Ma Boy~ (Chapter 9)

ma-boy-copy-8

Bina Ferina ( Kookie28)

Main Cast : Kim Taeyeon GG, Xi Luhan, Kim Jaejoong JYJ

Genre : School-Life, Romance

Rating : PG

Thanks To :

BaeLyrii @Cafeposterart.wp.com for making this amazing poster, chu~

Okelaah, happy reading ajadeh, yaaaa^^

~~~

Luhan menautkan jari-jari tangan kanannya ke jemari tangan kirinya. Dahinya mengerut, kedua alisnya tampak akan menyatu. Ia sedang berfikir. Entah apa yang ia fikirkan. Mungkin sebuah pemikiran berat yang membuat ia tidak bisa lagi merasakan hawa dingin di tubuhnya. Sudah beberapa menit berlalu dia hanya diam di bangku taman tanpa memerdulikan tubuhnya yang sudah menggigil kedinginan, minta dihangatkan.

“Aissh,” gumam Luhan, saat tubuhnya kembali menggigil. Kali ini bukan hanya angin yang menerpa tubuhnya, air yang turun dari langit perlahan ikut menyerbu dirinya. Walaupun hanya rintik-rintik kecil, tapi gerimis ini sangat kencang.

Di sisi lain, tepatnya di halte bus, Taeyeon tetap tidak bergeming. Ia hanya diam dan membiarkan angin dingin menerpa seluruh tubuhnya. Rintik-rintik hujan yang menyerbu kota Seoul, pun tidak bisa menggerakkan hatinya untuk segera pulang. Padahal, sudah ada lima bus yang lewat di hadapannya dan ia tak kunjung naik.

Wajah Taeyeon saat ini tampak memprihatinkan. Matanya sayu dan wajahnya lembab, akibat air matanya yang sudah mengering. Wajahnya juga memerah. Ia seperti orang sakit, dan ia tidak peduli dengan pandangan orang-orang sekitarnya. Lagipula, orang-orang di halte itu sudah berlarian mencari tempat berteduh yang lebih aman.

Taeyeon menundukkan wajahnya. Syal ungu yang Luhan berikan padanya menyita perhatiannya. Syal itu lembab, dan sebentar lagi akan basah terkena cipratan rintik-rintik hujan. Tapi kenapa? Kenapa syal itu justru memberikannya kehangatan? Kenapa tubuhnya merasa nyaman ketika syal basah itu melingkar erat di lehernya?

Pemiliknya, lah. Pemiliknya yang membuat tubuh Taeyeon tetap hangat. Hanya membayangkan senyuman dan wajahnya, membuat aliran darah di tubuh Taeyeon mengalir kencang.

Beep Beep Beep Beep

Taeyeon merogoh saku celananya dan menatap layar ponselnya. Luhan.

“Yeoboseo?” sapa Taeyeon dengan suaranya yang lirih. Ia berusaha menormalkan suaranya, tapi sepertinya tidak bisa.

“Neo eodiseoyo?” tanya Luhan di seberang telepon.

“Tentu saja aku sudah berada di asrama sekolah,” jawab Taeyeon cepat. Ia memutar kepalanya ke kanan dan ke kiri, memastikan bahwa mobil Luhan tidak berada di dekatnya. Bisa-bisa Luhan tahu kalau ia sedang berbohong. Jika ia bertemu dengannya sekali lagi, dia yakin dia tidak akan bisa melepaskan kepergian Luhan. Dan itu akan membuatnya semakin sulit.

“Jinjjayo? Arraseo, jaga dirimu baik-baik. Annyeong,”

Tuut Tuut Tuut

Luhan memutuskan sambungan teleponnya begitu saja, tanpa menunggu Taeyeon bicara. Taeyeon menundukkan kepalanya, ingin meneteskan kembali air matanya. Tapi sepertinya air matanya sudah terkuras habis. Ia hanya bisa menangis dalam hati.

Ponselnya kembali berdering. Kali ini dilihatnya YoonA yang menelepon. Ia pasti cemas karena Taeyeon belum juga kembali. Apa dia bisa kembali dengan keadaan seperti ini? Dipeluk oleh YoonA atau hanya sekedar ditanya ‘apa kau baik-baik saja?’ sudah membuat pertahanan Taeyeon hancur. Itu sebabnya Taeyeon hanya membiarkan ponselnya berdering tanpa mau dia angkat. Mungkin sebentar lagi dia akan pulang.

Berseberangan dengan Taeyeon, seseorang sedang memerhatikan Taeyeon tanpa sedetik saja matanya berkedip. Orang itu bahkan rela membiarkan tubuhnya basah kuyup demi menjaga perempuan yang dicintainya walaupun dari jauh. Setidaknya, ia ingin melindungi Taeyeon sekali saja sebelum dirinya benar-benar pergi. Ya, walaupun dari jauh, hati Luhan akan tetap tenang.

Beberapa menit kemudian, ketika tubuh Luhan sudah tidak kuat lagi menahan dinginnya air hujan dan angin yang kencang, sebuah mobil yang sudah sangat Luhan kenal muncul di sudut jalan dan berhenti tepat di hadapan Taeyeon. Ia dapat melihat ekspresi wajah Taeyeon yang sangat kaget begitu pemilik mobil tersebut keluar sambil membawa jaket dan langsung memaksanya masuk ke dalam mobil. Jaket itu ia pakaikan di tubuh Taeyeon. Taeyeon terpaksa masuk ke dalam mobilnya dan mereka meluncur pergi.

Luhan tersenyum kecil melihat Taeyeon benar-benar sudah aman di tangan seseorang yang ia percayai.

“Gomawoyo, hyung-nim,”

~~~

“Luhan… apa dia yang memberitahumu?” tanya Taeyeon pelan pada Jaejoong.

Jaejoong melirik Taeyeon sekilas. Dia terlalu iba dengan Taeyeon. Ia sudah menganggap Taeyeon sebagai adiknya sendiri saat ibu, dan Young jatuh cinta padanya pada pandangan pertama. Jaejoong tidak bisa melihat Taeyeon sedih, itu sebabnya ia memutuskan untuk tidak mengangkat topik tentang Luhan.

“Sunbae…” panggil Taeyeon.

“Tidurlah. Kau sudah kelelahan. Kau harus istirahat,” potong Jaejoong cepat.

Taeyeon menitikkan air matanya seketika. Ia hanya mengangguk dan memalingkan wajahnya ke jendela mobil. Luhan pasti masih berada di taman, seharusnya ia tahu kalau Luhan dari tadi memerhatikan dirinya.

Sesampainya di depan asrama sekolah, hujan sudah reda dan Taeyeon melihat YoonA, Chanyeol, Minseok, Jongin, dan Sehun berdiri di depan asrama perempuan. Mereka tampak mengobrol sangat serius. Bahkan air muka YoonA tampak ingin menangis.

Jaejoong keluar dari dalam mobil saat Taeyeon juga sudah keluar. Ia melangkah ke asrama sekolahnya dengan wajah sendu dan kepalanya yang tertunduk.

“Taeng-ah,” panggil YoonA. Ia segera berlari menghampiri Taeyeon dan langsung memeluknya. “Aku sangat mengkhawatirkanmu,”

Pelukan YoonA yang hangat serta belaian kasih sayangnya di punggung Taeyeon membuat Taeyeon tidak sanggup lagi. Walaupun ia sudah menangis di halte bus, nyatanya ia belum merasa puas. Tangisannya kembali tumpah di pundak YoonA. Melihat sahabatnya yang menangis tersedu-sedu seperti itu, membuatnya juga ikut menangis.

Jongin dan yang lainnya hanya melihat pemandangan itu dengan wajah sedih. Mereka juga masih belum mengizinkan Luhan pergi ke China.

“YoonA-ah,” panggil Taeyeon di sela-sela tangisnya.

“Uljima, babo,” sahut YoonA. Ia membelai rambut halus Taeyeon.

“Si brengsek itu. Aku mencintainya. Kenapa? Kenapa aku begitu bodoh bisa mencintainya? Mana mungkin aku bisa melupakannya. Bahkan ketika dia ingin pergi, seharusnya dia memikirkan teman-temannya,” isak Taeyeon.

Mendengar ucapan Taeyeon, membuat Chanyeol dan yang lainnya merasa terluka. Perasaan mereka sama terlukanya ketika mendengar kabar Luhan akan pergi. Bahkan Jongin harus membalikkan badannya agar tidak ada yang tahu kalau ia sudah menangis. Apakah memang benar kalau pertemuan itu berujung dengan perpisahan?

“Taeyeon-ah,” panggil Jaejoong tiba-tiba.

“Hyung, kenapa kau yang mengantar Taeyeon pulang?” tanya Minseok.

Jaejoong menyentuh bahu Taeyeon yang gemetar karena menangis. YoonA melepas pelukannya dan membiarkan Taeyeon menghadapi Jaejoong. Taeyeon menundukkan wajahnya, menghadap Jaejoong dengan masih terisak.

“Ya, hapus air matamu. Ke mana perginya Kim Taeyeon yang selalu ramah dan tersenyum ceria setiap hari? Tidak akan ada masalah yang tidak bisa terselesaikan. Aku datang ke sini karena mencemaskanmu. Dan aku berjanji, akan menghentikan kepergian Luhan sebisaku, karena dia adikku. Itu sebabnya, hapus air matamu dan tegarlah. Yakinkan hatimu kalau kau bisa melewati semua ini,” ujar Jaejoong.

Ucapan Jaejoong membuat Taeyeon mengangkat wajahnya dan menatap mata Jaejoong. Jaejoong tersenyum dengan tulus dan dia mengeluarkan sebuah sapu tangan berwarna biru muda dari saku celananya. Ia menghapus bulir-bulir air mata Taeyeon dengan sapu tangan itu dan menyerahkannya kepada Taeyeon.

“Ambillah. Pertama kalinya kita bertemu dan pertama kalinya aku mengenal sosok Kim Taeyeon bermula saat aku menyerahkan sapu tangan Luhan kepadamu. Aku berharap, saat aku memberikannya lagi, kau bisa tersenyum ceria kembali,” ungkap Jaejoong.

Taeyeon tersenyum kecil. Ia menerima sapu tangan itu dan mengangukkan kepalanya. “Ne, gomawoyo sunbae. Jeongmal gomawo,”

Jaejoong tersenyum lebar dan ia mengacak-acak rambut Taeyeon dengan sayang. Kemudian, tatapannya jatuh kepada YoonA. YoonA sedikit membungkukkan tubuhnya ke arah Jaejoong, sebagai tanda terima kasih. Dan Jaejoong juga menatap teman-teman Luhan secara bergantian.

“Aku tidak akan membuat sahabat kalian pergi. Aku tidak akan membiarkan adikku kembali ke China,” kata Jaejoong.

Keempatnya mengangguk. Setelah itu, Jaejoong pamit pulang dan tinggallah mereka berenam.

“Kami tahu hubunganmu dengan Luhan yang sebenarnya, Taeyeon-ah,” ujar Minseok, membuat Taeyeon memandang Minseok dengan tatapan kaget.

“Otteohkae?” tanya Taeyeon gugup.

“Luhan menceritakan semuanya. Sebelum dia berpamitan padamu, dia berpamitan kepada kami. Apa yang bisa kami lakukan kalau ayahnya yang memintanya untuk pindah? Aku sempat berpikir untuk minta bantuanmu tapi… kurasa sama saja hasilnya. Kalian juga pasti sudah mengakhirinya, ‘kan?”

Taeyeon terdiam. Ia menatap keempat sahabat Luhan dan YoonA secara bergantian dengan ekspresi minta maaf. “Mianhae. Aku…”

“Tidak perlu di jelaskan. Lagipula, sekarang kau mencintai Luhan, ‘kan? Luhan juga mencintaimu, Taeyeon-ah. Perasaannya sudah sangat kacau saat dia harus pindah dan perasaannya sekarang tertuju hanya padamu. Yang lebih membuatnya menderita adalah dia yang harus merelakanmu dengan kakaknya sendiri. Dia tidak pernah tahu perasaanmu karena dia mengira kau tidak akan pernah melihatnya. Bagaimana pun juga, dia tetap akan pergi ke China walau kau yang membujuknya,” jelas Minseok.

“Apa… kalian tahu alasannya dia pindah?” tanya Taeyeon.

“Kurasa kau juga tahu. Masalah Luhan dan ibu barunya. Ayahnya ingin dia hidup di China tanpa ada beban karena ibunya yang belum bisa menerimanya. Aku tidak tahu betapa Luhan menderitanya di rumah. Kalau aku jadi ayahnya, aku mungkin akan melakukan hal itu. Tapi sebagai sahabatnya, mana mungkin kami ingin dia pergi,” ungkap Chanyeol. Si ‘happy virus’ ini, baru pertama kalinya Taeyeon melihatnya sesedih ini. Rasanya air matanya ingin keluar lagi.

“Jadi begitu? Arraseo, arraseo,” jawab Taeyeon. Tatapan matanya mendadak tajam dan ekpresi wajahnya seperti baru menemukan mangsa baru. “Aku akan menghentikannya pergi dan aku berjanji akan jujur pada perasaanku,”

~~~

“Luhan-ah oppa…benar-benar akan pindah ke China, appa?” tanya Young dengan nada sedih dan tidak percaya. Ia menatap Tuan Xi dengan pandangan seakan-akan ayah tirinya itu berbohong.

Mereka sekeluarga sedang berkumpul di ruang keluarga dan Tuan Xi tepat saat itu langsung mengumumkan kepergian Luhan.

“Appa, kenapa tiba-tiba?” tanya Young. Ia menatap Luhan dengan pandangan memelas. Dan Luhan hanya menundukkan wajahnya. Ia sedikit melirik ke arah ibunya, yang mendengarkan pengumuman itu tanpa ekspresi.

“Tidak tiba-tiba. Ayah baru sampai dan baru bisa mengabari hari ini, ‘kan? Penyambutan pelajar baru juga akan dimulai, jadi ini memang agak buru-buru. Ayah sudah menyiapkan segalanya karena ayah tahu, Luhan ingin sekolah di sana sebelum pindah ke Seoul. Jadi, bukan hal yang terbilang buru-buru bagi Luhan sendiri, ‘kan?” jawab Tuan Xi sambil tersenyum memandang Luhan.

“Oppa, malhaebwa. Kau tidak ingin pindah, ‘kan?” tanya Young.

Luhan menatap adik tirinya itu dan tersenyum kecil, ya setidaknya ia bisa tersenyum. “Aku memang ingin pindah,”

“Gotjimal,” sahut Young. “Oppa mana mungkin sanggup meninggalkan sahabat-sahabat oppa tanpa bertemu sama sekali selama empat tahun itu. Lagipula kau suka disini, oppa. Kau pernah bilang padaku. Semua temanmu sudah kau anggap saudara,”

“Young-ie, Luhan akan kembali,” ujar Tuan Xi.

“Ani, appa akan mengirim Luhan oppa ke perusahaan di China. Padahal aku senang kalau oppa tinggal di rumah. Aku senang kalau kita berkumpul,” jawab Young. Ia lalu menatap ibunya dengan pandangan memohon. “Eomma, kau tidak ingin Luhan oppa pergi, ‘kan?”

“Jika itu bagus untuk pendidikannya dan untuk mengurus perusahaan ayah, kenapa ibu harus melarang?” Nyonya Xi balik bertanya dengan nada suara pelan.

Young menghela nafasnya dengan agak sedikit kasar dan ia minta izin untuk pergi ke kamarnya terlebih dulu. Tuan Xi dan Jaejoong saling pandang. Sedangkan Luhan menatap kepergian Young dengan perasaan bersalah. Ia tahu betapa kecewanya Young saat ini. Ia tahu betapa besar pengorbanan Young untuk membuat hati ibunya melunak kepada dirinya, dan semua itu akan dianggap Young sia-sia.

“Aku akan menjelaskannya pada Young-ie,” kata Luhan. Ia beranjak dari sofa ruang keluarga dan menyusul Young ke kamarnya.

“Kapan Luhan akan berangkat, abeoji?” tanya Jaejoong, saat Luhan sudah naik ke lantai dua.

“Hari senin dia mulai bersiap-siap,” jawab Tuan Xi.

“Aku akan ke kamar duluan. Tidur yang nyenyak, Jaejoong-ah,” sahut ibunya, yang langsung naik ke kamarnya.

“Apa ayah yakin dengan rencana ini?” tanya Jaejoong pada ayahnya.

“Setidaknya ini usaha terakhirku, Jaejoong-ah. Aku akan sangat berterima kasih sekali padamu jika kau juga mau membantuku, sebelum semuanya terlambat dan sebelum semuanya berjalan begitu saja,” jawab Tuan Xi. “Aku tahu hati Kim Ma Ri tidak selamanya selalu dingin. Ada saatnya musim dingin berubah menjadi musim semi, walaupun itu membutuhkan waktu yang tidak sedikit,”

Jaejoong hanya menganggukkan kepalanya, mencoba memahami rencana sang ayah.

Di sisi lain, Luhan mengetuk pintu kamar Young beberapa kali sekaligus memanggil namanya. Tidak sampai semenit Luhan menunggu, Young sudah membuka pintu kamarnya dan  menghadap sang kakak. Wajahnya memerah, menahan tangis.

“Seburuk itukah aku pergi ke China? Kau bisa berkunjung ke sana,” hibur Luhan sambil membelai rambut indah adiknya.

“Kau mudah mengatakannya, oppa. Aku tidak mungkin diizinkan ke China sendirian. Dan lagipula aku sibuk sekolah,” jawab Young dengan suara pelan.

“Young-ie, jangan seperti itu. Kau hanya akan mempersulit keadaanku,” pinta Luhan.

Mendadak Young menangis. Luhan sedikit kaget dan ia langsung menarik adik kecilnya itu ke dalam pelukannya dan membelai punggung serta rambutnya yang lebat dan indah.

“Uljimayo. Kau adalah angel­ kecilku. Jadi jangan menangis,” bujuk Luhan.

“Aku tidak mudah menyukai seseorang secepat aku menyukaimu, ge. Bahkan aku lebih menyukaimu daripada menyukai ayah sewaktu ayah dan ibu baru menikah. Aku merasa senang punya kakak laki-laki sepertimu. Aku senang dengan kehadiran orang lain di keluargaku, dan itu baru pertama kalinya. Aku tidak suka ibu menikah lagi, tapi oppa membawa suasana baru untukku. Dirimu yang hangat, mampu melengkapi hidupku. Aku punya dua orang kakak laki-laki yang berbeda dan itu sempurna bagiku.

“Aku bisa bercerita banyak hal yang berbeda dengan kalian berdua. Dengan adanya dirimu, aku merasa jadi adik perempuan paling beruntung. Kalau aku tidak menyukaimu, aku tidak akan susah-susah melunakkan hati ibu. Bahkan sampai detik ini aku ingin ibu menganggapmu sebagai anak. Aku yakin, kalau ibu yang melarangmu pergi, ayah akan membatalkan semuanya. Aku terlalu sedih. Di samping ibu yang tak kunjung melunak, kau harus pergi ke China. Dan itu semua karena sikap ibu kepadamu,”

“Jangan bicara seperti itu, Young-ie. Kalau kau sayang padaku, kau akan membiarkanku pergi dan hidup sukses di sana. Aku akan kembali, pegang janjiku. Ini semua bukan karena ibu,” sergah Luhan.

“Bahkan aku tahu kalau kau berbohong, ge,” isak Young. “Seperti apa perasaanmu saat ini, senang, sedih, atau apapun itu, aku mengetahuinya. Kau benar-benar seperti kakak kandungku. Saat hatiku sudah meng-klaim hal itu, kau pergi,”

Luhan melepas pelukannya dan menatap wajah merah Young. Adik kecilnya yang cantik itu menatapnya dengan tatapan nanar. Luhan juga ikut terluka melihatnya. Padahal dia hanya pergi ke negara yang tidak jauh, tapi mengapa hatinya sangat berat untuk pergi?

“Young-ah,” panggil Luhan.

“Aku takut oppa akan lupa betapa seringnya aku bercerita tiap malam kepadamu. Aku takut aku akan lupa, dan menganggapmu orang lain lagi. Aku takut aku kesepian dan terbiasa tanpa dirimu,” ujar Young. “Aku sangat menyayangimu, oppa,”

Luhan menundukkan wajahnya. Ia tersenyum. Ia berusaha sekuat tenaga untuk tersenyum, untuk mengatakan kepada Young bahwa semuanya akan berjalan normal. Tapi kenapa matanya juga ikut basah? Kenapa sekarang semakin berat untuk meninggalkan rumah? Kenapa baru sekarang ia merasakan cinta dari orang-orang yang sangat menyayanginya? Kenapa ia hanya menunggu cinta dari ibu tirinya?

~~~

“Apa yang akan kau lakukan?” tanya YoonA pada Taeyeon, yang sedang membongkar lemari pakaiannya di dalam kamar asramanya.

“Aku akan membuat ibu Luhan membuka pintu hatinya lebar-lebar,” sahut Taeyeon. Ia menarik keluar sebuah bungkusan plastic berwarna merah muda dengan motif hati, cantik sekali. “Aku akan membuktikan pada ibu Luhan kalau Luhan benar-benar sangat menyayangi ibunya,”

“Ini… apa?” tanya YoonA, menunjuk bungkusan itu.

“Hadiah tertunda Luhan untuk ibunya. Aku merasa berdosa jika tidak memberikannya kepada ibu Luhan,” jawab Taeyeon. Ia memasukkan bungkusan plastik itu ke dalam tas ranselnya.

“Kalau begitu, sehabis pulang dari pemakaman ayahmu, kau akan langsung ke sana?” tanya YoonA.

“Aku akan mengantar ibuku kembali ke hotel dulu,” jawab Taeyeon.

“Jam berapa kau akan berangkat?” tanya YoonA.

“Mungkin sebentar lagi. Aku juga belum mandi. Kau datang ke kamarku pagi-pagi sekali,”

“Itu karena Jaejoong sunbae menunggumu di bawah. Kalau aku memberitahu dia kau belum berpakaian, bahkan belum mandi, kurasa dia akan membunuhku di tempat,” ujar YoonA.

“Katakan saja aku akan selesai lima belas menit la… NE?! Jaejoong…?”

Begitu Taeyeon mendapat kabar bahwa Jaejoong menunggunya di depan asrama perempuan, Taeyeon langsung berlari ke bawah hanya dengan menggunakan jaket dan celana tidur yang panjang. Ia tidak peduli dengan rambutnya yang awut-awutan.

“Sunbae,” panggil Taeyeon.

Jaejoong menoleh ke Taeyeon dan ia tersenyum manis sekali. “Kau sudah siap?”

“Apa… apa yang kau lakukan di sini? Kenapa…”

“Kau butuh tumpangan, ‘kan? Aku hadir untuk menjadi tumpanganmu. Ayo, sebelum ibumu menunggu lama,” ajak Jaejoong dengan senyum cerianya.

“Sunbae,” tegur Taeyeon. “Luhan, ‘kan? Sudah kubilang dia tidak perlu mencampuri urusanku lagi. Jika dia ingin benar-benar pergi, seharusnya dia tidak perlu memikirkan kondisiku lagi. Apa dia ingin membuatku semakin sulit?!”

“Taeyeon-ah,” panggil Jaejoong. “Sebagai kakak, aku harus siap menolongnya kapanpun dia minta, ‘kan? Sulit bagi Luhan untuk melupakanmu dengan begitu mudahnya, sesulit dia jatuh cinta pada orang lain selain dirimu,”

“Kalau begitu, sunbae. Bolehkah aku pergi ke rumahmu setelah acara pemakaman ini?”

“Tentu saja,” jawab Jaejoong dengan senyuman manis yang tepampang di wajahnya.

“Kalau begitu, aku akan bersiap dulu,” izin Taeyeon. Ia langsung lari ke kamar asramanya dan Jaejoong kembali menunggu di depan gedung. Awalnya ia ingin menunggu di ruang tunggunya saja, tapi banyak anak-anak perempuan yang mengintip ke arah Jaejoong, membuat ia malas untuk menunggu di sana.

Beep Beep Beep

Jaejoong langsung mengambil ponsel dari saku celananya dan membuka pesan singkat yang tertera di ponselnya. Dari Luhan.

 

From : Luhan

Hyung, gomawoyo. Hati-hati di jalan.

Jaejoong tersenyum membaca pesan itu. Adiknya, memang sangat mencintai  Taeyeon. Itulah alasan utamanya kenapa ia tidak ingin Luhan pergi.

-Flashback-

“Hyung,” panggil Luhan, saat Jaejoong hendak masuk kamarnya. Jaejoong memperhatikan wajah Luhan, yang terlihat sangat kusut dan tertekan.

“Ada apa?” tanya Jaejoong.

“Apakah kau bisa menolongku?” Luhan balik tanya.

“Taeyeonnie?”

“Ne. Bukan masalah yang besar. Aku hanya ingin kau mengantarnya ke pemakaman ayahnya. Hari ini adalah hari kematian ayah Taeyeon, hyung. Ibunya sedang sakit, tidak bisa terlalu banyak jalan, jadi aku… ingin kau menumpangi Taeyeon, sekali lagi,” jelas Luhan.

“Baiklah,” ujar Jaejoong sambil tersenyum manis kepada Luhan.

“Hyung,” panggil Luhan lagi.

“Ne?”

“Gamsahamnida,”

Jaejoong tersenyum kecil memandang Luhan. Ia melangkah mendekati adiknya dan memegang kedua pundaknya. Matanya menatap mata rusa Luhan. “Lu, kau tahu? Kau itu adikku. Kau sudah kuanggap adik kandungku. Young menyayangimu, aku lebih menyayangimu. Kau juga sangat menyayangi Young, ‘kan? Tapi kenapa kau malah tidak adil kepada kakakmu? Kau seperti tidak menganggapku kakakmu. Apa karena sikap kita yang berbeda? Memang banyak yang mengatakan hal seperti itu di sekolah. Kau tidak pantas jadi adikku. Tapi, ingatlah Lu. Kau tetap adikku. Jadi, berhentilah bersikap formal, dan anggap aku sebagai kakak kandungmu seperti kau menganggap Young-ie sebagai adik kecilmu,”

Luhan memandang mata Jaejoong dalam-dalam. Terdapat ketulusan di sana, ketulusan yang tidak dapat Luhan tolak.

Luhan tersenyum memandang Jaejoong. “Mianhae, hyung. Aku hanya merasa kalau aku memang tidak pantas jadi adikmu. Kau baik, dan… pengertian. Gomawo, jeongmal. Dan sekarang aku benar-benar jadi adikmu yang imut, bahkan mengalahkan Young,”

Jaejoong tertawa. Ia menepuk-nepuk pundak Luhan dengan agak kuat. “Baiklah, aku akan menitipkan salammu untuk Taeyeon besok,”

“Aniya,” sergah Luhan cepat. “Hyung, jangan sebut namaku lagi di depan Taeyeon. Dia tidak akan suka,”

Jaejoong diam. Ia menatap mata Luhan, yang tersenyum kecil, memohon pada Jaejoong.

-Flashback end-

Jaejoong menghembuskan nafasnya panjang seraya memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya. Tepat saat itu, Taeyeon sudah berada di hadapannya sambil membawa tas ransel yang kelihatan lumayan berat.

“Apa yang kau bawa?” tanya Jaejoong.

“Hal-hal yang diperlukan untuk pemakaman ayah,” jawab Taeyeon. “Untuk hari ini saja, aku akan sedikit merepotkan sunbae,”

“Gwaenchanna. Kau juga adikku. Sebentar lagi kau juga termasuk ke dalam keluargaku. Jadi, tidak perlu sungkan,” ujar Jaejoong sambil mengedipkan sebelah matanya.

Taeyeon menatap Jaejoong dengan pandangan tidak mengerti. Tapi dia hanya mengedikkan kedua bahunya.

“Kenapa sunbae tidak tunggu di ruang tunggu asrama?” tanya Taeyeon begitu mereka sudah dalam perjalanan menuju hotel ibu Taeyeon.

“Lebih mengasyikkan menunggu di luar,” jawab Jaejoong pendek.

“Aku tahu. Kau hanya tidak ingin jadi pusat perhatian para perempuan itu,” sahut Taeyeon. “Kapa sunbae bisa punya pacar kalau hatimu saja kau tutup?”

“Aku sudah membuka pintu hatiku lebar-lebar, kok,” jawab Jaejoong. “Tapi hanya untuk satu orang saja,”

“Nugu?” tanya Taeyeon penasaran.

“Kau tidak akan tahu orangnya. Aku mencintainya dari umurku sepuluh tahun. Cinta pertamaku dulu. Sampai sekarang masih terasa hangat. Aku tidak pernah melihatnya sejak pertama kali aku menemukannya di tengah jalan. Waktu itu hujan deras, aku berteduh sendirian di dalam box telepon dan aku melihatnya. Dia tengah asyik menatap seekor kupu-kupu warna kuning tanpa memerdulikan tubuhnya yang basah kuyup. Entah apa yang membuatku jatuh hati padanya, padahal kami belum pernah bertemu sebelumnya,” jelas Jaejoong sambil tersenyum lembut.

“Perempuan itu pasti sangan berarti sekali bagimu, sunbae. Kau tersenyum seperti itu untuk pertama kalinya sejak aku mengenalmu. Cinta pertama, pada pandangan pertama. Seperti kisah di drama-drama saja,” ujar Taeyeon. “Sudah delapan tahun kau menyukainya tapi tidak pernah bertemu dengannya. Apa kau tidak merasa jenuh?”

“Ani, karena aku terus menunggunya, berharap suatu hari nanti bisa bertemu dengannya. Aku percaya bisa bertemu. Aku terus menanamnya di hatiku dengan terus menggambarnya,” jawab Jaejoong.

“Aahh!” seru Taeyeon mendadak. “Jadi, yang selama ini kau gambar di buku adalah cinta pertamamu? Ne, aku baru ingat,” gumam Taeyeon.

Jaejoong hanya tersenyum menatap Taeyeon dan ia kembali fokus pada jalanan di depannya.

“Aku sangat berharap sunbae bisa cepat menemukannya. Perasaan sunbae sangat tulus untuknya. Dan aku begitu tersentuh,”

Dan setelah itu, mereka sama-sama diam selama perjalanan menuju hotel ibu Taeyeon. Fikiran mereka masing-masing terbang ke mana-mana. Taeyeon sibuk memikirkan apa yang harus ia katakan pada ibu Luhan dan akan seperti apa reaksinya. Sedangkan Jaejoong memikirkan cinta pertamanya, gadis kupu-kupunya.

Begitu mereka sampai di hotel ibu Taeyeon dan ibunya masuk ke dalam mobil Jaejoong, suasana di dalam mobil menjadi ramai karena ibunya yang selalu berceloteh mengenai Taeyeon. Awalnya ibunya mengira Jaejoong adalah pacar baru Taeyeon. Namun, semuanya di jelaskan oleh Taeyeon. Jaejoong memperkenalkan dirinya sebagai kakak ipar Taeyeon, membuat Taeyeon menatap tajam Jaejoong.

“Sunbae, apa kau ingin menunggu di dalam mobil? Tidak ingin di luar saja?” tanya Taeyeon, begitu mereka sampai di pemakaman sang ayah. Ibunya sedang menurunkan barang-barang untuk sesembahan sang ayah di bagasi mobil Jaejoong.

“Aku akan menunggu disini, tidak apa-apa,” jawab Jaejoong.

Taeyeon mengangguk dan dia langsung pergi menuju pemakaman ayahnya bersama dengan ibunya.

~~~

“Ne? eonni mau datang ke rumah? Jinjja? Waah, aku senang sekali. Aku menunggu kedatangan dirimu, eonni sejak kemarin,” seru Young di kamarnya, saat ia menerima telepon dari Taeyeon.

“Aku ingin bertemu dengan ahjumma,” jawab Taeyeon.

“Eoh, eomma ada di rumah. Keundae, Luhan oppa sedang pergi bersama ayah ke suatu tempat eonni,”

“Gwaenchanna, aku hanya ingin bertemu dengan ahjumma saja. Kalau begitu, sampai bertemu di rumah, Young-ie. Annyeong,”

“Annyeong,”

Young langsung memutuskan sambungan teleponnya dan segera turun untuk menemui ibunya di ruang keluarga. Ibunya sedang asyik membaca sebuah majalah ketika Young menghampirinya.

“Eomma, Taeyeon eonni akan segera datang bersama Jaejoong oppa,” lapor Young.

“Jinjja? Apaka setelah putus dengan Luhan, Jaejoong berniat mendekati Taeyeon?” tanya Nyonya Kim. Ia menutup majalahnya dan menatap Young.

“Aniya. Aku rasa dia ingin menghentikan Luhan oppa untuk pergi. Taeyeon eonni sangat mencintai Lu ge, eomma. Tidak mungkin dia mengkhianati Luhan oppa,”

“Tapi mereka sudah putus, ‘kan? Luhan tidak mungkin bisa menjaga Taeyeon dengan jarak mereka yang jauh. Gadis sebaik Taeyeon harus dijaga sebaik mungkin. Dan Jaejoong adalah pilihan yang tepat,”

“Ani. Jaejoong oppa tidak akan beralih dari cinta pertamanya. Aku sangat mengenal Jae oppa, eomma,” sergah Young. “Walaupun mereka putus, Taeyeon eonni pasti tidak ingin merelakan kepergian Luhan oppa. Dan begitu Luhan oppa melihat Taeyeon eonni yang ingin mempertahankannya, Lu ge tidak akan pergi,”

“Kau terlalu banyak nonton drama, aegi. Luhan sudah menetapkan hatinya untuk tinggal di China, semuanya sudah beres. Dia hanya tinggal pergi saja besok,”

“Dan apakah ibu sama sekali tidak merasa terbebani?” tanya Young, mendadak suara dan raut wajahnya menjadi sedih. “Apa hati ibu juga tidak berubah? Tidak melunak juga dengan Luhan oppa? Sampai kapan ibu akan mengasingkan dirinya? Sejujurnya, eomma. Yang bisa menghentikan kepergiannya adalah ibu sendiri. Cintanya kepada ibu akan membuat Lu ge membatalkan kepergiannya. Aku yang mengatakan ‘tolong jangan pergi’ sampai ratusan kali, pun Lu ge tidak akan dengar. Tapi dengan sekali ucapan dari ibu, aku yakin Lu ge akan bertahan di sini,”

Mendengar ucapan Young membuat Nyonya Xi diam. Ia mengalihkan tatapannya dari Young dan lebih memilih melihat ke luar jendela.

“Dan aku tahu, ibu tahu kalau Luhan oppa juga mencintai ibu seperti aku dan Jaejoong oppa mencintai ibu,” tambah Young.

Nyonya Xi hanya diam. Fikirannya melayang entah ke mana. Dan tiba-tiba saja, relung hatinya merasa sakit ketika ia mengingat wajah anak tirinya itu. Wajah Luhan.

Beberapa detik kemudian terdengar suara deru mesin di depan rumah mereka.

“Sepertinya itu Jaejoong oppa dan Taeyeon eonni,” sahut Young.

Benar saja. Beberapa menit kemudian, pintu rumah terbuka dan masuklah Jaejoong, di belakangnya Taeyeon, yang membawa sebuah bingkisan cantik berwarna merah muda.

“Oppa! Yeogi,” ujar Young. Ia melambaikan tangannya kepada Jaejoong.

Jaejoong tersenyum. Ia menatap Taeyeon dan mempersilakannya untuk melangkah duluan. Taeyeon menganggukkan kepalanya dan ia menghampiri Young dan Nyonya Xi, yang sudah berdiri menyambut kedatangan Taeyeon.

“Taeyeon-ah,” sapa Nyonya Xi sambil memeluk Taeyeon, seperti seorang ibu memeluk anaknya sendiri.

Taeyeon balas memeluk Nyonya Xi. “Ahjumma. Annyeonghaseyo,”

“Eonni,” sapa Young, dan ia ikut memeluk Taeyeon, yang sudah melepaskan diri dari pelukan Nyonya Xi.

“Annyeong, Young-ie. Apa kau merindukanku? Kau kelihatan senang saat tahu aku akan datang,” ujar Taeyeon setenga bercanda.

“Tentu saja,” jawab Young. “Aku merasa butuh kehadiranmu setelah kejadian tidak mengenakkan mengenai Luhan oppa,”

Taeyeon diam. Matanya dan mata Nyonya Xi bertemu.

“Taeyeon-ah, duduklah. Supaya obrolan kita semakin enak,” ujar Nyonya Xi dengan senyuman manisnya.

Taeyeon mengangguk. Ia duduk di samping Young, sedangkan Nyonya Xi dan Jaejoong duduk di hadapan mereka.

“Di mana ibumu? Bukannya kalian memperingati kematian ayahmu bersama-sama?” tanya Nyonya Xi.

“Ne, tapi hari ini dia juga akan kembali ke Jepang, ahjumma. Setelah bersiap-siap sebentar di hotel, dia akan langsung terbang,” jawab Taeyeon.

“Omo, kenapa begitu cepat?”

“Kenapa kau begitu cepat memutuskan hubunganmu dengan Luhan oppa, eonni? Apa kau takut hubungan jarak jauh?” tanya Young langsung, yang membuat Taeyeon sedikit terkejut dan ia menatap Young dengan pandangan bersalah.

“Youngie-ah,” tegur Nyonya Xi pelan.

“Bukan aku yang mengakhirinya, Young-ie. Kakakmu yang mengakhirinya. Hanya karena ia harus pindah,” jawab Taeyeon sedih.

“Eonni, tidak akan membiarkan Luhan oppa pergi, ‘kan? Eonni tetap ingin dia di sini, ‘kan?”

“Young-ie, kau hanya akan membuat Taeyeon eonni semakin sedih. Luhan-ah, sudah memantapkan hatinya, Taeyeon-ah. Semua sudah dipersiapkan oleh ayahnya. Mianhae, Taeyeon-ah. Kau sampai harus datang ke sini. Kau pasti benar-benar tidak ingin dia pergi. Tapi, memang sudah tidak ada yang bisa menentang kepergiannya lagi,” sahut Nyonya Xi.

“Ahjumma,” panggil Taeyeon pelan. “Kepergian Luhan memang sudah tidak bisa di hentikan lagi. Tapi, Luhan tidak benar-benar ingin pergi dari China, ahjumma. Walaupun aku yang melarangnya, tetap saja dia akan pergi. Dia tidak akan pergi sebelum kau yang melarangnya, ahjumma,”

“Taeyeon-ah,” sahut Nyonya Xi.

Taeyeon bangkit berdiri dari sofa. Ia menatap Nyonya Xi dalam-dalam dengan pandangan memohon. Lalu, kedua tangannya menyerahkan bingkisan cantik itu ke hadapan Nyonya Xi. Nyonya Xi, dengan perlahan-lahan menerima bingkisan itu sambil menatap Taeyeon dengan penasaran.

“Ige… mwoya?” tanya Nyonya Xi pelan.

Taeyeon membungkukkan badannya, di hadapan Nyonya Xi. Lalu, wajahnya kembali terangkat. Nyonya Xi, Jaejoong, dan Young kaget begitu melihat Taeyeon yang menitikkan air matanya.

“Ahjumma, tolong terimalah. Hadiah penuh cinta dari Luhan untukmu. Tolong terimalah untuk sekali ini,”

 

-To Be Continued-

Allohaaaa~ I’m back

hehehee miaaann buat my readers yang setia, yang unyuuuu. Mian karena kalian udah nunggu lamaaaa banget buat FF ngga karuan ini. Maklum, selain sibuk, aku juga lagi sedih beraaaaaatttttt T.T hiks kalian pasti tau apa penyebabnya. Oke, ngga perlu dibahas. Aku rindu banget sama si rusa, makanya nulis FF ini. Ehh, begitu nulis, entah kenapa nge-blank­. Butuh waktu lama memang mengerjakannya, dan hasilnya kurang memuaskan. Mian readerssssssss hiksssss. Dan terkadang aku bingung juga, apa aku harus kembali aktif nulis FF? karena, yang dapet feel banget itu yang pake Luhannya*?* aku juga ngga tau deeehhh hueeeeeeee#authorcengeng

Sekian deehh~ Readers setiaku pasti mau kirim kritik dan sarannya T.T

Preview (Chapter 10)

“Luhan,”

“Tunggu aku, arraseo? Kau akan menungguku, ‘kan?”

Luhan memeluk erat gadis itu, gadis yang amat sangat dicintainya. Gadis yang sangat dirindukannya. “Jangan lepaskan,” isak Taeyeon di dalam pelukan namja itu.  

“Kumohon, jangan pisahkan kami,”

Tidak terasa, air mata Luhan sudah membanjiri wajahnya. Entah apa yang kini harus ia rasakan. Bahkan menggerakkan kakinya saja ia tidak sanggup.  

“Tolong jawab aku. Apakah ini benar-benar kau? Gadis kecil yang kutemui delapan tahun yang lalu, di depan box telepon?”

~Preview end ~

Advertisements

182 comments on “Ma Boy~ (Chapter 9)

  1. akhirnya dapet ff lutae yang menguras juga di beberapa part bikin air mata jatuh tanpa sengaja, maaf ya authornim baru komen d the last ini karen angebaca langsung seabrek, fighting authornim oia ff yang flower boss itu juga lanjutin ya….

  2. Huaaaaaaaaa akhirnya sempet baca juga hiks;; rada kecewa wkt tau chapt 10 di protect, nah its okay tp
    Kependekan juga thor;;
    Tapi daebak ah thorr, good job!!❤

  3. Jebaal jangan pisahkan merekaa 😦 *mewek* hiks please aku pengennya mereka bersama & bahagia… Penasaran next chapter nya>,< makin bikin penasaran dan feel nya dapet banget nih thor

  4. Huwaaa authorrr cepet lanjut /ngotot/penasaran ma gadis yg dilihat daru box itu >< luhan don't go/? Tetap lah bersama Taeyeon !! /ngotot/ keren author cepet lanjut ne

  5. wahh thor kereen aku suka ff ini. nguras air mata thor. apalagi aku suka ff lutae jadi feelnya dapat banget
    oh ya thor ini sbnrnya sy baca dari part 1-9 tapi komennya di part 9 aja biar sekalian 😀

    Ini benar2 ff favoritku thor dengan pairing lutaee >,<

  6. Aku udah baca dari chapter pertama dan baru komen di chapter ini karena emang aku baru nemu ff nya hoho
    suka thor sama gaya tulisan nya, mudah dicerna jadi bisa sambil di bayangin wkwkw lanjutan nya di protect ya? minta passwordnya dong thor :’) btw good job ya thor! dimanakah saya bisa menemukan karya2 mu lagi?hehe

  7. Bener deh thor, ini cerita menguras tenaga banget :”(
    Air mataku gak bisa berhenti ngalir gara2 ni cerita. Apalagi aku jg jd kangen ma luhan 😭
    Aku bener2 lambat ketemu sama ff bagus ini. Nyesel banget 😢
    Fighting thor! Izinin aku buat jdi fansmu ya thor! ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s