Mistake (Chapter: 2)

deffe

Title
Mistake (Chapter 2)
Author
DeliaAnisa
Genre
School-life, romance, and friendship
Length
Multichapter
Rating
PG-15
Main Cast
Kim Taeyeon, Xiou Luhan, Oh Sehun, And Kwon Yuri
Disclaimer
FF ini murni dan asli hasil dari imajinasi saya, bila ada kesamaan tentunya itu tanpa disengaja. Cast yang saya pakai bukan milik saya, hanya Ortu mereka dan Tuhan YME, saya hanya meminjam untuk berkarya dan berniat membuat reader merasa terhibur akan ff saya. And please, don’t plagiat.

Happy reading and enjoy ^^

.
.
.
Seorang gadis berparas manis, berkulit kecokelatan, dengan rambut hitam pekat tergerainya. Terlihat tergesa menyimpan Sesuatu kedalam loker xi luhan –nama pemilik loker itu. peluhnya bercucuran, saking takutnya ketahuan oleh umat disekolah ini. memberi hadiah dihari valentine, untuk pertama kalinya lebih memberatkan ketimbang ia memecahkan ratusan soal fisika dan kimia saat ulangan tengah semester ataupun harian. Mengapa begitu? padahal bila kita telaah lebih baik memilih tantangan pertama, daripada menyelesaikan soal dengan ribuan rumus yang selalu membuat kepala kita merasa pecah, pusing. Hal ini disebabkan karena gadis ini, lebih menomersatukan harga dirinya. Ya, tentunya memberi hadiah dengan bersembunyi dan mengendap-endap seperti teroris ini, telah membuat harga diri yuri jatuh, selama hidupnya , selama ia menjadi seorang remaja yang terkenal dengan kelabilannya, yuri tidak pernah melakukan hal konyol semacam menjadi secret admirer seperti apa yang tengah dilakukannya pagi ini. yuri sendiri tidak percaya ia melakukan aksi memalukkan seperti remaja kebanyakan yang tengah mengidolakan dan memuja seseorang yang dikaguminya ataupun dicintainya. Yap, ini semua terjadi karena xi luhan, sunbae-nya yang duduk diatas 1 kelas darinya. Kelas 12-b. ketua kesiswaan dan ketua basket. Maka jangan aneh kalau yuri ikut jatuh kedalam pesona luhan seperti teman-teman perempuan lainnya, kecuali taeyeon menurut analisisnya. Luhan pria berbakat, tampan, ramah, pintar, dan segalanya yang menyangkut luhan, yuri menyukainya.
Yuri merasakan debaran dihatinya, ketika kemarin pagi luhan membantunya dari bahaya, pria itu melindunginya dari air hujan yang kotor dan lumpur yang bau. Pria itu mengorbankan bajunya basah dan kotor hanya demi yuri, hanya untuk melindunginya. Saat itulah, yuri tau bahwa luhan lelaki yang berbeda, tipe tulus dan perhatian yang ditunjukkan luhan padanya, sukses membuat yuri tergila-gila pada pria bermata rusa itu. Dan yuri memberikan cokelat dan secarik kertas –perminta maafnya sekaligus terimakasihnya yang tak sempat ia utarakan kemarin- tepat dihari valantine. Itu artinya yuri telah menjadikkan luhan sebagai seseorang yang special mendiami hatinya yang telah lama tertutup dan kosong.
Yuri berjalan kembali menuju pada kelasnya yang berada tepat diujung koridor. Yuri tidak tau bahwa selama ia memasukkan sesuatu kedalam loker, seseorang diam-diam mengawasinya dari jauh, tepatnya dibalik dinding. Ia memandang punggung yuri sampai yuri berbelok dan memasuki kelasnya. Ia bergerak dan keluar dari persembunyiannya, lalu ia menghadapkan tubuhnya pada loker yang menjadi tempat hadiah dari yuri untuk xi luhan.
Gadis bertage name kim taeyeon menatap lurus-lurus dan tersenyum lembut. “Sahabatku berubah terlalu banyak berkat dirimu (seolah loker adalah benar-benar asli sipemiliknya) tidak perlu menunggu lama untuk membuat dia tersenyum penuh kebahagiaan seperti saat ini, sejak sunbae datang dan mengubah hidupnya, yuri selalu mudah untuk memberikkan senyuman pada dunia, menunjukkan pada dunia bahwa ia bahagia dapat mencintaimu. Aku berjanji, akan selalu mempertahankan kebahagiaannya. Senyumnya akan kubiarkan tetap tinggal diwajahnya. Aku ingin ia bahagia setiap hari, dengan cara…. Menyatukanmu dengan yuri.”
Taeyeon mengangguk dalam kesunyian, sekali lagi ia tersenyum lembut dan tulus. Kebahagiaan yuri adalah kebahagiaannya juga. Jadi, ia tidak akan menghancurkan kebahagiaan sahabatnya sendiri.

.
.
.
“taeyeon… eommaku sedang sakit, aku harus segera pulang. Maaf aku harus meninggalkanmu sendiri.”
Taeyeon mengangguk seraya menampilan seulas senyum simpulnya. Pandangannya beralih dari setumpuk buku yang tengah ia bereskan diperpustakan, kini menatap yuri yang sedang menatapnya dengan pandangan minta maaf yang terlalu berlebihan dimata taeyeon. “ibumu jauh lebih penting dariku, tentu saja. Kenapa harus meminta maaf? Apa yang salah darimu sebenarnya.”
“diluar akan hujan, kau bawa payung kan?” yuri balik bertanya, dan taeyeon hanya merotasikan kedua matanya sambil tersenyum tipis. Inilah yang membuat taeyeon menyayangi yuri, karena yuri begitu memperhatikkannya penuh.
“tiap hari aku tidak pernah melupakkannya. Kau akan segera pergi bukan? Ibumu pasti sangat membutuhkanmu, maaf… aku tidak dapat menjenguk ibumu sekarang. aku harus membereskan buku-buku ini dulu. Mungkin besok….aku bisa.” Taeyeon merendahkan suaranya diakhir kata. Ia ragu apakah ia akan menepati janjinya atau tidak, ia teringat akan neneknya yang keluar dari pekerjaannya karena sering sakit-sakitan. Jadi sebenarnya besok ia harus mencari pekerjaan lain.
“tidak perlu memaksakan diri taeyeon. ibuku hanya demam biasa, besok juga kesehatannya akan pulih kembali. Aku hanya memintamu agar tidak terlalu sore disini. Ingat!! Kau adalah wanita dan diluar sangat berbahaya. –Yakk!!” yuri memekik keras saat taeyeon tanpa ancang-ancang darinya memukul kepalanya dengan buku tebal ditangannya. “ibumu tengah sakit dan kau malah mencemaskanku! Aigoo.” taeyeon menggeleng tak percaya, sementara yuri masih mengusap kepalanya yang agak berdenyut nyeri. “karena aku takut terjadi sesuatu denganmu!! Dan.. dan ingat sebentar lagi kita akan berpisah. Aku harus memastikkan kondisimu baik-baik saja sebelum aku pergi. Kau tidak boleh sakit dan tetap menjadi seorang taeyeon yang sehat! Selama aku pergi, jangan terlalu lelah dan jangan berjalan sendirian dimalam hari. Aku menjamin, disana hatiku tidak akan tenang jika kau melanggar ucapanku.” Jelas yuri dengan nada mengancam yang berhasil membuat taeyeon bergidik sekaligus terharu. “tenang saja, aku akan selalu memastikkan keadaanku setiap hari padamu, bahwa aku selalu baik.” seru taeyeon dan mengacungkan jempol tepat diwajah yuri. terselip tawa sedih dari yuri seraya memeluk taeyeon hangat. “berjanjilah padaku, bahwa kau akan selalu menghubungiku ketika aku disana? saat kau mendapatkan seorang teman baru, jangan pernah melupakanku, saat kau memiliki kekasih baru jangan lupa untuk memberitahukkan kabar gembira itu padaku, dan saat kau mewujudkan mimpi besarmu menjadi seorang aktris, jangan lupa menyapaku ditelevisi. Oke!!”
Taeyeon menepuk-nepuk punggung yuri sembari menitikan air matanya. “aku akan mengingat semua itu.”
.
.
.
Tepat pukul 3 sore dan 1 jam setelah kepergian yuri. taeyeon telah membereskan buku-buku yang tadinya berserakan bekas pembaca yang tidak bertanggung jawab, menjadi tertata rapi kembali dirak buku. Tak ada yang memerintahnya sebetulnya, ini hanya timbul dari dalam hati nuraninya yang begitu mencintai arti dari kebersihan dan kerapian. Ia tidak mengharapkan sepeser won pun dari hasil kerjanya ini. ia tulus melakukannya tanpa pamrih dan tanpa ingin dipandang sebagai murid teladan yang rajin kebersihan.
Taeyeon meniup poninya –kebiasaannya yang tak pernah hilang, sebelum ia mengambil tas ranselnya lalu ia sampirkan kepunggungnya dan berjalan keluar perpustakan. taeyeon memperhatikan disetiap sudut sekolah nampak begitu sepi dan sunyi senyap. Taeyeon akan melewati lapangan ketika mendengar suara decitan sepatu dan pantulan bola basket dibelakangnya. Taeyeon memberhentikkan sejenak langkahnya dan lebih memilih untuk berbalik menengok objek suara itu berasal. Taeyeon tertegun dan memandang sosok dihadapannya seperti tengah melihat seorang hantu.
“su-sunbae!!”
Luhan tersenyum tipis seraya berjalan mendekat kearah taeyeon sambil terus mendrabble bolanya.
“sunbae belum pulang?” Tanya taeyeon masih dengan ekspresi terkejutnya. Ia menengokkan kepalanya kesisi kiri dan kanan, tidak ada orang lain selain ia sendiri dengan luhan sunbae!
“aku menunggumu.” Jantung taeyeon hampir saja meloncat keluar dan merasakan pipinya memanas. 2 kata yang mampu membuat taeyeon membeku. Hingga ia tersadar saat luhan mengibaskan tangannya didepan wajah taeyeon.
“u-untuk apa sunbae menungguku?” Taeyeon tidak pernah bosan bertanya.
Taeyeon mengernyit bingung ketika luhan mengambil bola dan seperti mengisyaratkan pada taeyeon lewat matanya untuk menangkap bola itu. tanpa aba-aba luhan melemparkannya pada taeyeon dan dengan cekatan berhasil ditangkap taeyeon setelah ia menahan napas dan sekarang ia menghela napas panjang. “untuk bermain basket denganmu.” Balas luhan tepat ditelingi kiri taeyeon, napas hangatnya menguar lembut, dan tanpa melihat reaksi taeyeon yang tak percaya, luhan menggiring tangan taeyeon maju menuju lapangan. Tangan taeyeon rasanya melemas ketika bersentuhan dengan tangan luhan, apalagi luhan menggenggamnya begitu erat. Taeyeon tidak akan berbohong bahwa kini jantungnya berdebar begitu kencang, ia tidak tau apakah yang tengah dirasakan sekarang, apakah ini efek karena ia terlalu lelah? Ataukah hal lain?
Taeyeon seperti orang dungu karena ia betul-betul tidak tau cara mainnya, ia hanya berdiri dan terdiam ditengah lapangan, sementara luhan tengah memasuki bolanya kedalam ring, tanpa beban berat luhan dengan mudahnya membuat bola itu berhasil masuk. Menyadari raut wajah taeyeon yang kebingungan, luhan terkekeh pelan. “jangan takut, aku akan mengajarimu.” Luhan menghampiri taeyeon dan menyerahkan bola berwarna hitam dan oranye itu pada taeyeon. setelah mendapati bola itu ditangannya dan mengikuti intruksi dari luhan, taeyeon mencoba untuk memantulkannya kelantai.
Dughh..
Taeyeon kehilangan bolanya dan akhirnya bola itu menggelinding entah kemana, taeyeon berlari mengejarnya dan membuat luhan tertawa lepas. “kau harus konsentrasi agar bola itu tidak kabur darimu.” Teriak luhan ketika melihat taeyeon masuk kesalah satu ruangan yang terbuka dimana bola itu berlari sendiri ?/
Taeyeon kembali dengan bola ditangannya, ia mencoba untuk menetralkan napasnya yang terengah-engah sehabis berlari tadi. “sunbae! Kau ingin membuatku pingsan eoh!!” kesal taeyeon seraya memegangi dadanya yang berdetak cepat karena berlari terlalu kencang sampai menguras tenaganya. Luhan sekali lagi hanya tertawa. “ini masih permulaan, belum pada inti….” Luhan berjalan melewati taeyeon menuju pada tas ransel berwarna hitamnya yang tergeletak tak jauh darinya. Ia merogoh sebotol air mineral yang masih disegel rapat, lalu ia membukanya cepat dan menyerahkannya pada taeyeon. “minumlah.” Taeyeon mengambilnya tanpa pikir panjang dan menghabiskannya setengah. “ahh lega rasanya. Gomawo.” Taeyeon tersenyum seraya mengulurkan kembali air itu pada luhan.
“mari kita mulai lagi.” Seru luhan setelah ia menyimpan sebotol minuman dengan sisa setengah lagi ditas ranselnya. Taeyeon mengangkat kedua tangannya semangat. “nde!! Kali ini aku akan sungguh-sungguh!!” teriak taeyeon lantang, menghangatkan suasana disekitar mereka, mematikkan rasa dingin yang menancap tubuh. Hingga luhan ikut merasakan suasana hangat, gembira, dan ceria pada dirinya yang selama hidupnya tidak pernah merasa sesemangat ini. melihat keceriaan, tawa, dan senyum gadis itu berhasil membuat luhan….. bahagia.
Luhan membiarkan taeyeon mengambil alih bolanya, menyuruh taeyeon untuk mencoba memasukkannya kedalam ring. Dan sudah kesekian kali taeyeon tak kunjung juga berhasil mencapai target, yaitu memasukkannya kedalam. Taeyeon tidak menyerah, ia tetap berusaha. Namun terkadang perjuangannya yang sia-sia itu, membuat dirinya kecewa.
Luhan yang sejak tadi, berdiri dibelakang taeyeon hanya tersenyum geli, memerhatikkan taeyeon yang menggaruk-garuk kepalanya karena gagal, juga melihat keringat yang kini mulai mengalir deras disekitar tubuhnya, membuat ia sedikit tidak tega.
“apa kau sudah menyerah?”
“bukan taeyeon namanya, kalau aku menyerah begitu saja.” Taeyeon memicingkan matanya pada ring, lalu melemparnya dan… nope! Alhasil ia kembali mendesah kecewa.
Luhan menghampiri taeyeon, menghadapkan tubuhnya tepat didepan taeyeon. ia dapat melihat taeyeon tengah mendekap bolanya dengan keringat yang membanjiri area wajah yang putih pucat bak porselin. Melihat hal itu, luhan tidak dapat menahan rasa bersalahnya. Karena ia yang telah seenaknya meminta taeyeon bermain basket dan mengajarinya, membuat taeyeon seperti tersiksa seperti ini. dengan segala rasa bersalah yang menggerogoti hatinya, luhan merogoh sapu tangan bersih dari sakunya lalu dengan hati-hati dan penuh kelembutan, ia menyeka keringat yang mengalir dikening taeyeon. “maaf, aku tidak tau kalau kau bukanlah seorang gadis pantang menyerah. dan aku merasa aku seseorang yang telah memanfaatkan sifatmu itu. sekali lagi, maaf membuatmu berkeringat.” Ujar luhan, sambil terus menyapukan keringat yang merembes deras dari dahi taeyeon.
Taeyeon tidak dapat berkutik setelah luhan datang dan dengan gerakan yang tak terduga membersihkan keringatnya, membuat taeyeon terpaku. Ia hanya dapat menelan ludahnya, bibirnya kelu mendadak. Ia memainkan buku-buku jarinya berusaha untuk mengontrol kegelisahan hatinya, yang entah kenapa jantungnya seperti ramai berdemo. Detik selanjutnya, taeyeon menjatuhkan bola yang berada didekapannya tanpa sadar, menyebabkan bola itu menggelinding terbawa hembusan angin. Mendengar bagaimana kalimat luhan yang begitu tulus dan penuh perhatian, membuat syaraf-syaraf otaknya terasa tidak berfsungsi lagi. Oh, taeyeon meyakinkan ini bukan perasaan yang melebihi kekagumannya terhadap sunbaenya. Taeyeon berusaha… untuk yakin.
Jika ini cinta, kau akan menikmati tindakan seseorang yang kau cintai.
Jika ini cinta, kau akan terlihat bodoh ketika orang yang kau puja berhasil mematikkan kesadaranmu.
Dan taeyeon…. merasakan definisi itu. seketika keyakinannya runtuh dan merubah hati ini menjadi sesuatu yang lebih, bukan sekedar kekaguman terhadap seorang kakak laki-laki.
“sunbae… sapu tanganmu akan kotor.” Taeyeon mencoba untuk tidak lagi larut kedalam suasana yang membingungkan hatinya ini. setelah sepenuhnya tersadar, taeyeon menahan lengan luhan dan menurunkannya perlahan dari dahinya. Ia mengambil sapu tangan luhan lalu ia tepuk-tepuk, menjauhkannya dari kotoran. “keringatku sangat kotor, dan sayang kalau sapu tangan ini ternodai akan keringatku yang menjijikan.” Taeyeon melipat sapu tangannya dan memasukkannya kedalam saku blazzer sekolah milik ia sendiri. “karena ini adalah keringatku, jadi aku harus bertanggung jawab untuk membersihkannya. Tenang, aku akan mengembalikkan besok pada sunbae, dapat dipastikan sapu tanganmu akan jauh lebih bersih dan wangi dari sebelumnya…hheheh.” Taeyeon terkekeh, sementara luhan hanya menghela napas kasar. “hey! Aku tidak punya pemikiran seperti itu! sedikitpun tidak. Aku hanya tidak tega membiarkan wajahmu basah karenaku. Karena kau begitu, itu semua salahku. Aku yang menyuruhmu bermain lalu dengan seenaknya aku menyuruhmu untuk belajar. Dan menghilangkan keringatmu itu belum seberapa, hatiku masih tidak enak. Maaf.”
“sunbae! Apa dalam kamus bahasamu hanya kata maaf! Terutama karena sunbae tidak sepenuhnya bersalah, apakah kata itu harus selalu diucapkan? Sudahlah, aku berkeringat bukan karena sunbae. Ini semua muncul karena diriku sendiri. aku menyukai bola basket dan membuatku terlalu bersemangat melakukannya. Berhentilah merasa bersalah seperti itu!” taeyeon memberikan senyum simpulnya sebelum akhirnya ia menyadari bola basketnya sudah tidak lagi didalam dekapannya. Belum sempat taeyeon melangkah mencari benda berbentuk bulat menarik tersebut, tiba-tiba hujan deras datang. sebagian tubuhnya basah, begitu pula dengan luhan. Rambut mereka sudah rata terkena air hujan. luhan menarik tangan taeyeon dan membawanya untuk duduk dibawah atap yang akan menaungi mereka dari cipratan air hujan yang semakin menjadi-jadi saja.
Taeyeon memeras rambutnya agar sedikitnya dapat mengurangi rasa dingin yang menusuk tubuhnya. dalam beberapa waktu taeyeon tidak memperhatikkan keadaan luhan, ia terlalu sibuk menghangatkan diri. sampai ia mengalihkan perhatian ketika luhan menyampirkan sesuatu yang hangat pada punggungnya. Sebelum memutar diri pada luhan, taeyeon melirik sejenak jaket hangat yang tersampir manis dipundaknya. Taeyeon tersenyum tipis memandang luhan. “terimakasih.” Luhan berdehem sebagai balasan, tak lupa diiringi senyuman mautnya.
Tubuh taeyeon serasa tersengat listrik begitu mendapati bibir indah itu melengkung dengan manisnya. Apalagi ketika ia menyaksikan dengan jarak yang sangat dekat wajah pemilik mata biru alami didepannya, tampan dan sangat keren dengan rambut hitamnya yang basah. Entah keberapa kali ia tanpa sadar terbuai akan pesona lelaki yang dicap sebagai pangeran sekolah ini.
“ahh… aku lupa.” Taeyeon tersentak kaget sekaligus membuyarkan semua lamunannya, saat luhan berseru dan merogoh sesuatu ditas ranselnya. Sebuah cokelat ditangannya sekarang. taeyeon hanya mengerjapkan matanya dua kali begitu luhan menyodorkan cokelat itu padanya. “ambilah, kau pasti sangat lapar. Dan bukan hanya karena itu saja, aku hanya ingin memberikan ini sebagai hadiah dihari valentine. Selamat hari valentine!!” ujar luhan dengan nada yang ceria diakhir kalimatnya. Taeyeon tidak enak hati jikalau ia menolak ketulusan yang telah diberikan luhan padanya. akhirnya taeyeon menerima cokelat itu sembari memberikan senyuman terbaiknya pada luhan. “terimakasih. Aku jadi tidak tega memakan cokelat ini. bisakah aku menyimpan cokelatnya sebagai kenangan?” taeyeon memandang cokelat yang telah resmi menjadi miliknya dan luhan secara bergiliran.
“oh astaga, aku tidak percaya kau akan melakukannya. Heii! Cokelat tidak akan tahan lama untuk disimpan! Dan juga, apa kau berpikir kita akan berpisah sehingga kau berpikir untuk menyimpan cokelat ini sebagai kenangan?” Tanya luhan dengan mimic yang tak percaya. Taeyeon mengangguk saja, karena ia teringat akan kejadian hari kemarin. Disaat luhan dipaksa pergi oleh orang-orang mengerikan yang bisa jadi muncul lagi dan membawa luhan pergi jauh. Entah kenapa ketika mengingat hal itu, taeyeon merasakan sebuah ketakutakan yang membuncah. Ia takut…luhan benar-benar pergi dan meninggalkannya.
“bukankah sunbae akan pergi? Sunbae tidak akan selamanya dapat bersembunyi dari ibumu. Cepat atau lambat pasti sunbae akan kembali ditemukkan dan dibawa pergi seperti yang terjadi kemarin. Untuk itulah, sebelum sunbae pergi aku ingin meminta cokelat ini sebagai kenangan.” Taeyeon memaksakan diri tetap terseyum. Walaupun jauh dilubuk hatinya, ia merasa hatinya hancur membelah menjadi tak beraturan.
Taeyeon tidak siap, jika harus menerima kenyataan pria yang telah menarik perhatiannya tiba-tiba pergi dan menghilang dari pandangannya. Sebelum ia dan luhan saling mengenal satu sama lain.
Luhan tersenyum lembut sambil menatap mata telaga didepannya yang tengah berkedip-kedip manis. “jika aku pergi, apa kau akan membiarkanku pergi?”
Taeyeon tergelak mendengarnya, pertanyaan itu sama sekali tidak terlintas dalam benaknya. Ia sedikit berpikir untuk membuat jawaban yang sekiranya pas untuk ia lontarkan. Setelah jawaban dari pertanyaan luhan tersimpan diotaknya, taeyeon menghela napas hingga memunculkan kepulan asap keluar dari bibir tipis berwarna peachnya. “tidak. Aku tidak akan membiarkan sunbae pergi setelah aku mahir dalam permainan basket.” taeyeon tertawa getir, menyadari akan kebohongannya. Pada kenyataan sebenarnya taeyeon ingin mengatakan bahwa ia tidak ingin membiarkan luhan pergi sebelum ia dan luhan sudah benar-benar dekat. Biarlah dunia berpendapat ia wanita yang egois, karena cinta memang terkadang egois. Mengklaim cinta adalah miliknya dan tidak ingin membiarkan cinta itu terlepas begitu saja dari dirinya. Cinta ini miliknya. Sejatinya cinta harus dimiliki, dan itulah yang dinamakan keegoisan.
“aku berjanji tidak akan pergi sebelum kau dapat memasukkan bola kedalam ring.” Ujar luhan dengan suara yang terasa berat, kerongkongannya terasa kering karena ada sesuatu yang mengganjal didalamnya. Seperti ia ingin sekali mengutarakan kalimat yang sesungguhnya bahwa ia tidak ingin pergi sebelum ia menyatakan perasaan yang sesungguhnya pada taeyeon. namun tampaknya kondisi dan waktunya tidak benar-benar tepat. luhan akan dikira pria yang gampangan dan bukan hanya itu saja, luhan tidak ingin membuat taeyeon menjadi tidak nyaman nantinya. Taeyeon bukanlah gadis yang mudah ditaklukan menurut pandangan dan penilaiannya 2 hari ini.
Taeyeon P.O.V
Hening menyelimuti kami, hanya terdengar suara riuh hujan dan gemuruh angin kencang yang berhembus. Tanpa sengaja aku melirik tas ransel luhan sunbae dengan resleting yang sedikit terbuka. Mataku terbelalak begitu melihat sebuah surat berpita merah muda terselip disana. itu adalah surat yuri yang diberikan tadi pagi pada luhan sunbae! bukan terkejut karena aku melihat surat itu, melainkan aku tersadar cepat akan perasaan yang salah pada luhan sunbae. Ya, mencintai luhan sunbaenim adalah sesuatu yang salah dan tidak seharusnya aku merasakannya. Aku telah berjanji pada yuri untuk tidak menjadi siapapun diantara mereka. tidak mungkin jika aku ikut serta menjadi orang ketiga diantara mereka. itu tidak akan kubiarkan terjadi.
“kau pasti sangat kedinginan.” Aku terhenyak kala luhan sunbae menempelkan telapak tangannya pada pipiku. Sebelumnya kulihat luhan sunbae menggosok-gosokan kedua tangannya dan sikap luhan sunbae selalu berhasil mengejutkanku.
Bola mataku membulat, jantungku kembali berdetak diluar kendali. Kurasakan kehangatan tangannya mengalir lembut kedalam aliran darahku. Matanya yang menerangkap mataku seolah aku menjadi batu yang tidak dapat bergerak barang sedetikpun. Aku lemas dan lemah didepannya.
Disatu sisi aku ingin menangis mengingat yuri. apa yang akan terjadi pada yuri bila ia tau luhan yang diidam-idamkannya berbuat manis seperti ini padaku? Aku tidak bisa dapat membayangkan bagaimana hancurnya hati yuri ketika melihat hal ini. Oh Yuri, bagaimana bisa aku mengkhianatimu?
Kupegang tangan luhan sunbae lembut dan membawanya menjauhi pipiku. Perasaan yang tak kunjung berubah selalu menghantarkan kesakitan yang mendalam, ketika mengingat aku ingin melepas cinta ini demi yuri –sahabatku. Siapa gadis yang tidak hancur bila kau mengorbankan cintamu demi seseorang.
“aku baik-baik saja.” Aku tersenyum ditengah kerisauan hatiku. Berdiri dari dudukku sembari memandang hujan yang mulai mereda, dan mencium aroma tanah yang khas setelah hujan mengguyur.
Kutolehkan wajahku pada luhan yang mulai ikut berdiri disampingku dengan tatapan sulit untuk diartikan. Antara tatapan khawatir, kecewa, dan teduh. Entahlah perpaduan tatapan itu semakin menorehkan rasa sakit yang kian membesar untukku.
Kami terdiam beberapa saat sebelum akhirnya aku menyadari bahwa jaket yang tersampir hangat dipundakku adalah jaket luhan sunbae. Segera aku melepasnya dan menyodorkannya kembali pada luhan sunbae.
“tubuhku sudah normal kembali. Terimakasih atas jaketnya.” Kataku masih dengan tangan yang tersodorkan memegang jaket. 2 detik jeda diantara kami, lalu luhan sunbae mengambilnya dan berjalan kemudian berdiri dibelakangku. Belum sempat kumenengok kearah belakang, tanpa diduga-duga luhan sunbae menyampirkan jaketnya kembali padaku. aku ingin menolak, namun dengan sigap luhan sunbae menahan tanganku. “pakailah. Diluar akan sangat dingin.” Kenapa kau melakukan hal kejam ini padaku? kenapa kau membuat hatiku menjadi sangat dan lebih-lebih sakit? tidak taukkah kau perlakuanmu itu adalah kejam? Mencabik-cabik hatiku dengan kelembutan dan semua sikap manismu, kau adalah makhluk terjahat karena telah membuat hatiku sakit.
Aku mendesah dan hanya dapat pasrah menerima perintah dari luhan yang tidak pernah membuat hatiku sekali saja berubah. Berubah untuk tidak mencintainya. Luhan sunbae membuat aku goyah dalam perjuanganku untuk membunuh perasaan cinta ini, ia selalu membuatnya hidup dan tumbuh subur dihatiku.
“kajja kita pulang.”
Aku mengangguk dalam diam, kami melangkah keluar dari bawah atap. Berjalan beriringan dengan tangan yang bergelantungan diudara. Dalam hati aku meminta, agar luhan sunbae tidak memegangi tanganku. Namun nampaknya permintaanku ditolak oleh Tuhan, luhan sunbae diam-diam menyentuh lenganku, lalu bergerak menuju jari-jemariku dan kemudian tangan kami saling bertautan.
Sudah kukatakan, aku tidak akan dapat berbuat apapun setelah luhan sunbae mengendalikan semua kesadaranku. aku dengan tampang bodohnya, sementara kulirik luhan sunbae disampingku hanya memandang datar kedepan tanpa mengekspresikan sesuatu yang berlebihan seperti apa yang kutunjukkan saat ini. ia terlalu tenang dan santai.
Tuhan, apa yang harus kulakukan?
Melepas cinta ini sama saja melepas sesuatu yang paling berharga dihidupku. Tapi apakah cinta memang egois sehingga aku terkadang melupakan dimana seharusnya posisiku berada?
Yuri, tentunya aku harus selalu ingat bahwa yuri lebih berharga dari apapun dan siapapun. Aku rela mengorbankan jiwaku dan semuanya pada yuri, termasuk…..cinta ini. aku harus belajar untuk menghapusnya. Menghapus semua kenangan manis yang baru saja kurasakan bersama… luhan sunbae.
.
.
.
TBC

Sehunnya mana!!! #readerbantinggadget -_-
Sehun dipastikan muncul dichapter 3, dan bersamaan itu pula konflik yang sesungguhnya dimulai (ketawa jahat bareng kai, hahahh :v) -_-
FF ini emang rada2 angst gtu, jadi romancenya gak full masih nyelip angstnya. Author minta maaf kalau perpaduan angst sma romancenya gagal, jujur deh author paling susah kalau udah nulis yang menguras emosi dan ngena feelnya, itu susah !!
Jadi author mau meminta pendapat kalian yang sejujur-jujurnya mengenai ff absurd ini, feelnya kalau belum dapet, komen aja yah… okee ^^

Advertisements

53 comments on “Mistake (Chapter: 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s