Mistake (Chapter: 4)

deffe

Title
Mistake (Chapter 4)
Author
DeliaAnisa
Genre
School-life, romance, and angst
Length
Multichapter
Rating
PG-15
Main Cast
Kim Taeyeon, Xiou Luhan, Oh Sehun, And Kwon Yuri
Disclaimer
FF ini murni dan asli hasil dari imajinasi saya, bila ada kesamaan tentunya itu tanpa disengaja. Cast yang saya pakai bukan milik saya, hanya Ortu mereka dan Tuhan YME, saya hanya meminjam untuk berkarya dan berniat membuat reader merasa terhibur akan ff saya. And please, don’t plagiat.

Happy reading and enjoy ^^
.
.
.
.
.
Sehun memarkirkan mobilnya tepat didepan pohon besar yang terbentang tinggi dihadapannya. Ia melirik keluar jendela, memperhatikkan suasana yang tentram disekelilingnya. Dedauanan yang terlihat berterbangan terbawa arus semilir angin. Batu nisan berderet rapi disana. ada salah satu nama yang cukup menyesakkan dadanya. Park Jiyeon. Nama yang tertera dibatu nisan yang terletak tak jauh dari tempat ia memperhatikkan dengan seksama didalam mobil. Nama itu, entah kenapa seperti ia sedang merasakan sakitnya ditusuk oleh ribuan belati, tepat diulu hatinya. Menyesakkan.
Sehun memejamkan matanya kuat-kuat, tak sadar bahwa kedua tangannya telah mencengkram stir mobil dengan sekuat tenaganya. Bayangan itu merasuki pikiran sehun, lagi. Kejadian yang menyakitkan kembali berputar-putar menginvasi seluruh otaknya. kepalanya berdenyut nyeri, sehun memegangi kepalanya frustasi. Ia berteriak agar kenangan buruk itu pergi dari hidupnya. karena setiap ia mengingat hal itu, sehun akan merasakkan sebuah penyesalan dan rasa bersalahnya pada gadis itu.
Peristiwa buruk itu terjadi ketika ia masih duduk dibangku SMA, 3 tahun silam. Sehun berlari menembus orang-orang yang berlalu lalang ditrotoar. Ia berlari dengan kecepatan penuh. Seorang gadis berteriak padanya ketika ia tanpa sengaja menabrak wanita itu sampai menjatuhkan tasnya. Wanita itu bersikeras meminta sehun untuk membereskan kembali dokumen penting yang sudah disusunnya susah payah. Namun sehun malah melihat rambu lalu lintas disampingnya. Ia tidak menghiraukan teriakan penuh amarah dari gadis dibelakang yang telah ia tabrak beberapa detik yang lalu. Lajuan otaknya selalu tertuju pada kemungkinan buruk yang akan mengancam nyawa kekasihnya, adiknya,dan ibunya. Ia baru saja menerima telepon dari sang adik –kwon yuri- ketika ia sedang membeli kalung dengan inisial depan namanya dan kekasihnya, jiyeon. SJ. Kalung couple yang selama ini jiyeon inginkan. Berita yang disampaikan oleh yuri berhasil membuat senyum bahagianya luntur, tubuhnya bergetar dan jantungnya berpacu cepat saat mendengar suara isak tangis adiknya. Ia membeku sesaat. Rumahnya terbakar api. Yuri sudah lolos dari kecelakaan naas yang hampir menimpanya. Ia meminta agar sehun cepat datang dan menolong ibunya dan jiyeon yang masih terjebak didalam sana. sehun menjawab ia akan cepat datang dan membawa selamat ibu dan jiyeon. Tenggorokannya tercekat begitu ia menyampaikannya.
Tanda hijau telah berganti menjadi warna merah, dengan gerakan secepat kilat ia berlari menyebrangi Zebra cross. Ia kalang kabut disetiap ia melangkahkan kakinya. Membayangkan hal buruk itu terjadi, membuat ia tidak bisa untuk tidak tenang. 2 nyawa gadis yang dicintainya sedang terancam. Bila ia terlambat satu detik saja, ia sudah kehilangan kesempatannya untuk menyelamatkan 2 wanita paling berharga dan berarti dihidupnya itu. 1 detik saja ia terlambat, ia mungkin akan kehilangan mereka. sehun tidak mau itu terjadi.
Kini langkah-langkah lebarnya telah membawa ia sampai ketujuan. Rumahnya yang sedang dilahap oleh sijago merah membuat matanya memanas. Tanpa berpikir panjang lagi ia segera menerobos masuk kedalam rumah yang nyaris hancur. Sehun batuk-batuk saat asap itu menyeruak dihidungnya. Ia menoleh kesekitar mencari ibunya dan juga jiyeon. namun, ia tidak menemukan satupun dari mereka. dengan hati-hati ia melangkah menghindari kobaran api yang semakin besar dan berbahaya bagi keselamatannya, atap-atap mulai berjatuhan, sehun hampir tertimpa reruntuhan diatasnya.
“jiyeona!! Eomma!!”
“Sehun-a. eomma disini.”
Sehun berbalik cepat setelah mendengar suara lirih ibunya disalah satu ruangan yang tertutup, ia berusaha cepat untuk memasukinya selagi harus berhati-hati menghindari kobaran api. Kemudian tanpa jeda, sehun mendobrak pintu itu dengan kakinya. Memperlihatkan sang eomma terduduk sembari memeluk lututnya. Sehun berjalan menghampiri eommanya ketika tatapannya melihat jiyeon yang tergeletak tak jauh dari tempat ibunya menangis sesegukkan.
“kajja! Bawa eomma keluar sehuna.” Ibunya menarik-narik kaos sehun yang kini berjongkok menghadapnya. Namun tatapan sehun tetap terarah pada gadis-nya. Gadis itu… tergeletak tak berdaya, namun sehun bersumpah bahwa ia masih dapat melihat gadis itu membuka matanya dan tersenyum tanpa beban. Senyuman itu seolah menandakkan salam perpisahan untuknya.
“KAJJA.” Sang ibu berteriak tak tahan memperhatikkan sehun tetap tinggal diam dan hanya melihat kearah kekasihnya. Sehun tengah dilanda bingung. Ia harus memilih diantara keduanya. dan kedua wanita itu teramat berharga untuknya. apa yang harus ia lakukan?
“gendong eomma. Ppali.” Sehun tidak tau kapan ibunya sudah mendekap dibalik punggungnya. Akhirnya sehun memutuskan untuk mengutamakan ibunya terlebih dulu. Ia berdiri sembari menggendong ibunya. Sebelum benar-benar menghilang dari ruangan itu, jiyeon mendengar suara sehun. ia berkata ‘aku berjanji akan kembali dan membawamu’. Namun jiyeon tau tak ada lagi waktu untuk menolongnya, pusaran api semakin menariknya masuk. Suhu tubuhnya jauh dikatakan dari kondisi normal. Ia rasakan panas yang hebat menjalari sekujur tubuhnya. jiyeon melepaskan senyum terakhirnya menatap punggung sehun sebelum akhirnya ia tertimpa reruntuhan diatas dan terbakar.
“selamat tinggal, sehun-a.”
.
.
.
Sehun menelan ludahnya berat, tenggorokannya sangat sakit dan memilukkan. Mengingat lagi kisah yang tiada henti-hentinya masuk kedalam ingatannya. Ia mengusap wajahnya, dan menumpu sikunya pada dashboard mobil yang masih ditumpanginya. Sehun memandang lurus kearah pepohonan yang berjejeran. Matanya berubah warna. Warna merah tanda kebencian.
Percakapan yang ia dengar berbulan-bulan lalu dari ibu dan ayahnya, menambah kesakitan yang menumpuk didasar hatinya. Rahangnya mengeras dan matanya diselimuti warna kebencian yang kentara.
Film didalam otaknya ia putar, tepat disaat kejadian 3 bulan yang lalu. Dimana ia ingin melepaskan gelar artisnya dan menunjukkan bahwa kini ia akan berubah dan menuruti semua perkataan ayah dan ibunya. Sehun mengingat kelakuan buruk yang tak jarang membuat ibu dan ayahnya merasa ia telah menjadi beban berat dihidup mereka. Selama ditahun pertama sampai tahun terakhir disekolah menengah atas, sehun hanyalah pria uring-uringan dan brandalan disekolahnya. Dia tidak pernah melewatkan harinya untuk tidak berkelahi. Kapanpun dimanapun jika harga dirinya merasa dihancurkan, sehun akan memberi mereka ‘untuk siapapun itu’ pukulan yang mematikkan. Ia dikenal ketua gangster masa itu, dan ialah manusia yang paling ditakuti oleh seantero sekolah. Sehun pria berbahaya.
Menjadi actor tidak semudah yang ia bayangkan, diawal karirnya sehun sudah banyak menerima respon negative dari netizen. Kenakalan dimasa SMAnya terkuak luas dikalangan masyarakat dan ia menjadi topik pembicaraan yang tak pernah surut sampai saat ini. namun ketika ia melakukan press conference untuk film keduanya, sehun menjelaskan dan menjawab seluruh pertanyaan negative yang ditujukkan untuknya mengenai ketidakpantasannya ia masuk kedalam didunia entertain, sementara attitude semasa sekolahnya sangat pantas untuk dikatakan buruk. namun sehun meyakinkan pemirsa bahwa ia telah berubah, ia telah menyesali perbuatan yang ‘tak sepantasya’ ia lakukan. Ia hanya tidak bisa mengekspresikkan perasaannya dan tidak terlalu pandai bernegoisasi. Untuk itu dengan jalur perkelahian dan menjadi ketua gangster ia dapat menyalurkan semua perasaannya. Jika ia terluka sedikit saja maka tak segan ia akan mengangkat tangannya dan melayangkan pukulan pahit bagi mereka yang telah melukai hatinya.
Sehun meminta maaf dan berjanji untuk tidak melakukannya dimasa depannya. Mulai saat ini, ia akan pandai-pandai memecahkan masalah dengan kepala yang dingin dan tidak tersulut oleh emosi. Sehun berusaha meyakinkan, namun tetap saja banyak netizen yang tidak semudah itu mempercayai omongan seorang oh sehun. attitude buruk tetaplah buruk. masa lalu tetap akan mempengaruhi masa depan. Lalu sehun tidak akan semudah itu berubah, mengingat banyak korban teman sekolahnya yang mengalami kerusakan tulang, bahkan ada juga yang mengalami trauma akibat ulah sehun yang sembrono. Tidak mungkin secepat itu mereka percaya akan keyakinan sehun dalam berubah.
Sehun benar-benar tulus ingin berubah, tapi mendengar ketidakpercayaan masyarakat padanya hal itu seringkali membuat ia lelah dan berpikir untuk menyerah saja dibidang ini. sehun tidak ingin melanjutkan karirnya disaat tatapan benci mereka untuknya. jadi lebih baik ia memutuskan untuk mundur saja dari impian yang diangan-angankannya sejak ia kecil. Demi meraih impiannya, sehun rela waktunya dihabiskan oleh berlatih dan berlatih. Bahkan ia tidak peduli dengan cemoohan dari teman-teman satu gangnya yang mengatakan bahwa sehun sama sekali tidak pantas menggeluti dunia entertain. Memang faktanya ia memiliki wajah bak seorang actor, bakatnya dalam berakting terbilang sangat luar biasa, ia sudah masuk kedalam criteria sebagai ‘aktor tampan dan berbakat’. Namun sekali lagi sayang, ia memiliki sifat yang brutal dan bertingkah sesuai dengan pemikiran pendeknya, seenaknya. Sebelumnya teman-temannya menyarankan sehun agar mengurungkan impiannya itu. tapi sehun tidak peduli, sebanyak apapun rintang menghadang ia tetap akan maju dan tetap akan berjalan. Itulah pemikirannya sebelum ia mengikuti audisi didaerah apgujeong.
Kini sehun tidak bisa lagi melangkah dan maju menghadapi rintangan yang terlalu berat untuk ia hadang, ia sudah sangat lelah menghadapi cemoohan kasar untuknya. ia mundur dari dunia yang telah membuat namanya terkenal dimana-mana, dan sekarang saatnya ia harus menyetujui keinginan ayah dan ibunya. Menjadi pembisnis. Yah, sehun sudah memantapkan hatinya untuk mengubah kepribadiaannya dan ini juga jalur yang pantas –dengan ia menjadi seorang bisnis man yang sukses- ia yakin masyarakat yang telah menilainya buruk, akan merasa menyesal karena sehun telah membuktikan bahwa ia sungguh-sungguh dengan ucapannya. sehun benar-benar telah berubah.
Namun ketika ia hampir menyentuh daun pintu, dari balik pintu sana terdengar percakapan mengenai dirinya antara ibu juga ayahnya. Sehun yang kala itu tersenyum penuh percaya diri, menghentikkan senyuman itu. wajahnya kembali dibuat datar, ia membuka sedikit pintu menjadikkannya celah untuk lebih memperjelas apa yang tengah diperbincangkan oleh kedua orang tuanya.
Sehun mengintip ibunya duduk dikursi yang sama dengan ayahnya. Raut mereka diselubungi raut kekecewaan dan penyesalan.
“aku tidak tau bahwa akhirnya jadi seperti ini. sehun yang kita harapkan dan kita rawat, benar-benar tidak menguntungkan.” Ucap ibunya mendengus kesal. Sementara suaminya tampak menatap lurus seperti terlihat berpikir. Lalu kemudian ia beradu pandang dengan istrinya dan mengangguk setuju. “kau benar. Aku menyesal telah membawanya datang kesini dari panti asuhan dan membesarkan dengan uang yang tidak sedikit. Memberinya kehidupan dan memberinya harapan. Benar-benar menyesalkan kita sudah membawa orang yang salah kerumah ini.”
“lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya ny.kwon menuntut jawaban cepat dari suaminya. Ia sungguh tidak tahan lagi menghadapi anak itu, masalah didunia keaktrisannya berhasil membuat sahamnya menurun drastic akibat petisi dari berbagai kalangan untuk membuat sehun keluar dari Negara ini. mereka berpikir tidak selayaknya anak itu bertingkah seperti itu, mengingat ayah dan ibunya berasal dari keluarga yang terpandang dan disegani. Dan semenjak keluarnya berita yang semakin menyudutkan sehun mengenai buruknya attitude yang ia lakukan pada teman-temannya, ibu dan ayahnya telah mengalami penurunan saham dan satu-satunya jalan untuk meningkatkan kembali harga saham mereka, yaitu dengan cara menyebarluaskan berita tentang ‘sehun adalah anak yatim piatu’. Dengan begitu mereka tidak akan lagi berurusan dengan masalah sehun, dan bisnis mereka akan berjalan kembali normal.
“kita harus mengeluarkannya dari rumah ini dan memberitahukan pada semua orang kalau dia bukan…. Anak kita.”
Dunia seakan berhenti, ribuan benda runcing menusuk hatinya. Sehun berbalik dan menerawang kesegala arah dengan pandangan kosong.
‘aku adalah anak yang tidak memiliki ayah dan ibu.’
Tenggorokan sehun tercekat, semuanya mengapa akhirnya berakhir menyedihkan untuknya? ia dibenci oleh semua orang, dan kedua orang yang telah menjadi tempat ia bergantung dalam kondisi apapun baru saja akan mengusirnya keluar? Oh Tuhan, ada apa dengan dunia ini? mengapa dunia ini begitu sangat kejam untuk sehun?
Sehun berjalan gontai menyusuri tangga, tatapannya kosong, hatinya berdebum perih. Ia berusaha keras menahan air matanya, menahan rasa sakit yang teramat dalam sampai ia mengira akan mati merasakkan sesak yang luar biasa didadanya. Tak ada pasokan oksigen untuk ia hirup, ia merasa seolah ia mati rasa.
Sehun berhenti melangkah ketika melihat yuri baru saja keluar dari kamarnya. Ia menatap senang kearah kakaknya setelah seminggu ini mereka tidak pernah bertemu dikarenakkan kesibukkan kakaknya yang super duper sibuk. Melihat kakaknya baik-baik saja tak henti-hentinya senyum kelegaan muncul dibibirnya.
“oppa. aku merindukanmu. Kau baik baik saja, kan? Aku selalu melihatmu ditelevisi. Kau sangat tampan dan aktingmu sungguh keren. Aku bangga menjadi adikmu.” Yuri mengembangkan senyum penuh kebanggaan. Sementara sehun hanya menatap yuri datar, tidak ada keinginan untuk membalas senyum adiknya. Ia menelan ludah secara paksa, menelan semua kepahitan yang baru saja bertambah. “eo. aku baik. tapi maaf, sekarang aku harus pergi lagi.” Setelah mendengar jawaban dengan nada dingin dari kakaknya, serta tatapan kosongnya, sehun berbalik dan meninggalkan yuri yang masih menatap punggungnya dengan alis yang bertautan. Biasanya sehun akan mengusap rambutnya dan memberinya pesan agar hidup dengan baik. namun yuri berusaha untuk berpikir positive, kakaknya akhir-akhir ini sangat sibuk dan banyak pemberitaan yang tak mengenakkan kakaknya, membuat sang kakak lupa untuk sekedar melakukan hal manis itu untuknya. sampai dia tidak berpikir bahwa ini adalah pertemuan terakhir mereka.
.
.
.
Tak ada lagi harapan dan keinginan, setiap harapan atau keinginan yang dicapainya pasti semuanya akan berujung menusuk hatinya.
Sehun keluar dari mobil Mercedesnya, menyusuri petak demi petak menuju dimana nisan itu tertancap. Jiyeon. ia berjongkok dan mengusap nisan itu. tak berapa lama, angin berhembus kencang ketika tangisannya benar-benar pecah. Bahunya terguncang hebat.
“jiyeon-a.. mian.. jeongmal mianhae. Aku salah menempatkan seseorang untuk hidup. Seharusnya saat itu… aku yang menolongmu dan membawamu hidup bersamaku. Mianhae.. aku salah.” Sehun semakin mengeratkan pegangannya pada batu nisan itu, menyalurkan semua rasa bersalah dan penyesalannya. Air mata kian membentuk sungai dipipinya. Ia sudah tak kuat menahan pedih dihatinya, tak sanggup lagi berpura-pura tegar dihadapan semua orang. sekarang pertahananya runtuh, ia menangis, tangisan yang pertama kali ia tunjukkan selain adegan ia menangis disebuah film.
.
.
.
‘apa kau punya waktu sore ini? jika ada, temui aku dipantai.’
Taeyeon baru saja keluar dari tempat kerjanya ketika luhan mengirim sebuah teks pesan untuknya. taeyeon menengadahkan kepalanya kelangit-langit yang mendung, ia mengingat-ngingat agenda dihari minggu ini. mengantar susu dipagi hari, menjadi penjaga toko buku disiang hari, dilanjutkan kembali dengan bekerja dikedai coffe sebagai penutup sederet pekerjaannya. Ia mendapati keuntungan untuk minggu ini karena seseorang telah menyewa tempat kerjanya untuk acara ulang tahun dalam semalam. Jadi para pekerja dipersilahkan pulang lebih awal.
Taeyeon rasa menerima ajakan luhan bukanlah sesuatu yang buruk. toh, taeyeon tak punya lagi hal-hal yang perlu dikerjakannya. Sekali-kali ia ingin menyegarkan otaknya. pergi kepantai mungkin itu solusi terbaik.
‘hm, aku punya waktu untuk sore ini. aku akan segera menemuimu. Aku akan datang bersama sepedaku. Tolong bersabar. Hehe.’
Selesai dengan balasannya, taeyeon kembali memasukkan ponsel pintarnya kedalam saku mantel. Kemudian ia membawa sepedanya pergi kesuatu tempat yang telah luhan tentukkan.
Melajukkan sepedanya dengan kecepatan extra. Taeyeon tidak ingin membuat luhan menunggunya terlalu lama. lantas, ia semakin mempercepat lajuannya, melewati beberapa toko dan kedai, cuaca yang mendung meneteskan rintik-rintik air diatas langit. Gerimis. Tapi Apapun itu, pertahanan taeyeon tidak akan pernah goyah. Ia sudah memiliki janji, dan luhan pasti sedang mati kebosanan disana. tidak mungkin ia membiarkan luhan menunggunya, sementara ia asyik berteduh.
Jarak pantai dengan tempat ia bekerja tidak membutuhkan waktu tempuh yang menguras waktu dan tenaga. Hanya 15 menit mungkin taeyeon sudah dapat menjejalkan diri disana. namun perjalanannya kali ini terasa sangat jauh, hujan dan kemacetan parah yang menjadi hambatan utamanya.
Taeyeon akan segera masuk kejalan perempatan, sejauh mata memandang terlihat sepi dan tak ada satupun kendaraan yang melewati jalan itu. taeyeon melupakkan satu hal, yakni keselamatannya. Taeyeon dengan yakin mengambil ancang ancang dari jauh, dan mulai melebihi kecepatannya dari semula. Tidak ingat bahwa disana adalah jalanan yang rawan akan kecelakaan karena tak ada rambu lalu lintas terpasang disana. namun taeyeon terlalu berani mengambil keputusan. Ia hanya berani karena ingin cepat-cepat datang dan menemui pria itu. ia telah terlambat 30 menit dari waktu yang sebelumnya ia sepakati bersama dengan luhan. Ia tidak terbiasa terlambat.
Hujan mengguyur kota seoul sangat deras, tepat disaat taeyeon masuk kedalam jalur perempatan. Ia tidak menengok kearah kanan ataupun kiri. Ia hanya menatap lurus-lurus pada arah pantai didepannya. Sampai ketika, suara klakson terdengar nyaring diindra pendengarannya. Ia refleks menengok kesumber suara tersebut. Dari arah kiri sudah ada mobil siap menghampirinya. Mata taeyeon membulat sempurna, ketika melihat mobil dengan kecepatan diatas rata-rata melaju kencang tak terkendali kearahnya. Jantung taeyeon berdegup sangat cepat. Ia menutup matanya pasrah.
Brukkk..
Taeyeon terhempas 2 meter dari tempat kejadian itu terjadi. Kepalanya sukses membentur aspal dan cairan amis merembes banyak dikepalanya. Sang pelaku segera keluar dengan perasaan takut menghinggapinya. Ia berteriak meminta pertolongan ditengah suara petir dan hujan saling beradu. Namun, tak ada seorangpun terlihat dijalan ini, dan sungguh hal itu membuat perasaan takut dan salah dari sipelaku ini semakin membuncah.
Sipelaku segera membopong tubuh taeyeon masuk kedalam mobilnya dan meletakkannya dijok belakang. lalu dengan tergesa-gesa ia memutar tubuhnya kejok pengemudi. Napasnya memburu tak teratur saat menancap pedal gas, dan ditengah-tengah perjalanan melihat gadis itu lewat kaca spionnya semakin banyak mengeluarkan darah membuat hatinya teriris. Pria itu siap bertanggung jawab. Ia berjanji akan membawa gadis ini pergi kerumah sakit dan mengobati luka gadis ini sampai kesembuhannya sempurna.
Pria itu, pelaku yang sudah membuat taeyeon terkapar seperti ini adalah oh sehun.
.
.
.
Luhan duduk diatas hamparan pasir dengan tubuh yang sudah basah kuyup. Tatapannya terlempar jauh pada deburan ombak. Tatapannya kosong. Sedetik kemudian ia menjatuhkan tubuhnya kehamparan pasir yang basah terkena cipratan air hujan. meski dingin tapi luhan enggan beranjak dari sana. kini pandangannya menyapu luas bintang-bintang yang bertaburan dilangit gelap dan kelam. Sekelam dan segelap hatinya saat ini.
Ia kecewa, gadis itu tidak datang disaat ia akan pergi ketempat yang jauh. alih-alih mendapat pelukkan dari gadis itu, justru gadis itu tidak menepati janjinya setelah 4 jam lebih ia menunggu sampai larut malam. Hatinya berdebum perih mendapati pengkhianatan seperti ini.
Luhan tau tak ada hubungan special diantara mereka, hanya baru sebatas sunbae dan hoobae. Tapi meskipun begitu, tak seharusnya taeyeon mengabaikan ini semua. Taeyeon seharusnya menolak baik-baik sebelumnya jika tidak ingin pergi menemuinya. Mungkin dengan itu rasa bahagia dan tak sabar luhan tak akan menjadi sesakit ini hanya karena taeyeon menerima ajakkannya, tapi ia tidak benar-benar menerimanya.
Luhan kembali mendudukan tubuhnya, penampilannya begitu kusut, ia melempar asal batu kelaut yang terbentang luas.
Ddddrrrttt..
Getaran ponsel miliknya bergetar, membuat ia harus rela menghentikkan kegiatannya yang sama sekali tak berguna itu dan berdalih mengangkat ponselnya. Meletakkannya ditelinga kanannya.
Terdengar suara berat diseberang sana.
“tuan muda, penerbangan akan segera dimulai 15 menit lagi. Kau harus segera pergi kebandara. Jangan sampai terlambat dari waktu yang telah ditentukkan. Nyonya besar akan benar-benar menghapus namamu dari daftar keluarga, jika kau tidak segera beranjak.” Luhan melempar tatapannya pada pasir yang ia mainkan ditangannya, mengaduk-aduk pasir dengan senyum miris menghiasi wajahnya.
“dia tidak datang, dia orang yang sangat sulit untuk kutinggalkan, tapi semudah itu dia mencampakanku. Hatiku tidak sakit, tapi hancur.”
“tuan muda..”
“tak ada lagi alasanku untuk tetap tinggal disini. Gadis itu, bahkan enggan menemuiku untuk yang terakhir kalinya.”
“jadi, selama itu kau menunggu dan gadis itu tidak datang?”
“benar, kau benar. Dia mengingkari janjinya dan entahlah firasatku sangat buruk. mungkin dia… menemui pria lain. Itu bisa saja.”
Luhan mulai beranjak dari duduk dan berjalan dengan langkah gontai. Masih berbicara dengan sekertaris muda ibunya, namanya park chanyeol. Pria berumur 23 tahun ini memang sedikit akrab dengan luhan. Selain karena umur mereka tidak terpaut jauh, juga chanyeol adalah seseorang yang sangat memperhatikkan tuan mudanya, siap menjadi pendengar yang baik apabila luhan bercerita. Entah itu kehidupan belajarnya, kisah cintanya, ataupun masalah antara dirinya dengan ibunya. Meskipun chanyeol adalah sekertaris ibunya, namun bukan berarti ia sepenuhnya berpihak terhadap ny.xi. Chanyeol lebih berpihak kepada luhan. Saat luhan bersembunyi dari ibunya, tentu chanyeol-lah yang membantu luhan dalam menemukan tempat persembunyiaan yang paling aman. Karena chanyeol tau, ny.xi begitu keras memperlakukan luhan, terlalu memaksa sampai ia sendiri merasa sangat jengah atas perlakuan ny.xi terhadap putera semata wayangnya. Memaksa luhan belajar keras sampai luhan sulit mendapatkan waktu luang untuk sekedar bertemu dengan teman-temannya. benar-benar kehidupan yang kejam bagi tuan mudanya.
“apa lebih baik kau hentikkan ini saja? Berhenti berharap sebelum luka yang berada pada hatimu semakin besar.”
Luhan sudah melajukkan mobilnya dengan kecepatan dibawah rata-rata. Ia masih setia dengan komunikasinya bersama dengan sekertarisnya. Meluapkan perasaannya pada seseorang, ia merasa jauh lebih baik. tapi ketika chanyeol bertanya untuk menghentikkan perasaannya pada taeyeon, entah kenapa ini semakin memperkeruh perasaannya. Hatinya berkecamuk. Ia merasa benci pada taeyeon saat ini, tapi mungkin hanya untuk sesaat. Jika diukur dalam perbandingan, cinta ini lebih besar daripada rasa bencinya pada taeyeon. jadi, luhan memilih tidak akan berhenti.
“aku tidak akan berhenti. Kau tau? jika cinta dibiarkan membusuk, maka cinta itu akan benar-benar mati. Tapi, aku akan membiarkan cinta ini tetap tumbuh. Aku memang bodoh, Aku mencintainya terlalu dalam. Karena itulah, ia sulit untuk dilepaskan.”
Luhan tertawa getir ketika ia membelokkan mobilnya kearah kanan, memerhatikkan langit yang kelam, hujan yang tiada henti, suasana saat ini begitu pas bersama dengan hatinya. Lagi-lagi ia teringat akan hatinya yang kecewa, dan mengingat kepergiannya sekarang tanpa melihat senyuman dari gadis itu, menambah luka yang mendalam pada hatinya.
“kalau begitu, jangan membencinya setelah ia memperlakukanmu demikian.” Suara bass chanyeol menggema ditelinga luhan lewat loadspeaker yang sengaja ia pasang agar tidak mengurangi konsentrasinya dalam menyetir. Kini ponselnya telah diletakkan didashboard mobil seraya mendengarkan sedikit petuah dan nasihat dari park chanyeol, dan mengiringi perjalanannya sampai kebandara.
“aku tidak akan membencinya terlalu lama, karena aku sangat mencintainya.” Luhan memberi jeda pada kalimatnya, matanya memandang arus jalanan dengan nanar. “aku akan datang menemuinya setelah 3 tahun. Dan aku akan berjuang keras untuk mendapatkan hatinya.”

.

.
.
‘pasien mengalami amnesia untuk jangka waktu yang cukup lama. benturan keras pada otaknya menyebabkan syaraf-syaraf otaknya menjadi terganggu.’
Sehun mendesah panjang dan menghembuskan napas berat berkali-kali. Ternyata kecerobohannya memberi dampak luar biasa besar pada gadis ini. ia tidak tau dengan cara apa ia menebus semua kesalahannya selain membayar semua biaya pengobatannya. Dengan uang tentu tidaklah cukup.
Sehun duduk didepan ruang ICU, menunggu korban yang ditabraknya selesai melakukan operasi untuk yang kedua kalinya. Mata sehun sarat akan kecemasan, dan ia juga terlihat berpikir terlalu keras. Raut wajahnya benar-benar berantakan ditambah tatanan rambutnya yang acak-acakan. Ia sudah tidak peduli dengan mata-mata yang sedang menelusurinya. Baik, ia semakin dicap menjadi actor terburuk dimuka bumi ini. setelah terungkapnya masa lalu yang buruk, sebentar lagi pasti akan tersiar kabar bahwa ‘sehun sibiang onar, menabrak gadis remaja’. Wow, berita itu pasti tidak kalah mengejutkan dari yang sebelumnya. Bahkan ia yakin, sedetik kemudian ia akan masuk kedalam trending topic nomer 1 diseluruh dunia.
Untuk mengurangi rasa cemasnya, sehun lebih baik merelaksasikan pikirannya sejenak. Ia akan mengambil ponselnya yang tergeletak disamping mantel milik gadis yang kini tengah berjuang melawan kematiannya didalam ruangan yang terisolasi. Tatapan sehun terpaku sejenak pada mantel yang berlumuran darah disampingnya. Mantel itu lebih menarik perhatiaannya ketimbang ponselnya yang kini ia abaikan. Sehun mengambil mantel itu, lalu kemudian ia merogoh sesuatu disaku mantel tersebut. ia menemukan apa yang menjadi sasaran utamanya. Kartu identitas.
.
.
.
Kening sehun berkerut-kerut begitu ia menemukkan alamat rumah gadis yang dalam kartu identitasnya tertera jelas disana bernama, kim taeyeon. rumah kecil didaerah yang kumuh. Apakah ini benar? Sehun mengetuk pintu untuk mengusir rasa penasaran itu. namun sudah kesekian kali tak ada yang menyahut dari balik pintu sana. hanya ada suara angin menemani kesunyian ditengah malam. Mungkin keluarganya sedang terlelap tidur. Orang waras mana yang mau mengetuk rumah orang ditengah malam seperti ini? pasti dikira ia hantu atau orang gila.
“kau ingin menemui orang didalam sana?”
Suara ahjumma menghentikkannya dalam mengetuk pintu. Ia cepat berbalik dan mendapati seorang wanita paruh baya sudah berada tak jauh didepannya.
“ne.” sehun mengangguk, respon yang ia berikan terlalu singkat, namun padat.
“apakah kau teman taeyeon?” tanya ahjumma itu. mengangkat alis setinggi-tingginya.
Sehun menatap sepatunya sejenak, berpikir dengan berbohong menjadi teman taeyeon cukup membantu. Dengan mengaku ia sebagai teman taeyeon, mungkin ia akan lebih mudah menemukkan identitas penuh dari gadis ini. “ne. saya temannya.” sehun menatap datar ahjumma yang kini tertunduk sedih. Ekspresi yang membuat sehun bingung.
“tolong katakan jika kau bertemu dengannya, dan sampaikan padanya bahwa…. Tadi sore halmeoninya… meninggal dunia.”
Sehun melebarkan matanya, terkejut. Namun detik berikutnya sehun mencoba bersikap setenang mungkin. “ne, saya…akan menyampaikannya.” Sehun berusaha untuk menetralkan suaranya.
“kau tau dimana taeyeon saat ini?”
Sehun terdiam sekitar 5 detik, ia tidak akan gegabah dengan perkataannya, untuk itu ia sedang memilah kata yang tepat untuk ia jawab, termasuk berbohong. “aku tidak tau dimana ia saat ini. tapi setelah ini saya akan mencarinya.” Sehun tersenyum tipis.
“kalau begitu jika kau menemukannya, jaga dia baik-baik. dia gadis yang baik. kalau kau bisa, ajaklah dia pergi berlibur setelah pergi kepemakaman. Hidupnya pasti sulit setelah ditinggal anggota keluarga satu-satunya, ia butuh sesuatu yang segar untuk hidupnya” Ahjumma itu tersenyum penuh harap pada sehun. Hati sehun terenyuh saat mendengar ‘keluarga satu-satunya’. sehun merasakkan pahitnya ditinggal oleh seseorang. namun sehun setidaknya beruntung dapat bertemu dengan jiyeon sebelum menghantarkan gadis itu pada sebuah tempat kematian. Tidak seperti taeyeon yang harus mengalami kecelakaan sebelum ada kesempatan menengok sang nenek untuk yang terakhir kalinya. Jika taeyeon telah pulih dari ingatannya, sehun dapat menjamin bahwa gadis itu akan membencinya.
Karenanya, taeyeon tidak bisa melihat kondisi terakhir neneknya.
Karenanya, taeyeon harus rela kehilangan anggota keluarga satu-satunya.
Dan sehun tidak tau bahwa karena ia jugalah taeyeon tidak dapat menepati janjinya dengan….luhan.
.
.
.
TBC.
.
.
.
Note:
Sehun sedang dalam proses menyembuhkan hatinya, setelah ia mengorbankan nyawa kekasihnya demi menyelamatkan ibunya yang ternyata bukanlah ibu kandungnya, sehun menjadi lebih banyak diam dan melamun. Ada banyak kegundahan dihatinya, dan ia dengan tegar menghadapinya seorang diri. Bayang-bayang jiyeon ingin sehun lupakkan. Dan sebagai bocoran, taeyeon akan membantu sehun dalam melupakkan bayang-bayang kekasihnya itu, dan siap menyembuhkan luka sehun.
Chapter selanjutnya, baru konflik sesungguhnya dimulai…
.
.
Yaampun aku udah gak percaya diri lagi sama ff ini, tapi masih tetep pengen lanjutin, au ah bingung >.<. ini ff emang jatuhnya keangst, tapi lagi-lagi aku rasa feelnya masih belum ngena. Ada banyak gambaran tentang ff ini, alurnya jg udh saya kemas dengan baik, tapi satu hal yang jadi penghalangnya, merangkai kata dan nunjukkin angstnya itu lho yang bikin susah!!!
Terus saya emang mengakui kalau ff ini alurnya terkesan terlalu cepat dan membosankan. Kalau kalian mikirnya seperti itu, lebih baik aku menghentikkan ff ini. tapi kalau misalnya masih banyak yang berminat membaca ff ini, aku usahain buat lanjutin.
Tergantung pada kalian aja, kalau yang minta lanjut ada 30 orang, aku akan lanjut. Tapi kalau kurang dari itu, ff ini akan aku hentikkan.
Komentar kalian sangat berpengaruh besar terhadap semangat aku dalam menulis.
Jadi mohon komentar dan pendapatnya ^^

Advertisements

77 comments on “Mistake (Chapter: 4)

  1. saeng sorry late comment-___- duh ceritanya kog mellow gitu? plisss Lu Ge salah pengertian, taeng kecelakaan Ge jgn salah paham dulu-____-aduh pkoknya kudu dilanjut saeng gk mau tau 😀 hehe bkin penasaran T____T next chapter fighting yaaa!!!! sekalian polkadotmanmu sangat ditunggu hehhehe

  2. Waa bagus bgt
    . Pas lagi nyritain masa lalunya sehun dramatis bgt.. kayanya nih cerita bakal panjang… dan kayaknya komfliknya bakal seru bgt
    aaa aku makin penasaran lanjut ya thoooor

  3. kasian hidup Taeng eonni.. uda ditinggal halmeoni yang mrupakan satu-satunya anggota keluarganya, kehilangan Luhan + amnesia.. jangan-jangan ntar Sehun suka Taeng eonni yah? #ngawur
    Keep writing thor, kutunggu next chapnya 🙂

  4. Taeng eonni amnesia ;(
    luhan oppa kluar negeri 😦
    thor pertemukanlah mereka dgn cepat ne 😐
    fighting 😀

  5. thor pokoknya nih ff harus lanjut gak boleh brenti tengah jalan(?)
    trus ff polkadot man ama saying i love you juga harus dilanjut gak boleh terlupakan(?)
    always fighting thor:):):)

  6. sedih bnget masalalu hunnppa.. 😥
    TAENG ONNIE AMNESIA, WHATT ??
    trus luluppa keluar negri.. srmoga luluppa gk ngelupain taeng onnie… aminnn. hahhahayy
    keren bnget thor jdi mkin suka deh

  7. WHY??! kenapa taeyeon sama sehun ketemunya dgn cara begitu. sayang banget sih taeyeon lupa ingatan 😦 masalah nambah rumit nih, tp kerenn! >< aku tau banget sih buat ff itu susah dapetin feelnya dan aku ngerasa feel di ff ini udah dapettt banget. semangat lanjutin ffnya thor ^^

  8. Benar Benar deh ini nyessssseeeek bgt. udah kecelakaan amnesia pula terus kehilangan neneknya, shbtnya Yuri, Dan org satu2nya yg bisa buat taeyeon bhgia juga harus pergi meninggalkannya. INI ff benar menyedihkan. terus mengapa semua castnya menyedihkan sih tak ada satupun Dari mrka yg bhgia. moga aja ending gak nyesek kya INI ya Thor. tpi diantara mrka ber-4 taeyeon eonnie yg plg menyedihkan. aku jdi sakit ngeliat dy seperti i2. aku selalu sakit Dan sedih ngeliat dy tersiksa. wktu dgr dy minta maaf sm salah satu fans snsd krna skandal pacaran nya ma baekhyun smpe nangis sumpah aku jga rasanya Mw nangis. maaf ya Thor curhat deh nih

  9. lanjutt ah thor..
    Jgn berhenti yaa.. ceritanya bagus qo, jd penasaran aja gmna akhirnya..
    Nampaknya nnti sehun bakal ngerawat taeng, n jd so sweet gtu hhehe
    Pokonya bnyk konflik n aku udh terlanjur pengen tau gmna penyelesaiannya..
    Harus lanjut yaa thor, semangatt..
    Btw aku reader baru, jd baru bisa komen skrg 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s