa kau tetap belum terbiasa dengan hubungan kita?” tanya Luhan, suaranya sedikit kesal.

“Mianhae. Aku sama sekali terbiasa, kok,” sanggah Taeyeon cepat. “Hanya saja…” Taeyeon tidak melanjutkan kata-katanya. Sebenarnya ia memang terbiasa. Sangat terbiasa. Tapi ia bingung bagaimana menyuarakan perasaannya pada Luhan lewat telepon. Berbicara secara langsung mungkin Taeyeon lebih berani. Apa ini karena ia terlalu merindukan lelaki itu?

“Baiklah, tutup saja teleponnya,” ujar Luhan.

“Ne?” tanya Taeyeon sedikit kaget.

“Tutup saja teleponnya. Kita tidak usah berbincang-bincang untuk saat ini. Sampai kau mau bercerita sendiri dan sampai aku mendengar kau bertanya duluan padaku,” jawab Luhan. “Tapi seharusnya dari awal kau peka,”

“Apa kau merasa kesal hanya karena itu?” tanya Taeyeon.

“Hanya?” Luhan balik tanya. “Oh, aku tahu bagimu ini hanya masalah sepele. Tapi andai kau tahu kalau menunggu empat tahun agar kau mau terbiasa denganku bukan masalah yang cukup sepele,”

“Lu…”

“Kau sedang belajar, bukan? Kalau begitu belajarlah yang rajin. Aku ingin istirahat dulu. Annyeong,”

Belum sempat Taeyeon bicara, Luhan sudah memutuskan sambungan teleponnya. Taeyeon tercengang. Ia menatap layar ponselnya dengan wajah bingung dan ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Bahkan ia juga tidak mengerti apa yang sedang mereka perdebatkan, sampai membuat Luhan terlihat kesal seperti itu.

“Wae? Apa aku salah?” tanya Taeyeon. Ia meletakkan ponselnya di atas mejanya dan mengusap-usap wajahnya dengan kedua tangannya. Ia sedikit frustrasi. Banyak hal yang membuatnya pusing dan kemarahan Luhan untuk yang pertama kalinya sejak mereka pacaran sudah membuatnya sangat terbebani.

Taeyeon termenung sesaat. Dilihatnya ponselnya bergetar di atas meja belajarnya dan ponselnya menampilkan foto YoonA.

“Yeoboseo,” sapa Taeyeon pelan.

“Annyeong, uri Taenggoo-ah!” seru YoonA di seberang telepon. Suara YoonA sangat memekkan telinga, hingga membuatnya harus menjauhkan ponselnya dari telinganya.

“Bukannya kau sedang mengandung? Kau tidak boleh menularkan sifat burukmu ke anakmu,” tegur Taeyeon setengah bercanda.

“Kau tahu dari mana? Dari Luhankah? Aish, jinjja. Dia benar-benar menyebalkan. Setahun yang lalu tidak datang ke acara pernikahanku dan sekarang, dia berani-beraninya membocorkan hal ini padamu!” seru YoonA.

“Ya, wajar saja. Waktu itu dia sibuk sekali, ‘kan? Lagipula dia pasti lelah sekali bolak-balik China-Paris,” bela Taeyeon.

“Ne, aku tidak akan bisa menyalahkan Luhan kalau aku bicara denganmu. Kau akan terus membelanya. Dan di telepon kemarin dengan Jaejoong oppa, dia membuatku kesal. Kurasa dia cemburu karena hyungnya sudah menikah sedangkan dia? Bertemu dengan pacarnya saja tidak sempat. Setidaknya dia tinggal menunggu beberapa bulan lagi,” ujar YoonA.

“Ne, dia kesal. Dia kesal karena kami tidak pernah bertemu dan dia semakin marah saat dia mengira aku belum terbiasa dengannya,” jawab Taeyeon sambil menghela nafas. “Aaaahh, YoonA-ah kenapa kau menikah begitu cepat? Kau bahkan rela meninggalkan aku dan kuliahmu demi Jaejoong sunbae. Aku disini butuh kata-kata pencerahanmu,”

“Kedua orangtua kami sudah setuju mau bagaimana lagi?” tanya YoonA sambil tertawa. “Keundae, apa kalian bertengkar?”

“Ne,” jawab Taeyeon lemas.

“Apa yang kalian pertengkarkan? Selama empat tahun kalian berpacaran, baru kali ini aku mendengar kalian bertengkar. Wae? Masalahnya muncul dari mana?”

Terpaksa Taeyeon menceritakan semuanya dari awal. Ia bahkan melupakan buku-buku kuliahnya yang sedari tadi menemaninya sebelum Luhan mengiriminya surat.

“Oh, begitu. Yaah, kalau aku jadi Luhan kurasa aku juga kesal. Apalagi dia baru pulang dari bepergian, jadi rasa kesalnya semakin berlipat ganda. Dia, ‘kan ingin diperhatikan juga. Apalagi kau ini pacarnya. Dia sangat berharap kau banyak bertanya tentang perjalanannya. Dalam keadaan lelah, pun dia pasti akan bercerita. Dan kau tidak bertanya apa-apa. Dia tentu saja merasa kau tidak ingin tahu apa yang dia lakukan. Dan bisa saja dia berfikir kau tidak lagi mencintainya,”

“Yoong, kau tahu bagaimana aku. Kau tahu seberapa besarnya rinduku padanya. Bagaimana mungkin aku tidak benar-benar mencintainya?” tanya Taeyeon dengan nada protes.

“Kau bisa bilang begitu tapi laki-laki butuh pembuktian,” ujar YoonA. “Taeng-ah, kau ingat foto yang pernah dia upload di Weibo-nya? Dengan seorang perempuan dari Amerika, Krystal? Kurasa mereka cukup dekat karena Krystal adalah teman seperjalanan dia. Dan suasananya akan semakin memburuk jika kau terus bertingkah seperti ini. Dia akan berpaling ke Krystal, yang notabene lebih tahu kondisinya Luhan dari pada dirimu,”

“YoonA-ah!” seru Taeyeon.

“Aku tidak berusaha untuk memperburuk suasana. Aku hanya ingin ini semua belum terlalu terlambat. Cepat hubungi Luhan saat dia sudah selesai istirahat dan mulailah menjadi seseorang yang perhatian. Aku kira kesabaran Luhan juga sudah di atas ubun-ubun selama empat tahun ini,” jelas YoonA.

Kepala Taeyeon terkulai ke atas mejanya. “YoonA-ah,”.

~~~

“Taeyeon-ah, apa yang kau lakukan? Hanya mondar-mandir di depan TV seperti tidak ada kerjaan lain saja. Bukannya kau harus mempersiapkan diri untuk ujian kelulusanmu? Kau tidak ingin, ‘kan upacara kelulusanmu harus diundur sampai tahun 2020?” tegur Ibu Taeyeon sambil meletakkan piring berisi lauk-pauk untuk makan malam mereka di atas meja makan.

“Ne, eomma,” jawab Taeyeon. Ia duduk di sofa sambil memandang ponselnya. Bimbang.

“Apa perlu ibu menyuruh Luhan untuk membujukmu agar terus belajar sampai bulan Januari depan? Ibu juga ingin kau cepat menikah agar ibu bisa merasakan bagaimana rasanya punya cucu,” ujar ibu Taeyeon, yang semakin membuat Taeyeon down.

“Ne, eomma arraseo. Aku akan belajar sebentar setelah itu makan malam,” pamit Taeyeon dan ia segera menuju kamarnya di lantai dua.

Nyonya Kim hanya menggelengkan kepalanya.

Sesampainya di kamar, lagi-lagi Taeyeon jalan mondar-mandir di dekat tempat tidurnya sambil mengenggam erat-erat ponselnya. Ia kembali dibuat bingung oleh dirinya sendiri. Apakah ia harus menghubungi Luhan kembali atau tidak. Dan sudah dua jam lamanya ia belum menentukan pilihan.

Tidak berapa lama kemudian, ponsel Taeyeon bergetar, menandakan ada pesan masuk. Ia membukanya dan betapa terkejutnya ia ternyata pengirimnya adalah Luhan.

 

From : DeerHan

Beberapa jam lagi aku akan segera berangkat ke Sidney. Perjalanan yang jauh, tapi sangat menyenangkan. Walaupun begitu, sepertinya aku juga akan jarang menghubungimu. Aku akan baik-baik saja. Annyeong^^

 

Taeyeon menghela nafas panjang. Ia tidur di pinggir tempat tidurnya sambil berulang kali membaca pesan singkat dari Luhan. Pesan yang benar-benar singkat. Luhan tidak pernah memberikan pesan yang singkat seperti itu. Bagaimanapun juga, ia akan banyak berbasa-basi dulu.

Entahlah, apa kesalahan Taeyeon begitu besar?

 

To : DeerHan

Bagaimana dengan teman-temanmu? Banyak yang ikut, ‘kan? Krystal juga ikut?

 

Lima menit kemudian, balasan Luhan langsung datang.

 

From : DeerHan

Banyak yang ikut, tapi aku kurang mengenal mereka. Hanya Krystal yang kukenal. Yah, aku bersyukur dia ikut. Dia banyak membantuku selama tour ini.

 

Taeyeon hanya tersenyum kecut. Entah apa yang ia rasakan saat ini. Perasaannya campur aduk. Ia ingin kesal pada Luhan tapi sikap Luhan agak dingin padanya, dan semua itu karena dirinya. Untuk sekarang ini, ia akan mengalah pada rasa cemburunya.

 

To : DeerHan

Baiklah kalau begitu^^ hati-hati, ne? annyeong^^

 

Kenapa jadi terlihat kaku seperti ini? Bahkan sudah hampir sepuluh menit lamanya Luhan belum ada membalas pesan Taeyeon. Hal yang tidak biasa. Apa benar kesalahan Taeyeon itu kesalahan besar? Taeyeon sadar dia salah. Dia terlalu malu, terlalu gugup. Dan dia berjanji, saat Luhan memberinya kabar bahwa dia sudah ada di Sidney, dia akan langsung menghubungi Luhan dan bertanya apa saja yang bisa dia tanya.

Namun, harapannya sia-sia. Sudah dua hari lamanya Luhan tidak memberinya kabar atau bahkan bertanya bagaimana kabarnya. Biasanya ponselnya selalu berbunyi tiap hari. Tiada hari tanpa pesan masuk dari Luhan ataupun surat-surat kecil darinya yang isinya hanya sekedar mengungkapkan perasaan rindunya.

Apakah kesalahannya ini tidak dapat di maklumi lagi oleh Luhan?

“Pabo namja!” seru YoonA saat Taeyeon memberitahunya Luhan sudah seminggu lebih tidak mengabari apa-apa. Bahkan saat Taeyeon mencoba menghubunginya, operatornya selalu berkata ia sedang sibuk. Taeyeon lelah. Ia lelah harus berbuat apa agar dia tahu keadaan Luhan seperti apa di Australia sana. Dia sudah menghubungi Jaejoong dan Jaejoong bilang dia sedang sibuk di Sidney.

“Apa kesalahanku begitu besar? Nan mollaseo. Aku sangat tertekan, Yoong. Apa dia tidak bisa memikirkan keadaanku? Dia menekanku di saat aku butuh konsentrasi untuk belajar. Kau tahu, ‘kan sebentar lagi ujian kelulusanku?” ujar Taeyeon sembari menitikkan air matanya.

“Ya, Taeyeon-ah!” seru YoonA. “Aku tidak ingin mendengar keluh kesahmu mengenai namja gila itu! Dengar, ya. Sekarang yang kau butuhkan adalah konsentrasi saja ke ujianmu. Aku tahu ini berat. Tapi cobalah fikir ke depan dulu. Kau akan menyesal jika kau lebih memikirkan Luhan dari pada masa depanmu. Jaejoong oppa bilang Luhan sangat sibuk di Sidney. Jadi cobalah menunggu sembari kau ujian. Arraseo? Jika dia belum juga menghubungimu, aku akan pastikan kepalanya saja yang pulang ke China,”

Taeyeon hanya bisa menghela nafas dan menyetujui perkataan dari sahabatnya itu. Ia berusaha meyakinkan hatinya bahwa yang diucapkan YoonA benar. Kalau Luhan sibuk dan tidak sempat untuk mengiriminya kabar. Ia berusaha sabar. Walaupun rasa kesabarannya sedikit demi sedikit terkikis begitu ia mengecek Weibo milik Luhan. Ada 3 foto terbaru yang dia upload bersama Krystal.

Kenapa? Apa dia mulai jenuh? Apa karena mereka jauh?

Ingin sekali Taeyeon tanyakan. Tapi lagi-lagi dia hanya diam. Menunggu. Bukankah dia sudah berjanji akan menunggu Luhan? Dan ia tidak mau berjanji, setelah Luhan kembali apakah dia masih mau menerima Luhan atau tidak.

~~~

January, 2019.

“Aaaaa! Taeyeon-ah chukkae! Akhirnya kita diwisuda juga, ne?! Sudah lama aku ingin meninggalkan dunia perkuliahan ini dan mulai hidup baru dengan Nichkhun oppa. Kalau begitu, segeralah hubungi pacarmu dan suruh dia pulang,” seru Tiffany dengan senyum sumringahnya.

“Kau sangat bahagia sekali,” ujar Taeyeon sambil tertawa. “Hidup berbahagialah dengan Nichkhun-mu itu,”

“Aigoo. Jangan bicara seperti itu. Kau pasti merasakannya juga, ‘kan? Kalau begitu aku duluan, ne? Aku menunggu kabar darimu bersama Luhan!” seru Tiffany sambil melambaikan tangannya pada Taeyeon, dan ia jalan beriringan bersama dengan Nichkhun, yang juga sudah diwisuda.

Taeyeon tersenyum kecil melihat kemesraan yang terjalin antara Tiffany dan Nichkhun. Kemesraan mereka memang tidak pernah terlihat, tapi Nichkhun dan Tiffany saling mengisi satu sama lainnya. Ia iri, tentu saja. Andai Luhan juga hadir di sampingnya, ia pasti juga merasa bahagia. Andai Luhan tidak memikirkan egonya sendiri, semuanya akan baik-baik saja. Andai ia paham apa kemauan Luhan selama empat tahun ini, Luhan akan terbang ke Korea dan membawakan sebuket bunga mawar merah muda untuknya.

“Taeyeon-ah,” panggil Nyonya Kim. Ia membawa beberapa ikat bunga, bunga-bunga yang diterima ibu Taeyeon dari orang-orang yang menyayanginya. “Kajja, kita pulang. Ibu sudah menyiapkan masakan kesukaanmu. Teman-temanmu banyak yang ingin berkunjung ke rumah. Dan coba tebak, YoonA mengirimimu sebuah lukisan kalian berdua. Kata YoonA sudah ada di rumah. Ia minta maaf karena tidak bisa langsung terbang ke Korea karena suaminya melarangnya pergi sendiri,”

“Ne, Yoong juga sudah memberitahuku, eomma. Baiklaaahh, ayo kita pulang. Selepas ini ibu pasti lelah karena harus masak banyak,” jawab Taeyeon ceria sembari mengalungkan lengannya di lengan ibunya.

“Gwaenchanna. Kalau untuk uri Taenggoo, ibu akan baik-baik saja,” ujar Nyonya Kim.

Taeyeon hanya tersenyum manis menatap ibunya dan mereka jalan beriringan menuju parkiran mobil.

“Taeyeon-ah,” panggil Nyonya Kim pelan.

“Ne, eomma?”

“Bagaimana dengan… Luhannie?”

Taeyeon terdiam beberapa detik. Ia menatap ibunya dengan senyuman yang memiliki arti khusus.

“Tidak perlu menyebut nama dia lagi, eomma. Hari ini hari bahagiaku, hari bahagia ibu. Jadi kumohon, aku tidak ingin mendengar ibu menyebut namanya,” jawab Taeyeon.

“Kau benar-benar sudah menyerah,” ujar Nyonya Kim, tersenyum kecil.

“Aku akan menunggunya,” ujar Taeyeon. “Aku berjanji menunggunya pulang. Dan itu bukan berarti aku masih bisa menerimanya kembali, eomma. Aku akan berfikir berkali-kali ketika dia memintaku untuk lebih serius. Aku tidak mau kalau dia belum memberi penjelasan apa-apa,”

“Dia pasti punya alasan kenapa tidak menghubungimu selama ini,” kata Nyonya Kim.

“Ne, dia pasti punya alasan. Yaitu, pertama karena dia bosan berhubungan jarak jauh. Dia jenuh dan aku tidak bisa memahaminya. Kedua karena ada seseorang yang mungkin lebih mengerti dia dari pada aku. Aku menunggunya pulang karena sejak awal aku memang sudah berjanji. Dan aku yakin, dia pulang untuk mengucapkan selamat tinggal. Dan eomma, aku akan siap jika memang dia minta untuk menyudahi hubungan kami. Aku sudah siap, dan tidak akan menangis lagi,” jawab Taeyeon sembari tersenyum lebar.

Nyonya Kim menghela nafas panjang dan ia hanya menganggukkan kepalanya. Ya, selama dua bulan terakhir ini Taeyeon sering menangis karena ketidak jelasan hubungannya dengan Luhan. Taeyeon sering menghubungi Luhan dan mengiriminya pesan, e-mail, dan lain-lain tapi tidak satupun dibalas oleh Luhan. Dan Luhan semakin sering men-upload fotonya bersama Krystal.

Nyonya Kim paham jika tidak semua orang bisa bertahan dengan hubungan jarak jauh ini. Dan ia tidak bisa juga menyalahkan Luhan yang ingin mendapatkan perhatian dari Taeyeon. Dan karena bagi Taeyeon ini adalah pertama kalinya, tentu ia merasa canggung. Mau bagaimana lagi? Ia tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Jika memang mereka akhirnya akan berpisah, Nyonya Kim harus membuat Taeyeon tegar dan tetap membuka hatinya pada setiap orang yang ingin dekat dengannya.

“Aku sudah mulai terbiasa dengan rasa sakit ini, eomma. Jadi jangan khawatir jika suatu hari nanti Luhan datang dan minta untuk berpisah. Aku janji aku tidak akan menangis,” ujar Taeyeon lembut pada ibunya.

~~~

Dan rasa sakit yang dialami Taeyeon memang benar-benar sudah mulai kerasan di hatinya. Ia merasakan sakit hati, sekaligus rindu yang sangat mendalam pada sosok yang dicintainya, walaupun ia sekarang berusaha untuk melupakan perasaan cintanya. Meskipun ia sudah tidak lagi menangis atau menyendiri di dalam kamarnya, Taeyeon masih merasakan perasaan cintanya yang kuat untuk Luhan, sekaligus perasaan rindunya yang semakin lama semakin besar.

Ia benci merasakan itu. Kenapa tidak kunjung hilang?

“Kau ingin hadiah apa?” tanya YoonA pada Taeyeon di telepon. Saat itu tanggal delapan maret, malam hari. Hanya tinggal menunggu beberapa jam lagi, Taeyeon akan berulang tahun yang ke-24 tahun.

“Aku tidak ingin apa-apa. Aku ingin kau kembali ke Korea. Tapi sepertinya kau tidak akan kembali sebelum melahirkan anak pertamamu,” jawab Taeyeon dengan nada sedih. Ia merindukan, bukan. Ia sangat merindukan sahabat satu-satunya yang paling dia sayangi ini.

Ingin rasanya Taeyeon memeluk YoonA dan menangis sepuasnya di pundak YoonA. YoonA juga merasakan perasaan sedih sahabatnya itu. Tiap malam ia selalu menelepon Taeyeon, menanyakan bagaimana kabar Taeyeon dan kondisi hatinya. Ia selalu memberi Taeyeon semangat dan terkadang mencaci adik iparnya sendiri, yang terkadang membuat Taeyeon tertawa. YoonA selalu menghiburnya. Bahkan ia banyak memperkenalkan laki-laki Paris pada Taeyeon. Dan Taeyeon belum merasa bukan saatnya untuk langsung mencari yang baru.

YoonA juga merasa takut hubungan pertemanan mereka akan renggang. Karena YoonA sekarang kerabatnya Luhan. Dan jika mereka berdua berpisah nanti, YoonA takut Taeyeon tidak akan mau menemui YoonA jika ada Luhan.

Tapi Taeyeon meyakinkan YoonA bahwa mereka berdua sudah dewasa. Walaupun sudah berpisah nanti, mereka akan tetap menjalin hubungan sebagai seorang teman. Dan Taeyeon tidak mau membayangkan betapa sakitnya itu. Karena jujur, ia masih sangat mencintai laki-laki rusa itu.

“Aigoo, Taeyeon-ah jangan berkata seperti itu. Kau semakin membuatku merindukanmu. Aku ingin sekali terbang ke Korea, ingin memperkenalkan dirimu dengan anakku. Tapi Jaejoong oppa tidak mau aku pergi sendirian. Mianhae,” ujar YoonA dengan suaranya yang memelas.

“Arraseo, arraseo. Aku juga tidak akan memaksamu. Aku tahu Jaejoong oppa seperti itu karena dia mengkhawatirkan dirimu. Kau harusnya bersyukur punya suami seperti Jaejoong oppa,” kata Taeyeon.

“Awalnya kau memilih laki-laki yang tepat,” ujar YoonA pelan.

“Apa yang kau katakan? Jaejoong oppa adalah laki-laki yang tepat bila disandingkan denganmu. Jadi, jangan bicara omong kosong, arraseo?” sergah Taeyeon cepat.

Tepat saat itu, terdengar ketukan kecil di pintu kamar Taeyeon. Taeyeon meminta YoonA untuk menunggu dan ia membuka pintu kamarnya. Ternyata ibunya.

“Eomma, wae?” tanya Taeyeon.

“Bisakah kau membeli dua kilogram daging? Akan ada tamu istimewa yang datang mala mini. Ibu ingin masak banyak dan enak,” pinta Nyonya Kim sambil memberi seratus ribu won pada Taeyeon. “Kalau bisa sekalian beli beberapa makanan ringan yang menurutmu enak, ne?”

“Nugu?’ tanya Taeyeon penasaran.

“Kau lihat saja nanti. Tidak ada waktu untuk menceritakannya. Ppali,” jawab Nyonya Kim dan ia segera turun menuju dapur.

Taeyeon hanya mengangkat bahunya dan ia mengatakan pada YoonA bahwa ia akan menghubunginya nanti. Setelah itu, ia memakai jaket dan syal lalu langsung pergi keluar rumah, menuju sebuah pasar.

Pasar yang ada di dekat rumah Taeyeon tidak ada. Itu sebabnya ia terpaksa pergi ke pasar yang biasa dia datangi dengan naik bus. Setelah semuanya terbeli, Taeyeon berniat ingin langsung pulang karena jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Namun, ketika ia tengah menunggu di halte bus tidak jauh dari sungai Han, dua orang yang memakai kostum boneka panda dan beruang sambil membawa sekumpulan balon berwarna merah, merah muda dan putih, datang menghampiri Taeyeon.

Taeyeon terkejut menatap kedua orang itu.

“Wae?” tanya Taeyeon bingung.

Sosok yang memakai kostum beruang cokelat itu mengangkat sebuah buku tulis yang isinya adalah “Tolong ikut kami sebentar”.

Taeyeon tercengang. Ia merasa sedikit was-was. Kedua orang ini sama sekali tidak ia kenal. Setidaknya begitu karena wajah mereka tidak kelihatan. Dan lagipula ini sudah tengah malam, mau apa mereka dengannya tengah malam begini? Taeyeon sudah berfikir yang tidak-tidak sebelum ia menjawab ajakan dari si beruang cokelat.

Lalu, si beruang cokelat membalikkan halaman buku tulis itu dan terdapat tulisan lainnya. “Kami bukan seperti yang ada di dalam fikiranmu. Tolong ikuti kami, karena ini penting, TAEYEON”.

“Ya, dari mana kalian mengenal namaku? Kalian siapa?” tanya Taeyeon dengan wajah shock.

“Ikutlah dulu. Kami mohon”.

Taeyeon menghela nafas pendek dan ia menatap si beruang dan si panda bergantian. Taeyeon ingin menolak. Tapi hati kecilnya berkata untuk mengikuti permintaan mereka. Entah kenapa. Apakah ada acara yang menyebabkan mereka harus memakai kostum seperti itu seraya memegang banyak balon? Tapi kenapa tengah malam? Dan kenapa mereka mengenalnya? Siapa orang yang ada di balik kostum itu?

“Baiklah, hanya sebentar saja, ne? Kalau kalian berani macam-macam denganku aku tidak akan sungkan-sungkan mematahkan tulang leher kalian nanti. Aku tidak takut,” ujar Taeyeon. Ia bangkit dan mengikuti dua manusia aneh itu.

Si beruang dan si panda berjalan di samping kiri dan kanan Taeyeon. Taeyeon mengerjapkan kedua matanya dan menatap mereka dengan pandangan bertanya-tanya. Ia seperti seorang putri, yang dikawal oleh binatang piaraannya dan di iringi oleh balon-balon cantik.

Taeyeon mengikuti arah jalan mereka selama beberapa menit hingga akhirnya mereka bertiga sampai di depan sungai Han yang sepi, hanya ada beberapa orang laki-laki. Beberapa orang itu, sekitar dua puluhan orang, berbaris rapi membelakangi Taeyeon dan menghadap sungai Han. Dan betapa terkejutnya Taeyeon, ketika ia melihat foto-foto dirinya terpajang di beberapa kanvas yang ada di tepi sungai Han. Bukan hanya ada dua atau tiga kanvas, tapi sepuluh atau sekitar lima belas kanvas lukisan. Dan foto-foto dirinya dalam berbagai gaya terpajang di dalam kanvas itu.

Selain itu, di tengah-tengah pinggiran sungai Han, ada sebuah meja makan untuk porsi dua orang. Di tengah mejanya ada pot kecil berisi sekumpulan bunga mawar merah muda. Dua gelas cantik, sepasang sendok dan pisau dan dua piring yang elegan menghiasi meja makan yang terkesan romantis itu. Sekumpulan lilin mengitari kaki-kaki meja makan itu, membentuk gambar “Love”.

Taeyeon terkesima memandang foto-fotonya sendiri. Belum sampai di situ, air mancur yang ada di sungai Han mulai keluar, mengeluarkan warna-warnanya yang indah dan mendadak beberapa kembang api meluncur ke atas langit dengan suaranya yang membahana. Taeyeon menatap ke atas dan ia tercengang. Terpesona sekali. Sangat indah.

Setelah kembang api diluncurkan, si beruang dan panda mulai menerbangkan balon-balon mereka ke langit malam yang penuh bintang. Balon-balon itu terbang ke atas dengan indahnya. Entahlah, Taeyeon benar-benar tersihir melihat pemandangan indah itu. Ini kejutan untuk siapa? Dan siapa yang merencanakannya hingga indah dan romantis seperti ini?

Tepat ketika balon-balon itu dihempaskan ke langit, para laki-laki yang berbaris membelakangi Taeyeon itu langsung berbalik dan mereka memegang sebuah huruf. Taeyeon membacanya dari awal dan ia langsung mendekap mulutnya erat-erat. Tidak sengaja ia menitikkan air matanya.

Tulisan itu berbunyi :

TAEYEON, LET’S GET MARRIED!

Dan Taeyeon mendengar seseorang memetik gitar, menambah suasana indah malam itu. Orang itu, sesosok laki-laki yang muncul entah dari mana, sambil membawa gitar, melangkah dengan pasti mendekati Taeyeon. Jantung Taeyeon berdegup kencang ketika ia tahu siapa sosok itu. Dan suara itu, ketika dia bernyanyi. Suara yang amat sangat di kenal Taeyeon.

Sitting here
Wasting my time for you
And I’m not too crazy about the idea
Having nothing to do

Now its time for a change
The idea might sound strange
There’s no time to waste

Let’s get married today
Gonna get married
Married today
I love you anyway

There must be something wrong
Or something here
That I don’t understand
Oh, you don’t believe me
You say you love me
Why don’t you give me your hand
Oh baby

Let me tell you one thing
I’m tired of playing around
Girl in every town
I want to settle down
And stop foolin’ around

(Let’s get married)
I’ve got to stop foolin’ around
(Let’s get married)
Stop foolin around
(Let’s get married)
You don’t believe me but I want to stop
Foolin around
(Let’s get married)

Let me say it
I didn’t mean to say all the things I said
The way I felt in my heart
It came out that way
Let me tell you one thing
Don’t want to say anything to drive you away

Let’s get married today
Wanna get married
Let’s get married today

Might as well
Might as well
‘Cause take you in my arms and hold you
Take you in arms and squeeze you
Take you in my arms and love you every night
Just make everything alright alright
I wanna soothe you baby, want to soothe you baby, want to soothe you baby, want to soothe you baby
I’ll tell you will you talk to me
I’ll tell you you can talk to me
Try to understand your lovin’ ways
Try to just let me, let me let me
Soothe you baby, let me soothe you baby, I can soothe you baby, I can, I can wipe all your tears awa
You can know me
You don’t believe me
Let’s get married today
I found out I didn’t, I don’t love nobody anyway
I really really love you baby
I really really love you baby
I tell the truth about it
I love you baby
I can feel the groove comin
Hey baby
Let’s get married today

Taeyeon tidak tahu apa yang harus ia lakukan ketika laki-laki itu selesai bernyanyi. Ia hanya bisa menangis, menangis, dan menangis. Air matanya tidak kunjung berhenti. Bukan karena terharu melihat hasil jerih payahnya membuat ini, tapi karena kerinduan Taeyeon yang amat mendalam untuk laki-laki yang ada di hadapannya ini. Laki-laki yang awalnya ingin ia lupakan, yang sudah menyakiti hatinya selama hampir empat bulan. Laki-laki yang membuatnya terus menangis tiap malam.

“Kim Taeyeon,” panggil Luhan. Ia mengulurkan tangan kanannya pada Taeyeon.

“Apakah kau Luhan?” tanya Taeyeon dengan suara parau.

Luhan tertawa. “Siapa lagi laki-laki yang begitu mencintaimu selain aku? Kalau ada yang lain, itu semua pasti bohong,”

Ya Tuhan, ia memang benar-benar laki-laki yang selama ini ia rindukan

Taeyeon menerima uluran tangan Luhan. Mereka sekarang berdiri berhadapan, saling menatap satu sama lainnya. Luhan memandang Taeyeon dengan penuh cinta dan rindu. Terlihat jelas di mata rusa Luhan. Sedangkan Taeyeon, ia menatap Luhan dengan pandangan marah.

“Wae? Aku sudah ada di hadapanmu kenapa kau tidak memelukku dengan erat? Apakah harus aku lagi yang duluan memelukmu? Kau tidak rindu padaku?” tanya Luhan.

“Aku sangat merindukanmu. Bahkan rinduku lebih besar dari rindumu. Tapi mengingat tingkahmu selama hampir empat bulan ini, aku tidak bisa memelukmu. Aku malah berniat ingin membencimu,” jawab Taeyeon ketus.

“Wae?” protes Luhan. Lalu beberapa detik kemudian ekspresinya berubah. Ia tertawa terbahak-bahak.

“Kenapa kau tertawa?” tanya Taeyeon marah.

“Kau benar-benar menganggap aku sudah melupakanmu? Aigoo, my baby boo Taenggoo-ah. Kau sudah dikerjai habis-habisan oleh aku, YoonA, Jaejoong hyung, dan bahkan ibumu sendiri! Semua ini rencana ibumu dan YoonA. Mereka memintaku untuk marah padamu karena suatu hal dan tidak memberimu kabar sama sekali sampai hari ulang tahunmu,” jawab Luhan.

“Apa maksudmu dengan dikerjai?” tanya Taeyeon lagi.

“Aku bilang pada ibumu kalau aku ingin memberimu surprise di hari ulang tahunmu ketika aku sudah kembali ke Korea. Aku juga ingin sekalian melamarmu. Jadi, ibumu dan YoonA secara serempak menyusun rencana ini untukku. Dari yang aku marah padamu sampai aku yang tidak pernah menghubungimu sama sekali sedangkan aku terus-terusan upload fotoku dengan Krystal. YoonA menceritakan kecemburuanmu padaku sambil tertawa. Aku sama sekali tidak enak dan ingin langsung menyudahi semuanya. Aku tidak ingin mendengarmu menangis. Membayangkannya saja sudah hampir membuatku gila. Tapi YoonA memarahiku dan minta aku untuk terus bersabar.

“Mianhae, Taeyeon-ah. Aku tahu hancurnya perasaanmu waktu itu. Tapi percayalah, perasaanku tidak pernah berkurang satu persenpun padamu walau kita berada di negara yang berbeda. Aku selalu merindukanmu dan menantikan hari ini terjadi. Yang selalu ku fikirkan adalah bertemu denganmu, memelukmu, dan menjadikanmu milikku selamanya. Aku tidak pernah benar-benar bisa tidur nyenyak dan nyaman ketika perasaan rinduku ini menggeluti hatiku. Aku tidak menggombal, tapi ini memang kenyataannya. Aku sangat mencintaimu,”

Taeyeon terdiam. Ia menangis dalam diam dan ia langsung melemparkan dirinya ke dalam pelukan Luhan. Luhan menyeimbangkan dirinya dan membalas pelukan Taeyeon tidak kalah eratnya.

“Nan jeongmal bogoshippo,” bisik Taeyeon sambil menangis.

“Happy Birthday, my only Taeng,” balas Luhan. Dan seketika itu juga kembang api kedua meluncur ke langit malam dan membuat suasana semakin indah.

Taeyeon melepas pelukannya dan ia menatap langit. “Kau yang membuat ini semua?”

“Tidak akan berhasil seratus persen tanpa sahabat-sahabatku,” jawab Luhan.

Taeyeon menatap si beruang dan si panda, yang sudah membuka kostum mereka.

“Aigoo, panas sekali,” ujar Sehun, si beruang.

“Nah, sekarang apa?” tanya Chanyeol sambil mengedipkan matanya ke arah Luhan.

“Kalian!” seru Taeyeon sembari berlari hendak memeluk Sehun dan Chanyeol.

Sehun dan Chanyeol menyambut pelukan Taeyeon. Alih-alih di peluk Taeyeon, mereka malah mendapatkan pelukan dari Luhan.

“Sepertinya ada yang tidak ingin Taeyeon-nya dipeluk,” sindir Chanyeol, dan ia melepas pelukan Luhan.

Taeyeon hanya tersenyum kecil dan Luhan tertawa lebar. Dan setelah itu, Luhan menggenggam telapak tangan kanan Taeyeon erat-erat sambil tersenyum lembut.

“Kajja, kita pulang my wife-to-be,” ajak Luhan.

Taeyeon tersenyum kecil. Wajahnya merona merah. Jantungnya berdebar kencang. Ia sudah biasa dengar Luhan bicara ‘sweet’ seperti itu. Tapi semua itu diucapkannya lewat telepon. Baru kali ini ia mendengarnya langsung dan itu membuatnya salah tingkah. Apalagi ini adalah pertemuan pertama mereka selama empat tahun. Pertemuan pertama sejak mereka sepakat untuk menjalin hubungan tanpa kepura-puraan.

“Jadi, untuk apa meja makan itu?” tanya Taeyeon pelan.

“Hanya untuk pajangan saja. Kurasa akan cantik kalau ada semacam dinner­-nya. Tapi aku ingat aku janji makan malam di rumah ibumu,” jawab Luhan sambil cengengesan.

“Bukannya tadi kau sudah melamar uri, Taenggoo? Dan noona, apa jawabanmu?” tanya Sehun penasaran.

Taeyeon ingin menjawab pertanyaan Sehun. Tapi Luhan langsung mengalungkan lengannya ke leher Taeyeon, merangkulnya dengan erat.

“Taeyeon akan menjawabnya di hadapanku saja. Tidak ada yang boleh tahu,” jawab Luhan cepat. “Nah, sekarang selamat menikmati pesta yang tersisa, Sehun-ah, Chanyeol-ah. Terima kasih banyak sudah membantu. Saranghae!”

“Ya, hyung! Kau tetap berutang akan mentraktir kami makan!” seru Sehun saat Luhan dan Taeyeon sudah melangkah meninggalkan sungai Han.

Di tengah perjalanan menuju rumah, tepatnya di dalam halte, Luhan dan Taeyeon sama-sama diam. Mereka sibuk dalam fikiran mereka masing-masing. Karena Luhan yang berada dekat dengan jendela, ia sibuk memandang ke luar jendela. Dan Taeyeon memandangi Luhan secara sembunyi-sembunyi. Meskipun saling diam, tapi Luhan tetap tidak mau melepaskan genggaman tangannya pada Taeyeon.

“Apa kau sudah bertemu dengan Kai?” tanya Taeyeon, memecah keheningan di antara mereka.

Luhan menatap Taeyeon dengan pandangan yang sulit diartikan. “Tentu saja,”

Taeyeon menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis. “Kurasa tamu penting yang ibu katakan adalah dirimu,”

“Sudah kubilang, kami merencanakan semuanya,” ujar Luhan. “Dan bisakah kau diam? Aku ingin meyakinkan diriku sendiri bahwa yang di sampingku sekarang adalah Kim Taeyeon. Bukan sekedar khayalanku saja. Lagipula, aku tidak bisa bicara banyak untuk sekarang ini. Jantungku sedang tidak normal,”

Taeyeon menatap Luhan, yang tersenyum sangat manis padanya. Genggaman tangan Luhan semakin erat. Taeyeon tahu tangan mereka sama-sama berkeringat. Tapi Taeyeon sangat nyaman berada di posisi saat ini.

~~~

“Ibu jahat sekali padaku. Selama ini aku selalu menangis tiap malam dan itu semua karena ibu dan YoonA. Apa ibu tidak merasa bersalah? YoonA pasti sekarang sedang tertawa terbahak-bahak,” protes Taeyeon pada ibunya di dapur, ketika ibunya sedang mempersiapkan makan malam untuk Luhan. Tentu saja makan malam istimewa.

“Sshh, bisakah kau bantu ibu saja tanpa banyak bicara?” tanya Nyonya Kim.

Taeyeon ingin membalasnya dengan wajah kesal. Namun, Luhan datang dan dia langsung menghampiri Nyonya Kim seraya menggulungkan kedua lengan bajunya.

“Eomeonim, ada yang bisa aku bantu? Aku belajar masak selama melakukan trip di berbagai negara,” ujar Luhan.

“Boleh saja. Kajja, kita masak berdua. Taeyeon memang tidak bisa diandalkan. Dia sibuk protes,” jawab Nyonya Kim.

“Lagipula, yang sedang ulang tahun duduk manis saja di ruang keluarga,” usir Luhan.

Taeyeon hanya menghela nafas panjang dan menuruti perkataan Luhan.

Selesai memasak, Taeyeon, Luhan beserta ibunya makan malam bertiga dengan suasana yang sama sekali hangat. Nyonya Kim dan Luhan asyik mengobrol sedangkan Taeyeon hanya mendengarkan. Nyonya Kim memuji masakan Luhan yang sangat enak. Sedangkan Taeyeon tidak berkata apa-apa.

“Ini sudah larut malam. Tidak baik kalau kau pulang sendirian naik halte. Lebih baik panggil taksi saja,” sahut Taeyeon, saat ia sudah selesai mencuci piring makan malam mereka.

“Ya! Luhan tidak mungkin pulang sekarang. Taksi juga jarang ada pukul segini. Dia tinggal disini saja untuk sementara. Otte?” tawar Nyonya Kim.

“Ide bagus, eomeonim,” jawab Luhan semangat.

“Kamar kita hanya dua, bu. Luhan tidur di mana?” tanya Taeyeon.

“Kalian bisa berbagi kamar,” jawab Nyonya Kim enteng. “Sebentar lagi kalian akan menikah, tidak ada salahnya untuk berbagi kamar sekarang,”

Taeyeon ingin membantah. Tapi Nyonya Kim langsung bangkit dari kursi dan mengucapkan selamat tidur kepada Luhan dan Taeyeon. Taeyeon menghela nafas kasar dan ia pergi menuju kamarnya. Beberapa menit kemudian Luhan menyusul. Ia menutup pintu kamar Taeyeon dan mendekati Taeyeon yang sedang duduk di tepi tempat tidurnya. Luhan ikut duduk di samping Taeyeon.

“Kau kelihatan kesal sekali. Wae? Bukannya tadi menangis bahagia saat aku lamar? Semua orang sudah tahu kalau kau akan kulamar. Jadi, tidak perlu takut orang akan berfikiran yang negatif tentang kita,” sahut Luhan.

“Apakah kau serius melamarku tadi?” tanya Taeyeon.

“Tentu saja. Jadi, buat apa aku susah payah menyusun rencana sematang ini bersama teman-temanku yang lain kalau aku tidak serius melamarmu?”

Taeyeon diam. Ia menunduk menatap telapak tangannya, tampak berfikir.

“Kalau untuk masalah cincin, tidak akan kuserahkan sekarang. Karena apa? Biar kupakaikan di jari manismu saat pernikahan kita nanti,” ujar Luhan.

“Pernikahan kita? Bukannya kalau kau mau melamarku, kau harus menautkan cincin di jari manisku?” tanya Taeyeon.

“Buat apa? Toh, hari ini juga aku akan memasangkannya di depan pastur. Lebih resmi dan lebih khusyuk. Ini juga permintaan ibumu,” jawab Luhan.

“Apa maksudmu pernikahannya hari ini?!” tanya Taeyeon kaget. “Aniya, kita belum mempersiapkan apa-apa dan aku… aku bahkan tidak tahu apa yang harus aku lakukan,”

Luhan terkikik geli. Ia menatap wajah Taeyeon yang seperti orang kebingungan dan semakin susah ia menahan tawanya. Taeyeon hanya menatap Luhan dengan pandangan bingung.

“Aku melamarmu tanpa cincin itu tidak masalah sama sekali, ‘kan? Siang ini kita akan beli cincin dan mulai mendiskusikan semuanya. Kenapa kau begitu percaya pada candaanku? Kau tahu, kau lucu saat kaget tadi,” ujar Luhan, sambil masih tertawa.

Taeyeon cemberut. Ia menatap Luhan dengan pandangan kesal sekali. “Terus saja. Aku benci dengan semua permainanmu. Kau tahu, kebohonganmu itu memang terkesan romantis, tapi tetap saja membuat hatiku sakit. Aku menangis tiap malam, memikirkan keadaanmu, memikirkan bagaimana bisa kau begitu tega upload foto dengan seorang perempuan? Kalian sangat dekat dan aku cemburu. Apa mungkin wanita itu yang mengajarimu memasak? Sedekat itukah kalian? Aku…”

Luhan mendekatkan wajahnya ke wajah Taeyeon dan menautkan bibirnya dengan bibir Taeyeon. Taeyeon membelalakkan matanya, sangat shock dengan apa yang terjadi. Sudah lama sekali ia tidak merasakan kehangatan di bibir Luhan sejak pertaman kali mereka berciuman.

Luhan melepaskan tautannya dan ia menatap Taeyeon dalam-dalam. “Sudah? Aku tidak peduli apa yang kau katakan mengenai Krystal. Tapi ada satu yang harus kau tahu, Kim Taeyeon. Bahwa apapun itu, sampai kapanpun aku akan selalu dan tetap mencintaimu,”

Taeyeon diam. Ia dengan susah payah menelan ludahnya. Jantungnya sudah tidak normal lagi saat nafas segar Luhan menerpa wajahnya. Luhan, yang menyadari perubahan keadaan Taeyeon, langsung tersenyum evil. Ia menatap bibir pink-soft­ milik Taeyeon.

“Sudah lama aku tidak merasakan manisnya bibirmu,” ujar Luhan dengan seseduktif mungkin.

Taeyeon gelagapan. Wajahnya benar-benar sudah merah padam. “Bagaimana kalau kita tidur sekarang? Aku benar-benar sudah sangat mengantuk,”

“Ani,” tolak Luhan lembut. Ia menarik pergelangan tangan Taeyeon untuk semakin mendekat ke arahnya. “Aku merindukanmu,”

Wajah Luhan perlahan mendekat dan kedua matanya terpejam. Mau tidak mau Taeyeon juga ikut memejamkan kedua matanya. Sampai akhirnya bibir Luhan kembali menyentuh bibir tipis Taeyeon. Dengan perlahan-lahan ia melumat bibir mungil itu selama beberapa menit. Sedangkan si pemiliknya hanya diam tidak bereaksi. Setiap inci Luhan sentuh dan tidak ada yang terlewat.

Luhan memajukan tubuhnya ke tubuh Taeyeon, membuat tubuh keduanya menempel. Taeyeon ingin melepaskan tautan bibir mereka tapi Luhan menahannya dengan menekankan punggung belakang Taeyeon, agar tetap menempel dengan tubuhnya. Luhan dapat merasakan nafas Taeyeon yang memburu akibat Luhan yang tidak mengizinkan Taeyeon untuk mencari oksigen sebentar. Luhan memang tidak mau menghentikannya sampai Taeyeon membalas ciumannya.

Luhan semakin mengerjai Taeyeon lagi. Ia memeluk tubuh Taeyeon erat-erat sambil menekan bibirnya kuat-kuat di bibir Taeyeon. Tidak lupa dengan lumatan-lumatannya yang semakin liar. Taeyeon sedikit mendorong tubuh Luhan untuk menjauh. Tapi percuma saja.

“Lu… nngghh,” panggil Taeyeon. Wajahnya sudah memerah. Ia memang benar-benar butuh oksigen.

Dengan sengaja Luhan menjatuhkan tubuh Taeyeon ke atas tempat tidur dan tubuhnya pun juga ikut menimpa tubuh Taeyeon. Setelah itu, lah Luhan melepaskan ciumannya. Dilihatnya wajah Taeyeon sudah sangat merah.

“Pabo namja!” seru Taeyeon sambil ngos-ngosan.

Luhan hanya tersenyum menatap kepolosan Taeyeon. Ia terus menatap Taeyeon yang berada di bawahnya tanpa berkedip sekalipun.

“Lu, sadarkah kalau kau berat?” tanya Taeyeon pelan.

“Aku ingin seperti ini terus,” jawab Luhan. Wajahnya ia tenggelamkan ke dalam leher kanan Taeyeon. Dengan jahil ia menciumi leher Taeyeon. Dan Taeyeon sedikit menggeliat, merasa geli.

“Lu,” panggil Taeyeon, sedikit ketakutan.

“Mianhae, kalau aku sudah sangat merindukan seseorang, aku tidak bisa menahan untuk terus menciumi seluruh tubuhnya,” ujar Luhan sambil tersenyum jahil. Ia masih menciumi setiap bagian leher Taeyeon tanpa henti.

“Lu, jebal. Aku… tidak ingin hamil duluan,” ujar Taeyeon. Ia menggigit bibirnya agar tidak mendesah kegelian.

Luhan mengangkat kepalanya dan menatap Taeyeon dengan pandangan seolah-olah terkejut. “Aku tidak pernah berfikir sampai ke arah sana. Kau memberiku kode?”

“Aniya!” seru Taeyeon. “Aku… eumph!”

Dan lagi-lagi Luhan menyerang bibir Taeyeon. Kali ini lebih liar dari sebelumnya. Ia bahkan memaksa Taeyeon membalas ciumannya dengan cara menggigit bibir bawah Taeyeon keras. Taeyeon mendesah dan ia membuka mulutnya. Luhan pun tidak sungkan-sungkan. Ia langsung menjelajahi rongga mulut Taeyeon dengan lidahnya. Taeyeon sangat terkejut. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan selain mengikuti permainan kekasihnya yang pervert ini. Ia bahkan sudah ikut membalas ciuman panas Luhan.

Dari bibir Luhan langsung turun ke leher Taeyeon lagi. Kali ini lebih parah, ia menggigit leher Taeyeon.

“Euunghhhh!” erang Taeyeon. Buru-buru Taeyeon membungkam mulutnya. Tapi tidak bisa. Gigitan di leher Taeyeon yang dibuat Luhan sungguh membuatnya gila kalau dia tidak mendesah. Sentuhan Luhan memang menakjubkan. Walaupun takut, Taeyeon menikmatinya.

“Aku tidak akan melakukannya sebelum kita menikah. Ini hanya pemanasannya saja. Kau akan benar-benar merasakannya saat sudah resmi menjadi pasangan sehidup sematiku, Kim Taeyeon,” bisik Luhan di telinga Taeyeon sembari mengelus lembut perut datar Taeyeon.

Taeyeon hanya diam sambil menganggukkan kepalanya. Walaupun Luhan berkata seperti itu, tapi dia tidak henti-hentinya menyerang bibir dan leher Taeyeon. Sepertinya malam ini Taeyeon harus terus bersabar menghadapi ke-pervert-an kekasihnya ini.

 

-The End-

 

Fiiuuhh, annyeong^^

Berhubung banyak yang minta sequel, author yang paling baik hati ini akhirnya membuatkan sequel aneh untuk para readers tercinta dan terketjeehhhh chu~

Gimana?aneh? tapi cuma segini ajanih yang aku bisa hikkssss

Dan untuk yang selama ini SIDERS, belajarlah untuk belajar komen supaya author bina ini ngga pakai pass lagi ahahahaahahhah#evillaugh

Dan baiklaaahhh kita bertemu lagi di the next project kekekekeke~

Advertisements

117 comments on “Officially Missing You (Sequel of Ma Boy~)

  1. Mian Late Comment ^_^ hehehe peace
    kyaa daebak sequelnya ngefeel banget thornim 😀
    bikin Campur aduk bacanya Kayak Permen Nano2 😀
    pertamanya sedih kan kasian taengnya LDRan sma luhan 😦
    trus agak jengkel sih sama luhan tega2nya upload foto terus dengan krystal #KanAkuJadiIkutJelous
    ya terakhirnya Lega ternyata hanya kejailan mereka nunjuk #YoonaNEommanyaTaeng
    ya ampun aku kira bakalan sad ending eh salah syukur deh kekekeke 😀 sosweet lutae momentnya #SehunChanyeol Ambil Bagian nih wkwkwkwkwk
    luhan Masih Gak Berubah Masih Pervert Aja Apanya Yang Pemanasan Masa Ada Sih Nglakuin itu ada pemanasannya Itu MODUSnya luhan hihihi 😀 agak Gantung sih thor tapi gk pa2 deh tetep cinta kok sama ffnya Author Bina
    Thor Ditunggu loh FFlainnya MFB Nya kapan di lanjutin saya lumutan nih kekekeke Fighting thornim

  2. Yeay^^! Akhirnya happy ending neee kkk~ Suka pake banget sama ff ini dari introducing castnya, Chapt 1-10 ya walaupun sempet perjuangan (?) dan dapetin pass nya hwaaa😄 akhirnya author yg baik hati ini bikin sequelnya… Kyaaa endingnya ngagetin, bikin dag-dig-dug(?) twothumbsup for author! Ini ff yg bener beda bgt, alurnya bagus dan susah ditebak oleh readers, sama cast nya bias ku semua LuTae>,,<

  3. Aaaaaaa tante kim malah ngasi kesempatan bah
    Seru thor seru wakaaka pas tengah2 uda panik tar luyeon gonjang ganjing/? Gataunya romantis bgt surprise nya;A;
    Jujur agak nebak2 aja soalnya blm baca ma boy final chapt nya, jadi agak ngasal buat kesimpulan sendiri wk
    Nice story thoor!❤❤

  4. HAAHAHA! sumpah yoona, jaejoong, nyonya kim, sama luhan jail bangett! aku juga sape ngerasain kesel nih -_- tapi.. IT’S AMAZING banget!! >.< sukaaa sama sequelnya. ffelnya dapet banget. apalagi disini banyak momet lutaenya, so sweet! luhan juga romantis banget ih, bikin senyum2 sendiri. good job banget thor! gak aneh kok sequelnya, tp kurang nih, kurang panjang 😀 haha.. ditunggu projek ff yang lain~ hwaiting!

  5. Ternyata cintanya Luhan ke Taeyeon nggak berubah. Couple ini sweet banget deh 😍
    Saking rindunya Luhan sampe ngeluarin kenakalannya hihii… Dia pasti rindu banget ^^

  6. aku suka ff ma boy mulai dari chapter2 nya sampai sequelnya….
    alur ceritanya bagus dan tata bahasanya juga baik…
    neomu chuae….
    boleh nih kalau dibikin sequel ma boy lagi….#ngarep.com….hehehe
    good work author…
    ditunggu ff lutae selanjutnya….

  7. Astaga aku pikir taeyeon bener” bakal lupain luhan dan luhan bener” bakal ninggalin taeyeon duhhh untungnya itu cma siasat luhan buat ngerjain taeyeon? Tpi itu keterlaluan sih ya walau gak bsa dipungkiri klo ujung” romantis.
    Btw ending gregedd knpa gak dilanjutin aja skalin knpa cma pemanasan aja?😂😂😂😋😅

  8. Huaaaa kereeeennn aku ikut ketipu juga ni ama si luhan, yoona ama ibunya taeyeon. Bazeng, sampe kesel banget tau ma luhan. Apalagi aku emg dri aononya gak suka ma krystal, eh org ketiga disini krystal juga. Kebawa bgt keselnyaa
    Sukses banget author bikin aku kesemsem baca ni ff.
    Luv you so much much much thor!!
    Fighting!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s