Mystery – Chapter 1

mystery-ff-cover

 

Title : Mystery – Chapter 1

Author : Oh Eun Hye (Sparkpiglets3)

Rated : T+ (PG-17)

Genre : Mystery, Horror, Supranatural, Gore

Length : Multi-Chapter

Main cats : SNSD Taeyeon, SNSD Jessica, SNSD Tiffany, EXO Luhan, EXO Kris, EXO Chanyeol

Support cats : you will find other cats in the story

Disclaimer : all the main cats in this story don’t belong to the author. The author is only entitled to the story belongs to the author who in import directly from my brain.

Author note’s : typo (s) scatted. For those who don’t like the cats here in, please don’t vilify or bash the cats! Author never allow to anyone plagiarism for this Fanfiction. And remember to give a comment. Don’t be a silent readers.

Warning : bagi siapapun yang memiliki phobia pada pembunuhan, ku harap dapat segera meninggalkan FF ini. Aku sudah memperingatkan dan harap cek rate juga genrenya. Apabila ini di abaikan, resiko di tanggung penumpang.

Thank’s to : loyalslatte (http://exosupergeneration.wordpress.com) for amazing poster 🙂

 

Taeyeon tengah bermain air di kolam renang rumahnya. Musim panas kali ini sepertinya akan benar-benar membunuhnya. Bagaimana bisa musim panas kali ini terasa membakar begini. Taeyeon mencelupkan kakinya dan menggerak-gerakkannya timbul-tenggelam.

Secangkir jus jeruk dingin berada tak jauh darinya. Taeyeon segera menyambarnya. Setidaknya isi cangkir itu akan berguna untuk kerongkongannya yang sudah seperti padang gurun.

 

“Mianhamnida, nona. Teman-teman anda datang.” Suara bibi Lee membuat Taeyeon berbalik.

“Suruh masuk sa―”

“Tidak usah di suruh. Kami sudah masuk.” Suara berat milik salah satu temannya membuat Taeyeon memutar bola matanya bosan. Bibi Lee segera pamit agar tidak menganggu. Hanya di balas anggukan Taeyeon.

“Seperti biasa, Chan. Tidak tau sopan santun.” Ucap Taeyeon sarkatis. Namja yang di panggil ‘Chan’ atau Chanyeol itu hanya menampakkan cengiran idiotnya seperti biasa.

“Annyeong, Taeng.” Sapa Tiffany dengan ceria.

Taeyeon tersenyum. “Annyeong, Fany. Mana Sica?” tanya Taeyeon dan setelah itu, Jessica muncul dengan senyuman yang seperti biasanya. Tipis dan dingin. Ciri khas Jessica.

“Apa kau merindukan ku, Taeng?” ucap Jessica.

“Oh, siapa yang tidak merindukan boneka barbie ini, hmm?” goda Taeyeon.

“Apa kau tidak meindukan ku, pendek?”

 

Taeyeon memutar bola matanya kembali dengan jengah tatkala mendengar suara menyebalkan tersebut. Taeyeon memandang malas pada namja rusa yang kini malah menyeringai padanya.

 

“Kiamat akan datang ketika aku merindukan mu, rusa.” Ucap Taeyeon sadis.

Luhan ―namja rusa itu― memasang wajah tersakiti. “Oh ya ampun. Kau tidak tahu bagaimana perasaan ku, pendek. Sakitnya itu di sini.” Luhan memegang dada kirinya. Membuat teman-temannya yang lain harus menahan muntah melihat kelakukan dramatis Luhan.

 

Sekarang, suasana rumah Taeyeon sedikit lebih baik. dengan kekonyolan Chanyeol, Tiffany, dan juga Luhan membuatnya jadi ramai. Taeyeon tersenyum diam-diam saat menyadari betapa beruntungnya ia mempunyai teman seperti mereka.

 

“Ya, apa kalian tidak merasa bosan hanya berdiam di ruma saja sepanjang liburan?”

 

Ucapan dari Chanyeol membuat mereka terdiam. Chanyeol benar. Tak akan menyenangkan jika hanya menghabiskan liburan musim panas mereka di rumah saja. Setidaknya, dengan jalan-jalan akan membuat semuanya lebih baik.

 

“Bagaimana kalau liburan?” usul Tiffany.

Jessica menangguk mengiyakan. “Aku setuju dengan Fany.” Sahutnya.

“Sepertinya bukan ide buruk.” Chanyeol ikut setuju.

“Hm… mungkin benar.” Namja tinggi bernama Kris yang dari tadi diam akhirnya mengeluarkan suaranya.

“Apa boleh buat. Aku setuju.”

 

Kini tinggal Luhan saja yang belum berbicara. Luhan masih terlihat berpikir. Teman-temannya berdecak kesal melihat kelakukan Luhan. Seandainya Luhan bukanlah teman mereka, mungkin Luhan sudah merenggang nyawa di sungai Han.

 

“Baik, kalau si pendek ikut, maka aku ikut. Aku takut jika ia kenapa-kenapa dan membuat repot.” Ucap Luhan setelah lama berpikir.

Taeyeon mendelik. “Ya! Memangnya sejak kapan kau menjadi baby sitter ku?” protes Taeyeon tidak terima.

“Diamlah. Tapi, kita tak akan hanya di Seoul saja, bukan?”

“Benar juga. kalau hanya di Seoul, kita sepertinya sudah tahu banyak tempat. Dan itu membosankan. Bagaimana kalau ke luar Seoul. Atau keluar Korea.” Usul Tiffany.

“Kita bisa ke pulau milik ayah ku. Di sana tempatnya lumayan indah. Ayahku juga menambahkan beberapa apartemen dan juga tempat berpelanjaan.” Ucap Chanyeol memberi usulan.

“Ku rasa, lebih baik kita di sini sa―”

“Tidak, kita bahkan sudah menjelajah Seoul, Busan, Bucheon, dan lain-lain. Setidaknya kita bisa mencoba ke tempat lain.” omongan Taeyeon dengan teganya di potong oleh Luhan. Taeyeon menatap Luhan dengan pandangan tidak suka.

“Baiklah. Sepetinya kita semua setuju. Kita akan berangkat lusa. Taeyeon-ah, aku harus pulang. Jam 8 malam aku harus berangkat ke bandara mengantar halmeoni ku pulang ke Canada. Aku pulang.” Pamit Kris. Taeyeon mengangkat wajahnya demi melihat wajah Kris. Ah, salahkan tinggi badannya.

“Ah, benarkah? Baiklah, hati-hati di jalan, Kris.”

“Sepertinya aku juga harus pulang. Aku harus mempersiapkan semuanya. Aku dan Jessica pulang dulu, ne, Taeng-ah. Kajja, Sica-ah, kita pulang.” Pamit Tiffany. Taeyeon mengangguk.

“Aku juga. Sampai jumpa lusa, Taeyeon-ah.” Pamit Chanyeol. Taeyeon membalas lambaian tangan Chanyeol.

 

Taeyeon menatap heran pada Luhan yang masih betah duduk sambil minum jus jeruk yang tadi di siapkan oleh bibi Lee. Seperti tak ada tanda-tanda Luhan akan pergi dari rumah Taeyeon.

 

“Ya, neo! Kenapa kau tidak ikut pulang.” Seru Taeyeon. Luhan menatap Taeyeon.

“Kau mengusir ku?” tanya Luhan.

Taeyeon gelagapan. “Tidak. Tapi, teman-teman yang lain sudah pulang. Kau tidak ingin?”

“Aku masih ingin di sini.” sahut Luhan.

“Aku punya beberapa pekerjaan. Kau akan sendirian saja di sini.” Taeyeon beralasan agar Luhan juga pulang.

“Kerjakan saja. Aku akan di sini sampai aku ingin pulang.”

Taeyeon menghela nafas. “Lu, kita harus mempersiapkan keperluan kita untuk lusa. Jangan sampai malah tergesa-gesa nanti. Kau juga. Apalagi kau itu pemalas dan susah bangun pagi.” Ucap Taeyeon sambil menyebutkan kebiasaan buruk Luhan.

Luhan bangkit berdiri. “Baiklah, baiklah. Aku pulang.” Ucap Luhan. Taeyeon tersenyum.

“Hati-hati di jalan.” Pesan Taeyeon.

Luhan mengernyit. “Kenapa hanya pesan? Kau tidak ingin memberi ku ciuman?”

 

BRAK!

 

“Mati saja kau, rusa sialan!”

 

 

Setelah dengan teganya Taeyeon menendang bokong Luhan saat di pintu rumahnya, Taeyeon segera beranjak menuju kamarnya. Tak ada salahnya jika ia mempersiapkan kebutuhannya sekarang.

Kamar Taeyeon yang semula rapi dan bersih, kini berantakkan. Baju-baju berserakkan di mana-mana. Sebuah koper besar yang terbuka dengan beberapa helai baju di dalamnya. Taeyeon sendiri sedang menggaruk kepalanya. Bingung apalagi yang harus ia bawa.

 

“Ah, iya! Selimut! Bagaimana aku bisa lupa. Tapi, tunggu. Tidak mungkin apartemen itu tidak menyediakan selimut, kan? Baiklah, selimut tidak usah. Tapi, apa lagi yang harus ku bawa?” Taeyeon mengetuk-ngetuk pelan dagunya sambil berpikir.

“Oh, astaga? Ini kamar atau tempat tawuran?”

 

Taeyeon berbalik dan mendapati oppanya yang sedang berdiri di depan pintu kamar. Taeyeon menggaruk belakang kepala canggung. Oppa Taeyeon hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan adiknya.

 

“Kenapa bisa seperti ini? Astaga! Mianhae, Taeyeon-ah.” Sang oppa menjerit saat merasakan ia menginjak sesuatu. Dan yaah, kau mengerti kan apa yang ku maksud (ambigu).

“Ah, aku hanya mempersiapkan kebutuhan ku untuk lusa.” Jawab Taeyeon.

“Lusa? Kenapa dengan lusa? Kau ingin mengunjungi halmeoni lagi?” tanya oppa Taeyeon.

“Ah! Aku belum memberi tahu Minseok oppa, ya. Mian,ehehe. Aku ingin liburan bersama teman-teman ku. Boleh, kan, oppa?” bujuk Taeyeon sambil beraegyo di depan Minseok.

“Baiklah. Asalkan, adik ku yang manis ini harus menjaga diri baik-baik.” ucap Minseok sambil mencubit pipi Taeyeon gemas.

“Appo. Seokkie oppa, itu sakit.” Rajuk Taeyeon.

“Ahaha, mian. Cepat kau selesaikan urusan mu di sini. Kita akan segera makan malam.” Minseok mengacak-acak rambut Taeyeon sayang dan segera keluar.

 

Taeyeon memadang punggung Minseok dengan pandangan sulit di artikan. Entahlah, ia merasakan suatu firasat kalau ia tak akan pernah bertemu dengan oppa imutnya itu lagi.

Taeyeon menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak, tidak. Apa yang di pikirkannya. Taeyeon segera membereskan segala barang-barang yang beserakkan tersebut. Meletakkan koper dan sebuah tas punggung yang berisi perlengkapan yang akan di bawanya di samping lemari. Setelah itu ia bergegas mandi dan segera turun untuk makan malam.

 

 

KRING… KRING… KRING…

 

Alarm berbunyi nyaring dan berisik. Taeyeon melenguh dalam tidurnya. Merasa terganggu. Taeyeon meletakkan guling di telinganya agar tak mendengar suara alarm itu. Tapi, sepertinya sang alarm tak tinggal diam dan terus saja berbunyi.

 

“Astaga! Kenapa bunyinya berisik sekali? Aku bersumpah tak akan membeli alarm jenis itu lagi.” Kesal Taeyeon.

 

BRAK!

 

Dengan sekali lemparan, alarm malang itu membentur dinding dan pecah berantakkan. Akibatnya, alarm itu terdiam dan tak berbunyi lagi. Taeyeon tersenyum puas dan kembali memejamkan matanya.

 

TOK… TOK… TOK…

 

“Taeng-ah, apa kau sudah bangun? Bukankah kau akan pergi hari ini? Cepatlah mandi dan bersiap-siap.” Suara nyaring dari ibunya membuat Taeyeon ingin mengumpat. Memangnya ia sudah jam berapa?

“Taeng-ah, Taeng-ah. Kajja, palliwa. Luhan sudah menjemput mu untuk berangkat bersama.” Sang ibu sepertina masih bersikukuh mengedor pintu kamar sang anak. Taeyeon berdecak.

“Ck! Ne, eomma. Aku sudah bangun. Katakan pada Luhan, suruh dia menunggu 20 menit.” Teriak Taeyeon. Taeyeon mengambil handpone-nya yang berada di atas nakas dan mengecek jam.

 

07.15

 

Taeyeon mengucek-ucek matanya. Masih belum connect. Kalau sekarang sudah jam 07.15, ia akan berangkat pada jam 08.30. Maka kira-kira, ia seharusnya sudah―

 

“Astaga! Aku bisa terlambat!”

 

Taeyeon dengan panic segera memasuki kamar mandi dan memulai ritualnya. Hanya butuh waktu 15 menit, Taeyeon sudah selesai dengan mandinya. Ia hanya menyisir rambutnya saja. Ia sudah memakai bajunya ketika di kamar mandi tadi.

Taeyeon menghadap sebuah cermin besar di kamarnya. Ia merapikan tataan rambutnya, poninya juga. menambahkan sedikit bedak agar mukanya tidak terlalu pucat. Setelah itu, Taeyeon segera menyambar koper dan juga tas punggung yang memang sudah ia siapkan.

Dengan langkah tergesa, Taeyeon menuruni tangga. Minseok yang melihat tingkah Taeyeon segera menegurnya. Tapi, Taeyeon beralasan ia sudah hampir terlambat.

 

“Eomma, mana Luhan?” tanya Taeyeon saat tak menemukan Luhan di ruang tamu.

“Dia di ruang makan. Sarapan.” Sahut ibunya.

“Jadi dia menumpang makan? Cih! Dasar rusa.” Taeyeon segera ke ruang makan dan menyeret Luhan agar segera berangkat.

“Ya! Ya! Setidaknya biarkan aku minum dulu.” Protes Luhan. Taeyeon berdecak sebal.

“Sudahlah. Kita tak punya banyak waktu. Kajja!” ucap Taeyeon sambil terus menyeret Luhan menuju mobil Luhan.

 

Taeyeon melempar kopernya pada bagasi Luhan. Luhan mengomentari aksi anarkis Taeyeon yang tidak ada manis-manisnya. Taeyeon hanya bisa mendengus sebal dan membuka pintu mobil Luhan dengan kasar. Begitu juga ketika menutupnya.

Luhan masuk ke dalam mobilnya dan duduk di belakang kemudi. Matanya melirik Taeyeon yang sepertinya masih mengantuk. Luhan menghela nafas.

 

“Lihat, siapa kemarin yang mengejek ku pemalas dan juga sulit bangun pagi? Ku lihat hari ini, orang itu malah melakukannya.” ucap Luhan sarkatis.

Taeyeon menatap Luhan sebal. “Ya! Aku tadi malam susah tidur. Baru tertidur ketika jam 2 pagi. Wajar saja aku bangun terlambat.” Bela Taeyeon.

“Ne, ne, terserah mu saja, pendek. Sebaiknya kau tidur saja. Perjalanan ini akan memakan waktu 20 menit.” Saran Luhan.

 

Taeyeon tak banyak bicara, segera menutup matanya dan langsung terlelap. Luhan menatap Taeyeon yang sepertinya begitu damai dalam tidurnya. Tangan kirinya ia gunakan untuk mengelus kepala Taeyeon.

Nafas teratur mengalun sempurna di mulut Taeyeon. Membuat Luhan tersenyum melihatnya. Taeyeon terlihat seperti anak kucing manis yang sedang tidur.

 

 

Perjalanan mereka hanya memakan waktu 15 menit. Ini karena Luhan ngebut saat mengendari mobilnya. Taeyeon masih tertidur dengan damainya. Luhan yang sedang melepaskan selt-belt-nya melihat Taeyeon yang masih tertidur pulas. Luhan menghela nafas.

 

“Pendek, kau mau tidur sampai kapan, hah? Kita sudah sampai.” Luhan mengguncang bahu Taeyeon.

Taeyeon mengerang dalam tidurnya. “Eughh.. tunggulah 5 menit lagi, eomma.” sepertinya Taeyeon tidak sadar ia tidur di mana.

Luhan memutar bola matanya saat mendengar erangan Taeyeon. “Pendek, kau mau ketinggalan pesawat, hah? Cepat bangun.” Desak Luhan.

“Hah? Pesawat? Apa!” dengan gelapan Taeyeon bangkit dari tidurnya. Melihat keseliling dan baru menyadari kalau dia ada di airport.

 

Taeyeon menghela nafas. Dia benar-benar tertidur di perjalanan. Saat itulah ia menyadari kalau ponselya bergetar. Taeyeon segera mengambil ponsel putihnya dan melihat tulisan di layar ponselnya

 

‘1 message from Ice Barbie Princess’

 

Taeng, kau ada di mana? Hanya kau dan Luhan saja yang belum sampai? Apa kalian berniat untuk berkencan sekarang?

 

‘1 message from Mushroom Pink Fany’

 

Taeng, kenapa tidak datang? Apa Luhan melakukan hal yang tidak-tidak hingga kau tidak datang?

 

‘1 message from Tiang Idiot Chan-Chan’

 

Kau kehilangan peta, huh? Kenapa lama sekali sampainya? Kau ingin membiarkan kami membusuk di sini?

 

‘1 message from Ice Weird Prince’

 

Cepatlah datang. Kau tak akan tahu bagaimana paniknya Tiffany dan Jessica karena kau tidak datang.’

 

Taeyeon menghela nafas melihat pesan-pesan yang di kirim teman-temannya. Lihatlah, mereka ini berniat mengkhawatirkannya atau tidak? Dan apa-apaan Tiffay dan juga Jessica. Kenapa mereka malah mengatakan yang tidak-tidak?

Luhan memutar bola matanya saat melihat Taeyeon melihat ponselnya dengan tatapan bodoh. Siapa tadi yang heboh menyeret Luhan agar segera sampai di bandara? Dan kenapa malah betah berlama-lama di dalam mobil?

 

“Ya, pendek! Palliwa. Kau benar-benar ingin ketinggalan pesawat?” ucapan Luhan itu membuat Taeyeon tersadar. Taeyeon segera keluar dari mobil.

“Eoh? Mian. Mana koper ku?” tanya Taeyeon pada Luhan.

 

Luhan tanpa menjawab menunjuk koper hitam besar yang berada di sampingnya. Taeyeon mengangkat kedua bahunya cuek. Ia segera mengambil kopernya dan melangkah mendahului Luhan. Saat itulah ia tersadar sesuatu.

 

“Tunggu dulu, Ya, rusa, kau letakkan di mana nanti mobil mu?” tanya Taeyeon pada Luhan yang berada beberapa langkah di belakangnya.

“Nanti juga akan ada yang mengurusnya.” Ucap Luhan tanpa minat. “Sudahlah, kajja. Yang lain pasti sudah menunggu kita.”

 

 

Taeyeon kini sudah berada di sebelah Jessica di dalam pesawat yang akan membawa mereka untuk segera bertolak menuju pulau milik ayah Chanyeol. Ternyata pulau itu berada di negara Jepang. Taeyeon bisa tahu karena sempat bertanya pada Jessica.

Perlahan namun pasti, pesawat mulai berjalan dan terbang meninggalkan Korea menuju jepang. Taeyeon menatap keluar pada jendela pesawat. Tiba-tiba sebuah perasaan yang tidak enak segera menyergap Taeyeon. Taeyeon memegang dada kirinya dan merasakan debaran jantungnya yang tidak terkontrol.

‘Apa yang akan terjadi?’ pikir Taeyeon. Taeyeon menoleh pada Jessica yang sepertinya sudah terlelap. Menegok ke arah teman-temannya yang juga sudah jauth terlelap. Bahkan Tiffany tanpa sadar malah merebahkan kepalanya pada Chanyeol yang memang duduk bersamanya.

Menghela nafas, Taeyeon berusaha agar detak jantungnya normal kembali. Tapi, perasaan tidak enak itu malah semakin menjadi-jadi. Taeyeon bingung sendiri. Taeyeon memilih untuk memejamkan matanya. Siapa tau setelah ia tertidur, semuanya akan seperti semula.

Dan Taeyeon hampir saja melesat ke alam mimpi jika tidak merasakan sebuah goncangan di lengannya. Taeyeon berdecak kesal dalam hati. Membuka sebelah matanya, Taeyeon menatap Jessica yang terlihat khawatir. Melihat raut wajah barbie kesayangannya itu, membuat Taeyeon heran.

 

“Taeng, aku tidak mengerti apa yang akan terjadi. Tapi, tadi aku bermimpi kita akan segera mendapat masalah saat tiba. Perasaan ku benar-benar tidak enak.” Ungkap Jessica. Taeyeon sedikit terkejut karena ternyata Jessica juga memilik perasaan tidak enak.

“Sica, sebenarnya aku juga merasakannya. Tapi, entah kenapa ini masih terasa samar bagi ku. Ini aneh.” Sahut Taeyeon.

Jessica terkejut. “Kau juga merasakannya? Kau tahu, aku tadi bermimpi kita seperti terkapar di masing-masing ruangan. Aku benar-benar tidak mengerti apa itu artinya.” Ucap Jessica.

Taeyeone memeluk Jessica dan mencoba menangkan sahabatnya yang sepertinya mulai ketakutan. “Lebih baik kita lupakan itu. Mungkin hanya perasaan kita saja. Sekarang, lebih baik kita kembali tidur.” Ucap Taeyeon sambil mengelus-elus lembut tangan Jessica. Jessica menangguk.

 

 

Perjalanan itu akhirnya membawa seluruh penumpangnya sampai di airport nasional Tokyo, Jepang. Beberapa penumpang yang tertidur mulai terbangun. Mereka segera membereskan diri dan beranjak pergi. Tapi, Taeyeon dan Jessica malah terus tertidur. Malah pakai acara pegang tangan segala -___-.

Ke 4 teman mereka yang lain hanya memandang sweatdrop dua orang yeoja sedikit terlihat seperti kembar itu. Oke, kalau masalah tidur, Jessica adalah ratunya. Taeyeon mungkin menempati urutan kedua. Tapi, ya ampun apa itu? pegangan tangan? Apa mereka merasa seperti menaikki wahana di ketinggian?

Tiffany berinisiatif agar membangunkan Taeyeon terlebih dahulu. Karena Taeyeon lebih mudah di bangunkan daripada Jessica. Tapi, apa? Baik Taeyeon maupun Jessica mereka tetap saja tak bergeming. Terus memejamkan mata mereka.

 

“Astaga? Apa ini? Kenapa mereka tidak bangun? Mereka ini tidur apa mati sebenarnya?” celetuk Chanyeol dan di hadiahi jitakkan oleh Tiffany.

“Jangan bicara sembarangan, tiang!” ketus Tiffany. Chanyeol hanya bisa cemberut sambil mengelus kepalanya.

“Lalu bagaimana? Sepertinya mereka benar-benar pulas.” Ucap Luhan.

 

Kris tanpa aba-aba langsung mengangkat tubuh Jessica yang masih tertidur. Menggendongnya ala piggy back style. Jangan bayangkan bagaimana Kris bisa melakukannya. Itu akan sangat merepotkan.

 

“Kris?”

“Jangan membuang-buang waktu. Luhan segera angkat Taeyeon. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada mereka berdua hingga kompak tidur seperti ini.” Ucap Kris panjang lebar. Sampai-sampai ke-3 temannya agak terkejut karena Kris jarang bicara panjang lebar.

 

Luhan hanya mengangkat bahunya dan juga mengangkat tubuh Taeyeon. Jika Kris dengan piggy back style, Luhan dengan entengnya dan seenak udelnya malah mengangkat Taeyeon ala karung beras style (?). Chanyeol dan Tiffany heran akan sikap Luhan.

 

“Lu, kau yakin akan membawanya dengan seperti itu?” tanya Chanyeol.

“Ne. Kalian tenang saja.” Sahut Luhan ringan.

 

Mereka adalah penumpang terakhir yang keluar dari pesawat. Beberapa orang di bandara memandang heran pada Luhan. Karena Luhan yang menangkat Taeyeon seperti itu. Persis seperti seorang penculik. Sedangkan Luhan, dengan tidak tahu malu tidak merasa dia di pandang aneh oleh orang-orang.

Mereka segera masuk di van yang memang sudah di siapkan lebih dahulu oleh Chanyeol agar mengantarkan mereka ke pulau itu. Setelah memasukkan barang-barang di bagasi, mereka semua segera mendudukkan diri di dalam van yang kebetulan muat di masuki oleh 7 orang.

Taeyeon dan Jessica masih tetap tertidur. Tentu saja ini membuat teman-teman mereka heran sekaligus khawatir. Terlebih lagi pada Taeyeon. Mengingat bagaimana cara Luhan mengendong Taeyeon tadi.

 

“Kenapa mereka tidak bangun-bangun?” tanya Chanyeol sambil menoleh kebelakang menatap Jessica dan Taeyeon.

“Aku yakin, Jessie baik-baik saja saat bangun tidur, berangkat, dan di dalam pesawat. Ada apa sebenarnya?” tanya Tiffany.

“Begitu juga dengan Taeyeon. Apa dia sakit hanya karena tidak sarapan?” ucap Luhan pula.

“Sudahlah. Mungkin mereka hanya kelelahan. Atau memang sedang ingin hibernasi.” Sahut Kris.

 

 

Perjalanan kali ini memakan banyak waktu. Di karenakan jauhnya jarak yang harus di tempuh, mereka semua tertidur. Tapi, sopir pribadi keluarga Chanyeol itu masih kuat untuk bertahan. Jessica dan Taeyeon secara tiba-tiba membuka mata mereka. Mengucek pelan mata mereka sampai akhirnya mereka sadar kalau sedang berada di mobil.

Jessica dan Taeyeon saling berpandangan. Kapan mereka berada di sini? Bagaimana bisa?

Taeyeon merasakan sebuah lengan kekar yang melingkari perutnya dan ia merasa sedang bersandar di bahu seseorang. Saat ia menoleh, betapa terkejutnya Taeyeon saat menyadari di sampingnya ada Luhan yang sedang tertidur. Hal sama juga di alami Jessica yang kaget Kris ada di sampingnya.

 

“Taeng.”

“Ne?”

“Apa kau berpikiran sama seperti apa yang aku pikirkan?”

“Ku rasa… iya.”

“Paman, apa ini sudah hampir sampai.” Ucap Jessica dalam bahasa Jepang. Tak usah heran, karena Jessica dulu pernah tinggal 2 tahun bersama neneknya di jepang. Wajar jika ia mengerti bahasa di sana.

“Ne, mungkin sekitar 5 km lagi.” Sahut paman sopir itu dengan memakai bahasa Korea.

“Ah, paman juga bisa bahasa Korea, ne?” tanya Taeyeon.

“Saya asli Korea, nona. Tapi, bekerja untuk keluarga Park di Jepang.” Jawab paman sopir.

“Begitu..” Jessica dan Taeyeon mengangguk-angguk mengerti.

“Sekarang, apa yang akan kita lakukan? Aku sudah tidak mengantuk lagi.” Tanya Taeyeon pada Jessica.

“Entahlah. Tapi, aku ingin melanjutkan tidur ku.” sahut Jessica.

Taeyeon mendelik. “Kau sudah tidur dan baru bangun. Dan sekarang kau ingin tidur lagi? Apa kau tidak lelah?” tanya Taeyeon.

“Tidur itu menyenangkan, bodoh. Sudahlah. Aku mau tidur lagi.”

 

Taeyeon cemberut karena di tinggal Jessica tidur. Sekarang ia merasa bosan. Ia juga ingin kembali tidur. Tapi, matanya tidak mengantuk. Taeyeon menyandarkan punggungnya ke jok mobil. Menghela nafas dan memandang teman-temannya yang terlelap. Melihat ke sekeliling dan luar mobil. Jalanan yang ramai dan penuh dengan mobil berlalu lalang.

Taeyeon menatap Luhan yang terlihat imut dan manly secara bersamaan ketika tidur. ‘Dia tertidur seperti anak kucing.’ Gumam Taeyeon dalam hati. Taeyeon mencoba mengelus rambut Luhan dengan lembut. Taeyeon terkikik sendiri membayangkan bagaimana Luhan tidak suka jika rambutnya di sentuh barang sehelai saja. Tapi, sekarang Luhan tidur.

Lama-lama Taeyeon juga merasakan matanya memberat dan mulai memejamkan matanya.

 

 

“Maaf tuan muda, kita sudah sampai.”

 

Paman sopir membangunkan Chanyeol terlebih dahulu. Chanyeol mengerjab-erjabkan matanya sampai akhirnya membuka mata sepenuhnya.

 

“Eoh? Sudah sampai? Baiklah, paman Kwon bisa kembali ke tempat paman. Mobilnya, biar aku saja yang meletakkan ke garasi. Terima kasih paman.” Ucap Chanyeol ramah.

“Ne, baik tuan muda. Saya pamit kembali.”

“Ne.”

 

Setelah paman Kwon pergi ke rumahnya yang memang tidak terlalu jauh, Chanyeol segera mengambil alih kemudi dan segera mengarahkan mobilnya ke garasi. Setelah itu, barulah Chanyeol membangunkan seluruh teman-temannya.

 

“Woy! Ayo, semuanya bangun! Kita sudah sampai.”

 

Teriakkan bass, cempreng, dan tidak enak di dengar membuat mereka semua sadar dari tidur mereka. Satu persatu mulai keluar dari mobil. Taeyeon sendiri masih sedikit pusing karena kebanyakkan tidur dan juga mendengar suara Chanyeol.

 

“Selamat datang di pulau keluarga Park!” seru Chanyeol heboh dan merentangkan tangannya.

“Apa ini pulaunya, Yeol?” tanya Tiffany. Matanya berbinar saat memandang ke sekeliling. “Indah sekali,” kagum Tiffany.

“Kajja, masuk ke apartemen. Kalian pasti lelah. Lebih baik kita mandi dan segera makan.” Usul Chanyeol dan langsung di setujui oleh yang lainnya.

 

Mereka segera menyeret koper masing-masing dan segera menuju kamar yang memang sudah sengaja di siapkan. Taeyeon terus menempel pada Jessica entah kenapa. Sedangkan Jessica seperti merasakan sesuatu menggenggam erat tangan Taeyeon.

Mata hazel bulat milik Taeyeon menatap ke sekeliling. Sampai akhirnya pandangannya tertumbuk pada sebuah lukisan yang terlihat tua yang menempel di dinding. Taeyeon seperti tidak dapat mengalihkan pandangannya dari lukisan seorang wanita tua yang sedang menggendong seekor kucing hitam itu.

Taeyeon hampir terjungkal ke belakang lantaran kaget saat melihat kalau mata Kucing hitam itu menyala merah dan melotot padanya. Juga pergerakkan leher sang wanita yang lambat dan terkesan menyeramkan.

Jessica tentu saja terkejut melihat sikap Taeyeon. “Taeng, berhati-hatilah.” Ucap Jessica.

“Sica. Lihat itu. lukisan itu…”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

Author note’s : halohaaa! Nggak nyangka responnya lumayan. Dan aku semangat buat lanjutinnya. Dan aku mendadak dapet ide buat lanjutin dan publish-nya jadi cepet.

Ohya, please jangan tanya aku kenapa setiap membuat FF berchapter aku selalu bergenre dark (fantasy, adventure, mystery, -read). Aku juga tidak tahu. Tapi, aku merasa nyaman membuat FF berchapter dengan genre seperti ini.

Kalau responnya terus-menerus bagus, maka aku bakalan update cepet. Tapi, kalau tetap atau malah menurun, aku bakalan protact lagi atau aku pending dulu.

Sampai jumpa di chapter 2.. #bow

Advertisements

54 comments on “Mystery – Chapter 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s