Sakura love Chap 4B

sakura-love

Tittle: Sakura Love
Length: Chapter
Chapter: 5
Genre: Hurt, Sad, and Romance
Main Cast: Taeyeon, Luhan, Baekhyun and YoonaSupport Cast: Find By your self!
Disclaimer: Hello all! Sinhyo balik dengan kelanjutan salah satu ffku yang kukategorikan menjadi FF paling draatis yang pernah sinhyo buat #EAaakkkk Kumohon commentnya yaa.. Pengen deh ada 100 lebihan orang yang baca ff sinhyoo, sayang belum pernah kesampean wkwkwk #Sinhyorapopo kumohon commentnya yaa, jangan lupa likenya juga areaders-readers kuhhh yang ketjeh badaiii!Mian klo ada typo nama, karena aku pernah post ff ini dengan cast berbeda.. Let’s start aja dehh…

HAPPY READING
Chapter sebelumnya…
Aku memasuki mobilku, kemudian segera mengeluarkan ponsel fuscia kesayanganku dari tas.
“Yeoboseyo..” Ucapku membuka telewicara.
“Ne..” Ucap namja disebrang telefon.
“Aku punya tugas untukmu agen X, segera kerumahku malam ini. Kalau kau berhasil, kau akun jadi kaya raya..” Ucapku kemudian mengeluarkan smirk .
“Baiklah..”Ucapnya singkat dan mematikan telfon.

Author POV
Seorang namja yang baru saja Yoona telfon, segera menarik nafasnya berat.
“Tugas apa lagi yang akan gadis cantik ini berikan kepadaku?? Ia layak serigala berbulu domba!” Dengus namja itu bingung, ia tengah memanaskan mobilnya.
Sekitar 3 menit agak menunggu dengan tak sabaran, akhirnya ia menancap gas menuju rumah Yoona yang tak begitu jauh dari rumahnya.
Biarku (author yang berbicara) perkenalkan terlebih dahulu namja ini. Ia adalah seorang pembunuh bayaran, seorang mafia bisa dibilang. Terkadang teroris juga pekerjaannya, namun ia berbeda, ia juga orang pintar, lulus dari kuliahnya denga nilai memuaskan. Hanya saja ia tak memanfaatkan otaknya untuk melakukan hal-hal yang bermanfaatan dan berguna bagi sesama.
Bahkan sudah tak terhitung berapa kasus yang ia jalani, bayaran yang ia dapatkan, serta peluru yang telah ia tembakkan. Siapapun orang yang melihatnya tak akan mengira dia adalah mafia, teroris, pembunuh dan hal lain sebagainya. Sebab ia pintar sekali berakting, didukung juga dengan wajahnya yang tampan.
Namja itu kini tengah memarkirkan mobil sedan hitamnya dipekarangan rumah yeoja cantik ini. Lekas ia turun setelah mematikan mesin mobil. Lelaki itu berjalan menuju pintu kayu sang pemilik rumah kemudian menekan bel yang terdapat disebelah kanan pintu itu.
TING TONG
Terdengar suara bel yang menggema dari dalam, seorang yeoja membuka pintu. Yang tidak lain dan tidak bukan itu adalah sang penelfon, Im yoona.
“Jadi tugas apa lagi yang kau ingin berikan? Berapa upahnya?” Tanya namja itu tak sabaran.
“Masuklah dulu, tidak mungkin kita membicarakannya didepan sini.” Balas Yoona Gerang dengan mata yang melotot.
Namja itu hanya mengangguk dan mendengus kasar, memang begini sifat seorang pembunuh bayaran.
Mereka pun segera masuk kedalam rumah, kemudian segera duduk diruang tamu bernuansa merah tepat ditengah rumah milik Yoona yang super duper mewah diJepang itu.
“Ya apa masalahnya?? Cepatlah masih banyak kasus yang harus kuurusi.” Lontar namja itu dengan dingin.
“Huh.. Kau tidak niat sekali, yaa mungkin itu memang si…”
“Sudah cepat!” Serobot namja itu yang kini tengah memutar bola matanya jutek.
“Baiklah! Bunuh gadis yang kau tabrak 2 bulan yang lalu itu, dipernikahanku dengan Baekhyun! Upah?? Tiga kali lipat dari waktu lampau saat kau menabraknya.”Jelas Yoona yang diakhiri smirk super evil.
“Baik! Tapi aku harus mengetahui kelemahan gadis itu dulu. Aku butuh foto dan namanya karena waktu lampau aku tidak sempat melihat wajah yeoja itu.” Terang namja itu.
“Tenang sudah kusiapkan!” Yoona merogoh isi laci dimeja ruang tamu tersebut dan kemudian menyodorkan map cokelat.
Agen X mengambil map cokelat itu kemudian membukanya dan menarik selembar kertas berisi biodata yeoja incaran pembunuhannya.
“Hmmm… Kim Taeyeon, paras imut dan manis, tubuh kecil tinggi 162?, haha. Gadis mungil seperti ini? Mudah sekali.” Ucapnya enteng dengan wajah yang mengartikan bahwa ini hanya seperti mematahkan tusuk gigi.
“Baguslah kalau begitu!” Balas Yoona singkat.
“Tapi sebentar, dengan cara apa Baekhyun bisa mau menikahimu??” Tanyanya bingung menaikan alis.
“Itu urusanku…” Smirk Yoona lagi, untuk kedua kalinya.
“Kau memang gadis yang licik.” Puji Namja itu ikut mengeluarkan smirknya yang tajam.
Agen X POV
Sekitar setengah jam aku berbincang lama dirumah yeoja cantik super licik itu. AKu bingung, bagaimana bisa manusia berwajah malaikat sepertinya melakukan hal yang super keji seperti ini, bukankah? Itu suatu hal yang super aneh dan tidak dapat dimengerti.
Jika kupakai perasaan naluri manusia ku. Aku pasti akan berpihak pada yeoja mungil itu, hmmm siapa namanya?? Ah ya! Taeyeon… Dari fotonya kulihat ia gadis yang ceria dan sungguh manis. Mungkinkah aku tega membunuhnya.
Itu hal yang tak perlu ditanyakan, tentu saja aku tega membunuhnya. Karena aku adalah seorang pembunuh bayaran professional yang tak pandang jenis, cantik, tampan, kaya, miskin dan sebagainya. Intinya aku akan mendapat upah besar.
Apa kalian bertanya-tanya? Bagaiman ceritanya aku seorang sarjana, yang sudah pernah menjadi ketua osis 4 tahun berturut-turut di SMP dan SMA ku, yang selalu meraih peringkat satu, dan menjadi pujian banyak orang atas kerendahan hati dan kesopanan ku pada siapapun dan kapanpun pun dan dimana pun aku berada?
Tidakkah masuk akal, seorang seperti ku malah jatuh kesebuah lubang yang malah menjerumuskanku pada pembunuhan, pemboman, pencurian, pembakaran dan hal sejenisnya. Tidak wajar bukan? Jangan kalian pikir aku tidak pernah memikirkannya. Aku selalu memikirkannya, selalu mencoba menginteropeksi diriku yang sudah hancur sejak 4 tahun silam.
Seringkali kubertanya, sebab apa aku begini?? Aku tau diriku, aku mudah bergaul dan mudah juga terjerumus dan mengikuti peralihan-peralihan jaman yang dipenuhi nafsu serta kebodohan. Beginilah akhirnya, harus ku akui bahwa aku sekarang seorang manusia yang bejat dan tidak berperikemanusian. Menembakkan peluru, membakar bank, bahkan menusukkan belati kepada pejabat-pejabat penting, dan tidak pernah tertangkap.Menakjubkan bukan?
Aku tinggal sendiri, aku adalah namja berdarah Korea yang menghabiskan hidupku diJepang, entah dengan alasan apa. Eomma, Appa?? Aku tak pernah tau mereka sejak lahir. Tragis memang, tapi semasa aku hidup, aku tak pernah mengeluhkan hal-hal semacam itu. Tepatnya tidak begitu peduli!Kurasa terlalu lama berbincang mengenai aku, yaa sekiranya salam kenal dari agen X.
Kini aku tengah memandangi foto yeoja incaran pembunuhanku itu. Parasnya manis sekali, mengingatkanku dengan jonyang (OC) yeoja chinguku yang meninggal 5 tahun silam. Mungkin jika aku bukan pembunuh bayaran professional aku tak akan mampu membunuh seseorang yang persis sama dengan yeoja chingunya yang kini telah tiada.Bedanya yeoja yang satu ini memiliki senyum yang bahkan seribu kali lebih indah dari milik jonyang.
Sudahlah, tak usah kupikirkan hanya membuat dadaku sesak kembali mengingat jonyang. Lebih baik aku bermain video game.

Matahari tengah meluncur dari singgasananya menapakkan cahaya nanelok berwarna oranye yang terkesan sejuk dan mendamaikan. Aku tengah beranjak dari tidurku yang hanya 3 jam, kuhabiskan malam dengan bermain video game dan bermabuk-mabukkan dirumah. Itulah pekerjaan seorang pembunuhan bayaran jika tidak mempunyai hal untuk dikerjakan.
Tapi pagi ini banyak sekali hal yang aku harus kerjakan. Mengintai Kim Taeyeon. Seseorang harus tau dulu kelemahan mangsanya jika ingin membunuh. Haruskah menggunakan senjata ini atau ini dan serba-serbi lainnya.
Kupanaskan mobilku setelah usai mandi dan sarapan pagi. Jangan kalian pikir pekerja sepertiku, kumel, menjijikan dan tidak terurus. Aku ini bersih, wangi terlihat seperti orang penting dan sejenisnya. Maka itu jarang sekali orang menyadari bahwa aku pelaku kejahatan.
Kutancap gas mobilku menuju rumah Luhan dan Baekhyun dimana Taeyeon berada. Kususuri jalan kota yang ramai dipenuhi masyarakat Tokyo yang tengah menjalani hari mereka. Hingga ku temukan rumah mewah di ujung jalan raya tempat dimana Taeyeon berada. Kuparkirkan mobil sedan hitam ku jauh di café sebrang jalan rumah itu. Agar tak mengundang pertanyaan sipenghuni rumah akan kehendak apa orang tak dikenal seperti ku berada diluar rumahnya.
Kemudian aku berjalan menuju lampu merah didepan rumahnya. Rumah yang sangat strategis untuk diteror. Sebab, berada tepat dipinggir jalan besar diTokyo. Akan sangat sedikit orang menyadari bahwa aku adalah seorang pembunuh bayaran.
Aku berdiri mematung disebelah lampu merah sembari melihat jam. Beberapa kali kuutak-utik ponselku agar tak ada orang yang menangkap basah diriku sebagai orang yang mencurigakan. Tiba-tiba pintu gerbang rumah Xi Luhan dan Byun Baekhyun terbuka lebar. Menampakkan mobil sedan merah milik Baekhyun yang meluncur entah menuju kemana. Kulihat Taeyeon dan Luhan juga berada disana, perkiraanku mereka akan pergi kesesuatu tempat.
Dengan Sigap aku menyebrang menuju mobilku yang masih rapi terpakir, dan segera melaju mengikuti mobil mereka. Entah kemana mereka pergi, aku terus mengikuti laju mobil itu. Syukur mereka tidak menyadari dan todak berusaha menghindar dan curiga ats kehadiranku. Karena memang masih banyak mobil disekitarku yang berjalur sama dengannya.
Setelah 20 meint aku menempuh perjalanan, mengikuti mereka, akhirnya kami berhenti di lotte department shop. Aku memarkirlkan mobilku agak jauh dari mereka agar gerak gerikku tak tertangkap oleh mereka. Kukenakan mantel cokelatku, berpenampilan bisa dan tidak mencurigakan adalah tak tikku. Kukenakan kacamata bening milikku, bukan karena aku sakit mata, itu hanya untuk penyamaran. Kugenggam buku ditanagn kiriku, berlagak seperti kutu buku berjalan diswalayan besar.
Mereka memasuki swalayan itu, diikutiku yang berada tak jauh dibelakangnya. Kudengar mereka bercanda riang, menampakkan hidup penuh kebahagiaan. Tapi tenang, sebentar lagi kebahagian itu akan lenyap. Senyum evilku terpampang. Kembaliku kuarahkan sedikit mataku kepada buku yang kugenggam agar penyamaranku tetap tertutup.
“Hmm.. Kita beli makanan untuk makan malam dulu saja ya, ke resto bibimbapnya nanti saja.” Seru Taeyeon gadis munggil itu bersemangat. Entah kenapa pikiran ku langsung jatuh, mataku berkedip cepat, aku langsung memikirkan…. Jonyang, persis sama dengan yeoja ini. Cara mereka berbicara hampir sama, hanya saja Kim Taeyeon berbicara menggunakan power aegyo daripada Jonyang. Haduh.. Kenapa aku harus memikirkannya?? Fokus, fokus aku ini kan pembunuh bayaran.
“Baiklah..” Sahut namja yang kukenal bernama Baekhyun. Kulihat ia mengelus kepala Taeyeon perlahan, kemudian Luhan meliriknya sinis. Aku tersenyum kecil, apakah ceritanya akan seru jika yeoja yang mereka rebutkan mati?? Kurasa iya!
Kuikuti mereka yang tengah menuju tempat perbelanjaan makanan. Entah mengapa gadis ini selalu tersenyum ceria, membuatku,argghh… Jangan dipikirkan. Lebih baik aku menyusun taktik membunuhnya. Hmm… Okey, gadis sepertinya mudah sekali dibunuh. Biarkan aku membunuhnya dengan sekali tembak peluru saja. Tapi penyelidikan ini belum selesai, karena aku harus mengetahui sifat Luhan dan Baekhyun dengan detail juga, agar pembunuhan ini berjalan lancar tanpa halangan.
Kulihat gadis itu menjingkrak senang ketika melihat daging-daging segar berjejer dikulkas swalayan itu. Persis sama seperti hal yang terjadi 5 tahun yang lalu, saat aku merencanakan makan malam dengan masakan jonyang. Kami ingin membeli bahan makanan terlebih dahulu, dan saat Jonyang melihat tumpukan daging segar ia menjingkrak sambil berkata ‘Yippie’ Sungguh apa yang kulihat membuat mataku bergetar hebat menahan tangis, akibat terbayang lagi masa laluku bersamanya yang kini sudah tiada. Kuseka air mataku perlahan, baru pertama kali saat aku sedang menjalankan misi aku menangis seperti ini.
Aku kembali keposisi normal, sudah hilang mata sembabku. Kembali aku mengikuti mereka. Setelah kuperkirakan mereka berdua selalu menjaga Taeyeon, seperti yang kulihat barusan dieskalator Baekhyun menentun Taeyeon dan menjaga agar Taeyeon tidak mengenai garis kuning escalator yang samar terlihat tersebut, begitupun Luhan yang menangkap Taeyeon dilantai licin saat ia ingin tergelincir. Jadi bisa kusimpulkan bahwa mereka sangat menjaga Taeyeon. Jadi saat pernikahan nanti satu orang akan lalai terhadap penjagaan Taeyeon, adalah Baekhyun, karenan nanti ia akan berada jauh di altar sedangkan Taeyeon dikursi tamu. Sedangkan Luhan, aku harus mencari waktu yang tepat saat ia pergi. Jadi, Taeyeon benar-benar harus sendiri, agar aku tidak tertangkpa basah membunuhnya atau salah menembak.
Sebenarnya aku sudah bisa pulang namun entah dengan keinginan apa, aku terus ingin mengikuti mereka. Tepatnya mengikuti Taeyeon, ia terus mengingatkan ku kepada Jonyang. Kini mereka masuk keresto bibimbap, kulihat Taeyeon tersenyum manis, bersamaan dengan itu aku juga tersenyum melihatnya. Otakku mengatur semuanya sendiri, senyum itu reflex terpancar ketika memandang gadis manis itu.
“Yippie! Bibimbap kan biasanya jarang diJepang, akhirnya aku bisa makan, makanan Korea yang satu ini!” Sorak yeoja itu. Hatiku tertancap, memflashback lagi seluruh kenangan manis bersama Jonyang ketika kami merencanakan untuk makan dikios Ddeokboki, Jonyang mengucapkan hal yang persis sama seperti apa yang dikatakn oleh Sunny.
Mereka memutuskan duduk disebelah paling pojok restoran ini. Agar tidak terlihat begitu mencurigakan, aku mengambil posisi selang 3 meja dengan mereka. Aku terus memperhatikan paras manis yeoja itu tanpa kedipan mata. Namun aku tetap focus berakting layak seseorang yang tengah membaca buku.
“Pesan special bibimbapnya 3 ya! Kalau bisa yang spesialll banget!” Seru Sunny beraegyo. Hatiku luluh, meleleh, betapa miripnya ia dengan jonyang sekalipun skill aegyo Sunny lebih lebih matang.
Pertama kalinya aku menangis, sekalipun hanya menteskan satu tetes air mata, namun seorang pembunuh bayaran, seharusnya mustahil menangis ketika melihat targetnya sendiri. Kurasa aku perlu menceritakan sebab Jonyang terbunuh kepada kalian semua (kepada readers)
-Flashback-
Aku mengendarai sepedaku bersama Jonyang, ia berada dijok belakang memeluk pinggangku erat. Kami bercengkarama selama perjalanan. Bercanda gurau dan tertawa. Sembari menunggu sampai tujuan, kami menyanyikan lagu hits bulan itu. EXO My Lady, benar-benar sebuah curahan cintaku tentang yeoja dibelakangku. 15 menit kuerahkan tenanga ku menggoes pedal sepeda itu, kamipun sampai di taman bunga di pusat kota.
“Waahh, sudah kukatakan chagi, taman kota pasti segar dan ramai.” Seru Jonyang yang tengah berlari menerobos pagar taman dengan melompat. Jonyang bisa dikatakan gadis periang yang tidak bisa diam. Saat ia harus berdiri tegak sekalipun, ia pasti akan menggoyangkan tubuhnya atau melompat-lompat tidak jelas. Dia memang gadis yang sangat aktif.
Kugelar karpet piknik untuk kami makan siang. Jonyang menyiapkan seluruh suguhan untuk dimakan nanti. Sungguh sebuah dream comes true kalau ia akan menjadi istriku. Dengan cekatan ia memipihkan roti bertumpuk tebal, ia iris daging serta menyiapkan seledri untuk membuat sandwich. Aku tersenyum memandangnya yang begitu mempesona.
“Mengapa kau terus memandangiku seperti itu?” Tanya Jonyang merasa risih akan perhatianku.
“hahaha habisnya kau sungguh menawan.” Sahutku meyerukan kalimat yang benar-benar ada di dalam hatiku.
Jonyang tersipu, pipinya menyembul merah. Menampakan kemanisan yang lebih dari sebelumnya. Aku tertawa geli melihat ia yang kini mukanya tambah memerah. Lalu ia memukulku perlahan lenganku, sebab aku masih saja terus memadanginya.
Sandwich telah selaesai, begitupun dengan rona pipinya yang kini kembali normal. Ia menyodorkan sandwich yang terlihat menggiurkan itu kepadaku, namun belum sempat kuraih sebuah peluru menancap masuk kedalam kepalanya.
DORRRR!
Darah mengucur deras melalui kepala gadis manis itu. Airmataku berlinang, mulutku terbungkam tak dapat berkata. Seseorang diujung sana mengulur sebuah magnum (Senjata berbentuk pistol) dan kemudian segera melarikan diri dari tempat kejadian peristiwa itu. Aku menengadahkan tanganku memangku kepala Jonyang. Kurebahkan tubuhnya di pahaku. Aku menangis sejadi-jadinya. Kucium keningnya yang dipenuhi oleh liquid darah merah kental itu. Bau anyir menyeruak dikedua lubang hidungku, tangis tak berhenti tertetes diwajahku. Jonyang berucap tertatih sambil menahan rasa sakit dikepalnya yang sebagian sudah hampir hancur.
“Op..Pa Sa’ Saranghaeyoo” Dengan kata terakhir itu yeoja manis yang selisih 2 tahun lebih muda dariku meninggal dunia di pangkuanku sendiri.
Banyak orang mengerumuniku, aku terus menangis memandangi mayat yeoja chinguku. Kupegang nadinya, berhenti, benar-benar sempurna tak ada lagi yang berdetak, begitupun jantungnya. Bahkan sebagian keningnya sudah hampir hancur sebab satu yembakan magnum yang tepat mengena dikepala yeoja manis itu.
“Nado chagiya… Naddo saranghaeyoo..” Aku mendekap mayat Jonyang, lumuran darah terbercak dikaus kuning yang kukenakan.
FLASBACK END
Sejak kejadian itu aku menjadi seorang pembunuh bayaran. Menurutku hidupku tlah hancur tanpa kehadiran Jonyang. Jonyang benar-benar menjadi cahaya matahari dihidupku. Kim Taeyeon, Namanya indah, parasnya manis, mengingatkanku dengan Jonyang namun bagaimana pun juga aku tetap harus membunuhnya, karena aku tlah menandatangani kontrak dengan Im Yoona. Apabila aku tidak melaksanakannya, kedokku akan terbongkar habis sudah. Sebagai pelaku dalam semua tragedi yang sebenarnya terjadi di 4 tahun terakhir ini.
Aku menitihkan air mata untuk pertama kalinya sejak 4tahun kematian Jonyang . Aku bertekad untuk tidak pernah mengingat dan membayangkan lagi perisitiwa itu. Namun kehadiran Taeyeon membuatku terus terbayang akan yeoja chinguku itu. Kepalaku berputar cepat, pening rasanya mataku terlihat agak sembab, bibirku gemetar. Kejadian 5 tahun lalu terbayang lagi. Aku tak jadi mengikuti Taeyeon, kurasa sampai sini saja. Aku bangkit dari tempat dudukku ingin segera bangkit dan pergi. Namun kakiku malah bergemetar dashyat, aku tak bisa mengontrol keseimbangan tubuhku. Aku terjatuh, mataku berkunang-kunang. Kurasakan sentuhan seorang yeoja yang tidak lain dan tidak bukan adalah Taeyeon.
“Ahjussi apakah anda baik-baik saja??” Tepat sekali aku memang berlagak seperti seorang ahjussi penampilanku memang agak terlihat tua.
“Ahh.. Ne aku baik-baik saja.” Aku mencoba berdiri namun tak kuat, kakiku tak mampu menopang tubuhku rasanya.
“ Ahjussi yakin? Apa perlu kuantar?” Sorotan matanya sungguh menawan persis sama seperti Jonyang yang meninggal 5 tahun lalu. Mata berbinar itu, kecoklatan.
“ahjussi?” Sahutnya menyadarkan lamunanku.
“ah tak apa kok..” Ujarku yang segera berdiri, dan meninggalkan tempat.
Taeyeon POV
Ahjussi itu meninggalkan tempat dengan tubuh lunglai. Ia berjalan seakan kepalanya berputar-putar matanya sayup. Aku sungguh mengkhawatirkannya, aku takut dia terjatuh pingsan.
Kalau dilihat-lihat penampilannya memang 100% seorang ahjussi, tetapi ia terlihat sangat tampan dan muda meski jenggot hitam menutupi bagian dibawah hidung dan didagunya. Hahahah Sudahlah Taeyeon jangan berpikiran yang macam-macam.
Aku kembali bangkit setelah melihat ahjussi itu hilang dibelokkan. Kembali aku berjalan menuju meja makan diiring Luhan dan Baekhyun yang tadi juga ikut disebelahku.
“Ada apa dengan ahjussi itu ya??” Tanyaku kahwatir agak penasaran.
“Entahlah, tiba-tiba saja ia jatuh. Biasalah… Umur.” Sambung Baekhyun yang kini tengah melahap suguhan didepannya.
“Ngomong-ngomong ahjuss itu tampan ya??” Seruku membuat kedua namja didepanku tersedak hingga harus segera meminum air didepan mereka.
“Ada apa? Memang dia tampan toh..” Tegasku lagi memikirkan wajah ahjussi berjenggot tadi.
“Taeng noona… Sadarlah, kau cantik, imut dan baik hati. Namun tipe idealmu tidak logis. Jelas-jelas ia terlihat 9 tahun lebih tua darimu.” Sekarang giliran aku yang tersedak sebab perkataan Luhan.
“Bagaimana bisa kau tahu dia 9 tahun lebih tua dariku???” Bingungku menatap mata bulat milik Luhan.
“Hehehe aku hanya mengira-ngira saja..” Cengirnya gembira.
“whuuu…” Sorakku kencang, hingga beberapa pelanggan menengok kearah kami. Hehehehe~
Setelah sekitar setengah jam kami makan dan jalan-jalan diMall besar ini. Kami akhirnya memutuskan untuk pulang.
-o0o-
Kami berada diruang keluarga, kami tengah menonton sebuah acara tv terkenal diJepang. Tak banyak yang kumengerti, hanya beberapa kata saja yang aku dapat tangkap, sebab aku memang asli murni Korea. Aku mulai kantuk dan bosan. Lalu aku teringat sesuatu, makan malam belum siap, kurasa mereka lapar kkk~ terlihat dari dahi mereka yang berkerut.
“Baekhyuunnie, Lulu kalian mau makan apa?? Biar kubelikan.” Seruku tiba-tiba saat mereka tengah menyaksikan talk show dengan seriu.
“Wahhh… Bagaiman kalau masak Fettucini??” Seru Baekhyun bersemangat.
“Boleh.. Ayo Noona biar kuantar.” Sambung Luhan yang beranjak dari tempat duduknya.
“Tidak usah.. Aku ingin pergi sendiri..” Tolakku halus segera meninggalkan ruangan.
“Tap.. Tapi..” Baekhyun tertawa terbahak-bahak melihat Aninya ditolak mentah-mentah olehku.
Segera aku keluar dengan mantel berbuluku. Kurenggakan tangan ketika keluar dari rumah untuk melonggarkan otot-ototku yang terasa kaku. Malam ini tak bersalju, namun udaranya sangatlah dingin, hingga masih ada kesempatan asap menyembul dari mulut jika aku menarik napas. Super Market tak jauh dari rumah kami hanya berjaran 4 meter saja, maka itu aku menolak ajakan Luhan. Dikejauhan kulihat pancuran air taman kota dihiasi gemerlap lampu-lampu, dan sepertinya ramai penjual makanan kecil disana. Lebih baik sehabis membeli Fettucini aku mampir dulu kesana dan melihat-lihat.

Fettucini sudah ada digenggaman plastic disampingku. Aku mulai berjalan lagi menuju air mancur yang kelihatan ramai itu. Sedari tadi aku merasa bahwa seseorang mengikutiku, namun sudah 9 kali kulihat kebelakang namun tak ada satupun orang dibelakangku. Terkadang aku mendengar derap kaki menjinjit, atau tarikan nafas seseorang yang terdengar berat. Untuk kesepeluh kalinya aku menengokan kepalku, dan lagi-lagi tak seorang pun ada diibelakang ku.
“Hmm…” Aku berdehham agak takut. Tapi syukurnya disini ramai, jadi suasana nya tak terlalu menyeramkan.
“Ojisan (paman dalam bahasa jepang)Taiyakinya satu” (taiyaki kue berbentuk ikan khas jepang) Ujarku sembari menyodorkan uang.
“Arigato..” Ucapku menerima kue yang ia berikan.
AKu duduk dipinggir air mancur, aku tengah menikmati suasana kota Tokyo malam ini. Suasanannya ramai, kendaraan berlalu lalang, dan para remaja menikmati mlam bersama pasangan. Tiba-tibaa seseorang berdiri disampingku.
“Boleh kah aku duduk disini??” Tanya namja itu dengan bahasa Jepang yang fasih. Jelas aku tidak mengerti.
“I’m sorry I cannot speak japan, I am Korean.” Jelasku melihatnya ragu.
“Oooh maaf, hehehe aku juga dari Korea lhoo… Boleh duduk disebelahmu??” Ternyata dia namja Korea, terlihat memang dari wajahnya yang manis. Aku mengangguk tanda membolehkan, lalu aku membuka pembicaraan.
“Apa kita pernah bertemu?? Aku familiar dengan wajahmu.” Bingungku menatap wajahnya dalam-dalam.
“Hahaha tidak usah melihatku sampai seperti itu. Hmm, ya mungkin;” Jawabnya singkat. Aku segera menjauhkan wajahku dari wajahnya dan berkata lagi.
“Oooh ya namaku..”
“Kim Taeyeon” Jawab lelaki itu tiba-tiba. Sontak aku langsung terkejut hinga harus menjatuhkan taiyakiku ketrotoar.
“Ba, Bagaiman kau tau??!!” Takutku menunjuk wajahnya tepat dihidung.
“Tak usah takut kenalkan dulu diriku..” Jedanya lama.
“Namaku….

To Be Continued

Numpang promosi blogku lagi hiring artwork nih… makin kece lhoo blognya mampir yukkk exoshidae ff and graphic
Kkkkkk~ selesai deh chap ini.. gimana gimana?? Tambah seru apa tambah anehh??? Menurut kalian gmn?? Menurutku.. Of course aneh! Jangan lupa commentnya yaaa… SIDERS mending ga usah baca.. 😉
Chap 5 makin seru! Chap 6 ada actionnya lhoo!! Jangan tinggalkan ff ini ya!!

Advertisements

113 comments on “Sakura love Chap 4B

  1. thor, aku nggak paham deh/’-‘ kenapa jadi ada sunny. kenapa taeyeon jadi dipanggil sunny.-. itu typo apa gimana/:v chap 5 buru di post ya thor.. penasaran banget sumpah. ff nya keren daebak semangat thor! ._.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s