[FREELANCE] On Demand (Chapter 2 Nice to meet u)

PhotoGrid_1416846238344

On Demand part 2 (Nice to meet u)

 

Title: On Demand part 2 (Nice to meet u)

Author : Fany_aurel

Cast : Kim Taeyeon, Byun baekhyun, Oh sehun, Yoon Bomi, jessica jung, Kris Wu

Rating : PG-15

Leght : Chapter

Genre : Romance, Friendship

Hello!!lama nih aku ngak muncul hehe sorry beberapa bulan sibuk sekolah. So ini dia kelanjutan on demand. Diliat komentar part 1,semua pada ngak suka sama bominya ya?yah,maaf ya bomi still be one of all cast disini. Ribet kalo mesti diganti-ganti wkwk. Dan yang belum ngerti ceritanya, disini mulai ya aku terangin alurnya. Thankyou!oh iya read part 1 ya dulu

 

 

 

 

Lost and Empty

 

Hanya itu hal yang bisa aku lihat saat ini. Tak ada rasa sedikitpun yang dapat ku kenali. Semua seakan berhenti seketika saat mobil yang kutumpangi bersama kedua orang tua ku tepat menghantam sebuah truk yang melaju dari arah berlawanan.

Aku rasa hidupku benar-benar akan berakhir sekarang. Benarkah tuhan? haruskah aku kembali pada mu saat ini juga?

.

.

.

Tidak, kau harus hidup.

.

.

.

Jessica, sosok yang pertama kali ku lihat ketika mataku terbuka. Dengan tatapan sipitku yang belum terbiasa oleh cahaya, aku melihat ia berteriak memanggil seseorang lalu menatap ku kembali dan menampakan senyum penuh air mata.

Mataku pun lagi tergerak menatap beberapa orang yang datang mendekati ku. Aku menggerakan bola mataku meneliti satu persatu orang itu.

“Eomma?appa?” Ucap ku ketika tak bisa menemukan dua orang yang langsung terlintas di kepala ku saat aku bisa menginggat jelas apa yang telah terjadi. Apa yang telah membuat ku seperti ini. Hal yang membuat ku berada dirumah sakit ini.

“Taeyeon, apa kau merasakan pusing dikepala mu saat ini?” Seorang dokter yang berada disamping ku mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.

“EOMMA!dimana mereka?” Ulang ku tegas mencoba menanyakan kembali dimana kedua orang tuaku. Sungguh aku tak suka dengan senyuman paksa yang mereka buat.

“Taeyeon-a” bibi jung seketika mendekatiku lalu mencoba mengelus pundakku sambil… Menangis?

Untuk apa dia menangis? apa yang harus ditangisi?

“Mianhe taeyeon-a, kami tak bisa…”

“Membantu ayah dan ibumu” ucapan bibi jung yang bagaikan sebuah bisikan itu seakan menghentikan seluruh gerak tubuhku. Air mataku tak berbendung. Aku tak bisa berkata apa-apa selain bisu tanpa suara tapi penuh kekesalan didalam hatiku serta pertanyaan bergelut diotakku. Untuk apa tuhan menyuruhku untuk kembali tapi pada kenyataannya aku akan tetap sendirian? Kenapa aku tak ikut mati bersama ibu dan ayah? Untuk apa tuhan memintaku kembali?

“Taeyeon..” sebuah tangan mungil tiba-tiba menyentuh telapak tangan kiriku. Jessica, ia mengenggam tangan ku erat.

“Kau tak usah takut, karena aku akan selalu bersama mu” ucapnya penuh isak tangis dan membuatku mengalihkan pandangan ku padanya, Menatap teduh mata sayu sahabatku itu.

 

*

 

“TAEYEON!!!!!!!!!!!!!!”

Mata ku terbuka saat mendengar teriakan yang melengking itu menusuk gendang telingaku. Aku sempat terdiam menginggat dengan samar mimpi yang ku alami tadi. Kejadian 10 tahun yang lalu, kejadian kelam itu…

“GOOD MOR– OH MY GOD! Taeyeon, jinjja bahkan kamar mu lebih berantakan dibandingkan ruang tamu mu? seriously, kau benar-benar menjijikkan!” Aku yang masih bergelut dengan selimut tebal kesayangan ku langsung menyeka airmata disudut mata dan menatap jessica yang sekarang memunggut bajuku yang berserakan dilantai.

“Mianhe, aku benar-benar sibuk beberapa hari ini” well, memang benar. Pekerjaan dan tugas kuliah yang harus ku kejar, setelah ketidak hadiranku beberapa minggu karena harus menemani jessica pergi ke london- membuatku bahkan tak bisa lagi memperhatikan kebersihan apartemen ku.

” Yeon, kau harus ingat nanti, disaat kau menikah kau tak bisa bersikap acuh-tak acuh seperti ini. Kau harus menjadi wanita yang rajin. Kalau kau masih saja menjadi wanita yang pemalas aku yakin suamimu pasti tak akan betah tinggal dirumah bersama mu” omel jessica sangat terdengar pedas seperti biasa, jessica memang terkenal dengan mulut yang tidak mempunyai filter kata sedikitpun.

Aku tertawa kecil dan menggelengkan kepalaku. Mataku tersorot pada jessica yang sekarang beralih membersihkan meja ku.

“Terima kasih atas petuah paginya bibi, setelah kau membersihkan kamar ku, Apakah kau tak keberatan untuk membuatkan ku sarapan pagi?”

“Excusme?” Jessica membalikkan badannya menatap ku penuh dengan pelototan tak terimanya. Aku tersenyum polos, Siapa suruh memulai untuk membersihkan kamar ku seolah-olah ingin membantuku?

“Segelas susu hangat dan sandwich biasa tanpa sayur. Aku masih mengantuk..” usai ku layaknya memberikan perintah pada seorang pembantu. Jessica menatap ku dengan mata yang tersulut emosi. Alisnya juga bertambah naik dan tangannya terlipat dua ke dada. Tapi aku tak peduli, malahan tangan ku tergerak untuk kembali menarik selimut dan memejamkan mataku.

“Dasar kurang ajar!” Teriak jessica melemparkan sebuah benda padaku dan membuat ku sedikit merintih.

“PPALI WA!!!!” Teriak ku tak kalah nyaring.

 

*

“Jadi bagaimana dengan acaramu?” Tanya ku disela acara makan pagi bersama jessica. Walau ia mati-matian mengomel, tetap saja ia masih baik mau membuatkan semua makanan yang sekarang tersaji cantik dimeja makanku.

“2 hari lagi. Ingat,kau harus membawa hadiah atau kau akan ku usir” jawabnya sambil menyuap spaghettinya.

Aku sontak mencibir mendengar celotehannya, “dasar perhitungan”

“Oh ya yeon, apa kau masih ingat dengan Byun Baekhyun?”

Garpu dan pisau yang sedang beradu dipiring ku terhenti ketika mendengar dua nama diakhir ucapan jessica. Kejadian menyebalkan yang terjadi beberapa waktu lalu kembali terlintas diotak ku. Lelaki menyebalkan itu.

Dan sepertinya jessica menyadari perubahan wajah ku yang sekarang terlihat sangat malas untuk membahas topik ini, “Hmm, sepertinya kau tidak begitu senang mendengar nama itu ya?”

“Nah,kau bisa menjawabnya sendiri bukan unnie?” ejek ku sembari meneguk susu yang masih hangat itu.

“Aigoo, sebegitu bencikah?”

Aku sontak mengangguk cepat, “Bahkan berharap untuk tak bertemu lagi. Kenapa kau harus mengundang lelaki itu lagi eoh?”

Jessica tiba-tiba terheran mendengar kalimat ku. Tidak ada yang salah dengan ucapan ku bukan?

“Ya, jangan seperti itu. Apa kau tidak tau kalau didunia ini karma masih berlaku ? Jangan harap aku akan membantumu kalau saja nanti kau benar-benar jatuh cinta padanya!” ucap jessica panjang lebar.

“Mwo? jatuh cinta pada lelaki sok tampan, banyak omong, dan perayu seperti dia? sampai kiamat pun itu tak akan pernah terjadi!”

Aku terkekeh dan menggeleng bebeberapa kali sembari menatap jessica yang sekarang malah tersenyum penuh arti padaku. Apa yang salah dengan wanita ini?

“Apa yang salah lagi dari perkataan ku?” Tanya ku masih mengerutkan alis memandang jessica yang masih tersenyum jahil.

“Ani” raut wajahnya sekejap langsung berubah seperti biasanya. Ia bahkan menggeleng cepat lalu kembali melingkarkan spaghettinya digarpu yang dipegangnya. Benar-benar aneh.

“Pokoknya kau harus datang apapun kondisinya. Aku tak sabar untuk menampilkan padamu betapa indah dan meriahnya ulang tahun anak ku nanti” sekarang jessica mengembangkan pikirannya, mungkin mengkhayalkan acara ulang tahun pertama anaknya nanti. Ah betapa irinya aku pada jessica yang sangat beruntung mempunyai keluarga yang bisa dikatakan sempurna pada saat ini.

“Dan tak sabar untuk mempertemukan mu dengan baekhyun”

Senyum ku kembali pudar, “jangan harap aku akan datang kalau begitu” ketus ku sambil menusuk-nusuk potongan sandwich dipiring.

“YAK!” Jessica tiba-tiba melemparkan sisa roti dipiring pada ku, aku sontak ikut berteriak.

“YA jess!bajuku kotor!” Omelku sembari membersihkan bajuku yang terkena selai blueberry itu.

Jessica memandangku dengan wajah yang tertekuk, “kau tega?” Nanarnya tak sekali merasa bersalah karena telah mengotori baju ku.

Aku tersenyum tulus melihat perilaku jessica yang kadang aku pikir masih terlihat kekanak-kanakan. Tapi ini lah jessica.

Tangan ku pun teralih mengambil roti diatas piring berwarna putih itu dan melemparkannya keras ke arah jessica

“Aku pasti akan datang unnie”

“YAK!!!!!!!!”

“Kita impas!” Sahut ku menyempatkan meneguk sisa susu dan berlari kekamar untuk mengganti baju ku bersiap untuk pergi kekampus.

 

 

Kadang aku tak mengerti dengan semua drama dihidupku

Aku tak mengerti kenapa aku harus melakukan ini

Aku tak mengerti kenapa aku harus menjalani semua ini

Seperti berjalan di jalan yang salah. Hati ku meronta meminta sebuah kebebasan, tapi otak ku menolak untuk melakukannya. Aku tak bisa terlalu egois. Aku terlalu takut. Ya bahkan terlalu takut untuk mengatakan bahwa ini bukanlah tempatku.

“Apa ada pertanyaan?” Dosen yang sedari tadi menjelaskan beberapa teori bisnis menghentikan lamunan ku.

Semua orang yang ada didalam ruangan ini tak satupun bersuara, seolah-olah mengerti akan semua pelajaran tersebut walaupun sebenarnya semua bertolak belakang.

“Taeyeon-shi,kau paham?” Jantungku seakan meloncat saat tiba-tiba dosen tersebut memanggil namaku. Siapa sih dosen yang tidak kenal dengan ku? Mahasiswi yang selalu memiliki masalah pada nilainya. Mereka menyebutku otak batu.

Hanya senyuman yang sekarang bisa ku tampilkan, jujur, selama 2 jam duduk dikursi ini, aku sama sekali tak mengerti apa yang telah dibicarakan dosen tersebut.

Lelaki paruh baya itu menggeleng pelan, “Besok kau temui saya dikantor” ucapnya tegas lalu kembali mengacuhkan ku dan mengakhiri pelajarannya.

Aku menghembus nafas pelan, nasibku memang buruk.

“Makanya jangan kebanyakan melamun” Yuri yang ada dibelakang ku sedikit mengaggetkan ku.

Aku hanya bisa tersenyum kecut lalu beranjak dari tempat duduk.

“Kemana?” Tanya Yuri.

“Pergi, disini panas” sungutku sambil berjalan keluar dari kelas itu.

“Kau kekantin?” Lagi ia bertanya penuh dengan sebuah harapan. Aku kembali menghentikan langkahku. Dan menatapnya.

“Ani, aku tidak lapar” balas ku membuat yuri yang aku tau pasti ingin menitip beberapa makanan kecewa. Wanita itu hanya mendengus kesal lalu kembali bergulat dengan bukunya.

Ya aku keluar dari kelas yang hampir semua mahasiswa dan mahasiswinya sekarang sedang sibuk mempersiapkan test yang akan dilakukan pada jam berikutnya.

Tapi masa bodoh, toh walau aku belajar aku tetap tidak bisa. Ah ani, aku tak sebodoh itu. Aku bisa memahami semua pelajaran itu, tapi entahlah otak ku sepertinya tidak bisa dipaksa. Oh mungkin bisa,tapi aku terlalu malas saja.

Aku rasa bisnis bukanlah tempat ku, aku tak berminat, aku tak bersemangat. Bahkan aku lebih menyukai pelajaran seni tambahan ku diluar kampus dari pada teori-teori bisnis itu. Tapi, aku tak bisa terus mengutamakan ego ku. Paman jung mengatakan bahwa siap atau tidak siap aku akan dipaksa untuk meneruskan perusahaan ayah. Aku tak boleh memberantakkan semua usaha yang telah ayah bangun dari nol itu.

Mata ku memicing ketika ku melihat seorang lelaki duduk disebuah kursi ditaman kampus. Aku yang berada dilorong penghubung beberapa bangunan kampus tersebut langsung bisa mengenali siapa lelaki dengan pakaian rapinya itu. Senyumku pun menggembang.

“Hai………!” Sapa ku saat aku menghampirinya dengan terburu-buru. Lelaki itu mengangkat kepalanya.

“Oh kau..” Ucapnya tak sesuai dengan harapan ku. Seperti tak mengingginkan kehadiran ku saja!

“Ketus sekali” balas ku menampakan wajah merajuk, masih berdiri didepannya yang sekarang kembali sibuk membaca sebuah buku atau data entahlah apa itu namanya.

Mata sipitnya kembali menatap ku. Aku semakin menampakan wajah sebalku. Melipat kedua tangan ku didada, tidak terima dengan prilakunya padaku.

Ia tertawa kecil, lalu dengan cepat ia mengalihkan buku-buku yang memenuhi kursi panjang itu kererumputan.

“Duduklah” ujarnya sembari menepuk tempat disampingnya.

Aku masih diam.

“Kim taeyeon..” Lembut suaranya menyebut namaku namun masih terdengar tegas. Hatiku entah kenapa merasakan sebuah hal aneh setiap saat lelaki itu mengucapkan kosakata namaku. Entahlah,aku menyukainya.

“Ya sud-” ia seakan kembali ingin menaruh buku-bukunya ditempat semula bila aku tak mengiyakan pintanya.

“Baiklah!” dengan cepat aku duduk disampingnya. Sekarang berpura-pura masih merajuk.

“Kenapa sendiri? mana yuri dan sunny?” Tanyanya seperti ibu-ibu yang cerewet. Aku menatap wajah tampannya. Oh sehun, kenapa kau harus sesempurna ini?

“Dikelas. Mereka sibuk belajar untuk test nanti”

“Dan kau tak belajar?” Lagi-lagi ia sekarang berlagak seperti seorang ayah yang ingin mengomel pada anaknya.

“Aku sudah pintar” balasku polos.

Lelaki itu berdecak seakan meremehkan ku, “aku tak percaya.”

“Ya sehun-a!” Teriak ku kesal. Sudah ketus tidak mau membalas sapaanku sekarang mau mengataiku?

“Bisa kah kau tidak berteriak ditelingaku wahai dongsaeng?” Balasnya menarik alisnya keatas. Walau wajahnya terlihat dingin dan tipikal lelaki pendiam, tapi sebenarnya sehun mempunyai kehangatan dan kegembiraan diharinya. Ia dokter muda yang pintarnya tak dapat diukur, aku bahkan tak mengerti kenapa lelaki tengil yang mempunyai teman sejibun ini bisa memiliki otak yang cermelang. Selain itu, wajah tampan dan gayanya yang sangat cool membuatnya menjadi bahan rebutan semua wanita. Bahkan disaat lelaki ini ditunjuk untuk menjadi pendamping dosen, semua siswi semakin tak berhenti menarik perhatian sehun. Semua cerita wanita penggila lelaki itu ia ceritakan padaku, dan aku tak mendapatkan alasan untuk tidak mengiyakan. Karena aku tau lelaki ini sangat populer, dan hampir semua siswi pasti iri melihat kedekatanku dengan sehun. Bahkan ada yang menyangka kami adalah pasangan kekasih dan karena itulah banyak sekali wanita yang membenciku. Tapi tidak, kami bukanlah sepasang kekasih. Kami hanya….sahabat? mungkin baginya, tapi bagiku? Lelaki ini jauh lebih dari sekedar sahabat. Aku, menyukainya sejak dari awal kami bertemu.

“Kau sendiri sedang apa disini? Ada acara apa jadi bisa duduk santai disini?” Ingat ku melihat sehun yang tidak biasanya duduk berada ditaman kampus seperti ini. Bukan sehun yang super sibuk seperti biasanya.

“Sedang mendata para mahasiswa, kau mau membantuku?” Balasnya santai masih menaikan alisnya.

“terima kasih” ucapku singkat tapi bermakna. Lelaki itu hanya terkekeh lalu kembali menggerakkan pulpen yang tadi baru ia ambil diatas kertas-kertas itu.

Entah apa yang terjadi, Hening seakan langsung menyelubungi kami pada saat itu. Hanya diam yang kami tampakkan. Sehun sibuk dengan pekerjaannya dan aku sibuk dengan pikiran ku yang entah mau berpikir apa.

“Yeon” ucapnya menghancurkan keheningan.

“Hmm” balasku seadanya masih menatap kebawah, kearah rerumputan hijau itu.

Aku masih bisa melihat dari sudut mataku bahwa lelaki itu menghentikan pekerjaannya dan menatapku.

“Ap-a akhir minggu ini kau sibu-k?”

Kepala ku sontak menoleh kearahnya. Mataku mengerjap tak percaya. Dia mengajak ku pergi setelah hampir beberapa bulan ini ia terlalu sibuk bermain dengan dunianya sendiri? tidak dapat dipercaya!

“Tumben” balas ku kembali menatap kearah lain. Tak percaya bahwa lelaki itu masih mau meluangkan waktunya untuk ku. “Biasanya kau sibuk”

“Ck, aku serius” ucapnya lagi. Membuat otakku mengeluarkan beribu banyak prasangka yang tak karuan.

“Ada yang ingin ku sampaikan padamu” ujarnya langsung ke inti tujuan ajakannya. Aku lagi-lagi menatapnya, merasa aneh mendengar sehun yang biasanya tak terbata-bata saat mengajak ku pergi, sekarang terdengar gugup. Ada apa dengan lelaki ini? jangan katakan bahwa ia ingin mengungkapkan isi hatinya dan……

.

.

Mengatakan bahwa selama ini ia mencintaiku?

.

.

Astaga taeyeon kau memang terlalu pintar untuk berandai-andai. Tapi, sikap lelaki ini benar-benar persis sekali seperti tanda-tanda seorang lelaki yang ingin mengatakan cinta bukan?

“Taeyeon, kau masih disini bukan? mau atau tidak?” Aishh, Lagi-lagi aku kembali melamun. Aku melihat sehun sedikit binggung melihatku.

“Ah nde, baiklah. Hari minggu?” Tanya ku cepat dan terdengar bersemangat. Bodoh sekali kau taeyeon.

“Aku jemput.” Ia mengangguk dan tersenyum lalu membuat mata sipitnya seakan menghilang. Ia pun tak lupa menepuk-nepuk puncak kepala ku, satu kebiasaan yang paling kusukai dari lelaki ini.

“Oh iya, hari kamis jessica mengadakan pesta ulang tahun anaknya. Ia menitipkan undangan spesial untukmu, kau bisa datang?” Tanya ku teringat titipan jessica pagi tadi. Ada banyak harapanku tertanam pada lelaki itu. Setidaknya sehun bisa menemani ku disaat acara keluarga sehingga aku tidak terlalu terlihat layaknya perempuan kesepian dan oh yang terutama, sehun bisa menutupi kesendirian ku selama ini.

“Kalau aku bisa, aku tak mungkin mengajak mu pergi di hari minggu nanti.” Balas lelaki itu menghancurkan khayalan ketika dengan bangga aku mengandeng lengan sehun dan memperkenalkannya pada para keluarga diacara nanti.

“Wae?”

Sehun menghela nafas lalu mengusap wajahnya gusar, aku bisa merasakan lelah tertanam diguratan wajahnya. “Jangan tanya kenapa” balasnya pendek tapi bisa sangat jelas ku tangkap artinya. “Mianhe”

Aku mencoba untuk tersenyum dan mengerti. Ini semua ini perjuangannya, ini semua impiannya, ini semua hidupnya. Dan aku tak bisa berbuat apa-apa.

“Gwenchana,aku mengerti. Tapi aku mohon kau jaga kesehatanmu, arrashi?” ucapku yang sekarang tak begitu peduli lagi dengan ketidakhadirannya nanti, sekarang aku malah merasa lebih resah melihat kondisi kesehatannya yang pasti tak akan terurus karena kesibukannya.

Lagi-lagi, sehun menatap mataku dengan senyuman teduhnya. Ingin melelehkan hatiku lagi? oh jangan ku mohon.

“Kau salah sudah mengkhawatirkan kesehatan seorang dokter” ucapnya dengan percaya diri.

Aku berdesis melihat sikap lelaki itu. Dan kelanjutannya? sehun malah tertawa melihat mimik wajahku.

Drrt-drrt

Handphone yang sengaja aku bisukan tiba-tiba bergetar dan berhasil menggejutkan ku. Dengan segera ku ambil handphone itu dari saku skinny jeans hitam ku.

“Apa?” Tanya ku setelah melihat nama yang muncul di display handphone ku.

“Kau mau tidak mendapat nilai?dosen sudah datang” ujar yuri dengan suara yang mengecil.

Aku menghela nafas berat “nde, aku datang” balas ku lalu menutup panggilan tersebut.

“Aku ke kelas dulu ya” ujarku pada sehun sembari berdiri dari kursi itu sambil memasukkan kembali handphone ku.

“Dosen sudah datang, dan aku tak ingin membuat masalah lagi” sambung ku berpamitan.

“Baiklah, Belajarlah dengan sungguh-sungguh karena aku tak segan-segan membunuhmu kalau kali ini kau kembali gagal ujian” tukas lelaki itu mengancam. Aku hanya membalasnya dengan anggukan lengkap dengan senyumku.

“Bye!” Salam ku lalu dengan tergesa-gesa berlari kekelas.

 

 

Aku memandang heran ketika melihat para pekerja ditoko ini dengan cekatan membungkus kado spesial yang akan ku berikan untuk heina, keponakan tercintaku.

Dengan sangat rapi seorang pekerja tersebut mengikatkan pita besar berwarna pink polkadot di kado itu. Aku tersenyum puas melihat kelihaian pekerja itu saat ia membawa kado yang terbungkus cantik itu kekasir, ke tempat ku berada.

“Ini nona” ucapnya sembari menaruh kado itu didepan ku. Cukup besar, bahkan hampir mehalangi pandangan pekerja itu.

“Yeppeoda” puji ku jujur. Pekerja itu tersenyum. “Kartu ucapan juga telah kami masukan”

Aku mengangguk paham. “Apakah nona benar – benar ingin membawanya sendirian?” Tanyanya ketika aku menunggu kasir memproses kartu kredit ku untuk membayar kado tersebut.

“Nde, terima kasih. Aku bisa membawanya sendiri ” jawabku sesopan mungkin.

“Khamsahamnida”. Akhirku lagi sambil mengangkat kado yang…. memang agak berat itu keluar toko dan memasukkannya kedalam mobil.

Aku menatap kedua kado yang sekarang terletak dikursi samping kemudiku. Putih dari ku dan merah titipan dari sehun. Haru pasti menyukainya! Batin ku sendiri lalu melajukan mobil ku menyatu dengan padatnya kerumunan seoul di sore hari.

.

.

.

Macet?ah, aku benci ini!

.

.

Setelah hampir 1 jam aku beradu dengan macetnya seoul, akhirnya aku sudah sampai dan selesai memarkirkan mobilku tepat dibelakang mobil- tiffany? Aku memicingkan mataku menginggat nomor plat yang tak asing itu. Ternyata ia sudah lebih dulu datang.

Aku pun menurunkan kaca depan mobilku mengarah padaku. Membenarkan riasan wajahku yang sedikit memudar. Rambutku juga ku rapikan kembali, tak lupa membenarkan dress berwarna soft pink yang khusus ku siapkan untuk keacara ini. Senyumku mengembang menatap wajahku dikaca kecil itu. Aku tak begitu buruk. Bibirku bagus, mataku bagus, hidungku mancung. Secara keseluruhan aku ini cantik. Tapi kenapa sampai sekarang…

Oh untuk sementara berhenti untuk merutuki nasib mu yeon.

Segera aku mengambil clutch kecil yang sangat serasi dengan dress ku dan kado untuk-

Mataku menatap dua kado yang besar ini dengan binggung, bagaimana caranya untuk ku membawa 2 kado besar ini. Aku pun mengedarkan kedua mataku keluar mobil kali saja ada orang yang ku kenal dan bisa kumintai tolong untuk membawa kado ini.

Tapi bagai jalanan kota mati, tidak ada sama sekali orang berada diluar rumah itu. Aku baru menyadari sekarang kalau tidak ada orang yang berada diluar dan ini sangat sepi. Apa acara sudah dimulai?atau sudah berakhir?

Langsung dengan cepat ku menelpon sang pemilik acara

“Dimana kau taeyeon!” Cempreng ku dengar suara wanita itu seakan mengumpatku saat pertama kali ia mengangkat telpon.

Aku mengerutkan alis, “Didepan rumah mu” ucap ku pelan tak berniat membalas teriakan jessica yang benar-benar luarbiasa nyaring.

“Kenapa tak masuk dan malah menelpon?” Tanyanya masih dengan suara bervolume penuh. Jika aku tak ada masalah aku juga akan masuk bodoh!

“Suruh orang keluar untuk membantuku membawa kado”

“Kado?” Lagi, jessica berseru. Sekarang suaranya terdengar kegirangan. Aneh,Ini kado untuk anaknya bukan untuknya dan kenapa jessica yang sangat bahagia?Aku menggeleng.

“Sekarang.” Perintahku langsung menutup telpon. Perhatian ku pun seketika teralih pada beberapa pesan yang masuk pada handphone yang bahkan sedari tadi kulupakan.

 

From : sehun

Kau sudah menerima kado titipan ku bukan?tolong katakan pada jessica dan kris aku minta maaf karena tak bisa datang.

 

Tangan ku pun langsung membalas pesan lelaki itu.

 

Nde, kado mu besar sekali tau! Aku tak kuat membawanya sendiri, aku akan meminta biaya antar darimu!

 

Tak selang satu menit, lelaki itu kembali membalas ku. Sehun memang tak pernah membuatku menunggu.

 

From : Sehun

Baiklah,minggu ini bukan?aku akan mentraktir dimana pun dan apapun yang ingin kau makan xoxo

 

Setiap kali lelaki itu mengirimkan pesan untuk ku. Pesan panjang atau walau pesan singkat pun, selalu berhasil membuat hatiku seakan ingin meloncat-loncat.

 

TOK-TOK-TOK

 

Omona! Aku benar-benar terkejut dengan ketukan dikaca mobilku yang secara mendadak dan terdengar kasar itu. Aku memegang dada ku spontan. Siapa yang…

Aku berhenti dari ancang-ancang seluruh umpatanku pada orang yang telah berani membuat jantung ku hampir copot. Aku menatap lelaki yang berada diluar mobilku. Ia berkacak pinggang. Ia lelaki menyebalkan satu tahun lalu.

 

TOK-TOK-TOK

 

Lagi ketukan lelaki itu menyadarkan lamunan ku, untung aku memilih kaca gelap pada mobilku, jika tidak ia pasti sangat ge-er karena ia sangka aku terpesona sampai terpana menatapnya.

“Lama sekali!” Ucapnya pertama kali saat aku keluar dari mobil. Oh,jadi dia sudah tau kalau aku lah yang berada didalam mobil.

“Ada apa?” Tanya ku penuh penasaran, jangan katakan bahwa jessica menyuruh lelaki tengil ini.

“Jessica memintaku untuk membantumu. Mana kadonya?” Nah kan benar dugaan ku. Aku berdecak. Lebih baik membawanya sendiri dari pada meminta bantuan dari lelaki ini. Entahlah, sampai sekarang ketika melihat baekhyun aku selalu ingin marah-marah.

“Aniyo, aku bisa sendiri!” seru ku sambil berjalan kepintu sebelah mobilku. Aku bisa melihat sekilas lelaki itu menatapku dengan tatapan tajam.

“Kalau kau bisa sendiri kenapa menelpon jessica dan meminta bantuan?”

Aku yang sedang membuka pintu mobilku terhenti lalu kembali menatapnya dan tersenyum jahat.

“Kalau saja itu bukan kau” singkat ku.

Lelaki itu mengangguk beberapa kali dan mengerucutkan mulutnya, ia paham maksudku. “Jadi kau masih menaruh dendam padaku?” Tanyanya sembari mendatangi ku, dengan kedua tangan disaku.

“Ani. Hanya saja-aku tak ingin berurusan dengan lelaki sepertimu lagi” ucapku mantap sambil mengeluarkan 2 kado itu dari mobil. Ugh, Sungguh berat.

“Wow..wow..wow.. Ternyata kau masih saja galak seperti dulu ya? Ck, bahkan sekarang lebih parah.”

“Minggir!” Ketus ku sebisa mungkin tidak meladeninya dan memintanya untuk tak menghalangi jalanku. Lelaki itu memundurkan tubuhnya, memberikan ku ruang yang mencoba setengah mati membawa 2 bungkus besar kotak itu dengan sekuat tenaga. Kenapa tubuhku harus sependek ini?aku bahkan harus memiringkan kepala ku agar bisa melihat jalanan didepan.

“Hei, kau yakin bisa membawanya sendiri dengan tubuhmu yang pendek itu?”

Aku menghela nafas dan menghentikan langkahku ketika mendengar teriakan baekhyun yang seenaknya. Benar-benar lelaki itu menyebalkan. Aku pun ingin membalikan tubuh ku menatap ia yang tadi berada dibelakang ku

“Bisakah kau diam dan–”

BRUK

Tapi sayang, kaki ku tersandung dan aku tiba-tiba jatuh ke tanah. Kado yang sedari tadi ku pegang terjatuh dijalanan aspal itu. Begitupun aku. Aku pun mengerang kesakitan. Demi apapun pantat ku terasa sangat sakit.

“Gwenchana?” Aku yang sedari tadi memegang pinggang ku menyadari baekhyun menghampiriku dan berjongkok didepanku.

“DASAR PEMBAWA SIAL” semprot ku tepat didepan wajahnya. Lelaki itu diam sejenak saat aku mengutarakan seluruh kesalku padanya. Ha, dia sepertinya sudah menyesal sudah membuatku sial.

“hahahahaha” mulutku ternganga ketika baekhyun yang ku sangka tadi akan membantu ku dan mengatakan maaf tiba-tiba tertawa dengan keras. Oh god taeyeon, kau sudah melupakan didepan siapa tadi kau telah jatuh. Sungguh memalukan.

“A-apa yang kau tertawakan?” Tanya ku yang mulai gugup, walau aku tau lelaki ini pasti menertawakanku.

“Kau!” Balasnya masih tertawa. Lelaki itu menggelengkan kepalanya. “Apa kau sudah cukup malu sekarang?”

Wajah malu ku seketika berubah geram, “ini semua salah mu!” Tukasku penuh penekanan dan keyakinan penuh.

“Ya,ya kenapa kau menyalahkan ku lagi? Aku tanya, siapa yang tidak mau dibantu?siapa yang menyandung kakinya sendiri?siapa yang mengaku kalau ia kuat membawa kado sendiri?hah? masih mau menyalahkan ku?”

Rasanya ingin sekali mencakar wajah lelaki ini saat ia mengeluarkan kata-kata pedas yang hanya memojokkan ku itu.

“Tapi tetap saja ini salah mu. Seandainya saja bukan kau yang membantuku,aku pasti-”

“Cerewet!” pembelaan ku dan ketidakmauan ku mengalah terhenti ketika ia mengucapkan satu kata itu. Dengan cepat ia berdiri dan memunggut 2 buah kado yang berada dijalan, mengangkatnya dan melangkah menuju rumah jessica. Aku menatap lelaki itu berjalan menjauhi ku.

Ia sempat berhenti dan menolehkan wajahnya pada ku, “Mau sampai kapan duduk dijalan seperti orang gila yang depresi?” Datar lelaki itu berujar padaku lalu kembali berjalan.

Aku yang tadi hanya diam melihat lelaki itupun langsung sadar bahwa sedari tadi aku sempat terbuai oleh ketampanan lelaki itu seperti orang bodoh. Kenapa baekhyun bisa semakin tampan? dengan kegagahannya sekarang ia bagaikan-ah, aniyo! apa-apaan kau kim taeyeon, Hanya sehun lah lelaki tertampan. Titik. Dan baekhyun? hanya lelaki menyebalkan, pembawa sial dan lelaki yang hanya beruntung mendapatkan wajah yang lumayan. Tidak ada pengecualian sama sekali.

 

*

 

“Hai taeyeon,finally”

Aku melangkahkan kakiku kedalam rumah besar itu. Aku sempat terkagum dengan perubahan rumah itu. Yah, bukan jessica namanya bila ia tidak mempunyai selera yang bagus.

Wanita itu benar-benar menggunakan uangnya dengan baik untuk menyusun acara ulang tahun anaknya itu. Semua serba terencana, semua serba high class. kita bisa melihatnya dari seluruh dekorasi rumahnya sekarang. Semua serba berwarna pink dan putih. Dari awal masuk rumah bahkan sampai ketaman belakang. Semuanya terlihat cantik dan mewah.

Sekarang, kami seluruh undangan telah duduk disalah satu kursi yang dibagi-bagi untuk menggeliling beberapa meja bundar yang beralas kain berwarna putih.

Sangat menyebalkan rasanya saat kami, aku, jessica, kris, tiffany, dan nickhun sedang berbincang, tiba-tiba jessica menarik baekhyun duduk disatu-satunya kursi yang ada dimeja kami. Lelaki itu duduk disamping nickhun. Tepat didepanku.

“Jadi,kau akan pindah kesini?” Tanya jessica pada baekhyun. Aku sama sekali tak berniat dengan percakapan yang tak penting itu. Aku fokus memakan makanan ku. Dengan dunia ku sendiri.

“Nde, appa memintaku untuk mengurus urusan di seoul mulai sekarang”

“Urusan yang mana?apa kau sudah disahkan menjadi kepala perusahaan oleh paman?” Aku mendengar kris mulai ikut-ikutan.

Dari pandangan yang kucuri-curi, aku melihat baekhyun tertawa kecil sebelum menjawab “ani. Aku hanya bertugas menjadi penasehat dan pengawas. Bukan saatnya untuk menggantikan appa hyung”

“Tapi suatu saat nanti adalah waktunya bukan?” Jahil kris tertawa. Ke4 orang itu ikut tertawa, terkecuali aku. Apa yang lucu?sombong iya!

“Kau kenapa yeon?” Tiffany yang ada disamping menyikut ku. Membuat kembali 4 orang didepan ku memperhatikan ku yang sedari tadi mati-matian agar tak terlihat dan diajak ikut berbincang dengan baekhyun.

“Tidak kenapa-napa” jawabku tersenyum kikuk.

“Ia pasti malu bertemu denganku” sanggah baekhyun membuatku menatapnya dengan tatapan tak percaya. Apa yang ia katakan tadi?

“A-apa?” Tanya ku meminta ulang.

“Tolong dimaklumi, Taeyeon memang suka berlagak menjadi wanita pemalu bila bertemu dengan lelaki tampan” timpal tiffany seakan menurunkan harga diriku dengan sangat drastis. Aku menatapnya dengan tatapan aku-akan-membunuhmu.

“Oh ya? jadi, selama ini sikap malu mu didepan ku itu karena kau..”

Astaga lelaki ini benar-benar gila. Bagaimana ia bisa sebegitu pedenya? Bahkan tiffany dan nickhun berusaha menyimpan tawanya.

“HAHAHAHA” aku tertawa nyaring setelah waktu dimana aku sempat binggung dengan ucapan lelaki itu dan tanpa ku sadar telah memotong kalimat baekhyun.

“karena aku mengira kau tampan ? jangan bermimpi terlalu tinggi! bahkan walau dilihat dari planet pluto pun kau tidak ada tampan-tampannya”

“Kata siapa?” Sanggah tiffany yang membuatku menatap kesal lagi pada wanita itu.

“Kau buta ya?” Sambungnya lalu tertawa kecil. Oh jadi wanita ini lebih memilih membelakan lelaki yang sekarang ikut tertawa dan melakukan high-five bersamanya dibandingkan dengan teman sepermainannya? lihat saja kau tiffany hwang.

“Ya-ya sudah berhenti mengoda taeyeon. Lihat wajahnya bagaikan udang rebus sekarang”

“Unnie!!!” Protes ku pada jessica yang sekarang ikut campur tangan dan ikut tertawa jahil. Bisa kah aku pergi dari meja ini sekarang ?

“Oh ya, kami ingin menyampaikan sesuatu pada kalian” tawa para manusia yang terlihat sangat bahagia telah mempermalukan ku reda saat kris seakan menyelamatkan ku dari semua godaan yang memicu emosiku.

“Ada apa?” Tanya nickhun.

Kris menatap jessica, seakan meminta izin wanita itu terlebih dahulu sebelum membalas kepenasaran kami.

“Kami akan ke jeju selama 3 hari besok.” tukas kris juga diikuti anggukan Jessica dengan senyum.

“Kalian mau ikut?” Sambung jessica. Ia menatap kami penuh dengan harapan yang besar.

“Aku tidak bisa” ucap ku pertama. Ya aku memang tak bisa. Aku akan berkencan, ah bukan hanya bertemu dengan sahabatku hari minggu nanti.

Jessica memasang wajah kecewanya, seperti biasanya. “Wae?”

“Aku sudah mempunyai janji,mianhe..” balas ku menyayangkan.

“Kalau kalian?” Tanya kris menatap tiffany, nickhun, dan baekhyun.

Tiffany dan nickhun menggeleng sambil tersenyum, “kami akan mengadakan galeri mulai besok,jadi tidak mungkin” ucap nickhun.

“Dan aku pun tak mempunyai alasan untuk ikut bersama kalian bukan? ” tukas baekhyun menyambung. Sontak beberapa orang itu tertawa, aku? tetap biasa saja.

“Eommaaa…” Suara krystal, sepupu jessica terdengar. Gadis itu mendekati kami sembari membawa haru. Bayi cantik yang sekarang sudah berumur satu tahun itu.

“Hello my baby” sapa jessica menyambut haru kedalam gendongannya.

“Sudah berapa banyak kado yang kau dapatkan eoh?” Tanya ku sembari memainkan tangan mungil anak itu.

“Terima kasih untuk kado besarnya aunty” Aku menatap jessica yang sedari tadi memandangku sambil tersenyum

“Tidak gratis” balasku jahil. Mengisyaratkan bahwa jessica harus membelikan ku banyak oleh-oleh dari jeju nanti.

 

 

 

From : Sehun

   Ku jemput jam 7

 

Aku hanya menghela nafas kecil saat membaca pesan lelaki itu. Badan ku bersandar disofa empuk yang berada ditengah toko butik jessica merasa sangat lelah. Bagaimana tidak? selama 3 hari ini aku terpaksa menggantikan jessica untuk mengawasi butiknya seharian penuh, tidak seperti biasanya yang hanya kulakukan disaat aku tidak sibuk saja. Tapi karena kecintaan ku pada jessica yang sekarang sedang dalam perjalanan pulang dari honeymoon keduanya, aku rela melakukan apapun.

 

Ok

 

Aku mengirimkan pesan balik pada lelaki itu. Mata ku tetap tertuju kehandphone ku. Aneh, kenapa aku tiba-tiba tak begitu bersemangat seperti biasanya? kenapa aku biasa saja sekarang menginggat beberapa hari yang lalu aku ingin sekali waktu berjalan lebih cepat. Bahkan kenapa aku merasa sangat malas untuk pergi bersama lelaki itu?

Entahlah dari pagi tadi, aku merasakan hal yang aneh. Aku tak mengerti apa yang salah. Aku uring-uringan. Hatiku tak tenang.

Sebuah pesan kembali masuk kehandphone ku. Bukan sehun ternyata..

 

From: My Jessi

Hai kiddo, sekarang aku akan naik pesawat menuju korea. Tidak usah dijemput, jaga butik ku baik-baik arraseo?dan oh ya, tolong lihat keadaan haru ketika kau pulang. Aku membawakan mu banyak oleh-oleh! I love you sist

 

Aku terkekeh membaca pesan jessica, tanpa kau suruh pun aku tak akan menjemput, Batinku. Bukan bermaksud jahat, tapi aku memang tidak bisa bukan?

Dan aku pun tak membalas pesan wanita itu, karena aku tau ia pasti sedang naik pesawatnya sekarang. Aku pun memasukkan handphone ku kedalam tas dan beranjak dari kursi. Menjenguk haru sebentar, lalu pulang untuk bersiap-siap untuk bertemu sehun.

“Selamat beristirahat nyonya” senyum salah satu petugas dibutik jessica mengantarkan ku keluar dari butik terkenal itu.

 

*

 

Sudah berapa kali aku duduk dan bangkit lagi dari kasur ku. Menatap jam dinding hampir ribuan kali. Kembali bercermin merapikan tampilan ku sudah puluhan kali. Tapi tetap saja lelaki itu tak ada kabar berita, bahkan telponnya pun sibuk saat aku mencoba menghubunginya.

Aku merebahkan tubuhku kesal dikasur, tak peduli walau baju ku kusut atau rambutku rusak. Mataku menatap display handphoneku. Pukul 9, dan dia belum datang menjemput ku. Aku benar-benar ingin merajuk dan ingin membatalkan semua ini jika saja sehun tiba-tiba tidak menelponku.

“Jangan mengumpat dulu” ia langsung menyambar dan tak memperbolehkan ku untuk mengatakan apapun, karena dia tau aku pasti akan mengomel.

“Jadi atau tidak?” Ucap ku kesal. Lebih baik aku tidur kalau begini jadinya.

“Aku didepan” mataku membulat mendengar balasan lelaki itu. Dengan cepat aku pun mematikan handphone ku lalu bergegas menuju pintu depan.

Satu sosok lelaki tampan sekarang tersenyum sambil melambaikan tangannya padaku. Dengan setelan berwarna hitam,ia tampak begitu sempurna.

“Oh, kau datang juga ternyata?” Sindir ku lalu meninggalkan lelaki itu kembali kedalam apartemen. Ia mengikuti ku dari belakang.

“Ada operasi mendadak” ucapnya mengerti akan rajuk ku.

Aku membalikan badanku menatapnya yang berhenti dibelakang ku. “Kau yakin?” Tanya ku serius. Ia mengangguk

“Apa yang harus ku lakukan lagi agar kau percaya?”

Aku berdesis sambil menatap jam dinding sekilas, “ini sudah jam 9, dan aku tiba-tiba saja mengantuk” entah apa yang telah ku ucapkan, apa benar aku berkata seakan aku menolak ajakannya sekarang?

Sehun terkekeh, “aishh, baru begini saja sudah mau merajuk?”

Aku yang menyilangkan kedua tanganku melotot padanya, “ini semua gara-garamu juga, siapa suruh baru datang sekarang?”

“Aku kan sudah meminta maaf padamu?” Ucap sehun tetap mencoba tenang.

Mataku pun beralih dari wajah lelaki itu. Menatap kesembarang tempat. Aneh, kenapa aku semakin tak memiliki semangat untuk pergi dengannya sekarang?

“Ayolah, kau sudah bersiap dan akupun juga. Kapan lagi kita bisa pergi bersama ?”

Aku kembali menatap lelaki itu, ada benarnya juga dengan perkataaannya.

“Sekarang?”

“Tahun depan! ya sekarang kim taeyeon..!!Kajja ambil tasmu” ia mendorong tubuh ku untuk kekamar. Aku menghela pasrah.

“Aku akan menunggumu diluar”

 

*

 

Cafe bergaya western yang berada tak jauh dari apartemen ku akhirnya terpilih menjadi tempat dimana kami akan menyantap makan malam setelah berkeliling mencari restaurant yang entah kenapa hari ini semuanya penuh dengan pengunjung serta reservasi. Walau dicafe ini makanannya tidak terlalu buruk dan rasanya masih bersahabat dengan lidahku, tapi tetap saja ini sangat biasa menginggat hampir setiap hari aku pergi kesini.

“Bisa kah kau membiasakan diri untuk makan dengan cara yang benar?”

Aku menaikan mataku menatap sehun yang sedari tadi terkekeh memandang ku yang begitu tak sabaran dengan makanan yang baru saja datang. Aku hanya diam sebentar lalu kembali melanjutkan makan ku. Tak membalasnya bahkan sekarang aku memasukan makanan kemulut ku lebih cepat dari sebelumnya. Aku sudah terlalu kesal, kalau ujung-ujungnya pergi kesini, aku tak perlu susah-susah berdandan bukan?

“Ck, masih saja marah” ucapnya lagi sembari meminum kopinya.

Aku menghentikkan gerakan tanganku. Bibirku mengerucut sambil menatapnya.

Ia tersenyum, “kau semakin terlihat jelek bila menekuk wajah seperti itu”

“Biar saja!” Sulut ku sebal dengan sehun. Lelaki ini benar-benar tidak pernah peka dengan apa yang aku inginkan ya. Oh tunggu, memangnya kau siapa taeyeon? Apa hak mu untuk menuntut seorang sehun? toh ia hanya sekedar sahabatmu.

“Kau cantik sekali hari ini, tak biasanya”

Aku yang sekarang bergelut dengan dua pikiran yang harus aku pilih, tetap merajuk atau memaafkan keterlambatan lelaki itu seakan dibuat membeku oleh ucapan sehun yang membuat ku hampir tersedak. Dengan cepat aku meneguk minuman ku.

“Yah, kau kenapa?” Sambung lelaki itu heran melihat ku.

“Jangan mencoba merayu ku untuk tidak marah lagi padamu” celoteh ku membuat sehun tertawa kecil.

“Apa salahnya kan mencoba?”

Aku melirik penuh ketajaman padanya, ini bukan saatnya bercanda oh sehun.

Ia terkekeh, “baiklah, mianhe. Aku benar-benar tak bisa menetapkan jam kerja ku dengan tepat sekarang, jadi untuk semua keterlambatan ku selama ini, janji-janji ku selama ini, aku sungguh minta maaf. Mau memaafkan ku? ”

Sehun seakan menaruh harapan padaku. Aku pun sempat berpikir sejenak, walau akhirnya aku pasti akan memaaafkan lelaki ini. AEntah kenapa sampai sekarang aku selalu saja gagal untuk berlama-lama marah pada sehun.

“Aissh, senyuman ini yang aku tunggu” ujar sehun penuh dengan kegembiraan dimatanya saat aku membalas lelaki itu dengan senyum, tak menaruh perasaan marah atau kecewa lagi.

“Berhenti mengatakan hal yang menjijikan atau aku akan merajuk lagi!” Balas ku menciut kan sehun.

“ah arraseo taeyeon-shi..” aku hanya menatapnya sekilas masih tersenyum mendengar bagaimana cara ia memanggilku.

“oh iya, katamu kau ingin menyampaikan sesuatu pada ku bukan?” Aku terlalu banyak memasukan makanan dimulut ku sehingga rasanya perutku penuh dan akhirnya aku menghentikan makan ku. Aku pun teringat dengan ucapan lelaki   itu beberapa hari lalu. Ucapan yang membuat banyak pertanyaan dalam pikiranku, dan sekarang aku membutuhkan jawabannya.

“oh itu..” Ia yang sedang menyuapkan makanannya ikut terhenti. Ada keseriusan dimata lelaki itu dan aku dapat merasakannya.

“Jadi, taeyeon aku–” Melihat sehun yang seolah-olah tak sanggup mengeluarkan katanya, aku menjadi semakin penasaran dengan hal yang ingin ia beritahukan. Jika sampai hal tersebut bukan tentang perasaannya padaku, aku pasti akan hancur.

“kau masih ingat dengan salah satu anak buah didik ku yang dulu aku ceritakan?”

Aku membulatkan mulut ku tak mengerti dan heran tentunya.

“Mwo?jadi hal yang ingin kau sampaikan hanya sekedar menanyakan apa aku ingat atau tidak dengan anak buah didikmu yang super terkenal itu?” Tanya ku kecewa dengan sehun.

“kau-marah?”

“Nde, ah-ani..” aku seakan merutuki mulutku yang tidak bisa dikendalikan sama sekali. “aku hanya- aku pikir kau akan menyampaikan hal yang penting”

“ini hal penting taeyeon”

Mataku yang sedari tadi menahan airmata kekecewaan kembali menatap wajahnya yang sekarang 200% lebih serius dibandingkan awal pembicaraan kami. Jangan buat aku kembali kecewa sehun.

“aku butuh bantuan mu..”

“bantuan?” ulang ku.

“Taeyeon, kau tau bukan selama ini aku tak pernah mempunyai seorang kekasih?”

Aku mengangguk. Ya, aku tau bahkan terlalu bodoh untuk berpikir bahwa alasan kenapa selama ini lelaki ini tak mempunyai kekasih adalah aku. Tapi kenyataannya?

“Dan entahlah, akhir-akhir ini aku semakin tertarik pada-”

“kau mempunyai rasa yang lebih dari pada sekedar menggagguminya?” Tembak ku secara cepat menghentikan kalimat lelaki itu dan juga menghentikan hatiku yang sekarang tak tau apa rasanya.

Lelaki itu tersenyum penuh malu, ia mengusap tengkuknya. Sekarang aku paham.

“apa jangan-jangan kau…..” tambahku membuat lelaki itu semakin melebarkan senyumnya, ia mengangguk paham akan maksudku.

“Kau mencintainya?Jinjja?” Hati ku seakan tak percaya dengan lelaki yang berada didepanku. Aku memang tau bahwa lelaki itu dari dulu menyukai wanita cantik yang bisa dikatakan wanita idaman dikampus. Tapi, aku pikir sehun hanyalah satu dari banyak lelaki yang hanya sekedar menganggumi, Tidak lebih.

“kau pikir?”

Aku mengigit bibir bawahku, sekuat tenaga aku mencoba untuk menjadi sosok sahabat yang akan ikut bahagia bila sahabatnya bahagia. Bukan seorang wnaita yang hatinya akan hancur karena lelaki yang selama ini ia cintai mencintai wanita lain.

“Bukankah dari dulu kau tau kalau aku tak pernah main-main dengan ucapanku?” Sambung sehun dan langsung ku balas dengan senyuman palsuku.

Dan Bukan kah kau tau satu hal sehun? Kalau dari dulu, aku juga tak pernah main-main dengan perasaan ku?

 

Aku mencintaimu…

 

Drrt-Drrttt-

 

Handphone yang masih saja setia aku silent bergetar dari dalam tasku dan kembali menghilangkan fokus ku.

“yoboseo?” Tanya ku saat aku tak bisa mengetahui siapa penelpon itu. Walau rasanya sekarang aku ingin menangis sejadi-jadinya, aku berusaha untuk kuat dihadapan sehun yang memperhatikan ku saat ini.

“Taeyeon?” Aku mengerutkan alisku.

“P-paman?”

 

.

.

.

 

To be continue

 

Teaser

 

“Bukan kah kalian sudah berjanji padaku?” Suara taeyeon terdengar garau ketika berbicara pada dua orang didepannya. Wajahnya menunduk dalam, matanya seakan tak sanggup untuk sekedar membuka.

“Apa kalian tak kasihan padaku?” Sambung taeyeon dan masih tak dijawab oleh kedua orang itu. Mereka masih bungkam, seakan tak ingin mengeluarkan sedikit suarapun.

 

~~~

 

“Aku tak bisa melakukannya”

“kau pikir aku bisa?” Taeyeon sempat menatap baekhyun dengan alis yang mengerucut.

“baiklah, kalau begitu biarkan dia bersama ku” sambung taeyeon penuh ketegasan.

Baekhyun menggeleng, “tidak bisa…”

 

.

.

.

 

Akhirnyaaa, ngebut nih ngerjainnya. Komentar ya yang banyak kalo mau dilanjutin hehe. Thank you J

Advertisements

57 comments on “[FREELANCE] On Demand (Chapter 2 Nice to meet u)

  1. sejujurnya thor udah lupa sama cerita di chapt 1 saking lama nya dilanjutin -,- tapi gpp aku udah baca ulang chapt 1 nya kok kkk next ya thor, jangan lama lama lagi. Penasaran terus bawaan nya 😦

  2. Aah, daebak thor daebak. Gomawo thor udah bikin ff sebagus ini. Nextnya jangan lama lama ya thor#plak.
    Fightaeng authornim.

  3. Yaampun kesian taeng;AAA; salah baca kode sih;; etapi sehunnya juga salah ngasi kodenya;; makanya dia rada ga semangat kali ya aduh kesian
    Itu teasernya ga membantu thor, malah nikin penasaran;;
    Niceee! Good job!! Suka mulai dari cover sampe bahasa nya! Thumbs up!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s