Mistake (Chapter: 5)

MISTAKE

Title
Mistake (Chapter 5)
Author
DeliaAnisa
Genre
School-life, romance, and friendship
Length
Multichapter
Rating
PG-15
Main Cast
Kim Taeyeon, Xiou Luhan, Oh Sehun, And Kwon Yuri
Disclaimer
FF ini murni dan asli hasil dari imajinasi saya, bila ada kesamaan tentunya itu tanpa disengaja. Cast yang saya pakai bukan milik saya, hanya Ortu mereka dan Tuhan YME, saya hanya meminjam untuk berkarya dan berniat membuat reader merasa terhibur akan ff saya. And please, don’t plagiat.

Happy reading and enjoy ^^
.
.
.
Sehun berjalan dikoridor rumah sakit. Ia melirik jam tangannya, arah jarum pendeknya tepat menunjuk angka 5. Pantas saja langit sudah mulai gelap. Ia melewati dua hari untuk bekerja demi menjaga gadis yang saat ini masih berada dikamar rawat. beberapa menit yang lalu dokter mengatakan kondisi gadis yang ia kenal bernama taeyeon melalui kartu identitasnya telah melewati masa kritisnya. Perkembangan kesehatan dari gadis itu sudah jauh lebih baik dari 2 hari terakhir. Kini hanya tinggal melewati masa proses penyembuhan dan dokter kim yang menangani taeyeon telah mengijinkan taeyeon pulang.
Sehun datang kerumah sakit setelah ia pergi kemini market membeli beberapa buah untuk korban yang telah ia tabrak 2 hari yang lalu. ia menenteng keranjang buah dan berdiri didepan pintu dengan tag nomer ‘209’. Dengan satu kali tarikan napas, sehun membuka pintu dan tatapannya terhenti pada satu objek dari jarak kurang lebih 2 meter ditempat ia termangu didepan pintu . Sehun terdiam sesaat begitu melihat sang perawat menaruh nampan diatas nakas dan ia sempat mendengarkan sedikit nasihat dari sang suster pada taeyeon yang kini sudah membuka matanya.
“makanlah segera, jangan memakannya setelah dingin, bubur ini akan cepat terkontaminasi. Kalau anda perlu sesuatu, tekan saja tombol disampingmu.”
“ne. saya mengerti. Terimakasih.”
Taeyeon tersenyum meski ia tak luput dari rasa pusing yang menjalar dikepalanya. Suster yang merawatnya balas tersenyum dan berbungkuk rendah sebelum akhirnya melenggang pergi keluar. Dengan langkah ragu sehun berjalan menghampiri ranjang taeyeon, ia menyimpan keranjang buah dinakas tepat disamping taeyeon dengan hati-hati. taeyeon yang baru saja mencoba untuk tertidur terusik ketika mendengar suara kresek ditelinganya, dengan berat ia kembali membuka matanya perlahan. Tak ada keterkejutan diwajah taeyeon saat ia melihat seorang pria berkulit seputih susu disampingnya. Tatapannya terlempar kosong. Ia tidak tau siapa dia dan dimana ia berasal. Ia juga tidak tau siapa lelaki yang sedang menatapnya lekat-lekat saat ini. ia bingung, mencoba untuk mengingat keras siapa jati dirinya dan apa yang terjadi disini? Namun sekeras apapun ia mencoba mengingat, tak ada satupun informasi yang ia dapat dari perjuangan kerasnya dalam mengingat sesuatu.
“kau tau aku siapa?” akhirnya yang dapat taeyeon lakukan adalah menanyakan terlebih dulu siapa dia. Mungkin bila ia tau siapa dia, ia akan mengetahui lebih jauh mengenai siapa dia, dan jika ia beruntung ia mungkin saja dapat mengenal lelaki disampingnya.
Rasa bersalah menggerogoti sehun lagi, namun ia tetap memasang topengnya dengan memperlihatkan raut wajah datar dan serius. Ia merogoh kartu identitas milik taeyeon disaku mantelnya, lalu ia memberikannya pada taeyeon. gadis itu menilik nama lengkap yang tertera jelas disana. namanya kim taeyeon. kepalanya berdenyut nyeri begitu ia mulai kembali menjelajah ingatannya. Terlalu keras sampai ia memegang kepalanya. Dengan alat bantu itu tetap saja taeyeon tidak dapat menemukan apa-apa.
“aku yang telah membuatmu masuk ketempat ini. aku…. Sipelaku yang sudah menabrakmu sampai kau kehilangan ingatanmu. Aku membawamu kerumah sakit dan kau telah menjalani operasi sebanyak dua kali. Karena kecelakaan itu, syaraf-syaraf didalam otakmu terganggu, dan kau…. Amnesia.” sehun memberanikan menatap taeyeon tepat didalam bola matanya. taeyeon hanya diam walau dalam hatinya ia merasa marah pada pria ini. namun, ia tetap mendengarkan ungkapan selanjutnya dari pria itu.
“disaat kau melakukan operasi keduamu, aku pergi mencari keluargamu. setelah aku berhasil menemukan rumahmu, akhirnya aku tau kalau kau hanya seorang diri. Orang tuamu sudah meninggal. Tentang hal itu, aku banyak berpikir perihal pertanggung jawabanku. Dengan uang tentu itu bukanlah perkara mudah untuk membebaskanku dari semua kesalahanku padamu. Secara financial aku wajib membiayaimu, selain itu aku ingin kau bersedia menerima permintaanku untuk…..tinggal dirumahku sampai kau pulih dari ingatanmu. Semua itu sebagai kompensasi. Kompensasi karena aku telah menabrakmu.”
Taeyeon cepat menyambar ucapan sehun ketika sehun membuka mulutnya hendak bersuara kembali.
“kau memintaku untuk bungkam? Apa ini maksudnya kau tidak ingin aku melaporkannya pada polisi? Dengan membiayaiku dan memberikanku tempat tinggal, itu sama saja kau memintaku menutup mulut bukan?” tanya taeyeon bertubi-tubi. Sehun terperangah, hal itu sama sekali tidak terlintas dipikirannya. Ia tidak peduli lagi dengan masalah taeyeon yang akan menuntutnya atas kesalahannya dilalu lintas pada hari rabu sore. Sebetulnya, yang ingin sehun lakukan hanyalah ‘bertanggung jawab’. Ia siap mempertanggung jawabkan semuanya, termasuk ancaman hukuman dipenjara.
“terserah kau saja. Detik ini juga kau bisa menghubungi polisi dan melaporkanku. Aku sama sekali tidak keberatan. Tapi sebelum itu…. aku meminta agar kau tinggal dirumahku sampai aku merasa telah lepas dari tanggung jawabku. Baru setelah itu, kau bisa lakukan apa saja padaku. aku berjanji tidak akan berkilah saat kau mengajukkan tuntutan padaku. kau dapat mengatakan pada jaksa, kalau aku menabrakmu saat lampu merah berjalan. Aku tidak akan kabur, percayalah.”
Sehun meyakinkan dengan tatapan dingin, itu membuat taeyeon sulit untuk menerka dan mempercayai setiap kalimat yang dijanjikkan oleh sehun. wajah pria ini sulit ditebak, apakah ia sedang berbohong ataukah ia benar-benar jujur dengan ucapannya? semua itu sama sekali tidak tergambar jelas diwajah seorang pria berwajah datar bernama oh sehun.
Dalam beberapa menit taeyeon terdiam memikirkan perkataan sehun. Sehun memberinya 2 opsi. Opsi pertama, sehun membiarkan dirinya bebas melaporkan sehun pada polisi sekarang ini juga, dan opsi kedua sehun meminta taeyeon untuk tinggal dirumahnya sampai ia pulih dari ingatannya, lalu setelah itu sehun akan menyerahkan semuanya pada polisi. Mengenai opsi pertama, entah kenapa ia merasa enggan untuk melaporkan pria ini kepolisi detik ini juga. Pikirannya meluas, ia tidak bisa hidup tanpa pria ini. jika pria ini terkurung dipenjara, siapa yang akan membiayainya dan siapa pula yang bersedia memberinya tempat tinggal? Mungkin tidak ada tempat bergantung selain pria ini. jadi, taeyeon tetap harus meyakini bahwa pria didepannya memang pria yang bertanggung jawab. Dengan memilih opsi kedua, mungkin ia masih bisa bertahan dengan baik, lelaki ini dilihat dari gesture dan tampilannya memang sedikit rapi, dan dari perkataannya memang sangat menunjukkan bahwa pria ini memang tidak jahat, ia ingin mempertanggung jawabkan semuanya. jadi kemungkinan besar dengan ia memilih opsi kedua, ia rasa semuanya akan baik-baik saja.
Dengan keputusan bulat yang telah ia ambil, taeyeon menatap sehun dengan tatapan sedikit mengancam. “aku bersedia tinggal dirumahmu. Tapi… jangan kira aku tidak bisa melakukan apapun….” Sehun mengernyit bingung, apa sebenarnya maksud dari ucapan yang diberi jeda sedikit lama dan misterius itu dari gadis ini?
“satu kali kau menyentuhku. Kau akan kehilangan kedua tanganmu. Ingat itu!!” sehun tergelak mendengarnya, ia mengulum senyumnya dan seberat mungkin ia menahan tawanya yang hampir meledak. Oh jadi gadis ini mencurigainya? Oh ayolah, ia sama sekali tidak berniat menggoda wanita ini. pikiran taeyeon memang luas dan selalu datang diluar dugaannya.
Sehun berdehem, untuk mengembalikkan kembali wajah datarnya. Ia memang pandai berakting. Disaat ia sedang ingin tertawa, ternyata ia masih sempat memperlihatkan wajah menyeramkannya itu.
“kalau aku melakukannya, kau bisa menambah lagi tuntutan untukku. Katakan saja pada jaksa kalau aku….. berbuat tidak etis padamu.” Ucap sehun tenang. Taeyeon menatapnya tidak percaya, matanya sudah berkilat-kilat menahan marah. “yak! jadi kau benar-benar akan melakukannya?” taeyeon mendesis tajam.
“aku tidak akan melakukannya jika kau tidak menggodaku. Jadi, jangan mencoba untuk merayuku atau kau akan tau apa akibatnya.” Nada sehun terdengar mengancam ditelinganya. Taeyeon membuang napas, dan tersenyum sinis. Bagaimana bisa lelaki ini menjatuhkan harga dirinya? apa dimata lelaki ini ia adalah seorang penggoda? Kemarahan taeyeon sudah berada diubun-ubun, ia meremas spray dan menatap sengit sehun yang kini sudah memunggungi dirinya.
“malam ini, kau bisa pulang…. Kerumahku.” Sehun menoleh kebelakang menatap taeyeon sekilat. Tak ada jawabannya yang ada hanya terdengar helaan napas berat yang dikeluarkan oleh taeyeon. setelah mengatakan sepenggal kalimat itu, sehun melangkahkan kakinya dan berjalan pergi keluar.
.
.
.
Sehun pergi kedepartemen store. Ia berniat membeli pakaian dan beberapa kebutuhan wanita seperti make up, sepatu dan tas. Sehun datang kesana dengan masker dan kacamata hitamnya guna menutupi jati dirinya yang notabanenya adalah ‘masih seorang aktor’. Sehun memasukkan pakaian ketroli dengan asal, ia tidak memilah dulu pakaian apa yang cocok dengan taeyeon. bahkan gaun malampun ia masukkan. Semua yang diperlukkannya telah ia masukkan, kini ia pergi kekasir dan membayar dengan kartu kredit. Card satu-satunya yang ia miliki saat ini.
Namun ada satu kejadian yang tak terduga saat sang kasir mengembalikkan kembali kartu kredit itu pada sehun. sehun menerimanya dengan bingung.
“Tuan, saldo anda tidak mencukupi untuk membayar semua ini. masih kurang 2 juta won lagi.” Kata sipenjaga kasir dengan melempar tatapannya pada sehun dengan barang yang dibelinya secara bergantian. Sehun menganga tak percaya, jadi selama ini Agencynya tidak lagi memperdulikan ia lagi? Kenapa agencynya menarik kembali saldo yang jelas-jelas satu minggu yang lalu masih tersimpan lebih dari satu milyar won. Pikiran sehun lantas terjatuh pada kasusnya. Mungkin karena kasus tentang tersebar luasnya berita mengenai keburukannya dimasa lalu, CEO dari agncynya kecewa dan mungkin sebentar lagi ia akan didepak dari perusahaan yang telah bekerja dengannya dalam satu tahun ini. sehun menghela napas berat, beban dipikirannya semakin bertambah. Apalagi sekarang ia tidak lagi menghidupi dirinya sendiri, ada orang lain yang sekarang menjadi tanggung jawabnya. Jadi, apa yang harus ia lakukan?
“tuan..” sehun tersadar cepat akan lamunan panjangnya, menengok kebelakang antrian cukup panjang dan mereka yang mengantri berteriak kesal pada sehun agar cepat membayar semuanya. dengan setangah mati malu sehun berujar dengan sangat pelan atau ia terdengar berbisik pada kasir wanita muda didepannya ini. “beli saja pakaian yang pas dengan uangku. Kalau bisa tidak lebih dari 1 juta won.”
.
.
.
“ini kamarmu.” Sehun menunjukkan kamar yang cukup luas dengan jendela besar memperlihatkan kerlap-kerlip dan keindahan kota seoul. Taeyeon berdecak kagum dan tak menghiraukan saran dan peringatan dari sehun. ia terpesona akan kemewahan dari kamar yang sudah tersedia ranjang dengan king size, lemari dua pintu yang berhias kaca besar, serta buku-buku yang ditata rapi dirak buku yang berdiri disudut kamar.
“jangan menyalakan lampu saat malam, jangan menghamburkan air, jangan menyentuh guci dirumah, jangan menyentuh barangku, dan jangan sekali-kali masuk kekamarku.” sehun berjalan mendahului taeyeon yang hendak melihat jendela dari dekat, sehun berbalik dan menghadap taeyeon. “apa kau mendengarku nona?”
Taeyeon terkesiap, ia hanya tersenyum bodoh, jujur selama ia masuk kekamar ini ia sama sekali tidak mendengarkan setiap kata perkata dari sehun. kamar ini sungguh menyita perhatiannya. Ia benar-benar tidak bisa mengalihkan apapun dari kamar ini.
“bisa kau ulangi sekali lagi? Kali ini aku akan menyimaknya dengan baik.” pinta taeyeon terdengar memelas.
Sehun mendengus kesal, mungkin kedatangan gadis ini akan membuat hidupnya yang buruk bertambah buruk. awal kedatangan gadis ini kerumahnya-pun sudah membuatnya kesal setengah mati. Apalagi kalau ia sudah hidup dengan taeyeon selama berhari-hari, berminggu-minggu, atau bisa juga berbulan-bulan, ia tidak tau apakah ia sanggup bertahan atau tidak.
“aku akan menjelaskannya sekali lagi padamu. Dengarkan atau aku akan memindahkan kamarmu.” Sehun berbisik ditelinga taeyeon. taeyeon bergidik ngeri, sehun memang punya seribu ancaman.
“aku tidak ingin kehilangan kamar ini. jadi aku akan menyimaknya dengan baik.”
Taeyeon segera mengambil posisi duduk ditepi ranjang dan menopang dagunya dengan tangan yang ia tumpu dipahanya. Kali ini, ia akan memasang telinganya tajam-tajam dan menyimak sehun dengan baik.
Sehun terlihat jengah, namun ia tetap me-reka ulang kalimatnya dengan tenang, datar, dan tanpa ada emosional diwajahnya. Ia bergerak kesana kemari bermaksud menjelaskan, sesekali ia melempar tatapan peringatan pada taeyeon. taeyeon terlihat telah terbiasa akan tatapan itu, karena terbiasa tatapan menusuk itu tidak lagi membuatnya takut.
“dimana keluargamu?”
Sehun berhenti memberi peraturan kala taeyeon menyela dengan pertanyaan yang tiba-tiba. Sehun mendesah dan menatap taeyeon tajam. “kenapa kau menanyakan hal itu? kau… seharusnya menyimakku dengan baik, bertanya mengenai peraturan dirumah ini, tapi… kenapa kau bertanya dan menyimpang dari pembicaraan eo?” emosi sehun tersulut. Nada bicaranya berapi-api. Mengingat keluarga kwon yang mengkhianati dirinya kembali mengusik pikirannya. Sesak yang tiada tara menyelubungi hatinya lagi. Sehun pikir, gadis itu telah lancang sudah membuka jahitan dihatinya dengan membahas persoalan keluarga.
Taeyeon mengerjapkan matanya, letupan dijantungnya terdengar sampai ketelinganya. Entah bagaimana.. melihat mata membunuh itu berhasil membuat dinding pertahanan taeyeon runtuh. Mengakui ia sudah tidak lagi takut akan pria ini ternyata sepenuhnya salah. Nyatanya sekarang saat ia kembali melihat tatapan lebih menusuk itu, ia sangat takut.
Taeyeon berdiri dari duduknya. Ia menelan ludahnya bulat-bulat dan menatap sehun mencoba untuk berani, walau jauh dari lubuk hatinya ia sungguh takut ketika pandangannya beradu dengan mata elang milik sehun. “aku tidak boleh menghidupkan lampu saat malam, aku harus menghemat air, kau tidak mengijinkanku untuk menyentuh guci dan kau akan membunuhku jika aku masuk kedalam kamarmu. Aku sudah mengingatnya dengan baik.” taeyeon mendesis tajam. Ia melanjutkan setelah mengucapkan semua kalimat itu dalam satu tarikan napas. “apa kau melarangku bertanya diluar topic sebelumnya? Yang aku tau, kau tidak membuat peraturan seperti itu. jadi kukira dengan mengalihkan topic pembicaraan itu bukanlah sesuatu yang kau larang. Wae? Kenapa kau marah padaku ketika aku mengalihkan pembicaraan? Kau tau? aku membencimu karena hanya emosi dan kemarahan yang kau tunjukkan padaku. bisakah aku percaya dengan kata-katamu?”
Sehun tergelak dengan semua pelontaran dari gadis ini. dadanya nyeri saat taeyeon bertanya apakah ia dapat mempercayainya? Setelah orang tuanya, kerabatnya, penggemarnya yang tidak percaya akan perubahannya. Lantas gadis ini juga menyimpulkan bahwa ia tidak layak untuk dipercayai? Mengapa dunia begitu membencinya??
“semua orang pantas membenciku dan mencurigaiku. Aku… tidak mengerti mengapa dunia menginjakku seperti ini? usaha yang kulakukan selama ini tidak mempengaruhi apapun. Sekeras apapun aku berteriak sampai matipun, mereka tetap tidak akan mempercayaiku. Dunia yang kau lihat, rumah yang kau lihat ini, terasa kosong dimataku. Aku tidak menerima pendapat bahwa dunia sangat indah, penuh warna dan penuh akan kebahagian. Yang aku lihat adalah duniaku terasa gelap, hampa, dan…. Menyakitkan.” Ucap sehun dengan napas yang tercekat. Matanya memerah menahan amarah. Taeyeon terpaku, hatinya terenyuh mendengar rentetan kalimat yang meluncur dengan nada pilu dari sehun. mata tajam itu berlarut-larut menjadi sebuah kepedihan dan kepiluan. Ditatapnya mata bening sehun yang menyedihkan, taeyeon sedikit merasa bersalah. “maaf. Aku tidak tau bahwa pertanyaanku akan membuat kau marah….” Taeyeon menarik napas dalam-dalam dan mendesah halus. “tapi ada satu hal yang kutau tentang dirimu. Satu hal yang membuatmu terlihat menyedihkan. Karena kau….. tidak tau cara bagaimana membuat mereka mempercayaimu. Kau tidak harus berteriak sampai mati. Kau hanya perlu mengatakan didepan mereka dengan ekspresi wajah yang meyakinkan. Bagaimana mungkin mereka akan percaya jika wajahmu benar-benar tidak meyakinkan. Jadi saranku adalah… jangan membuat wajahmu sedatar itu. karena kebohongan ataupun kebenaran akan terungkap melalui ekspresi wajah kita. kau harus membiasakannya.”
“kau siapa? Berani sekali kau mengajariku? Entah seperti apa wajahku saat ini, entah seburuk apa ekspresiku dimata dunia. Aku hanya akan menjadi se-hun. tidak akan berubah.” Sehun menekankan kalimatnya. Matanya berkilat marah memandang taeyeon.
Taeyeon tersenyum miring, ia bergumam dalam hati. ah jadi namanya sehun? nama itu sangat manis didengar, tapi sayangnya tidak selaras dengan siapa pemilik nama ini. menjengkelkan.
“sehun-ssi. Kau tau? didunia ini manusia banyak mengalami perubahan. Dunia akan menjadi lebih-lebih indah jika manusia melakukan perubahan yang lebih baik. kau-bisa-berubah.” Tangan taeyeon bersedekap. Mata telaganya yang jernih kini sudah mulai bersahabat dengan mata membunuh milik sehun. taeyeon sudah kembali membuat pertahanannya untuk tidak lagi ragu dan takut menghadapi jelmaan bagaikan iblis didepannya.
“dan disini akan jadi lebih tenang jika kau berhenti bicara. Kau dalam masa proses penyembuhan, kepalamu akan dipastikan terasa pusing. sungguh konyol, disaat syaraf-syaraf otakmu berubah.. kau masih bisa berpikir sejauh ini?”
“kalau begitu, bisakah kau keluar dari kamarku? Jika kau tidak ingin terganggu dengan celotehku maka sebaiknya kau keluar saja dari kamarku.” Taeyeon menyuruh sehun pergi dengan dagu yang menunjuk pintu. Sehun mendecakkan lidahnya tak percaya. “kamarku kau bilang?” tanya sehun tak terima. “siapa yang mengatakan bahwa kamar ini adalah milikmu?” mata sehun melebar atau ia terlihat sedang memoloti taeyeon.
Dengan menggeram menahan emosi, taeyeon mendekatkan wajahnya mempersempit jarak antar keduanya. tatapannya terlempar sengit dan sarat akan kebencian pada sehun. “kau lupa? Baru beberapa menit yang lalu kau mendeklarasikan bahwa ini adalah kamarku. Lalu kenapa tiba-tiba kau mengelak bahwa ini bukanlah kamarku? Ahh aku tau. apa kau benar-benar tidak ikhlas membawaku kesini?”
“aku masih belum terbiasa dengan kedatanganmu. Kamar ini….”
Sehun terdiam beberapa sekon, tatapannya terjatuh pada lantai marmer dibawahnya. ‘kamar ini biasa ditempati jiyeon. ada rasa tidak rela ketika orang lain menempati kamar ini selain jiyeon. aku menjaga dan membersihkan kamar ini setiap hari, karena aku yakin jiwa jiyeon masih tertinggal disini. Aku dapat merasakkan jiyeon tidur disana. aku dapat melihat mata jiyeon terkagum-kagum akan keindahan kota seoul dimalam hari lewat jendela ini. senyumnya dan keluguannya, entah kenapa jiwa itu seperti ada dalam diri gadis ini. ketika taeyeon menatap jendela dengan mata berbinar, ketika taeyeon menyuruhku untuk berubah, dan ketika aku melihat sekilas pandangannya menatapku iba, berdasarkan pengamatanku kurasa jiyeon merasuki tubuhnya dan menggerakan jiwanya dengan sosok yang berbeda. Apa itu mungkin?’
“kenapa terdiam?”
Sehun tersentak menyebabkan lamunannya buyar. Ia langsung mengalihkan perhatian pada kantung kresek berisikan pakaian yang baru beberapa saat ia beli ditangannya. Sedetik kemudian, sehun melempar kantung itu keranjang dengan asal. Taeyeon yang sedari tadi memerhatikan sehun, mengerutkan keningnya tidak mengerti. “apa ini?” taeyeon bergegas menghampiri pakaian yang tergelatak keluar dari kantungnya. Ia melihat pakaian yang berserakan satu persatu. Kebanyakan kaus oblong dan hotpants.
“itu semua untukmu. Aku akan kembali kekamarku.” Baru saja sehun berbalik terdengar lagi sahutan suara dari taeyeon dibelakang punggungnya. “terimakasih.” Ucapnya terdengar lembut dan penuh akan ketulusan. Sehun tidak terlalu menanggapi, ia melanjutkan langkahnya lagi dan keluar dengan tergesa dari kamar taeyeon. taeyeon hanya menghembuskan napas berat, ia menghempaskan tubuhnya keranjang dengan pandangan yang menerawang kelangit-langit atap. Apa tadi ia mengatakan sesuatu yang salah? Mengapa sehun begitu marah saat ia menyinggung perihal keluarga?
“aku jadi tidak rela membencinya. Melihat mata menyedihkan itu, entah kenapa membuat aku ingin menangis. Sebenarnya ada apa dengannya?” taeyeon bergumam. Lalu kemudian ia memejamkan matanya rapat-rapat kembali menggali semua ingatannya. Dadanya terketuk saat ada cahaya terang memasuki matanya. cahaya itu lambat laun menjadi visualisasi dirinya yang bertabrakan dengan mobil. Refleks matanya terbuka dan kini yang bisa ia lihat dengan pandangannya adalah langit-langit atap diatasnya. Ia menarik bibirnya keatas. Bahagia. Ia senang karena sedikit demi sedikit ia sudah mulai mengingat sesuatu yang ia tidak ingat. Namun 5 detik berikutnya, perasaannya berubah tak menentu. Ia menyentuh dada disebelah kiri tepat dimana jantungnya berada. Ia merasakan sebuah kepedihan dihatinya, sangat sakit dan detak jantungnya yang sebelumnya berjalan normal kini berdetak begitu cepat dan tak terkendali.
“kenapa dengan hatiku? Kenapa hatiku merasa tidak enak seperti ini?”
Taeyeon harus tau bahwa alasan kenapa hatinya seperti ini adalah karena ia… tidak menepati janjinya bersama luhan.
.
.
.
.

Prang..
Suara guci pecah terdengar. Namun sang pelaku tidak menghiraukannya, ia masih tetap berjalan selagi matanya tertutup. Ya, ditengah malam taeyeon keluar dari kamarnya yang tidak ia kunci. Ia mengalami ‘tidur sambil berjalan’. Taeyeon menyusuri ruang tamu, tanpa sengaja ia menjatuhkan beberapa guci dan vas bunga yang diletakkan dengan rapi dimeja hias oleh sehun. langkah kakinya yang lambat laun berhasil membuat ia sampai didepan pintu sebuah kamar, ia mendorongnya dengan mudah, sampai ia menemukkan ranjang dan tidur disana. setelah itu, taeyeon tidur diranjang yang empuk dan hangat sampai pagi menjelang tiba.
Matahari sudah menerobos masuk lewat celah celah ventilasi dikamarnya. Ia meregangkan ototnya dan menguap berkali-kali. Dirasa peregangan ototnya sudah mulai nyaman, sehun mengucek-ngucek matanya dan membuka matanya yang berat. Ia mengerjap dan ia mulai bisa melihat pemandangan indah seisi kamarnya. Lalu kemudian ia mulai terduduk dari tidurnya. Rambutnya acak-acakkan, kaus polos dan celana pendek melindungi tubuhnya. Ia terlihat tampan dalam keadaan apapun.
“hmmm..”
Sehun bersumpah bahwa ia mendengar gumaman seseorang dikamarnya. Kepala sehun segera berputar kesamping dan ia terlonjak kaget saat mendapati taeyeon tidur disampingnya. Apa yang dilakukan gadis ini dikamarnya? Apa dugaannya benar, gadis ini mencoba untuk menggodanya?
Sehun mengangkat tangannya, ia hendak mendorong taeyeon dengan tangannya. Namun ketika ia berbungkuk, ia terkesima melihat wajah polos dari taeyeon. terlalu kejam jika ia mendorong taeyeon sampai jatuh. Tidak. ia tidak mungkin melakukannya. Ia langsung ingat pada kesalahannya. ia sudah memberi banyak luka pada taeyeon, sungguh konyol bila ia memberikan luka lagi pada gadis ini, apalagi jika luka itu disebabkan oleh kesengajaan sehun mendorong taeyeon.
Pada akhirnya sehun tetap membiarkan taeyeon tidur disana dan ia segera beranjak masuk kekamar mandi. Membersihkan tubuhnya dan merenungkan sesuatu dibawah guyuran shower, sehun benar-benar seperti merelaksasikan diri. Ia sedikit tenang dengan guyuran air dingin. Bebannya seolah-olah terangkat.

.
.
.
Dalam waktu sekitar 30 menit, sehun telah membersihkan guci dan vas bunga yang berserakan dilantainya dengan keadaan yang sungguh mengenaskan. Benda kesayangannya sudah benar-benar tidak dapat tertolong lagi. Dengan kata lain, benda yang ia jaga dan ia rawat semuanya hancur lebur. Sehun yakin penyebab dari kerusakkan barang berharga nan mahalnya disebabkan oleh wanita yang kini masih asyik dengan tidurnya. Walau begitu meskipun dalam keadaan suasana hati yang mendung dan penuh akan petir, sehun masih tetap peduli akan kesehatan gadis itu. ia masih bisa-bisanya menyempatkan waktu dengan memasak. Ya, saat ini sehun sedang sibuk didapurnya. Jangan kira lelaki yang dikenal dingin dan temparemental ini tidak bisa bergelut dengan dapur. Toh dengan cekatan ia dapat memasak bubur dengan handal. Keren.
Sehun duduk dimeja makan dengan 2 mangkuk bubur yang tersaji didepannya. Ia tidak butuh waktu berjam-jam dalam urusan memasak. Karena telah terbiasa, waktu yang ia butuhkan hanya sekitar setengah jam. tak lama setelah itu pintu dari arah kanan tepat dimana kamarnya berada, berderit terbuka dan memperlihatkan sesosok gadis diambang pintu dengan style rambut yang acak-acakkan. Wajahnya merenggut kesal. Sepasang tangannya terkepal kuat. ia melangkah dengan hentakkan keras menuju meja makan dimana target kemarahannya duduk.
Sehun berhenti menyantap ketika kedua mata jernihnya menatap taeyeon yang berdiri didepannya dengan berkacak pinggang.
“duduk dan makanlah.”
Sehun menyuruh taeyeon dengan menunjuk kursi diseberangnya menggunakan sendok yang dipegangnya. Taeyeon membeku, kerjapan matanya terlihat menggemaskan. Kenapa hanya dengan menyuruh dirinya makan, dia tidak sanggup marah pada pria ini? tenggorokannya seakan tersumbat oleh bola kecil. Bahkan niatnya berteriak pada sehun tak kunjung keluar dari mulutnya. Alhasil, ia hanya bisa mendesah kasar. Kaki-kaki mungilnya bergerak untuk duduk diseberang sehun. lamat-lamat ia menatap sehun dengan tatapan ragu. Kalimat-kalimat yang akan disemburkannya tertahan diujung lidahnya. Sehun yang merasa tidak nyaman dengan tatapan itu bertanya.”wae?”
“sejujurnya, aku terpaksa melakukan hal ini. aku terpaksa tinggal disini karena aku sungguh tidak tau harus pergi kemana. Dan sampai matipun aku sudah berniat tidak akan melupakkan semua kebaikanmu. Kau telah banyak membantukku dengan memberiku tempat tinggal dan membiayai hidupku. Dirumah sakit tepatnya aku langsung menyimpulkan kau adalah pria baik dan bertanggung jawab. Namun bodohnya aku mengambil kesimpulan yang salah, ternyata kau tidak lebih dari seorang penjahat! Kau… mengapa kau membawaku kekamarmu? Apa yang telah kau lakukan padaku? apa kau seorang penipu?” matanya yang bening, berubah menjadi mematikkan. Ia semakin kesal saat melihat respon yang diberikkan sehun padanya. masih tetap sama dengan gayanya, datar dan seakan ucapannya adalah tidak mengganggu isi pikirannya. Benar-benar pria abnormal!!
Sehun mencondongkan tubuhnya mengikis jarak antara dirinya dengan taeyeon. taeyeon menelan ludahnya sangat berat. Pria itu meskipun ia menyebalkan, dan sering membuat atmosfer sekelilingnya berubah menjadi panas, taeyeon tetap mengakui bahwa pria itu sangat sangat tampan. Tidak. apa taeyeon baru saja mengakui ketampan pria itu? oh salah. Taeyeon harus sadar bahwa makhluk didepannya ini adalah seorang iblis. Mengerikkan.
“seharusnya aku yang bertanya padamu, kenapa tiba-tiba kau ada diranjangku? Dan lebih parah lagi, kenapa kau menghancurkan semua guciku yang berharga eo? apa setelah ini kau berniat membumi hanguskan rumahku?” sehun menarik kembali tubuhnya kebelakang. Menatap taeyeon tajam dengan menyedekapkan lengannya didepan dada.
“apa yang kau bicarakan? Kemarin jelas-jelas aku tidur diranjangku sendiri. aku tidak tau mengapa tiba-tiba ada diranjangmu. Mungkinkah kau memindahkanku dan tanpa sengaja kau menjatuhkan gucimu karena terlalu terburu-buru. Itu mungkin saja bukan?” taeyeon memandang sehun sarat akan kecurigaan.
“kau tidak pernah melihat dirimu sendiri? apa yang menarik dari tubuhmu? Dari ujung kepala sampai kakimu, tidak ada yang menarik. Kau bukan tipeku, mana mungkin aku gila membawamu kekamarku. Apa yang dapat aku lakukan padamu? Kau sama sekali tidak menggoda. Jika kau berpikir aku melakukan sesuatu padamu, apa kau tidak sedikitpun merasakannya? tentunya ketika aku menyentuhnya,bagi mereka yang tersentuh akan refleks terbangun. Dan kau? Tidak merasakkan apapun bukan?” sehun menyeriangi sebelum akhirnya kembali menyantap buburnya.
Taeyeon menundukkan kepalanya. Memang benar, dia tidak punya apapun yang bisa disentuh. Jujur saja, ia mengakui fakta bahwa dadanya memang sangat datar. Menanggapi komentar pedas dari seorang lelaki, mendadak membuatnya terluka. Meskipun kebenaran sudah diujung tombak, tapi tetap saja itu adalah sebuah penghinaan besar untuknya bukan?
Dengan menahan gejolak dihatinya, taeyeon harus tetap menyelesaikan permasalahan tentang perpindahan tidurnya pada tempat lain. “lalu, apa kau tau bagaimana bisa aku tiba-tiba ada dikamarmu?”
Sehun telah mengosongkan buburnya, ia melangkah menuju westafel tak jauh dari meja makan. Ia mencuci mangkuk itu dengan telaten. “kemungkinan besar, kau mengalami tidur sambil berjalan. Dengan mata tertutup tanpa didasari dengan kesadaranmu, kau tidak menyadari bahwa kau telah menghancurkan guciku yang berharga….” Sehun mengeringkan tangannya setelah ia menaruh mangkuk bersih kerak piring. Ia berbalik dengan memasukkan sepasang tangan disaku celananya. Punggungnya bersandar pada lemari es. Matanya mengunci taeyeon. “kau.. dalam masalah.”
Taeyeon membuang muka dan mengalihkan tatapannya pada bubur yang masih belum ia sentuh. “aku akan menggantinya. Berapa harga semua guci itu?” taeyeon memegang sendok dan siap menyendokan bubur kedalam mulutnya.
Sehun mengambil cola dikulkas, membuka penutupnya dan terdengar bunyi ‘cess’ yang ditimbulkan oleh cola itu sendiri. selesai dengan satu kali tegukannya. Sehun menjawab pertanyaan taeyeon dengan datar. “3 milyar lebih, mungkin.”
Mata taeyeon membelalak, bubur yang masih lumer didalam mulutnya tersedak hingga sebagian keluar dari tempat yang seharusnya. “mwo? 3 milyar won?” taeyeon memutar tubuhnya menatap sehun yang masih betah berdiri diarea konter dapur.
“wae? Kau tidak sanggup membayar itu semua?” tanya sehun dengan nada super meremehkan.
“bukan begitu. hanya..-kenapa itu mahal sekali?” tanya taeyeon tidak percaya. Semua guci itu? apa semuanya berbahan dasar emas? Berlian? Mengapa ada guci seperti itu eo? taeyeon mengumpat dalam hati.
“tentu saja itu mahal. Semua yang kubeli hasil tangan pembuat keramik termahal didunia. Limited edition. Kau tau?” sehun menekankan kalimat ‘limited edition’. Seolah kata itu patut untuk dibanggakan.
“aku akan segera membayarnya. Jangan khawatir.” Ucap taeyeon dengan nada lemas. Ketidakpercayaan mengenai harga sebuah guci, berdampak besar pada selera makannya. Ia hanya menatap kosong buburnya, bermain dengan sendok dan bubur. Dari mana ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu? bahkan ia sama sekali tidak punya uang sepersenpun.
Sehun datang membawakan taeyeon susu kotak. Ia kembali duduk diseberang taeyeon. taeyeon mendesah halus. Dimasa-masa sulit ini ternyata ia masih bisa terkagum-kagum atas perhatian sehun yang diberikan padanya. jiwa lelaki itu seperti dibagi dua. Terkadang ia berjiwa iblis, dan terkadang juga ia berubah menajadi malaikat. Ia sungguh tak mengerti.
“jangan berpikir keras untuk hal ini. aku punya tawaran bagus untukmu.” Sehun tidak beradu pandang dengan taeyeon. ia melempar tatapan kearah jendela yang terbuka lebar. Menonton pertunjukkan dedaunan yang berjatuhan.
Tatapan taeyeon berubah menjadi penasaran. “apa itu?”
“berpura-puralah jadi pacarku.” Kali ini sehun menatap taeyeon. taeyeon tercengang hebat. “mwo?” kening taeyeon mengernyit tak mengerti.
“aku adalah seorang actor. Akhir-akhir ini aku mengecewakan penggemarku. Hal itu disebabkan karena aku.. pernah menjadi ketua gangster saat SMA. Aku adalah pria pembully yang ditakuti seluruh siswa disana. Dulu kupikir itu sangat menyenangkan tanpa memperdulikan kehidupan berikutnya aku benar-benar akan menyesalinya. Dan sekarang, setelah sikapku yang uring-uringan terungkap kemedia, aku merasa… kesenangan itu membuatku masuk kelubang hitam. Aku jadi dibenci, dihujat, dan dimaki oleh masyarakat.” Sehun menarik napas dalam-dalam, lalu ia hembuskan secara perlahan. Ia masih menatap lekat kearah taeyeon. taeyeon membalasnya dengan serius dan memasang telinganya tajam-tajam. Taeyeon tidak ingin melewatkan satu katapun dari cerita sehun yang dianggapnya lumayan menarik.
“aku telah jujur dengan perasaanku pada mereka, bahwa aku telah berubah dan menyesali semuanya. namun apa yang kukatakan sebagai rajukan mereka tetap membenciku. Mereka semua tidak mempercayaiku lagi. Agencyku akan mengeluarkanku dan membiarkanku jadi gelandangan jika aku tidak bisa lagi menarik perhatian penggemarku. Mungkin dengan menarik kau menjadi pacarku, aku akan mengundang perhatian mereka. cukup katakan saja, bahwa aku pacar yang baik untukmu, kau meyakinkan mereka dengan mengatakan kalau aku sudah berubah. Aku yakin mereka akan mempercayaiku lagi. Apa kau ingin melakukannya? Jika kau bersedia, aku anggap hutangmu lunas.”
“jika aku melakukannya. Hutangku padamu benar-benar lunas?”
“hmm.”
“kalau begitu, baiklah. Aku bersedia.”
.
.
.
Luhan duduk berhadapan dengan ibunya. Atmosfer ketegangan begitu terasa disekeliling mereka. sang ibu menatapnya sarat akan keseriusan, sementara luhan berusaha untuk bersikap acuh tak acuh.
Mrs.Xi memberikan beberapa lembar foto kehadapan luhan. Luhan terbelalak saat siapa objek didalam foto tersebut. bukankah itu adalah dirinya dengan taeyeon? mengapa ibunya begitu mengusik kehidupannya? Apa maksudnya?
Luhan memandang tajam ibunya, insting luhan sudah mulai merasakan hal-hal yang tidak mengenakan. Ini bukanlah sesuatu yang akan menggembirakan hatinya, melainkan sebaliknya.
“itu adalah gadis pujaanmu?”
“kalau itu benar, lalu apa yang akan kau lakukan?” luhan balik bertanya. Ia sudah muak dengan segala ancaman yang diberikan ibunya terhadapnya.
“berhenti bermimpi xi luhan. Gadis itu sama sekali tidak pernah memandangmu, dia tidak datang walau kau akan pergi jauh. jangan membuang-buang waktu untuk hal-hal seperti ini. lebih baik, lupakanlah gadis itu mulai dari sekarang. lihatlah masa depanmu. Raihlah sesuatu yang tidak membuatmu rugi.”
‘dia tidak pernah memandangku?’ batin luhan perih.
“kau akan sia-sia dengan gadis impianmu itu.”
‘sia-sia?’ luhan merasakkan dadanya terketuk sangat perih. Jahitan luka dihatinya kembali terbuka lebar mengingat gadis itu tidak datang saat ia akan pergi jauh.
Luhan sibuk dengan pergulatan hatinya, sementara sang ibu kembali menjulurkan foto yang berbeda kehadapan luhan. Foto seorang gadis dengan rambut panjang berhias jepitan kupu-kupu.
“lihatlah.” Luhan tersadar akan interupsi ibunya. Ia mengalihkan perhatiannya pada selembar foto gadis yang terlihat familiar dimatanya.
“siapa dia?” tanya luhan memandang ibu dan gadis yang berada difoto itu secara bergantian.
“dia calon tunanganmu. Namanya kwon yuri.”

.
.
.
TBC
.
.
Ada yang puas gak nih sama momentnya TaeHun? Ya walaupun momentnya berantem mulu :v.. namanya juga proses kan.. hhaha. Kan gak seru kalau jatohnya tiba-tiba langsung jatuh cinta aja… hhe.. tapi kebanyakan para reader sukanya yang manis manis gitu yah? Huhuh maafkan aku yah kalau ini jalannya agak membosankan. Soalnya agak terlalu maksain kalau langsung buat mereka sweet. Jadi tunggu aja tanggal mainnya yahh 😉
Untuk penggemar luhan, pasti lagi pada demo sekarang yah karena scenenya itu lho dikit banget >.< maafin juga, karena bukannya mau balas dendam untuk sehun kemarin-kemarin yang scenenya dikit kayak figuran, Cuma ceritanya kan dia lagi jauhan sama taeyeon. jadi aku rada bingung harus gimana buat peran luhan untuk chapter ini. tapi untuk kedepannya luhan bakalan sering muncul, kok. Jadi ditunggu aja yahh ..
Kalau masih banyak siders, kayaknya aku bakalan kasih password deh buat ff ini. aku tau, pake diprotek segala kesannya itu ribet dan ngeselin. Tapi harus gimana lagi, aku ingin tau reader setia aku yang mana aja. Kalau begini teruskan aku ngerasa gak adil gitu sama yang suka koment dan nggak. Meskipun ff aku gak bagus dan ngebosenin, tapi aku bikin ff ini dengan kerja keras. Jadi mhon dihargai yah ^^

With Love
Deliaanisa

Advertisements

85 comments on “Mistake (Chapter: 5)

  1. Bagus kok thor. Betul kata author lebih baik berantem dulu, benci menjadi cinta it lebih seru. I like this moment. He he
    Next thor, lagi seru konfliknya.

  2. Ga tau kenapa deh aku baru baca ff ini dichapter 5 aku lgsg suka, cerita nya menarik serius deh 🙂 boleh minta link dri chapter sblmnya?

  3. Eo-mo.. Yuri tunangan Luhan? Gimana Taeyeon eonninya? Etss, bakal CB Luhan kalau tau ada berita Sehun dan Taeyeon pacaran… next chap thorr.. keep writing 🙂

  4. daebak… pemikiran yg lumayan susah ditebak… thanks bgt ya thor, gara” ffmu seharian ini aku nggak keluar rumah… kekeke…
    aku tunggu next chapnya. keep writing…. fighting”!!!

  5. Sehun ma taeyeon udh tggal serumah, tggal nunggu waktu aja buat sehun jth cinta ma taeyeonnie….
    Kok luhan gak knal sih ma yuri, bkan ny udh prnah ktemu d skolah? Ato luhan amnesia 🙂
    next thor, jgn lama2. Oh ya maaf bru comment d chap ini, gak papa kn thor?? Chap slanjut ny aq bkln komen lg kok…

  6. ibunya luhan suka bgt ikut campur sih…
    mslahnya complex bgt ya antarcast s ng memiliki keterhubungan, bagus ceritanya, good job buat author….
    update soon ya thor….
    fighting!

  7. Ff mu daebak thor :* :*
    Apa lanjutannya masih lama yah ???
    Chapter selanjutnya di kasih PW kah ?? Apa aku boleh minta PW nya thor ??
    Fighting keep write nyaa ;* :* di tunggu ff mu yg hebat lainnya

  8. bagus kok 😀
    part2 awal emang kerasa mainstream.. tapi pas baca part ini baru tau… ooooo…. gini to ceritanya? ceritanya sederhana tapi menarik (y) gjob for author 😀

  9. udah thor jangan dipaksain moment taehunnya, memang semua butuh proses :3 tp kalo boleh jujur aku lebih sreg kalo taeyeon disatuian sama luhan :v

  10. moga aja sehun bisa jatuh cinta ma taeyeon eonnie begitu juga sebaliknya, jadi taeyeon tetap akan jdi shbt Yuri bahkan jadi Kakak iparnya. moga luhan bisa melupakan taeyeon Dan mulai belajar jatuh minta pada yuri, begitukan lebih baik agar persahatan tetap terus terjalin Dan kesalapahaman Yuri PD taeyeon bisa terhapuskan

  11. Waaa kerenn thor..
    Aku suka jalan ceritanya,
    nanti couple nya pasti lutae ga sii?
    tp dengan itu pasti ada yg tersakiti..
    Sehun mgkn nnti jd jatuh cinta sama taeng..
    Tp takdirnya ttp lutae.. ahh bakal jd ‘sad’.. hidup luhan selalu dlm kesedihan Hhu *sotoy*
    hhehe cuma mengkhayal qo.. gasabar baca next chapternya..
    Semangat terus thor 🙂

  12. puas banget thor…
    nie mah super duper keren ffnya…
    jalan ceritanya tu kayak nyata banget…
    semangat terus ya thor nulis ffnya…
    hehehehehe
    😁

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s