Our Fate – 002

fanfiction1

Our Fate

Rate :: PG-15

Genre :: Supernatural, Fantasy

Type :: Chaptered

 

Tak ada yang pernah tahu tentang hal –yang bisa dibilang perselingkuhan- yang kemarin dilakukannya dengan Luhan. Hanya ia dan Luhan yang tahu. Dan selama seminggu ini juga mereka membohongi Baekhyun dan Krystal hingga hari ini datang. Dan mengakhiri segalanya.

Taeyeon mengajak Luhan untuk membeli bunga mawar di florist yang ada didekat kafe milik Suho. Mereka tertawa bersama hingga seseorang menghentikan langkah mereka dan memberi Luhan sebuah bogem mentah dipipi. “Baekhyun!!”

Taeyeon memekik dan menimbulkan semua orang yang berlalu-lalang memperhatikan mereka. Luhan terbaring dijalan yang beraspal dengan Baekhyun diatasnya masih memukuli tubuhnya. Hingga Luhan memutar balikkan keadaan. “Hentikan kalian berdua!!”teriakan Taeyeon yang kedua kalinya membuahkan hasil, Baekhyun dan Luhan menghentikan pertengkaran mereka dan Taeyeon jatuh pingsan.

Our Fate

 

Taeyeon terbaring lemah diatas ranjangnya. Yoona ada disampingnya sedang memberinya sedikit sihir untuk memulihkan sakitnya. Luhan dan Baekhyun sedang berdiam diri diluar kamar Taeyeon setelah Yoona meneriaki mereka berdua untuk berhenti mengganggu Taeyeon.

Krystal datang, dengan rambut blond-nya yang berantakan dan matanya yang sembab karena air mata. Tangan kurusnya ia gunakan untuk mengusap kasar mata sipitnya dan berhenti didepan Luhan. “Oppa, aku benar-benar –Ya Tuhan aku kecewa padamu”kata Krystal dan pergi setelah memberi Luhan sebuah tamparan dipipinya.

Yoona keluar dari kamar Taeyeon dan Baekhyun dan Luhan menghampirinya dengan wajah khawatir dan rasa lega yang seakan-akan ingin meledak. “Yoona, bagaimana keadaannya?”tanya Luhan dan Baekhyun bersamaan. Yoona menghela nafasnya, “Kalian boleh melihatnya, tapi jangan menganggunya terlebih dahulu. Ia sedang sedikit frustasi”

Baekhyun dan Luhan membuka pintu kamar Taeyeon dan berjalan kedalam hampir dalam waktu yang bersamaan.

Taeyeon diatas ranjang dengan selimut tebal yang menutupi tubuhnya hingga leher. Mereka sama-sama berada dipinggiran ranjang Taeyeon dengan Baekhyun yang memegang kedua tangan Taeyeon. Luhan mengalah, ia merasa Baekhyun lebih berhak untuk mengklaim Taeyeon sebagai miliknya. Karena sebuah alasan, Taeyeon masih kekasih Baekhyun.

Our Fate

 

Keesokan harinya, Taeyeon bangun dan secara tiba-tiba menangis, membuat Krystal kebingungan setengah mati. “Onni, jangan menangis. Tidak apa-apa Onni, aku memaafkanmu”kata Krystal sambil memeluk dan mengelus punggung Taeyeon.

Taeyeon terus saja menggumamkan kata maaf padanya dan membuat kupingnya panas.

Baekhyun datang saat Taeyeon masih menangis dan Krystal menyerahkannya pada Baekhyun. Ia duduk dipinggiran ranjang Taeyeon, sedang Taeyeon menekuk lututnya dan menyembunyika wajahnya diantara kakinya.

“Sayang, apa yang terjadi padamu hmm? Jangan menangis oke?”bujuk Baekhyun sambil mengelus kepala Taeyeon. Ia memeluk Baekhyun dan menangis diantara leher pria itu. “Baekhyun, maafkan aku. Sungguh maafkan aku”kata Taeyeon dengan isakan yang tak kunjung mereda.

Baekhyun menghela nafasnya dan mengangguk didalam pelukan mereka. Hingga ia bisa merasakan kalau bibir Taeyeon sudah ada diatas bibirnya dan menari disana.

Our Fate

 

Tak ada kelanjutan lagi dari hubungan Krystal dan Luhan saat ini. Bahkan saat Taeyeon mengatakan kalau ia dan Luhan tak melakukan apapun selain mengoles-berciuman-dan penyelesaian sebuah masalah kecil Krystal tetap berada dalam keputusannya.

Krystal menyadari bahwa mungkin Luhan memang tidak pernah ditakdirkan untuknya.

Sore itu, dengan langit jingga yang masih menjadi lukisan yang sesaat abadi, Krystal berjalan keluar dari kafe milik Suho.

Menghabiskan secangkir kopi dan sepotong lemon pie yang tak akan pernah membuat tubuhnya sedikit berisi. Ia mengeratkan jaketnya dan membenarkan syal yang ada dilehernya. Krystal memakai topi terbaik dan terus saja menundukkan kepalanya, hingga sesuatu menghentikan langkahnya.

Krystal berhenti dan mengangkat kepalanya, menatap sosok pria yang berwajah familiar didepannya. Tak ada yang berkata sampai pria itu secara tiba-tiba menarik pergelangan tangan Krystal dan membawanya terbang dilangit sore.

“A-apa yang kau lakukan? Cepat turunkan aku, bodoh!”protes Krystal sambil berusaha melepaskan genggaman pria itu pada pergelangan tangannya. “Menurutlah Krystal, atau kau akan jatuh dari ketinggian yang tak pernah kau bayangkah sebelumnya”

Our Fate

 

Mereka berhenti disebuah kastil cantik dengan dinding putih bersih dan mengilap. Ada dua penjaga bertubuh besar dengan tongkat yang berujung tajam yang menjaga pintu masuk.

Pria itu menanjakkan kakinya ditanah hijau berumput itu dan mengajak Krystal masuk kedalam kastil. Krystal tak berkata, hanya diam dan membiarkan pria yang sama sekali tak dikenalnya ini membawanya kemana saja.

Krystal membulatkan mulutnya saat kakinya menjejakkan lantai keramik kasti itu. Dindingnya bercat putih dan keramik coklat lembut yang melapisi lantainya, dengan aroma lavender yang menguar dari berbagai sudut. “Kai, kau kah itu sayang?”seorang wanita dengan gaun putih yang jatuh hingga ketumit dan rambut coklatnya yang ia urai dan jatuh dengan bagus dipunggungnya.

Pria yang dipanggil Kai itu membalikkan badannya. “Ya, ibu. Aku membawa calon istriku”katanya dan membuat Krystal membulatkan mata dan mulutnya. Tak terima dengan perlakuan pria disampingnya. “Apa yang kau lakukan?”bisik Krystal protes karena wanita yang dilihatnya dilantai dua itu mulai berjalan menuju kebawah dengan suara sepatu bertumit tingginya yang bersinggungan dengan lantai menimbulkan gema hingga kesudut ruangan.

Krystal mulai merasa takut dan meremas tangan pria disampingnya yang masih setia menggenggam tangannya. Wanita itu berdiri tegap didepannya, “Kau Krystal? Adiknya Do Taeyeon?”tanya wanita itu. Dan Krystal menganggukkan kepalanya.

“Kau tak perlu takut denganku Krystal-ah, karena dimasa depan kau akan tinggal disini sebagai istri anakku”

Our Fate

 

Taeyeon tak mengerti kemana perginya semua orang. Ini sudah malam, tapi Luhan ataupun Baekhyun tak kunjung menunjukkan batang hidungnya, ditambah lagi Krystal yang belum kembali sejak ia berpamitan ingin makan kue dikafe Suho.

Seseorang mengetuk pintu rumahnya dan ternyata sosok Chanyeol yang mengetuknya. Pria jangkung itu menatap tubuh Taeyeon saat gadis mungil itu membukakan pintu untuknya. Kedua belah bibirnya terangkat untuk membentuk sebuah lengkungan. Dan Taeyeon membalasnya dengan senyuman tulus.

“Taeyeon, boleh aku masuk?”

Taeyeon menyerongkan badannya dan memberi Chanyeol jalan lebih untuk memasuki rumahnya. “Aku baru saja berpikir kemana perginya Baekhyun, Luhan, dan Krystal, mereka bahkan tak menunjukkan batang hidung mereka dan Krystal tak kunjung pulang”

Taeyeon berjalan kearah dapur dengan Chanyeol yang sedang mencari posisi semanyaman mungkin disofanya. Ia kembali dengan kopi dan potongan buah naga merah.

“Wow, Taeyeon. Buahnya terlihat menggiurkan”ucap Chanyeol saat matanya menangkap warna merah darah pada buah naga itu. Taeyeon terkikik, “Kau kekanakan, bukankah kau sudah mendapat jatahmu untuk minggu ini?”tanya Taeyeon.

Chanyeol mencomot satu kubus buah naga dengan tusuk gigi dan mengunyahnya pelan. “Well, sebenarnya aku tak berburu manusia. Aku hanya meminum darah binatang”

Our Fate

 

Pria itu duduk disebuah kursi putar yang ada diruangan gelap. Bukan Yuri ataupun Minho. Seorang pria tegap dengan rambut mowhak coklat.

Tangannya ia gunakan untuk mengelus dagu bawahnya dengan matanya yang masih menatap kertas-kertas didepannya dengan benci. “Dasar tak tahu diri. Aku benar-benar harus membunuh manusia itu!!”teriaknya hingga menggema.

Seorang wanita lagi memasuki ruangan itu dengan jeans sobek-sobek dan jaket kulitnya. Tubuhnya pendek dengan rambut karamel.

“Chen… jangan terus saja memikirkan anak ingusan itu”

Pria yang bernama Chen itu berdiri dari duduknya menatap gadis mungil didepannya. “Kenapa Soonkyu? Aku benar-benar akan membunuh manusia itu secepatnya”

Our Fate

 

Taeyeon berjalan sendiri dihutan pinus yang ada didekat rumahnya malam itu. Tak ada yang ia takuti karena memang tak ada apapun disini selain dia dan angin malam yang berhembus dan mengenai wajahnya halus.

Taeyeon berhenti sejenak karena ia merasa mendengar sesuatu yang bergerak dari balik semak belukar didepannya. Kaki-kaki mungilnya berjalan pelan menuju ke semak belukar itu hingga seseorang muncul disana.

Ia tak bisa meyakinkan dengan pasti bagaimana bentuk wajahnya dan tubuhnya karena hampir semuanya tertutupi oleh bulu dan tak lama kemudian terdengar suara lolongan yang ia percayai berasal dari makhluk didepannya.

Bulu kuduk Taeyeon semakin meremang saat makhluk itu membalikkan tubuhnya dan menatap Taeyeon dengan mata merahnya. Tak lama kemudian makhluk itu menerjang Taeyeon dan menancapkan taringnya diperpotongan leher Taeyeon.

Taeyeon merasakan seperti aliran listrik yang tiba-tiba menyengatnya saat taring makhluk itu menancap sepenuhnya diperpotongan lehernya. Tidak, makhluk itu tak menghisap darahnya, ia hanya memutuskan aorta-nya dan saraf-saraf tubuhnya.

Hingga tiba saatnya, segalanya terasa hanya putih dan buram dimata Taeyeon dan ia seperti tak bernyawa.

Our Fate

 

Krystal terbangun dari tidurnya. Firasatnya buruk dan nalarnya berpikir tentang Taeyeon. Ia memperhatikan sekeliling dan menyadari kalau ini bukan kamarnya.

Dindingnya berwarna pastel dengan korden merah muda dan perabotan kayu. Seseorang yang bernama Kai ada disampingnya dan ia sedang tidur seranjang dengan Krystal. Seranjang.

“Kya!! Menyingkir kau!!”teriak Krystal sambil menutupi tubuhnya dengan selimut dan menangis. Ia tak kecewa karena menemukan dirinya sedang tidur seranjang dengan pria ini. Ia sedih karena berfirasat buruk tentang Taeyeon sekarang.

Kai membuka matanya dan menemukan Krystal sedang menangis dengan selimut yang membungkus tubuhnya. Ia beranjak dan memeluk Krystal erat dengan Krystal yang sedang menangis didadanya. “Shhh… Krystal-ah, jangan menangis ne? Apa yang kau inginkan sayang?”

Krystal mengangkat wajahnya dan bertemu pandang dengan Kai. Garis wajahnya tegas dengan mata yang indah. Krystal mulai menyukai ini. Tapi mood-nya berubah saat ia kembali berpikir tentang Taeyeon. “Taeyeon-Onni, Kai tolong antar aku ke rumah ne?”

Our Fate

 

Kai hanya menuruti kemauan Krystal agar ia terbang saja dari pada naik mobil dan Krystal ingin pulang lewat hutan pinus yang ada dibelakang rumahnya.

Kai menghentikan terbangnya dan menjejakkan kakinya disebuah dahan pohon. Krystal yang ada digendongannya menatapnya aneh dengan alisnya yang berkerut. “Kai. Ada apa?”tanya Krystal sambil memegang pipi kiri Kai.

“Ini seperti darah”kata Kai dan tanpa sadar mereka terbang bukan kearah rumah melainkan kearah dimana Taeyeon berada.

.

Krystal menjerit dan Kai hanya memasang wajah khawatir pada sosok gadis mungil yang bersandar disebuah pohon pinus yang tinggi. Krystal berlari kearah dimana jasad Taeyeon berada dan mengangkat kepala Taeyeon keatas pahanya. “Taeyeon-Oppa hiks.. a-apa yang terjadi padamu? Onni!! Ayolah jangan bercanda! Aku tahu kau hanya bercanda, Onni!!” Kai meringis saat melihat Krystal menangis sambil berteriak.

Mata hitamnya tak sengaja melihat sesuatu yang aneh pada leher Taeyeon. “Sebentar, Krystal-ah. Coba lihat apa yang ada dilehernya”kata Kai dan Krystal memiringkan kepala Taeyeon. Ada dua buah lubang disana yang Krystal percayai adalah bekas taring vampir.

“A-apakah mungkin? Vampir?”

Our Fate

 

Pagi itu, tak seperti biasanya rumah Taeyeon terlihat begitu ramai dengan banyaknya mobil-mobil yang terparkir dihalaman depan rumahnya.

“Hiks… Taeyeon-Onni… Hikss… Hikss”

Kai hanya bisa mengelus pelan punggung Krystal saat gadis itu terus saja menangis didepan peti mati Taeyeon. Rambut perak Krystal sudah tak tertata rapi dengan kemeja hitamnya. Tak lama kemudian, Kris datang bersamaan dengan datangnya Baekhyun.

Kris dan Baekhyun mencoba untuk memberikan penghormatan terakhir pada Taeyeon dan mengucapkan kata maaf padanya. Entah kenapa Kai merasa bahwa jasad didalam peti mati itu tak sungguh-sungguh mati. Di nalarnya, Taeyeon hanya mati suri.

Our Fate

 

Malamnya, setelah petang hari Taeyeon sudah dimakamkan. Ada seorang wanita yang berdiri didepan kuburan Taeyeon dan tersenyum licik.

“Kau percaya reinkarnasi?”tanyanya. Gadis disampingnya terkekeh pelan. “Tidak akan terjadi reinkarnasi untuk seorang manusia”katanya sakratis. Pria itu menggeram lagi, “Kita hanya harus menunggu sampai ada seorang yang akan membangunkannya”

Pria yang itupun terkekeh dan menginjak tanah pekuburan Taeyeon dengan kakinya. “Aku harap si Vampir tak melupakan pasangannya”katanya dengan seringaian. Wanite pendek disampingnya juga terkekeh. “Kau juga tak akan melupakan kalau takdir bocah ini begitu rumit”

Our Fate

 

Luhan berdiri dibalkon kamarnya. Matanya tertutup dan merasakan angin yang serasa berbicara dengannya. Ia bahkan masih tak mempercayai kalau Taeyeon sudah tewas karena Vampir.

Matanya tiba-tiba terbuka dan pupilnya berubah semerah darah saat matanya melihat sosok pria tinggi yang tengah melihatnya dari sebuah dahan pohon yang tak jauh dari rumahnya. Bibirnya terangkat untuk membentuk sebuah senyuman mematikan dan kepalan tangannya semakin mengerat saat pria itu terbang mendekat kearahnya.

Mata pria didepannya sama merahnya dengannya. “Kau membunuh Taeyeon!”kata pria didepannya tiba-tiba. Luhan membuang ludahnya dan terbang ke halaman belakangnya. “Apa yang kau katakan bodoh! Aku tahu bahkan tak ada dari kita berdua yang membunuh Taeyeon. Bukan, bukan Vampir yang biasa Chanyeol. Ia mengetahui, mengetahui segalanya”

Chanyeol memutar matanya, “Apa yang kau katakan? Segalanya apa yang ia ketahui?”tanyanya dengan lantang. Luhan menghela nafas. “Chanyeol, Taeyeon bukan hanya gadis mungil yang manis dan seksi. Ia, ia adalah legendanya”

Our Fate

 

22 April 1990

Seminggu setelah kematian Taeyeon. Baekhyun membuka matanya dan menatap sekelilingnya. Ia sudah cukup dapat melupakan Taeyeon. Akan tetapi, ia merasa kosong dihatinya.

Baekhyun menyibak selimutnya dan beranjak dari ranjang. Berdiri didepan kaca besar yang ada dilemari pakaiannya. Lingkaran hitam samar terlihat melingkari mata sipitnya. Ia berjalan untuk membuka korden putihnya dan membiarkan cahanya matahari pagi memasuki kamarnya. Setidaknya, ia butuh pergantian udara setelah tiga hari ia bahkan tak membuka jendela kamarnya.

Sejenak, Baekhyun merasa kalau ia benar-benar merasa asing sekaligus rindu dengan cahaya matahari hangat yang menerpa kulitnya, begitu juga dengan angin pagi yang melewatinya halus. Ia tersenyum, untuk pertama kalinya setelah kematian Taeyeon.

Baekhyun membersihkan tubuhnya setelah itu, mengguyur kepalanya dengan shower dan ia juga mencuci rambutnya. Ia memakai setelan biasa dengan sneaker hijau-kuning yang membalut kakinya. Ia sudah menyusun beberapa rencana untuk hari barunya, tanpa Taeyeon.

Baekhyun duduk dikursi makan dan mengagetkan Tiffany yang sedang mengoles roti bakar dengan selai nanas dan coklat. “Baekhyun!”pekiknya. Tangannya masih memegang pisau selai dan roti panggang. Baekhyun menutupi lubang telinganya. “Tiffany, tolong jangan histeris. Kau merusak mood-ku pagi ini”

Tak lama, Jessica bergabung dengan piyama panda yang masih membalut tubuhnya dengan rambut blond-nya yang masih acak-acakan. “Hei Jessica. Setidaknya beritahu aku kalau kau sudah memilik kekasih”kata Baekhyun yang menyebabkan Jessica tersedak setelahnya.

Mata mungilnya menatap Baekhyun lalu terkekeh. “Maaf Baekhyun-Onni, kau terlalu sibuk mengurus Taeyeon waktu itu. Hingga kau bahkan tak menyadari kalau adikmu sedang berkencan dengan naga mesum”

Our Fate

 

Baekhyun menyetir mobil kesuatu tempat siang ini. Ia tak tahu harus kemana dan ternyata mobil tuanya membawanya kesebuah tempat. Pemakaman Taeyeon.

Baekhyun membuka pintu mobilnya dan membanting pelan saat menutupnya. Ada perasaan sesak didadanya saat mengingat ia kemari bukan untuk menjenguk orangtuanya tetapi untuk menjenguk Taeyeon.

Baekhyun berjalan menuju kesudut dimana jasad Taeyeon terbaring. Mata coklatnya masih menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia berjongkok dan mengelus nisan Taeyeon. “Taeyeon-ya. Aku datang padamu. Maaf jika saat itu aku tak ada disampingmu untuk melindungimu…”

“…. Kau tahu, aku merasa begitu brengsek dan jahat saat aku sadar kalau aku lalai menjagamu. Dan juga, aku tak mengindahkan peringatan yang Kris katakan padaku”

Nalar Baekhyun berakar dan berakhir pada seseorang. Kris.

Pria jangkung itu sempat memperingatkannya untuk menjaga Taeyeon.

Our Fate

 

Dan disinilah Baekhyun, duduk dikursi besi empuk yang berhadapan dengan Kris yang duduk dikursi putarnya. “Aku merasa seperti pegawaimu Kris. Jangan menatapku seolah-olah aku pegawai baru yang membuat kesalahan dihari pertamanya bekerja”

Kris terkekeh, “Maaf Baekhyun. Tapi, apa yang kau lakukan kemari?”tanyanya dan Baekhyun memulai dengan menghela nafasnya terlebih dulu. “Kau pernah memperingatkanku Kris, memperingatkanku agar menjaga Taeyeon. Apa maksudmu? Kenapa Kau memintaku melakukannya?”

Kris menghela nafasnya dan menyamankan duduknya. Tangannya ia tumpu diatas meja sedang Baekhyun didepannya tengah meminta penjelasan darinya.

“Baekhyun, kau pernah dengar legenda amaranth?”tanya Kris. Baekhyun menganguk, “Legenda tentang seorang manusia yang memilik takdir rumit dengan banyak sekali makhluk supernatural yang menjamah takdirnya…”Kris menjeda kalimatnya dan menghela nafas lagi.

“…. Maaf bila sebelumnya aku terlambat mengatakan ini padamu. Taeyeon-lah legenda itu Baekhyun, ia adalah manusia itu”kata Kris pelan sambil memperhatikan perubahanraut muka Baekhyun.

Baekhyun menghela nafasnya, “Tak apa, lagipula semua itu sudah terjadi dan bukankah kita hanya harus menunggu untuk yang paling benar akan membangunkannya”

Our Fate

 

24 April 1990

Pagi ini, Baekhyun menemukan dirinya tertidur dibalkon setelah ia mengingat-ingat kalau semalam ia tidur diranjangnya. Tangannya meraba sebuah luka gores yang ada digaris rahangnya dan membentuk tiga buah garis yang berbeda panjang.

Ia benar-benar tak tahu apa yang terjadi padanya, hanya saja, ia merasa kalau kemarin malam, ia seperti tertarik oleh sesuatu dan sesuatu itu menyakitinya.

“Akhhh…”

Baekhyun mengerang saat alkohol menyentuh lukanya dan berganti dengan obat merah. Ia meringis sekali lagi sebelum menutup lukanya dengan plester dan mulai mempersihkan dirinya.

“Baekhyun, apa yang terjadi dengan rahangmu?”tanya Tiffany saat mereka sarapan bersama. Tangannya mengelus plester lukanya dan tersenyum, “Tidak, ini tak apa. Aku hanya terluka kecil”jawabnya dan Tiffany mengangguk. “Dimana Jessica?”

“Aku tak tahu, ia tak kembali sejak kemarin malam”

Our Fate

 

Baekhyun mendobrak paksa kantor Kris karena ia sudah tak bisa bersabar lagi karena ini menyangkut adiknya. Adik bungsunya.

Baekhyun berjalan dengan nafas berat dan menatap mata pria itu tajam. “Hei Baekhyun ada a –“ “Jangan berlagak Kris Wu, dimana Jessica?”

Kris yang mendengar nama Jessica terlontar lantas berdiri dan menatap Baekhyun. “Apa yang terjadi padanya?”tanya Kris. Baekhyun masih berusaha menstabilkan deru nafasnya, “Ia tak kembali sejak kemarin malam, ia hilang Kris”

Baekhyun masih memutar otak memikirkan kemana kemungkinan adik bungsunya itu pergi. Kris juga sedang mencari Jessica, dan sekarang dengan perlahan, pikiran Baekhyun mulai beralih.

Our Fate

 

26 Maret 1990

Pagi ini lagi, Baekhyun menemukan dirinya tergeletak dibalkon kamarnya dengan luka dilengannya dan sudut bibirnya yang sobek. Baekhyun bangun dan sekilas ia bisa melihat seorang pria yang berdiri didahan pohon tak jauh dari rumahnya.

Tak memperdulikan itu, Baekhyun memutar tubuhnya dan pergi ke kamar mandi.

Ia membersihkan lukanya dan menutupnya dengan plester. Tak lama ia turun kelantai bawah dan menemukan Luhan sedang duduk disofa ruang tengahnya. “Luhan?”

Luhan berdiri dan membalikkan badannya. Tersenyum kecil pada Baekhyun, “Apa yang kau lakukan disini?”tanyanya, Luhan menghela nafas, “Aku tahu benar kalau kau dua hari lalu tergeletak dibalkon kamarmu”katanya dan Baekhyun merasa tertegun.

“Bagaimana kau tahu?”

“Tidak, tidak disini Baekhyun. Kita hanya butuh, privasi”

Our Fate

 

Disinilah mereka, duduk berhadapan diruang bawah tanah yang ada dirumah Luhan dan menyalakan sebuah lilin. “Kris memberitahuku kalau kau sudah mengetahui tentang Taeyeon dan Amaranth, aku hanya akan memberitahumu sebuah petunjuk dimana adikmu berada Baekhyun, maafkan aku bila aku tak memberitahukan segalanya. Ini begitu berbahaya”

Baekhyun menundukkan kepalanya dan menelan ludahnya, “Baiklah”jawabnya singkat. Luhan mengawalinya dengan menghela nafas berat, “Adikmu ada di kastil Chen, kau kenal Chen bukan?”tanya Luhan dan Baekhyun mengangguk sambil memegang dagunya.

“Tapi bagaimana bisa?”tanyanya lagi. Luhan terkekeh kecil, “Ini simpel, kau adalah pacar Taeyeon dan Jessica adalah adikmu, mereka akan melakukan apapun untuk menghancurkan orang yang pernah ada dikehidupan Taeyeon. Termasuk aku dan … Krystal”

Our Fate

 

28 Maret 1990

Pagi ini ia masih ada dikastil Kai, ia tak punya banyak nyali untuk pulang dan tinggal sendiri dirumahnya. Dan alasan sebenarnya adalah sebuah alasan sederhana, terlalu banyak kenangan.

Krystal berdiri dibalkon kamarnya, fajar sudah datang tapi Kai masih saja bergelut dengan selimutnya dan Krystal membenci itu. “Kai, -aishh… kenapa kau sulit sekali bangun!!”kesal Krystal dan menendang Kai dari ranjang.

“Hei, hei sayang. Jangan mendorongku oke? Sekarang apa yang kau inginkan?”

Krystal diam sambil menatap Kai. Kai dan Taeyeon sama, mereka sulit sekali bangun ketika tidur. Dan itu membuat Krystal mau tak mau mengingat Taeyeon, mengingat satu-satunya keluarga yang ia punya sekarang.

Secara tak terduga, Krystal terisak karena sebuah perasaan lagi-lagi seakan mencokol dari hatinya. Ia bernar-benar merindukan Taeyeon. Sosoknya dan apapun yang ada didirinya.

“Krystal-ah, kau tak apa? Kenapa kau menangis?”

Pertanyaan Kai tak didengarkannya alih-alih tetap menangis dan sesekali menghapus jejak air matanya dengan ibu jarinya. Kai menghela nafas, ia merangkak keatas kasur dan mengambil tempat didepan Krystal. Memeluknya. “Jangan sedih. Jangan menangis”katanya pelan sambil mengelus leher belakang Krystal.

Isakannya tak berhenti, Krystal malah membenamkan wajahnya diperpotongan leher Kai dan menangis disana. “Hiks… Taeyeon-Onni… Hiks”

Kai mengendorkan pelukannya, menatap Krystal dalam dan mengapus jejak air mata yang ada dipipi putih Krystal. “Tidak Krystal. Jangan menangis, ini menyakitkan”

Our Fate

 

Baekhyun berkali-kali menghela nafasnya hingga ia tak sabar dan memukul ban setirnya. Ia berhenti ditepi jalan. Nafasnya terdengar begitu berat. “Kenapa? Kenapa!”geramnya marah. Nalarnya tak bisa berpikir hal yang lebih rasional dari berteriak dan meratapi segalanya. Semua masalah ini terlalu seperti kabut abu-abu yang memudarkan pikirannya.

Baekhyun menggenggam ban setir hingga kukunya tertancap dilapisan karetnya dan menimbulkan bekas yang begitu terlihat. Ia masih berusaha membenarkan nafasnya. “Hah!!”teriaknya lagi. Ia benar-benar tak bisa menahan sesuatu yang sudah lama begitu ingin ia keluarkan hingga rasanya dadanya akan meledak seperti bom waktu.

Ia mencintai Taeyeon, ia menyayangi Jessica dan kenapa kedua hal yang paling ia kasihi di renggut oleh sesuatu makhluk pengisap darah brengsek bernama Chen. Lagi-lagi pikirannya berteriak dan bertubrukan satu sama lain. Satu sisi ia ingin berlari dan menghajar si brengsek Chen dan satu sisi yang lain ia harus memikirkan berapa orang yang akan mati bila ia melakukan itu.

Tanpa menunggu emosinya mereda, Baekhyun menginjak gas dan melajukan mobilnya kesuatu tempat.

..

..

..

Baekhyun sudah duduk dikursi bar milik Kris dengan segelas moonshine ditangan. Kris sedang mengurus beberapa berkas dan ia bisa melihat siluet namja penyembuh kekasih Suho bernama Yoona. Pria itu berjalan kearahnya dengan membawa segelas cocktail ditangan dan memberikannya ke seorang pelanggan disamping Baekhyun. “Aku suka rambut barumu”

Yoona tersenyum sekilas, “Terimakasih, dan aku turut sedih atas kematian Taeyeon. Ini terlalu mendadak”katanya sambil menuang anggur kedalam gelas berleher tinggi. “Baekhyun, mau kuberitahu sebuah rahasia?”tanyanya dan Baekhyun menatapnya dengan tatapan bingung.

Yoona beranjak memberikan anggur pada seorang wanita dengan bibir merah dipojok ruangan dan kembali duduk ditempatnya. “Tanda terakhir yang aku lihat. Taeyeon telah meminum darah vampir”katanya, Baekhyun membulatkan matanya, “Apa yang kau katakan? Hanya ada dua Vampir yang dekat dengannya, hanya Chanyeol dan –Luhan”jawab Baekhyun dengan suara yang makin mengecil saat akan mencapai akhir.

“Apa yang kau ragukan? Kau bisa mencurigai satu dari mereka”kata Yoona. Baekhyun beranjak dan …..

–Luhan.

Our Fate

 

Hari berikutya, Baekhyun menerima sebuah surat tanpa nama yang ditulis diatas secarik kertas lama. Dengan warna yang agak kekuningan dan bau yang aneh. Berisi kalau Baekhyun menginginkan Huang Jessica kembali, ia harus membunuh Luhan dan Krystal.

“Apa?! Apa mereka bercanda?”pekik Baekhyun tak percaya saat membaca surat tanpa nama itu dengan seksama. Tak ada petunjuk apapun yang bisa membawa Baekhyun mengetahui pengirimnya secara langsung. Akan tetapi, saat ia membaca kata ‘Jessica’ ia mulai berpikir tentang si brengsek.

Baekhyun menggeram sambil meremas kertas itu hingga tak benar-benar rusak dan akhirnya jatuh kelantai kayu rumahnya. Tiffany menatap Baekhyun dengan khawatir, “Baekhyun, kau tak apa? Kau terlihat tak baik?”tanyanya dan Baekhyun menghela nafas berat. “Tidak, Tiffany mulai sekarang jangan buka pintu sembarangan kalau orang itu tak mengeluarkan suaranya dan jangan bersuara. Selalu hidupkan lampu, walau aku tak dirumah dan tutup korden”kata Baekhyun.

Tiffany mengerutkan keningnya, ini terlalu tiba-tiba hingga ia merasa hilang pikiran untuk beberapa saat. “Kenapa?”tanyanya. Baekhyun menggeleng sambil memijat keningnya, “Tidak, ini tak ada hubungannya denganmu. Hanya dengarkan aku dan tutup mulutmu”kata Baekhyun lalu beranjak dan mengambil mantel.

Ia menyetir mobil menuju bar Kris untuk membicarakan surat aneh yang diterimanya dan Kris adalah pemimpin kawanan. Mungkin ia bisa membantu Baekhyun walau hanya mencari informasi.

Baekhyun memakirkan mobilnya disamping mobil bak terbuka milik Kris yang terparkir dibelakang bar yang gelap. Ia mendorong pintu pegawai dan berjalan melalui lorong-lorong untuk mencapai kantor Kris. Ia bertemu Suho dilorong sempit antara dapur dan kamar mandi. “Hai Baekhyun. Senang melihatmu melewati area pegawai”katanya.

Baekhyun merasa seperti tersindir. “Maaf, Kris akan mentolelir kejadian ini”katanya lalu melajutkan langkahnya menuju ruangan sang pemimpin kawanan.

Baekhyun mengetuk pintunya dua kali dan membuka pintunya paksa. Ia mematung diambang pintu saat melihat bagaimana hancurnya Kris. Pria jangkung itu duduk dengan memandang jendela luar tak menentu apa yang dilihatnya. Baekhyun masuk kedalam dan menutup pintu pelan dengan tangannya. Ia berdiri didepan meja persegi panjang coklat Kris yang terlihat berantakan dengan beberapa dokumen yang tak menentu.

Baekhyun menyentuh bahu Kris dan pria itu membalikkan badannya. “Hai Baekhyun. Kenapa kau tak tahu kau datang?”tanyanya dengan wajah menyebalkan yang garang. Baekhyun menelan ludahnya, “Kau terlalu fokus. Kenapa kau melamun?”tanyanya.

Kris berdiri dan merapikan kemejanya juga menekuk sikunya, lalu kembali duduk. “Well, ini mungkin mirip saat dirimu tahu kalau Taeyeon meninggal”jawabnya enteng yang membuat Baekhyun terasa terhempas dari langit teratas. Wajah Taeyeon dengan pelan merambat lagi ke pikirannya dan akhirnya Baekhyun jatuh kedalam kebimbangan.

Kris tertawa, “Baiklah, katakan apa yang ingin kau bicarakan”kata Kris. Baekhyun menarik sebuah kursi empuk dan duduk disana. “Kris…”ia memulainya. Menyamankan duduknya, “…. Aku menerima sebuah surat dari Chen”katanya. Kris berhenti sejenak saat mendengar kata ‘Chen’. Ia mendongak dan menatap Baekhyun.

“Aku menerima sebuah surat, sungguh”kata Baekhyun meyakinkan. Kris mengusap wajahnya, “Akh, ini semakin membingungkan”katanya. Baekhyun menghempaskan punggungnya kesandarang empuk dibelakangnya, “Aku tak tahu dari mana kita harus memulai Kris, aku tak ingin melibatkan orang lain”kata Baekhyun.

Secara tiba-tiba, Kris berdiri dan memukul meja kerjanya keras. “Hei, Kris. Ada apa denganmu?”tanya Baekhyun. Kris menatapnya dengan mata merahnya. “Siapa yang kau sebut orang lain Huang Baekhyun! Aku kekasih Jessica!”bentaknya dan seketika Baekhyun menyadari akan kesalahan ucapannya. Hanya sebuah kata ‘orang lain’.

Our Fate

 

Dengan pakaian serba putih dan rambutnya yang sudah berubah warna menjadi putih juga, Krystal berjalan di lorong lantai atas dari kastil ini. Ia menyerah setelah mencari Kai ke aegala sudut kastil dan hasilnya nihil. Krystal berhenti dan duduk disebuah jendela besar yang terbuka, menampilkan halaman belakang kastil yang begitu luas dan indah.

Krystal menutup matanya, dan angin serasa menyapanya. Saat ia berada dalam keadaan relaks, secara tak terduga ingatan tentang Taeyeon merangkak cepat ke pikirannya. Ia mengingat bagaimana Taeyeon membangun lagi keluarga Do. Ia mengingat bagaimana Taeyeon menguatkannya saat ia rapuh. Dan ia ingat bagaimana Taeyeon berpura-pura tegar saat ia menangis. Hanya untuknya.

Segala ingatan entah indah maupun buruk merangkak ke pikirannya. Hingga secara mendadak, air matanya mengalir dan jatuh melewati pipi putihnya. Isakannya dapat terbendung, namun tidak dengan air matanya. Terus mengalir deras hingga hidung dan matanya memerah.

Krystal terpenjat saat sebuah tangan meraup pinggangnya. Cepat-cepat, ia mengusap air matanya dengan telapak tangannya kasar. “Apa yang kau lakukan?”tanya Kai. Krystal tak menjawab alih-alih menatap hamparan hijau halaman belakang. “Aku mencarimu Kai. Kemana saja?”tanya Krystal sambil memainkan jarinya di lengan kekar Kai.

Kai terkekeh pelan, “Jangan mengkhawatirkanku. Aku hanya pergi ke kota untuk membeli sesuatu”katanya melegakan. Krystal menghela nafasnya. Beban dan rasa sakitnya terasa terhempas begitu saja saat telinganya menangkap suara tawa renyah milik Kim Jongin. Pria yang ia sayangi, yang juga menyayanginya.

“Jongin?”panggil Krystal. Jongin berdehem dalam. “Apa kau menyayangiku?”tanyanya diiringi dengan munculnya semburat merah muda kentara dipipinya. “Ya, tentu saja. Aku bahkan tak hanya menyayangimu. Aku mencintaimu dengan segalanya yang ada pada dirimu”jawabnya.

Our Fate

 

Hujan deras mengguyur kota malam itu. Krystal masih bergelung dibawah selimut putih tebalnya dengan selapis pakaian hangat dan celana panjang. Ia terbangun dari tidurnya dan tak menemukan kekasihnya dimanapun sejauh ia melihat.

Krystal beranjak memakai alas kakinya dan berjalan keluar kamar. Ia menuruni tangga dengan pelan tanpa menimbulkan suara.

“Ibu aku mohon jelaskan padaku tentang Do Taeyeon”

Sebuah suara masuk ke pendengaran Krystal dan itu adalah suara Jongin. Krystal terhenyak dan melanjutkan jalannya tanpa bermaksud untuk menimbulkan suara.

“Jongin, Taeyeon hanya manusia tak beruntung yang menjadi legenda amaranth

Sebuah suara lagi dan Krystal mengetahui bahwa telah terjadi percakapan panjang atara Jongin dan ibunya. Krystal akan beranjak pergi tapi diurungkannya saat ia mendengar sesuatu yang tentu saja juga menyangkut dengannya.

“Jongin, kau tak tahu bagaimana kejamnya pria bernama Chen itu. Dan menurut ramalan, adik bungsu Huang sedang disekapnya. Bukan hanya Taeyeon Jongin, tapi semua orang!! Semua orang yang dekat dan memiliki hubungan dengan Taeyeon!!”

Krystal menutup mulutnya dengan telapak tangan. Kenyataan ini seperti memukulnya telak di ulu hati dan sekarang, ia merasakan rasa nyeri yang nyata.

“Lalu apa yang harus kulakukan saat melihat Krystal terus saja menangis karena Taeyeon?”

Dalam nalarnya, Jongin adalah pria yang baik dan perhatian dengannya. Mungkin ia memang pantas dicintai.

“Untuk sekarang Jongin, hanya jaga Krystal. Chen sedang mengincarnya. Dan untuk Taeyeon, gadis itu akan kembali. Takdir tak akan membiarkannya mati untuk waktu yang lama. Ia akan kembali, setidaknya tak lama lagi”

Dan Krystal akhirnya memutuskan meninggalkan percakapan Jongin dan ibunya tentang takdir Taeyeon yang mereka ketahui. Ia berlari menuju dapur dan mengambil segelas air.

Kedua telapak tangannya masih mengepal, dan bibirnya masih bergetar. Ia merasa takut akan segalanya, walaupun kebenarannya, ini bukan takdirnya, ini takdir menyedihkan kakaknya.

..

..

..

Krystal sudah kembali kekamarnya dan masuk kedalam selimutnya lagi. Ingatannya masih terbang ke takdir aneh bernama amaranth.

Sekali dua kali dalam hidupnya, ia pernah mendengar kata itu. Saat kecil, ayahnya pernah berbicara tentang amaranth dan berkata kalau takdir itu mematikan. Dan ia tebak, semua orang mengetahui tentang ini, kecuali dirinya.

Ia merasa bodoh menjadi seorang adik. Ia bahkan tak bisa melakukan apapun untuk kakaknya. Ia hanya seorang putri polos yang baru saja mengetahui bagaimana rupa dunia. Begitu polos dan tolol.

Dan akhirnya Krystal terlelap saat Jongin memasuki kamar.

Our Fate

 

Kastil itu terlihat menyeramkan. Dengan dua penjaga berpakaian hitam dengan tombak yang menjaga gerbang besar kastil itu. Tanpa ditanya pun semua orang sudah mengenal siapa yang memilik kastil ini.

Si makhluk pengisap darah brengsek yang dibenci semua orang yang terlibat dalam legenda amaranth. Terkecuali bagi Taeyeon, pasalnya ia bahkan tak mengetahui tentang adanya takdir itu yang menyelubungi hidupnya seperti kabut abu-abu yang tak kasat mata.

“Kim Jongdae!! Lepaskan aku!! Bodoh!!”teriakannya menggema dipenjuru ruangan tak berpenerangan itu. Tangannya diborgol dengan rantai dan kakinya dipasung. Terlihat seperti tahanan rumah yang gila.

Tak lama, seseorang datang dan masuk kedalam ruangan. Dengan nampan dan segelas air. Ia menaruhnya didepan pria itu dan terkekeh.

“Begitu disayangkan hidupmu. Kau melakukan ini hanya untuk melindungi Taeyeon. Jessica bodoh”katanya mengejek. Jessica memandangnya rendah dengan sudut matanya yang tergores dan dagunya yang tergores. Jessica cukup meringis akibat rasa perih yang menjalar diwajahnya kala ia bergerak melebih batas. Ini sihir.

“Kau yang bodoh Chen. Setidaknya aku memiliki hati nurani dan cinta yang berharga. Sedangkan dirimu, hanya seonggok daging tak berguna yang hidup tanpa hati nurani dan cinta. Apa makna hidupmu!!”teriak Jessica tepat didepan Chen. Pria itu meringis, dan sekali gerakan ia menampar keras pipi kanan Jessica hingga menimbulkan goresan baru disudut matanya.

“Jangan berbicara sesuatu yang akan membuatmu lebih sakit Jessica!! Aku memperingatkanmu!!”teriaknya lalu keluar dan menutup pintu kayu ruangan itu hingga ruangan itu kembali gelap.

Jessica menundukkan kepalanya. Tak ada secuil rasa menyesal yang menjalar dihatinya setelah mengatai pria itu dan menyelamatkan seseorang yang disayanginya. Setidaknya ia bisa berkorban untuk semua orang dikehidupan Taeyeon.

Dan setelah ia berulang kali menghela nafas, ia menangis. Tanpa suara, dan hanya air mata yang mengalir. Air matanya menyapu luka disudut matanya, tetapi ia tak memperdulikan itu. Ia hanya ingin menangis dan meluapkan bagaimana sekarang hatinya terasa. Ia marah dan kesal. Ia membenci Chen, begitu membenci pria itu.

..

..

..

Keadaan diluar ruangan tak kalah menyeramkannya. Terdapat sebuah tangga yang membentuk kurfa lengkung yang berujung dilantai atas dengan lampu gantung yang megah dengan artistektur eropa yang begitu kental.

Chen membuka sebuah pintu dilantai atas dan mengagetkan sosok gadis lain diatas. “Apa yang dilakukannya lagi kali ini?”tanyanya. Chen mengambil duduk disampingnya, “Ia mengataiku dan aku bersumpah akan membunuhnya”jawab Chen dengan nafas yang memburu.

Soonkyu, sosok gadis mungil yang menjadi teman hidup Chen selama ini. Soonkyu merasa Chen sudah kelewatan kali ini, ia sudah benar-benar kelewatan. “Kau harus menghentikan ini Chen”katanya dan Chen menatapnya kaget. “Apa menghentikannya? Bahkan ini belum dimulai Soonkyu. Sang pembenar belum membangunkan Taeyeon dari tidur panjangnya begitu juga dengan werewolf dan vampir temannya”katanya

Soonkyu beranjak. “Ini sudah terlalu jauh, kau melangkah terlalu jauh dari teritorialmu Chen”katanya lalu ia pergi meninggalkan sosok Chen didalam ruangan sendiri.

Our Fate

 

Soonkyu menekuk kakinya dan menempelkan pantatnya di rerumputan hijau lapang itu. Helaan nafas terdengar begitu berat saat ia melakukannya. Mata sipitnya menatap bulan penuh dengan do’a yang berbisik keluar dari hatinya. Ia hanya meminta agar segalanya akan berhenti, dan ia bisa mengatakan yang sejujurnya. Mengatakan sejujurnya pada Chen.

 

Our Fate

 

Pyarrr!!!

Suara keramik yang menghantam lantai menjadi sebuah suara yang ada diruangan sunyi itu. Sang pria terengah-engah dengan telapak tangannya yang bersimbah darah. Ia marah, begitu marah hingga ia melampiaskannya pada sebuah keramik.

“Minho-Oppa!! Jangan lukai dirimu”teriak seorang pria sambil memasuki ruangan itu. Yuri; dengan kaus lengan pendek dan jeans hitam. Ia meraih pergelangan tangan Minho dan menariknya menuju kamarnya. Ia berlari mengambil kotak P3K dan mendudukan Minho disampingnya.

Ia mengeluarkan alkohol dan menyapukannya pada luka sayat Minho, dengan sebuah kapas. “Akh”Minho meringis saat rasa dingin itu menjalar dan terasa perih ditubuhnya. Yuri dengan telaten terus menyapukannya sambil sesekali meniupnya.

Bodoh. Minho menatap Yuri, tajam. Ia tak mengerti; kenapa Yuri begitu bodoh tak menghiraukan penolakannya. Sebuah perasaan menyesal seperti naik dan mengapung dihatinya. Ia membenci bagaimana jantungnya berpacu lebih cepat saat matanya menatap kedalam mata kelam Yuri. Ia seperti melihat sebuah kehidupan menyedihkannya. Ia membencinya karena ia menyukainya.

“Selesai, Minho-Oppa. Jangan lukai tubuhmu. Aku tak menyukainya, sangat”katanya sambil menatap ke mata Minho. Ia menyukai pria ini, begitu tampan dengan garis wajah yang tegas. Ia tak bisa menolak saat jantungnya berdetak seperti bom waktu. Secara tiba-tiba, Minho mengalihkan pandangnya. “T-terimakasih Yuri. Kau boleh kembali”katanya dan Yuri beranjak kemudian meninggalkannya.

.

..

..

Yuri menuruni tangga, satu per satu hingga kakinya menapak dilantai dasar. Ia berhenti dan memegang dada kirinya, ada jantungnya yang berdetak cepat dan ia menyukai efeknya. Efeknya terasa seperti ada puluhan kupu-kupu terbang diperutnya dan setelah itu ia akan merasa panas menjalar keseluruh tubuhnya.

Seseorang tertawa dan ternyata adalah Krystal; kakaknya. Yuri tersenyum lalu berlari dan masuk kepelukan kakak perempuannya. Satu-satunya wanita yang berharga baginya, setelah ibunya pergi. Meninggalkannya.

“Apa kau bahagia Yulie?”tanyanya sambil mengelus rambut Yuri. Rambut keduanya bahkan sama hitamnya, dan mereka juga memiliki kehidupan yang sama kelamnya, dan Victoria bersumpah tak akan membiarkan adiknya meneteskan air mata lagi. Cukup ia yang merasa sakit, cukup ia melihat Yuri menangis saat orang tua mereka dibunuh keluarga Do.

Yuri menganggukkan kepalanya. “Ya, aku bahagia Vic. Ia tersenyum padaku dan aku bahagia karenanya”jawabnya. Victoria akan melakukan apapun untuk membuat Yuri kecilnya tersenyum. Ia dan Jongdae. “Aku dan Jongdae akan menjagamu Yullie. Sana, pergilah tidur”katanya dan Yuri berlari menaiki tangga menuju kamarnya.

Kim Jongdae, Victoria Kim, dan Kim Yuri.

XXXXXXXX

 

Tubuhnya melemas dan ia limbung seketika. Tak ada apapun yang masuk ketubuhnya sejak kemarin, dan ia merasa akan mati sebentar lagi.

Seseorang membuka pintu dan ia terpaksa harus membuka matanya. Chen masuk, dengan nampan yang sama dan isi yang sama. Jessica terlihat lemah; matanya sayu, nafasnya rendah dan pelan. Ia benar-benar akan mati.

“Hei, cepat bangun. Makan ini bodoh, kalau kau tak ingin mati sebelum kakakmu itu menyelamatkanmu dan akhirnya mati bersamamu”katanya sengit. Jessica menarik sudut bibirnya, dengan matanya yang masih sayu dan terbatuk-batuk.

“Baekhyun akan datang. Menyelamatkan aku dan membakarmu hidup-hidup Kim Jongdae”katanya pelan dan rendah. Chen tertawa keras, “Tidak akan, tak akan ada yang mati sebelum dia bangkit”katanya kemudian beranjak pergi dari ruangan itu.

Jessica terlampau lelah bahkan hanya untuk menangis. Lantas ia dengan cepat meraih piring yang diisi makanan seadanya. Dan setelah menghabiskan makanan, dan ia mendapatkan kembali tenaganya. Ia kembali menangis.

Tak ada yang harus disalahkan dalam nalarnya. Tak ada yang pernah ingin terlibat dalam takdir kejam amaranth. Ia tak menginginkannya, begitu juga dengan semua orang dan si polos Taeyeon.

XXXXXXXXX

 

Soonkyu masih dalam posisinya. Tak bergerak bahkan hingga bulan sudah meninggi. Mata coklatnya menutup perlahan, dan sedetik kemudian, air mata mulai mengalir. Ia terisak dan terisak, sampai pada titik tertentu, ia akhirnya berteriak. Melepaskan segala rasa kesal yang mencokol seperti batu besar dihatinya.

Sampai sejam kemudian, Soonkyu berhenti menangis dan kembali pada posisinya; menekuk kakinya dan menengadah menatap langit. Saat perasaannya lebih tenang, Soonkyu akan terdiam dan perlahan tenggelam dalam lamunannya.

22 Januari 1978

Malam itu. Dengan langit yang bersih tanpa bintang dan angin malam yang sejuk, Soonkyu berdiri diatas tebing. Dengan sepasang pedang dan baju besi yang menyelimutinya. Ia akan melakukan sebuah misi balas dendam. Untuk Kim Jongwoon. Ayah Kim Jongdae.

Soonkyu dengan lincah melompati dari dahan ke dahan sampai akhirnya berhenti disebuah dahan pohon yang menghadap langsung disebuah balkon dengan lampu kamar yang remang. Ia mengangkat sebelah bibirnya, dan tanpa niat menimbulkan suara yang lebih keras daripada angin, ia berjalan memasuki kamar itu.

Ia berharap bisa tertawa saat ia melihat Tuan dan Nyonya Do yang tengah terlelap. Berenang dilautan impian mereka, setidaknya Soonkyu akan memberikan kesempatan terakhir bagi mereka untuk bermimpi, sebelum akhirnya ia akan membunuh mereka dan memaksa mereka melepaskan impian mereka.

Sejam sudah berlalu, dengan helaan nafas pelan dan kontrol tubuh yang stabil, Soonkyu menarik dua pedang andalannya dari belakang punggungnya. Ia menghadapkan ujung runcing pedangnya pada tubuh dua orang didepannya dan dengan helaan nafas pelan…

Clebbb…

Soonkyu menanamkan kedua pedangnya bersamaan kedalam tubuh ringkih si tua Do dan membuat Tuan Do mati perlahan tanpa jeritan rasa sakit yang memekakan telinga. Ia bahagia, dan akhirnya tubuhnya berputar pada sisi Nyonya Do dan melakukan yang sama.

Sebenarnya, mendengarkan jeritan rasa sakit orang yang dibunuhnya akan membuatnya lebih bahagia dan kenyang. Hanya saja, ia tak harus melakukannya jika yang dibunuhnya itu Tuan Do. Ia hanya harus membunuhnya, tak perlu melakukan apapun selain itu.

 

Dengan hentaan tubuh pelan, Soonkyu membuka matanya. Dahinya sudah terbanjiri keringat. Ia bermimpi, tentang masa lalu kelamnya. Ketika ia berusia enambelas tahun ia sudah menjadi pengawal kepercayaan Tuan Kim, dan saat tuan Kim mati dibunuh Keluarga Do, ia bersumpah akan membalaskan dendam kesumat keluarga Kim pada Do.

Dan yang dilakukannya adalah membunuh mereka, dan menghancurkan masa depan cerah kedua pangeran polos yang tak tahu dunia. Menyedihkan.

Dan saat Victoria dan Yuri memakai nama ‘Lee’. ia tahu, bahwa itu adalah keputusan terbaik karena ia akan menanggung dosanya, bersama Chen yang masa kini tengah berusaha untuk membalaskan dendamnya pada pemilik takdir amaranth. Do Taeyeon.

Pembalasan setimpal dengan jalan berbeda.

XXXXXXX

 

Saat Krystal sendiri. Ia akan mengingat keluarganya, namun saat ia bersama Jongin. Secara tiba-tiba ingatan masa lalunya yang kelam terbang entah kemana. Mungkin terbang bersama dengan senyum Jongin yang mengembang. Ia tak pernah berpikir secepat ini bisa melupakan sosok Luhan yang begitu ia cintai.

Mendengar kenyataan bahwa Taeyeon akan kembali hidup dan menyelesaikan segalanya. Ia hanya dapat menghela nafas sambil berharap-harap cemas dengan segalanya. Apapun dapat terjadi tanpa diketahuinya, karena saat ini pun ia merasa seperti pangeran polos yang dilarang mengetahui bagaimana kejamnya dunia. Bagaikan dirinya sepenting emas yang dijaga keasliannya. Secuil perasaan kecewa muncul dan membuat kepalanya terasa berputar dan mual.

Ia hanya ingin bisa mengetahui segala kebenarannya, tanpa ada rahasia dan saling tutup menutupi dihidupnya. Ia hanya ingin melihat dengan kedua matanya bagaimana kakaknya akan hidup dengan takdir yang bahkan tak ingin ia ingat lagi bagaimana jalan ceritanya.

Satu hal yang diingat Krystal. Hanya sekali takdir itu pernah terjadi, dan sekarang untuk kedua kalinya pada kakaknya yang malang. Rasa empatinya benar-benar habis terkuras hanya untuk mengasihani dirinya, betapa ia begitu brengsek menjadi seorang adik yang tak dapat menjaga kakaknya. Ia tak kesal. Ia hanya merasa. Brengsek.

“Apa yang kau pikirkan?”tanya seseorang sambil masuk kedalam kamar. Jongin; dengan aroma kas yang membuat Krystal harus menahan sesuatu yang terasa akan terbang diperutnya. Krystal tersentak sambil menatap Jongin diambang pintu.

Krystal menggelengkan kepalanya, “Aku mohon Jongin. Hanya lakukan ini untukku, jelaskan segalanya tentang …. amaranth”katanya dan Jongin melebarkan matanya. Tangannya tergerak untuk menutup pintu dan kakinya melangkah ke ranjang.

Ia menatap Krystal bingung, dengan sebuah tanda tanya raksasa yang ada diatas ubun-ubunnya. Segala hal negatif datang dipikirannya seperti semut yang mengerubungi gula. Ia merasa sedetik lagi akan gila.

Krystal mendudukkan dirinya dan menempelkan punggungnya dikepala ranjang. Jongin duduk dipinggiran ranjang dengan matanya yang masih menatap Krystal. “Apa yang kau bicarakan? Dan –apa yang kau ketahui tentang amaranth”katanya dengan suara pelan dan rendah. Membuat bulu kuduk Krystal meremang, ia tak pernah memikirkan bagaimana ekspresi Jongin saat mendengarnya berbicara tentang amaranth.

Krystal menghela nafasnya dan menundukkan kepalanya. “Kumohon Jongin, hanya beritahu aku tentang kenyataan yang ada. Tentang kakakku”jawabnya pelan. Sebuah tangan berada dibahu Krystal dan ia tahu bahwa Jongin melarangnya. Melarangnya mengetahui tentang amaranth lebih jauh.

“Jika aku jawab tidak. Aku harap kau tak akan kecewa. Aku hanya ingin kau seperti ini, tak mengetahui apapun. Percayalah Krystal, aku akan membantu kakakmu”katanya.

Krystal mengangkat wajahnya, dan mata sipitnya yang berkaca-kaca. Ia tak mengerti tentang apa yang dibicarakan Jongin. “Apa maksudmu?”tanya Krystal. Jongin tersenyum kecil, membentuk sebuah kurfa kesukaan Krystal.

“Aku akan menjagamu. Krystal, kakakmu tak akan mati semudah itu, ada banyak makhluk yang melindunginya. Dia tak akan bisa dengan mudah membunuh kakakmu dan mematahkan akhir dari takdir amaranth”katanya panjang lebar.

Krystal tersenyum dan memeluk Jongin, membenamkan wajahnya didada pria itu dan mengatakan ‘Terimakasih’ berulang kali.

XXXXXXXXX

 

Baekhyun tak tahu harus melakukan apa. Ia hanya berdiam diri dikamar tanpa melakukan apapun. Ia tahu Jessica tak baik-baik bila bersama Chen. Dan bila ia memiliki kesempatan, ia ingin membuat strategi untuk memerangi Chen. Karena Taeyeon dan Jessica, dua unsur penting yang ada dihidupnya.

Baekhyun turun kelantai dasar saat ketukan pintu terasa memanggilnya dan sosok Luhan-lah yang ada dibalik pintu tersebut. Ia memberi Luhan sebuah senyuman dan memberinya akses masuk lebih dalam. “Hai Baekhyun, bagaimana harimu?”tanya Luhan saat ia sudah duduk tenang diatas sofa. Baekhyun duduk didepannya, hanya diam. “Apa yang terjadi p –“

“Aku mendapat surat dari Chen, ia memintaku membunuhmu dan Krystal. Bagaimana menurutmu?”tanyanya dingin. Luhan menatapnya, pikirannya berteriak dan berkecamuk seperti begitu kaget dengan apa yang diucapkan Baekhyun.

“Apa? Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus menghindar? Tidak Baekhyun, semua jawaban dan akhir cerita ada ditanganmu. Bila kau membunuhku dan Krystal, -“ia memulai dengan sekali tarikan nafas. “ – viola, kau berhasil menjerumuskan Taeyeon dalam kungkungan Chen dan membuat sang pembenar tak dapat melakukan apapun”katanya melanjutkan.

Baekhyun tak bereaksi, ia hanya diam sambil menatap lantai kayu rumahnya. “Siapa itu sang pembenar?”tanyanya lirih. Luhan terkekeh kecil, seakan tak percaya dengan apa yang ditanyakan Baekhyun. “Dia bukan tuhan Baekhyun, tuhan menciptakan takdir ini dengan seorang pembenar yang akan menyelesaikan segalanya. Tapi dalam takdir amaranth, sang pembenar dan Taeyeon adalah pemilik takdir sebenarnya”jelasnya.

Baekhyun mengangkat wajahnya. Terperanga dengan penjelasan Luhan. “Jadi, dia dan Taeyeon adalah –“katanya menyimpulkan. Luhan mengangguk. “Yep, mereka berjodoh”

XXXXXXXXX

 

Soonkyu meraih gagang pintu dan mendorongnya. Ia berjalan memasuki kamarnya yang remang-remang dengan sebuah ranjang dipojok. Ia tak terlalu menyukai keramaian, ia lebih suka ketenangan dan kedamaian. Tapi yang disukainya begitu bertolak belakang dengan kenyataan, ia merasa seolah ia adalah orang yang menyiramkan bensin kedalam kobaran api.

Soonkyu manjatuhkan tubuhnya diatas kasur dan membungkus tubuhnya dengan selimutnya. Ia terlalu lelah bahkan hanya untuk membuka mata dan mengisi perutnya. Ia hanya perlu tidur dan esoknya ia akan kembali baik.

XXXXXXXXX

 

Chanyeol berjalan pelan malam itu, tepat tengah malam. Dengan pakaian serba hitam dan topi ia berjalan sendiri di kompleks pemakaman. Hingga kaki-kaki panjangnya berhenti disamping sebuah nisan. Ia berjongkok dan mengelus tepat diukiran nama di nisan itu. “Taeyeon…”gumamnya lemah.

Chanyeol mengecup pelan batu itu dan secara tak terkontrol air matanya mengalir pelan dan jatuh dirumput. Ia merasa hancur dan kosong secara bersamaan. “Kau tahu, aku merasa hancur dan kosong”gumamnya lagi dan tak lebih keras dari sebelumnya. Ia menatap nisan Taeyeon lesu, seakan tak ada kekuatan lagi dalam tubuhnya karena sumber kekuatannya telah padam.

Tapi dalam sedetik sebuah senyum terpatri diwajahnya, hanya lengkungan garis yang indah. “Tapi kau tahu kejutannya, aku akan membangunkanmu. Ini terlalu panjang, kau tidur terlalu panjang”katanya dan setelah itu Chanyeol menggali makam Taeyeon dengan cangkul yang sejak tadi dibawanya.

Hingga terlihat peti mati Taeyeon, dan dengan senyuman lebar Chanyeol membukanya. Terlihat jasad Taeyeon yang masih utuh memakai setelan gaun putih. Dan dengan sekali hentaan badan, Chanyeol menancapkan taringnya diperpotongan leher Taeyeon.

..

..

..

Perlahan, sosoknya membuka mata dan memandang sekelilingnya. Ia hanya merasa asing dan bodoh. Ia tak mengenal apapun yang ia lihat, bahkan – “Siapa aku?” –namanya. Chanyeol tersentak dan bangun dari tidurnya. Taeyeon duduk dengan memandangnya bingung.

“Taeyeon, kau sudah bangun”katanya sambil mengelus rambut coklat tua Taeyeon. “Aku? Taeyeon? Kau mengenalku tuan?”tanyanya beruntut.

Chanyeol tersenyum dan mengangguk. “Kau Taeyeon, Do Taeyeon. Kau punya adik bernama Do Krystal dan aku Chanyeol, Park Chanyeol”katanya pelan sambil masih mengelus kepala Taeyeon. Ia berdusta, ia menyembunyikan sebuah kebenaran yang tak diinginkannya untuk Taeyeon tahu. Baekhyun.

XXXXXXXXX

 

Taeyeon membuka matanya pelan. Ia berada disebuah kamar yang asing diingatannya, akan tetapi ada sebongkah perasaan rindu akan apa yang dilihatnya sekarang. Korden biru pastel dan ranjang yang berwarna putih. Ia juga merasa rindu dengan apa yang dilihatnya saat matanya melihat kearah balkon kamar itu. Entah dorongan dari mana, ia meyakini bahwa ia pernah hidup dikedaan ini, pernah melihat hamparan hutan pinus itu, dan pernah merasakan hangatnya ranjang itu.

Ia tersentak saat mendengar suara pintu terbuka dan langkah kaki memasuki rumah itu. Taeyeon berjalan pelan dan mengendap-endap melewati lorong lantai dua. Ia hanya ingin melihat siapa yang berkunjung. “Kyaaaa…..!!!!”jeritan dari seorang gadis membuat Taeyeon terpaksa menutup telinganya dengan telunjuknya dan mencegah suara melengking pria itu memasuki lubang telinganya lebih jauh.

“Siapa kau?”tanya Taeyeon saat ia melihat gadis didepannya mulai menatapnya dengan matanya yang berkaca-kaca. Secara tiba-tiba gadis itu memeluknya dan menangis. Taeyeon merasa dunianya berputar dan akhirnya ia mengingat secuil kehidupannya. Adiknya.

“Kau Do Krystal?”tanyanya tergagap dan gadis yang memeluknya mengangguk. Taeyeon menghela nafas, dan mengangkat tangannya untuk mengelus kepala adiknya.

Perasaannya membuncah dan terasa seperti gunung berapi yang akan meletus. Ia bahagia dan bahagia, dan kenyataannya ia tak tahu kenapa ia merasa bahagia. Krystal melepaskan pelukannya, menatap Taeyeon yang jauh lebih pendek darinya, “Aku percaya bahwa kau akan kembali Taeyeon-Onni”katanya dan Taeyeon hanya bisa tersenyum. Untuk saat ini.

..

..

..

Hal yang tak pernah Taeyeon duga sebelumnya, Krystal mengajaknya berkunjung kebeberapa tempat yang asing diingatannya tetapi familiar dihatinya. Ia merasa pernah melewati segalanya yang baru saja dilakukannya dengan Krystal tapi, sebesar apapun ia mencoba, ia tak akan mengingat apapun.

“Taeyeon-Onni, lihat aku membawakanmu bunga mawar. Kau menyukainya?”kata Krystal sambil memberikan Taeyeon sebuket bunga mawar merah. Taeyeon mengangkat alisnya, ini terasa lebih familiar dan familiar disetiap kegiatan ataupun benda yang diberikan Krystal padanya. Taeyeon tersenyum dan mengangguk. “Ya, terimakasih”

XXXXXXXXX

 

Suara tawanya menggema diseluruh ruangan, hingga sosok gadis yang tadinya tertidur terbangun dari tidurnya. “Apa yang kau ketawakan? Kau lapar Chen? Ini masih pertengahan bulan”kata Soonkyu dengan mengucek matanya dan merenggangkan badannya.

“Ia sudah bangkit, si polos Taeyeon sudah terbangun dari mimpi manisnya dan satu hal yang harus kulakukan adalah memancing ingatannya dan membunuhnya”katanya.

Soonkyu menghela nafas, “Kau terlalu gegabah. Melawan dua orang vampir dan werewolf. Kau gila Chen!! Bahkan kau hanya sendiri”teriaknya. Chen menatapnya diam, “Aku tak sendiri. Karena aku akan membawamu menuju neraka dan pergi ke surga bersama-sama. Karena aku menyukaimu”

Soonkyu membulatkan matanya. “A-apa yang kau katakan?”tanyanya terperangah. Chen tersenyum lembut, berjalan mendekat kearah Soonkyu dan memenjarakannya diantara tangannya.

“Aku menyukaimu Soonkyu. Aku mencintaimu”katanya dan dengan itu ia menancapkan taringnya diperpotongan leher Soonkyu. Mengisap darahnya dan membuat darah Soonkyu mengalir di pembuluh darahnya, dan begitu pula sebaliknya. Cara menyatakan cinta terbaik sepanjang masa. Dengan menukarkan darah masing-masing.

Chen tersenyum saat menyudahi urusannya. Wajah Soonkyu sudah terlihat seperti bunga sakura yang mekar. Begitu merah muda dan manis. Chen mengangkat tangannya, mengusap pipi dan bibir bawah Soonkyu dan membuat bibirnya menari dengan indah diatas bibir Soonkyu.

XXXXXXXX

 

10 April 1990

Malam ini, Krystal mengajaknya untuk pergi kesebuah bar dan ia berkata bahwa Taeyeon akan menemukan teman-teman lamanya, dan Taeyeon menyetujuinya.

Anehnya, jantung Taeyeon seperti akan meledak saat matanya melihat sosok pria dengan rambut; coklat dan tubuh sedikit pendek. Ia menahan nafasnya sesaat dan melanjutkan langkahnya, ia mengambil duduk disamping pria itu dan memesan segelas limun.

Yixing yang menjadi bartender tersentak saat wajah Taeyeon ada didepannya. “Taeyeon! Kau sudah kembali!”pekiknya dan anehnya pria disamping Taeyeon sontak menolehkan kepalanya dan membuka mulutnya. Pria itu; Baekhyun. “Taeyeon, kau kembali”katanya dan setelah itu ia membawa Taeyeon kedalam rengkuhannya.

..

..

Diruang kerja Kris. Krystal, Baekhyun, Taeyeon sudah berkumpul dan duduk diatas kursi empuk masing-masing. Dengan wajah kaget Kris dan Baekhyun, sedang Taeyeon hanya memasang wajah bodoh tak tau apa-apa.

“Jadi, Krystal kapan Taeyeon kembali hidup –ah, maksudku kapan ia kembali?”katanya dan Krystal menatapnya miris. Ia masih dianggap putri polos yang tak pernah tahu dunia. “Ia kembali lima hari lalu, aku menemukannya dikamarnya”jawab Krystal.

Taeyeon menundukkan kepalanya. “Saat aku membuka mataku, orang yang pertama aku lihat adalah Park Chanyeol”cicitnya yang menimbulkan pekikan ketiga orang didepannya. “Chanyeol!!”pekiknya tak percaya. Taeyeon mengangguk. “Ia berkata namaku Do Taeyeon dan aku memilik adik bernama Do Krystal”katanya lagi dan dengan perkataan terakhirnya Baekhyun hanya menghela nafas dan memasang senyum miris.

 

To be continue….

Maaf kalo chappie kemarin agar membingungkan. Iyah itu sebenernya Baekkie. Ntar kalo disini menemukan kata pria yang ditunjukan buat Tae, Yul, ato Krystal maklumin aja yah. Soalnya ini remake dari ff yaoi saya.

Last, mind to review?

Channie10

Advertisements

38 comments on “Our Fate – 002

  1. Yeayy taeng eonnie hidup lagi
    Itu si chen bener2 ngjk ribut bgt sih jdi org, pgn ak pites. Kekeke
    Next nya ditunggu ne, SEMANGAT 😀

  2. Bru mw blg bnyak sbutan nm yg aq g ngrt..
    Trutama d part 1 (hehe mian bru comment)….d part 1 bnyk msteri d tmbh sbutan nm yg brubah…tp d sini k jwb….trus bag taeng slingkuh, aq ktnggalan ato emang kpotong??aq lupalupa bag trakhir dr part 1…hehe maklumin y, bc’a d sela2 krja plus dlm 1 hr 2 part skaligus..
    Tp scr ksluruhan , aq suka…
    Eh yaoi teh yg suka sm sejenis ato tuker gender??eh mw yg mnpun itu, untung d ganti…soalnya aq g tahan sm kduanya..kan sayang g d bc ::>_<::
    Next…. *^O^*

  3. Wahh kasihan taeyeon ya thor,hrus mnerima takdir yg sulit sprti itu.. 😦
    Ahhh momen lutae nya dikit ma thor? Trus chen dan sunny kok jahat dsni thor? Jdi agak kesal lht chen melukai taeyeon 😦
    Keren thor… (y)
    dtnggu klnjutanya loh thor. Always fighting…

  4. Chen biasku kamu jahat hiks/? Ah aku bingung nih mau dukung taeyeon ama chanyeol baekhyun ato luhan:| it’s awesome/? Lanjut thor yeah hoaiting~

  5. aaaaaaaaaaa cerita nya makin seru jdi disini sii chanyeol bener2 ada ga sh msh bgung??? gamana nasib jesi yahhh pokonky dtunggu kelanjutannya

  6. Hueeeee akhirnya sempet baca juga;AAAA;
    Dan ternyata…. jeng jeng ga sia2 gue tumpuk di bookmark ternyata seru bgt keren bgt suka bgt sm ceritanya hiks;;
    Cant be described lah haduh bingung pokoknya suka. Dr bahasa ceritanya, alurnya, semua pokoknya.
    Haaaa next chaptnya blm ya thor? Aduh ga update nih soalnya hiks
    Oiya kl boleh ff our fate nanti kl uda kelar semua aku repost boleh yayayayaa, pake arsip di blog sendiri aja si, soalnya suka lupa sm judul ff fav lol makasi thorr

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s