[FREELANCE] Hello Goodbye (Chapter 2)

Hello Goodbye-BaekYeon

Hello Goodbye | De_Pus19 | Chapter | PG-13

Romance

Byun Baekhyun | Kim Taeyeon

Disclaimer | This story is mine, cast are belong god

Warning | Garing, typo, bad story, and other

Poster by LittleRabbit@Lovely Deer Artwork

Happy reading | Hope you like it

‘Akhir-akhir ini, aku bertanya-tanya. Siapa yang akan menggantikan tempatku. Saat aku tiada, kau akan membutuhkan cinta. Untuk menerangi bayangan diwajahmu’

Taeyeon menghempaskan tubuh mungilnya kesalah satu sofa diruang tamu ampartement milik sahabatnya. Tubuhnya terasa begitu sakit. Bagaimana tidak? Semalaman ia tertidur didalam bagasi mobil seseorang yang sama sekali tidak dikenalnya.

Ia mengerucutkan bibirnya kesal. Ia benar-benar kesal. Sudah dikejar-kejar lintah darat dan setelah itu dimaki-maki oleh lelaki arogan pemilik mobil itu. Sial. Dan lagi, dengan wajah memelas Taeyeon memohon menumpang mobil lelaki itu.

Sungguh, ia bersumpah kalau ia benar-benar tidak tahu dimana ia berada tadi. Ia tidak akan sudi menumpang mobil lelaki itu. Oh ya, masih sangat melekat erat diingatannya betapa memalukkannya ia saat itu. Kau benar-benar seorang penajilat Kim Taeyeon.

“Kau dari mana saja? Kenapa baru pulang?” tanya seorang wanita cantik dengan segelas susu putih dalam genggamannya sambil menjatuhkan tubuh langsingnya disamping Taeyeon lalu mengambil remot televisi dan menyalakannya.

Wanita itu adalah Tiffany Hwang. Sahabat terbaik seorang Kim Taeyeon sekaligus pemilik apartement ini. Taeyeon menghembuskan nafasnya panjang. Sebenarnya ia sungguh lelah hari ini. Tapi, ia ingin sekali meluapkan seluruh kekesalannya. Jadi, wanita itu memilih menceritakan semuanya kepada sahabatnya itu.

Mulai dari aksi kejar-kejarannya dengan lintah darat sampai akhirnya ia bertemu lelaki arogan itu. Tiffany mengangguk mengerti. Tidak ada respon yang berarti yang ditunjukkan wanita cantik itu. Ya, untuk apa pusing-pusing memikirkan masalah orang lain. Toh, ia juga baru saja mendapatkan masalah yang sangat besar.

Suasanan menjadi sunyi dan sangat tenang. Hanya terdengar suara televisi yang menggema keseluruh sudut apartement ini. Tapi didetik berikutnya, pekikkan keluar dari mulut Taeyeon yang membuat wanita cantik disampingnya terlonjak kaget.

“Yak Fanny, sekarang sudah jam berapa? Apa yang kau lakukan? Harusnya kau bekerja. Kau bisa terlambat nanti”

Tiffany menampakkan ekspresi malas diwajah cantiknya. Ia menghembuskan nafasnya panjang lalu beralih menatap Taeyeon malas “Aku sudah dipecat” Taeyeon menatap Tiffany tak percaya.

“Mwo? Kau baru berkerja selama 2 hari” Tiffany mengangguk lalu mulai menceritakan seluruh kejadian yang menimpanya kemarin. Taeyeon meghembuskan nafasnya berat sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali. Ia benar-benar tidak habis pikir. Kenapa ada orang sejahat itu?

“Kenapa nasib kita seburuk itu?”

Tiffany mengelidikkan bahunya “Entahlah. Kau tau Taeng? Kalau saja wajah bosku itu tidak tampan. Aku pasti sudah meninjunya”

“Jadi, bosmu itu sangat tampan” Tiifany mengangguk. Ia mengingat lagi wajah tampan bosnya. Sial. Kalau saja Tuan Byun itu tidak tampan. Jangan harap wajah Tuan Byun akan utuh seperti dulu.

“Sudahlah, untuk apa memikirkan itu. Hanya buang-buang waktu” Tiffany mengangguk “Kau pasti akan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik” wanita yang terkenal dengan kecantikkan eye smilenya itu tersenyum cerah.

Apa yang Taeyeon ucapkan itu benar. Ia pasti akan mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik dan dia yakin akan hal itu.

“Bagimana kalau kita berpesta hari ini?”

Baekhyun menyesap kopi hitamnya lalu tersenyum malas pada wanita cantik didepannya kini. Bae Suzy. Wanita cantik kelahiran tahun 1994 itu menceritakkan seluruh kehidupannya yang sungguh membosankan bagi seorang Byun Baekhyun.

Huff… menyebalkan.

Baekhyun mendengus sebal lalu beralih menatap keluar restoran. Langit begitu cerah hari ini dan harusnya ia menghabiskan waktunya dengan hal-hal yang menyenangkan. Bukan malah mendengarkan dongeng sebelum tidur yang membuatnya mengantuk.

Getaran ponsel lelaki itu membuatnya terpaksa menjatuhkan pandagannya pada benda tipis itu. Keningnya sedikit berkerut karna nama seseorang yang terpang-pang jelas dilayar poselnya. Zhang Yi Xing atau biasa lelaki itu dipanggil Lay. Baekhyun tersenyum cerah. Senyum yang jarang ia tunjukkan. Nampaknya lelaki itu mendapatkan sebuah ide cemerlang. Ia mengangkat telponnya dengan ekspresi sedih.

“Mwo eomma?”

“Eomma? Yak, Byun Baekhyun”

“Eomma masuk rumah sakit?”

“Yak, siapa yang masuk rumah sakit?”

“Eomma, aku akan segera kesana”

Klik…

“Ehm… Suzy” wanita cantik itu bangkit dari duduknya dan menatap Baekhyun cemas “Sepertinya aku harus pergi”

“Ya, kau harus pergi. Pergilah” ujar wanita itu tulus. Baekhyun mengangguk sambil tersenyum senang. Ia melangkah pergi meninggalkan restoran.

Bodoh, pikirnya.

Kenapa semua wanita mudah sekali untuk dibohongi?

Ia melangkah menyusuri kota Seoul dengan berjalan kaki sendirian. Bukankah Baekhyun sangat kaya raya? Mengapa ia berjalan kaki? Entahlah, mungkin lelaki itu ingin mencari suasana baru yang tidak membosankan seperti duduk didalam mobil sambil menatap malas jalanan kota Seoul yang selalu padat.

Sungguh membosankan bukan?

Baekhyun menghentikan langkahnya lalu menjatuhkan dirinya disalah satu kursi yang terdapat ditaman ini. Pengunjung taman hari ini sangat ramai. Padahal hari ini bukanlah hari libur. Banyak orang-orang yang datang kesini hanya untuk melepas penat dan lelah termasuk Baekhyun.

Ia menghembuskan nafasnya berat setiap kali teringat dengan penyakit yang bersarang didalam tubuhnya. Kepala lelaki itu sangat pening memikirkan masa depannya nanti. Masa depan yang sudah diprediksinya sangat suram.

Tidak ada masa depan yang cerah untuk seseorang yang mengidap penyakit HIV AIDS. Tidak ada.

Lelaki itu menutup matanya rapat-rapat. Menikmati semilir angin yang berhembus tidak terlalu kencang menerpa wajah tampannya. Mungkin dengan cara ini, ia bisa melupakan semua persoalan yang tengah dihadapinya. Terutama tentang penyakit yang diidapnya kini.

“Sampai kapan kau mau seperti ini?” pertanyaan seseorang yang baru saja berdengung digendang telinga lelaki itu, membuatnya mau tidak mau harus kembali membuka mata indahnya.

Manik matanya terpaku pada satu titik fokus “Entahlah” ia menghembuskan nafasnya berat lalu tertawa kecil seakan-akan mengejek dirinya sendiri.

Seseorang didepannya-Lay tersenyum tipis lalu menjatuhkan tubuhnya disamping sahabatnya. Mereka sama-sama terdiam sambil menatap langit yang sangat cerah hari ini. Sama-sama belum berniat membukan suara walaupun hanya sepatah kata.

“Aku memang tidak merasakan apa yang kau rasakan. Tapi, bisakah kau mencoba untuk bangkit. Aku tidak suka melihat Byun Baekhyun yang sekarang. Byun Baekhyun yang selalu bersembunyi dibalik topeng tebalnya. Aku merindukan Byun Baekyun yang dulu. Byun Baekhyun yang kukenal. Byun Baekhyun sahabatku”

Ujaran panjang lebar yang baru saja dilontarkan oleh seorang lelaki berdarah Tionghoa itu membuat lelaki disampingnya sedikit tertegun. Ia merasakan hal aneh didalam sana. Ia merasa bersalah. Terhadap semua orang yang selama ini menjadi tempat pelampiasan kemarahannya.

Apa dia sudah sangat keterlaluan? Mungkin.

Ya, mungkin. Mungkin saja, kalau Baekhyun tidak mengidap penyakit menjijikan ini. Ia pasti tidak akan bersikap seperti ini. Tapi hanya mungkin, tak dapat membuat seorang Byun Baekhyun yang tidak percaya akan keajaiban itu tersadar.

“Sudahlah Lay” guam Baekhyun sambil menyusuri jemari kekarnya diantara rambut coklatnya “Aku tidak akan pernah kembali mejadi Baekhyun yang dulu. Mian” ia tertawa mengejek dan kembali teringat laporan kesehatannya bulan ini.

“Kau tahu aku tidak akan pernah sembuh” ia berujar lagi sambil menatap langit biru dengan nanar “Aku akan mati dan aku tahu akan hal itu”

Lay menepuk punggung Baekhyun pelan lalu tersenyum manis “Aku tahu. Mianhe, aku membuatmu teringat penyakit sialan itu lagi” ucap Lay dengan nada bersalah yang terselip didalam kalimatnya.

“Siapa dia?”

Kening porselen itu berkerut samar “Siapa?” tanyanya balik.

Lay merotasikan matanya malas. Apa hal yang semacam ini harus diperjelas? “Tentu saja, calon isterimu. Bukankah hari ini kau bertemu dengannya? Siapa dia? Apa dia cantik?”

Kali ini gantian Baekhyun merotasikan matanya malas “Bae Suzy”

“Apa dia cantik?”

“Tentu saja”

“Hoa…” decak kagum Lay membuat sahabatnya ini ingin sekali tertawa keras “Kau sungguh beruntung Byun Baekhyun. Apa kali ini kau menerimanya?”

“Tidak”

“Tidak?” ulang Lay seakan tak percaya “Kenapa tidak?”

“Karna dia bukan tipeku” ya ya ya… apa tidak ada alasan lain yang jauh lebih logis selain ‘Dia bukan tipeku’? Rasanya Lay sudah sangat bosan mendengar jawaban itu.

“Jadi, siapa tipemu?”

Cukup lama Baekhyun terdiam membeku mendengar pertanyaan Lay. Haruskah ia menjawab? Bukankah lelaki itu sudah tahu siapa tipe idealnya? Apa lelaki itu sudah lupa?

“Apa aku salah bicara?” lagi. Nada bersalah itu terdengar lagi “Mianhe”

“Gwenchana”

Kembali. Suasana membeku itu kembali menyelimuti mereka seperti beberapa menit yang lalu. Mereka sedang bergulat dengan pikiran mereka masing-masing. Tapi sejujurnya Lay tidak sedang memikirkan apapun karna tidak ada satu hal pun yang harus dipikirkannya saat ini.

“Ini” ujar Lay sambil menyodorkan sebuah undangan yang tadi diselipkannya dibalik jas hitam yang tengah dipakainya kini.

Baekhyun menoleh menatap Lay bingung “Apa ini?”

“Undangan pertunangannya”

“Fanny, aku sudah membeli daging sapi, telur, ikan, dan keju. Ehm… apa lagi yang kita butuhkan?” tanya wanita cantik itu kepada ponselnya. What? Ya, tidak pada ponselnya juga. Tepatnya pada seseorang yang berada disebrang sana.

“Ehm… kita membutuhkan bawang bombay lalu paprika”

Taeyeon mengangguk lalu berjalan menuju kearah barat-tempat yang menyediakan berbagai macam sayuran-sambil mendorong trolinya. Ia mengambil beberapa bahan yang disebutkan Tiffany dan memasukkannya kedalam troli.

“Ada lagi?”

“Ehm… kurasa tidak”

“Baiklah”

Klik…

Ia memutuskan sambungan telpon dan memasukkan ponsel canggih itu kedalam saku celananya lalu berjalan menuju kasir. Demi Tuhan saat itu juga Taeyeon menahan nafasnya saat sebuah suara menerobos masuk kedalam gendang telinganya.

“Bersembunyi dimana wanita itu. Kim Taeyeon. Kita harus segera menemukannya atau bos akan marah besar pada kita. Ayahnya memiliki banyak hutang, jadi jika kita menemukannya. Kita pasti akan mendapatkan komisi sangat besar”

Dengan tangan bergetar Taeyeon menyerahkan beberapa lembar uang saat seorang kasir didepannya menyebutkan harga belanjaan yang Taeyeon beli. Ia meraih satu kantung plastik belanjaannya yang tidak terlalu besar dan berjalan dengan cepat keluar dari supermarket itu.

Nasibmu sungguh sial Kim Taeyeon. Haruskah ia berteriak seperti itu? Entahlah, mungkin dia memang harus berteriak seperti itu. Dan setelah itu, Taeyeon berniat menedang wajah kasir bertubuh mungil dibelakangnya.

“Nona Kim Taeyeon” panggil kasir itu “Dompetmu tertinggal”

Dan kalian tahukan, apa yang selanjutnya terjadi?

Satu

 

Dua

 

Tiga

 

Pergerakkan tangan itu berhenti, ia kembali mematung ditempatnya saat fokus matanya menangkap sebuah kedai es krim. Ia menutup kembali pintu mobilnya dengan membanting pintu itu cukup keras lalu berjalan menuju kedai es krim tersebut.

Baekhyun sangat mengenal baik kedai es krim ini. Dulu ia sering datang kesini hanya untuk membeli ice cream choco mint. Bukan ice cream rasa kesukaannya tapi rasa kesukaan seseorang yang pernah tinggal cukup lama dihati lelaki itu. Bahkan hingga detik ini.

“Oppa, aku ingin ice cream choco mint”

“Choco mint? Kau tidak pernah bosan dengan rasa itu? Bagaimana kalau rasa vanila?”

“Ani-yo. Choco mint”

“Baiklah chagi-ya”

Perasaan baru kemarin Baekhyun mendengar suara manja itu. Suara wanita itu masih teriang-iang diotaknya sampai detik ini juga. Bahkan segala sesuatu tentang wanita itu, Baekhyun masih mengingatnya. Tapi sekarang, semua tinggal kenangan.

“Ice cream choco mint satu” ujar Baekhyun memberi tahu pesanannya. Tak selang berapa lama, seorang pelayan membawakan pesanan Baekhyun lalu pergi membawa uang yang lelaki ia serahkan.

Ia berjalan pelan menuju mobilnya membuka dan langsung mendudukkan dirinya dikursi kemudi. Sial. Rasanya Baekhyun ingin sekali menghantamkan kepalanya pada stir mobil didepannya kini. Apa yang baru saja dilakukannya?

Mencoba mengingat kenangan indahnya dulu? Kenangan indah yang bahkan sekarang sudah tak memiliki arti lagi. Kau sungguh menjijikan Byun Baekhyun! Sadarlah. Wanita itu akan menjadi milik orang lain. Kau bahkan sudah mendapatkan undangan mereka.

God Damnit!

Hampir saja Baekhyun benar-benar menutup matanya-mencoba menenangkan dirinya saat ini-tapi keinginannya tak terwujud. Andai saja bau busuk seperti bau ikan tidak menyeruak kedalam penciumannya. Ikan? What ikan?

Dengan cepat ia menoleh kearah jok belakang. Matanya membulat sempurna dan hampir saja ingin keluar “Apa-apaan ini?”

Demi tiga potong keripik kentang yang baru saja meluncur dalam tenggorokkannya-rasanya wanita bertubuh mungil itu ingin sekali muntah. Memuntahkan isi perutnya yang hanya berisikan tiga potong keripik kentang.

Jika ada lomba ‘siapa manusia tersial abad 21?’ mungkin, Kim Taeyeon adalah salah satu peserta yang pasti akan menang dengan kemungkinan 100%. Apa terlalu berlebihan? Ya, angaplah ini berlebihan. Tapi memang nasib wanita itu sungguh sial.

Pertama, dia tertidur didalam bagasi seorang lelaki arogan.

Kedua, dia memohon diantarkan pulang oleh lelaki arogan itu.

Ketiga, dia bertemu dengan lintah darat yang selama ini mengejarnya.

Dan keempat, ternyata mobil yang sekarang menjadi tempat persembunyiannya adalah mobil lelaki arogan itu.

Arrghh… tidak bisakah keadaan menjadi semakin buruk?

BREKK…

Tuhan, kau sungguh baik terhadap hambamu yang satu ini. Kau selalu mengabulkan doa yang diucapkan Taeyeon walaupun sebenarnya wanita ini tidak sungguh-sungguh ingin mengatakannya. Dan harus semua orang akui, pemenang perlombaan itu pastilah Kim Taeyeon.

Kantung belanjaan berwarna putih yang berisikan ikan segar, daging sapi, telur, beberapa macam sayuran dan beberapa kotak susu itu. Jatuh berhamburan bersamaan dengan bau anyir yang menyeruak didalam mobil, beberapa butir telur yang pecah, dan jangan lupakan satu hal lagi beberapa kotak susu membasahi jok mobil lelaki itu. Membuat aroman didalam mobil yang sedang mereka tumpangi benar-benar busuk.

“Kau!” geramnya.

Kilatan amarah plus tatapan tajam yang dilayangkan lelaki itu padanya. Membuat tubuh mungil itu seketikan membeku. Tuhan, tolong selamatkan hambamu ini.

“Kau harus membayar semua ini!”

Matilah kau, Kim Taeyeon.

~TBC~

Advertisements

70 comments on “[FREELANCE] Hello Goodbye (Chapter 2)

  1. Hahaha. Kasihan taeyeon ya. Knpa nasibnya sial bgt yaa… 😀
    Apa salah taeyeon ya sngga kyk gtu nasibnya 😦
    Haha. Ngebayangi baekhyun mrh ma taeyeon 😀
    thorr boleh jujur ndak? Chapter 2nya trlalu singkat 🙂
    Bsk agak d panjngin ya thor 🙂
    Dtnggu klnjutannya thor. Always fighting thor… 🙂

  2. sumpah Taeng sial banget.. tuh Baekhyun kasian juga yaa sakit-sakit trus cwek (yang mungkin dia cintai) dulu tunangan, sedih sedih..
    dtunggu next chapnya, updatesoon authornim, FIGHTING!!!

  3. Ceritanya seru eon, cepet2 di post ya lanjutannya.
    Udah nggak sabar baca lanjutannya, kasihan sekali Taeyeon eonn.
    Keep writting eon! 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s