Ma Boy~ (Chapter 10 (END))

ma-boy-copy-8

Bina Ferina ( Kookie28)

Main Cast : Kim Taeyeon GG, Xi Luhan, Kim Jaejoong JYJ

Genre : School-Life, Romance

Rating : PG

Thanks To :

BaeLyrii @Cafeposterart.wp.com for making this amazing poster, chu~

Okelaah, happy reading ajadeh, yaaaa^^

~~~

Taeyeon bangkit berdiri dari sofa. Ia menatap Nyonya Xi dalam-dalam dengan pandangan memohon. Lalu, kedua tangannya menyerahkan bingkisan cantik itu ke hadapan Nyonya Xi. Nyonya Xi, dengan perlahan-lahan menerima bingkisan itu sambil menatap Taeyeon dengan penasaran.

“Ige… mwoya?” tanya Nyonya Xi pelan.

Taeyeon membungkukkan badannya, di hadapan Nyonya Xi. Lalu, wajahnya kembali terangkat. Nyonya Xi, Jaejoong, dan Young kaget begitu melihat Taeyeon yang menitikkan air matanya.

“Ahjumma, tolong terimalah. Hadiah penuh cinta dari Luhan untukmu. Tolong terimalah untuk sekali ini saja,”

“Hadiah? Hadiah ulang tahun yang kemarin, kah?” tanya Nyonya Xi pada Taeyeon.

Taeyeon mengangguk. Ia menundukkan kepalanya. Jaejoong bangkit berdiri dari sofa dan ia menarik lengan Young dengan pelan, menyuruhnya untuk pergi. Awalnya Young tidak mau. Tapi karena Jaejoong terus menarik lengannya, akhirnya Young menurut dan mereka, pun pergi entah ke mana.

Saat Jaejoong dan Young pergi, Nyona Xi membuka bingkisan itu. Ia mengambil sebuah kotak persegi panjang yang elegan. Ia membukanya dan isinya adalah sepasang anting dan kalung berlian yang panjang. Perhiasan yang amat sangat diinginkan setiap wanita manapun. Apalagi Nyonya Xi memang suka memakai perhiasan seperti kalung dan anting-anting. Nyonya Xi mengambil kalung itu dan menatapnya.

“Dia tahu kesukaanku yang seperti apa. Berbeda dengan ayahnya,” sahut Nyonya Xi pelan. “Dan tas ini juga. Tas yang sangat kuinginkan dari sebulan yang lalu,”

Nyonya Xi mengeluarkan sebuah tas tangan yang kecil dan simple. Karena Taeyeon bukan ahli fashion, ia bahkan tidak tahu di mana letak keistimewaan tas itu. Hanya saja ia ingat, YoonA pernah mengatakan itu tas idaman para perempuan ketika Taeyeon menunjukkan tas itu, dan harganya pun juga bukan harga yang biasa.

“Luhan memang selalu tahu apa yang kuinginkan,” ujar Nyonya Xi. Ia tersenyum lembut seraya memasukkan kembali tas serta kotak perhiasannya ke dalam bingkisan hadiahnya. “Aku tahu dia memerhatikan apa yang kusuka,”

“Lalu, kenapa ahjumma tidak pernah menerima hadiah-hadiahnya?” tanya Taeyeon.

Nyonya Xi menatap Taeyeon dengan pandangan lembut. Taeyeon merasa, pertanyaannya lancang, tapi Nyonya Xi tidak merasa demikian. Ia tahu Taeyeon merasa dirinya tidak adil untuk seorang ibu.

“Itu semua karena ego, Taeyeon-ah. Semenjak aku berencana menikah dengan ayahnya, aku tahu dia tidak pernah suka ayahnya kembali menikah. Tapi Luhan adalah sosok yang dewasa dan lapang dada. Dia tahu alasan ayahnya menikah lagi dan mau menerimaku sebagai ibunya. Tapi aku, saat melihat wajahnya yang sangat mirip sekali dengan ibunya, malah tidak bisa melihatnya ada di hadapanku. Dia tahu, dan dia pergi tidur di asrama, untuk menjaga perasaanku.

“Dan langkahnya pergi ke asrama sama sekali salah. Aku mengira dia pergi ke asrama karena dia tidak ingin aku menjadi ibunya. Young sudah menjelaskan bahwa dia seperti itu karena dia ingin membuatku kerasan. Dan aku tidak menerima alasannya. Kenapa? Ya, karena egoku yang besar, karena rasa ketidaksukaanku kepada ibu kandungnya yang masih membekas di hatiku. Aku memang sudah memaafkannya, apalagi dia sudah meninggal dunia. Tapi wajah Luhan… wajah Luhan membuatku teringat kembali bagaimana ibunya merebut ayah Luhan waktu itu,”

“Jadi karena ego? Kenapa, ahjumma? Bukankah Luhan selama empat tahun ini sudah menunjukkan kepeduliannya kepadamu? Apa kau belum juga luluh? Apa yang harus Luhan lakukan agar dirimu mau menganggapnya sebagai anak? Apakah salah Luhan kalau wajahnya mirip dengan ibunya?” tanya Taeyeon dengan mimik sedih.

Nyonya Xi bangkit dari sofa dan ia menghampiri Taeyeon yang masih berdiri. Ia menghadap Taeyeon dan menggenggam telapak tangan kanannya.

“Aku tahu kau marah padaku. Young dan Jaejoong juga sudah beberapa kali merasa marah dan kesal padaku. Tapi, kau tidak akan tahu perasaan yang kurasakan begitu aku berhadapan dengan Luhan, Taeyeon-ah. Lebih baik begini, ‘kan? Luhan akan pergi ke China, jadi kami berdua juga tidak akan mengalami saat-saat menegangkan seperti biasa,” ujar Nyonya Xi sembari tersenyum kecil pada Taeyeon.

“Luhan tidak ingin pergi ke China, ahjumma. Alasan dia dikirim ke China adalah agar perasaannya tidak terbebani dengan rasa ketidaksukaanmu kepadanya. Asal ahjumm mau berdamai dengan Luhan, aku yakin ahjumma bisa menganggapnya sebagai anak. Hanya ahjumma yang bisa menghalangi kepergiannya,” mohon Taeyeon.

“Taeyeon-ah…” panggil Nyonya Xi.

“Aku percaya, ahjumma bukan orang yang pendendam. Aku percaya ahjumma orang yang sangat penyayang. Aku percaya ahjumma adalah sosok ibu yang penuh cinta dan kasih sayang. Aku percaya ahjumma adalah sosok ibu yang hebat. Aku percaya ahjumma tidak akan mencampakkan anaknya karena egonya yang besar. Aku percaya ahjumma menyayangi Luhan. Aku percaya, karena Luhan percaya,” isak Taeyeon. Matanya menatap perih mata Nyonya Xi. Nyonya Xi menatap Taeyeon dengan pandangan nanar.

Ia melototkan kedua matanya saat Taeyeon perlahan membungkukkan tubuhnya 90 derajat di hadapan Nyonya Xi.

“Bunga Agapanthus, bunga yang diberikan Luhan untukmu setiap hari ulang tahunmu. Aku baru tahu kalau artinya adalah ‘Bunga Cinta’. Dan dari bunga inilah dia tahu kau adalah sosok yang penuh cinta. Dan karena itulah dia mencintaimu,” ujar Taeyeon, dengan masih membungkukkan tubuhnya. Nyonya Xi dapat melihat setitik air mata Taeyeon jatuh ke karpet rumahnya. “Kumohon, ahjumma. Cintailah dia seperti makna bunga Agapanthus. Cintai dan terimalah dia seperti dia mencintaimu dan menganggapnya seperti ibu kandungnya,”

Hati Nyonya Xi mendadak seperti kena tamparan keras. Ia sakit melihat seseorang menangis di hadapannya dan ia seperti merasakan apa yang Luhan rasakan selama ini. Selama ia mengacuhkannya, selama ia tidak ingin menerima hadiah kecil Luhan yang Luhan berikan dengan segenap perasaannya. Ia memang tahu dia jahat. Tapi begitu air mata Taeyeon jatuh, ia seperti melihat air mata Luhan yang jatuh di hadapnya.

Nyonya Xi mengangkat kedua pundak Taeyeon dan wajah mereka saling berhadapan. Lalu, Nyonya Xi memeluk erat tubuh mungil Taeyeon. Taeyeon merasakan isakan kecil dari wanita yang dipeluknya ini.

“Gomawo, Taeyeon-ah,” ucap Nyonya Xi sambil mengelus-elus punggung Taeyeon. Taeyeon tersenyum kecil dan balas memeluk tubuh ibu tiri Luhan itu.

~~~

“Aigoo, kenapa bocah itu lama sekali?” erang YoonA sambil meregangkan otot-otot tubunya di atas tempat tidurnya.

Selama menunggu kembalinya Taeyeon dari pemakaman ayahnya, YoonA tidur dan membaca apa yang bisa dia baca di kamar asrama Taeyeon. Dan kali ini dia sudah benar-benar merasa bosan. YoonA bangkit dari tempat tidur Taeyeon dan membuka laci meja belajar Taeyeon, hendak mengambil majalah. Dan sudut matanya menangkap secarik kertas yang isinya adalah sebuah gambar.

YoonA mengambil kertas itu dan matanya membelalak dengan sempurna, seperti habis melihat sesuatu yang begitu mengejutkan batinnya.

“Ini, ‘kan… Bagaimana Taeyeon bisa punya gambar ini?”

~~~

“Kenapa? Wajahmu kusut sekali. Apa ada sesuatu yang mengganggu fikiranmu?” tanya Tuan Xi, saat dilihatnya wajah Luhan yang tampak seperti orang yang sangat tertekan.

Luhan mengalihkan tatapannya dari jendela mobil dan menatap ayahnya yang tengah fokus menyetir.

“Tidak ada apa-apa,” jawab Luhan sambil tersenyum kecil.

“Besok sore kau harus sudah ada di bandara, Lu. Akan kuusahakan surat kepindahan sekolahmu bisa keluar secepatnya. Dan setelah itu aku akan menyusul ke China dan mengurus semua keperluanmu di sana. Mungkin aku akan minta bantuan Young-ie. Dia akan izin dari sekolahnya selama beberapa hari,” sahut Tuan Xi.

“Tidak usah. Aku akan merasa tidak enak nanti saat Young ada di sana,” ujar Luhan.

Tuan Xi hanya menganggukkan kepalanya. Ia memutar setirnya ke kiri dan terlihatlah rumah mereka yang megah dengan halaman depannya yang luas. Tuan Xi memarkirkan mobilnya tepat di depan gerbang rumahnya. Begitu mesin mobil mati, Luhan langsung keluar dari mobil dan hendak masuk ke dalam halaman rumahnya.

Baru selangkah mendekati gerbang rumahnya, gerbang itu terbuka seketika dan keluarlah Young dan seorang perempuan yang amat sangat dirindukan Luhan saat ini. Perempuan yang bertubuh kecil mungil, dengan rambut cokelat tuanya yang ia gerai begitu saja. Perempuan yang memiliki arti tersendiri di dalam hidupnya.

Langkah Luhan langsung terhenti. Otot-otot di tubuhnya mendadak berhenti bekerja. Dan jantungnya memompa lebih cepat dari biasanya. Darahnya mengalir deras ke kepalanya, dan hatinya berdesir.

“Oppa,” panggil Young. Wajahnya juga sedikit terkejut melihat kedatangan Luhan.

Taeyeon yang mendengar Young memanggil seseorang dengan panggilan ‘oppa’, langsung menolehkan kepalanya ke arah Luhan. Taeyeon juga tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Ia menatap Luhan, dan tatapan Luhan juga jatuh ke mata Taeyeon. Mereka berdua saling menatap satu sama lain. Taeyeon menatap Luhan dengan pandangan sedih dan perasaan rindu yang mendalam. Sedangkan Luhan, Taeyeon sulit mengartikan makna dari tatapan itu.

Ketika Taeyeon hendak membuka suara, Luhan mengalihkan tatapannya ke Young.

“Aku pulang,” ujar Luhan.

Young tidak menjawab apa-apa. Dia malah menatap Taeyeon dengan pandangan merana. Taeyeon menundukkan wajahnya dan sedikit menyingkir dari gerbang rumah Luhan, agar Luhan bisa masuk ke dalam rumahnya.

Saat Taeyeon menyingkir, dengan gerakan cepat Luhan langsung masuk ke dalam pekarangan rumahnya tanpa ada sepatah kata pun lagi yang keluar dari mulutnya. Dan saat Luhan sudah masuk, Taeyeon tetap menundukkan wajahnya, berusaha menenangkan perasaannya. Berusaha menahan air matanya yang hendak jatuh.

“Eonni,” panggil Young. Ia merasa tidak enak dengan Taeyeon. Young menggenggam telapak tangan kanan Taeyeon erat-erat sambil menatapnya dengan tatapan sedih.

“Nan gwaenchannayo,” sahut Taeyeon. Ia tersenyum kecil memandang Young.

Di sisi lain, ketika Luhan tengah melangkah menuju pintu rumahnya, Jaejoong muncul dari dalam rumah sambil menggenggam kunci mobil. Luhan dan Jaejoong saling bertatapan.

“Ayah mana?” tanya Jaejoong. Ia mendekati Luhan.

“Kurasa masih di depan gerbang,” jawab Luhan. “Kau mau pergi mengantarkan Taeyeon pulang?”

“Ne. Ternyata kau bertemu dengannya. Biar aku tebak, kau tidak ada menyapa, ‘kan?”

Luhan diam tidak menjawab. Ia malah melewati Jaejoong untuk masuk ke dalam rumahnya.

“Jika ingin berpisah, berpisahlah baik-baik, Luhan-ah,” tegur Jaejoong. Ia balik badan, begitu juga dengan Luhan. Mereka kembali saling bertatapan.

“Kami sudah berpisah secara baik-baik. Aku yakin, tanpa aku keadaannya akan semakin bagus,” ujar Luhan. “Hyung,”

Jaejoong menatap Luhan dengan pandangan bertanya.

“Maukah kau berjanji untuk menjaganya?” tanya Luhan dengan pandangan memohon.

Jaejoong diam tidak menjawab. Ia malah menatap Luhan lama dengan tatapan yang sulit diartikan. Luhan juga ikut diam dan balik memandang Jaejoong, menunggu jawabannya.

“Ne, aku akan menjaganya. Aku berjanji,” jawab Jaejoong sambil menganggukkan kepalanya.

Luhan tersenyum manis dan ia kembali membalikkan tubuhnya, masuk ke dalam rumah. Jaejoong hanya menghembuskan nafas kecil dan setelah itu ia menyusul Taeyeon dan Young yang sudah dari tadi menunggunya di balik gerbang rumah.

“Kajja,” ajak Jaejoong sembari tersenyum lembut.

“Hati-hati oppa,” ujar Young.

Jaejoong hendak menjawab. Namun, kata-katanya terhenti saat Tuan Xi muncul dari belakang mereka.

“Abeoji,” panggil Jaejoong. Taeyeon menatap Tuan Xi dan membungkukkan tubuhnya, memberi hormat.

Tuan Xi tersenyum menatap Taeyeon dan ia mengalihkan tatapannya ke Jaejoong. “Kau mau pergi lagi?”

“Ne, aku akan mengantarkan Taeyeon pulang,” jawab Jaejoong.

“Arraseo. Jaga baik-baik gadis ini. Dia sudah dianggap kakak oleh Young. Bahkan kurasa dia lebih menyayangi Taeyeon daripada kau,” ujar Tuan Xi sambil tertawa pelan.

“Appa terlalu berlebihan. Aku sayang keduanya,” sahut Young. Ia mendekat pada ayahnya dan memeluk lengannya dengan manja. “Kajja masuk. Kau pasti lelah,”

Young melambaikan tangannya ke arah Taeyeon dan Jaejoong lalu masuk ke dalam pekarangan rumah bersama dengan Tuan Xi. Taeyeon menatap mereka berdua dengan pandangan kagum.

“Mereka begitu dekat walaupun Tuan Xi lebih lama tinggal di Korea. Aku jadi ingat saat aku bersama ayahku,” ujar Taeyeon.

Jaejoong mendekati Taeyeon dan menggenggam telapak tangannya. Taeyeon menatap Jaejoong sambil membulatkan matanya. “Kau sudah dianggap anak juga oleh ayahku. Karena Young juga sudah menyayangimu seperti kakaknya sendiri. Tidak perlu sungkan. Karena sebentar lagi kau juga akan masuk dalam keluarga besar Xi,”

Jaejoong melepaskan genggaman tangannya dari Taeyeon dan langsung melangkah menuju mobilnya, meninggalkan Taeyeon di belakang dengan ekspresi wajah bingung.

“Apa kau akan berdiri diam disitu sampai besok pagi?!” seru Jaejoong, yang sudah membuka pintu mobilnya.

“Cha… chakkaman, sunbae!” sahut Taeyeon dan ia berlari menyusul Jaejoong.

~~~

Luhan tersenyum kecil melihat keceriaan yang terpajang di wajah perempuan itu. Senyum dan tawanya sudah cukup membuat Luhan yakin bahwa gadis itu akan baik-baik saja tanpanya. Yang lebih penting adalah kakaknya akan menjaganya selalu.

Saat mobil Jaejoong hilang dari pandangan matanya, Luhan langsung menutup gorden jendela kamarnya dan ia balik badan. Ia menyandarkan bagian belakang tubuhnya pada dinding jendelanya dan ia merogoh saku celananya. Sebuah foto ukuran kecil yang menampilkan dirinya sedang tersenyum kearah kamera sambil mengalungkan lengannya di leher gadis mungil itu. Tangannya satu lagi membentuk ‘peace’, sedangkan gadis itu, Taeyeon, hanya tersenyum kecil. Saat itu adalah masa-masa terindah bagi Luhan, walau semuanya palsu. Setidaknya ia bisa merasakan arti cinta yang sesungguhnya.

Foto itu diambil oleh teman-temannya di taman belakang sekolah. Mereka sedang bermain basket dan Taeyeon menemani Luhan. Selesai bermain basket, mereka berenam berkumpul dan bercanda tawa di taman belakang sekolah. Itu adalah satu-satunya foto kenang-kenangan yang dimiliki Luhan.

“Mianhae,” gumam Luhan, sembari menundukkan wajahnya.

~~~

“Keberangkatan Luhan akan direncanakan besok sore pukul tiga. Aku tidak tahu, tapi apakah pada saat itu kau ada kelas?” tanya Jaejoong sesampainya mereka di sekolah.

Taeyeon diam. Entah apa yang di fikirkannya. “Sepertinya aku ada kelas,”

“Apa kau sudah mengucapkan selamat tinggal baik-baik kepada Luhan?” tanya Jaejoong.

Taeyeon menatap sendu ke arah Jaejoong. “Dan apakah itu berarti sunbae menyerah? Bukankah sunbae berjanji untuk menghentikannya?”

“Aku memang berjanji. Tapi Luhan juga berjanji akan segera kembali ke China. Semua sudah dipersiapkan, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Mianhae, aku kurang berusaha,” sahut Jaejoong dengan pandangan menyesal.

“Gwaenchannayo, sunbae. Jika memang itu yang diinginkan Luhan, apalagi yang bisa kulakukan? Aku hanya berharap dia bisa bahagia di sana. Aku sudah meminta ibumu untuk menganggapnya anak, dan beliau setuju untuk menyingkirkan egonya. Kemungkinan, ibumu akan menjaga Luhan dari jauh. Aku yakin, pilihannya terbang ke China memang pilihan yang tepat,” jawab Taeyeon. Matanya mulai berkaca-kaca, dan ia berharap agar air matanya tidak jatuh.

“Taeyeon-ah, tidak maukah kau menunggu Luhan? Dia pasti akan kembali ke Korea,” pinta Jaejoong. “Aku akan bilang pada Luhan kalau kau menunggunya,”

“Aniya, sunbae. Dia pasti tidak ingin aku menunggunya. Katakan saja padanya hati-hati dan selalu kaga kesehatannya,” jawab Taeyeon sembari tersenyum manis. Di dalam hatinya yang terdalam, Taeyeon takut untuk menunggu seseorang yang ia sayang.

Pernah, ia menunggu ayahnya pulang dari Rusia ke Korea, yang bekerja di sana sampai lima tahun. Namun, orang yang ditunggunya tidak pulang. Sampai ia mendengar kabar kalau ayahnya meninggal dunia karena serangan jantung. Yang ada di hadapannya saat itu adalah mayat ayahnya. Hatinya sudah cukup hancur saat itu untuk menunggu seseorang.

Jaejoong hanya diam dan ia membiarkan Taeyeon membuka pintu dan keluar dari mobilnya.

“Sunbae, terima kasih banyak untuk hari ini. Kau memang yang terbaik dari yang terbaik!” ujar Taeyeon. Ia melambaikan tangannya kepada Jaejoong.

Jaejoong menganggukkan kepalanya dan tersenyum lebar.

“Aku duluan, ne? Sampai besok,” pamit Jaejoong. Ia melambaikan tangannya sebentar kepada Taeyeon dan langsung memutar mobilnya menghadap gerbang sekolah. Saat mobil Jaejoong sudah keluar dari gerbang, Jaejoong membunyikan klakson mobilnya, tanda ia pamit sekali lagi kepada Taeyeon.

Taeyeon tersenyum kecil memandang kepergian Jaejoong. Setelah itu ia masuk ke dalam gedung asrama sekolahnya dan menuju kamarnya.

“YoonA-ah, apakah kau masih di dalam?” tanya Taeyeon begitu ia membuka pintu kamar asramanya.

Taeyeon tersenyum saat ia mendapati YoonA masih duduk nyaman di atas tempat tidurnya. Ia masuk ke dalam kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya yang nyaman.

“Otte? Apa semuanya berjalan lancar?” tanya YoonA, yang langsung menghadapkan wajahnya ke arah Taeyeon.

“Ibuku akan kembali sore ini,” jawab Taeyeon. Ia bangkit dari posisi tidurnya ke posisi duduk. “Ibu senang ada yang mengantarnya pergi,”

“Lalu, bagaimana dengan ibu Luhan?” tanya YoonA.

“Aku sangat senang ketika dia akan berusaha sekuat hati untuk menerima Luhan. Tapi ketika kuminta untuk menghentikan kepergian Luhan, dia merasa kemungkinannya tidak lebih dari tiga puluh persen. Kalau memang Luhan benar-benar akan pergi, setidaknya dia sudah ada yang memerhatikan, setidaknya ada yang memberinya kasih sayang. Aku cukup lega hanya dengan itu,” ungkap Taeyeon dengan setulus hati.

“Dan kali ini, kau benar-benar sudah menyerah? Kau akan melepaskan Luhan? Lalu bagaimana dengan perasaanmu? Perasaanmu sangat langka, Taeyeon-ah. Dan orang pertama adalah Luhan. Apakah kau tidak merasa itu akan jadi sia-sia jika kau menyerah?”

“Perasaanku ke Luhan, akan aku jadikan sebagai pengalaman. Perjalananku masih panjang, Yoong. Masih banyak laki-laki yang pasti bisa merobohkan tembok hatiku,” jawab Taeyeon.

“Mungkin masih banyak. Tapi kau tetap tidak akan melupakan sosok orang yang pertama kali menginjakkan kakinya di dalam hidupmu,” ujar YoonA sambil menunjuk-nunjuk dahi Taeyeon.

Taeyeon hanya diam, tidak menanggapi perkataan YoonA. Semakin dalam mereka membicarakan masalah Luhan, akan semakin tidak bisa dia melepaskan Luhan. Semuanya akan berat dia lalui jika orang-orang di sekitarnya masih membicarakan Luhan.

“Aku akan mengucapkan selamat jalan kepadanya untuk yang kedua kalinya besok, secara baik-baik. Dengan begitu, perasaanku padanya akan segera menghilang,” ujar Taeyeon. Ia tersenyum sendu sambil menundukkan wajahnya.

YoonA menatap Taeyeon dengan pandangan sedih. Ia juga ikut menundukkan wajahnya dan memainkan secarik kertas yang sedari tadi digenggamnya. Taeyeon memerhatikan kertas itu, yang isinya adalah sebuah gambar yang dikenali Taeyeon sebagai gambaran buatan Jaejoong.

“Bukankah itu milikku?” tanya Taeyeon pada YoonA, sambil menunjuk kertas itu.

YoonA melihat kertas itu juga dan memperlihatkannya kepada Taeyeon. “Ini? Kau yang menggambarkannya? Apa ini untuk hadiah ulang tahunku? Apa kau dari dulu mengenaliku dan mengagumiku sehingga kau bisa menggambar ini?”

“Mwo? Apa maksudmu?” tanya Taeyeon bingung.

“Kau yang menggambar ini, ‘kan? Di bawah guyuran hujan, mengejar kupu-kupu warna kuning, dan berdiri di depan box telepon. Ini aku. Aku masih ingat jelas, delapan tahun yang lalu, saat aku kabur dari rumah demi mendapatkan kupu-kupu yang cantik ini. Padahal waktu itu sedang hujan, tapi aku tetap nekat. Aku masih ingat, karena saat itu aku pertama kalinya kabur dan bermandikan hujan,” jelas YoonA dengan senyuman tipis di wajahnya. “Apa selama ini kau secret admirer-ku?”

Taeyeon menatap YoonA dengan pandangan sangat terkejut. Ia bahkan membulatkan matanya. “Apakah ini benar-benar dirimu? Kau tidak bohong?”

“Buat apa aku bohong? Gadis kecil yang kau gambar ini mirip denganku waktu kecil. Itu sebabnya aku tahu ini adalah aku. Tapi yang tidak kuketahui kau ternyata bisa menggambar secantik dan semirip ini, ya?”

“Paboya,” gumam Taeyeon, sambil masih menatap YoonA dengan pandangan terkejut.

“Wae?” tanya YoonA.

“Jeongmalyo? Apa ini memang benar-benar dirimu?” Taeyeon balik tanya, kembali memastikan.

“Wae, wae, wae? Kenapa kau jadi seperti seorang polisi yang menginterogasi pelaku? Untuk apa aku berbohong? Apakah ada manfaatnya?”

Bukannya menjawab pertanyaan YoonA, Taeyeon malah memukul kepala YoonA dengan kertas itu. “Ya! Seseorang telah menunggumu selama delapan tahun, apa kau tahu? Ternyata kalian sudah saling kenal tapi sama sekali dia tidak menyadarinya. Oh, astaga!”

“Apa yang kau bicarakan? Siapa yang telah menungguku selama delapan tahun?” tanya YoonA bingung.

“Omo, bagaimana aku menjelaskannya kepadamu? Aku tidak tahu secara pasti dan tidak tahu dari mana awalnya. Tapi yang pasti, ada seseorang yang mencintaimu pada pandangan pertama selama delapan tahun. Dia mencintaimu saat dia melihatmu di dalam box telepon. Dia berharap bisa bertemu lagi denganmu. Dan perasaannya masih hangat sampai sekarang. Dia tidak pernah putus asa dalam mencari cinta pertamanya. Dan dialah yang menggambar ini,” jelas Taeyeon dengan berapi-rapi.

“Jinjjayo? Kau mengenalnya, Taeyeon-ah? Kenapa dia sangat romantis sekali? Siapa dia, Taeyeon-ah?” tanya YoonA penasaran. Jantungnya berdebar kencang.

“Kau sangat mengenalnya, YoonA-ah,” bisik Taeyeon.

“Nugu?”

Taeyeon menatap YoonA dalam-dalam, mencoba menjelajahi fikiran YoonA. Sahabatnya ini memang tidak pernah berubah dari dulu. Selain cantik dari luar, ia juga cantik dari dalam. Itu sebabnya Taeyeon merasa sangat nyaman bersahabat dengannya. Terkadang YoonA rela melepaskan sesuatu yang disukainya karena Taeyeon juga menyukainya. Dan kadang, itu membuat Taeyeon membenci dirinya.

“Kim Jaejoong, YoonA-ah. Kim Jaejoong,” bisik Taeyeon. Ia tersenyum lembut pada YoonA, yang wajahnya seperti habis di siram air panas. Mulutnya menganga, dan tampaknya ia tidak akan pernah percaya pada Taeyeon.

“Kau bohong. Bagaimana Jaejoong sunbae…?”

“Kalian saling mencintai, Yoong-ah. Kalian juga sama-sama bodoh. Jaejoong sunbae tidak menyadarinya, dan kau merelakan perasaanmu karena aku dulu menyukainya, ‘kan? Mianhae, selama aku asyik membicarakan Jaejoong sunbae, aku tidak pernah memahami perasaanmu. Kau bahkan hampir membunuh perasaanmu. Mungkin itu sebabnya aku jatuh cinta pada Luhan. Karena dia yang mengajarkan arti cinta yang sesungguhnya. Mianhae, jeongmal. Kalau saja waktu bisa diputar, mungkin aku akan membunuh diriku yang selalu membicarakan Jaejoong sunbae,” ungkap Taeyeon dengan mata berkaca-kaca.

“Bagaimana kau bisa tahu? Kau sama sekali tidak salah, Taeyeon-ah. Tidak ada yang salah ketika kita mencintai seseorang. Karena cinta itu bisa tumbuh di mana saja dan kapan saja,” ujar YoonA dengan senyuman tulus di wajahnya yang cantik.

“Kita ini cukup lama bersahabat. Aku sangat mengenalmu. Aku tahu di mana saat-saat kau memandang Jaejoong sunbae dengan penuh cinta. Aku tidak cemburu, malah aku merasa bersalah padamu. Untuk menebusnya, aku akan membuat cinta kalian bersatu. Karena aku juga berjanji dalam hatiku untuk membantu Jaejoong sunbae mencari cinta pertamanya,” jelas Taeyeon. Ia menggenggam kedua telapak tangan YoonA.

YoonA tersenyum lembut kepada Taeyeon. “Gomawoyo, chingu,”.

~~~

“Apakah tidak ada yang ketinggalan? Semua sudah di dalam koper ini?” tanya Tuan Xi pada Luhan, yang baru saja turun dari kamarnya sambil membawa sebuah koper besar berwarna merah marun ke ruang keluarga.

Luhan hanya mengangguk sembari meletakkan kopernya di depan pintu rumah.

“Seharusnya kau tidak perlu memakai seragam sekolah. Kau hanya ke kantor Kepala Sekolah hari ini, ‘kan?” tanya Tuan Xi.

“Tidak apa-apa. Aku ingin masuk pelajaran pertama saja,” jawab Luhan.

Sebelum Tuan Xi menimpali jawaban Luhan, Nyonya Xi muncul dari dapur. Ia sedikit berdeham, membuat Tuan Xi dan Luhan melihat ke arahnya.

“Ayo, sarapan,” ajak Nyonya Xi. “Yeobo, pagi ini kau harus ke sekolah Young, ‘kan untuk minta izin beberapa hari ke China?”

“Bukankah Young-ie…”

“Dia memaksa untuk ikut. Katanya dia ingin memastikan kau baik-baik saja di China,” Tuan Xi menjawab pertanyaan Luhan yang belum terselesaikan.

Luhan hanya mengangguk. Lalu mereka bertiga pergi menuju dapur. Di meja makan, Jaejoong dan Young sudah ada di sana. Jaejoong sedang konsentrasi dengan ponselnya, sedangkan Young sedang membaca buku.

“Baiklah, sekarang kita bisa makan,” sahut Nyonya Xi. Ia menuangkan segelas susu putih segar untuk Tuan Xi dan Young, sekaligus menyiapkan pancake mereka berdua. Luhan hanya membuat roti untuk sarapannya. Ia tidak selera makan saat itu. Entah kenapa jantungnya berdebar-debar.

“Yeoboseo?” sapa Jaejoong dengan seseorang yang meneleponnya. “Jigeum? Apakah ada sesuatu yang mendesak, Taeyeon-ah?”

Mendengar nama Taeyeon disebut, Luhan menghentikan suapan rotinya dan menatap Jaejoong dengan pandangan bertanya-tanya. Untuk apa Taeyeon menelepon Jaejoong pagi-pagi? Sedangkan Nyonya Xi dan Young menatap ke arah Luhan.

“Arraseo, aku akan menemuimu sebelum bel masuk, ne? Annyeong,” tutup Jaejoong. Ia menyimpan ponselnya ke dalam saku dan makan pancake-nya dengan lahap.

“Ada apa?” tanya Nyonya Xi.

“Taeyeon membawa kabar yang menggembirakan sekaligus mendebarkan, eomeoni,” jawab Jaejoong sambil tersenyum lebar.

“Sepertinya ini masalah cinta,” goda Tuan Xi, membuat Jaejoong semakin melebarkan senyumannya.

Luhan menatap Jaejoong dengan pandangan cemburu. Dia tahu seharusnya dia tidak cemburu. Seharusnya dia senang Jaejoong hyung bisa dekat dengan Taeyeon. Dan seharusnya dia melupakan Taeyeon. Luhan hanya menghembuskan nafasnya, sedikit kesal.

Setelah selesai sarapan, Jaejoong langsung meluncur ke sekolah. Sedangkan Tuan Xi dan Young berangkat bersama ke sekolah Young. Dan Luhan baru akan bersiap-siap untuk berangkat. Ia tengah memakai sepatu sekolahnya di ruang keluarga ketika dilihatnya Nyonya Xi datang mendekatinya.

“Eomma,” panggil Luhan. Ia bangkit dari sofa dan menghadap ibunya. Ini pertama kali ibu tirinya datang menemuinya.

“Kau cemburu?” tanya Nyonya Xi.

“Ne?” Luhan balik tanya, tidak mengerti.

“Kau cemburu kakakmu dekat dengan orang yang kau cintai, orang yang kau rindukan?” tanya Nyonya Xi lagi.

Luhan sedikit terkesiap mendengar pertanyaan ibunya. Dia hanya bisa diam, tidak tahu harus menjawab apa.

“Aku…”

“Jangan dijawab jika jawabanmu mengandung unsur kebohongan. Aku tahu kau cemburu. Aku tahu perasaanmu saat ini. Aku tahu bagaimana rasanya jika harus melepaskan orang yang dicintai. Aku tahu. Aku tahu kau ingin marah, tapi tidak bisa. Aku tahu karena aku pernah mengalaminya. Dan karena aku pernah mengalaminya, aku hanya bisa menyarankanmu satu hal,” ujar Nyonya Xi.

Luhan menatap ibunya tanpa berkata apa-apa. Dia terlalu shock karena ibunya yang mau bicara dengannya dan bahkan mau memberinya saran.

“Jika kau mencintainya, maka kaulah yang harus menjaganya, bukan orang lain. Jika kau benar-benar mencintainya, lakukan apapun itu asal kau tetap di sampingnya,” ucap Nyonya Xi.

Luhan menatap ibunya dengan hati yang remuk redam. Ia ingin menangis, ingin memeluk ibunya. Tapi Nyonya Xi sudah balik badan dan pergi. Ia senang dan sedih di saat yang bersamaan. Ibunya ingin ia tetap di Korea, tetap di samping Taeyeon, dan itu membuatnya bahagia. Ibunya perlahan-lahan sudah mulai membuka hatinya. Dan yang membuatnya hancur adalah bisakan ia tetap tinggal, sedangkan semuanya sudah diatur oleh ayahnya. Luhan takut, ibunya itu akan dingin kembali sepulangnya dia dari China.

“Eomma, eotteohke?” lirih Luhan.

~~~

“Kau meneleponku pagi-pagi benar-benar membuatku terkejut,” ungkap Jaejoong di taman sekolah kepada Taeyeon.

Taeyeon hanya tersenyum lebar. Ia sedikit merasa bersalah. “Ini mengenai cinta pertamamu, sunbae. Aku berjanji akan mempertemukan kalian dan ini adalah waktu yang tepat. Aku tidak ingin sunbae memendam rindu yang sangat dalam kepadanya,”

“Dan itulah yang membuatku semakin terkejut. Apakah kau benar-benar sudah bertemu dengannya? Bagaimana ceritanya? Kenapa kau bisa bertemu dengannya?” tanya Jaejoong bertubi-tubi.

“Woah, sunbae. Baru kali ini aku melihatmu seantusias ini. Kau benar-benar sangat jatuh cinta kepadanya, ya? Padahal waktu itu kalian masih kecil,” ujar Taeyeon sambil tertawa kecil.

Jaejoong juga ikut tertawa.

“Kami saling mengenal satu sama lain, sunbae. Kami sangat dekat. Sunbae juga tidak akan menyangka, karena kalian saling kenal juga,” kata Taeyeon, membuat Jaejoong sedikit terkejut.

“Jinjja? Taeyeon-ah, kau semakin membuatku penasaran. Kapan aku bisa bertemu dengannya? Aku ingin memastikan sendiri. Aku ingin bertemu dengannya,” pinta Jaejoong.

“Baiklah. Aku akan membawanya kesini. Tunggu sebentar, sunbae!” ujar Taeyeon dan ia langsung menghilang dari hadapan Jaejoong, pergi entah kemana. Sedangkan Jaejoong hanya bisa menunggu dengan jantung yang berdebar-debar kencang.

Ini baru pertama kalinya seorang Kim Jaejoong merasakan perasaan seperti ini. Perasaan ini sudah lama ingin dia rasakan, seperti kebanyakan orang-orang. Tapi hatinya tidak mau. Hatinya tidak mau berpaling dari masa lalu. Dia selalu bertekad bahwa cinta pertamanya akan segera ia temukan. Ia akan tetap mencintainya dari jauh.

Sedangkan Taeyeon, saat ia meninggalkan Jaejoong di taman sekolah, Taeyeon langsung pergi ke depan asrama, di mana YoonA sedang menunggunya dengan hati gelisah. Jantungnya berdebar keras, hingga ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia juga kehilangan konsentrasinya. YoonA seperti orang linglung, yang seakan-akan hilang ingatan.

“Yoong!” panggil Taeyeon.

YoonA menoleh. Ia sedikit terlonjak saat mendengar suara Taeyeon.

“Pergilah, ia sudah menunggumu. Katakan yang sebenarnya kepadanya. Ceritakan padanya kalau kau adalah gadis kupu-kupu itu. Ppali!” seru Taeyeon.

“Taeyeon-ah, aku takut. Aku benar-benar tidak akan sanggup berdiri jika berhadapan dengannya. Apalagi menerima kenyataan bahwa dia juga mencintaiku, bahkan dari dulu. Aku takut kakiku akan meleleh di tempat,” ujar YoonA dengan raut wajah sangat cemas.

Taeyeon menggenggam kedua telapak tangan YoonA sambil tersenyum lembut. “Yoong, pergilah. Aku tahu kau bisa bertahan. Dia adalah orang yang kau cintai, dan kau adalah orang yang di tunggunya selama delapan tahun. Cinta kalian kuat, dan aku yakin dengan cinta itu kau bisa berpegangan agar kakimu tidak meleleh. Sekarang pergilah. Selama delapan tahun dia menunggumu. Jangan sampai kau membuatnya lelah menunggu,”

YoonA menghela nafas panjang. Ia tersenyum manis memandang Taeyeon dan memeluknya erat. “Gomawoyo. Aku pergi dulu,”

Fighting!” seru Taeyeon sambil melambaikan tangannya kepada YoonA. YoonA balas melambai.

Begitu YoonA pergi, Taeyeon segera melangkahkan kakinya menuju kelas. Sesampainya di depan pintu kelas, Taeyeon mengurungkan niatnya. Ia punya perasaan tidak enak untuk masuk ke dalam kelas. Alhasil, ia balik badan dan berniat pergi entah ke mana. Langkahnya terhenti begitu ia melihat Minseok di hadapannya.

“Annyeong,” sapa Taeyeon pelan.

“Kenapa kau tidak masuk ke dalam kelas?” tanya Minseok.

Taeyeon memandang Minseok dan ia langsung tersenyum. “Aku ada perlu ke tempat lain,”

“Apa karena ada Luhan?” tanya Minseok langsung.

Taeyeon diam. Ia bahkan tidak berani memandang Minseok.

“Kalian belum saling mengucapkan selamat tinggal, ya? Kami semua sudah dengar dari Jaejoong hyung kalau Luhan sudah benar-benar akan pergi ke China. Mau buat apa lagi, ‘kan? Yang bisa kami lakukan hanyalah melepasnya pegi, berharap setelah ini hidupnya akan bahagia. Dan setelah dia pulang ke Korea, kami bisa lihat kesuksesannya, dia juga bisa lihat kesuksesan kami,” ujar Minseok. “Dan… bagaimana denganmu? Hari ini adalah hari terakhirnya,”

“Aku sudah mengatakannya. Di malam saat kalian tahu semuanya. Aku sudah mengucapkannya,” ungkap Taeyeon.

“Hanya itu saja? Lalu bagaimana dengan perasaanmu? Bagaimana dengan perasaannya? Kau sudah tahu dia mencintaimu. Kau hanya tinggal bilang bahwa kau menunggunya. Dan ketika dia pergi, tidak akan ada lagi rasa penyesalan di hati kalian,” ucap Minseok.

“Aku takut dia tidak akan kembali. Aku takut aku hanya menunggu sia-sia. Sama seperti aku menunggu kedatangan mendiang ayahku dulu. Aku hanya takut,” jawab Taeyeon. Ia menitikkan air matanya sambil menatap Minseok.

Minseok terdiam. Sampai akhirnya sebuah suara memecahkan keheningan di antara mereka.

“Kenapa kau masih di lu…”

Taeyeon dan Minseok menoleh ke asal suara. Taeyeon membulatkan matanya dan ia cepat-cepat menghapus air matanya. Luhan tertegun menatap Taeyeon

“Aku duluan,” sahut Taeyeon pelan. Ia menundukkan wajahnya dan, tanpa menoleh lagi ke arah Luhan ataupun Minseok, ia masuk ke dalam kelas.

“Bukannya dia mau ke tempat lain tadi?” tanya Minseok.

Luhan diam tidak menjawab. Ia hanya bisa memandang Taeyeon dari luar kelas. Gadis yang dicintainya itu sedang mengobrol dengan beberapa orang temannya sambil tertawa. Walaupun begitu, Luhan masih bisa melihat sendu di wajahnya.

“Hari ini, untuk yang terakhir, cobalah ucapkan selamat tinggal,”

“Arra. Kalau begitu, aku pergi dulu, ya. Aku mau ke kantor Kepala Sekolah,” ujar Luhan. Ia menepuk pundak Minseok.

~~~

“Taeng-ah,” panggil YoonA. Taeyeon menoleh ke YoonA, yang tersenyum memandangnya.

YoonA duduk di samping Taeyeon, dan ia meletakkan tas Luhan di atas meja belajarnya.

“Otte?” tanya Taeyeon, penasaran.

“Yah, ternyata benar gadis itu adalah aku. Aku menunjukkan fotoku waktu kecil dan dia tanya “Apakah ini benar-benar kau? Gadis kecil yang kutemui delapan tahun yang lalu, di depan box telepon?”. Dan aku menjelaskan semuanya. Dia juga bilang kalau aku ini adalah seseorang yang dia tunggu, cinta pertamanya. Tapi aku tidak bilang kalau dia sebenarnya adalah orang yang aku suka,” jelas YoonA. Wajahnya bersemu merah.

“Benar-benar sangat melegakan,” ujar Taeyeon sambil tersenyum senang. “Lalu, ending-nya?”

“Untuk saat ini kami ingin saling mengenal satu sama lain dulu. Dia memang bilang perasaannya belum berubah sampai saat ini. Tapi aku tidak akan mengatakan suka juga padanya sebelum dia menyatakan perasaannya secara resmi. Kami tidak mengobrol banyak. Aku lebih banyak bertanya soal kepergian Luhan,” jelas YoonA. Raut wajahnya kini berubah sendu.

“Buat apa kau bertanya hal itu? Ini adalah hari bahagiamu,”

“Bagaimana bisa aku tersenyum bahagia saat sahabatku bahkan untuk sekedar tersenyum saja tidak sanggup lagi? Aku akan bahagia, saat kau bahagia. Sedih di saat kau juga merasakan sedih. Di fikiranku ini dipenuhi olehmu. Kenapa kau tidak mencoba untuk menutup masa lalumu dan membuka kembali hatimu untuk menunggu Luhan?”

“Yoong, kau tahu jawabannya,” jawab Taeyeon pelan.

“Ne, aku tahu jawabannya. Dan aku memintamu untuk membuka lebar-lebar jalan fikiranmu. Bagaimana bisa aku punya teman yang bodoh sepertimu? Kalian saling mencintai, jangan membebani perasaan dan fikiran Luhan ketika dia akan pergi dari Korea. Jangan sampai menyesal, Taeng. Jangan sampai penyesalanmu itu menghantuimu selamanya. Aku tahu Luhan orang yang seperti apa. Dan aku yakin sekali dia tidak akan membuatmu menunggu secara sia-sia,” bujuk YoonA. Ia menggenggam kedua telapak tangan Taeyeon erat-erat.

Taeyeon menatap YoonA dengan perasaan bimbang, bingung, dan gelisah. Ia mencoba bertanya pada dirinya sendiri dan berusaha langsung menemukan jawabannya. Ya, ia takut menyesal. Bahkan, sebenarnya ia sudah menyesal. Kenapa orang yang sudah jatuh terlalu dalam di hatinya adalah Luhan?

Baik Taeyeon dan YoonA, mereka berdua tidak tahu kalau Sehun, Jongin, Chanyeol, dan Minseok mendengarkan omongan mereka berdua.

“Kenapa jalan cinta Luhan hyung begitu rumit?” bisik Sehun.

“Kemana Luhan?” tanya Chanyeol.

“Sedang menemui Kepala Sekolah,” jawab Minseok pendek, dan ia langsung duduk di tempat duduknya begitu Jung seonsaengnim masuk ke dalam kelas mereka.

“Yoong, tetaplah di sini,” pinta Taeyeon lirih.

“Lalu, bagaimana dengan Luhan?” tanya YoonA.

“Dia pasti akan mengerti, ‘kan?” Taeyeon balik tanya.

YoonA menatap Taeyeon sebentar dan ia akhirnya menganggukkan kepalanya. Ia duduk dengan nyamannya di bangku Luhan sambil mendengarkan penjelasan dari guru mereka.

Sampai akhir pelajaran kedua, pun batang hidung Luhan masih tak tampak, membuat Taeyeon tidak bisa konsentrasi penuh dengan pelajaran yang sedang berlangsung.

“Taeyeon-ah, bisa bantu ibu bawakan buku-buku ini?” pinta Song seonsaengnim sambil menunjuk kumpulan buku-buku yang lumayan banyak di meja guru.

Taeyeon menganggukkan kepalanya dan ia menghampiri meja guru sembari mengangkat sebagian buku-buku itu. Lalu, kakinya melangkah ke luar kelas mengikuti Song seonsaengnim, yang kemungkinan akan menuju ke ruang guru.

Sebelum sampai di ruangan guru, Taeyeon dan Song seonsaengnim melewati kantor Kepala Sekolah. Taeyeon sedikit melirik ke arah kaca jendelanya dan ekor matanya dapat melihat Luhan sedang berbincang serius dengan Kepala Sekolah. Ingin rasanya Taeyeon bisa mendengar pembicaraan mereka. Ia ingin tahu, tapi terlalu takut untuk mengetahuinya.

“Apa kau sudah menghitung semua jumlah bukunya?” tanya Song seonsaengnim, saat mereka berdua sudah berada di dalam ruang guru dan Taeyeon tengah menghitung buku-buku itu.

“Ne, seonsaengnim,” jawab Taeyeon.

Gomawo, Taeyeon-ah,” ujar Song seonsaengnim, saat Taeyeon meletakkan buku-buku itu di atas mejanya.

Taeyeon menganggukkan kepalanya dan hendak keluar dari kantor. Tapi Song seonsaengnim memanggilnya.

“Luhan pacarmu, ‘kan?” tanya Song seonsaengnim langsung.

Taeyeon hanya bisa membelalakkan matanya. Ia memang sudah tidak heran lagi kalau pemberitaan dirinya dengan Luhan sudah menyebar ke seantaro sekolah.

“Kau bisa izin keluar sekolah untuk mengantarnya ke bandara. Aku akan membuat izinmu. Jika kau tidak ikut mengantarnya, kau akan menyesal. Pasti ada kata-kata yang ingin kau sampaikan. Yaah, setidaknya aku tahu bagaimana perasaanmu. Aku pernah mengalaminya. Dan aku menyesal waktu itu tidak mengucapkan kata-kata di detik-detik keberangkatannya, yang menyebabkan aku menyesal. Aku tidak ingin kau mengalaminya, itu sebabnya aku memberimu izin,” ujar Song seonsaengnim sembari tersenyum lembut.

Ia mengeluarkan buku perizinan dan menuliskan nama Taeyeon di dalam buku itu.

“Aku akan memberikannya kepada wali kelasmu,” katanya lagi.

“Seonsaengnim,” panggil Taeyeon dengan suara lirih. “Gomawo,”

Song seonsaengnim menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis. Setelah itu, Taeyeon membungkukkan badannya dan keluar dari ruangannya. Ia jalan dengan perlahan-lahan menuju kelasnya sambil sibuk berfikir. Entah apa yang sedang di fikirkannya. Namun, tampaknya batin serta perasaannya sedang bertarung.

Hingga akhirnya ia menghadap ke jendela koridor sekolahnya. Ia dapat melihat seluruh pemandangan di sekeliling sekolahnya serta bangunan-bangunan tinggi, karena ia ada di lantai empat. Tidak sengaja bola matanya mengarah ke bawah, dan ia dapat sosok laki-laki dari belakang tubuhnya sedang melangkahkan kakinya menuju gerbang sekolah. Taeyeon melihat tas di punggungnya. Dan ia tanda belakang tubuh, serta tas siapa itu.

“Luhan,” lirihnya kecil.

~~~

“Eomma, ayo kita segera ke bandara. Luhan oppa mungkin sedang dalam perjalanan menuju bandara,” ajak Young pada ibunya, yang tengah memandang jauh ke luar jendela.

“Ne, kau masuk duluan saja ke dalam mobil,” sahut Nyonya Xi tanpa melepaskan pandangannya.

Young hanya mengangguk dan menuruti perintah ibunya.

Nyonya Xi memandang langit biru yang cerah. Ia menghembuskan nafasnya dengan berat. Kelihatan sekali beban fikirannya yang bertumpuk. Sudah berapa kali hari ini dia menghela nafas dengan berat.

“Luhan eomma,” bisik Nyonya Xi, setelah beberapa menit dirinya hanya terdiam membisu di depan kaca jendela. “Perasaan seperti inikah ketika kau tidak rela meninggalkan anakmu?”

Dan setitik air mata jatuh mengalir membasahi pipinya.

~~~

Luhan membalikkan tubuhnya, menatap bangunan sekolahnya yang megah. Ia menatap sekolah itu lama untuk menyimpannya dalam memorinya. Banyak kenangan pahit maupun manis yang dia dapat dari sekolah itu. Mulai dari teman-temannya yang setia, sampai ia jatuh pada seorang gadis yang tidak menyukainya sama sekali.

Luhan kembali melangkahkan kakinya hendak menuju halte bus. Dia harus segera berangkat sekarang. Pesawatnya akan take-off dua jam lagi. Dan dia harus ada di bandara sejam sebelum keberangkatan. Kemungkinan ayah dan ibunya juga sudah menunggu di bandara. Ia juga tidak ingin berlama-lama di sini. Semakin lama semakin sulit meninggalkan sekolah itu.

Untung saja gadis itu tidak ada di kelas saat ia mengucapkan selama tinggal kepada teman-temannya. Walaupun Taeyeon tidak akan mengucapkan apa-apa, tapi melihat wajahnya saja membuat hatinya sulit menggerakkan kakinya untuk pergi. Walaupun ia ingin melihat wajahnya sekali lagi, hanya sekali saja, tapi bagi Luhan, hatinya tidak akan begitu sakit.

Ia akan mengabari Taeyeon lewat pesan singkat saja. Setidaknya dia ingin kembali membangun hubungan yang baik dengan Taeyeon.

Sebentar lagi dia akan sampai di halte bus. Bus mana saja akan mengantarkannya ke bandara. Alasannya ke bandara naik bus adalah karena Taeyeon suka sekali naik bus. Dia ingin merasakan kehadiran gadis itu dengan naik bus.

Sebelum dirinya sampai ke halte bus, Luhan segera merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya. Dia mencari nama ‘Kim Taeyeon’ dan segera mengetikkan sebuah pesan.

“Luhan!” panggil seseorang di belakang Luhan.

DEG!

Ya Tuhan, suara itu. Jantung Luhan berdebar keras. Ia sangat berharap yang memanggil namanya bukan suara milik gadis yang sangat dicintainya. Dalam hati kecilnya, ia berdoa itu hanya khayalannya saja.

Perlahan Luhan membalikkan tubuhnya dan benar saja. Gadis itu, Kim Taeyeon, tepat berada di hadapannya. Ia terengah-engah dan sedang mengatur nafas. Wajahnya merah, antara kehabisan nafas dan menahan tangis. Luhan tak tahu. Yang ia rasakan saat ini adalah mendekap tubuh mungil gadis itu.

“Apa kau tidak ingat perkataanmu saat kau memintaku menjadi pacar pura-puramu?” tanya Taeyeon.

Luhan hanya diam, menunggu Taeyeon melanjutkan perkataannya.

“Bukankah kau bilang, aku bisa memanfaatkanmu sesukaku untuk mendapatkan Jaejoong sunbae? Bukankah kau rela dimanfaatkan agar aku bisa memiliki orang yang aku suka? Kau ingat semua perkataanmu?” tanya Taeyeon lagi. Matanya mulai berair.

Luhan menatap Taeyeon dalam-dalam. Dia takut Taeyeon menangis. Dia tidak ingin membuatnya menangis lagi.

“Dan kau pergi begitu saja, mengatakan kepura-puraan kita berakhir dengan alasan sebentar lagi aku akan mendapatkan orang yang aku suka. Tapi kau salah. Kau mengingkari janjimu. Aku belum memanfaatkanmu dan kau langsung menyudahinya tanpa merundingkannya terlebih dulu. Aku tahu, kau memintaku menjadi pacar pura-puramu karena kau ingin meluluhkan hatiku. Aku tahu alasanmu kemarin bohong. Dan kau semakin membuatku kesal karena dari awal kau selalu salah,” ungkap Taeyeon. Dia menitikkan air matanya begitu saja, tanpa diperintahkannya. Perkataannya itu merupakan beban yang selama ini ia tanam di hatinya.

“Dan aku tahu semuanya, aku minta maaf. Mianhae, jeongmal. Aku memang terlalu jahat. Bahkan untuk menjadi pacar pura-puramu. Tapi… aku salah? Apa maksudmu aku ingkar janji? Kau dan Jaejoong hyung sebentar lagi akan menjadi pasangan bahagia, dan bisa dibilang kau sudah memanfaatkanku. Di mana letak kesalahanku?” tanya Luhan datar. Dalam hatinya, dia berteriak menyuruh Taeyeon berhenti menangis.

“Babo namja,” isak Taeyeon. “Kau bilang pada teman-temanmu kalau kau belum berhasil meluluhkan hatiku. Darimana kau mengetahuinya? Apakah kau sudah tanya aku? Apa kau sudah membaca hatiku? Kenapa kau begitu bodoh? Kenapa aku bisa jatuh cinta pada laki-laki sepertimu?!”

Luhan tersentak kaget. Ia diam tidak berkutik. Kata-kata yang ingin dilontarkannya menghilang entah kemana. Ia memang merasa mati kutu, tapi jauh di dalam hatinya, desiran hebat yang menyejukkan menyapa relung hatinya.

“Mwo?” hanya itu kata-kata yang bisa Luhan ucapkan.

“Aku merasa tidak akan pernah menyukaimu. Tapi entah kenapa keadaannya malah berbalik. Kau membuatku lupa akan Jaejoong sunbae, mengajariku hal-hal yang baru, dan kadang membuatku terpesona. Perlahan-lahan kau jatuh di dalam hatiku, membuatku membenci diriku sendiri. Dan aku ingin memanfaatkanmu selamanya. Aku ingin dirimu di sisiku,”

Perkataan terakhir Taeyeon membuat Luhan menggerakkan kakinya untuk melangkah mendekatinya. Dengan segera Luhan menarik tubuh Taeyeon dan membawanya ke dalam pelukannya erat-erat. Taeyeon membalas pelukannya dan menangis terisak-isak dalam pelukan Luhan. Luhan membenamkan kepalanya ke dalam leher Taeyeon sambil membelai rambut lembut gadis itu. Pelukannya sangat erat, seakan-akan ia takut gadis itu hilang entah kemana.

“Saranghae. Jinjja-jinjja saranghaeyo. Nan jeongmal saranghaeyo,” bisik Luhan.

Taeyeon menganggukkan kepalanya sambil tetap menangis. Ia lega, apa yang selama ini ia sembunyikan akhirnya bisa dia utarakan.

“Mian, karena selama ini aku membohongimu. Mian, karena aku salah,” ungkap Luhan lagi.

Taeyeon melepaskan pelukan Luhan dan menatap Luhan dengan pandangan berbinar-binar. Air matanya tak kunjung berhenti. Luhan menghapus air mata Taeyeon dengan kedua ibu jarinya. Ia menatap wajah cantik itu dalam-dalam.

“Lu…”

“Kau mau menunggu, ‘kan? Tunggu aku, ya? Kau harus benar-benar menungguku,” pinta Luhan dengan wajah memelas.

“Dan apakah kau mau berjanji kau akan benar-benar datang padaku? Kau tidak akan membuatku menunggu lama, ‘kan?” Taeyeon balik bertanya.

“Tunggu aku empat tahun, arra? Aku akan benar-benar mendatangimu dan memintamu menjadi pendamping hidupku. Aku benar-benar berjanji, bahkan aku akan menerobos jendela kamarmu, agar kau tidak menunggu terlalu lama,”

Taeyeon tertawa kecil. Ia menatap mata rusa milik Luhan yang sangat indah itu. Tidak ada kata bualan dalam matanya. Semuanya tulus, murni dari dalam hatinya. Lagi, Taeyeon meneteskan air matanya. Hatinya kini telah terketuk. Ia membiarkan janji Luhan hidup dalam hatinya.

Luhan menggenggam kedua telapak tangan Taeyeon. “Kau mau ikut ke bandara, ‘kan?”

~~~

“Semua sudah siap, ‘kan? Tidak ada yang ketinggalan lagi, ‘kan?” tanya Tuan Xi, begitu Luhan sudah keluar dari kamar mandi saat ia mengganti bajunya.

Tuan dan Nyonya Xi, Taeyeon serta Young menunggu Luhan berganti pakaian. Tuan Xi awalnya sempat terkejut melihat Taeyeon ada di samping Luhan ketika mereka menunggu Tuan Xi datang. Sedangkan Nyonya Xi dan Young sudah tahu mereka akan kembali bersama. Young sangat senang melihatnya.

“Baiklah, sebelum kau masuk, mungkin ada baiknya kau pamit dulu, Lu,” ujar Tuan Xi sambil melirik Taeyeon.

Luhan menatap Taeyeon dengan penuh cinta. Ia membelai rambut Taeyeon dengan sayang. “Aku akan kembali. Tunggu aku, jaga kesehatanmu dan jangan melirik yang lain selain aku. Akan akan rajin menghubungimu. Aku akan mengecek setiap keadaanmu dan jika kau ketahuan berbohong, kau dapat masalah besar,”

“Jinjja?” ejek Taeyeon. “Kau juga. Jangan pernah lupakan janjimu. Aku akan menunggumu. Aku janji aku akan tunggu,”

“Aku pasti akan sangat merindukanmu,” ujar Luhan. Ia tersenyum lembut memandang wajah kekasihnya tersebut.

Setelah Taeyeon, ia berpaling ke ibunya. “Eomma, aku pergi. Jaga diri eomma baik-baik. Aku akan meminta hal tersebut pada Jaejoong hyung dan Young. Aku tidak ingin dengar kau sakit atau apa. Sampai bertemu lagi, eomma,”

Nyonya Xi tidak berkata apa-apa. Ia bahkan tidak menatap mata Luhan. Tatapannya hanya lurus ke depan. Taeyeon tidak tahu kenapa reaksi Nyonya Xi seperti itu. Bukankah Nyonya Xi berjanji akan bersikap lebih baik?

Dan saat Luhan akan pergi, Nyonya Xi meneteskan air matanya.

“Luhan,” panggil Nyonya Xi.

Luhan membalikkan tubuhnya dan ia kaget melihat ibunya menangis. “Eomma?”

“Eomma, wae?” tanya Young kaget.

“Yeobo, tolong jangan pisahkan kami, kumohon. Kali ini, aku tidak ingin berjauhan dari anakku. Mianhae, mianhae. Aku sendiri yang akan melihatmu sukses, Lu. Harus aku yang melihat perkembanganmu, karena kau anakku. Yeobo, kau akan menyusul ke China lusa, ‘kan? Aku akan ikut. Aku akan tinggal di China sampai Luhan kembali ke Korea. Aku ingin ikut denganmu,” pinta Nyonya Xi sambil menangis.

Taeyeon mendekap mulutnya, menangis terharu. Young juga menangis terisak. Tuan Xi tersenyum lega. Luhan melepas genggaman kopernya dan ia langsung memeluk ibu tirinya itu.

“Eomma,” panggil Luhan sambil menangis.

“Ne, aku ibumu. Dari awal menikah dengan ayahmu, aku sudah menganggapmu sebagai anakku. Aku ibumu. Dan seterusnya akan begitu. Kau adalah bayi rusaku,” ujar Nyonya Xi sambil membelai kepala anaknya dengan sayang.

Pelukan seorang ibu. Pelukan yang Luhan impikan selama empat tahun ini. Pelukan yang amat Luhan rindukan. Dipeluk dengan penuh rasa sayang seperti ini, membuat Luhan kembali merasakan indahnya masa kecilnya.

Young mendekat ke arah Taeyeon dan ia memeluk lengan kiri Taeyeon sambil menangis. Taeyeon tersenyum lembut pada Young dan mengelus-elus rambut Young dengan sayang.

“Luhan oppa, kali ini hidupnya akan sangat bahagia dari sebelumnya. Kau tidak perlu khawatir, Luhan oppa sudah benar-benar bisa menjadi dirinya sendiri,” ujar Taeyeon sambil mengelus kepala Young.

Dan dengan begini, ia akan jauh lebih tenang menunggu Luhan kembali.

-The End-

Yihaaaaa!!!!

Fiuuuhhh~ selesaaii niiihh akhirnya utang author yang cantik ini terbayar kekekekek~

Walaupun ending-nya ngga tau bagus atau engga, yaaa enjoy aja deeee hehehe.

Sebenernya ngga mau pake PW, tapi kan dari sini author kenal readers author yang baik hati itu siapa-siapa ajaaaa hehehehe^^

Okedee itu aja cuap-cuapnya hahaha see you next time –chu-

Ohya, komenan kalian walaupun ngga aku balas, tapi aku baca dan itu jadi cambuk buat aku^^

Thankyousomucchhhh♥♥

Advertisements

104 comments on “Ma Boy~ (Chapter 10 (END))

  1. Nangis bombay thor! 😭
    Akhirnya ibu tiri luhan terketuk hatinya… dari awal smpe akhir chapter air mata gak pernah absen jatuhnya thor :”)
    Izin baca sequelnya ya thor, bagus banget ceritanya. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s