Pollux [2 : Snow Day]

pollux

|| Vevo Proudly Present ||

Title : Pollux

Author : ViRadita

Rating : PG-15

Genre : Romance, Friendship, School-life, Sad, Hurt

Lenght : Multichapter

Cast : Kim Taeyeon and Xi Luhan

Other cast : Tiffany Hwang and Jessica Jung

Deslaimer : This story is real made by me, Do not plagiarisme or share withour credit,  all the cast has owned by Jesus, They parents, also SM Town

A/N : This is the second Chapter ! I hope this chapter will reach 100 comment 😀 So please help us and help me 😀

SORRY FOR TYPO  DAN MAAF KALAU TERLALU PENDEK, JADI MOHON DI MAKLUMI !

 

[Chapter 1]

 

Taeyeon’s POV

 

Aku mengerjap-ngerjapkan mataku dan melihat langit kamarku. Pukul 18:00. Aku beranjak dari tempat tidurku menuju jendela. Mataku terbelalak melihat salju turun. Salju ? Benar, aku lupa kalau bulan ini sampai beberapa bulan kedepan terjadi hujan salju. Jika sudah begini, sekolah sudah pasti diliburkan.

Dingin, Itu yang kurasakan saat ini. Aku pergi menuju kamar mandi untuk membasuh diri lalu mengenakan celana panjang, sweater, serta syal. Rambutku ku biarkan tergerai karena jika aku kuncir, leherku menjadi dingin karena tidak tertutupi rambut. Aku lupa memberitahu pada kalian bahwa saat hujan salju, aku akan pergi ke panti asuhan pada malam hari untuk menghibur anak-anak disana. Itu sudah menjadi kebiasaanku sejak dulu. Aku mengambil gitar akustik ku dan bergegas turun.

” Kau berangkat sekarang ? ” tanya Kak Bert. Aku mengangguk.

” Kalau papa sama mama sudah pulang, bilangin aja kalau aku lagi ada acara sama teman. Aku nggak pulang malam kok ” jelasku sambil memakai sepatu.

” Arra, jangan berbuat aneh-aneh ” ujar Kak Bert. Aku mengangguk.

” Aku pergi ” pamitku lalu bergegas keluar rumah.

Aku cukup berjalan kaki saja karena kebetulan rumah panti asuhan itu tidak begitu jauh dari rumahku. Jalanan belum penuh dengan salju, tapi udara nya sudah sedingin ini. Aku berdiri didepan pintu rumah panti asuhan itu dan menekan tombol bel. Panti asuhan ini bisa dibilang cukup mewah. Rumahnya seperti rumah sendiri.

 

CKLEK~

 

Mataku terbelalak seketika.

” Taeyeon-ssi ? Mau apa malam-malam kesini ? tanya Luhan.

” Aku sering bermain malam hari disini. Apalagi saat salju. Aku hanya ingin menghibur anak-anak. Kau ? Untuk apa kau disini ? ” tanyaku. Tiba-tiba saja Luhan tertawa. Aku mengerutkan kening heran. Apa aku salah bertanya ?!

” Panti asuhan ini milik bibiku dan aku tinggal bersama bibiku ” jawab Luhan yang sukses membuatku hampir menjerit. Hening. Aku masih terdiam. Mengapa bibi tak memberitahu padaku ?! Aish !

” Ya ! Kau bilang kau ingin menghibur anak-anak ?! Mau masuk tidak ? ” ujar Luhan membuyarkan lamunanku. Aku mengangguk dan segera menuju taman belakang. Aku sangat tahu kebiasaan anak-anak jika hujan salju, mereka akn bermain di taman belakang.

” Taeyeon eonni !! ” aku mendengar mereka menjerit ketika aku datang.

” Hei ! Bagaimana kabar kalian semua ? Aku rindu dengan kalian semua ” ujarku memeluk mereka.

” Aku juga rindu dengan Taeyeon eonni ” ujar salah satu dari mereka. Aku melepaskan pelukanku dan tersenyum lalu duduk dibangku taman.

” Ngapain saja kalau tidak ada aku ? ” tanyaku.

” Tidak ada. Hanya bermain dengan Luhan oppa ” jawab gadis bernama Hwang Seun itu. Hwang Seun adalah anak yang paling dekat denganku. Aku menengok sekilas ke arah Luhan yang menyenderkan lengan kirinya pada tiang lampu.

” Dimana bibi ? ” tanyaku.

” Ia sedang pergi karena ada urusan sebentar ” jawab Luhan lalu menghampiriku dan duduk disebelahku.

” Lu oppa, kau ikut bermain dengan kita dan Taeyeon eonni kan ? ” tanya Hwang Seun. Aku membelalakan mata. Luhan menatapku bertanya. Sepertinya ia meminta izin.

” Kalau kau ikut ya silahkan saja ” ujarku pelan.

” Baiklah karena ini permintaan kalian dan Taeyeon eonni mengizinkan, maka aku akan ikut ” ujar Luhan sembari mencubit pipi Hwang Seun. Aku jadi ingin ikut mencubit pipinya.

” Lu oppa ! Appo ! ” seru Hwang Seun.

 

PLASH~

 

Bola salju berhasil mendarat dipipiku. Itu sedikit merintih kesakitan. Aku melihan Seung In tertawa.

” Seung In-ahh ! Kau mengajak ku perang ! ” seruku lalu mengambil bola salju dan melemparkannya balik. Niat jahilku muncul setelahnya. Aku mengambil bola salju dan melemparkannya tepat dikepala Luhan. Aku tertawa keras.

” Aish ! Neo jinjja ! Rasakan ini ! ” timpal Luhan lalu melemparkan bola saljunya padaku. Damn ! Tepat dikeningku. Dingin sekali. Kesal. Itu yang kurasakan. Tentu saja, saat ini anak-anak menertawakanku. Aku mendegus dan mengambil bela salju dengan ukuran lebih besar dari sebelumnya lalu melemparkan ke anak-anak itu. Alhasil, kita perang salju bersama.

” Cukup ! Aku sudah lelah ” ujarku lalu duduk.

” Taeyeon eonni, kau sakit ? ” tanya Seung In. Aku menggeleng.

” Ani, aku hanya lelah ” jawabku sambil tersenyum.

” Kau sakit ? ” tanya Luhan tiba-tiba duduk disebelahku. Aku menggeleng keras. Punggung tangan Luhan menyentuh keningku dan leherku. Damn ! Kenapa jantungku berdetak tak karuan begini ?!

” Kau sakit babo ! Kalau kau tak kuat udara dingin, lebih baik tak perlu memaksakan diri ” ujar Luhan.

” Aku tak biasanya seperti ini kok ” ujarku.

” Taeng eonni sakit ? Kalau begitu Taeyeon eonni pulang saja ” ujar Hwang Seun.

” Ani. Aku masih ingin disini bersama kalian disini ” ujarku.

” Kau yakin ? ” tanya Luhan. Aku mengangguk. Luhan tampak berpikir.

” Baiklah, kalau kau masih ingin bermain anak-anak, main didalam saja, diluar sini udara dingin ” ujar Luhan.

” Lu oppa ! Itu tidak akan seru ! ” keluh anak-anak.

” Kalau tidak mau maka Taeyeon eonni harus pulang ” ujar Luhan.

” Gwenchana, kita main didalam saja ” ujarku lalu berdiri dan mengambil gitar akustikku yang tasnya sudah terlumuri salju. Aku meyuruh anak-anak untuk masuk terlebih dahulu lalu disusul aku dan Luhan. Aku duduk di sofa empuk yang ada disana.

” Eonni, cepat mainkan gitarnya ! ” seru Hwang Seun. Aku tersenyum kecil.

” Kau membawa gitar ? Mengapa aku tak melihatnya ” ujar Luhan.

” Kau sibuk sendiri, sih ” ujarku lalu mulai memetik senar gitarku. Aku menyanyikan lagu khusus untuk hari bersalju pertama ini. Lagu milik Ariana Grande yaitu Snow in California. Aku mulai bernyanyi tanpa ragu meski awalnya aku malas karena ada Luhan, tapi aku tak mau mengecewakan anak-anak.

 

I don’t need another gift

I just have one wish

This year, can you

Just make it snow in california

I’ll even settle for rain

Don’t want him to go tomorrow morning

Give something to make him stay

Wrapped in his arms by the fireplace

Will be the perfect gift

Let it snow, let it snow, let it snow

Let it snow in california

 

” Whoaa !! Suara eonni tidak berubah. Tetap membuatku terpesona ! ” ujar Seung In, aku tertawa kecil.

” Suara yang indah ” ujar Luhan sambil tersenyum.

” Gomawo ” ujarku ikut tersenyum. Sedetik kemudian aku menyodorkan gitarku pada Luhan. Ia mngerutkan keningnya. Aku serasa ingin tertawa melihat ekspresinya.

” Untuk apa ? ” tanya Luhan.

” Bermainlah. Kau bilang kau bisa bermain gitar ” jawabku. Beberapa detik kemudia Luhan mengambilnya.

” Aku yang bermain, kau yang bernyanyi. Deal ? ” tanya Luhan.

” Baiklah ” jawabku. Aku menyanyikan lagi Piano miliki Ariana Grande

 

And I could sing about cupid and his shooting arrow

In the end, you’ll find out that my heart was battered

Real hard (Real hard)

It’s so hard (So hard)

Real hard (Real hard)

It’s that hard (It’s that hard)

But I rather make a song they can play on the radio

That makes you wanna dance

Don’t it make you wanna dance

But I rather make a song they can play on the radio

That makes you wanna grab your lover’s hand

 

” Kerenn !! Ayo la- ”

 

TING TUNG~

 

” Biar aku yang buka ” ujar Luhan lalu menyerahkan gitar itu padaku. Aku menengok. Bibi. Itu Bibi. !

” Bibi ! ” aku berlari menghampirinya dan memeluknya.

” Aigoo, kid Taeng ! Bagimana kabarmu, Nak ? Lama tak bertemu ” ujar Bibi membalas pelukanku.

” Aku baik-baik saja, Bi. Bagaimana dengan Bibi ? ” tanyaku.

” Baik-baik saja. Oh, kau sudah kenal dengan Luhan ? ” tanya Bibi. Aku mengangguk.

” Satu kelas dengannya, Bi ” ujarku. Bibi mengangguk lalu menoleh ke jam di dinding.

” Ank-anak, ini sudah waktunya tidur. Ayo pergi ke kamar kalian masing-masing ” ujar Bibi pada anak-anak.

” Shireo ! Kami masih ingin bermain dengan Taeyeon eonni ” ujar anak-anak. Aku menggeleng pelan lalu menghampirinya.

” Kalian tidurlah. Tenang saja, besok aku akan kemari lagi membawa masakanku untuk kalian ” ujarku membujuk mereka.

” Benar ? ” tanya mereka memastikan. Aku mengangguk. Lalu akhirnya mereka berjalan menuju kamar mereka masing-masing kamar. Bibi duduk disopa tempatku tadi duduk, aku duduk di sebelahnya.

” Bagaimana kabar ayah, ibu, dan Bert ? ” tanya Bibi.

” Sangat bai, Bi. Umm, Bibi kenapa tidak pernah menceritakan padaku kalau Luhan tinggal disini ? ” tanyaku.

” Kau mengharapkan sekali ya ? ” canda Luhan membuatku kesal.

” Aku hanya bertanya ! ” kesalku. Bibi tertawa kecil.

” Bibi sebenarnya mau menceritakan padamu saat itu, tapi Luhan tidak mau dirinya diceritakan oleh siapapun, jadi Bibi diam saja ” ujar Bibi. Aku menengok sekilas ke arah Luhan.

” It’s privacy and I don’t want anyone know about me ” ujar Luhan.

” Uh-oh, i know. It’s because you’re a bad guy, so you won’t anyone know about you ” cibirku.

” I don’t need pout like that. Look at you, you’re a bad girl ” cibir Luhan. Aku semakin dibuat kesal olehnya.

” Luhan sudahlah. Taeyeon, kau sepertinya harus pulang sekarang. Aku yakin ayah dan ibu mu sudah pulang ” ujar Bibi. Aku mengangguk.

” Luhan, kau antarkan Taeyeon ” aku membelalakan mataku.

” Bibi, itu tidak perlu, rumahku dengan panti kan dekat ” bantahku.

” Ani. Tetap tidak baik jika seorang yeoja pulang sendirian. Apalagi ini sudah larut malam ” ujar Bibi. Aku menghela nafas kasar.

” Luhan ! Cepatlah ! Mengapa kau diam saja disitu ?! ” sentak Bibi pada Luhan. Aku nyaris tertawa.

” Iya-iya ” keluh Luhan lalu berjalan mendahului aku.

” Aku pulang dulu, Bi. Annyeong ” ujarku lalu melambaikan tangan padanya.

” Dimana rumahmu ? ” tanya Luhan sebelum keluar dari gerbang.

” Dekat kok. Berjalan dari sini kerumahku hanya setengah jam ” jawabku.

” Setengah jam ?! itukah yang kau sebut dekat ?! Yang benar saja ” ujar Luhan lalu masuk kembali kedalam rumah. Aku mengerutkan kening. Tak lama kemudian, Luhan kembali muncul.

” Cepat masuk ” ujar Luhan.

” Untuk apa menggunakan mobil ? Berjalan kaki saja sudah cukup ” ujarku.

” Kau mau kaki ku keseleo hanya karena berjalan dari sini kerumahmu ?! Sudah cepat masuk, lagipula akan lebih cepat sampai ” ujar Luhan. Aku mendengus kesal lalu masuk.

” Pasang sitbelt mu, aku akan mengebut mumpung jalanan sepi ” ujar Luhan.

” Apa ?! Kau jangan membuat aku jantungan ! Kalau aku mati bagaimana ?! ” ketusku.

” Mati ya matilah ! Gitu aja kok repot ” ujar Luhan membuatku kesal. Aku memukul lengannya keras.

” Yak ! Appo ! ” ringis Luhan.

” Aku sedang serius kau malah bercanda ! Jika ada apa-apa denganku, akan ku adukan bibi ! ” ketusku lalu melipat tanganku di bawah dada.

” Mulut ember banget sih kamu. Dikit-dikit marah ” ujar Luhan sambil menjalankan mobilnya. Aku malas mendengar celotehannya, jadi aku memilih menyumpali telingaku dengan headseat dan memutar lagi yang ada di iPodku sampai aku tak sadar aku tertidur dengan pulasnya.

 

 

 

 

TBC~

Gaje, PENDEK, Singkat, Padat !

Terserah deh kalian mau bilang atau pendek :3 bagiku ini udah panjang soalnya :3

Tapi apapun tanggapan, kritikan, dan saran kalian akan saya terima dengan lapang dada dan dengan senang hati 😀

Next ? Vomment 20+

Advertisements

58 comments on “Pollux [2 : Snow Day]

  1. Pingback: Pollux [3 : Getting Close to Him] | All The Stories Is Taeyeon's

  2. Lol si luhan kaya ‘mau bgt dikasi tau’ wakakka
    Lucu deh Lutae, walaupun emg agak kecepetan sih, tp gapapa biar ga kelamaan jg/? Wks
    Nice thor, good job

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s