Mistake (Chapter: 3)

deffe

Title
Mistake (Chapter 3)
Author
DeliaAnisa
Genre
School-life, romance, and friendship
Length
Multichapter
Rating
PG-15
Main Cast
Kim Taeyeon, Xiou Luhan, Oh Sehun, And Kwon Yuri
Disclaimer
FF ini murni dan asli hasil dari imajinasi saya, bila ada kesamaan tentunya itu tanpa disengaja. Cast yang saya pakai bukan milik saya, hanya Ortu mereka dan Tuhan YME, saya hanya meminjam untuk berkarya dan berniat membuat reader merasa terhibur akan ff saya. And please, don’t plagiat.

Happy reading and enjoy ^^
.
.
.
Jam pelajaran pertama dihari selasa adalah waktu dimana olahraga dilakukan dikelas 11-c, kelas taeyeon. Langit tampak bersahabat, tidak terlalu menyengat dan tak juga kelam. Hari yang indah. Luhan menikmati langit dikelasnya yang berada tepat dilantai 3 dan mejanya bersisian dengan jendela. Menit itu luhan melihat takjub kearah langit dan damainya pagi ini, tanpa sengaja matanya bergulir kebawah dan tersenyum cerah ketika mendapati taeyeon dimatanya. Taeyeon tengah melakukan pemanasan bersama teman-temannya, menggerakan dan meliuk-liukan tubuhnya yang mungil kesana kemari dilapangan. Luhan hilang focus saat semua temannya dikelas berusaha menangkap isi materi dan saengseongnim kim yang menerangkan teori kimia, luhan tidak memerdulikannya. Luhan tersengat akan pesona kim taeyeon. dunianya hanya dipenuhi oleh gadis bermarga kim itu.
Terlihat gurat ekspresi diwajah luhan berubah 5 menit selanjutnya, luhan mengerutkan keningnya khawatir ketika melihat taeyeon memegangi kepalanya dan meneliti bibirnya seperti mengeluarkan suara erangan kesakitan. Luhan tak akan tinggal diam sebelum taeyeon maju dibaris pertama dan berlari. Luhan tidak akan siap jika harus mendapati gadis itu tersungkur dan kehilangan kesadarannya. Luhan harus keluar dan membawa gadis itu pergi ketempat yang aman. Ya, ia harus menolong gadis pujaannya.
Luhan berdiri dari duduknya sampai terdengar suara derit yang segera membuat semua pasang mata dikelas 12-a menoleh kearahnya, termasuk seongsaengnim park, ia berhenti dengan kegiatannya dalam menjelaskan materi. “apa kau ingin bertanya?” Tanya saengseongnim park menatap heran murid yang tiba-tiba berdiri didepannya ini.
Luhan menggeleng. “tidak, saya ingin pergi ketoilet sebentar.” Dustanya. Luhan masih berdiri dimejanya, menunggu sang guru mempersilahkannya keluar. “baik. tapi ingat! 5 menit!” ucap saengseongnim dengan nada tegas dan penuh penekanan.
“baik, pak.” Luhan menundukkan kepalanya sebelum akhirnya ia keluar dari mejanya. Saengseongnim park langsung melanjutkan teori yang sempat terhenti. Namun sesekali tatapannya tertuju pada anak lelaki yang baru saja meninggalkan kelas ini. saengseongnim park berpikir bahwa anak itu sangat berbeda. Sejak ia masuk dan memberikan materi, luhan sama sekali tidak focus padanya. pandangannya selalu menyapu jendela dan sesekali ia menemukan luhan tersenyum seperti orang gila. Saengseongnim park tahu betul akan arti dari senyum itu. senyum bagi pria yang tengah jatuh cinta. Ia sempat ingin menegur luhan, luhan adalah siswa pintar dan selalu unggul dibanding teman-temannya. rangking satu tak pernah lepas dari kehidupannya selama belajar disekolah. Dan membiarkan luhan mengalihkan pikirannya pada seorang wanita, membuat ia takut akan nantinya. takut Akan prestasi luhan yang bisa saja melonjak menjadi turun. Tapi, disisi lain saengseongnim park memaklumi. Luhan memang butuh gadis untuk dicintainya. Ia lelaki normal, yang tidak hanya berkutat terus-menerus dengan bukunya. Pria itu butuh kesegaran diotaknya.
Luhan setengah berlari untuk mencapai pintu dan keluar menuju lapangan, ia harus melewati tangga sebelum mencapai lapangan. Dan tangga yang ia lewati tidaklah sedikit. Napas luhan terdengar memburu dan keringat sudah mulai muncul disekitar wajahnya. Ia tidak memerhatikan daya tahan tubuhnya yang mulai melemah, efek tidak sarapan tadi pagi. Yang menjadi pacu utamanya berlari seperti ini adalah kim taeyeon.
Hembusan Angin segera menyambar tubuhnya begitu luhan keluar dari dalam sekolah, lapangan luas yang dipenuhi rerumputan hijau telah membayar semua keringatnya. Luhan menghela napas lega setelah ia bisa datang tepat waktu, sebelum taeyeon berlari. Luhan melangkah maju saat taeyeon berdiri dibaris pertama, ia berlari cepat begitu melihat taeyeon yang nyaris kehilangan kesadarannya. Lagi dan lagi luhan tidak menyia-nyiakan waktunya untuk bisa menolong gadis ini. tepat disaat ia datang, taeyeon jatuh kedalam pelukannya. Luhan segera mengangkat tubuh taeyeon dan menggendongnya dengan sebelah tangan yang memegang pundak dan satu tangannya lagi ia sisipkan pada kaki taeyeon hingga kaki yang dibalut sneakers milik taeyeon bergelantungan diudara. Para gadis disini memekik iri dan sayup-sayup terdengar umpatan untuk taeyeon. ketika taeyeon pingsan, sedikit orang yang mengkhawatirkannya, sebagian besar menaruh rasa benci padanya karena telah merebut pangeran yang diidam-idamkan mereka. bagaimana bisa terjadi adegan semacam drama ini? adegan inilah yang paling diinginkan mereka dengan luhan, itulah yang telah membuat mereka iri dan cemburu pada taeyeon.
Jangan lupakan kehadiran yuri disana. yuri memandang penuh Tanya kehadiran luhan dan saat luhan membawa taeyeon pergi keUKS. Yuri berdiri terpaku disana, memandang nanar punggung luhan. Hatinya remuk, hancur, dan tersayat. Yuri sungguh tidak berdaya menyaksikan kejadian yang baru saja ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. tentu saja, ini bukanlah sesuatu yang kebetulan. Ini adalah kesengajaan. Luhan sengaja datang kemari hanya untuk memastikan keadaan taeyeon baik-baik saja. Yuri tersenyum sakit ketika mengingat pandangan luhan terlempar untuknya. mata lembut dan senyum itu ia kira hanya untuk dirinya. namun yuri berhenti tersipu saat luhan memicingkan matanya khawatir, ia menoleh kesamping dan mendapati taeyeon mengerang kesakitan. Itu berarti, pandangan lembut luhan tadi bukan untuknya? melainkan untuk sahabatnya sendiri? menyadari fakta itu, tubuh yuri seperti tersambar petir tanpa aba-aba. Ini menyakitkan. Luhan dan taeyeon sebenarnya apa yang telah terjadi diantara kalian? apa taeyeon mengkhianatinya? Apakah semua ucapan taeyeon mengenai luhan adalah bohong? Taeyeon tidak tertarik dengan pria yang telah menarik hatinya, shit! Taeyeon benar-benar telah membohonginya. Yuri merasakan amarah yang memuncak kala mengingat percakapannya hari itu dengan taeyeon. ia mudah membenci seseorang, meskipun itu adalah seseorang terdekatnya.
.
.
Luhan telah menaruh taeyeon diranjang UKS. Matanya segera mencari-cari dokter disana, namun ternyata tak ada siapapun disini kecuali ia dan taeyeon. jika bukan luhan yang mengobati taeyeon, lalu siapa lagi? Pada akhirnya luhan menyibukkan dirinya untuk menyadarkan taeyeon dari ketidaksadarannya. Pertama, luhan melepaskan sepatu dan kaus kaki yang melekat dikaki mungil taeyeon. aroma mawar langsung menguar dihidungnya. Ternyata kaki taeyeon tidak seburuk yang ia kira. Kedua, luhan memberikan aroma terapi penghangat kesekitar leher taeyeon dan hidung taeyeon agar cepat tersadar. Namun cara yang kedua tetap tidak berhasil. Ketiga… luhan memandang lekuk wajah taeyeon yang cantik dan manis. Ia duduk ditepi ranjang dengan tanpa berkedip ia menelusuri mata yang terpejam itu, hidung yang menggemaskan, bibir yang semerah cherry dan rambut tergerai yang hitam berkilau. Luhan terasa terhipnotis akan itu. Dalam beberapa waktu luhan lupa apa yang seharusnya ia lakukan.
5 menit kemudian ia tersadar dari lamunannya, luhan mengangkat tangannya dan terangkat menuju dahi taeyeon. Suhu tubuh taeyeon sangat panas. Luhan semakin merasa terpojokan, ialah yang telah membuat taeyeon menjadi sakit seperti ini. tak seharusnya ia mengajak taeyeon bermain basket sampai kehujanan, luhan telah melakukan hal terbodoh selama hidupnya. Beberapa kali ia memberikan umpatan-umpatan pada dirinya sendiri. Ini semua terjadi karena kesalahannya. jika saja ia tidak kalah dengan perasaannya yang ‘ingin dekat’ dengan gadis periang itu, mungkin taeyeon akan baik-baik saja. Bodoh, mengapa kau menggunakan taktik bermain basket untuk mendekati seorang gadis? Luhan tertawa getir, otaknya yang gemilang begitu bodoh saat jatuh cinta.
Daripada terus terkurung kedalam rasa bersalahnya, luhan lebih baik cepat bergerak melakukan sesuatu agar kesalahan itu setidaknya dapat berkurang. Ya, luhan bangkit dari duduknya dan dengan sigap ia mencari-cari kain dan air dingin untuk meredakan panas yang menjalar ditubuh taeyeon. luhan membuka kotak p3k, namun ia tidak menemukan apa yang sedang ia cari. ketika pintu kotak hampir tertutup luhan baru ingat jika taeyeon juga perlu obat penurun demam. akhirnya luhan mengambil salah satu obat tablet penurun demam, dan begitu tubuhnya berbalik ia sedikit tersentak kala melihat taeyeon sudah terduduk disana dengan punggung yang menempel dikepala ranjang, ia tersenyum tipis pada luhan. Tatapan itu sayu, bibirnya memucat, namun taeyeon pandai menutupi rasa sakitnya. Luhan berusaha menetralkan detak jantungnya saat tatapan lembut itu beradu dengan matanya, dan senyuman malaikat itu… terasa membuatnya melayang. Gadis itu selalu terlihat bersinar dan cantik dalam kondisi apapun.
“kau sudah siuman?” luhan bertanya dengan sikap yang diusahakan sebiasa mungkin, tidak ingin menunjukkan sikap ketakjubannya yang bisa terbilang berlebihan. Luhan menuangkan air hangat kedalam gelas lewat dispenser yang terletak disamping kotak p3k. lalu kemudian ia kembali berjalan dan duduk ditepi ranjang.
“hm. Apakah sunbae yang membawaku kesini?” Tanya taeyeon, suaranya terdengar parau.
Luhan mengangguk lalu menginteruksi taeyeon agar meminum airnya. Taeyeon segera mengambilnya dan menegaknya sedikit tanpa mengalihkan tatapannya dari luhan. “ya, aku yang membawamu kesini. Dari dalam kelas aku selalu mengawasi setiap pergerakaanmu dan setiap gerakanmu terlihat sangat kaku dan tidak bersemangat. Itu begitu menunjukkan bahwa kau sedang tidak baik-baik saja, apalagi ketika aku melihat kau memegangi kepalamu. Jelas aku tau arti dari gerakan itu, kau sedang menahan rasa sakitmu. Ketika teman-temanmu melihat kearahmu, kau memberikan senyuman seolah rasa sakit itu tidak pernah terjadi padamu, kau selalu pintar menyembunyikannya. Mulai sekarang kau harus ingat bahwa disetiap pergerakanmu aku akan selalu mengawasimu, kapanpun dan dimanapun. Saat kau merasakan tubuhmu tidak baik, akulah yang akan berdiri disampingmu, memastikkan bahwa kau akan aman disampingku. Jangan lagi berharap kau tidak akan ketahuan. Karena aku…. Siap menjadi orang yang pandai mengamatimu dan berusaha untuk memahamimu.”
Jantung taeyeon terasa akan meloncat dari tempatnya, jantungnya mendadak berdetak abnormal, setiap kalimat yang diutarakan luhan padanya membuat darahnya berdesir dan taeyeon tergelak menatap luhan. Mata rusa itu penuh akan ketulusan dan kejujuran. Taeyeon setengah mengerti dan tidak saat menangkap isi kalimat manis yang terucap dengan ringannya lewat bibir menggoda itu. taeyeon tidak mengerti, sebenarnya mengapa luhan begitu ingin menjaganya? Melindunginya dan mengawasi setiap pergerakannya, apa arti dari ucapan itu semua?
Apakah?
Luhan, jatuh cinta dengannya?
Tak ada rencana dan sebelumnya ia tidak menyusun atau menghapalkan kata-kata ini. ini refleks keluar dari lubuk hatinya yang terdalam. Hatinya tulus berkata bahwa ia ingin menjadi penjaga, pelindung, dan mata ketiga taeyeon. luhan sudah menyiapkan diri jika seandainya taeyeon berkata bahwa ia tidak perlu seseorang untuk mengawasinya, dan luhan sudah siap jika harus mendengar penolakan dan ketidaksetujuan yang keluar dari bibir taeyeon.
“terimakasih atas pengajuan sunbae yang ingin melindungiku, tapi… aku tidak membutuhkan pelindung atau apapun itu, karena aku masih bisa melindungi diriku sendiri.”
Luhan memejamkan matanya sejenak, hatinya sedikit terkoyak tapi ia harus sanggup menerima penolakan dari taeyeon. detik berikutnya luhan tersenyum manis pada taeyeon dan menepuk pundak taeyeon pelan. “seharusnya kau tidak perlu menjawabnya, pernyataan itu tidak seserius kedengarannya. Aku hanya ingin menggodamu saja, heheh.” Luhan terkekeh ditengah kedustaannya. Mau tidak mau taeyeon ikut menyesuaikan atmosfer yang sedikit berubah menjadi kecanggungan yang luar biasa. Alhasil ia ikut tertawa dengan nada kaku yang jelas.
Hati taeyeon sungguh perih menyadari akan perkataan yang tak jujur pada luhan. Taeyeon sangat ingin menganggukkan kepalanya lalu memeluk luhan penuh kasih, jika saja ia tidak mengingat wajah yuri yang penuh kebahagiaan ketika memuja luhan. Taeyeon tidak mungkin menkhianati sahabatnya sendiri. ia masih menomersatukan persahabatannya dengan yuri.
“ini, makanlah obat ini.” luhan menyodorkan obat yang diambilnya dari kotak p3k kepada taeyeon. taeyeon memandang takut-takut pada obat tersebut, seakan ia tengah melihat kotoran yang menjijikan. “aku tidak suka itu.” tunjuk taeyeon dengan bibir yang mengerucut lucu pada obat yang masih dipegangi luhan. Ia menggeleng menatap luhan, membuat permohonan agar menjauhkan benda berbentuk bulat kecil itu darinya.
Luhan tidak mengindahkan perkataan taeyeon. ia mempunyai sebuah ide berkat dari otak cerdasnya. Ia turun dari ranjang dan posisi taeyeon kini duduk dihadapannya dengan kaki yang telanjang bergelantungan. Karena taeyeon kira luhan akan pergi meninggalkannya, marah atau kesal dengannya karena taeyeon menyadari bahwa ia begitu sangat keras kepala sehingga ia berniat menahan luhan pergi, ia takut…sendirian dan entahlah keberadaan luhan disisinya membuat hatinya nyaman dan merasa aman. Namun ternyata ia salah, luhan masih berdiri didepannya, tersenyum lembut dan mata itu membiusnya dalam sekejap. Taeyeon tidak dapat bergerak, ia bertranformasi menjadi sebuah batu kembali.
Srett..
Luhan memeluknya, siketua basket itu membawa kepala taeyeon menuju dadanya. Kedua tangan luhan memeluk pinggang taeyeon erat. Baik taeyeon maupun luhan, mereka sama-sama mengeluarkan detak jantung yang berdebar kencang. Taeyeon tak akan menampik bahwa pipinya telah berubah warna menjadi semburat kemerahan.
“kau mendengarnya? Mendengar detak jantungku yang gila?” tanya luhan lebih kepernyataan sebetulnya. Suara rendahnya mampu membuat taeyeon semakin bergeming. Ia sangat menikmati posisi mereka saat ini.
Dengan gugup taeyeon menjawab. “ya-yaa, aku mendengarnya.” Mengeluarkan kalimat itu seperti sedang mempresentasikan teori kimia yang rumit dan membuat kepala terasa pecah. Konsentrasi taeyeon terbagi menjadi 2, ia sibuk mengontrol detak jantungnya dan selain itu ia juga harus dapat menjawab segala pertanyaan yang dilontarkan oleh luhan. Dalam posisi berpelukan seperti ini, jelas membuat taeyeon sulit untuk merangkai sebuah kata.
“itu semua terjadi karenamu. Dia akan menjadi gila jika ada kau, dia akan semakin gila jika aku megkhawatirkanmu. Aku takut jantungku berhenti karena gilanya ia berdetak, buatlah ia sedikit tenang. Jadi.. kumohon makanlah obatmu.” Didalam pelukan luhan membuat dadanya sesak, akhirnya taeyeon merenggangkan pelukan mereka. ia mengambil kontak mata dengan luhan, tatapan canggung. “baiklah, aku akan memakannya. Tapi jujur saja…. Aku tidak biasa memakan obat. Rasanya pahit dan baunya membuatku mual. Aku tidak ingin muntah dihadapan sunbae.”
“aku punya ide untuk membuat obat itu menjadi manis.” Luhan tersenyum sumringah sekaligus jail. Luhan sepenuhnya melepaskan pelukannya dengan taeyeon. selanjutnya ia memiringkan kepalanya menatap taeyeon.
“huh.. jinjja?” taeyeon memandang polos luhan. Matanya berkedip-kedip seperti puppy, menggemaskan.
“bukan gula atau cokelat, tapi dengan ini…..
Luhan berbungkuk setelah ia memasukkan obat dari tangannya kemulutnya, lalu ia mendekatkan wajahnya pada wajah taeyeon yang masih melongo tak mengerti. Sampai taeyeon menutup matanya ketika merasakan benda kenyal menimpa bibirnya. Dan yang paling membuat taeyeon terkejut bukan main ialah luhan benar-benar mentransfer obat dari mulutnya menuju kedalam mulutnya. Obat itu memang pahit, tapi ciuman itu mengalahkan kepahitan obat itu sendiri. ini bahkan lebih manis dari gula ataupun cokelat.
Dadanya bergemuruh seperti kembang api bermain didadanya, luhan tidak pandai memainkan sebuah ciuman, ia bahkan tidak pernah mencium gadis selain taeyeon. itu artinya taeyeon adalah ciuman pertamanya. Luhan sedikit gugup, pada akhirnya ia hanya berusaha untuk memasukkan obat melalui mulutnya kedalam mulut taeyeon, tanpa ingin bermain-main dengan bibir taeyeon. tidak terlalu lama setelah taeyeon berhasil menelan obat itu, luhan melepaskan bibirnya yang semula menempel begitu manis dengan bibir pucat milik taeyeon.
“sekarang tidurlah, kau harus beristirahat setelah memakan obat.” Tanpa ingin mengingat kejadian tadi, luhan membaringkan tubuh taeyeon dan memberinya selimut. Taeyeon terlalu pusing untuk memikirkan saat-saat dimana ia dan luhan melakukan hal itu. akhirnya ia hanya mengangguk dan mencoba memejamkan matanya untuk tertidur.
“tidurlah. Aku akan kembali lagi.” Luhan mengusap pucuk kepala taeyeon setelah melihat taeyeon mulai tertidur nyenyak. Ia menyempatkan diri mencium kening taeyeon dan tersenyum hangat sebelum akhirnya ia berbalik menggapai pintu. Setelah berhasil keluar dari UKS, Luhan memandang koridor diarah kanan. Ia melihat punggung seorang gadis berambut panjang hitamnya tengah berjalan membelakanginya sembari menelepon seseorang. Luhan menggendikan bahunya, tak acuh. Akhirnya ia berjalan kearah kiri, menuju pada kelasnya kembali setelah 1 jam pelajaran ia lewati. Saengseongnim park pasti marah besar padanya, dan ia cukup yakin dirinya akan kena hukum untuk pertama kalinya. Hahh luhan menghela napas lega begitu masuk kelas, seorang lelaki berkulit tan dengan name tage ‘kim jongin’ memberitahukan padanya bahwa luhan sangat beruntung karena 5 menit setelah luhan pergi saengseongnim park keluar untuk mengadakan rapat dengan para guru. Tentu, luhan senang bukan main. Itu tandanya ia tetap menjadi murid yang teladan dimata para guru. Saat luhan bergabung dengan beberapa temannya, luhan masih saja betah melirik jendela. Mengingat-ingat kejadian ter-manis yang pernah ia dapatkan selama hidupnya.
Ciuman bersama obat, sungguh konyol.
.
.
.
“eomma, aku berubah pikiran. Kepindahanku keamerika bisakah dipercepat?”
“wae? Kenapa tiba-tiba ingin pergi sayang?”
“gwenchana, aku hanya ingin segera pergi menata kehidupan baruku disana.”
“ini aneh. Kau semakin dewasa sayang, eomma bangga padamu. Baiklah, eomma akan secepat mungkin menyiapkan keberangkatanmu kesana. Kemungkinan 2 hari kau bisa berangkat kesekolah barumu.”
“2 hari? Apa itu tidak terlalu lama?”
“hari ini eomma dan appa sedang sibuk mengurusi proyek dijeju, kau taukkan proyek itu bukanlah sembarang proyek? Proyek itu sangat besar yang akan diwariskan padamu. Ini semua untukmu sayang.”
“terimakasih sudah bekerja keras untukku. Tapi… bagaimana dengan oppa? eomma dan appa masih tidak berniat memberikan sebagiannya pada oppa?”
“heol anak itu. oppamu menolak keras menjadi pembisnis menggantikkan appamu, dan dia lebih memilih menjadi actor yang sama kali tidak menguntungkan dan tidak cukup membantu appa dan eommamu. Apa layak dia mewarisi semua kerja keras eomma dan appamu selama ini? Anak itu bahkan tidak pernah datang mengunjungi kita. dasar anak tidak tau diri.”
“tapi bagaimanapun juga oppa adalah kakakku. Ia memang sering dirundung masalah ketika dia masih sekolah dan menyusahkan kalian. dia juga sosok pemarah dan sulit diandalkan, namun oppa adalah sosok pelindung bagiku. Dia selalu ada kemanapun aku pergi. dia menggendongku ketika aku membutuhkan punggungnya, dia menepuk bahunya saat aku ingin bersandar. Dia akan menyeka air mataku dengan punggungnya saat aku menangis. Eomma tidak pernah tau apa yang sudah ia lakukan selama ini pada kalian, tanpa kalian sadari dia sudah banyak berkorban dan ia nyaris kehilangan nyawa demi menyelamatkan kalian. eomma tak pernah tau itu. eomma dan appa terlalu sibuk mengurusi pekerjaan kalian, sehingga kalian hanya memperhatikan oppa dengan sebelah mata saja. Dan akulah satu-satunya yang mengerti perasaan oppa. jadi kumohon, berhentilah membenci putera satu-satu ibu itu.”
“sayang, mengapa kau membela oppamu yang sudah pergi jauh meninggalkan kita eoh? Mengapa kau masih bisa membelanya seperti ini?”
“karena ia tidak akan pergi jika tanpa alasan.”
“alasan? Kau tau apa alasannya? Katakan pada eomma, sebenarnya… seberapa besar kau dan oppamu menyembunyikkan rahasia kalian dari eomma dan appamu eoh?”
“alasan itu… aku sungguh tidak tau eomma.”
“jinjja? Tapi eomma merasa, kau sedang berbohong pada ibumu ini.”
‘seharusnya eommalah yang lebih tau alasan kepergian oppa, bukan aku. Bahkan eomma tidak ingin tau apa saja yang telah oppa korbankan pada kalian.’ yuri membatin.
“aku malas berdebat denganmu dijam sekolah seperti sekarang. aku harus segera kembali kekelasku. Sampai nanti.”
Yuri memutuskan komunikasi bersama ibunya seraya menghela napas berat, ia memasukkan benda berbentuk persegi itu kedalam sakunya. Saat ini yuri masih berdiri disalah satu koridor yang hanya terdapat satu ruangan, yaitu UKS. Sejak luhan dan taeyeon masuk kedalam UKS, diam-diam yuri ikut mengekori mereka dari belakang. yuri mengintip dicelah pintu, dan memperhatikan setiap aksi yang dilakukan luhan. Yuri merasakan hatinya perih ketika melihat perhatian yang luhan berikan pada taeyeon begitu sangat besar. Air mata sejak tadi menggenang dipelupuknya, dan kini ia sudah tak dapat membendungnya lagi. Akhirnya ia terisak dalam diam sembari bersandar pada dinding. Yuri memukul dadanya yang terasa sangat sesak. Hatinya sudah hancur lebur.
Kegelapan menyergapnya, tak ada hati yang bersinar terang. Kasih dan sayangnya pada taeyeon telah berubah menjadi perasaan benci dan dendam. Yuri mudah membenci seseorang dan tidak mudah untuk memaafkan kesalahan seseorang. yuri kembali menjadi gadis berdarah dingin, tatapannya yang mulanya lunak berubah menjadi tajam dan ganas. Tangannya terkepal begitu kuat, napasnya memburu tak beraturan senada dengan naik turun bahunya yang terguncang. Yuri telah menjelma menjadi siluman yang mengerikan.
Belum lagi masalah lain yang harus ia hadapi. Masalah kakaknya yang pergi tanpa disertai alasan yang kuat. sekarang ia akan menangis tanpa sandaran kakaknya. Tak ada lagi sosok yang akan menyeka air matanya ketika ia tengah menangis seperti saat ini. ia merindukkan kakaknya. Ia rindu kehangatan itu, ia rindu pelindungnya. Oppanya tak pernah kembali sejak 3 tahun yang lalu, setelah oppanya berhasil mewujudkan mimpinya menjadi seorang actor, sesuai dengan keinginannya, keinginan yang menjadi tentangan dari orang tuanya. karena keinginannya itulah yang menyebabkan keluarga ini menjadi berantakan. Tapi tak cukup itu saja yang menjadi permasalahan dikeluarga ini. yuri pun tak tau apa masalah lainnya, dan apa yang telah membuat oppanya pergi dari rumah? Yuri sangat yakin bahwa alasan oppanya pergi bukanlah sekedar masalah pertentangan kedua orang tua mereka mengenai keinginan oppanya yang ingin menjadi bintang. Oppanya tidak selemah itu. jika memang bukan, lalu masalah apa yang terjadi pada oppanya?
Ini masih menjadi tanda tanya besar.
Mengingat oppanya membuat hatinya semakin teriris, yuri berjalan gontai dan tangisannya tak kunjung reda. Ia lebih sakit jika harus mengingat nama itu, pria itu, pria yang selalu hadir disisinya dalam keadaan apapun. Namun kini, pria itu meninggalkannya seorang diri. Ia kesepian, ia butuh seseorang untuk mendengarkan semua curahan hatinya.
“sehun oppa…bogoshipo.”
.
.
.
TBC
.
.
Note: Secara tidak langsung masa lalu sehun sudah terungkap. Dia bukan berasal dari keluarga yang baik-baik saja atau harmonis. Karena jalan pikirnya tidak sesuai dengan kehendak orang tuanya, sikap sehun cenderung bertemperamental tinggi dan berprilaku seenaknya. Namun tidak banyak yang tau bahwa sehun memiliki sisi yang lembut dan penuh kehangatan. Terbukti ketika sehun selalu berhasil membuat yuri merasa terlindungi.
Penonton kecewa!! Sehunnya mana?!! Mana janji manismu thor?!!
Huhuhu tadinya mau aku masukin sekarang, tapi…tapi setelah aku pikir2 lebih baik dichap berikutnya aja. Entar takutnya kepanjangan dan malah bikin kalian suntuk dan bosen sm cerita yang luar biasa gak asyik ini -_- jadi sedikit word kayaknya lebih baik deh.. tapi kalau bnyak yang minta dipanjangin insyaallah author bakal usahain buat diperpanjang wordnya ^^
Sekian dan terimakasih sudah meluangkan waktu kalian untuk membaca ff ini. mohon komentar dan sarannya. Ditunggu yahh!! 😀

With Big Love ❤
Deliaanisa

Advertisements

61 comments on “Mistake (Chapter: 3)

  1. Minum obatnya kayak gitu? Iihhh. Luhan perhatian banget sama taeyeon, sedangkan yuri kasian. Dia pasti sakit hati banget yaa.. Sehun cepet dateng, bantuin yuri. Atau engga sehun sama taeyeon ke, seruu thor.

  2. ciuman pake obat, wew o.O yah yuri jgn benci taeyeon dong, kasian taeyeonnya di posisi serba salah. jadi sehun bakal muncul sebagai oppanya yuri? 😮 saling terkait nih ceritanya. seru2 aku sukaaa ><

    (komennya kepotong -_-)

  3. hiks hiks hiks kenapa begini, seharusnya Yuri tak boleh benci ma taeyeon. kalau saja taeyeon blg yg sejujurnya ma luhan klw shbtnya menyukai luhan mgkin persahabatan mereka tak akn jdi seperti Ini. kan kasian taeyeon eonnie Ku spa lgi yg bisa jdi teman baiknya, yg selalu ad disaat suka Dan duka taeyeon. rasanya lebihbaik kehilangan kekasih daripd shbt. pokoknya taeyeon harus sama sehun, harus Thor harusssss!!!

  4. Kata2 luhan sweett bgt, tp knp luhan blg cuma buat godain taeng sihh, hhuuuu. Se.oga prsahabatan taeng yuri baik2 aja yaa. Oh trnyata sehun kakak yuri.

  5. di chap sebelumnya kasian taeyeon, disini kasian yuri.
    nie mah rasanya gak cuma kayak ketusuk pisau tajem tapi pisau yang tumpul n begerigi di baliknya + berkarat trus di sayat2 pelan2, habis ditancepin ditaris mpe gerigi nya nyangkut2. *alay #abaikan.

    super super namcep feel nya thor…
    👍

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s