Ma Boy~ (Chapter 8)

ma-boy-copy-8

Bina Ferina ( Kookie28)

 

Main Cast : Kim Taeyeon GG, Xi Luhan EXO, Kim Jaejoong JYJ

Genre : School-Life, Romance

Rating : PG 18

 

Thanks To :

BaeLyrii @Cafeposterart.wp.com for making this amazing poster, chu~

Okelaah, happy reading ajadeh, yaaaa^^

~~~

“Kau sudah pulang, yeobo?” sapa nyonya Xi, ibu kandung Jaejoong dan Young serta ibu tiri Luhan, ketika Luhan dan tuan Xi sudah sampai di rumah.

“Eoh, bisa buatkan aku teh hijau? Berikan saja pada Luhan, dia yang akan mengantarkannya ke kantorku,” sahut tuan Xi sambil menatap Luhan sekilas.

Luhan hanya mengangguk. Ia berniat mengambil koper ayahnya dan meletakkannya di kamar. Namun, saat ia hendak mengambilnya, nyonya Xi segera mengambil koper itu.

“Bawa saja teh hijau untuk ayahmu. Ini tugas seorang istri. Apa kau belum menerima bahwa aku adalah istri ayahmu sekarang?” tanya nyonya Xi ketus, tanpa memandang wajah Luhan. “Jika kau belum bisa menerimanya, kau boleh tidak lagi memanggilku “eomma”, dan tidur di asrama sekolah,”

Luhan diam. Ia membeku di tempat. Bahkan ketika ibunya sudah menghilang dan pelayannya meletakkan teh hijau itu di atas meja di dekatnya, Luhan masih belum bisa menggerakkan sendi-sendi di tubuhnya. Ini memang bukan yang pertama kalinya ia mendapat perlakuan ketus dari ibunya. Tapi kenapa hatinya masih tetap merasa sakit? Ia sudah menganggap wanita itu ibunya sendiri saat ayahnya mengikrarkan janji di pernikahan keduanya. Ia sudah menganggapnya ibu, walaupun wanita itu masih belum bisa menerimanya sebagai anaknya.

Luhan menundukkan wajahnya. Ia menghela nafas pendek dan segera mengambil nampan yang berisi teh hijau untuk sang ayah, sekaligus ditemani biscuit-biscuit kecil. Ia langsung membawa nampan itu ke kantor ayahnya.

Tanpa Luhan sadari, Young menatapnya dari kejauhan. Ia mendengarkan semua perkataan ibunya yang menyakitkan pada Luhan dan menitikkan air matanya tanpa bisa ia tahan. Ia tahu ini bukan pertama kalinya ibunya bersikap ketus pada Luhan, dan ini juga bukan pertama kalinya ia menangis. Tapi kenapa ia tidak pernah jera untuk menangis? Young ingin tidak peduli lagi dengan apa yang terjadi antara ibu dan Luhan. Dan itu tidak bisa dilakukannya. Ia sayang pada Luhan. Ia sayang padanya seperti adik yang sayang dengan kakak kandungnya sendiri.

Di depan pintu kantor ayahnya, Luhan mengetuk pintunya tiga kali dan langsung membukanya. Ayahnya sedang duduk dengan nyamannya di atas sofa mewah miliknya sambil membaca sebuah dokumen perusahannya. Wajahnya terangkat begitu Luhan masuk dan ia menutup kembali dokumen itu.

“Duduklah,” ujar tuan Xi. Ia mengambil teh hijau yang sudah diletakkan Luhan di atas meja di depannya. Tuan Xi menyeruputnya sedikit dan ia menatap Luhan lekat-lekat. “Kau tidak heran aku memanggilmu tiba-tiba?”

“Ayah sering memanggilku. Jadi aku tidak perlu pura-pura kaget lagi, ‘kan?” Luhan balik bertanya, dan itu membuat ayahnya tertawa.

“Aiyo, Xi Luhan. Kenapa watak sembronoku itu turun padamu? Kenapa kau tidak memiliki sifat lemah-lembut dan pengertian seperti ibumu? Ibumu yang cantik, yang penyayang,”

“Aku tidak memilikinya karena aku bahkan tidak mengenalnya dengan sangat baik, dan aku diurus olehmu. Bukankah seharusnya ayah sudah tahu jawabannya? Kenapa malah menanyakannya padaku? Mau membuat hatiku sakit lagi?”

Tuan Xi menatap Luhan. Terlihat ketulusan dan kasih sayang seorang ayah yang terpancar di matanya. Tangannya perlahan mengusap lembut ubun-ubun kepala Luhan.

“Xi Luhan. Kau pasti sangat marah padaku. Aku tidak memberikan kasih sayang sebagaimana seorang ayah pada umumnya. Kau kehilangan ibumu saat kau masih berusia belia. Meskipun begitu, ayahmu ini tetap tidak peduli denganmu dan lebih mementingkan pekerjaan. Kau tidak memiliki sifat baik dari ibumu, melainkan sifat keras dari ayahmu. Tapi ayah bersyukur, kau memiliki wajah yang sangat mirip dengan ibumu. Kalau aku sangat rindu dengan ibumu, aku bisa dengan mudah membayangkan wajahnya dengan melihat wajahmu. Dan ketika aku melihat wajahmu, aku merasa menyesal. Aku menyesal tidak menghabiskan banyak waktu denganmu dan tidak memberikan banyak kasih sayang padamu,” ungkap tuan Xi dengan mata berkaca-kaca.

“Aku tahu posisi ayah. Ayah lebih mementingkan pekerjaan juga karena kau sayang padaku. Aku memakluminya. Kau menikah lagi karena kau ingin aku tumbuh dengan baik. Kau cukup perhatian denganku,” jawab Luhan. Ia berusaha tersenyum dan tidak ingin hatinya merasa sakit lagi melihat kesedihan sang ayah.

“Jangan berlagak baik dan jangan membodohiku,” kata tuan Xi. “Kau kira aku tidak tahu kau justru merasa merana saat aku menikah lagi? Pertama, kau tidak suka aku menikah lagi, itu sebabnya kau memilih tidur di asrama. Dan kau semakin tertekan ketika ibu barumu sama sekali tidak menyukaimu karena wajahmu. Aku tahu itu dan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku menyayangimu, sangat. Dan aku juga mencintai ibu barumu sebelum aku mengenal ibu kandungmu. Aku tidak tahu bagaimana menyatukan kalian. Padahal aku selalu membujuknya untuk menganggapmu sebagai anak sendiri. Dan setiap kali melihatmu, perasaan bersalahku meningkat menjadi 99 persen,”

“Ayah tidak perlu mencemaskan aku. Itu tidak penting untuk dipikirkan. Cemaskan apa yang sebaiknya ayah cemaskan. Masalah aku dan ibuku, aku bisa mengurusnya sendiri. Aku pasti bisa membuka hatinya,” kata Luhan. Ia tersenyum dan menggenggam tangan ayahnya, meyakinkan ayahnya bahwa dia baik-baik saja.

“Bagaimana kau akan melakukannya?” tanya tuan Xi.

“Aku… belum tahu,” jawab Luhan pelan.

“Nak, ada satu hal yang perlu kau tahu. Ibu barumu itu adalah orang yang sangat penyayang. Jauh di dalam hatinya, dia menyayangimu. Egonya saja yang membuat dirinya tidak bisa menerimamu,” ujar tuan Xi.

“Aku tahu ayah,” kata Luhan cepat. “Aku tahu begitu aku melihatnya secara langsung. Hatiku luluh saat melihatnya. Awalnya aku memang tidak suka melihatmu menikah lagi. Tapi begitu aku bertemu dengan ibu, aku menyukainya. Dia seseorang yang hangat, tulus, penyayang, dan penuh kasih. Jaejoong hyung dan Young-ie, mereka tumbuh dengan sangat baik karena ibu. Aku suka ibu. Dia mirip dengan ibuku, ayah. Walaupun ibu benci aku karena aku mirip ibuku, tapi aku akan selalu menyukainya karena dia mirip ibuku. Aku pasti bisa membuka pintu hatinya,”

Tuan Xi diam menatap mata Luhan yang sedikit berair. Ia bangkit berdiri dan melangkahkan kakinya menghadap ke jendela kantornya. Ia menghela nafas dengan berat.

“Luhan,” panggil tuan Xi.

Belum sempat Luhan menjawab, suara ponsel Luhan berbunyi, menandakan ada telepon masuk. Ayahnya diam, tidak melanjutkan  karena ia tahu Luhan menerima sebuah panggilan. Luhan merogoh saku celananya dan melihat nama yang tertera di ponselnya. Kim Taeyeon.

Luhan agak bimbang sebenarnya. Ia ingin mengangkat telepon Taeyeon tapi kondisinya sedang tidak memungkinkan. Ia menatap punggung ayahnya dan dengan perlahan-lahan, ia menurunkan tangannya, hendak meletakkan kembali ponselnya yang sibuk berdering ke dalam saku celananya.

“Angkat saja, tidak apa-apa. Mungkin itu telepon yang penting,” sahut ayahnya cepat.

Luhan berpikir sebentar. Bunyi dering teleponnya berhenti, dan beberapa detik kemudian berbunyi lagi. “Aku keluar sebentar,”

Luhan keluar dari kantor ayahnya. Di luar pintu kantor, Luhan sedikit terlonjak kaget. Ibunya berdiri di depan pintu sambil membawa sebuah nampan kecil yang berisi bubur gandum dan sebotol vitamin.

“Eomma?”

“Aku kesini untuk mengantarkan bubur dan vitamin buat ayahmu. Kurasa kau bisa memberikannya,” ujar nyonya Xi tanpa memandang Luhan.

Luhan tersenyum kecil. “Eomma bisa menyerahkannya sendiri. Aku mau mengangkat telepon,”

“Apa itu dari Taeyeonnie?” tanya nyonya Xi. “Jaejoong baru pulang. Taeyeon pasti sudah sampai di kamar asramanya. Pastikan kalau dia bersenang-senang dengan Jaejoong,”

Luhan teringat kembali dengan pemandangan yang tidak sengaja ia lihat ketika pulang dari menjemput ayahnya. Keakraban antara Taeyeon dan Jaejoong yang membuat hatinya panas. Senyuman merona Taeyeon yang tidak pernah ia lihat sebelumnya dan itu ditujukan untuk Jaejoong, yang membuat hatinya semakin remuk. Ia menyesal tidak bisa melupakannya.

Ponsel Luhan berhenti berdering. “Aku akan menghubunginya kembali dan bertanya apakah Jaejoong hyung menjaganya dengan baik. Aku akan memastikannya, eomma,”

“Kau tidak cemburu?” tanya nyonya Xi, heran.

“Aniya, aku hanya ingin menurutimu,” jawab Luhan pelan.

Nyonya Xi menatap Luhan tajam. Sangat tajam, seakan-akan Luhan adalah orang yang paling menyebalkan yang pernah ia temui di dunia. Sedangkan Luhan hanya tersenyum kecil dan menatapnya dengan wajah sendu. Ia merasa telah memberikan hadiah ulang tahun paling buruk untuk ibunya. Dan bukan tahun ini saja. Tahun-tahun sebelumnya Luhan juga merasakan itu.

Ponsel Luhan berdering kembali. Ia menatap layar ponselnya kemudian ke ibunya. “Aku akan mengangkatnya,”

Nyonya Xi diam dan ia masuk ke dalam kantor tuan Xi. Setelah pintu di belakang Luhan tertutup, Luhan menjawab panggilan Taeyeon yang ketiga. Mood­-nya entah kenapa mendadak turun.

“Ne?” sapa Luhan pelan.

“Ya! Kenapa kau lama sekali mengangkat teleponnya? Young-ie bilang kau sudah pulang sekitar lima belas menit yang lalu. Tapi kenapa belum mengabari apa-apa?”

“Kau sudah di kabari Young-ie, jadi tidak ada yang perlu dicemaskan, ‘kan?” Luhan balik tanya.

Taeyeon terdiam. Luhan juga diam. Luhan sadar, kata-katanya lebih ketus dari biasanya, dan Luhan tidak pernah mengacuhkan Taeyeon seperti itu. Jauh di dalam hatinya, Luhan menyesal melakukannya. Apa karena dia cemburu? Atas dasar apa dia marah pada Taeyeon karena cemburu melihatnya berdua dengan Jaejoong? Bukankah tujuan mereka bersama hingga hari ini adalah mendekatkan Taeyeon dan Jaejoong?

Luhan menghela nafas pelan. “Mianhae. Aku akan menghubungimu sebentar lagi,”

“Arra,” jawab Taeyeon pelan.

Setelah itu Taeyeon langsung memutuskan sambungan teleponnya, dan Luhan langsung memasukkan ponselnya kembali ke saku celananya. Tepat saat itu, nyonya Xi juga sudah keluar dari kantor tuan Xi.

“Ayahmu memanggilmu,” ujar nyonya Xi. Ia balik badan dan melangkah menuju kamarnya.

Luhan menunggu ibunya agak jauh dan ia masuk kembali ke kantor ayahnya.

Di lain sisi, nyonya Xi masuk ke dalam kamarnya dan segera duduk di ujung tempat tidur mewahnya, yang ia tempati bersama suaminya, tuan Xi. Nyonya Xi memandangi sebuah bingkai foto besar yang terpajang indah di dinding kamarnya. Foto pernikahan dirinya dengan ayah Luhan. Suatu pernikahan yang amat sangat diimpikan nyonya Xi, pernikahan dengan orang yang ia cintai. Ia sempat mengira kalau dirinya tidak akan bahagia lagi setelah ayah Luhan menikah dengan ibu kandung Luhan.

Meskipun sekarang ibu Luhan sudah tidak ada dan mereka hidup bahagia, ibu kandung Jaejoong dan Young ini masih sedikit marah dengan ibu kandung Luhan. Amarahnya segera ia hilangkan demi ketenangan istri pertama suaminya itu di dunia yang berbeda dengan mereka. Kemarahannya ia salurkan kepada Luhan, yang memiliki wajah identic dengan ibunya. Padahal ia tahu Luhan tidak ada salah apa-apa dan menerimanya dengan tangan terbuka, menganggapnya seperti ibu sendiri.

“Selama empat tahun ini, apakah hatimu masih belum terbiasa dengan Luhan? Tahukah kau, seberapa sakitnya dia saat kau mengacuhkannya?”

Kata-kata suaminya masih terngiang di benaknya, membuat hati nyonya Xi tertusuk.

“Aku harap apa yang kulakukan ini benar. Aku harap dengan ini kau bisa membuka hatimu perlahan-lahan dan menganggapnya sebagai seorang anak. Aku tahu kau tahu Kim Ma Ri, bahwa dia sangat menyayangimu,”

Nyonya Xi menghembuskan nafas panjang. Ia mengambil gelas yang ada di meja di samping tempat tidurnya dan meminum isinya yang tinggal sedikit.

“Dia seseorang yang hangat, tulus, penyayang, dan penuh kasih. Aku suka ibu. Dia mirip dengan ibuku, ayah. Walaupun ibu benci aku karena aku mirip ibuku, tapi aku akan selalu menyukainya karena dia mirip ibuku,”

Nyonya Xi kembali meletakkan gelasnya yang kosong dan ia membaringkan tubunya di atas tempat tidur. Hatinya merasa tersayat hingga membuatnya sakit kepala.

~~~

“Kau mau kemana lagi, Taeyeon-ah?” tanya YoonA dengan nada frustrasi ketika ia melihat Taeyeon, yang baru saja mengganti pakaian Luhan dengan pakaian santainya, mengambil hoodie dan jeans-nya, hendak mengganti pakaian santainya lagi.

“Aku ingin menemui Luhan. Aku akan memintanya bertemu di suatu tempat,” jawab Taeyeon.

“Wae? Apa yang terjadi dengan Luhan?” tanya YoonA.

“Mollaseo. Tadi aku meneleponnya. Ada yang tidak beres dengan cara dia bicara, Yoong. Aku khawatir,” jawab Taeyeon pelan. Ia teringat kembali dengan ibu tiri Luhan. Ia cemas apakah Luhan merasa tersakiti lagi. Ia memang melihat Luhan baik-baik saja sebelum pergi. Tapi bagaimanapun juga, ia merasa ada yang tidak beres.

“Taeng,” panggil YoonA. “Aku juga tahu Luhan tidak begitu jika ia menjawab teleponmu. Dia juga tidak biasanya membuatmu menelepon sebanyak tiga kali. Kemungkinan dia memang memiliki suatu masalah. Mungkin dengan ayahnya, karena kau bilang ia baru saja menjemput ayahnya pulang. Meskipun begitu, apakah tidak lebih baik kalau kau diam dan menunggu kabar dari Luhan sendiri? Bukankah Luhan sudah bilang akan menghubungimu? Mungkin saja saat ini dia sedang berdebat dengan ayahnya di rumah. Kau hanya akan membuat dirimu semakin cemas saat menunggunya. Kalau dia sudah menghubungimu, kau boleh memintanya untuk bertemu,”

Taeyeon menatap YoonA. Akhirnya ia meletakkan pakaiannya kembali dan duduk di atas tempat tidur bersama dengan YoonA.

“Aku tahu perasaanmu, tapi cobalah untuk tenang, oke?”

Taeyeon hanya menganggukkan kepalanya dan ia menyunggingkan senyuman manis kea rah YoonA.

“Aigoo, memang butuh kesabaran menyadarkan orang yang sedang di mabuk cinta,” kata YoonA. Ia mengerling sebelah matanya ke Taeyeon, membuat Taeyeon sedikit tertawa.

“Gomapta,” ungkap Taeyeon.

“Aha, apa benar yang dikatakan si rusa cantik itu? Kau bersama dengannya semalaman? Di kamarnya? Kau tidur di sebelahnya?” tanya YoonA dengan mata yang membelalak lebar.

“Ah… itu. Aissh, kau tidak perlu mendengarkan apa-apa yang keluar dari mulut Luhan,” sanggah Taeyeon cepat.

“Kim Taeyeon, aku tanya padamu,” ujar YoonA dengan tatapan mata tajam.

“Ne,” jawab Taeyeon pendek.

“Ne?!!” seru YoonA. “Jadi kau semalaman dengannya di kamar, tidur dengannya?!”

“Bukan seperti yang kau bayangkan!” seru Taeyeon, wajahnya memerah. “Kami tidak melakukan apa-apa. Bahkan jarak kami tidak terlalu dekat,”

“Tidak mungkin,” ujar YoonA pelan. “Luhan adalah laki-laki dengan nafsu tinggi. Mana mungkin dia bisa jauh darimu?”

“Karena dia tidur duluan,” jawab Taeyeon cepat. “Aku… mengantarkan makanannya dan tahu-tahu ketiduran di tempat tidurnya,”

“Aigoo, Kim Taeyeon. Aku tidak tahu apa jadinya kalau Luhan terbangun di tengah malam. Laki-laki bisa jadi serigala buas di tengah malam apabila ia melihat daging empuk di depannya. Kalau kau tidak berhati-hati lain kali, aku akan membunuhmu sebelum kau melahirkan anakmu!”

“Apa yang kau katakan?! Itu tidak seperti yang kau pikirkan. Yoong, mana mungkin aku melakukannya? Aku akan berfikir ribuan kali, apa kau tahu? Bahkan ibuku juga akan kupikirkan,”

“Bisa saja terjadi. Kau sedang dimabuk cinta. Orang yang mabuk itu kehilangan akal sehatnya,” kata YoonA.

“Kau yang kehilangan akal sehatmu,” kata Taeyeon sambil memukul dahi YoonA.

“Aiisshh,” gumam YoonA sambil mengusap-usap dahinya. “Oh, ya. Kapan ahjumma pulang?”

Taeyeon menatap YoonA dan ia mengambil ponselnya. Alas an YoonA menyuruh Taeyeon cepat kembali ke asrama adalah ibunya yang menghubungi YoonA dan menyuruhnya untuk menghubungi Taeyeon. Karena saat ibunya menelepon Taeyeon, Taeyeon tidak mengangkatnya. Itu dikarenakan dirinya yang masih tertidur lelap di pelukan Luhan. Ibunya memberitahu kalau dia akan ke Korea besok, untuk menjumpai anak satu-satunya.

“Mungkin dia akan sampai ke sini jam sepuluh. Kami berdua akan memperingati hari kematian ayahku. Sehabis pulang sekolah, aku akan langsung kesana,” jawab Taeyeon.

“Bagaimana dengan persiapannya? Bunga? Sampanye?” tanya YoonA lagi.

“Ibu akan menyiapkannya,” jawab Taeyeon. “Kemungkinan besok aku akan naik bus. Jadi, aku akan sedikit terlambat kembali ke asrama,”

“Kau tidak minta Luhan menemanimu?”

“Bagaimana mungkin? Tidak perlu. Aku hanya ingin pergi berdua dengan ibuku. Aku juga tidak ingin merepotkannya. Dia, ‘kan baru pulang ke rumah,” tolak Taeyeon. Namun, yang dicemaskan Taeyeon saat ini adalah kondisi Luhan.

~~~

Tuan Xi menyerahkan sebuah buku tebal berwarna merah manyala kepada Luhan. Luhan menatap buku itu dan ayahnya secara bergantian. Ayahnya menyuruh Luhan untuk membuka buku itu dengan isyarat matanya. Luhan menganggukkan kepalanya dan ia mengambil serta membuka buku itu.

Setelah dibuka, ternyata isinya mengenai sebuah sekolah kewirausahaan dan manajemen yang sangat terpopuler di China. Sejarahnya, latar belakang, serta isinya di jelaskan di dalam buku itu. Lengkap sekali.

“Jadi?” tanya Luhan setelah ia membaca judul buku itu dan membolak-balik halamannya.

“Kenapa kau tidak mengerti juga? Lu, ayah akan mengirimkanmu kembali ke China untuk bersekolah di sana. Sekolah kewirausahaan dan manajemen sekolah itu bagus sekali. Bukankah dari dulu kau ingin ke sana sebelum pindah ke Seoul? Aku sudah mendaftarkan namamu sebelum aku pulang ke sini. Sekolah itu juga memiliki asrama. Aku sudah mengurus semuanya, kau tinggal pindah dan hidup tenang di sana,” jelas tuan Xi.

“Hidup tenang? Pa! Kenapa kau tidak meminta izinku dulu? Apa maksud ayah? Hidup tenang? Aku sudah cukup tenang disini tanpa harus pindah ke China, pa. Aku tidak akan pernah bisa hidup tenang disana karena akan dibayang-bayangi sosok ibu. Aku tidak akan pernah focus belajar, karena yang akan kulakukan setiap hari adalah pergi ke pusara putih ibu. Jadi tolong jangan lakukan ini, pa,” tolak Luhan.

“Lu, peraturan disana sangat ketat, kau tidak akan bisa kemana-mana. Dan, aku justru memang ingin kau dibayang-bayangi oleh ibu kandungmu. Agar dia bisa menjagamu,”

“Ibu menjagaku walaupun ia sudah meninggal, ayah. Tolong jangan kekanak-kanakkan. Apa alasan sebenarnya ayah menyuruhku pindah?” tanya Luhan.

Tuan Xi perlahan mendekati Luhan. Ketika ia sudah berdiri dekat dengan Luhan, tangan kanannya ia lingkarkan di leher Luhan dan menariknya ke dalam dekapannya. Ini pertama kalinya Luhan dipeluk oleh ayahnya semenjak ayahnya sudah menikah lagi. Dan rasanya sangat hangat. Luhan memang selalu suka dipeluk oleh ayahnya.

“Anakku,” panggil tuan Xi pelan. Ia menepuk-nepuk punggung belakang Luhan dengan sayang. “Aku hanya ingin menghapus kesedihanmu di sana. Kalau kau kembali ke China, ibu barumu akan merasa kehilangan dirimu. Aku akan menyadarkan dirinya dengan cara seperti ini. Dia hanya butuh pencerahan dan aku akan melakukannya untukmu, selama kau ada di sana. Empat tahun saja. Dan setelah itu, perusahaan di China akan kuserahkan kepadamu,”

“Pa, aku tidak ingin pergi dari Seoul,” mohon Luhan. “Sudah kukatakan aku akan memperjuangkan hati ibu dengan tanganku sendiri. Aku tidak bisa,”

“Dan apakah aku bisa melihatmu terus menderita selama kau memperjuangkannya? Aku sangat mengerti Kim Ma Ri. Hanya dengan itu aku bisa membuatnya menganggapmu anaknya. Kumohon percayalah kepada ayahmu. Ayahmu ini sudah sangat merasa berdosa kepada ibumu sejak aku memutuskan menikah lagi. Lu, disini kau hanya akan merasa semakin sakit. Hanya empat tahun. Ayah akan menebus semua kesalahan ayah,”

Luhan terdiam. Ia tidak bisa menjawab permohonan ayahnya sekarang. Difikirannya sekarang sedang terisi penuh dengan teman-temannya yang selalu ada di sampingnya ketika ia membutuhkan mereka. Teman-temannya yang selalu membuatnya tersenyum ketika ia merasa kosong. Walaupun mereka tidak tahu permasalahan dirinya dengan ibunya, Luhan merasa mereka berusaha membuatnya tertawa.

Dan Kim Taeyeon. Bisakah ia meninggalkan gadis itu dan menyerahkannya kepada Jaejoong? Bukankah memang seperti itu rencana mereka semula? Kenapa ia malah tidak bisa merelakannya? Taeyeon dan Jaejoong, jika ia pergi maka keduanya bisa bersatu. Luhan tersenyum pahit. Ia tidak ikhlas. Benar-benar tidak ikhlas.

~~~

“Hyung! Aigoo, kemana saja kau? Berpisah sehari denganmu seperti setahun, satu jam seperti satu bulan, dan satu menit seperti satu jam. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk mengatasi rasa rindu yang semakin menggila ini, hyung!”

“Aissh, stop Chanyeol! Kalau kau ingin mengatakan hal seperti itu, cukup main drama saja. Jangan membuatku hilang selera hidup,” ujar Luhan kepada sahabatnya, Chanyeol, lewat telepon.

Luhan dapat mendengar suara banyak orang di belakang Chanyeol. Ia yakin Sehun, Jongin, dan Minseok sedang bergumul di kamar Chanyeol.

Chanyeol tertawa. “Anggap saja Taeyeon yang mengatakannya kepadamu,”

Luhan diam dan hanya tersenyum. “Aku ingin bertemu. Lapangan basket biasa, mau? Bukan di sekolah, lapangan biasa di depan rumah tingkat tiga itu. Otte?”

“Hyung mengajak bertemu,”

Luhan bisa mendengar Chanyeol mengumumkan keinginannya.

“Hyung, besok kita bisa bertemu di sekolah, ‘kan? Jongin tidak mau meninggalkan game-nya. Apa penting sekali?”

“Sangat penting,” sambar Luhan cepat. “Ada yang ingin kukatakan,”

Setelah menyetujui pertemuan mereka berlima di sebuah lapangan basket, Luhan segera turun dari kamarnya sambil membawa kunci mobil. Di ruang keluarga, ia bertemu dengan Jaejoong.

“Kau mau pergi?” tanya Jaejoong.

“Ne, hyung. Ada apa?” Luhan balik tanya.

“Mau bertemu dengan Taeyeon, ‘kan? Dia sedikit khawatir kepadamu katanya dan memintamu untuk segera menghubunginya. Kurasa kau sudah… menghubunginya,”

“Aku… belum menghubunginya. Aku ingin main basket dulu dengan Chanyeol dan yang lainnya, setelah itu aku akan bertemu dengan Taeyeon,” jawab Luhan. Ia sedikit membungkukkan badannya dan pergi.

Jaejoong tersenyum sedih melihat kepergian Luhan. “Kau terlalu formal bicara denganku. Apa kau belum menganggapku kakakmu karena ibu?”

~~~

“Ya! Minseok-ah, bawa kemari!” seru Luhan. Di sisi kiri dan kanannya diapit dua orang lawan yang berbadan lebih besar darinya. Namun, seorang Xi Luhan tidak akan pernah takut untuk mengambil bola dari mereka. Ia juga tidak akan gentar kalau menerima bola jika mereka mengapitnya seperti ini.

Minseok, yang juga tengah dihadang oleh Sehun dan Jongin, langsung melemparkan bola basket itu kearah Luhan. Luhan melompat tinggi dan ia berhasil menangkapnya. Ia melemparkan senyum kemenangan kepada dua orang lawannya. Sambil berlari, Luhan men-dribble­ bola itu hingga ke ring dan bermaksud memasukkannya. Angin sepoi-sepoi membelai wajah dan rambutnya, hingga ia kelihatan keren.

“Wooww, Luhan-ssi begitu keren! Manly!” seru Minseok, yang meniru beberapa orang perempuan yang sedang melihat permainan basket mereka. Mereka terpesona pada permainan Luhan yang hebat. Ia juga kelihatan keren dan manly.

Luhan hanya memberikan senyuman simpul kepada Minseok yang menggodanya. Setelah itu, ia melompat dan melemparkan bola basketnya ke dalam ring. Masuk, tentu saja. Tim Luhan bersorak-sorai, unggul 6 angka dari tim lawan.

“Luhan hyung mendominasi. Kenapa kau tidak pura-pura kalah saja?” ujar Sehun saat permainan selesai dan mereka berlima berkumpul di sudut lapangan. Pemain yang lain melanjutkan permainan mereka yang sebelumnya diganggu oleh Luhan dan teman-temannya.

“Biarkan saja. Dia sedang banyak fikiran,” kata Minseok. Ia meminum sebotol air mineral dan langsung menghabiskannya dalam sekali teguk.

“Aahh, benar. Luhan hyung kalau sedang stress akan menghabiskan waktunya dengan bertanding sepakbola atau apapun itu,” sambung Jongin.

“Kalau begitu kenapa tidak kencan dengan Taeyeon saja?” tanya Sehun.

Luhan tersenyum dan tidak menjawabnya. Ia malah sibuk memainkan botol mineralnya yang sudah kosong.

“Ahh, bertengkar, ya? Itu wajar. Setiap pasangan pasti punya masalah. Dan sebagai seorang laki-laki, seharusnya kau mencoba untuk bicara baik-baik,” kata Minseok.

“Tapi kenapa bisa bertengkar? Bukannya Luhan hyung sangat mencintai Taeyeon?” tanya Chanyeol. Sehun dan Jongin mengerling ke arah Luhan sambil tersenyum kecil.

“Seperti yang kukatakan kepada Chanyeol di telepon tadi, ada yang ingin kusampaikan kepada kalian, semacam sebuah kejujuran,” kata Luhan.

“Kejujuran?” tanya mereka berempat serempak.

“Apa itu, hyung?”

Luhan menatap mereka secara bergantian dengan wajah serius. Tidak ada kata main-main di dalam matanya. Ia sudah membulatkan niatnya untuk membongkar semua rahasianya mengenai hubungan pura-puranya dengan Taeyeon, dan tentang kepergiannya ke China. Ini saatnya untuk berpamitan dan menyempurnakan rencananya. Ia akan melakukan satu hal terakhir untuk Taeyeon, satu hal terakhir sebagai ucapan perpisahan untuk orang yang dicintainya, walaupun itu akan menyakitinya. Dan itu artinya, ia akan menyerahkan Taeyeon untuk Jaejoong.

“Apa-apaan? Kenapa serius sekali? Hyung, kau mencoba bercanda, ‘kan?” tanya Chanyeol.

Minseok menyikut lengan Chanyeol dan menyuruhnya untuk diam.

“Ada dua berita yang akan kusampaikan. Yang pertama tentang aku, dan yang kedua tentang aku dan Taeyeon. Yang mana lebih dulu yang ingin kalian dengar?” Luhan balik tanya.

Mereka berempat bertukar pandangan. Karena Minseok yang lebih dewasa dari Chanyeol, Jongin, dan Sehun, maka keputusannya akan diikuti oleh mereka bertiga.

“Tentangmu,” jawab Minseok.

Luhan menganggukkan kepalanya. Ia memandang jauh ke depan, seperti berfikir. “Kalau ada seseorang yang bertanya padaku apa arti dari saudara itu, aku akan bilang padanya, saudara itu adalah kalian berempat, kita berlima. Semenjak aku pindah ke Seoul, yang pertama kali kukenal adalah kalian, yang pertama kali mengenalkan aku apa arti dari kebersamaan adalah kalian. Meskipun kita berlima punya banyak  teman, tapi tempatku berbagi tawa, kesedihan, dan segala kegilaan itu bersama dengan kalian berempat. Dan walaupun aku ingin terus bersama kalian, di setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Tapi bagaimanapun kita berpisah, aku ingin yang terakhir kali kulihat di dunia adalah kalian. Karena sebagian dari diriku ada di kalian,”

“Ya, ya hyung. Kau bilang padaku untuk tidak pernah menggunakan kalimat romantis. Tapi kenapa sekarang kau berkata seperti itu? Kau ingin jadi actor, ya?” tanya Chanyeol. Ia tertawa dengan terpaksa.

“Wae? Kau ingin kembali ke China?” tanya Minseok pelan.

“Jangan bercanda, hyung. Luhan hyung pasti masih akan bersekolah disini, ‘kan?” tanya Sehun. “Maksud dari Luhan hyung adalah kita akan berpisah sewaktu masuk ke universitas. Tidak apa-apa, hyung. Kita masih bisa bertemu, kok,”

“Yang dikatakan Minseok-ah benar. Aku akan kembali ke China dan mengurusi perusahaan ayahku disana. Bersekolah selama empat tahun dan menjadi Presdir termuda. Ayahku ingin aku bahagia dan sukses di sana,” kata Luhan.

“Apa kau tidak bahagia disini, hyung?” tanya Chanyeol.

“Bagaimana aku tidak bahagia di sini? Di sini kalian ada bersamaku sebagai saudara, teman, dan sahabat. Sedangkan di China? Aku memang punya banyak teman, tapi tidak ada yang sehangat dan setulus kalian. Tapi ayahku berfikir lain. Dia merasa aku tertekan hidup di negara orang lain dan menyuruhku kembali. Setiap ayah pasti begitu. Dia ingin aku sukses, dan dia berfikir mungkin kesuksesan itu yang akan membuatku bahagia,” jawab Luhan.

“Kau merasa tertekan karena keluarga barumu? Karena ibu Jaejoong hyung?” tanya Minseok.

Luhan diam. Ia menatap Minseok. “Kau… kenapa kau bisa berkata begitu?”

“Kau bilang kami ini saudaramu. Karena kami ini saudaramu, kami tentu tahu masalah apa yang mengganjal di hatimu. Karena tidak ingin menyusahkan kami, kau menutupi semuanya dan memendam segalanya. Kami sudah tahu ini sejak lama dan kami hanya diam. Kami juga tahu masalah ini pasti akan mencapai klimaksnya. Yang kami tidak tahu, klimaksnya adalah kau pindah ke China,” ujar Minseok.

“Apa hyung benar-benar menganggap kami saudara? Kenapa menyembunyikannya? Kalaupun tidak ingin kami susah, setidaknya kau bisa menumpahkan segalanya pada kami,” ujar Chanyeol.

“Kami tahu karena kau memilih tinggal di asrama sedangkan keluargamu ada di sini. Kau bilang ayahmu menikah lagi dan Jaejoong hyung adalah kakak tirimu. Kau dan Jaejoong hyung, walaupun sudah bersaudara, tapi kalian berdua masih terlihat canggung. Jaejoong hyung adalah orang yang baik hati sekali, jadi mana mungkin dia yang menyebabkanmu pindah. Satu-satunya adalah ibumu. Itu sebabnya kami menyimpulkan kau memiliki masalah dengan ibumu,” jelas Minseok.

“Karena kalian sudah tahu alasannya, jadi aku tidak perlu menjelaskannya lagi,” kata Luhan. “Lagipula, saat aku sudah menjadi Presdir, aku akan menjumpai kalian satu-satu. Aku masih bisa ke Seoul,”

“Menyebalkan,” gumam Jongin pelan. Luhan menatap Jongin dengan pandangan menyesal dan minta maaf.

“Apa tidak ada cara lain?” tanya Sehun. “Hyung, apa kau tidak bisa meluluhkan hati ibumu sama seperti kau meluluhkan hati Taeyeon? Mereka berdua sama-sama punya hati yang keras, dan seharusnya kau bisa meluluhkan hati ibumu juga,”

“Benar, bagaimana dengan Taeyeon?” tanya Chanyeol.

“Sampai sekarang aku bahkan belum bisa meluluhkan hati Taeyeon,” jawab Luhan.

“Apa maksudmu?” tanya Minseok.

Luhan menghela nafas pendek. “Ini saatnya aku jujur pada kalian. Waktu itu, aku berjanji akan memberitahu sesuatu pada kalian mengenai hubunganku dengan Taeyeon, ‘kan? Kalian tidak pernah menduga aku bisa bertahan berhubungan dengan seseorang sampai sebulan lebih, apalagi dengan perempuan dingin seperti Taeyeon. Maaf, tapi semua itu hanya pura-pura. Aku dan Taeyeon tidak pernah benar-benar pacaran. Kami pura-pura,”

“Aku sama sekali tidak mengerti, hyung. Kenapa pura-pura? Apa alasan kalian berdua?” tanya Chanyeol.

“Dia sebenarnya sangat menyukai Jaejoong hyung. Karena Jaejoong hyung menyelamatkan sepatunya saat hari pertama dia masuk sekolah. Dia langsung menyukai Jaejoong hyung yang dingin dan berhati lembut. Aku kesal waktu itu. Aku bisa meluluhkan hati perempuan dengan sekali gerakan, tapi kenapa dia tidak bisa? Aku ingin membuat hatinya tunduk padaku dengan alasan aku akan mendekatkan dirinya dengan Jaejoong hyung, karena aku adiknya.

“Aku bilang akan membantunya. Dia tidak mau karena dia tidak ingin jadi pacar pura-puraku. Aku membujuknya dengan terus mengiming-imingi Jaejoong hyung dan akhirnya dia mau. Semua itu kulakukan karena aku ingin menundukkan hatinya. Tapi sampai sekarang, pun aku tidak mampu. Dia tetap menyukai hyung-ku. Percuma aku melakukan ini, tapi dia dan Jaejoong hyung semakin dekat. Itu artinya rencananya akan berhasil.

“Dan saat aku kembali ke China, aku akan minta Jaejoong hyung untuk menjaga Taeyeon dan mengatakan kepadanya kalau aku tidak mencintainya, dan dia pantas mendampingi Taeyeon. Ibu baruku juga suka dengan Taeyeon. Jadi, semua rencananya akan berjalan dengan mulus. Aku minta maaf karena sudah membohongi kalian. Membohongi semuanya. Dan karena aku sudah mengatakannya, aku merasa agak tenang. Setidaknya tidak ada lagi yang membuatku cemas ketika aku berada di China,”

“Jadi begitu. Kau melakukan itu untuk menundukkan hati Taeyeon. Dan sekarang, malah hatimu yang tertunduk, ‘kan?” tanya Minseok.

“Ne? Apa maksudmu?”

“Jangan pura-pura lagi kali ini, hyung. Kau bilang tidak ingin menyembunyikan apapun lagi. Sekarang? Kau menyembunyikan perasaanmu dari kami. Kau ingin membuat kami marah besar?” tanya Jongin. “Kau termakan umpanmu sendiri, hyung. Kau ingin Taeyeon suka padamu dengan alasan Jaejoong hyung, tapi seiring bersama dengan Taeyeon, kau yang jatuh cinta padanya. Hatimu yang justru ditundukkan oleh Taeyeon. Apa kau ingin menyangkalnya lagi? Dari tatapanmu, dari perubahan sikapmu, dari caramu menjaga Taeyeon. Semua kau lakukan itu bukan karena kau ingin menaklukkan hatinya, tapi karena kau sudah menemukan seseorang yang kau cari,”

Luhan tertawa. “Aku tidak tahu ternyata selama ini kalian memata-matai aku. Jinjja,” ujar Luhan sambil menjitak kepala Jongin dengan pelan.

“Aiish, hyung,” sergah Jongin. Ia sangat sedih dan sedikit kesal dengan keputusan Luhan untuk kembali ke China.

“Ne, buat apa aku bohong lagi, ‘kan? Aku memang menyukainya tanpa aku sadari saat kami semakin dekat. Entahlah. Dia selalu ketus, menyebalkan, dan selalu memaksaku belajar, membuatku lupa akan tabiatku untuk mempermainkan perasaan orang. Karena aku juga, banyak siswi yang tidak senang dengannya, dan menjadi tugasku untuk menjaganya. Saat aku menjaganyalah, aku merasa benar-benar menjaga seseorang yang kucintai. Aku senang menjaganya, aku merasa wajib menjaganya. Karena itu aku tidak pernah membiarkannya sendiri.

“Walaupun ketus dan menyebalkan, dia perhatian. Sangat perhatian. Aku belum pernah dapat perhatian yang tulus seperti itu dari perempuan manapun termasuk ibu baruku. Seseorang yang seperti aku, tidak pernah mendapatkan kasih sayang. Dan begitu ia memberikannya, aku jadi tidak ingin menyerahkannya kepada Jaejoong hyung dan berniat membatalkan semuanya. Awalnya aku berniat menjadikan dia milikku, tapi dia masih menyukai hyung-ku. Dan sepertinya dia berjodoh dengan hyung-ku. Mereka berdua semakin dekat dan sekarang aku akan kembali ke China. Di China nanti, aku akan mendapatkan sosok yang lebih dari Taeyeon, jadi tak perlu khawatir,” ungkap Luhan.

“Hyung, kalau aku jadi kau, dari awal aku tidak akan pernah mau mencobanya. Jika ujung-ujungnya kau yang jatuh cinta dank au yang harus merelakannya,” kata Sehun.

“Dan alasan aku bertahan selama ini adalah aku ingin memenangkan hatinya, tapi tidak bisa juga. Bisakah kalian membantuku saat aku kembali ke China? Melakukan sesuatu untukku yang akan berguna untuk Taeyeon. Aku ingin kalian menyatukan mereka berdua. Kalian adalah hoobae yang paling dekat dengan Jaejoong hyung, jadi pasti mudah menyatukan Taeyeon dan Jaejoong hyung. Karena kalau aku yang melakukannya, mungkin aku tidak akan bisa,” ujar Luhan.

“Hyung benar-benar sudah memutuskan untuk kembali, ya? Dan menyerah pada semuanya?” tanya Jongin pelan.

Luhan menatap Jongin. Ia tersenyum kecil dan merangkul tubuh Jongin. “Ya, aku janji. Orang pertama yang akan aku jumpai adalah dirimu, eoh? Pegang janjiku. Tolong jangan membuatku semakin tidak bisa meninggalkan Seoul,”

~~~

“Apa aku membuatmu menunggu lama?” tanya Taeyeon pada Luhan sesampainya ia di taman Namsan dengan nafas terengah-engah.

Sepulang dari lapangan basket, Luhan langsung meminta Taeyeon untuk datang menemuinya di taman Namsan. Luhan ingin menjemput Taeyeon di asrama karena saat Luhan menelepon, sudah pukul tujuh malam. Tapi Taeyeon menolaknya dengan alasan ingin menghirup udara segar. Ia meminta Luhan untuk menunggunya. Dan Luhan sudah menunggu Taeyeon lebih dari setengah jam. Ia hanya duduk di bangku taman di depan air mancur besar.

Begitu Taeyeon sampai dengan wajah merah, nafas terengah-engah, Luhan langsung berdiri dari bangku taman. Ia diam dan tidak menjawab pertanyaan Taeyeon. Ia mencemaskan keadaan Taeyeon yang sepertinya kelelahan dan kedingan habis berlari dari halte bus ke taman agar Luhan tidak lebih lama lagi menunggu.

“Bus dari sekolah datang agak lama dari yang kuperkirakan. Aku ingin menghubungimu agar kau tidak lama menunggu, tapi ibuku menelepon dan… aku tidak tahu apa yang harus kulakukan karena membuatmu menunggu lama. Aku hanya berharap kau punya sesuatu yang dikerjakan agar kau tidak jenuh menungguku,” ujar Taeyeon lagi.

Luhan tidak berkata apa-apa. Dia hanya menghela nafas pelan dan memandangi Taeyeon.

“Kau marah padaku?” tanya Taeyeon. “Luhan-ah mianhae,”

Luhan mengambil syal ungu yang ada di lehernya dan mengalungkannya dengan lembut di leher Taeyeon. Taeyeon hanya bingung menatap Luhan. Ia tidak berkata apa-apa tapi malah memberikan kehangatan di leher Taeyeon.

“Bagaimana kau bisa datang kesini tanpa mengenakan sesuatu yang bisa menghangatkanmu?” tanya Luhan.

“Kau tidak marah?”

“Buat apa aku marah? Kau membuatku cemas. Datang ke sini dengan wajah merah begitu. Kalau kau pingsan di tengah jalan, siapa yang bisa bertanggung jawab? Apa yang akan aku katakan kepada ibumu?” Luhan balik tanya.

Taeyeon tersenyum lemah. “Gomapta,”

“Seharusnya aku yang merasa bersalah. Kau sudah mencemaskanku dari pagi, tapi aku tidak memberi kabar apa-apa kepadamu. Mianhae, aku hanya bingung,” ujar Luhan.

“Apa ada sesuatu yang terjadi?” tanya Taeyeon.

“Tidak ada. Ayahku pulang dengan selamat, itu saja,” jawab Luhan. Ia tersenyum sangat lebar.

“Kenapa kau berbohong lagi? Kau ingin buat aku mati saking cemasnya?”

“Jangan begitu lagi,” kata Luhan cepat. “Jangan mencemaskan aku lagi. Apapun yang terjadi padaku, tolong jangan cemas. Kau tidak bisa terus-terusan memikirkanku. Kau dan Jaejoong hyung sudah semakin dekat, kau harus lebih giat lagi agar membuatnya menoleh ke arahmu. Tenang saja, aku akan berusaha juga. Tinggal sedikit lagi,”

“Apakah sekarang waktunya membicarakan hal semacam itu?” tanya Taeyeon kesal. “Berhentilah bicara mengenai itu,”

“Wae? Sudah kubilang aku tidak apa-apa, Kim Taeyeon. Jangan buang-buang waktumu hanya karena aku, kau tahu? Ibuku menyukaimu dengan Jaejoong hyung, dan ini waktunya…”

“Geumanhae,” potong Taeyeon cepat. “Geumanhaja,”

“Arra,” jawab Luhan. Ia menatap Taeyeon dalam-dalam dengan perasaan terluka. “Mari kita hentikan semua ini. Kau dan aku, mari kita hentikan semua kebohongan ini. Sudah saatnya kau berjuang sendiri mendapatkan Jaejoong hyung. Aku sudah selesai dengan tugasku. Aku akan katakan pada Jaejoong hyung kita putus karena aku hanya mempermainkanmu. Jaejoong hyung tidak akan memaafkanku dan ia akan datang padamu, dan semuanya akan berjalan dengan sempurna. Dengan ini, semuanya berakhir,”

Taeyeon menatap Luhan dengan wajah shock, seperti habis ditampar oleh ibu sendiri. “Apakah ini yang ingin kau katakan padaku? Apakah ini yang akan kau sampaikan?”

“Kim Taeyeon, mau sampai kapan kita berpura-pura? Semua perempuan jadi tidak mendekatiku lagi karena dirimu. Bagaimana aku bisa dapat pacar kalau begitu? Tinggal selangkah lagi, dan lakukan itu sendiri, arraseo? Kau juga sama sekali tidak suka aku menjadi pacar pura-puramu, ‘kan?”

“Kalau begitu, kalau kau bilang kau mempermainkanku, ibumu akan terus membencimu. Dia tidak akan pernah mau membuka hatinya untukmu,” ujar Taeyeon. Matanya berair. Ia tampak ingin menangis, tapi sekuat tenaga ditahannya.

“Aku akan kembali ke China setelah aku selesai mengurus kepindahanku besok. Kalau besok selesai, lusa aku akan kembali. Kalau ibuku membenciku, tidak apa-apa, aku akan tenang di China. Lagipula, justru dia akan sangat menyayangiku, memberikanmu pada Jaejoong hyung,” jawab Luhan dengan wajah tidak berdosa.

“Kembali ke China?” tanya Taeyeon. Hatinya hancur sudah. Entah berapa keping yang Luhan hancurkan malam ini.

“Belajar di sana dan mengurus perusahaan ayahku. Ketika aku kembali ke Seoul, mungkin kau dan Jaejoong hyung sudah hidup berbahagia. Itu sebabnya, semua berjalan sempurna, ‘kan? Hidupmu juga pasti bahagia karena aku tidak lagi mengganggu hari-harimu,” jawab Luhan sambil tertawa.

Taeyeon diam. Ia tidak sanggup untuk mengeluarkan kata-kata. Baru saja, baru saja ia ingin menyatakan semuanya pada Luhan dengan jujur. Baru saja ia ingin Luhan selalu ada di sisinya. Tapi semua itu dihancurkan sendiri oleh Luhan. Ia tidak mencintai Taeyeon. Yang ia lakukan hanyalah berusaha mendekatkan dia dengan Jaejoong. Percuma. Percuma ia relakan perasaannya pergi dari Jaejoong karena ia fikir, ia akan selamanya mencintai Luhan. Ia akan bahagia bersama dengan Luhan.

Semuanya hancur. Air matanya mengalir tanpa ia sadari. Dari awal dia mencintai Luhan, ia sadar ia menyesal menerima tawaran untuk menjadi pacar pura-puranya. Hatinya begitu sakit. Ia mencintai Luhan. Luhan tidak, dan dia akan pergi dari Seoul, bahagia bersama dengan yang lain. Luhanlah sosok pertama yang membuat Taeyeon merasakan indahnya jatuh cinta. Dan dia tidak akan mungkin bisa dengan mudah melupakan semuanya, melupakan semua kenangan mereka, yang menjadi kenangan pertama dalam hidup Taeyeon, dan Taeyeon berharap, bisa menjadi yang terakhir untuknya.

“Kenapa kau menangis? Kau tidak rela berpisah denganku?” tanya Luhan sedikit bercanda.

Taeyeon-ah, kumohon. Katakan “jangan terlalu percaya diri! Aku senang karena aku akan bebas darimu dan akhirnya bisa bahagia bersama Jaejoong sunbae,” kumohon katakan itu dan pergilah, gumam Luhan dalam hati.

“Keurae,” jawab Taeyeon. “Akan kita akhiri. Terima kasih atas semua bantuanmu selama ini. Kau sudah berusaha, terima kasih. Aku pergi,”

Taeyeon hendak balik badan, pergi. Luhan ingin menahannya tapi tubuhnya mendadak membeku. Ia ingin memeluk Taeyeon, untuk yang terakhir kalinya. Mencium aroma tubuhnya dan mengucapkan selamat tinggal serta terima kasih, terima kasih karena sudah merubahnya menjadi seseorang yang bermakna.

Sebelum Taeyeon melangkahkan kakinya, ponsel di dalam saku jaketnya berdering kencang. Taeyeon mengambilnya dan langsung menjawabnya.

“Eomma,” sapa Taeyeon dengan suara parau. Luhan ikut mendengarkan.

“Omo, apa kau menangis? Suaramu berdengung,”

“Aniya, aku terkena pilek,” jawab Taeyeon. “Wae geurae?”

“Taeyeon-ah, apakah kau bisa mengajak salah satu temanmu yang punya kendaraan untuk kita tumpangi ke makam ayahmu? Kaki ibu mendadak sakit. Perlengkapan untuk ke makam ayahmu juga bisa terbilang banyak. Sehabis turun dari pesawat besok, ibu tidak yakin bisa berjalan dengan baik,”

“Aku tidak tahu siapa yang punya kendaraan untuk besok, bu. Aku akan mencoba membantumu besok. Kita naik taksi juga sudah cukup membantu,” ujar Taeyeon. “Ne, arraseo. Jaljayo,”

Taeyeon mematikan ponselnya dan melangkahkan kakinya untuk pergi. Namun, Luhan memanggilnya.

“Ne?” tanya Taeyeon.

“Aku akan menyuruh Jaejoong hyung untuk menemanimu besok, kemanapun kau pergi,” kata Luhan.

“Gomawo, tapi itu tidak perlu. Kita sudah mengakhirinya, ‘kan? Kau tidak perlu lagi membantuku,” jawab Taeyeon dan ia segera pergi dari hadapan Luhan.

Luhan tersenyum sambil menghela nafas panjang. Ia terduduk kembali di bangku taman sambil mengingat perbincangannya dengan Taeyeon.

“Kenapa aku masih mengharapkannya untuk melarangku pergi?” tanya Luhan, ia tersenyum kecut. “Aku bahkan tidak mengucapkan selamat tinggal baik-baik,”

Di sisi lain, Taeyeon yang sedang menunggu bus di halte terdekat, tidak bisa lagi membendung kesedihannya. Ia menangis terisak-isak, tak peduli orang lain menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya. Yang ia perlukan saat ini adalah membuang semua air matanya jika ia bisa.

“Bukan itu yang ingin kuucapkan padanya. Aku bahkan tidak mengucapkan selamat jalan kepadanya,” isak Taeyeon.

Syal ungu, warna kesukaan Taeyeon, pemberian Luhan itu basah terkena air mata Taeyeon yang tak kunjung berhenti.

-To Be Continued-

Author Note : hehehe lagi-lagi update FF aneh -_- di chapter ini suasananya galau *?* soalnya hati author juga galau #curhatdadakan. Kalaupun lebay, maafkan author yang memang punya jiwa lebay LOL. Kemungkinan satu atau dua chapter lagi FF ini akan berakhir *letusinkembangapi*. Mungkin aja ada readers yang bosen, jadi bakalan aku akhiri segera *evillaugh*. Dan endingnya aku juga ngga tau bakal happy atau sad atau malah ngga jelas *timpukinduit* yang jelas, bakalan sesuai dengan mood author-nya ajadehhh. Oke, itu aja seeya *chu*

Preview (Chapter 9)

“Gadis kupu-kupu itu… jinjjayo?”

 

“Aku datang ke sini karena mencemaskanmu. Kurasa kau sudah dengar tentang Luhan. Apa kau tidak bisa menghentikannya?”

 

“Apakah ini benar-benar fotomu? Jeongmalyo?!”

 

“Brengsek, aku mencintainya. Kenapa aku begitu bodoh bisa mencintainya?! Aku tidak mungkin bisa melupakannya,” tangisannya membuat hati mereka tersayat.

 

Saat ini, Jaejoong merasa ia tidak bisa pergi meninggalkan Taeyeon sendirian. Ia akan selalu ada di sisi Taeyeon, menghapus setiap air yang mengalir dari matanya yang indah.

“Hyung, kau akan menjaganya, ‘kan?”

“Aku akan menjaganya,”

Preview end ~

Advertisements

136 comments on “Ma Boy~ (Chapter 8)

  1. Lanjutannya kpn?? Udah gak sbar nihh lanjut bacanya
    Di chapter ini sedih banget sampe2 ikut nangis*lebay. Plisss cpet lanjut….

  2. baca ini sambil dengerin lagunya Krystal All of a sudden sumpah nyesek bingit n’ sukses bikin gw nangis.. cepetan update ya thor uda oktober nih kekeke

  3. Thorr tau gakk, mau nangis nihh bacanya..
    Lagi ngapain sih tuh si bapanya luhan nyuruh ke china segala
    PHO/? bgt dah tuh bapak tua -_-

  4. Hua!! Author jahat π_π
    Tanggung jwab udh bkin aku nyesek x3 awalnya,aku emg mau taeng ama si joong. Tp, knp skarang mlh sma lulu?? Thor, akhirnya gmna? Jgn lma² yap!

  5. Thor kpn lanjutnya sih?? Jgn blg gantung… :”( thor harus tanggung jwab soalnya aku udh trlnjur jtuh cinta ama LuTae. Pliss thorrr di lanjutinnn :”'((((

  6. wahh ff mu keren thor..
    agak sedih juga sih bacanya..
    next chap secepatnya ya thor..
    biar cepet end dan harus happy ending..
    jangan lupa ff my flower boss juga HARUS DILANJUT ya thor..
    fighting:):):)

  7. Maaf Ya, Aku baru Comment. Pdhal Aku slalu membaca FF Nya Author… Bkan.a ngga mau comment tp stiap baca FF x Lngsung ketiduran. Maaf ya, tp aku readers yg setia tp ngga Comment… Aki Janji kali ini aku akn slalu Comment kok …

  8. Makin greget aahhhhhhh ><
    itu … itu… Luge masih nyangka Taeng eonni suka Jae oppa ???
    -____________________________-

    elahhhhhh….
    Luge ga boleh ke China plisss
    ini grgr Sang Ibu Tiri !!!!!!!!!!
    /demo di rumah Luge/

  9. sedih liat luhan di perlakukan seperti itu sma ibu tirinya. luhan mw pndh k cina???? whats???? knapa gak tggal d asrama aja, dsna luhan lbih bhagia bersama taeng d bnding kn d rumah nya sendiri…..
    pada akhir nya lulu jujur sma sahabat ny, tggal taeng lagi yg jujur ma yoona,,,
    ayo taeng cegat luhan, jgn smpe dia k pergi meninggalkan mu…

  10. Andwe, Luhan-ah… ㅠㅠ
    Pinter banget ya author, udah enak2nya nangis sambil tiduran, eh ketemu sama kalimat to be continued. Asem.
    Hiks, semoga chapter selanjutnya gak mengecewakan. Author gak pernah buat aku kecewa, jdi jgn buat aku kecewa thor!
    Fighting!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s