Fall in Love with You (chapter 2)

fwy

Author : RYN

Length : Multichapter

Rating : M

Cast :

Taeyeon SNSD

Sehun EXO

Other Cast : find it by yourself

Genre : Romance, Fluff

This my own idea

Any similarities with other stories is pure coincidence

Please do not plagiarize and claim as your own

I have enough trouble writing chapter and,

I don’t need someone stealing my hardwork.

 

Chapter 2

***

“silahkan tanda tangan disini.”

Taeyeon mengangguk kecil sembari tersenyum lalu menandatangani kertas yang disodorkannya. Ia tidak perlu melihat apa yang tertulis disana. Wanita yang duduk di depannya kemudian menyerahkan sebuah kertas kecil setelahnya sebagai bukti pembayaran yang telah dilakukan.

“kami tidak bisa menoleransimu jika hal ini sampai terjadi lagi.”

“aku mengerti.” Taeyeon setengah membungkuk dan mengulas senyum maaf.

Wanita itu tak mengatakan apa-apa lagi selain menatapnya dari balik kacamata tipisnya dengan tampang datar. Taeyeon yakin, sejak ia menginjakkan kakinya dalam ruangan, wanita itu sudah menilainya dengan sinis. Taeyeon tak menyalahkannya, dua kali menunggak membayar uang semester ditambah dengan hilangnya buku rekening khusus kampus, suatu keberuntungan jika wanita itu masih menerimanya meskipun dengan jenis tatapan seperti itu.

Taeyeon mendesah panjang ketika beberapa pasang mata telah mengarah padanya tepat setelah meninggalkan ruangan. Ia tak begitu heran, diantara ribuan mahasiswa, ia salah satu yang menjadi pusat perhatian. Kalau saja tak mengetahui alasan dibalik pembicaraan serta cara mereka menatapnya, mungkin ia akan merasa tersanjung. Situasi ini bukanlah hal baru lagi baginya. Menjadi mahasiswa serba pas-pasan, berada ditengah-tengah mahasiswa yang rata-rata berasal dari kalangan mampu membuatnya merasa sedikit terintimidasi. Malah sebagian dari mereka yang membicarakannya, terdapat pula mahasiswa yang hampir sama nasibnya seperti dirinya, hanya saja mereka mampu menutupinya. Entah darimana uang itu berasal Taeyeon tak peduli, yang ia lihat, mereka terlalu frustasi sampai mengorbankan semuanya demi menyamakan kebutuhan mereka yang tidak sebanding agar setara dengan anak-anak kaya itu.

Meski telah mengetahui ini sejak lama, tetap saja itu terasa menyebalkan bagi Taeyeon. Rasanya sulit mengubah pikiran buruk mereka tentangnya. Khas kalangan atas yang selalu terlebih dahulu menilai ‘sampul’ daripada isi. Taeyeon sebenarnya sudah terbiasa mendengar gunjingan-gunjingan disekitarnya tentangnya, bisik-bisik yang hampir selalu jelas keluar masuk ke telinganya ditambah tatapan jijik dan merendahkan yang tak gagal ditangkapnya lewat visual. Keberadaannya, entah sejak kapan itu bermula, tahu-tahu sudah menjadi bahan gosip hampir seantero fakultas. Gadis malang yang tidak punya apa-apa selain bergantung pada teman modelnya. Baik! Untuk menjawab pertanyaan mereka, ia tidak sepenuhnya tidak punya apa-apa. Ia punya pekerjaan yang bisa ia banggakan! Asal tahu saja, ia tidak selalu membutuhkan bantuan Jessica, bahkan ia tidak pernah meminta uang sepeserpun padanya jika itu yang mereka pikirkan!

Apa mereka tak punya kehidupan lain selain memandang rendah orang lain dan membicarakannya dengan cara yang tidak positif? Taeyeon seringkali menanyakan pertanyaan ini pada dirinya.

Taeyeon mengacuhkan bisik-bisik itu dan berlalu dengan cepat. Telah menjadi kebiasannya, lebih baik menghindar daripada memulai pertentangan, karena percaya atau tidak, tidak akan ada yang membelanya atau bahkan lebih parah, tidak ada yang menyadari keberadaannya jika sampai timbul masalah. Semua akan melimpahkan kesalahan itu padanya. Selama masa 3 tahun ini, selain Jessica, tidak ada yang benar-benar ingin menjadi temannya. Bukannya ia sangat menginginkan memiliki banyak teman—Jessica menjadi temannya saja sudah merupakan suatu keberuntungan—hanya saja, ia tak ingin mendapat masalah atau musuh.

Selama ini Taeyeon telah berusaha bekerja lebih keras agar bisa membayar biaya kuliah, ia ingin segera pergi dari tempat itu, namun kelihatannya hal itu sulit. Seluruh kerja kerasnya belum cukup, tidak hanya itu, ia pun harus menghadapi konsekuensi akibat dari tindakannya yang sudah beberapa kali mengajukan cuti hanya untuk mengumpulkan uang untuk menyelesaikan kuliahnya.

Taeyeon berhenti sejenak untuk mengambil ponsel dari dalam tasnya. Benda kecil itu telah bergetar beberapa kali, tapi karena masih berhadapan dengan petugas administrasi tadi, ia sengaja tidak mengangkatnya.

3 panggilan tak terjawab.

2 pesan yang belum terbaca.

Menggeser halus layarnya, Taeyeon menjawab sembari berjalan perlahan menuju gerbang kampus yang tinggal beberapa meter di depan.

“ya unni?”

“kau dimana sekarang?” suara wanita dari seberang telpon, balik bertanya. “Fotografer Lee mencarimu.”

Kening Taeyeon mengernyit mendengar tekanan buru-buru dalam suaranya. Tanpa sadar ia berhenti melangkah sebelum mencapai gerbang. “aku masih dikampus unni. Ada urusan penting yang harus kuselesaikan.” Jelasnya.

Taeyeon mendengar wanita itu meringis, sepertinya kurang menyukai jawaban tenangnya. Hanya beberapa detik berselang, matanya sontak membundar besar.

“kau sudah menerima jadwal Oh Sehun? Ada pemotretan pagi ini. Kurang dari setengah jam, Ambassador dari CHL Mode dan beberapa sponsor akan datang melihat pemotretan perdananya. Kau harus segera menjemput Sehun sekarang.”

Taeyeon mengumpat dalam hati. Kenapa tak terpikirkan olehnya tadi pagi? Benar! jadwal Oh Sehun yang di janjikan manager padanya. Seharusnya ia langsung ke kantor sebelum ke kampus.

*bagaimana ini? Aku tidak tahu tempat tinggalnya, bahkan belum mendapat nomor telponnya! Bagaimana bisa aku menjemputnya?!*

Taeyeon diserang panik. Alasan pertama karena kebodohannya dan ketidakprofesionalnya. Alasan kedua, sungguh ia tak sanggup membayangkannya. Diantara seluruh Fotografer yang bekerja di agensi mereka, Fotografer Lee adalah orang yang paling ditakutinya. Bukan hanya dirinya, tapi hampir seluruh dari mereka yang mengenal orang itu juga takut padanya. Fotografer Lee terkenal sangat perfeksionis dan tidak suka membuang-buang waktu. Jadi bisa dibayangkan bagaimana jadinya nanti jika ia datang terlambat.

“Taeyeon? Kau masih disana?”

“i-iyya unni.” Taeyeon menelan salivanya. “a-aku akan segera kesana secepatnya.” Sahutnya gelagapan.

Tenang. Tenang. Tenang. Kau harus tenang Taeyeon. Tarik nafas…hembuskan.

“tapi sebelumnya, kau harus ke CHL Mode untuk mengambil pakaian utama. Jun lupa membawanya karena ia buru-buru kemari.”

Taeyeon tak bisa apa-apa selain menurut. Meskipun ingin protes karena itu bukanlah tugasnya, tetap saja ia tak bisa mengatakannya langsung.

“aku sudah menelpon pihak mereka jadi kau tidak perlu khawatir. Oh ya, kami tidak bisa memberimu Van untuk menjemput karena tim Flowerist sedang memakainya untuk keperluan syuting dan tidak ada Van yang tersisa disini.”

“a-aku mengerti unni.” Taeyeon setengah berlari keluar untuk mencari taksi. Jika sampai terlambat, bukan hanya dirinya tapi seluruh tim akan mendapat masalah.

“kau sudah menghubungi Sehun? Mereka sudah memberikan alamat apartemennya padamu?”

Mungkin karena nada paniknya terlalu kentara sehingga wanita itu belum menutup telponnya seperti seharusnya.

“maaf unni.” Taeyeon menjawab malu-malu. Ia mengakui kesalahannya.

Taeyeon mendengar wanita itu mendesah. “baiklah. Aku akang mengirimkannya lewat SMS.”

Taeyeon tidak akan bertanya darimana wanita itu mengetahuinya. Yang terpenting sekarang adalah ia harus membuat semuanya cepat dan sempurna. Selama beberapa menit melambaikan tangan di jalan, berharap dan berdoa dalam hati, sebuah taksipun berhenti di depannya. Tanpa menunggu lagi, Taeyeon segera membuka pintu namun tiba-tiba berhenti di pertengahan tindakannya. Taeyeon mengernyitkan keningnya, bersamaan dengan itu matanya mulai menjelajahi kerumunan manusia tak jauh disana. Di depan fakultas memang selalu ramai, bila tidak dilihat secara seksama, semua orang mungkin akan terlihat sama. Apa mungkin ia hanya salah lihat? Sepintas tadi ia merasa melihat sesuatu familiar diantara kerumunan itu, namun saat ia mencoba untuk fokus, tepat saja tak ada yang spesial disana. Yah, pasti ia hanya salah lihat.

*dia tidak mungkin berada disini* Taeyeon mengangkat bahu dan menghela nafas panjang.

“nona, kau mau naik atau tidak?” suara supir taksi membuyarkan lamunannya. Dengan mengulas senyum maaf, Taeyeon buru-buru naik dan kendaraan itupun melaju meninggalkan kampus.

– – –

Taeyeon telah mencoba berulang kali menghubungi ponsel Sehun tapi tidak pernah ada jawaban.

Apa dia masih tidur? Taeyeon menatap layarnya dan mencemoohnya seolah-olah sedang berhadapan dengan si pemilik nomor.

*Supermodel? Model ekslusif? Yang benar saja. Kalau ia sudah tahu jadwal pemotretannya hari ini, harusnya ia sudah bersiap-siap! Bukan tidur dan mengabaikan telpon orang. Lebih baik tidak usah pakai ponsel saja sekalian* Taeyeon melirik tajam ponselnya sambil memberenggut kesal. *apa susahnya mengangkat telpon dari nomor yang tidak dikenal? Mungkin saja ‘kan ada informasi penting!* Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengomeli Sehun dalam kepalanya. Walaupun menyadari Sehun mungkin saja sengaja tidak mengangkat ponselnya karena belum tahu kalau itu nomornya.

Menyerah, Taeyeon memasukkan ponsel kembali dalam saku celana jeansnya. Tak berapa lama kemudian, taksi akhirnya berhenti di depan sebuah gedung. Pada bagian depan atas gedung tertulis CHL Mode dengan huruf besar bercat emas. Taeyeon terpukau, sejenak mengagumi kemegahan gedung di depannya. Tidak heran mengapa CHL Mode disebut sebagai salah satu brand terkenal dan termewah di Korea, keberadaannya di kawasan elit dan fakta bahwa hampir seluruh artis serta kaum kalangan atas menyukainya, membuatnya menjadi istimewa hingga menempati posisi pertama sebagai brand termahal.

Taeyeon pernah mendengar bahwa sebelum CHL Mode memutuskan menjalin kerjasama dengan SM sekitar 3 tahun lalu, banyak agensi yang telah menawarkan diri. Pada akhirnya, CHL Mode memilih SM. Kalau tidak salah ingat, Woobin juga menjadi model brand ini dan selama menjadi asistennya dulu, ia tidak pernah sekalipun menginjakkan kakinya disini. Jadi ini pertama kali baginya.

Waktu yang tersisa tinggal beberapa menit, Taeyeon harus bergegas menyelesaikan urusannya. Ia tidak perlu lagi susah payah mencari orang yang berwenang untuk menanyakan dimana pakaian utama itu berada, karena ketika memasuki gedung, beberapa orang telah menyambutnya. Mereka berbincang sejenak tentang konsep pemotretan yang nanti akan dilakukan, seseorang kemudian memberikan pakaian yang telah terbungkus rapi dalam plastik itu padanya. Taeyeon tersenyum menerimanya dan memegang gantungannya dengan hati-hati.

Ring. Ring. Ring.

Taeyeon sedikit kesulitan merogoh ponsel dalam sakunya. Setelah berada diluar gedung, ia baru menjawab telpon itu dan menyandarkannya ke telinganya. Dalam hati Taeyeon bersyukur tidak menyuruh taksinya langsung pergi sebelum masuk tadi, karena kalau tidak, ia pasti akan kerepotan. Tidak seperti tadi, sekarang tanggung jawabnya bertambah. Tidak boleh membuat pakaian itu kusut. Taeyeon tidak ingin membayangkan berapa harga pakaian itu, hanya dengan mengetahui bahwa pakaian itu adalah salah satu dari merk terkenal saja sudah membuatnya tertekan membawanya. Seperti sebuah kebetulan, bekerja sebagai asisten baru Sehun juga membuatnya merasakan hal-hal baru yang tak pernah dilakukannya sebelumnya.

“kau dimana sekarang? Semua orang sedang menunggumu.” Suara Jessica terdengar mendesak. “apa kau sudah menjemput Sehun?”

Taeyeon mendengar suara hiruk pikuk yang sedikit menggema dibelakang Jessica menandakan gadis itu tengah berada dalam ruangan. Dan jika Jessica memiliki waktu untuk menelponnya disela-sela jadwal pemotretan, itu berarti situasi saat ini memang benar-benar sangat penting. Ia pasti akan mendapat masalah apabila dihari pertamanya sebagai asisten Sehun berantakan. Tapi tunggu—

“bukannya kau—apa kau sedang berada di studio sekarang?” Taeyeon tidak langsung menjawab pertanyaan sahabatnya. “bukankah pengambilan gambarmu dilakukan di luar?”

“sudah selesai. Jadwalnya dipercepat jadi jam 6.”

Taeyeon melirik jam tangannya dan mendesah pelan. Sekarang sudah pukul 9.45, pantas saja tadi pagi ia sudah tak melihat Jessica di kamarnya.

“kau tidak memberitahuku.” Taeyeon mengerucutkan bibirnya.

Jessica langsung mencemoohnya. “kau menjawab dalam tidurmu. Kau ingat? Kurasa tidak.”

“aku tidak mengingat bagian itu.”

“benar. Tidak mengingat.” Jessica sengaja menekan kalimatnya membuat Taeyeon terpaksa terkekeh karena sindirannya.

“apa kau bersama Sehun?”

Taeyeon menggigit bibir bawahnya dan menggeleng lemah. “aku diperjalanan menuju apartemennya.”

“sebaiknya kau cepat, kau tahu fotografer Lee tidak menyukai keterlambatan dan kau sudah sangat terlambat sekarang. Kau sungguh tidak tahu kalau jadwal pemotretan Sehun hari ini? Maksudku, kau sudah menerima jadwalnya ‘kan?”

Ini bukan sepenuhnya salahnya. Taeyeon membela diri.

“kau tidak tahu saja, Yuin unni baru menghubungiku tadi sewaktu aku masih di kampus. Aku belum menerima jadwal Sehun dan untuk menambahkan kesialanku, aku juga tidak tahu nomor ponsel dan alamat apartemennya sampai Yuin unni memberitahuku.” Ia mengakhiri penjelasannya dengan meniup kasar poninya karena kesal.

Jessica di ujung sana menggeleng-gelengkan kepalanya. “setidaknya kau beruntung, para tamu penting itu belum datang.” ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “sepertinya mereka akan terlambat karena ada sesuatu yang mendadak.”

Helaan nafas pelan keluar dari mulut Taeyeon. Meski sedikit lega, ia tidak bisa merasa senang. “aku tidak tahu lagi.” gumamnya. “aku tidak mengerti, jika Sehun sudah tahu bahwa ia memiliki jadwal penting pagi ini seharusnya ia mengangkat telponku. Salah satu kru pasti telah menelponnya dan memberitahunya. Kenapa ia tidak langsung saja ke studio?”

“sekarang kau menyalahkannya.”

“tidak seperti itu.”

“lalu?” Jessica terkekeh mendengar nada jengkel Taeyeon.

Gadis di seberang telponnya itu mendesah kasar.

“kau tahu bukan begitu cara kerjanya, Taeyeon. Kau asistennya sekarang jadi kau harus bertanggung jawab terhadap Sehun. Kau sudah pernah melakukan pekerjaan ini berkali-kali. Mengeluh bukanlah sifatmu.”

Itu memang benar. Taeyeon sadar, tidak seharusnya ia membebankan kesalahannya pada Sehun hanya karena ia belum siap. Kejadian hari ini murni kesalahannya, berkat Jessica yang memperjelasnya. Sebagai asisten, ia dituntut bertanggung jawab terhadap tugasnya. Jika saja ia menelpon ke agensi lebih cepat sebelum ke kampus, mungkin saja hal seperti ini tidak akan terjadi.

Tapi hey, ia tidak mengeluh. Dan lagi, urusan di kampus juga penting. Taeyeon membatin. Kalau tadi ia tidak datang, mungkin wanita di bagian administrasi itu akan memberikan tatapan yang lebih mengerikan dari yang pernah di terimanya.

“aku harus pergi sekarang Jessie.” Setelah mendengar respon ‘ok’ dari sahabatnya, Taeyeon memutuskan sambungan.

– – –

Ding.

Segera setelah pintu lift terbuka, Taeyeon bergegas keluar mencari nomor apartemen Sehun sesuai petunjuk pesan yang diterimanya puluhan menit yang lalu. Tidak susah menemukannya karena jarak antara lift dan apartemen tujuannya tidak begitu jauh. Ia hanya cukup berbelok ke kiri sebentar dan apartemen Sehun terletak di sayap kanan gedung. Memelankan langkahnya, Taeyeon mengamati sekitar dengan penuh rasa kagum. Sungguh berbeda dengan apartemen yang pernah dimasukinya. Bahkan sangat berbeda dengan apartemen milik Jessica.

Pada umumnya setiap gedung apartemen yang pernah dilihatnya memiliki koridor panjang dengan beberapa apartemen lain yang berjejer membentuk barisan memanjang, namun adapula yang saling menghadap satu sama lain. Seingatnya, Woobin juga tinggal di apartemen jenis itu. Taeyeon mengetahui ini karena selama menjadi asisten model itu, sudah tak terhitung berapa kali ia keluar masuk dan berpapasan dengan tetangga apartemen yang tinggal disamping. Taeyeon jadi ingat, Woobin juga telah berencana untuk pindah kemari. Seperti yang pria itu pernah bilang padanya, suasana di apartemen ini sangat tenang dan nyaman, seperti yang ia lihat, apa yang dikatakannya memang benar.

Gedung apartemen mewah memang berbeda dengan gedung apartemen biasa. Bukan bermaksud membanding-bandingkan, Taeyeon mengakui apartemen ini lebih memiliki banyak kelebihan. Mungkin karena lingkungannya yang sangat pribadi, tiap lantai apartemen yang seolah dibuat khusus hanya untuk satu atau dua orang penghuni, menawarkan keamanan tanpa gangguan dari pihak luar. Taeyeon bertaruh, untuk mendapatkan apartemen seperti ini membutuhkan dana yang tidak sedikit. Tidak heran Sehun tinggal disini. Pria itu memiliki kuasa karena penghasilan yang diterimanya. Jessica benar, Sehun memang memiliki standar yang tinggi.

Taeyeon telah berdiri di depan pintu. Setelah menghela nafas dalam-dalam mencoba mengurangi rasa gugup, tangan kanannya terangkat dan mulai menekan tombol kecil pada layar telkom dekat pintu.

Satu menit. Dua menit. Ti—

Taeyeon seketika membeku begitu pintu terbuka, ia sudah mempersiapkan mentalnya saat nanti berhadapan dengan Sehun. Pertemuan terakhir mereka tidak begitu menyenangkan dan canggung baginya. Jadi dia menyiapkan rangkaian kalimat-kalimat sapaan dalam kepalanya, namun detik selanjutnya, raut wajahnya berubah bingung.

Apa dia menemukan tempat yang salah? Keningnya lantas mengernyit, gadis yang muncul di depannya tengah memberikan tatapan dingin yang menusuk. Gadis itu cantik, menurut penilaiannya. Tubuhnya langsing dan tinggi proporsional layaknya seorang model. Mungkin memang seorang model. Usianya kira-kira lebih muda darinya. Gadis itu memiliki rambut yang panjang berwarna coklat keemasan, sedikit bergelombang pada bagian ujung. Satu hal yang membuat Taeyeon merasa sedikit aneh dari seluruh penilaiannya adalah pakaian gadis itu. Gaun mini hitam yang berkilap terang terlalu menempel ketat pada tubuhnya, belum lagi model V pada bagian atas membuat belahan dadanya begitu terekspos. Tentu gaun itu sangat cocok untuk tubuhnya, membuatnya kelihatan sangat sexy, tapi ini masih terlalu pagi untuk mengenakan pakaian corak seperti itu.

“ada yang bisa kubantu?” gadis itu bertanya dengan nada tidak suka.

Taeyeon segera merubah sikapnya sembari tak lupa menulis catatan kecil dalam kepalanya sebagai pengingat untuk dirinya, bahwa mengamati seseorang itu adalah tindakan tidak sopan. Tapi Taeyeon tak bisa menahan diri untuk tidak penasaran mengapa seorang gadis yang berpakaian seperti itu, berada di apartemen yang seharusnya menjadi apartemen Sehun. Sebelum menjawab, Taeyeon sekali lagi melihat pesan di ponselnya dan mencocokkannya dengan nomor yang tertera di depan pintu.

“maaf, kukira ini adalah apartemen…” Taeyeon tidak melanjutkan kalimatnya karena gadis itu langsung memutar bola matanya, melengos acuh. Kening Taeyeon mengernyit.

“sepertinya kau kedatangan tamu honey.”

Honey? Kerutan di kening Taeyeon semakin dalam bersamaan dengan kegugupan yang tadi sempat hilang, kini datang lagi tiba-tiba. Taeyeon mengamati gadis cantik itu sebentar lalu mengalihkan perhatiannya pada sosok yang baru saja datang dibelakangnya.

Jadi benar, ia memang tidak salah apartemen.

“h-hai.” Taeyeon menyapa canggung sambil tersenyum kaku. Kalimat-kalimat yang telah disusunnya tadi menghilang seketika. Ia tidak tahu harus mulai darimana setelah berhadapan langsung dengan pria itu.

Sehun berdiri disana, menatapnya dengan tatapan datar seperti sudah menjadi kebiasaannya. Pintu telah terkuak lebar, memperlihatkan sekilas isi apartemen dan gadis itu meninggalkan pintu kemudian berjalan ke arah Sehun. Taeyeon mendadak merasa familiar dengan pemandangan dihadapannya, Sehun yang hanya mengenakan celana panjang hitam tanpa atasan mirip dengan foto yang pernah dilihatnya. Hanya saja, rambut bangun tidurnya itu membuatnya semakin terlihat sexy dan tampan. Tersadar, Taeyeon buru-buru memalingkan mukanya. Ia harus melakukannya jika tidak ingin Sehun melihat pipinya yang merona karena penampilannya dan mengetahui bagaimana ia menilainya dengan cara yang tidak seharusnya.

Taeyeon ragu-ragu melangkah masuk sembari sesekali menunduk. Sehun yang masih menatapnya itu, entah mengamatinya atau hanya melihatnya, membuatnya sedikit terintimidasi. Dan meski gadis cantik tadi telah menempelkan tubuhnya padanya dengan cara yang menggoda, Sehun masih tak berniat berpaling darinya. Taeyeon semakin merasa gugup dibawah tatapannya, Sehun yang bersikap seperti ini membuatnya sulit mengira-ngira apa yang tengah dipikirkan pria itu saat melihatnya. Kemudian, keengganan sepintas lalu terpancar dari sorot mata pria itu membuat Taeyeon menduga Sehun mungkin tidak menginginkan kehadirannya.

Taeyeon belum mampu meredam hatinya yang berkecamuk, tatapan Sehun membuatnya merasa tidak nyaman, selain itu, tatapan tajam dan menusuk yang diterimanya dari gadis itu juga sama sekali tak membantu keadaannya. Sejak kapan pandangan kebencian itu berlangsung, Taeyeon tak menyadarinya. Mungkin karena terlalu sibuk melakukan kontes tatap dengan Sehun yang selalu berakhir dengan kekalahannya. Taeyeon mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya.

Seandainya bisa, Taeyeon ingin sekali keluar dari tempat ini sekarang. Apa yang terlihat dalam pandangannya membuatnya bergidik. Tanpa rasa malu gadis di depannya mengelus lengan Sehun dan menyentuhnya dengan kesan sensual, tak lupa mengedipkan bulu matanya untuk menggoda—mungkin berharap bisa mencuri perhatian Sehun karena pria itu sejak tadi mengabaikannya. Tak hanya sampai disitu, Taeyeon terpaksa memalingkan muka ketika gadis itu mulai beraksi dengan memberikan kecupan-kecupan dileher dan bahu Sehun dengan kedua tangan memeluk pinggangnya. Tak perlu menebak apa yang telah terjadi di antara mereka, keberadaan gadis itu disini, penampilan Sehun yang sedikit berantakan tapi tetap menarik itu, serta panggilan ‘honey’ telah menjelaskan semuanya. Tapi hey, apa mereka tidak sadar kalau seseorang juga berada dalam ruangan ini? Taeyeon menggerutu dalam hati. Sepertinya mereka memang tak peduli.

Taeyeon tiba-tiba merasa kepanasan di dalam ruangan bersuhu rendah, ingin rasanya ia angkat kaki dari apartemen itu tapi mengingat pekerjaannya dan alasan mengapa ia berada disini, akan sangat canggung jika meminta izin untuk keluar sebentar sekarang sementara waktu semakin menipis. Sehun yang tidak menolak perlakuan gadis itu, juga tidak membalasnya, entak mengapa tidak membuatnya menjadi lebih baik. Tatapan Sehun yang masih berada padanya, mendadak berubah dingin menusuk disertai seringaian samar yang seolah sengaja mengejeknya. Atau mungkin memanas-manasinya? Entahlah.

Mungkin memang sebaiknya ia tidak kemari atau lebih tepatnya tidak berada disini. Mungkin sebaiknya ia menunggu saja tadi di luar. Taeyeon sampai pada keputusan meninggalkan tempat itu untuk memberikan keduanya sedikit privasi yang telah dirusaknya. Taeyeon diam-diam memutar tubuhnya dan mulai berjalan menuju pintu. Tidak mungkin ia menunggu dan melihat begitu saja apa yang akan terjadi pada mereka selanjutnya. Ini bukanlah urusannya.

“cukup.”

Taeyeon berjengit, tidak jadi membuka pintu. Tekanan dingin dalam suara Sehun membuatnya berhenti dan berbalik. Taeyeon melihat raut wajah gadis itu berubah. Bukan hanya gadis itu yang kelihatan bingung tapi dirinya juga. Apa yang terjadi? Sehun tidak lagi menatapnya melainkan gadis itu.

“kau tidak seperti ini semalam.” Gadis itu memasang tampang cemberut yang dibuat-buat, kedua tangannya masih bersandar di pinggang Sehun. “kau tidak ingat apa yang kita lakukan sepanjang malam? Kita bersenang-senang, honey.”

Taeyeon memandang jijik ke arahnya. Nada aegyo yang disengaja itu terdengar aneh di telinganya. Baru kali ini ia mendengar aegyo yang membuatnya bergidik. Sangat tidak sesuai dengan ekspresi pura-pura itu. Jika ia di posisi gadis itu, ia tak akan melakukan hal memalukan seperti sekarang. Pandangan Sehun yang sudah menunjukkan kebosanan seharusnya membuatnya berpikir. Taeyeon hampir tak bisa menutupi ekspresinya, tingkah laku gadis itu menimbulkan perasaan iritasi. Saat matanya kembali beradu dengan Sehun secara tak sengaja, ia buru-buru berpaling. Sayangnya, ia sudah terlanjur menangkap ukiran seringaian yang lagi-lagi membentuk di bibirnya itu untuknya. Ia ketahuan.

“kau tahu peraturannya.”

Aura Sehun berubah kelam sontak menghentikan gadis itu dari berjingjit untuk menciumnya. Taeyeon melihat gadis itu segera menarik tubuhnya dan tersenyum kaku diliputi rasa gugup dan malu.

*baru sekarang kau merasa malu* Taeyeon mencibir, ingin sekali ia mengatakan itu di depannya.

Meski tanpa ekspresi yang berarti, namun sorot mata Sehun begitu dingin dan keras. Sesuatu yang membuat nyali gadis itu seketika menciut. Ini membuat Taeyeon bertanya-tanya, mengapa Sehun tiba-tiba memperlakukan kekasihnya seperti itu? Mengapa setelah—hanya tuhan dan mereka berdua yang tahu apa yang mereka lakukan—Sehun menjadi dingin dan tampak tak suka?

“aku hanya bercanda.” Walau berusaha menutupinya dengan tawa kecil yang sedikit dipaksa, Taeyeon sekilas masih bisa melihat gadis itu terluka. “kalau begitu aku pergi dulu. Hubungi aku kalau suasana hatimu sudah baik.” Tanpa melakukan kontak mata dengan siapapun, gadis itu buru-buru mengambil tasnya dan keluar melewati Taeyeon.

Berdua saja dengan Sehun merupakan situasi tercanggung yang pernah dialami Taeyeon sepanjang hidupnya. Berdiri berhadapan dengan Sehun yang terus menatapnya sementara ia sendiri tak berani membalasnya membuat keadaan menjadi semakin sulit untuknya. Alhasil, ia hanya berdiri kaku di dekat pintu dan menunggu. Sungguh, Taeyeon belum memiliki ide bagaimana berkomunikasi dengan Sehun setelah kejadian tadi. Sorot mata Sehun yang keras, terkadang datar, terkadang dingin, dengan ekspresi seperti itu, Taeyeon kesulitan menelaah apa yang ada dalam pikiran pria itu. Sehun sepertinya memang sangat pintar menyembunyikan isi hatinya yang sebenarnya.

“pacarmu cantik.” Taeyeon mencoba memulai pembicaraan karena Sehun kelihatannya masih ingin diam. Sambil tersenyum kaku, ia melangkah kecil ke depan namun masih menyisakan jarak antara dirinya dan pria itu. Reaksi yang diterimanya masih sama. Datar. “apa dia seorang model?” Taeyeon tak tahu, apakah ia memang sekedar ingin tahu atau mungkin hanya ingin berbincang untuk mengurangi kecanggungan antara mereka. Satu hal yang pasti, ia memiliki dorongan kuat ini dalam hatinya untuk bertanya. “kau beruntung memiliki pacar secantik itu. Tubuhnya juga sangat ba—”

“mereka juga membayarmu untuk ini?”

“huh?” Taeyeon mengira mendengar pertanyaan yang salah tapi dilihat dari ekspresi Sehun, sepertinya memang tidak. Ia sedikit tersentak lalu mengangkat wajahnya. Mata mereka bertemu untuk beberapa detik sebelum ia menghindarinya lagi untuk suatu alasan yang ia sendiripun tak tahu.

“kau bekerja denganku bukan untuk mewancaraiku.” Sehun secara perlahan, berjalan mendekat seperti binatang buas yang mengincar mangsanya.

Taeyeon mengernyitkan keningnya, walaupun merasa gugup karena Sehun semakin mendekat dan akhirnya menjulang tinggi di depannya, ia berusaha menutupinya. Akan sangat aneh jika ia mundur ke belakang hanya untuk menghindari pria itu.

“apa kau yakin, kau adalah orang yang profesional, nona Kim?” lagi, seringaian itu muncul kembali.

Taeyeon terperangah, nyaris kehilangan kata. Kontes tatap itu kembali terjadi. Entah bagaimana menggambarkannya, mungkin hanya perasaannya saja, setiap kali Sehun menatapnya, ia sekilas melihat sinar keteduhan dari sana. Di balik expressionless itu, terkadang ia melihat pancaran kehangatan dan kelembutan meski hanya sedetik berlalu, sesuatu yang sungguh tidak mungkin ditemukan dalam diri Oh Sehun. Taeyeon kemudian berdehem setelah merasa telah bisa mengendalikan hatinya yang berkecamuk aneh.

“untuk menjawab pertanyaanmu Sehun-sshi, aku adalah orang yang profesional dalam bekerja. Aku minta telah menanyakan pertanyaan seperti tadi, aku berjanji kelak hal ini tidak akan terjadi lagi.” Taeyeon mencoba tetap tenang. Ia menatap Sehun dengan penuh keyakinan seraya mengulurkan pakaian utama yang dibawanya. “kita harus ke studio sekarang. Pemotretanmu dimulai beberapa menit lagi.”

Taeyeon tak mengerti, mengapa tiba-tiba cara Sehun menatapnya berubah. Sorot matanya berubah kelam dan kalau tidak salah lihat, rahangnya mengeras seolah sedang menahan emosi. Apa ucapannya tadi salah? Sehun mengambil pakaian itu dari tangannya tanpa mengeluarkan sepatah kata, lalu berbalik untuk bersiap-siap.

“bukankah kau sudah mengetahuinya?” pertanyaan Taeyeon membuatnya berhenti. “staf pasti menghubungimu ‘kan? Lalu kenapa kau tidak mengangkat telponku?” Rasa penasaran yang dalam membuat Taeyeon tak bisa menahan diri untuk tidak menanyakannya.

Ada jeda panjang di antara mereka sebelum Sehun menjawabnya.

Seringaian yang tidak bisa dilihat Taeyeon itu, membentuk dibibirnya. “itu tugasmu nona Kim. Apa aku kelihatan peduli pada apa yang terjadi?” tanpa berbalik, Sehun berjalan menuju kamarnya, meninggalkan Taeyeon yang melongo.

Lupakan! Berbicara dengan pria seperti batu yang tidak memiliki perasaan memang tidak ada gunanya. Taeyeon mendesah panjang, ia pernah mengingatkan dirinya bahwa bekerja bersama Sehun nantinya akan sulit, dan sekarang semuanya terbukti. Ini hanya permulaan, entah ke depannya akan seperti apa, memikirkannya saja sudah membuatnya pusing.

Sambil menunggu Sehun selesai berganti pakaian, mata Taeyeon sibuk menjelajahi isi apartemennya dengan binar kekaguman. Seperti yang tampak dari luar, di dalamnya pun terasa sangat nyaman, hanya beberapa menit berada disini sudah membuat keinginan untuk pergi menghilang. Taeyeon baru menyadarinya sekarang, polesan warna hitam dan putih mendominasi hampir seluruh dinding ruangan, termasuk sebagian besar perabotnya. Ia merasa yakin, pasti hitam dan putih adalah warna favorit Sehun.

Seperti kebanyakan apartemen, saat pertama kali memasukinya, Taeyeon langsung disuguhi dengan pemandangan ruang tamu yang luas. Beberapa sofa bermotif bunga kecil berwarna putih lembut, tampak berjejer rapi bersama meja kristal bening di depannya. Enam buah lampu hias berukuran sedang yang berbentuk seperti jamur terbalik, tergantung indah di langit-langit tepat di atas meja kristal bening tersebut. Tak jauh dari situ, pandangannya berpindah pada suatu komunitas kecil di sudut kanannya. Itu pasti ruangan untuk bersantai. Sebuah TV dengan layar besar diletakkan melekat pada dinding dan sebuah sofa tidur panjang—yang pasti empuk—ditaruh berhadapan. Sepasang jendela kaca ukuran besar dengan tirai warna krim—sama seperti yang berada di dekat ruang tamu—berada di samping kanan ruang santai tersebut, membuat siapapun yang nanti berdiri disana bisa melihat pemandangan seluruh kota Seoul. Semua yang terlihat olehnya tidak gagal membuatnya terkagum-kagum.

Bunyi klik pada gagang pintu menepis perhatian Taeyeon seketika. Ia melirik jam tangannya sebelum melemparkan pandangan ke sosok yang baru saja berdiri tak jauh di depannya dengan mulut sedikit menganga.

“selesai memandangiku?”

Taeyeon tersentak dengan pipi merona dan segera memalingkan mukanya ke obyek apa saja dalam ruangan yang mendadak membuatnya tertarik, hanya untuk menutupi rasa malunya terhadap apa yang beberapa detik dilakukannya tanpa sadar.

“kebiasaanmu itu tidak baik, nona Kim.”

Taeyeon mungkin sedikit iritasi mendengar panggilan itu. Terdengar janggal di telinganya. Tapi diluar dari itu, ia tak menampik apa yang dikatakan Sehun. Ia sendiripun tak tahu pasti, sejak kapan ia memiliki kebiasaan memandangi Sehun dalam waktu yang lama. Mungkinkah sejak ia memasuki apartemennya?

Setelah melewati menit yang panjang dengan mengagumi apartemen Sehun dan beberapa kali menerima telpon dari studio, Sehun akhirnya muncul mengenakan pakaian yang dibawanya tadi, lengkap dengan sepasang sneaker hitam putih.

*bagaimana orang ini bisa begitu tampan?* Taeyeon membatin nyaris tak percaya. Pakaian itu sangat pas di badan Sehun, seolah memang sengaja dibuat untuknya. Taeyeon diam-diam memuji dalam hati. Sehun adalah model sesungguhnya. Warna hitam sangat cocok dengannya, begitu alami, Taeyeon mendapati sosok yang berjalan dan berhenti di hadapannya ini terlihat makin menarik.

Taeyeon terkesan dengan bagaimana sedikit gerakan saja dari Sehun sudah membuat penampilannya terlihat keren dan sempurna tanpa ia harus repot-repot bergaya hanya untuk mendapatkan kesan keren itu. Setelah mengamati atas dan bawah, Taeyeon menyadari ada sesuatu yang kurang. Ah! Wajahnya berubah cerah seraya menjentikkan jarinya, lalu buru-buru merogoh tasnya untuk mencari barang yang harusnya dipakai bersama pakaian itu.

“kemarikan tanganmu.” Taeyeon menarik pergelangan tangan Sehun ke arahnya dan segera memasangkan jam tangan hitam disana.

Tapi Taeyeon tak tahu kalau efek dari sentuhan tangannya itu menghantarkan getaran aneh pada tubuh Sehun. Sehun hanya diam menatap dan mengamati Taeyeon yang masih fokus pada tangannya. Keringat dingin tanpa sadar membasahi tengkuk dan dahinya. Ketika Taeyeon mengangkat kepalanya, gadis itu heran begitu menyadari sebagian wajah Sehun telah basah.

“apa kau kepanasan? Astaga, keringatmu banyak sekali.” Taeyeon mengambil sapu tangannya untuk menyekanya. Tapi saat kain itu baru menyentuh sedikit saja kulitnya, Sehun tiba-tiba mencengkeram kuat pergelangan tangannya membuatnya terkejut tanpa kata.

“siapa yang mengizinkanmu menyentuhku?” setengah menghardik, Sehun menatapnya dengan sorot mata yang keras dan dingin. Ekspresinya yang tak terbaca itu kini dipenuhi dengan aura gelap dan membuat nyalinya menciut.

Diliputi perasaan was-was dan bingung, Taeyeon berujar pelan nyaris berbisik. “a-aku hanya ingin..membersihkan keringatmu.” Ia tidak berani menatap mata itu. Bagaimana tidak, ini pertama kalinya ia melihat Sehun seperti ini. Sudah menjadi tugasnya membuat model yang berada dalam tanggung jawabnya, tetap dalam kondisi baik apalagi masalah penampilan. Dan Sehun baru saja memprotesnya saat hendak melakukan tugasnya. Mungkin menerima pekerjaan sebagai asisten baru Sehun adalah tindakan yang salah. Taeyeon, untuk kesekian kalinya, menyesalinya.

Sehun mungkin sudah merasakan ketegangan Taeyeon karenanya. Ia tadi sempat melihat betapa kagetnya gadis itu karena tindakannya dan untuk menambahkan rasa bersalahnya, sekarang gadis itu juga tampak pucat. Sehun melirik pergelangan tangan yang dicengkeramnya sebelum meloloskannya. Taeyeon meringis seraya mengusap bagian yang sakit. Sungguh diluar dugaan, ia mencatat lagi dalam kepalanya, selain dingin dan kaku, Sehun juga seorang yang pemarah. Jika orang ini adalah orang yang sama dalam pikirannya, Taeyeon berpendapat, waktu ternyata memang benar-benar bisa merubah seseorang. Sama nama belum tentu sama pula orangnya ‘kan? Namun bukan itu dalam pikirannya sekarang. Ia penasaran mengapa tiba-tiba Sehun bersikap tidak biasa seperti itu atau mungkinkah dia selalu seperti ini? Ekspresinya kini berubah. Sehun kelihatan frustasi dan juga mengabaikan tatapan mata. Sebenarnya ada apa dengan pria ini? Taeyeon merasa ganjil dengan perilakunya.

Setelah terdiam cukup lama, Sehun akhirnya mau menatapnya. “maaf. Aku..tidak sengaja.” Ucapnya ragu-ragu. Taeyeon cukup terkejut, ia tak menyangka akan mendengar kalimat maaf darinya. “jangan pernah menyentuhku lagi tanpa izin.” Ekspresi datarnya kembali.

Walaupun masih dilanda kebingungan dengan perubahannya yang tiba-tiba dan ingin tahu alasan di balik kalimat terakhirnya, Taeyeon memutuskan untuk tidak memikirkannya lagi. Dan tampaknya Sehun mungkin saat ini sedang ingin sendirian, karena yang ia lihat, sorot matanya mendadak kosong seperti sesuatu sedang mengganggu pikirannya.

“aku mengerti.” Taeyeon mengangguk pelan. “kalau begitu, aku akan menunggumu diluar.” Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik. Ia tidak bisa dan tidak ingin berlama-lama satu ruangan dengan Sehun. Ruangan yang tadinya nyaman, terasa menyesakkan sekarang.

“kau tidak berharap aku melupakannya ‘kan?”

Taeyeon sontak membeku di depan pintu. Seluruh sistem syarafnya mendadak kaku. Ia ingin mengabaikan pertanyaan itu, kalau bisa menghindari gambaran yang terlintas dalam kepalanya sesaat setelah mendengar pertanyaan itu, tapi entah bagaimana, sesuatu mengusiknya dan sesuatu itu berhasil menghentikannya.

“aku tidak akan pernah melupakannya.”

Matanya membulat lebar dan jantungnya tiba-tiba berpacu dua kali lipat. Tanpa sadar tubuhnya mulai gemetar. Ia bisa merasakan tatapan itu di punggungnya. Langkah demi langkah yang terdengar mendekat dibelakangnya seolah-olah mengambil seluruh persediaan nafasnya dan ia menggenggam gagang pintu dengan erat sebagai tempat bertumpu.

“selama sisa hidupku, aku akan mengingat terus kejadian itu…noona.”

Saat itulah Taeyeon kehilangan pertahanannya. Matanya memejam rapat bersamaan dengan genggamannya yang semakin erat. Panggilan itu sudah lama tak terdengar dan sekarang ia mendengarnya lagi. Menekan dorongan kuat dalam dirinya, Taeyeon tak ingin berbalik, tak bisa berbalik menatap mata itu dengan penuh keyakinan seperti tadi. Sekelebat kilat ingatan tentang kejadian yang berusaha dilupakannya, tiba-tiba muncul kembali. Rasa bersalah langsung menggerogotinya.

“a-aku tidak tahu apa yang kau bicarakan. Permi—”

Dalam sekali kedipan mata, sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, tubuh mungilnya melayang ke depan dan punggungnya menekan pintu di belakangnya dengan tubrukan keras. Nafas Taeyeon tertahan dengan mata mengerjap kaget, Sehun menahan kedua pergelangan tangannya dan mengunci tubuhnya dengan pintu dan badan kokohnya.

Kedua mata Taeyeon memancarkan keterkejutan yang sangat. Badannya mulai gemetar untuk alasan yang tak ia pahami.

“S-Sehun..l-lepaskan..aku…” Taeyeon menggoyangkan kedua tangannya dengan keras, mencoba melepaskan diri.

“tatap aku, noona.”

Taeyeon tak bergeming. Geraman Sehun sudah cukup membuatnya tertekan dan ia tak cukup berani membalas tatapannya.

“Kim Taeyeon, tatap aku sekarang!”

Dalam keterkejutannya, Taeyeon sontak mengangkat kepalanya. Akan tetapi, segera setelah bertatapan dengan mata itu, ia langsung menyesalinya. Sinar mata Sehun yang tajam menusuk membuat bulu romanya menegak. Tidak ada lagi ekspresi datar darinya, semua murni menunjukkan gejolak amarah. Ketakutan Taeyeon lambat laun kian menjadi, ia merasa sangat terintimidas hingga membuat dirinya tak berdaya. Meski ingin berpaling, sesuatu dalam dirinya tidak mengizinkannya.

“Sehun..kumohon.” Taeyeon berusaha membujuk, “kita harus pergi dari sini secepatnya. Semua orang sudah menunggumu di studio sekarang.” tapi begitu melihat raut wajah yang tak berubah darinya bahkan tidak adanya sama sekali gambaran akan mendengarkannya, ia mulai menyerah.

Posisi mereka sekarang sama sekali tak menguntungkan bagi Taeyeon untuk meloloskan diri apalagi ketika Sehun mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan untuk mensejajarkan tinggi mereka, tepatnya wajah mereka. Jarak ini terlalu dekat, ia bahkan bisa menghirup aroma parfum yang dipakai Sehun dan merasakan nafas hangatnya menerpa pipinya kala ia memiringkan sedikit kepalanya untuk berbisik di telinganya.

“katakan padaku, bagian mana dari kejadian saat itu yang membuatmu lupa?”

Rasa dingin menjalari punggung Taeyeon, disaat bersamaan rasanya perutnya di dalam ikut bergolak. Kepalanya menunduk, tak berani menjawab. Bagaimana bisa ia melupakan kejadian itu. Sampai saat ini pun bayangan masa lalu itu masih menghantui mimpinya.

“jawab aku Taeyeon.”

Panggilan dengan nama itu, cukup mengejutkan, tidak membuat Taeyeon merasa marah. Jauh dalam hatinya anehnya malah merasa sedikit tenang. Padahal perbedaan 3 tahun akan membuat seseorang yang lebih muda dianggap tidak sopan atau kurang ajar jika hanya memanggil seseorang yang lebih tua darinya dengan hanya nama saja. Taeyeon akhirnya mengangkat wajahnya dan menatapnya. Ada sesuatu yang terlambat disadarinya. Sekilas tadi ia sempat menangkap perubahan dari sinar mata Sehun. Tidak tajam, tidak keras, tidak dingin, melainkan terluka. Taeyeon mengerutkan keningnya, merasa heran dan bertanya-tanya apakah ini hanyalah ilusinya atau memang itu kenyataannya, karena detik selanjutnya Sehun kembali pada keadaan kakunya dengan ekspresi datar yang sulit terbaca.

Taeyeon kemudian mendapati dirinya kembali saling menatap dengan Sehun. Untuk kali ini ia tak berniat berpaling maupun menghindarinya. Suasana yang begitu menenangkan dimana hanya mereka berdua, walaupun bunyi ponselnya yang entah sejak kapan berteriak minta dilayani, Taeyeon bersikap seolah tak mendengarnya dan pada akhirnya ponsel itupun berhenti. Mengambil kesempatan ini, mata Taeyeon tak hentinya menelusuri setiap lekuk wajah Sehun. Ia ingin menyentuhnya tapi niat itu ditahannya. Pria itu memang sudah banyak berubah, tidak seperti dulu, sekarang ia kelihatan lebih manly dan ia sempat bertanya dalam hati, sejak kapan Sehun menjadi begitu tinggi dan bisa menjadi begitu tampan? Tatapannya melembut membuat Sehun sedikit terkejut.

“aku..tidak benar-benar melupakannya.” Taeyeon akhirnya mengakuinya. Setidaknya sekarang ia sedikit merasa lega karena Sehun bisa bertahan hingga sejauh ini dan hidup dengan baik.

Genggaman Sehun terlepas sebelum kemudian berbalik membelakanginya, menyembunyikan senyuman pahit yang segera membentuk di bibirnya setelah mendengar pengakuan itu.

“dua tahun lalu, aku mulai mengingatnya. Tidak banyak awalnya, tapi seiring waktu ingatan itu sepenuhnya kembali.” Taeyeon hanya bisa menatap sayu punggungnya sambil mendengarkannya berbicara. Rasa bersalah itu masih ada. “kejadian itu masih membekas dalam ingatanku sampai sekarang. Aku tidak mungkin melupakannya begitu saja. Tapi kau,” Sehun memutar tubuhnya sambil menatapnya tajam, sekilas tampak terluka. “kau berpura-pura tidak mengingatnya, berpura-pura tidak mengenalku, dan kau memaksaku bersikap sebagai asisten-model seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu diantara kita!”

Taeyeon tersentak. Pandangannya mulai mengabur. Entah sejak kapan air mata berkumpul dipelupuk matanya. Sehun dengan kasar mendorong bahunya hingga punggungnya kembali membentur keras pintu dibelakangnya. Efek dari benturan itu membuatnya terpaksa menggigit bibir bawahnya menahan sakit sekaligus perih dalam hatinya. Ia tidak bermaksud membuat Sehun terluka, tapi ternyata ia salah.

“maafkan aku.” hanya itu yang bisa ia ucapkan sekarang, menjelaskan dirinya sudah tidak ada gunanya. Paling tidak untuk saat ini.

Sehun mendekatkan bibirnya ke telinganya dan berbisik yang disertai nada geraman tiap katanya. “kejadian itu adalah kesalahanmu.”

Kedua mata Taeyeon membulat lebar sebelum akhirnya air mata yang sejak tadi ditahannya menitik membasahi pipinya. Sehun memalingkan mukanya.

“kau mempermainkan perasaanku. Aku tidak bisa memaafkanmu begitu saja.” Sehun kembali menatapnya. Sorotan matanya berbahaya dan mengancam. Seringaian itu kembali lagi di wajahnya dan Taeyeon menggeleng lemah, tidak ingin membayangkan hal negatif apa yang kira-kira akan dilakukan Sehun padanya. Ia bisa merasakannya, sesuatu yang tidak benar dari seringaian itu. Apa yang ingin kau lakukan Sehun? Taeyeon menjadi was-was ketika secepat kilat wajah Sehun telah berada di depan wajahnya.

“aku akan membuatmu membalas kesalahanmu dan kutegaskan padamu, kau tidak berhak menolakku karena semua yang telah terjadi padaku adalah karena kesalahanmu.”

Mata Taeyeon membelalak. Ia sudah tak sanggup menolak, sudah tak bisa menghindar saat Sehun tiba-tiba menghilangkan batasan mereka. Terlalu cepat hingga membuat dirinya terlambat menghindarinya. Bibir Sehun menyentuh bibirnya, menciumnya bukan dengan kelembutan. Amarah, kecewa dan terluka terasa jelas di dalamnya. Taeyeon berusaha mendorong dadanya tapi Sehun sudah lebih dulu menahan pinggangnya dengan kedua lengan kokohnya. Meski berontak sekuat tenaga, ia menyadari tak bisa menandingi kekuatan Sehun. Maka ia mulai menangis dalam diam, membiarkan air matanya terus mengalir membentuk aliran sungai kecil di pipinya, namun tetap saja tak membuat Sehun ingin berhenti. Ketika ia mulai menyerah tanpa perlawanan lagi—yang mana sia-sia, Sehun memperdalam ciumannya sambil memagut bibirnya dengan liar dan terkadang kasar, memaksanya membuka mulutnya dan mendorong lidahnya ke dalam tanpa memberinya jeda untuk mengambil nafas.

Taeyeon mulai kehilangan akal, lututnya tiba-tiba menjadi lemas, ciuman panas itu membuat pikirannya berkecamuk dan entah bagaimana dan kapan, ia membalas ciuman itu. Jantungnya berdegup sangat kencang, ciuman itu bukan lagi sekedar ciuman dibibir. Bibir Sehun kini menelusuri garis rahangnya sebelum mengisapnya—masih dengan kasar—menjilatnya dan memberinya gigitan-gigitan kecil tanpa meninggalkan area tak tersentuh. Nafas Taeyeon terengah-engah, lenguhan kecil secara tidak sengaja keluar dari bibir mungilnya begitu Sehun menyerang lehernya dengan agresif.

Ada apa dengan dirinya? Ada apa dengan tubuhnya? Mengapa ia tidak bisa menjauhkan diri? Kepalanya mendadak kosong bahkan sampai tak menyadari kalau kedua tangannya kini sudah meremas rambut Sehun. Taeyeon takut, sangat takut seandainya akal sehatnya hilang dan membuatnya terjerumus semakin dalam. Ia tidak seharusnya menerima begitu saja. Mereka berdua seharusnya tidak melakukan hal ini. Namun, mengapa perlakuan Sehun membuat semua tanya dan kebingungan itu hilang hanya dalam sekejap? Mengapa sentuhan Sehun memiliki pengaruh hebat terhadap tubuhnya?

*tidak! Ini tidak boleh lebih dari ini* Kepalanya menggeleng kuat namun tiba-tiba, tangan Sehun merambat ke balik bajunya membuatnya mengerjap kaget. Tubuhnya sontak bergetar dan bulu romanya meremang begitu telapak tangannya menyentuh bagian belakangnya.

“Sehun…h-hentikan…” dengan sisa nafasnya, Taeyeon berusaha menahan tangannya dan itu berhasil, tapi tidak menghentikan ciumannya yang kembali membungkam bibirnya. Meski ingin menolak, meski ingin menjauh, entah mengapa tubuhnya selalu bertentangan dengan pikirannya. Ia mungkin berbohong jika ia mengatakan tidak menikmatinya. Akan tetapi, situasi sulit yang terjadi di antara mereka berdua, tidak sepatutnya membuatnya terlena.

Ingat Taeyeon, Sehun hanya ingin membalasmu!

Taeyeon berhasil mendorong Sehun tapi itu tak bertahan lama karena Sehun kembali menyerang bibirnya. Oh tuhan, orang ini benar-benar memiliki hormon yang tinggi! Taeyeon merutuk dalam hati. Pekikan kecilnya tiba-tiba terdengar bersamaan dengan Sehun yang menjauh. Walaupun kesulitan mengumpulkan nafas, Taeyeon masih bisa memberikan tatapan tajam pada pria itu karena telah menggigit bibirnya.

Sehun menyeringai puas melihat hasil karyanya di leher Taeyeon dan bibir mungilnya. Menyenangkan sekali melihat wajah gadis itu memerah karena dirinya. Dadanya berpacu kencang seiring tubuhnya yang masih bergejolak mengharapkan sesuatu yang melebihi cumbuan tadi. Andai saja Taeyeon tadi tidak mendorongnya, entah apa yang akan terjadi pada gadis itu. Ia sendiri pun tak mengerti, mengapa tiba-tiba ia bertingkah diluar kendali. Ia tidak seharusnya memperlakukan Taeyeon seperti itu. Ia tidak seharusnya…menciumnya.

Taeyeon menaikkan tangannya tapi Sehun menangkapnya sebelum telapak tangan itu menyentuh wajahnya. Mata Taeyeon membulat kaget.

“kau—”

Sehun menghempaskan tangannya secara kasar dan tersenyum dingin. “aku sudah mengatakannya padamu. Semua ini adalah kesalahanmu, kau tidak berhak menolakku.” Ia kembali memasang tampang datarnya.

Taeyeon menahan geram seraya kedua tangannya mengepal erat dibawah sana. Matanya memancarkan kepedihan atas kata-kata itu. Ia tidak menangis. Untuk apa? Semua sudah terlambat.

“keluarlah.” Sehun memperlihatkan kebosanan lewat tatapannya. “aku harus merapikan kembali penampilanku karena seseorang telah merusaknya dengan sengaja.” Tangannya menyentuh rambutnya dengan gaya acuh tak acuh. Raut wajahnya kembali dingin, kemudian tanpa meliriknya, ia segera meninggalkannya.

Taeyeon merasakan darahnya mendidih mendengar sindirannya tapi ia tak punya pilihan lain selain menurutinya. Bukankah ini apartemen Sehun? Tentu saja model itu berhak mengusirnya. Sekarang yang harus ia pikirkan, bagaimana caranya menutupi ‘kissmark’ di sekitar lehernya?

To be continued

Aku masih dalam HIATUS. Ff ini sebenarnya dah lama pengen ku post tapi di tunda terus karena sibuk juga ma kerjaan.

© Ryn

 

 

Advertisements

79 comments on “Fall in Love with You (chapter 2)

  1. Sebenernya taeyeon sama sehun kenapa sih masih bingung ini sebenernya/? Sumpah penasaran banget ama masa lalu mereka. author ryn masih hiatus ya hiks yasudahlah aku berharap waktu cepat berlalu. *tsah* /kibas poni/ /poni kepanjangan/

  2. heeyy sebenarnya apa ynag terjadi di zaman purba(?) sehingga Sehun ada dendam tuh kayknya-,-
    Taengoo-ya ayolah kau tidak boleh lemah dihadapannya *bersorak!!
    aigoo aigoo hormon Sehun terlalu err.. kkk
    next ditunggu ne author-nim
    HWAITING!!

  3. Aq udah nunggu ff ini berabad abad#alay aw penasaran.. sbnrnya sehun taeng ada masalah apa sih kok srhun jd gitu heheh
    Lanjut ya thor

  4. ya daebak ! like it sumpah aku suka sama genre and alur dari ceritanya .. next chapter ditunggu thor .. jangan lama2 hwaiting 🙂

  5. Itu kenapa thor? Emgnya ada hubungan apa Sehun sma Taeyeon dulu? Maaf ya aku gk komen dichap 1 tpi aku baca, itu juga lewat hp temen trus temen aku yg kasih tau WP ini ^^ aduh duh thor ‘-‘ itu bagian si HunTae lgi anu nya banyakin dong #otakyadongkumat
    Ok, next chapter 3 cepet ya thor publish nya^^

  6. Khyaaaaaaaa♡♡ entah aku masih waras atau nggak… dari awal baca dag-dig-dug sama senyum2 gaje Ryn eonni >~< Kepo maksimal…. sama masa lalunya Taeyeon sama Sehun ._.
    Baiklah… aku ga tau harus ngomong apa lagi… yang jelas kompor gas deh buat chapter ini hihihihi….
    Ditunggu next chapternya eon~ Update soon! KEEP WRITING AND HWAITING!!!

  7. huah seneng bgt akhirnya ryn eonni comeback :)) ya walaupun masih dalam masa hiatus, sebnarnya ada masalah apa sama sehun plus taeng eonni makin penasaran
    buruan di publish next chapternya ya eon.

  8. omg pervert sehun
    tp penasaran dgn masa lalu mrk-_-
    ryn unnie jgn lama ya hiatusnya.
    trus ff unnie yg dulu di exoshidae gimna?

  9. Whuaaaaah, akhirnya dipost juga….
    Suka thor, penasaran sama masa lalunya taeyeon dan sehun….
    Ditunggu kelanjutannya dan ffnya yg lain ya thor….

    Fighting

  10. rame nih ^^ tapi ga nemu chapter 1 nya 😦
    aku suka sama penggambaran situasinya yg detail, jadi bisa kevisualisasikan di otak ^^
    keren ^^

  11. sial masa lalu mereka apaan ko bikin penasaran bangettttt;;
    sehun kenapa, taeng kenapa, ff ini knp /?
    sorry thor br bisa baca skrg;; hiks
    nice lah, next chaptnya ditungguuuu

  12. author cepatlah posting lagi next chapter nya 😥 ppali aku sudah tak sabar dont be long time thor we are waiting you 🙂

  13. sebenarnya apa yang taeyeon lakukan smpe sehun murka begitu. Dan mksudnya orang yang sma tpi kepribadian yg beda itu apa,. Masih bingung aku,-
    Sehun kasar banget sma yeoja -_-

  14. kesalahan apa yang pernah dilakukan Taeyeon di masa lalu?

    yaa SeYeon ingat kalian harus segera melakukan pemotretan..

  15. Kesalahan apa yng pernah taeyeon lakukan sehingga sehun begitu membencinya,,,
    apa taeyeon pernah memberikan luka yng mendalam untuk sehun sehingga sehun berubah menjadi seperti itu,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s